Disclaimer : Yuji Terajima

Pair : ChriSawa, MiyuSawa, MiyuFuru

Warning : Boys Love, cerita rumit, hubungan rumit.

STAY

Chapter 2

Belakangan ini Chris sering melihat Sawamura melamun. Chris menebak-nebak apa yang sedang dipikirkan oleh Sawamura. Apa ada masalah dengan pekerjaannya? Ataukah Sawamura tidak betah tinggal di sini? Atau dia sakit? Ada apa? Sawamura kini sedang membaca sebuah majalah. Keadaan sebenarnya, terlihat dari matanya yang menerawang seperti itu sudah jelas kalau Sawamura sedang tidak benar-benar membaca.

Chris mengambil majalah yang dipegang. Sawamura sedikit terkejut. Sadar majalahnya diambil, ia ingin merebutnya kembali dari tangan Chris. Tetapi Chris menjauhkan majalah di tangannya dari jangkauan Sawamura.

"Chris-senpai, kembalikan. Aku sedang serius membacanya." Sawamura masih berusaha meraih majalah yang kini diangkat tinggi-tinggi oleh Chris.

Kemudian Chris menangkap pergelangan tangan Sawamura setelah melempar jauh majalah yang dipegangnya lalu mengusap kepala Sawamura dengan lembut.

"Chris-senpai, ada apa?" Sawamura kebingungan dengan sikap Chris yang tiba-tiba seperti ini.

"Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Ada apa, Sawamura? Apa ada masalah?" tanya Chris tepat sasaran karena berikutnya, Sawamura mencoba melepaskan diri darinya.

"Eh! Ti-tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja." Sawamura berusaha mengelak.

Chris melepaskan pegangan tangannya dari pergelangan sawamura.

"Jika ada yang mengganggu pikiranmu, aku selalu ada untuk mendengarkan semua keluhanmu, Sawamura."

Sawamura menunduk. Chris selalu baik kepadanya, malah terlalu baik. Padahal tidak ada kejelasan dalam hubungan mereka. Mereka hanya merasa bisa saling berbagi dalam beberapa hal tanpa adanya sebuah hubungan yang mengikat mereka. Meskipun sebenarnya, Sawamura menyadari perasaan Chris kepadanya. Sawamura tidak pernah mau melangkah dari masa lalunya. Ia tetap berdiri di tempat yang sama. Selalu melihat ke belakang, bahkan tidak mempedulikan uluran tangan Chris di depan matanya.

Sawamura berdiri, "A-aku mau ke toilet." katanya dengan terburu-buru menuju toilet.

"Tunggu, Sawamura. Besok, aku akan ke Amerika." kata Chris tiba-tiba yang membuat Sawamura terhenti kemudian berbalik menghadap Chris yang duduk memunggunginya.

Chris menghampiri Sawamura yang masih berdiri di tempatnya, "Ada hal penting yang harus kulakukan di sana. Maaf, aku tidak bisa menemanimu beberapa hari ke depan."

Sawamura menggeleng keras, "Jangan hawatir, Chris-senpai. Aku akan baik-baik saja." ucap Sawamura terlihat yakin agar Chris tidak hawatir.

"Baiklah. Aku harus pulang untuk menyiapkan keperluan besok. Jaga dirimu baik-baik, Sawamura." ucap Chris ditambah sebuah senyuman dan bonus ciuman di kening Sawamura.

"Jika kau membutuhkanku, kirim saja e-mail." tambahnya sebelum keluar dari kamar Sawamura

Sawamura mengantar Chris hanya sampai depan pintu. Ia belum mau masuk kembali ke kamarnya sampai Chris pergi dengan mobilnya. Lalu Sawamura menyentuh keningnya yang baru saja dicium oleh Chris. Rona merah tampak di kedua pipinya. Anggap saja itu bentuk dukungan semangat dari Chris karena besok ia akan bekerja dengan Miyuki. Apakah dirinya akan baik-baik saja? Tidak, tidak! Ia harus kuat. Kesampingkan masalah pribadi. Ia harus profesional karena pekerjaanya bukanlah pekerjaan sembarangan.

"Yosh!" Sawamura menampar pipinya dengan kedua tangannya. Tidak apa-apa. Besok ia akan baik-baik saja.

~Amber Reina~

Sebagai asisten pelatih, Sawamura ditugaskan untuk mengawasi latihan anak-anak kelas 1. Ia bersyukur karena Miyuki sedang menangani tim inti yang akan latih tanding beberapa minggu lagi. Selama membicarakan tentang baseball, Sawamura sanggup berhadapan dengan Miyuki. Karena biasanya tidak hanya mereka berdua yang terlibat. Ada Yoshikawa dan sang kapten tim Seido.

Sawamura menyentuh perutnya. Ia baru ingat, sejak tadi malam ia belum makan. Panas yang kian terik ditambah jadwal latihan yang belum berakhir membuat Sawamura sangat lapar. Harus ditahan sampai latihan selesai. Ia tidak ingin memperlihatkan hal memalukan di depan banyak orang. Sawamura melihat data anak-anak kelas 1 yang ada di tangannya. Sepertinya Seido mengalami peningkatan tahun ini. Sesat Sawamura merasa bangga sebelum perutnya bersuara kencang.

Sawamura melihat kanan kiri. Apakah ada yang mendengarnya? Sepertinya tidak ada. Sawamura bernapas lega. Akan sangat memalukan jika suara perutnya sampai terdengar orang lain.

"Kau kelaparan, eh? Sawamura." Miyuki tiba-tiba muncul di belakang Sawamura dengan cengiran khasnya.

Sawamura berbalik lalu mundur beberapa langkah agar bisa menjaga jarak dari Miyuki. "Se-sejak kapan kau di situ?" tanya Sawamura dengan jari yang menunjuk Miyuki.

"Sejak perutmu bersuara keras." kali ini Miyuki malah tertawa sambil memegangi perutnya.

Dari dulu, selalu saja. Miyuki selalu seperti itu. Sawamura jadi jengkel.

"Kau ini bukan anak kecil lagi. Jika kau membuat masalah di sini, aku tidak akan segan-segan memecatmu." ucap Miyuki tiba-tiba dengan wajah serius sebelum meninggalkan Sawamura.

Sawamura kini menyadari sesuatu. Selama ini Miyuki juga selalu menjaga emosinya dengan mengesampingkan masalah pribadi. Dan lagi posisinya saat ini adalah sebagai seorang pelatih. Ia pasti tidak akan lemah menghadapinya. Tapi apa yang justru Sawamura lakukan? Ia masih menghindari Miyuki. Seharusnya ia juga tidak membawa masalah pribadi dalam pekerjaanya. Sepertinya ia butuh waktu sedikit lebih lama lagi untuk terbiasa di dekat Miyuki.

~Amber Reina~

"Aah, sebaiknya aku beli makanan dulu."

Sawamura baru saja keluar dari gerbang dengan memegang perutnya yang lapar. Apanya yang akan baik-baik saja. Kalau Chris sampai tahu soal ini dia pasti akan marah. Membayangkan Chris yang sedang marah membuatnya merinding.

"Tapi, Chris-senpai tidak membalas pesanlku." ucap Sawamura sambil melihat layar ponselnya.

"Sawamura!"

Sawamura mendengar suara Miyuki memanggilnya dari... mobil? Sejak kapan Miyuki ada di depannya? Di dalam mobil pula.

"Masuklah" ajak Miyuki tanpa basa basi.

"Tidak usah. Aku naik kereta saja." tolak Sawamura yang kemudian meninggalkan Miyuki.

"Hmph, tunggu Sawamura. Kau tidak bisa lari begitu saja." Miyuki cepat-cepat keluar dari mobil untuk menangkap Sawamura kemudian membawanya ke dalam mobil.

"Apa yang kau lakukan! Biarkan aku pulang sendiri." Sawamura berontak ketika Miyuki sedang memasangkan sabuk pengaman.

"Diamlah. Sawamura, apakah kau mencoba menghindariku?"

Sawamura terdiam. Jawaban untuk Miyuki adalah tepat. Sawamura masih berusaha menghindari Miyuki. Sawamura menggenggam kedua tangannya erat. Kali ini ia tak dapat berkutik.

Jadi, Sawamura memilih duduk diam, sedangkan Miyuki yang duduk di sebelahnya sedang melajukan mobilnya. Jalanan terasa sangat lengang dan juga sepi yang menyertai dua orang ini. Sesekali Sawamura melirik Miyuki. Ada apa dengan Miyuki? Tiba-tiba mengajaknya pulang bersama.

"Sawamura" Miyuki memecah keheningan diantara mereka.

"Kenapa kau memilih pensiun dini?" tanya Miyuki kepada Sawamura.

Sawamura tidak menjawab ia hanya diam saja. Sawamura tidak paham mengapa Miyuki tiba-tiba menanyakan hal itu. Sawamura memalingkan wajahnya ke arah jendela.

Miyuki melirik Sawamura sebentar dari sudut matanya lalu kembali fokus menyetir.

"Tujuh tahun yang lalu," Miyuki memulai lagi dengan pembicaraan yang serius, "Sebenarnya, sudah lama aku ingin minta maaf kepadamu. Waktu itu aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Aku hanya tidak-"

"Hentikan!" Sawamura menyela pembicaraan.

Miyuki tiba-tiba membicarakan hal yang masih sangat sensitif untuk Sawamura. Sawamura tidak siap untuk mengungkit masalah itu. Ia tidak mau mendengarnya. Sawamura menutup telinganya rapat-rapat.

Miyuki menghentikan mobilnya tepat di parkiran apartemen kemudian menarik tangan Sawamura yang masih menempel di telinga.

"Sawamura! Dengarkan! Aku hanya ingin menjelaskan masalah yang sebenarnya terjadi." Miyuki memaksa Sawamura untuk mendengarkannya.

Sawamura yang kesal malah menepis tangan Miyuki kemudian buru-buru keluar dari mobil. Ia tidak peduli dengan Miyuki yang terus-terusan memanggilnya. Tujuan utamanya adalah mencapai kamarnya lalu menguncinya rapat.

Sawamura duduk di lantai dengan perasaan campur aduk. Ia sadar dengan dirinya yang pengecut. Ia tidak mau mendengar apapun yang berkaitan dengan masa lalunya. Perlahan air matanya jatuh. Disaat seperti ini biasanya Chris selalu ada di sampingnya. Namun kali ini tidak. Sekarang Chris berada di tempat yang sangat jauh. Sawamura sangat membutuhkan Chris untuk menenangkan dirinya.

Bersambung...

A/N : Heyaaa! Terima kasih sudah membaca Chapter 2 ini. Kali ini banyak dialognya yah~ Ehee~. Semoga chapter ini tidak mengecewakan.

Sampai jumpa di chapter selanjutnya. Chapter selanjutnya bakal lebih seru loh.

Jangan lupa tinggalkan jejak. *wink

Salam,

Amber Reina