All characters belong to Masashi Kishimoto.
This is just a fan-fiction.

Naruto yang masih dibakar dengan amarah hebat, sedang berjalan mendekati Toneri.

Namun sayangnya, kekuatan fisik Naruto sudah sangat terkuras sejak pertarungan dengan para ninja bayaran, hingga pertarungan dengan Kisame.

Itu belum diperparah dengan tekanan mental yang harus dirasakan oleh Naruto, saat mengetahui bahwa kekasihnya harus menjadi saksi pertarungannya. Dia tidak ingin mati secara konyol di depan Hinata.

Dengan kondisi fisik dan mental yang sudah berkurang drastis, Naruto tidak mampu untuk melakukan gerakan dan serangan sekejap seperti sebelum-sebelumnya. Dia hanya bisa berjalan biasa, ketika menghampiri seseorang yang ingin dia lenyapkan saat itu juga.

Toneri yang awalnya tampak ketakutan, namun dia segera menyadari bahwa Naruto yang berada di depannya, sudah tidak mungkin untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

Toneri dapat mencium peluang emas yang sudah berada di depan mata. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan berharganya untuk membunuh kedua samurai terbaik Konoha tersebut.

Tak perlu berlama-lama, dia segera mengeluarkan sebuah pistol dari kantong celananya. Tanpa pikir panjang, dia langsung menembak kaki kanan Naruto, bermaksud untuk mencegah Naruto agar tidak semakin mendekat pada posisinya.

Dooorrr..!

Tembakan pertama tadi tidak dirasakan sama sekali oleh Naruto. Walau kaki kanannya sedang cedera akibat tertembak, Naruto tidak merasakan sakit sama sekali. Dia tetap melangkahkan kedua kakinya untuk mendekati Toneri.

Dooorrr..!

Tembakan kedua yang dilepaskan oleh Toneri, telah mengarah pada lengan kanan Naruto yang sedang menggenggam pedangnya.
Namun, tembakan kali ini, kembali tidak dirasakan oleh Naruto.

Pedang Naruto masih tergenggam dengan erat pada tangannya, meskipun lengannya cedera akibat tertembak peluru. Dengan kondisi lengan dan kaki yang sudah terluka seperti itu, Naruto masih tetap berjalan ke arah Toneri. Seakan-akan tubuh samurai tersebut telah dilapisi oleh besi yang tak kasat mata.

"Hen-Hentikannn, Toneri! Hiks, Kau bisa membunuhnya. Hiks. Aku tak sanggup lagi melihatnya, hikss. Kami-sama, kumohon lindungilah Naruto-kun. Huuuu."

Hinata sudah tidak tahan lagi dengan apa yang dia lihat. Laki-laki yang dicintainya itu harus menerima dua kali tembakan yang dilepaskan dari pistol yang dipegang oleh Toneri.

Hinata tidak tahu sampai kapan Naruto dapat bertahan, jika terus-terusan menerima 'timah panas' tersebut. Dia benar-benar takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada kekasihnya.

"Cih. Sebenarnya tubuhmu ini terbuat dari apa, Naruto? Bahkan peluru saja tidak mempan untuk menghentikanmu."

"Tunggu dulu. Bagaimana dengan organ di dalam tubuhmu itu? Hahaha, mari kita lihat apakah jantungmu juga bisa 'menahan' peluru ini."

Kemudian, terjadilah tembakan yang ketiga dari pistol tersebut.

Duooorrrr...!

Jreebbb...

Tembakan yang dilepaskan Toneri kali ini, tepat mengarah ke arah dada sebelah kiri Naruto. Entah peluru itu memang tepat mengenai jantungnya atau meleset beberapa centimeter dari letak jantung.

Yang jelas, tembakan ketiga ini pada akhirnya telah menghentikan langkah Naruto dan membuatnya agak terjatuh, dengan posisi kedua lututnya menumpu pada tanah.

Aaakkhh! Guwaahhh!

Muncul semburan darah segar dalam jumlah besar dari mulut Naruto. Sudah pasti organ dalamnya ada yang terluka serius.

Ekspresi dari wajah Naruto setelah menerima tembakan terakhir, benar-benar menjadi kosong dan datar. Entah apa maksudnya, apakah seperti ini yang dinamakan sekarat dan di ujung kematian?

Tubuh Hinata semakin lemas ketika melihat keadaan Naruto yang seperti sudah kehilangan sebagian nyawanya, dan hal yang mengerikan ini harus ia saksikan tepat di hadapannya sendiri.

Sakura hanya bisa mendoakan kekasih dari sahabatnya itu, dalam sebuah tangisan yang tidak bersuara.

"Na-Naruto-kun, hiks. Bertahanlah demi aku, hiks."

Toneri benar benar bahagia. Kemenangan besar menanti di depannya. Uzumaki Naruto terlihat seperti kehilangan separuh nyawanya. Sementara Uchiha Sasuke terkulai lemas di tanah dan tak berdaya akibat kehilangan banyak darah.

"Jadi, beginikah akhir dari perjalanan Samurai Legendaris Konoha? Hehehe. Benar-benar ironis. Kau lihat itu, Hinata? Hahaha, inilah saat yang paling menyenangkan. Tak lama lagi, kau akan menyaksikan kematian kekasih samuraimu itu!"

"Hiks. Bunuh saja aku, Toneri. Kumohon, jangan bunuh Naruto-kun! Hiks, hiks, huuuu."

"Tenanglah, Hinata sayang. Bukankah sudah kukatakan sebelumnya? Membunuhmu tidak akan memberikan kepuasan sama sekali. Hei, Uzumaki Naruto! Kau beruntung karena kau adalah orang pertama yang akan aku bunuh. Aku akan segera membebaskan penderitaan dan siksaan dalam tubuhmu itu."

"Ada kalimat terakhir yang ingin kau sampaikan, sebelum kau meninggalkan kehidupan ini?"

Setelah mendengar kalimat Toneri yang terakhir, Naruto langsung menutup matanya. Mencoba bermeditasi dan memusatkan pikirannya pada satu nama yang selalu dia ingat, yang akan selalu ada secara terus-menerus terngiang dalam pikirannya : 'Hinata'.

Memikirkan nama sang kekasih, begitu hangat dan menentramkan pikiran alam bawah sadarnya. 'Hinata Hinata Hinata', dan terus menerus terdengar nyaring. Rasanya dia ingin segera menghampiri gadis yang ia cintai itu. Namun bagaimana bisa dia lakukan di saat kondisi sekarat seperti ini.

Naruto pun menghela nafas panjang dengan keadaan mata masih tertutup dan mengatakan kalimat terakhir seperti yang diminta Toneri.

"Toneri, kau..." Naruto sempat menghentikan kalimatnya.

"Eh?" Toneri terheran-heran dengan ucapan Naruto.
"Cepat katakan, sebelum aku mencabut nyawamu!"

Naruto kembali mengulangi kalimat terakhirnya dengan lambat.
"To-Toneri, kau.. KAULAH YANG AKAN MATI!" Heeahhh!

Jreesssssshh...!

Ketika mengakhiri kalimat terakhir yang dia ucapkan, secara tiba-tiba Naruto menghunus pedang yang masih berada di tangan kanannya.

Dia menebas langsung bagian leher Toneri, sehingga memisahkan bagian kepala dan tubuhnya. Tubuh pengkhianat negara dan seorang psikopat itu ambruk seketika dan bersimbah darah.

Naruto benar-benar merasa amat lega karena masih sempat-sempatnya untuk bermeditasi memusatkan pikiran alam bawah sadarnya, sehingga memperoleh kekuatan tambahan yang entah dari mana asalnya. Padahal kondisinya tadi seperti sedang sekarat.

Tak berselang lama, datanglah rekan bejat Toneri yang dari tadi memang belum memunculkan wajahnya.

Ya, Sasori yang sebelumnya masih menyelesaikan beberapa urusan di markas mereka, pada akhirnya menyusul memasuki medan perang. Dia menggantikan rekannya yang sudah meregang nyawa duluan.

"To-Toneri! Sialan, Kurang ajar kalian." Sasori benar benar tersentak melihat rekannya mati dalam keadaan yang mengenaskan.

"Baiklah. Karena rekanku tidak dapat mengakhiri ini, maka aku-lah yang akan melakukannya. Aku yang akan menghabisi kalian berdua."

"Ah, Sakura sayang. Ada kau disini rupanya. Kasihan sekali, mulutmu sedang disumpal rupanya. Jangan khawatir, akan kubukakan."

Sasori membuka kain yang menyumpal di mulut Sakura.

"Nah, sekarang kau bisa berteriak, terutama saat kekasih di hadapanmu sudah tidak bernyawa lagi."

"Jangan, kumohon. Jangan lukai Sasuke-kun lagi, hikss."

"Aku tidak akan melukainya, Sakura. Malah aku akan menghilangkan semua lukanya dan membebaskan nyawanya."

"Tapi pertama-tama, akan aku habisi dulu Uzumaki yang sudah sekarat ini."

Naruto sendiri masih dalam keadaan terdiam dengan posisi yang sama, setelah serangan terakhirnya yang menghabisi Toneri. Kekuatannya benar-benar habis, pikirannya kosong dan badannya seakan-akan tidak dapat digerakkan sama sekali.

"Jangaannnn, hiks." Hinata masih saja memohon.

Melihat sahabatnya berada dalam posisi akan ditembak lagi, entah mengapa Sasuke bisa bangkit untuk berdiri lagi. Sasuke berlari menuju posisi Naruto dan bermaksud untuk menjadi 'tameng' bagi Naruto.

Doorrr...!

Peluru sudah ditembakkan, dan Sasuke segera meloncat di depan Naruto.

Jleebbbb...

Peluru yang ditembakkan oleh Sasori mengenai bagian perut Sasuke agak ke kanan. Entah mengenai organ livernya atau tidak. Namun yang jelas, Sasuke tengah merasakan rasa sakit dan nyeri yang sangat hebat.

Giahhhhh! Aaaaagghhhhh!

Dua kali sudah Sasuke dibuat berteriak dan mengerang dengan sangat keras, setelah sebelumnya kehilangan tangan kirinya.

"Sasuke-kunnnn! Tidaaaaakkkkkk!" Sakura berteriak sekencang-kencangnya.

"Heheheh, benar-benar manis melihat tingkah laku kalian. Rupanya saling melindungi dan menjadi tameng bagi temannya. Baiklah kalau begitu, akan kubunuh saja kalian sekaligus."

Sasori mengambil pistol milik Toneri yang tergeletak di sebelah mayatnya. Kali ini ia menggenggam dua pistol di tangan kanan dan kiri. Dia bermaksud akan menghabisi Naruto dan Sasuke dalam waktu yang bersamaan.

"Selamat tinggal, Naruto dan Sasuke."

"NARUTO-KUN!"
"SASUKE-KUN!"

Kedua teriakan ini, mungkin adalah kalimat terakhir yang dilontarkan oleh Hinata dan Sakura kepada kedua pemuda samurai yang sama-sama terlihat sedang sekarat.

Sepertinya, baik Naruto maupun Sasuke hanya bisa pasrah dengan kondisi mereka saat ini. Mereka harus bersiap untuk menerima serangan terakhir dari peluru yang akan menghujam tubuh mereka.

.

.
Siuuttt... Jrasssssh...!

Tak disangka-sangka, ketika Sasori sudah hampir menekan pelatuk kedua pistol di tangannya, ada sebuah pedang yang dilempar dengan sangat cepat dan akurat. Menembus dengan kasar pada bagian tengah, tepat di antara kedua mata Sasori hingga pedang tersebut menembus pada bagian belakang kepalanya. Sasori pun roboh seketika, menyusul Toneri.

Sasuke-lah yang menghabisinya. Dengan kekuatan terakhir dan sisa-sisa kesadaran yang masih dia miliki, dia lemparkan pedangnya yang dari tadi masih setia tergenggam pada tangan kanannya. Dia lemparkan tepat di antara kedua mata Sasori.

"Selamat datang di neraka, brengsek!" Ucap Sasuke dengan nada mengejek.

.
Masalah kembali datang. Seluruh anak buah dan pasukan Toneri-Sasori, yang keluar dari markas rahasia dan bergegas menuju ke arah Naruto dan Sasuke dengan sangat cepat. Terlihat, kurang lebih tiga puluh orang sedang berlari sambil membawa senjata-senjata tajam pada tangan mereka.

"Segera habisi mereka! Mereka telah membunuh Toneri-sama dan Sasori-sama!" Teriak salah satu orang di kerumunan tersebut.

"G-g-gawaatt. Seper-tinya i-ini akan berakhir." Ucapan sasuke yang terbata-bata, seakan sudah pasrah dengan takdir.

"Kyaaaaa!"
Sakura dan Hinata juga sepertinya sudah pasrah.

.

.

Dakkk! Brakkk! Jrashhhh! Jleebbb!

Guwaghhh! Aaahhhh! Hiaaahh! Uuooggh!

Sekawanan pasukan Toneri dan Sasori yang sedang berlarian, bermaksud akan menghabisi Naruto dan Sasuke, tiba-tiba semuanya tewas dalam waktu sekejap.

Tak disangka-sangka, bala bantuan yang sejak dari tadi mereka tunggu, pada akhirnya benar-benar datang.

Kakashi dan pasukannya sampai di tempat itu, melenyapkan semua musuh yang tersisa. Kehadiran mereka hanya beberapa saat lebih awal, sebelum kejadian yang paling buruk benar-benar hampir terjadi.

"Maaf, kami terlambat. Kalian semua tidak apa-apa?"

"Hiksss. Yokatta, Kakashi-san, hikss. Hampir saja kami harus melihat kedua kekasih yang kami cintai, akan pergi meninggalkan kami, hikss." Lirih Hinata

"Hiks, T-terima kasih sudah menyelamatkan kami, Kakashi-san dan semuanya." Imbuh Sakura

"Eh, Hinata, Sakura. Hei kalian! Cepat hampiri kedua gadis di sana dan segera lepaskan ikatan mereka. Sisanya, bantu aku untuk mengurus Naruto dan Sasuke."

Naruto yang masih terdiam dengan tatapan kosong dan datar, dapat mendengar secara samar-samar suara Kakashi dan rekan-rekannya yang sudah datang menyelamatkan mereka.

Seakan ketenangan sudah ia dapatkan, tiba-tiba kedua kelopak mata Naruto tertutup dan dia seperti sedang mengucapkan sebuah kalimat yang cukup pelan, namun masih dapat terdengar oleh Hinata.

"H-Hinata... M-maafkan... aku."

Setelah selesai dengan kalimatnya, mendadak tubuh Naruto ambruk dengan keras. Narutopun tergeletak di samping Sasuke.

"Na-Na-Naruto-Kunnnnn!"

-TBC-