All characters belong to Masashi Kishimoto.
This is just a fan-fiction.
-
Sore hari di sebuah hutan belantara.
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan selama hampir dua hari, mau tidak mau mereka harus kembali lagi pada titik yang sama, setelah beberapa minggu sebelumnya.
Masih segar di ingatan Naruto dan Sasuke, bahwa mereka telah menghabisi banyak nyawa dari pasukan Toneri-Sasori saat itu.
Apakah ini karma bagi mereka? Dimana saat ini posisi sedang berbalik. Kali ini, mereka yang sedang berada di ujung kematian.
Apapun itu, mereka sudah bertekad dari awal sejak berangkat dari Konoha. Mereka ikhlas jika menerima takdir apapun setelah perjalanan terakhir yang mereka lalui ini, benar-benar selesai.
"Tuh, Teme. Bangunan tersembunyi yang tidak begitu terlihat dari atas sini. Kita harus menyusuri lembah ini dan turun menuju apa yang ada di dalam sana."
"Aku mengerti, Dobe. Berarti kuda-kuda ini sudah tidak bisa kita gunakan lagi. Kita harus berjalan kaki dengan sangat hati-hati agar tidak ketahuan di awal."
Kedua pemuda itu berjalan dengan sangat hati-hati dengan menuruni lembah yang cukup curam, berharap keberadaan mereka tidak sampai diketahui dulu.
Selesai menuruni lembah, mereka sampai di posisi bawah lembah dan sudah mulai mendekati pintu masuk pada markas rahasia tersebut.
Di depan pintu masuk, mereka melihat dua orang berukuran besar sedang mengawasi keadaan sekitar, dan diduga adalah penjaganya.
Bukan masalah besar bagi Naruto dan Sasuke. Mereka mengendap-endap dari arah belakang tanpa menimbulkan bunyi sama sekali.
Setelah berdiri tepat di belakang kedua penjaga yang sedang berjaga di depan pintu masuk, kedua samurai menempelkan masing-masing katana mereka pada leher kedua penjaga itu, berencana untuk menggorok leher keduanya.
Jrasshhhh..!
Dan terputuslah leher kedua penjaga itu.
Merasa tidak ada yang menjaga lagi di pintu depan, mereka pun masuk dengan pelan dan hati-hati.
Tiba-tiba Sasuke berbisik pelan pada Naruto,
"Oi, Dobe. Aku ada usul. Bagaimana kalau kita lebih baik mencoba menghindari semaksimal mungkin untuk tidak bertatapan langsung dengan anak buah Toneri. Akan sangat merepotkan apabila kita harus menghabisi mereka dulu sebelum kita sampai ke tempat Hinata disekap."
"Lebih baik kita langsung saja mencari tempat Hinata saat ini berada dan berusaha menghindari anak buah Toneri sebanyak mungkin. Aku mengandalkan insting mu, Dobe. Insting pendeteksi keberadaan musuh sepertinya harus kau aktifkan lagi di posisi sekarang."
"Usul yang bagus, Teme. Baiklah. Aku akan coba menggunakan 'radar' di kepalaku ini, supaya kita bisa terhindar dari peperangan langsung."
Berkat insting kuat yang dimiliki Naruto tersebut, dia dan Sasuke dapat meminimalisir kemungkinan bertatapan langsung dengan anak buah Toneri. Dengan gerakan pelan dan sangat hati-hati, mereka menuju lokasi yang diyakini oleh insting Naruto, bahwa tempat tersebut adalah tempat di mana Hinata berada.
Namun perasaan Naruto sedikit aneh, karena tempat yang sudah dia duga sebagai tempat penyekapan Hinata tersebut, justru malah mengarah keluar dari bangunan tersebut. Dan sekarang, mereka kembali lagi ke dalam hutan belantara yang sangat gelap. Dan haripun juga mulai gelap.
Mereka terus berjalan dengan mengandalkan insting mereka dalam kegelapan tersebut. Setelah berjalan beberapa saat, tampak terlihat samar-samar beberapa cahaya dari kejauhan. Merekapun bergegas mendekati arah cahaya tersebut.
Tampak ada sebuah gubuk kecil di tengah-tengah hutan tersebut. Dan di sekelilingnya ditancapkan beberapa obor yang menyala pada batang pohon sebagai penerangnya.
Lagi lagi insting Naruto tak salah. Tetapi sayangnya, kehadiran Naruto dan Sasuke sudah ditunggu oleh seseorang yang sangat ingin mereka lenyapkan dari muka Bumi ini.
Ia pun menampakkan diri dari balik pintu gubuk kecil tersebut dan kemudian langsung bertatapan dengan Sasuke dan Naruto. Toneri pun memberikan sambutan selamat datangnya.
"Aisatsu, Naruto-san, Sasuke-san. Wah, aku benar-benar tak menyangka jika umpan yang sudah aku tebar ini, justru berhasil memancing dua ekor ikan besar sekaligus. Bukan hanya satu ekor saja seperti yang kuperkirakan sebelumnya."
"Selain itu, aku benar-benar terkesan dengan kalian. Aku tak mengira jika kalian bisa dengan mudahnya menemukan markas rahasiaku. Padahal aku belum mengirimkan petunjuk sama sekali."
"Aku benar-benar merasa terhormat bisa bertatap muka langsung dengan dua samurai terbaik Konoha yang gosipnya, kisah keduanya sudah melegenda. Hehehe, membunuh keduanya justru akan membuat kisahku menjadi lebih melegenda lagi."
"Kau! Keparat kau! Kau akan menerima akibatnya karena sudah mencari masalah denganku." Hardik Naruto tanpa rasa takut.
"Fufufufu, kau sudah lupa berada di mana saat ini, Naruto-san? Saat ini, kau sudah tidak berada di Konoha. Ini adalah daerahku dan aku yang lebih memiliki keuntungan disini. Kau seharusnya tidak sepercaya diri itu. Apalagi pintu kematian dan neraka tampaknya sudah memanggil-manggil namamu dari tadi."
"Kalian tahu, aku sangat membenci samurai karena mereka selalu menjadi pengganggu saat aku membelot mendukung Amerika. Tapi, aku lebih membenci kalian karena menggangguku untuk mendapatkan Hinata dan Sakura yang sudah aku 'kejar' dari dulu bersama Sasori."
"Aah, tak lupa aku juga akan mempermudah urusan kita ini, Naruto. Aku akan memberimu dua pilihan. Buang saja senjatamu, pulanglah dengan damai bersama sahabatmu itu, dan ikhlaskan kekasihmu."
"Atau kau mau cara yang sulit dan menyakitkan bagi dirimu dan bagi Hinata-mu ini. Kau akan mati dengan cara mengenaskan, dengan disaksikan langsung oleh gadis yang kau cintai ini!"
Jrenggg...
Toneri membukakan pintu gubuk tersebut hingga terbuka sempurna dan tampak jelas di mata Naruto bahwa gadis yang dicintainya itu sedang terikat pada bagian tubuh, tangan dan kakinya di sebuah kursi kayu dengan kondisi yang mengenaskan. Hinata masih pingsan rupanya.
"H-Hinata? Hinnaatttaaaa!"
Naruto benar-benar terpukul.
"Hoi, bangunlah. Kekasihmu sudah sampai di sini dan dia bersiap menjemputmu, kalau masih hidup tentunya."
Toneri kembali menyiramkan air dingin untuk membangunkan Hinata.
Tak tahan melihat perlakuan Toneri terhadap Hinatanya, Naruto sudah akan bersiap menghabisi Toneri.
Baru beberapa langkah akan mendekati Toneri, langkah Naruto dihentikan akibat kemunculan beberapa sosok orang yang sebelumnya bersembunyi di balik kegelapan. Munculah sekitar selusin ninja bayaran, yang tugasnya memang disewa untuk membunuh targetnya.
"Gawat. Ini sangat gawat, Dobe."
.
Hinata segera tersadar kembali akibat air dingin yang diguyurkan oleh Toneri di kepala gadis bersurai Indigo tersebut. Samar-samar matanya mulai terbuka kembali. Dan apa yang Hinata takutkan, hampir akan terjadi.
Matanya tampak jelas sedang melihat sosok laki-laki yang amat ia cintai bersama sahabatnya, sedang dikepung oleh selusin ninja pembunuh bayaran.
Pemandangan yang mengerikan bagi Hinata, dan dia tidak bisa melakukan apa-apa karena tubuhnya tidak bisa bergerak kemana-mana akibat ikatan yang menjeratnya di kursi kayu tersebut.
Ia hanya bisa berteriak dan menangis dengan kencang.
"NARUTO-KUN, SASUKE! Hiks, hiks. Huuu..."
Naruto yang sebelumnya hanya fokus pada keberadaan ninja-ninja yang sudah mengelilinginya, tiba-tiba tersentak dengan teriakan wanita yang sangat ia cintai di hadapannya tersebut.
"Bagaimana Naruto-san, kau sudah puas bertemu dengan kekasihmu itu? Buatlah segalanya jadi mudah. Aku yakin bahwa kaupun tidak ingin jika kekasihmu harus menderita tekanan mental sepanjang sisa umurnya nanti, setelah melihat kematianmu di depan wajahnya langsung. Hehehe, jadi apa jawabanmu atas pilihanku tadi?"
"Ck. Aku beri contoh mudah saja buatmu. Ketika ada seseorang sedang berhadapan dengan sebuah masalah kehidupan. Kemudian, akan selalu muncul dua pilihan 'di hadapannya'. Pilihan pertama adalah menghindari masalah dan lari dari kenyataan. Pilihan kedua adalah menerima dan berusaha sekuat tenaga untuk menghadapi masalah yang dialami seseorang itu."
"Ini sama saja dengan pilihan yang kau sebutkan tadi. Dan sudah jelas pilihan pertama hanya berlaku bagi pengecut yang tidak mau menghadapi sebuah masalah. Dan asal kau tahu saja, aku Uzumaki Naruto, bukanlah seorang PENGECUT!"
Hinata yang mendengar pernyataan langsung dari Naruto, mendadak merasa tenang dan merasakan adanya secercah harapan dari sorot mata kekasihnya tersebut.
"Naruto-kun, semoga Kami-sama melindungimu."
-TBC-
