"Maka dari itu... Jangan mati..."

Secara tidak langsung, Dan tanpa dirinya sadari, Ino mengungkapkan rasa khawatirnya terhadap Naruto. Begitu berat beban yang ia tanggung saat melihat satu per satu dari rekan-rekannya tewas secara tragis. Bahkan, kematian Lee juga termasuk di antaranya. Naruto terdiam untuk beberapa saat dibuatnya. Sosok gadis berambut pirang di depannya yang sementara ia kenal sebagai pribadi yang cukup tegas, Sensitif, Sedikit pemarah dan sedikit kasar, Kini terlihat begitu berbeda. Hingga Naruto memberikan sebuah senyuman untuk meyakinkan gadis tersebut. Bahwa dirinya tidak akan mati. Setidaknya, Ia tidak mau mati sia-sia sebelum menolong teman-temannya.

"Ya... Aku pasti akan segera menemuimu lagi nanti. Saat misi ini telah selesai. Karna kita pasti akan bertemu kembali."

Jawab Naruto, Untuk segera mengakhiri obrolan ini. Karena Ino dan dirinya mempunyai misi yang harus diselesaikan secepatnya.

Seakan-akan beban di atas pundaknya telah sedikit terangkat. Dengan apa yang Ino percayai dari sosok Naruto, Gadis itu menggenggam tali yang telah terjulur kebawah atap gedung Kementrian di tengah Kota Konoha, Lalu mulai meluncur kebawah tanpa ada lagi keraguan yang memikat.

Dari helikopter yang Naruto tumpangi, Ia melihat Ino telah mendarat di permukaan lantai atap dengan sempurna. Untuk beberapa saat, Mereka berdua saling beradu pandang di antara ketinggian. Naruto menekan tombol hijau di sudut kabin helikopter. Membuat kedua tali yang terjulur di lantai atap gedung Kementrian tergulung secara otomatis. Hanya tinggal Naruto sendiri di kabin, Bersama dua pilot yang mengendalikan helikopter ini.

"Zero-Zero-Five, Zero-Zero-Five, Black Bird akan menuju ke lokasi selanjutnya. Ganti."

Sang pilot melaporkan situasi kepada monitoring pangkalan markas pusat.

"Diijinkan untuk bergerak. Kuulangi, Diijinkan untuk bergerak."

Jawab seseorang dari radio komunikasi yang ada pada helikopter. Helikopter pun segera meninggikan ketinggiannya dan mulai bergerak maju dengan percepatan konstan.

Dalam sepanjang perjalanan yang sedikit bergetar dan tergoncang-goncang, Naruto mengambil sebuah ponsel dari saku celana panjang hitamnya. Yang tentu itu adalah ponsel pribadi miliknya. Naruto menekan simbol bergambar surat di layar ponsel itu. Dan mulai menulis sebuah pesan singkat.

.

.

Bagaimana keadaan kalian?

Aku harap seharusnya baik-baik saja.

Hei, Sasuke... Jaga mereka baik-baik sampai aku datang.

Tunggu aku..!

.

.

- Send Cancel -

.

.

- Sending...

.

.

...

.

.

- Message Has Been Sended (To: Sasuke, 12 May 2014. 21:15pm)

.

.

Setelah mengirim sebuah pesan untuk salah satu sahabat dekatnya, Naruto keluar dari opsi pesan. Ibu jarinya mengusap Margine layar atas LCD ponselnya kebawah hingga terbukalah beberapa pilihan. Naruto menekan sebuah Panel Swicth bergambar anak panah yang saling berlawan. Membuat panel tersebut menyala berwarna hijau untuk mengaktifkan layanan data Browsing. Ibu jari Naruto kembali mengusap layar ponselnya dari bawah keatas untuk menutup dan mengakhiri opsi Panel Switch tersebut.

Beralih ke menu utama, Naruto masuk ke aplikasi GPS dan memasukkan nomor ponsel Sasuke yang sesaat tadi baru menerima pesan darinya. Data Link mengirim sinyal ke satelit, dan mulai memproyeksikan navigasi untuk menuju ke lokasi di mana ponsel Sasuke menerima sinyal dari pesan yang telah dikirimnya.

"Gunkanjima..."

Gumam Naruto melihat peta lokasi di mana satelit telah melacak sinyal aktif dari nomor ponsel Sasuke. Suatu cara yang pernah Sona lakukan untuk menemukan lokasi di mana ia berada dulu. Tapi beberapa saat kemudian, Tiba-tiba sinyal dari ponsel Sasuke lenyap seketika. Naruto sedikit tercengang akan hal itu. Membuatnya merasa sedikit gelisah. Mungkin sinyal aktif dari nomor ponsel Sasuke yang hilang disebabkan oleh gangguan dari satelit, Atau ponsel Sasuke yang telah mati karena kehabisan baterai. Menenangkan sejenak pikirannya, Naruto men-Save data lokasi yang telah ia peroleh tadi.

"Aah... Naruto Namikaze."

Pemuda berambut kuning yang saat ini duduk di kabin tepat di belakang kedua pilot cukup terkejut setelah mendengar bahwa seseorang dari monitoring pangkalan markas pusat menyebut namanya melalui frekuensi radio. Kepala Naruto menoleh mengadap kearah ruang pilot sambil menyimpan kembali ponsel miliknya kedalam saku celana.

"Mungkin ini waktu yang tepat untuk memberitahukanmu... Kau mendapat pesan dari Minato-taichou... Semoga berhasil..."

Suara frekuensi radio berhenti berbunyi. Tanda bahwa komunikasi mereka telah diakhiri. Mendengar hal tersebut, Naruto tersenyum.

'Ya... Terima kasih... Ayah.'

.

.

.

.

Flashback End...

.

.

.

Langkah-langkah kaki berderap beriringan di koridor besar gelap sebuah gedung. Terlihat enam orang berjalan berkelompok menembus gelapnya di malam ini. Walau salah satu dari mereka tengah nyaman berada di gendongan seseorang.

"Jadi suara helikopter yang terdengar tadi, Adalah heli yang tengah mengantarkanmu kemari..?"

Sasuke bertanya kepada seorang pemuda berambut kuning rancung yang sedang menggendong Hinata di punggungnya.

"Mungkin itu adalah heli terakhir yang kami miliki."

Jawab Naruto, Pemuda itu. Satu sorot cahaya dari sebuah mini Flashlight yang menyatu dinamis dengan Earphone di daun telinga kirinya sedikit membantu mereka untuk berjalan menembus kegelapan.

'Dia tahu cara melacak lokasi menggunakan GPS? Apa aku yang terlalu heran, Ataukah memang dirinya telah banyak berubah sejak kita bertukar sapa dulu...? Tapi walau bagaimanapun... Dia memang tampak berubah saat ini.'

Gumam Kiba dalam hati melihat Naruto yang berjalan paling depan di samping Sasuke.

"Jadi bukan dirimu yang menghidupkan kembali Generator di pulau ini, Namikaze-kun?"

Anko menanyakan satu pertanyaan untuk pemuda yang memandu jalan di depan sana. Naruto berpikir dengan tetap berjalan lurus kedepan.

"Generator...? Aku bahkan tidak tahu jika pembangkit listrik pulau ini menggunakan Generator.."

Jawab Naruto seadanya. Mendengar jawaban Naruto tadi, Membuat Sasuke sedikit melirik kearahnya.

"Jika bukan dirimu yang menghidupkan Generator listrik pulau ini... lalu... Siapa yang telah mengaktifkannya kembali?."

Sasuke makin bertanya-tanya dengan fakta yang berkata bahwa bukanlah Naruto, Orang yang telah menghidupkan kembali Generator pulau terbengkalai ini. Mereka pun juga tengah memikirkannya. Memikirkan sisa-sisa kemungkinan tentang siapa yang telah mengaktifkannya kembali.

"Ini seperti sebuah misteri saja... Benar-benar membingungkan."

Kata Kiba dengan sesekali menggaruk sisi rambutnya menggunakan jari telunjuk.

Mereka terus berjalan hingga sampai di belokan tangga yang menuju ke lantai 2 gedung ini. Setelah mereka semua meloncati atap gedung sebelah untuk menghindari kepungan para Zombie, Akhirnya mereka memiliki waktu untuk saling berbincang normal. Berbincang penuh santai seperti dahulu sebelum Neraka ini datang menerjang. Membasmi hampir seluruh populasi manusia yang tinggal di Jepang. Mungkin juga telah menyebar luas hingga keujung Dunia.

Setelah terpisah sekian lama. Akhirnya Sasuke, Sakura, Hinata, Anko, Dan Kiba, Boleh dipertemukan kembali oleh seseorang yang begitu berharga bagi mereka. Sosok sahabat yang tak tergantikan. Sosok teman yang begitu dekat. Sosok murid yang kini tidak lagi berisik seperti biasa. Dan sosok pemuda yang perlahan telah membentuk satu ikatan kuat di antara mereka.

Naruto... Sosok yang telah memberikan sebuah arti tekad dari perjuangan untuk tetap bertahan dari erosi lubang Neraka ini, Kini telah hadir berada di tengah-tengah mereka. Kembali hadir untuk memberikan cahaya di balik beban yang terpanggul di pundak mereka.

Sasuke dan Naruto beserta Hinata yang berada di gendongannya berbelok untuk menuruni tiap anak tangga yang terlihat. Menggunakan sorot senter kecil di daun telinganya, Naruto mempermudah perjalanan mereka untuk sampai di lantai terbawah gedung ini. Sakura, Kiba, Beserta Anko yang berada di urutan paling belakang mengikuti tiap langkah kedua pemuda itu.

"Apa kau merasa nyaman...?"

Tanya Naruto pelan untuk Hinata.

"Eh... A...Apa...?"

Tanya balik Hinata sedikit terkejut. Yang sepertinya baru sadar bahwa pertanyaan itu terlontar untuk dirinya. Dengan tetap menghadap kedepan, Naruto tersenyum sambil terus menuruni tiap anak tangga yang tersisa.

"Di gendonganku... Apa kau merasa nyaman berada di gendonganku... Hinata?."

Tanya pelan Naruto sekali lagi. Ketika menyadari bahwa Hinata seakan tidak sedikitpun keberatan atau meminta untuk ia turunkan. Hinata benar-benar diam dan sangat rileks di gendongannya.

Mendengar pertanyaan pelan itu yang begitu jelas mengalun di gendang telinganya, Membuat sirat rona merah muncul menghiasi wajah manisnya. Hinata langsung menyembunyikan seluruh wajahnya kepunggung Naruto.

"Ba... Baka... Jangan memberikan pertanyaan seperti itu padaku~"

Jawab Hinata pelan dengan wajah yang menempel di belakang punggung Naruto. Seolah ingin sembunyikan rona merah di wajahnya akibat pertanyaan Naruto yang benar-benar bodoh menurutnya.

Sedikit tertawa, Naruto melirik Hinata yang bersembunyi di balik punggungnya. Baru kali ini ia mendengar kata itu dari Hinata. Walau Naruto sama sekali tidak mengartikannya sebagai kata yang kasar.

"Karena dirimu sepertinya tidak keberatan sama sekali semenjak aku menggendongmu.."

Ucap Naruto kemudian. Dan sesaat Hinata diam tanpa kata. Beberapa waktu Hinata terdiam, Sesaat kedua tangannya mulai merangkul Naruto lebih dalam. Seakan Hinata tengah memeluknya dari belakang. Rangkulan tangan itu begitu lembut. Hingga Naruto seolah merasakan sebuah perasaan yang sedang berbicara. Seakan-akan Hinata ingin mengatakan 'Jangan tinggalkan diriku lagi..' Di balik pelukan lembut itu.

"Te... Tentu... Itu sudah pasti bukan..."

Jawab Hinata setelah sesaat terdiam malu. Kini wajahnya yang menempel di punggung Naruto tidak lagi tersembunyikan. Dagu Hinata bersandar ke pundak Naruto. Rambut mereka yang menempel seakan saling berusaha memberikan rasa aman satu sama lain. Kedua manik Hinata meredup hangat. Keduanya terpejam nyaman di pundak Naruto yang tengah menggendong dirinya.

Mendengar jawaban Hinata itu, Membuat Naruto kembali tersenyum kecil. Manik biru mata kirinya sedikit melirik lembut kearah Hinata yang tengah terpejam. Dengan kelopak mata kanannya yang tengah tertutup kelelahan akibat terlalu memaksakan diri saat kembali berhadapan dengan makhluk-makhluk di gedung itu.

"Selama dirimu menginginkannya... Aku akan terus bersedia menggendongmu jika kau mau... Ketika kita telah sampai di tempat yang aman nanti."

Ucap Naruto lembut. Membuat Hinata yang terpejam kini tersenyum. Diiringi rona-rona merah di wajah cantiknya.

"Janji...?"

Tanya Hinata pada pemuda yang tengah menggendongnya kini.

"Aku janji... Hinata..."

Jawab Naruto tanpa keraguan. Membuat kegundahan hati yang tak menentu seakan hilang. Lepas seketika dari pundak Hinata. Membuat gadis tersebut menitikkan setetes air mata di sela senyum bahagiannya, Sekali lagi dapat berbicara berdua dengan pemuda yang telah lama mengisi relung hatinya saat itu.

Di belakang Sasuke, Kiba memperhatikan mereka berdua. Terlebih saat ia memperhatikan damai wajah Hinata yang begitu tenggelam nyaman di gendongan sahabatnya. Betapa Hinata seakan merasa aman di dekat Naruto saat ia melihat senyumnya yang tak kunjung pudar. Kini Kiba mengerti satu hal yang baru ia sadari. Hanya Naruto... Hanya Naruto lah yang bisa menarik kedua sudut bibir itu untuk tersenyum damai. Hanya Naruto yang bisa menguaskan rona merah di kedua pipi putihnya. Kiba akhirnya menyadari itu semua.

Sesaat tersenyum melirik begitu dekatnya Hinata dan Naruto, Ada sedikit rasa senang yang terbesit di hati Kiba. Dengan hanya melihat Hinata kembali tersenyum seperti Hinata yang ia kenal, Kiba rasa itu sudah lebih dari cukup sekarang. Walau kemungkinan terbesar yang ia sadari, Mungkin tidak akan ada yang bisa menggantikan sosok Naruto bagi Hinata. Dan mungkin akan sangat sulit baginya untuk menggantikan Naruto di dekatnya.

'Meski Konoha telah hancur... Meski orang yang kita sayangi satu per satu telah pergi... Meski pun segalanya telah berubah... Tapi ikatan di antara kalian tetaplah sama. Ikatan yang kulihat begitu kuat dan hangat... Tidak ada satu pun dari kedua tanganku yang mampu untuk menggapai kalian..'

'Naruto... Jika aku boleh bertanya padamu... Bisakah perasaanku ini... Akan sampai padanya suatu saat nanti.. ?'

Ucap Kiba dalam hatinya. Untuk sekali lagi tersenyum sayu melihat mereka berdua yang begitu dekat.

.

.

.

Ditemani sorot cahaya senter mini di daun telinga Naruto, Mereka terus berjalan di sepanjang lorong yang redup. Suara-suara kerikil dan serpihan kayu yang terinjak seakan jadi pengiring langkah-langkah mereka. Lampu-lampu berkedip juga membantu mengantarkan mereka menuju pintu keluar yang hanya berjarak beberapa meter lagi di depan mata. Jari telunjuk Naruto mematikan mini Flashlight di daun telinganya. Untuk menghindari kemungkinan sorot cahaya senter kecil tersebut memancing perhatian Zombie yang ada di luar.

"Jadi... Siapa yang akan ceritakan padaku di mana kalian terpisah dengan Sona..."

Ucap Naruto sambil berjongkok merendahkan tubuhnya. Hinata turun dari gendongan Naruto. Sakura, Sasuke, Anko dan Kiba berhenti tepat di belakang pemuda yang berjongkok tepat di depan pintu gedung gelap ini. Sambil menunggu jawaban dari rekan-rekannya, Naruto membuka sedikit pintu rapuh tersebut. Mencoba mengintip sedikit keadaan di luar melalui celah tersebut.

"Saat itu... Saat kami berhari-hari terapung di atas lautan..."

Kiba mulai membuka suara. Mencoba kembali tepat di kala waktu itu, Untuk memberitahukan kepada Naruto semuanya yang telah mereka lalui tanpa dirinya.

Flashback...

.

.

Sore menjelang malam. Cahaya sang mentari yang mulai meredup. Terapung di tengah laut tenang lepas pantai Konoha, Jadi background pemandangan mereka di atas sebuah kapal berukuran sedang berwarna putih. Tetap pada rencana untuk sekali lagi kembali ke Konoha. Kota yang telah jatuh kedalam kehancuran penuh wabah mematikan di mana-mana. Kota besar di mana awal dari penyebaran sebuah pandemik yang unik sekaligus mengerikan.

"Apa kalian yakin, Untuk kembali kesana lagi? Maksudku..."

"Menurutmu apa langkah yang lebih baik dari rencana ini, Chouji...?"

Seorang gadis berambut hitam pendek sebahu dengan bingkai kacamata biru yang menghias wajahnya, Memotong kalimat menggantung Chouji yang sedang mengemudikan kapal yang mereka tumpangi.

"Kurasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi jika menyangkut hal ini kembali. Sona dan Sasuke benar, Chouji. Kita harus kembali ke Kota itu. Walau berbagai resiko besar kemungkinan akan menghampiri..."

Anko yang bersandar di samping Chouji ikut dalam topik pembicaraan mereka. Mendapat serangan Critical seperti itu dari Sona sekaligus gurunya yang paling bijaksanan dalam mengambil tindakan membuat Chouji melenguh diam. Ia tetap mengarahkan kapal ini kearah timur Kota Konoha yang kini tidak terlalu jaraknya sekarang. Dengan kecepatan sedang karena bahan bakar mereka yang telah menipis.

"Kurasa kita tidak punya pilihan lain... Ya kan..."

Ucap Hinata yang berdiri menatap Kota besar itu untuk sekali lagi. Kota di mana untuk dirinya, Terkenang sebuah kenangan yang begitu menyakitkan untuk diingat. Kenangan saat mereka telah kehilangan seorang sosok yang begitu berharga.

Angin sore itu tidaklah begitu kencang. Namun tetap mampu menguraikan rambut indah Hinata yang panjang kesana-kemari. Membuat gadis itu menggunakan jemari-jemari lentiknya untuk memegangi sisi rambutnya yang terkibar tertiup angin.

"Jiwa dan akal kita mulai sekarat..."

Ucap pelan gadis berambut merah jambu yang tengah bersandar di pundak kekasihnya.

"Mungkin ini yang terbaik... Dari pada mati kelaparan di atas lautan tanpa melakukan apapun."

Seorang pemuda di samping Sakura menyahut datar. Dengan senapan Arctic Warfare Magnum yang tersandar di dinding kapal tepat di sampingnya terduduk. Menunggu kapal ini untuk berhenti dan bersandar sejenak seperti yang telah ia rencanakan sebelumnya. Sejak mereka lepas berlayar dari dermaga tua selatan Konoha, Hanya sedikit persediaan makanan yang ada di kapal mereka. Tentu saat itu merupakan jalur melarikan diri tanpa rencana yang benar-benar detail untuk kedepannya nanti. Karena yang ada di pikiran mereka saat itu hanyalah meninggalkan Konoha secepat yang mereka bisa. Walau di saat yang sama, Mereka kehilangan seorang rekan yang sangat berharga. Tanpa bisa tergantikan dalam bentuk apapun.

Satu perasaan terpukul begitu menghantui kalap hati mereka. Seakan hati telah remuk tanpa tersadari. Namun bagaimanapun, Mereka harus tetap berjuang untuk tetap bertahan hidup. Sedikit mengesampingkan perasaan mereka yang telah hancur di telan keputusasaan. Dan di hari ini, Jika mereka hanya diam menunggu ajal di atas kapal, Bukankah itu sama saja dengan mereka kembali ke saat-saat putus asa itu?. Hanya diam. Melamunkan pandangan semu. Tanpa menghiraukan ombak yang sesekali menggoyang kapal mereka. Tidak bisa menerima fakta dari kenyataan yang sungguh sangat pahit, Bahwa seorang teman yang telah membangun ikatan yang begitu kuat di antara mereka semua, Kini tidak lagi berada di sini, Di samping mereka.

"Dengan sisa bahan bakar yang kita miliki saat ini... Hanya Konoha yang paling memungkinkan. Mendapat dua burung dalam sekali lempar. Kita akan cari dan dapatkan persediaan makanan beserta bahan bakar untuk bisa tetap bertahan hidup memetualangi sisi Dunia yang telah hancur ini."

Sona kembali angkat bicara sambil melirik jarum penunjuk tangki bahan bakar kapal di panel dekat kemudi. Pemikirannya seolah terdorong kuat, Setelah terenung kenangan-kenangan dirinya bersama Naruto. Sosok pemuda bodoh yang penuh dengan tekad kuat pantang menyerah. Yang telah membuat jiwa dan akalnya terbuka kembali, Setelah mengenang bagaimana cara sosok pemuda itu berjuang hingga akhir kisahnya. Dan Sona garis bawahi di sini... Bahwa perjuangan yang Naruto lakukan selama ini, Bukan hanya untuk dirinya sendiri. Tetapi seluruh nyawanya telah ia pertaruhkan demi seluruh rekan-rekannya.

Untuk sekali lagi. Untuk sesaat saja, Biarkan Sona mengenang kembali saat-saat itu. Saat-saat yang ia habiskan semalaman dengan pemuda tersebut ketika bersembunyi di sebuah butik yang gelap. Dan biarkan kali ini, Sona memiliki tekad dan keinginan itu. Keinginan kuat untuk terus bertahan hidup yang dimiliki oleh seseorang yang bernama Naruto.

"Kita hampir sampai..."

Chouji memberitahu teman-temannya bahwa kapal ini akan berhenti tepat di dermaga timur Konoha sesaat lagi. Kiba yang tidur terlentang di anjungan menatap awan kini bangkit untuk berdiri di samping Hinata. Dirinya sejak tadi begitu hening tanpa ikut campur dengan pembicaraan mereka. Seakan tidak mau ikut andil dalam pembicaraan yang melelahkan itu dan secepatnya bergerak untuk dapatkan persediaan makanan seperti rencana yang ia dengarkan sejak tadi.

Sasuke meraih senapan laras panjang di sampingnya, Dan mulai bangkit berdiri. Diiringi oleh Sakura yang mengikutinya berjalan ke sisi kapal. Sona mulai melangkah keluar dari ruang lingkup kemudi. Meninggalkan Chouji yang sibuk memposisikan kapal dengan sesempurna mungkin untuk bisa lepas berlayar kembali tanpa hambatan.

"Aku tidak melihat satupun dari mereka di dekat dermaga dari sini... Tapi... Banyak asap hitam mengepul dari kendaraan dan beberapa bangunan di sana."

Kata Kiba menyipitkan kedua matanya untuk melihat keadaan situasi di sana.

Kapal pun berhenti di ujung dermaga kayu yang terpaku rapi. Tidak banyak kapal yang berandar di dermaga ini kali ini. Chouji pun mematikan mesin kapalnya.

"Mungkin akan lebih efisien jika membagi pencarian kedalam dua grub. "

Kata Anko sambil turun dari kapal. Yang pertama kali menapakkan kedua kakinya di atas lantai kayu dermaga ini.

Mereka semua, Diam melihat suasana Kota Konoha. Tidak disangka-sangka pada akhirnya mereka harus dipaksa kembali ke Kota mati ini. Sepintas, Banyak perubahan yang terlihat. Yang terdengar hanya suilan angin sepoi yang melintas, Dan suara sirine mobil polisi yang terus berbunyi di kejauhan sana. Selebihnya hanya senyap yang merayap. Membuat Kota ini seakan tampak lebih menegangkan dari sebelumnya.

"Sakura, Kau tunggu di sini. "

Sasuke membuka suaranya setelah sekian lama mereka semua hening terdiam. Pemuda itu berjalan menuruni kapal dan berdiri di samping Anko-sensei.

"Aku rasa itu adalah kalimat yang salah, Sasuke-kun. "

Sahut Sakura di detik berikutnya. Gadis itu ikut menyusul Sasuke untuk kembali menginjakkan kaki di Kota ini. Membuat Sasuke melirik gadis tersebut, Dan memberikan pandangan tidak suka.

"Apa maksudmu? Ini terlalu berbahaya untukmu Sakura-"

"Dan ini juga terlalu berbahaya untukmu bukan, Sasuke-kun?."

Potong cepat Sakura saat berdiri tepat di samping kekasihnya tersebut tanpa ragu. Sakura merenggangkan kedua tangannya keatas.

"Ayo kita lalui ini bersama-sama. "

Ungkapnya lagi sambil melirik dan memberikan sebuah senyuman kearah Sasuke. Membuat pemuda itu terdiam cukup lama. Menyadari sesuatu yang terlewatkan. 'Jangan pernah remehkan siapapun yang ingin berjuang bersamamu...'

Sasuke teringat kata-kata itu sepintas di kepalanya. Sebuah kata-kata dari kakak kandungnya saat dulu sekali. Kini Sasuke hanya bisa terdiam dan tersenyum melirik Sakura.

"Mungkin akan lebih baik jika Chouji tetap menunggu di sini. Karena hanya orang ini yang bisa mengemudikan segala yang ia sentuh."

Ucap Sona agak sedikit kejam kedengarannya. Namun apa yang ia katakan memanglah benar. Di antara dirinya, Sakura, Sasuke, Anko, Kiba dan Hinata, Hanya Chouji seorang yang bisa melajukan kapal ini. Satu-satunya alat bagi mereka untuk tetap aman terapung di atas lautan. Jika Chouji ikut serta dalam rencana ini dan terjadi apa-apa pada dirinya, Semua yang mereka lakukan tidak akan ada artinya jika tidak ada yang bisa melajukan kapal ini kembali ketengah lautan. Chouji tertawa canggung sambil menggaruk pipinya seakan ia ingin mengatakan sesuatu.

"Yaahh... Kalau bisa, Ambilkan beberapa bungkus keripik kentang untukku. Dua puluh bungkus juga tidak apa... Ehehe.."

"Siapapun, Jangan dengarkan dia. Bisakah kita mulai sekarang sebelum hari mulai gelap..?"

Sahut Sona sweatdrop dengan mengelus-elus pelipisnya mendengar permintaan konyol dari Chouji di sana.

"Kali ini Hinata ada dalam penjagaanmu, Kiba."

Kata Sasuke kepada pemuda berambut jabrik hitam di samping Sona dan Hinata.

"Serahkan saja padaku..! Aku pun tidak akan kalah dengan Naru-..."

Angin berhembus di antara mereka berenam. Kata-kata Kiba yang ingin ia ucapkan tiba-tiba tercekat. Lidahnya terkunci keluh. Pandangan tajam semangatnya langsung berubah menjadi sayu dan sendu. Sebenarnya Sasuke juga ingin memakai kalimat 'Kiba, Jaga Hinata baik-baik...'

Namun sejenak Sasuke sadar akan sesuatu. Bahwa jika ia gunakan kalimat itu, Hanya akan membuat mereka kembali ingat dengan Naruto. Itulah sebabnya, Sasuke memilih menyampaikannya dengan kalimat lain.

"Baiklah... Kita tidak bisa saling berkomunikasi dengan leluasa jika kita berpisah nanti. Jadi, Jangan mencari persediaan makanan terlalu jauh dari sini, Sona.."

Ucap Sasuke yang mulai berjalan kedepan dengan senapan berlaras panjang tersandar santai di bahunya. Anko dan Sakura pun mengikuti pemuda itu dari belakang.

"Jangan ingatkan aku tentang hal yang telah kuketahui. Kau terlalu banyak membuang kata, Sasuke Uchiha-san."

Jawab Sona datar setelahnya. Merasa bahwa sang Uchiha muda itu telah meremehkannya. Walau hanya Kiba dan Hinata yang berada di grubnya, Bukan berarti ia tidak bisa mengambil suatu resiko untuk hasil yang sudah pasti.

Mereka berenam yang terbagi atas dua grub kini berjalan bersimpangan. Sasuke, Sakura dan Anko berjalan kekiri untuk mencari stasiun pengisian bahan bakar terdekat. Sedangkan Sona, Kiba dan Hinata berjalan kearah kanan. Tugas mereka berbeda dengan grub Sasuke. Mereka hanya perlu mencari persediaan makanan cepat saji ataupun makanan kaleng sebanyak mungkin.

"Apa mereka akan baik-baik saja ya... Hhhh..."

Lenguh Chouji dari dalam kapal. Bersandar lelah di lingkar kemudi kapal. Tentu ada rasa khawatir yang tersirat di pikirannya, Melihat mereka kembali memasuki Kota mengerikan ini.

.

.

.

Sang mentari kini mulai lelah untuk memberikan sinarnya. Dan perlahan mulai tenggelam di antara gedung-gedung tinggi Kota ini. Hanya menyisakan sedikit sinar oranye senja sore hari yang semakin redup menyinari. Sona, Kiba dan Hinata berjalan di antara suasan hening yang merayap. Begitu senyap mencekam. Yang terlihat hanya selembaran kertas yang berterbangan dihembus angin, Mobil-mobil yang berserakan tidak karuan memenuhi jalanan, Asap hitam tebal membumbung tinggi dari truk besar yang terbalik menabrak dinding sebuah rumah hingga hancur.

Tidak ada tanda-tanda kehidupan yang terlihat. Termasuk mereka, Para mayat hidup. Tentu Sona agak merasa lega belum melihat satupun dari mereka. Walau kesenyapan ini justru membuat bulu kuduknya berdiri. Dan belum lagi, Jika diingat-ingat... Sedari tadi mereka berjalan merapat di pinggiran trotoar Kota ini dengan hanya tangan kosong. Tidak ada satupun dari mereka bertiga yang memegang sebuah senjata untuk melindungi diri.

"Sssttt... Jaga langkah kalian..."

Ucap Sona pelan melirik kearah Kiba dan Hinata yang mengikutinya dari belakang.

Klentaannng...

Ujung sepatu Kiba tidak sengaja menendang pelan sebuah kaleng minuman kosong ketika melangkah perlahan. Membuat kaleng kosong itu menggelinding jatuh dari trotoar ke aspal jalanan dengan membuat bunyi-bunyian yang kontras terdengar di gendang telinga. Mata Sona langsung melotot kaget menghadap kepada Kiba dan Hinata. Baru saja ia mengingatkan mereka untuk lebih berhati-hati dalam mengambil langkah.

Kiba dan Hinata langsung menunduk dan bersembunyi di sisi mobil yang rusak parah saat melihat sesuatu di kejauhan sana. Melihat gerik Kiba dan Hinata, Sona langsung menunduk rendah mengikuti mereka untuk bersembunyi dari sesuatu. Gadis berkacamata itu berbalik arah kembali menghadap jalanan rusuh Kota mati ini. Dan ia mendapatkan alasan apa yang membuat Kiba dan Hinata lekas bersembunyi.

"Itu... Mereka..."

Ucap Hinata pelan.

Sona mengintip sedikit. Dan saat itulah kedua matanya melihat suatu pergerakan di kejauhan sana. Seseorang berjalan tertatih seperti sedang mencari sesuatu di antara mobil-mobil pribadi yang rusak akibat tabrakan berantai.

"Hanya satu-... Tidak... Tiga... Bahkan lebih..."

Ucap Kiba dengan suara pelan dan sangat hati-hati. Dirinya juga ikut mengamati jalanan besar di sana yang penuh dengan deretan kendaraan-kendaraan yang kini bisa dipastikan tidak bisa beroprasi lagi. Melalui kaca bening sebuah mobil yang menjadi tempat mereka bertiga bersembunyi, Kiba melihat lebih dari enam mayat hidup yang berada di tengah-tengah jalanan ini.

Mayat-mayat hidup di sana membolak-balikkan tubuh. Menoleh kesana dan kemari seolah sedang mencari sesuatu. Tentu mereka mencari asal sebab suara kaleng kosong yang menggelinding tadi. Mata mereka yang hampir tidak terlihat pupilnya sama sekali di kejauhan sana, Melihat kedalam kaca mobil yang mereka lalui. Terkadang ada yang membentur-benturkan kepalanya ke kaca itu tanpa Kiba ketahui apa alasannya. Karena pada dasarnya memang mereka hanyalah seonggok mayat berjalan tanpa jiwa yang tidak memiliki fungsi otak. Dengan kata lain, Mereka lebih bodoh dari manusia terbodoh yang ada di ujung Dunia ini.

"Sepertinya kita harus menunggu kesempatan untuk bergerak..."

Sahut Sona menimpali perkataan Kiba tadi. Tetap mengawasi dari kejauhan di tempatnya merunduk. Situasi yang sangat tidak menguntungkan bagi mereka bertiga saat ini. Yang terbesit di kepala Sona, Hanyalah untuk tetap lebih berhati-hati lagi dalam menjaga gerak. Karena para mayat hidup tersebut hanya tertarik pada suara ketika jarak pandang mereka terbatasi oleh sinar matahari yang kini mulai meredup gelap.

Hinata yang berada di belakang Kiba, Tetap diam di tempatnya tanpa ikut memperhatikan keadaan di sana. Ia tetap diam melihati punggung Kiba. Karena ia terlalu takut untuk membuat kesalahan yang hanya akan merepotkan Kiba dan Sona. Bahkan bisa membahayakan nyawa mereka bertiga sekaligus. Telah lama mereka merunduk dan bersembunyi menunggu kesempatan untuk bergerak. Membuat sendi lutut Hinata agak sedikit kesemutan. Gadis berponi itu berpikir berjongkok rendah mungkin tidak akan apa-apa. Namun saat dirinya akan lebih merendahkan lututnya, Secara tidak sengaja pandangannya melirik kebawah aspal. Tepat di bawah ban mobil dekat kakinya, Ia melihat potongan tangan yang telah memucat, Dengan bekas darah merah kehitaman yang menyiprat di permukaan ban dan aspal itu. Membuat mata Hinata melotot terkejut.

"Kyaa-..."

Hinata jatuh terduduk kebelakang dan menjerit singkat sebelum kedua tangannya membekap erat mulutnya sendiri. Bukan hanya Hinata saja yang terkejut. Kiba dan Sona pun terkejut setengah mati saat itu juga akibat jeritan Hinata di Kota yang hening ini.

'Ce...Celaka...'

Gumam Kiba dalam hati menoleh kearah Hinata yang bergetar sendiri akibat kesalahannya. Sona langsung mengintip kembali kearah mayat-mayat hidup di sana.

"Grhh!"

Seluruh mayat hidup yang berdiri di tengah jalanan langsung menoleh kearah sebuah mobil di terpi trotoar dekat dinding bangunan. Mata mati mereka memelototi asal suara jeritan tersebut.

Drak-Drak-Drak-Drak

Para mayat hidup tersebut mulai berlari dan menginjaki kap-kap dan atap mobil yang menghalangi dengan sangat ganas. Mereka berlari cepat menuju kearah mobil tempat Sona, Kiba, Dan Hinata bersembunyi tersebut.

'Sial...!'

Umpat Sona pelan dalam hati, Melihat jumlah yang datang kearah mereka bertiga. Dengan debaran jatung yang berdegup keras, Kiba menoleh kesana-kemari. Berpikir apa yang harus ia lakukan sekarang.

Drep-Drep-Drep-Drep-Drep-Drep

Zombie-Zombie itu berlari semakin dekat. Melangkah panjang bak binatang kelaparan. Melompat dan menginjaki kap mobil yang mehalangi jalan mereka. Hampir beberapa langkah lagi. Delapan mayat hidup dari berbagai arah tersebut mendekati mobil itu dengan ganas. Salah satu tangan mereka menggebrak mobil tempat Sona, Kiba, Dan Hinata meringkuk bersembunyi. Saat ia melihat sisi mobil itu, Tidak ada apapun di sana. Kosong...

Hanya ada kaleng minuman kosong dan potongan tangan pucat yang tergencet ban mobil ini.

.

.

.

Desahan Nafas menderu begitu panjang dan kasar. Sona memegang dadanya. Di mana jantungnya berdegup begitu hebat. Kondisi serupa dialami juga oleh Kiba. Pemuda itu mencoba menghirup udara sebanyak yang ia bisa dengan pompaan jantung yang tidak karuan.

"Sial... Yang tadi itu hampir saja..."

Ucap Kiba sambil bersusah meneguk ludah di kerongkongan keringnya.

Mereka bertiga bersandar di bangkai helikopter yang telah rusak parah. Mentari telah terbenam seutuhnya. Sejenak mampu menyembunyikan keberadaan mereka bertiga di kegelapan bayangan gedung tinggi. Kepala Kiba menoleh kearah Hinata yang masih membekap erat mulutnya sendiri. Sedangkan ia menghirup banyak oksigen untuk mengisi relung paru-parunya yang hampir kosong. Sona dan Kiba tetap diam bersandar pada dinding helikopter karena kehabisan nafas.

"Tolong-... Jangan-... Jangan kejutkan kami seperti itu lagi-... Hinata-... Kau hampir-... Membuatku mati terkena serangan jantung-.."

Kata Kiba dengan nafas tidak beraturan. Keringat mengalir melalui pelipis pemuda itu. Dirinya masih berusaha menghirup udara sebanyak yang ia bisa sehabis kejadian tadi.

Dalam diam Hinata masih membekap mulutnya menggunakan kedua tangannya sendiri. Kedua matanya yang indah itu mulai berkaca-kaca. Ia merasa sangat bersalah atas kejadian tadi. Tentu itu akibat kesalahannya, Yang mampu membuat Kiba dan Sona dalam bahaya dan mengancam nyawa mereka. Dalam hati Hinata benar-benar merutuk dirinya sendiri. Ia begitu menyesali kesalahannya tadi.

Melihat Hinata seperti ini, Membuat Kiba tidak tega untuk menyalahkan Hinata. Yang terpenting sekarang mereka berhasil menghindar dan bersembunyi dari para mayat hidup ganas tersebut.

"Kurasa kita telah aman di sini..."

Ucap pelan Sona mengintip situasi. Manik merah jambu di balik kacamata itu tajam menelisik jalanan. Mereka bertiga telah berhasil kabur tepat waktu sebelum para Zombie-Zombie tersebut menemukan mereka.

"Hinata, Apa kau masih sanggup...?"

Tanya Sona kepada Hinata. Tentu Sona khawatir dengan keadaan kaki Hinata. Karena sebelumnya, Bukankah kaki Hinata lumpuh total dan terpaksa memakai kursi roda untuk bersekolah dulu. Sona khawatir akan ada dampak buruk pada kaki Hinata jika memaksa otot-otot itu bergerak. Karena pasti telah bertahun-tahun Hinata terbiasa menggunakan kursi roda tanpa menggerakkan kedua kakinya.

Hinata menghirup nafas dan membuangnya panjang. Ia melepas bekapan mulutnya sendiri.

"Aku masih sanggup. Dan... Maaf untuk yang tadi... Aku benar-benar... Minta maaf."

Jawabnya lemah merasa sangat bersalah. Sona memejamkan mata sambil memperbaiki letak kacamata miliknya.

"Aku rasa kita harus berlari secepat yang kita bisa sekarang juga."

Kata gadis dengan rambut hitam sebahu tersebut memberitahu rekannya.

"Eh...? Ada apa, Sona...?"

Kiba bertanya kebingungan menanggapi kalimat yang diucapkan Sona.

"Empat anjing peliharaan telah lepas dari kandangnya... Tetap tenang dan jangan melakukan sesuatu secara tiba-tiba. Aku rasa mereka sedang mengawasi gerak-gerik kita."

Jawab gadis itu tenang dan penuh dengan pemikiran tajam. Menyarankan, Atau lebih tepat disebut memberi arahan kepada Kiba dan Hinata.

Benar saja...

Saat Kiba dan Hinata mengalihkan pandangan mereka kembali ke jalanan Konoha yang terlantar, Direksi mereka temukan tiga hingga empat anjing yang bergerak pelan dan hati-hati. Seolah mereka kini tengah mengintai mangsa buruan mereka. Anjing-anjing itu nampak terlihat kurus karena bulu dan kulit yang telah hilang mengelupas dari seluruh tubuhnya. Yang tersisa hanyalah sisa-sisa sebagian kulit hitam menggelambir di antara daging merah kehitaman yang masih melekat. Bahkan tulang rusuk mereka pun sangat terlihat jelas, Bersamaan dengan air liur yang terus menetes di antara taring-taring mematikan itu. Benar-benar membuat mereka terlihat begitu menakutkan untuk sepintas dilihat.

"K-Kuso..."

Desah Kiba pelan saat mengetahui bahwa Konoha yang sekarang benar-benar telah menjadi Kota yang sangat mematikan. Baru sebentar mereka menyandarkan tubuh yang lelah. Dan sekarang apa lagi ini?. Kiba sungguh tidak bisa berkomentar apa pun lagi.

"Ssstt..."

Sona mengingatkan kedua rekan setimnya untuk tidak berisik kembali. Manik merah jambunya menelisik tajam. Dengan teliti memperhatikan gerak-gerik dari keempat anjing yang telah terinfeksi tersebut. Ia coba memperkirakan waktu bagi anjing-anjing itu untuk maju mengejar secara bersamaan.

'Jarak mereka hanya sekitar 35 meter dari sini. Mengingat kembali saat berhadapan dengan mereka dulu, Dapat kupastikan mereka akan menyerang secara bersamaan seperti waktu itu...'

Sona begitu cepat mempelajari situasi. Intuisinya kali ini secara natural memperkirakan pergerakan mereka yang ia pastikan akan menyerang secara bergerombol. Sama seperti saat dirinya berhadapan secara langsung dengan jenis mereka di Mansion milik keluarga Sasuke. Sejenak berpikir di waktu yang krusial, Sona melirik kedua rekannya, Kiba dan Hinata.

'Empat lawan tiga... Kami tidak menggenggam apa pun yang bisa digunakan untuk melawan. Bahkan kesempatanku untuk berhasil berhadapan dengan dua dari mereka tanpa luka sangatlah kecil jika aku terus mengkhawatirkan keadaan Kiba dan Hinata. Jadi... Hanya satu ada satu jalan terbaik yang harus kupilih...'

"Kiba... Tetaplah bersembunyi di kegelapan dan jangan bergerak sedikitpun. Saat mereka mulai bergerak menyerang, Aku akan alihkan perhatian mereka semua untuk mengejarku. Di saat itu, Gunakan kesempatan itu untuk lari ke arah yang berlainan denganku. Apa kau mengerti...?"

Sona menjelaskan apa yang tengah ia rencanakan kepada Kiba dan Hinata tanpa sedikitpun melepaskan perhatiannya dari gerak-gerik keempat anjing-anjing ganas di sana. Mendengar rencana Sona, Hinata dan Kiba sedikit terkejut dan agaknya tidak setuju dengan hal itu.

"Apa maksudmu... Jangan bodoh-"

"Aku tidak bodoh... Inilah rencana terbaik dari seluruh peluang yang ada. Dalam Negeri para orang mati ini, Tidak banyak pilihan yang bisa kita pilih bukan...?."

Sanggah Sona cepat dengan volume pelan. Memotong kalimat yang akan keluar dari mulut Kiba.

"Tapi... Membuatmu menjadi umpan... Apa itu tidak berlebihan-"

"Tidak, Hinata..."

Lagi-lagi Sona memotong ucapan salah seorang rekannya dalam timnya ini.

"Rencana yang kupilih tidaklah berlebihan... Karena sebagai satu tim, Kita harus saling percaya, Ya kan...?. Maka dari itu, Percayalah padaku."

Ucap Sona tanpa terlihat sedikitpun keraguan dalam setiap kata yang ia ucapkan. Hingga kini membuat Hinata tidak berkutik membantah lagi. Entah kenapa... Saat melihat sekilas senyum tanpa keraguan yang Sona tunjukkan kini, Benar-benar sangat mirip dengan sifat seseorang yang pernah mengisi relung hatinya. Senyum mereka benar-benar mirip... Melihat Sona memberikan senyum seperti itu, Sama seperti melihat Naruto yang berikan senyumnya untuk dirinya.

Di tempat yang saling terpisah, Anjing-anjing itu terus mengintai dari jauh Sona, Hinata dan Kiba. Gelapnya malam membuat jarak pandang mereka terbatas akibat radang infeksi yang berlebih di pupil dan syaraf mata mereka. Coba memastikan bahwa ketiga orang itu adalah mangsa, Salah satu dari mereka yang berdiri di atas atap sebuah mobil polisi melangkah turun ke permukaan aspal hitam. Membuat perhatian mata Sona teralihkan tajam kepadanya.

'Ini dia...'

Mereka saling menggeram satu sama lain. Nampak seperti tengah memperebutkan siapa yang akan dapatkan mangsa mereka yang pertama. Namun memajukan waktu sedikit kedepan, Mereka mulai melesat cepat berlari serempak kearah Sona, Kiba dan Hinata.

'Sekarang..!'

Tubuh Sona menegak seketika, Dan mulai melangkahkan kakinya untuk berlari. Ia tidak menggunakan suara untuk memancing perhatian mereka. Karena Sona telah memperkirakan hanya akan mengundang yang lainnya jika ia memakai suara keras untuk rencana pengalihan perhatiannya. Gerak tubuh spontan, Melakukan Sprint secara tiba-tiba, Itu cukup membuat perhatian keempat anjing-anjing itu langsung teralih kepadanya.

Sona berbelok kearah kiri dan berlari di sepanjang jalan trotoar Konoha. Bersamaan dengan keempat anjing ganas yang telah terinfeksi oleh pandemik mengejar tepat di belakangnya.

"Hinata, Ini saatnya..!"

Kata Kiba spontan namun dengan volume suara yang ditekan ke titik terendah sambil langsung menggandeng tangan halus milik Hinata. Mereka berdua melakukan sesuai arahan dari Sona. Yaitu bergegas berlari berlainan arah. Jika Sona tadi berlari kearah kiri, Kini mereka berdua berlari kearah kanan. Kiba berlari dengan masih menggenggam erat tangan Hinata. Gadis berponi itu pun hanya terlihat seperti tengah ditarik paksa oleh Kiba.

"Jangan lepaskan genggamanku, Hinata."

Mereka berdua berlari secepat yang mereka bisa di atas jalan trotoar Kota yang telah luluh lantak ini. Terus berlari kecang hingga sampai di perempatan lampu lalu lintas yang telah mati di sana. Masih dalam genggamannya, Kiba terus menarik tangan Hinata untuk berbelok ke kanan lagi saat sampai di perempatan jalanan Konoha ini.

Mendengar ada suara derap langkah lain di belakang, Salah satu dari anjing-anjing yang mengejar Sona berhenti berlari. Anjing itu berbalik kebelakang, Melihat siluet Kiba dan Hinata yang berbelok di perempatan jalan di sana.

.

.

.

Lagi-lagi kehabisan nafas karena ketegangan yang melanda kini harus kembali Kiba dan Hinata rasakan. Tangan Kiba bersandar lelah ke sebuah rak barang-barang di antara deretan rak di dalam sebuah Minimarket. Sedangkan Hinata harus membungkuk bersandar pada lututnya sendiri untuk mengambil nafas dalam-dalam yang sesaat tadi telah habis terkuras.

Kini mereka berdua telah berhasil sampai di tempat tujuan awal mereka untuk mencari persediaan makanan. Tempat di mana mereka dapat temukan banyak persediaan makanan instan. Di dalam Minimarket yang gelap redup ini, Mereka berdua hanya di temani oleh cahaya satu lampu yang berkedap-kedip di tengah-tengah. Tempat ini terlihat sangat berantakan. Seolah seperti badai telah masuk dan memporak-porandakan ketempat ini.

"Mungkin ini saatnya kita bergegas untuk mencari..."

Ucap Kiba masih mengambil nafas dalam-dalam.

Kiba memungut satu kantung plastik besar berwarna putih yang berserakan di lantai. Ia mulai memilih beberapa jenis makanan instans yang masih utuh dan dalam keadaan baik. Tangan kanannya memunguti satu per satu makanan kaleng berbagai jenis isian. Sedangkan Hinata yang berada di dekat Kiba mencoba melihat-lihat tempat yang saat ini sedikit tampak menyeramkan. Benar-benar sangat berantakan. Berbagai macam bungkus Snack dan botol air mineral tergeletak begitu saja di lantai yang telah menjadi kusam berdebu di sini.

Saat Kiba melirik rak berisi buah-buahan yang ada di dekatnya, Tangannya seperti akan memungut bahan makanan itu. Namun gerak tangan Kiba berhenti begitu saja saat Hinata menyahut cepat tangan tersebut.

"Kupikir sebaiknya kita tidak mengambil sesuatu yang tidak tertutup dengan rapat, Kiba.."

Ucapnya sambil menghentikan tangan Kiba yang akan memungut sebuah apel merah yang terlihat masih utuh dan segar.

"Uh..? Memangnya kenapa, Hinata..?"

Tanya Kiba.

"Bukankah kita harus cepat mengambil sebanyak mungkin persediaan makanan yang bisa kita bawa?"

Lanjut pemuda berambut hitam itu lagi.

"Buah-buah yang tanpa pembungkus ini... Mungkin saja telah tercemari oleh virus itu. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi jika kita memakannya nanti. Jadi, Lebih baik..."

"..."

"...?"

"Ada apa, Hinata..?"

Tanya Kiba saat melihat reaksi aneh Hinata yang entah kenapa tiba-tiba menengok kearah pintu masuk.

"Sepertinya akan ada yang datang..."

Jawab Hinata nampak gelisah.

"Huh? Siapa..? Siapa yang akan datang? Apa itu Sona...?."

Kiba kembali menanyai Hinata.

"...Bukan. Kita harus bergegas sembunyi!"

Kata gadis tersebut yang langsung menarik tangan Kiba tanpa alasan yang jelas.

Hinata berlari menyeret Kiba di belakangnya menuju ke salah satu rak paling ujung yang masih berdiri tegak. Tanpa menghiraukan langkah kaki mereka yang tidak sengaja menginjak dan menendang kaleng-kaleng yang berhamburan di lantai. Kantung plastik berisi penuh kaleng-kaleng makanan instan dan Snack yang Chouji pesan saat lalu kini jatuh berserakan di lantai. Membuat suara gaduh di dalam Minimarket ini.

"Ada apa... Hinata?"

Tanya Kiba sekali lagi kebingungan saat mereka berdua duduk bersembunyi di balik rak tersebut.

"Sssttt..."

Hinata memberitahu Kiba agar diam tidak bersuara. Melihat kekhawatiran Hinata, Membuat Kiba sesaat untuk berpikir tentang apa yang Hinata takutkan.

'Jika bukan Sona yang mendekat... Mungkinkah...'

Sejenak berpikir, Akhirnya Kiba mengerti tentang kekhawatiran Hinata. Melalui sisi rak Minimarket tempat ia bersembunyi, Kiba mengintip kearah pintu masuk.

'Ti-Tidak mungkin... Sial...! Kenapa harus di saat-saat seperti ini...?!'

Umpatnya dalam hati ketika melihat seekor anjing buas yang telas terinfeksi parah berlari masuk kedalam Minimarket ini. Berkat suara gaduh yang Kiba dan Hinata buat tadi, Anjing itu langsung bisa temukan tempat di mana mereka berada sekarang.

Anjing itu menggeram ganas. Berjalan kesana dan kemari mencari keberadaan manusia yang belum terinfeksi. Cakarnya menyabet rak-rak yang ada di dekatnya tanpa ragu untuk menemukan mangsanya.

'Kusoo...'

Kiba mengumpat kembali dalam hati dan langsung menyembunyikan kepalanya yang menyembul keluar dari sisi rak di belakang punggungnya. Namun saat ia menarik kembali kepalanya untuk bersembunyi, Sebungkus Snack di atas rak terjatuh kearah lantai.

'Celaka...!'

Tangan kiri Kiba dengan sigap menangkapnya sebelum berhasil jatuh membentur lantai yang pasti akan menimbulkan masalah besar. Akan tetapi, Bungkus plastik tetaplah bungkus plastik. Benda yang berhasil Kiba tangkap itu bergemerisik saat memegangnya. Hinata dibuat cukup terkejut oleh suara itu. Tapi ekspresi yang terlihat lebih parah nampak pada raut wajah Kiba.

Anjing yang tengah menilik meja kasir di sana menoleh. Mendengar ada sesuatu yang bersuara di rak paling ujung di sana. Membuatnya bergegas turun dari meja kasir tersebut.

Peluh menetes melalui pelipis. Kiba masih memelototi bungkus makanan ringan tersebut dengan raut terkejut tanpa tahu apa yang harus ia lakukan kepada sebungkus Snack itu. Lampu di tengah-tengah Minimarket ini tetal berkedip-kedip. Sedikit menerangi tempat gelap ini dengan cahaya redupnya.

Degup jantung milik Kiba begitu terasa. Dari dalam dada itu, Jantungnya terus berdetak cepat, Saat gendang telinganya mendengar suara langkah-langkah anjing itu yang semakin mendekat kearah mereka berdua. Gigi Kiba saling mengatup bergetar. Sudut matanya melirik ke sumber suara langkah-langkah itu. Pikirannya kalut sangat tidak karuan.

'K-Kusoo... Apa yang harus aku lakukan sekarang...'

Tanyanya dalam hati masih mendengar derap suara langkah itu yang makin lama terasa semakin mendekat saja. Ia melirik kembali kedua tangannya.

'Apa... Apa yang bisa kulakukan sekarang... Apa... Berpikir... Berpikirlah, Kiba!'

'Sona tidak ada di sini saat ini... Lalu apa yang bisa kulakukan dengan tangan ini...?'

'Itu tidak mungkin... Hanya dengan satu gigitan kecil saja... Segalanya akan berakhir bagiku... Tapi...'

Begitu kalut dengan pemikirannya sendiri, Kiba menoleh kearah Hinata. Seorang gadis yang ia harus lindungi demi sebuah janji. Walau harus bagaimana pun, Ia tidak boleh lupakan janji itu. Ia harus lindungi Hinata. Walau dengan tangannya sendiri, Ia harus lindungi gadis yang begitu ia sukai.

Di balik ketegangan yang melanda, Keberanian Kiba sedikit demi sedikit mulai kembali karena sebuah janji itu. Ia tidak ingin Hinata kembali terluka untuk yang kedua kalinya. Jika harus ada yang terluka saat ini, Biarlah dirinya yang menerima luka itu dan terluka demi gadis yang ia sayangi. Kiba melirik sebuah bungkus makanan ringan di tangan kirinya.

'Saat anjing itu menyerang... Aku bisa gunakan ini untuk menyumpal rahangnya. Setelah itu pikirkan saja nanti... Aku yakin aku bisa...!'

Sudut mata Kiba kembali melirik sisi rak yang ada di belakang punggungnya. Coba menunggu munculnya sosok anjing itu.

Deg-Deg... Deg-Deg... Deg-Deg... Deg-Deg... Deg-Deg...

Degup jantungnya serasa semakin mendebar kala indra pendengarannya menangkap derap langkah yang semakin mendekat. Keringat dingin mengaliri melalui sisi wajahnya. Turun mengalir membasahi leher jenjangnya. Nafas Kiba mulai tidak beraturan ketika menyadari bahwa ia harus berhadapan langsung dengan makhluk ini.

Hanya tinggal beberapa langkah lagi, Anjing sampai di rak tempat di mana Hinata dan Kiba bersembunyi. Rahang Kiba menegang. Menanti munculnya sosok makhluk itu.

'Sekarang...!'

Dengan gerakan cepat Kiba bergerak dan keluar dari tempatnya bersembunyi. Dengan tekad yang begitu nekat ia coba menerjang langsung makhluk yang mungkin bukan tandingannya tersebut. Dan jelas saja...

Jleebb...

Kiba terpaku...

Seluruh tubuhnya diam berhenti bergerak...

Tumpahan darah berjatuhan. Warna merah seakan mengotori lantai putih Minimarket ini.

Hinata bergegas berdiri untuk melihat apa yang terjadi saat tiba-tiba Kiba memilih untuk menyerang secara langsung. Melihat apa yang ada di depannya, Gadis itu pun juga terpaku diam.

"Coba menggunakan sebungkus makanan ringan untuk menyerang... Aku tidak menyangka kau sebodoh itu..."

Ucap seseorang di depan Kiba.

"S-Sona...?"

Hinata cukup terkejut dengan kehadiran Sona. Sebuah belati milik polisi yang berada di tangan Sona menusuk dalam kepala anjing itu. Sona merangkul kuat leher anjing tersebut agar tidak banyak bergerak, Bersama dengan sebilah belati yang terus ia tancapkan ke kepalanya. Tubuh anjing tersebut hanya bisa terkejang-kejang sebelum akhirnya mati tergeletak tak bernyawa.

Kiba nampak tidak berkutik sedikitpun. Tiba-tiba tanpa diduga Sona datang menancapkan sebilah belati di kepala makhluk itu untuk selamatkan mereka berdua. Kiba benar-benar tidak bisa menduganya sedikit pun. Sebenarnya... Siapa gadis ini...?

Secara tanpa sadar, Sebuah pertanyaan terlintas di pikirannya melihat Sona yang kini mulai menegakkan tubuhnya.

"Kita harus kembali ke kapal sekarang. Mereka telah temukan keberadaan kita. Ayo, Cepat!"

Perintah Sona sambil berbalik dan langsung berlari.

"Ayo, Kiba..."

Ajak Hinata kembali menarik tangan kanan pemuda itu. Lekas terseret, Kiba menyempatkan untuk meraih beberapa kaleng makanan instan di rak terdekatnya.

Benar saja...

Saat mereka bertiga keluar dari Minimarket tersebut, Rombongan Zombie muncul dan berlari mengejar kearah mereka bertiga.

Sona, Kiba, Dan Hinata kembali berlari dikejar puluhan mayat hidup ganas di bawah langit malam penuh bintang. Sejenak Hinata tidak memperdulikan bagaimana cara Sona untuk lolos dari anjing-anjing ganas yang mengejarnya saat lalu. Yang terpenting sekarang adalah, Menuju ke kapal di mana Chouji tengah menunggu di sana.

Mereka bertiga terus berlari secepat mungkin lurus kedepan melalui samping jalan trotoar. Mencoba sekeras mungkin menghindari puluhan Zombie kelaparan yang kini mengejar mereka dengan ganas. Sementara makhluk-makhluk di belakang mereka terus saja mengejar tanpa henti. Mengikuti langkah-langkah panjang Sona, Kiba, Dan Hinata di sela-sela kendaraan rusak di tengah jalanan Konoha.

Hampir sampai di perempatan blok yang mereka lalui saat berpisah jalan, Secara tidak sengaja Sona, Kiba dan Hinata melihat kehadiran Sasuke, Sakura dan Anko-sensei yang juga berlari kearah yang sama dengan mereka. Dan juga hal yang kini tidak terlalu memgejutkan lagi adalah, Tim mereka sama-sama tengah dikejar oleh para mayat-mayat hidup yang berlarian di tengah Kota.

"Itu mereka!"

Kata Hinata yang masih terus menggerakkan langkah kakinya cepat ketika melihat tim Sasuke di seberang perempatan sana. Kini mereka berenam sama-sama berbelok di perempatan tersebut, Dan berusaha menuju ke dermaga selatan Kota ini secepat yang mereka bisa.

'Tidak akan sempat. Chouji tidak akan sempat menyalakan mesin kapalnya tepat waktu jika makhluk-makhluk ini terus mengejar tepat di belakang kami...'

Sona mulai memikirkan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi kepada seluruh rekannya nanti jika saja kondisinya tetap seperti ini. Ia harus lakukan sesuatu, Sebelum semuanya terlambat.

"Bisa berikan tongkat besi itu, Sensei?!"

Tanya Sona kepada Anko ketika mereka semua saling berpapasan dan berlari berdampingan.

"Apa yang akan kau rencanakan, Sona?"

Tanya Anko tidak yakin di sela larinya di samping Sona.

"Chouji tidak akan sempat untuk nyalakan kapalnya jika makhluk-makhluk yang mengejar kita sedekat ini.."

Jawab Sona kemudian.

Kedua alis Anko mengerut mendengarnya. Alasan Sona memang masuk akan. Tapi sebenarnya apa yang sedang Sona rencanakan dengan tongkat besi temuannya ini?. Namun Anko tetap memilih untuk percaya kepada salah satu murid terpintar itu. Walau dengan beban Anko tetap memberikan tongkat tersebut kepada Sona.

"Sasuke, Aku butuh bantuanmu."

Pemuda yang berlari di sampingnya melirik. Arah matanya menoleh kearah Sona.

"Apa pun yang terjadi, Tinggalkan tempat ini tanpa diriku. Aku telah memikirkannya... Mungkin pulau Gunkanjima adalah pilihan yang tepat saat ini. Pastikan kau membawa mereka bersamamu, Sasuke."

Bisik Sona kepadanya. Dalam samar Sasuke dapat menyadari ada satu keganjilan. Pergi dari tempat ini dirinya, Sebenarnya apa yang sedang ia rencanakan?.

'...?!'

Sasuke begitu terkejut ketika menyadari sesuatu... Tidak...

Sasuke menyadari semuanya...

Kini ia mengerti apa yang tengah Sona rencanakan dalam situasi seperti ini. Alasan mengapa Sona memilih dirinya, Adalah karena hanya Sasuke yang mampu memimpin regu ini. Sona menyadari bahwa, Setidaknya... Sasuke bisa menggantikan Naruto yang kini tidak ada di antara mereka. Jika bukan Naruto, Sasuke mungkin mampu membuat yang lain mendengar kata-katanya, Untuk lekas pergi dari sini tanpa Sona.

'Chi-Kusoo... Bukankah kau sendiri yang terlalu banyak membuang kata..'

Ungkap kesal Sasuke dalam hati membalas perkataan Sona saat di awal dermaga yang lalu.

"Jangan mencoba untuk jadi seperti dia. Tapi... Lakukan saja sesukamu."

Ucap pelan Sasuke kepada Sona. Tentu siapa lagi yang Sasuke maksud jika bukan pemuda nekat dengan rembut kuningnya.

Hanya dibalas senyuman kecil percaya diri dari gadis berkacamata tersebut. Sona lega mendengar perkataan Sasuke. Lebih tepatnya, Mereka yang dulu selalu bersilang pendapat, Kini selaras karena sebuah ikatan yang telah Naruto percayakan. Sona tersenyum bahwa, Semua... Semua yang Naruto katakan pada waktu itu kini benar. Kata-kata yang Naruto ucapkan padanya saat mereka berdua terpisah dari yang lain ketika Konoha berubah menjadi Kota kematian yang sangat mengerikan. Berdua menunggu detik waktu yang bergulir di sebuah butik kusam.

'Sasuke memang orang yang sangat terpaku pada logika. Dan sejauh yang kulihat... Kalian berdua selalu saja bersilangan tentang pendapat masing-masing, Ya kan...?. Kalian selalu, Dan selalu bertentangan satu sama lain seolah tidak ada seorangpun yang mau mengalah tentang pendapat siapa yang terbaik.'

'Namun... Entah kenapa aku rasa itu adalah warna dari kalian berdua di antara kami.'

'Aku merasa... Tidak... Pasti, Kedua warna yang berbeda itu pasti akan jadi satu warna yang saling terhubung melebihi apapun...'

'Kau akan merasakannya suatu saat nanti. Ikatan yang terhubung antara kalian berdua. Sesuatu yang kusebut sebagai kepercayaan satu sama lain. Pendapat-pendapat kalian tidak akan lagi saling bertentangan lagi...'

'Karena... Semua pendapat itu, Akan saling melengkapi suatu saat nanti.'

Sona mulai berlari menjauh dari kelompoknya.

"Kita lewat gang itu. Semua, Ikuti aku!"

Perintah Sasuke ditengah-tengah regunya. Semuanya cukup terkejut dengan jalur yang Sasuke pilih.

'Bukankah rute itu akan membuat mereka semakin jauh dari dermaga...?'

Pikir Sakura dalam hati. Namun sepertinya tidak ada pilihan lain. Bahkan dalam situasi terdesak seperti ini.

Dengan Arctic Warfare Magnum yang selalu tergenggam erat ditangannya, Sasuke mendahului laju lari Sakura, Kiba, Hinata dan Anko-sensei. Tiba di gang gelap yang Sasuke maksud, Segera ia berbelok arah secara cepat. Tidak ada pilihan lain. Sakura mengikutinya, Begitupun juga dengan yang lain.

Cpraaang!

Suara keras dari kaca mobil yang remuk pacah terdengar jelas dari arah tengah jalanan rusuh Konoha. Dengan pipa besi di tangannya, Sona memecahkan setiap kaca mobil yang di lewatinya. Bukan hanya itu saja. Alas karet sepatu sekolah yang padat di kakinya ia gunakan juga sebagai pengalih perhatian mereka, Para makhluk yang tengah mengejar rekan-rekannya. Sona berlari sambil melompati kap dan atap-atap mobil yang sebagian besar terbuat dari plat dan serat Fiber. Menciptakan suara hentakan keras kala karet sol sepatunya yang cukup padat beradu dengan kap mobil-mobil itu.

Di bawah rembulan yang menyaksikan, Sona berhasil membelokkan perhatian para Zombie ganas yang mengejar teman-temannya dengan suara-suara keras yang ia buat. Namun usahanya bukan hanya sekedar itu saja.

Sambil tetap membuat suara-suara keras dengan pipa besi di tangannya, Sona mengeluarkan ponsel miliknya dari saku celana. Cahaya dari ponselnya terlihat begitu terang bersinar di bawah malam. Karena sorot cahaya juga jadi titik pusat perhatian mata mereka. Sona benar-benar melakukannya tidak dengan setengah-setengah. Ia lakukan segala yang ia bisa. Habis-habisan mengalihkan perhatian makhluk ganas kelaparan yang mengejar terarah kepada dirinya. Mempertaruhkan segalanya agar teman-teman yang berharga baginya dapat selamat dari Kota mati yang kejam ini.

Secara misterius, Di balik desah nafas memburunya, Sedikit senyum tanpa ekspresi terlukis di wajah manisnya.

'Mungkin apa yang Sasuke katakan benar...'

Sona berlari berlainan arah dengan Sasuke, Sakura, Dan yang lain. Satu lompatan terakhir dari kap mobil sedan hitam membawanya menuju ke seberang jalan yang lain. Ujung sepatunya mulai menyentuh trotoar jalanan.

'Mungkin secara tidak kusadari... Aku telah mengikuti caranya untuk berdiri. Mengikuti bagaimana jalan yang Naruto pilih untuk melindungi seluruh teman-teman yang sangat berharga bagi dirinya.'

Belasan, Bahkan puluhan Zombie mengejarnya cepar dari arah belakang. Atap-atap mobil yang terinjak oleh mereka pesok tak beraturan. Begitu ganas mereka berusaha mengejar seorang gadis kecil yang seperti telah mempermainkan mereka. Mereka begitu kelaparan. Tatapan mata busuk yang sangar nan kejam itu tertuju pada satu tujuan.

Yaitu, Sona.

Arti dari gerak tubuh mereka menyiratkan bahwa mereka ingin segera mencengkram gadis itu. Merobek seluruh pakaiannya yang ada. Memangsanya habis-habisan. Dan menggerogoti setiap inchi tubuhnya dengan brutal hingga tidak ada satu jerit teriak kesakitan pun yang tersisa dari tenggorokannya. Para Zombie-Zombie itu benar-benar ingin melumat habis gadis nekat ini.

'Mungkin itu terlihat seperti pilihan yang bodoh pada kondisi hidup dan mati di situasi yang mengerikan ini. Namun walau bagaimanapun juga... Itu adalah pilihan dari dirimu yang sangat kukagumi. Entah mau hidup atau pun mati. Kau akan tetap selalu melindungi semuanya. Seseorang yang sepertimu lah... Yang akan selalu ada tempat di hatiku. Dan takkan kubiarkan terhapus begitu saja satu nama itu... Naruto Namikaze yang kukagumi..!'

Seakan semangat Sona telah ter-Charging kembali hanya dengan mengingat satu nama itu. Dengan pipa besi pendek yang ia bawa, Sona terus berlari tanpa henti. Begitu juga dengan para maya hidup yang tetap memburunya tiada lelah. Sama-sama menerobos gelapnya gang-gang sempit di pinggiran Kota ini.

.

.

.

Sasuke memimpin arah rekan-rekannya. Berkelok-kelok menembus gelapnya gang sempit yang mereka lalui. Sakura tahu apa yang Sasuke pikirkan. Mengambil jalan memutar dan memamfaatkan sempitnya gang ini membuat kesulitan tersendiri bagi para mayat hidup yang tidak memiliki fokus pengelihatan yang baik saat di tengah kegelapan. Namun ada satu hal yang terlintas di benak Sakura. Sesaat tadi mereka tengah dikejar oleh puluhan Zombie haus darah tepat di belakang mereka. Tapi Sasuke memilih lika-liku gang sempit ini untuk memperlebar jarak antara mereka dan para Zombie-Zombie itu.

Sakura melihat kebelakang. Tidak ada satupun lagi yang mengejar. Akan tetapi justru inilah yang ia bingungkan. Rencana ini tidak akan berhasil tanpa adanya umpan untuk menarik perhatian para mayat hidup itu kearah lain. Dan terlebih... Sasuke terlihat melakukan ini seperti telah ada yang menjadi umpan...

'...?!'

Manik hijau Emerald gadis berambut merah jambu itu tiba-tiba melebar seketika.

'...Umpan?.'

Gumamnya sendiri dalam hati. Seperti seolah ada sesuatu yang sangat mengganjal di sini. Dengan cepat Sakura menoleh kembali kearah belakang. Yang terlihat hanyalah Anko-sensei, Kiba, Dan Hinata. Saat menyadari hal itu, Langkah larinya mulai melemah. Sakura terselip oleh yang lain. Langkah-langkah itu mulai memelan. Hingga saat Sakura benar-benar berhenti di pertengahan rute mereka. Hinata yang sempat menoleh melihat gelagat Sakura juga menghentikan laju larinya. Yang justru membuat Anko, Kiba, Termasuk Sasuke yang paling depan juga ikut berhenti berlari.

"Sakura...?"

Panggil Anko-sensei melihat aneh Sakura yang tiba-tiba saja berhenti untuk berlari.

"...Sona."

Gumam gadis itu pelan menghadap kearah belakang. Mencari keberadaan salah satu temannya yang selalu memakai kacamata. Sakura menoleh kearah teman-temannya. Tatapan yang begitu mencemaskan. Raut wajah yang terlihat seperti orang yang kembali kehilangan keluarga untuk yang kedua kalinya. Manik sehijau Emerald itu bergetar menatap satu per satu wajah mereka.

"Di mana Sona..."

Tiba-tiba setitik air mata jatuh tanpa ia sendiri sadari. Sakura bertanya, Sambil menangis. Melalui pertanyaan itu, Membuat Kiba dan Hinata tersadar akan satu hal mengejutkan. Sona tidak lagi berada di antara mereka lagi saat ini.

Ekspresi terkejut langsung datang dari raut wajah Kiba dan Hinata. Mereka benar-benar baru menyadarinya sekarang. Saking terkejutnya, Kiba dan Hinata tidak mampu berkata-kata.

Drep... Drep... Drep... Drep...

Suara langkah sepatu mendekat kearah Sakura. Tiba-tiba sebuah tangan memegang lengannya.

"Tidak ada waktu lagi, Sakura. Kita bisa bahas ini nanti. Ayo, Kita harus kembali kepada Chouji sebelum semuanya terlambat."

Ucap Sasuke, Yang saat ini coba menarik pelan lengan Sakura untuk segera bergerak kembali. Akan tetapi Sakura tetap diam tidak bergidik.

"Aku sempat melihatnya sekilas... Apa yang sebenarnya kau bicarakan dengannya tadi... Sasuke-kun?."

Tanya gadis itu kepada kekasihnya. Karena ia sempat melihat Sasuke dan Sona berlari sejajar sambil membicarakan sesuatu secara samar. Apa yang sebenarnya mereka bicarakan. Apa mungkin, Mereka membicarakan tentang umpan untuk mengalihkan perhatian Zombie-Zombie tersebut?.

Sakura harus memastikannya sendiri. Ia harus memaksa Sasuke untuk ceritakan semuanya sekarang juga.

"...?!"

Sasuke menarik lengan Sakura dengan kasar. Membuat gadis itu tertarik kebelakang tubuhnya. Sedangkan satu tangan kanannya menegakkan senapan Sniper miliknya sejajar dengan bahunya. Hanya dengan satu tangan Sasuke membidik seorang pria berwajah rusak yang berlari ganas menuju mereka.

jDaaarrr...!

Pucuk senjata Sasuke terangkat keatas akibat Recoil tembakan berlebih dari senjatanya. Sebuah peluru melesat tajam mengarah ketubuh pria itu hingga terpental jatuh kebelakang. Sasuke menembaknya tanpa ampun dan ragu sama sekali.

'Sudah kuduga... Ada beberapa dari sebagian mereka yang tetap mengejar kami. Tapi... Setelah suara dari tembakan ini... Mereka pasti akan temukan lokasi kami segera. Aku harus ambil tindakan sebelum rencana gadis itu sia-sia...'

Pikirnya dalam hati.

"Aku bersumpah akan ceritakan semuanya kepadamu, Sakura. Tapi bukan di sini. Kita harus kembali ke kapal terlebih dahulu

Ajak Sasuke sambil menarik Sakura untuk ikut bersamanya. Derap suara langkah dan geraman-geraman terdengar dari tikungan Zombie tadi muncul. Sasuke dan Sakura mulai berlari kembali. Sedangkan Kiba, Anko dan Hinata menyusul dari belakang.

Nafas-nafas memburu terdengar jelas. Mereka berlari secepat yang mereka bisa. Berusaha untuk sampai ke kapal sebelum makhluk-makhluk kelaparan itu menyusul. Jumlah sisa amunisi yang Sasuke miliki sangatlah tipis. 3 butir peluru Remington 7mm aktif masih tersisa di dalam rumah peluru senapannya. Sedangkan di saku celananya saat ini hanya menyimpan 5 selongsong peluru tambahan yang tersisa. Mau tidak mau Sasuke harus benar-benar menggunakan sisa jumlah peluru yang ia miliki secermat mungkin. Asal menembak di waktu yang tidak tepat bisa jadi Boomerang tersendiri untuknya.

Sesuatu yang juga perlu dipikirkannya, Anko-sensei benar-benar akan sangat membantu jika dia tengah menggenggam sesuatu untuk dia jadikan senjata. Apapun yang ia genggam, Anko-sensei sangat berbakat membuatnya menjadi sesuatu yang berguna.

Alis Sasuke mengerut memikirkannya. Saat ini sepertinya bukan saat-saat yang menguntungkan. 'Jika saja Anko-sensei dan Sakura memegang sesuatu saat ini...' Begitu pikirnya dalam hati.

Sambil terus menggandeng Sakura, Sasuke melewati belokan gang yang terakhir. Membuat pasangan ini akhirnya kembali bermandikan cahaya rembulan setelah berhasil keluar dari celah gang tersebut. Kiba yang kini juga menggandeng tangan Hinata juga berhasil menyusul Sasuke dan Sakura. Tak lama Anko juga berhasil menyusul keempat muridnya. Akan tetapi meski mereka berlima berhasil keluar dari celah gang itu, Nyawa mereka belum sepenuhnya aman selama telapak kaki mereka masih menapak di Kota kematian ini.

"Choujii...!"

Kiba berteriak memanggil nama satu kawannya yang masih setia menunggu mereka berenam... Atau mungkin sekarang lebih tepat jika disebut hanya berlima.

"Aku tahu!"

Jawab Chouji sambil mencoba menyalakan mesin kapalnya.

"Ghhh!"

Satu per satu Zombie muncul keluar dari gang yang baru saja mereka lalui dan kembali mengejar dengan sangat ganas.

Mungkin pemikiran Sona tepat kali ini. Berulang kali Chouji memutar-mutar kunci kontak kapalnya ke penunjuk ON-OFF. Namun mesinnya seakan-akan tidak mau menyala. Kedua alis Chouji menyudut melihat bahwa mesin kapal ini tidak kunjung menyala. Sedangkan Sasuke, Sakura, Kiba, Hinata dan Anko-sensei telah dekat menuju kearahnya bersama beberapa Zombie kelaparan haus darah yang mengejar di belakang.

Bukan hanya Chouji, Tapi kedua alis Sasuke juga menyudut tajam. Ia melihat Chouji masih berusaha menghidupkan mesin kapalnya yang tak kunjung . Sedangkan ketika pemuda ini melirik kebelakang, Para mayat hidup itu terlihat semakin dekat di belakang. Manik matanya yang sehitam batu obsidian itu menangkap sesuatu, Bahwa Hinata telah mencapai batasnya. Keringat dingin disertai wajah putihnya yang semakin pucat. Belum lagi caranya bernafas yang tak beraturan bersama arah pandangannya yang selalu menyusur tanah. Semakin lama langkah lari Hinata semakin pelan. Membuat Kiba yang menggandengnya mau tidak mau harus menyamakan langkahnya agar Hinata tidak terseret jatuh.

'Ini gawat...'

Katanya gelisa dalam hati, Melihat laju lari Hinata dan Kiba tidak lebih cepat dari para Zombie yang semakin mendekat. Ia harus melakukan sesuatu sekarang sebelum semuanya terlambat.

"Apapun yang terjadi tetaplah berlari Sakura.."

"Huh..?"

Sakura sempat dibuat bingung ketika Sasuke melepas genggamannya.

"A-Apa...?"

"Jangan menungguku, Cepatlah berlari Sakura!"

Sahut Sasuke memelankan laju larinya dan tertinggal oleh Sakura di depannya. Sakura tidak begitu mengerti, Tapi meski dengan ragu ia tetap menuruti kata-kata Sasuke untuk tetap berlari kearah kapal.

Dentuman-dentuman dan decit kayu dermaga terdengar jelas tiap kali kaki-kaki berlari menginjaknya keras. Angin laut berhembus sedikit kencang. Membuat sisi rambut Sasuke yang panjang menari ditiupnya. Pemuda itu berhenti dan langsung berbalik kebelakang.

"Kiba! Hinata!"

Teriak Anko saat berhenti tepat di samping Sasuke memanggil nama kedua muridnya yang tertinggal cukup jauh di belakang. Sementara beberapa Zombie yang dengan ganas menuju kearah mereka berdua makin mendekat. Tentu Anko sangat khawatir saat ini.

"Kembalilah ke kapal. Biar aku yang atasi di sini, Sensei."

Ucap Sasuke untuk yang kesekian kalinya mensejajarkan senapan miliknya sejajar dengan pundak. Ia mulai siap dalam posisi membidik. Mungkin Anko sangat khawatir, Namun setidaknya ia harus percaya kepada Uchiha muda ini.

"Kuserahkan padamu.."

Jawab Anko singkat dan lekas berbalik untuk kembali berlari kearah Chouji dan Sakura di kapal.

Sasuke memfokuskan matanya untuk berkonsentrasi membidik. Mayat-mayat hidup hampir mendapatkan Hinata dan Kiba yang kelelahan. Sasuke terus berkonsentrasi dalam bidikannya. Namun harus ia akui deru nafasnya sendiri benar-benar sangat mengganggu. Karena nafasnya sendiripun masih tersenggal-senggal sehabis berlarian sampai sejauh ini. Belum lagi hembusan angin laut yang berhembus menabrak siku, lengan, pergelangan dan senjatanya membuat bidikannya tidak bisa diam.

'Ciih...!'

Sasuke mendecih kasar dalam hati menyadari bahwa membidik untuknya saat ini benar-benar begitu sulit. Salah perhitungan sedikit saja, Antara nyawa Hinata atau Kiba benar-benar akan melayang terhujam laju pelurunya.

"Maaf Hinata..!"

Ucap Kiba sambil menarik lengan Hinata kedepan dengan kasar.

Hinata yang terkejut hampir teperosok jatuh. Sebuah tangan mencengkram kasar pundak dan baju Kiba dari belakang. Kiba coba untuk menjadi tameng bagi Hinata. Entah apa yang bisa dia lakukan setelah ini. Ia sama sekali tidak mengerti.

"Grwaahhk!"

Satu Zombie menarik Kiba dengan ganas. Gigi-gigi itu siap menancap di pundaknya. Siap untuk mengoyak daging bahunya sekasar mungkin. Mata Kiba melebar melirik akhir yang seperti ini.

"Kibaa...!"

Seru Hinata yang terlengkup di atas lantai kayu berdecit dermaga ini. Melihat Zombie itu benar-benar mencengkram Kiba tanpa ampun. Beberapa kaleng makanan yang ia rangkul di tangan kirinya berjatuhan akibat tarikan itu. Namun sedetik kemudian...

jDaaarr...!

Satu peluru berputar statis merobek lintasan udara. Melesat tajam tanpa keraguan. Melintas tipis di samping pipi Kiba. Dan menghujam tepat di kepala Zombie tersebut. Kiba lekas menyeimbangkan tubuhnya yang oleng kebelakang. Ia bergegas berlari kembali memamfaatkan terhempasnya Zombie itu akibat lesatan tembakan Sasuke. Kedua tangannya menarik tubuh Hinata dan membantunya berdiri. Mereka berdua mulai berlari kembali, Menuju kearah Sasuke.

Cekrelk...

Sasuke menarik tuas kecil di samping Frame Body senapan miliknya. Satu selongsong kosong yang panas keluar bebas setelahnya. Bersamaan dengan lewatnya Kiba dan Hinata di sampingnya, Sasuke mulai bersiap untuk membidik kembali.

Entah sudah keberapa kalinya Chouji memutar kunci kontak kapal ini. Namun tidak ada satupun dari usahanya yang kunjung berhasil. Bau gosong tercium dari Motor Starter di bawah lantai kapal ini. Chouji terlalu memaksakan mesin ini untuk menyala, Membuat temperatur Motor Starternya naik drastis akibat bergesekan terus menerus.

"Ayolah-Ayolah-Ayolaaahh...!"

Chouji begitu kesal dibuatnya. Keringat menetes deras walau sedari tadi ia hanya berdiri di depan Deck kemudi. Perasaan ini, Ketegangan yang memburu. Jantungnya terus terpacu di tiap dentakkan langkah Zombie-Zombie yang semakin mendekat. Chouji benar-benar menanggung beban ini sendirian. Bagaimanapun mesin kapal ini harus bisa menyala sebelum mereka menghabisi nyawa semua temannya di sini.

Delapan mayat hidup kelaparan berlari kearah Sasuke. Menjadikan pemuda itu sebagai sasaran mereka. Akan tetapi bukan Sasuke jika dirinya hanya diam mematung. Jari telunjuknya telah siap menarik pelatuk Sniper miliknya. Hanya tinggal menunggu siapa yang akan jadi target tembakan pilihannya.

'Aku hanya memiliki 2 sisa peluru di dalam slot ini. Mari berpikir bagaimana caranya untuk benar-benar memamfaatkan 2 peluru ini sebaik mungkin demi mengulir waktu untuk Chouji...'

Angin berhembus sepoi. Menerbangkan rambut panjang Sasuke yang terombang-ambing. Ia memfokuskan kerja syaraf otaknya untuk berpikir secara cepat dan telat. Bagaimana cara memamfaatkan 2 sisa peluru yang ia miliki secara efisien.

'Ada delapan yang datang... Bagaimana sebaiknya...?'

Sasuke benar-benar memaksakan otaknya untuk berpikir penuh secara cepat.

'Jika menembak kepala, Semua akan sama saja. Hanya 2 yang akan jatuh. Tidak akan merubah situasi ini...'

'Aku mengerti sekarang... Pada tembakan pertama, Aku hanya perlu mengincar kaki yang paling depan...'

jDaaarrr...!

Sasuke menarik pelatuknya. Satu dari kedua pelurunya melesat cepat, Menghujam tepat di lutut kanan kaki Zombie yang paling depan. Zombie yang tengah berlari di posisi paling depan langsung terperosok jatuh menyusur lantai kayu berdecit dermaga ini dengan begitu kasar. Empat Zombie yang berada di belakangnya ikut terperosok jatuh secara beruntun. Sasuke mengokang lagi senapannya. Membuat satu selongsong kosong yang masih panas keluar bebas dan jatuh membentur permukaan lantai kayu dermaga ini.

'Tembakan kedua... Untuk balok fondasi dermaga ini.'

Bidikan Sasuke yang semula selalu mengarah kearah Zombie-Zombie itu kini berbelok kearah lain. Sasuke memiringkan tubuhnya kekiri. Coba mengintip tonggak kayu fondasi yang menopang dermaga ini. Sasuke mulai meengarahkan bidikannya kearah kayu fondasi yang telah rapuh tepat di bawah Zombie-Zombie yang terperosok jatuh di sana. Sasuke menahan nafasnya sejenak. Konsentrasinya sepenuhnya telah ia arahkan untuk bidikan terakhir ini.

jDaaaarrr...

Pemuda itu melepaskan tembakan terakhirnya. Peluru tersebut melesat tajam, Menghujam tepat mengenai tubuh kayu rapuh yang menjadi sasaran bidikannya. Fire Power senapan Sasuke yang begitu kuat langsung menghancurkan targetnya dengan sekali tembakan. Membuat kayu fondasi yang rapuh itu patah dan hancur. Lantai papan kayu yang ditopangnya roboh seketika. Saat Keempat Zombie di sana akan berdiri kembali, Yang terjadi mereka malah kembali terperosok jatuh ke laut. Rencana yang Sasuke pikirkan benar-benar sukses. Pemuda itu mampu mengeleminasi 4 Zombie sekaligus hanya dengan 2 pelurunya yang tersisa. Namun ini bukan berarti akhir dari teror mereka. Masih ada 4 Zombie lagi yang meloncati lubang papan dermaga itu dan langsung berlari mengarah kepada Sasuke.

"Berhasiil...!

Seru Chouji saat mesin kapalnya akhirnya bisa dinyalakan. Kiba mendorong Body kapal untuk membuatnya menjauh dari dermaga.

"Sasuke-kun...!"

Teriak Sakura yang memanggil nama kekasihnya. Sasuke kembali kejar-kejaran dengan Zombie-Zombie yang mengejar tepat di belakang punggungnya. Chouji mulai menaikkan tuas percepatan kapalnya untuk segera melaju. Kapal mereka mulai bergerak menjauh dari sisi tepi dermaga Konoha. Sakura, Kiba, Anko, Chouji dan Hinata mulai resah dan khawatir. Kapal mulai bergerak semakin menjauh dari dermaga. Sedangkan Sasuke masih berusaha berlari menghampiri. Tangan-tangan mayat hidup itu beberapa kali menarik ujung baju yang Sasuke kenakan. Namun usaha yang Sasuke perjuangkan benar-benar keras. Tidak ada satupun dari mereka yang mampu menarik jatuh Sasuke. Pemuda itu tetap berlari secepat dan sekuat yang ia bisa.

"Sasuke! Kau pasti bisa!"

Teriak Anko kepadanya.

"Ayo, Sasuke-kun...!"

Sakura mengulurkan tangannya sejauh yang ia bisa untuk menjangkau Sasuke yang semakin mendekat. Akan tetapi jarak kapal mereka semakin melebar dari tepian dermaga. Satu-satunya cara untuk Sasuke berhasil, Adalah melompat setinggi dan sekencang mungkin memamfaatkan momentum kecepatan laju larinya yang sekarang.

Beban berat senapan laras panjang yang ia bawa begitu membebani pergerakan tubuh dan larinya. Namun itu bukan hal yang berarti jika dibandingkan dengan tekadnya untuk tetap hidup sampai hari esok.

'Aku... Bagaimanapun... Harus berhasil melompatinya!'

Seru Sasuke dalam hati. Satu sentekkan kuat dari kaki kirinya mengantarkan Sasuke melambung di tengah-tengah udara. Ia perjuangkan seluruh tenaganya untuk lompatan ini. Lompatan yang menentukan nasibnya. Zombie-Zombie di belakangnya ikut melompat mengikutinya. Terlihat seakan mereka tidak ingin melepas mangsa mereka begitu saja.

Bruaakkh..!

Ujung kaki Sasuke menyentuh tepian kapan mereka, Namun ia tidak bisa melakukan pendaratan secara sempurna. Membuatnya jatuh membentur lantai kapal begitu keras. Di saat yang lain berpikir bahwa ketegangan ini telah berakhir, Mereka salah. Salah satu Zombie berhasil mengikuti lompatan Sasuke. Semua mata melebar seketika melihat Zombie ganas itu berhasil mendarat di kapal mereka.

"Cih.. Kusoo!"

Zombie itu menyerang Sasuke yang masih terlentang lelah di lantai kapal. Namun Sasuke masih sigap menggunakan senapannya sebagai sebuah perisai. Sasuke berhasil menahan makhluk mengerikan ini dengan senjata miliknya.

Saat makhluk itu akan mulai mencoba menggigit Sasuke, Tangan Anko terlebih dahulu menjambak rambutnya. Sehingga kepala mayat hidup tersebut mendongak secara paksa.

Buaaggh!

Di waktu yang tepat Sakura melempar tangki pemadam dengan keras. Mayat hidup itu terhempas jatuh dari kapal bersamaan dengan tangki pemadam yang telah Sakura lempar p

kearahnya barusan.

"Sasuke-kun..?!"

Panggil Sakura dengan raut khawatirnya.

"Aku tidak apa-apa..."

Jawab Sasuke singkat sambil mengelap keringat yang terkumpul di bawah dagunya.

BLOOOMMM...!

Sebuah ledakan tiba-tiba muncul di sana. Dan ledakan itu terjadi begitu saja. Ledakan yang tidak begitu menggelegar, Namun api membumbung begitu tinggi melingkup di udara. Malam itu, Permukaan lautan gelap seolah memantulkan sorot cahaya api besar tersebut. Naik dan terus naik, Walau bunyi ledakan telah berhenti bergetar. Hanya tatapan tidak percaya, Yang terlihat di antara mereka. Semua mata seakan dipaksa melebar melihatnya. Bukan tanpa alasan. Terlihat dari jauh pun, Mereka benar-benar tahu bahwa pusat ledakan tersebut tidak jauh dari dermaga Konoha. Atau bisa dibilang, Tidak jauh dari lokasi saat mereka kehilangan kontak dengan Sona Sitri.

Chouji berhasil membawa mereka berlima kembali keluar dari zona kematian itu. Dengan kecepatan sedang kapal lekas membawa mereka semua meninggalkan garis pantai Kota Konoha. Kini sorot seluruh pasang mata tertuju pada satu arah. Yakni... Kota itu. Semua terdiam tanpa ada yang membuka suara. Terlepas dari seberapa rasa lelah mereka, Nampaknya ada satu beban yang sulit untuk di artikan.

"Sasuke-kun..."

Setelah sekian lama ditelan dilema hampa, Untuk yang pertama kali Sakura membuka suaranya pada malam berawan ini. Memanggil seseorang yang duduk termangu tepat di sampingnya. Namun seperti terlihat tak ingin merespon, Sasuke tetap diam tak menanggapi. Benar-benar ada suatu beban yang terisi di kepalanya. Walau saat itu Sasuke tidak menanggapi sekalipun, Sakura tetap ingin menanyakan satu hal padanya.

"Jika memang kau tahu resiko ini akan terjadi... Kenapa... Kenapa kau tidak hentikan saja... Sasuke-kun."

"Bila aku bisa menghentikannya... Sudah kulakukan sejak tadi, Sakura."

Sasuke menjawab tanpa menolehkan sedikitpun wajahnya. Sorot mata itu tetap tertuju kearah merah oranye menyala di sana. Kobaran yang tak kunjung padam. Tanpa Sasuke bercerita apa yang telah terjadi sebenarnya, Sakura sepertinya telah paham dan mengerti. Sona melakukan itu demi mereka semua. Termasuk demi dirinya. Tanpa apa yang gadis berkacamata itu lakukan, Tidaklah mungkin mereka semua mampu untuk lepas dari jerat Kota haus darah ini. Sesuatu yang mungkin tak patut untuk disesali. Namun ikatan yang telah terjalin dari perjuangan yang sama membuat Sakura sedikit... Tidak bisa menerima ini semua.

"Chi-Kusoo..."

Decih Kiba pelan. Ia melihat satu kaleng makanan instan yang berhasil ia bawa sampai kemari. Hanya satu.

"Ini... Ini memuakkan..."

Ucapnya dengan nada rendah, Namun begitu tertekan caranya untuk mengucapkan setiap kata yang keluar dari dalam hatinya. Kiba terus melihat ke kaleng yang ia genggam erat. Alisnya menyudut tajam. Kedua kelopak matanya bergetar. Rahangnya kaku mengatup. Gigi-giginya bergemelatuk. Rasa yang benar-benar menyakitkan untuk dirasakan.

"Untuk apa... Untuk apa aku mendapatkan sekaleng makanan brengsek ini jika pada akhirnya aku kehilangan lagi satu temanku... Untuk apa... Untuk apa..."

Genggaman tangannya bergetar. Kiba begitu erat meremas kaleng itu. Seluruh amarah kesal dan kesedihannya seakan tercampur aduk menjadi satu.

"Chi-Kuso..."

"..."

"..."

"Chi-Kuso... Chi-Kuso... Chi-Kusoo... Chi-Kusooo!"

Braakkhh!

Penuh lampiasan kesal Kiba membanting kaleng itu keras ke lantai kapal. Membuat sisi kaleng tersebut pesok setelah menggelinding pelan menyentuh tangan Sasuke yang terduduk. Semua pasang mata kini teralihkan padanya. Memandang apa yang telah Kiba lakukan. Sakura, Hinata, Anko dan Chouji begitu mengerti apa yang tengah Kiba rasakan saat ini. Karena bagaimana pun, Apa yang saat ini Kiba rasakan, Adalah apa yang mereka rasakan juga sekarang. Tapi...

"...?"

Sakura menatap Sasuke dengan pandangan bertanya, Saat pemuda itu kini bangkit berdiri sambil menyodorkan senapan miliknya. Sakura tidak tahu apa yang terjadi. Sasuke seperti seolah sedang menitipkan padanya. Gadis itu hanya menerima dengan perasaan bertanya dan terus menatap kekasihnya itu berjalan perlahan menuju Kiba.

"Bisakah..."

Suara Sasuke begitu pelan, Namun mereka masih bisa mendengarnya. Sasuke terus melangkah mendekat kearah Kiba. Dan tiba-tiba dengan sangat kasar Sasuke memukul wajah Kiba keras menggunakan tangan kirinya.

Buaagghh!

"...?!"

"Sa... Sasuke..."

"Sasuke-kun!"

Seluruh orang di sana sangat-sangat terkejut dengan apa yang Sasuke lakukan. Kecuali Kiba yang diam menunduk. Wajahnya berpaling akibat kerasnya pukulan Sasuke. Darah samar terlihat di sudut bibirnya yang robek. Kiba tertunduk diam tertutupi bayangan rambutnya.

"Bisakah... Sedikit saja... Kau hargai hasil kerja kerasmu sendiri... Brengsek."

Ucap Sasuke menarik kasar kerah baju Kiba. Setiap kata yang pemuda itu ucapkan penuh dengan penekanan. Tangan kirinya yang telah ia gunakan untuk memukul wajah Kiba gemetar lemah.

Seluruh pasang mata melihat kearah mereka dengan ketegangan. Kecuali untuk Sakura. Melihat tangan kiri Sasuke yang bergetar lemah, Membuatnya tersadar. Bahwa Sasuke benar-benar tidak ingin menggunakan kepalan tangan itu untuk memukul temannya sendiri. Sakura melihat ada suatu penyesalan di tiap gerak kecil tangan kiri Sasuke yang gemetar.

"Setidaknya kau lebih baik dari pada aku yang tidak membawa hasil satupun kemari. Jangan biarkan apa yang gadis itu lakukan untuk kita terbuang percuma. Dasar bodoh..."

Ucap Sasuke lagi.

"Melihatnya... Dan mendengarnya mengatakan itu padaku... Mengatakan bahwa dia akan jadi umpan untuk kita... Aku merasa... Seperti Naruto yang berlari di sampingku waktu itu."

Semua mata melebar setelah mendengar alasan Sasuke. Tentang mengapa dirinya tak bisa hentikan Sona saat itu. Mendengar sebuah nama yang pemuda itu sebutkan, Membuat hati mereka kembali sesak. Sedih seperti larut kembali. Apa yang baru mereka sadari, Satu-satunya orang yang tidak bisa Sasuke hentikan adalah Naruto. Dan mereka semua sadar, Bahwa Sona lah yang paling kuat membawa tekad yang Naruto miliki bersamanya. Tekad untuk melindungi seluruh teman-teman yang begitu berharga baginya. Tekad yang membuat ketegasan Sasuke tak berkutik sama sekali.

"..."

"Terima kasih... Sasuke."

Kata Kiba pelan. Memegang perlahan tangan kanan Sasuke yang mencengkram kerahnya. Kiba melepaskan cengkraman itu pelan. Kini ia telah tersadar. Tidak ada gunanya sesali diri. Tidak ada gunanya salahkan hasil yang dia dapatkan. Tidak peduli seberapa hancur hatinya sekarang. Ia harus terus maju dan saling melindungi satu sama lain.

Sasuke meninggalkan Kiba yang jatuh terduduk bersandar pada dinding kapal. Langkahnya kembali mendekat kepada Sakura. Angin laut berhembus dan menyapu rambutnya. Sakura melirik Sasuke sebentar, Lalu ia tersenyum.

'Kau pasti mengakuinya juga bukan, Sasuke-kun... Bahwa Sona tidaklah selemah yang kita pikirkan. Kita semua akan bertemu dan berkumpul kembali suatu saat nanti... Sebagai satu tim yang utuh... Itu pasti.'

.

.

.

.

"Separate Away"

The Place Of Hope

Chapter 5 : "Terpisah Jauh"

Genre : Adventure, Horror & Gore

Caution! Contains violance & profanity (17th +)

.

.

To Be Continue...