Huuaaaa..! Kenapa kalian semua malah akan meninggalkan Felix-kun kalau Sasuke & Sakura matiii..?! Please dont leave mee . (#hug everyone)

Tapi makasih buat review kalian semua yg udah setia meninggalkan jejak... Hontou ni kansha shimashita wa ;-)

Dan semoga Felix-kun bisa update kilat secepat hiraishin jutsu lagi nanti xD

.

.

.

.

"Our Bonds"

The Place Of Hope

Chapter 11 : "Ikatan Diantara Kita"

Genre : Adventure, Horror & Gore

Main Cast : Naruto U., Sakura H., Sasuke U.

Caution! Contains violance & profanity (17th +)

.

.

.

.

.

PRRAAANNG...!

Kaca jendela sebuah kamar di lantai 4 hotel itu pecah. Para Zombie yang mengejarnya tadi langsung saja terjun bebas jatuh ke bawah. Sebagian dari mereka langsung mati di lantai dasar akibat jatuh dari ketinggian dengan kepala pecah. Walau tidak sedikit dari mereka yang masih dapat bergerak dengan kepala yang masih utuh.

Akan tetapi jasad Kakashi sama sekali tidak terlihat di antara tumpukan para mayat hidup itu. Seolah-olah Kakashi menghilang setelah menerjang kaca jendela tersebut.

Suasana kamar hotel ini pun menjadi sepi kembali. Hanya menyisakan sebuah jendela rusak yang tak lagi utuh bersama sisa serpihan-serpihan kaca berserakan di lantainya. Yang terlihat hanya sepasang korden mewah yang menari terhembus angin dingin malam di Kota ini.

GREPP...

Tiba-tiba sebuah tangan muncul menggapai sisi samping bingkai jendela yang telah rusak tersebut. Masih lengkap dengan sarung tangan hitam yang melekat. Mencoba untuk erat berpenggangan...

.

.

.

.

.

.

Sebuah pintu terbuka. Empat orang tergesa masuk ke dalam ruangan itu. Termasuk seorang wanita yang tengah digendong di belakang punggung seorang pemuda berambut kuning.

"Pertama, Hinata... Bisakah lakukan sesuatu dengan luka Anko-sensei...?"

Ucap Naruto yang kini meletakkan wanita muda yang ia bawa bersamanya di sebuah sofa panjang. Sementara setelah mengatakan hal tersebut, Ia malah berlalu kembali menutu pintu yang terbuka di sana.

"Apa yang akan kau lakukan, Naruto?!"

Kiba bertanya dengan nada tinggi saat melihat teman dekatnya tersebut akan kembali keluar dari kamar hotel ini.

"Sudah jelas bukan... Aku akan mencari mereka." Jawabnya singkat.

"Jangan selalu bertindak ceroboh seperti ini...! Bukankah Kakashi-sensei yang akan mencari mereka...?!"

Lagi-lagi Kiba berbicara dengan nada tinggi ke arahnya. Seolah tidak terima dengan sifat Naruto yang selalu saja seperti ini. Mendengar Kiba yang harus sampai membentaknya seperti itu, Membuat Naruto terdiam di depan pintu yang masih terbuka.

"Kau... Sudah tahu seperti apa sifatku ya kan... Kiba."

". . . . . ."

"Jadi mau bagaimana lagi. Tidak mungkin aku berdiam diri di sini. Karena aku... Bukan orang yang suka menunggu." Sahut Naruto setelah lama terdiam berdiri di depan sana. Lalu kaki itu pun mulai melangkah keluar.

"T-Tapi Naruto-kun..."

Panggilan dari Hinata lagi-lagi membuat langkahnya terhenti. Gadis itu seperti enggan menerima pemikiran Naruto yang akan pergi sendirian di luar sana. Namun Naruto menolehkan wajahnya dan sedikit memberikan sebuah senyuman untuk gadis tersebut.

"Tenang saja. Aku pasti kembali. Aku akan kembali bersama mereka semua. Itu adalah janjiku, Hinata!" Ucapnya dengan penuh percaya diri.

Mendengar satu janjinya itu, Membuat Hinata tidak bisa untuk berkata apapun lagi. Dirinya hanya bisa menatap kepergian Naruto setelah pintu di depan sana telah tertutup pelan dengan sempurna. Di dalam hatinya, Yang ada di hatinya hanya gundah dan kegelisahan. Bahkan meski Hinata mengerti betapa kuatnya sosok Naruto yang ia sukai... Namun tetap saja kegelisahan ini seakan tak mau pergi.

"Ciih..."

Kiba mendecih kesal melihat semua ini. Kini Kiba merasa bahwa dirinya lah orang yang paling lemah di sini. Ia tak bisa melakukan semua hal yang Naruto dan Sasuke bisa lakukan. Yang bahkan sejak awal pun, Dirinya tidak banyak melakukan hal-hal yang berguna. Hanya terus berlari mengikuti punggung mereka berdua. Kini Kiba benar-benar mengerti, Tentang jauhnya kesenjangan antara dirinya dan mereka. Hal ini sungguh memuakkan pikirnya.

"Tidak apa-apa... Yang perlu kita lakukan hanya percaya dan menunggu mereka kembali. Percayalah pada Kakashi-sensei dan Naruto-kun."

Tiba-tiba Hinata menepuk kedua pundak Kiba yang tengah meremas rambutnya sendiri karena depresi. Kiba terkejut dengan apa yang dilakukan Hinata. Termasuk juga apa yang telah diucapkannya. Seakan Hinata mengerti apa yang sedang Kiba rasakan saat ini.

"Kau benar... Kita percayakan semuanya kepada mereka." Balas Kiba yang kini mulai merasa agak tenang.

Lalu pemuda itu bangkit berdiri dan melangkah menuju sebuah lemari besar. Kedua tangannya membuka lemari tersebut. Hinata terus memperhatikan Kiba yang sedang mengacak-acak isi dari lemari pakaian di sana.

"Mungkin yang ini bisa..." Gumamnya kecil setelah mendapatkan sebuah piyama putih polos dari dalam lemari hotel tersebut.

Kiba menggigit salah satu ujung dari piyama di tangannya. Lalu merobeknya sebagian. Sehingga ia mendapat sebuah potongan kain panjang dari piyama tersebut.

"Kita harus menutup luka Anko-sensei dan menghentikan pendatahannya. Hinata, Apa kau bisa mengurus hal ini...?"

Hinata mengangguk sembari meraih seutas kain putih yang Kiba ulurkan padanya.

"Maaf, Telah merepotkan kalian..." Ucap Anko sekian lama terdiam. Bahkan walau dirinya melihat Naruto yang akan melakukan hal yang bodoh sekalipun. Anko tetap diam dan hanya melihat apa yang Naruto akan lakukan. Karena Anko telah sepenuhnya percaya kepada satu murid yang paling dekat dengan dirinya tersebut.

Hinata akan membalutkan kain di tangannya ke lengan Anko. Tapi ada sesuatu yang membuat geraknya terhenti. Hinata hanya terpaku menatap sesuatu yang bergerak-gerak muncul keluar dari luka di lengan itu.

.

.

.

.

.

Beberapa lampu di lorong hotel mewah ini masih berketip-ketip. Sedangkan beberapa lainnya mati total. Tapi justru itu menandakan bahwa hotel semewah ini masih memiliki cadangan listrik yang memadai. Itu lah yang terbesit di dalam kepala Naruto, Ketika ia melangkahkan tiap langkah kakinya dengan sangat hati-hati. Suasana lorong di mana ia tengah berada begitu sepi dan sunyi. Hanya ditemani oleh cahaya redup dan suara ketipan lampu-lampu yang masih menyala di langit-langit lorong.

Justru situasi yang seperti ini yang akan membuat orang biasa bergidik ngeri. Berjalan sendirian di tengah-tengah lorong panjang yang sepi. Tiap langkah yang ia buat selalu menjadi gema yang membuat bulu roma terangkat. Tanpa ditemani Glock-17 di tangannya, Naruto melangkah di tengah-tengah kesunyian yang mencekam.

'Di mana... Di mana kalian...'

Naruto hanya bisa bergumam sendiri dari dalam hatinya. Di bawah kengerian wabah yang melanda Kota, Ia berusaha untuk menemukan teman-temannya kembali yang telah terpisah.

Krekh...

Langkah Naruto terhenti ketika salah satu kakinya menginjak pecahan lampu di lantai. Suaranya benar-benar tidak menggema sampai ke sudut-sudut lorong. Hanya kedua manik biru matanya yang melirik ke sekitar. Mengedarkan direksi pandangannya untuk memperhatikan. Karena Naruto masih ingat benar bahwa suara dapat memancing perhatian mereka.

". . . . . . ."

Tidak ada pergerakan. Tidak ada yang terlihat sampai sejauh ini. Membuat Naruto bisa menghembuskan nafas lega. Dengan begitu ia dapat melanjutkan pencariannya kembali.

'Petunjuk... Beri aku petunjuk... Entah apapun itu, Yang bisa membuatku tahu di mana kalian berada... Sasuke... Sakura...'

Gumamnya dalam hati. Mengharapkan sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai tanda dari keberadaan mereka berdua di sekitar sini.

Naruto perlahan menuruni satu per satu anak tangga dengan sangat hati-hati. Mengingat ia tidak lagi menggenggam Glock-17 miliknya. Naruto tidak ingin melakukan kecerobohan kali ini. Walau sejak awal keluar untuk mencari Sasuke dan Sakura sendirian tanpa senjata yang memadai adalah hal yang ceroboh.

Entah mengapa Naruto merasa suhu di gedung hotel ini semakin menurun. Hawa menjadi lebih dingin dari sesaat yang lalu. Bahkan keringatnya tak lagi terlihat ada yang mengalir keluar. Lalu ia teringat akan misi besar-besaran Divisi khusus pemerintah Jepang. Mungkin misi mereka kini telah dimulai.

Namun setelahnya barulah Naruto sadar bahwa gendang telinganya menangkap suatu kegaduhan yang berjarak tidak jauh dari tempatnya. Kedua kaki Naruto terus mengantar langkahnya hingga mencapai anak tangga terakhir. Ketika ia mengintip apa yang ada di ujung sana dari sudut dinding di sampingnya, Direksi matanya mendapatkan sebuah pemandangan di mana beberapa mayat hidup tengah mengepung sebuah pintu di tengah-tengah lorong sana. Mereka nampak seperti berusaha mendorong pintu itu dengan paksa.

'Apakah di sana...?!' Pekik Naruto yang mengira mungkin Sasuke dan Sakura bersembunyi di balik pintu tersebut.

Naruto mulai untuk menyiapkan dirinya sendiri. Ia meraba sabuk yang melingkar di belakang pinggangnya, Lalu menarik sebuah belati yang biasa digunakan militer untuk bertarung di jarak dekat. Jemari Naruto mengeratkan genggamannya ke gagang belati tersebut, Dan mulai melangkah keluar dari tempat persembunyiannya.

'Jika benar... Maka aku harus melakukan sesuatu.'

.

.

.

.

.

Duduk meringkuk dan bersandar di bawah sebuah pintu. Kedua tangannya terus saja memeluk tubuhnya sendiri yang mulai menggigil kedinginan. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi jauh di luar sana. Sejauh yang bisa ia lihat, Hanya jendela kaca yang mulai mengembun akibat hawa dingin ini. Dirinya memilih untuk tetap diam karena tak bisa melakukan apa-apa lagi. Sementara pintu di belakangnya tak henti-hentinya didobrak oleh mereka dari luar.

Hanya menunggu...

Hanya itu yang saat ini bisa Sakura lakukan. Entah siapa yang ia tunggu. Tidak peduli siapa pun itu. Asal dirinya tidak terjebak di sini selamanya. Pandangannya sayu. Hawa dingin yang begitu menusuk seolah membekukan otaknya. Membuat Sakura tidak lagi bisa memikirkan sesuatu. Ia telah terpisah dari yang lain. Bahkan ia telah terpisah dari kekasihnya. Maka hanya ada satu nama yang tiba-tiba melintas di pikirannya. Hanya satu nama.

'. . . . . .Naruto.'

Sakura bergumam dalam hati kecilnya. Menyebut satu nama yang muncul di pikirannya. Tatapan Sakura semakin sayu dan kini hampir tertutup lelah. Namun tiba-tiba gendang telinganya menangkap sesuatu.

Bagai sebuah keajaiban...

Kedua kelopak mata Sakura terbuka lebar ketika mendengar suara seseorang yang tengah memanggil namanya. Gadis itu mengenal suara tersebut. Ia benar-benar sangat mengenal suara itu. Suara seseorang yang namanya muncul melintas di pikirannya. Seseorang yang ia harapkan untuk datang menjemputnya keluar dari tempat ini.

"SASUKE...! SAKURAA...!"

"SASUKE...! SAKURA...! JIKA KALIAN ADA DI SANA CEPAT JAWAB AKU!"

Suara teriakan itu berasal tidak jauh di luar sana. Tanpa membuang waktu, Gadis cantik berambut merah jambu itu segera bangkit dan berdiri. Menggunakan kepalan kedua tangannya, Sakura menggedor-gedor pintu di depannya sebagai sebuah tanda bahwa dirinya sedang berada di dalam sini.

"NARUTOOO...! APA KAU MENDENGAR SUARAKU...?! NARUTOOO...!"

Sakura berteriak sekeras mungkin agar Naruto dapat mendengar suaranya yang terperangkap dari dalam. Berharap Naruto tahu bahwa ia ada di dalam kamar ini.

Sedangkan di luar, Naruto yang hanya menggenggam sebuah belati menangkap suara Sakura. Kini dirinya tahu bahwa yang ada di dalam sana benar-benar Sakura. Sesaat ia merasa lega dapat mendengar kembali suara gadis itu lagi. Akan tetapi masalah baru kini telah datang kepadanya.

Teriakan kerasnya tadi membuat para Zombie yang berada di depan pintu sana beralih terpancing ke arahnya. Ekspresi wajah Naruto berubah serius. Pemuda itu mundur untuk beberapa langkah kebelakang saat melihat mereka langsung lari berbondong-bondong menuju kepadanya. Rahang Naruto mengeras, Ketika mendapati punggungnya telah menyentuh dinding di belakang. Para Zombie ganas itu semakin berlari mendekatinya. Tetapi tidak ada jalan untuk kembali bagi Naruto saat ini. Tanda urat-urat merah kembali muncul di sekitar pelipis wajah kanannya. Satu manik biru yang indah itu langsung berubah menjadi merah mengerikan. Mata kanannya terlihat seperti rusak namun memberikan titik fokus yang luar biasa. Dengan hanya bermodal pisau belati di genggamannya, Naruto bersiap untuk melawan mereka semua.

"Yosh... IKUZOO!"

Sepatu itu menghentak dari lantai. Naruto mulai bergerak dengan kecepatan penuh. Di depan matanya, Satu dari mereka datang untuk menyerang pertama.

"Gwaahhhrrrkk!"

Melaju dengan kecepatan tertinggi, Naruto bergerak ke samping menghindari terkamannya. Tangan Naruto menggapai bahu Zombie itu, Lalu langsung menusukkan belatinya tepat ke arah belakang kepalanya.

CRAASSTTT...

Darah terciprat keluar menodai sisi wajahnya. Namun gerakan tubuhnya belumlah berhenti di situ. Sudut matanya melirik satu lagi Zombie yang mendekat di belakangnya. Naruto lekas memutar tubuh menghadap ke arahnya dan menendang dengan keras dagu mayat hidup tersebut.

KRAAKKK...!

Lehernya patah saat kepalanya mendongak ke atas akibat menerima tendangan keras yang Naruto layangkan padanya. Mayat hidup itu mati berlutut dengan kepala tetap mendongak ke atas. Namun Naruto masih lanjut bergerak. Ia menggunakan wajah pria yang telah mati tersebut bagi tumpuan kaki kirinya untuk melompat.

Lompatannya sangat tinggi hampir menyentuh langit-langit lorong hotel ini. Melewati dua sampai tiga mayat hidup di bawahnya. Ketika gaya gravitasi bumi menariknya kembali, Naruto menggenggam erat pisau belati miliknya dengan menggunakan dua tangan. Rambut kuning rancungnya bergoyang saat tubuhnya kembali turun ke bawah.

"HAAAAHHHH...!"

Naruto berteriak dan mengarahkan ujung mata belati itu tepat ke arah kepala Zombie di bawahnya. Pemuda itu mengayunkan belatinya dengan ayunan mematikan ke bawah.

JRRAAAZZZHH...!

Ujung mata belati itu menghujam keras ke tengkorak Zombie di depannya. Bahkan saking kerasnya hujaman yang Naruto berikan, Membuat tubuh Zombie tersebut ikut terhempas ke bawah membentur lantai. Kedua mata Naruto menatap bagaimana darah yang keluar pria ini masih melayang di udara dengan mengerikan. Bola mata Naruto bergerak. Teralih kepada tiga mayat hidup lagi yang datang mendekat.

Ia segera berlari melesat kembali sembari mencabut belatinya yang telah berlumuran darah. Naruto menghindari setiap raihan tangan-tangan mereka satu per satu dengan mudah. Tetapi seorang pria tinggi berhasil menangkap bahu belakangnya. Tubuh Naruto terseret ke belakang karenanya. Namun justru pemuda itu memamfaatkan momentum ini untuk mengangkat kedua kakinya berayun ke atas dengan lincah. Sehingga kini justru Naruto yang beralih ada di atas pundak pria itu. Kedua mata yang kini berbeda warna hanya menatapnya dengan datar.

". . . . .Mati."

CRAATTSSHH...!

Lagi-lagi Naruto menusuk kepala mereka menggunakan ujung tajam pisau belati miliknya. Pria tersebut jatuh ke tanah dengan darah mengucur keluar di udara. Sedangkan Naruto langsung melaju kembali ke depan. Menuju ke hadapan lima Zombie di depannya tanpa keraguan berarti. Sembari berlari ia melompat di udara. Lalu tempurung sepatunya langsung saja menendang salah satu kepala dari mereka berlima dengan sangat keras.

BUUAAGGHH...!

Satu Zombie menabrak Zombie di sampingnya dan membuat mereka berdua terhempas keras menabrak dinding. Kini seorang wanita berlumuran darah mencoba menyerang Naruto yang baru saja kembali menyentuh lantai.

ZRRAASSHHH...

Naruto mengayunkan belati di tangannya mengarah vertikal ke atas. Wajah wanita itu terbelah menjadi dua hingga mencapai otaknya.

Pandangannya melihat ke depan. Melihat empat lagi mayat hidup yang menuju ke arahnya. Naruto bergegas untuk kembali berlari. Dirinya melaju begitu cepat tanpa hambatan yang berarti. Saat kedua tangan Zombie di depannya hendak akan meraih dirinya, Naruto langsung melakukan Slide ke lantai dan meluncur melewati sela di antara kaki itu. Setelahnya Naruto bangkit dan memilih untuk melompat menggunakan kepala mayat hidup di depannya sebagai tumpuan. Lompatannya kali ini tidak kalah tinggi dari lompatan yang tadi. Dua sampai tiga Zombie terakhir dengan mudah dilewatinya.

DREPP...

Salah satu kaki Naruto berhasil menyentuh lantai dan tubuhnya dipaksa untuk melakukan Rolling ke depan. Dengan gilanya, Naruto berhasil melewati total 19 mayat hidup yang menerjang ke arahnya dan membunuh 7 di antara mereka hanya dengan bermodalkan pisau belati di tangan.

Ia lekas bangkit dan menuju ke salah satu pintu di sana. Naruto membukanya cepat. Dengan begitu, Ia dapat melihat sosok Haruno Sakura berdiri menunggu kehadirannya. Segera ia raih tangan lembut Sakura dan menariknya keluar dari sana. Karena masih ada beberapa Zombie yang tersisa di belakang sana. Naruto menggandeng erat gadis itu dan lekas berlari menjauh. Sekilas ia melihat pintu bertuliskan tangga darurat di depan sana, Sedangkan para mayat hidup yang masih tersisa mengejar mereka kembali.

"Cepat...!" Ucap Naruto pada Sakura.

Naruto langsung saja mendobrak pintu itu untuk membukanya. Mereka berdua masuk di sana dan menutup pintunya kembali.

BRAKKH-BRRAAKKHH-BRAKKH...!

Zombie-Zombie di sana mencoba menggebrak pintu tersebut. Tapi Naruto dan Sakura menahannya sekuat tenaga dengan menggunakan tubuh mereka berdua. Tidak sengaja Naruto melihat box panel darurat berwarna merah tua. Di dalamnya berisi gulungan selang air pemadam dan sebuah kapak.

PRRAANNG...

Tanpa banyak pikir panjang langsung saja Naruto menendang kaca penutupnya hingga pecah dan mengambil sebuah kapak dari sana. Ia gunakan kapak itu sebagai pengunci manual pintu tersebut. Kini sekuat apapun para Zombie itu mendobrak, Mereka tidak akan pernah bisa membuka pintu ini.

Dengan nafas tersenggal-senggal, Naruto dan Sakura kini berdiri saling berhadapan. Di saat yang sama, Mereka saling memeluk satu sama lain. Entah kapan terakhir kali mereka berdua berpelukam seperti ini. Mereka telah melupakannya. Uap kabut keluar setiap kali Naruto dan Sakura menghembuskan nafas mereka. Udara sudah terasa semakin dingin.

"Kuso..."

Umpat Naruto kesal. Karena dirinya hampir saja kehilangan Sakura. Sungguh beruntung takdir masih mau mempertemukan mereka kembali. Entah mengapa, Mereka berdua merasa ingin mendekap satu sama lain. Hanya itu saja. Dan tidak ada salah satu di antara mereka yang tahu jawabannya. Saling berbagi kehangatan di antara ikatan yang telah menghubungkan mereka selama ini. Namun tidak lama kemudian, Naruto mulai melepas pelukannya dari Sakura.

"Sasuke... Di mana Sasuke sekarang...?!"

.

.

.

.

.

.

Suara langkah kaki saling bertautan satu sama lain. Mereka menuruni satu per satu anak tangga dengan perlahan. Naruto masih erat menggenggam tangan seorang gadis cantik berambut merah jambu yang melangkah mengikutinya. Tidak ada seorang pun yang terlihat di ruang tangga darurat ini. Hanya mereka berdua saja. Suasana menjadi begitu sepi dan mencekam kembali. Bahkan kini, Yang ada hanyalah dengung suara tiap langkah sepatu mereka berdua yang menggema.

"Kami... Kami terpisah di lantai dua..."

Setelah sekian lama bungkam, Akhirnya Sakura mengeluarkan suaranya kembali. Dengan pandangan sayu penuh penyesalan, Gadis itu coba untuk menceritakan apa yang terjadi di antara mereka. Sebuah tragedi yang memisahkan dirinya dengan Sasuke.

Sembari terus menuruni setiap anak tangga di bawah kakinya, Naruto masih diam. Sudut kedua manik biru indah itu sedikit melirik ke wajah Sakura. Ia dapat melihat dan memahami bagaimana perasaan Sakura saat ini dengan hanya melirik sendu di antara wajah itu.

"Mereka mendapatkan Sasuke-kun... Aku ingin menolong tapi... Dia menyuruhku untuk pergi dari sana. Demi nyawaku... Sasuke-kun menyuruhku untuk meninggalkannya sendiri di sana..."

Sakura meremas kaos yang ia kenakan. Dengan hanya mengingat bagaimana Sasuke membentaknya untuk menyuruhnya meninggalkan dia, Sakura merasakan rasa sesak di dadanya. Begitu sesak hingga gadis itu kesakitan menahannya. Sasuke lebih mempedulikan nyawa Sakura dari pada nyawanya sendiri. Apa Sakura selemah itu, Sehingga Sasuke tidak ingin Sakura menyelamatkannya... Apa ia begitu lemah untuk menyelamatkan orang lain... Apakah selama ini Sakura menjadi seseorang yang harus selalu diselamatkan... Seperti Naruto yang telah menyelamatkan dirinya kini...? Sangat sesak di dadanya saat memikirkan hal itu. Dan mungkin semua itu adalah benar.

"Aku... Saat itu aku... Benar-benar seperti orang yang tidak berguna-... Ehhkk."

Sakura terpekik kesakitan ketika tiba-tiba Naruto meremas keras tangannya. Membuat kalimat yang ingin Sakura ucapkan berhenti sampai disitu.

". . . .Berhenti mengatakan hal yang tidak berguna."

Gumam Naruto datar.

Sakura terdiam dan hanya bisa menatap Naruto yang tetap menatap kedepan. Melihat Naruto yang sepertinya telah marah kepadanya.

". . . . Karena aku membenci hal itu."

Kedua mata Sakura melebar, Ketika mendengar apa yang Naruto ucapkan. Mendengar kalimatnya yang terakhir itu.

"Apa salahnya melindungi orang lain tanpa mempedulikan dirinya sendiri... Apa salah jika Sasuke mencoba untuk melindungi orang yang ia sayangi..."

". . . . . . ."

"Bahkan jika aku yang berada di posisinya saat itu, Tentu aku akan melakukan hal yang sama..."

Naruto menghentikan langkahnya tepat di anak tangga yang terakhir. Ia mengendurkan genggamannya. Berdiri membelakangi Sakura tanpa memperlihatkan wajahnya.

"Itu karena perasaan kami padamu. Kami berdua akan dengan senang hati mati untukmu. Karena kami..."

"Menyayangimu... Sakura."

Asap tipis terhembus dari nafas pemuda itu, Setelah ia mengucapkan kalimat yang terakhir. Tidak ada kebohongan. Tidak ada kepalsuan di antara tiap kata yang Naruto ucapkan untuknya. Semua itu keluar begitu saja. Murni dari hatinya seperti air yang mengalir.

Sedangkan Sakura berdiri mematung di belakang punggungnya. Bagai sebuah jarum yang menusuk. Air mata Sakura hampir mengalir keluar. Dadanya semakin sesak. Untuk yang kedua kalinya... Naruto mengucapkan kata yang sama seperti di waktu itu. Saat dimana gadis itu menolak perasaan Naruto dan lebih memilih berpaling kepada Sasuke. Ia merasa senang bisa mendengar satu kata itu lagi. Namun disaat yang sama... Sakura merasakan sakit yang luar biasa di dadanya.

Penyelasannya begitu tak berarti...

Memangnya mengapa jika ia lebih lemah dari mereka berdua...?

Memangnya mengapa jika ia tak bisa melakukan apapun untuk mereka berdua...?

Bahkan apa salahnya jika ia menjadi seseorang yang harus mereka berdua lindungi...?

Ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri, Karena mereka berdua menyayanginya. Itulah apa yang ingin Naruto sampaikan kepada Sakura.

Pintu di depan mereka terbuka, Ketika tangan Naruto yang masih menggenggam pisau belatinya mendorong pintu tersebut. Dengan kesiagaan tinggi, Naruto memperhatikan apa yang ada di luar pintu ini.

"Sepertinya aku tidak melihat satu pun dari mereka di lantai ini.."

Ucap Naruto setelah meyakinkan dirinya sendiri jika tidak ada satu pun mayat hidup yang tertangkap oleh kedua direksi matanya.

". . . Tunggu-"

Tiba-tiba saja Naruto mendapatkan sesuatu yang sedikit mengejutkan dirinya.

"A-Ada apa..."

"Lift itu bergerak. Jika begitu, Berarti..."

Naruto melepaskan tangan kirinya dari Sakura, Dan bergegas untuk menuju ke arah sebuah Lift di sana. Entah mengapa pemuda itu langsung saja menekan tombol Liftnya.

"Sakura, Tertap di belakangku."

Perintahnya kepada gadis yang juga mengikuti langkahnya.

Tidak ada penolakan atau apa pun dari Sakura. Gadis itu hanya menurut pada kata Naruto dan segera mundur tepat di belakang punggungnya. Penunjuk Digital di atas pintu Lift tersebut menunjukkan angka 1 bersama anak panah yang menunjuk ke atas. Yang berarti ada sesuatu yang sedang menggunakan Lift tersebut untuk naik keatas. Jika memang benar seperti itu, Maka Naruto ingin memastikan hal tersebut dengan cara menghentikan laju Liftnya di lantai 2, Lantai dimana ia dan Haruno Sakura berada.

Naruto menatap siaga. Genggamannya mengerat pada pisau belati yang tertuju ke arah pintu Lift tersebut. Dengan sabar ia menunggu apa yang akan terjadi nanti. Sementara Sakura masih berdiri tepat di belakang punggungnya. Menuruti apa yang telah Naruto katakan tadi.

Tiing...

Penunjuk Digital di sana telah menunjukkan angka 2 bersamaan dengan notifikasi Lift yang ikut berbunyi.

Sekali lagi Naruto lebih mengeratkan genggamannya pada belati yang ia pegang. Mengarahkannya tepat ke arah pintu Lift yang akan terbuka. Menyiapkan dirinya dengan apa yang akan terjadi berikutnya.

Perlahan dua pintu tersebut saling bergerak ke samping. Sakura berpegangan pada ujung kain belakang kemeja biru tua milik Naruto ketika Lift di sana mulai terbuka. Tatapan Naruto kian menajam memperhatikan apa yang ada di balik sana.

CEKREKK...

Sebuah Glock-17 terbidik ke arah kepala Naruto setelah dua pintu tersebut telah terbuka sepenuhnya. Kedua manik biru Naruto melebar. Begitu terkejut mendapati siapa yang ada di dalam sana.

"Sa-... Sasuke-kun..."

Gumam Sakura pelan saat direksi matanya menatap Uchiha Sasuke yang berdiri bersampingan dengan Kakashi di sana.

"Ahh... Jadi kalian rupanya. Aku sampai terkejut tadi."

Kata Kakashi sembari menurunkan kembali senjata genggamnya itu.

"Kelihatannya kau berhasil, Kakashi-sensei..."

Ucap Naruto yang juga ikut menurunkan pisau belatinya ketika tahu siapa yang telah menggunakan Lift itu.

Sasuke melangkah keluar dari sana dengan perlahan. Namun Sakura sudah berlari terlebih dulu ke arahnya. Sebuah pelukan erat tercipta. Sakura langsung mendekap tubuh kekasihnya dengan perasaan kalut.

"Ku-Kukira... Kukira Sasuke-kun... Sasuke-kun telah-"

"Bodoh..."

Sasuke menghentikan kalimat yang akan mengalir dari mulut Sakura yang kini hampir menangis. Mereka berdua telihat bagai telah tidak bertemu selama seabad. Sakura memeluk tubuh Sasuke begitu erat. Seolah tidak ada keinginan untuk melepaskannya kembali.

"Hhh... Jangan mengatakan hal yang seburuk itu pada kekasihmu sendiri. Aku telah ada di sini. Tepat di pelukanmu bukan... Jadi, Tidak ada yang perlu kau cemaskan lagi... Sakura."

Sasuke mengusap pucuk kepala kekasihnya itu. Mencoba menenangkan gundahnya. Walau sebenarnya Sasuke pun juga ingin membalas pelukan Sakura. Namun Naruto ada di sini bersama mereka. Sasuke hanya mencoba untuk tidak melupakan keberadaan sahabat berambut kuningnya itu. Hanya itu saja yang ada di pikirannya.

"Kalau tidak salah, Aku tidak menyuruhmu untuk ikut mencari mereka. Benar bukan... Naruto?"

Kakashi melemparkan sebuah pertanyaan untuk seorang pemuda berambut kuning rancung yang berdiri sendiri di sana. Jari telunjuk Kakashi masih menekan sebuah tombol di dalam Lift agar pintunya tetap terbuka. Naruto hanya menghela nafas panjang sebelum memberikan jawaban dan alasannya.

"Kau benar. Tapi, Bagaimana mungkin aku diam saja saat kedua sahabatku dalam bahaya bukan...? Aku percaya padamu untuk menemukan mereka. Tapi di sisi lain, Aku juga mengikuti intuisiku sendiri... Kakashi-sensei."

Jawab Naruto menjelaskan alasan yang ia miliki.

"Huh? Ngomong-ngomong... Apa kau mengerti apa itu intuisi, Naruto?"

Tanya Kakashi dengan memasang raut bertanya ke arah pemuda itu. Sementara yang ia tanyai malah memasang muka kebingungan.

Naruto melirik ke arah Sasuke sambil berbisik pada sang Uchiha muda disana.

"O-Oeii... Intuisi itu apa, Sasuke?"

Tapi yang ia bisiki malah mengalihkan wajahnya ke arah lain sambil menghela nafas pelan menanggapinya.

"...Bodoh."

TWIIIIICCHH!

Seketika muncul perempatan besar di atas dahi Naruto saat mendengar jawaban mengejutkan dari sahabatnya itu.

"TE-TEEEEME!"

Kesal Naruto memasang wajah hiu ke arah Sasuke. Sementara itu, Sebuah tawa kecil muncul ketika Sakura melihat mereka berdua. Sakura tersenyum setelahnya. Senyum yang mengantarkannya kepada ingatan masa lalu di antara mereka bertiga. Melihat Naruto dan Sasuke yang seperti sekarang ini, Membuat Sakura tersadar akan kenangan bersama dengan mereka berdua. Betapa indahnya kenangan tersebut, Sebelum kengerian ini menyebar dan membakar hangus kenangan-kenangan itu.

"Yahh... Kurasa tidak masalah jika kau berhasil menemukan Sakura bersamamu. Mungkin aku tidak akan bisa menemukannya jika kau tidak mengambil tindakan yang seperti."

Ucap Kakashi Hatake menjadi pemisah di antara mereka.

"Eh...? Itu..."

Naruto kebingungan saat direksi matanya tertuju pada beberapa kerusakan di dalam ruang Lift. Naruto dapat melihat dengan jelas ada bekas darah, cakaran, dan tusukan dimana-mana tepat di belakang Kakashi. Saat melihat kemana arah jari Naruto menunjuk, Kakashi menoleh untuk melirik kebelakang.

"Ahh... Ini terjadi saat tidak sengaja kami bertemu dengan dua makhluk besar yang sangat ganas. Kami diserang ketika akan lari menggunakan Lift ini. Aku masih belum tahu tentang mereka. Tapi baru kali ini aku melihat tingkat mutasi yang seperti itu."

Jawab Kakashi menjelaskan asal-usul bekas kerusakan yang ada di belakangnya. Mendengar cerita dari Kakashi, Naruto memasang raut seriusnya.

'Jadi mereka telah sampai ke tempat ini. Terlebih lagi... Mereka berada tepat satu lantai di bawah kita sekarang. Ini masalah yang cukup serius...'

Gumam Naruto dalam hati sembari menatap lantai di bawah kakinya.

"Sebaiknya kita segera kembali ke atas sekarang juga. Kiba dan yang lain telah menunggu kita."

Ucap Naruto coba memberi saran kepada mereka bertiga. Mengingat betapa mengerikannya jika melawan makhluk-makhluk itu. Akan jauh lebih baik jika mereka lebih menyayangi nyawa mereka dan menghindarinya. Itulah yang terpikirkan oleh Naruto saat ini.

Sasuke, Sakura, dan Kakashi tidak menyangkal saran dari Naruto tadi. Mereka bertiga menganggap bahwa saran yang ia berikan itu benar. Mereka tidak boleh berlama-lama di sini jika tidak ingin bertemu dengan dua makhluk mengerikan itu.

Sasuke berbalik dan mulai melangkah masuk kembali kedalam Lift. Sakura dan Naruto mengikutinya dari belakang. Lalu Kakashi menekan sebuah tombol yang membuat pintu Lift itu kembali tertutup rapat. Mereka berempat terbawa naik keatas. Dengan lantai ke-4 sebagai tujuan mereka.

.

.

.

To Be Continue...

.

.

.