All characters belong to Masashi Kishimoto.
This is just a fan-fiction.

"Sakura sayang, kau bersembunyilah di dalam gubuk kecil tak berpenghuni yang ada seberang jalan itu. Tetaplah menunggu di sana, hingga aku menjemputmu dan kembali padamu."

"Ti-tidak! Sasuke-kun, aku tidak mau menunggu sendirian. Aku benar-benar ketakutan saat ini dan kumohon jagalah aku, hiks."

"Aku mengerti, Sakura-chan. Aku berjanji akan secepat mungkin untuk kembali menjemputmu di dalam gubuk itu. Aku masih ada sedikit urusan dengan manusia-manusia keparat bersenjata api yang sudah membuat kekasihku terguncang hebat seperti ini. Akan kujamin, bahwa mereka semua tidak akan dapat melihat sinar matahari dan kehidupan esok hari."

Mendengar pernyataan yang terdengar dingin namun mengerikan dari seorang Uchiha Sasuke, bukti pertanda rasa cintanya yang amat besar pada gadis yang dicintainya, membuat Sakura bergegas dan bersembunyi pada tempat yang diminta oleh kekasihnya.

Sakura terdiam menahan tangisan sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Membayangkan jika terjadi hal buruk pada kekasihnya. Serta membayangkan jika yang membuka pintu ini nantinya, ternyata bukan Sasuke. Pikiran itu terus membayang-bayangi Sakura.

"Sasuke-kun, kumohon segeralah kembali padaku."
.

"Baiklah, secepat mungkin akan kuhabisi mereka semua." Batin Sasuke.

Merasa posisi para pengawal tersebut masih cukup jauh dan Sasuke tampak yakin bahwa pasukan pengawal tersebut belum mengetahui keberadaannya saat ini. Dia segera memutuskan untuk melompat ke sebuah pohon yang cukup tinggi.

Setelah menunggu beberapa saat pada sebuah dahan di pohon tersebut, Sasuke tampak sedang mengamati saat pasukan pengawal Toneri dan Sasori sedang berlarian, tepat berada di bawah pohon tempat persembunyiannya.

"Inilah saatnya!"

Sasuke pun melompat dari atas pohon sambil menggenggam katana-nya. Dia bersiap akan menghabisi siapapun yang berada di hadapannya saat itu juga.

"Terimalah ini, manusia-manusia terkutuk!"

"Heeeeaahhhhh...!"

Pasukan pengawal Toneri dan Sasori tampak tidak siap saat mereka melihat Sasuke yang tengah melompat dari atas sebuah pohon, sambil menghunuskan pedangnya.

Jrashhh! Jrubbb! Sriinngg! Jroosshhh!

Satu per satu tubuh dari pasukan pengawal tersebut mulai jatuh bergelimpangan di tanah, setelah menerima serangan mendadak dari Sasuke.

Serangan 'tak berpola' dari Sasuke telah memutuskan anggota badan dari masing-masing pasukan pengawal tersebut secara 'acak'. Mulai dari kepala yang terlepas, tangan yang terputus, hingga badan yang terbelah. Itu semua hanyalah sebagian ilustrasi pemandangan dari 'hasil karya' seorang Uchiha Sasuke terhadap lawan-lawannya.

Hingga seluruh pasukan pengawal yang diperintahkan untuk mengejar Sakura yang berjumlah dua puluh orang tersebut, berhasil dihabisi oleh Sasuke dalam waktu yang sangat singkat.

Sasuke segera beranjak dari lokasi pembantaian tersebut, dengan meninggalkan banyak tumpahan darah dari seluruh korbannya.

Tak berselang lama.
Terdengar suara ketukan halus dari balik pintu gubuk. Kemudian diiringi dengan ungkapan suara dari seseorang yang terdengar nyaring dan merdu pada kedua telinga Sakura.

"Sakura-chan, apa kau baik-baik saja di dalam? Aku akan menjemputmu."

Sasuke menepati janjinya pada Sakura dan kembali menjemputnya. Kemudian sepasang kekasih tersebut saling memeluk dan mendekap dengan penuh kehangatan satu sama lain.

Sakura benar-benar bahagia karena sudah diselamatkan dari mara bahaya, oleh sang kekasih pujaan hatinya. Air matanya merembes keluar, karena rasa haru yang tidak dapat ditahan lagi.

"Arigatou, Sasuke-kun. Hiks, kau datang dan melindungiku, di saat aku hampir putus asa. Hiks, jangan pernah menjauh dari sisiku, karena aku sangat mencintaimu."

"Hn. Aku tidak akan melepaskanmu, Sakura-chan. Tidak akan pernah. Dan aku juga sangat mencintaimu."

.
Tak berselang lama
Di Mansion Konoha

Toneri dan Sasori yang dari tadi menunggu di tempat itu, menunggu kabar baik dari pengawal-pengawalnya untuk membawa paksa Hinata dan Sakura, namun yang ditunggu tak kunjung datang.

Mereka merasakan kegelisahan yang semakin kuat.

Kemudian betapa terkejutnya mereka, ketika yang terlihat justru munculnya kedua laki-laki yang merupakan samurai terbaik Konoha dengan aura ketampanan pada wajahnya.

Mereka sedang menggendong ala bridal style pada masing-masing gadis cantik yang berhasil mereka lindungi, dan membawa kedua gadis tersebut untuk pulang pada keluarganya yang masih menunggu di sana.

"Ooo, jadi kalian lagi rupanya, para samurai pengganggu yang selalu menghalangi urusanku." Toneri mengucapkan kalimat bernada mengejek kepada Sasuke dan Naruto.

" 'Kalian lagi?' Oh, kini aku paham maksud dari pernyataanmu barusan. Yang dapat aku artikan adalah, kita sudah pernah berurusan sebelumnya. Berarti serangan yang terjadi di hutan belantara itu juga ulah kalian. Cih, dasar pengkhianat negara berhati busuk. Kalau aku mau, aku bisa dengan mudah memenggal kepala kalian saat ini juga." Sasuke benar-benar ingin membunuh kedua orang yang berada di depannya.

"Ini adalah kesempatan emasmu. Bunuh saja kami berdua, saat ini juga." Sasori yang dari tadi hanya diam tak bersuara karena sudah diwakilkan oleh Toneri yang terus berbicara, pada akhirnya ikut bersuara. Sambil memberikan sebuah ungkapan berupa tantangan kepada Sasuke dan Naruto untuk membunuh mereka.

"Ck, kau kira kami ini bodoh. Apa kalian kira kami tidak tahu. Jika kalian kubunuh saat ini juga, akan ada banyak saksi yang melihat mayat kalian. Berita kematian kalian akan tersebar hingga ke pasukan Amerika yang kalian puja setengah mati, dan membuat diri kalian yang dengan mudahnya menjadi pengkhianat negara ini." Balas Sasuke.

"Kemudian, ratusan atau bahkan ribuan pasukan orang asing yang kau puja itu, akan datang kemari dan melakukan serangan balasan untuk menyerang Konoha. Ya, seperti itulah yang kalian inginkan. Maaf saja, aku dan sahabatku memang bernyali, tapi kami masih punya akal sehat."

"Untuk melenyapkan kalian harus dilakukan dengan skema yang sangat rapi, agar kematian kalian tidak diketahui oleh seorangpun. Akupun sudah tak sabar untuk menunggu saat itu tiba." Imbuh Naruto.

"Hahahaha, benar-benar pembicaraan yang menarik dengan kedua tuan samurai yang penuh kharisma ini. Baiklah, kami akan mengakui kekalahan kami malam ini." Toneri mencoba mengalah kali ini.

"Kalian bisa bebas untuk menikmati waktu kebersamaan dengan gadis yang kalian cintai. Kalian bisa melakukan apapun dengan mereka, yang tampaknya sedang tertidur pulas saat ini. Tentunya, hanya untuk sementara waktu saja!"

"Ingat! Urusan kita belum selesai, tuan samurai yang terhormat. Akan kupastikan kemenangan akan berganti menjadi milikku nantinya. Ingat baik-baik!" Toneri memberikan sebuah ancaman kepada Naruto dan Sasuke, ancaman bernada ejekan, bahwa perang belum selesai.

Merekapun melangkah keluar meninggalkan Konoha Mansion.

"Hei, Dobe. Sepertinya mereka akan lebih bersungguh-sungguh untuk menghilangkan nyawa kita pada siasat busuk mereka selanjutnya."

"Aku juga merasakan hal yang sama, Teme. Aku harap kita masih dapat bertahan, sampai perjuangan kita benar-benar selesai dan berakhir indah nantinya. Aku juga sudah berjanji pada Hime-ku ini, bahwa aku tidak akan mati sampai aku hidup bahagia dan berdampingan dengannya."

"Hn, baka. Jangan membuat janji yang tidak-tidak. Janji yang kau sendiri tidak kau ketahui untuk bisa membuktikannya atau tidak pada Hinata. Hidup dan mati bukan kau sendiri yang menentukan, Dobe."

"Ah sudahlah, Teme. Aku akan buktikan kepada Hime-ku tersayang ini, jika janji seorang Uzumaki Naruto adalah janji yang tidak akan mungkin diingkari. Aku yakin dengan hal itu."

"Hn, terserah kamu, Dobe"

Merekapun meneruskan untuk kembali berjalan dengan posisi menggendong kekasih mereka yang sedang tidak sadarkan diri, atau mungkin sedang tertidur pulas?

Yang jelas, karena beban tekanan batin dan rasa takut yang datang secara bertubi-tubi, membuat baik Hinata dan Sakura tampak tertidur pulas dalam gendongan Naruto dan Sasuke.

Mereka masih menggendong dengan lembut, dan kemudian menyerahkan kembali kepada masing-masing orang tua kedua gadis tersebut, yang kondisinya juga sama memprihatinkan.

-TBC-