-Happy Reading-

Allow Me to Say : Nuisance

Naruto Masashi Kishimoto

Allow Me to Say Rin Mizuki

Genre : Romance

Rate T

Cast :

Uzumaki Naruto x Haruno Sakura

.

.

.

.

.

Flashback

Sakura kecil tengah duduk di pangkuan neneknya di teras sebuah apartemen. Sakura terus memandangi jalan yang terbentang di bawah sana. Suasana sibuk khas kota metropolitan.

"Sobo." Panggil Sakura yang masih asik memandangi jalanan.

"Iya, Sakura?"

"Hm, kenapa Tou-san menamaiku Sakura? Bukankah itu nama bunga?"

"Eh? Tahu dari mana?"

Sakura kemudian menunjuk sebuah buku yang terletak di atas meja yang tidak jauh dari tempatnya duduk.

"Dari situ. Kan Sobo yang membelikannya untukku."

"Jadi kau masih mengingatnya?"

"Tentu saja, itu kan hadiah ulang tahunku."

Suasana kembali tenang, Sakura kecil kembali memandangi jalanan. Sesaat pikirannya mulai terganggu, seperti ada sesuatu yang membuatnya penasaran.

"Sobo."

"Ya?"

"Apa Sobo pernah melihat bunga Sakura?" tanya Sakura penasaran.

"Hm, tentu saja. Apa kau ingin melihatnya?" Sakura mengangguk cepat.

"Aku ingin melihatnya! Aku ingin tahu kenapa Tou-san memilih bunga itu sebagai namaku." Ucap Sakura penuh semangat.

"Dimana kira-kira aku bisa menemukannya?" tanya Sakura penasaran.

"Kau bisa menemukannya saat musim semi tiba."

"Musim semi? Bukankah sekarang adalah musim semi? Tapi kenapa aku tidak menemukan satupun disini?" tanya Sakura.

"Kau bisa menemukannya di Jepang."

"Jepang?" nama itu terdengar cukup asing bagi Sakura.

"Iya, Jepang."

"Apa tidak ada tempat lain Sobo?"

"Ada, tapi tidak ada yang seindah di Jepang, kau juga bisa menikmati festival Hanami disana."

"Kedengarannya sangat menyenangkan."

"Tentu saja."

"Apa aku bisa pergi kesana? Pergi ke Jepang?"

"Kenapa tidak?"

"Hm, aku pikir Ka-san tidak akan pernah mengijinkanku untuk kesana." Ucap Sakura sedih.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi bersama?"

"Benarkah? Janji?" ucap Sakura senang sembari melingkarkan kelingkingnya di jari neneknya.

"Janji."

Flashback End

.

.

.

Kini Sakura tengah menikmati suasana malam di beranda apartemennya sembari menggenggam secagkir teh yang baru ia seduh. Apartemen itu tidak begitu besar tapi memiliki sebuah beranda yang memungkinkan ia untuk menikmati pemandangan yang ada di luar sana. Ia teringat saat-saat ia dan neneknya tinggal bersama karena Ibunya yang sibuk bekerja.

"Ini cukup aneh. Bagaimana bisa bintang yang selalu aku lihat bersama Sobo terlihat sama dari sini. Ah, padahal kami sudah berjanji akan kemari bersama-sama untuk melihat bunga Sakura."

Sebersit bayangan muncul dibenak Sakura yang mengundangnya untuk tersenyum. Ia pun menggigit ujung bibirnya pelan.

"Saat aku pertama pertama kali bertemu dengannya adalah saat aku berada di bawah pohon Sakura yang sedang bersemi. Apa jangan-jangan itu adalah takdir?" Sakura kemudian memegangi pipinya yang terasa memanas.

"Benar. Ini adalah takdir."

.

.

.

'Ini benar-benar menyebalkan!' gumam Sakura kesal.

Hari ini adalah hari pertama latihan untuk pertunjukan. Sakura sedari tadi duduk tenang di pojok ruangan sembari menghafal script yang ada di tangannya. Sesekali ia akan mencuri pandang ke arah Naruto yang saat ini tidak sendirian. Gadis itu. Begitu mengganggu pikiran Sakura.

'Apa mereka dekat? Ada hubungan apa diantara mereka? Apa jangan-jangan mereka?' Sakura akan mulai menggelengkan kepalanya cepat saat pikiran-pikiran seperti itu menghampirinya.

Sakura kembali mengamati kedua orang itu diam-diam. Ekspresi Sakura akan selalu berubah saat melihat tingkah Naruto terhadap gadis yang ada dihadapannya. Seperti saat Naruto sedang tersenyum, Sakura akan mencibirnya dalam diam.

'Cih, apa-apaan itu? Dia bahkan selalu memarahiku dan tidak pernah tersenyum selebar itu padaku.' Sakura mulai meremas script yang ada ditangannya.

'Lihat itu! Apa yang sudah ia katakan sampai-sampai wajah gadis itu berubah semerah itu.' Sakura mulai gerah.

Tidak tahan, Sakura langsung menyambar tasnya dan langsung berlalu begitu saja, padahal latihan sebentar lagi akan dimulai. Ia bahkan tidak memperdulikan saat anggota lain memanggilnya untuk kembali. Dia tidak peduli.

.

Sakura baru saja akan menyapa Ino saat ia melihat gadis pirang itu. Tapi sahabatnya itu tidak sendirian. Sesaat Sakura bahkan bisa melihat wajah gadis pirang itu bersemu merah saat seseorang tengah menghampirinya dan duduk disampingnya.

"Lihatlah, dia benar-benar sedang jatuh cinta! Bagaimana mungkin aku akan kesana dan mengacaukannya."

Sakura hendak berbalik saat ia tidak sengaja menabrak seseorang. Sakura langsung buru-buru meminta maaf.

"Apa yag kau lakukan?"

"Eh?"

"Jika kau memang tidak memiliki niat untuk bergabung. Lebih baik keluar saja."

"Maaf, Sasuke-senpai." Sesal Sakura.

Akhirnya Sakura pun pergi bersama dengan Sasuke kembali ke dalam ruang klub drama. Saat mereka memasuki ruangan itu, mata Sakura dan Naruto sempat bertemu tapi dengan cepat gadis musim semi itu langsung mengalihkan pandangannya. Dan latihanpun kembali dilanjutkan.

.

.

.

Hari demi hari telah berlalu. Anggota klub semakin sering mengadakan latihan untuk pertunjukkan yang akan diselenggarakan tanggal 3 bulan depan. Sakura memiliki banyak kesulitan karena harus beradu peran dengan Sasuke yang terkenal dingin. Kata-kata kasar juga sering keluar dari mulut pria itu saat menemukan kesalahan yang dibuat Sakura sekecil apapun itu.

Seperti saat ini, tiba-tiba Sasuke membanting script yang ada ditangannya.

"Hentikan! Aku rasa lebih baik kau mundur saja dari drama ini!" ucapnya setengah berteriak.

Sesaat kegiatan yang ada di dalam ruang klub terhenti dan semua mata tertuju pada Sakura dan juga Sasuke. Sakura hanya menunduk diam. Bagi Sakura, begitu sulit untuk mengimbangi kemampuan yang dimiliki pria yang ada dihadapannya itu.

"Hei, kau tidak perlu sekeras itu padanya." Bela Naruto.

"Ini juga salahmu Naruto! Bagaimana bisa kau memberikan peran ini padanya?" Sasuke pun bergegas pergi meninggalkan ruang klub.

"Maafkan aku senpai." Sakura membungkuk sebentar dan kemudian ikut pergi meninggalkan tempat itu.

.

Sakura mencoba menenangkan pikirannya setelah apa yang baru saja terjadi di ruang klub. Sakura mencoba untuk menarik napasnya dalam-dalam berusaha untuk mengisi tiap rongga paru-parunya sambil memejamkan kedua matanya. Dia telah melakukan kegiatan itu selama berulang-ulang berharap semua akan berjalan begitu saja.

.

"Jika kau memang tidak memiliki niat untuk ikut. Lebih baik keluar saja."

"Hentikan! Aku rasa lebih baik kau mundur saja dari drama ini!"

.

Kata-kata Sasuke kembali terlintas dipikirannya dan setiap kali Sakura mengingat hal itu, ia akan kembali menarik napasnya dalam-dalam. Meski rasanya ia ingin menangis saat ini juga. Tapi gadis itu tetap berusaha menahannya.

'Mungkin benar yang dikatakan Sasuke-senpai, aku memang tidak seharusnya bergabung disana. Aku hanya akan mengganggu latihan anggota yang lain.' Gumam Sakura.

'Lagi pula motivasiku masuk kesana bukan karena aku menyukai drama. Melainkan-'

Tiba-tiba Sakura merasakan sensasi dingin di pucuk kepalanya. Terkejut, gadis itupun membuka matanya perlahan. Bisa ia lihat sekarang, Naruto sedang berdiri didepannya dengan sekaleng minuman dingin yang ia tempelkan di dahi Sakura.

"Kau tidak mau?" tanya Naruto saat menyadari gadis yang ada dihadannya tidak kunjung mengambil minuman yang ia sodorkan.

Naruto kumudian menarik tangannya dan membuka minuman kaleng itu dan kembali menyodorkannya pada gadis musim semi itu.

"Minumlah." Melihat gadis itu hanya terdiam, Naruto kemudian langsung meraih tangan Sakura dan meletakkan minuman itu ditangan Sakura.

"Kenapa senpai kemari?" tanya Sakura heran setelah melihat Naruto yang kemudian duduk disampingnya bukan kembali ke klub untuk latihan.

"Tentu saja untuk menghiburmu."

"Tidak perlu, senpai kan harus latihan. Kembalilah, aku tidak apa-apa."

"Aku ini tidak perlu latihan, kau tahu kan, aku ini sangat berbakat."

"Benar, senpai memang sangat berbakat. Berbeda denganku." Jawab Sakura sedih.

"Hei-hei. Aku tidak bermaksud seperti itu."

"Aku tahu. Hanya saja, aku baru sadar kalau aku itu memang tidak berbakat."

"Apa sekarang kau akan mundur?"

Sakura tersenyum. "Tentu saja tidak."

"Aku akan melakukannya, karena ini mungkin saja akan menjadi drama terakhirku."

"Terakhir? Kenapa? Apa setelah itu kau akan mengundurkan diri dari klub?" tanya Naruto heran.

"Tidak, aku pikir. Mungkin setelah ini tidak akan ada yang mau memberiku peran karena kemampuanku yang pas-pasan ini." Sakura mencoba untuk tersenyum.

"Hei! Jangan tersenyum! Kau malah terlihat menakutkan saat tersenyum!" kata-kata Naruto barusan sukses membuatnya dihadiahi pukulan oleh Sakura.

"Kenapa Hinata-senpai boleh sedangkan aku tidak?"

"Kenapa kau membawa-bawa Hinata pada saat seperti ini?"

"Sudahlah! Aku sedang tidak ingin berdebat dengan senpai. Lebih baik senpai kembali ke dalam saja."

"Tidak. Aku akan tetap disini. Aku sudah bilang akan menghiburmu kan?" ucap Naruto mantap.

"Jujur saja senpai, senpai malah memperburuk suasana hatiku."

"Itu tidak mungkin." Ucap Naruto yang kemudian memperpendek jarak diantara mereka dan menyenggol pelan bahu Sakura dengan pandangan genit.

"Sepertinya satu pukulan tidak cukup untukmu senpai! Kemari, aku akan memberikan pukulan spesial untukmu senpai" ucap Sakura yang kemudian beranjak dari duduknya.

"Hei-hei Sakura!" Naruto pun melarikan diri diiringi Sakura yang terus mengejarnya dari belakang.

.

.

.

Hari ini Sakura membawa tiga bekal ke Sekolah. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk Naruto sebagai tanda terima kasih sudah menghiburnya meski bisa dibilang gagal dan yang terakhir untuk Sasuke. Kenapa Sasuke? Sakura ingin meminta satu kesempatan lagi pada Sasuke agar dia bisa tetap melanjutkan drama tersebut sekaligus untuk meminta bantuan pemuda itu untuk mengajarinya berakting. Meski sebenarnya Sakura ragu bahwa pria itu akan menerima permintannya, tapi Sakura tetap ingin mencobanya. Lagi pula, sejak awal sepertinya Sasuke begitu dingin dan terkesan tidak menyukainya apalagi saat ia pertama kali masuk ke dalam klub.

Karena Sasuke tergolong murid kelas tiga, sehingga ia tidak memiliki banyak kegiatan, dan hanya menyibukkan diri di kelas dengan sebuah buku Fisika di tangannya.

'Orang pintar itu, memang berbeda.' Gumam Sakura.

Sasuke sepertinya menyadari kehadiran Sakura, tapi pria itu hanya mengabaikan keberadaan gadis musim semi itu. Dengan gugup Sakura meletakkan bekal itu di meja Sasuke.

"Singkirkan!" baru saja Sakura ingin membuka suaranya, pria itu sudah terlebih dahulu menyela dirinya.

"Maaf." Sakura kembali mengambil kotak bento itu.

"Ano, senpai, aku mohon, berikan aku satu kesempatan lagi. Aku janji aku akan-"

"Kau akan apa? Apa kau pikir kau akan menjadi lebih baik hanya dengan berusaha?" Sakura hanya terdiam mendengar kata-kata Sasuke.

"Apa kau pikir aku tidak tahu tujuan awalmu masuk klub itu?"

"Maksud senpai?"

"Aku tidak menyangka, kau akan senekat itu hanya agar bisa dekat dengan Naruto. Apa kau tidak punya harga diri? Mengejar-ngejar seorang pria seperti itu? Kau tahu, menurutku kau ini lebih menyeramkan di bandingkan seorang stalker. Menyedihkan!"

"Kau pikir kau lebih baik dariku? Kau bahkan tidak mengenalku Sasuke." Sakura tidak peduli dengan apa yang baru saja ia ucapkan.

"Kau sendiri, bahkan selama ini kau menyukai Anko-sensei tapi kau tidak bisa mengatakannya kan? Kau bahkan harus melihat orang yang kau sukai menikah dengan kakakmu sendiri. Kau bahkan tidak pernah bisa mengatakan perasaanmu padanya. Sekarang coba lihat. Siapa yang lebih menyedihkan disini. Kau atau aku?" sindir Sakura.

"…" Sasuke hanya menatap tajam Sakura.

Sakura hendak meninggalkan kelas terkutuk itu, namun ia sempat terkejut saat melihat Anko-sensei sedang berdiri disana.

'Dia tidak mendengarnyakan? Astaga. Tamat sudah riwayatku.' Sakura hanya menyapa sebentar dan kemudian langsung melarikann diri.

.

.

.

Hari ini ada pengumuman penting bagi para pemeran drama, jadi setiap anggota harus hadir dalam pertemuan ini. Sudah lebih dari sepuluh menit Sakura bersembunyi di balik koridor yang berada tak jauh dari ruangan klub. Apalagi saat seseorang telah memasuki ruangan itu. Sakura hanya mampu menelan ludahnya pahit.

"MAAFKAN AKU! AKU MEMANG BERSALAH!" Sakura tersentak kaget saat seseorang tiba-tiba saja menepuk pundaknya dari belakang.

"Kau kenapa Sakura-chan?" tanya Naruto heran.

"Kau membuat masalah lagi?" sambung Naruto.

"Senpai, tolong jangan samakan aku dengan senpai yang memang sudah terkenal sebagai pembuat onar. Aku ini anak baik-baik senpai." Kilah Sakura.

"Kalau begitu apa yang kau lakukan disini?"

"Eh, itu"

"Sudah, cepat masuk." Tanpa menunggu persetujuan Sakura Naruto langsung menarik tangan Sakura dan menyeretnya untuk masuk ke dalam ruangan klub.

Sesaat setelah Sakura melewati pintu masuk, ia bisa merasakan seseorang tengah memberikan tatapan tajam padanya. Merasa tatapan itu tidak kunjung beralih, Sakura memilih untuk menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya.

'Tamat sudah riwayatmu Sakura!' batin Sakura.

Tanpa sadar Sakura mengeratkan genggamannya pada Naruto yang memang sejak tadi belum dilepaskan oleh Naruto. Naruto kemudian mengalihkan pandangannya pada Sakura dan mulai mengamati gadis itu.

"Kau -"!" Naruto belum sempat menyelesaikan kata-katanya saat tiba-tiba Sasuke menyelanya.

"Berani sekali kau kemari."

Mendengar kata-kata Sasuke, Sakura langsung menyembunyikan dirinya di belakang Naruto. Sementara Naruto sendiri bingung melihat tingkah Sakura.

'Tolong selamatkan aku senpai!' bisik Sakura.

"Sasuke hentikan!" ucap Naruto dan kemudian kembali menarik Sakura untuk duduk disampingnya.

Setelah semua anggota berkumpul, Naruto kemudian memberikan pengumuman singkat pada semuanya.

"Karena minggu depan adalah ujian untuk semuanya, kita akan melakukan latihan sekali lagi. Selain itu untuk saling mengakrabkan antara satu dengan yang lain, kita akan melakukan latihan di luar area sekolah selama dua hari. Jadi bagi semua anggota tolong persiapkan perlengkapan kalian, kita akan berangkat besok sore, seusai jam sekolah."

.

.

.

Sakura POV

Saat aku mendengar bahwa akan diadakan latihan di luar, terus terang tiba-tiba saja aku memiliki firasat buruk. Terang saja, ternyata si Sasuke itu memang menaruh dendam padaku setelah aku tidak sengaja membongkar rahasianya. Lagi pula dari mana aku bisa tahu rahasia itu? Sederhana saja, jika kau berteman dengan Ino, kau pasti akan mengetahui segalanya. Dia itu sudah mirip seperti anggota FBI bagiku. Gosip apapun ia pasti akan segera mengetahuinya. Mulai dari yang terpenting sampai dari yang tidak berguna sama sekali dia pasti akan mengetahuinya. Aku bahkan mulai heran bagaimana bisa dia memiliki kemampuan untuk mengumpulkan semua berita itu.

Lupakan tentang Ino. Sekarang apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi Sasuke. Ah yang benar saja. Dan bagaimana bisa dia tahu aku bergabung hanya karena Naruto-senpai. Astaga. Bagaimana kalau dia sampai membuka mulutnya itu? Disamping itu semua, kenapa mereka terlihat semakin dekat? Ini benar-benar menyebalkan.

.

Hari ini adalah hari pertama latihan. Kami semua menginap di sebuah kuil di Iwa dan sebagai gantinya kami akan membantu untuk membersihkan kuil itu setiap harinya. Setelah selesai bersih-bersih kami akan langsung mengadakan latihan. Latihan akan di bagi menjadi dua sesi, sesi yang pertama itu dari jam Sembilan pagi sampai jam tiga sore dan sesi kedua dari jam tujuh sampai jam Sembilan malam. Sehingga jika ditotalkan kami akan memiliki empat sesi latihan selama dua hari ini. Tapi ini tidak seperti empat sesi bagiku. Gara-gara si Sasuke itu. Mau tidak mau ia memaksaku untuk melakukan empat sesi latihan sekaligus. Dia pasti menaruh dendam padaku, aku yakin itu. Dia bahkan tidak akan membiarkanku istirahat meski itu hanya sekedar menarik napas. Dia benar-benar kejam dan aku rasa ia sangat menikmati saat-saat menyiksaku karena aku tidak sengaja melihatnya sedang tersenyum puas dari balik cermin saat ia sedang memaksaku latihan. Dia benar-benar seorang Iblis.

.

Hari ini terakhir kami melakukan latihan, jadi untuk menghilangkan penat apalagi sebentar lagi kami akan segera menghadapi ujian, jadi Naruto-senpai memutuskan untuk membawa kami jalan-jalan sebentar.

Aku dan Naruto-senpai memutuskan untuk berjalan bersama-sama. Aku menikmati saat-saat seperti ini, apalagi jika mengingat perlakuan Sasuke padaku.

"Senpai kau tidak haus?" tanyaku padanya.

"Hm, apa kau punya air?" aku menggeleng cepat.

"Tapi aku sempat melihatnya, di tempat sebelumnya ada mesin penjual otomatis, apa senpai mau kubelikan sesuatu?" tawarku.

"Tidak perlu, aku saja yang akan membelinya. Kau tunggu saja disini."

"Baiklah."

Aku pun menunggunya. Tapi entah kenapa dia tidak juga kembali. Apa dia tersesat? Bukankah saat ada pertunjukan di suna dulu juga begitu? Dia bahkan tersesat setelah dari toilet yang letaknya bahkan tidak ada 200 meter. Aku jadi khawatir. Apa aku susul saja ya? Baiklah.

Sakura POV End

.

"Naruto-kun, a-aku sebenarnya menyukaimu." Kata-kata itu begitu jelas ditelinga Sakura saat gadis itu hendak menghampiri Naruto.

Sakurapun menghentikan langkahnya. Tak jauh dari tempat ia berdiri, ia bisa melihat Naruto dan Hinata sedang berbicara tanpa ada orang lain disana.

'Heh? Apa ini? Apa maksudnya? Apa mungkin, Hinata-senpai sedang…'

"Sakura?" tidak sengaja Naruto menangkap keberadaan Sakura, namun gadis itu bukannya menghampirinya malah berbalik pergi.

.

Sakura tidak bisa berpikir jernih, dengan apa yang baru saja ia dengar. Kata-kata itu terus saja menggema di dalam pikirannya. Sakura sempat berpikir untuk menanyakan jawabannya pada kedua orang itu, tapi apakah ia siap untuk mendengar jawabannya? Tidak. Dia belum siap. Di tengah kebingungannya, seseorang baru saja duduk disampingnya.

"Sakura?" sapa Naruto.

"Senpai, bisakah kau duduk di tempat lain? Aku sedang tidak enak badan dan tidak ingin diganggu." Ucap Sakura tanpa memandang ke arah Naruto.

"Kau sakit? Apa perlu kuambilkan obat."

"Tidak perlu."

Karena khawatir Naruto kemudian meletakkan telapak tangannya di dahi Sakura dan langsung ditepis oleh gadis musim semi itu.

"AKU BILANG TIDAK PERLU!" ucap Sakura setengah berteriak.

Sakura tidak sadar jika suaranya barusan mengundang semua orang di dalam bus untuk beralih memandang dirinya. Buru-buru ia menutup mulutnya, menyesali apa yang baru saja ia katakan.

'Bagaimana bisa aku membentaknya hanya karena hal seperti ini. Ini bukan salahnya. Jika saja. Jika saja aku lebih berani untuk mengatakannya. Jika saja aku mengatakannya lebih dulu.' Sakura kemudian menenggelamkan kepalanya di balik sweater yang ia bawa.

.

.

.

Jam menunjukkan pukul 9 malam dan Sakura baru saja menginjakkan kakinya, saat ia menemukan lampu apartemennya sudah menyala. Ia yakin kalau sebelumnya ia sudah mematikan lampu itu sebelum ia berangkat dua hari yang lalu.

"Dari mana saja?" sebuah suara menyambut Sakura.

"Ka-san? Apa kabar ka-san?"

.

.

.

.

.

-to be continued-

.

.

.

#Author's Corner

Hai semuanya…

Maaf agak telat lagi… harusnya sih tadi pagi uploadnya… karena belum selesai jadi malam deh…

Udah agak lebih panjang kan..?

Gimana konfliknya..? menurut Rin agak drama.. Hm.. karena tokoh ketiga mulai bermunculan di tengah cerita..

Jangan khawatir Rin nggak berniat ngerubah pair nya kok..

Dan sesuai dengan niat sebelumnya yang bakalan namatin fic ini di sekitar chap 5 an..

Kayaknya semua bakalan sesuai dengan rencana..

Apa ada yang ingin memberikan masukan? Rin akan senang menerimanya…

Oh iya ada yang penasaran sama perasaan Naruto…? Rin bakalan ngasih bocoran buat chap minggu depan..

Chap mingu depan bakalan lebih menggambarkan perasaan Naruto…

Kira-kira Sakura bisa nggak ya ngungkapin perasaannya atau dia bakalan berakhir kayak si Sasuke..

.

.

.

Di bawah ini hanya berisi tentang balasan review untuk chapter sebelumnya. Jika ada yang berkeinginan untuk membacanya silahkan. Rin akan senang.

Sekarang Rin ditemani sama Sakura-chan buat bacain review dari minna-san,,,

Sakura : Baiklah, langsung saja kalau begitu.

Rin : Silahkan Sakura-chan.

Sakura : Ini dari Anonim18 ditunggu lanjutannya.

Rin : Terima kasih sudah mengunggu fic ini… Rin senang..

.

Sakura : Ini dari yassir2374 Saku mo pergi ya? Keknya bakalan seru konfliknya? Yosh lanjut,,,,

Rin : Bagaimana kalau kita tanyakan langsung pada yang bersangkutan? Bagaimana Sakura-chan apa kau akan pergi?

Sakura : Itu kan keputusanmu sebagai author. Cih.

Rin : Benar juga. Tunggu saja di chap berikutnya… semuanya bakalan kejawab kok.

.

Sakura : Ini dari Ae Hatake Sepertinya bakal tambah hurt. Next

Rin : Benar juga. Jika dilihat-lihat sepertinya Rin harus menambahkan hurt sebagai genrenya.

.

Sakura : Ini dari owned. by. indohackz Wah, Cinta Segitiga nih yaa? XD
Yosh, update kilat Rin-chwaaan~ please Happy End yaa, jangan buat endingnya gak jelas kaya dimanganya. Hahahaha

Rin : Ya semoga Rin bisa selalu mengupdate tepat waktu.. Iya cinta segi-segian.. hehe.. Iya.. Rin kan buat fic ini karena emang kecewa sama yang ada di manganya.. jadi Rin akan buat versi Rin sendiri yang akan berakhir dengan bahagia.. :D

.

Sakura : Ini dari Aiko Hara Yach,knp sngkat bgt crtanya!bkin kcwa..kl bs next chapter di panjangin ya biar krasan bcanya..he2hehe

Rin : Rin akan usahakan.. soalnya kemampuan menggambarkan cerita Rin sendiri masih agak kurang..

.

Sakura : Ini dari Uni-chan552 apa sakura bakal balik ke amerika ? apa naruto sma hinata pcaran ? tpi nanti sakura gimana dong kalo naruto sama hinata pacaran ? saran saya cuma 1 yaitu panjangin lagi word nya yaa.. ini kurang panjang :D okeehh ditunggu chap selanjutnya, keep writing !

Rin : Hm, itu akan terjawab di chap selanjutnya. Rin juga akan usahain untuk manjangin wordnya

.

Sakura : Ini dari SR not AUTHOR GWS buat baa-san yah saku-chan :v semangat '0')9

Rin : Terimakasih untuk doanya

.

Sakura : Ini dari nona fergie kennedy Aku keberatan dengan pihak ketiganya!#ditendang Salam kenal :)
Ini terinspirasi dari komik ya? Sorri belum baca chap 1 kuota internetku mepet wkwkwkwk #eh
Sasuke di sini dibuat jadi pihak ketiga ga? Jangan ke amerika dong Sakura-nya Keep writing

Rin : Haha.. kenapa keberatan..? Salam kenal dari Rin juga Iya ini terinspirasi dari komik.. tapi ujung-unjungnya malah terkesan nggak mirip.. bagaimana mengatakannya ya..? Sasuke itu antara ada dan tiada di fic ini..

.

Sakura : Ini dari Riyuzaki namikaze ini Rin yg nulis Sasosaku juga kah.? ah ditunggu lanjutannya. salam narusaku

Rin : Iya ini Rin yang sama… makasih udah mau nunggu kelanjutan fic ini…

.

Sakura : Ini dari fannyc Aku suka NS dan ceritanya buat penasaran...
Naruto suka sm Hinata atau Sakura? Di tunggu ya lanjutannya ya...
Terima kasih sdh update...GANBATTE!

Rin : Makasih udah suka sama fic ini Masalah perasaan Naruto itu akan dibahas di chap selanjutnya..

.

Sakura : Ini dari Guest Disini Naruto suka ma Hinata gak?

Rin : Tunggu chap selanjutnya ya