All characters belong to Masashi Kishimoto.
This is just a fan-fiction.

Hinata benar-benar sudah merasakan rasa lelah yang tak tertahan lagi di kedua kakinya setelah ia dan Sakura melarikan diri menuju arah yang berlawanan dari Mansion Konoha tersebut.

Tak dapat dihitung berapa jarak yang sudah ia tempuh dengan berlari tanpa menoleh ke arah belakang sama sekali.

Hinata memutuskan untuk bersembunyi di balik rerumputan yang tinggi di area persawahan yang tidak jauh lokasinya, dari posisi dia menghentikan pelariannya. Dia sudah tak sanggup jika harus terus berlari. Dia berdoa agar para pengawal Toneri dan Sasori tidak menemukannya.

Sembari menunggu dengan harap- harap cemas dan degup jantung yang berdetak sangat cepat, tampaknya dia tidak melihat dan tidak merasakan tanda-tanda pasukan pengawal yang menemukan lokasi persembunyiannya.

Srek...

Suara langkah kaki terdengar jelas, berasal dari belakang tubuhnya. Hinata langsung refleks menoleh.

Jrengggg...

Dan tentu saja, hal yang benar-benar tidak diinginkan telah terjadi di depan matanya. Para pengawal Toneri dan Sasori berhasil menemukannya dengan mengendap-endap dari belakang Hinata.

Saat ini, dua puluh pria berukuran besar dengan senjata laras panjang menempel di bahu masing-masing, sudah berada di hadapannya sambil menatap wajah Hinata dengan menampilkan wajah yang semuanya menakutkan.

"He he he he. Mau kemana, nona cantik? Sudah cukupkah bermain petak umpetnya. Tuan Toneri sudah menunggumu di sana. Kami tidak akan berbuat kasar, jika kau mau menurut."

Salah satu pengawal tersebut meraih paksa tangan mungil Hinata dan menariknya dengan kasar. Tak terima dengan perlakuan itu, Hinata kemudian refleks menendang ke arah 'kemaluan' dari pengawal tersebut. Tentu saja yang ditendang itu langsung jatuh tersungkur karena kesakitan. Melihat salah satu temannya kesakitan, pengawal yang lain langsung mengamuk.

"Hei, nona cantik. Rupanya kau menginginkan cara kekerasan ya. Kau sepertinya memberikan ijin kepada kami untuk menyiksamu, agar kau mau menurut."

Salah satu pengawal yang sudah menggenggam senjata laras panjang di tangannya, bersiap akan memukulkan gagang dari senjata tersebut pada tubuh Hinata. "Terimalah ini, nona cantik!"

Hinata melihat ada sebuah senjata yang telah diarahkan oleh seseorang, dan bersiap akan mengenai tubuhnya. Dia hanya bisa pasrah dan menutup kedua matanya, serta meneriakkan nama seseorang sekeras mungkin.

"NAARRUUTOO-KKUUUNNN!"

.

Jrassssh! Jrasshhh!

Blugg...

Terdengar bunyi suara benda jatuh dengan jelas. Sebuah lengan utuh yang sebelumnya memegang gagang senjata laras panjang dan bermaksud akan memukulkan ke tubuh Hinata. Mendadak, bagian tubuh berupa lengan tersebut telah terlepas dari pemiliknya.

Aaaaaggghhh, lengankuuu...!

Sang pemilik lengan yang sudah terlepas itu hanya bisa berteriak dengan sangat kencang, karena merasakan shock yang luar biasa. Seketika itu pula, dia langsung mengalami kondisi sekarat karena kehilangan banyak darah.

Teman-teman dari pengawal yang sedang sekarat itu, hanya bisa terkejut bukan main dengan raut wajah yang dilingkupi oleh rasa takut.

Begitu pula dengan Hinata yang langsung membolakan kedua matanya, ketika melihat seseorang dengan surai kuning dan iris safir yang sedang berdiri di hadapannya.

Seseorang yang dia rindukan dan dia inginkan kehadirannya, pada akhirnya benar-benar datang untuk menyelamatkannya.

Naruto menatap dengan sekilas wajah Hinata. Pemuda samurai itu datang, di saat kekasihnya hampir menjadi korban penyiksaan.

"Apa aku terlambat, sayang?"

Hinata membalas dengan menggelengkan kepala sambil menahan tangis haru, karena lega melihat Naruto sudah hadir untuk melindunginya.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA KEKASIHKU? JAWAB!"

.
"Tidak bisa menjawab rupanya, heh? Apa kalian belum mengenalku, hah?! Aku, UZUMAKI NARUTO, akan menghabisi siapapun yang berani untuk melukai, walau sekecil apapun pada seluruh bagian tubuhnya! Tak akan kubiarkan tangan kotor kalian, yang dengan seenaknya akan menyentuhnya dan membuatnya terluka!"

Suara Naruto yang terdengar menggelegar, tanda dirinya diliputi oleh sebuah kemarahan besar pada malam yang sunyi tersebut, telah berhasil membuat nyali para pengawal yang tersisa itu langsung ciut begitu saja. Namun beberapa di antaranya mencoba untuk tenang dan bersiap untuk menembakkan 'timah panas' ke arah Naruto.

Namun, Naruto tak kalah sigap. Melihat tanda-tanda musuh di hadapannya akan menyerang, Naruto dengan gerakan yang sangat cepat, segera mengayunkan pedangnya.

Criiingg!

Jraasshhh! Jrooshh! Croshhh! Crraasshh! Jruoosshh!

Dengan sekali melakukan ancang-ancang, Naruto melayangkan sabetan pedang yang mengarah pada sisi pinggang dari pasukan pengawal yang tengah bergerombol tersebut. Dengan keji, Naruto telah 'membelah' tubuh satu per satu lawan di hadapannya.

Seluruh pasukan pengawal Toneri-Sasori yang tadinya akan menyeret paksa dan menyiksa Hinata, kali ini sudah binasa dengan kondisi tubuh mereka telah terbelah menjadi dua, terputus pada bagian perut dan pinggang.

Seluruh tubuh bagian bawah dari masing-masing pasukan pengawal tersebut, mulai dari bagian pinggul hingga kedua kaki mereka telah memisah dengan bagian tubuh atasnya. Dan Naruto melakukannya hanya dalam sekali serangan saja.

Pemandangan mengerikan yang terlihat dengan jelas setelah Naruto membantai dua puluh orang pengawal Toneri dan Sasori, rupanya tidak ingin dilihat oleh Hinata.

Naruto pun segera mengalihkan pandangan Hinata ke arah lain. Kemudian dia menggendong Hinata pada punggungnya, dan berjalan untuk menjauh dari 'ladang pembantaian' tersebut.

Mereka berdua akhirnya berhenti di suatu tempat yang tidak terlalu jauh dari lokasi pembantaian tadi.

Naruto menurunkan Hinata dari punggungnya, dengan lembut. Kemudian dengan gerakan refleks, dia segera memeluk kekasihnya dengan erat. Naruto sedang berusaha untuk menenangkan kondisi Hinata yang benar-benar tampak rapuh.

"Hiks.. Naruto-kun hiks.. jangan pernah pergi dari sisiku. Kumohon hiks. Aku benar-benar membutuhkanmu saat ini, hiks..."

"Bukankah aku sudah berjanji padamu, sayang? Bahwa aku tidak akan mati dan tidak akan pergi darimu, sebelum aku bisa hidup berdampingan denganmu dan membahagiakanmu." Sambil mengecup halus puncak surai Indigo tersebut dan memberikan sentuhan lembut tangannya pada surai tersebut.

"Hiks, Janji ya? A-Aku, akan selalu mencintaimu, Naruto-kun...hiks"

Malam itu benar-benar menjadi salah satu malam yang tak akan terlupakan bagi Naruto dan Hinata.

.
Di sisi lain

Sakura POV

"Apa yang harus kulakukan? aku sudah sangat capek jika terus berlari seperti ini."

"Aku sudah tak sanggup lagi. Aku... Tubuhku sepertinya akan jatuh ke tanah. Tubuhku sudah sangat lelah."

Posisi tubuhku sudah sangat miring saat ini dan aku tidak bisa menopang tubuhku lagi. Nampaknya aku akan jatuh tersungkur.

Greeppp...

"Haaahh, sepasang tangan siapa ini? Kedua tangan ini, rupanya sedang menahan tubuhku saat hampir terjatuh."

Mataku seakan tak percaya, jika sentuhan tangan yang sedang menahan tubuhku ini, begitu terasa hangat dan menenangkan.

Aku pun segera mendongakkan wajahku, untuk mengetahui siapakah yang telah mencegahku agar tidak 'bersentuhan' dengan tanah.

"Sasuke-kun?" Jeritku tak percaya dengan pemandangan di depan mataku sendiri.

Laki-laki pujaan hatiku yang sangat-sangat aku harapkan kehadirannya untuk menyelamatkanku dari 'mimpi buruk' nyata ini, ternyata dia sedang menahan tubuhku yang hampir tidak dapat berdiri lagi.

Kemudian dia mendekapku dengan hangatnya.

Sakura POV ends

-TBC-