.
.
"Race Against Time!"
The Place Of Hope
Chapter 10 : "Berpacu Melawan Waktu!"
Genre : Adventure, Horror & Gore
Main Cast : Naruto U., Sakura H., Sasuke U.
Caution! Contains violance & profanity (17th +)
.
.
.
.
Tap-Tap-Tap-Tap-Tap...
Derap suara langkah kaki yang beriringan terdengar menggema di lorong-lorong sebuah bangunan. Dapat terlihat pintu-pintu mewah berjajar di sepanjang lorong yang mereka lalui. Kakashi memimpin laju pelarian mereka dari dua monster mengerikan di belakang. Belum lagi para sekumpulan Zombie yang ikut mengejar. Bagi Kakashi, Sasuke, Dan juga Naruto, Melawan mereka sekaligus adalah rencana yang buruk. Terlebih keadaan masing-masing dari timnya juga tidak memungkinkan. Satu-satunya jalan adalah mencari tempat persembunyian yang aman terlebih dahulu. Lalu dengan kepala dingin menyusun dan memutuskan rencana seperti apa yang akan mereka ambil selanjutnya.
"Cepat-cepat-cepat...!" Seru Kiba yang tengah menggandeng tangan Hinata.
Belokan terlihat di depan sana. Belokan yang mengarahkan tim kecil ini ke susunan tangga untuk ke lantai selanjutnya. Kakashi yang tiba terlebih dahulu langsung memasang bidikan siaga mengarah ke atas sana. Untuk memastikan aman tidaknya rute yang akan mereka gunakan.
"Clear..." Ucap Kakashi singkat setelah memastikan keadaan.
Naruto berlari melewati Kakashi dengan menggendong Anko di belakang punggungnya. Mendengar Kakashi yang telah memastikan keamanan rute itu, Naruto langsung bergegas menaiki tiap anak tangga tanpa keraguan berarti.
Kiba menyusul Naruto dari belakang dengan menggandeng tangan Hinata. Seperti apa yang telah Naruto percayakan pada Kiba untuk sekali lagi menjaga Hinata untuk dirinya. Kiba akan lakukan apapun demi melindungi gadis cantik ini. Apapun... Tanpa terkecuali...
Kakashi lekas segera menaiki anak tangga yang ada di depannya setelah melihat Sasuke dan Sakura juga akan menyusul dari belakang. Tangannya senantiasa menggenggam Glock-17 milik Naruto yang dipinjamkan sementara kepadanya.
Sedangkan kini, Sasuke dan Sakura berada di urutan paling belakang. Dengan kondisi Sasuke yang sekarang, Mereka berdua berusaha untuk terus mengikuti langkah-langkah cepat Kakashi dan yang lainnya.
Tangan kirinya membawa senapan Arctic Warfare Magnum bertipe Sniper Bolt-Action, Senjata yang diperuntukkan khusus jarak jauh. Sedangkan tangan kanannya setia menggandeng tangan Sakura. Berdua mereka berlari mendekati belokan itu. Namun entah karena panik atau memang kondisi Sasuke yang sekarang tidak memungkinkan untuk bergerak cepat, Sang Uchiha muda terpeleset sebelum sempat berbelok menaiki tangga.
"...?!" Sakura cukup terkejut.
Seorang pria tak dikenal yang tengah mengejar mereka tiba-tiba datang menerjang Sakura.
BUUAAGGHH...!
Menggunakan ujung pangkal senjatanya, Sasuke memukul kepala Zombie itu setelah bersusah payah bangkit dari jatuhnya. Pria tak dikenal itu pun terpelanting menabrak sudut tikungan dinding bangunan ini. Dengan kepala terantuk terlebih dulu, Akhirnya mati meninggalkan bekas darah di dinding. Direksi mata Sasuke teralih ke arah beberapa Zombie yang berlari mendekat dari lorong yang baru mereka lalui.
"Graahhhkkk..!"
Seorang pria berlumuran darah yang lain menerjang Sasuke. Beruntung Sasuke masih sigap menggunakan senjata laras panjang itu sebagai tameng untuk menjauhkan gigitan pria tersebut. Namun sayangnya, Kondisi Sasuke yang kini lemah sehabis terkena lemparan sepotong pintu mobil dari sebuah makhluk besar yang mengerikan, Membuat kuda-kuda kakinya tak mampu menahan terjangan pria ganas tersebut. Sasuke terhempas membentur dinding di belakangnya, Bersamaan dengan masih menahan tubuh pria itu.
"Sasuke-kun...!"
"Lari...!" Seru sang Uchiha muda mulai panik ketika banyak dari mereka yang berdatangan.
"Tidak, Aku akan-"
"Kubilang lari Sakura! Cepat pergi dari sini...!"
Sasuke membentak kekasihnya tersebut dengan sangat keras. Mungkin kini dirinyalah yang sedang dalam kondisi terdesak. Namun itu lebih baik dari pada menyeret nyawa Sakura ikut bersamanya.
Empat Zombie muncul di hadapan Sakura yang sudah berada di anak tangga kelima. Kedua iris mata hijaunya terbelalak melihat mereka yang datang mulai menaiki tangga dan berusaha mengejar dirinya. Sedangkan beban Sasuke bertambah saat satu-dua lagi mayat hidup mencoba menyerangnya.
"Sasuke-"
"Jangan pedulikan aku, Cepat lari...!"
Sakura mundur selangkah demi selangkah ke atas tangga menghindari cengkraman tangan-tangan mereka yang mencoba mendapatkan dirinya. Kedua iris hijau indah itu mulai basah berkaca-kaca setelah dirinya tak bisa lagi melihat sosok kekasihnya di bawah sana akibat tangga ini mulai dipenuhi oleh para Zombie kelaparan yang datang.
Drep-Drep-Drep-Drep...
Langkah sepatu milik Naruto menggema di lorong bangunan hotel mewah lantai kedua ini. Nafasnya tersenggal akibat berlarian membawa beban tubuh Anko di belakang punggungnya. Kakashi menyusul tepat di belakang Naruto. Sedangkan Kiba yang bersama Hinata berada tidak jauh di belakang Kakashi.
Mata biru milik Naruto melihat belokan yang menuju ke anak tangga selanjutnya. Lekas segera ia menuju ke sana secepat mungkin. Namun ketika dirinya yang tengah menggendong Anko akan berbelok ke sana, Belasan mayat hidup muncul menuruni tangga menuju ke arahnya.
"Kuso-..." Umpat Naruto mencoba mengerem langkah kakinya yang terlanjur melaju ke arah sana.
DARR-DAARRR...
Kakashi menembak mereka yang mencoba menyerang Naruto. Dua di antara mereka pun terjatuh bersimbah darah ke lantai. Namun masih banyak lagi yang berlari menuruni tangga menuju ke arah Naruto dan yang lain.
"Cari jalan yang lain. Ayo cepat...!" Kata Kakashi memberi arahan kepada Naruto, Kiba dan Hinata.
Kelima orang ini pun beralih ke arah lain dan berlari kembali mencari jalan memutar untuk ke lantai yang berikutnya. Dengan banyaknya mayat hidup yang mengejar di belakang, Mereka terus berlari menyusuri lorong-lorong panjang penuh pintu berjajar bangunan ini. Akan tetapi, Hinata menyadari sesuatu. Gadis itu merasa ada sesuatu yang salah di sini.
"Tu-Tunggu...!" Ucapnya ragu-ragu kepada mereka.
". . . .?"
Kiba, Kakashi, Dan Naruto sejenak berhenti memasang wajah bertanya ke arah Hinata. Tak terkecuali Anko yang masih Naruto gendong du belakang punggungnya. Seolah gadis itu ingin mengatakan sesuatu. Setelahnya, Hinata menoleh untuk melihat ke belakang.
"A-Ano... Sasuke dan Sakura... Di mana mereka...?"
Bagai tersambar sesuatu... Kiba, Kakashi, Dan khususnya Naruto, Hanya diam termangu setelah mendengar pertanyaan kecil Hinata. Dan selanjutnya, Mereka bertiga hanya menatap wajah satu sama lain.
.
.
.
.
.
Bunyi-bunyi suara rentetan tembakan senjata mengalun di tengah-tengah Kota. Berpacu dengan hembusan angin dan tekanan suhu udara yang pekat. Percikan-percikan cahaya berkerlip di bawah langit malam Konoha ketika pelatuk senjata mereka ditekan. Bukan hanya bertarung dengan suhu bertitik beku dan menahan tusukan dingin menggigil, Pasukan Hashirama pun juga harus melawan para Zombie ganas yang mengerubungi mereka bagai ribuan semut yang mengerubungi gula.
"Semuanya tetap fokus! Jangan biarkan dingin mengganggu kalian!". Teriak Hashirama kepada para personel yang saat ini ada bersamanya.
Kembali membidik ke arah kepala-kepala mereka yang mencoba memanjat tembok mobil polisi, Jari telunjuk Hashirama mulai menarik tuas pelatuk senjatanya. Rentetan peluru Parabellum 9mm melesat secepat kecepatan udara menghujani dan menghujam di kepala mereka. Lapis demi lapis para Zombie yang ada di dekat blokade lingkaran mulai berjatuhan. Sejauh ini rencana yang Minato beri telah berjalan dengan mulus. Bahkan Hashirama masih berdiri tegak tanpa melakukan banyak hal selain membidik dan menembakkan pelurunya ke arah kepala-kepala mereka yang ada di bawah. Namun justru di sini lah satu masalah yang tak terduga mulai muncul.
"AAAAARRRKKKHH...!"
Tiba-tiba salah satu tentara militer berteriak keras. Membuat personel yang lain dan termasuk Hashirama menileh terkejut ke arahnya.
Kedua mata Hashirama seakan dipaksa terbelalak lebar, Ketika melihat satu makhluk merayap tanpa mata dan bercakar besar telah ada di dalam area blokade ini. Lidahnya menjulur panjang bagai kadal. Rangka tengkoraknya membesar seolah otaknya yang berkembang memaksa merubah bentuk kepalanya. Seluruh tubuhnya hanya berdasarkan jaringan otot kuat dan daging tanpa sehelai kulit pun yang menutupi.
"M-M-M-Makhluk macam apa iniii?!"
Seru seorang tentara militer pemerintah yang sungguh sangat terkejut dengan kemunculan makhluk mengerikan itu. Tentu bagi mereka para tentara militer angkatan darat pemerintah tidak memiliki secuil pun pengalaman akan gerakan terorisme yang menggunakan senjata biologis. Melihat rupa dan gigi-gigi makhluk ini sudah membuat jemari-jemari mereka gemetar untuk menekan pelatuk senjata mereka masing-masing.
"Jangan takut! Semuanya tetap bersiaga penuh!". Ucap Hashirama lantang memberi perintah.
DERRRRRRTTTT...!
Tanpa ragu Hashirama menekan pelatuk P90 miliknya tepat mengarah ke makhluk tersebut. Tapi makhluk itu bergerak lincah ke samping untuk menghindari semua peluru yang Hashirama tembakkan kepadanya.
". . .?!"
Hashirama tercengang melihat pergerakannya yang tidak juga terbatasi oleh suhu ekstrem seperti ini. Terlihat benar-benar mudah menghindari setiap lesatan peluru miliknya.
Makhluk itu kembali menuju ke arah seorang tentara yang terluka parah di bahunya akibat serangan darinya tadi. Dengan cepat makhluk ganas tersebut menggigit kaki tentara itu dan memanjat cepat menaiki atap kendaraan militer.
"AAAGGHH...! SELAMATKAN AKUU...!"
Tentara yang tengah dibawa oleh makhluk itu menjerit-jerit kesakitan. Para personel Hashirama tentu tidak tinggal diam melihat kejadian tersebut. Segera mereka membidikkan Sub-Machine Gun mereka ke arahnya yang akan keluar dari barikade lingkaran ini.
Tembakan dari segara arah menghujani satu target yang tengah membawa seorang tentara militer bersamanya. Namun makhluk itu telah melarikan diri terlebih dahulu sebelum semua tembakan tadi mengenainya. Tentu ia mendapatkan tubuh tentara itu bersamanya.
"Sialan!"
Decih seorang personel yang kini hanya dapat melihat banyak lubang bekas peluru bersarang di badan kendaraan berat di sana. Termasuk bercak darah merah yang masih segar tercecer di sekitar kejadian tersebut.
Dengan kepintaran dan insting berburu yang mengerikan, Makhluk berlidah panjang itu berhasil mencuri salah satu pasukan Hashirama tanpa meninggalkan luka. Bukannya memberikan perintah selanjutnya untuk regu yang ia pimpin, Hashirama justru diam termangu menatap ke sekelilingnya. Kedua direksi matanya dipaksa mengedarkan pandangan ke luar blokade lingkaran mereka.
"Ini gawat..." Gumam Hashirama sendiri.
"Ini benar-benar gawat..." Ucapnya lagi setelah sepasang mata itu mendapati enam sampai tujuh makhluk yang seperti tadi mengelilingi mereka. Mengendap-endap dan Membaur di antara ribuan Zombie di sana. Seakan menjadikan lingkaran barikade ini sebagai target berburu mereka.
Bahkan kedua mata Hashirama yang was-was tidak bisa mengikuti alur gerakan mereka. Makhluk-makhluk itu seolah menyembunyikan diri di antara ribuan Zombie yang mengepung tempat ini.
"Ciihh...". Hashirama mendecih singkat sebelum akhirnya kembali memfokuskan diri dan memberi arahan kepada semua personel dan tentara militer di timnya.
"Kalian semua tetap waspada! Ada banyak makhluk seperti itu yang akan datang menyerang. Tapi jangan pernah gentar! Di saat kedua kaki kita telah menginjak tempat ini, Itu berarti kita telah memberikan seluruh jiwa dan nyawa kita untuk keberhasilan misi besar ini...!"
"Tidak ada yang namanya sukses tanpa perjuangan dan tetesan darah. Malam ini kita harus bisa merebut kembali Konoha. Dan beritahu Dunia bahwa Jepang masih berdiri. Mulai bidikan senjata kalian! Tembak semua target yang bergerak!"
"SIAAPP!" Jawab mereka serentak setelah mendengar kalimat Hashirama. Jari-jari gemetaran mereka kini telah kembali mereda. Siap kembali membidik dan menembak demi kebangkitan kembali Negara ini.
"Sekarang, Bagaimana kalian akan beraksi..." Kata Hashirama pelan sambil memperhatikan sekitarnya dengan seksama.
Para personel di bawah perintahnya telah kembali menarik pelatuk senjata mereka dan mulai menembaki para kumbangan mayat hidup di bawah. Sedangkan Hashirama masih berfokus pada tiap pergerakan-pergerakan para makhluk itu.
"Gawat! Mereka menembus barikadenya!"
Seseorang tentara berteriak panik ketika para Zombie ganas itu berhasil membuka sedikit celah di antara jejeran kendaraan berat milik militer angkatan darat. Para personel yang berada di dekat sana langsung memberondong mereka yang mencoba memasuki area aman ini.
Mau tidak mau Hashirama pun harus melihat langsung situasi yang terjadi pada anak buahnya. Namun hal itu malah membuat konsentrasinya dan fokusnya sedikit terpecah.
"AAARRKKHH...!"
Lagi-lagi suara teriakan menggema keras. Kini seorang personel dari regu Hashirama lah yang disambar oleh makhluk ganas itu.
"...?!"
Hashirama yang terkejut langsung melompat turun dari tempatnya berdiri sebelumnya. Lalu langsung berlari ke arah anak buahnya yang tengah diseret oleh salah satu dari makhluk-makhluk itu. Dengan kesigapannya yang tinggi, Hashirama belum lah terlambat. Ia membuang Sub-Machine Gun miliknya lalu langsung meraih tangan anak buahnya tersebut.
"Bertahanlah!" Kata Hashirama lantang sembari tetap berusaha menyelamatkannya.
"AAAHHKKK!"
Tidak henti-hentinya ia berteriak kesakitan karena kakinya juga tengah ditarik dan dikoyak oleh gigi-gigi makhluk itu.
"Kapten, Awas..!"
Seseorang memperingati Hashirama yang tengah sibuk dan tanpa disadari telah menurunkan kesiagaannya sendiri. Melalui kecerdasan dan insting memburu yang mengerikan, Para makhluk itu mulai memamfaatkan kesempatan ini untuk langsung menusuk ke dalam saat Hashirama tengah lengah.
". . . .?!"
Hashirama melihat salah satu dari makhluk itu mendekati dan akan menyerangnya dari belakang. Senjatanya telah jauh dari jangkauan tangannya. Akan tetapi berkat pengalaman yang Hashirama miliki, Pria berambut hitam panjang tersebut tetap tenang dengan melepas satu tangannya dan menggapai Secondary-Gun yang ia miliki.
DARR-DAARR-DAARR-DARR-DAARR...
Hashirama menembaki makhluk tersebut menggunakan pistol simpanan yang kini ia genggam. Semua pelurunya sukses menghujam ke tubuh makhluk itu. Membuatnya terhempas jatuh ke belekang dengan luka tembak di sekujur tubuh. Namun itu sama sekali tidak menghentikannya. Makhluk itu kembali bangkit dan langsung melompat keluar dari lingkaran barikade area ini.
Alis Hashirama berkerut. Ia tidak merasakan adanya tarikan lagi di tangan kirinya. Saat ia menarik tubuh anak buahnya itu untuk kembali ke bawah, Pemandangan penuh kengerian menyelimuti di antara mereka.
"A-... Apa-apaan ini..."
Gumam seseorang di samping Hashirama, Ketika kedua matanya melihat jelas bahwa pria yang Hashirama coba selamatkan itu kini tak lagi bernyawa. Darah tiada hentinya keluar dari kaki yang terputus dari tubuhnya. Kondisi jasad pria itu benar-benar mengenaskan.
Dengan tatapan datar Hashirama harus menerima kenyataan. Bahwa satu per satu orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya harus mati dengan cara yang mengenaskan seperti ini. Tangan kanan yang menggenggam sebuah pistol itu mulai bergerak. Dengan jarak yang begitu dekat, Hashirama membidikkan senjatanya itu ke kepala jasad anak buahnya.
"Perjuangan kalian tidak akan pernah kusia-siakan. Aku bersumpah atas nyawaku sendiri. Bahwa misi besar ini... Akan berhasil..."
DAARRR...
Satu peluru menghujam tepat di tengah kepala jasad anak buahnya itu. Dengan begitu, Ia tidak akan pernah bisa bangkit lagi menjadi sebuah monster seperti mereka.
Suara tembakan terus menggema dari arah samping Hashirama. Kondisi di sana sudah mulai kacau. Para mayat hidup itu berhasil menerobos barikade dan masuk ke dalam. Hampir seluruh personel dan tentara militer berfokus pada satu celah itu. Terus dan terus menembaki Zombie-Zombie di sana secara bersamaan tanpa terorganisir. Ratusan selongsong peluru kosong yang masih panas menggelinding ke aspal beku.
'Amunisi terbuang percuma di tiap detiknya. Laju perkembangan misi ini pun hanya berjalan di tempat. Minato... Di saat yang seperti ini... Bagaimana menurutmu... Apa yang akan kau lakukan bila menjadi diriku yang berada di tengah-tengah mereka ini...'
Pikiran Hashirama melayang jauh menatap langit malam Kota ini. Apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Bahkan jika 78 orang bersenjata lengkap, Melawan ribuan Zombie yang mengepung mereka seperti lautan semut... Bisa apa mereka walau dengan tangan penuh peluru sekalipun.
Apa rencana Minato ini salah...
Apa rencana yang Minato berikan ini adalah misi bunuh diri...
'Mana mungkin hal itu benar ya kan...'
Hashirama yang masih mendongak menghadap ke langit, Tersenyum picing dengan pemikirannya tersebut. Lalu sudut matanya melirik celah yang terbuka lagi di sisi yang berbeda. Mayat-mayat hidup mulai mencoba masuk ke dalam melalui celah itu.
Gendang telinganya seolah berdengung. Menangkap suara-suara tembakan yang mengalun merdu. Suara rincingan selongsong kosong yang berjatuhan. Suara mayat-mayat hidup di sana yang telah berhasil menerobos masuk. Hashirama termangu diam. Ia terperangkap pada lamunannya sendiri oleh beban yang ada di pundaknya. Tangannya tak bisa lagi bergerak. Pikirannya benar-benar kosong. Hanya bisa melihat para anak buahnya berjuang menembaki Zombie-Zombie ganas yang datang. Hanya bisa melihat celah baru yang terbuka di sana mulai di penuhi oleh para mayat hidup yang berdatangan. Hanya bisa melihat makhluk-makhluk cerdas nan mengerikan itu kembali masuk dan menyeret satu per satu anak buahnya.
Kini...
Hashirama benar-benar lumpuh. Mentalnya benar-benar lumpuh total. Tidak ada lagi yang bisa ia perbuat. Jarinya kesemutan di antara tuas pelatuk senjatanya. Kaki itu kaku tak bisa ia gerakkan. Hashirama benar-benar mati secara mental oleh beban yang begitu berat di pundaknya.
". . . . . .-rama!"
". . . . . ."
"Hashira-. . . . ."
". . . . . . . ."
"Hashirama..!"
Bagai mendengar sambaran sang kilat, Kedua kelopak mata Hashirama terbuka lebar sejalan dengan kembalinya kesadaran miliknya.
"Minato...?!" Kejutnya sembari menekan tombol kecil Earphone di telinganya. Menyadari suara siapa yang telah menyadarkannya.
"Hashirama apa kau mendengarku..?! Apa yang terjadi denganmu...?! Kenapa kau diam saja...?!" Tanya Minato bertubi-tubi melalui Earphone mereka.
". . . . . Maaf."
Hanya itu jawaban yang Hashirama berikan. Namun entah mengapa Hashirama malah tersenyum setelah dapat mendengar suara Minato kembali. Sudah terlalu berat beban yang ada di kedua pundaknya. Benar-benar berat hingga membebani seluruh mentalnya. Akan tetapi kini Minato Namikaze telah kembali ada bersamanya. Hanya orang seperti Minato lah, Seseorang yang mampu memikul sebagian beban berat miliknya.
". . . . . ."
"...Aku telah mengetahui situasinya. Tapi yang pertama, Tolong urus celah yang ada di sana. Para mayat hidup yang berhasil menerobos masuk ke dalam benar-benar tidak membuatku tenang." Ucap Minato yang berada jauh di markas pusat Divisi-3.
Ini dia yang Hashirama tunggu. Ini dia yang sejak awal Hashirama rencanakan. Minato mulai memberikan arahan tepat di saat mereka mencapai kebuntuan. Inilah yang Hashirama telah nantikan. Inilah yang Hashirama telah rencanakan. Cukup dirinya saja yang ditekan oleh tekanan mental yang begitu ekstrem di tengah-tengah ribuan Zombie yang melingkari mereka. Dengan begitu, Ketenangan Minato sebagai otak dari misi besar ini dapat diandalkan sepenuhnya. Itulah rencana Hashirama yang tidak memperbolehkan Minato untuk ikut terjun ke lapangan bersamanya.
Lagi-lagi Hashirama tersenyum kecil. Kedua tangannya mulai bisa ia gerakkan. Seluruh tubuhnya kini telah dapat ia kendalikan seperti semula.
DARR-DAARR-DAARRR-DAARRR-DARRRR-DAARRR...
Semua tembakannya tepat mengenai kepala para mayat hidup yang hampir menerjangnya. Hashirama terus menembak hingga tidak ada peluru yang tersisa lagi di pistol miliknya.
"Bagaimana dengan makhluk-makhluk ini?" Tanya Hashirama kepada Minato melalui Earphone sembari membuang pistolnya yang telah kosong ke sembarang arah.
"Jadi para Licker itu muncul lagi ya..."
"Licker? Apa kau memberikan sebuah nama untuk mereka...?" Tanya Hashirama sambil melangkah ke tempat di mana P90 miliknya terbuang.
"Yah... Kau bisa mengatakannya seperti itu. Mengingat mereka pun dapat menyerang dengan lidahnya yang panjang, Jadi mungkin Licker adalah sebutan yang cukup tepat dan mudah diingat. Kita juga harus memberi sebutan pada mereka untuk lebih mudah menyebut jenis-jenis dari yang telah bermutasi ya kan..." Jawab Minato menjelaskan asal-usul sebutan Licker yang ia tujukan untuk makhluk cerdas mengerikan itu.
"Menurutku kau ada benarnya. Jadi... Bagaimana selanjutnya..."
Hashirama memungut Sub-Machine Gun itu dan lalu langsung membidik para Licker yang telah berani masuk lagi ke dalam area ini.
DERRRRRRTTTT-DERRTT-DERRRRRRRRTTTTT...
Sang kapten langsung saja menembaki mereka tanpa ampun saat mereka lagi-lagi berhasil menyeret satu per satu personelnya. Menembaknya dari area lingkup ini dirasa kurang begitu efektif. Walau begitu Hashirama berhasil memberikan luka serius di tubuh para Licker tersebut. Tanpa ia sadari kini dirinya telah kehilangan lebih dari 21 orang dalam regu ini. Sungguh jumlah yang tidak sedikit.
"Baiklah, Kita mulai sekarang. Pertama-tama... Suruh mereka semua untuk berhenti membuang-buang seluruh amunisi yang mereka miliki. Dan mulai lah dengan berdiri di atas atap kendaraan yang ada di sekeliling mereka." Ucap Minato memberikan arahannya.
Sepertinya pemikiran Minato dan dirinya sejalan. Melihat mereka semua yang hanya berfokus pada satu celah itu dan menembak secara bersamaan benar-benar tidak efektif dan membuang-buang peluru.
"Kalian semua dengar! Berhenti menembak dan mulai naik ke atas!" Seru Hashirama dengan suara keras.
Mereka semua terdiam mendengar perintah Hashirama. Mereka pun berhentik menarik pelatuk senjata mereka dan mulai menaiki atap kendaraan berat militer yang ada di sekeliling mereka.
Tak terkecuali pula untuk Hashirama. Pria tinggi tegap dengan rambut hitam panjang itu juga mulai kembali menaiki atap kendaraan militer yang menjadi seperti sebuah dinding pemisah.
"Aku akan mencoba membuat sambungan dengan yang lainnya. Itu akan membuatku lebih mudah menyampaikan sesuatu kepada kalian." Kata Minato.
Tidak lama kemudian, Seluruh Earphone yang personel Hashirama gunakan berhasil diretas oleh Minato. Membuatnya dapat saling tersambung juga dengan setiap mereka.
"Dengar... Kalian tidak perlu lagi mengkhawatirkan celah-celah yang terbuka itu. Dengan kalian yang berada di atas tempat yang tinggi, Maka mereka tidak akan bisa menggapai kalian. Itu cukup menghemat setiap peluru yang harus terpakai."
"S-Suara ini..."
"T-Tidak salah lagi..."
"Ini suara Ketua Minato!"
"Benar! Ini pasti suaranya!"
Semua personel di regu Hashirama malah ramai dengan keterkejutan mereka sendiri setelah mendengar suara seorang Minato Namikaze yang tiba-tiba terdengar di Earphone mereka. Justru mungkin Minato sedang sweatdrop di markas sana setelah mengetahui bermacam-macam reaksi mereka tentangnya.
"Seperti yang aku bilang sebelumnya. Tidak ada orang di Organisasi ini yang tidak mengenal siapa dirimu. Sosok seorang Minato Namikaze benar-benar sosok yang mereka kagumi." Kata Hashirama pelan kepada Minato di sana.
"Be-... Begitu..."
Jawab Minato yang seperti sedang speechless. Bahkan baru kali pertama ini ia sadar bahwa dirinya sudah menjadi salah satu orang yang terkenal di Organisasi khusus ini.
"Kita kembali ke topik utamanya. Tim Hashirama... Kalian tetap berfokus untuk mengurangi jumlah mayat hidup yang mengepung. Tidak perlu lagi memecah fokus kalian untuk para Licker yang akan menyerang."
Kata Minato tanpa ada keraguan di tiap-tiap kalimatnya. Namun justru di sini yang menjadi suatu kebingungan bagi Hashirama.
"Tunggu... Apa maksudmu...?" Hashirama bertanya dengan raut kebingungan.
Di saat yang sama, Hashirama tidak menyadari bahwa ada satu makhluk yang telah mengincarnya dari belakang. Makhluk itu bergerak cepat tanpa Hashirama sadari. Dan ketika Makhluk tersebut melompat hendak menerkam, Sejalan dengan Hashirama yang tengah tidak siap berbalik menoleh ke arahnya, Tiba-tiba suara tembakan menggelegar datang dari arah atas turun ke bawah.
jenDAAAARRRRR...!
Sebuah peluru dengan kecepatan dahsyat menghujam tepat di kepala Licker itu. Hashirama hanya terpaku melihat makhluk tersebut telah mati di bawah kakinya dengan hanya satu tembakan saja.
"Aku telah mengirim tim Back-Up untuk kalian..." Ucap Minato kemudian setelah satu tembakan itu terdengar.
Apa yang Minato katakan membuat Hashirama menyadari akan sesuatu. Dirinya kemudian mendongak ke atas. Menatap ke arah sebuah gedung di mana suara dan arah tembakan itu berasal.
"Ino..."
Gumam pelan Hashirama menatap salah satu jendela gedung tinggi di sana sembari lagi-lagi tersenyum kecil.
Dari sudut jendela itu, Seseorang yang tengah siaga membidikkan sebuah Arctic Warfare Magnum ke arah bawah sana, Mulai menarik topeng masker yang ia kenakan. Dengan begitu, Tergerai lah rambut panjang nan indah berwarna pirang miliknya.
"Aku tidak akan membiarkan tangan kotor makhluk-makhluk itu menyentuhmu seinchi pun... Kapten."
Gumam Ino Yamanaka, Seseorang yang telah menembak mati Licker yang mencoba menyerang Hashirama.
Bukan hanya Ino seorang saja yang menjadi bala bantuan yang Minato kirim bagi mereka. Namun masih ada banyak lagi personel pengguna Sniper seperti Ino yang tersebar dan terintegrasi dengan sempurna di beberapa bangunan tinggi. Seperti apa yang telah Minato perintahkan kepada tiap masing-masing mereka. Dengan begitu, Tidak ada lagi yang namanya titik buta bagi mereka. Karena mereka telah tersebar melingkari area luas tersebut. Dan menembak dari atas, Merupakan langkah yang efektif dan paling efisien untuk mengalah para Licker itu.
"Mereka menggunakan pendengaran tajam mereka untuk menjadi pengganti mata dan melihat seluruh bentuk objek di depan mereka. Jadi... Kita bingungkan mereka dengan gaung suara tembakan dari atas gedung tinggi yang kosong. Mereka tidak akan bisa memprediksi dari mana dan di mana titik lokasi tiap peluru yang ditembakkan akan jatuh."
Ucap Minato menjelaskan strateginya mengenai alasan mengapa dirinya lebih memilih mengirim pasukan penembak jitu sebagai bala bantuan dari pada mengirim Artileri dengan persenjataan berat.
'Dia selalu saja sempurna dalam memikirkan segala hal. Baik dalam strategi, observasi, dan intelejensi... Dirinya lah yang terbaik di Jepang. Dengan adanya dirimu di pihak kami sekarang, Keberhasilan kini pasti ada di depan mata... Minato.'
Hashirama melepas slot Magazen senjatanya yang telah kosong. Menggantinya dengan slot Magazen yang baru, Lalu menarik tuas pengokangnya.
CEKREEKKLL...
Kini Hashirama telah siap kembali untuk menghujani mereka dengan peluru-peluru panas. Terus dan akan terus ia tembaki hingga tidak ada satu pun dari mereka yang tersisa di area ini.
"Saatnya menyerang kembali...!"
.
.
.
.
.
Deru nafas tak bisa ia kendalikan. Situasi hidup dan mati terulang kembali. Langkah demi langkah yang ia tapak kian terasa berat. Entah bagaimana lagi Sakura harus menghadapi kondisi yang seperti ini.
Brakk-Brakk-Brakk...
Gadis itu mencoba menggedor dan membuka pintu-pintu yang ada di sepanjang lorong. Namun keberuntungan saat ini seakan tidak memihak kepadanya.
Sakura berlalu ke pintu selanjutnya. Tangannya tersebut berulang kali daun pintu yang ada di hadapannya. Akan tetapi hal yang sama terulang lagi. Pintu itu tidak mau terbuka. Sedangkan para Zombie ganas yang kelaparan mulai berdatangan mengejar dirinya.
'Kumohon, Kumohon terbukalah...!' Ratap Sakura dalam hati sembari terus berjuang mendorong pintu itu secara paksa.
"Gwaahhrrkk..."
Kerumunan mayat hidup telah memenuhi sepanjang lorong ini. Berbondong mendekat menuju ke arahnya yang tengah gusar. Kedua manik hijau indah itu terus memperhatikan mereka yang semakin mendekati tempat di mana ia tengah berdiri. Sementara kedua tangannya itu masih mencoba membuka pintu tersebut.
'Kumohon... Kumohon... Terbukalah-'
Gadis berambut merah jambu itu menggunakan bahu pundaknya untuk mendobrak pintu tersebut. Ia kerahkan seluruh sisa tenaganya yang ia miliki. Sementara tangan-tangan mereka hampir meraih dirinya.
'Kumohon, Terbukalah! Ayo... Tolong buka pintunya...'
"Gwaarrrhhhkk..."
Jeglekk...
Tubuh Sakura terperosok jatuh ke lantai ketika akhirnya pintu tersebut telah sepenuhnya terbuka. Sakura berhasil membukanya tepat saat Zombie-Zombie itu sudah berada di hadapannya.
Mereka akan mencoba masuk mengejar Sakura, Tetapi gadis itu lekas bangkit berdiri dan segera menutup pintunya. Tangan-tangan mengerikan mereka sempat terjepit pintu tersebut ketika Sakura berusaha menutupnya kembali. Tangan mereka mengais-ngais bagai tidak menyerah untuk mendapatkan Sakura.
Peluh keringat menetes di samping pelipisnya. Sekuat tenaga Sakura masih berusaha menutup pintunya kembali. Gadis itu benar-benar berjuang keras agar pintu tersebut mau menutup. Dan entah mengapa tanpa sadar bibirnya menggumamkan seutas nama.
"T-Tolong aku... Naruto..."
.
.
.
.
.
"Tetap bawa mereka bersamamu. Aku akan mencari mereka dan segera kembali."
Kakashi menyuruh Naruto untuk menyerahkan hal ini kepadanya. Dengan sebuah Glock-17 yang ada di genggamannya, Ia tahu apa yang harus ia lakukan.
"Tapi-..."
"Kita tidak punya waktu untuk berdebat. Sekarang, Pergilah. Serahkan semuanya padaku." Kata Kakashi lagi.
Rahang Naruto mengerat. Apa yang dikatakan Kakashi kepadanya memang benar. Sudah tidak ada waktu lagi untuk berdebad panjang. Kedua manik biru itu melirik para mayat hidup yang masih mengejar mereka di belakang sana.
'Ciih...!' Umpat Naruto dalam hati. Dengan berat Naruto terpaksa mengalah dan menuruti apa yang kakashi perintahkan.
"Ayo, Kiba!"
Ajaknya dengan nada penuh keterpaksaan.
Naruto yang tengah menggendong Anko di belakang punggungnya lekas segara beranjak dari sana. Kiba segera mengikuti kemana langkah Naruto menuju bersama Hinata di dekatnya.
Tapi sejenak Naruto berhenti di tengah jalan. Kiba dan Hinata pun juga ikut berhenti di dekatnya dengan raut wajah kebingungan. Termasuk untuk Kakashi yang masih di sana melihat ke arah Naruto.
Sesuatu terlempar tepat mengarah kepada Kakashi. Tangannya menangkap benda tersebut. Sesuatu yang Naruto lempar untuknya.
"Pastikan kau kembali bersama dengan mereka." Ucap Naruto singkat. Lalu segera berbalik dan berlalu dari sana.
Kakashi melirik sebuah slot Magazen dengan peluru yang terisi penuh di tangannya. Naruto melempar itu untuk dirinya, Yang tahu jika peluru yang ada di dalam senjata tersebut kini hanya tersisa beberapa butir saja.
'Itu pasti...'
Kakashi kemudian berbalik menghadap ke arah kerumunan Zombie yang menuju kepadanya. Hal pertama yang perlu ia lakukan, Adalah mengalihkan perhatian mereka terlebih dahulu. Agar mereka menjadikan dirinya sebagai target dan berhenti mengejar Naruto.
DARR-DAARR-DARR-DAARR-DARR...
Kakashi mulai menembaki mereka sembari setapak demi setapak munduk ke belakang. Beberapa dari mereka terhempas jatuh ke lantai. Namun masih banyak yang masih berlari menuju ke arahnya.
Kakashi mulai memikirkan cara untuk melewati gerombolan mayat hidup itu. Lalu ia melihat sebuah pintu di sampingnya. Tangannya cepat menggapai daun pintu tersebut dan mencoba membukanya. Tetapi pintu di depannya tidak kunjung mau terbuka.
BRAAKKKH...!
Kakashi menendangnya dengan keras hingga membuat pintu tersebut terbuka paksa. Lalu kakashi bergegas masuk ke dalam sana saat beberapa tangan dari mereka hampir mencengkram dirinya. Kakashi berlari di sepanjang kamar hotel mewah ini. Tiap langkah kakinya membawa Kakashi berlari menuju ke sebuah jendela kaca lebar berukuran besar. Tanpa ragu Kakashi terus berlari dan menerjangnya.
PRRAAANNG...!
Kaca jendela sebuah kamar di lantai 4 hotel itu pecah. Para Zombie yang mengejarnya tadi langsung saja terjun bebas jatuh ke bawah. Sebagian dari mereka langsung mati di lantai dasar akibat jatuh dari ketinggian dengan kepala pecah. Walau tidak sedikit dari mereka yang masih dapat bergerak dengan kepala yang masih utuh.
Akan tetapi jasad Kakashi sama sekali tidak terlihat di antara tumpukan para mayat hidup itu. Seolah-olah Kakashi menghilang setelah menerjang kaca jendela tersebut.
Suasana kamar hotel ini pun menjadi sepi kembali. Hanya menyisakan sebuah jendela rusak yang tak lagi utuh bersama sisa serpihan-serpihan kaca berserakan di lantainya. Yang terlihat hanya sepasang korden mewah yang menari terhembus angin dingin malam di Kota ini.
.
.
.
To Be Continue...
