All characters belong to Masashi Kishimoto.
This is just a fan-fiction.
Jam dinding menunjukkan pukul setengah 7 malam. Kurang dari setengah jam lagi, dari jam yang sudah disepakati oleh keluarga Hyuga dan keluarga Haruno untuk mengundang makan malam Naruto dan Sasuke.
Hinata dan Sakura tampak sudah siap dan selesai berdandan. Mereka ingin tampil cantik di depan masing-masing pujaan hatinya.
Hinata menggunakan pakaian kimono elegan berwarna biru gelap yang hampir senada dengan warna surai indigonya. Sementara Sakura memilih kimono berwarna pink cerah agar menampakkan keceriaan yang sedang ia rasakan saat ini.
"Tou-san, Kaa-san..." Kedua gadis cantik itu turun ke bawah dari lantai dua sambil memamerkan apa yang mereka kenakan kepada kedua orang tua mereka.
Orang tua mereka benar-benar kagum dan terkesima dengan 'aura' kecantikan yang memancar dalam diri kedua gadis cantik tersebut. Apalagi dengan sedikit riasan yang mereka persiapkan sebaik mungkin semakin mempercantik mereka.
Tiba tiba terdengar suara pintu diketok dari luar membuyarkan lamunan para orang tua.
Tok tok tok tok...
"Ah, itu pasti mereka sudah datang. Hinata, Sakura tolong bukakan pintu. Agar mereka lebih senang, ketika melihat kalian yang menyambut di balik pintu."
"Baik." Hinata dan Sakura segera menghampiri dan membuka pintu untuk menyambut kedua pujaan hati, yang memang sudah mereka nantikan sejak tadi.
"Selamat datang, Sasuke-kun, Naruto-kuuuu...nnn"
Tak mereka sangka, ternyata bukan kedua pemuda itu yang berdiri tepat di balik pintu yang baru saja terbuka itu.
"Well well well. Tak kusangka kehadiran kami disini akan disambut oleh dua gadis yang sangat cantik, dan sepertinya sebentar lagi mereka akan menjadi milikku dan milik sahabatku ini. Hehehe"
"Toneri? Sasori? Mau apa kalian kemari? Kalian mengikuti kami sampai kesini?" Tanya Hinata dengan rasa ketakutan yang mulai muncul di pikirannya.
"Heh, mencoba berpura-pura amnesia ya. Tentu saja untuk menjemputmu dan menjemput Sakura. Kalian sudah lupa ya, apa posisi kalian saat ini dan apa posisi kami saat ini?" Jawab Toneri dengan enteng.
Merasa ada yang tidak beres dengan keadaan di luar, Hiashi dan Kizashi segera bergegas untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Kalian?! Beraninya pengkhianat negara seperti kalian menampakkan wajah 'berdosa' kalian di sini. Setelah kalian sendiri berkhianat terhadap Jepang, dan malah jadi antek-antek orang-orang berambut pirang itu." Geram Hiashi sambil mengutuk kehadiran kedua orang tersebut.
Terlihat mereka sedang dikawal oleh empat puluh orang bersenjata laras panjang yang berdiri dibelakang.
"Hahaha. Sabar, Hiashi-san. Kita bisa membicarakan masalah ini secara baik-baik. Kau sudah lupa, bahwa saat ini aku sudah bekerja sama dengan orang Amerika. Yang artinya, pengaruhku di Jepang saat ini lebih kuat dibandingkan dirimu yang masih berpikiran kolot dengan pemerintahan kuno negara ini."
"Ah, ayolah. Aku juga sudah memberikan sebuah penawaran kepada kalian. Aku akan menikahi Hinata dan Sasori akan menikahi Sakura. Atau jangan paksa aku untuk menghancurkan keluarga kalian dan membuat kalian semua jatuh miskin dan menderita. Kemudian dalam sekejap, kalian akan memohon dan mengemis-ngemis untuk datang kepadaku. Hahaha."
Hinata dan Sakura yang seakan tak percaya dengan ucapan mengerikan yang muncul dari dalam mulut busuk Toneri, mereka langsung menatap pada masing-masing ayahnya.
"Tidak! Jangan harap bedebah seperti kalian akan menjadi pendamping bagi putriku. Aku, Kizashi Haruno, lebih rela jika anak gadisku menikah dengan orang miskin tanpa ada garis keturunan bangsawan. Daripada harus menikahkannya dengan seorang pengkhianat negara yang busuk seperti kalian!"
Sakura tak menyangka bahwa ayahnya yang selama ini tidak terlalu banyak mengungkapkan kalimat dan lebih banyak diwakilkan oleh sahabatnya, ternyata mampu mengucapkan kalimat yang meneduhkan hatinya.
"Cih. Sepertinya kau lebih suka dengan cara pemaksaan ya, Haruno-san. Lalu bagaimana dengan anda Hyuga-san? Apakah anda akan berpikiran lebih bijaksana?"
"Keh, jangan bercanda denganku, wahai antek-antek busuk pengkhianat Jepang. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah sudi melihat tanganmu yang kotor dan penuh dosa itu berani menyentuh sekecil apapun pada tubuh anakku."
"Oh, baiklah kalau begitu. Berarti kalian lebih memilih jalan kekerasan. Oke, pengawal. Paksa dan seret kedua gadis cantik itu kepadaku dan Sasori. Jika kedua ayahnya menghalangi kalian, langsung bunuh saja tanpa ampun di tempat."
Mendengar kalimat yang diucapkan Toneri barusan, Hiashi dan Kizashi benar-benar tampak ketakutan. Mereka membayangkan hal terburuk akan menimpa pada keluarganya, terutama pada anak gadisnya masing-masing.
Hinata dan Sakura yang dari tadi menahan tangisan, sekarang sudah tidak mampu lagi menahannya. Mereka merasakan kembali guncangan ketakutan hebat yang sama persis, setelah peristiwa di hutan beberapa hari lalu.
Tiba-tiba muncul di pemikiran Hiashi dan Kizashi, lalu membisikkan sesuatu pada telinga anak gadisnya, yang saat ini tampak sangat ketakutan dan mendekap dengan hebat tubuh masing-masing ayah mereka.
"Anakku sayang, segera lari sejauh mungkin dari sini. Di sini sudah tidak aman lagi. Tou-san tidak ingin kamu mengalami nasib buruk. Kuatkanlah dirimu. Jangan menangis dan segeralah selamatkan dirimu sendiri. Jangan pikirkan Tou-san di sini. Cepatlah, lari!" Kurang lebih seperti itulah yang dibisikkan oleh Hiashi dan Kizashi kepada anak gadis mereka masing-masing.
Mereka berdua sudah pasrah apabila akan dibunuh oleh pengawal Toneri dan Sasori. Tapi mereka berharap agar anak gadis mereka bisa selamat dari malam yang mengerikan ini.
"Baik, Tou-san."
Tanpa perlu aba-aba dari ayahnya, Hinata dan Sakura bergegas dengan cepat dan berlari sejauh mungkin, menjauhkan diri mereka dari Mansion tersebut.
Hinata dan Sakura berlari ke arah yang berlawanan. Hinata berlari ke arah timur dan Sakura berlari ke arah barat.
Pengawal Toneri dan Sasori yang berjumlah empat puluh orang, yang tadinya berniat akan menyeret paksa kedua gadis cantik tersebut, mendadak terkejut tanpa bersiap-siap untuk menahan Hinata dan Sakura yang sedang berlari sekencang mungkin.
"Cih. Lari rupanya. Segera kejar mereka berdua. Separuh kejar Hinata dan separuh kejar Sakura. Kalian bebas untuk memukul dan menyiksa mereka, jika melakukan penolakan. Tapi yang paling penting adalah, bawa mereka kemari dalam keadaan hidup. Dan untuk kalian, Hiashi dan Kizashi, urusan kalian dengan kami belum selesai."
"Kalian akan segera melihatnya sendiri, bahwa anak gadis kalian benar-benar akan kami buat menderita."
-TBC-
