'Jika kau berada di sini, pilihan apa yang akan kau pilih... Naruto?!'

Dalam hembusan angin sang malam yang ricuh. Letupan-letupan indah bara kecil yang berterbangan terpisah dari api unggun di sana. Mata yang menyiratkan keraguan mendalam. Dua pilihan yang begitu jadi beban di kedua pundaknya. Genggaman jari-jari di gagang senapan semakin mengerat kuat. Tidak ada satupun jawaban yang muncul di otaknya. Hanya ada kalimat tanya itu yang terngiang di pikirannya. Satu pertanyaan sederhana untuk ia tanyakan kepada seorang sahabatnya.

Pertanyaan itu terus, dan terus terngiang di kepalanya. Namun saat ia tak mendapat satu jawaban pun, iris mata hitamnya terpaku seketika. Matanya yang memicing, seakan dipaksa untuk terbuka lebar saat seorang gadis berlari meninggalkan kelompoknya. Gadis itu berlari, dan terus berlari tanpa sedikitpun ragu ataupun gentar melihat kekacauan di sana.

"Hinata..!"

"Hinata, apa yang kau lakukan!"

Suara teriakan Kiba dan Anko-sensei yang memanggil nama gadis itu seolah menusuk tepat ke syaraf pendengaran Sasuke yang juga melihat bagaimana dengan keyakinan, gadis itu berlari menghampiri Michika di tengah-tengah kekacauan itu.

'Sou...'

Sasuke mulai menegakkan tubuhnya sempurna. Jari-jari tangan kanannya mulai rileks menggenggam Arctic Warfare Magnum dengan 5 selongsong peluru aktif berkaliber 7mm tipe Remington. Manik hitam itu terus memandang dari kejauhan. Memandang jauh Hinata yang tanpa satu alasanpun beranjak dari tempatnya berlari menuju ke cahaya bara bahaya. Bahkan tanpa demi alasan apapun, gadis itu tanpa ragu menerobos para pengungsi yang berlari kesana-kemari terkejar oleh maut yang mengerikan.

'Apa yang Hinata lakukan...'

Sasuke menoleh ke arah seorang gadis berambut merah jambu di sampingnya, yang secara kebetulan juga menoleh ke arahnya.

'...Adalah apa yang akan Naruto lakukan juga.'

Hinata berhenti tepat di depan Michika. Gadis yang terduduk lemah itu mendongakkan wajahnya ke arah pemilik rambut seindah Lavender yang menari lembut tersapu sang malam. Tanpa sempat mengucap sepatah kata, sebuah uluran tangan meraih tangan kirinya. Uluran itu menariknya tanpa ragu. Membuat Michika tanpa sempat menolak langsung berdiri mengikuti kemana uluran tangan itu membawanya.

'...Karena itu adalah bagian dari jati dirinya.'

'...Karena itu adalah bagian dari kekuatan hatinya.'

Ucap Sasuke dan Sakura bersamaan di waktu yang sama dalam hati terdalam mereka. Anko berhenti memandang Hinata dan teralih memperhatikan kedua muridnya yang saling beradu pandang. Seakan tahu apa yang akan terjadi di detik selanjutnya.

Sakura tersenyum remeh ke arah kekasihnya. Dan Sasuke sadar senyum seperti milik siapa kah itu. Teriakan demi teriakan di sekitar api unggun yang membesar. Seakan memakan semua jerit ketakutan mereka semua. Di detik berikutnya, dari kedua remaja yang saling beradu pandang ini.

"Ikuzo...!"

Ucap Sakura tanpa ada satu keraguan pun yang terdengar di nyaring suara tegasnya. Menirukan cara bagaimana seorang sahabat berambut kuningnya mengatakan 'Ayo...!' Seperti dulu.

Kedua langkah panjang mereka mulai beranjak. Berlari kencang menuju ke arah utara yang penuh dengan darah, mayat hidup, dan letupan bara api unggun.

"Jika seperti itu...!"

Kiba mulai melangkah dengan langkah jangkar kakinya menyusul Sakura dan Sasuke.

"Apa boleh buat kan, Senseii...!"

Sahut Chouji ikut berlari seakan menyelesaikan kalimat Kiba. Anko tersenyum senang melihat semangat para muridnya lagi yang tak pernah terlihat semenjak hari itu. Hari di mana mereka kehilangan salah satu rekan yang berharga, sekaligus sahabat bodoh yang hebat bagi mereka semua.

'Apa kau lihat itu? Mereka tetap menyimpan semangatmu di setiap hati mereka. Entah mengapa... Aku sangat ingin dirimu di sini... Berada di antara kami. Kembalilah... Muridku yang bodoh.'

Sepercik tetes air tertinggal jatuh di antara dinginnya udara saat Anko berlari meninggalkan air mata yang keluar di sudut matanya. Mengejar Sakura, Sasuke, Kiba dan Chouji yang menyusul Hinata.

.

.

.

"Gun And Pandemic"

The Place Of Hope

Chapter 2 : "Senjata Dan Pandemik"

Genre : Adventure, Horror & Gore

Caution! Contains violance & profanity (17th +)

.

.

.

7 Day's Before...

Coast Of South Japan, 5 May 2014.

13:02pm_

Di satu kapal induk besar yang begitu berisik dengan berbagai aktifitas para nahkoda masing-masing, sepasang personil berbeda divisi menuruni setiap anak tangga yang ada.

"Ini pertama kalinya aku bertemu denganmu. Nampaknya suatu kebetulan, kan?"

Seorang dari mereka membuka topik pembicaraan. Gadis muda dengan rambut pirang panjang itu mencoba membunuh suasana canggung di antara mereka berdua.

"Mah... Entahlah."

Jawab seorang pria yang ia ajak bicara. Ino, gadis pirang dari tim Hashirama itu sebentar memperhatikan ekspresi wajah dari orang yang akan jadi rekan negosiasinya untuk beberapa menit kedepan. Begitu santai, begitu tenang, atau begitu malas?. Ino tidak bisa membedakan di antara ketiganya.

"Keadaan Kota Konoha begitu berantakan saat ini. Apa pendapatmu tentang itu?."

Tanya Ino lagi, sebagai topik ringan pengiring jalan mereka.

"Hmm..."

Pria yang lebih tinggi darinya itu bersidekap dengan jari-jari tangan kanan yang menyangga dagu. Memperlihatkan ekspresi seperti orang yang sedang berpikir, mengingat, dan apapun itu. Melihat orang yang akan menjadi rekannya selama beberapa menit kedepan tersebut seperti itu, membuat Ino menghembuskan nafas panjang untuk menenangkan hatinya.

'Walau hanya beberapa menitpun, aku tak akan sudi mendapat rekan seperti orang ini.'

Pikirnya dalam hati.

"Jika kau tidak ingin menjawabnya lebih baik katakan saja langsung. Hingga tidak sampai membuat orang yang bertanya menjadi bingung dan penasaran, kau tahu?."

Ucap Ino yang jadi sedikit ketus.

"Aku... Telah cukup lama bersembunyi untuk melihat dan mengawasi. Tidak banyak hal yang bisa kulalui. Menjadi seorang guru yang selalu mencari alasan untuk keterlambatan. Hingga semua ini akhirnya terjadi. Seperti yang Hashirama-taichou prekdiksikan. Intuisinya bahwa Red Qween di suatu saat nanti akan meluluhlantakkan seluruh Jepang, tidak bisa terbantahkan lagi kali hari ini. Semua sama persis seperti yang telah ia prediksikan sebelumnya."

Jelas panjang lebar pria itu sambil terus berjalan di koridor lambung kapal beriringan bersama Ino. Cara bicaranya yang begitu terlihat tenang dan sikapnya yang santai, membuat Ino berpikir seberapa profesional kah orang ini.

"Jadi kau menyadari bahwa intuisi dari Hashirama-taichou akan benar-benar terjadi, lalu kenapa kau tidak bertindak saat itu?."

Ino bertanya kembali sebagai reaksi balasan tentang jawaban pria ini.

"Itu karena... Sebagai bagian dari tugas, sudah seharusnya aku tetap diam sambil mengawasi dari jauh. Sampai saat itu tiba, ini adalah tugasku bersama Itachi untuk mengatasinya dari balik bayangan. Seperti itulah Divisi kami."

Lagi-lagi pria itu menjelaskan secara panjang lebar dan entah kenapa sangat terbuka kepada Ino. Jelas-jelas jika tugas yang ditanggunggan kepadanya adalah tugas yang sangat rahasia, yang di berikan langsung oleh pihak Federal Jepang. Ino menyipitkan kedua matanya dan menatap tajam pria itu.

"Tunggu... Kenapa kau..."

"Mengatakan semua kepadamu? Setiap bagaian pentingnya? Alasannya cukup sederhana. Jika aku tidak mengatakannya, pasti dirimu akan memaki-makiku di dalam pikiranmu sambil memberiku gelar yang menyebalkan. Bukan begitu?"

Sambil memotong pertanyaan yang akan Ino tujukan kepadanya, ia tersenyum kearah gadis itu sebagai pelengkap jawaban yang lagi-lagi sangan panjang lebar. Menyadari bahwa dirinya sedang tersudutkan, Ino menoleh kearah lain namun tetap memandang rendah dan jijik orang itu.

'Hei asal kau tahu, aku sudah memaki-makimu sedari tadi. Dan kau memang rekan terburuk yang pernah kudapat. Dasar serangga rawa..'

Kutuk Ino dari lubuk hati yang paling terdalamnya. Tidak terasa perjalanan mereka telas sampai pada tujuan. Pria itu mendekat kearah pintu ruang bernomor 105 terlebih dahulu. Lalu tangan kirinya membuka knop pintu tersebut dan membukanya. Terlihat 3 orang di ruang kamar pengungsi tersebut. Seorang wanita muda yang terduduk di tepi tempat tidur sambil memandangi sebuah foto kecil di genggaman jari kedua tangannya. Sedangkan yang dua lagi adalah sepasang suami istri yang sedang mengobrol tentang suatu hal. Pria tersebut memandang kearah sepasang suami istri itu.

"Maaf... Apa aku boleh meminjam ruangan ini sebentar?."

Ucapnya dengan bersandar di sisi dinding sambil menunjukkan kartu anggota pihak berwenang miliknya kepada mereka berdua. Tanpa banyak komplain dan bicara, sepasang suami istri tersebut berdiri dan keluar dengan wajah kebingungan.

"Silahkan..."

Ucap pria itu lagi mempersilahkan Ino untuk masuk kedalam saat dua orang tadi telah keluar.

"Terima-kasih-banyak."

Balas Ino dengan nada yang dibuat-buat. Gadis tersebut melangkah masuk lalu duduk di depan wanita muda yang sedang bersedih digenggam dilema. Pria itu kemudian masuk dan menutup pintunya rapat-rapat agar tidak ada yang mengganggu acara mendadak mereka. Saat Ino duduk tepat di depannya, wanita muda itu memalingkan wajahnya dari foto tersebut lalu menatap Ino, serta pria yang saat ini berdiri menjaga pintu tidak jauh darinya.

"Sebelumnya, kuperkenalkan diri terlebih dahulu. Aku Ino Yamanaka. Anggota kesatuan Divisi Elite Anti Bio-Terrorist Unit. Seseorang memintaku untuk membicarakan sesuatu dengan dirimu... Kushina Uzumaki-san."

Dengan nada-nada lugas dan sopan, Ino memberikan sebuah buku diary kosong lengkap beserta sebuah pulpen hitamnya. Kushina menerima diary kecil beserta pulpen tersebut, lalu membuka cover depannya dan mengguratkan sebuah tulisan menggunakan pulpen yang diterimanya. Seakan-akan dirinya tahu maksud dari kenapa ia di berikan sebuah diary dan juga sebuah alat tulis. Tidak begitu lama. Pulpen itu berhenti bergerak dari lembar pertama diary itu. Kushina lagi-lagi mendongak, namun kali ini bersama sebuah senyum lembut yang terukir di kedua sudut bibirnya. Ia mengangkat diary itu, lalu membaliknya agar kedua orang ini bisa membaca apa yang ia tulis. Namun bukan kepada Ino. Melainkan terarah kepada pria yang berdiri di samping gadis pirang itu. Membaca apa yang tertulis di lembar pertama buku diary itu, membuat pria tersebut sedikit terkejut. Namun lambat laun, ia juga membalas senyuman yanh Kushina tujukan padanya.

'Telah lama kita tidak bertemu sejak hari itu. Apa kabarmu... Kakashi..?'

.

.

.

.

At The Same Time...

Akihabara, Japan. 13:08pm_

Bukan pemandangan yang biasa di temui di Akiba. jalanan bagitu ramai dengan mobil-mobil pribadi dan beberapa kendaraan tugas seperti bus, truck, van sampah, van ice cream dan lain sebagainya. Hampir di seluruh jalanan Kota ini ramai sesak dengan kendaraan-kendaraan yang terjebak macet. Di setiap liku perempatan lampu merah lumpuh akibat macet yang berkepanjangan tak terarah. Bunyi-bunyi klakson yang saling bersahutan membuat para pengemudi di setiap kendaraan semakin dibuat pening.

"Apa-apaan ini? Sudah dua jam kita terjebak kemacetan. Apa yang sebenarnya terjadi?"

Tanya seorang pria yang duduk di satu mobil bersama dengan istri dan ketiga anaknya yang duduk di belakang.

"Entahlah... Kurasa jadwal piknik kita akan kacau hari ini."

Jawab wanita yang duduk tepat di sampingnya. Ketiga putra-putri mereka tetap diam menengok kanan dan kiri. Memperhatikan banyak mobil-mobil yang berderet dengan beberapa kali membunyikan klakson keras-keras.

"Ayah, kenapa ramai sekali? Apa acara piknik kita batal?"

Tanya putra mereka yang berumur di bawah 6 Tahun.

"Tidak sayang. Tunggulah sebentar lagi. Ayah janji piknik kita tidak akan batal..."

Jawab sang Ayah menengok putra mereka yang duduk di belakang.

"Sial! Kenapa kemacetan harus terjadi hari ini?"

Katanya sambil kembali melihat kedepan.

"Sudahlah jangan berkata seperti itu. Anak-anak mendengarnya kau tahu?"

Istrinya coba mengingatkan pria tersebut untuk tidak berbicara kasar di depan anak-anak mereka.

"Tentu aku tahu itu. Tapi-"

"Ibu, lihat. Ada pesawat terbang di atas mobil kita."

Kalimat Ayahnya terputus saat mendengar salah satu putri mereka memberitahu apa yang baru saja ia lihat.

"Bukan pesawat sayang, itu helikopter."

Jawab Ibunya membenarkan. Sebuah helikopter memang benar milintas beberapa puluh meter di atas kendaraan mereka.

"Ini yang keempat kalinya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa para polisi memblokir akses jalan ke Tokyo?"

Pria tersebut bertanya entah kepada siapa. Memperhatikan setiap heli yang ditemuinya terbang melintas begitu rendah.

"Apa kau sudah dengar, apa yang telah terjadi di Konoha? Acara di TV tadi menyiarkan berita tentang bencana besar-besaran yang telah terjadi di Kota itu semenjak empat hari yang lalu."

Sahut istrinya memberitahu tentang suatu bencana yang Pemerintah katakan di Kota Konoha. Suaminya lalu menoleh bingung.

"Bencana...?"

"Ya... Aku mendengarnya seperti itu. Banyak sekali kecelakaan yang terjadi di Kota itu. Asap-asap tebal membumbung tinggi hingga kamera tidak mampu menembusnya. Coba hidupkan radionya. Mungkin ada berita atau pengumuman yang penting mengenai situasi ini."

Istrinya memberikan sebuah saran. Pria itu pun mengikuti sarannya dan mulai menghidupkan radio di mobil mereka. Jarinya menekan-nekan layar LCD di dashboard tengah untuk mencari frekuensi radio yang mengumumkan berita terkini.

'...Tidak sampai seperempat warga Kota yang berhasil di evakuasi oleh pihak berwenang. Dikarenakan jumlah korban yang selamat sangatlah sedikit. Dan mungkin bisa dihitung dengan jari. Para polisi tidak bisa menyebutkan dengan pasti apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan pihak dari Pemerintah Jepang terkesan menutup-nutupinya. Informasi yang kami bisa dapatkan sangatlah terbatas. Dari sini, kami melaporkan langsung di tempat perkara. Banyak polisi yang menembakan senjata-senjata mereka. Suasana di Yokohama, 18mil dari Kota Konoha, begitu kacau. Baku tembak sedang terjadi saat ini. Kami tidak begitu mengerti apa yang sedang mereka tembaki saat ini. Belum ada kepastian penyebab terjadinya kecelakaan besar-besaran ini...'

'Ano.. Maaf, kami sedang mereport berita. Tolong jangan mengganggu... Tuan, tolong jangan mengganggu, kami sedang On Air sekarang! Tuan-... Aaaaaakkhh!'

Pria dan wanita di mobil itu begitu terkejut mendengar teriakan sang reporter wanita yang begitu mengagetkan. Kontak radio pun terputus seketika. Hanya bunyi frekuensi kasar yang terdengar di radio mobil mereka.

"Apa-... A-Apa yang terjadi?!"

Tanya pria itu dengan kebingungan.

"Ada apa ini? Bukankah Yokohama tidak terlalu jauh dari sini? Anata, apa yang sebenarnya terjadi?"

Sang istri begitu khawatir. Karena mereka anak-anak mereka juga ada di sini bersama mereka.

"Aku juga tidak tahu sayang. Aku akan coba tanya pada pengendara yang lain-"

Bluuuumm...!

Tiba-tiba sebuah ledakan terdengar sangat keras. Terlebih lagi jarak ledakan tersebut sangatlah dekat dengan tempat mobil mereka terjebak kemacetan. Sebuah potongan tiang berputar-putar dengan kecepatan tinggi berakhir menancap di salah satu kendaraan di depan mobil mereka. Aspal jalanan bergetar hebat akibat ledakan tersebut. Membuat mobil mereka pun ikut terguncang. Seluruh pengemudi kendaraan lain berbondong-bondong turun dari kendaraan mereka untuk melihat apa yang terjadi di sana. Dari kaca belakang mobil, pria dan wanita itu dapat melihat jelas api yang menguar hebat bersamaan dengan asal hitam tebal yang cepat membumbung tinggi ke udara.

"Tetap di dalam mobil, anak-anak! Ayah akan lihat apa yang terjadi."

Ucap sang Ayah melepas sabuk pengamannya sambil memperingatkan anak-anak mereka untuk tidak keluar dari mobil saat ini.

"Tunggu, anata-"

"Kau juga tetap di sini oke?!. Jaga anak-anak."

Sambung sang Ayah lagi, lalu ia keluar dari mobil seperti yang dilakukan para pengendara yang lain.

Suasananya berubah dalam sekejap mata. Sejauh yang bisa ia lihat di selatan sana, mobil-mobil kacau berserakan bersama asap-asap tipis yang keluar dari kap mobil masing-masing. Tidak lama setelah ledakan terjadi, bunyi letusan senapan-senapan api terdengar di sana-sini. Banyak orang-orang dari arah sana yang lari berteriak tak karuan. Semuanya benar-benar kacau.

"Tidak mungkin~... Ada apa ini~... Apa yang sebenarnya terjadi?!"

Tanyanya yang kepada siapa sambil terus memperhatikan apa yang sebenarnya terjadi di sana.

Tiiiiiinn!

Tiba-tiba sebuah bel motor berbunyi keras di gendang telinganya. Membuat pria itu terkejut setengah mati dan berbalik.

"Cepat masuk kembali ke mobilmu!"

Ucap seorang polisi yang tadi menekan tombol klakson keras-keras. Pria itu menyingkir dari jalur polisi tersebut dan membiarkannya lewat melawan arah menuju ke arah ledakan itu terjadi. Orang-orang dari arah sana bebondong-bondong berlari menuju ke arahnya. Seperti sedang menyelamatkan diri dari sesuatu. Sempat beberapa kali bahunya bertubrukan dengan beberapa orang yang berlari tunggang-langgang ke utara.

Kedua tangannya tersingkap di atas kepala. Dirinya benar-benar bingung dengan apa yang sebenarnya telah terjadi. Dalam hati, belasan kali ia bertanya pertanyaan yang sama. Hingga pada akhirnya ia coba menghentikan seseorang yang akan berlari melewatinya.

"Tunggu! Katakan padaku apa yang telah terjadi di sana

?!"

Tanyanya sambil menahan kuat tangan orang itu.

"Lepaskan aku bodoh! Cepat larilah sebelum terlambat!"

Jawab orang tersebut sambil mengempaskan kasar tangan pria tersebut, dan kembali berlari menuju ke utara.

Saat matanya kembali terarah kesana. Betapa ia dikejutkan dengan orang-orang yang saling mengejar satu sama lain di antara banyaknya mobil yang terjebak kemacetan. Saling kejar, saling memburu satu sama lain, benar-benar kacau.

"Sayang kunci pintunya!"

Teriak pria itu keras kepada istrinya yang berada di dalam mobil mereka. Sang istri pun sangat kebingungan dengan kondisi jalanan yang telah berubah jadi mengerikan seperti ini. Ia melihat beberapa orang yang berlari ketakutan sempat menubruk punggung suaminya tersebut.

"Ada apa ini sebenarnya?! Apa yang terjadi, anata?!"

Tanya istrinya lagi dengan kegelisahan tinggi.

"Sudah cepat kunci pintunya dan jaga anak-anak, kau mengerti?! Tidak ada waktu lagi..! Tunggu di sini, aku akan cari bantuan-"

Braakk!

Mata wanita itu terbelalak lebar melihat seseorang menabrak suaminya keras hingga membentur kap mobil mereka. Orang asing itu lalu mencengkramnya kuat, dan tiba-tiba menggigit suaminya dengan ganas. Ia menutup mulutnya dengan keterkejutan tinggi hingga ia tidak tahu harus berbuat apa. Sementara ketiga anaknya berteriak ketakutan.

Dengan luka parah akibat gigitan kasar di dada kanannya, suaminya mencoba melawan dengan menghempaskan orang tidak dikenal itu sekuat tenaga hingga terlempar menabrak kendaraan di belakangnya.

Jleebb...

Sambil kesakitan memegangi dadanya yang terluka berlumuran darah, pria itu kebingungan tidak menentu. Baru saja ia membunuh seseorang. Orang tak dikenal itu tertusuk sebuah potongan tiang besi yang saat ledakan besar terjadi tertancap di sana. Darah merah segar melumuri ujung besi itu.

Sang Ayah dengan lemah mendekat ke pintu mobil. Namun sudut matanya menangkap sesuatu yang bergerak. Ia menoleh, dan begitu terkejut mendapati orang asing yang telah tewas tertancap potongan tiang besi hingga menembus tubuhnya itu kembali bergerak. Matanya penuh kejut dan terbelalak lebar.

'Ti... Tidak mungkin...'

Racaunya dalam hati melihat orang itu dengan gerak terpatah-patah bangkit kembali. Sampai tubuhnya terlepas seutuhnya dari besi penuh darah itu. Mereka berdua terdiam untuk sejenak. Terlebih untuk sang Ayah yang masih bersandar di samping kap mobil dengan luka serius di bagian dadanya. Matanya terus memperhatikan lekat-lekat orang itu. Pria tak dikenal tersebut terus menundukan wajah lusuhnya yang hampir rusak. Hingga di detik berikutnya... Pria itu mendongak penuh terarah kepada sang Ayah yang diam terpaku. Pria tersebut menggeram tanpa bahasa, lalu menerjangnya keras tanpa aba-aba.

Praakk..!

Lagi, wanita yang berada di dalam mobil menjerit terkejut mendapati kaca depan mobil mereka retak parah setelah terhantam oleh tubuh sang suami.

"Aaaaakkkrrgg...!"

Rintih kesakitan dari suaminya yang di gigit habis-habisan oleh pria tidak dikenal itu. Terlambat bagi sang suami untuk memberontak kembali. Dua... Bahkan tiga orang tiba-tiba berlari datang hingga membuat tubuh suaminya lagi-lagi terhempas ke aspal jalanan. Bak binatang buas yang haus akan darah, mereka semua bergerombol memangsanya. Teriakan demi teriakan begitu memekakkan gendang telinga. Sang suami meronta-ronta kesakitan. Namun sesaat kemudian tubuhnya mengejang menjemput ajal sebab salah satu dari mereka menggerogoti kerongkongannya hingga bermuncratan darah berwarna merah gelap. Tenggorokannya nyaris tak tersisa dengan daging yang menggelambir kedalam penuh darah.

Banyak orang-orang yang berlari berusaha menyelamatkan diri melewati mobil pribadi miliknya. Namun mereka, terus mengejar bak orang kesetanan. Memburu, menangkap, dan mencengkram siapapun yang berada di dekat mereka. Lalu menggerogotinya tanpa belas kasih hingga mati berlumuran darah.

"Nine double one! Nine double one! Kirimkan bantuan segera! Situasi telah tak terkendali lagi! Ku ulangi, situasi telah tak terkendali!."

Seorang polisi menghubungi kantor pusat menggunakan radio di genggaman tangannya. Letusan bubuk mesiu terus terdengar tak beriringan dari ujung pistol para polisi yang berada di belakang batas barikade. Para polisi telah menembak jatuh beberapa dari mereka. Akan tetapi mereka terus, dan terus bangkin dan berdatangan tiada henti. Seluruh jalanan besar ini sekejap berubah jadi arena kematian. Begitu banyak mobil berserakan memenuhi jalan, dengan mereka yang berlari di sela-sela kiri-kanan deretan kendaraan yang diam. Tidak sedikit pula yang berlari di atap-atap mobil untuk menuju kearah para polisi yang sedang memblokir jalan terbesar di Akihabara ini.

"Ini... Bohong..."

Ucap pelan sang istri yang berada di dalam mobil dengan tangan bergetar menutupi mulutnya. Matanya yang terbuka lebar terbanjiri oleh air mata. Sementara anak-anaknya menjerit-jerit ketakutan.

"Tidak... Tidak mungkin... Ini semua bohong..."

Racaunya sendiri dipaksa melihat kematian suaminya yang sangat tragis, di depan mata kepalanya sendiri. Tak tahu lagi... Dirinya tak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini. Begitu bising dengan suara sirine mobil polisi dan ambulans, bunyi-bunyi klakson dan alarm mobil yang menyala, juga suara jerit tangis ketiga anakya yang berada di belakang. Mental dan pikirannya benar-benar kacau saat ini. Hingga tanpa sadar, tangan yang terus bergetar itu menyentuh gagang pembuka pintu mobilnya. Seakan ia ingin menghampiri jasad suaminya yang masih digeromboli oleh banyak orang yang benar-benar tak waras. Baru saja ia menarik gagangnya hingga pintu itu sedikit terbuka...

Brakk!

Tiba-tiba secara mengagetkan seseorang menabrak kaca pintu mobilnya begitu keras hingga pintu itu tertutup kembali. Wanita tersebut tersentak kaget hingga tubuhnya terdorong kebelakang secara sepontan. Kedua matanya tak henti untuk terus terbelalak, saat melihat wajah orang itu. Begitu menakutkan dengan kulit yang seperti melepuh dengan warna legam. Juga gigi-gigi yang sangat menyeramkan saat orang itu menggeram kearahnya tanpa sebab. Tangisan ketiga anaknya terdengar semakin keras saat seseorang tersebut mendobrak-dobrak kaca mobilnya berulang kali. Bukan hanya orang itu saja, tapi yang lain dari arah selatan datang dengan buas ikut mendobrak mobil pribadi miliknya Seakan-akan kali ini ia lah yang menjadi mangsa mereka selanjutnya.

Praanngg!

Kaca itu pecah, hancur seketika. Tangan-tangan penuh luka itu berebut untuk meraih tubuh sang wanita yang bergetar tersebut. Tangan mereka dengan tidak sabar mengais-ngais kedalam.

"Ti-Tidakk! Kumohon jangann.."

Tetes air mata wanita itu semakin menjadi ketika mereka berhasil mencengkram tangan dan baju yang ia kenakan. Dengan sangat kasar mereka menarik wanita itu sampai sebagian tubuh dab kepalanya terbentur keras oleh dinding interior mobilnya. Darah mengalir melalui pelipisnya yang sobek akibat tertatap oleh serpihan kaca pintu mobil yang masih tersisa.

"Jangaan! Tidaaakk! Kumohon-... Aaaaaa!"

Orang-orang tanpa kewarasan itu menggigit tangan dan bahunya. Jerit rintih penuh kesakitan seakan jadi pendamping yang sempurna untuk suasana jalanan Kota yang penuh dengan debu, asap dan mobil-mobil yang berserakan. Rambut dan kepalanya ditarik paksa, membuat sebagian tubuhnya keluar melalui jendela mobil. Masih dengan ronta yang tak ada arti, wanita tersebut akhirnya menggelepak-gelepak tersangkut di jendela mobilnya yang sempit, saat salah satu dari mereka menggerogoti kerongkongannya dengan rakus hingga darah bermuncratan keluar dari mulutnya. Tubuh itu masih terkejang-kejang dengan mata yang melotot lebar. Wanita itu menjemput ajalnya, ketika tubuh yang tersangkut tersebut berhenti bergerak. Membiarkan para makhluk-makhluk ganas kelaparan menggerogoti tubuhnya yang berada di luar mobil.

"Turtle ke Eagle, Turtle ke Eagle. Ku ulangi, Turtle ke Eagle... Cih, siaall..!"

Seorang polisi membanting radio komunikasinya ke tanah karena yang terdengar hanya suara pita frekuensi yang kasar. Sama sekali tidak ada balasan ataupun jawaban. Perhatiannya kini teralih kearah depan. Di mana para orang-orang yang entah mengapa bertindak secara tidak waras. Dengan tatapan tanpa bola mata, ekspresi di muka mereka yang begitu ganas, dan perilaku yang sangat jauh dari normal, mereka berlari kearah para polisi yang memblokade jalan melewati sela-sela kemacetan tersebut. Bahkan tidak jarang beberapa kaca spion rusak atau bahkan patah tertabrak oleh tubuh, tangan, bahkan kepala mereka. Yang anehnya seperti tidak merasa kesakitan atau apa pun, secara frontal mereka tetap berlari maju dengan gerak tubuh yang seperti terkejang.

"Sersan Asuma! Ini tidak ada habisnya! Mereka bangkit, dan akan terus bangkit walau ditembak berapa kalipun! Harap berikan perintah kepada kami apa yang harus kami lakukan sekarang!"

Seorang polisi berpangkat Kopral satu menghadap kebelakang kearah orang yang beberapa tingkat lebih tinggi darinya. Dengan tegas ia meminta Sersan itu, satu-satunya dengan pangkat tertinggi di situasi ini, untuk mengambil alih kepemimpinan sementara. Sebuah pertanyaan yang merujuk pada mereka harus segera mengevakuasi seluruh personel dari sana. Atau tetap bertahan di tempat menunggu ajal untuk menjemput mereka semua di tempat terkutuk itu.

Asuma tahu setiap pilihan yang ada. Ia tahu konsekuensi dari dua pilihan itu. Sangat benar, mereka semua akan mati jika tetap bertahan di sana tanpa mengetahui secara jelas apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang menjadi penyebabnya. Sesaat setetes peluh mengalir dari pelipisnya. Dirinya tidak boleh ragu-ragu dalam menentukannya.

'Jadi... Situasi seperti ini yang pernah kau rasakan saat Konoha jatuh... Fugaku Uchiha.'

Katanya dalam hati, mengingat bahwa rekan jauhnya lebih dulu merasakan beban ini.

'Kau tahu kau dan seluruh anak buahmu akan mati di sana. Apa... Apa yang membuatmu memilih pilihan itu...?'

'Kenapa... Kenapa kau mengorbankan seluruh personilmu beserta dirimu sendiri, saat kau tahu bahwa tak ada kesempatan untuk menang...?'

'Bagaiman... Bagaimana kau bisa sekuat itu menanggung sebuah pilihan yang telah kau pilih...?'

Sampai setetes peluh itu jatuh ke aspal hitam, Asuma masih diam terpaku. Seakan seluruh waktu berhenti sesaat. Tanpa memperdulikan setiap suara yang memanggil namanya, setiap suara ledakan mesiu yang begitu memekakkan gendang telinga, dan setiap gemerincing suara selongsong kosong yang jatuh ke aspal keras. Di tiap detiknya kini, semua terasa seperti memaksanya mundur ke belakang. Kembali ke waktu itu. Saat di mana Konoha benar-benar jadi kumbangan mayat-mayat hidup bak binatang kelaparan. Asuma begitu kuat memikirkan satu alasan, kenapa rekannya yang berada di sana saat itu, mampu memilih sebuah pilihan yang tidak ada satupun yang dapat meninjaunya sebagai pilihan yang terbaik. Dua pilihan itu, semuanya mempunyai konsekuensi yang sangat teramat besar. Dirinya terus berpikir, berpikir, dan semakin keras berpikir. Sampai di satu detik di sisa waktu yang krisis ini, ia temukan jawaban yang ia cari.

'Sou... Kau tetap bertahan di sana. Sebuah pilihan yang membuat 19 personelmu mati secara mengenaskan. Namun dengan pilihan yang telah kau pilih, dengan begitu... Sebanyak 63 nyawa penduduk telah terselamatkan berkat pilihan penuh beban yang telah kau pilih.'

"Aku tahu sekarang... Fugaku."

Ucap polisi berpangkat Kepala Sersan itu sambil membuka klip sarung senjata yang berada di ikat pinggangnya. Tangan itu mulai menarik sebuah Revolver putih perak bergagang coklat dari sana.

'Itu semua teraju pada satu permainan perbandingan. Kau relakan dirimu bersama 19 orang lainnya mati, demi sebanyak 63 orang bisa selamat. Kau telah memperhitungkan semua, yang hampir 3 kali lipat jumlah orang yang akan terselamatkan. Lebih banyak dari jumlah yang akan mati mengenaskan. Kau hebat... Sersan Uchiha.'

Klek...

Jempolnya menarik Hammer, bagian pelatuk di pangkal Revolver kebawah. Ujung laras senjata genggam mematikan yang pendek tersebut lurus terarah kepada mereka, para penduduk liar yang berlari pontang-panting seakan lapar akan daging berlari semakin mendekat.

"Asuma! Asuma-taichou! Beri kami keputusanmu sekarang! Kita tidak punya banyak waktu lagi..!"

Di antara barisan para polisi yang berada di depan dengan tetap menembaki mereka, sesaat Asuma sedikit melirik kebelakang. Melihat banyak helikopter evakuasi yang telah datang di beberapa siku blok perkotaan yang ada. Bahkan rambutnya bergoyang tak karuan terhembus angin kencang karena ada satu helikopter yang nampaknya akan lewat di atasnya. Kedua mata Asuma kembali melihat kedepan. Tatapan tanpa ragu seakan kembali menajam. Sekarang... Ia telah memiliki jawabannya.

Di belakangnya, sebanyak 6 blok di sepanjang jalan ini, dengan total sekitar 158 orang yang akan segera di evakuasi. Jika di bandingkan dengan total personel yang masih bertahan di garis blokade di sini, dia harus menanggung 158 nyawa para penduduk beserta 24 nyawa para rekannya di pundaknya. Sungguh beban yang begitu berat untuk di pikul sendiri. Terlebih, ia tidak punya lebih dari 2 pilihan yang ada. Tangan kiri Asuma memegang sepucuk rokok yang tinggal setengah di mulutnya. Ia menyedot habis rokok itu dan membuang putungnya ke sembarang arah. Hembusan asap putih lebat menyeruak keluar dari mulutnya.

"Semuanya... Dengarkan aku..."

Ucapnya datar sambil terus membidikkan Revolver berisi 6 selongsong peluru aktif itu. Dengan tetap menembak, seluruh polisi yang ada di sana sedikit memperhatikan tiap gema suaranya.

"Tidak peduli akan seperti apa ini nantinya. Kita, Kesatuan Kepolisian Jepang, dengan bangga telah berdiri di tempat ini. Meskipun kehilangan lengan maupun kaki dan jiwa, lawanlah mereka dengan apa yang kau punya! Jangan takut.. Jangan pernah ragu... Untuk selamatkan ratusan nyawa di belakang kita... Setidaknya, ayo kita ulurkan sedikit waktu untuk ratusan nyawa itu. Sekarang... Berdirilah tanpa keraguan keparaaatt..!"

Seluruh personil untuk sesaat terpaku dangan sudut mata yang melebar. Mendengar penghormatan terakhir untuk mereka semua dari setiap kata yang terucap oleh mulut Asuma. Mereka sadar, mereka tahu, mereka akan mati jika mengikutik perintah orang ini. Tapi setidaknya, ada satu hal yang benar...

Ratusan nyawa akan selamat, saat kematian akhirnya menjemput mereka nanti. Itulah yang sebenarnya ingin diungkapkan oleh Kepala Sersan itu. Di detik berikutnya, mereka semua tersenyum. Sebuah senyum miring kala mengetahui mereka semua akan mati. Senyum miring kala mengetahui mereka semua telah berjuang sampai di titik batas mereka sebagai polisi demi melindungu warga Kota. Mereka kembali menarik pelatuk-pelatuk mereka. Mematikkan api yang membakar bubuk mesiu dalam selongsong. Hingga membuat partikel timah panas terdorong keluar, melesat kuat dari moncong laras menghantam keras tubuh-tubuh para Zombie itu.

Satu-dua mayat hidup berhasil menerobos paksa barikade dan menerjang beberapa polisi, namun mereka semua tetap tidak gentar dan masih menembakkan seluruh peluru yang masih tersisa. Asuma memfokuskan pandangannya ke satu titik di mana seseorang berjaket hijau lusuh dengan tatapan bringas berlari kencang di atas atap-atap mobil. Orang itu berlari, dan terus berlari semakin mendekat. Namun Asuma telah membidiknya sebelum meter ke 34.

'Persetan dengan hari ini... Persetan dengan kalian... Para makhluk busuk...'

Daarr...!

Satu letupan keras dari peluru terdengar dan melesat kuat ketika satu jarinya menarik pelatuk dari Revolver itu. Senjatanya terhentak kuat keatas akibat power recoil yang begitu dahsyat. Peluru itu menerjang kuat bahu kiri Zombie tersebut, hingga membuatnya terhempas jatuh di atas atap sebuah mobil dengan darah yang bermuncratan. Satu peluru berhasil mengenainya.

Akan tetapi alis Asuma berkerut tajam, mendapati orang tersebut bangkit kembali. Matanya lagi-lagi harus memfokuskan pada celah bidik yang ada di ujung larasnya untuk jadi barometer bidikan tembakkan ke makhluk itu. Di jarak meter ke 17 Asuma menarik kembali pelatuk Revolvernya.

Daarr!

Klek... Daarr!

Klek... Daarr!

Jaket hijaunya rusak berlubang dipenuhi dengan darah. Di tiap bagian tubuhnya telah tertembus beberapa peluru dari senjata Asuma. Berkali-kali Zombie itu jatuh terhempas ke aspal. Namun seperti tidak merasakan sakit atau apapun, dia tetap bangkit. Memanjat atap mobil, berlari dan kembali berlari lagi dengan keinginan menyerang para polisi yang masih hidup. Asuma mendecih kasar. Tangan kanan dan kirinya menggenggam semakin erat gagang pegangan Revolver miliknya. Begitu kesal melihat Zombie itu masih saja mampu berlari walau telah empat kali terkena tembakannya. Angin terus berhembus kencang dari helikopter di atas mereka. Namun Asuma sama sekali tak memperdulikannya. Bukanlah jadi sebuah gangguan untuk dirinya. Asuma tetap kembali membidik mayat hidup itu. Hingga sampai di mana Zombie kembali berlari dan telah mencapai di jarak 11 meter sebelum melalukan kontak dengan dirinya. Lagi-lagi Asuma menarik pelatuk itu bersama dengan seluruh emosinya.

'Ke-pa-raaaattt...!'

Daaarrr..!

Ceklek... Ceklek...

...

Ceklek-Ceklek-Ceklek...

Ujung matanya menatap senjata genggam miliknya yang telah kehabisan peluru. Ia mencuatkan kuat Ejector Rod, satu tuas pendek di bawah laras senjatanya untuk melepas rumah silinder selongsong peluru yang telah kosong. Revolver itu terpatah, membuka rumah peluru untuk Asuma memasukan selongsong-selongsong peluru yang baru. Namun baru saja ia masukan 3 butir pelurunya, Bukan hanya Zombie berjaket hijau itu saja yang saat ini telah berjarak kurang dari 2 meter. Tapi 2 Zombie lain yang baru saja menyerang polisi di kiri-kanan tempatnya berpijak kembali bangkit dan bersiap menerjangnya.

'Sial... Tidak akan sempat..!'

"Haaaarrrkkh...!"

Tangan Zombie berjaket hijau itu hampir menggapai dirinya. Akan tetapi sesuatu yang mengejutkan turun dari atas. Membuatnya sangat terkejut.

Craaattss...

Sebuah belati tertancap tepat di pucuk kepala Zombie itu hingga menembus ke otaknya. Tubuh itu ambruk tertimpa seseorang yang telah menusuk kepalanya dari atas.

"Jangan terpaku pada satu target. Sadarilah bahwa targetmu berjumlah puluhan di sini."

Ucap seseorang yang mampu membunuh mayat hidup itu dengan satu serangan sederhana, lalu bangkit berdiri. Di waktu yang sama, dari arah kanan dan kirinya, telah siap dua mayat hidup ganas yang kini mencoba tuk menerjangnya. Namun gerakan tangan kiri dan tangan kanan orang tersebut jauh lebih lihai dari dugaan Asuma.

Seett..

Tangan kirinya mengambil satu senjata genggam pendek di sarung pistol paha kiri, sedangkan tangan kanannya begitu cepat melepas sebuah pistol dari sarung senjatanya yang berada di paha sebelah kanan.

Daarrr...!

Dua suara letupan senjata yang sama meletus seirama. Kedua Zombie tersebut tergelepak jatuh menyusur ke aspal kasar, bersamaan dengan lubang penuh darah akibat tertembus peluru tepat di kepala mereka. Tenggorokan Asuma seperti tercekik. Tidak mampu ia berkata-kata setelah melihat pria paruh baya berambut kuning tersebut dengan mudah menjatuhkan 3 sekaligus Zombie-Zombie itu.

Suara baling-baling yang begitu berisik dari sebuah helikopter yang tidak disangka-sangka adalah helikopter milik satuan elite khusus Divisi Anti Bio-Terrorist Unit. Tangan kanan pria tinggi berambut kuning itu memutar-mutarkan Walther P99 yang sangat compact dan pendek buatan Jerman tersebut. Lalu secepat kilat memasukkannya kembali ke Holster, sarung pistol yang terikat di pahanya.

Dari helikopter di atas mereka, sebuah tali dilemparkan kebawah hingga menjulur sampai menyentuh aspal. Satu persatu pasukan elite itu meluncur terjun kebawah, dan sigap menembaki para Zombie yang telah berhasil menerobos barikade polisi.

Rentetan demi rentetan suara Sub-Machine Gun begitu bising di telinga. Gemerincing selongsong peluru kosong keluar berjatuhan ke aspal dari FN P90 yang mereka bawa. Satu demi satu para mayat hidup mulai tumbang berjatuhan. Bahkan polisi-polisi yang mati tergeletak di jalanan bangkit kembali. Seorang personel di urutan paling terakhir meluncur berpegangan pada tali itu. Lalu dengan sigap menarik sebuah pistol genggam dan menembaki para polisi yang akan mulai bangkit dari kematian.

"Gaaarrkkh..!"

Seorang polisi dengan kepala bersimbah darah mencoba menyerang pria berambut kuning dari samping bahunya. Pria itu melirik sekilas ke samping, lalu dengan santai merubah pijakan kakinya menghindari terjangan Zombie itu. Begitu santai dan mudah ia menghindarinya. Tidak hanya sampai di situ saja Zombie tersebut menyerang. Setelah hampir terperosok ke tanah setelah terjangannya dihindari, mayat hidup dari polisi tersebut berbalik dan menyerang kembali. Mencoba mencengkram bahu pria tersebut. Akan tetapi lagi-lagi dengan santainya pria itu menahan dahi polisi yang telah menjadi Zombie tersebut dengan satu tangan kanannya walau kedua bahu telah di cengkram erat.

Darr...

Satu peluru menyudahi serangannya. Tepat mengenai titik vital mereka, yaitu kepala. Zombie itu ambruk tak bernyawa. Menyisakan seorang pria berambut kuning yang tangan kanannya masih memegang udara, bersama seorang pria berambut panjang menodongkan Secondary Handgun miliknya ke titik di mana kepala Zombie itu berada tadi.

"Kau tidak pernah berubah semenjak hari itu, Minato."

Kata Hashirama, yang berhasil menembak kepala makhluk ganas yang berupaya menyerang pria paruh baya berambut kuning di depannya.

"Aku lebih suka sesuatu yang ringan yang akurat dan berecoil rendah. Karena mungkin aku kurang mahir menggunakan senapan Rapid Fire seperti Sub-Machine Gun milik kalian itu."

Jawab ringan Minato Namikaze sambil tertawa kecil dengan tampang tak berdosa.

Asuma terus diam melihat kedua orang ini. Bagaikan Tag Team solid, mereka tidak perlu kordinasi untuk bekerja sama mengcover satu sama lain. Terlebih... Dengan sangat mudah mereka menumbangkan beberapa musuh dalam waktu singkat, yang dirinya pun tidak bisa mengalahkan satu dari sekian banyak mereka.

'Orang-orang ini... Mereka di level yang sangat berbeda dariku...'

Renung Asuma, mengakui sebagaimana jauh level di antara mereka bertiga saat ini.

'Jadi... Inikah... Kekuatan dari Divisi rahasia Pemerintahan.'

Bukan sekedar termenung, namun juga decak kagum dirinya terhadap orang-orang yang sangat terlatih dari pihak Pemerintah itu.

"Ah... Kau yang memimpin di sini? Otsukaresama... Terima kasih telah mengulur sedikit waktu bagi kami untuk mengevakuasi para penduduk setempat yang masih selamat."

Tanpa diduga, Minato menepuk bahu Asuma, dengan memberikan Applause kepada dirinya di waktu yang sama. Tentu saru hal yang sangat membuat Asuma terkejut.

"Dan untuk sisanya, serahkan kepada kami."

Lanjut Minato yang berbalik dan langsung berlari meloncati atap-atap mobil yang rusuh.

"B-Five! B-Five! Amankan perimeter, Tekan semua ancaman yang ada! Bagi jadi tiga kelompok dan bersihkan sektor selatan!"

"Siap..!"

"Dimengerti..!"

"Roger..!"

"Ha'i Taichou..!"

Jawab ke-12 personel itu dengan kompak. Menerima perintah yang diberikan Hashirama pada mereka. Serempak mereka mulai terpecah, terbagi atas 3 Team dan menyebar ke beberapa titik yang harus diamankan. Hashirama pun berlari menyusul Minato yang menuju ke blok timur dari sisi jalanan. Satu strategi Minato yang coba mengurangi sebanyak mungkin kontak dengan para mayat hidup yang mengganas di sana. Menyelam sambil minum air. Menghemat jumlah magazen yang diperlukan, menghemat tenaga yang dikeluarkan. Minato menerapkan dua hal menjadi satu strategi yang sangat Compact dan sederhana.

Derrrrtt... Derrrrrrrtttt...

Hashirama menembakkan FN P90 bertipe Sub-Machine Gun miliknya, menyerbu kepala-kepala mayat hidup yang coba berlari menyerang mereka berdua. Di satu gang di mana mereka berdua berada, Minato merunduk dan menyandarkan sebelah bahunya ke tembok tangga tinggi sebuah rumah. Mencoba bersembunyi ketika di ujung gang sana mereka berdua melihat banyak mayat-mayat hidup ganas berbondong-bondong menuju ke utara. Sangat banyak, bahkan seperti lautan Paparazi yang mengejar seorang Artis kelas atas.

Dengan sepucuk Walther P99, pistol semi-otomatis di genggaman tangan kirinya, Minato mengeluarkan sebuah Smartphone dari sakunya. Satu tombol Shortcut membuatnya langsung terhubung dengan seseorang. Ponsel layar sentuhnya menyala, menampilkan video call dengan seseorang.

"Sudah temukan posisinya?"

Tanya Minato kepada seseorang yang ia hubungi melalui video call.

"Di sektor 17, ruang bawah tanah sebuah stadion basket."

Jawab seorang pemuda dengan wajah tenang yang tertampilkan di layar ponsel Minato. Terlihat bahwa seseorang yang dihubunginya juga terjebak di situasi yang sama. Gerak-gerik seorang yang Minato hubungi terlihat sedang siaga di bersembunyi di balik tembok dengan memegang sebuah senjata genggam di tangannya.

"Bagaimana situasi di sana?"

Tanya Hashirama melihat tampilan pemuda yang berusia 24 Tahun di bentang layar LCD Minato.

Darr...

Suara tembakan terdengar melalui speaker ponsel Minato.

"Seperti yang kau lihat..."

Ucap pemuda dengan rambut belakang panjang yang terkuncir tersebut. Satu Zombie jatuh ke lantai bersimbah darah di kepalanya. Di lorong sebuah hotel yang redup, 3 mayat hidup langsung berlari kearahnya setelah mendengar suara tembakan tersebut. Pemuda itu menekan tombol kecil di sisi frame Desert Eagle miliknya. Slot magazen pun meluncur jatuh kebawah. Akan tetapi sebelum slot magazen kosong itu benar-benar menyentuh lantai, kaki kiri pemuda tersebut menendang slot itu keras.

Daapp!

Slot magazennya meluncur keras menabrak kepala salah satu mayat hidup yang mendekat hingga terjuntal jatuh. Dua mayat hidup yang tersisa berlari semakin mendekat. Dengan tangan kiri yang memegang alat komunikasi, dan tangan kanan yang menggenggam sebuah pistol yang kosong tanpa peluru, pemuda itu dibatasi oleh situasi. Namun sama sekali tidak menghentikannya untuk tetap beraksi melindungi diri. Pemuda berkuncir tersebut memamfaatkan lebar dan tinggi lorong hotel ini. Saat salah satu Zombie telah berjarak sangat dekat dan mulai menyerangnya, dengan sangat cekatan pemuda itu menghindar kekiri. Ia melempar alat komunikasinya keatas, mencoba membuka ruang baginya untuk melakukan Quick Reloading. Ia merunduk, lalu menendang kaki mayat hidup itu keras. Hingga membuatnya jatuh terperosok menyusur lantai hotel yang keras. Tangan kiri yang kini bebas tanpa memegang apapun, ia mengambil satu slot magazen baru dari balik jaket kulit hitamnya. Memamfaatkan waktu yang singkat untuk mengisi kembali amunisi pistolnya saat ponsel itu masih melayang di udara bebas.

Sett... Cekrek...

Dar-Darr!

Dengan posisi berjongkok rendah, pemuda itu menembak secara cepat mayat hidup yang terperosok ke lantai dan mayat hidup yamg berlari kearahnya.

Dep...

Alat komunikasi yang sempat terlempar keatas kini jatuh tertarik oleh gravitasi dan kembali ke tangkapan tangan kirinya. Di waktu bersamaan, dua Zombie telah terkapar di lantai dengan luka fatal di kepala. Pemuda itu berjalan mendekati satu Zombie yang masih hidup. Saat Zombie yang beberapa saat tadi terkena luncuran keras bekas slot magazen kosongnya itu akan bangkit kembali, pemuda tersebut mendengkul perutnya keras memggunakan lutut sampai membentur dinding.

Buaagh...

Mayat hidup itu tanpa henti meronta-ronta mencoba menyerang, walau kini ditahan kuat oleh lutut pemuda tersebut.

"Target kita menjemput seorang profesor yang sangat terkenal dengan kegilaannya. Kini mereka berada di atap dengan sebuah helikopter."

Ucap pemuda itu dengan wajah tenang tanpa ekspresi kepada Minato dan Hashirama yang tertampilkan di layar ponsel miliknya. Terasa begitu berisik mayat hidup yang sedang ditahannya dengan lutut, pemuda yang mengenakan jaket kulit hitam tersebut menodongkan Desert Eagle miliknya ke dahi orang yang telah terinfeksi itu.

Daarr...

Dia menembaknya tanpa perasaan, hingga darah terciprat jelas di dinding.

"Red Qween mulai bergerak kembali. Kurasa mereka akan merencanakan sesuatu dengan penelitian rahasia yang mereka sembunyikan."

Ucapnya kemudian, menatap kearah layar ponsel miliknya.

"Begitu... Kurasa sudah saatnya dirimu muncul ke permukaan."

Balas Hashirama. Pemuda tersebut tentu tahu apa maksud dari perkataannya.

"Tidak... Akan lebih baik jika dirimu tetap dalam bayangan. Aku akan urus semua datamu. Aku punya satu rencana. Yang hanya dirimu yang bisa lakukan rencana itu."

Sahut Minato menyela keputusan Hashirama. Pemuda itu terdiam, mendengarkan dengan seksama setiap kata yang terucap dari Minato. Hashirama menoleh kearah rekan kuningnya itu, karena keputusannya telah di sela. Akan tetapi Hashirama tidak balas menyangkal. Dirinya sangat tahu seperti apa sosok Minato yang mempunyai segudang pemikiran tajam, dengan semua rencana-rencananya yang tersusun sangat rapi di misi-misi sebelumnya.

'Apapun itu, Minato... Aku percayakan padamu.'

Ucap Hashirama dalam hati.

"Tetaplah bergerak di antara bayangan. Aku akan mengumumkan surat kematianmu besok. Di satu hari nanti... Aku ingin dirimu membantu seseorang yang sangat berharga bagiku. Aku tahu hanya kau yang bisa melakukan ini."

Lanjut Minato menatap terius pemuda berumur 24 Tahun tersebut.

"...Ha'i."

Tiba-tiba terdengar suara helikopter yang sangat dekat di atas kepalanya. Pemuda itu sedikit terkejut, dan mengerti apa yang sedang terjadi. Ia langsung menuju ke salah satu pintu kamar hotel yang ada di lorong itu. Tangan kanannya mencoba memutar-mutar knop pintu. Tetapi pintunya terkunci dari dalam. Tidak ada pilihan lain.

Braakk!

Braakkkk..!

Ia berhasil mendobraknya paksa hingga pintu itu terbuka keras. Ia berlari masuk, melompati meja dan sofa yang ada di dalam ruangan tersebut. Tangannya lalu menggeser pintu kaca yang menuju ke balkon hotel. Angin berhembus kuat saat ia telah berada di luar. Rambutnya terkibar akibat hembusan baling-baling sebuah helikopter. Di balkon kamar hotel di lantai 14, di mana tempat dirinya berpijak saat ini, merunduk bersembunyi kala melihat satu helikopter melintas di atasnya.

"Red Qween..."

Gumam Hashirama yang melihat juga helikopter itu dari visualisasi kamera milik ponsel pemuda tersebut. Terbang semakin tinggi dan menghilang tertutup batas pandangan yang bisa dijangkau oleh mata. Angin kembali tenang setelah helikopter itu terbang menjauh.

"Apa kau membawa sesuatu yang aku minta..?"

Tanya Minato sesaat setelah hembusan angin kencang mereda.

"Tentu... Tapi ini..."

Pemuda itu mengeluarkan sebuah benda dari dalam jaket kulit miliknya. Dengan wajah bingung, ia melihat sesuatu yang diminta Minato. Sebuah rokok matic. Rokok elektronik yang bisa di charging.

"Ini... Sebenarnya untuk apa..?"

Ucap pemuda itu kebingungan melihat rokok elektronik yang Minato minta.

"Kau akan tahu nanti... Kami tidak terlalu jauh dari lokasimu saat ini. Kami akan menemuimu sesaat lagi. Bagaimanapun... Aku berterima kasih atas kerja kerasmu sedari aku memimpin Divisi 3. Kerja bagus... Itachi."

Flashback End...

.

.

.

.

To Be Continue's...

.

.

Yooo... Apa kabar semua?

Hanya mau ngasih message aja buat para pembaca sekalian. Udah baca prekuelnya kan? Itu tuhh... Everything Has Changed yang terkesan ancur buat Felix sendiri :P

Di sekuelnya ini, bakal muncul banyak flashback-flashback yang mungkin bakal bikin sebagian dari kalian kebingungan. Biar gampang ngerti kapan saat flashback terjadi, baca aja dengan seksama point waktu yang tercantum sebelum flashback dimulai. Seperti... 3 Day's Before... yang bakal menceritakan bagaimana kejadian-kejadian yang sebenarnya atau kejadian yang telah terjadi di 3 hari yang lalu.

Tapi walau bagaimanapun.. Felix tetep terima seluruh kritik dan saran dari kalian semua... jangan cuma bilang lanjut-lanjut doang -_-

Karena bagaimana pun, 60-75% alur cerita Everything Has Changed telah banting setir oleh karena saran dari kalian yang udah membaca.

Seharusnya di prekuel itu Naruto mau aku ceritakan gak megang senjata kayak Glock-17 dan tetap pake tongkat pemukul kasti.

Ya udahlah jadi author kok rewel banget...

Nah sekarang waktunya sesi balas review dari kalian :-D

: Untuk jadwal update sih pasti bakalan kacau balau dikarenakan kegiatan yang mepet-mepetin waktu X-D

Kawaii Aozora : Sona? Hmm... aku gak bisa janji bakal di scene kapan dia akan muncul. Mungkin di chapter 3.. tapi Felix gak janji lho yaa :-P

Madara Ootsutsuki : kebanyakan POV ya? Apa kamu gak bisa mengerti gimana kehilangan rekan seperjuangan yang telah melewati berbagai hal rumit bersamamu? Ah atau... kamu belum baca prekuelnya ya?

Dimaz670 : gak sekeren itu kok.. wkwkwk

Saikari Nafiel : dan sepertinya update kilat bener-bener hal yang sangat mustahil buat author gadungan seperti aku X-D

light bullet : Nama Naruto .U ada di papan promosi karakter yahh? Hmm.. mungkin dugaan kamu yg itu bener.. (' ' ,)

: Semangat empat limaaaa!

black crow : Siiip deh black.. pasti lanjut kok... entah kapan :-P

jamal : Doumo arigatou gozaimasu... aku juga senang sampai ada yang menantikan lanjutan Everything Has Changed yg udah tamat ^_^

Guest : ahh iya pasti lanjut kok.. gak sabar yah? Hayoo..? :-P

AdamRidhatullah : haahh?! Kamu suka ama ceritaku?! Hontou ni hontou? Sungguh? Benarkah? Seriuss? Waahh arigatou gozaimashita ^_^