All characters belong to Masashi Kishimoto.
This is just a fan-fiction.

Hinata tampak sangat histeris melihat tubuh Naruto yang telah roboh di tanah. Apakah ini pertanda yang sangat buruk, yang dia takutkan benar-benar akan terjadi?

Ketakutan terbesarnya, ditinggalkan selama-lamanya oleh orang yang dia cintai terus terbayang-bayang dalam pikirannya. Seketika, setelah ikatan tali yang dari tadi telah melilit tubuhnya berhasil dilepaskan, Hinata segera berlari menghambur ke tubuh Naruto yang sudah tidak memberikan respon tersebut.

Suara tangisan yang amat keras akhirnya pecah dari mulutnya, ketika melihat tubuh kekasihnya yang pada akhirnya ambruk dan tidak merespon sama sekali.

Tak peduli dengan kedua bola mata amethysnya yang sudah sangat sembab saat ini, akibat tangisan demi tangisan yang sudah dia keluarkan sejak tadi. Entah mengapa air mata terus mengalir tanpa hentinya.

Sambil mendekap dengan sangat erat tubuh sang kekasih, yang tidak bisa dijelaskan apakah dia saat ini masih bernyawa namun sekarat atau sudah pergi ke tempat yang jauh di sana.

Satu hal pasti yang ada dalam keyakinan Hinata adalah, bahwa Naruto belum pergi jauh. Hanya tertidur lelap dalam dekapannya.

"Huuuaaaaaaaa, hiks. Naruto-kun. J- jangan tinggalkan aku sendirian di sini, sayang, hiks. Jujur aku tidak tahu apakah a-aku sanggup hiks, melanjutkan kehidupan ini nantinya. Huuaaa, A-ku yakin jika kau saat ini hanya sedang tertidur pulas. Huuaaaa Na-Naruto-kun, KUMOHON BANGUNLAH!"

Begitu juga dengan Sakura yang sudah berpikiran kemana-mana, saat melihat kondisi Sasuke yang tak kalah mengenaskan dengan Naruto. Apalagi dia tahu jika Sasuke telah kehilangan banyak darah sejak tadi.

Sasuke dengan wajah yang sangat pucat namun masih tersadar, hanya bisa tersenyum memandang Sakura dari posisinya yang terbaring lemas saat ini.

Ia terus menatap Sakura dari tempatnya saat ini terbaring. Melihat kekasihnya yang sedang dibantu oleh rekan-rekan samurai lainnya, untuk melepaskan ikatan yang melilit tubuh dan kaki Sakura, Sasuke hanya bisa memberikan senyuman tipisnya.

Uhuk, uhuk... Hoooeekkk...!

Mendadak dari mulut Sasuke memuntahkan darah segar yang cukup banyak.

Tampaknya, ini sudah mencapai titik batas dalam kesadaran seorang Uchiha Sasuke. Dia tak mampu lagi menopang rasa nyeri yang sudah menjalar pada seluruh bagian tubuhnya.

Dia memberikan senyuman terakhir pada Sakura, sambil menyebutkan nama kekasihnya dengan sangat lirih.

"S...Sa...kura..."

Kedua kelopak mata Sasuke akhirnya tertutup. Menyusul sahabatnya Naruto, yang sudah terlebih dahulu kehilangan kesadaran.

Entah keduanya memang masih bernyawa atau sudah pergi jauh meninggalkan kehidupan ini. Yang jelas, pemandangan yang memperlihatkan kondisi terakhir kedua samurai tersebut, benar-benar membuat kekasih mereka sangat terpukul.

Sakura yang mengamati pemandangan mengerikan di depannya, sontak berteriak keras dan berlari sekencang mungkin untuk meraih dan memeluk dengan erat tubuh sang kekasih yang sudah tidak bergerak.

Sakura berteriak kencang menyebut nama Sasuke. Kemudian ia tampak berusaha untuk tegar walaupun melihat kekasih yang berada dalam dekapannya sudah tidak memberikan respon apapun. Namun Sakura juga merasakan bahwa Sasuke belum pergi jauh untuk meninggalkannya.

"Sa-sasuke-kun sayang. K-kumohon kembalilah padaku. Kau sudah berjanji kemarin sebelum meninggalkan Konoha. T-tolong tepatilah janjimu dan jangan membuatku kesepian karena kehilangan dirimu."

Kedua gadis tersebut sama-sama memeluk dengan erat pada tubuh masing-masing kekasihnya yang sudah tak berdaya, jika tidak ingin disebut sekarat dan sangat dekat dengan kematian.

Kakashi pun kemudian menawarkan diri kepada Hinata dan Sakura, untuk memeriksa keadaan Naruto dan Sasuke.

...deg...

...deg...

"Hmm. Suara detak jantung Naruto dan Sasuke saat ini, walau terasa amat samar dan terdengar sangat pelan, namun belum hilang sepenuhnya. Aku masih bisa merasakan ada bunyi samar-samar dalam detak jantung mereka."

"Masih ada sedikit harapan untuk mengembalikan hidup mereka. Walau kemungkinannya sangat kecil, tapi kita harus mencobanya. Bersabarlah Sakura, Hinata."

Mendengar penjelasan Kakashi, Sakura dan Hinata memohon kepada Kakashi dan pasukannya untuk segera bergegas mengantarkan Sasuke dan Naruto agar memperoleh pengobatan dan penanganan.

.

.
Koyama Hospital

Di sebuah rumah sakit yang masih tampak sederhana di tahun itu, dan belum terlihat memiliki beragam fasilitas seperti rumah sakit di jaman ini,

Merekapun tiba.

Dokter dan tenaga kesehatan lainnya segera bergegas memberikan penanganan darurat kepada Naruto dan Sasuke yang benar-benar sangat kritis.

Hinata, Sakura, beserta Kakashi dan pasukannya hanya bisa menunggu di luar, mereka semua menunggu dengan raut wajah sangat sedih, terutama Sakura dan Hinata.

Mereka dengan sabar terus menunggu sebuah kabar dari dokter yang menangani Naruto dan Sasuke. Mereka terus berharap bahwa kabar yang disampaikan nantinya adalah kabar baik.

Tak seberapa lama, orang tua Hinata dan Sakura juga hadir di rumah sakit tersebut. Mereka saling berpelukan dengan haru dan meminta maaf dengan sungguh-sungguh kepada masing-masing anak gadis mereka.

Mereka juga menjelaskan bahwa mereka tidak memperoleh kabar sama sekali dan seperti sengaja ditutup-tutup kabar tersebut, selama mereka berada di luar kota.

Kemungkinan juga disebabkan adanya unsur manipulasi dari Toneri dan komplotannya untuk memutuskan hubungan antara orang tua dan anak.

Sesampainya di Konoha, mereka baru mendapati kabar yang sangat tidak mengenakkan. Bahwa anak gadisnya menjadi korban penculikan dan penyekapan, serta menjadi umpan hidup untuk menghabisi Naruto dan Sasuke.

Hiashi dan Kizashi menjadi sangat 'trenyuh' (terharu bercampur sedih) terhadap Sasuke dan Naruto, apalagi setelah Kakashi menjelaskan bahwa kedua pemuda tersebut hampir meregang nyawanya ketika berusaha menyelamatkan Hinata dan Sakura.

Sudah lebih dari 6 jam menunggu, namun mereka masih belum menerima kabar apapun.

Tiba-tiba sebuah pintu di depan mereka terbuka, seorang dokter pun keluar.

"D-dokter, tolong segera beritahu kami bagaimana keadaan mereka sekarang?" Hinata dan Sakura seakan sudah tidak sabar mendengarkan kabar yang akan disampaikan oleh dokter tersebut.

"Masa kritis sudah mereka lalui. Kami sudah berhasil mengeluarkan semua peluru yang bersarang dalam tubuh mereka. Sudah ada perbaikan pada kondisi mereka, jika dibandingkan dengan kondisi mereka sebelumnya. Namun saya belum bisa memberikan jaminan kedepannya, apakah mereka dapat terus membaik. Saat ini mereka masih koma, dan saya juga tidak tahu sampai kapan mereka akan seperti ini."

"Yang mereka butuhkan saat ini adalah dukungan penuh dari orang-orang terdekat disekitar mereka, khususnya dari orang-orang yang mereka sayangi, termasuk kedua nona ini. Berikan mereka dukungan agar segera kembali ke dunia ini. Salurkan energi dan kekuatan cinta kalian kepada mereka, agar mereka juga dapat merasakannya."

-TBC-