Suasana malam jalanan selatan Kota Konoha yang kini tidak lagi berbentuk, Hening bagai kunang tertidur. Begitu berantakan dan porak-poranda oleh satu insiden hebat jatuhnya sebuah pesawat besar. Meluluh lantakkan segala apa yang telah diterjangnya. Silau cahaya api yang berkobar dari belakang badan pesawat nampak menerangi malam-malam sunyi Kota yang telah ditinggalkan ini. Asap hitam membumbung tinggi ke langit-langit beserta dengan lidah-lidah bara api yang memercik ke udara.

Di dekat lokasi itu, Di mana debu berserakan, Dua remaja tengah terkapar di tengah-tengah gang gelap. Setelah sekian lama tidak sadarkan diri, Seorang pemuda berambut kuning perlahan mulai membuka kedua manik sebiru Safir miliknya.

"..."

Hal pertama yang terlihat di depan matanya, Adalah langit Kota ini yang berwarna gelap sendu. Tidak banyak bintang yang bertaburan di atas sana. Hanya debu bara dan asap yang berterbangan. Setelah sejenak terdiam memperhatikan langit di sana, Pemuda itu melirik seorang gadis yang masih belum sadarkan diri di atas tubuhnya. Ia melihat raut wajah tenang gadis tersebut.

Walau ia mengenakan kemeja biru tua beserta rompi polos yang masih melekat pada tubuhnya, Namun pemuda itu masih bisa merasakan detak jantung gadis tersebut. Yang menandakan bahwa seorang gadis yang telah ia selamatkan bersama dirinya masihlah hidup.

Tangan pemuda itu masih merangkul tubuh gadis yang berada di atas tubuhnya. Tangan kanannya yang terbalut perban mengelus lembut rambut hitam milik gadis berponi tersebut. Sambil menunggu tubuhnya untuk dapat digerakan kembali, Pemuda itu menggunakan waktunya untuk terus mengelus rambut halus milik gadis yang masih terpulas menindihinya.

"...Ngg-"

Sebuah suara terdengar. Gadis itu perlahan mulai bergerak dan membuka mata. Kedua manik itu samar memperhatikan wajah seorang pemuda yang berada di bawahnya.

"Naru... To-kun..."

Gumamnya pelan saat kesadarannya telah kembali seutuhnya.

"Tidak apa... Kita masih selamat. Jadi kumohon... Tetaplah seperti ini untuk sebentar saja... Hinata."

Ucap Naruto kembali merangkul Hinata dengan sangat lembut kembali ke pelukannya. Seolah tidak memperbolehkan gadis itu pergi kemana pun.

Hinata terdiam. Merasakan kehangatan yang Naruto bagikan pada dirinya. Dipeluk seperti ini, Dengan tubuh yang saling tertindih, Membuat Hinata memilih untuk diam sejenak seperti yang Naruto katakan. Namun setelah beberapa saat, Hinata menyadari ada sesuatu yang membasahi telapak tangannya. Hinata melirik kearah telapak tangan miliknya tersebut. Dan itu membuatnya sangat terkejut, Mengetahui bahwa ada merah darah yang telah membasahi telapak tangannya.

"...?!"

Menyadari bahwa bercak darah itu bukanlah darah miliknya, Hinata bergegas melepaskan pelukan Naruto. Dengan begitu, Hinata bisa melihat dari mana bercak darah itu berasal.

"Na-... Naruto-kun...?!"

Pekiknya saat melihat sebuah potongan plat logam menembus sebelah perut Naruto.

Ketika Hinata telah mengetahui lukanya, Pemuda itu memejamkan matanya sejenak.

"Ketahuan ya..."

Entah kenapa raut wajah Naruto begitu tenang walau lambungnya jelas-jelas tengah terluka parah seperti itu. Walau sebenarnya, Pemuda itu sedang menahan sekuat tenaga rasa sakit yang menghujamnya. Agar Hinata tidak menjadi begitu panik dan khawatir. Alasan Naruto menyuruh Hinata untuk tetap diam di pelukannya, Adalah agar Hinata tidak bisa melihat luka ini. Namun sepertinya kini telah terbongkar sudah.

Naruto terdiam saat melihat embun-embun di sudut mata Hinata yang tengah berkaca-kaca. Kenyataannya, Hinata menjadi begitu khawatir dengan apa yang terjadi pada Naruto. Namun sama sekali tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan luka itu. Membuat Hinata hanya menutup mulutnya dengan mata yang berkaca-kaca.

"Jangan khawatir, Hinata... Mungkin ini sedikit sakit... Tapi aku benar-benar tidak apa."

Ucap Naruto berbohong dan mencoba menegakkan tubuhnya. Raut wajah yang tengah mati-matian menahan rasa sakit jelas-jelas terlihat darinya.

"Tapi-..."

"Ssssttt..."

Naruto mengangkat satu jarinya, Memberitahu agar Hinata diam sejenak. Samar-samar indra pendengarannya menangkap sesuatu.

'Kuso... Di mana senjataku...'

Gumamnya dalam hati sambil mengedarkan direksi pandangannya ke sekitar.

Pemuda berambut kuning yang saat ini tengah terduduk kesakitan di tengah gang itu mencari-cari sesuatu di tanah. Namun sebelum ia berhasil menemukan senjata miliknya yang ia cari, Pintu pesawat yang tepat di depannya terbuka.

"Tch..."

Decihnya menutupi hidungnya ketika asap hitam berhembus keluar dari balik pintu yang telah terbuka tersebut. Bersama dengan Hinata, Naruto memperhatikan pintu yang telah terbuka itu. Begitu gelap di dalam sana. Hanya ada debu yang berterbangan dan asap yang keluar. Namun indra pendengarannya lagi-lagi mendengar sesuatu. Ia mendengar suatu suara serak yang kini sudah sangat familiar di gendang telinganya.

"Hinata... Cari sesuatu yang bisa kau gunakan sebagai senjata..."

Ucap pelan Naruto kepada gadis itu. Seolah pemuda berambut kuning rancung tersebut tengah memperingatkan Hinata pada sesuatu yang akan datang.

"E-Eh...?" Mungkin akibat sehabis pingsan tak sadarkan diri tadi membuat Hinata tidak bisa menangkap apa maksud Naruto.

Dreng-Dreng-Dreng-Dreng...

Bunyi sepatu yang beradu dengan lantai pesawat terdengar. Sesuatu tengah berlari mendekat dan akan keluar dari balik pintu yang gelap itu. Naruto tidak menyangka bahwa dirinya akan berhadapan dengan situasi seperti ini. Dengan luka parah yang dideritanya, Ia sama sekali belum siap untuk ini. Namun nampaknya keadaan telah berkata lain. Sesuatu keluar dari balik pintu pesawat tersebut dan langsung menyerangnya yang tengah terluka.

"Cih-Kusoo...!"

"Gaaarrrhhhhkkk!"

"Naruto-kuuuunnn...!"

Hinata berteriak keras mendapati seseorang yang tiba-tiba muncul dari pintu gelap pesawat itu menyerang Naruto.

Pria tak dikenal penuh dengan bercak darah langsung menerjang pemuda berambut kuning itu dengan sangat frontal. Membuat Naruto kembali jatuh terbelenggu di tanah. Kedua tangan Naruto menahan tubuh dan wajah pria yang nampak telah menjadi seorang mayat hidup tersebut.

Pria itu mengganas. Berkali-kali ia mencoba menggigit Naruto. Air liur dan darah di antara gigi-giginya berhamburan. Benar-benar menyerang Naruto dengan sangat buas dan ganas. Sehingga membuat Naruto kewalahan menahan pria yang ada di atasnya itu. Sakitnya semakin menghujam. Darah mulai keluar kembali dari luka yang ada di sebelah perutnya. Naruto dihadapkan pada kondisi yang benar-benar kritis dan tak berdaya. Tidak sanggup lagi ia menahan pria itu. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kedua tangannya semakin melemah dan bergetar. Tak kuasa menahan tubuh pria yang makin gencar mencoba menggigitnya.

'S-Sial...'

Decihnya dalam hati.

Tangan seseorang menggapai sepucuk senjata genggam yang tergeletak tidak jauh di antara mereka tanpa mereka ketahui. Tangan yang kini menggenggam sebuah Glock-17 itu mulai terangkat dengan bergetar penih keringat. Menempelkan pucuk larasnya tepat di sebelah kepala pria yang terus berusaha menggigit Naruto dengan ganas.

"...?!"

Di tengah keringat yang mengalir deras melalui pelipisnya, Naruto terkejut ketika direksi pandangannya melirik tangan seseorang yang gemetar menggenggam Glock-17 miliknya dan menodongkannya tepat pada kepala mayat hidup itu. Tangan tersebut tidak hentinya bergetar. Membidik kepala mayat hidup di depannya dengan sangat-sangat dekat. Sebelum Naruto menyadari siapa pemilik tangan tersebut, Jari telunjuk miliknya telah menarik pelatuk itu.

DAARRR...

"..."

Darah menetes jatuh di pipi Naruto...

Pria yang tadi menyerangnya kini diam tak bergerak. Pertanda bahwa sebuah peluru telah menghujam tepat di otaknya.

Dengan lemah Naruto menyingkirkan tubuh mayat itu dari atas tubuhnya. Kedua manik sebiru Safir tersebut teralihkan kepada seorang sosok gadis yang tengah gemetar menggenggam senjata itu. Kedua lututnya jatuh ke tanah kemudian.

Naruto mulai bangkit dan menegakkan tubuhnya kembali. Dengan lembut ia memegang senjata itu dan mengambilnya perlahan dari tangan gadis tersebut.

"Sudah... Tidak apa-apa, Hinata..."

Ucapnya dengan nada pelan dan berbisik setelah menarik tubuh gadis itu kembali ke pelukannya.

Menggunakan senjata peninggalan Ayahnya untuk membunuh makhluk itu, Memberikan tekanan psikis yang begitu membebani Hinata. Bahkan tangan kanan yang ia gunakan untuk menarik pelatuk senjata tadi masih bergetar lemah. Dalam pelukan yang Naruto berikan, Ia terdiam. Menyembunyikan raut wajahnya yang tak ingin ia tunjukkan pada siapa pun. Termasuk pada Naruto sendiri.

Hawa panas semakin terasa di sekitar mereka, Kala api yang membalut badan pesawat semakin menjalar. Setelah sesaat Naruto membiarkan Hinata untuk menenangkan diri, Ia mulai teringat akan sesuatu.

"Yang lain... Bagaimana dengan yang lain..."

Gumamnya bertanya entah kepada siapa.

Satu hal yang pasti, Naruto harus bergegas pergi dari sini dan berkumpul dengan teman-temannya. Ia mulai berdiri sambil mengangkat tubuh Hinata dengan pelan. Agar gadis itu bisa berdiri sejajar dengannya.

"Ayo kita cari yang lainnya, Hinata." Ucapnya pada gadis itu. Namun sama sekali tidak ada jawaban yang terucap.

Hanya sepasang langkah yang menapak beriringan menyusuri bagian moncong depan bangkai pesawat yang tak lagi berbentuk di samping mereka. Tertatih-tatih Naruto berjalan memegangi rompi hitamnya yang berkucuran darah dengan satu lempengan plat besi yang saat ini bersarang di sana. Hinata membantu Naruto berjalan tepat di samping pemuda bermanik indah sebiru Safir itu. Berdua, Mereka menyusuri bangkai pesawat ini untuk menemukan teman-teman mereka di sisi seberang. Tidak memperdulikan lautan api yang berkobar menyelimuti badan pesawat di sebelah sana. Percikan abu menyala berterbangan di tirai malam Kota Konoha mengiringi tiap langkah berat mereka.

"Itu mereka..." Ucap Naruto berhenti sejenak ketika kedua iris biru sayu miliknya menemukan tubuh teman-temannya yang tengah terbaring di tanah. Hinata kembali membantu menuntun Naruto untuk mendekati mereka.

Naruto melihat wajah Sasuke yang tengah tak sadarkan diri di atas tanah. Pemuda itu hanya diam memperhatikan wajah Sasuke. Hinata yang melihat reaksi Naruto sempat terbingung sejenak. Gadis itu sempat berpikir bahwa Naruto akan segera berlutut dan berusaha menyadarkan Sasuke dan yang lainnya. Namun rasanya tebakan Hinata sedikit melenceng.

"Hei... Hei, Bangun bodoh..."

Kata Naruto sambil menginjak-injak kepala Sasuke dengan sepatunya.

"Hoeii... Sampai kapan kau akan terus berbaring di sana huh...? Cepat bangun, Sasuke!"

Sahutnya lagi masih mengoyang-goyangkan kepala Sasuke menggunakan kakinya. Apa yang telah Naruto lakukan benar-benar membuat Hinata hanya bisa melongo tanpa kata.

"Na-Naruto-kun, Mungkin aku akan tertawa melihat kelakuanmu yang seperti ini. Tapi kurasa sekarang bukan waktu yang tepat untuk tertawa."

"Eh...?" Naruto menoleh kearah Hinata yang tepat berada di sampingnya setelah mendengar sebuah kritikan dari gadis tersebut.

Grebb...

Goyangan kaki Naruto berhenti, Setelah sebuah tangan mencengkramnya erat. Lagi-lagi Naruto mengalihkan direksi matanya setelah sesaat ia merasa bahwa sesuatu tengah memegangi kakinya.

"...Jauhkan sepatu busukmu itu dari kepalaku." Terdengar sebuah ucapan dari seseorang, Yang justru membuat Naruto tersenyum lega.

"Apa kau tidak punya cara lain yang lebih buruk lagi, Huh...?"

Ucap Sasuke sedikit kesal sambil menegakkan tubuhnya. Sedikit kesusahan karena ia merasa bahwa hampir seluruh otot di tubuhnya terasa sakit setelah benturan dahsyat antara pesawat itu terjadi.

"A-Aku akan... Memeriksa keadaan yang lain."

Kata Hinata sambil menuju kearah Anko-sensei dan Kiba di sana.

Hanya menyisakan Naruto, Sasuke, Dan Sakura yang masih terbaring tak sadarkan diri. Perlahan Sasuke menguncang-guncangkan tubuh gadis berambut merah jambu tersebut. Dengan sesekali memanggil namanya.

"Sakura... Hei, Sakura... Bangunlah..."

Panggil Sasuke pada gadis yang masih terbaring di tanah itu.

"Sampai kapan kau akan tidur di tempat ini, Huh? Ayo Sakura, Sadarlah..."

Lanjutnya lagi sambil terus menepuk-nepuk pelan pipi gadis cantik itu yang kini agak sedikit lusuh akibat debu yang menempel.

"Aku tak punya pilihan lain... Jangan salahkan aku jika aku akan mencurinya di tempat seperti ini..."

Sasuke menarik kepala Sakura ke pangkuannya. Ia mengarahkan wajah gadis itu ke arahnya. Dan Sasuke perlahan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah kekasihnya. Melihatnya saja Naruto sudah tahu apa yang akan Sasuke lakukan. Perempatan muncul di sudut dahi Naruto saat Wajah Sasuke makin dekat ke wajah Sakura. Membuat sebelah alisnya berkedut-kedut.

'Kuuusssssoooo... Awas kau landak darat-...'

Entah kenapa Naruto menjadi kesal sendiri dan memilih untuk memalingkan wajahnya kearah lain. Tidak ingin melihat dua sahabat yang telah menjadi sepasang kekasih itu akan... Ah... Tiba-tiba saja Naruto benci mengatakan hal itu.

Bibir Sasuke setiap inchi makin dekat dengan bibir lembut gadis berambut merah muda itu. Sedikit jauh dari pesawat yang dibakar api, Udara sedikit dingin membuat keduanya bisa merasakan hembusan nafas hangat masing-masing.

Dekat...

Makin dekat...

Dan semakin dekat... Hingga satu jari tiba-tiba menempel tepat di depan bibir Sasuke. Membuat gerak pemuda itu berhenti seketika.

"Aku tidak akan memberikan ciuman pertamaku di tempat yang seperti ini... Tidak sebelum kita temukan teman kita. Sona Sitri..."

Mendengar suara pelan yang sangat ingin di dengarnya saat ini, Membuat Sasuke perlahan membuka matanya. Ada sepasang iris hijau Emerald indah di sana. Sasuke sedikit terhanyut oleh tatapan lembut yang Sakura berikan. Entah kenapa kali ini Sasuke tak bisa lepas memandangi lebih dalam lagi keindahan kedua manik itu.

"Ehhem..."

Naruto mengeluarkan suara aneh dari tenggorokannya. Seakan berusaha mengingatkan ada orang lain di sekitar pasangan itu. Membuat Sasuke langsung tersadar apa yang telah terjadi.

Setelahnya, Sakura lalu terduduk. Sesaat memegangi kepalanya yang masih agak pening akibat benturan tadi. Dilihatnya Anko-sensei dan Kiba yang sepertinya terlihat baru sadar oleh bantuan Hinata. Gadis itu memutar leher, Mengalihkan direksi pandangannya untuk mencari di mana keberadaan teman masa kecilnya.

"Yo..."

Ucap singkat seorang pemuda menyapa Sakura setelah gadis itu menemukan Naruto yang tengah berdiri di sana. Berdiri sambil memegangi sudut perutnya yang penuh dengan warna merah.

"...?!"

Kedua kelopak mata Sakura melebar, Saat cahaya kobaran api yang kontras memantul tepat kearah Naruto. Ada banyak warna merah di sana. Warna darah yang seperti habis menggenang di kemeja biru di balik rompi tipis Naruto. Sasuke sontak terkejut ketika tiba-tiba Sakura melompat dari tempatnya dan mendekati sosok Naruto yang tengaj berdiri di sana. Akibat pening yang masih tersisa, Membuat Sakura tersandung dan hampir terperosok jatuh. Kedua tangan Naruto langsung saja menangkap tubuh gadis yang ada di hadapannya itu.

"A... Apa yang terjadi... Kenapa ini... Kenapa Naruto...? Jawab aku, Kenapa...?!"

Tanya Sakura mendadak. Naruto melihat reaksi Sakura yang seperti seorang yang sedang panik saat pasangan kekasihnya terluka. Namun sayangnya, Naruto bukanlah pasangan kekasih Sakura.

"Ini... Aku pun tidak begitu mengetahuinya, Sakura. Tiba-tiba saja sudah seperti ini saat aku tersadar..."

Kata Naruto pelan sambil menerawang dan menerka-nerka kronologi seperti apa yang telah terjadi hingga sebuah serpihan plat logam pesawat telah menembus sudut perut kirinya. Namun sayangnya ingatan yang Naruto miliki benar-benar samar. Ia tak begitu bisa mengingat apa saja yang terjadi ketika badan pesawat itu meledak keras.

Tidak mendapat jawaban seperti yang ia inginkan, Membuat Sakura mengangkat satu jari telunjuknya. Jari itu perlahan mendekati luka Naruto. Entah apa yang membuat Sakura begitu ingin menyentuh dan merasakannya. Merasakan ujung plat logam berlumuran darah yang berdiam di tengah-tengah luka Naruto.

"Kkh-..."

Sakura tiba-tiba terkejut menarik jarinya ketika terdengar suara erang kesakitan dari Naruto saat ujung jarinya itu menyentuh serpihan platnya. Dilihatnya lagi ujung jari miliknya. Ada bercak darah Naruto yang menempel di sana. Langsung membuat Sakura membungkam mulutnya seketika dengan kedua kelopak mata yang semakin terbuka lebar.

"Ahaha... Itu memang sedikit sakit. Tapi... Tidak apa-apa. Rasa sakitnya mungkin akan mereda dengan sendirinya." Ucap Naruto tenang sambil sesekali tertawa canggung. Mencoba menenangkan Sakura yang benar-benar terlihat sangat panik saat ini.

"Jangan katakan itu! Mana bisa kau berkata setenang itu ketika ada sebongkah plat besi sepanjang 3 inchi yang menembus perutmu, Hah?!"

Seru Sakura hampir berteriak kesal akibat mendengar pernyataan setenang tadi.

Naruto terdiam...

Kedua manik berbeda warna mereka saling menatap satu sama lain. Begitu dalam tatapan yang mereka berdua tunjukkan. Terlebih lagi bagi diri Naruto. Seakan ia merasa ada satu sirat di antara tatapan dalam yang Sakura berikan padanya. Membuat sejenak Naruto membisu.

"Aku... Tidak... Tidak apa-apa... Saku-"

Tiba-tiba pening kuat menghujam kepalanya. Pandangan seolah kabur begitu saja. Tidak bisa lagi menatap sepasang manik berair sehijau Emerald di hadapannya. Semua terasa samar. Naruto telah cukup banyak kehilangan darah akibat luka serius itu.

"Aku tidak ingin... Tidak lagi ingin kehilanganmu lagi... Dirimu, Maupun Sasuke, Tidak keduanya. Aku tidak mau kehilangan salah satu dari kalian..."

Sakura meremas bahu kemeja biru Naruto. Kedua kelopak matanya terpejam erat dan bergetar. Mencoba menahan sekuat tenaga bulir air mata yang akan segera terjatuh.

"Tahukah kau... Tahukah kau seperti apa sakit yang kurasakan saat itu, Saat di mana kupikir aku telah kehilangan dirimu, Hah?! Kalian berdua selalu selangkah di depanku. Seberapa keras aku mencoba, Tak akan pernah kurasa bisa sejajar dengan kalian. Yang bisa kulakukan hanyalah menatap kedua punggung kalian dari belakang. Kalian tak bisa lagi sok kuat... Kalian tak bisa lagi menyembunyikan luka... Karena aku selalu... Memperhatikan kalian. Aku selalu memperhatikanmu..."

Begitu sakit yang menghujam, Ketika gadis itu mengingat kembali apa yang ia rasakan saat di dermaga waktu itu. Saat di mana ia kira telah kehilangan teman yang begitu berharga untuknya. Sakura menggigit bibir bawahnya. Ia merasa ia telah kalah, Tak bisa lagi menahan bulir air mata yang telah jatuh. Melihat sisi rapuh gadis itu yang akhirnya terluap, Membuat Sasuke segera menarik kepala Sakura dan mendekapnya. Sasuke mendekap kekasihnya yang telah deras menangis itu.

Naruto seakan membisu begitu saja. Kelopak mata yang sayu menyembunyikan cahaya kedua manik biru yang kini tak lagi indah. Ia hanya menatap menerawang samar. Tidak bisa lagi mengucapkan untaian kata.

'Andai saja...'

'Andai saja ruang kecil di hatimu itu adalah untukku... Tapi kenyataannya, Aku telah berhenti. Berhenti untuk menggapaimu... Sakura. Maafkan aku...'

Ada rasa bahagia ketika Naruto menyadari betapa ia menjadi sosok yang sangat berharga bagi Sakura. Bagaimana gadis itu begitu khawatir padanya. Sayangnya kini Naruto telah berpaling dan berhenti berharap. Berhenti untuk mencapai ruang kecil hatinya.

Grebb...

Seseorang menangkap tubuh Naruto ketika pemuda itu hampir ambruk ke tanah.

"Naruto-kun...?!". Pekik Hinata setelah melihat bagaimana Naruto telah tak kuat lagi menahan beban tubuhnya sendiri. Pemuda itu benar-benar telah kehabisan begitu banyak darah. Namun di waktu yang tepat Anko telah berada di sampingnya untuk memeluk tubuh lemah Naruto yang hampir ambruk menyentuh tanah.

"Pendarahannya harus segera dihentikan. Terlebih... Lempengan plat ini harus segera dicabut dari perutnya sekarang juga."

Kata Anko ketika melihat banyaknya darah merah yang membasahi robekan rompi hitam yang dikenakan Naruto.

'Jika plat ini menusuk melalui belakang, Maka yang perlu kulakukan hanya menariknya dari arah yang sama.' Pikir guru muda itu memegangi dan menutup luka di sudut perut Naruto menggunakan telapak tangannya.

"Setelah aku melakukan ini, Kuserahkan Namikaze-kun kepadamu, Inuzuka-kun. Mengerti...?". Tanya Anko setelahnya, Menatap kearah Kiba.

"A-Aku mengerti... Eh?! Tunggu... Apa yang anda maksud dengan melakukan ini...?"

Balas Kiba dengan reaksi terkejut dan tidak begitu mengerti dengan apa yang Anko, Gurunya itu maksudkan.

"Aku tidak punya banyak pilihan. Dengar... Namikaze-kun. Jangan sampai menggigit lidahmu sendiri...". Ucap Anko pelan seperti tengah berbisik ke telinga Naruto.

Tangan kiri Anko yang melingkar di leher Naruto entah kenapa kini terarahkan tepat ke mulut pemuda itu. Sedangkan tangan kiri wanita muda itu telah berada di belakang punggung Naruto. Lebih tepatnya, Ke sisi di mana plat besi itu bersarang. Melihatnya saja, Sasuke telah mengetahui apa yang akan gurunya itu lakukan. Begitu juga untuk Kiba yang menutupi kedua mata Hinata agar gadis itu tidak melihat apa yang akan terjadi.

"Aku akan melakukannya sekarang..." Kata Anko kemudian untuk memberikan aba-aba kepada Naruto.

Pemuda itu seolah-olah telah mengerti dan bersiap dengan mulai menggigit lengan yang telah Anko berikan untuknya. Jemari-jemari wanita yang tengah memeluknya itu mencari ruas plat yang bisa ia tarik. Rasa sakit langsung saja menjalar ke seluruh otot dan syaraf Naruto, Ketika jemari Anko perlahan mulai menarik lempengan plat logam itu dari perutnya.

"-Kkkhh..."

Naruto mengerang hingga menggigit kuat tangan kiri Anko. Rasa sakit yang benar-benar begitu luar biasa. Entah berapa peluh yang telah menetes jatuh. Naruto merintih begitu kesakitan tiada tara. Namun dengan rela Anko telah memberikan tangan kirinya untuk Naruto gigit kuat, Agar pemuda itu tak bisa menggigit lidahnya sendiri.

"Na-Naruto-kun..." Gumam Hinata pelan merasa sangat khawatir setelah mendengar rintih Naruto yang begitu kesakitan. Kiba tak memperbolehkannya untuk melihat apa pun saat ini. Karena darah mengucur dan menggenang di bawah Anko dan Naruto.

Naruto terus mengerang penuh kesakitan saat Anko masih berusaha menarik lempengan plat logam itu dari belakamg punggung Naruto. Kedua tangan pemuda tersebut mencengkram tangan kiri Anko yang masih digigitnya. Bukan hanya Naruto saja yang merasa kesakitan. Anko pun juga menahan sakit ketika Naruto terus-menerus menggigit dan mencengkram tangannya. Dengan begitu rela ia berbagi rasa sakit yang sama. Seolah sama sekali tak ia biarkan Naruto merasakan sakit itu sendirian. Anko mencoba menanggung juga rasa sakit itu.

"Bertahanlah... Bertahanlah, Namikaze-kun... Hanya sedikit lagi..."

Ucapnya pelan berbisik. Tangan kanannya masih bergetar ketika masih menarik benda itu lepas dari punggung Naruto. Bergetar karena sakit yang saat ini dirasakannya juga.

Bunyi logam yang dilempar ke aspal terdengar di bawah malam. Anko telah berhasil menarik keluar serpihan plat besi itu dari belakang punggung Naruto. Tangan kanannya berlumuran darah merah. Tentu saja darah merah milik Naruto yang tubuhnya masih saja kejang dan bergetar. Seperti rasa sakut yang menghujamnya belum mau menghilang.

Sakura menangis dalam sendunya, Melihat lempengan logam yang berlumuran penuh darah berwarna merah di sana. Sakura menutup mulut dengan kedua tangannya di sela tangisnya, Ketika menyadari bahwa dirinya tidak bisa merasakan rasa sakit yang sama seperti yang saat ini Naruto rasakan. Ia menangis karena tidak bisa ikut memikul sedikitpun rasa sakit yang terlihat sangat menghujam tersebut.

"Sudah... Aku sudah mencabutnya, Namikaze-kun. Tenanglah...". Bisik Anko ketelinga Naruto yang masih gemetar menggigit tangan Anko. Walau begitu Anko masih memberikan tangan kirinya itu dan bersedia merasakan rasa sakit di saat yang sama dengan Naruto.

Grodaakk...!

Sebuah suara mengagetkan mereka semua. Yang secara bersamaan melihat kearah asal suara tersebut, Minus Naruto. Pintu darurat kecil di bawah ruang Cock Pilot terbuka. Debu menyebar keluar begitu saja.

"Uuhk-..."

Seseorang terbatuk dan terjatuh dari sana. Tergelepak di aspal yang telah remuk rusak tal berbentuk. Sasuke, Sakura, Kiba, Anko dan Hinata terdiam melihatnya. Seragam seorang pilot masih melekat di tubuhnya. Walau kini telah banyak sobekan dan begitu lusuh terlihat. Sekujur tangannya penuh luka lecet berdarah. Wajah pria paruh baya di sana sangat kumuh terpapar asap hitam dan debu.

"Kurasa kita harus segera meninggalkan tempat ini... Teman-teman..." Kata Kiba yang sempat berpikir bahwa seseorang itu adalah mayat hidup.

"...Tunggu-" Sasuke mengintrupsi kemudian. Dia rasa Kiba sedikit salah menyangka. Dalam pengelihatannya, Pria paruh baya itu sama sekali tidak menunjukkan reaksi atau tingkah yang membuatnya terlihat seperti seorang mayat hidup.

Anko sepertinya sependapat dengan Sasuke. Guru muda itu hanya melihat pria berseragam pilot lusuh di sana hanya sekedar menunjukkan reaksi kesakitan dan berusaha untuk bangkit dari tempatnya jatuh.

"Orang itu masih hidup... Dia masih hidup..."

Gumam Anko sesaat setelah memperhatikan lebih seksama lagi. Tidak sengaja mendengar gumamannya tadi, Masih dalam pelukan Anko, Naruto melirik kearah orang yang dimaksud. Walau seluruh tubuhnya seakan telah mati rasa, Namun ketika gendang telingannya mendengar bahwa ada nyawa yang masih selamat di dalam Kota yang mengerikan seperti ini, Entah mengapa membuat Naruto begitu ingin menggapai orang itu. Dan mengajaknya untuk ikut bersama mencari tempat harapan.

Kiba menyipitkan kedua matanya, Untuk melihat lebih jelas sebenarnya makhluk yang tiba-tiba terjatuh dari pesawat itu. Walau dalam hati pun ia masih belum yakin dan percaya seutuhnya bahwa orang itu belumlah terinfeksi. Pilot itu gemetar menahan sakit di tanah. Dengan beberapa kali mencoba berdiri dengan lengan penuh lukanya.

"A-Aku... Setuju dengan apa yang dikatakan Kiba... A-Aku merasa, Sebaiknya kita segera pergi dari sini..." Kata Hinata yang malah membuat semua orang sontak mengalihkan pandangan kepada dirinya. Kecuali Naruto yang masih menatap orang itu sambil masih menahan rasa sakit yang tidak kunjung hilang dari luka menganganya.

Bukan tanpa alasan Hinata mengatakan hal seperti itu. Bukan juga terlalu kejam perkataannya ketika mereka mengetahui bahwa masih ada yang selamat dari tragedi pesawat itu. Ada sesuatu yang sangat mengganggu Hinata. Benar-benar sangat mengerikan. Hingga gadis itu sendiri pun begitu gusar dan panik di samping Kiba. Ia bisa merasakannya... Dan entah kenapa Hinata bisa merasakannya. Sesuatu yang tidak bisa terasakan oleh yang lainnya.

Di saat Sasuke, Sakura, Anko dan Kiba diam terbingung karena kata-kata Hinata yang terdengar agak sedikit kejam, Kedua kelopak mata Naruto yang sesaat sayu tiba-tiba dipaksa terbuka lebar melihat kearah sana.

KRECEEETTTSS...

Gendang telinga Sasuke dan yang lain tiba-tiba menangkap suara seperti ada sesuatu yang remuk dan basah. Ketika pandangan mereka teralihkan dari Hinata dan menatap kearah sumber suara itu, Seakan tak percaya apa yang telah mereka lihat. Kedua kelopak mata mereka melebar seketika seperti Naruto. Begitu tercengang, Hingga tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut mereka.

Darah merah menggenang...

Membasahi tanah beraspal rusak...

Kepala dari pilot itu kini tak lagi berbentuk... Tidak pada tulang tengkorak dan otak basah yang telah hancur bercampur dengan darah yang menggenang. Sebuah kaki mengerikan berukuran besar adalah pelakunya. Masih di atas bekas kepala pilot yang telah remuk rata dengan tanah itu. Seakan kaki tak beralas itulah yang telah menginjak kepalanya hingga pecah.

Bukan hanya Naruto...

Semua memandang dengan tatapan kosong. Tercengang dengan apa yang telah mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri. Melihat tubuh pilot pesawat itu tak lagi bergerak. Dengan kepala yang remuk diinjak oleh sebuah makhluk tak dikenal di sana.

"A-... Apa... Makhluk apa itu-..."

Kalimat Kiba terbata hanya dengan melihat wujudnya saja, Yang bahkan dirinya sendiripun tidak tahu seperti apa.

"Kurasa Hinata benar. Kita harus pergi dari sini. Ikuze!"

Ucap Sasuke cepat.

Ia merasa bahwa situasinya semakin lama semakin memburuk saja. Sasuke lekas saja menarik Sakura yang bersama dengan dirinya. Berlari berlainan arah dari arah munculnya monster itu. Kiba menggandeng Hinata untuk menggiring gadis berponi itu juga ikut menjauh. Namun beberapa kali kaki-kaki mereka melangkah, Hinata tiba-tiba berganti menarik pergelangan tangannya dari genggaman Kiba.

"Tunggu! Naruto-kun dan Anko-sensei masih-..."

"...?!"

Langkah Kaki Sasuke langsung berhenti mengerem begitu saja setelah mendengar apa yang Hinata ucapkan. Ada sesuatu yang tertinggal. Naruto dan Anko masihlah berada di sana. Tepat tidak jauh di hadapan makhluk besar nan mengerikan itu. Sang Uchiha muda mendecih kesal, Telah terlupa akan sesuatu yang sangat penting. Tekanan yang sangat mengerikan dengan hanya melihat monster itu membuat pikiran mereka benar-benar kacau.

"Kuso-... Naruto!"

Teriak Kiba yang juga mengerem mendadak dan berpaling ke arah belakang.

Cakarnya benar-benar besar dan tajam...

Kulitnya seperti tertutupi sisik hijau tebal di antara hitam warna tubuhnya...

Berdiri membungkuk dengan pandangan membunuh menatap Anko dan Naruto...

Entah kenapa untuk sesaat, Tubuh Anko terasa seperti tak bisa digerakkan. Begitu tercengang dengan kemunculan monster mengerikan ini. Yang menghabisi seorang pilot dengan hanya sekejap mata di sana. Dengan kaki berlumur darah milik pilot pesawat tersebut. Ia merasakan tekanan yang sangat luar biasa hanya dengan bertatap langsung dengan makhluk itu. Kedua matanya tidak bisa berhenti untuk bergetar. Menatap bagaimana kini kaki besar bercakar penuh dengan cipratan darah tersebut mulai melangkah berat mendekatinya.

"Anko-sensei...!" Panggi Sakura mencoba menyadarkan gurunya yang diam terpaku di sana. Jaraknya sudah terlalu jauh untuk menuju ke tempat mereka berdua. Sudah terlambat...

Rahang kuat penuh gigi tajam tersebut terbuka dan menggeram keras. Begitu keras hingga seluruh air liur di sela gigi-gigi tajamnya terhembus dan berterbangan.

"...?!"

Tangan Naruto menarik senjata dari Holster, Sabuk senjata yang terikat di antara kedua bahunya. Namun makhluk ganas itu telah melangkah berlari terlebih dahulu mendahului gerak tangannya.

Tubuh Naruto seolah dapat merasakan getaran di tiap dentuman telapak kaki monster itu berpijak. Tidak ada celah waktu sama sekali baginya untuk menarik pelatuk senjata di genggamannya. Langkah makhluk besar mengerikan itu begitu lebar dan cepat. Sudah tidak ada waktu yang tersisa lagi untuknya menembak.

"Maaf...!"

Ucap Naruto singkat. Membuat Anko menoleh menatapnya dengan tatapan ingin tahu untuk siapa kata itu terucap. Sebelum Anko mengerti untuk apa kata maaf itu, Naruto terlebih dahulu mencengkram kedua bahunya.

"...?!"

Lagi-lagi Anko terkejut ketika kaki Naruto yang bersepatu entah kenapa bisa menempel di tengah-tengah perutnya saat ini. Posisi mereka berdua benar-benar sangat dekat hingga membuat lutut Naruto tertekuk. Namun itulah yang Naruto butuhkan sebenarnya. Semakin tertekuk semakin besar momentum yang bisa kau dorong untuk menghempaskan.

Makhluk itu merentangkan tangannya sambil berlari. Siap mencabik mereka berdua dengan cakar-cakar besarnya. Namun lutut Naruto telah bergerak. Mendorong tubuh Anko jauh ke sisi lain menggunakan kakinya. Begitu kuat hingga membuat tubuh Anko terhempas kuat menjauh dari posisi di mana Naruto berada.

BLAAAARRRRR!

"NARUTOOOOOO...!"

Sakura berteriak sangat-sangat dan begitu keras. Mengalahkan suara Hinata yang berteriak terlebih dahulu darinya. Kedua manik Sakura seketika melebar melihat debu dan pecahan lapisan aspal hitam yang tiba-tiba terbang ke udara saat monster itu dan Naruto beradu kontak. Tidak hanya Sakura dan Hinata yang terbelalak lebar. Kiba dan Sasuke pun hingga menunjukkan reaksi yang tak pernah mereka tunjukkan sebelumnya, Ketika kelima cakar tajam nan besar itu langsung melesat beradu kontak dengan Naruto yang masih terbaring di tanah.

Asap dan debu yang berterbangan masih menghalangi pandangan Sakura, Sasuke, Kiba dan Hinata. Yang bahkan membuat mereka berempat tidak bisa menerka apa yang telah terjadi di balik asap dan debu-debu itu. Yang mereka tahu hanya cakar makhluk mengerikan itu menerjang tepat di mana Naruto berada.

Anko terlengkup di pinggiran jalanan Konoha sambil bergetar memegangi lengan kirinya. Di bagian lengan kemeja putihnya penuh robekan panjang dan basah akibat darah yang mengucur keluar. Nampaknya lengan kirinya sempat sedikit terserempet ujung cakar-cakar besar itu. Membuat Anko bergetar menahan sakit di bagian lengannya. Walau sempat tersentuh ujung cakar mematikan itu, Namun Naruto berhasil memisahkan Anko dari dirinya sendiri tipis beberapa saat Sebelum makhluk itu tiba pada dirinya.

Sebelah mata Anko terbuka. Melirik asap dan debu yang berterbangan di sana. Hanya sekelebat bayang samar di dalamnya yang terlihat. Ketika debu-debu itu mulai menyingkir hilang, Barulah saat itu kedua kelopak mata Anko terbuka lebar seluruhnya. Melihat cakar-cakar besar milik monster itu menancap di aspal yang retak oleh serangannya, Dengan Naruto yang diam terlentang tepat di bawahnya.

Kepalan tinju tangan kiri Naruto berhasil sedikit membelokkan serangan monster itu tadi. Naruto berhasil selamat tanpa cidera yang berarti berkat refleks dan pemikiran cepatnya.

Sudut mata birunya mencoba melirik keadaan Anko di sana. Namun apa yang ia dapati saat ini, Adalah guru yang sangat berharga baginya tengah terkapar dengan luka parah. Pendarahan mengalir begitu saja tanpa henti. Suatu pemandangan yang sungguh tidak ingin dilihatnya. Melihat lagi teman-temannya yang berharga kembali terluka.

"Beraninya..."

"Beraninya kau-..."

Gumam Naruto tertuju kepada makhluk itu. Geram telah membanjiri seluruh isi hatinya. Gurat mengerikan muncul kembali di pelipis sebelah mata kanannya. Lagi-lagi sebelah wajah Naruto berubah akibat amarah yang meluap. Begitu marah melihat Anko yang telah terluka. Ujung laras Glock-17 milik Naruto teracung tepat sejajar dengan kepala makhluk itu. Dari bawah tubuhnya, Naruto membidikkan senjata yang ia genggam ke titik vital yang dimiliki setiap mayat hidup dan mutasinya. Sekuat dan secepat apapun mereka, Akan langsung tumbang seketika saat kau berhasil menghancurkan otaknya. Itulah yang melekat dan terpikirkan di dalam kepala Naruto saat ini. Ingin menghabisi makhluk ini.

DAAAARRRR...

Naruto berhasil menarik pelatuk senjatanya. Sebuah selongsong aktif terpantik meledak dan terdorong kuat dari kamar peluru. Melesat keluar dari ujung laras dengan sangat cepat.

Namun setelahnya, Naruto memasang raut yang benar-benar terkejut. Melihat pelurunya hanya merobek udara kosong di sana. Karena entah kenapa posisi kepala makhluk itu kini terlihat miring. Seolah-olah ia telah berhasil menghindari peluru Naruto di waktu yang tepat. Membuat Naruto sangat-sangat tercengang melihatnya.

"Ti-... Tidak mungkin-..."

Bukan hanya Naruto. Kiba pun ikut tercengang sendiri melihat bagaimana cara monster besar itu menggerakkan kepalanya untuk menghindari terjangan dari peluru Naruto. Sesuatu yang benar-benar tidak mungkin dan sangat-sangat tidak mungkin. Seolah-olah makhluk itu memiliki akal pikiran untuk membuatnya memilih menghindar.

Makhluk itu mencabut tangan bercakar miliknya dari reruntuhan aspal jalanan, Dan siap kembali untuk menghujamkannya kearah Naruto.

jenDAAARRR...!

Sebuah peluru terlepas dari moncong laras senjata Sasuke. Melihat makhluk besar itu akan menyerang kembali, Ia mencoba melakukan sesuatu dengan cepat. Peluru yang telah ia lepaskan melesat lurus kearah makhluk itu. Tapi tiba-tiba peluru milik Sasuke tidak sampai kepadanya. Karena kini makhluk itu menggunakan tangannya itu sebagai sebuah tameng untuk menghentikan pelurunya.

Mata Sasuke melebar melihat reaksi refleks yang makhluk itu tunjukkan. Bagaimana seolah makhluk besar tersebut benar-benar memilik akal selayaknya manusia.

Menggunakan kesempatan ini, Naruto langsung bergerak bangkit dan beranjak dari tempat itu. Berusaha menjauh dari jangkauan serangannya.

Tiba-tiba monster itu mencabut sebuah pintu mobil yang ada di dekatnya dengan paksa. Dengan itu ia mengayunkan lengannya dan melemparkan lempengan pintu mobil tersebut kearah di mana Sasuke berada.

'Kuso-...'

Sasuke berdecih dalam hati dan hanya bisa menatap pintu mobil itu melesat kearahnya. Tangan kirinya mendorong keras tubuh Sakura yang ada di sampingnya. Mencoba menjauhkan kekasihnya itu dari bahaya. Walau sudah terlambat bagi dirinya sendiri untuk menyelamatkan diri.

Bruaakkhh!

"Sasukeee!"

Teriak Naruto yang masih terkapar kesakitan melihat bagaimana sebuah pintu mobil menghempaskan tubuh Sasuke di sana.

Sasuke terlempar jauh dan tergeletak. Pemuda itu langsung lemas hampir tak sadarkan diri. Ia merasa ada tulang yang patah di dalam sana. Sakura langsung beranjak dan berlari menghampiri Sasuke. Gadis itu berusaha menyingkirkan pintu mobil yang menghalanginya.

"Sasuke-kun...! Sasuke-kun sadarlah! Sasuke-kun!"

Panggil Sakura panik menepuk-nepuk pipi Sasuke.

Kiba akan berlari menuju ketempat Sakura dan Sasuke berada. Namun direksi matanya sekejap melihat beberapa mayat hidup yang muncul menghampiri Anko yang tengah meringkuk kesakitan di sana.

"Cihh...!"

Kiba mendecih lalu berlari menuju ketempat Anko terkapar. Zombie-Zombie mulai bermunculan satu per satu akibat keributan yang tengah terjadi.

"Bertahanlah, Sensei!"

Kata Kiba sambil berusaha menyeret tubuh Anko menjauh. Tapi apa yang dilakukannya itu agaknya tidak akan membuahkan hasil apapun. Mereka tetap akan mendekat dan menghampirinya. Tidak ada jalan lain. Kiba harus berhadapan langsung dengan mereka sendiri.

'Kuso..!' Umpat Kiba dalam hati kesal dengan situaso yang seperti ini.

Tidak ada satupun sesuatu yang dapat dijadikannya sebagai sebuah senjata untuknya. Membuat Kiba terpaksa menghadapi mereka dengan tangan kosong.

Di sisi lain, Asap tipis terus keluar dari sebuah luka. Seseorang mencoba berdiri walau kedua kakinya gemetar. Angin menghembut helai demi helai rambut kuningnya. Menampakkan tatapan amarah dan nafsu membunuh yang sangat hebat.

"Brengsek..."

Gumamnya pelan. Tatapan itu tertuju hanya untuk makhluk besar mengerikan yang ada di hadapannya. Tangannya telah siap menggenggam sepucuk senjata genggam. Jumlah peluru yang ada di dalamnya sangat terbatas dan kian menipis. Namun itu tidak akan menghentikannya begitu saja untuk melampiaskan kemarahan di hatinya. Melihat satu per satu temannya dilukai seperti itu, Aura membunuh yang pekat benar-benar telah dipaksa keluar.

"Tidak akan kumaafkan!"

Teriaknya penuh amarah dan langsung berlari luruh kearah makhluk tersebut sambil menembakinya dari depan. Naruto terus berlari dan terus menembak. Memperdekat jaraknya dengan monster tersebut. Hampir semua peluru yang ia tembakkan bisa dihalau dengan tangannya yang besar. Hingga selangkah jarak yang memisahkan di antara mereka berdua, tangan kiri makhluk itu langsung mencengkram leher Naruto dengan sangat cepat. Hingga membuat pemuda tersebut tak sempat untuk mengelak.

BLAAARRR...!

Tubuh Naruto yang sudah tak berdaya di cengkramannya dibanting ke permukaan aspal dengan sangat keras.

Cipratan butiran darah keluar dari mulut Naruto yang terbuka akibat terkejutannya dengan rasa sakit yang begitu menghujam. Jalanan itu lagi-lagi hancur untuk yang kedua kalinya.

"Naruto-kun!"

Jerit Hinata yang masih terpaku melihat tubuh Naruto dibanting begitu saja. Tidak ada yang bisa ia perbuat saat ini. Tidak ada satupun hal yang terbesit di pikirannya. Hanya bisa memandang diam pemandangan itu.

Mendengar seruan Hinata, Sakura menoleh kearah sana. Melihat sahabatnya yang kini tercengkram tak berdaya. Sedangkan Kiba tengah sibuk berusaha menghalau para mayat hidup yang datang menghampiri Anko-sensei. Ia harus melakukan sesuatu saat ini juga. Di saat itulah, Sakura melihat senapan milik Sasuke. Dengan cepat kedua tangannya menggapai senjata yang cukup berat itu.

"Bagaimana cara menggunakannya?! Beritahu aku, Sasuke-kun!" Tanya Sakura tergesa-gesa.

Sasuke yang tidak terkulai lemas menatapnya sayu.

"Apa yang akan coba kau lakukan..." Tanya pelan Sasuke kepada kekasihnya itu.

"Sudahlah cepat beritahu aku sekarang juga!" Bentak Sakura dengan nada paniknya.

Tangan Sasuke menggapai bagian dari senapan itu. Lalu menarik Slider yang ada di Frame senjatanya.

Cekreekl...

Satu selongsong peluru kosong keluar. Kini senapan itu siap ditembakkan kapan saja. Dengan begitu Sakura mengerti bagaimana mekanisme senjata ini bekerja.

"Aku pun akan berjuang bersama kalian berdua. Jangan pernah sekalipun remehkan aku...!"

Gadis berambut merah jambu tersebut bangkit berdiri dan meninggalkan Sasuke. Berlari menuju ketempat di mana Naruto berada. Yang tanpa gadis itu sadari, Sesaat senyum tipis muncul di sudut bibir Sasuke.

"Kkhh-..."

Naruto masih berjuang dengan cekikkan yang monster itu berikan. Jari-jari Naruto berusaha untuk menggapai Glock-17 miliknya yang terlepas dan terjatuh. Tapi cakar besar itu kini sudah mulai bergerak kembali. Kali ini makhluk itu tidak akan meleset lagi. Ia telah mengunci targetnya. Hanya menunggu eksekusi yang akan dia berikan kepada pemuda berambut kuning itu.

Cakarnya terangkat tinggi. Siap untuk mengujam ketubuh Naruto sekali lagi. Bersiap untuk menghabisi nyawa pemuda itu. Tapi di saat cakarnya mulai bergerak, Tiba-tiba suara menggelegar terdengar.

jenDAAAARRR!

Sebuah peluru berkaliber 7mm melesat kearahnya dengan sangat cepat melebihi kecepatan suara.

Craattss...

Peluru itu berhasil menembus tangan kirinya yang saat ini tengan ia gunakan untuk mencengkram Naruto.

"Tidak akan kubiarkan kau terus melukai orang-orang yang sangat kusayangi!"

Seru Sakura setelah tembakkan itu terlepas. Hinata terkejut dengan aksi Sakura tadi. Bahwa gadis itu tetap melakukan yang terbaik yang bisa dilakukannya. Berbeda dengan dirinya saat ini, Yang hanya diam mematung melihat Naruto yang tidak berdaya di sana.

Semuanya berjuang... Semua orang melakukan seluruh yang mereka bisa untuk melindungi yang lain. Namun mengapa hanya dirinya yang tidak melakukan apapun...

Mengapa hanya ia yang harus menjadi seseorang yang harus selalu dilindungi...

Kini Hinata benar-benar merasa lemah... Merasa dirinyalah yang paling lemah di antara mereka... Sangat lemah diantara Sakura dan Sona...

Apa dirinya ingin tetap seperti ini... Apakah dirinya tetap ingin menjadi orang yang harus dilindungi...

'Tidak...!'

Hinata berlari mengambil sebuah linggis yang tergeletak di sana. Melihat dan menyadari bagaimana mereka semua berjuang dan saling melindungi satu sama lain, Membuat Hinata tersadar dan teringat akan kata-kata seseorang saat itu...

'Jangan gentar..! Kita semua, Akan lompati sisi Dunia, Dan akan temukan tempat harapan...!'

'Karena kita adalah tim yang hebat.'

Tangannya memungut linggis tersebut. Ia mengingat kembali bagaimana cara seorang Naruto Namikaze mengucapkan kalimat itu. Seseuatu yang mampu menyatukan ikatan mereka semua dan kembali berjuang bersama. Itulah yang Hinata sebut dengan... Arti kuat yang sebenarnya!.

Tangan kiri monster itu terhempas. Darah merah kehijauan pun akhirnya terciprat keluar. Sejenak makhluk itu menoleh kearah gadis berambut merah muda di sana yang telah melukai tangan kirinya. Namun ketika ia mengembalikan direksi matanya kebawah, Tidak ada satupun seseorang di sana. Hanya jalanan aspal yang telah rusak parah. Naruto tiba-tiba menghilang. Lenyap begitu saja.

'Berhasil...!'. Seru Sakura dalam hati kegirangan. Sepertinya apa yang ia rencanakan telah berhasil.

"Apa kau mencariku... Huh?"

Sesaat, Tiba-tiba gumaman suara seseorang terdengar. Suara itu muncul berada tepat di atasnya. Ya... Saat ini Naruto tengah berdiri di atas punuknya yang sangat tebal.

"Aku tidak akan lari darimu, Yang sudah berani melukai teman-temanku." Ucapnya dengan nada datar dan pandangan yang sarkastik.

"Naruto-kun...!" Hinata berseru keras sembari melempar linggis yang telah dipungutnya.

Linggis itu terbang melayang dan berputar menuju kearah pemuda berambut kuning di sana. Tanpa menoleh, Naruto berhasil menangkapnya dengan hanya menggunakan satu tangannya.

". . . .Mati" Ucap Naruto dengan tatapan yang sangat mengerikan.

CRAAATTSS!

Linggis yang digenggamnya langsung mengujam tepat di atas kepala makhluk tersebut. Menembus dengan sangat dalam. Mati dalam keadaan berlutut di aspal, Dan menjadi akhir dari nafasnya.

Naruto melompat turun dan memungut sepucuk senjata genggam miliknya yang sempat terjatuh di sana. Dengan tangan kiri yang menggenggam Glock-17 itu, Naruto menghempaskan lengannya sembari menarik pelatuk.

DAARRR...

Peluru itu melesat berputar dan lagi-lagi entah bagaimana berbelok arah menggesek udara. Menghujam dan menembus tepat pada dua kepala Zombie yang tengah dihalau oleh Kiba.

Piercing Shot!

Kiba hanya bisa dibuat terpaku begitu saja ketika dua mayat hidup ganas di hadapannya tiba-tiba ambruk seketika dengan hanya satu tembakan saja. Bahkan Naruto menarik pelatuknya tanpa membidik maupun melihat targetnya.

Rencana Sakura dan Hinata sukses. Menjadikan Naruto sebagai pusat dari rencana mereka berdua. Karena masing-masing di antara mereka percaya, Bahwa Naruto mampu menaklukkan monster itu.

"Sepertinya kita berhasil, Ya kan..."

Kata Sasuke lemah sambil tersenyum picing melihat aksi mereka semua.

"Sasuke-kun..!"

Sakura segera bergegas menuju karah kekasihnya yang masih terkulai lemas. Sedangkan Hinata berhasil menangkap tubuh Naruto yang hampir ambruk. Berkat kerjasama tim yang hebat, Mereka berhasil mengalahkan makhluk mengerikan ini. Namun juga dengan membawa luka serius di antara mereka. Entah itu Anko, Sasuke, Atau bahkan Naruto. Mereka bertiga kini harus menahan sakit yang menghujam.

"Apa kau bisa berdiri, Sensei?"

Kiba bertanya sembari membantu Anko untuk bangkit.

"Kurasa aku bisa... Terima kasih..."

Sahut Anko dengan muka pucatnya akibat kehilangan banyak darah. Pendarahan di luka cakaran yang menganga itu terus saja tidak mau berhenti.

"Naruto-kun, A-Apa kau tidak apa-apa..."

Tanya Hinata yang tengah membopong Naruto.

Pemuda itu pun tersenyum. Bahkan hampir saja ia tertawa dengan tatapan mata yang sayu.

"Punggungku rasanya seperti mau hancur. Bahu kananku mungkin ada yang bergeser. Dan yang lebih parah lagi, Aku masih hidup untuk merasakan sakit yang seperti ini..." Jawabnya dengan nada gurau menyikapi pertanyaan konyol Hinata tadi.

"M-.. Maaf..."

Ucap Hinata merasa bodoh karena menanyakan pertanyaan seperti itu. Sudah jelas bahwa kondisi Naruto benar-benar sangat buruk saat ini. Bisa dibilang, Kondisinya telah melewati batas kondisi manusia untuk tetap bertahan dan tetap hidup. Namun suatu keajaiban untuk Naruto yang nyawanya masih mau melekat padanya. Mungkin seluruh rasa sakit itu bagai anugrah baginya untuk masih tetap hidup.

Perlahan tapi pasti, Gerut mengerikan di sekitar pelipis mata kanannya seakan memudar dan menghilang. Seluruh lekuk wajah putihnya kembali normal seperti sedia kala.

Sejenak Naruto berusaha menegakkan tubuhnya dan melepaskan diri dari bantuan Hinata. Ia berbalik lalu memandang monster yang telah mati berlutut itu. Menatap setiap lekuk yang terbentuk ada padanya.

"Makhluk macam apa ini... Benar-benar mengerikan..." Gumamnya sendiri pelan. Namun bisa terdengar oleh seorang gadis yang sedang berada di sampingnya.

Naruto menarik sebatang linggis yang menancap dalam di kepala makhluk itu, Lalu berlalu meninggalkannya begitu saja. Berjalan bersama Hinata di sampingnya, Menuju ketempat di mana Anko dan Kiba berada.

"Maaf jika bukan sebuah Katana yang kuberikan." Ucap Naruto tersenyum lebar sembari menyodorkan linggis itu, Seakan telah tidak terjadi apa-apa. Anko yang berusaha berdiri dengan dibantu oleh Kiba hanya bisa tertegun lama.

'Pemuda ini...'

Sejenak lamunannya tertuju kearah wajah pemuda yang saat ini tengan tersenyum kepadanya dengan wajah yang begitu damai.

"Setidaknya ini bisa membantuku untuk berjalan, Iya kan...?". Jawab guru muda itu menanggapi gurau dari Naruto.

Ia menerimanya. Dan menggunakan itu sebagai sebuah tumpuan baginya untuk berjalan. Karena ada rasa sakit yang tiba-tiba saja muncul di sendi pergelangan kakinya. Mungkin akibat tergelincir jatuh setelah Naruto memisahkan dirinya dari tusukan cakar makhluk itu.

"Kurasa kita harus bergegas pergi dari tempat ini..."

Sasuke dan Sakura muncul kemudian. Sang Uchiha muda tersebut seperti mengingatkan mereka semua. Bahwa keributan yang telah terjadi di sini telah memancing perhatian mereka, Para mayat hidup itu.

Dan benar saja...

Ada banyak dari mereka yang satu per satu muncul dari liku-liku sudut jalanan Kota.

Naruto, Hinata, Anko dan Kiba mengedarkan pandangan mereka. Melihat bagaimana para Zombie-Zombie itu berjalan tertatih di sela mobil-mobil yang terhambur di tengah jalan. Dan belum lagi, Sesuatu mengejutkan mereka semua. Seakan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat dan temukan.

"Oei-oei... Yang benar saja..." Kata Kiba.

"Ada dua lagi seperti monster yang seperti itu..." Sahut Hinata kemudian.

Sepertinya mereka semua sedikit terkejut dengan apa yang mereka lihat. Di samping para mayat hidup yang telah muncul tersebar di jalanan, Kini tiba dua makhluk besar lagi yang seperti monster yang sebelumnya telah mereka kalahkan.

"Ini buruk..." Ungkap Anko setelah melihat dua makhluk mengerikan itu yang muncul di jalanan sana.

"Ayo. Kita pergi dari sini."

Sasuke segera memerintahkan mereka semua untuk cepat bergegas jika tidak ingin terkena masalah yang lebih dari ini lagi.

Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka. Menyusuri jalan-jalan sempit di malam Kota yang mengerikan ini. Memilih untuk segera bergegas, Dari pada harus berurusan dengan makhluk-makhluk mengerikan itu lagi. Karena berhadapan dengan satu makhluk itu saja sudah membuat tiga anggota tim mereka terluka parah. Rasanya tidak mungkin lagi jika harus berhadapan dengan dua sekaligus yang seperti itu.

.

.

.

.

.

.

.

"2 menit lagi kita akan memulai misi ini. Persiapkan diri kalian baik-baik. Keberhasilan adalah harga mati. Berikan yang terbaik dari kalian. Kita akan lalui malam ini dengan luka, Untuk umat manusia...!"

Suara penuh karisma mengalun keras di sudut-sudut markas kesatuan Anti Bio-Terrorist Unit. Dengan nada tegas berwibawa, Hashirama menginstruksikan seluru anggota yang ikut serta dalam misi kali ini untuk memberikan yang terbaik yang mereka bisa. Misi yang menentukan nasib manusia yang tersisa di Jepang. Dengan beban yang ia bawa di pundaknya, Menyerukan bahwa keberhasilan misi ini adalah hal yang mutlak dan berharga mati jika sampai pulang menggenggam kegagalan.

Bahkan tidak tanggung-tanggung, Hashirama mengerahkan seluruh personel yang ada di kesatuan unit ini. Hampir 200 orang bersenjata lengkap dengan jam terbang tinggi dan pelatihan ketat berbaris di tiap pecahan regu mereka masing-masing. Mengenakan suatu set pelindung dari suhu dingin yang ekstrem berwarna putih. Nampak seperti 200 lebih ilmuan ruang angkasa yang mengenakan baju astronot berbaris rapi di sana.

"Unit-B yang terpencar di segala Kota sekitar telah berhasil menggiring sebagian besar dari mereka ke lokasi yang telah ditentukan. Kurasa misi ini akan berjalan dengan lancar. Aku yakin kita akan berhasil."

Ucap seseorang dengan rambut kuning bermata biru yang berjalan melewati tempat Hashirama berdiri. Sambil memasukkan sebuah slot Magazen ke senjata genggam yang dipegangnya, Ia berlalu begitu saja. Namun sebuah tangan menepuk pundak dan menghentikan langkahnya. Sebuah tangan yang tidak lain adalah tangan milik Hashirama.

"Misi ini tidak akan berhasil. Kita tidak akan mencapai keberhasilan itu bila kau tidak duduk di kursimu... Minato."

Sahut Hashirama kemudian. Membuat seseorang itu sedikit terkejut dan menoleh kepadanya setelah mendengar kalimat itu.

"Apa yang kau maksud, Hashirama. Bukankah kita telah sepakat jika aku akan ikut serta dalam misi ini...?" Tanya Minato Namikaze dengan nada sedikit marah sekaligus bingung.

"Kau memang ikut serta dalam misi kali ini. Tapi bukan sebagai seorang prajurit yang terjun langsung kelapangan. Melainkan sebagai penuntun misi ini untuk mencapai keberhasilan mutlak." Jawab Hashirama tenang dengan nada serius sembari perlahan menarik sebuah pistol itu dari genggaman Minato.

"Jangan bercanda. Mungkin ini sedikit tidak sopan mengenai dengan segala yang telah terjadi. Tapi oleh karenamu, Anakku tengah berjuang di luar sana. Tanpa pelatihan, Dikelilingi oleh para mayat hidup yang kelaparan. Mana mungkin aku bisa tenang diam di tempat ini sementara putraku sedang menjalankan misi yang sangat berbahaya di sana..." Ungkap Minato mulai sedikit memanas.

"Aku tahu itu Minato. Aku sangat tahu akan hal itu. Tapi..."

"Minato... Apa kau tahu... Yang bahkan tanpa dirimu di sampingnya, Putramu bisa melalui hari bencana itu. Melalui banyak kengerian yang selama ini telah terjadi. Kenapa kau tidak bisa menaruh sedikit kepercayaan kepada dirinya...?"

"Dan lagi, Apa sekarang kau tidak percaya lagi kepada dua tangan kananmu? Apa kau tidak mempercayai Kakashi dan Itachi...? Dari balik bayangan, Merekalah yang terbaik yang pernah kau miliki bahkan sampai saat ini bukan...? Lalu mengapa kini kau mulai meragukan mereka...?"

Pertanyaan mulai Hashirama layangkan bertubi-tubi kearah Minato. Ini adalah langkah yang tepat bagi Hashirama untuk membangun kembali pribadi Minato yang telah hilang setelah meninggalkan posisinya sebagai ketua Divisi-3. Kepribadian yang selalu mempercayai kapabilitas para bawahannya dalam melakukan tiap bagian misi mereka.

Hashirama mengerti benar, Bahwa saat ini, Minato hanya terlalu cemas kepada putranya. Terlalu berlebihan mengkhawatirkan anaknya yang dengan perintah Hashirama berikan, Jadi ikut terlibat dalam misi-misi yang berbahaya tanpa menggenggam pengalaman. Itulah, Yang saat ini Hashirama lihat dalam sirat mata Minato.

"Hashirama dengar... Aku... Tidak bisa... Tidak bisa hanya berdiam di sini tanpa melakukan apapun. Aku mempercayai mereka berdua. Kakashi dan Itachi. Aku mempercayai mereka tapi..."

"Siapa yang bilang kau akan diam saja di sini...? Justru karena kau di sini, Tugasmu lah yang paling berat di antar kita semua yang ada di sini. Lebih dan jauh lebih berat dari beban yang harus kubawa."

"Minato... Apa kau tahu siapa kunci keberhasilan misi ini..."

Minato terdiam mendengar pertanyaan yang lagi-lagi Hashirama lemparkan kepadanya.

"Kau. Kau lah orangnya. Kau lah yang akan menjadi kunci keberhasilan kami. Kau lah orang yang pantas menggantikan Mito. Kau lah yang akan memberi setiap lekuk perintah kepada kami. Kau akan menjadi penuntun untuk kami. Menuju keselamatan... Atau menuju akhir bagi kami dan seluruh penduduk Jepang."

"Aku akan menjadi perantaramu di lapangan. Sementara kau di sini memimpin seluruh jalannya misi ini. Sekaligus juga membawa seluruh nyawa personel termasuk diriku, Dalam tiap perintah yang kau berikan. Tanggung jawabmu lah yang paling besar. Yang paling berat dalam sejarah kesatuan divisi Anti Bio-Terrorist Unit ini. Nyawa kami ada dalam tanganmu di mana itu akan tertuju nanti, Minato."

". . . . . ."

Dia hanya terdiam...

Minato hanya terpaku diam mendengar tiap susun kalimat yang Hashirama ucapkan. Kini ia mengerti. Sekarang Minato telah mengerti. Alasan mengapa Hashirama kembali membawanya ke tempat ini. Setelah istri Hashirama, Mito Uzumaki, Terbunuh dan mati di tangan Obito Uchiha, Hanya dirinya satu-satunya orang yang mampu menggenggam kendali penuh dalam tiap misi seperti yang Mito lakukan.

Hashirama benar-benar mengakui siapa seorang Minato Namikaze yang sebelumnya. Hashirama mengakui betapa hebat Minato dalam menyusun tiap lika-liku rencana dan taktik dalam segala misi paling mustahil sekalipun. Seseorang yang pernah menggagalkan ratusan kali rencana pria bernama Obito Uchiha dalam usaha penyerangan tersembunyi di dalam bayangan Jepang. Seseorang yang Hashirama akui kepintarannya dan ketanggapannya dalam menyelesaikan rumitnya masalah. Yang bahkan jika bisa jujur, Hashirama pernah menaruh rasa hormat kepada sosok Minato Namikaze yang dahulu.

"Bukan hanya putramu saja yang ada di luar sana bersama dengan para mayat-mayat hidup itu, Minato. Putriku pun juga. Kenapa aku memberikannya misi itu... Karena aku percaya kepada putramu. Aku sepenuhnya percaya kepada seorang pemuda yang bernama Naruto Namikaze."

"Saat ini... Aku percaya kepada Naruto. Percaya bahwa dia bisa temukan putriku. Dia pasti bisa selelasikan tugasnya, Dan membawa Sona kembali. Percayalah padanya! Dia pasti akan kembali ke markas ini dengan selamat. Itu pasti."

Hashirama lalu menyodorkan sebuah Earphone kepada Minato. Menunggu pria yang sama tingginya itu menerimanya.

". . . . . . . ."

Tidak ada sepatah katapun yang lagi keluar dari mulut Minato. Seolah itu telah terkunci dengan sendirinya saat Hashirama mengatakan semua itu. Minato hanya bisa melebarkan tatapannya, Dan menyadari betapa bodohnya ia saat ini. Jika Hashirama telah sepenuhnya mempercayai apa yang bisa Naruto lakukan... Mengapa dirinya yang sebagai seorang Ayahnya tidak bisa...

Sejenak Minato memejamkan kedua kelopak matanya. Menyadari satu poin yang hilang di dalam dirinya. Yaitu arti dari kepercayaan.

'Lihat betapa bodohnya aku yang sekarang... Kushina. Maaf telah meragukan anak kita.' Gumamnya dalam lubuk hati, Sembari tersenyum sendiri pada dirinya yang bodoh.

Tidak lama mata itu terbuka. Memperlihatkan dua manik biru yang terang dan hangat. Tatapan yang jelas berbeda dari sesaat yang lalu. Kini auranya seorang Minato Namikaze telah kembali. Seseorang yang akan menjadi legenda di antara para pemimpin Divisi-3 terdahulu.

"...Ayo kita lakukan bersama."

Ucap Minato tanpa ada lagi gundah dan keraguan dalam hatinya. Sambil meraih Earphone yang Hashirama sodorkan padanya, Ia berjalan bertolak arah dengan Hashirama dan memasang Earphone tersebut ketelinganya.

Di sisi lain, Hashirama mulai melangkah meninggalkan di mana tempatnya berdiri dan berargumen tadi sembari memasang juga sebuah Earphone yang sama ketelinganya. Berjalan menuju helikopter yang telah menanti kedatangannya.

"Minato, Kau bisa mendengar suaraku...?" Tanya Hashirama ketika satu jarinya menekan sebuah tombol kecil di sana.

Di lorong markas ini, Minato melangkah dan berjalan menuju kearah ruang monitor sekaligus pusat kontrol dari segala tinjau misi yang tengah berjalan. Siku tangan kanannya terangkat. Jari itu juga menekan satu tombol kecil di Earphone miliknya.

"...Tentu saja. Suaramu sangat jelas terdengar di sini. Jadi tolong jangan coba sekali-kali berteriak saat kita tersambung nanti." Jawabnya.

Hashirama melepas tombol kecil itu dan kembali menggenggam Sub-Machine Gun P90 miliknya sambil tersenyum.

"Ayo berangkat."

Ucapnya singkat memberi perintah. Kali ini dia lah yang menang dari argumen tadi. Ia telah bisa membuat siapa jati diri seorang Minato Namikaze yang sebenarnya akhirnya kembali. Kakinya menggapai sisi lantai helikopter itu, Dan duduk bersama satu regu personelnya.

"Berangkat!"

Seru CO-Pilot helikopter yang telah melihat kapten mereka duduk naik di sana. Landasan luas markas besar ini ramai bising oleh suara belasan helikopter yang siap lepas landas. Angin menghembus kencang akibat sapuan baling-balingnya. Belasan helikopter yang mengangkut tiap regu personel tersebut mulai terangkat bersamaan. Terbang membawa pasukan yang akan menanggung sebuah misi besar. Sedangkan sisanya menggunakan kendaraan baja menuju ke lokasi misi melalui darat. Menjadi pasukan artileri yang akan mendukung jalannya misi kali ini.

Sebuah pintu terbuka. Menampakkan ruang besar dipenuhu berbagai macam monitor dan alat komunikasi jarak jauh bersama dengan tiap-tiap orang yang mengambil bagian tugas sendiri-sendiri. Ketika ia mulai menginjakkan kaki memasuki ruangan itu dan berjalan menuju kursi yang pernah ia tinggalkan dulu, Semua orang yang ada di dalam sana langsung terkejut hingga berdiri dari tempat duduknya masing-masing. Apa yang mereka lihat benar-benar bukanlah seseorang yang asing lagi bagi mereka. Namun ada sedikit rasa tidak percaya akibat keterkejutan mereka ketika dirinya berjalan melangkah masuk.

"I-Itu..."

"Hei... Bukankah itu-"

"Apa mataku tidak salah melihat-"

Bisik-bisik tidak percaya seketika pecah saat melihatnya. Suara ketuk sepatu itu beradu dengan kerasnya lantai. Mengiringi langkahnya menuju ke kursi yang dulu pernah menjadi miliknya.

"Untuk beberapa alasan, Akhirnya aku memilih untuk kembali. Jadi mari kita bekerja bersama lagi. Mohon kerja samanya." Ucap Minato kepada mereka semua sejenak.

"Siap...!"

Jawab mereka serentak secara bersama-sama. Wajah mereka terlihat begitu antusias menyambut kembalinya seorang Minato Namikaze di Divisi-3 ini. Benar-benar suatu keajaiban. Dan Minato pun tidak lagi asing dengan wajah-wajah mereka. Karena seluruh Staff yang saat ini ada di ruangan ini, Tidak lain adalah bawahannya saat dulu masih aktif bertugas.

Minato duduk di tengah-tengah mereka yang kembali bertugas. Duduk tepat di bekas kursinya dulu. Sebentar mengamati beberapa layar monitor besar yang ada terpampang tak jauh dari tempatnya. Lalu ada transmisi sambungan yang masuk ke saluran radio ruangan ini. Minato menekan tombol Enter pada keyboard di depannya.

"Di sini Brigadir Jendral kapal induk angkatan laut Beta-12, Fukushima Tamao, Untuk melapor. Kami telah siap melepas landaskan seluruh Jet yang masuk dalam misi kali ini. Kami hanya tinggal menunggu ijin dan perintah dari Divisi-3."

Speaker di ruangan tersebut memproyeksikan suara yang ada dalam transmisi radio yang Minato terima. Seluruh Staff yang ada di dalam sana dapat turut serta mendengarnya dengan sangat jelas. Terkhususkan untuk sang ketua Divisi ini sendiri.

"Laporan dan permintaan telah diterima. Ijin kuberikan. Sepenuhnya kendali kuserahkan kepada kalian." Jawab Minato kemudian.

Tapi setelahnya hanya sunyi. Sesaat tidak ada tanggapan yang terdengar.

"...Suara ini. Jangan-jangan..."

Yang di sana terlihat seperti agak terkejut mendengar dengung suara seorang Minato Namikaze.

"Maaf karena aku muncul secara tiba-tiba di saat seperti ini." Ucap Minato.

"Heh... Kenapa lama sekali kau kembali. Sudah lama orang-orang menantikan sosokmu itu dalam Divisi-3." Jawab yang di sana sedikit tertawa kecil.

"Maaf untuk yang sebelumnya. Tapi aku sendiri pun masih tidak percaya bisa kembali duduk di kursi ini setelah sekian lama. Begitu banyak pilihan dan hal-hal yang harus ku pilih dan perjuangkan. Jadi... Ayo kita lakukan yang terbaik dalam misi kali ini."

"Kau bisa mengandalkan kami seperti dulu, Kaicou-san. Akan kami berikan yang terbaik untuk menyambutmu yang telah kembali. Keberhasilan akan ada di tangan kita bila ada seseorang yang seperti dirimu." Jawab atasan angkatan laut Jepang di sana.

"Itu terlalu berlebihan. Aku sepenuhnya percaya kepada kalian. Kita berikan yang terbaik untuk misi ini."

Minato mengakhiri percakapan mereka berdua dan menutup sambungan transmisi radio jarak jauh tersebut.

"Sambungkan aku dengan regu Hashirama." Katanya memberikan perintah.

"Segera, Minato-Taichou!" Tangkap salah seorang Staff yang bertugas.

"Telah tersambungkan." Katanya lagi setelah beberapa detik memulai menyambung jalur komunikasi yang dituju.

"Satu menit dari sekarang, Pihak angkatan laut Beta-12 akan meluncurkan semua pesawatnya. Persiapkan diri kalian, Regu-Hashirama."

"Diterima. Untuk seluruh Unit! Dengar! 7 menit dari sekarang kita akan segera tiba di lokasi! Periksa sekali lagi seluruh perlengkapan kalian! Kita akan tampil habis-habisan kali ini." Ucap Hashirama dari Earphone miliknya yang langsung mengingatkan seluruh anak buahnya kembali setelah menerima informasi dari Minato.

"Hei..." Panggil Hashirama pelan, Dan menggantinya ke mode pribadi. Yang hanya bisa terdengar hanya oleh mereka berdua saja melalui Earphone milik mereka masing-masing.

". . . . ."

"...Bocah itu pasti berhasil." Katanya singkat kepada Minato.

". . . . . . ." Minato terdiam mendengarnya. Dan tentu saja ia tahu siapa yang Hashirama sedang maksudkan.

"Itu pasti... Putraku pasti berhasil." Balas Minato sesaat kemudian dengan satu senyuman kecil.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tidak banyak bintang yang berkumpul. Hanya sinar bulan yang masih setia menerangi Kota yang telah tersapu badai kengerian ini. Namun tidak membuat para remaja yang melangkahkan tiap langkahnya berhenti untuk mencapai tujuan mereka. Tidak sebelum mereka menemukan siapa yang mereka cari.

Pemuda berambut kuning yang berada di tengah-tengah mereka masih diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Masih terkunci pada sesuatu apa yang tengah dipikirkannya.

Sasuke melirik luka yang masih terbuka di lengan guru mereka. Meliriknya untuk beberapa saat. Sebelum tatapannya beralih kepada pemuda berambut rancung itu.

"...Naruto-"

"Aku tahu..." Jawab pemuda itu tiba-tiba. Menghentikan apa yang ingin Sasuke katakan kepadanya.

"...Aku tahu itu. Jadi diamlah... Sasuke."

Ucap Naruto lagi setelahnya. Seolah tahu apa yang akan Sasuke maksud dan bicarakan. Pemuda itu hanya... Frustasi. Ada satu tekanan mental di relung hatinya. Menyadari bahwa, Akan ada lagi seseorang yang berharga baginya, Yang akan meninggalkan mereka. Naruto tahu benar akan hal tersebut.

Di sisi lain... Anko masih diam berjalan menggunakan linggis yang ia bawa. Benda itu memberikan sedikit pertolongan baginya. Tapi tetap saja, Perasaan di dalam hatinya masih lah rancu. Mengingat kejadian beberapa saat yang lalu, Ia sedikit tidak menerima kenyataan bahwa ia masih hidup dan masih ada bersama-sama dengan mereka.

Jika boleh untuk memilih... Dirinya lebih senang mati saat itu. Ia ingin menyatakannya. Ia ingin mengutarakannya. Ia ingin mengungkapkannya. Bahwa ia akan lebih senang jika hidupnya berakhir saat itu juga, Dari pada harus berjalan di tengah-tengah mereka dengan luka ini. Karena Anko sadar apa yang akan terjadi pada dirinya nanti. Entah sampai kapan ia akan bertahan. Entah sampai kapan ia mampu bertahan. Untuk tetap menjadi dirinya sendiri. Untuk tetap mempertahankan sosok Anko Mittarashi seperti sebelumnya di hadapan mereka. Jika ia hanya akan berakhir dengan membahayakan nyawa-nyawa murid yang ia cinta... Sungguh ia tak akan sanggug memaafkan dirinya sendiri. Tidak akan pernah bisa walau bahkan ia sampai ke dasar Neraka sekalipun.

Namun meski begitu... Anko tidak mampu mengungkapkan apa yang ia ingin utarakan kepada mereka. Terlebih kepada Naruto. Mengungkapkan bahwa lebih baik ia mati saat itu juga dari pada hidup dengan luka seperti ini kepada seseorang yang telah menyelamatkannya, Dan bahkan mau menempatkan dirinya sendiri dalam bahaya untuk berhadapan dengan monster mengerikan itu... Adalah hal yang paling buruk dan kejam yang pernah Anko ketahui sepanjang hidupnya.

Anko menutup mata. Mungkin hanya di malam ini, Dirinya bisa bersama dengan Sasuke, Sakura, Kiba dan Hinata untuk yang terakhir kalinya. Termasuk dengan Naruto. Pemuda yang telah menjadi seseorang yang memiliki begitu banyak arti dalam hidupnya. Seorang murid yang berisik yang harus selalu ia hukum. Seorang adik laki-laki yang harus ia lindungi dari rasa kesendirian. Dan masih banyak lagi arti seseorang yang bernama Naruto Namikaze itu dalam hidupnya.

'Dunia yang baru ini benar-benar kejam...' Ungkapnya sendiri dalam hati sembari tersenyum pahit.

Akan tetapi sesaat kemudian, Kiba berbisik setelah melihat sesuatu di ujung jalan sana.

"Tunggu...!"

". . . .?!"

Mereka semua menghentikan langkah setelah mendengar bisik seruan Kiba. Dan dengan itu, Sasuke, Sakura, Anko, Hinata, Termasuk Naruto, Menyadari apa yang membuat Kiba memberi kode untuk berhenti.

"Sepertinya kesialan selalu mengikuti kita hari ini." Kata Sasuke pelan.

"A-Apa kita harus mencari jalan lain...?" Hinata bertanya kepada mereka.

"Tapi ini adalah rute jalan yang paling cepat untuk menuju ke tempat di mana kita terpisah dengan Sona bukan...?" Jawab Sakura setelahnya.

"Hanya sedikit. Serahkan padaku. Akan kuurus mereka."

Tiba-tiba Naruto maju mendahului teman-temannya sembari mengeluarkan Glock-17 miliknya. Dan seperti akan melakukan sesuatu sendirian dengan sejumlah mayat-mayat hidup yang terlihat di depan sana.

Tapi tiba-tiba tangan Sasuke sigap menarik lengan kiri Naruto. Cengkramannya telah membuat pemuda berambut kuning tersebut tidak bisa melangkah lebih jauh lagi.

"Jangan bertidak ceroboh lagi... Naruto." Kata Sasuke berusaha mengingatkannya.

Naruto yang berhenti di tengah jalannya menuju kearah para Zombie tersebut hanya diam tanpa memperlihatkan mukanya di depan mereka. Tetap tertunduk dalam bayang-bayang bias tiap helai rambutnya.

'Sadarlah bahwa kau telah terjebak dalam emosi sesaatmu saja... Naruto. Keluarlah dari sana. Jangan biarkan dirimu termakan oleh amarah itu. Kita mungkin akan kehilangan Anko. Tapi kau akan kehilangan lebih banyak temanmu jika bertindak tanpa kepala dingin...'

Seru Sasuke bicara sendiri di dalam hati. Seakan hanya dirinya yang menyadari perubahan sikap sahabatnya itu. Dan mungkin hanya Sasuke seorang yang menyadari bahwa Naruto telah tenggelam oleh amarah dan rasa kesal pada Dunia yang mengerikan ini. Sasuke tahu bahwa apa yang akan dilakukan Naruto semata hanya untuk melampiaskan rasa kesal dan sesalnya karena telah membiarkan Anko-sensei terluka.

Entah apa yang Sasuke lakukan ini akan menyadarkan Naruto pada hal itu atau tidak. Akan tetapi... Tiba-tiba tong sampah di pinggir jalan tepat di belakang mereka tertendang oleh sesuatu. Menimbulkan bunyi nyaring yang memenuhi gang ini. Membuat Sasuke, Sakura, Anko, Kiba dan Hinata menolehkan kepala mereka untuk melihat kebelakang. Ternyata beberapa Zombie kelaparan yang ada di belakang telah menyadari keberadaan mereka semua.

'Kuso! Ini benar-benar gawat!' Seru Kiba dalam hati melihat dua Zombie yang berlari mendekat.

"Sepertinya sudah terlambat ya kan... Sasuke."

Suara Naruto terdengar kemudian. Sasuke mengalihkan tatapannya kearah sahabatnya itu. Namun apa yang ia dapati, Hanyalah senyum picing dari Naruto. Kedua mata Sasuke seolah terbelalak. Mendengar kalimat yang Naruto ucapkan tadi. Seperti sebuah jawaban 'Sudah terlambat untuk mencegahku melampiaskan rasa kesal ini.'

'Apa dia mengetahui apa yang kupikirkan...?!' Kejut Sasuke dalam hatinya.

Tiba-tiba bahu kiri Sasuke di cengkram oleh Naruto saat pemuda berambut kuning itu berbalik. Lalu sedetik kemudian Naruto membidikkan ujung Glock-17 miliknya itu tepat kearah para Zombie di sana. Bahu kiri Sasuke dibuatnya sebagai alat bantu untuk mempermudah bidikannya.

DAARRR...!

Satu tembakkan terlepas, Tepat di samping telinga kiri Sasuke. Peluru itu berputar pada porosnya dan melesat menembus kecepatan suara saat ujung jari Naruto menarik pelatuknya.

CRAATTHHSS...

Salah satu dari kedua Zombie yang berlari menghampiri mereka tersungkur di tanah akibat kepala yang tertembus oleh peluru Naruto. Gagak-gagak hitam yang bertengger di antara kabel listrik terbang berhamburan sesaat ketika tembakkan itu dilepaskan. Begitu juga sejumlah Zombie yang ada di depan ujung jalan sana. Langsung berlari menuju kearah Sasuke dan yang lain setelah tertarik oleh bunyi letusan Glock-17 itu.

"Cih...!"

Sasuke berdengus. Tidak ada pilihan lain lagi. Segera ia acungkan Sniper miliknya tertuju kearah depan sana dan mulau membidik salah satu di antara kerumunan yang berlari mendekat itu.

jenDAARRR...!

Bunyi nyaring menggelegar terdengar begitu bising ketika Sasuke telah menarik tuas pelatuk senjatanya. Satu mayat hidup kelaparan tumbang dengan tengkorak yang berlubang saat peluru milik Sasuke menghujam kepalanya.

"Hinata, Tetap dekat denganku!" Ucap Sakura sedikit panih oleh keadan ini. Gadis berambut merah jambu tersebut menarik tangan Hinata untuk tetap dengan dirinya. Tidak ada jalan keluar. Mereka terperangkap di tengah-tengah gang panjang.

"Kenapa hal seperti ini terus dan terus saja terjadi...?!" Ucap Kiba frustasi dengan keadaan yang selalu saja memojokkan mereka semua. Dan selalu dipaksa bertarung dengan kematian.

Naruto menekan sebuah tombol kecil di dekat pelatuk Glock-17 itu menggunakan jempolnya. Pengunci terbuka. Dan slot Magazen yang telah kosong itupun meluncur bebas jatuh kebawah. Peluru Naruto telah habis digunakan setelah melawan monster mengerikan beberapa saat yang lalu.

"Aku urus yang di belakang. Kuserahkan yang di depan padamu, Sasuke."

Kata Naruto kepada sahabatnya, Dan mulai melangkah maju menuju kebelakang melewati Sakura, Hinata, Anko dan Kiba berada. Tangan kiri Naruto memasukkan sebuah slot Magazen yang baru ke senjata yang digenggamnya. Akan tetapi seorang pria sudah mau menyerangnya dari depan. Naruto hanya menghindari terjangannya ke samping. Lalu dengan mudah langsung menodongkan ujung Glock-17 itu tepat ke belakang kepala sang pria.

DARRR...

Jarinya menarik pelatuk. Dan saat itu juga Zombie yang tadi menyerangnya terjatuh ke tanah dengan berlumuran darah di kepala. Direksi mata Naruto berpaling ke depan. Melihat beberapa mayat hidup ganas yang berlari ke arahnya. Lagi-lagi ia mengangkat siku tangannya dan membidik setiap mereka yang datang.

DAARR!

Naruto melepaskan tembakannya yang kedua. Salah satu dari mereka langsung terjerembab ke tanah. Tetapi masih ada beberapa yang masih berlari menuju ke arahnya. Naruto memandang mereka semua dengan tatapan muak.

'Mati-... Mati, Mati, Mati, Mati, Matilah kalian semua...!' Jerit Naruto dengan kesal tak tertahankan di hatinya.

DAARR- DAARR- DAARRR- DAARRR!

Selongsong kosong terus berhamburan keluar dari samping Frame Glock-17 itu. Tiada ampun Naruto terus-menerus menembaki mereka semua tanpa kata ampun. Menghabisi setiap mereka yang coba berlari mendekat.

Di sisi Sasuke, Nampak sang Uchiha muda sedikit kewalahan menghadapi mereka yang datang dari depan jalanan gang sana. Senjatanya tidak bisa ia gunakan secara Burst-Shot seperti Glock-17 milik Naruto. Belum lagi jumlah peluru yang bisa tertampung di slot Magazen Snipernya hanya memuat 5 butir selongsong aktif saja. Berbeda dengan milik Naruto yang total keseluruhannya menampung 17 peluru yang siap ditembakkan kapan saja.

Ini sedikit mengesalkan. Namun Sasuke tetap melakukan apa yang ia bisa. Membidik menggunakan Scope senjatanya tepat di kepala-kepala mereka. Lalu menarik pelatuk dan mengokangnya kembali. Akan tetapi tetap saja pemuda tersebut kewalahan menghadapi jumlah mereka yang terlalu banyak.

"Cci-Kuso!"

BRUAAGGHH-...

Sasuke memukulkan pangkal senjatanya di saat salah satu dari mereka sudah berada tepat di hadapannya. Tidak memberikan pemuda tersebut untuk celah waktu untuk menarik pelatuknya.

Beberapa dari mereka telah berhasil melewati Sasuke dan langsung menuju ke arah Sakura dan Hinata. Sontak kedua gadis itu sedikit panik karena dalam keadaan yang tidak siap memegang satupun sesuatu yang dapat dijadikan sebuah senjata. Salah satu mayat hidup yang berlari ke arahnya akan menerjang Sakura. Kedua tangannya hampir meraih dan mencengkram tubuh Sakura.

CRAATTSSS...

Tiba-tiba sebuah serangan datang dari arah samping. Ujung dari sebuah linggis menghujam tepat di kepala Zombie itu itu. Menembusnya hingga darah bermuncratan keluar. Anko berhasil menghentikan Zombie itu sesaat sebelum dia berhasil menggigit Sakura. Namun Anko kehilangan keseimbangan tubuhnya dan membuatnya tersungkur ke bawah.

"Sensei..!"

Kiba segera membantu Anko yang telah pucat kehilangan banyak sekali darah. Di sisi lain, Sasuke tidak bisa lagi menghadang mereka. Membuat beberapa Zombie dengan mudah berlari ke arah Sakura dan Hinata lagi.

DAARR-DAARRR-DAAARR...!

Beberapa tembakkan terlepas dari arah belakang. Yang tidak lain berasal dari senjata genggam milik Naruto. Satu per satu Zombie yang akan menyerang teman-temannya itu tumbang ke tanah. Naruto berhasil menghentikan sebagian dari mereka. Tetapi bagai seperti sebuah petir yang tiba-tiba menyambarnya, Naruto berlutut kesakitan memegangi bekas luka di sisi perutnya. Rasa sakit itu ternyata muncul lagi. Dan sakitnya sungguh benar-benar sangat menghujam.

"N-Naruto-kun!"

Hinata segera berlari menghampiri Naruto yang berlutut menahan sakit lukanya. Sedangkan di tiap detiknya mereka semakin terkepung di tengah-tengah gang ini. Naruto tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Yang bisa ia lihat hanya sekumpulan Zombie ganas yang terus bermunculan dan mendekat.

Dan bahkan Sakura sampai tidak bisa berkutik ketika ada dua mayat hidup lagi yang datang ke arahnya. Belum sempat dirinya untuk berpikir apa yang harus ia lakukan, Mereka sudah tepat berada di hadapannya.

". . . .. .!"

Drep-Drep-Drep-Drep...

Suara sepatu keras menapak dan berlari di antara tembok-tembok pagar rumah di sekitar sana. Seseorang tiba-tiba muncul dan melompat mengarahkan sepatunya yang keras itu ke arah kepala Zombie yang akan menerjang Sakura.

BRUUAAKKKHH..!

Kepala Zombie tersebut tertendang hingga menabrak dinding dengan sangan keras dan seketika meremukkan seluruh tengkorak miliknya. Sakura, Kiba, Anko, Hinata dan termasuk Sasuke sangat-sangat terkejut dengan siapa seseorang yang tiba-tiba muncul tersebut.

Naruto yang masih terlutut di tanah di temani Hinata hanya memasang wajah dengan senyuman picing. Seperti dirinya sudah tahu jika orang itu akan datang.

.

.

"Seperti biasa. Kau selalu saja terlambat... Sensei."

.

.

.

"Believe"

The Place Of Hope

Chapter 8 : "percaya"

Genre : Adventure, Horror & Gore

Caution! Contains violance & profanity (17th +)

.

.

To Be Continue...