All characters belong to Masashi Kishimoto.
This is just a fan-fiction.
Pagi hari yang cerah di Konoha
"Kumohon, Sakura-chan. Cobalah untuk mengerti kali ini saja. Aku bukannya pergi meninggalkanmu. Aku pergi sebentar untuk menolong sahabatmu, yang saat ini sedang membutuhkan bantuan. Kali ini saja aku minta tolong. Bersabarlah dan tunggu kedatanganku kembali di Konoha bersama dengan Naruto dan Hinata." Sasuke benar-benar harus berusaha keras untuk meyakinkan kekasihnya sejak kemarin malam.
"T-T-Tapi, Sasuke-kun. Aku benar-benar takut dengan perasaan ini. Aku hiks... takut sekali jika aku harus kehilanganmu. Perasaanku benar-benar tidak enak untuk melepasmu pergi, hiks."
"Hn, Kuatkanlah hati dan pikiranmu. Buang semua pikiran negatif yang ada di pikiranmu saat ini. Berdoalah selalu agar kami semua dapat kembali dengan selamat. Aku, Uchiha Sasuke akan berjanji kepada Haruno Sakura, bahwa aku akan kembali kepadamu. Percayalah dengan janjiku tersebut."
"Untuk sementara, selama aku pergi, tinggal-lah bersama Lee. Kau akan lebih aman bersamanya daripada harus sendirian di Mansion itu. Lee, aku minta tolong padamu. Jagalah Sakura dengan sebaik mungkin. Hingga aku kembali bersama Naruto, setelah menjemput Hinata."
"Aku mengerti, Sasuke. Serahkan semuanya padaku."
"Baiklah, Sasuke-kun. Aku pegang janjimu yang mengatakan akan kembali padamu setelah perjalananmu yang terakhir ini. Naruto, tolong selamatkan dan jemput sahabatku agar kita bisa bersama-sama lagi. Jaga dirimu dan tolong jaga pula Sasuke-kun."
Naruto menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada Sakura.
"Sasuke, Naruto. Bawalah kedua kuda ini sebagai tunggangan kalian. Aku rasa kalian lebih membutuhkan ini." Lee menarik lembut dua ekor kuda yang selama ini digunakan oleh pasukan samurai Konoha dalam menjalankan misi.
Naruto dan Sasuke pun bersiap untuk meninggalkan Konoha. Dari kejauhan mereka berdua terlihat melambaikan tangan kepada Sakura sebagai salam perpisahan, untuk sementara?
-
Flashback
"Hei, Dobe. Masih ada yang mengganjal pikiranku dari tadi. Apakah kau sudah tahu, kita harus menuju lokasi mana nantinya? Aku bahkan belum melihat orang suruhan Toneri yang mengirimkan surat ancaman ke kita dan menyuruh kita untuk datang ke markasnya."
"Terlalu lama untuk menunggu kabar dari si brengsek itu, Teme. Aku sudah tahu dimana Hinata berada. Kau ingat kan waktu kita sedang perjalanan dari Osaka menuju Konoha, ketika kita mendapat serangan saat di hutan itu?"
"J-jadi maksudmu, di sanalah tempat persembunyian mereka itu?"
"Iya, aku yakin sekali Teme. Sewaktu kita sudah menghabisi hampir seluruh pasukan Toneri, aku sempat melihat dari kejauhan, seperti sebuah bangunan yang terhalangi oleh curamnya lembah di bawah hutan tersebut. Aku berani yakin, Hinata pasti ada di sana."
"Baiklah, Dobe. Besok pagi kita harus berangkat. Jangan lupa untuk membawa seluruh senjata terbaikmu."
"Teme, ada yang ingin aku sampaikan kepadamu."
"Hm? Apa itu?"
"Jika aku memang ditakdirkan untuk tidak bisa kembali lagi, berjanjilah kau harus kembali bersama dengan Hinata."
"Kau bicara apa? Bukankah kau sendiri yang mengatakan terus-terusan bahwa kau tidak akan mati begitu saja? Ayolah, kita harus yakin. Kita semua akan kembali bersama-sama lagi dan melenyapkan mereka semua."
Flashback off
-
"Perjalanan kira-kira memakan hampir dua hari, Teme. Ah, rasanya aku tidak ingin tidur dan tidak ada niatan untuk berhenti sama sekali, agar semakin cepat sampai dan menjemput Hime-ku."
"Baka, apa yang kau pikirkan itu? Saat kau nanti sudah berada di sarang musuh dengan kondisi tidak tidur, tidak makan dan tidak istirahat sama sekali, aku pastikan kau akan dibunuh dengan cepat."
.
Di tempat lain
"Bangun dari mimpimu, Hinata." Seorang pria bersurai perak mengguyur segayung air dingin pada kepala seorang gadis bersurai indigo yang dari tadi memang belum sadarkan diri.
"Hahhhh, air dingin? Eh, dimana aku? Mengapa badanku tak bisa bergeraaa..k? Toneri?"
Hinata baru menyadari jika saat ini, dia menjadi tahanan dari pria tersebut. Tubuh, kaki dan tangannya sudah dalam posisi terikat kuat pada sebuah kursi. Hinata juga menyadari, jika posisinya sedang dimanfaatkan oleh Toneri, sebagai umpan untuk menggiring Naruto menuju markas persembunyiannya.
"Ah, kau sudah sadar rupanya, permaisuriku. Buatlah dirimu nyaman ya untuk sementara, sampai pangeran kuningmu itu datang kemari, hahaha. Aku pastikan dia tidak akan kembali pulang ke Konoha, begitu dia sampai di sini."
"Tidak,tidak! Hiks, Naruto-kun pasti akan menjemputku dan kami akan kembali bersama-sama ke Konoha, hikss. Huuuu."
"Apa kau yakin dengan hal itu, cantik? Kau harus ingat ini adalah markasku, dan aku mengenal betul tempat ini. Aku pastikan dia akan meregang nyawa di tempat ini. Dan kau akan menyaksikannya sendiri, bagaimana rasanya melihat orang yang kau cintai akan mati di depan wajahmu sendiri."
"Ahh akan kupermudah saja, aku akan memberimu dua pilihan. Jadilah permaisuriku, dan aku akan membiarkan kekasihmu tetap hidup. Atau kau memilih untuk menyaksikan sendiri, bagaimana kekasihmu akan mati tepat di depan wajahmu."
Hinata yang sebelumnya sudah menangis sesenggukan, kini dia makin tidak kuat lagi saat mendengar Toneri berniat menghabisi Naruto jika ia menolak dengan pilihan yang pertama.
"Hikss, Lebih baik kau bunuh saja aku! Hiksss. Huuaaa."
"Membunuhmu? Haha. Jangan konyol, Hinata. Tidak akan ada kesenangan yang kuperoleh. Nyawamu itu sangat berharga dan akan semakin menarik, saat lelaki yang kau cintai sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menyelamatkanmu."
"Hiks. Kumohon, Toneri. Jangan bunuh Naruto-kun. Hikss. Aku tidak ingin seumur hidupku dihantui kematiannya, hikss."
"Cih. Kau lihat saja, Hinata. Memang pilihan itu lah yang paling menarik untuk saat ini, saat melihat kekasihmu kehilangan nyawanya secara mengenaskan dan gagal menyelamatkanmu. Dimana kegagalannya itu akan kau saksikan sendiri di depanmu."
"Sudah ya, Hinata. Aku harus meninggalkanmu sendiri. Nanti kita akan berkumpul lagi saat pangeranmu sudah sampai. Hahaha."
Disekap sendirian dalam keadaan terikat di kursi, di dalam ruangan yang sempit dan gelap. Hinata hanya bisa pasrah apabila kejadian terburuk harus ia saksikan sendiri. Ia hanya bisa berharap dan terus berharap agar Naruto bisa menjemputnya dan pulang bersama-sama. Ia terus berdoa dalam hatinya.
"Kami-sama, hiks. k-kumohon beri kekuatan lebih pada Naruto-kun agar bisa menyelamatkanku dan pulang bersama-sama, hiks. A-aku sangat mencintainya. hiks. Kami-sama, tolong jagalah Naruto-kun untukku."
Karena harus menanggung beban pikiran yang begitu berat, Hinatapun kembali pingsan tak sadarkan diri.
-TBC-
