All characters belong to Masashi Kishimoto.
This is just a fan-fiction.
.
Semuanya serba gelap. Aku tak dapat melihat apapun.
"Oi, ada orang tidak disini?" Naruto terus memanggil-manggil apabila ada seseorang yang mendengarnya.
"Cih, kau lagi, Dobe. Ya Tuhan, bahkan di tempat yang gelap gulita seperti inipun aku harus bertemu denganmu."
"Sialan kau, Teme! Sekarang yang lebih penting kamu tahu tidak, sedang berada di mana kita sekarang? Gak ada satupun yang bisa aku lihat dengan jelas."
"Mana kutahu, Dobe. Aku saja belum pernah mengalami ini semua. Apa jangan-jangan kita sudah... meninggalkan kehidupan kita disana?"
Tiba-tiba terdengar suara lain di tempat itu.
"Jangan khawatir, anakku. Kalian belum meninggalkan kehidupan dan dunia kalian."
"Kau siapa? Lalu kenapa kami bisa di sini?" Tanya Naruto.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Kalian bisa disini karena tertidur cukup lama saja. Kalian belum aku 'panggil' karena kalian masih punya tugas yang belum terselesaikan di sana."
"Tugas kalian untuk hidup bahagia dan bersanding dengan wanita-wanita yang selalu mencintai kalian.
Setelah percakapan ini selesai, kalian boleh kembali lagi pada tubuh kalian, dan segeralah menemui mereka."
"Jangan lupa pesanku ini. Selalu bahagiakan mereka, dan jangan sekalipun terbersit di pikiran kalian untuk mengecewakan mereka. Karena disini, aku akan selalu mengawasi kalian, anakku."
.
Hari berganti demi hari.
Bulan berganti demi bulan.
Tak terasa ini sudah tahun ketiga, sejak divonis koma dan hampir di ujung kematian. Naruto dan Sasuke masih terlelap dalam tidur panjang mereka.
Harapan demi harapan terus terlontar dari kedua gadis cantik yang dengan sangat sabar telah menemani Naruto dan Sasuke.
Energi cinta dan kasih sayang secara terus menerus mereka salurkan kepada Naruto dan Sasuke. Berharap pesan mereka segera tersampaikan kepada jiwa Naruto dan Sasuke. Berharap agar mendengarkan curahan hati akan kerinduan yang amat dalam.
Pada pagi hari itu, Sakura dan Hinata masih tetap sama. Mereka datang di rumah sakit dan menemani selama hampir seharian di samping masing-masing kekasih prianya yang masih terlelap panjang.
Rutinitas ini sudah mereka lakukan setiap hari tanpa kenal lelah dan tanpa keraguan sedikitpun. Karena mereka yakin pada suatu hari nanti, kekasih yang amat mereka rindukan akan membuka kedua mata mereka dan kembali dalam pelukan Hinata dan Sakura.
Hinata dan Sakura terus menunggu sambil mengelus-elus puncak surai dari masing-masing laki-laki yang masih terlihat terlelap itu.
Tak jarang mereka juga melakukan 'kontak' batin, dengan membisikkan sesuatu pada telinga Sasuke dan Naruto. Berharap bisikan berupa kalimat cinta yang mereka ucapkan akan mendapatkan respon dari kekasih mereka.
"Cepatlah bangun dan kembalilah padaku, sayang. Sungguh, aku disini sudah sangat rindu padamu." Hinata dan Sakura membisikkan kalimat yang sama pada masing-masing kekasihnya.
Mereka kemudian menatap wajah masing-masing kekasihnya yang masih terlelap. Dengan mata yang agak berkaca-kaca, Hinata dan Sakura memberikan sebuah senyuman yang terkembang dengan tulus.
Kemudian mereka mendekatkan wajah mereka pada kekasihnya, dan semakin mendekat.
Cupp...
Sebuah ciuman hangat mereka berikan pada bibir Naruto dan Sasuke. Ciuman yang menggambarkan betapa besarnya cinta yang dimiliki kedua gadis cantik tersebut kepada kekasihnya.
Dan 'ritual' rutin ini selalu mereka lakukan setiap hari.
Namun sesuatu yang berbeda terjadi pada hari ini. Hal yang sangat dinantikan oleh Hinata dan Sakura setiap harinya, pada akhirnya memang menjadi kenyataan.
Setelah melepaskan ciuman hangat pada masing-masing bibir kekasihnya, tiba-tiba kedua kelopak mata Naruto dan Sasuke secara perlahan terbuka. Mereka membuka kedua mata mereka dalam waktu yang hampir bersamaan. Mereka benar-benar sudah kembali.
Hinata dan Sakura pada awalnya tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Seketika itu juga, mereka tidak dapat menahan rasa haru yang mereka rasakan. Aliran deras air mata kebahagiaan pun terlihat pada kedua mata, baik Hinata maupun Sakura.
Kedua gadis tersebut langsung memeluk dengan rasa rindu yang mendalam dan menenggelamkan wajah mereka pada dada Naruto dan Sasuke.
Betapa bahagianya raut wajah yang tergambar pada Hinata maupun Sakura. Rasa haru tak dapat lagi dibendung ketika melihat pujaan hati mereka telah kembali lagi ke dunia.
Kembali merasakan pelukan hangat. Pelukan yang menentramkan hati mereka, yang sudah terlanjur sangat merindukan kedua lelaki tersebut.
"Hiks, Naruto-kun. Akhirnya kau kembali lagi padaku. Aku benar-benar bahagia karena rasa rinduku padamu, akhirnya terbalas hari ini. Hikss."
"Aku juga sangatttt rindu padamu, Hime. Dalam tidur panjangku, aku terus memimpikanmu. Ingin rasanya aku segera terbangun dan melihat kembali kekasihku yang cantik ini. Tapi entah mengapa aku tak bisa melakukannya. Maafkan aku yang harus membuatmu menunggu lama setiap harinya."
"Jangan merasa bersalah seperti itu, Naruto-kun. Karena bagiku, menunggumu dan terus menantikanmu setiap hari, itu semua masih tidak seberapa jika dibandingkan dengan rasa cintaku padamu. Dan aku ingin selalu bersamamu, sayang."
"Kau tahu? Aku benar-benar beruntung, bisa memiliki wanita sepertimu disisiku. Dan aku juga bahagia karena aku bisa membuktikan janjiku yang dulu. Bahwa aku tidak akan mati sebelum aku dapat membahagiakan wanita yang aku cintai ini. Maka, menikahlah denganku, Hinata."
"Menikah denganmu? Dengan senang hati akan aku terima, Naruto-kun. Aku sungguh mencintaimu."
"Arigatou, Hime sayang! Waaahhh, tak sabar rasanya untuk membuat Naruto-Naruto kecil yang imut dan lucu bersama istriku yang sangat kucintai ini. Hehehe."
"Hufft. Suamiku ini memang mesumnya kelewatan. Tapi aku sangaaaattt cinta."
...
"Hiks. Akhirnya kau kembali, Sasuke-kun. Selama ini aku selalu yakin, bahwa hari dimana aku dapat melihatmu kembali akan segera tiba. Hiks, dan hari ini, penantianku benar-benar terkabul."
"Maafkan aku karena sudah membuatmu menunggu terlalu lama. Tapi aku lega karena aku telah membuktikan janjiku padamu sebelum aku meninggalkan Konoha, bahwa aku akan kembali padamu bersama-sama lagi, Sakura-chan."
"Iya, aku tahu itu. Aku sangat bahagia karena kau dapat menyanggupinya. Rasanya masih tidak percaya bahwa kita masih diberikan kesempatan kedua untuk dapat hidup bahagia bersama-sama lagi, sayang."
"Sama sepertiku, dan aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua yang aku dapatkan ini, untuk dapat menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Sakura-chan, mungkin aku bukanlah laki-laki yang sempurna. Dan di balik kekuranganku ini, maukah kau menikah denganku?"
"Kau pasti sudah tahu jawabannya, Sasuke-kun. Aku maauuuu sekali menikah denganmu."
"Te-terima kasih, sayang. Aku sudah bisa membayangkan bagaimana lucunya wajah dari anak-anak kita kelak. Tak sabar rasanya, aku ingin segera membuatnya bersama istriku ini."
"Eehh, Sasuke-kun. Sejak kapan suamiku ini jadi mesum? Pasti karena habis tertidur lama bersama Naruto, kan? Tapi aku sukaaaaa sekali."
"Eh eh.. I-i-ituuu..."
.
Saat sedang asyik-asyiknya melepas rindu dengan masing-masing calon istrinya, Naruto dan Sasuke terlihat saling bertatapan satu sama lain.
Mereka saling berkomunikasi melalui pikiran yang terhubung, seakan-akan mereka sudah saling tahu apa yang sedang mereka sampaikan satu sama lain.
"Dobe, aku bahagia sekali karena kau dan aku bisa kembali bersama dari perjalanan terakhir kita sebagai samurai."
"Akupun juga bahagia, Teme. Tapi aku rasa, semuanya cukup sampai di sini saja. Aku akan meninggalkan kehidupanku sebagai samurai. Bagaimana denganmu?"
"Hn, apa yang kita pikirkan rupanya sama saja."
"Karena kita akan memulai petualangan baru kita. Bersama-sama dengan mereka, istri kita."
-THE END-
.
.
Proses revisi sedang berjalan.
Newbie-Pathfinder
