All characters belong to Masashi Kishimoto.
This is just a fan-fiction.
Mendengar pernyataan mantap dari Naruto, hanya dibalas tawa tak lucu dari Toneri.
"Fufufu, hahaha. Oke, aku paham sekarang. Kau bukanlah seorang pengecut, tapi sayangnya kau terlalu bodoh dalam mengambil pilihan. Karena kau baru saja memilih untuk menciptakan permainan kematianmu sendiri. Ini akan semakin menarik, karena bisa membuat darah akan mendidih. Hahaha."
"Keh, asal kau tahu saja, masih ada satu janji kepada Hinata yang belum aku penuhi. Malam ini dia akan menyaksikannya sendiri pembuktian janjiku itu."
"Fufufu. Kau ini sungguh lucu, Naruto. Untuk orang yang sudah bersiap akan menghadapi kematiannya, kau masih bisa saja membual. Sudah mau mati masih banyak bicara. Tak perlu lama-lama lagi, bunuh mereka berdua!"
Perintah Toneri kepada seluruh ninja bayarannya untuk segera membunuh Naruto dan Sasuke.
"Kau siap, Teme?"
"Hn." Sasuke membalas dengan senyuman.
Serangan ninja yang datang bertubi-tubi ke arah Naruto dan Sasuke, dengan susah payah mereka hindari. Mulai dari lemparan kunai, shuriken hingga sabetan pedang juga mengarah ke kedua pemuda tersebut.
Sriiingg! Jrosshhh! Jluubb!
Satu orang tumbang terkena tebasan Sasuke, diikuti dengan satu korban selanjutnya yang ambruk dengan bersimbah darah.
Criiinggg! Jrasshh! Crosshhh!
Dua orang meregang nyawa langsung di tangan Naruto.
Ada beberapa serangan musuh yang mencederai bagian kaki dan tangan, baik Sasuke maupun Naruto karena serangan balasan dari ninja bayaran tersebut datang secara bertubi-tubi.
Brakkk! Jlebbb! Craashhh!
"Guwahhh!"
"Aahhhk!"
"Haaaaaggh!"
Satu persatu ninja pembunuh bayaran tersebut harus meregang nyawa, disertai suara jeritan yang terdengar mengenaskan saat mereka akan kehilangan nyawa.
Hinata yang tak kuasa melihat pemandangan mengerikan di hadapannya. Ia hanya bisa menutup mata, dan terus memanjatkan doa untuk kedua 'jagoan' tersebut.
Bruukkk!
Orang terakhir dari pasukan ninja tersebut akhirnya tumbang.
"Hahh Hehh Hahh..." nafas tak beraturan mulai muncul dari kedua Samurai Konoha tersebut. Mereka juga mengalami luka-luka pada beberapa bagian tubuh, walaupun hitungannya masih tergolong luka yang belum serius.
"Kita jarang dilukai seperti ini, Teme. Ini benar-benar situasi yang berbeda dari misi kita selama ini sebagai samurai. Benar-benar perjalanan terakhir."
"Selamat-selamat! Kalian lolos dari tahap pertama, namun jangan senang dulu, karena tahap berikutnya akan lebih menarik dan lebih membuat darah kalian lebih mendidih. Aku juga menyiapkan kejutan tambahan."
"Hei, kemarilah!"
Sesosok pria dengan perawakan sangat tinggi, badan kekar dan warna kulit keabu-abuan muncul begitu saja dari kegelapan. Wajahnya juga menyimpan aura pembunuh.
"Kisame?" Naruto dan Sasuke tak menyangka bahwa lawan yang dihadapi kali ini juga merupakan mantan samurai terbaik di Jepang, namun membelot menjadi pengkhianat negara. Sama seperti Toneri dan Sasori karena sifat keserakahan terhadap harta dan kekuasaan di pemerintahan.
Tangan kirinya membawa pedang berukuran besar yang dililit oleh kain putih. Dan tangan kanannya sedang menggendong sebuah karung berwarna coklat berukuran besar pada bahunya. Tampak dari dalam karung tersebut muncul gerakan-gerakan seperti meronta dan menendang.
Diletakkannya karung tersebut di dekat Toneri. Naruto dan Sasuke benar-benar penasaran apa isi dalam karung tersebut. Mereka sudah menduga pasti di dalamnya adalah manusia yang sedang memberontak, dan ingin segera keluar.
"Ini kejutan kalian!"
Jrenggg...
Mata Naruto dan Sasuke langsung terbelalak ketika melihat sosok yang berada di dalam karung yang dibawa oleh Kisame tadi, ternyata adalah Sakura!
Hinata yang masih dalam posisi duduk terikat pada kursi di sebelahnya langsung menangis dan berteriak, ketika harus melihat kenyataan bahwa sahabat masa kecilnya harus bergabung dengannya.
Mereka berdua sama-sama harus mengalami siksaan batin terhebat. Siksaan yang teramat dalam, karena dipaksa untuk menyaksikan kekasih mereka yang sedang bertarung dan mempertaruhkan nyawa, demi mereka.
"SAKURA-CHAN. Hiks, hiks huaaaa.. Mengapa?! Hiks, Mengapa kau harus ikut terlibat dalam situasi ini, Sakura? Hiks."
Sakura dimasukkan dalam karung coklat berukuran besar. Dalam keadaan terikat tali yang kuat pada bagian dada, perut, tangan dan kakinya. Serta mulutnya juga disumpal dengan sebuah kain berwarna putih. Pemandangan yang benar-benar mengerikan bagi Sasuke.
Sasuke hampir tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Badannya langsung terasa lemas dan jantungnya seakan mau copot.
'Bagaimana bisa?' Itulah pertanyaan yang langsung muncul dalam otaknya.
Kekasih yang awalnya dia percayakan pada rekannya di Konoha agar keselamatannya terjaga, bagaimana mungkin malah harus bergabung di sini?
-
Flashback
"Ayo masuk, Sakura-chan. Anggap saja rumahmu sendiri."
"Arigatou, Lee"
Saat mereka berdua masuk ke dalam rumah, ternyata ada seseorang yang sudah menunggu kedatangan mereka dari tadi.
Bledagg!
Lee yang masuk terlebih dahulu, mendadak dipukul oleh pedang besar berbalut kain putih dari belakang.
Mengenai bagian belakang leher, Lee roboh seketika dan tak sadarkan diri.
Sakura yang dibelakang Lee langsung terkaget dan shock. Belum sempat Sakura berteriak, mulutnya langsung dibekap dan pandangannya menjadi gelap.
Flashback off
-
"Bagaimana kejutan dariku, Sasuke-san? Benar-benar bisa membuat darahmu semakin mendidih kan? Hahaha. Saat ini kalian berdua harusnya senang, karena kalian semua sudah ditemani dengan kekasih-kekasih yang kalian cintai di hadapan kalian. Mereka akan bersiap menjadi saksi mata, ketika kalian sudah menjadi mayat."
"Bedebah kau, Toneri! Hn, jika aku memang harus kehilangan nyawa di sini, maka kau harus ikut bersamaku dan kita memasuki pintu neraka bersama-sama."
Sakura hanya bisa menangis dalam diam saat Sasuke terus menatapnya. Karena posisi mulutnya disumpal dengan kain ia hanya bisa menangis dalam hatinya. Air matanya jatuh dengan derasnya.
Sasuke menatapnya dengan sendu, kekasih yang ia cintai tersebut harus bergabung dengannya. Dalam sebuah 'pertunjukan' yang sudah dirancang oleh seorang psikopat dan pengkhianat negara, lebih tepatnya.
-TBC-
