All characters belong to Masashi Kishimoto.
This is just a fan-fiction.
Terdengar suara-suara samar antara pria perak dengan pria merah.
"Apa kau sudah siap?" Tanya si perak
"Beres. Segala persiapan sudah terencana dengan rapi." Jawab si merah.
"Bagaimana dengan orang itu? Apakah kau sudah menemuinya?"
"Sudah, dan tidak mudah untuk bernegosiasi dengannya. Aku baru bisa membujuknya dengan tawaran yang tidak bisa dia tolak."
"Bagus! Kali ini kemenangan akan jadi milik kita, dan kedua samurai pengganggu itu akan 'tinggal nama' selamanya."
.
Beberapa hari kemudian
Hinata sedang melakukan aktivitas rumah tangga walaupun dia dan Naruto belum menikah. Saat ini, dia sedang menjemur pakaian yang masih basah setelah dicuci.
Tanpa disadari, sejak tadi ada bayangan hitam dari tempat yang tak terlihat diluar sana, dan sedang mengamati aktivitas gadis cantik tersebut dengan seksama.
Salah satu kain yang terbuat dari bahan sutra yang lembut dan ringan tiba-tiba tertiup oleh angin.
"Ah, aku harus mengejarnya." Pikir Hinata.
Namun karena terlalu ringannya kain sutra yang diterbangkan angin tersebut, Hinata harus berlarian untuk mengejar hingga jarak yang agak lumayan dari mansion Konoha.
Usahanya dalam mengejar kain yang tertiup angin tersebut sepertinya akan membuahkan hasil. Pada akhirnya, kain yang tertiup angin tadi jatuh ke tanah. Hinata bersiap akan meraihnya, tiba tiba sesosok bayangan hitam muncul dari belakang Hinata,
dan...
Degggg... Semuanya menjadi gelap.
Naruto yang pada saat itu menunggu Hinata di dalam rumah, tiba-tiba merasakan ada suatu perasaan yang aneh di kepalanya.
"Apa mungkin Hinata...?"
Kalimatnya pun terhenti dan segera mengecek keluar rumah, tempat dimana Hinata sedang menjemur pakaian.
Tidak ada siapapun!
Itu yang dilihat oleh Naruto. Dimana wanita yang dicintainya itu? Perasaan yang tidak karuan telah merasuki pikiran Naruto.
Dia pun langsung melesat keluar mansion, mengelilingi seluruh kota Konoha, namun hasilnya NIHIL. Ia tidak mendapati dimanapun Hinata berada.
Hampir saja dia menyerah untuk mencari karena hampir seluruh Konoha dia telusuri, sampai pada suatu tempat yang tak terlalu jauh dari Mansion Konoha tersebut, Naruto menemukan sehelai kain sutra milik keluarga Hyuga yang tergeletak begitu saja di tanah, dan juga benda lain yang amat dikenalnya.
"Sepasang sandal Hinata?"
Ekspresi Naruto berubah total saat menemukan sepasang sandal Hinata. Dia benar-benar yakin dalam pikirannya, bahwa gadis yang dicintainya saat ini tidak dalam keadaan yang baik-baik saja, atau bisa dikatakan dalam keadaan bahaya.
Diliputi amarah yang meledak di kepalanya, Naruto bersumpah akan melenyapkan mereka semua dari muka bumi ini. Ya, mereka semua yang terlibat dalam penculikan Hinata.
.
Sasuke yang baru saja tiba di Konoha Mansion setelah mengantarkan Sakura berbelanja kebutuhan makanan, tiba-tiba terkejut melihat sahabat kuningnya yang dilihatnya seperti kerasukan iblis dari neraka.
Wajahnya memerah seperti darah, seakan-akan bersiap akan melukai, atau bahkan melenyapkan siapapun yang terbukti telah memisahkan dirinya dengan Hinata.
"Ada apa denganmu, Dobe? Mengapa wajahmu seperti darah yang mendidih?"
"AKU.. AKAN MENCARI SIAPAPUN YANG TELAH MEMISAHKAN HINATA DARI SISIKU...!"
Sebenarnya dalam diri Naruto sudah tidak tahan lagi dan ingin rasanya meledak, melepaskan semua beban dan rasa penyesalan yang sedang dia rasakan.
"Suara itu, Dobe. Suara mu yang sangat menakutkan itu. Tenanglah dulu dan ceritakan padaku apa yang telah terjadi?"
"Bagaimana bisa aku harus tenang? Pada saat ini aku tidak bisa mengetahui apa yang sedang terjadi dengan Hinata. Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia dilukai? AKU BAHKAN TIDAK TAHU KEADAANNYA SAAT INI!"
Naruto pun menitikkan bulir-bulir air mata dari iris safirnya, yang sejak tadi ia tahan sekuat tenaga agar tidak menangis.
Pada akhirnya dia tak kuasa menahan rasa penyesalannya. Dia benar-benar merasa dirinya adalah lelaki yang paling bodoh, yang bahkan tidak bisa menjaga wanita yang sangat spesial bagi dirinya. Dan ironisnya dia harus kehilangan kekasihnya pada jarak yang masih terbilang cukup dekat dari posisi Naruto.
"Aku adalah laki-laki bodoh dan tidak berguna, Teme. Dia diculik dan entah dimana keberadaannya saat ini. Seharusnya aku ikut menjaganya diluar rumah saat dia sedang menjemur pakaian. Tapi aku malah tetap di dalam rumah. Aku bahkan tidak bisa menjaganya dari jarak sedekat ini. Laki-laki macam apa aku ini." Naruto terus menyesali keadaan yang dia alami sambil terus terisak.
Sakura yang dari tadi kurang fokus mendengarkan pembicaraan antara kedua pria tersebut, akhirnya dia tersadar bahwa sahabatnya sudah tidak berada di mansion itu lagi. Sakura pun berlari menuju kamarnya, menangis dengan keras dan terus meneriakkan nama sahabatnya, karena begitu terpukul setelah tahu sahabatnya benar-benar dalam bahaya.
Plakk...
Sebuah tamparan pada pipi Naruto yang tidak terlalu keras, dilayangkan oleh Sasuke.
Kemudian Sasuke mencoba untuk menyadarkan Naruto,
"Dobe, sejak kapan sahabatku begitu rapuh seperti ini? Sejak kapan dia terus menyesali dan meratapi tanpa henti? Aku tidak pernah punya sahabat yang LEMAH seperti ini!"
"Kau tidak kehilangan jati dirimu kan, Dobe?! Bahwa kau adalah seorang samurai, sama sepertiku!"
"Seorang samurai paling hebat sekalipun pasti pernah melakukan kesalahan sekecil apapun dalam hidupnya. Tapi bukan berarti dari kesalahan yang sudah terlanjur terjadi itu, kemudian harus terpuruk dan terus menyesalinya."
"Mereka yang bisa bangkit dan segera memperbaiki dari kesalahan yang mereka lakukan, adalah mereka yang tidak kehilangan jati dirinya!"
Blarrr...
Kalimat terakhir dari Sasuke benar-benar menyadarkan Naruto dari rasa keterpurukan dan penyesalan yang amat dalam, yang sempat dia alami beberapa saat lalu.
"Terima kasih, Teme. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku akan pergi dan menjemput kekasihku!"
"Dengan siapa kau akan berangkat, Dobe? Rekan-rekan kita saat ini sedang menjalani misi pengawalan yang cukup jauh. Mereka sepertinya baru akan kembali beberapa hari lagi. Sementara keluarga Hinata dan Sakura juga sedang ada urusan di luar kota. Aku khawatir bagaimana perasaan Hiashi-sama saat mereka kembali ke sini."
"Tidak perlu khawatir, Teme. Aku akan berangkat sendirian menjemput Hinata."
"Kau baka ya! Lawan yang kita hadapi kali ini berbeda dengan dua kejadian sebelumnya. Mereka jelas telah belajar dan telah merencanakan siasat terbusuk mereka. Mereka tidak mungkin berhadapan dengan kita secara langsung, pada akhirnya mereka berusaha untuk menarik kita ke dunia mereka. Dan aku yakin sekali bahwa ini adalah JEBAKAN."
"T-tapi Teme, kita juga tidak bisa berdiam diri di saat seperti ini. Semakin lama kita tidak segera bertindak, semakin lama pula mereka akan menyiksa Hinata. Dan itu sangat menyiksa batinku."
Sasuke sedang duduk termenung. Tak seberapa lama kemudian,
"Hn, baiklah. Aku akan ikut denganmu untuk menyelamatkan Hinata."
"T-Tapi kau tidak bisa meninggalkan Sakura, Teme. Dia juga butuh perlindunganmu. Sudahlah, biar aku saja yang berangkat sekaligus menjadi penebusan kesalahanku akibat kelalaian yang aku lakukan."
"Tidak. Aku akan memberikan pengertian kepada Sakura nantinya. Lagipula, rekan kita Lee sedang tidak mengikuti misi pengawalan beserta yang lainnya. Dia juga memutuskan untuk rehat. Sakura bisa bersamanya untuk sementara, demi keamanannya."
"Lagipula, mana tega aku membiarkan sahabat kuningku ini melangkah maju sendiri dan menantang bahaya yang jelas-jelas ada, demi kekasih yang dicintainya itu. Mana tega aku membiarkanmu masuk sendirian dalam jebakan mereka."
Naruto merasa terharu dengan pernyataan sahabat ravennya tersebut, kemudian tersenyum
"Arigatou, Teme. Kau memang sahabat terbaik yang selalu paham diriku."
"Apakah kau siap Teme? Karena mungkin saja ini adalah perjalanan terakhir kita sebagai seorang samurai."
"Cih, memangnya kenapa harus khawatir kalau ini perjalanan terakhir? Kau takut tidak bisa kembali lagi ya?"
"Huh, demi Hinata tentu saja aku akan ikhlas jika aku tidak bisa kembali pulang. Tapi aku masih yakin dengan janjiku padanya, bahwa aku tidak akan mati sebelum hidup bahagia bersamanya."
"Baiklah, Dobe. Semangatmu akhirnya kembali lagi. Aku senang."
"Ini akan menjadi perjalanan terakhir kita, Teme. Berjanjilah kali ini, mereka harus benar-benar lenyap dari muka bumi. Pilihannya hanya ada dua, kita atau mereka yang harus lenyap."
-TBC-
