"Yo... Apa kabar..."
Ucap pemuda itu lengkap dengan senyum khas miliknya, Yang menyapa setiap wajah terkejut para teman-temannya yang termangu penuh pertanyaan. Kecuali Sasuke seorang, Yang membalas senyum sapanya tanpa menunjukkan raut kebingungan.
Sakura menedekati pemuda dengan rompi hitam tipis yang terangkap di luar kemeja berwarna biru tua yang melekat pada tubuhnya. Perlahan, Dengan pandangan penuh tanya tanpa ada kepercayaan dari lubuk hatinya, Ia berhenti tepat di depan pemuda tersebut. Telapak tangan kanannya terangkat, Menyentuh pipi milik pemuda yang kini berdiri tepat di hadapannya. Begitu terasa... Dan begitu nyata...
"Apa... Ini dirimu..."
Tanya gadis berambut merah jambu itu pelan. Bening air mata yang kini melapisi seluruh sudut matanya memantulkan indah cahaya bulan yang menyelinap masuk keruangan redup ini. Senyum itu tetap pada tempatnya. Belumlah luntur memandangi kedua manik sehijau Emerald milik Sakura.
"Kurasa kau terlalu cepat untuk melupakan teman masa kecilmu... Sakura."
Jawabnya lembut tanpa keraguan berarti.
Mendengar kepastian itu, Jawaban yang Sakura sangat inginkan dalam ketidakpercayaannya, Setitik air matanya mengalir jatuh.
Anko dan Kiba diam membisu. Terlebih untuk Hinata yang terpaku tanpa kata. Terlalu bingung, Harus berekspresi seperti apa dirinya saat ini. Begitu terkejut, Begitu heran, Begitu tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Kepalan kedua tangan Kiba mengerat. Sebagai pengiring ungkapan bercampur aduknya rasa di dalam hati. Melihat bagaimana sahabat terbaiknya yang mustahil untuk hidup, kini berdiri di sana. Berdiri sebagai pemuda bernama Naruto Namikaze sepenuhnya.
"Maaf... Tapi sejujurnya... Kau sedikit terlambat, Naruto."
Ucap Sasuke mulai bangkit berdiri setelah terselamatkan dari maut yang beberapa saat lalu hampir menggiringnya menuju kematian. Naruto, Pemuda itu, menoleh kearah Sasuke. Memandang Sasuke dengan pandangan bertanya. Mencoba menilisik arti dari kalimatnya tersebut.
"Sona... Kenapa Sona tidak bersama dengan kalian...? Di mana dia..? Terlebih lagi... Di mana Chouji?."
Rentetan pertanyaan keluar dari mulut Naruto yang memandang tiap raut wajah mereka.
"Sona... Terpisah dari kami saat itu..."
Jawab Anko dengan suara pelan.
"Lalu... Lalu, Di mana Chouji sekarang..."
Naruto bertanya sekali lagi. Ingin mendengar jawaban dari mereka di mana salah satu temannya yang tidak terlihat sedari ia tiba. Kenapa Chouji tidak ada bersama dengan mereka? Naruto sungguh bertanya-tanya tentang itu.
Satu per satu wajah mereka tertunduk. Redup dan sendu menghias raut setiap wajah mereka. Tidak Hinata, Tidak Anko, Tidak Kiba, Dan bahkan Sakura pun ikut tertunduk. Tidak ingin melihat sirat mata bertanya milik Naruto saat ini.
"Hei... Jawab aku... Kenapa kalian semua diam seperti ini..."
Retak... Senyum Naruto luntur seketika. Jantungnya berdegup ragu. Hatinya serasa seperti teremas. Rasa apa ini...? Naruto pun tidak mengerti. Mengalir begitu saja saat melihat rekan-rekannya terdiam seperti ini.
"Jawab... Jawab aku... Siapapun..."
Manik biru Naruto bergetar. Sesuatu seperti tengah menusuk hatinya. Relung itu mulai jatuh. Betapa sakit rasa yang ia rasakan, Melihat semua rekannya tetap diam tertunduk tanpa bersuara.
"Naruto... -Kun..."
Setetes air mata mengalir jatuh di pipi putih Hinata. Entah kenapa, Ia benar-benar tidak sanggup hanya untuk sekedar menjawab pertanyaan dari pemuda itu.
Genggaman pada gagang Glock-17 peninggalan Hiashi di tangannya mulai mengerat kuat. Bayang hitam menutupi sebagian wajahnya yang tertunduk. Kini Naruto mengerti, Arti kata dari sedikit terlambat yang dikatakan oleh Sasuke tadi. Perasaannya benar-benar kalut saat ini. Tapi ia punya beban di pundaknya, Yang harus segera diselesaikan.
"Begitu... Aku mengerti..."
Jawabnya pelan, Namun masih bisa terdengar oleh 5 orang di ruangan itu. Minus seseorang di samping Hinata.
Membelakangi cahaya rembulan, Sejenak jari telunjuk tangan kirinya mengusap sesuatu di matanya yang tertunduk tertutupi bayangan. Kemudian ia menegakkan kembali wajahnya. Melirik kearah Hinata, Naruto langsung berjalan menghampirinya, Melewati Sasuke di sampingnya.
"Mungkin kata maaf tidak akan cukup untuk menebus keterlambatanku... Tapi... Aku akan bawa kalian keluar dari Neraka ini."
"..."
"...Ingatlah itu sebagai satu janjiku."
Ucap pemuda tersebut dengan raut wajah penuh dendam. Perasaan dari bilik kebencian mengalir begitu saja menyelimuti seluruh hatinya. Dendam kepada Neraka yang disebutnya. Yang telah banyak merenggut nyawa orang-orang terdekatnya.
"Menjauh darinya, Hinata..."
Ucap Naruto sambil menggapai satu tangan Hinata lalu menariknya. Membuat gadis itu terseret meninggalkan seseorang yang berada di sampingnya tadi.
"Tu-Tunggu..."
Tolaknya pelan, Melihat tubuh Michika yang pucat tidak sadarkan diri langsung jatuh tersandar di atas meja. Hinata sedikit bingung dengan apa yang telah dilakukan Naruto.
"Michika-san benar-benar dalam keadaan yang sangat buruk. Biarkan aku menolongnya, Naruto-kun.."
Lanjut Hinata lagi yang coba berjalan mendekati Michika kembali. Namun lagi-lagi Naruto menghentikan langkahnya. Lengan kanannya ditarik oleh pemuda itu. Memaksanya untuk mundur kebelakang.
"Terlambat..."
Ucap Naruto datar.
"Dengar Hinata... Siapa pun dia... Kini bukan lagi seseorang yang pernah kau kenal..."
Lanjut pemuda itu lagi sambil membidikkan senjata genggam miliknya kearah Michika yang seperti tengah tertidur. Lebih tepatnya, Tak sadarkan diri. Tidak mengerti apa yang telah diucapkan Naruto, Membuat Hinata sekali lagi ingin menyangkalnya.
"Tidak... Tungg-..."
Kalimat Hinata terputus begitu saja setelah mendengar sebuah suara serak dari arah depannya. Hinata menoleh ke asal suara tersebut. Suara serak kembali terdengar, Disertai mulai sadarnya Michika. Bangkit dari permukaan meja tempatnya tersandar. Hinata terdiam melihat Michika, Yang kini terasa begitu berbeda.
"Michika-san..."
Gumamnya pelan melihat Michika yang berdiri tidak jauh dari hadapannya. Sekilas melihatnya saja, Naruto telah tahu bahwa gadis itu bukanlah lagi seorang manusia.
"Mata kananku bisa merasakannya, Bahwa dia bukan lagi seperti kita. Kini dia bukan lagi seseorang yang kau kenal.."
Kata Naruto tajam melihat kearah Michika yang diam menunduk. Hinata menoleh kepada Naruto, Lalu menoleh kepada Michika kembali. Tidak percaya dengan apa yang dikatakan pemuda berambut kuning tersebut.
Michika mulai mendongak, Menatap orang-orang yang ada di hadapannya. Tanpa terlihat pupil di tengah-tengah matanya seperti pada umumnya. Membuat Hinata terkejut sekaligus masih tidak percaya dengan apa yang dirinya lihat. Wajahnya begitu pucat redup. Seolah darah telah berhenti mengalir di dalam tubuhnya.
Michika melangkah tertatih. Mendekati Hinata dan Naruto. Membuat pemuda berambut kuning di samping Hinata menarik pelatuk Glock-17 miliknya.
"Tidak-"
Daarrr...
Mata Naruto terbuka lebar. Tembakannya meleset, Dan hanya menerjang dinding kusam. Membuatnya retak berlubang dengan satu peluru timah yang bersarang di sana. Naruto sungguh tidak mengerti apa yang Hinata lakukan, Setelah tiba-tiba membelokkan bidikannya sesaat tadi. Seakan gadis itu tidak mengijinkan Naruto untuk menembak Michika yang jelas-jelas kini bukanlah manusia lagi. Tidak hanya Naruto saja yang terkejut dengan apa yang Hinata lakukan. Sasuke, Sakura, Anko dan Kiba pun tidak percaya setelah melihatnya dengan mata kepala mereka sendiri. Apa yang sebenarnya Hinata coba lakukan?.
Ingin Naruto bertanya pada gadis yang tengah merengkuh lengan kanan yang sedang membidikkan senjata genggamnya. Tapi Michika kembali menggerakkan kakinya. Maju selangkah... Demi selangkah, Dengan tertatih membawa beban tubuhnya. Membuat Naruto balik kembali memalingkan fokusnya kearah mayat hidup itu.
'Apa yang Hinata lakukan...'
Tanya Kiba dalam hati dengan mata yang melotot lebar.
Jarak mereka begitu dekat. Sehingga Naruto menggiring Hinata untuk mundur beberapa langkah kebelakang. Karena gadis berponi itu terus-menerus merengkuh lengan Naruto kuat, dan coba mengarahkan bidikan senjata itu kebawah. Agar Naruto tidak bisa menembakkan pistol miliknya untuk yang kedua kalinya.
Dalam diam Sakura terpaku dengan apa yang Hinata lakukan. Begitu heran dan kebingungan sehingga ia tidak mampu untuk mengeluarkan sepatah kata pun.
"Dia... Dia... Melawannya..."
Gumam Hinata pelan. Naruto memalingkan pandangannya kearah Hinata lagi setelah mendengar gumaman pelan gadis itu. Satu tangan Michika terulur. Membuat Naruto kembali mundur kebelakang, Melihat tangan itu seakan ingin merenggut Hinata darinya.
Sangat ingin Naruto arahkan laras senjata genggamnya kearah Michika. Namun Hinata tetap merengkuh lengannya kuat. Hingga Sasuke membalik senapan yang dibawanya. Bersiap untuk menghempaskan gagang Sniper itu ke kepala Michika jika Naruto tidak bisa menembak saat mayat hidup di sana benar-benar menerjang mereka berdua.
Perlahan, Michika terus mendekat selangkah demi selangkah, dengan langkah yang terpontang-panting. Tangan yang kian berubah menjadi kisut pucat itu tetap mengulur. Mencoba lebih dekat lagi untuk menyentuh Hinata.
"Sudah cukup, Hinata!"
Ucap Naruto dengan sedikit emosi menyadari bahwa Hinata benar-benar sangat membatasi geraknya.
"Michika..."
Gumam Hinata lagi dengan pandangan sayu. Melihat pedih Michika yang kini telah berubah. Saat Naruto akan melepaskan kasar rengkuhan Hinata, Michika berhenti melangkah. Membuat Naruto memandangnya. Memandang Michika yang saat ini tengah menoleh kearah jendela besar gedung yang telah pecah saat Naruto datang tadi. Intuisi Naruto tidak mampu menggapai apa yang ingin dilakukan gadis yang telah terinfeksi ini. Tetapi di detik berikutnya, Semua pasang mata kembali terbuka lebar, Terlebih untuk Naruto dan Hinata, Setelah melihat dengan mata kepala mereka sendiri bahwa Michika tiba-tiba menjatuhkan diri dari gedung tinggi ini melalui jendela besar itu.
Hinata berlari kearah jendela, Diikuti oleh Naruto yang juga ikut melihat kebawah setelah kejadian tadi. Hinata menutup mulut ketika melihat bagaimana perjalanan Michika jatuh di ketinggian, Dan terhempas kedasar sana dengan kepala menyentuh aspal penuh batu terlebih dahulu. Sehingga membuat kepala Michika langsung remuk, Pecah bersimbah darah.
"Apa ini... Apa yang terjadi..."
Naruto sangat bertanya-tanya tentang apa yang dilihatnya. Mengabaikan mata Hinata yang terus bergetar, dan para teman-temannya yang ikut melihat kebawah di sisi jendela. Pemuda itu bertanya-tanya dalam hati. Perasaan yang ada di hatinya, Merasa bahwa sejak awal tidak ada sama sekali keinginan Michika untuk menyerang dirinya dan Hinata. Tapi apa sebenarnya itu...? Bagaimana bisa...?
"Dia... Michika... Masih berjuang keras untuk melawan dari dalam dirinya..."
Lagi-lagi Hinata mengatakan hal yang tidak Naruto mengerti. Bahkan tidak ada satu pun dari Sasuke, Sakura Anko mau pun Kiba yang dapat mengerti maksudnya. Dengan pandangan sayup, Hinata memperhatikan jasad Michika di ujung bawah sana.
"Dengan tangan yang terulur itu... Michika... Berterima kasih kepada kita semua, Yang telah selamatkannya walau tahu bahwa ia telah terinfeksi..."
Lanjut Hinata lagi. Membuat semua orang yang ada di situ terdiam mendengarnya.
"Aku bisa merasakannya... Naruto-kun... Merasakan tekad kuat Michika untuk mempertahankan siapa dirinya. Ia melawan wabah yang telah menjangkitnya itu sendiri... Karena aku... Bisa merasakannya..."
"..."
"Tidak mungkin... Tapi, Dia telah berubah bukan... Itu tidak mungkin..."
Kata Sakura yang seakan tidak percaya dengan tiap kata yang terucap dari bibir Hinata.
Bahkan Sasuke pun sampai berhenti memikirkan apa ada secuil fakta dari apa yang dikatakan Hinata. Karena apa yang telah ia lihat selama ini, Bahwa seseorang yang telah terinfeksi dan berubah, Tidak akan pernah bisa menjadi siapa dirinya yang sebelumnya.
'Tidak ada kata yang salah dari kalimat yang Sakura ucapkan... Tapi...'
Otak Sasuke serasa membeku hanya dengan memikirkannya saja. Mulutnya diam terkunci. Wajahnya tertunduk. Jari-jarinya memegang beberapa helai rambut yang jatuh di wajahnya. Waktu seakan berhenti. Seolah dia tengah terjebak dalam medan ilusi, Yang hanya ada dirinya di dalamnya. Detik diam tak bergulir. Membiarkan Sasuke terbenam oleh pusat pemikirannya sendiri.
Serasa begitu lama Sasuke berdiri tanpa kata, Berpikir... Berpikir... Dan berpikir. Hingga sesuatu tiba-tiba menyambar syaraf otaknya.
'Tidak... Sebenarnya, Ini memang cukup masuk akal bagiku...'
Gumamnya sendiri dalam hati, Ketika sosok Naruto yang tengah berdiri di sisi jendela muncul di ruang ilusinya. Sambil tetap tertunduk, Sasuke memperhatikan sosok Naruto yang memakai kemeja biru berlengan panjang itu.
'Alasan apa yang dikatakan Hinata, Tentang Michika... Yang masih mencoba mempertahankan secuil kesadarannya. Sebenarnya sama dengan alasan kenapa sekarang Naruto berada di sini setelah tergigit dan terinfeksi oleh mereka waktu itu...'
Dalam kegelapan ilusi di ruang waktu yang tercipta oleh cara berpikir miliknya sendiri, Sasuke memandangi Naruto dari balik helai-helai poni yang menutupi matanya.
'Bukankah ini cukup masuk akal...? Atau... Hanya aku sajakah yang berpikiran bahwa ini memang masuk akal...? Alasan mengapa Hinata bisa mengatakan bahwa dirinya mampu merasakan kesadaran Michika yang tengah bertahan dan berjuang. Bukankah... Hinata juga telah terinfeksi di saat itu...?'
Sasuke kembali mengingat waktu di mana Hinata tergigit, Dan hampir berubah menjadi seperti mereka jika Naruto tidak menginjeksikan sebuah serum yang telah dibuat oleh Ayah Hinata sendiri.
'Dengan kata lain, Hinata memiliki bagian dari wabah itu di dalam dirinya... Itulah sebabnya ia mampu merasakan jauh di dalam Michika... Setidaknya ini adalah hipotesa yang aku kumpulkan... Terlepas dari benar atau tidak... Tapi ini seolah menggiringku untuk percaya kepada Hinata... Dan walau begitu... Aku masih belum tahu apa-apa tentang misteri dari wabah ini...'
Di dalam ruang hampa di dalam pikirannya, Sasuke begitu leluasa untuk berpikir dan menyusun hipotesa-hipotesa yang telah ia kumpulkan satu per satu. Begitu tenang, Dan begitu senyap dimensi yang seolah menghentikan waktu untuknya ini, Membuat Sasuke mampu berkonsentrasi penuh mengingat kembali hal-hal yang penting yang pernah terjadi. Sesuatu yang tidak masuk akal bagi teman-temannya untuk diterima, Ia putar balikkan seluruh kemungkinan yang mampu mengisi kesenjangan dari ketidakmasukakalan itu sendiri.
Sasuke telah temukan hasil yang ia cari. Dan di saat yang sama, Sebuah suara mengusik indra pendengaran Sasuke. Seolah suara itu mampu menariknya keluar dari medan dimensi cara berpikirnya sendiri.
"...Suke?"
"Sasuke-kun?"
"Sasuke-kun jangan diam saja seperti ini!. a
Apa kau mendengarku...?"
Wajah pemuda itu kembali mendongak, Dengan melepaskan jari yang menggenggam pucuk helai rambut poninya. Gendang telinganya kembali berfungsi normal setelah seakan-akan tuli tidak mampu mendengar satu suara apa pun saat ia berada dalam konsentrasi tingkat tinggi.
"Sasuke-kun, Kau membuatku takut saat dirimu diam melamun kaku. Sebenarnya apa yang sedang kau lamunkan...?"
Tanya khawatir Sakura yang melihat Sasuke tertunduk berdiam diri sambil memegangi pucuk helai poni rambutnya.
"Jangan khawatirkan itu..."
Jawab Sasuke enteng dengan datar.
"Sejak awal, Banyak dari mereka yang melarikan diri ke pulau ini telah terinfeksi. Membawa pandemik dari masing-masing Kota di mana mereka berasal. Bahkan kasus ini bisa dibilang sama dengan kasus Hinata. Karena bagaimanapun Hinata pernah terinfeksi kala itu."
Jelas panjang lebar sang Uchiha muda tersebut. Setidaknya, ia lega karena tidak ada Sona yang mampu menyangkal pendapatnya tersebut.
Sasuke menarik tuas kecil di samping Frame senapannya. Membuat sebuah selongsong peluru kosong keluar dari sana. Terpantul jatuh ke lantai. Menimbulkan bunyi rincing di malam pulau yang senyap ini. Sekarang ia benar-benar kehabisan amunisi. Tidak ada lagi sebutir peluru pun yang tersisa.
"Begitu... Dengan penjelasanmu yang tidak menyentuh ujung dan sangat tidak jelas apa maknanya itu... Membuatku mengingat sesuatu yang penting sekarang..."
Sahut Naruto sambil memegangi ujung dagunya. Mengingat kembali sebuah penjelasan tentang kemungkinan mengenai penyebaran pandemik ini. Terutama hal yang berhubungan dengan Hinata. Karena seseorang yang sempat menjelaskan kepadanya tentang situasi sebenarnya dari wabah virus ini, Sangat berkaitan erat dengan Hinata dan Hiashi.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Naruto, Membuat satu pertigaan muncul di dahi Sasuke.
"Tunggu, Apa-apaan katamu tadi?."
Ucap Sasuke sedikit tersinggung karena perkataan Naruto. Sakura bolak-balik melihat kearah Sasuke, Naruto, Sasuke, Naruto berulang kali.
"Sudahlah kalian berdua... Tapi, Aku juga agak bingung dengan apa yang coba kau jelaskan, Sasuke-kun. Aku sama sekali tidak mengerti inti dari maksud penjelasanmu. Apalagi dirimu sangat menyeramkan saat diam melamun seperti tadi."
Sahut Sakura kemudian.
"Tidak, Sakura, Kenapa kau malah membelanya?."
Kata Sasuke agak kesal terhadap dua orang terdekatnya itu.
"Michika... Setelah berubah seperti itu, Apa dalam dirinya... Ia masih tetap Michika..."
Sakura merenung sendiri, Dan berpose seperti Naruto yang sedang memegang ujung dagunya.
'Sial... Dia mengacuhkanku...'
Sasuke mendecih dalam pikirannya, Benar-benar dibuat emosi dengan sikap kedua orang ini.
"Terlepas dari itu... Bagaimana Sona bisa terpisah dari kalian?"
Tanya Naruto menanyakan lagi tentang gadis berkacamata dengan rambut hitam sebahu yang sekarang tidak bersama dengan mereka.
"Tapi, Naruto! Setelah tergigit oleh mereka, Kenapa kau..."
Sakura menyela pertanyaan Naruto, Dengan hasrat keingintahuannya tentang bagaimana Naruto bisa selamat dari rantai pandemik itu. Sesuatu yang sangat mustahil baginya.
"Terlebih... Apa yang telah terjadi selama kurun waktu kita terpisah, Namikaze-kun...? Aku melihat, Ada sesuatu yang tampak berbeda denganmu..."
Anko-sensei juga ikut bertanya kepada Naruto, Mengingat bahwa saat ini pemuda itu mengenakan atribut yang cukup mencolok di matanya. Terutama Holster, Sabuk senjata yang terlingkar manis di kedua bahunya. Belum lagi, Siapa yang Naruto hubungi tadi...? Begitu menjadi tanda tanya besar bagi Anko. Walau saat ini ada rasa senang dan lega dapat melihat kembali satu murid yang sangat dirindukannya ini.
Braakk...!
Draakk-Brraakk-Druaakkk...!
Tiba-tiba pintu tangga darurat terdobrak dengan keras. Begitu mengagetkan mereka semua hingga menoleh tertuju pada pintu putih kusam bertuliskan EXIT itu. Dari kaca rabun yang terdapat di tengan pintu tersebut, Samar-samar Kiba dapat melihat banyak mayat hidup di baliknya.
"Sepertinya kita akan terdesak lagi."
Kata Kiba menoleh cepat ke asal suara dobrakan tersebut.
"Kita bisa saling ceritakan itu nanti. Yang terpenting sekarang, Kita harus keluar dari pulau ini secepatnya."
Jawab Naruto. Walau itu bukanlah jawaban yang Sakura dan Anko inginkan.
Jari telunjuk tangan kiri Naruto kembali terangkat. Menekan sebuah tombol kecil di Earphone miliknya.
"Bisa jemput kami sekarang...?"
Ucap Naruto yang entah kepada siapa melalui Earphone yang terpasang di telinga kirinya.
"Maaf, Tapi semua unit heli sedang beroperasi. Kami tidak bisa menjemputmu sekarang. Tunggulah untuk periode heli berikutnya. Aku akan kirimkan untukmu nanti."
Jawab seseorang dari Earphone Naruto. Membuat kedua alis pemuda tersebut saling mengerut.
"Berapa lama lagi..?"
Tanya Naruto kembali.
"Kami tidak bisa pastikan. Tapi setidaknya dua jam dari sekarang."
"..."
'Siall...'
Umpat Naruto dalam hati mendengar waktu yang harus ia tunggu untuk evakuasi helikopter yang akan datang.
"Aku tidak bisa bertahan selama itu. Lacak aku lagi nanti. Aku akan cari cara lain untuk keluar dari pulau ini."
Jawab Naruto setelahnya. Sakura, Sasuke, Hinata, Anko dan Kiba saling menatap Naruto dengan pandangan tidak terartikan. Begitu banyak... Begitu banyak pertanyaan yang ada di otak mereka untuk dijawab oleh Naruto. Tapi saat ini keadaan begitu mendesak. Dobrakan-dobrakan pintu di sana tidak kunjung berhenti. Debu-debu berterbangan dari engselnya. Seakan pintu tua itu tidak akan bertahan untuk lebih lama lagi.
"Kami mengerti... Kami akan menghubungi lagi nanti.."
Kata seseorang di Earphone milik Naruto. Yang juga jadi kalimat akhir dari percakapan di antara mereka.
"Baiklah... Sekarang, Kita hajar kepala mereka."
Ucap Naruto sambil memfokuskan pandangannya kearah pintu putih kusam yang telah terlepas dari engsel berkaratnya. Jatuh menimpa lantai berdebu, Pintu tersebut akhirnya kalah oleh mereka. Kini sorot manik biru matanya menilik tiap mayat hidup yang datang berlari menerjang. Angin kecil dari hempasan pintu yang jatuh kelantai, menghembuskan pelan poni rambut kuningnya. Setelah sekian lama, Kini tiba saat bagi dirinya untuk kembali bertaruh nyawa berhadapan langsung dengan mereka.
"Kita gunakan rak buku besar itu. Kiba... Sasuke... Ikuzo!"
.
.
.
.
"Hero's Come Back!"
The Place Of Hope
Chapter 4 : "Sang Pahlawan Telah Kembali!"
Genre : Adventure, Horror & Gore
Caution! Contains violance & profanity (17th +)
.
.
.
.
Sorot lampu senter dari moncong laras senjata milik Ino mengarah kebawah, Tepat menyorot kepala seseorang yang dipenuhi bercak darah di hampir seluruh mulut dan kemeja putihnya. Ino di atas, Sedangkan orang misterius itu di ujung tangga berkarpet merah, Dan hanya terpisahkan belasan anak tangga yang mengarah kepada orang itu. Mata kanan Ino terfokuskan pada satu titik. Dragunov miliknya telah sejajar dengan bahu kanannya. Dalam posisi membidik, Gadis itu siap untuk menarik pelatuk Sniper Semi-Otomatis yang ia bawa.
"Lets shot em all..."
Ucapnya pelan dan terus berfokus untuk membidik.
Tersorot cahaya Flashlight, Orang berdasi dan berkemeja penuh darah merah itu menoleh kepadanya. Namun tanpa menunggu sosok misterius yang menyeramkan itu untuk melangkah menyerang, Ino menarik pelatuknya lebih awal.
JDarr...!
Ujung sebutir peluru panas menerjang tepat di kepala mayat hidup tersebut tanpa terlihat oleh mata telanjang.
Debrakk...
Mayat hidup itu terjungkal kebelakang dan jatuh membentur lantai putih dingin. Darah mengalir, Mulai membasahi lantai bersih di sekitarnya.
Sesudahnya, Suasana gelap yang sepi, Sayup-sayup Ino dan ketiga personel dalam timnya mendengar beberapa suara. Begitu heran dengan kehadiran suara tersebut, Ino membalikkan badan. Mencari arah sumber suara yang mirip geraman orang serak itu. Cahaya-cahaya dari sorot senter kecil yang terpasang di bawah moncong tiap senjata mereka begitu membantu menyoroti tiap lekuk koridor yang terselimuti oleh gelap yang redup.
Sebentar mencari menggunakan cahaya lampu Flashlight senjatanya, Ino temukan suatu masalah. Orang-orang berjas hitam yang terkapar di sudut-sudut lantai koridor, Mulai terbangun dan mencoba untuk bangkit berdiri. Kedua manik sebiru Aquamarine milik Ino menyipit melihat mereka berdiri satu persatu mengisi lorong koridor.
"Mereka telah terbangunkan oleh suara yang kubuat... Ayo bergegas temukan Tuan Presiden dan segera pergi dari sini."
Ucap Ino pelan kepada ketiga personil dari timnya, Dan langsung melangkah menuruni setiap anak tangga menuju kebawah.
Moncong laras senjata itu membidik kesana-kemari. Menyapu tiap lekuk koridor lantai 2 yang mereka singgahi saat ini menggunakan senter kecil di senjata mereka. Tiap langkah kaki Ino begitu pelan was-was. Selalu berhati-hati dalam mengambil setiap langkah. Berkelompok, Mereka berjalan lurus kedepan secara perlahan. Hingga sampai di pertigaan koridor yang gelap, Sesuatu muncul menerjang begitu saja.
"Grwaahh..!"
Dua tangan lusuh mencengkram bahu Ino sampai mendorongnya jatuh kelantai dingin.
"Ino?!"
Seru salah seorang personel yang berada paling dekat dengan dirinya. Senjata Ino terlempar jauh akibat hempas dorongan Zombie tadi. Namun beruntung refleks tanggapnya berhasil menahan leher dan rahang bawah mayat hidup tersebut.
"Kita dalam masalah!"
Sahut personel-C melihat kearah belakang menggunakan Flashlight di moncong senjatanya. Para pria berpakaian jas hitam yang telah terinfeksi muncul dari bilik tangga yang telah mereka berempat lewati tadi. Melihat tiga manusia bagai tiga mangsa, Para mayat hidup itu berlari ganas mendekati mereka. Sedangkan di posisi Ino, Hanya bisa menahan leher dan rahang bawah Zombie yang menyerangnya.
"Lepaskan dia brengsek..!"
Salah seorang personel yang berada di dekat Ino segera menarik baju Zombie yang mencoba menggigitnya. Ia tarik kuat Zombie itu untuk melepaskan cengkramannya pada Ino, Dan menghempaskan tubuh Zombie tersebut jauh.
Baku tembak terjadi. Rentetan suara peluru yang meledak dari dalam laras senjata kedua personel timnya menembaki para Zombie yang berlari mendekat di lorong sana. Beberapa dari mereka jatuh terhempas, Tapi sisanya tetap maju bak orang kesetanan. Dalam gedung yang gelap minim cahaya ini, Membuat mereka berdua begitu kesulitan untuk membidik tepat di kepala.
"Tidak ada waktu lagi. Kita harus segera cari lokasinya dan pergi dari tempat ini."
Ucap seorang personel yang mengulurkan tangannya untuk membantu Ino berdiri sambil melihat kearah belokan koridor sebelah kanan. Datang lagi beberapa Zombie yang mendekat karena tertarik dengan bising suara yang telah mereka buat.
Ino menerima uluran tangan itu dan lekas berdiri. Personel di dekatnya dengan cepat menodongkan FN P90 miliknya kepada mayat hidup yang ia hempaskan kelantai tadi. Dia mulai bangkit berdiri. Tapi personel tersebut terlebih dahulu menarik pelatuk Sub-Machine Gun miliknya sebelum mayat hidup itu sempat kembali menyerang.
Suasana gelap yang tadinya redup mencekam, Kini berubah kacau dan penuh dengan percikan cahaya oranye dari moncong senjata-senjata timnya. Kerlap-kerlip cahaya oranye terpantul di dinding penuh bercak darah bagaikan cahaya dari kembang api. Suara rentetan tembakan berdengung menyebar keseluruh sudut-sudut koridor.
"Ayo kembali bergerak..!"
Ucap Ino kepada seluruh anggota timnya. Situasi yang terlihat jelas bahwa mereka tengah terkepung saat ini membuatnya mengambil satu tindakan cepat. Untuk menghindari pembuangan amunisi yang terbuang percuma dan meminimalisir adanya korban dalam misi ini. Karena sdah cukup baginya untuk kehilangan rekan-rekannya lagi.
Ino berlari lurus lalu cepat memungut kembali senapan laras panjangnya yang sempat terjatuh akibat serangan tadi. Para personel yang lain pun berhenti menembak dan berbalik segera menyusul kemana Ino pergi.
'Teruslah turun. Di lantai kedua, Akan ada belokan yang mengarah kesemua ruangan para Staff. Ikuti jalan tersebut dan kalian akan temukan plang penunjuk di mana toilet berada.'
Ino mengingat kembali apa yang telah Hashirama katakan pada mereka melalui Earphone saat misi ini telah dimulai tadi. Misi prioritas tertinggi yang diemban tim Alpha, Timnya saat ini, Yang berfokus pada misi penyelamatan Senat dan Presiden yang berlindung dari ancaman penyebaran pandemik di Kota Konoha ini. Tepat di gedung besar ini, Di sinilah Presiden Jepang disembunyikan untuk menghindari kontak dengan serangan para mayat hidup. Karena situasi yang benar-benar kacau dan rentang waktu yang begitu sempit untuk mengirim pasukan penyelamat, Gedung Kementrian ini dipilih secara instan tanpa pikir panjang.
Terus berlari kedepan menghindari kejaran para Zombie di belakang, Tim Ino berhasil sampai pada titik letak pintu-pintu ruangan para Staff Administrator Konoha. Seperti apa yang telah Hashirama katakan sebelumnya. Hanya tinggal lurus kedepan dan temukan di mana toilet berada.
"Di sana...!"
Seru Ino ketika melihat tanda lokasi toilet yang tergantung di atas. Mereka hanya perlu berlari beberapa meter lagi lalu berbelok kekiri untuk masuk ke ruang toilet lantai 2 ini.
"Sampai di sini, Aku akan alihkan perhatian mereka. Kalian masuklah kesana dan pastikan bahwa Senator selamat bersama Tuan Presiden."
Ucap salah seorang personil yang berlari telat di samping Ino. Mendengar apa yang ia katakan, Membuat Ino menoleh kepadanya.
"Apa-... Tidak, Tunggu dulu! Jangan mengambil langkah gegabah seperti itu!"
Bantah gadis berambut pirang tersebut.
"Ini pasti sebuah alasan yang telah kau pahami dalam situasi ini. Jika kita semua masuk kedalam dengan para mayat hidup yang mengejar di belakang, Bagaimana cara kita untuk keluar menurutmu?."
Sambil tetap berlari, Sesaat Ino terpaku mendengar penjelasan tersebut. Benar... Apa yang dikatakannya adalah benar. Dalam situasi seperti ini, Tidak mungkin mereka membiarkan satu-satunya pintu akses masuk toilet dipenihi oleh makhluk-makhluk ganas yang mengejar di belakang. Satu-satunya cara untuk menghindari hal tersebut adalah memancing dan mengalihkan perhatian para Zombie tersebut menggunakan suara dan cahaya. Dan tentunya selalu ada konsekuensi dalam hal. Harus ada yang seorang dikorbankan untuk membuat rencana itu berhasil.
"Keselamatan Tuan Presiden adalah prioritas utama dalam misi ini."
Lanjut personel itu tanpa ada keraguan. Sambil berlari, Ia mulai menarik topeng maskernya keatas, Dan melepasnya penuh. Rambut keperakan tegak kesamping terombang-ambing. Wajah dengan kelopak mata datar itu melirik Ino.
Tidak ada keresahan yang terpancar dari bilik matanya. Tidak ada keraguan berarti di balik wajah Kakashi. Yang bisa dilakukan Ino hanyalah percaya. Tidak ada rencana yang lebih baik selain rencana itu. Karena kali ini, Kakashi lah yang terbenar.
'Kau selalu menyebalkan seperti biasa... Serangga rawa.'
Ino dan kedua orang lainnya mematikan sorot lampu senter yang ada di bawah unjung laras senjata masing-masing mereka.
Sampai di tikungan toilet, Mereka bertiga langsung berbelok cepat lalu bersembunyi di balik kegelapan. Kini hanya tersisa Kakashi Hatake yang masih memegang FN P90 dalam kondisi Flashlight menyala. Ia berbalik, Lalu memberondong para Zombie yang mengejar dengan brutal. Tentu dirinya tidak perlu membidik, Karena yang harus dilakukannya hanyalah mengalihkan perhatian mereka.
Ketika Zombie-Zombie itu semakin mendekat, Dirinya berbalik dan langsung berlari meninggalkan Ino yang bersembunyi di kegelapan menghindari kontak dengan mereka. Belasan mayat hidup berbondong-bongdong berlari mengejar kemana arah Kakashi berlari. Melewati Ino dan kedua personel yang tersisa di balik tembok tikungan toilet. Nafas mereka begitu menderu setelah para Zombie itu melawati tempatnya bersembunyi. Ino bahkan harus berjongkok untuk mengambil nafas dalam-dalam. Berlarian dengan membawa senjata memang sangat merepotkan.
"Kusoo..."
Dengungnya pelan melampiaskan rasa kesal. Ia berharap bahwa satu rekannya tersebut masih bisa kembali ke markas bersama-sama nanti. Setelah nafas panjang terakhir, Ino menegakkan tubuhnya kembali. Mereka bertiga kembali menyalakan Flashlight di senjata mereka masing-masing.
Kedua personel dalam timnya maju terlebih dahulu di depan pintu masuk toilet pria. Menggunakan jari, Ino mulai menghitung mundur. Setelah jari yang ketiga terlipat, Kedua anggota timnya membuka pintu itu dan segera masuk kedalam. Sorot-sorot dari lampu senter mereka bertiga seolah memenuhi ruangan tersebut. Ino mengarahkan Dragunov miliknya kearah dua orang yang tengah diam di sana. Terutama kearah seorang pria berjas hitam yang sedang berdiri menghadap ke kaca westafel.
"Akhirnya kalian datang juga... A.N.B.U"
.
.
.
.
.
Ujung dari rambut-rambut kuning itu tergoyang, Ketika satu langkah Naruto mulai menapak keras kelantai. Baik Naruto, Mau pun para Zombie-Zombie itu, Mereka saling menerjang satu sama lain. Sasuke sedikit melirik Kiba datar. Satu anggukan pasti dari Kiba jadi jawaban yang cukup untuk sang Uchiha muda.
Darr-Darr-Darr-Darr...!
Pelatuknya mulai ditarik. Empat telah jatuh tanpa ampun. Tapi masih banyak yang masuk keruangan luas ini melalui lubang bekas pintu darurat tersebut.
Sasuke melempar Sniper kosong miliknya kebelakang tanpa aba-aba setelah gerak sepatunya menarik langkah panjang. Sakura menangkapnya terkejut. Kiba bermanuver kekiri menghindari lintasan yang akan dilalui para mayat hidup di sana.
Ruangan gelap nan sunyi itu mulai berubah suasana. Letup-letup bunyi senjata genggam Naruto, Beserta gemerincing selongsong peluru-peluru kosong yang jatuh keatas lantai jadi panggung tersendiri atas kehadirannya kembali. Bingar-bingar kuning oranye percikan bunga api di ujung moncong laras senjatanya mewarnai gelap yang redup.
Tidak terhitung bagi Anko dan Hinata melihat selongsong-selongsong peluru kosong yang terpantul keluar dari Frame samping Glock-17 milik Naruto. Telah berapa Zombie yang roboh dengan darah bermuncratan dari kepala mereka. Menggunakan mata kanannya, Naruto terus menembaki mereka tanpa ampun. Hingga saat senjatanya berhenti melesatkan satu peluru pun. Naruto telah kehabisan peluru di slot Magazen dalam Glock-17 miliknya.
'Maju terus..'
Dengungnya dalam hati.
Tiga, Bahkan enam mayat hidup yang baru melewati pintu tanpa penutup di sana berlari tepat kearahnya. Tanpa peluru, Tanpa ragu, Ia juga berlari menerjang kearah mereka. Mata kirinya tetap tertutup rapat. Menyisakan mata kanannya saja yang terfokus secara paksa. Memamfaatkan kecepatan laju larinya, Naruto melakukan Slide kelantai. Sambil meluncur cepat di permukaan lantai yang dingin, Tangan kirinya mengambil satu slot Magazen baru dari Holster, Sabuk senjata di lingkar bahunya.
Jebrak-Drakk-Brakk..!
Enam mayat hidup yang berlari kearahnya langsung terjungkal kedepan. Tersungkur kelantai secara tidak karuan, Setelah kaki kanan Naruto mensleding keras kaki mereka semua.
Sejenak mata kiri itu terbuka, Melirik kearah Kiba dan Sasuke yang telah berada di ujung rak buku besar yang ia maksud. Terlihat mereka berdua telah bersiap menggesernya. Membuat mata kiri Naruto kembali terpejamkan. Berganti mata kanannya yang terbuka. Memaksanya untuk fokus kembali.
Setelah kecepatan luncurnya di permukaan telah habis, Naruto lekas berdiri tegak kembali. Dirinya berbalik, Sambil menekan tombol kecil di bilik senjata genggamnya. Sehingga slot Magazen kosong itu meluncur bebas kebawah, Terlepas dari Glock-17 miliknya. Menghadap kepada enam Zombie yang telah bangkit lagi dari jatuhnya, Naruto memasukkan slot Magazen baru dengan tujuh belas butir peluru yang aktif dengan cepat kesenjatanya.
Darr-.. Darr-... Darr-Darr...
Dirinya kembali menembak. Lagi-lagi empat peluru melesak tepat ke kepala mereka. Namun dua di antaranya belum terjamah oleh peluru panas Naruto. Mereka berlari kearah di mana Sakura, Anko dan Hinata berada. Yaitu di tepi jendela besar yang rusak tanpa kaca. Mata Anko menyipit serius melihat dua Zombie tengah berlari kearah tempat mereka berdiri sekarang.
Naruto membidikkan senjatanya kearah dua Zombie itu. Tapi dari belakang, Zombie-Zombie lain mulai menerjangnya. Mencengkram tubuh dan bahunya.
'Kusoo..!'
Decihnya kasar dalam hati, Menyadari bahwa dirinya harus selamatkan diri sendiri terlebih dahulu sebelum bisa menolong Sakura dan yang lainnya. Sedangkan jarak Kiba dan Sasuke begitu jauh dari para gadis-gadis itu. Selain lagi, Sasuke dan Kiba tengah berusaha mendorong rak buku besar di sana.
"Kusoo...! Berat sekalii...!"
Kata Kiba dengan otot-otot syaraf yang menegang di sekitar pelipisnya, Karena mengerahkan seluruh tenaganya hanya untuk mendorong rak buku tersebut kearah pintu yang telah jebol. Sasuke pun membantunya dengan sekuat tenaga yang ia miliki. Rak buku itu hanya bergeser sedikit demi sedikit. Membuat Kiba begitu frustasi melihatnya.
Di sisi Anko, Kuda-kuda bak pemegang Katana telah siap. Walau saat ini ia sedang tidak membawa sebilah pedang pun untuk melawan. Salah satu Zombie yang datang itu semakin mendekat, Dan akan menerjang kearah Hinata yang berada di tengah. Melihatnya, Hinata sedikit gentar dan melangkah mundur selangkah. Saat Anko akan memulai gerak bela dirinya, Sesuatu membuatnya sedikit terkejut.
Bruaakkkhh..!
Kepala Zombie itu remuk berdarah, Dan langsung terpelanting kesamping akibat benturan keras kepalanya dengan gagang sebuah senjata laras panjang.
"Jangan coba menyentuh temanku, Dasar sampah..!"
Seru Sakura keras, Orang yang telah memukulkan keras gagang senjata Sasuke yang dititipkan kepadanya kearah kepala Zombie itu. Akibat sedikit reflek terkejutnya tadi, Membuat Anko-sensei mati langkah. Yang ia ketahui, Satu Zombie yang tersisa telah tepat berada di depannya sekarang.
Zombie itu menyerangnya secara brutal. Hingga membuat Anko ikut terdorong kesisi dinding jendela dengan keras. Sakura ingin bergerak kesamping. Mencoba untuk menolong Anko-sensei. Akan tetapi jumlah Zombie yang telah masuk kemari benar-benar di luar dugaannya. Satu mayat hidup menghampiri tempat di mana ia dan Hinata berdiri. Mustahil baginya untuk meninggalkan Hinata dan berlari menolong Anko saat ini.
Di sisi Naruto, Tiga mayat hidup telah mendapatkannya. Namun pemuda berambut kuning rancung itu lantas tidak berdiam diri begitu saja. Dengan cepat dirinya menundukkan badan kebawah. Menghindar dari gigitan berbahaya mereka. Lengan kanan Naruto yang menggenggam senjata teracung keatas. Membidikkan moncong laras senjatanya tepat kedagu satu mayat hidup di atasnya. Tanpa ragu Naruto menarik pelatuknya.
Daarrr...
Sebuah peluru melesat keluar, Menembus dagu mayat hidup itu. Terus melesak hingga menembus ke otaknya. Satu Zombie yang mencengkramnya telah dikalahkan.
Yang lain lagi-lagi mencoba menggigit Naruto. Bukan hanya itu saja. Keadaan Anko-sensei juga sangatlah mendesak. Mengetahui akan hal ini membuat Naruto terpaksa menggunakan itu sekali lagi.
Matrix Mode...
Kedua manik birunya terbuka bersama. Debaran jantung Naruto meningkat drastis. Bak getaran mesin roket yang tengah lepas landas ke ujung langit. Bukan hanya satu mata yang sangat ia paksakan untuk terfokus. Tapi kini kedua-duanya telah terbuka bersama. Waktu di sekitarnya serasa dilambatkan secara paksa. Pandangannya jadi kacau, Namun sangat jelas untuk di satu titik.
Naruto melirik kanan. Di mana insting tajamnya merasakan sesuatu yang sangat dekat. Di pengelihatan manik birunya, Begitu lambat seseorang coba untuk menggigit bahunya, Namun sangatlah berbahaya jika ia tidak melakukan sesuatu sekarang juga.
Masih dalam posisi setengah berjongkok, Naruto lemparkan Glock-17 miliknya ke udara bebas. Dalam dimensi yang seakan melambat ini, Kecepatan gerak kedua tangan Naruto tidaklah jauh berbeda dengan kecepatan Zombie yang akan menggigitnya itu. Tapi melalui pemaksaan fokus berlebih di mata kanannya, Ia dapat perhitungkan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan antisipasi, Dan mereaksikan kedua tangannya sedikit lebih cepat dari pergerakan bahaya yang mendekat.
Gigi-gigi itu hampir mendapatkan bahu kanan pemuda tersebut. Tetapi kedua telapak tangannya berhasil mendahului. Telapak tangan kanan Naruto yang penuh dengan perban menghempaskan rahang itu. Sedangkan telapak tangan kirinya mendorong tubuh Zombie yang coba menyerangnya keatas. Membuat Zombie tersebut terbanting ke udara.
Di saat bersamaan, Satu manik biru mata kirinya kembali menuju kearah Anko yang tidak bisa menahan lagi seorang pria yang menyerangnya secara ganas di dekat jendela. Hanya mata kirinya yang bisa melihat ketempat di mana gurunya diserang berada. Karena pandangan mata kanannya terhalangi oleh tubuh Zombie di udara yang sedang dalam perjalanan jatuh terbanting ke lantai.
Tangan kanan penuh perban itu meraih kembali Glock-17 yang berputar-putar pelan di tengah udara, Tertarik kembali oleh gaya gravitasi. Sebentar jari telunjuk Naruto memutar senjata genggamnya untuk memposisikan ujung laras itu mengarah kearah Anko berada. Tubuh Zombie yang perlahan kini hampir menyentuh lantai benar-benar membutakan bidikan Naruto. Pemuda itu sama sekali tidak dapat membidiknya dengan gamblang.
Tapi pemilik Glock-17 itu tidak berhenti beraksi sampai di sini oleh keterbatasan arah pandangannya. Otaknya memutar kembali ingatan sudut dan jarak tempat di mana Anko-sensei berada tadi. Ia mengingatnya keras, Lalu mulai memperhitungkan sudut momentum yang dibutuhkannya untuk menembakkan sebuah peluru.
Jarak telah diketahui...
Sudut telah dikonfirmasi...
Hempasan momentum lengannya telah diperhitungkan...
Naruto mengarahkan senjatanya kearah kanan tanpa membidik, Dan arah laras itu begitu jauh dari tempat di mana Anko berada. Namun Naruto tetap menekan pelatuknya.
Perlahan pelatuk itu mulai tertarik kebelakang. Tetapi dibarengi dengan hempasan tangan Naruto yang menuju kearah tempat di mana Anko-sensei berada. Ia ingin melakukan sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. Yaitu... Membengkokkan arah laju pelurunya.
Matrix Mode Ended...
Daarrr...
Anko berusaha menjauhkan rahang Zombie itu dengan gigih. Walau sebenarnya telah menguras hampir separuh tenaganya. Di sisi lain, Di detik yang sama, Sebuah suara meletupnya bubuk mesiu beserta hentakkan lengan Naruto yang menghempas kekiri membuat kedua manik Anko melirik kearah sana seketika. Sebuah peluru berputar pada porosnya keluar dari sebuah laras senjata genggam. Disertai dengan percikan bunga api yang mengiringi lesatannya, Satu peluru itu melawan hukum kelajuan secara fisikatis.
Sebagai seorang ahli yang ratusan kali menghindari tusukan ujung pedang kayu dengan melihat menggunakan mata telanjang, Kali ini Anko melihat sesuatu yang begitu sangat mencengangkan. Sebuah peluru terbidik kearah jendela di mana Michika menjatuhkan diri saat mulai melesat keluar dari moncong larasnya. Namun lintasan laju peluru itu berbelok. Seakan-akan lesat lintasannya telah dibengkokkan menuju kearah kepalanya.
Akan tetapi peluru itu terus terputar pada porosnya, Dan lintasan lajunya terus berbelok arah hingga menghujam tepat ke kepala Zombie yang tengah mencengkram dirinya. Darah terpercik deras, Disertai tubuh Zombie itu yang terhempas keluar jendela akibat sebuah peluru yang menghujam otaknya.
Anko termenung, Terpaku dan Terdiam. Melihat ujung laras senjata milik siapa yang telah melepaskan peluru tersebut. Kelopak matanya seakan semakin terbuka lebar ketika tubuh seorang mayat hidup jatuh terbanting kelantai dengan kepala terlebih dahulu. Menampakkan sosok Naruto yang setengah berjongkok dengan lututnya, Tengah menggenggam senjata itu. Naruto lah yang telah menembakkan peluru tersebut. Naruto lah yang telah melakukannya. Membelokkan arah dari laju lintasan sebuah peluru, Menembus hukum kelajuan peluru dalam fisika.
"Sedikit lagii...-"
Suara serak tertekan Kiba yang penuh paksa keluar saat rak buku besar nan berat di sana hampir menutupi seluruh lubang sebuah pintu yang telah rusak. Bersama Sasuke yang membantunya, Berdua mereka coba mendorong rak buku tinggi itu sekuat tenaga menutupi kesenjangan pintu yang ada. Tangan-tangan dari para mayat hidup meraih-raih dan mengais-ngais kasar di sela-sela rak buku itu. Tapi Kiba dan Sasuke tidak memedulikannya dan terus mencoba menggeser rak buku tersebut hingga kesenjangan pada pintu kini tertutupi seluruhnya. Mereka para mayat hidup tidak bisa lagi masuk kedalam sesuka hati. Karena terhalangi oleh rak buku besar yang telah di geser oleh Kiba dan Sasuke.
Braaakkkh..!
Begitu kuat ayunan lengan Sakura menggunakan gagang senapan laras panjang milik Sasuke untuk menghancurkan otak dua Zombie yang berlari mendekat. Terpelanting dengan hebat, Kedua Zombie terakhir itu mecium lantai putih kusam begitu keras hingga darah yang keluar dari kepala mereka menodai lantai penuh serpihan kerikil, kayu dan kaca.
Hembusan-hembusan nafas sesak terdengar dari ketiga pemuda yang ada di tempat ini. Tidak Kiba, Tidak Sasuke, Dan tidak juga Naruto. Mereka bertiga telah bekerja sama dalam satu sketsa rencana. Ikatan yang mereka miliki selama ini, Belumlah terputus walau waktu telah memisahkan mereka cukup lama. Itulah yang Hinata dan Sakura lihat dan rasakan, Dari tiap hembusan nafas berat dan butir keringat yang sama-sama membasahi pelipis mereka masing-masing.
Sangat berbeda dengan Anko yang masih terpaku tepat di bawah jendela besar gedung tua ini. Seakan ada sesuatu yang meracuni pengelihatan dan pemikirannya.
'Yang tadi... Apa itu... Apa yang kulihat tadi...?'
"..."
"Haha... Kita berhasil..."
Ucap Kiba di tengah kebisuan yang mengelilingi mereka berenam. Kelopak matanya sayup, Tempurung tangan kanannya mengusap keringat yang mengganggu. Apa yang mereka lakukan tadi benar-benar penuh tantangan dan bahaya, Di balik waktu yang mengejar. Mereka berhasil menghalau para Zombie-Zombie ganas untuk masuk dengan memamfaatkan rak buku tua yang tinggi nan besar.
Dalam tertunduk, Naruto perlahan mulai bangkit berdiri. Sasuke berjalan menghampiri Sakura. Dan Kiba yang mulai melangkah mendekati Naruto.
"Kau mengotorinya lagi."
Ucap Sasuke menerima kembali sebuah Sniper dahsyat dari kekasihnya. Senapan laras panjang yang ternodai beberapa bercak darah di ujung gagangnya.
"Kau lebih mengkhawatirkan senjatamu?!"
Tanya Sakura tercengang dan setengah kesal setelah mendengar ucapan Sasuke tadi. Sudut bibir Sasuke tertarik.
"Aku hanya bercanda. Entah kenapa sesuatu dalam hatiku merasa lega dan senang di waktu yang sama... Dan mungkin apa yang kurasakan ini... Karena serpihan yang paling berharga bagi kita, Kini telah kembali..."
Jawab Sasuke pelan. Sudut maniknya melirik kearah berdirinya seorang pemuda berambut kuning rancung. Sirat mata Sasuke meredup meliriknya, Disertai senyum tipis yang tercipta di sana.
Anko mencoba mengabaikan apa yang bergemuruh dalam pikirannya, Dan mencoba untuk berdiri sendiri berpegangan pada sisi jendela. Kiba menepuk pelan pundak Naruto yang kini tengah diam berdiri.
"Pasti banyak hal yang telah terjadi. Dan masih banyak hal yang harus kau ceritakan kepada kami. Walau bagaimanapun... Aku masih belum tahu apa yang harus aku katakan kepadamu saat ini. Tapi... Kami senang, Kau telah kembali... Naruto."
Ucap Kiba kepadanya. Kepada pemuda berkemeja biru tua itu. Ia mendongak. Membiarkan redup sinar rembulan sedikit menyinari sebagian wajahnya. Melihat kembali para rekan-rekannya yang sangat ingin ia lihat lagi setelah sekian lama ini.
"A-Aku juga... Tidak tahu apa yang harus aku katakan di depanmu. Tapi... Selamat kembali lagi, Naruto-kun.."
Sahut Hinata tetap dengan suara halusnya. Membuat Naruto mulai tersenyum sedikit.
"Tidak ada kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaan ini, Karena aku pun juga seorang yang tidak pandai berkata-kata. Ahaha-..."
Jawab pemuda itu dengan tawa lima jarinya. Benar-benar seperti Naruto yang mereka kenal. Tetap Naruto yang seperti sebelumnya.
"Sebelum kita bertukar penjelasan untuk masing-masing, Sepertinya kita harus keluar dari gedung ini sebelum rak buku di sana ambruk tak berdaya."
Lanjut Naruto lagi sambil menunjuk arah belakangnya menggunakan ibu jari. Mereka berlima. Sakura, Sasuke, Hinata Anko dan Kiba melihat kearah yang Naruto tunjuk. Dan apa yang Naruto katakan sedikit ada benarnya.
'Seberat apapun itu... Pasti akan roboh juga, Oleh keganasan mereka.'
Pikir Sakura dalam hati sambil tetap melihat tangan-tangan Zombie yang masuk melalui celah-celah rak buku di sana. Tidak berhenti di sana, Mereka pun juga mendobrak-dobrak kasar rak buku itu. Hanya menunggu waktu saja sampai pada akhirnya rak buku yang sangat berat itu roboh juga.
"Tapi, Bagaimana kita akan keluar dari gedung ini?. Terlebih... Saat ini kita berada di lantai yang teratas."
Tanya Sakura kepada semua orang yang ada di sana. Tapi tanpa menunggu lama, Sasuke langsung memberikan jawaban yang akurat.
"Setiap gedung bertingkat memiliki Tangga utama dan tangga darurat. Jika ada tangga darurat, Pastilah ada tangga utama atau tangga samping. Begitu juga sebaliknya."
"A-... Benar juga..."
Sahut Kiba baru menyadari akan hal itu. Di saat seperti ini, Sasuke memang dapat diandalkan walau Sona tidak ada di antara mereka saat ini.
"Kurasa kita tidak lagi bisa memakai tangga utama. Besar kemungkinan mereka masih di sana, Dan masih di sekitar gedung ini.."
Sahut Anko kemudian.
"Lalu... Lalu bagaimana kita bisa keluar dari pulau ini jika turun dari gedung ini pun sangat mustahil?."
Tanya Sakura kepada Anko. Mendengar pertanyaan Sakura, Sasuke menempatkan jari telunjuk dan ibu jarinya kebawah dagu. Membentuk suatu pose yang sedang berpikir
"Kita bisa turun kebawah tanpa melakukan kontak dengan mereka. Hanya jika... Kita tidak berada di gedung yang penuh dengan mayat hidup ini."
Gumamnya yang bisa didengar oleh seluruh teman-temannya. Termasuk Naruto.
Dobrakan demi dobrakan makin keras terdengar. Rak buku besar itu mulai bergoyang terombang-ambing akibat dorongan. Namun mereka masih diam berpikir. Naruto melirik keseluruh sudut ruang luas lantai 5 ini dalam heningnya. Dan hingga pada akhirnya Naruto lah yang mulai membuka suara.
"Dengarkan aku... Kita akan keatap."
Ucap Naruto saat itu. Membuat semua pasang mata memandangnya sigap. Memandang pemuda berambut kuning itu dengan pandangan bertanya-tanya. Karena di saat yang lain memikirkan cara untuk turun kebawah, Entah kenapa hanya dirinya yang bertolakbelakang. Hanya Naruto yang punya pemikiran terbalik dari mereka semua, Yaitu terus naik keatas.
"Apa yang ka-..."
Suara Sasuke tercekat seketika dengan kelopak mata melebar. Ia baru menyadari sesuatu. Lebih tepatnya, Baru menyadari bahwa ia mengingat sesuatu yang terpenting. Bahwa... Sahabat yang saat ini berdiri di hadapannya sekarang, Sebenarnya seseorang yang tidak bisa ditebak dengan pemikiran rasional dan normal. Sasuke baru menyadari... Bahwa hanya seseorang yang jenius lah... Yang mampu bersanding dengan Naruto.
'Hanya dirinya yang menolak cara berpikiran kami. Hanya dia yang bertolakbelakang dengan apa yang kami pikirkan. Dan hanya dia yang berpikir untuk terus keatas, Saat kami punya keinginan di balik pemikiran, Untuk segera turun kelantai dasar untuk bisa kembali ke kapal...'
Dibalik wajahnya, Sasuke terdiam. Sibuk dalam dunianya sendiri saat yang lain sedang tercengang dengan apa yang Naruto katakan. Sesaat, Sasuke memutar kembali apa yang tadi ia katakan.
'Kita bisa turun kebawah tanpa melakukan kontak dengan mereka. Hanya jika... Kita tidak berada di gedung yang penuh dengan mayat hidup ini... Saat aku mengatakan hal itu... Hanya Naruto yang berpikir bahwa itu bukanlah hal yang mustahil.'
Sepertinya Sakura memikirkan apa yang saat ini Sasuke pikirkan, Mengenai apa yang ada di pikiran Naruto. Seakan-akan ketiga pemikiran mereka saling menyatu satu sama lain.
'Karena saat dia muncul dan bisa masuk ke gedung ini...'
Sakura menoleh kearah jendela rusak yang tadi Naruto pecahkan ketika masuk keruang lantai 5 ini. Melihat satu gedung lain yang sejajar dengan gedung ini.
'Dia meloncat dari atap gedung satu... Untuk sampai ke gedung yang lain. Jika kita melakukan hal yang sama, Dengan kata lain kita bisa berpindah ke gedung yang tidak dipenuhi oleh mereka. Itulah yang ingin Naruto sampaikan melalui ide anehnya.'
Sasuke mendongak kembali dan menatap Naruto. Seperti Sakura yang menoleh kembali menghadap pemuda itu.
"Jadi begitu. Aku mengerti sekarang. Ayo kita ke atap!"
Ucap Sakura dengan semangat yang sempat meredup. Anko, Hinata dan Kiba melihat secara bergantian ketiga orang di dekat mereka itu. Entah kenapa, Terkadang mereka sendiri tidak bisa mengerti sama sekali mengenai ketiga orang ini. Mereka melihat, Seolah ada satu ikatan kuat yang saling terhubung dan menyatu di antara mereka.
Anko tersenyum. Yang dapat ia lakukan saat ini adalah percaya kepada mereka.
Gebrakan di sana kian lama tidak surut juga. Terus dan terus mendobrak rak buku itu dengan paksa. Membuatnya bergetar dan bergoyang. Hingga pada akhirnya rak buku yang berat itu pun terhuyung dan roboh terjatuh.
"Yosh, Ikuzo."
Ucap Naruto sambil berbalik. Kiba menggenggam kuat telapak tangan Hinata. Sasuke dan Sakura mulai bergerak. Mereka berenam lekas berlari kearah pintu khusus yang menuju ke atap gadung ini, Bersama belasan Zombie yang mengejar mereka dari belakang.
Naruto berlari di urutan terdepan. Membuka pintu tua itu, lalu langsung menaiki satu per satu anak tangga dengan cepat. Yang lain tetap mengikuti kemana arah kaki pemuda itu melangkah. Disertai belasan mayat hidup kelaparan yang mengejar mereka semua dari belakang.
Blaaamm...!
Naruto menendang keras pintu terakhir yang ada di tingkat teratas gedung ini. Angin menghembuskan seluruh rambutnya lembut. Ia menunggu teman-temannya di luar pintu itu. Sasuke dan Sakura berlari melewati pintu itu dan melewati dirinya. Sasuke dan Sakura berlari terus ke sisi terjal gedung ini. Begitu tinggi, Itulah yang ada dipikiran mereka berdua ketika melihat langsung pemandangan yang menuju kebawah. Sedangkan gedung lain di depan mereka, Jika dilihat dari sini, Terasa seperti seakan makin menjauh dan terus menjauh sendiri. Membuat Sakura dan Sasuke diam terpaku dengan perasaan gentar dari lubuk hati mereka.
Naruto tetap menunggu di samping luar pintu tersebut. Suara derap langkah sepatu mendekat, Memperlihatkan sosok Anko yang berlari menaiki tangga menuju kemari.
"Jangan takut..."
Ucap Naruto pelan sambil tersenyum, Ketika Anko baru saja melewatinya. Dalam perjalanannya kearah Sasuke dan Sakura berada, Anko baru mengerti apa yang dimaksud oleh Naruto. Sehingga membuat kedua sudut bibirnya tertarik untuk tersenyum.
Kini pasangan yang Naruto tunggu-tunggu akhirnya muncul juga. Kiba berlari menaiki tangga menuju kearahnya, Dengan menggandeng Hinata di belakangnya. Nafas begitu menderu di sisi Hinata. Setelah sekian lama selama ini, Dirinya terbiasa duduk manis di atas kursi roda kesayangannya. Berlari cepat menaiki tangga seperti ini begitu sangat menguras tenaganya. Mungkin ia tidak akan sanggup untuk berlari lagi setelah ini.
Naruto yang ada di depan pintu, Tersenyum kearah datangnya Kiba dan Hinata. Tapi lebih tepatnya, Naruto tersenyum untuk Hinata yang kini juga melihat kearahnya. Pandangan mereka saling bertemu satu sama lain. Kiba terus menyeret Hinata untuk menaiki tangga lebih cepat, Karena kerumunan mayat hidup ganas sedang mengejar tepat di belakang mereka.
Hampir sampai. Kiba dan Hinata menginjak anak tangga terakhir. Kiba melewati Naruto yang tiba-tiba memutar tubuhnya dan sedikit merendahkan punggungnya. Kiba terus berlari menggenggam tangan Hinata sambil melirik pemuda berambut kuning itu. Akan tetapi di detik berikutnya, Ketika Hinata berlari melewati pintu, Gadis itu menabrak punggung Naruto. Membuat Kiba sedikit tercengang.
Hinata terkejut, Mendapati dirinya telah menabrak pemuda itu dari belakang. Saat Kiba melihatnya, Entah kenapa hal itu seperti dilakukan dengan sengaja oleh Naruto.
'Atau jangan-jangan...'
Kedua mata Kiba seolah semakin melebar ketika pikirannya menduga suatu hal yang akan dilakukan Naruto.
Hal yang tidak diduga oleh Hinata setelah ia bersentuhan langsung dengan punggung Naruto, Pemuda itu mulai memegang kedua kaki putihnya. Tubuhnya yang tertutupi oleh kemeja biru tua itu kini berdiri tegak dan mulai berlari. Naruto menggendongnya... Naruto menggendong Hinata.
Secara otomatis, Genggaman tangan Kiba yang menggenggam jemari halus Hinata terlepas. Memang Kiba sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Naruto. Tapi dirinya tersenyum, Karena ia tahu karena apa sampai Naruto melakukan hal itu.
"Na... Na-Na... Naruto-kun?!"
Rambut panjang Hinata yang tergerai terombang-ambing. Naruto melesat, Berlari begitu cepat menuju kearah Sakura, Sasuke dan Anko berada. Naruto tersenyum begitu lebar.
"Jangan gentar!"
Teriaknya keras dengan bersemangat.
Sakura, Sasuke, Dan Anko menoleh kebelakang. Kearah di mana Naruto tengah berlari bersama Kiba. Terlebih, Hinata berada di gendongannya.
Samakin dekat dengan sisi gedung tinggi ini, Serasa membuat Naruto semakin bersemangat. Senyumnya yang benar-benar mengejek siapa pun yang melihat seolah semakin melebar.
"Jangan gentar..! Kita semua, Akan lompati sisi Dunia, Dan akan temukan tempat harapaan...!"
Teriaknya dengan keras. Melewati Sakura, Sasuke, Dan Anko-sensei, Alas sepatu Naruto menekan pinggiran lantai atap gedung ini. Ia melompat tinggi. Membuat rambut kuning rancungnya berkibar kesana-kemari terkibas angin di tengah-tengah udara. Yang lain hanya terbengong menyaksikan apa yang Naruto lakukan. Kecuali Kiba yang tiba-tiba melewati mereka dengan cepat dan melompat menyusul Naruto.
Drep...
Ujung kaki itu menyentuh lantai atap gedung di depan. Naruto berhasil melompati spasi kedua gedung tinggi ini dengan sangat mulus. Kiba pun sampai di ujung sana. Tepat di samping Naruto berdiri saat ini.
"Karena kita adalah tim yang hebat."
Ucap Naruto lagi sambil sedikit menghadap kearah Sasuke, Sakura dan Anko-sensei di seberang sana. Naruto, Hinata dan Kiba tersenyum.
Mendengar kata-kata yang terlontar dari pemuda jabrik itu, Sesaat membuat mereka bertiga termangu sebentar.
'Ini terjadi lagi... Dia mampu memotivasi semangat kami kembali... Inilah dirinya... Yang selalu kami rindukan.'
Gumam Anko dalam hati dengan sedikit tersenyum.
Para mayat hidup berhasil menyusul mereka. Berbondong-bondong melewati pintu atap yang baru saja mereka lalui. Berlari belasan mayat hidup ganas dari para pengungsi yang terinfeksi menghampiri Anko, Sasuke dan Sakura.
"Yahh... Mau bagaimana lagi."
Kata Sakura ikut tersenyum melihat Naruto. Gadis berambut sebahu itu mulai melangkah mundur beberapa langkah.
"Dia selalu seperti biasanya."
Ucap Sasuke yang juga mundur beberapa langkah kebelakang mengikuti Sakura dan mengambil ancang-ancang.
Tiap detiknya, Semakin lam Zombie-Zombie tersebut semakin berlari mendekat. Membuat Anko tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti Sasuke dan Sakura.
"Ikuyo..!"
Sakura menatap Sasuke dan Anko-sensei.
"Ikuze.."
Ucap Sasuke sambil melakukan Sprint kedepan. Coba menerjang sisi pinggiran gedung terjal nan tinggi ini. Di saat tangan-tangan dari Zombie itu hampir menggapai mereka, Sakura, Sasuke dan Anko berlari secepat yang mereka bisa.
Tanpa perasaan ragu yang sama seperti saat tadi, Mereka bertiga melompat menembus udara malam. Meninggalkan para Zombie yang jatuh terperosok kebawah tepat di belakang mereka.
'Aku telah kembali kepada mereka... Para sahabat dan guru yang paling kurindukan.'
'Rentang waktu yang terbuang di antara kami... Kini terasa telah terbayar lunas.'
'Walau mungkin aku datang sedikit terlambat dari yang aku duga... Dan ini memang mungkin kesalahanku, Telah terlalu lama. Hingga saat ini... Aku tidak bisa bertemu dengan Chouji...'
'Aku telah berjanji... Aku telah bersumpah... Akan membawa mereka semua keluar dari Neraka ini. Aku akan balas semua kesalahanku. Dan aku akan segera menemukanmu... Sona! Tunggu aku...!'
.
.
.
"Hero's Come Back!"
The Place Of Hope
Chapter 4 : "Sang Pahlawan Telah Kembali!"
Genre : Adventure, Horror & Gore
Caution! Contains violance & profanity (17th +)
.
.
To Be Continue's...
