Cahaya putih redup beberapa kali berketip. Pertanda bahwa lentera yang menerangi kapal mereka seperti telah usang termakan waktu. Daya yang diberikannya juga tidak cukup terang. Tapi setidaknya mampu memberikan sedikit bantuan penerangan untuk enam Survivor yang sampai saat ini masih beruntung untuk tetap bertahan hidup. Berjuang begitu keras dari Neraka yang tercipta akibat keegoisan manusia itu sendiri. Ingatan mengerikan yang begitu kelam, Semenjak hari bencana itu tiba. Hari di mana semua kengerian ini berawal tanpa ada seorang pun yang tahu pasti apa penyebab. Sebuah hari penghakiman, Di mana dengan mata mereka sendiri, Melihat satu persatu teman-teman yang mereka miliki mati mengenaskan.

Di antara mereka, Seorang pemuda tengah melepas slot Magazen usangnya. Menggantinya dengan slot Magazen yang baru dengan 5 butir peluru lengkap terisi penuh di dalamnya. Malam semakin larut. Tapi ada suatu hal penting yang harus mereka lakukan hingga harus kembali ke Kota Konoha yang telah luluh lantak. Dengan ini Sasuke telah siap dengan resiko dan segala hal buruk yang akan terjadi nanti. Begitu juga dengan sahabat berambut kuning di sampingnya.

Naruto menekan satu tombol kecil di sisi Frame Glock-17 miliknya. Sehingga membuat slot Magazen yang melekat kini meluncur jatuh. Tangan kiri Naruto menangkap slot itu. Mulai menghitung berapa sisa butir amunisi yang ia miliki.

Kiba, Hinata, Sakura, Dan semua orang di yang ada di kapal ini memasang raut serius. Termasuk juga Anko, Satu-satunya guru yang saat ini ada bersama dengan mereka. Namun kedua manik itu selalu saja melirik seseorang. Pandangannya selalu saja terlempar untuk salah satu muridnya di sana. Melihat apa saja yang tengah Naruto lakukan. Melihat setiap lekuk wajahnya. Melihat perbedaan pakaian yang ia kenakan saat terakhir mereka terpisah. Arah pandangannya selalu lekat pada Naruto. Luka dan bekas darah di sudut bibirnya, Entah membuat Anko mengingat saat-saat itu.

'Waktu telah berlalu lebih cepat dari yang kuduga. Kau telah banyak berubah dari seorang yang kukenal dulu. Bukankah begitu... Naruto Namikaze-kun...?'

Ungkap Anko dalam hatinya memandang begitu dalam sosok Naruto

Saat-saat ia masih mengajar di Konoha Gakuen. Mengingat bagaimana satu muridnya itu selalu saja menyita perhatian dan waktunya.

Flashback...

.

.

.

.

Awan-awan di atas langit Konoha terbawa oleh angin yang menari. Membawa tumpukan buku-buku di pangkuan tangannya, Anko berjalan menyusuri lorong sekolah yang telah agak sepi. Begitu banyak tugas yang harus ia selesaikan membuat Anko terpaksa harus terpenjara di sekolah hingga menjelang sore.

"Hhhh..."

Ia menghembuskan nafas lelah. Mungkin ia butuh istirahat panjang esok hari. Namun sesuatu membuat perhatiannya terpecah sesaat setelah mendengar sepenggal percakapan 4 siswi yang sedang mengobrol di depan pintu kelas mereka.

"Ne, Ne... Apa kau dengar kejadian tadi?"

"Nani-Nani...?"

"Ano sa... Kudengar dia kembali membuat ulah lagi di dekat sekolah."

"Dia...?"

"Apa yang kau maksud itu... Etto... Naruto-senpai, Dari kelas XII-4...?"

"Sou-Sou..!"

"Ah, Senpai yang itu. Memangnya apa yang telah terjadi?"

"Apa kau benar-benar ingin tahu, hm...?"

"Ayo katakan padaku apa yang telah terjadi..."

"Ara... Ternyata benar, Kau mempunyai rasa pada orang itu bukan...?"

"Hontou ni? Kau memiliki rasa pada Senpai yang berisik itu?"

"Mooo... Kalian jangan menggodaku seperti itu! Naruto-senpai itu menurutku bukan murid yang selalu berisik. Terkadang dia juga bisa bersikap lembut pada adik-adik kelasnya. Bukankah itu benar, Ya kan?"

"Eh'em... Sepertinya ada yang sedang jatuh hati dengan salah satu Senpai di sekolah ini..."

"Sudahlah, Cepat ceritakan saja ada apa dengannya!"

"Ahaha... Ha'i-Ha'i... Etto... Kudengar, Saat sekolah telah usai tadi, Naruto berkelahi dengan sekelompok geng berandalan di dekat sekolah."

"Benarkah...? Lalu?"

"Aku tidak tahu pasti detailnya. Tapi saat ini dia masih ditahan di ruang guru."

"Ah, Kudengar dari murid-murid yang lain, Sasuke-senpai dan Kiba-senpai juga ikut terlibat dalam perkelahian itu."

"Sungguh? Aku baru tahu hal itu."

Tiba-tiba seseorang berhenti di depan mereka berempat. Dengan membawa tumpukan buku di tangannya, Anko berdiri melihat kearah mereka.

"Apa yang kalian lakukan di sekolah sore-sore seperti ini?"

Tanya Anko pada mereka.

"S-Sensei...?!"

Kejut mereka berempat bersamaan. Tidak menyangka bahwa akan ada seorang guru yang menegur mereka secara tidak terduga.

"Dari pada membicarakan hal yang tidak penting seperti itu di sini, Bukankah lebih baik kalian pulang dan kerjakan PR kalian?."

Ucap Anko menasihati murid-muridnya yang masih saja berkumpul di sekolah untuk mengobrol kesana-kemari tidak jelas.

"H-Ha'i, Sumimasen deshita..."

Ucap mereka bersamaan membungkuk dan mulai beranjak pergi.

Anko sejenak memperhatikan kepergian mereka berempat. Namun kemudian, Perhatian itu mulai teralihkan menuju ke gedung sekolah sebelah. Kedua maniknya terhatikan mematap kearah ruang para guru.

.

.

.

.

Braaakkk...!

Seorang guru menggebrak meja dengan kedua tangannya.

"Sebenarnya apa yang sedang kalian pikirkan, Hah?!"

Bentaknya pada tiga pemuda yang saat ini tengah berdiri di depannya.

Tidak ada jawaban. Ketiga murid tersebut hanya diam tidak memperdulikan ucapannya sama sekali.

"Aku bertanya pada kalian! Kenapa kalian diam saja seperti patung?!"

Teriak guru tersebut dengan nada tinggi. Lagi-lagi berhadapan dengan ketiga anak ini membuat darahnya naik. Masalah, Masalah, Masalah. Selalu saja di antara ketiga anak ini yang menjadi biangnya.

Tidak banyak guru yang masih menetap di area sekolah saat hari telah menjelang sore. Jika ada pun mungkin menetap sesaat untuk selesaikan tugas-tugas yang menumpuk yang harus diselesaikan hari itu juga. Namun nampaknya ada pengecualian untuk seorang guru baru yang duduk di mejanya tak jauh dari keributan mereka. Sambil bertopang dagu memandangi ketiga murid yang tengah dimarahi habis-habisan di sana, Kakashi Hatake duduk begitu santai tanpa ada beban di pundaknya sebagai seorang guru SMA Konoha Gakuen. Bahkan sebenarnya tidak lagi tersisa tugas-tugas yang harus ia selesaikan di hari ini. Namun tanpa alasan yang jelas ia masih saja duduk manis dan memperhatikan ketiga murid yang terkenal gemar mencari biang keributan. Terutama seorang pemuda yang bernama lengkap Naruto Namikaze. Pandangan Kakashi selalu saja menatap kearahnya dengan tatapan seperti ingin tahu lebih dalam.

"Hei, Kalian bertiga! Cepat jawab aku sekarang juga kenapa kalian berkelahi di luar sekolah tadi...?!

" Hhhh..."

Desah Naruto malas mendengar ocehan guru di depannya itu.

Twiiich...

Muncul perempatan di kening guru tersebut ketika melihat reaksi Naruto barusan.

"Apa-apaan dengan reaksimu itu oeii, Naruto?!"

Tanyanya dengan berteriak emosi di depan pemuda berambut kuning rancung tersebut.

Tiba-tiba pintu ruang guru di sana terbuka. Menampakkan sesosok wanita muda yang kesusahan membawa barang-barang bawaannya melangkah masuk ke ruangan ini.

"Kurasa aku mendengar sedikit keributan saat sampai di depan pintu. Apa yang telah terjadi...?"

Ucap Anko bertanya sambil meletakkan buku-buku yang dibawanya itu di atas meja guru miliknya.

Seluruh pasang mata kini teralihkan pada kedatangannya. Termasuk Naruto, Sasuke, Kiba dan Kakashi. Setelah merapikan mejanya, Anko lekas berbalik untuk mendapat konfirmasi atas keributan yang sempat ia dengar di luar pintu tadi. Walau sebenarnya ia telah tahu tentang ketiga murid itu dari obrolan gadis-gadis kelas satu.

"Mereka bertiga mencari masalah lagi."

Jawab guru yang berada tepat di depan Sasuke, Naruto dan Kiba.

"Sudah kubilang tadi, Ya kan?! Bukan kami yang mencari masalah!"

Elak Kiba membantah.

"Diam kau anak muda! Kalian bertiga beruntung kepala sekolah yang mengurus gerombolan geng-geng itu! Harusnya kalian bersyukur masih dapat berdiri di hadapanku tanpa luka serius!."

"Bahkan tanpa Jiraya-sensei pun kami akan baik-baik saja. Kuso... Padahal kami hampir saja menang."

Ucap Naruto pelan menanggapinya. Membuat darah guru tersebut benar-benar mendidih.

"Ini bukan tentang menang atau kalah, Bodoh! Ini tentang keselamatan kalian!."

"Cih..."

"Jangan mendecih di depanku, Narutoo!"

"Hhh..."

Anko mendesah pelan melihat keributan ini.

"Iruka-san, Sepertinya anda sangat kerepotan lagi-lagi menghadapi mereka bertiga. Jadi... Kali ini biarkan aku yang mengurus mereka. Akan kuselesaikan masalah ini dengan caraku secepat mungkin."

Kata Anko coba memberi saran.

"Kurasa ada benarnya juga. Anda tidak ingin menghabiskan hari hanya dengan memarahi mereka bertiga bukan...?"

Ungkap Kakashi yang semenjak tadi berdiam diri dan hanya memperhatikan. Dari tiap katanya, Seperti ada maksud tersendiri. Entah itu seperti mendukung Anko, Atau ada maksud yang lain.

"Tapi-... Hhh... Baiklah. Aku sudah lelah berteriak terus-menerus sejak tadi. Kuserahkan padamu, Anko-san."

Jawab Iruka lesu sambil membawa tasnya berjalan keluar untuk menenangkan diri.

"Hhhh... Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Tapi... Bisakah kalian ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Aku akan mendengarkannya."

Ucap Anko-sensei dengan nada lembut sambil berjalan mendekati mereka bertiga.

Tidak ada jawaban. Mereka tetap hening dalam diam tanpa ada satupun yang beradu pandang dengan Anko. Entah itu Sasuke, Naruto, Atau pun Kiba.

"Sebenarnya aku telah mengetahui bahwa kalian terlibat perkelahian dengan segerombolan geng di luar sekolah. Apapun yang akan kalian katakan... Aku akan mempercayainya. Jadi, Katakan padaku apa alasan kalian hingga terjadi keributan di luar sana."

Lanjut guru muda itu lagi mencoba meredam suasana yang telah terlanjur kaku di antara mereka.

"Aku... Hanya tidak suka..."

Ucap Naruto pelan sambil melihat kearah lain. Dari kata-kata itu, Naruto terdengar seperti ingin mencurahkan isi hatinya. Pemuda itu masih menggantungkan kalimatnya. Namun, Bagi Anko menunggu tidaklah jadi masalah baginya asal ia tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Kedua tangan Naruto terkepal erat...

"Aku hanya... Tidak suka melihat mereka mengganggu Hinata. Aku sangat muak... Melihat siapa pun yang mengganggunya. Siapa pun dia aku tidak peduli. Aku benar-benar tidak bisa menahan diri untuk menghajar wajah orang yang telah membuat Hinata menangis. Hanya itu alasan yang kupunya."

Ungkap Naruto menceritakan alasan yang sesungguhnya. Tangannya terkepal erat. Kedua manik indah sebiru Safir itu seakan sendu mengingat kembali bagaimana air mata Hinata menitik jatuh. Gemetar dan ketakutan saat ditindas 7 pemuda berandalan dari geng yang ditakuti di sela likuk Kota Konoha.

'Ya... Itulah yang kau katakan padaku saat itu. Dibalik pendirian dan tekadmu yang kuat, Kau menunjukkan padaku sisi lain dari dirimu yang sebenarnya.'

'Hatimu benar-benar lembut... Benar-benar baik dan tulus dibalik kepribadianmu yang keras kepala. Kau begitu kacau dan ceroboh jika itu soal seseorang yang berharga bagimu. Tapi, Memang itulah yang membentuk dirimu sampai saat ini.'

"Aku sudah mendengar alasan dari Namikaze. Lalu, Bagaimana dengan kalian berdua...?"

Tanya Anko sambil melirik Sasuke dan Kiba yang berdiri tepat di samping Naruto.

"Tidak perlu alasan yang rumit untuk di jelaskan. Bocah ini memaksaku. Aku sudah bilang tidak mau tapi, Dia berlutut sambil mencium ujung sepatuku untuk membantunya. Apa boleh buat bukan."

Jawab Sasuke dengan santainya sambil menunjuk kearah Naruto.

"O-Oeii... Apa yang kau katakan, Apa yang kau bicarakan, Apa yang kau maksudkan Oeii...?!"

Sanggah Naruto cepat setelah mendengar alasan yang begitu dibuat-buat oleh Sasuke.

"Begitu. Lalu..."

Anko menoleh kepada Kiba.

"Tadi dia menghipnotisku. Secara tidak langsung sebenarnya aku benar-benar tidak terlibat. Bukan hanya berandalan sekolah. Naruto itu juga tukang sulap, Sensei."

Ucap Kiba meniru gaya bicara Sasuke yang santi dalam mengutarakan alasannya.

Mendengar ucapan yang sangat menusuk hati dari kedua orang itu membuat satu pertigaan muncul di kening Naruto seketika.

"Ka-... Kampret..."

Ucap Naruto pelan melirik kedua sahabatnya itu. Sedangkan Anko hanya mengangguk-angguk sebagai tanda mengerti dan menerima kedua alasan itu. Walau dirinya pun tahu sama sekali tidak ada kebenaran di antara kedua alasan konyol itu.

"Mahh... Bagaimanapun yang telah terjadi tetaplah telah terjadi. Alasan seperti apapun tetaplah ada hukuman bagi yang salah."

Sahut Anko sambil berbalik dan kembali ke mejanya. Sedangkan Kakashi masih memperhatikan mereka sambil bertopang dagu tanpa melakukan apapun.

Anko mengambil sebuah buku khusus sekolah yang mempunyai cap Konoha Gakuen di tiap lembarnya. Anko merobek 3 lembar kertas dari buku tersebut.

"Setidaknya aku akan memberi sedikit hukuman untuk kalian karena Iruka-sensei telah menyerahkan masalah ini padaku. Bawa kertas ini kepada orang tua kalian untuk menulis permintaan maaf atas kejadian ini. Ingat... Yang menulis adalah orang tua kalian sendiri. Dan jangan lupa untuk meminta tanda tangan beserta nama terang mereka. Kalian paham...?"

Tanya Anko sambil memberikan ketiga lembar kertas itu kepada tiga pemuda di hadapannya. Lagi-lagi Kakashi melirik Naruto yang sedang memperhatikan kertas putih itu. Mendengar instruksi dari Anko-sensei tentang apa yang harus mereka lakukan untuk hukuman mereka, Membuat kedua mata Naruto kembali meredup. Kakashi melihat ekspresi wajah pemuda itu dengan jelas.

"Sore sudah semakin senja. Kalian boleh pulang sekarang."

Ucap Anko sambil merapikan buku-buku di mejanya.

Mereka bertiga mulai melangkahkan kaki dan keluar dari ruangan itu. Hingga bunyi pintu yang tertutup lalu terdengar. Menandakan hanya tersisa Anko dan Kakashi saja yang ada di ruang guru ini.

"Mereka mungkin tidak akan ragu untuk mengulangi kesalahan yang telah mereka lakukan hari ini suatu saat nanti jika kau terus memanjakan mereka seperti itu. Yahh... Pada akhirnya Kepala Sekolah lah yang lagi-lagi akan kerepotan."

Sahut Kakashi tiba-tiba setelah sekian lama mengunci suara. Tiap kritikannya tidak membuat Anko terkejut. Guru muda itu tetap merapikan barang-barang yang ada di atas mejanya.

"Apa sikapku terlalu lembek...? Lalu apa yang sebaiknya harus kulakukan untuk memarahi mereka saat kau hanya berdiam diri saja tadi...?"

Balas Anko dengan tenang menyikapi kritikan dari Kakashi.

"Yahh... Sebenarnya bukan itu yang ingin kumaksud. Biar kuulangi kembali. Dia mungkin tidak akan ragu untuk mengulangi kesalahan yang telah ia lakukan hari ini suatu saat nanti, Jika kau terus memanjakan mereka seperti tadi... Anko-sensei."

Jawab Kakashi setelahnya. Entah kenapa kedua tangan Anko berhenti seketika. Tentu Anko mengerti apa yang Kakashi maksud. Dan tentu ia mengerti siapa yang Kakashi maksud.

.

.

"Dilihat dari segi manapun... Ini terlihat seperti hukuman yang ringan. Tapi benar-benar gawat jika orang tuaku mengetahui masalah ini. Belum lagi, Mereka sendiri yang harus menulis permintaan maafnya. Hahhhh... Benar-benar merepotkan."

Ucap Kiba sambil mengangkat selembar kertas di tangannya tinggi-tinggi keatas. Sesaat dia nerpikir bahwa hukuman yang diberikan Anko-sensei padanya hanya hukuman sepeleh. Tapi sepertinya ia telah salah mengira.

Mereka bertiga bersandar pada pegangan tangga sekolah. Merenungi nasib mereka yang mungkin nanti akan memburuk saat tiba di rumah. Membayangkan bagaimana reaksi orang tua mereka ketika tahu bahwa mereka telah terlibat perkelahian sepulang sekolah. Terlebih lagi untuk Naruto, Yang lemah bersandar dan terus-menerus memperhatikan lembaran kosong yang digenggamnya.

"Apa boleh buat bukan... Lebih baik kita segera pulang sekarang. Hasilnya akan sama saja walau kita pulang terlalu larut. Ikuze..."

Sahut Sasuke sambil melenggang pergi. Pemikiran yang selalu sederhana darinya. Namun selalu benar.

Kiba kemudian menyusul langkah Sasuke yang telah menuruni bebrapa anak tangga.

"Hhhh..."

Naruto menghela nafas berat. Ia menegakkan tubuhnya dan akan segera menyusul kedua sahabatnya yang telah jauh menuruni tangga. Namun sebuah tangan menggenggam pundaknya. Membuat langkah pemuda itu berhenti di tengah belasan anak tangga.

Naruto menengok kebelakang untuk melihat siapa yang telah menghentikan langkahnya. Raut sendu itu sedikit terkejut setelah mengetahui bahwa seorang yang menggenggam pundaknya adalah Anko-sensei.

"...?"

Naruto sedikit bingung. Kenapa Anko-sensei menyusulnya?. Kenapa Anko-sensei menghentikan langkahnya?. Setidaknya itulah yang ia tanyakan pada dirinya sendiri.

"Boleh aku bicara sebentar denganmu di sini...?"

Anko-sensei bertanya padanya. Sebuah pertanyaan yang membuat Naruto menjadi lebih bingung. Membuat pemuda itu tidak tahu harus menjawab apa.

"Reaksimu berbeda ketika berhadapan dengan ocehan Iruka-sensei tadi. Terlebih... Ekspresi wajahmu sangat berbeda dari kedua temanmu yang nampaknya tenang-tenang saja saat menerima hukuman itu dariku. Bisa ceritakan padaku apa yang sangat mengganggumu...?"

Tanya Anko lagi padanya.

Memang benar... Raut wajah Naruto begitu terpukul, Begitu sendu saat mengetahui bahwa harus orangan tuanya sendiri yang menulis surat permintaan maaf itu. Tapi apa alasan Naruto hingga jadi seperti ini?. Sedangkan Sasuke dan Kiba sepertinya tidak begitu mempermasalahkannya.

"..."

"...Setelah ini, Mungkin aku akan meminta Ibu untuk menuliskannya. Karena mungkin Ayah akan sangat sibuk dengan pekerjaannya."

Ucap Naruto yang sesaat terdiam.

"Jadi Ibumu yang akan menuliskannya... Memang benar jika mungkin Ibumu akan marah padamu nanti. Tapi bukankah kau berpikir bahwa itu adalah hal wajar setelah kau melakukan kesalahan?."

Sahut Anko kembali bertanya dengan nada yang halus.

"Bahkan jika Ibu memarahiku pun itu tidak jadi masalah..."

Naruto kemudian duduk di tangga sambil menjawab pelan. Lalu Anko pun ikut duduk tepat di sampingnya.

"Lalu...?"

"Yang jadi masalahnya... Ibu tak pernah memarahiku walau aku melakukan banyak kesalahan. Sebanyak apa pun... Seperti apa pun juga... Ia tak pernah menyalahkanku."

"..."

Naruto menundukkan kepalanya. Ia hanya bisa melihat kebawah. Tangannya meremas seragam sekolah yang ia kenakan. Sangat sakit... Dadanya begitu terasa sakit. Yang tanpa sadar setitik bulir air mata telah tertumpah dari sudut pelupuk matanya.

"Sebenarnya, Sudah cukup aku menjadi beban untuk Ibu. Sudah cukup aku membuatnya bersedih melihatku yang seperti ini. Tapi entah kenapa aku tidak bisa berhenti untuk tidak membuat kesalahan. Aku tidak ingin melihat wajah sedihnya. Bagiku... Melihat air matanya yang jatuh karena diriku, Itu lebih menyakitkan dari apa pun juga..."

Ungkap Naruto dengan penuh kesedihan.

Anko terdiam cukup lama. Kali ini Anko benar-benar tertegun melihat Naruto yang seperti ini. Sangat berbeda dengan Naruto yang biasa ia kenal sebagai murid yang ceria dan berisik. Untuk pertama kalinya... Anko melihat sisi lain dari Naruto. Sisi lemah yang pemuda itu sembunyikan selama ini. Melihat sisi Naruto yang begitu rapuh. Yang benar-benar mengerti akan kasih sayang yang diberikan oleh seorang Ibu. Naruto benar-benar sangat menyayangi Ibunya.

'Aku masih ingat perasaan saat itu...'

'Naruto Namikaze-kun... Saat aku berada di sampingmu waktu itu... Dan melihat sisi lain darimu yang mungkin tak pernah terlihat oleh orang lain... Membuatku tersadar oleh perasaan itu.'

"..."

Naruto sedikit bingung dan terkejut saat Anko menarik kertas yang ada di tangannya. Anko mulai menggoreskan tinta pada selembar kertas kosong tersebut dengan rangkaian kata maaf.

"S... Sensei..."

Gumam Naruto pelan. Kedua manik sebiru Safir itu melebar, Ketika ia melihat Anko menuliskan surat permintaan maaf atas perkelahian yang telah ia lakukan. Yang seharusnya harus ditulis oleh orang tuanya sendiri. Anko benar-benar menuliskannya untuk Naruto.

'Ya...'

'Perasaan bagaimana memiliki seorang adik...'

"Aku tahu tidak sepenuhnya dirimu yang bersalah atas kejadian ini. Aku mengerti bagimana perasaanmu terhadap kasih sayang orang tuamu. Aku mengerti itu semua."

Ucap Anko dengan terus menuliskan rangkaian kalimat yang pas untuk keributan yang telah Naruto lakukan. Yang tanpa sadar ia telah sampai pada kalimat terakhir di penghujung surat permintaan maaf yang ia tulis.

"Siapa... Nama Ibumu..."

Tanya Anko lembut sambil tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari selembar kertas yang telah ia isikan dengan pulpen miliknya. Menunggu Naruto untuk memberikan siapa nama Ibunya.

"Ku... Kushina Uzumaki..."

"Sou ka... Nama yang indah..."

Ungkap Anko sambil dengan perlahan menulis nama Ibu Naruto di sudut bawah surat tersebut. Lalu memberikan sebuah tanda tangan yang ia buat sebagai penutup akhir dari surat permohonan maaf tersebut.

Anko bangkit dari duduknya dan menoleh menatap Naruto. Ia memberikan surat yang telah ia isikan itu kepadanya dengan sebuah senyuman.

"Jadi, Untuk kali ini dan seterusnya, Jangan pernah membuat air mata sedih Ibumu jatuh lagi. Mengerti...?"

Kata Anko lembut pada pemuda berambut kuning rancung itu. Yang malah membuat Naruto diam terpaku tanpa kata.

"Ah... Dan satu hal lagi. Mulai saat ini, Aku akan terus memperhatikanmu dari jauh. Itu karena mulai sekarang... Aku adalah kakak perempuanmu."

Ungkapnya sambil menepuk pucuk kepala Naruto. Anko tersenyum lembut padanya.

'Mungkin memiliki adik yang berisik dan selalu membuat onar tidak buruk juga. Karena kini setiap aku berada di dekatmu... Aku merasa... Bahwa aku memiliki sosok seorang adik laki-laki yang harus kulindungi. Itulah perasaan yang kumiliki terhadapmu... Namikaze-kun.'

.

.

Flashback End...

.

.

.

"At Night Of The City"

The Place Of Hope

Chapter 7 : "Pada Malam Di Dalam Kota"

Genre : Adventure, Horror & Gore

Caution! Contains Violance & Profanity (17th +)

.

.

.

Angin malam berhembus menerpa setiap wajah mereka. Kapal yang mengantarkan mereka semua kembali kepada Kota yang telah hancur, Melesat capat membelah lautan. Dermaga selatan Konoha mulai terlihat di depan mata mereka. Dermaga yang sebelumnya memiliki kenangan pahit tersendiri bagi Sakura, Sasuke, Kiba, Anko, Dan Hinata. Karena di dermaga inilah... Mereka dipaksa untuk meninggalkan Naruto yang telah terinfeksi saat itu. Sebuah kenangan yang mungkin tak akan mudah terlupa oleh mereka. Yang membuat mereka tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya. Mereka tidak akan meninggalkan Naruto kembali apapun yang akan terjadi nanti.

"Kita semakin dekat. Hinata, Matikan lampunya."

Ucap Sasuke yang telah bangkit berdiri.

Hinata meraih lentera itu, Dan mematikannya. Membuat suasana di kapal mereka menjadi gelap. Sebuah hal yang benar dari pemikiran di benak Sasuke. Karena cahaya adalah salah satu hal yang akan menarik perhatian para mayat hidup. Akan lebih baik jika kedatangan kapal mereka ke dermaga itu tidak menimbulkan satu perhatian yang mencolok.

"Sudah saatnya ya..."

Kata Naruto sambil bangkit berdiri di samping Sasuke. Ia melangkah kaki sambil merenggangkan otot-otot yang telah lelah. Pemuda itu berjalan menuju ke ujung depan kapal sambil meraih sesuatu di tas kecil yang menyatu dengan sabuk belakang pinggangnya.

"Dengan kekuatan ini, Aku merasa mampu untuk melakukan segalanya. Tidak hanya Ayahmu yang berikan tugas ini padaku. Tanpa Ayahmu katakan pun... Aku akan mencarimu. Aku pasti akan menemukanmu, Sona. Pasti..."

Gumamnya pelan di ujung kapal. Rambutnya menari seraya angin menghembuskannya. Ia mulai menghisap rokok matic yang ada di tangan kanannya. Sementara ini, Mau tidak mau Naruto harus tetap menggunakan rokok pemberian ayahnya itu untuk tetap hidup. Dan satu hal yang ia ketahui... Bahwa serpihan perasaan Kushina, Juga mengalir dalam alat tersebut saat Kushina membuatnya. Bahkan sampai sekarangpun, Kedua orang tuanya telah melakukan banyak hal untuknya. Hanya untuk satu alasan yang ia ketahui. Agar dirinya dapat hidup sedikit lama lagi di Dunia ini.

"Hinata, Bersiaplah. Ingat untuk tetap berada di dekatku. Mengerti?."

Kata Kiba sambil mengorek telinga dengan jari kelingkingnya.

"Ah, Ha'i..."

Jawab Hinata kemudian.

Anko berdiri dari tempatnya duduk dan terlihat membersihkan rok hitam pendeknya sebentar. Hal yang sama juga dilakukan oleh Haruno Sakura. Gadis itu berdiri tepat di samping kekasihnya, Uchiha Sasuke.

Bagi sang Uchiha muda, Tidak disangka-sangka dirinya dan lima kawan-kawannya lagi-lagi akan kembali menginjakkan kaki di Kota para orang mati itu. Tekanan kengerian yang terpancar dari sunyi gelapnya Kota Konoha benar-benar terasa hingga ke seluruh persendian tulang-tulangnya. Mungkin bukan hanya hanya Sasuke yang merasakan hal tersebut. Pasti yang lain juga merasakannya. Merasakan ketegangan yang tercipta hanya dengan menatap betapa mengerikannya Kota itu. Dan bahkan pasti untuk seorang Naruto juga. Tapi dengan keberadaan Naruto yang sekarang telah ada bersama dengan mereka, Membuat keyakinan Sasuke lebih kuat. Seakan apa pun yang akan terjadi dapat mereka hadapi.

Di saat semua menunjukkan raut ketegangan, Sakura mulai melangkahkan kedua kakinya. Langkah-langkah pelan itu membawanya mendekat kepada sosok teman semasa kecil yang dulu sempat memiliki perasaan terhadapnya. Dan mungkin ia bertanya-tanya dalam hati, Apakah perasaan Naruto kepada dirinya, Masih sama atau kini telah berubah.

Sakura berhenti dan berdiri tepat di samping Naruto yang nampak terlihat menghisap sesuatu seperti sebuah rokok. Asap putih keluar dari hembusan nafasnya. Membuat Sakura yakin bahwa itu mungkin benar-benar sebuah rokok. Tapi bukan itu yang sedang terpikirkan di benaknya saat ini.

"Hei..."

Panggil Sakura pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari Kota yang sebentar lagi akan jadi pemberhentian mereka. Naruto membuang asap ke udara, Lalu menoleh kearah gadis berambut merah jambu tersebut.

Buughk...

Sakura menyikut tulang rusuk Naruto dengan cepat dan keras. Membuat Naruto melotot kesakitan di balik keterkejutannya dari apa yang telah Sakura lakukan padanya.

'G... Gadis ini-... Kekuatannya sangat mengerikan!'

Ungkap Naruto dalam hati sambil masih menahan rasa sakit di sela rusuknya.

"...Aku tahu kau itu kuat. Dan mungkin bukan aku saja yang akan mengatakan hal ini. Mereka semua pasti menyadarinya juga. Betapa kuatnya dirimu itu. Yang mampu menerjang halangan apa pun di depan dengan otakmu yang bodoh itu."

"Pasti kau terlalu bodoh untuk merasa takut ketika menyadari bahwa kita akan benar-benar kesana. Kembali ke Kota itu. Sejujurnya... Hanya dengan melihat dengan jelas Kota itu tepat di hadapanku saja, Itu sudah membuatku sedikit ketakutan. Bahkan di detik ini pun... Aku bisa merasakan sendi lututku yang mulai bergetar."

"Tapi, Walau begitu pun... Aku tidak akan pernah berdiam diri ketakutan di belakang punggungmu dan Sasuke-kun lagi. Aku akan melangkah sejajar dengan kalian berdua. Karena aku yakin aku bisa melakukannya. Jadi... Ayo kita cari Sona bersama-sama, Naruto."

Ungkap Sakura panjang lebar.. Mengatakan hal-hal yang mungkin terlalu berat untuk pemuda itu mengerti. Namun sepertinya Naruto masih bisa menarik sedikit garis besar dari apa yang di katakan Sakura padanya.

"...Yeah."

Jawab Naruto singkat dengan memberikan senyumnya kepada gadis beriris hijau Emerald tersebut.

"Ppssstt... Hei, Naruto. Heii..."

Naruto mendengar suara seseorang yang memanggilnya. Suara itu berasa dari Kiba. Naruto menoleh kepada sahabatnya yang sedang mengemudikan kapal tersebut.

'Huh...?"

Tanya Naruto dengan reaksi singkat.

"Etto... Bagai-... Bagaimana cara mengerem kapal ini? Kau tahu kan, Mobil dan kendaraan lainnya memiliki tuas pedal untuk mengerem. Tapi dari tadi tadi aku tidak menemukan pedal remnya di sini."

Kiba bertanya dengan memasang wajah tanpa dosa sambil menunjuk-nunjuk jarinya kearah kemudi kapal.

Mendengar pertanyaan yang diungkapkan Kiba, Membuat Naruto diam melihatnya. Cukup lama pemuda berambut kuning itu terdiam seperti patung. Sebelum akhirnya...

"HaaaaAAAAHHHH...?!"

Teriak Naruto sangat keras hingga membuat Hinata dan yang lain hampir terkena serangan jantung oleh suaranya.

"Oei, Tunggu! Apa yang kau katakan tadi?! Maksudmu, Kau tidak bisa menghentikan kapal yang melaju ini kencang inii?! Jangan bercanda KIBAAA! Apa kau ingin membuat kita semua mati menabrak dinding sebelum melakukan apa-apa?!"

Naruto berteriak begitu keras dengan memasang ekspresi konyol di raut wajahnya tanpa memikirkan apa pun akibat hal yang telah ia lakukan. Membuat sebuah perempatan mucul di dahi Sakura sambil mengepalkan kedua tangannya yang bergetar-getar. Sedangkan Kiba hanya memalingkan wajah dan menggaruk-garuk pipinya.

'Tunggu... Tanda di sebagian wajahnya, Menghilang?!'

Sesuatu terlintas di benak Sasuke ketika melihat wajah Naruto yang sepertinya kembali seperti biasanya.

'Bukan hanya itu... Mata kanannya juga telah kembali normal. Apa yang terjadi?!'

Sasuke sedikit tersentak dengan normalnya kondisi wajah dan mata kanan Naruto. Yang sebelumnya telah hampir menyerupai makhluk yang mengerikan. Otot-otot syaraf berwarna merah juga kini tidak lagi nampak di pelipis mata kanannya. Saat ini entah kenapa wajah Naruto telah benar-benar kembali seperti semula.

"Shanaroooo!"

BLAAAAMMM...!

Sebuah tinju keras mendarat tepat di atas kepala Naruto. Sakura meninju pucuk kepalanya begitu keras hingga membuat Naruto lagi-lagi terkapar di lantai.

"Jangan berteriak-teriak seperti itu, Dasar bodoh! Apa kau ingin makhluk-makhluk itu menyadari kedatangan kita, Hah?!"

Suara Sakura tidak kalah keras dari suara Naruto sebelumnya.

"Hhhh..."

Hela nafas Sasuke melihat tingkah mereka berdua. Pemuda itu berjalan mendekati Kiba. Lalu mulai menarik tuas percepatan kapal hingga ke angka Nol.

"Kalian semua, Bersiaplah. Kau juga Naruto. Jangan harap aku akan menyeretmu lagi seperti waktu itu setelah menerima pukulan dari Sakura."

Ucap Sasuke kembali mengingatkan mereka. Terutama kepada salah satu sahabatnya yang tengah terbaring di ujung kapal.

"Hhh... Ha'i-Ha'i..."

Sahut Naruto kemudian dan mulai bangkit berdiri kembali.

Kecepatan kapal sedikit demi sedikit mulai berangsur berkurang. Tapi sepertinya sudah cukup terlambat untuk menurunkan kecepatan. Kapal yang melaju kencang ini tidak akan sempat untuk benar-benar berhenti sebelum menabrak dermaga di depan sana. Akhirnya tiba saat di mana mereka harus kembali ke Kota itu. Mungkin mulai menghitung mundur akan lebih baik.

Glek...

Dengan susah payah Kiba menelan ludahnya sendiri. Ditemani bersama angin yang bertiup menerpa wajah-wajah tegang mereka, Kapal semakin dekat mengantarkan mereka kepada Kota kehancuran. Perlahan kecepatan mulai menurun, Namun kapal tetap melaju kearah dermaga yang terbuat dari papan-papan kayu.

"Ini dia..."

Ucap Sasuke pelan.

Braaaakkkhh!

Moncong kapal menabrak keras ujung dermaga. Menciptakan suara yang sangat keras. Naruto dan Sakura melindungi mata mereka masing-masing dari kayu-kayu yang terlontar berterbangan. Kapal bergetar hebat. Hinata berpegangan erat pada Anko. Sasuke dan Kiba bertahan agar tidak terjatuh akibat goncangan hebat yang tengah terjadi.

"Tch-...!"

Decih Naruto mencoba bertahan dari hantaman keras yang terus terjadi. Poni kuning miliknya terombang-ambing kacau. Menggunakan kedua tangannya, Sebisa mungkin ia melindungi kedua matanya dari serpihan-serpihan kayu yang terlontar.

Setelah hampir separuh jalur dermaga rusak parah akibat tertabrak, Kapal mereka akhirnya berhenti dengan seketika. Asap hitam tiba-tiba langsung mengepul begitu saja keluar dari Deck mesin. Seperti yang terlihat, Kapal itu juga rusak parah dan tidak bisa lagi untuk digunakan setelah ini. Yang artinya... Naruto, Sakura, Sasuke, Kiba, Anko dan Hinata, Benar-benar telah pertaruhkan segalanya demi mencari keberadaan satu teman mereka yang sangat berharga.

Sakura sedikit terbatuk oleh debu yang berterbangan akibat tabrakan keras tadi. Pandangan di depan kini telah tertutupi oleh asap dan debu yang pekat. Membuat jarak pandang mereka tertutup sepenuhnya. Tangan gadis itu mengibas-ibaskan tangannya ke udara. Berharap debu-debu yang melayang bebas itu dapat menyingkir darinya.

Naruto menepuk pundak Sakura. Membuat gadis cantik berambut merah jambu tersebut sedikit terkejut. Sebentar Naruto menoleh kebelakang, Kearah teman-temannya. Sasuke, Kiba, Anko, Dan juga Hinata memberikan memberikan sebuah anggukan, Sebagai tanda bahwa sepenuhnya mereka telah siap. Naruto lalu berpaling menghadap Sakura kembali. Tatapan seriusnya memandang lurus dan dalam menembus kedua iris sehijau Emerald tersebut. Sebagai sebuah tanda bahwa dirinya juga telah siap dengan segala apa pun yang akan terjadi, Sakura mengangguk pelan untuk Naruto. Seluruh orang di kapal ini telah siap menerima resiko apa pun yang ada di depan mereka nanti. Tak terkecuali untuk dirinya sendiri.

"Ikuzo..."

Kata Naruto singkat. Lalu langsung melompat dari kapal. Menembus kepulan debu dan asap pekat. Diikuti oleh Sakura yang juga melompat dan menghilang dari pandangan menyusul Naruto.

"Ayo...!"

Ucap Sasuke kepada Kiba.

Kedua pemuda itu bergegas menyusul Naruto dan Sakura yang telah maju terlebih dulu. Dengan sebuah senapan api laras panjang di tangannya, Sasuke melompat dari kapal menerjang kepulan asap yang membutakan.

Drep-Drep...

Suara sepatu Sasuke dan Kiba berderap di atas papan kayu dermaga setelah mendarat di belakang Naruto dan Sakura. Dengan begitu, Mereka berdua dapat melihat pemandangan yang terlebih dahulu Naruto dan Sakura lihat. Anko bersama Hinata muncul di urutan terakhir. Berjalan mendekati Naruto dan yang lain yang sudah ada di depan. Dan menatap lurus kearah Kota.

"Kurasa kita tidak akan dapat sambutan hangat..."

Gumam Naruto sendiri setelah melihat apa yang teman-temannya juga lihat jauh di depan sana. Beberapa mayat hidup berjalan terseyek-seyek mendekati dermaga. Di mana telah terdengar suara benturan yang sangat keras dari sana. Membuat para mayat hidup berpakaian jaket-jaket hitam ala geng tersebut tertarik mendekat kearah kapal yang mengepul.

"Lihat... Setelah sekian lama, Sepertinya kita bisa bertemu lagi dengan mereka."

Kata Sasuke kepada Naruto dan Kiba, Setelah melihat segerombolan mayat berjalan dengan rambut Punk dan Mohawk panjang ala berandalan. Lengkap dengan jaket-jaket hitam yang mereka kenakan yang terlihat tidak lagi utuh.

"Bagaimana jika kita saja yang berikan sambutan kepada mereka?"

Kiba mengambil beberapa tongkat pipa besi dari bekas perbaikan kapal yang telah tak terpakai. Ia melemparkan satu per satu pipa besi tersebut kearah Naruto dan Sasuke. Entah kenapa, Hanya dengan melihat gerombolan anak geng yang telah menjadi Zombie di sana, Membuat rasa takut dan ketegangan mereka bertiga seakan sirna.

Setelah menerima tongkat pipa besi dari Kiba, Naruto merenggangkan seluruh tubuhnya. Terasa kaku setelah lama tidak bergerak bebas di atas kapal. Sedangkan Sasuke menitipkan Arctic Warfare Magnum Sniper miliknya kepada Sakura di belakang.

"Ini mungkin agak frontal. Jadi, Kau jaga saja yang lain. Mengerti...?"

Ucap Sasuke pada kekasihnya. Membuat Sakura sedikit kebingungan. Jika Sasuke memilik sebuah senjata api dengan daya tembakan yang dahsyat, Dan Naruto mempunyai Handgun spesialis pertempuran jarak dekat, Kenapa kini mereka semua memilih untuk menggunakan pipa-pipa besi itu untuk menghadapi para Zombie di sana?. Sementara ini itulah hal yang Sakura pikirkan.

"Hei-... Apa yang-"

"Jangan permasalahkan ini, Sakura."

Sahut Sasuke menyela Sakura yang ingin bicara dan bertanya. Kekasihnya tersebut terlebih dahulu kembali kepada Naruto dan Kiba yang telah menunggunya.

"Ini hanya urusan lelaki. Sebuah dendam yang belum terpenuhi..."

Lanjut pemuda Uchiha itu lagi yang malah kembali membuat Sakura dan Hinata semakin tidak mengerti dengan ucapannya.

Saat melihat dengan jelas Kiba, Naruto dan Sasuke berdiri di sana, Para Zombie itu mulai berlari kearah ketiga pemuda tersebut. Air liur di antara darah di mulut dan gigi mereka menetes-netes saat berteriak ganas kelaparan.

"Waktu itu, Sayang kita tidak bisa melanjutkannya sampai akhir karena Jiraya-sensei. Tapi sekarang... Walau kalian telah jadi mayat hidup pun... Ayo kita selesaikan semuanya di sini. Tak akan kubiarkan lagi kalian melukai Hinata."

Gumam Naruto dengan sepucuk tongkat pipa besi di tangannya, Menatap kearah para mayat hidup yang berbondong-bondong berlari menuju kearahnya di sana.

Sesaat Anko tertegun sebentar. Melalui apa yang di dengarnya, Ia menyadari sesuatu dari sikap ketiga muridnya itu.

"Apa... Jangan-jangan..."

Kedua mata Anko melebar ketika dugaannya ternyata benar. Mayat-mayat hidup di sana, Kemungkinan adalah rombongan geng yang pernah berkelahi dengan Naruto, Sasuke dan Kiba.

Zombie-Zombie itu berlari dengan wajah yang sangat menyeramkan. Darah ada di mana-mana di sekitar wajah mereka. Terutama mulut yang penuh dengan bekas darah merah. Seolah mereka telah mendapatkan manusia untuk di serang. Namun walau begitu, Naruto tetap memasang raut wajah tenang melihat kedatangan mereka kearahnya. Manik sebiru Safir itu sesaat melihat ke lantai papan dermaga sebentar. Sebelum perlahan kembali menatap mereka dengan tatapan penuh amarah. Genggaman tangannya pada pipa besi miliknya mengerat dan bergetar. Otot-otot di rahangnya kini mengejang kaku.

"HhhhhhaaaaaaaaAAAAAAAA!"

Teriak Naruto keras, Dan langsung melesat berlari untuk berhadapan dengan mereka. Sasuke dan Kiba pun juga langsung berlari cepat menyusul pemuda itu. Kedua fraksi saling berlari mendekati satu sama lain. Untuk Naruto, Sasuke dan Kiba, Atau untuk gerombolan mayat-mayat hidup yang kelaparan itu. Mereka saling berhadapan satu sama lain.

"HAHHH!"

Buaagkh!

Bentrokan terjadi!.

Sambil berlari kencang dan melompat, Naruto menghantam kepala Zombie di depannya menggunakan kaki. Zombie itu pun terpental jatuh keras menyusur tanah.

Di satu sisi, Sasuke dan Kiba yang juga sama-sama hanya menggunakan pipa besi sebagai sebuah senjata langsung masuk begitu saja di tengah-tengah gerombolan mayat hidup yang kelaparan. Berulang kali Sasuke dan Kiba mengayunkan pipa-pipa besi itu kearah mereka dengan sangat keras. Satu per satu jatuh menyusur tanah.

Naruto begitu frontal dan membabi buta. Ia menendang dan memukul para mayat hidup yang ada di dekatnya. Darah merah pekat seketika membanjiri ujung tongkat pipa besi yang ia gunakan sebagai satu-satunya senjata yang saat ini ia gunakan.

Dari kanan dan kiri, Dua mayat hidup mencengkram bahu dan tangan Naruto. Membuat pemuda itu tidak bisa mengayunkan pipa besi miliknya untuk menyerang. Berulang kali Naruto mencoba untuk melepaskan diri dengan sekuat tenaga. Tapi nampaknya dua Zombie itu tidak ingin melepaskannya begitu saja.

"Cihh..."

Naruto mendecih ketika datang lagi mayat hidup yang berlari kearahnya dengan tatapan mengganas. Tidak banyak yang bisa ia lakukan. Terlebih pemuda itu tengah bersusah payah menjauhkan gigitan kedua mayat hidup yang mencengkramnya dar bahu dan tangannya. Zombie liar di depan semakin berlari mendekat. Membuat Naruto harus memikirkan cara tercepat dan tepat dalam mengambil sebuah tindakan.

Buuaagghh...!

Naruto mengayunkan kaki kanannya dengan sangat kuat keatas, Mengenai tepat ke dagu Zombie yang akan coba menyerangnya tersebut. Zombie itu terhempas jatuh kebelakang. Tidak bisa bergerak karena kedua tangannya terkunci oleh dua mayat hidup yang masih mencengkramnya, Naruto membenturkan kepalanya bergantian kearah kepala dua mayat hidup yang mencengkramnya dengan sangat keras.

"Kalian suka itu huh...?."

Ucap Naruto memaki dua Zombie yang terjatuh ketanah. Pemuda berambut kuning tersebut mundur dan memandang sekelilingnya. Satu per satu para mayat hidup yang mendekat mulai bermunculan.

"Kau, Kau dan kau. Kalian terus saja berdatangan seperti kumbangan sampah."

Lanjutnya lagi sambil lebih mengeratkan genggamannya ke pipa besi yang di pegangnya. Sesaat setelah ia mundur beberapa kebelakang, Punggungnya menabrak punggung Sasuke dan punggung Kiba secara bersamaan. Sepertinya kedua temannya itu juga melakukan hal yang sama.

"Hei, Sasuke. Jangan sampai jatuh kelelahan di sini. Aku tidak sudi jika harus menggendongmu nanti."

Candanya untuk Sasuke yang berdiri di belakang punggungnya.

"Urusee na... Urus saja dirimu sendiri."

Sahut Sasuke dengan peluh yang menetes di pelipisnya. Berhadapan dengan Zombie sebanyak ini dengan frontal sangat merepotkan.

"Mereka datang!"

Kata Kiba di belakang mereka berdua mencoba mengingatkan.

Belasan mayat hidup serentak berlari menerjang kearah mereka bertiga sekaligus. Dengan pipa besi sebagai senjatanya, Naruto beserta Sasuke dan Kiba mengayunkan pipa besinya itu di waktu yang bersamaan. Darah terciprat di mana-mana. Beberapa mayat hidup terpelanting jatuh ketika kepala mereka terbentur pipa besi milik Naruto, Kiba dan Sasuke.

Ketiga pemuda itu mulai maju dan terpisah masing-masing. Menyerang siapa saja yang ada di depannya dengan sangat frontal. Pipa besi yang ada pada genggaman mereka telah berlumuran darah merah kehitaman.

"Ini... Terlihat seperti perkelahian..."

Gumam Sakura yang melihat mereka bertiga di sana dari jauh. Anko yang tidak sengaja mendengarnya juga meng-iyakan kata-kata yang Sakura ucapkan

"Kurasa kau benar. Hhhh... Mereka mulai lagi..."

Sahut Anko-sensei memegangi keningnya melihat tingkah ketiga muridnya itu.

"Ki-Kita tidak bisa diam saja di sini..."

Ucap Hinata kemudian.

"Yahh... Itulah yang akan kukatakan Hinata. Lihat, Ada satu yang mendekat."

Jawab Sakura saat melihat satu Zombie yang berlari menuju kearah mereka.

Gadis berambut merah jambu tersebut mengarahkan Sniper milik Sasuke dan membidikannya. Namun tidak ada satu pun peluru yang terlontar keluar ketika Sakura menarik pelatuknya.

"Ehh...?"

Beberapa kali Sakura menarik-narik pelatuk senjata itu. Namun benar-benar tidak ada satu pun peluru yang mau keluar. Bukan karena senjata itu telah kehabisan amunisi. Tapi lebih kepada Sakura yang tidak begitu bisa menggunakan senapan berjenis Bolt-Action seperti Arctic Warfare Magnum Sniper milik Sasuke. Sakura melupakan satu hal penting untuk bisa menggunakan Sniper berjenis Bolt-Action tersebut. Yaitu menarik tuas kokang.

"Tidak ada pilihan lain. Maaf, Sasuke-kun... Sepertinya kau harus mengelap senjatamu lagi nanti."

Gumamnya sendiri ketika melihat satu Zombie yang semakin dekat itu.

Seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya, Sakura membalik senjata itu. Ia mengambil posisi seperti seorang pemukul baseball. Senjata istimewa dengan Firepower yang begitu gahar sepertinya kini lagi-lagi hanya akan menjadi tongkat pemukul bagi Sakura.

"Shanarooooo...!"

JBuuaagghh!

Kepala Zombie tersebut terpeluntir dan jatuh ketanah setelah Sakura memukulnya dengan sangat keras. Dan bisa terlihat, Ujung gagang Sniper milik Sasuke lagi-lagi terkotori oleh merah bercak darah.

"Heii kaliam bertiga! Aku juga tidak akan diam berdiri seperti patung saja di sini...!"

Teriak gadis berambut Pink-Soft itu yang sepertinya tertuju untuk Naruto, Kiba dan Sasuke yang berada di sana.

Sakura mulai melangkah maju sambil menyingkap lengan bajunya. Dengan membawa senjata laras panjang milik kekasihnya sebagai tongkat pemukul, Sakura berjalan berat menuju kearah ketiga pemuda yang tengah terkepung oleh kerumunan Zombie berada. Akan tetapi baru saja Sakura melangkah beberapa langkah, Gendang telinganya mendengar suatu dengingan yang asing. Gadis tersebut menghentikan langkahnya.

Anko dan Hinata sepertinya juga mendengar dan menyadari sesuatu yang sedang mendekat. Ketiga wanita itu menolehkan kepalanya kebelakang. Tepatnya kearah langit laut malam. Melihat itu, Kedua alis Sakura mengerut.

"Bukankah itu... Air Asia...?"

Tanya Sakura yang entah kepada siapa setelah melihat apa yang dilihatnya.

"Itu... I-Itu pesawat ya kan, Sensei..."

Hinata bertanya kepada Anko yang berada di sampingnya. Tapi Anko sama sekali tidak menjawab apa pun. Yang ia lakukan hanya diam melihat sebuah pesawat dengan dominan warna merah dan sedikit putih bertuliskan Air Asia tersebut di langit sana.

Hal yang aneh kini sedang terjadi. Mereka bertiga menyadari benar bahwa pesawat merah itu terbang terlalu rendah. Tapi yang perlu digaris bawahi adalah... Pesawat tersebut saat ini terbang merendah menuju kearah dermaga. Lebih tepatnya, Tengah menuju kearah mereka bertiga.

Dengingan mesin pesawat yang begitu bising sepertinya juga sampai terdengar ke gendang telinga Naruto, Sasuke dan Kiba. Membuat ketiga pemuda itu menghentikan seluruh geraknya.

"I-Itu..."

Kiba hingga tidak bisa berkata-kata lagi hanya dengan melihat sesuatu yang benar-benar akan mendarat tepat di tempat ini.

"Ini gawat..."

Gumam Naruto pelan saat memperhatikan laju lintasan pesawat itu akan mendarat.

Karena ia terlalu tegang melihatnya, Naruto menjadi tidak memperhatikan sekitarnya. Dua Zombie berlari kearahnya bersamaan dengan ganas. Mencoba menyerang secara tiba-tiba.

"Gwaaaarrhhh!"

"...?!"

Cukup terkejut sesaat, Tapi dengan refleks yang kini ia miliki, Naruto menendang salah satu dari mereka yang akan menyerangnya dengan keras. Sedangkan tangannya mengayunkan pipa besi yang ia genggam dengan sangat cepat.

Craaattsss!

Ujung pipa besi mengenai tepat di kepala Zombie tersebut. Dua Zombie yang akan menyerangnya terlempar ke segala arah.

"Sensei...! Hinata...! Sakura...! Cepat pergi dari tempat ini sekarang juga! Aku akan membukakan jalan untuk kita!"

Teriak Naruto pada ketiga orang yang masih tertegun melihat pesawat yang akan jatuh menabrak mereka.

"Ayo...!"

Ajak Anko kepada Hinata dan Sakura. Mereka bertiga mulai melangkah dan berlari ke tempat Naruto berada.

"Kiba, Sasuke, Bantu aku!"

Ucap Naruto sambil mengeratkan genggamannya pada pipa besi yang ia pegang dan menarik sebuah senjata genggam dari holster miliknya.

"Aku sudah tahu."

Sahut Sasuke sambil mengayunkan pipa besinya.

Buuaaaghk!

Mayat hidup yang ada di depannya terpelanting jatuh dengan tengkorak kepala yang retak hingga berlumuran darah.

"Cepat-Cepat-Cepat...!"

Kata Kiba yang membantu Naruyo membuka jalan dari banyaknya mayat hidup yang menghalangi mereka.

Darr-Darr-Darr!

Dengan Glock-17 di tangan kirinya, Naruto menembak dengan brutal kearah para mayat hidup yang menghalangi jalannya.

Bunyi desingan mesin pesawat begitu menggelegar. Bahkan udara pun bergetar hanya dengan suaranya saja. Naruto, Sasuke, Kiba, Anko, Hinata dan Sakura berlari menjauh dan menghindari terjangan Zombie yang ada. Peluh bercucuran melalui pelipis Naruto. Tidak ia sangka hal ini bisa saja terjadi menimpa mereka.

Tiba-tiba bumi seperti bergoncang kuat. Ujung moncong pesawat merah itu telah menyentuh dan menabrak kapal mereka yang telah rusak di sana. Merasakan goncangan luar biasa yang menembus alas sepatunya, Sambil berlari lurus ke depan Naruto sedikit menoleh. Kedua iris sebiru Safir itu dipaksa untuk melebar. Dapat ia lihat bagaimana dermaga di sana hancur porak-poranda. Jalanan di belakang sana pun juga rusak dan hancur seketika saat bergesekan dengan badan pesawat yang tengah meluncur jatuh di atasnya.

"Hinata!" Panggil Naruto pada gadis yang ada di belakangnya. Pemuda itu langsung saja menarik pergelangan tangan Hinata dan menyeretnya untuk berlari bersama dengan dirinya.

"Jangan lihat kebelakang! Teruslah berlari secepat yang kau bisa...!"

Teriak Naruto kemudian.

Entah sudah berapa lama Hinata melihat Naruto berteriak sepanik ini. Walau sebenarnya saat ini dirinya sendiri pun juga sangat-sangat panik dengan situasi yang terjadi. Namun walau bagaimana pun, Hanya berada di samping pemuda itu saja, Hinata merasa bisa melakukan apa pun dibalik semua keterbatasannya. Ia percaya, Ia sangat percaya dan mempercayakannya pada sosok pemuda berambut kuning yang saat ini tengah menariknya untuk terus berlari.

Keenam Survivor itu berhasil menembus banyaknya mayat hidup yang mengepung. Tapi guncangan bumi seolah terasa semakin parah. Zombie-Zombie yang telah mereka tinggalkan di belakang satu per satu terpental ke segala arah tertabrak laju pesawat yang sedang mendarat darurat. Banyak dari mereka yang sampai tertindas dan terseret di bawah moncong pesawat yang masih saja tidak berhenti tersebut.

Sakura, Sasuke, Dan yang lain berlari secepat yang mereka bisa. Namun pesawat itu seolah-olah mengejar mereka dari belakang. Sasuke bahkan sampai memasang raut tegangnya. Keringat satu per satu menetes terbawa angin. Nyawa mereka benar-benar dipertaruhkan sekarang.

Mereka keluar dari area dermaga Konoha dan terus berlari ke jalanan besar Kota Konoha. Di samping kanan-kiri mereka berjejer gedung dan bangunan bertingkat. Sasuke berpikir dengan ini mungkin bisa menghambat laju pesawat itu dan membuatnya berhenti. Akan tetapi kenyataannya berkata lain. Pesawat yang sudah hampir tak berbentuk menyerupai pesawat itu terus-menerus menabrak bangunan di sekitarnya walau telah melambat. Jarak Naruto dan yang lain dengan pesawat yang mengejar mereka hanya terpisahkan oleh beberapa meter saja. Jika terus berlari seperti ini akan percuma. Dan mungkin tidak akan ada yang selamat di antara mereka pikir Naruto.

"Sasuke, Menyebar...!"

Teriak Naruto tiba-tiba.

"Apa?!"

Tanya Sasuke cepat karena terkejut.

Namun Naruto tidak menjawab. Sudah tidak ada waktu lagi. Dengan kuat Naruto mendorong tubuh Sasuke yang berlari di sampingnya. Lagi-lagi Sasuke cukup terkejut dengan apa yang dilakukan Naruto. Tubuhnya yang didorong keras seperti itu pun terhempas ke kanan dan saling menabrak tubuh Sakura dan yang lain.

"Bertahanlah, Hinata!"

"Eh-...?!"

Tiba-tiba saja Naruto telah memeluk tubuh Hinata. Gadis itu tidak tahu apa yang terjadi, Karena goncangan di sekitarnya benar-benar luar biasa. Banyak bagunan yang terbelah dan runtuh saat tersentuh oleh kedua sayap pesawat itu. Seperti gempa berskala tinggi tengah mengguncang Konoha. Hinata yang terlanjur terkejut oleh sebab Naruto yang tiba-tiba merangkul tubuhnya dengan cepat tidak bisa berbuat apa-apa. Naruto melompat dengan sigap berlainan arah dari Sasuke dan yang lain. Dengan tubuh rapuh Hinata yang berada dalam pelukannya, Naruto mendarat di celah gang gelap.

Laju pesawat bertuliskan Air Asia tersebut terhambat akibat bertabrakan dengan bangunan-bangunan di sekitarnya. Membuat pesawat itu berhenti di tengah-tengah jalanan besar Kota Konoha. Asap dan debu, Pohon-pohon beserta mobil rusak berserakan di mana-mana. Aspal jalanan dan bagunan tidak lagi berbentuk. Selatan Kota Konoha seperti luluh lantak dibuatnya. Tidak hanya asap hitam yang mengepul keluar dari seluruh inchi badan pesawat. Api hebat yang membakar juga membumbung di tengah-tengah badan pesawat. Hampir sebagian dari selatan Kota ini hancur tak berbentuk.

.

.

.

.

.

Seseorang tengah berjalan di sela-sela bangku penonton di sebuah stadion lapangan basket. Tidak ada cahaya yang cukup untuk mengeksposnya. Hanya setelan jas hitam yang terlihat.

Pria itu menuruni tangga satu per satu dan mulai membuka ponsel miliknya. Setelah menekan digit angka yang dibutuhkan, Pria tersebut menempelkan ponsel itu ke dekat telinganya. Nada tanda sedang tersambungkan terdengar. Sambil terus berjalan ia menunggu seseorang yang sedang dihubunginya untuk mengangkat panggilannya.

"...Apa kau sudah tiba?"

Ucap seseorang dalam ponsel yang digenggamnya.

"Bagaimana penelitianmu... Orochimaru?"

Balas pria itu dengan sebuah pertanyaan.

"Kau sama sekali tidak bisa berubah, Obito. Selalu saja menjawab pertanyaan dengan pertanyaan yang baru."

"Aku tidak punya waktu untuk berbasa-basi denganmu sekarang."

Jawab pria bernama Obito tersebut. Sejenak ia berhenti menuruni tangga dan mutuskan untuk duduk di salah satu bangku penonton stadium.

"Hahaha... Baiklah. Semua persiapanku telah selesai."

Jawab Orochimaru melalui ponsel milik Obito.

"Segera lepaskan mereka... Para Huntermu itu."

Sahut Obito dengan nada datar.

"Akan kulakukan. Tapi... Obito... Apa kau tidak merasa bahwa saat ini kau terlalu ceroboh... Huh?"

"Diam dan lakukan saja tugasmu. Bagaimana pun juga, Kita memiliki hal untuk dilakukan masing-masing. Aku akan menunggu kedatangan tamuku di tempat ini."

Balas Obito masih dengan nada datar seperti biasanya.

"Kau mungkin memiliki tujuan. Tapi orang bernama Minato Namikaze itu juga pasti memiliki sebuah rencana yang selangkah akan menghentikanmu."

Sahut Orochimaru yang mengutarakan opininya tentang apa yang akan Obito lakukan saat ini.

"Orochimaru..."

"...Huh?"

"Apa kau sudah berhenti mengoceh...?"

Ucap Obito dengan sakartis. Membuat Orochimaru tertawa kemudian.

"Hahaha... Baiklah. Aku akan melepaskan mereka sekarang."

Tut... Tut... Tut... Tut...

Panggilan mereka terputus, Dan dengan ini berakhir sudah pembicaraan di antara mereka berdua.

Obito memasukkan kembali ponsel miliknya ke saku dalam jas. Kemudian ia mulai membuka tas hitam yang telah ada di bawah kakinya. Obito menarik sebuah laptop dan membuka layarnya. Di gedung stadium yang begitu hening ini, Jari-jari Obito mulai mengoprasikan laptop yang ada padanya.

"Akan kumulai dengan meretas kontrol komunikasi mereka."

Ucapnya sendiri di tempat itu.

Jari-jari Obito memasukkan Key Data Pass yang ia butuhkan dalam tampilan Software peretas miliknya. Ia begitu tenang dalam mengolah waktu. Ada suatu rencana yang telah ia buat untuk mencapai sebuah tujuan.

"Sekarang coba kita lihat... Siapa yang akan menjadi serigala. Dan siapa yang akan menjadi domba kebingungan. Minato Namikaze."

Gumamnya dengan senyum sarkastis.

.

.

.

.

Suasana malam jalanan selatan Kota Konoha yang tidak lagi berbentuk. Begitu berantakan dan porak-poranda oleh satu insiden hebat jatuhnya sebuah pesawat besar. Meluluh lantakkan segala apa yang diterjangnya. Kilatan cahaya dari api yang berkobar dari belakang badan pesawat menerangi malam-malam sunyi Kota para orang mati ini. Asap membumbung tinggi ke langit-langit beserta dengan lidah-lidah api yang memercik ke udara.

Di dekat lokasi itu, Di mana debu berserakan, Dua remaja tengah terkapar di tengah-tengah gang gelap. Setelah sekian lama tidak sadarkan diri, Seorang pemuda berambut kuning perlahan mulai membuka kedua manik sebiru Safir miliknya.

"..."

Hal pertama yang terlihat di depan matanya, Adalah langit Kota ini yang gelap sendu. Tidak banyak bintang yang bertaburan di atas sana. Hanya debu dan asap yang berterbangan. Setelah sejenak memperhatikan langit di sana, Pemuda itu melirik seorang gadis yang masih belum sadarkam diri di atas tubuhnya. Ia melihat raut wajah tenang gadis tersebut.

Walau ia mengenakan kemeja biru tua beserta rompi tipis yang masih melekat pada tubuhnya, Namun pemuda itu masih bisa merasakan detak jantung gadis tersebut. Yang menandakan bahwa seorang gadis yang telah ia selamatkan bersama dirinya masihlah hidup.

Tangan pemuda itu masih merangkul tubuh gadis yang berada di atas tubuhnya. Tangan kanannya yang terbalut perban mengelus lembut rambut hitam milik gadis berponi tersebut. Sambil menunggu tubuhnya untuk dapat bergerak kembali, Pemuda itu menggunakan waktunya untuk terus mengelus rambut halus milik gadis yang menindihinya.

"...Ngg-"

Sebuah suara terdengar. Gadis itu perlahan mulai bergerak dan membuka mata. Kedua manik itu samar memperhatikan wajah seorang pemuda yang berada di bawahnya.

"Naru... To-kun..."

Gumamnya pelan saat kesadarannya telah kembali seutuhnya.

"Tidak apa... Kita masih selamat. Tetaplah seperti ini sebentar saja... Hinata."

Ucap Naruto kembali memeluk Hinata lembut. Seolah tidak memperbolehkan gadis itu pergi kemana pun.

Hinata terdiam. Merasakan kehangatan yang Naruto bagikan pada dirinya. Dipeluk seperti ini, Dengan tubuh yang saling tertindih, Membuat Hinata memilih untuk diam sejenak seperti yang Naruto katakan. Namun setelah beberapa saat, Hinata menyadari ada sesuatu yang membasahi telapak tangannya. Hinata melihat kearah telapak tangan miliknya tersebut. Dan itu membuatnya sangat terkejut, Mengetahui bahwa darah milik seseorang telah membasahi telapak tangannya.

"...?!"

Menyadari bahwa bercak darah itu bukanlah darah miliknya, Hinata bergegas melepaskan pelukan Naruto. Dengan begitu, Hinata bisa melihat dari mana bercak darah itu berasal.

"Na-... Naruto-kun...?!"

Pekiknya saat melihat sebuah potongan plat logam menembus sebelah perut Naruto.

Ketika Hinata telah mengetahui lukanya, Pemuda itu memejamkan matanya sejenak.

"Ketahuan ya... Hhh..."

Entah kenapa raut wajah Naruto begitu tenang walau lambungnya jelas-jelas tengah terluka parah seperti itu. Walau sebenarnya, Pemuda itu sedang menahan sekuat tenaga rasa sakit yang menghujamnya. Agar Hinata tidak menjadi begitu panik dan khawatir. Alasan Naruto menyuruh Hinata untuk tetap diam di pelukannya, Adalah agar Hinata tidak bisa melihat luka ini. Namun sepertinya kini telah terbongkar.

Naruto terdiam saat melihat embun-embun di sudut mata Hinata yang tengah berkaca-kaca. Kenyataannya, Hinata menjadi begitu khawatir dengan apa yang terjadi pada Naruto. Namun sama sekali tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan luka itu. Membuat Hinata hanya menutup mulutnya dengan mata yang berkaca-kaca.

"Jangan khawatir, Hinata... Mungkin ini sedikit sakit... Tapi aku benar-benar tidak apa."

Ucap Naruto berbohong dan mencoba menegakkan tubuhnya. Raut wajah yang tengah mati-matian menahan rasa sakit jelas-jelas terlihat darinya.

"Tapi-..."

"Ssssttt..."

Naruto mengangkat satu jarinya, Memberitahu agar Hinata diam sejenak. Samar-samar indra pendengarannya menangkap sesuatu.

'Kuso... Di mana senjataku...'

Gumamnya dalam hati sambil mengedarkan direksi pandangannya ke sekitar.

Pemuda berambut kuning yang saat ini tengah terduduk kesakitan di tengah gang itu mencari-cari sesuatu di tanah. Namun sebelum ia berhasil menemukan senjata miliknya yang ia cari, Pintu pesawat yang tepat di depannya terbuka.

"Tch..."

Decihnya menutupi hidungnya ketika asap hitam berhembus keluar dari balik pintu yang telah terbuka tersebut. Bersama dengan Hinata, Naruto memperhatikan pintu yang telah terbuka itu. Begitu gelap di dalam sana. Hanya ada debu yang berterbangan dan asap yang keluar. Namun indra pendengarannya lagi-lagi mendengar sesuatu. Ia mendengar suatu suara serak yang kini sangat familiar di gendang telinganya.

"Hinata... Cari sesuatu yang bisa kau gunakan sebagai senjata..."

Ucap pelan Naruto kepada gadis itu. Seolah pemuda berambut kuning rancung tersebut tengah memperingatkan Hinata akan sesuatu yang akan datang.

"E-Eh...?" Mungkin akibat sehabis pingsan tak sadarkan diri tadi membuat Hinata tidak bisa menangkap apa maksud Naruto.

Dreng-Dreng-Dreng-Dreng...

Bunyi sepatu yang beradu dengan lantai pesawat terdengar. Sesuatu tengah berlari mendekat dan akan keluar dari balik pintu yang gelap itu. Naruto tidak menyangka bahwa dirinya akan berhadapan dengan situasi seperti ini. Dengan luka parah yang dideritanya, Ia sama sekali belum siap untuk ini. Namun nampaknya keadaan berkata lain. Sesuatu keluar dari balik pintu pesawat tersebut dan langsung menyerangnya yang tengah terluka.

"Cih-Kusoo...!"

"Gaaarrrhhhhkkk!"

"Naruto-kuuuunnn...!"

.

.

To Be Continue...