"Mayday! Mayday! Mayda! Air Asia B-551, Kami butuh pertolongan darurat. Bagi Air Traffic Controller mana pun yang mendengar pesan darurat ini, Di mohon untuk segera membalas pesan kami."

"Diulangi, Mayday! Mayday! Mayday!."

"..."

"Shit...!"

Seseorang berseragam pilot berwarna merah membanting Headset ke lantai Cockpit hingga mengeluarkan bunyi benturan yang keras.

"Ini percuma..."

Ucapnya dengan nada putus asa. Tak ada satu balasan apapun di frekuensi radionya. Hanya gemersik suara sinya yang terputus-putus.

"Sepertinya ini akan jadi penerbangan terakhirku..."

Kata lemah seorang Co-Pilot di sebelahnya.

Raut ketegangan terpampang jelas di wajah putus asa mereka berdua. Di dalam Deck sebuah pesawat besar ini, Bunyi-bunyian notifikasi dari lampu-lampu dan sensor pesawat bermunculan di mana-mana. Terlebih lagi, Yang paling krusial adalah notifikasi sensor dari batas aman tangki penampung bahan bakar untuk tetap terbang. Sensor tersebut berbunyi dan berkedip-kedip menandakan bahwa bahan bakar pesawat mereka telah dan semakin menipis.

"Akhir atau apapun itu, Kita pikirkan saja itu nanti. Yang terpenting adalah menenangkan para penumpang. Sepertinya kepanikan mereka semakin menjadi-jadi."

Ucap Chief-Pilot tersebut mencoba menenangkan diri. Umur yang telah mencapai kepala empat, Beserta jam terbang dari pengalamannya yang telah berkali-kali berhadapan dengan situasi seperti ini. Tugasnya saat ini adalah untuk meredam kepanikan para penumpang pesawatnya. Namun sebelum itu, Tentu ia harus meredam kepanikan di dalam dirinya sendiri.

Jika boleh jujur, Walau dengan banyak berbekal pengalaman, Ini adalah kali pertama ia merasakan tekanan yang begitu besar seperti ini. Setelah mengetahui Dunia ini luluh lantak oleh penyebaran virus misterius yang mematikan dan serangan para mayat hidup yang begitu ganas, Seperti tak ada lagi harapan untuk Dunia ini. Walau terbang sejauh apapun, Semua Bandara penerbangan yang telah ia lewati sudah tidak karuan lagi kondisinya. Para mayat hidup haus akan darah telah meluluhlantakkan tempat-tempat itu. Hingga memaksanya untuk membawa pesawat ini berputar-putar di langit malam. Membuat persediaan bahan bakar pesawat yang ia piloti kini bak tinggal 'Sesendok Teh' saja.

"Ini buruk... Ini benar-benar mimpi buruk..."

Ucap Co-Pilot yang duduk tepat di sampingnya. Sambil menunduk menutup muka, Ia benar-benar sangat tertekan. Pikirannya telah kosong. Tanpa ada satupun nama tempat yang aman bagi dirinya, Rekan-rekannya, Dan juga seluruh penumpang di pesawatnya. Ia benar-benar telah putus asa melihat sisa bahan bakar yang tidak akan mungkin bisa membuat pesawatnya terbang lebih lama lagi.

Akan tetapi, Bahkan saat Chief-Pilot mengetahui bahwa pesawat ini akan benar-benar jatuh beberapa saat lagi, Ia tetap meraih Microphone di sampingnya untuk menenangkan seluruh penumpangnya.

"Kepada... Seluruh penumpang..."

Ia mulai membuka suaranya yang dengan jelas terdengar putus asa itu.

Para penumpang yang sangat gaduh akibat kerisauan, Ketakutan, Dan kekhawatiran mereka sendiri, Mendadak sunyi senyap ketika suara Chief-Pilot tersebut terdengar.

Sesaat suasana menjadi sangat sunyi senyap. Hanya raungan suara mesin pesawat yang terdengar. Semuanya hening... Menunggu apa yang akan dikatakan Chief-Pilot pada mereka. Suasana yang terasa begitu tegang mencekam.

"..."

"Pesawat akan mendarat secara darurat sebentar lagi... Dimohon untuk memakai sabuk kalian semua masing-masing. Kita... Pasti akan selamat... Terimakasih..."

Suara lemah Chief-Pilot tersebut benar-benar terdengar putus asa tanpa ada harapan yang tersisa lagi. Diam... Mereka semua masih diam membisu. Tangan-tangan mereka mulai tergerak lemah menyatukan sabuk mereka di tempat duduk mereka masing-masing. Banyak air mata sunyi dari mereka yang mengalir tumpah. Banyak dari mereka yang memendam kepala mereka dalam-dalam di lekuk kedua telapak tangan mereka. bukan hanya para pilot saja. Mental para penumpang telah luluh lantak untuk masih berharap.

Para pramugari yang juga cemas akan nasibnya di pesawat ini, Memilih untuk membantu memasang sabuk pengaman para penumpang dengan benar. Sesekali sedikit menyuntikkan ketenangan bari para penumpang anak-anak.

"Semua akan berlalu... Kita akan turun bersama dari pesawat ini dengan selamat. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan... Oke..."

Bisik seorang pramugari kepada seorang anak kecil di kursinya sambil membantu memasangkan sabuk pengaman dengan benar.

Sebuah suara yang cukup berisik datang dari arah belakang. Membuat wanita paruh baya itu menengok. Langkah-langkah kakinya mulai menapak. Melewati puluhan penumpang yang duduk di kursi mereka masing-masing.

Sesekali langkahnya oleng karena pesawat beberapa kali bergetar tidak stabil. Sambil terus melangkahkan kedua kakinya menuju ke toilet pesawat, Dapat ia dengar bisik-bisik lantunan doa dari bibir para penumpang yang sangat cemas. Semakin ia berjalan kebelakang pesawat, Semakin jelas kedua matanya menangkap siluet seseorang di sana. Lampu-lampu di langit-langit pesawat beberapa kali berkedip disertai goncangan-goncangan yang meresahkan.

"...?"

Dirinya sempat bertanya-tanya ketika melihat gelagat aneh siluet pria di sana. Berulang kali pria tersebut menabrak dinding di kanan-kirinya karena sempoyongan. Dengan hati resah tanpa ia ketahui sebabnya, Pramugari tersebut berjalan perlahan mendekati punggung pria tadi. Hal terakhir yang ia ketahui, Pria dengan gelagat aneh yang diperhatikannya itu masuk kedalam toilet tanpa menutup pintu. Entah kenapa... Tiap kali langkah kakinya semakin mendekati pintu yang setengah tertutup tersebut, Semakin menjadi rasa yang mengganjal di hati dan pikirannya.

Kegelisahan yang terasa membuatnya ragu untuk mengetuk pintu itu. Entah karena apa suasana hening di geladak pesawat ini semakin jadi mencekam. Tangan kirinya perlahan mengetuk pintu toilet yang setengah terbuka tersebut.

"T...Tuan... Apa anda baik-baik saja...?"

Ucapnya gelisah.

"..."

Tak ada balasan maupun jawaban. Yang terdengar hanya bising suara mesin pesawat dan kedip lampu yang mencekam.

"Tuan...? Ada yang bisa kubantu...?"

Ucapnya sekali lagi sambil mengetuk pelan pintu itu beberapa kali.

"..."

Tetap tidak ada jawaban sama sekali. Namun ada satu suara serak yang terdengar dari dalam ruang tersebut. Dengan perlahan pramugari itu mendorong pintu toilet di hadapannya. Mencoba melihat apa yang ada di balik pintu tersebut.

Kriieeettt...

Pintu terbuka pelan. Tapi baru saja pintu itu terba, Sesuatu tiba-tiba muncul dan benar-benar membuat wanita tersebut sangat terkejut.

"Gwaarrhh!"

Sosok pria yang ternyata telah terinfeksi virus itu menyerangnya cepat tanpa celah di sudut ruang yang sempit.

"Kyaaaaa!"

Seorang penumpang menjerit histeris saat melihat pramugari tersebut kejang-kejang dengan darah bercucuran. Zombie itu dengan sangat ganas menggerogoti bahunya. Seluruh penumpang terkejut tiada tara memperhatikan kejadian mengerikan itu. Mereka ingin lari, Tapi sabuk pengaman masih terpasang di tubuh mereka. Zombie tersebut berhenti saat mendengar ramai teriakan para penumpang.

"Jangan! Jangan dekati aku! Manjauh! Menjauhlaahh!"

Seorang penumpang berteriak penuh ketakkutan, Berusaha melepas sabuk pengaman di kursinya dengan tangan gemetar. Terlambat... Mayat hidup itu mengganas setelah membunuh seorang pramugari.

"Aaaarrgggkkkh..!"

Ia menjerit kesakitan. Darah merahnya membanjiri kemeja putih yang ia kenakan. Mayat hidup tersebut mengoyak-ngoyak tubuhnya dengan ganas.

Suasana yang hening sesaat tadi kini menjadi kacau. Orang-orang berteriak histeris dan berhamburan. Berusaha menjauh dari makhluk mengerikan itu. Saling dorong tak terelakkan lagi. Karena bukan hanya satu Zombie saja yang ada di dalam pesawat ini. Pramugari yang telah mati mengenaskan di sudut toilet, Kini mulai bangkit dari kematiannya. Mata rusaknya menatap liar para penumpang yang berhamburan menyelamatkan diri. Pesawat menjadi oleng dan tak terkendali. Seorang Staff mencoba menghubungi kedua pilot di ruang Cockpit untuk memberitahukan apa yang telah terjadi melalui telepon pesawat.

"Telah terjadi kekacauan di Deck penumpang! Banyak Zombie yang bermunculan di pesawat ini. Mereka menyerang semua-... Aaaaakkhh!"

Suara jerit kesakitan terdengar dan komunikasi mereka terputus begitu saja.

"Apa yang telah terjadi?! Hei..?! Jawab kami..! Kuulangi, Apa yang telah terjadi di sana..?!"

Chief-Pilot berkali-kali bertanya melalui kontrol komunikasi. Namun tidak ada satu jawaban pun yang terdengar.

"Kusoo...! Ini benar-benar kacau...!"

Hentaknya panik.

Dakk-Dakk-Dakk!

Pintu ruang Cockpit pilot di gedor paksa. Membuat mereka berdua terkejut menengok kebelakang. Gedoran keras pintu itu terdengar berulang-ulang. Membuat kedua pilot tersebut terbingujg sejenak. Salah satu dari mereka menekan tombol pemutar CCTV yang merekam sudut luar pintu Cockpit. Dapat mereka berdua lihat enam hingga tujuh orang penumpang tengah menggedor-gedor pintu.

"Cepat buka!"

"Cepat buka pintunyaa..!"

"Tolong kamiii...!

Para penumpang itu terus berteriak meminta tolong dengan masih menggedor-gedor pintu Cockpit pilot. Tidak lama setelahnya, Tiba-tiba dari belakang mereka bertujuh diserang oleh puluhan Mayat-mayat hidup kelaparan dengan ganas. Suara jeritan mereka yang terekam CCTV terdengar begitu mengerikan.

"Kita harus membuka pintunya!"

Kata Chief-Pilot yang langsung berdiri dari kursi kendalinya. Namun sebelum sempat ia beranjak, Rekan di sebelahnya mendadak menghentikannya.

"Percayalah jangan lakukan itu."

Ucapnya memperingatkan.

"Apa yang kau katakan?! Kita harus selamatkan mereka!"

Balas kepala pilot dengan nada tinggi.

"Semua sudah terlambat! Lihatlah..!"

Kata rekannya.

Sang pilot kepala menengok kearah layar monitor yang menampilkan keadaan di luar pintu. Ketujuh penumpang tadi kini telah menjadi rebutan untuk puluhan mayat hidup yang kelaparan. Mereka semua mati mengenaskan tanpa ada satupun yang tersisa. Seluruh dinding pesawat yang putih kini terkotori oleh cipratan-cipratan darah. Benar-benar satu pemandangan yang sangat mengerikan.

"Ini mimpi terburuk sepanjang hidupku..."

Ucap Chief-Pilot putus asa dan kembali terduduk lemah. Seluruh sendi di tubuhnya melemas menyaksikan tragedi mengerikan ini.

Ia memasang sabuk pengaman di kursi kendalinya. Kedua tangan lemasnya mulai menggenggam tuas kemudi pesawat.

"Kita akan lakukan pendaratan keras di Konoha. Semoga ini akan jadi akhir hidupku tanpa berubah menjadi salah satu dari mereka..."

.

.

.

.

"Right From Your Behind"

The Place Of Hope

Chapter 6 : "Tepat Di Belakangmu"

Genre : Adventure, Horror & Gore

Caution! Contains Violance & Profanity (17th +)

.

.

.

"Dengan ini, Aku telah temukan jawabannya."

Ucap Naruto dengan suara pelan. Semua arah pandang mata kini tertuju padanya. Termasuk Sakura.

"Itu berarti..."

Kalimat Sakura menggantung. Memastikan apa yang terbesit dipikarannya apa yang akan Naruto katakan dan lakukan. Walau sebenarnya hatinya sudah benar-benar yakin kalimat seperti apa yang akan terucap.

"Ya... Aku akan kembali kesana. Untuk sekali lagi menginjakkan kaki ke Kota para orang mati."

Kata Naruto benar-benar tanpa keraguan sedikitpun. Apa yang Sakura yakini ternyata benar. Apapun yang terjadi, Naruto pasti akan kembali ke Kota itu demi temukan satu teman mereka yang berharga. Naruto akan pertaruhkan segalanya, Demi Sona.

Setelah mendengar apa yang telah mereka lalui dari Kiba, Tentang bagaimana kronologi yang sesungguhnya terjadi saat Naruto tak bersama mereka, Sakura agak sedikit terkejut melihat perbedaan reaksi yang Naruto berikan. Pemuda itu tidak memperlihatkan raut terkejut dan konyol seperti biasanya. Tak ada kecerobohan yang terlihat melalui sikap tenangnya. Mungkin sekarang waktu yang tepat bagi Sakura untuk meragu dengan siapa sebenarnya pemuda berambut kuning di sampingnya ini. Akan tetapi... Saat mendengar kata-kata yang Naruto ucapkan kemudian...

"Aku pasti akan menemukannya. Itu pasti...!"

Sakura terdiam melihat kearah Naruto. Melalui kata-kata itu, Keraguan yang ada di hati Sakura perlahan sirna. Bukan hanya kebodohan, Kecerobohan, Berisik dan sifat keras kepala yang telah membentuk jati diri Naruto selama ini. Hal seperti rasa percaya diri yang tinggi, Optimistis, Dan juga selalu bertindak nekat tanpa memperdulikan dirinya sendiri jika itu untuk seseorang yang berharga baginya juga merupakan bagian yang selalu lekat padanya.

Dan kini, Di tengah hembus angin malam yang berdesir lemah, Sakura meyakini satu hal yang masih jadi keraguannya. Bahwa pemuda berambut kuning di sampingnya ini bukanlah orang lain. Melainkan adalah teman kecil yang sangat dikenalnya. Naruto Namikaze!

"Maaf saja, Bakayaro. Kata yang kau pakai tadi agaknya ada sedikit kesalahan. Bukan kata Aku yang harusnya kau ucapkan. Tapi Kami!"

Sela Sakura kemudian mengoreksi kata-kata yang Naruto ucapkan.

"Sudah kuduga kau akan mengatakan itu... Bocah kuning yang tak lagi berisik."

Sahut Sasuke bersalipan dengan Sakura. Dan menggunakan sedikit ejekan di akhir kalimatnya.

"Aku lelah memalingkan wajah, Membantah, Dan menentang tindakan kalian. Baik Sona, Maupun dirimu. Maka dari itu... Majulah... Bukan hanya aku, Kami semua akan selalu ada tepat di belakangmu apapun yang terjadi, Bocah keras kepala."

Lanjut Sasuke lagi yang sepertinya ingin memulai semuanya kembali lagi dari awal. Yaitu... Berjuang bersama lagi.

Kiba memberikan senyum ejekan, Hinata lemparkan senyum lembutnya, Sedangkan Anko mengedipkan satu matanya. Mereka semua seolah memadukan perasaan menjadi satu dan mengiyakan apa yang dikatakan Sakura dan Sasuke tadi. Bahwa mereka akan tetap ada di dekatnya sebesar apapun dinding yang harus ia hancurkan. Mereka tak akan meninggalkan Naruto lagi seperti saat itu. Ikatan yang terbentuk di antara mereka telah membuat mereka saling berbagi dan memikul beban yang sama.

"Ka... Kalian..."

Kedua manik indah sebiru lautan dalam miliknya terbuka lebar. Naruto terpaku... Kelopak matanya bergetar. Jantungnya serasa ingin hancur meledak. Rasa ini... Naruto sama sekali tak bisa menjelaskannya. Mendengar kata-kata dan perasaan dari seluruh teman-temannya. Hanya setitik embun di sudut pelupuk matanya yang jatuh menetes, Yang mampu menggantikan ribuan kata-kata yang ingin ia katakan untuk mereka.

Melihat Naruto hingga sampai terpaku seperti itu, Sasuke mengulurkan kepalan tinjunya. Sama persis seperti malam itu di Mansion keluarga Uchiha. Naruto melihatnya. Membuatnya teringat pada janji mereka berdua.

Naruto mengusap air matanya. Ia mengepalkan tangan kanannya yang terbalut perban putih itu. Dengan senyum penuh keyakinan, Naruto mengulurkan kepalan tinjunya. Kini untuk yang kedua kalinya, Dua kepalan tinju di antara dua sahabat itu kembali beradu dan bersatu.

"Yosh... Ikuzo..!"

'Dengan semua hal yang telah terjadi. Keresahan, Kesakitan, Keputusasaan, Air mata dan Penderitaan. Membuat mereka berdua menjadi semakin dewasa. Naruto dan Sasuke... Mereka adalah dua pemantik cahaya yang kami punya di tengah gelapnya Dunia yang mengerikan ini. Akankah aku mampu hidup sedikit lebih lama untuk tetap bisa melihat tim ini kembali bangkit. Chouji pergi... Naruto kembali... Semua hal dapat terjadi seiring berjalannya waktu.'

Renung Anko melihat kedua muridnya yang saling menyatukan tinju mereka. Kedua mata Anko lalu tertuju pada satu murid kesayangannya. Tertuju kepada Naruto Namikaze.

'Melihat Dunia yang gelap ini... Tak tersisa lagi satu harapan pun yang ada dalam benakku. Sekarang, Satu hal yang dapat aku lakukan... Adalah berjalan mengikuti jejak kemana kaki pemuda ini melangkah. Dengan tanganku, Aku akan melindunginya... Seperti yang selalu ia lakukan untuk kami.'

Sedikit curahan dari dalam hati guru muda ini yang tak bisa ia katakan pada mereka semua. Masing-masing dari muridnya telah memilik alasan dan jalan sendiri untuk tetap bersama Naruto. Dan kali ini jalan Anko sedikit berbeda. Ia akan jadi bentangan sayap yang akan lindungi seluruh keinginan murid-muridnya. Karena ia merasa, Bahwa sesuatu yang lebih mengerikan akan datang.

Naruto menyimpan senjatanya kembali ke Holster. Semangatnya benar-benar mendidih sekarang. Membuatnya bangkit berdiri lalu berjalan keluar melalui pintu besar yang sedari tadi menyembunyikan keberadaan mereka. Telah empat langkah ia menapak, Lalu tiba-tiba berhenti begitu saja di tengah jalan. Sakura, Sasuke, Kiba, Hinata, Dan Anko terus memperhatikannya. Sejenak Naruto terdiam memunggungi mereka. Mengingat bahwa tidak ada satupun heli yang dapat menjemput dirinya dan seluruh teman-temannya. Tapi tanpa terduga pemuda berkemeja biru dengan rompi tipis itu berbalik cepat dengan memasang wajah yang sangat-sangat konyol.

"Lalu bagaimana cara kita keluar dari sini? Ada yang bisa menjawabnya? Etto... Ada yang bisa..?"

Tanya Naruto dengan wajah tak berdosa.

Seluruh orang yang melihatnya mendadak Sweatdrop bersamaan. Mereka semua terdiam serempak melihat kearah pemuda ini. Sebelah alis Sakura berdenyut. Perempatan seketika muncul di dahinya. Di balik aksi dan kata-katanya yang keren, Entah kenapa kebodohannya tetap saja tidak mau hilang dari pemuda yang menyebalkan ini.

Setelah bersikap sangat tenang penuh kharisma dan membuat Sakura sedikit terkagum, Naruto keluar dari persembunyian dan membuat Zombie-Zombie itu mengetahui keberadaan mereka tanpa ada satupun rencana di otaknya. Bisa-bisanya dia dengan wajah menjijikan itu bertanya kepada mereka tanpa sedikitpun merasa berdosa. Sakura benar-benar telah tertipu menilai kecerobohan dan kebodohan yang diidap Naruto telah hilang.

Bahkan Sasuke sendiri sampai merinding dengan kebodohan tingkat akut sahabatnya itu.

"Bodoooooohhh...!"

BUAAGGHH...!

Tendangan keras alas sepatu Sakura mendarat tepat di tengah-tengah wajah Naruto. Pemuda itu jatuh keras tersungkur ke tanah.

"To-... Tolong, Siapa saja-... Panggilkan ambulans u-untukku-"

Bukan hanya hidungnya yang mimisan, Nyawanya hampir melayang akibat tendangan maut yang sangat mematikan milik Sakura itu.

"Haaahkkkrr...!"

Belasan mayat hidup kelaparan mendesis keras. Keberadaan Sakura, Sasuke dan lainnya telah diketahui. Para Zombie itu mulai pontang-panting berlari kearah mereka dengan sangat ganas.

'Ga-Gawatt...'

Resah Kiba dalam hati melihat jumlah mereka yang datang.

"Cepat lari ke dermaga...!"

Perintah Sasuke dengan suara keras sambil menarik belakang kerah berwarna biru milik sahabat kuningnya. Sasuke mulai menghentakkan keras sepatunya ke tanah. Berlari dengan langkah-langkah panjang sambil menyeret Naruto yang masih tak sadarkan diri setelah menerima tendangan dari kekasihnya.

'Sial... Kau datang bagai seorang pahlawan. Sekarang lihat dirimu sekarang. Terkadang aku merinding melihat kebodohanmu. Tapi aku akan lebih merinding lagi jika melihat Sakura yang sedang marah. Sebaiknya kau ingat itu baik-baik, Naruto.'

Oceh Sasuke di dalam hatinya sambil tetap menyeret Naruto bagai bangkai anjing. Entah kenapa sang Uchiha muda itu tersenyum singkat sambil terus berlari.

"Lebih cepat lagi Hinata! Lebih cepat lagi..!"

Teriak Kiba sambil menggandeng tangan Hinata. Lebih tepat lagi jika disebut tengah menyeret paksa gadis berponi itu.

Sakura dan Anko-sensei berlari di samping kanan-kiri Sasuke. Mereka semua menuju tempat yang Sasuke katakan tadi. Yakni dermaga rusak yang jadi tempat bersandar kapal mereka. Tapi entah kenapa lari Sakura, Anko, Kiba dan Hinata perlahan menyalip Sasuke. Semakin berlari semakin mereka meninggalkan dua pemuda itu. Mungkin karena Sasuke membawa Sniper laras panjang yang berat dan menyeret Naruto di belakangnya. Membuat laju lari Sasuke terbebani.

Zombie-Zombie yang mengejar mereka terlihat semakin dekat saja. Begitu ganas dan buas, Para mayat hidup itu seakan tak mau melepaskan mereka begitu saja. Membuat nafas Sakura dan yang lainnya begitu memburu dengan jantung yang berdebar kencang. Jika tertangkap habislah riwayat mereka.

"Sasuke-kun...?"

Panggil cemas Sakura yang melihat kekasihnya bersama kawan kuningnya itu semakin tertinggal di belakang. Sementara para mayat hidup itu terlihat sangat buas dan kelaparan.

"Jangan khawatirkan kami..! Tetaplah melihat kedepan, Sakura!"

Jawab Sasuke sambil tetap menarik tubuh Naruto dan membawa Arctic Warfare Magnum Sniper miliknya.

"Kiba-"

"Aku mengerti..! Aku akan berusaha nyalakan kapalnya. Sampai saat itu jangan kalah dari mereka!"

Ucap Kiba yang menyela kalimat Sasuke. Walau di dalam Uchiha, Menyela kalimat adalah hal yang dilarang dan paling menjengkelkan, Namun Sasuke menyambut ocehan Kiba dengan baik.

"Bagus jika kau mengerti. Tetaplah berlari dan jangan menengok kebelakang!"

Jawab Sasuke setelahnya. Ia berkata seperti itu walau ia sendiri sedang berada di kondisi yang terdesak.

Kiba, Hinata, Sakura dan Anko memilih terus berlari kearah dermaga yang kini tidak jauh lagi di depan mata. Seperti apa yang Sasuke katakan.

Dari sudut atas puing-puing bangunan lantai 2 yang Sasuke dan lainnya lewati, Satu sosok makhluk melompat turun. Bukan hanya itu saja. Satu makhluk lagi turun dari gedung sebelahnya.

"Kuso..."

Umpat Sasuke pelan dengan keringat bercucuran melalui dagunya yang menengok kearah belakang. Bukan hanya belasan mayat hidup saja yang mengejarnya. Tapi dua makhluk mengerikan dengan gigi-gigi tajam dan lidah panjang menjulur tanpa mata yang paling ia benci kini ikut mengejar mereka.

Tangan-tangan dengan cakar besar itu seolah menjadi sepasang kaki. Membuat makhluk-makhluk itu merangkak cepat bagai kadal buas. Benar-benar sangat cepat.

"Ancaman terbesar kita adalah dua makhluk itu. Benar bukan..."

Gumam Sasuke, Yang sebenarnya tidak sedang berbicara sendiri.

"Hehh... Sepertinya kau benar... Sasuke."

Sahut sebuah suara. Menanggapi kalimat Sasuke barusan.

"Kau benar-benar menjengkelkan."

Jawab Sasuke melirik kearah Naruto yang diseretnya.

Dari awal, Sasuke memang sudah mengetahui bahwa bocah ini sebenarnya telah sepenuhnya sadar dari tendangan maut Sakura. Itulah alasan kenapa sesaat Sasuke tersenyum ketika ia mulai berlari sambil menyeret kerah belakang Naruto. Benar-benar membuatnya begitu kesal terhadap bocah kuning ini karena seenaknya diam dan membuat Sasuke kelelahan karena terus-menerus menarik beban tubuhnya.

Bukan hanya belasan Zombie saja yang mengejar semakin mendekat. Dua makhluk di sana merangkak sangat cepat menggunakan kedua tangan dan kaki mereka. Dengan lincah mereka berkelok-kelok menyalip para mayat hidup itu untuk menjadi yang terdepan.

"Andai saja aku punya kesempatan untuk membidik mereka."

Ucap Sasuke sambil terus berlari.

"Kesempatan untuk membidik ya... Hmm..."

Naruto memasang pose berpikir dengan memegang bawah dagunya. Yang justru membuat Sasuke semakin kesal melihatnya.

'Terkutuklah bocah kuning ini.'

Gumam Sasuke dalam hati benar-benar dibuat kesal oleh Naruto yang masih manis di tempatnya. Sementara sang Uchiha muda dipaksa untuk terus-menerus menariknya dengan susah payah.

"Aku tidak terlalu baik dalam menembak di jarak seperti ini. Jadi kupikir hanya kau dan senjatamu yang bisa diandalkan di saat-saat seperti sekarang. Aku akan berikan kesempatan padamu untuk membidik mereka, Sasuke!."

Ucap Naruto dengan seluruh analisa yang telah terpikirkan olehnya. Tidak ada waktu lagi. Dua monster itu semakin dekat dengan mereka berdua.

"Apa maksudmu..."

Sasuke bertanya dengan bingung dengan apa yang Naruto katakan.

"Sudahlah. Ayo kita bertukar tempat."

Sahut Naruto lagi menyudahi pembicaraan mereka.

Walau Sakura dan yang lain telah diperingatkan oleh Sasuke untuk terus berlari dan tidak menengok kebelakang, Adalah sebuah pengecualian bagi seorang Sakura. Gadis berambut merah jambu tersebut tak pernah bisa lepas dari kekhawatiran tentang di antara kedua pemuda yang sangat berharga baginya.

Sambil tetap berlari secepat yang ia bisa, Mata Sakura melebar seketika saat ia menengok kebelakang.

'Tidak mungkin... Bagaimana-...'

Ucapnya dalam hati setelah tidak percaya melihat masih ada dua lagi makhluk besar mengerikan yang masih tersisa. Terlebih lagi, Makhluk-makhluk itu mengejar Sasuke dan Naruto!

Alis sang Uchiha muda mengerut tajam. Namun tidak ada waktu lagi untuk berdebat. Sasuke bukan orang yang bodoh untuk dapat mengerti maksud Naruto. Segera ia lepas cengkraman tangannya dari kerah kemeja biru yang Naruto gunakan dan mulai menyahut sebuah papan kayu rusak di dekatnya.

Dengan gerak cepat Naruto bangkit berdiri setelah Sasuke melepaskan kerah kemeja belakangnya. Naruto langsung berputar dan berlari kearah dermaga. Sedangkan Sasuke berputar menghadap kearah para mayat-mayat hidup itu sambil meletakkan papan kayu tua di bawah pantatnya.

Hal yang tidak pernah Sakura kira sebelumnya. Adalah bagaimana dua pemuda itu saling bertukar posisi mereka dengan sangat cepat dan akurat. Tanpa takut terjadi sebuah kesalahan karena mempercayai satu sama lain, Membuat mereka berdua bisa melakukan hal segila itu.

Sasuke duduk di atas papan kayu tua temuannya. Sedangkan tangan kiri Naruto meraih kerah baju yang Sasuke kenakan. Kini hal yang membuat Sakura terkejut, Adalah mereka telah sempurna berganti posisi masing-masing.

"Inilah kesempatan membidik yang kuberikan padamu. Tembak mereka, Sasuke!"

Ucap Naruto sambil tersenyum optimis.

"Wakatteru, Aho..."

Jawab Sasuke sinis.

Salah satu monster besar itu melompat dan akan menerkam mereka berdua dengan cakar-cakarnya yang besar. Namun Sniper milik Sasuke telah lebih dulu teracung sempurna kearahnya.

"Makan ini..."

jenDAAARR...!

Peluru berkaliber 7 milimeter meledak dan meluncur keluar dari laras senjatanya. Berputar penuh dan melesat tepat kearah kepala monster itu. Darah terciprat keluar mengikuti alur peluru itu tembus keluar dari belakang kepalanya.

Terhempas jauh kebelakang dengan lubang menganga di tengah-tengah otaknya. Monster agresif itu pun mati seketika dan tertinggalkan oleh yang lain di belakang.

Cekreelk...

Sasuke menarik tuas kecil di Frame samping Arctic Warfare Magnum miliknya. Keluarlah selongsong kosong berwarna kuning emas terlempar keluar menyamping disertai asap tipis yang mengikutinya.

Mereka berdua hebat. Itulah yang ada di pikiran Sakura saat ini setelah melihat bagaimana kerja antara mereka berdua. Kini tak ada yang perlu Sakura khawatirkan lagi. Yang harus ia lakukan hanyalah menuju ke kapal secepat mungkin untuk segera menyelakannya dan keluar dari pulau kematian ini.

"Kau berikutnya..."

Ucap pelan Sasuke mengganti bidikannya kearah monster yang satu lagi. Namun Sasuke dibuat terkejut saat monster itu berbelok dan hilang di antara gedung-gedung yang rusak. Yang terlihat kini hanya para mayat hidup yang tiada lelah mengejar mereka semua.

Dengan goncangan-goncangan tubuhnya akibat kontur tanah yang tidak rata akibat bebatuan kecil dan serpihan kayu berserakan di mana-mana, Membuat Sasuke sangat kesulitan membidik kepala mereka. Tangannya tak bisa berhenti bergerak akibat guncangan-guncangan tersebut.

jenDAAARRR...!

Sasuke menarik pelatuknya. Membuat peluru yang kedua kembali melesat sangat cepat menghantam satu Zombie yang ada di jarak 6 meter darinya. Peluru yang Sasuke tembakkan tidak tepat mengenai kepala. Namun Zombie itu terjungkal keras kebelakang. Telah berkurang satu Zombie yang mengejar mereka.

Melihat hal tersebut, Membuat Sasuke menyadari sesuatu. Pertanyaan mengapa Naruto menyuruhnya untuk yang menembak. Bukan dirinya sendiri. Padahal Naruto juga punya Glock-17 yang bisa ia gunakan untuk menembaki mereka.

Alasannya hanya satu...

Yaitu... FirePower.

Daya tembak Sniper miliknya jauh lebih kuat dari Glock-17 milik Naruto. Yang bahkan tanpa menembak tepat mengenai kepala mereka, Zombie-Zombie itu pasti akan terjatuh walau peluru Sasuke hanya mengenai tubuh mereka karena daya hancur yang sangat kuat dari senjatanya.

Eliminasi musuh satu per satu dengan efisien tanpa membuang-buang peluru. Itulah rencana Naruto yang sebenarnya.

'Cihh... Kau benar-benar sangat menjengkelkan, Naruto.'

Besitnya dalam hati dan tersenyum singkat. Bagaimana ia sedikit terkagum dengan cara berpikir pemuda itu. Rencana yang benar-benar sangat tepat akurat dengan persentase keberhasilan menjatuhkan satu per satu musuh yang tinggi. Kejeniusan Naruto selangkah mengalahkan kepintarannya.

.

.

.

.

Nafas yang begitu memburu terdengar. Kiba masih berlari menuju ke tempat di mana kapal-kapal bersandar. Tangan kirinya masih menggandeng erat tangan Hinata. Seakan ia tak mau kehilangannya.

Mereka hampir sampai. Tinggal beberapa langkah lagi bagi Kiba, Hinata dan Sakura untuk sampai ke kapal mereka. Namun tiba-tiba Kiba berhenti di tengah jalan. Membuat Hinata dan Sakura terkejut.

"Kesini..!"

Ucap pemuda berambut jabrik itu sambil kembali menarik tangan Hinata. Kiba berbelok arah dan langsung melompat menaiki kapal asing milik orang lain.

"A-Apa?"

Tanya bingung Sakura saat itu melihat Kiba yang telah berada di atas kapal yang bukan milik mereka.

"Kapal kita kehabisan bahan bakar. Kau tidak mau terombang-ambing bebas di atas lautan karena mesin kapal itu tidak mau menyala bukan?."

Jawab Kiba menjelaskan tindakannya. Ia langsung memeriksa indikator penunjuk persedian bahan bakar kapal yang ia naiki ini.

"Bahkan aku pun tidak mau hal itu terjadi padaku. Yang kuinginkan sekarang hanyalah menemukan Sona kembali."

Lanjut pemuda itu lagi sambil mengepalkan erat kedua tangannya.

Mendengar hal itu, Sakura sedikit setuju dengan pemikiran Kiba. Ia langsung mengikuti Kiba menaiki kapal tersebut.

"Ku-Kurasa kita masih bisa kembali menuju ke Konoha jika menggunakan kapal ini."

Ucap Hinata yang juga melihat indikator penunjuk bahan bahan bakar di samping Kiba.

"Baiklah! Ayo kita cari kuncinya...!"

Seru Kiba yang memulai mencari kunci kontak kapal tersebut di bawah kemudi.

Hinata dan Sakura juga ikut membantu dengan mencari di lain tempat. Agaknya gelap menjadi kendala besar bagi mereka bertiga untuk menemukan kuncinya.

Malam ini mungkin akan jadi malam yang melelahkan. Dengan serius mereka mencarinya di tiap sudut yang mereka temui. Tangan Kiba dan Hinata meraba-raba di bawah kegelapan. Sementara dibantu oleh bulan yang tengah bersinar, Sakura mencari di atas dashboard. Ia tergesa-gesa mencari dan menyortir setiap barang yang ia sentuh. Sudah tidak ada banyak waktu lagi. Ia harus segera temukan kunci itu secepat mungkin, Atau mereka semua akan mati. Lagi-lagi ini menjadi pertarungan waktu baginya.

.

.

.

.

Naruto masih berlari, Sementara Sasuke yang diseretnya membidik siapa saja yang mendekat. Ia tak boleh sembarangan menembak. Karena bagaimana pun juga kendala terbesar baginya ialah jumlah peluru yang ia punya. Begitu terbatas jumlah yang ia miliki membuat Sasuke harus berhati-hati dalam melepaskan tembakan atau pun membabi-buta Zombie-Zombie yang mengejar mereka. Dan satu alasan terkuatnya untuk tidak sembarangan membuang-buang amunisi yang ia punya adalah masih tersisa satu monster lagi yang entah berada di mana. Ia tidak mau kehabisan amunisi ketika makhluk mengerikan nan ganas itu muncul.

"Naruto, Bantu aku temukan yang satu lagi.."

Kata Sasuke pada rekan yang menyeret tubuhnya.

"Apa...? Kau kehilangannya...? Payah..."

Ucap Naruto.

Kata terakhir yang pemuda berambut kuning itu gunakan membuat pertigaan muncul di kening Sasuke.

"Jangan mengumpat padaku bodoh... Diam dan bantu aku menemukannya. Aku hampir kehabisan peluru."

Jawab Sasuke yang mencoba tenang. Ia kembali membidikkan laras senjatanya kearah Mayat hidup yang telah sangat dekat dengan dirinya.

jenDAAAARRR...!

Sasuke mulai melepaskan tembakannya lagi. Membuat dada kanan seorang pria kelaparan yang mengejarnya langsung berlubang berlumuran darah dan terhempas kuat kebelakang.

Sementara kedua mata biru Naruto melirik kekanan dan kekiri sambil terus berlari menarik Sasuke yang sedang sibuk membidik. Ia mencari sosok itu. Sosok yang sangat berbahaya dan mematikan. Makhluk yang sangat kuat dan cepat. Sedikit saja terlambat mengantisipasi serangan, Mereka berdua benar-benar bisa mati olehnya.

'Ayo... Tunjukkan dirimu...'

Gumam sendiri Naruto dalam hati.

Kakinya mulai kelelahan karena terus menarik tubuh Sasuke menjauh dari para mayat hidup itu. Nafasnya mulai tidak teratur. Ia hampir menyentuh batasnya.

Sasuke melepaskan tembakan beberapa kali. Zombie-Zombie yang hampir menyerangnya terhempas dan terjungkal satu per satu. Namun direksi matanya juga terus mencari makhluk lincah berbahaya itu. Karena peluru yang ia miliki hanya tinggal satu di dalam slot Magazen senjata miliknya. Ini adalah momen yang krusial untuk mereka berdua.

Sementara itu, Tidak jauh dari mereka berdua, Kiba, Hinata dan Sakura masih berusaha keras mencari kunci kapal tersebut. Kondisi yang gelap benar-benar menyulitkan mereka untuk menemukannya. Hanya penerangan seadanya dari layar ponsel yang membantu mereka. Selebihnya... Hanya keberuntungan yang dapat membantu mereka menemukan kunci itu.

"Kusoo... Di mana... Di manaaa...?!"

Kiba hampir terbawa emosi mencarinya. Karena mereka benar-benar diburu oleh waktu. Peluh menetes satu per satu dari ujung dagunya. Jantungnya berdebar-debar menyadari bahwa dirinya dan teman-temannya masih dalam bahaya. Ia harus temukan kunci itu segera. Atau mereka semua akan mati sia-sia.

"Kusooo!"

Braakkh...!

Kepalan tangan Kiba menggebrak lantai kapal tersebut. Ia masih belum berhasil menemukannya sama sekali. Sasuke dan Naruto akan tiba sebentar lagi. Beserta kerumunan Zombie haus darah yang mengejar tepat di belakang mereka.

Telah ia cari di seluruh kolong-kolong gelap yang ada. Namun sama sekali belum dapat ia temukan. Sampai akhirnya suara gembira Hinata menghentikan aktifitasnya.

"Ini dia..!"

Pekik gadis itu sedikit keras.

"Benarkah?!"

Tanya Sakura cepat.

Hinata menunjukkan kunci pendek itu kepada mereka berdua. Dengan cepat Sakura ambil kunci itu dari Hinata dan segera menancapkannya ke lubang kunci mesin kapal ini. Gadis berambut merah jambu tersebut memutar kuncinya hingga membuat mesin kapal menyala.

"Kiba, Kemudikan kapalnya ke ujung dermaga!"

Perintahnya cepat.

"H-Hah?! Tu-Tu-Tunggu dulu-..."

"Sudah cepat lakukan saja! Kita tidak punya banyak waktu lagi...!"

Seru gadis itu memotong kegaguan Kiba yang cukup terkejut dengan perintahnya. Yang mana pemuda itu sama sekali tidak memiliki apapun untuk menyetir sebuah kapal di atas laut. Sebenarnya ingin ia mengoceh, Tapi apa daya gadis itu telah berlalu ke belakang kapal. Tidak punya pilihan lain lagi selain mencobanya. Setidaknya Kiba pernah melihat secara langsung bagaimana cara Chouji mengendalikannya.

"Sial... Berpeganglah pada sesuatu, Hinata!"

Katanya pada satu gadis lagi di sampingnya.

"Tu-Tunggu, Di mana Anko-sensei...?"

Tanyanya yang selama ini belum melihat guru mereka.

Tidak ada jawaban dari Kiba. Peluh pemuda itu mengucur deras karena gugup dan benar-benar berkonsentrasi penuh. Ia mulai mendorong tuas percepatan kedepan. Membuat mesin kapal mereka menderu dan mulai melaju. Kedua tangannya kini beralih tempat ke roda kemudi. Memutarnya penuh kekanan menghindari kapal lain yang bersandar di depan.

'Aku bisa, Aku bisa, Aku bisa, Aku harus bisaa...!'

Ucapnya dalam hati mencoba mensugesti dirinya sendiro dengan keyakinan penuh.

"Sasuke-kun...! Naruto...!"

Sakura berteriak keras memanggil dua pemuda yang sangat penting baginya.

Mendengar teriakan gadis tersebut, Pandangan Naruto dan Sasuke teralihkan padanya. Membuat konsentrasi mereka sedikit terpecah. Namun di waktu yang bersamaan, Sesosok makhluk yang merangkak keluar dari perempatan terakhir yang mereka lalui. Melompat jauh dengan cakarnya yang besar dan tajam. Begitu cepat hingga Naruto dan Sasuke hanya mampu melirik kearahnya tanpa sempat bereaksi.

'G-Gawatt...!'

Ungkap Naruto dalam pikirannya yang begitu terkejut.

Jarak makhluk itu dengannya kini benar-benar sangat dekat. Sepasang manik biru itu melebar. Hanya terpisahkan beberapa detik untuk cakar-cakar besar itu melepas kepala dari tubuhnya. Adrenalin Naruto naik drastis. Terpacu kencang oleh detik-detik kematiannya. Sebelah mata kanannya retak-retak oleh pembengkakan syaraf yang menekan pembuluh darah di sekitar bola matanya. Debaran jantung miliknya melonjak berkali-kali lipat dari manusia normal. Bahkan dapat terhitung hingga ribuan debaran dalam sedetik waktu yang berlalu. Memompa aliran darah begitu menuju otaknya. Mengirimkan sinyal-sinyal otak ke seluruh tubuh melebihi kuantitas manusia normal. Dalam celah sepersekian detik yang sempit, Naruto telah berada dalam mode daruratnya. Membuatnya mampu melihat seluruh gerak di sekitarnya seolah melambat dengan lajur serangan makhluk itu sebagai titik pusat konsentrasinya.

Tangan kirinya masih mencengkram kerah baju Sasuke yang masih belum mampu berkutik melakukan sesuatu. Otot-otot di tangan kanannya yang tertutupi penuh oleh perban mulai menggapai Glock-17 di sarung senjata yang terlingkar di bahunya. Suntikan sinyal-sinyal dan tendangan aliran darah yang begitu kuat mampu memaksa gerak ototnya lebih dan lebih cepat lagi dari manusia biasa.

Menggunakan mode ini, Tangan kiri Naruto telah menggapai dan menggenggam senjata miliknya. Namun sayangnya ia masih kalah cepat dengan waktu. Gigi-gigi dan cakar tajam monster itu akan segera merobek tubuhnya.

'S-Sial-...'

Ucapnya dalama hati, Melihat unjung cakar makhluk ganas itu hampir menembus lehernya.

JLEEBBB...

Kedua manik Emerald Sakura melebar, Melihat darah yang tertumpah ke udara. Rahang bawah Sasuke tertarik menganga dengan kelopak mata yang terbuka lebar menyaksikan apa yang terjadi di hadapannya.

Bruakk...

"..."

Seonggok tubuh terjatuh bebas ke tanah. Sebatang potongan besi berkarat menancap tepat ke tangan dan tertembus ke kepala makhluk yang tergeletak bersimbah darah tersebut.

"Sepertinya aku hampir terlambat..."

Suara seorang wanita mengalun tepat di gendang telinga Naruto. Sementara pemuda berambut kuning itu masih kaku tertegun. Akibat kejadian tadi yang hampir saja merenggut kepala dan nyawanya, Membuat Naruto tak berkutik. Kedua manik birunya masih melebar dan bergetar. Syok yang menusuk hampir membuat hilang kesadaran miliknya.

"Ayo, Kita harus pergi dari sini, Namikaze-kun."

Ucap seorang wanita di sebelahnya yang telah menancapkan batang besi berkarat itu ke kepala makhluk tersebut.

Mendengar suara itu kembali mengalun melalui gendang telinganya, Naruto terbangun dari ketegangannya dan mulai ingat kembali untuk bernafas. Apa yang terjadi sesaat tadi benar-benar membuat seluruh tubuhnya tidak berfungsi karena syok yang melanda.

"Cepat sadarkan dirimu bodoh. Kita harus menyusul Sakura dan yang lain."

Sasuke yang telah bangkit berdiri menarik kasar bahu kemeja biru yang Naruto kenakan. Membuat pemuda berambut rancung itu berputar dan ikut berlari.

'Aku telah temukan jalanku... Bahwa aku akan melindungimu... Benar bukan...?'

Ucap Anko Mitarashi yang juga ikut berlari kearah kapal yang telah lepas dari sandaran dermaga.

Drep-Drep-Drep-Drep-Drep...

Derap suara antara alas sepatu dan lantai kayu dermaga mengiringi laju Sasuke, Naruto dan Anko-sensei yang bergegas menuju kapal yang telah melaju meninggalkan ujung dermaga.

"Cepaaatt...!"

Teriak Sakura kepada mereka bertiga.

Sasuke menjadi yang pertama melompat. Naruto dan Anko menyusul di belakangnya.

Bruaakkh...!

Tubuh mereka bertiga jatuh terbentur keras ke lantai kapal. Kiba mendorong tuas percepatan hingga penuh. Kapal para pengungsi yang mereka curi mulai melaju meninggalkan belasan Zombie di dermaga dengan kecepatan penuh.

"Sasuke-kun...?!"

Pekik ramai Sakura menghampiri kekasihnya yang masih terduduk kelelahan di lantai.

"...Aku tidak apa-apa."

Jawabnya singkat.

"Bagaimana dengan dirimu...?"

Anko bertanya pada Naruto. Melihat wajah pemuda berambut kuning itu tak kunjung terangkat menyapa mereka. Seperti ada sesuatu yang salah dengannya.

Semua mata kini tertuju pada Naruto yang masih diam membisu dengan wajah tertutup bayangan. Khawatir dengan keadaan dan kondisinya, Hinata berlari dan langsung berlutut menghampiri pemuda tersebut.

"Naruto-kun, Apa kau baik-baik saja...?"

Tanya lembut Hinata sambil menarik wajah pemuda itu dengan kedua telapak tangannya.

Wajah yang tertutupi bayangan itu mulai terangkat menghadap kearah teman-temannya. Di saat itu juga seluruh pasang mata terbuka lebar. Termasuk Hinata yang kini ada tepat di hadapannya.

"Aku baik-baik saja... Yahh... Walau sebenarnya tidak terlalu baik juga."

Jawab lemah Naruto sambil sedikit tersenyum masam dengan sebelah mata kanan miliknya yang sangat terlihat mengerikan.

Putih mata yang mengelilingi pupil sebiru Safir itu penuh retakan merah menyala. Di sisi pelipisnya, Banyak syaraf-syaraf pembuluh darah yang muncul terlihat mengelilinginya. Membuat sebelah wajah Naruto tampak bagai monster yang mengerikan.

"Na-... Naruto-"

"Tidak apa-apa... Hinata..."

Naruto menyela kalimat Hinata yang masih sangat terkejut dan khawatir tentang keadaan pemuda di hadapannya. Ia menggenggam jemari Hinata lembut. Dengan perlahan Naruto melepaskan tangan gadis berponi itu dari pipinya.

"Maaf... Membuatmu melihat ini... Aku minta maaf."

Lanjutnya lagi dengan suara pelan sambil memalingkan wajahnya itu dari hadapan teman-temannya.

Alis Kiba mengernyit dan menyudut tajam. Ia tinggalkan roda kemudi kapalnya, Dan dengan emosi berjalan cepat menuju tempat Naruto terduduk. Sasuke memperhatikan pemuda jabrik yang melaju dengan raut marah itu.

Greb...

Kedua tangan Kiba mencengkram erat kerah kemeja biru milik Naruto, Dan menariknya dengan sangat kasar hingga membuat Naruto berdiri sejajar di hadapannya. Pandangan yang Kiba lemparkan begitu tajam. Gigi-giginya bergemelatuk tidak mampu lagi menahan amarah hatinya.

"Kenapa... Kenapa kau terus menutupinya dari kami semua...?!"

Pemuda berambut hitam kecoklatan tersebut melemparkan sebuah pertanyaan pada sahabatnya itu dengan nada pelan yang berat.

"..."

Angin malam berhembus di atas kapal itu. Menyapu rambut rancung kedua pemuda yang saat inii saling berhadapan tersebut. Namun sama sekali tidak ada jawaban yang terbalas. Naruto tetap terdiam memalingkan wajahnya dari hadapan sahabatnya. Wajahnya tertutupi bayang malam dengan poni yang bergoyang terhembus sang angin malam.

Sakura, Hinata, Anko-sensei, Dan juga Sasuke masih diam melihat tekanan di antara mereka berdua. Tidak ada satupun suara yang terdengar. Semua senyap membisu. Hembus angin dan suara mesin kapal yang melaju yang menggantikan keberadaan mereka. Semua masih membisu dalam tekanan batin masing-masing tanpa tahu apa yang harus diutarakan. Membuat sang waktu terus bergulir bebas.

"..."

"...Maaf."

Sebuah suara keluar dari bibirnya. Hanya itu yang Naruto katakan. Tanpa sedikitpun memalingkan wajahnya menghadap Kiba. Kedua kepalan tangan Kiba yang mencengkram kerah kemeja miliknya bergetar. Cengkraman Kiba semakin mengerat dengan otot-otot yang muncul terlihat.

"Kenapa kau terus menutupinya sampai sekarang... Kenapa kau terus sembunyikannya dari kami... Kenapa kau mau ceritakan yang sesungguhnya apa yang telah terjadi padamu, Hahh?! Kenapa...?! Jawab aku, Naruto...!'

Rentetan pertanyaan keluar begitu saja tanpa bisa ia tahan lagi. Kiba semakin termakan oleh emosinya melihat Naruto yang terus dan terus saja memalingkan wajah darinya.

"Ini bukan masalah besar. Kiba... Tak perlu khawatirkan aku. Yang perlu kita lakukan sekarang hanyalah mencari Sona. Aku tidak ingin ini jadi beban kalian."

Ucap Naruto pelan. Mengutarakan apa yang ada di kepalanya.

"K-Kau... K-Kau..."

Gigi Kiba saling bergemelatuk keras. Sudah tidak bisa lagi ia berkata-kata. Yang ada sekarang hanyalah emosi yang meluap.

"Membebani katamu..."

"..."

"Lalu kau anggap apa kami selama ini, Hahh?!"

Kiba membentak keras sambil mengguncang-guncangkan kerah kemeja Naruto dengan sangat kasar. Sehingga perlahan membuat pemuda berambut kuning rancung tersebut menunjukkan wajahnya.

"Kiba, Kurasa ini tak perlu menjadi hal yang harus dipermasalahkan..."

Balas Naruto memandang sahabatnya itu dengan sebelah mata yang mengerikan.

Kedua kelopak mata Kiba melebar. Kini dengan sangat dekat dan jelas ia dapat melihat bagaimana Naruto saat ini.

"Dengarkan aku baik-baik, Kiba. Jika saat itu telah tiba... Aku akan memberikan senjataku ini padamu. Dan jika saat itu, Saat di mana aku kehilangan siapa diriku yang sebenarnya benar-benar datang... Akhiri hidupku dengan senjataku ini. Seperti apa yang telah aku lakukan untuk Ayah Hinata."

"...Anggap saja itu sebuah permintaan terakhir dariku untukmu."

Kalimat yang Naruto ucapkan benar-benar sangat menyakitkan untuk Hinata. Dari semua apa yang telah ia ucapkan, Apakah hidupnya tidak akan lama lagi... Apakah sosok Naruto yang selalu ia rindukan akan pergi secepat itu... Setelah Ayahnya, Apakah seseorang yang sangat berharga baginya akan meninggalkan dirinya lagi...?

Sakit...

Hati Hinata benar-benar terasa sangat sakit...

Bibirnya membisu. Namun air mata berlinang begitu saja.

Kiba melirik Hinata yang meneteskan air mata sejenak. Lalu ia menoleh menatap Naruto kembali. Pemuda itu melepas satu cengkraman tangannya dari kerah kemeja Naruto. Mengepal sangat erat.

Buaaaggh...!

Sasuke, Sakura, Anko dan Hinata dibuat terkejut dengan pukulan Kiba yang melayang pada pipi Naruto.

"Kau benar-benar keparat... Naruto."

Entah kenapa emosi Kiba yang sempat meluap-luap tadi kini seakan hilang bersama pukulan keras yang ia berikan. Nada bicara Kiba mulai mereda. Menunjukkan bahwa kini ia telah kembali tenang. Kiba melepaskan cengkramannya dari Naruto yang terdiam setelah dipukul sekeras itu.

"Bodoh jika kau berpikir akan mati semudah itu. Kau tidak akan kalah. Aku tahu kau tidak akan semudah ini kalah dari Virus itu. Kau tidak akan mati. Karena seseorang yang mampu melindungi Hinata... Bukan aku. Tapi dirimu."

Kiba berbalik setelah mengatakan itu semua. Yang bahkan Sasuke dan Anko-sensei sendiri tak mampu untuk melakukan sesuatu tentang pertikaian ini. Hinata hanya bisa menutup mulut dengan kedua tangannya setelah melihat Kiba yang telah memukul Naruto begitu keras tepat di hadapannya. Sedangkan Sakura tidak bisa berkutik sama sekali. Di mana ia harus memihak... Kemana ia harus bertanya... Untuk tahu siapa yang benar... Antara Kiba yang menginginkan arti ikatan Naruto pada mereka... Dan Naruto yang terus menerus memendam beban sendiri demi mereka semua juga.

Kiba berhenti setelah beberapa ia melangkah. Dirinya diam sebentar. Membuat Sasuke, Sakura, Anko dan Hinata memandangi punggungnya.

"Hei... Sahabatku yang bodoh..."

Panggil Kiba dengan sedikit memalingkan sebagian wajahnya yang tertutupi oleh bayang-bayang malam. Tentu sebutan itu ditujukan seseorang yang tengah terduduk di lantai kapal dengan sudut bibir yang berdarah.

"Sebaiknya kau dengarkan ini baik-baik..."

"..."

"Pendirian... Ideologi... Tekad dan harapanmu yang kuat itu... Tidak hanya telah selamatkan kami dari keputus-asaan... Tetapi pasti akan menyelamatkanmu juga. Tetaplah yakin untuk terus berjuang melawan Virus itu."

"Dan bahkan jika saat yang kau katakan tadi tiba ketika kau telah berusaha berjuang hingga titik terakhirmu... Aku akan dengan senang hati mati bersama dengan dirimu."

"...?!"

Mendengar itu semua, Membuat wajah Naruto terangkat memandang kearah Kiba. Kedua manik birunya melebar seketika saat mendengarnya.

"Jangan pernah lupakan kami... Bodoh. Mulai dari sekarang... Apapun yang terjadi... Kami tidak akan menuruti kata-katamu lagi seperti waktu itu. Kami akan tetap maju bersamamu. Walau jika kami tidak lagi bisa sejajar dengan dirimu yang sekarang..."

"...Kami akan selalu ada, Tepat di belakangmu."

"..."

Tes...

Tes...

Butir-butiran air mata jatuh membasahi lantai. Naruto diam termangu. Namun tetes demi tetes air mata miliknya tertumpah jatuh begitu saja. Tidak terbayangkan lagi. Sudah tidak terbayangkan lagi rasa bahagia yang meluap keluar dari dalam isi hatinya.

Sasuke menghampiri sahabat kuningnya yang terduduk di lantai tersebut. Sang Uchiha muda lalu menarik tangan kiri Naruto untuk melingkar di bahu belakangnya. Sasuke mulai membopong Naruto. Mencoba membantu pemuda berambut kuning itu untuk berdiri. Yang sepertinya hanya Sasuke yang tahu Naruto tengah kelelahan setelah berulang kali memakai Virus yang ada di tuhuhnya itu. Karena Sasuke bukanlah orang yang cukup bodoh untuk tidak menyadari itu semua.

"Sepertinya kali ini aku harus berterima kasih padamu... Kiba."

Ucap Sasuke memandang Kiba yang telah kembali ke roda kemudi.

"Jika bukan kau yang memukul bocah bodoh ini untuk membuatnya sadar... Mungkin akulah yang akan menghajarnya sampai benar-benar babak belur."

Lanjutnya lagi, Sambil membopong Naruto.

Naruto tertunduk lemah kebawah. Namun kedua sudut bibirnya tertarik berlainan arah untuk membuat sebuah senyuman kecil.

"Seharusnya aku yang berterima kasih padamu untuk tidak ikut menghajarku... Sasuke."

Ucapnya dengan senyum kecil di bibirnya yang berdarah.

"Yahh... Kali ini aku benar-benar merasa sangat bodoh, Telah membuang siapa kalian selama ini untukku. Dan kali ini juga... Aku benar-benar merasa sangat bahagia hingga air mataku tak mau berhenti mengalir."

"Aku senang, Jika selama ini temanku adalah kalian semua. Ayo bantu aku... Kita cari dan temukan Sona. Teman kita..."

Lanjut Naruto lagi.

Sakura dan Anko-sensei tersenyum. Hinata mulai mengusap bulir air mata yang membekas di pipi putihnya. Sasuke memandang kearah Konoha yang terlihat sudah tidak jauh lagi. Sedangkan Kiba, Ia kembali jadi dirinya yang biasanya. Memejamkan mata dan sedikit tersenyum kejut, Ia membalas permintaan Naruto.

"...Tentu."

Ucapnya dengan terus membawa kapal yang mereka tumpangi saat ini melaju kencang kearah Konoha.

"Kau lebih suka berdiri atau duduk...?"

Sasuke bertanya kepada Naruto di sampingnya.

"Apa kau bisa memberiku sebuah pertanyaan yang lebih konyol lagi...?"

Sahut Naruto yang tentu bukanlah jadi sebuah jawaban.

"Hinata, Bisa bantu aku? Selama kita masih di atas lautan, Sepertinya kita butuh penerangan yang cukup."

Anko memanggil Hinata yang kebetulan tepat di depannya. Ditemani sinar bulan yang berpijar sepertinya masih kurang cukup untuk menerangi mereka. Berada di tengah-tengah kegelapan memang membuat sebagian orang merasa tidak nyaman.

"E-Eh...? Baik..."

Jawab gadis itu singkat. Mereka berdua mulai mencari sesuatu yang dapat sedikit menerangi pandangan mereka.

Sementara Sakura berjalan mendekat menghampiri tempat Sasuke dan Naruto berpijak.

"Sudut bibirmu sedikit robek. Aku akan mencari sesuatu untuk mengobatinya. Mungkin di kapal ini tersimpan kotak P3K atau obat-obatan yang lain."

Kata Sakura setelah dengan dekat melihat luka bekas pukulan yajg Kiba berikan tadi.

Namun baru saja Sakura akan berbalik untuk mencarinya, Tangan Naruto terlebih dulu menghentikan langkahnya.

"Tidak-... Tidak apa... Ini hanya luka kecil."

Ucap Naruto pada gadis itu.

"Baiklah jika itu maumu. Kau tampak kacau. Istirahatlah sebelum kita sampai kesana. Ini benar-benar akan jadi hari yang melelahkan..."

Jawab Sakura memberi sedikit perhatiannya pada Naruto. Karena mereka tidak akan punya waktu untuk beristirahat jika telah tiba di sana. Di Kota mengerikan para orang mati. Bahkan saat sampai di sana, Percarian terhadap Sona adalah prioritas utama mereka.

"Yahh... Mungkin aku bisa istirahat sejenak. Punggungku terasa sangat sakit setelah menyeret Sasuke tadi. Dia benar-benar sangat berat!"

Jawab Naruto kemudian sambil menyipitkan kedua matanya melirik kearah Sasuke.

"Begitu bodoh... Bukan hanya kau saja yang kelelahan. Lagi pula aku yang pertama kali menarikmu, Kan?"

Sahut Sasuke yang agaknya sedikit kesal dengan ocehan Naruto tadi.

"Hahh..?! Yang menarik lebih jauh itu aku bukan? Kenapa kau juga ikut mengeluh sakit punggung hahh, Sasuke?!"

Jawab Naruto yang seakan tidak mau mengalah.

"Siapa yang mengeluh tentang sakit punggung bodoh... Aku hanya-... Lupakan saja."

Kata Sasuke ingin menyudahi ini. Ia sadar bahwa ia terpancing oleh permainan Naruto.

"Behh... Ada apa? Kau tidak mau mengakui bahwa tubuhmu itu berat? Kau seperti wanita saja..."

"Sudahlah, Tutup mulutmu. Kau berisik sekali."

Melihat mereka berdua seperti ini... Entah kenapa membuat Sakura diam termangu sendiri. Berdiri mematung di hadapan dua pemuda yang tidak mau mengalah satu sama lain.

Tersadar akan sesuatu, Akhirnya Sakura terkikik geli melihat mereka berdua.

'Aku pernah merasa ini pernah terjadi sebelumnya... Saat aku dan Sasuke masih sebatas teman. Mereka sangat berisik dan tidak ada tang mau mengalah. Namun sebenarnya mereka berdua sangatlah dekat satu sama lain.'

Sakura kini kembali teringat dengan masa lalu mereka bertiga. Benar-benar memori kenangan yang indah. Mereka berdua adalah sepasang sahabat yang saling bertentangan satu sama lain. Tapi itulah hal yang membentuk ikatan mereka berdua sampai saat ini. Namun pertemanan mereka sempat retak, Saat dirinya telah memilih salah satu di antara mereka.

Sakura telah memilih Sasuke sebagai kekasihnya. Membuat Naruto agak terkejut saat itu. Dan Naruto perlahan mulai menghindari mereka pada awalnya. Mungkin saat di sekolah, Naruto masih terlihat dekat dengan Sasuke. Namun tak sedekat dulu sebelum tanpa sadar Sakura telah merusaknya.

Sakura tersenyum masam mendapati dirinyalah yang dulu membuat hubungan kedua orang ini merenggang.

'Aku benar-benar payah... Tapi aku sangat senang melihat momen ini lagi setelah sekian lama.'

Lanjutnya bicara sendiri dalam hati.

"Eh...? Sakura...? Apa kau tidak apa-apa...? Kenapa kau menatapku seperti itu?"

Naruto bertanya pada gadis berambut merah jambu di depannya. Mendengar suara dari Naruto membuat Sakura cepat tersadar dari lamunannya.

"Tapi... Terima kasih telah perhatian padaku. Apa mungkin kini kau telah membuka sedikit hatimu untukku?"

Mendengar kalimat yang diucapkan Naruto membuat pertigaan muncul di dahi Sakura.

"Menjijikkan..."

Balasnya singkat dengan sebelah alis yang berkedut-kedut.

Tiba-tiba kapal menjadi agak sedikit terang. Karena Hinata dan Anko telah menemukan sebuah lentera listrik di geladak. Mereka berdua berhasil membuat kapal ini jadi tempat yang sedikit nyaman untuk menunggu mereka sampai ke Konoha.

"Tunggu, Apa itu..."

Ucap Sasuke yang tiba-tiba menemukan sesuatu setelah lentera terangi setiap sudut di kapal mereka.

Sasuke melepaskan Naruto dan mulai berjongkok memungut sebuah kantung aneh di sudut buritan kapal. Ia membukanya dengan rasa penasaran. Sakura dan Naruto hanya diam melihat gerak-geriknya. Sesuatu yang mengejutkan sedikit membingungkan Sasuke setelah mengambil barang yang ada di dalam kantong tersebut.

"Amunisi...?"

Ucap Naruto tiba-tiba berlutut di samping Sasuke untuk melihat 3 slot Magazen yang berisi masing-masing 5 butir peluru tipe Remington berkaliber 7 milimeter itu lebih dekat. Hal yang sama juga dilakukan oleh Sakura yang berlutut di samping kekasihnya.

"Lihat, Ada kertas di dalamnya."

Kata Sakura saat direksi matanya temukan sebuah secarik kertas di dalam kantong tersebut.

Sasuke memungutnya. Pemuda itu mulai melihat dengan seksama secarik kertas yang memiliki beberapa baris tulisan tersebut.

'Kau tidak berpikir untuk kembali ke Konoha dengan senjata tanpa peluru itu Bukan? Tetaplah hidup sampai kita bertemu nanti, Sasuke.'

Alis Sasuke mengernyit setelah membaca isi pesan dari surat tersebut. Pemuda itu terdiam untuk sesaat.

"Hei... Naruto. Apa kau ingat saat kami bertanya padamu tentang siapa yang telah mengaktifkan kembali generator pembangkit di pulau itu..."

Tiba-tiba saja Sasuke bertanya kepada sahabat yang berjongkok di sampingnya. Soal seseorang yang bisa menyalakan kembali pembangkit listrik di Gunkanjima.

"Itu... Ada apa memang...? Apa kau tahu sesuatu...?"

Jawab Naruto kemudian. Sembat terbingung oleh pertanyaan yang terlempar padanya.

Sasuke memandang Naruto dan Sakura dengan tatapan yang serius. Yang bahkan Sakura mengerti ada suatu arti yang tak bisa dijelaskan melalui pandangan itu.

"Kurasa kini aku tahu siapa yang membangkitkan generator di pulau itu."

Mata Sakura melebar terkejut. Sedangkan alis Naruto ikut mengernyit ingin tahu. Karena ia merasa amunisi ini seperti di letakkan secara sengaja. Terlebih lagi, Pelurunya benar-benar cocok untuk senjata milik Sasuke. Dan bahkan meninggalkan secarik pesan kertas untuknya.

"Seseorang yang mampu bergerak di balik bayangan... Yang bahkan tak ada satu pun anggota keluarga yang mengetahui siapa jati dirinya yang sebenarnya..."

Sasuke bangkit berdiri. Ia mulai menoleh kebelakang. Menatap tajam kearah pulau Gunkanjima yang kini semakin tak terlihat oleh kejauhan. Angin malam yang terbelah oleh laju kapal ini membuat rambut hitamnya terkibas.

'Sedari dulu, Bahkan sampai di detik ini pun... Kau selalu remehkan aku... Menganggapku seperti anak kecil yang harus selalu kau lindungi... Penahkah kau berpikir, Bahwa itu yang selalu kubenci darimu... Itachi.'

.

.

.

.

Di tempat yang terpisah jauh dari tim Naruto bergerak, Sebuah labotarium dengan Drone dan alat-alat canggih lainnya, Seseorang tengah duduk di sebuah kursi khusus. Tidak ada satupun pakaian yang melekat pada tubuh atasnya. Ia duduk membungkuk bertelanjang dada. Matanya yang tajam menatap lurus kearah pria paruh baya berambut sangat panjang hingga menjuntai kebawah.

"Inikah eksperimen yang telah kau buat dan ciptakan..."

Tanya pria yang duduk di kursi labotarium tersebut. Melemparkan sebuah pertanyaan untuk pria lain yang tengah sibuk di depan layar komputer miliknya. Membuat lawan bicaranya tersenyum licik bagaikan seekor ular berbisa.

"Tolong jangan samakan diriku dengan Khusina, Obito..."

Jawabnya masih memberikan senyum yang mengerikan itu.

"Kau bisa bilang, Bahwa aku... Berada di tingkat yang sama dengan Hiashi Hyuuga."

Lanjut pria berambut panjang dengan tato ungu yang mengelilingi area sekitar matanya.

"Di mataku, Kau tidak lebih dari sekedar pemulung yang memungut karya orang lain dan mengembangkannya."

Kata Obito dengan sinis pada Orochimaru, Lawan bicaranya.

Tidak ada orang lain selain mereka berdua di ruangan redup ini. Hanya ada Obito Uchiha, Dan Orochimaru yang tengah sibuk menyesuaikan data di layar komputernya.

Hanya dibalas dengan kikikan, Orochimaru menekan Key terakhir untuk menyudahi penyesuaian data miliknya.

"Kurasa kau terlalu sinis padaku. Bukankah manusia hidup untuk mengembangkan sesuatu yang telah ada...?"

Sahutnya.

"Maka dengan filosofi yang mereka genggam, Manusia mampu ujtuk terus hidup dalam kemajuan. Era di mana Manusia mampu untuk mengontrol alam yang setelah sekian lama membelenggu diri mereka masing-masing..."

Lanjut Orochimaru lagi.

"...Katakan saja semaumu. Ayo segera mulai penginjeksiannya, Orochimaru. Punggungku mulai keram menunggumu."

Ucap Obito yang masih saja menatap Orochimaru dengan tatapan sinis. Sedangkan satu-satunya lawan bicaranya tersebut lagi-lagi tertawa.

"Hahaha... Maaf jika telah membuatmu menunggu lama."

"Ini akan sedikit berbeda dengan milik Hiashi. Jika orang itu meciptakan sebuah partikel yang mampu menutupi kesenjangan genetis manusia... Maka aku akan menciptakan sesuatu yang lebih sempurna dari miliknya."

Kreck...

Sebuah belenggu logam mencengkram pergelangan tangan Obito yang tersandar pada kursi khusus yang saat ini didudukinya. Obito nampak tenang dan tidak terkejut sama sekali dengan belenggu logam yang mengunci pergerakan tangan kanannya itu. Karena ini memang sesuatu yang telah mereka berdua rencanakan sebelumnya.

"Apa yang Hiashi ciptakan, Masih terbatas pada satu struktur Gen dan sangat-sangat khusus yang hanya bisa digunakan pada putrinya. Sehingga jika dipaksa dan terindikasikan pada orang lain, Akan membuat dunia ini jadi kumbangan mayat hidup seperti sekarang. Tapi..."

Orochimaru menggantungkan kalimat terakhirnya. Ia berjalan mendekat pada Obito. Tangannya mulai menekan sebuah Key untuk mengaktifkan sebuah alat di sebelah Obito. Membuat alat itu mulai aktif dengan sendirinya. Bergerak pelan dengan hati-hati, Drone tersebut mengarahkan sebuah jarum dan tabung yang berisi suatu cairan.

"...Mahakarya yang telah kukembangkan darinya, Mampu membuatmu untuk mengendalikan apa yang telah tercipta dari mahakarya miliknya."

Lanjut Orochimaru dengan senyum yang mengerikan.

Jarum injektor yang berisi sebuah rangkaian Virus baru ciptaan Orochimaru mulai menembus urat nadi tangan kiri Obito. Proses injeksi sedang berlangsung. Cairan itu mulai didorong masuk ke lengan milik Obito. Membuat pria dengan rambut berantakan tersebut sedikit merasa kesakitan.

Satu per satu peluhnya mulai berjatuhan begitu proses injeksi telah selesai. Alat itu bergerak menjauh, Namun Obito masih terkunci di tempat ia duduk saat ini.

Tiba-tiba seluruh urat di tangan kirinya berkontraksi sangat keras. Gigi Obito bergemelatuk kesakitan. Ia merasakan cairan itu seperti terpecah dan langsung masuk keseluruh jaringan syaraf di tubuhnya. Otot-otot Obito mengejang. Tidak pernah ia merasakan yang sesakit ini sebelumnya. Rasa sakit yang benar-benar mengerikan.

"Ara-ara... Maaf jika mahakarya milikku terlalu agresif padamu."

Ucap Orochimaru yang malah tersenyum licik sambil kembali ke tempat komputernya terletak.

"K-Keparat... Setidaknya-... Bius aku terlebih dulu jika kau telah mengetahui bahwa akan jadi seperti, Brengsek-..."

Maki Obito yang hampir tidak kuat lagi menahan sakit di tiap inchi tangan kirinya.

"Ada satu hal lagi yang ingin kuberitahukan padamu, Obito."

Kata Orochimaru sambil kembali memantau reaksi biotik lengan dan tubuh Obito dari layar monitor komputer miliknya.

"Virus yang kuberikan padamu itu, Terdiri dari rangkaian sel-sel yang hidup. Mungkin kau bisa menyebutnya sebagai Plaga. Karena sifat dari Virus ini sangat mirip dengan sifat tumbuhan liar di hutan Amazon."

"A-Apa maksudmu-..."

Tanya Obito terlihat masih sangat kesakitan.

Mata Orochimaru sedikit melebar setelah menemukan sesuatu yang ia perhatikan dari layar monitornya. Virus-Virus buatan yang telah diinjeksikan ke tubuh Obito begitu cepat menyesuaikan diri dan bereaksi. Sel-sel itu bergerak menuju ke struktur belakang tulang punggung Obito. Tiap partikel yang terpecah mulai menjadi satu dan menetap di belakang tulang punggungnya. Bukan hanya menutupi, Namun telah menambah struktur genetis milik Obito. Bahkan memperbaruhinya.

"Jawab aku brengsek!"

Teriak kasar Obito karena Orochimaru terus diam memperhatikan layar monitor di depan matanya.

Orochimaru berdiri, Menegakkan tubuhnya yang tadi membungkuk terus memperhatikan. Mata yang bagaikan ular itu menatap lurus kearah Obito yang terus-menerus mencengkram tangan kirinya kesakitan tiada henti.

"Dengan kata lain... Kau lah, Inang baru dari Virus ini... Obito."

Jawab Orochimaru dengan nada bangga yang terdengar darinya.

Tepat saat Orochimaru memberikan jawabannya, Rasa sakit yang Obito rasakan mendadak reda tanpa dirinya ketahui pasti. Desah nafas pendek yang terputus-putus terdengar. Nafas Obito tersenggal-senggal seperti ia telah berlari ratusan meter. Raut yang terpampang di wajahnya sangat kentara sekali bahwa ia telah kelelahan. Menahan rasa sakit yang mengerikan itu benar-benar membuatnya harus berjuang keras.

Pintu otomatis ruangan yang redup ini terbuka. Bunyi alas sepatu yang keras beradu dengan lantai terdengar. Seseorang di kegelapan perlahan berjalan mendekati mereka berdua.

"Bagaimana..."

Tanya seseorang yang saat ini masih tak terlihat sosoknya. Namun mendengar suaranya saja membuat Obito dan Orochimaru tahu dengan pasti siapa sosok yang datang tersebut.

Obito menoleh dengan nafas masih tersenggal-senggal. Sedangkan Orochimaru lagi-lagi menampakkan senyum liciknya.

"Sempurna. Prosesnya berjalan dengan sangat lancar."

Jawabnya dengan bangga oleh hasil ciptaan miliknya.

Belenggu yang mencengkram pergelangan tangan Obito terlepas. Sesaat untuk mengambil sedikit nafas, Obito lalu bangkit berdiri. Pria itu berjalan kearah pintu keluar sambil memungut kemeja putih dan jas hitam miliknya yang tergantung. Obito mulai mengenakan lagi kemeja miliknya dan terus berjalan mendekati pintu. Namun suara dari sosok asing itu membuat langkahnya terhenti.

"Tim Hashirama telah bergerak."

Ucapnya, Yang membuat Obito berhenti tepat di sampingnya. Mereka kini berdiri sejajar dengan berlainan arah.

"...Aku tahu itu."

Jawab singkat Obito dan akan segera melangkahkan kakinya kembali.

"Ada sesuatu yang aneh. Itachi telah mati. Oleh sebab itu Hatake Kakashi kini bergabung dengan divisi Hashirama untuk membantu."

Lanjut Obito mengatakan apa yang telah ia ketahui selama ini.

"Jika begitu, Bagaimana menurutmu... Obito."

Tanya sosok tersebut.

"..."

"Yang jadi inti dari pergerakan strategi mereka... Adalah Minato Namikaze. Hanya itu yang patut kita waspadai saat ini."

Ucap Obito lagi setelah sesaat terdiam.

Dari nada bicaranya, Obito tampak sangat mengenal siapa sosok Minato Namikaze tersebut. Bahwa orang yang menjadi otak yang mengorganisir pergerakan seluruh divisi pertahanan Konoha, Benar-benar bukanlah orang yang sebarangan. Mengingat namanya kembali saja, Membuat bulu roma Obito bergidik ngeri. Mengingat bagaimana seratus rencana lebih miliknya telah terpatahkan dengan mudah oleh Divisi intelejensi Konoha, Yang saat itu Minato masih menjadi otak polisi dan agen-agen khusus Konoha.

Di bawah kepemimpinan Minato, Membuat Hatake Kakashi dan Uchiha Itachi benar-benar jadi orang yang paling merepotkannya selama ini. Kesempatan Obito dapat terwujud saat Minato yang secara tiba-tiba memutuskan untuk memundurkan diri dari kursi pemimpin divisi intelejensi Konoha beberapa waktu lalu tanpa alasan yang jelas.

Hanya itu...

Hanya karena itu rencananya berhasil dilakukan. Karena tidak ada lagi seorang yang seperti Minato yang memimpin divisi pertahanan Konoha. Membuatnya mampu meledakkan seratus juta partikel virus mikro lebih di tengah-tengah pusat Kota Konoha. Membuat Uchiha Itachi dan Hatake Kakashi terlihat tak lebih dari segumpal sampah di matanya.

Namun kini ia telah mendengar, Bahwa orang itu telah kembali. Minato Namikaze telah kembali duduk di kursi pemimpin divisi pertahanan khusus Konoha. Dengan kemungkinan orang yang memiliki daya berpikir yang mengerikan itu akan kembali berdiri tepat di depan jalannya.

"Begitu..."

Jawab singkat sosok tersebut setepah mendengar jawaban Obito.

"Kau duduk manis saja di kursimu. Lalu lihat permainanku. Siapa yang akan menang, Antara aku dan dia..."

Ungkap Obito yang mulai berlalu meninggalkan sosok itu sambil mengancingkan semua kancing kemeja putihnya.

Sosok itupun tersenyum rendah setelah mendengar kata-kata Obito tadi. Sepertinya akan ada hal yang menarik untuk disaksikan setelah Dunia mengalami kehancuran. Pertarungan strategi, Antara Obito Uchiha dan Minato Namikaze.

Sosok itu memungut sebuah pisau bedah. Tanpa ada tujuan pasti ia menyayat lengannya sendiri. Darah mengucur keluar dari luka sayatan itu. Sosok tersebut memandangi lukanya sendiri. Coba membandingkan sakit luka itu dengan luka di hatinya di masa lalu.

"Tidak ada yang perlu kulihat dari Dunia yang menjijikan ini. Akan kuhapus semua harapan palsu yang tercipta dari kata-kata. Akan kulenyapkan seluruh kasih dan cinta yang semu. Dunia ini... Akan menjadi peradaban yang terbuang... Seperti aku yang telah terbuang oleh Dunia."

Ucapnya sambil menggenggam erat kepalan tangannya.

Berjalan santai, Obito memakai kembali jas hitam miliknya. Ia berjalan di lorong-lorong koridor sepi. Menuju kearah pintu yang terhubung ke Dunia luar. Dunia para orang mati.

"Akan kutunjukkan pada Dunia ini... Arti dari penderitaan yang sebenarnya."

.

.

.

.

Drep! Drep! Drep! Drep!...

Seseorang berlari di tengah lorong yang gelap. Flashlight kecil yang terpasang di Sub-Machine Gun P90 miliknya menjadi satu-satunya penerang jalan yang ia punya. Seorang diri terus berlari tanpa tujuan. Seolah-olah tengah dikejar oleh sesuatu yang mengerikan.

Direksi matanya melihat pintu yang terbuka di tengah lorong. Tanpa banyak pilihan ia langsung berkelok dan masuk kedalam sana.

Saat itulah ia sadar bahwa ruangan ini adalah ruangan pertemuan VIP gedung Kementrian Konoha. Dengan tergesa langsung ditutupnya pintu tersebut. Nafas yang tersenggal membuatnya harus bersandar sejenak di depan pintu yang baru saja ia tutup. Mulai menstabilkan deru nafasnya, Pria tersebut mengeluarkan ponsel miliknya.

"Kuharap aku tidak terlambat..."

Ucap Kakashi memperhatikan layar ponsel penunjuk jam di tangannya. Waktu masih menunjukkan pukul 22:40 malam. Dirasa akan masih ada banyak waktu yang tersisa baginya sebelum operasi besar unit divisi pertahanan Konoha dimulai.

Braakkk!

Brakk-Brakk-Brakkk!

Tiba-tiba pintu di dobrak dengan paksa. Kakashi menjadikan tubuhnya sendiri sebagai kunci yang mengalangi pintu tersebut untuk terbuka. Sesuatu yang terbesit di pikirannya saat ini. Jika ia tidak segera meloloskan diri dari mereka secepatnya, Misinya akan menjadi kacau balau.

Kakashi melepas slot amunisi yang ada di bagian atas senjatanya untuk melihat sisa peluru yang ia punya.

"Sepertinya ini saat-saat yang buruk untukku..."

Ucapnya pelan melihat sedikit peluru yang tersisa untuknya. Pria tersebut memasangnya kembali. Dan bersiap untuk menghadapi mereka yang kini hampir bisa membuka pintu secara paksa.

"...Tidak ada pilihan lain."

Imbuhnya lagi.

Kakashi maju kedepan dan berbalik dengan cepat menghadap ke pintu itu. P90 miliknya telah siap terbidik kearah sana.

Blaamm!

Akhirnya pintu terbuka keras. Zombie-Zombie ganas kelaparan bermunculan melalui pintu tersebut. Berlari liar menuju kearah Kakashi berdiri.

"Haaaarrrkkhh!"

Seorang wanita berpakaian compang-camping penuh darah di sekitar mulutnya mencoba menyerang Kakashi.

Derrrrttt...

Beberapa butir peluru melesat menghujam tepat ke kepalanya. Membuat wanita tersebut terjungkal jatuh kebelakang.

"Maaf, Aku tidak bermaksud kasar pada wanita."

Oceh Kakashi tidak jelas.

Bukan hanya wanita itu saja yang mencoba menyerang Kakashi. Tujuh sampai delapan mayat hidup kelaparan datang dengan cepat kearahnya. Membuat Kakashi berbalik dan berlari menyelamatkan diri.

Seseorang berhasil mencengkram bahunya. Tapi Kakashi malah melempar senjata yang ia punya dan menarik sebuah lemari besar. Zombie tersebut akan menarik tubuh Kakashi. Namun lemari besar di sampingnya terlebih dulu jatuh tepat menimpa tubuhnya.

Untuk sedetik, Kakashi berhasil lolos dari yang satu ini. Tapi Zombie-Zombie buas yang lain terus mengejarnya dari belakang.

Kakashi kembali berlari kearah meja pertemuan. Beberapa Zombie kelaparan mengikutinya. Ia menaiki meja tersebut dan melompat keatas. Bergelantungan di baling-baling kipas angin besar di langit-langit ruangan. Membuat beberapa Zombie yang mengejarnya terkecoh dan menabar meja di bawahnya. Saling tabrak membuat makhluk-makhluk itu terpeleset berjatuhan di lantai.

Kakashi melepaskan pegangannya dan turun dari baling-baling kipas saat melihat kesempatan itu. Bergegas Kakashi kembali berlari menuju pintu untuk keluar. Namun lagi-lagi ada mayat hidup yang menghadang jalannya.

"Sepertinya kalian mulai menyukaiku."

Ucapnya lagi-lagi tidak jelas pada siapa.

Mayat hidup di depan pintu tersebut hampir berhasil mencengkram dirinya. Tapi Kakashi melakukan Slide kebawah dan meluncur bebas di lantai. Membuatnya melewati kolong kaki Zombie itu. Namun tangannya tidak diam begitu saja. Kakashi menarik pergelangan kaki Zombie tersebut hingga membuatnya jatuh membentur lantai dengan keras.

"Maaf, Aku duluan."

Ucapnya untuk yang kesekian kali. Ia mulai berlari meninggalkan mereka, Dan menuju cepat kearah dua pintu besar gedung Kementrian ini.

Kakashi membuka pintu keluar tersebut, Lalu menutupnya rapat kembali setelah ia melewatinya. Untuk sesaat Kakashi berhasil menghindar dari kejaran Zombie-Zombie mengerikan di dalam gedung itu. Tapi apakah ia akan kembali berhasil lolos dari Zombie-Zombie ganas yang ada di Kota ini...?

"Astaga... Ini benar-benar hari yang buruk untukku."

Ucapnya lemas setelah direksi kedua matanya melihat kedepan. Belasan... Bahkan puluhan Zombie yang memadati halaman gedung Kementrian tengah melihat kearahnya saat ini.

.

.

.

.

To Be Continue...


Yoo...!

Felix-Kun kembali hadir lhoo...

Maaf untuk para pembaca yang sudah menunggu terlaaaaaalu lama menantikan Update Chapter yang ke-6 ini

Karna masalah teknis (Andro buat nulis ceritanya mati total) membuat lanjutkan Chapter yang lalu jadi tersendat lama.

Feel untuk membuat cerita ini juga agak hilang dan ngeblank... Jadi susah sendiri deh

Sekali lagi Author benar-benar banyak minta maaf... m(_ _)m