All characters belong to Masashi Kishimoto.
This is just a fan-fiction.

Setelah menghela nafas panjang, Naruto dan Sasuke mulai bergerak kembali pada posisi rekan-rekan samurainya saat ini.

Mereka juga sedang memandangi keadaan sekitar, di sekeliling mereka. Sambil sedikit merasakan keheranan, betapa mengerikannya pemandangan yang disajikan di hadapan mereka saat itu.

"Apa benar kami yang melakukan ini semua?" Batin Sasuke dan Naruto.

Naruto dan Sasuke segera berdoa kepada Kami-sama untuk mengampuni seluruh dosa yang telah mereka perbuat, dan menerima arwah dari korban-korban yang telah meregang nyawa, terutama karena ulah tangan mereka sendiri.

Naruto dan Sasuke menyadari jika di dunia ini, sifat baik dan buruk itu tidak ada, maka sudah dipastikan apa yang mereka lakukan hari ini akan mengantarkan mereka pada lubang neraka yang paling dalam.

Mereka juga meminta maaf kepada Kakashi karena sudah bertindak di luar batas nalar mereka sendiri dan bergerak secara membabi buta.

Kakashi-pun mengerti dengan keadaan mereka saat itu dan menepuk pelan bahu keduanya, sebagai isyarat untuk segera menjemput kedua keluarga bangsawan tersebut, dan kembali melanjutkan perjalanan mereka yang sudah sangat terlambat.

"Jangan lupa juga untuk menjemput kekasih kalian ya. Sepertinya mereka sudah tidak sabar lagi untuk menunggu kehadiran 'pangeran' yang mereka tunggu-tunggu."

Kakashi yang biasanya berkata bijaksana dan tegas, kali ini nampaknya benar-benar ingin mengerjai Naruto dan Sasuke.

Naruto dan Sasuke hanya bisa menahan malu yang dirasakan masing-masing, ketika disambut siulan dan suara cekikikan dari seluruh rekan-rekannya.

"Kerja bagus eh, Naruto-Sasuke. Tak kusangka jika kelembutan hati kedua gadis cantik yang sedang 'terluka' itu, mampu membangkitkan 'aura' pembunuh kalian yang begitu mengerikan. Aku sendiri tidak akan pernah mau kalau disuruh menggoda kekasih kalian." Kiba pun ikut mengejek.

"Sialan, awas kau!" Naruto berniat akan mengejar Kiba.

"Sudahlah, Dobe. Tidak usah kau tanggapi. Sekarang yang terpenting adalah kita jemput Hinata, Sakura dan keluarga mereka untuk kembali melanjutkan perjalanan ini. Aku juga ingin segera tiba di Konoha, kemudian mengambil masa rehat dari kegiatan ini untuk beberapa saat."

"Ah kau benar, Teme. Persis sama dengan yang aku pikirkan. Aku tahu, maksud dan tujuanmu mengambil rehat agar bisa berduaan dengan Sakura kan?" Tatapan mata Naruto tampak sedang mengejek.

"Cih. Tak usah berkata seperti itu, jika kau sendiri ingin menghabiskan waktu bersama Hinata."

"Kau benar sekali, ttebayo!"
.

"Hinata-chan, Sakura-chan. Kalian sudah aman sekarang."

Seketika itu pula, kedua gadis cantik dan mempesona itu segera berlari ke arah masing-masing pemuda samurai tersebut.

Ah, bukan. Lebih tepatnya orang spesial yang sudah mereka anggap sebagai kekasih.

Kedua gadis itu segera memeluk dengan sangat erat pada tubuh masing-masing kekasih laki-lakinya dan menyandarkan kepala mereka untuk tenggelam dalam dekapan kedua samurai tersebut.

Naruto dan Sasuke hanya bisa membalas dengan memberikan pelukan yang tak kalah erat pada masing-masing kekasih mereka, memberikan sentuhan lembut dan sebuah kecupan hangat pada puncak surai kedua gadis cantik tersebut, sambil menghirup wangi aroma yang muncul dari Hinata maupun Sakura.

Masih berlanjut, sebuah kecupan telah diberikan pada daerah kening kekasihnya. Naruto dan Sasuke merasakan suatu kehangatan dan ketentraman yang menenangkan hati mereka berdua.

Kedua orang tua Hinata dan Sakura hanya bisa menatap haru kegiatan anak gadis mereka dengan tatapan sendu dari kejauhan dan bergumam,

"Mereka sudah dewasa."

"Baiklah, anak-anak muda. Maaf jika aku sudah mengganggu waktu bermesraan kalian. Tapi sudah saatnya kita harus melanjutkan perjalanan menuju Konoha. Kalian bisa melanjutkan masa-masa romantis kalian, saat kita sudah sampai di sana." Ucap Kakashi sambil menggoda kedua pasangan tersebut

Perjalanan menuju Konoha kembali dilanjutkan.

.

"Wahhh akhirnya sampai juga di kota tercinta ini. Pinggangku rasanya mau copot gara-gara terlalu lama duduk di atas kuda. Mana ada hambatan pula dari orang-orang brengsek itu, yang membuat perjalanan jadi semakin lama." Gerutu Naruto

"Kakashi-san, terima kasih atas pengawalan terbaik yang sudah anda berikan bersama seluruh pasukan anda, kepada keluargaku dan keluarga Kizashi. Kami semua pada akhirnya sampai dengan selamat di tujuan. Ini terimalah sedikit tanda terimakasih untuk kalian semua." Ujar Hiashi yang merasa benar-benar seperti berhutang budi, atau bahkan berhutang nyawa.

"Aku juga harus mengakui, bahwa kalian memang luar biasa. Dengan jumlah kalian yang hanya bersepuluh orang, kalian mampu menjaga keselamatan kami hingga sampai di tempat tujuan. Aku minta maaf, karena di awal telah meragukan kalian." Imbuh Kizashi.

"Ah, terimakasih atas kebaikan hati anda berdua dan semua ucapan 'baik' tersebut. Tapi sepertinya, mereka berdua yang lebih pantas menerima ucapan tersebut."

"Mereka berdua dengan gagah berani telah melenyapkan nyaris seluruh pasukan musuh tanpa ampun. Itu semua berkat motivasi yang mereka dapatkan dari kedua anak gadis anda." Ucap Kakashi sambil menatap Sasuke dan Naruto yang berdiri di belakangnya.

"Kalau aku boleh jujur, memang benar mereka ini merupakan samurai paling berbakat yang dimiliki oleh Konoha. Tapi kejadian beberapa hari lalu, benar-benar suatu hal yang baru buatku."

"Ketika melihat mereka berdua bertarung tanpa memikirkan bayangan kematian di wajah mereka, dan mereka melakukannya hanya untuk melindungi sosok yang mereka cintai dengan sepenuh hati mereka, yaitu putri anda Hiashi-sama dan Kizashi-sama."

Hiashi dan Kizashi hanya bisa terdiam, setelah mendengar segala penuturan dari Kakashi.

Kedua pemimpin keluarga tersebut juga mulai mencoba untuk mengingat akan suatu hal, yaitu janji yang pernah mereka ucapkan dalam hati, saat pertempuran di hutan masih berlangsung.

Sebuah janji yang sudah dilontarkan oleh masing-masing pemimpin keluarga tersebut. Saat semuanya sampai dengan selamat di Konoha, mereka akan...

-TBC-