"Just Wanna Hold Your Hands"

The Place Of Hope

Chapter 12 : "Hanya ingin menggenggam Tanganmu"

Genre : Adventure, Horror & Gore

Main Cast : Naruto U., Sakura H., Sasuke U.

Caution! Contains violance & profanity (17th +)

.

.

.

.

.

Hembusan angin kuat dan kabut mulai mereda dan perlahan menghilang. Kini tidak ada lagi sesuatu yang menghalangi jarak pandang bagi seorang gadis berambut pirang untuk membidikkan Arctic Warfare Magnum miliknya. Arah lensa Scope Sniper itu tengah mengincar target yang bergerak di antara kerumunan mayat hidup jauh di bawah sana. Dari jendela gedung yang rusak ini, Jari telunjukknya telah siap untuk menarik sebuah pelatuk.

jenDAAAARRR...!

Suara menggelegar terdengar dari atas. Di saat yang sama satu makhluk terjetuh menggaruk tanah akibat terhujam peluru dengan dahsyatnya. Makhluk itu mati tepat sebelum berhasil menyerang Hashirama yang mengunci fokusnya menembaki para mayat hidup di hadapannya.

'Bagus. Tetap seperti itu... Ino.'

Gumamnya sambil sedikit melirik ke arah gedung tinggi di sana.

Suara tembakan yang sama juga terdengar dari jendela-jendela gedung yang lain setelah gadis itu sukses melepaskan tembakannya. Para regu penembak jitu dari berbagai divisi dikumpulkan melingkari area ini sesuai dengan arahan dari Minato. Mereka berperan aktif membantu tim Hashirama yang berada di bawah. Dan akan terus seperti itu hingga misi ini terselesaikan.

CEKREEKKLL...

Sebuah selongsong kosong yang masih panas terlempar keluar dari bilik Slider senjata miliknya. Dengan begitu satu peluru baru dari slot magasin terdorong otomatis menuju ke kamar peluru, Dan siap untuk ditembakkan kembali kapan saja yang ia mau.

'Sekarang aku mulai mengerti garis besar dari misi ini. Memang benar, Rencana yang ia susun sempat membuatku bergidik ngeri. Tapi orang itu... Entah mengapa... Sifatnya sama menyebalkannya seperti Naruto. Senyumam bodoh mereka berdua sangat menjengkelkan.'

Gumam Ino pelan sambil melirik sebuah kamera yang terpasang pada tripod di sampingnya.

Flashback...

.

.

.

.

.

Suara dari mesin sebuah helikopter yang mendarat di atap markas besar Divisi khusus Konoha begitu memekakkan gendang telinga. Meski begitu, Tidak ada satupun dari sekian banyaknya orang yang berkumpul menyambut kedatangan helikopter di sana terganggu. Termasuk juga bagi seorang gadis berambut pirang panjang yang berada di helikopter tersebut.

Kaki-kaki helikopter itu telah menyentuh tanah. Seluruh kontrol sistem telah dimatikan. Kecepatan sepasang baling-baling diatasnya mulai menurun statis. Namun hembusan angin masihlah kuat menerpa udara. Membuat rambut panjang indah milik gadis itu menari oleh karenanya.

"Otsukaresama!"

Tiga personel langsung mendekat ke arah tim yang bersama dengannya setelah turun dari helikopter itu. Seseorang dari mereka mengucapkan salam atas kerja keras timnya sambil memberi sebuah hormat.

Yamanaka Ino membalas hormat personel itu dengan sebuah hormat juga. Sudut mata birunya melirik Presiden yang berjalan dikawal oleh banyak orang berjas hitam.

"Hehhhhh..."

Lenguhnya membuang nafas panjang setelah melalui misi melelahkan yang baru saja ia jalani.

Ino masih berdiri di sana. Menatap tangan kanannya yang telah keram semenjak tadi. Malam ini sepertinya telah ia lalui dengan berat. Mengingat ia telah selesai menjalankan misi yang begitu penting. Yaitu misi penyelamatan sekaligus penjemputan seorang tokoh yang telah membuat Divisi ini ada. Seseorang yang berjasa membangun kesatuan Divisi khusus Konoha yang sangat rahasia ini dari nol hingga sekarang. Tidak lain dan tidak bukan, Adalah Presiden Jepang sendiri.

"Misi ini berhasil. Kerja bagus untuk kita."

Sebuah tepukan di pundak kirinya menyadarkan Ino dari lamunannya. Seseorang dari timnya berjalan melewati Ino sambil menepuk pundaknya sesaat. Ino sedikit tersentak oleh itu, Namun dengan begitu ia sadar jika harus segera memberi laporan tentang misi mereka.

"...Ya."

Mereka bertiga yang telah turun menyentuh tanah dari helikopter pun mulai melangkah bersama untuk memasuki markas besar ini. Ino menuruni tangga yang menuju ke lantai bawah. Tidak seperti biasanya, Gedung ini benar-benar terlihat sangat sibuk. Pasti sesuatu yang besar telah berjalan di sini, Itulah apa yang terlintas di benaknya.

Kedua kakinya mengantarkan Ino pada satu ruangan luas dengan banyak meja dan berkas-berkas penting. Lebih tepatnya, Ia telah sampai di ruang kantor markas ini. Dua rekannya telah berpisah dengan dirinya saat akan memasuki ruang ini. Membuat Ino harus sendirian melaporkan hasil dari misi yang baru ia lakukan.

"Yamanaka Ino dari tim Alpha, Siap melapor untuk misi yang telah kami selesaikan."

Ucapnya sembari tegak memberi hormat di depan seseorang yang tengah meneliti berkas-berkas yang ada di mejanya dengan seksama.

"Rescue Operation tim Alpha sepertinya telah sukses. Dan ini kali kedua dirimu menjadi ketua dari Team-E ini. Kerja bagus... Yamanaka."

Jawab seorang pria paruh baya di depannya.

"Ada hal mendesak yang ingin kusampaikan padamu. Aku diperintahkan untuk menyampaikan hal ini saat kau telah kembali dari misimu. Seluruh unit penembak jitu dipanggil di ruang persiapan. Semuanya, Tanpa terkecuali. Ini panggilan dari ketua Divisi-3."

Kata pria itu lagi melanjutkan apa yang ingin ia sampaikan.

"Letnan, Maaf... Sebenarnya ada dua hal yang ingin aku tanyakan kepada anda."

Kata Ino bersikap sopan kepada seseorang yang pangkatnya lebih tinggi dari dirinya.

"Biar kutebak. Apa salah satu dari pertanyaan itu adalah tentang keramaian yang tengah terjadi di markas ini sekarang?."

Tanya pria paruh baya itu kepada Ino yang sedikit terkejut karenanya.

"Y-Ya... Sebenarnya, Apa yang sedang terjadi disini... Mereka terlihat sangat sibuk saat kami kembali."

"Sebenarnya hal itu ada kaitannya dengan meningkatnya aktifitas di markas ini yang menjadi sangat-sangat sibuk. Ada misi besar yang baru saja berlangsung. Hampir seluruh personel yang Hashirama-taichou miliki dikerahkan pada misi ini."

"Se-... Seluruh personel?!"

Tanya Ino dengan raut sangat terkejut.

'Sampai harus menerjunkan seluruh personel... Misi macam apa yang tengah berlangsung ini...?' Gumamnya dalam hati tidak percaya dengan hal tersebut.

"Lalu, Bagaimana dengan pertanyaanmu yang kedua itu? Biar kita selesaikan denfan cepat karena kau harus memenuhi panggilan dari mereka segera."

Tanya seorang Letnan duduk di hadapannya.

"Maaf, Ini adalah yang terakhir. Dan mungkin ini juga bisa dibilang adalah sebuah permintaan. Letnan, Dalam misi ini kami telah kehilangan satu rekan kami. Bisakah anda mencari dimana keberadaannya saat ini? Sebagai ketua tim Alpha regu-E, Sudah menjadi bebanku untuk bertanggung jawab atas seluruh personel yang ikut dalam misi ini."

Jelas Ino panjang lebar menjelaskan situasinya.

"Huh...? Bukankah seluruh personel yang menjalankan operasi ini bersamamu telah kembali dengan 3 nama yang lengkap, Termasuk namamu di dalamnya."

Jawab Letnan itu sedikit kebingungan.

Tapi justru di sisi Ino yang lebih kebingungan lagi. Dengan disertai raut terkejutnya, Ino mencoba menjelaskan kembali apa yang tengah dimaksudnya.

"Letnan, Jangan bercanda. Keseluruhan misi ini terdiri dari 4 personel yang diterjunkan ke lapangan. Termasuk diriku yang menjadi ketuanya!"

". . . . .?"

Kini pria paruh baya di hadapannya menjadi benar-benar dibuat bingung oleh Ino. Sesaat tidak ada jawaban darinya. Ia mencari-cari sesuatu di atas meja kerjanya.

"Lihat ini... Hanya ada 3 orang yang berpartisipasi dalam misi yang telah kau jalani. Yang pertama Hodoki Kizuna, Kedua Yuto Misame. Dan yang terakhir adalah ketua dari tim ini, Yaitu dirimu, Yamanaka Ino. Hanya itu saja yang tercantum dalam data resmi di sini."

Pria itu menjelaskan sambil menunjuk-nunjuk sebuah berkas yang ia pegang. Sedangkan Ino melebarkan kedua matanya ketika melihat berkas tersebut. Segera ia rebut secarik kertas itu dari tangan pria tersebut. Melihatnya dengan seksama siapa saja yang terdata dalam berkas itu.

Benar-benar mustahil. Apakah ini sebuah lelucon...? Pikir Ino saat itu juga setelah memelototi nama-nama yang tercantum dalam berkas tersebut. Hanya ada 3 nama yang muncul disana, Termasuk dengan dirinya. Tidak ada nama lain lagi yang terlihat.

"Bualan macam apa ini..."

Gumam gadis itu benar-benar kebingungan dan tidak percaya dengan apa yang ia lihat.

"Dimana nama Hatake Kakashi?! Kenapa namanya tidak tercantum di dalam berkas ini?!"

"Huh...? Apa maksudmu, Yamanaka?"

Pria itu bertanya dengan wajah kebingungan.

"Disini Letnan! Seharusnya ada nama Hatake Kakashi yang tercantumkan di berkas ini! Dia juga ikut dalam misi ini! Dan saat ini kami telah kehilangan kontak dengan dia di tengah-tengah misi!"

Ucap Ino layaknya telah tersulut api. Nada bicaranya meninggi akibat tersulut emosi. Membuatnya lupa dengan siapa ia sedang berbicara.

"Biar kupertegas lagi, personel Yamanaka. Tidak ada satupun nama Hatake Kakashi dalam Squadmu saat misi itu berlangsung. Dan tidak ada satupun nama Hatake Kakashu yang tercatat dalam seluruh berkas anggota personel tim Alpha. Meski kau mencari nama itupun di seluruh berkas resmi yang ada di sini, Kau tidak akan pernah menemukannya."

Jawab Letnan itu dengan tenang menyikapi sikap Ino yang saat ini mulai terbawa oleh emosi. Sebagai orang yang berpengalaman disini, Ia sangat mengerti sikap Ino yang seperti ini. Karena menjadi ketua di sebuah tim bukanlah posisi yang ringan. Begitu banyak tekanan yang akan gadis itu dapatkan. Contohnya seperti saat ini.

Sedangka. Di sisi Ino, Gadis itu masih memasang raut yang sangat tidak percaya dengan semua ini. Ia masih belum percaya dengan kenyataan bahwa tidak ada nama Hatake Kakashi di dalam berkas resmi anggota personel tim Alpha.

"Lalu... Lalu siapakah orang itu... Kenapa bisa dia ada bersama kami saat misi ini berjalan..."

Gumam pelan Ino dengan lamunannya. Namun masih cukup jelas terdengar oleh pria paruh baya di hadapannya.

"Aku pun tidak tahu siapa sebenarnya orang yang kau maksud. Jika sudah tidak ada hal yang ingin dipertanyakan lagi, Segeralah menuju ke ruang persiapan. Saat ini mereka semua pasti tengah menunggumu."

Ino diam membisu untuk sesaat. Tidak tahu apa yang harus ia katakan lagi agar pria itu bisa percaya kepadanya. Bahwa seharusnya ada 4 orang yang ada dalam misi yang telah ia laksanakan. Namun sepertinya ia harus menuruti apa yang Letnan itu katakan. Ia harus segera memenuhi panggilan dari atasan Divisi-3 sekarang juga.

". . . . .Shitsurei Shimasu."

Ucapnya sembari sedikit menundukkan kepala. Lalu berlalu dari hadapan pria itu untuk menuju ke ruang persiapan seperti apa yang telah diperintahkan kepadanya.

Ino melangkah keluar dari ruangan tersebut tanpa menunjukkan tatapan wajahnya. Ia benar-benar tengah tertekan oleh situasi yang konyol ini.

.

.

.

.

.

.

Banyak orang yang terlihat telah berkumpul di ruang persiapan. Atau bisa dibilang, Ruangan untuk Briefing sebelum sebuah misi mulai dijalankan.

"Ah... Itu dia."

Ucap seseorang yang tengah mengecek Arctic Warfare Magnum di genggam kedua tangannya ketika tidak sengaja melihat Ino datang.

"Segeralah berkemas. Kita akan mendapat misi baru, Ino."

Ucap yang lain kepada gadis berambut pirang itu.

"Apa...?"

Ino bertanya kebingungan. Seperti ada yang salah dengan gendang telinganya. Mereka mengatakan akan ada misi baru yang akan mereka jalankan. Tapi Ino sama sekali tidak tahu akan hal itu. Mungkin inilah tujuan dari para penembak jitu di seluruh unit yang ada dikumpulkan di sini. Jumlahnya hampir mencapai 40 personel jika dihitung dengan jari tangan.

Ino menggapai sebuah senjata yang telah dipersiapkan untuknya. Sebuah Sniper yang sama dengan yang tengah mereka semua siapkan. Sebuah Arctic Warfare Magnum. Ino menatap senjata itu dengan wajah lelah.

'Aku benci senjata bertipe Bolt-Action... Terlebih lagi, aku sangat tidak suka suara yang dikeluarkan oleh senjata ini.'

Gumam Ino dalam hati menatap senjata yang akan ia pakai setelah ini.

Drep-Drep-Drep-Drep-Drep...

Suara langkah kaki terdengar mendekati mereka. Saat itu juga terlihat seorang pria paruh bawa yang tinggi tegap dengan rambut berwarna kuning berhenti melangkah di depan ruangan ini.

"Ah, Itu dia..."

"Lihat-lihat! Dia telah datang!"

"Hei, Persiapkan dirimu! Jangan membuat malu nama Team-B di depannya!"

"Jadi inikah ketua Divisi-3 yang namanya sangat dihormati itu... Aku benar-benar tidak percaya bisa melihatnya secara langsung disini!'

Ino yang sepertinya lebih banyak melamun setelah menyelesaikan misinya, Mendengar bisik-bisik dari mereka. Dengan begitu, Ia tertarik mengalihkan direksi kedua matanya untuk tertuju kepada seseorang yang sedang mereka maksud. Pada pandangan pertama, Ino hanya diam tertegun melihat orang yang menjadi ketua Divisi-3 tersebut.

"Aku senang kalian semua telah berkumpul disini. Namaku, Namikaze Minato, Ketua Divisi khusus di regu intelejensi. Jadi, Biar kupersingkat saja. Karena kini waktunya telah mendesak. Mohon perhatikan dengan baik."

Ucap pria yang kini ada berdiri di depan mereka semua.

'Jadi dia orang yang sering dibicarakan itu. Tapi jika diperhatikan baik-baik... Entah kenapa penampilannya mengingatkanku pada seseorang. Terlebih lagi tadi, Dia menyebut Namikaze di antara namanya. Apa jangan-jangan dia ini...'

Ino terpaku pada pemikirannya sendiri ketika melihat rambut berwarna kuning dan sepasang mata yang sebiru Safir itu. Membuat Ino jadi mengingat seseorang yang baru-baru ini ia kenal.

Lampu di ruangan besar tersebut tiba-tiba dimatikan. Hanya cahaya dari sinar proyektor yang menyinari ruangan tersebut. Di belakang Minato, Diperlihatkan sebuah peta yang menunjukkan pusat dari Kota Konoha.

"Kalian akan mendapatkan misi baru sebagai penyangga dari misi yang telah berlangsung saat ini. Kalian semua akan diterjunkan langsung mengitari area ini."

Ucap Minato sembari menunjukkan lokasi dimana mereka semua akan diterjunkan.

"Jadi dengan kata lain... Kalian akan menjadi Back-Up untuk tim Hashirama yang kini telah berada di area itu. Misi ini diperuntukkan untuk mengantisipasi hal-hal yang akan memperlambat jalannya misi mereka. Atau menurut perhitunganku, Pasti akan ada sesuatu yang menjadi penghambat misi dari regu Hashirama."

"Untuk mengantisipasi masalah yang akan datang, Kalian akan dikirim kesana segera. Aku juga meminta kalian untuk membawa kamera dan pemancar sinyal kecil bersama dengan kalian selama misi ini berlangsung. Kamera itulah yang akan menjadi mata bagiku untuk bisa memantau jalannya misi besar yang telah berlangsung ini. Termasuk memantau regu Hashirama disana."

Ino melirik ke arah perlengkapan yang telah disiapkan untuknya. Benar... Ia melihat ada sebuah kamera dan pemancar sinyal di sana. Jika Minato telah menjelaskan bahwa kamera yang akan ia bawa itu untuk menjadi mata baginya, Lalu untuk apa pemancar sinyal ini...?

"Lokasi yang menjadi area dalam misi mereka dan kalian nanti adalah pusat Kota Konoha. Medan di sana telah berubah drastis. Membuat lingkup yang mengitari area tersebut tidak dapat tertembus oleh pancaran sinyal kami. Jadi singkatnya, Pemancar sinyal yang akan kalian bawa nanti adalah sebuah alat untuk mempermudah Divisi-3 dalam berkomunikasi dengan seluruh tim Hashirama."

"Dan dalam misi kali ini, Aku sengaja memilih senjata yang akan kalian gunakan. Arctic Warfare memiliki daya hancur yang mengerikan. Tapi bukan kekuatan dari tiap peluru yang bisa senjata ini tembakkan. Melainkan suaranya yang aku butuhkan dalam misi kalian. Aku mempunyai firasat bahwa makhluk ini... Akan muncul disana."

Lanjut Minato sembari menunjukkan sebuah foto dari makhluk yang memiliki cakar-cakar besar beserta lidah yang panjang. Foto itu terproyeksikan tepat di belakang Minato. Sehingga mereka semua bisa melihatnya dengan jelas. Termasuk untuk Ino.

"Makhluk inilah yang akan menjadi target utama kalian. Tidak memiliki kulit namun memiliki struktur otot yang telah berkembang di seluruh lekuk tubuh mereka. Membuatnya dapat bergerak dengan sangat lincah. Akibat dari mutasi, Otak mereka menjadi bertambah besar. Kedua hal itu membuat mereka menjadi predator yang sempurna sekaligus mengerikan."

"Pergerakan mereka sangat terorganisir jika berada dalam kawanan. Dan insting memburu mereka lah yang menggerakkan seluruh algoritma gerak mereka. Tapi dibalik itu semua..."

Minato menggantungkan sebentar penjelasan panjangnya. Karena disinilah Parameter dari misi mereka.

"...Ada satu kelebihan yang dimiliki makhluk-makhluk ini. Mereka memiliki pendengaran yang sangat luar biasa. Pendengaran itu akan menjadi sebuah pengganti mata yang melihat bagi mereka. Namun disinilah kita akan membalik kelebihan mereka, Menjadi kelemahan yang mutlak!"

"Uh? Kelemahan mutlak?"

"Kelemahan mutlak...?"

"Mengubah kelebihan menjadi kelemahan...? Apa bisa...?"

Mereka semua langsung berbisik-bisik dengan satu sama lain ketika mendengar hal yang mustahil itu dari seorang Minato. Sedangkan Ino masih diam memperhatikan bagaimana orang itu menjelaskan misi yang akan mereka jalankan nanti.

'Mengubah sebuah kelebihan... Menjadi kelemahan? Apa hal yang seperti itu bisa terjadi di Dunia ini? Hal konyol macam apa lagi yang orang ini bicarakan...'

Oceh Ino dalam hatinya masih menatap Minato yang berdiri disana.

"Kalian pasti tahu seberapa besar bunyi sebuah letupan peluru yang dihasilkan dari Arctic Warfare Magnum ini...? Dan apa kalian tahu apa yang akan terjadi jika senjata ini ditembakkan dari sebuah gedung kosong yang gaung...?"

Minato kini bertanya kepada mereka sambil meraih sebuah Sniper yang ada di dekatnya.

Hal yang sama Ino lakukan. Gadis itu menatap senjata yang saat ini berada di tangannya. Ino mulai memikirkan tentang pertanyaan yang diberikan oleh Minato tadi. Apa yang terjadi dengan senjata dengan suara menggelegar ini jika ditembakkan dari dalam sebuah gedung kosong yang gaung? Lalu apa sangkut pautnya hal itu dengan salah satu kelebihan makhluk itu? Tanpa Ino sadari, Dirinya mulai hanyut dalam berpikir.

'. . . . . .?!'

Tiba-tiba setelah sekian lama berpikir, Kedua mata Ino bagai dipaksa untuk terbuka lebar saat ia telah menemukan jawabannya.

"Pendengaran mereka yang sensitif, Akan terganggu oleh bunyi suara yang bising. Jika senjata ini ditembakkan dari sebuah gedung kosong yang gaung, Maka terciptalah suara yang benar-benar sangat bising di gendang telinga mereka. Jadi kita butakan pendengaran yang menjadi mata bagi mereka untuk melihat. Inilah yang kusebut dengan... Membalik sebuah kelebihan, Menjadi sebuah kelemahan yang mutlak."

". . . .?!"

Seluruh personel yang berada disana dibuat ternganga dengan penjelasan logika yang Minato berikan. Mereka semua terkejut ketika menyadari akan hal yang mustahil itu, Menjadi hal yang sangat simpel di tangan seorang Minato Namikaze. Walau sebenarnya bukan hanya mereka saja yang dibuat terkejut.

'J-Jadi... Inikah sosok seorang yang benama Minato Namikaze itu...'

Gumam Ino dalam hati. Tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Melihat seseorang yang begitu mudahnya membalikkan logika di tangannya.

"Satu hal lagi... Mungkin aku tidak memiliki wewenang atau kekuasaan untuk memberikan perintah terhadap kalian sebagai anak buah Hashirama. Tapi, Dengan segala hormatku... Tolong... Pinjamkan aku kekuatan kalian untuk membantu Hashirama."

Ucap Minato sembari sedikit membungkuk di hadapan mereka semua. Apa yang ia lakukan ini dikarenakan dirinya adalah ketua dari Divisi-3, Bukan ketua dari Divisi yang Hashirama pegang.

'A-... A-Apa-apaan dengan sikapnya itu...?! Orang ini merendahkan kepalanya kepada orang-orang yang pangkatnya jauh lebih rendah dari dirinya...?! Apa orang ini benar-benar pantas untuk ditakuti...?!'

Melihat hal itu, Tiba-tiba penilaian Ino yang sebelumnya terhadap Minato hancur begitu saja. Tidak ia sangka seseorang yang paling dihormati di seluruh Divisi khusus ini akan menundukkan kepalanya kepada mereka semua hanya untuk memohon. Ino merasa bahwa Minato tidak pantas merendahkan kepalanya seperti itu di depan mereka. Terlebih lagi, Tindakannya benar-benar sangat aneh untuk seorang berpangkat tinggi. Membuat Ino teringat dengan sifat yang sama seperti seorang pemuda berambut kuning yang baru-baru ini ia kenal.

"Itu semua adalah hal yang ingin kusampaikan kepada kalian semua. Jadi sampai di sini, Apa ada yang ingin kalian tanyakan...?"

Tanya Minato kemudian. Tetapi tidak ada tangan yang terangkat di antara mereka semua yang ada disini.

"Kurasa tidak ada... Baiklah, Dengan ini misi kalian... Dimulai!"

"Siap...!'

Jawab mereka serentak dan mulai bergegas meninggalkan ruangan Briefing. Ruangan itupun berangsur kosong.

Minato juga akan meninggalkan ruangan besar tersebut dan kembali ke markas Divisi-3. Namun langkahnya berhenti di tengah jalan ketika tidak sengaja sudut matanya menemukan seorang gadis berambut pirang yang masih diam berdiri di sana.

". . . . . ."

"Kalau tidak salah namamu... Yamanaka Ino dari tim Alpha, Salah satu dari 10 personel terbaik pilihan Hashirama... Ya kan?"

Tanya Minato saat menatap Ino yang sedikit menundukkan wajahnya.

Tapi dengan mudah Minato mengenalinya walau gadis itu tengah menatap lantai tidak memperlihatkan wajahnya.

"Sebelumnya tanpa mengurangi rasa hormat... Aku meminta maaf. Sebenarnya aku punya satu hal yang ingin kutanyakan kepada anda sebagai ketua dari Divisi intelejensi. Sebuah pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan misi ini. Karena aku yakin bahwa anda, Pasti tahu sesuatu tentang hal yang ingin kutanyakan ini..."

Jawab Ino dengan nada sopan kepada pria paruh baya itu.

Minato diam sejenak menatap gadis tersebut. Sebelum akhirnya mulai melangkah mendekatinya. Mendekati tempat dimana Ino saat ini berdiri. Pria paruh baya itu berhenti tepat di depan dirinya.

"Untuk seseorang yang telah menyelamatkan anakku pada saat insiden di Konoha yang lalu... Aku tidak akan keberatan menjawab semua pertanyaan yang kau miliki."

Ucap Minato dengan tersenyum senang kepada dirinya.

Melihat senyuman itu, Entah mengapa Ino pernah melihat senyuman yang seperti itu dari seorang pemuda. Dan terlebih lagi, Apa maksudnya telah menyelamatkan anaknya itu...? Begitu banyak hal yang membebani kepalanya saat ini. Sehingga Ino tidak begitu ingat dengan baik misi-misi seperti apa saja yang sebelumnya pernah ia lakukan bersama dengan Hashirama.

"Ini tentang Rescue Operation yang tim Alpha telah selesaikan sesaat tadi. Aku merasa ada sesuatu yang sangat aneh tentang misi itu. Sejak awal misi, Ada 5 orang yang dikirim menggunakan helikopter termasuk dengan diriku. Tapi 1 di antara kami punya misi yang berbeda dari kami saat itu. Maka hitungannya kini menjadi 4 personel. Termasuk diriku yang menjadi ketua tim saat itu."

"Lalu...?"

"Sesuatu yang ingin kutanyakan saat ini adalah... Siapa orang yang benama Hatake Kakashi itu... Mengapa namanya tidak tercantum dalam data misi tersebut, Dan tidak datanya tidak tercantum pada semua berkas resmi yang ada disini...

"Mengapa dia bisa masuk dan ikut dalam misi itu..."

". . . . ."

"Siapakah sebenarnya orang itu..."

"Aku pun pernah ditugaskan oleh Hashirama-taichou menjadi patnernya untuk menemui Uzumaki Kushina-san saat di kapal induk. Aku merasa, Bahwa anda sepertinya tahu sesuatu akan hal ini. Jadi-"

Ino menghentikan kalimat yang ingin ia katakan ketika melihat wajah dari Minato. Entah mengapa reaksi yang pria itu berikan sangat-sangat biasa. Sepertinya Minato tidak terkejut atau pun kebingungan tentang semua pertanyaan yang Ino berikan.

"Hatake... Kakashi, Ya kan?"

Tanya Minato untuk sekali lagi memastikan siapa yang sedang Ino maksud.

"Baiklah... Akan kuberitahu padamu kebenarannya. Tapi ini akan menjadi rahasia kita berdua saja. Mengerti...?"

Lanjut Minato lagi. Mencoba memberikan kesepakatan kepada Ino.

"Aku mengerti. Aku akan merahasiakannya dari yang lain."

Ucap Ino dengan keyakinannya.

"Hatake Kakashi... Dia adalah tangan kananku. Dan diriku juga lah yang memberi perintah padanya untuk ikut bersama tim Alpha saat itu. Soal kenapa ia bisa masuk ke misi itu tanpa seorang pun yang mengetahuinya... Yahh... Itu memang kemampuannya."

Ucap Minato menjelaskan sembari memegang belakang kepalanya dengan tertawa kecil.

Lagi-lagi sifat yang muncul dari Minato membuat Ino kesal sendiri. Bahkan dirinya pun sempat bertanya apa semua ketua di Divisi ini punya sifat aneh sepertinya?.

"Dan tentang data pribadinya yang tidak bisa ditemukan dimana pun di tempat ini... Itu diriku juga yang telah mengaturnya. Bisa dibilang, Dia adalah seorang personel khusus di Organisasi khusus ini. Jadi tak perlu mengkhawatirkan tentang siapa dia dan dimana dia sekarang. Yahh... Keberadaan seseorang yang bernama Hatake Kakashi adalah sebuah rahasia di balik bayangan."

Lanjut Minato menjelaskan siapa jati diri seorang Kakashi yang sebenarnya kepada Ino.

Gadis itu hanya diam mendengar setiap kalimat yang terucap. Lidahnya keluh untuk bicara. Hanya bisa berdiri terpaku di depan Minato yang telah memberitahu semua kebenarannya.

"Kenapa... Kenapa kau memberitahu semua itu kepadaku... Itu adalah rahasia bukan..."

Ino bertanya dengan raut wajah tak percaya sekaligus kebingungan. Sedangkan kini Minato memberikan tatapan lembut kepadanya.

"Kau baru menjadi ketua dari sebuah tim dalam misi yang penting ya kan... Kupikir jawaban yang kuberikan dari pertanyaanmu akan mengurangi sedikit beban di pundakmu. Kau masih begitu muda, Namun telah diberi beban kepercayaan seberat ini."

"...Hal yang sama juga terjadi pada putraku. Dia menanggung beban yang sama beratnya sepertimu di pundaknya. Tapi aku tidak bisa berbuat banyak untuk mengurangi sedikit beban itu dari pundaknya. Karena itu... Aku juga akan mencoba untuk mengurangi beban yang kau jalani..."

Nadanya begitu halus ketika Minato mengucapkan itu semua. Benar-benar tulus keluar dari hatinya untuk Ino. Sama sekali tidak ada kebohongan di sudut mata biru miliknya. Yang ada hanya sebuah senyuman. Senyuman yang sama seperti senyuman milik seorang pemuda bernama Naruto Namikaze.

.

.

.

Flashback End...

.

.

.

.

.

.

Entah mengapa malam ini udara terasa begitu dingin. Walau bahkan ini bukan musim dingin sekalipun. Dalam hati mereka bertanya-tanya. Akan tetapi tetap tak kunjung menemukan satu jawaban pun.

"Bukankah ini terasa aneh... Kiba. Malamnya tidak seperti biasanya. Benar-benar dingin..."

Ucap seorang gadis manis dengan dua manik yang begitu indah, Tengah memeluk tubuhnya yang kedinginan. Duduk di sebuah sofa mewah.

"Yah... Aku pun juga tak mengerti, Hinata."

Jawab Kiba menanggapi gadis itu. Ia bersandar sambil bersidekap dada tepat di samping pintu ruangan yang redup tersebut. Mencoba menahan terjangan suhu rendah yang menjalar di permukaan kulitnya.

". . . . . ."

Suasana begitu tenang setelahnya. Tidak ada yang mengeluarkan suara lagi. Mereka berdua, Dan ditambah dengan Anko di sana, Diam menunggu tanpa kata.

"Etto... Tidak kah ini sudah terlalu lama...? Maksudku, Semenjak Kakashi-sensei meninggalkan kita dan Naruto-kun yang juga menyusul untuk mencari Sakura dan Sasuke."

Ucap Hinata yang bertanya kepada mereka berdua setelah lama mereka bertiga terdiam.

"Tenang saja, Hinata. Mereka akan kembali. Mereka semua pasti akan kembali. Percayalah..."

Kata Anko yang melemparkan senyum untuk menenangkan kegelisahan gadis tersebut.

"Ya... Kurasa apa yang Sensei katakan itu benar..."

Balas Hinata mencoba membalas lembut senyuman Anko. Walau tak bisa dipungkiri bahwa dirinya benar-benar gelisah saat ini.

"Ssttt... Ada yang datang..."

Kiba memberi sebuah tanda untuk tetap diam kepada mereka berdua. Karena gendang telinganya menangkap sesuatu di balik dinding yang ia sandari. Hinata dan juga Anko hanya bisa diam menuruti Kiba.

Pemuda itu melihat kekanan dan kekiri. Mencoba untuk menemukan sesuatu yang berguna baginya. Sesuatu untuk bisa ia jadikan sebagai sebuah alat pertahanan. Dan disaat itu juga mata Kiba menangkap sebuah guji besar di sampingnya. Lekas Kiba meraih guji tersebut, Lalu mengangkatnya tinggi-tinggi melebihi kepalanya sendiri.

Seperti dugaannya, Suara langkah-langkah kaki di luar sana berhenti tepat di depan pintu itu. Kiba merasakan perasaan yang tidak enak akan hal ini. Pemuda itu tetap berdiri disana dengan guji besar di atas tangannya. Masih sabar menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.

Klekk...

Daun pintu itu turun kebawah. Perlahan tapi pasti, Pintu tersebut terdorong dan mulai terbuka oleh sesuatu di luar sana. Jantung Kiba seakan terpacu sendiri, Menatap was-was apa yang akan muncul dari sana. Kedua tangannya masih setia mengangkat guji besar diatas kepalanya. Bersiap untuk menghujamkannya ke arah kepala mayat hidup yang mencoba membuka pintu itu.

Pintunya berhenti begitu saja saat telah terbuka seperempat bagian. Kiba, Anko, dan Hinata merasakan firasat aneh tentang ini. Lama pintu itu tak bergerak kembali setelah sesuatu telah membukanya dari luar. Tangan Kiba mulai bergetar keram menahan beban diatas kepalanya. Satu alisnya berkedut-kedut mendapati begitu lama ia harus menunggu.

"O-Oii... Kenapa kau membawa guji sebesar itu. Kau membuatku takut, Kiba."

Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari balik pintu tersebut, Disertai dengan munculnya wajah yang mengintip di sela celah pintu disana.

"Na-ru-to... Jika ingin masuk kenapa tidak langsung masuk saja hah?!"

Sahut Kiba dengan wajah setengah kesal kearah wajah Naruto yang sedang mengintip di celah pintu itu.

"Tidak-tidak, Justru kau itu yang membuat perasaanku jadi tidak enak Kiba."

Jawab Naruto dengan memandang guji sebesar itu. Jika ia langsung masuk begitu saja, Mungkin guji berat itu akan melayang tepat ke arah kepalanya.

"Kuso... Mengagetkan saja..."

Dengus Kiba sambil meletakkan guji itu kembali ke lantai.

Pintu terbuka setelahnya. Disaat itulah Hinata dan Anko dapat melihat sosok mereka kembali ke tempat ini. Naruto, Kakashi, Sasuke, dan Sakura. Akhirnya mereka kembali dengan selamat.

"Na-Naruto-kun dan yang lainnya telah kembali-"

Hinata sampai berdiri dari tempatnya duduk ketika melihat kedatangan mereka. Walau mereka semua selamat, Namun melihat banyak bercak darah di sisi wajah Naruto dan Sasuke, Dapat Hinata sadari bahwa telah terjadi banyak hal yang telah mereka lalui.

"Yahh... Kami kembali."

Ucap Naruto melangkah masuk kedalam. Disertai Sasuke, Sakura, dan Kakashi yang ada di belakangnya menutup pintu ruangan kamar mewah ini.

"Suhu disini benar-benar aneh."

Kata Kiba setengah menggigil memegangi tubuhnya sendiri.

Sepertinya yang lain terlihat meng-iyakan perkataan Kiba. Terutama untuk Sakura dan Hinata. Tangan Kedua gadis disana tak henti-hentinya bergetar menggigil.

"Sepertinya kita harus memilih. Menjauhi pusat Kota... Atau tetap bertahan disini..."

Kakashi bergumam pelan di belakang punggung Naruto. Seakan tidak ingin ada yang mendengarnya selain pemuda berambut kuning itu.

". . . . .Itu pilihan yang sulit. Mungkin kita bisa bertahan sedikit lama lagi disini. Tapi itu semua sepertinya tergantung pada situasi yang akan datang nanti.'

Sahut Naruto yang juga memelankan suaranya. Menjawab secara diam-diam pertanyaan Kakashi.

"Mendengar nada dan gaya bicaramu, Kau sekarang mirip dengan dia. Tapi... Ada masalah lain yang harus kita perhatikan disini, Naruto."

". . . . .Aku tahu itu."

Balas Naruto dengan kedua manik birunya yang menatap ke arah Anko.

Naruto melangkah, Mendekati tempat dimana Anko tengah duduk mengistirahatkan tubuhnya. Sedangkan disisi Kakashi, Ia hanya melirik apa yang akan dilakukan oleh Naruto. Melihat apa yang akan menjadi keputusan pemuda yang mungkin akan membawa masa depan itu.

'Kau harus mampu membuat suatu keputusan di antara pilihan yang sama-sama sulit. Atau itu akan benar-benar membunuhmu... Naruto.'

Gumam kecil Kakashi yang bersandar pada dinding.

". . . . .Aku tahu kau pasti berhasil. Karena aku selalu percaya akan hal itu, Namikaze-kun."

Anko memberikan senyum selamat datang untuk seorang pemuda bermata biru seindah langit luas yang kini tengah berjongkok di depannya. Disisi Naruto pun, Ia memberi sebuah senyum balasan juga untuk gurunya tersebut.

"Bagaimana dengan pendarahannya..."

Naruto bertanya sembari menatap sayu ke arah lengan yang kini telah terbalut oleh kain putih.

"Hinata berhasil menghentikan pendarahannya. Ternyata gadis itu punya keterampilan seperti ini juga ya... Mungkin dia akan jadi pasangan yang cocok untukmu kelak, Namikaze-kun."

Jawab Anko sembari tertawa kecil bersama senyumannya yang masih belum menghilang. Membuat Naruto juga tertawa kecil saat mendengar hal itu.

"Tolong jangan bercanda Sensei, Bisa gawat jika dia mendengar kita ya kan..."

Balas Naruto menanggapi gurauan wanita muda berparas cantik di depannya itu.

"Tidak apa-apa jika dia sampai mendengarnya iya kan? Lagi pula... Mungkin... Ini akan jadi gurauan terakhirku untukmu."

Ucap Anko kemudian. Menunjukkan senyum setulus malaikat yang telah terjatuh kehilangan satu sayapnya.

". . . . . . ."

Naruto terdiam. Kaki, Tangan, Tubuh, beserta bibirnya seakan tidak bisa lagi untuk bergerak setelah mendengar kata-kata itu. Tiba-tiba saja seperti ada sebuah jarum kecil yang menusuk hatinya. Kecil... Namun rasanya begitu sakit. Naruto kesakitan mendengar kata-kata yang seperti itu.

"Tolong... Berhentilah bercanda... Sensei."

Jawab Naruto. Tanpa memperlihatkan wajah putihnya.

Kini senyum dan tatapan yang Anko berikan berubah menjadi sayu. Anko menatap dalam sosok Naruto di dekatnya. Perlahan, Ia mendekatkan kepalanya ke arah kepala Naruto. Ia meletakkan dahinya, Tepat di dahi Naruto. Mereka berdua kini bersentuhan, Satu sama lain.

"Luka ini semakin memburuk di tiap menitnya. Sesuatu mencoba untuk masuk kedalam pikiranku. Masuk kedalam tiap urat syarafku. Mencoba untuk mengacaukan ingatan yang kumiliki tentang dirimu. Kini... Aku tidak bisa mengingat lagi semua yang telah kita lalui bersama... Naruto"

Gumam Anko pelan. Di antara dahi mereka berdua yang saling bersentuhan, Anko tersenyum tulus. Bersama dengan bercak cairan bening yang mencoba keluar dari pelupuk kedua matanya yang terpejam. Inilah untuk yang pertama kalinya, Anko menyebutkan nama pemuda itu, Menggunakan nama depannya. Pertama kalinya juga, Naruto mendengarnya.

Naruto terdiam. Ia hanya bisa diam dengan menahan rasa sakit yang lebih menghujam dari yang sebelumnya. Rasa sakit yang benar-benar teramat sakit tepat di dadanya. Kedua rahangnya saling bertemu dan bertaut erat. Tidak ada kata-kata yang mampu keluar dari bibirnya.

"Aku bahagia bisa mengenalmu, Walau bahkan jika itu hanya untuk sesaat saja. Aku senang... Kita memiliki banyak kenangan yang telah kita lalui bersama. Walau kini aku sudah tak bisa mengingatnya. Naruto... Jika aku boleh bertanya... Kata apa yang tepat, Untuk protes terhadap waktu ya..."

Air mata mulai jatuh di balik senyumnya yang belum juga luntur. Anko menitikkan air matanya membasahi lantai.

"Hentikan... Jangan bicara lagi..."

Gumam pelan Naruto. Pemuda itu sudah tidak kuat lagi menahannya. Mati-matian ia menahan air mata yang seakan ingin terdorong keluar.

"Me-Mereka... Mereka datang!"

Tiba-tiba saja Hinata berseru. Raut wajahnya menampakkan mimik ketakutan. Ia mencengkram erat kaos di dadanya.

"A-... Apa?!"

Sahut Kiba yang terkejut mendengar Hinata.

"Mereka telah mengetahui dimana tempat kita... Mereka menuju kemari... Sesuatu yang... Yang mengerikan ada diluar pintu itu..."

Lanjut Hinata lagi sembari tsatu telunjuknya menunjuk ke arah pintu kamar ini.

Kakashi yang bersandar di dinding langsung menegakkan tubuhnya. Begitu juga Sasuke dan Sakura yang langsung memasang wajah was-was. Mereka semua menatap ngeri ke arah pintu disana, Terkecuali untuk Naruto dan Anko yang masih diam di tempatnya.

BLAAARR!

Pintu disana hancur terdorong kedalam. Engsel beserta temboknya hancur berantakan. Angin menghempas rambut kuning Naruto yang masih menunduk.

"K-Kuso... Kenapa mereka bisa tahu tempat ini?!"

Decih Kiba menutupi wajahnya dari debu yang terbang berserakan.

Kedua manik hijau milik Sakura terbuka lebar, Saat direksi matanya menatap ke arah sana. Menatap dua monster yang berdiro tepat di depan sana.

CEKREKK...

Kakashi langsung saja menyiapkan Glock-17 ditangannya. Membidik tepat ke arah dua makhluk itu. Jarinya siap kapan saja menarik pelatuknya.

'Ini gawat...! Aku harus memikirkan sesuatu sebelum terlambat...!'

Pikir Sasuke dalam hati.

"Sasuke-kun! Di hotel mewah seperti ini, Bukankah ada tempat untuk melempar piayam ke ruang pencucian di lantai dasar?"

Tiba-tiba Sakura bertanya kepada kekasihnya. Sasuke pun terkejut mendengar pertanyaan Sakura.

"Benar... Itu dia! Kita bisa lari dari sini dengan cara itu!"

Ucap Sasuke yang telah menemukan sebuah cara untuk menjauh dari dua makhluk ini berkat Sakura.

"Sakura, Mungkin tempatnya ada di ruang belakang. Segeralah kesana!. Kiba, Bawa Hinata bersamamu. Cepat pergi sekarang!."

Lanjut Sasuke lagi memberi sebuah arahan untuk mereka.

"Baiklah, Aku mengerti!"

Sakura membalikkan tubuhnya dan langsung bergegar berlari menuju ke ruangan yang ada di belakang kamar hotel ini. Begitupun dengan Kiba yang lekas menggandeng tangan Hinata lagi untuk segera menyusul Sakura.

DARR-DAARR-DARR-DARR

Kakashi mulai melepaskan tembakan saat melihat salah satu di antar monster itu melangkahkan kakinya masuk.

Naruto bangkit dari tempatnya dan berdiri tegak. Kini ia sudah dalam mode bertarung miliknya. Urat-urat merah itu telah keluar disisi pelipis wajah kanannya kembali. Pupil mata kanannya berubah warna semerah darah.

"Sasuke..."

"Aku tahu. Memang inilah yang tengah aku pikirkan tadi. Percayakan Anko-sensei padaku."

Sahut Sasuke sebelum Naruto menyelesaikan kalimatnya.

Sang Uchiha muda pun langsung membantu Anko untuk berdiri dan lekas membawa gurunya itu bersama dengan dirinya, Menyusul ke tempat Sakura dan yang lain di belakang.

DARR-DARR-DAARRR...

'Sial. Ini tak berpengaruh sama sekali. Apa benar Naruto dan yang lain pernah menghadapi monster yang seperti mereka...'

Oceh Kakashi ketika melihat semua tembakannya tidak mempan terhadap mereka.

KRETEK-KRETEKK...

Naruto mengepal kuat hingga tulang-tulang di jarinya berbunyi.

". . . .Aku tidak akan biarkan kalian menyentuh teman-temanku lagi."

.

.

.

.

.

Sakura membuka sebuah pintu di depannya. Kini ia berada di antara ruang kamar mandi dan tempat pembuangan. Ia melihat sesuatu yang ada di dinding di sana. Gadis itupun lekas berlari mendekat. Ia mendorong engsel sebuah kotak alumunium yang ada di dinding itu. Membuatnya terbuka dan memperlihatkan lubang yang cukup besar untuk dilalui seseorang.

"Ini dia! Aku menemukannya!"

Seru Sakura saat dirinya berhasil menemukan celah pembuangan piyama hotel ini.

Kiba bersama Hinata muncul setelahnya. Berlari tergesa mendekati Sakura.

"Apa kita akan terjun kebawah melalui ini?"

Tanya Kiba sedikit ragu saat mengingat di lantai berapa mereka kini berada.

"Kurasa ini adalah pertaruhan. Jika dibawah sana masih ada sisa tumpukan piayama yang belum sempat dicuci, Maka setidaknya kita tidak akan mati meski terjun dari lantai 4 ini..."

Ucap Hinata memikirkan segala kemungkinan yang ada.

"Kurasa apa yang dikatakan Hinata benar. Ini bukan saatnya ragu! Lebih baik mencobanya dari pada mati ditangan monster-monster itu!"

Sahut Sakura dengan keyakinannya membenarkan perkataan Sakura.

"Jangan membuang-buang waktu disini. Naruto dan Kakashi-sensei sedang menghambat mereka. Kita harus secepatnya pergi dari sini sekarang juga."

Ucap Sasuke yang muncul sembari memapah tubuh Anko.

'Naruto-kun...? Naruto-kun melawan makhluk seperti mereka lagi...?!'

Seakan tersentak dengan apa yang dikatakan oleh Sasuke tadi, Kedua mata Hinata terbelalak lebar.

"Sakura, Kau tahu bagaimana cara memakai ini bukan...?"

Sasuke bertanya sembari menyodorkan senjatanya ke arah Sakura.

"Y-Ya... Aku tahu tapi, Kenapa?"

Tanya Sakura masih belum mengerti apa maksud Sasuke yang sebenarnya. Namun ia meraih senjata itu terlebih dahulu sebelum Sasuke menjawab pertanyaanya.

"Terjunlah kebawah. Pastikan tidak ada mayat hidup di ruang pencucian. Bawa senjataku untuk berjaga-jaga. Karena aku akan menyusul bersama Anko-sensei. Kiba dan Hinata akan menjadi yang kedua setelah dirimu. Apa kau mengerti?"

Sahut Sasuke cepat menjelaskan seperti apa rencananya.

"Aku mengerti! Tapi... Pastikan Naruto menyusul nanti. Pastikan mereka semua menyusul kami, Sasuke-kun!"

Sakura memberi tatapan yang meminta kepastian ke arah kekasihnya itu.

". . . . . ."

"Ya... Akan kupastikan. Aku berjanji."

Jawab Sasuke membalas tatapan Sakura. Walau sebenarnya, Sasuke tidak sungguh-sungguh dalam mengucapkan hal itu. Karena ia berpikir pasti akan terjadi hal-hal yang tak bisa diduga nanti.

Meski begitu, Mendengar Sasuke yang mengucapkan sebuah janji, Itu sudah cukup bagi Sakura untuk percaya. Kini tangannya mendorong kotak di dinding itu untuk membuatnya terbuka. Sakura melihat jauh kebawah sana. Benar-benar gelap. Ia tak bisa melihat apapun dari sini.

Glekk...

Susah payah Sakura menelan ludahnya saat membayangkan ia akan terjun dari lantai ini dan jatuh kebawah. Seperti apa yang dikatakan Hinata. Ini adalah sebuah pertaruhan. Jika masih ada sisa piyama bekas yang menumpuk disana, Mungkin dirinya masih bisa selamat. Jika tidak... Mungkin ia akan kehilangan kedua kakinya karena patah. Atau yang lebih parah... Ia akan kehilangan nyawanya.

Namun meski begitu, Ia harus melakukannya sekarang juga. Tidak ada waktu untuk meragu. Sekarang, Atau tidak selamanya!

Sakura menguatkan hati dan keyakinannya. Kemudian dengan seluruh nyawa yang ia pertaruhkan, Sakura masuk dan terjun kebawah melalui celah itu.

Seluruh helai rambutnya bergerak keatas. Ia merasa gravitasi telah menariknya kebawah begitu cepat. Gadis itu memaksakan kedua matanya untuk tetap terbuka. Akan tetapi ia tetap tidak bisa melihat apapun. Yang dapat ia rasakan hanyalah hembusan udara kuat dan dirinya yang meluncur jatuh dengan cepat menuju ke lantai paling dasar.

BRRUUUSHH...

Kedua kakinya telah menyentuh lantai paling dasar. Beberapa piyama putih melayang ke udara setelah ia mendarat tepat diatas tumpukan tersebut. Desah nafasnya tidak beraturan. Adrenalin tinggi benar-benar telah memacu detak jantungnya. Sakura masih diam meringkuk disana. Masih mengumpulkan jiwa yang belum lengkap kembali ke raganya.

"A-Aku... Aku masih hidup..."

Gumamnya pelan. Bertanya entah kepada siapa. Gadis itu hanya menatap kedua tangannya yang menyangga beban tubuhnya diatas sebuah tumpukan piyama bekas.

". . . .?!"

Sesaat kemudian gadis berambut merah jambu itu tersadar akan sesuatu. Ia harus melihat situasi yang ada di ruang pencucian ini segera. Memastikan apa ada mayat hidup yang berada di ruangan ini atau tidak.

Tangannya lekas meraih Arctic Warfare Magnum milik Sasuke yang jatuh tidak jauh darinya berada. Sakura segera bangkit berdiri dan langsung mengarahkan senjata itu ke segala arah di depannya.

". . . . .Tidak ada."

Gumamnya pelan setelah memastikan apa yang bisa direksi matanya lihat.

Sesaat kemudian, Sakura mendengar sesuatu yang akan datang dari celah lubang yang ada diatasnya. Celah dimana ia meluncur jatuh dari sana. Mungkin mereka mulai menyusul dirinya meluncur ke tempat ini, Pikirnya. Sakura segera melangkah mundur kebelakang. Membiarkan seseorang yang akan datang dari atas mendarat dengan aman disana.

.

.

.

.

.

.

Tembakan demi tembakan masih terdengar jelas di gendang telinga Sasuke. Karena lokasi dimana Kakashi dan Naruto bertarung dengan mereka sangatlah dekat dengan lokasi dimana tempatnya berdiri bersama Anko saat ini.

"Hinata dan Kiba telah meluncur kebawah menyusul Sakura. Kini, Saatnya giliran kita. Pegang tanganku erat-erat jika bisa."

Ucap Sasuke.

Pemuda itu mulai melangkah mendekati lubang di dinding itu. Akan tetapi kaki Anko tetap diam tak bergerak. Tangan mereka berdua kini terlepas satu sama lain. Membuat Sasuke terkejut dan menghentikan langkah kakinya.

". . . . .Pergilah tanpaku."

Ucap pelan Anko yang berdiri tidak jauh dari Sasuke. Menatap ubin lantai yang dingin dibawah kedua kakinya. Mendengar dua kata itu, Mata Sasuke terbelalak lebar.

"Apa yang kau katakan..."

Tanya Sasuke dengan suara pelan. Tidak percaya dengan apa yang baru saja gurunya itu katakan.

". . . . . . . ."

"Kau... Sudah tahu bagaimana situasi yang kualami saat ini, Benar bukan... Uchiha Sasuke-kun?"

Anko balik memberikan sebuah pertanyaan untuk seorang murid yang ada di hadapannya. Anko mengangkat wajahnya, Menghadap tepat ke arah sang Uchiha muda.

"Aku tidak bisa lagi bersama kalian. Dirimu pun sangat mengerti akan hal itu ya kan..."

Lanjut Anko lagi.

"Sudah cukup! Hentikan candaanmu yang sama sekali tidak lucu itu, Sensei..!"

Bentak Sasuke dengan suara keras.

". . . . . . . . . ."

"Jika kau menganggapnya sebagai sebuah candaan... Mungkin, Itu akan jadi candaan tidak lucu yang terakhir kalinya dariku untukmu. Gomen ne..."

Anko memberikan senyum lembutnya untuk Sasuke disana. Walau beserta cucuran air mata.

Bibir Sasuke keluh untuk berkata. Bola matanya melebar dan bergetar. Ia tahu bahwa ini akan terjadi. Sasuke tahu bahwa hal seperti ini akan ia lalui. Karena itu ia memilih menjadi yang terakhir setelah Kiba dan Hinata untuk menyusul Sakura. Tapi... Entah mengapa... Kini ia tidak sanggup hanya untuk menahan air mata. Ia telah menyiapkan hatinya untuk ini. Tapi rasa pedih yang menghujam sepertinya telah mengkhianati dirinya.

"Jika saja nanti Naruto marah padamu karena telah meninggalkanku disini... Tolong bisikkan ini untuknya..."

Anko melangkah mendekati sosok Sasuke yang terpaku. Lalu membisikkan sesuatu di telinga Sasuke.

Kedua tangan Sasuke mengepal erat dan bergetar setelah mendengar apa yang Anko bisikkan padanya. Tatapannya hanya bisa menatap lurus ke lantai saat ini.

". . . .Aku yakin, Jika Naruto akan mengerti setelah mendengar hal itu. Tetaplah menjadi sahabat yang terbaik untuknya. Itu pesanku untukmu, Sasuke."

Sasuke, Untuk yang pertama kalinya, Merasakan perpisahan yang teramat menyakitkan seperti ini. Jadi inikah rasa yang sama, Ketika Naruto kehilangan seseorang yang sangat berharga baginya... Jadi inikah, Sebuah rasa dari kehilangan itu...

Di depan Anko, Untuk sesaat Sasuke membungkuk sebagai seorang murid kepada gurunya. Lalu tangannya membuka celah lubang di dinding sana.

". . . . .Kusoo!"

Ucapnya kasar pada dirinya sendiri sebelum terjun dari tempat itu.

Kini Anko sendirian berdiri di tempatnya sekarang. Ia telah memikirkan apa yang akan dilakukannya setelah ini. Sebuah upaya terakhir darinya untuk mereka semua.

Anko terbatuk-batuk hingga berlutut di lantai. Ia membungkam mulut menggunakan satu tangannya. Darah tertumpah mengotori lantai. Pandangannya mulai mengabur. Tubuhnya sudah tidak kuat lagi menahan penyebaran virus tersebut. Mungkin ini sudah menjadi batasnya.

BLLAAAARRR...!

Tiba-tiba Naruto muncul dan terhempas keras menabrak dinding hingga hampir runtuh karenanya. Pemuda itu kesakitakan setelah punggungnya begitu keras menghantam ke dinding. Debu dan pasir tembok jatuh di mengotori rambut kuningnya.

"Cih... Kuso..."

Dengusnya pelan sembari melepaskan diri dari retakan di tembok tersebut. Tanda di pelipis mata kanannya entah mengapa kini telah menghilang. Mungkin Naruto benar-benar telah kelelahan setelah berulang kali memaksakan tubuhnya untuk menembus batas maksimal seorang manusia biasa. Namun meski begitu, Dirinya tetap berusaha untuk bangkit berdiri kembali.

Anko yang tengah berlutut di lantai, Menengok ke arah belakangnya. Saat itulah, Tatapan mereka berdua bertemu kembali.

"Sensei..."

Naruto melangkah mendekatinya dengan tertatih. Disaat yang sama, Kakashi muncul dari balik pintu disana. Pria berambut perak itupun menutup dan mengunci pintu tersebut. Tangannya menyeret sebuah lemari pendingin besar yang ada di dekatnya. Kakashi meletakkan kulkas besar itu tepat di depan pintu untuk menjadi pengganjal dan penghalang bagi mereka.

"Dimana yang lain...? Dimana Sasuke...?"

Naruto bertanya pada Anko yang meringkuk di lantai. Dengan bercak darah yang tertumpah tepat di bawahnya.

"Jangan khawatir, Mereka telah terjun kebawah..."

Jawabnya.

"Lalu kenapa kau masih berada disini...?!"

Tanya pemuda itu dengan nada sedikit meninggi. Naruto menarik tubuh Anko untuk berdiri dan menuntunnya ke arah celah lubang pembuangan.

"Pergilah dulu, Aku akan menyusul nanti..."

"JANGAN BOHONGI AKU...!'

Tiba-tiba Naruto membentak Anko yang berada di sampingnya.

" Sudah cukup... Hentikan lelucon ini dan ikutlah bersama kami. Aku yakin kau bisa bertahan. Bertahanlah sedikit lagi... Sensei..."

Nada tinggi Naruto perlahan melunak. Ia menatap sayu ke arah gurunya itu dengan tatapan memohon.

"Aku... Aku juga ingin... Tapi maaf, Aku sudah..."

"Kau pasti bisa! Kau pasti bisa... Percayalah..."

Entah bagaimana lagi Naruto harus memohon kepadanya. Naruto sudah kehabisan cara untuk membujuk Anko. Pemuda itu sudah tidak bisa terus memaksanya lebih dari ini.

Namun, Anko tidak menjawab dan mengalihkan pandangannya ke arah Kakashi yang berdiri di belakang. Ia menatap Kakashi yang juga tengah menatapnya.

"Apakah... Kau yakin...?"

Tiba-tiba Kakashi memberi sebuah pertanyaan. Seperti seolah mengerti arti dari tatapan itu. Anko hanya mengangguk untuk memberikan jawabannya. Naruto sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi di antara mereka berdua.

Tapi yang jelas, Kini Kakashi bergegas untuk menyalakan sebuah oven. Namun ia biarkan oven yang telah menyala itu tetap terbuka. Setelahnya, Kakashi mencopot saluran gas yang terpasang pada sebuh kompor. Lalu meninggalkannya begitu saja.

'Apa-apaan ini...'

Tanya Naruto dalam hati. Masih belum mengerti apa yang sedang Kakashi lakukan.

"Naruto... Aku akan menunggumu dibawah. Segera susul kami disana."

Ucap Kakashi sambil menepuk pundak pemuda itu. Lalu masuk dan menghilang melalui celah pembuangan tersebut. Meninggalkan mereka berdua disini sendiri.

". . . .?!"

Kedua mata Naruto melebar, Ketika dirinya menyadari apa yang telah Kakashi lakukan tadi.

"Tidak mungkin... Jangan-jangan, Sensei..."

"Benar... Aku akan melakukan hal itu. Cepat pergilah. Mereka semua telah menanti dirimu."

Sahut Anko setelah Naruto tahu apa yang akan diperbuatnya.

"Tidak... Aku tidak akan pergi dari sini jika kau tidak ikut denganku sekarang juga. Aku akan tetap disini bersamamu."

Plaakk...

Sebuah tamparan melayang ke pipi Naruto. Anko menamparnya dengan cukup keras.

"Kenapa, Kenapa kau begitu keras kepala... Naruto..."

Gumamnya pelan.

". . . . . . . ."

Naruto hanya terdiam, Setelah menerima tamparan tersebut.

"Alasan mengapa mereka bisa mengetahui tempat dimana kita berada, Adalah karena luka ini. Dimana pun aku pergi, Mereka akan selalu bisa menemukanku. Bahkan jika aku mampu bertahan dari virus ini, Aku akan tetap membahayakan nyawa murid-muridku yang lain. Termasuk dirimu..."

Perlahan kedua tangan Anko menyentuh lembut kedua pipi Naruto. Membuat pemuda itu untuk menoleh ke arahnya. Dan untuk kedua kalinya, Anko menyandarkan dahinya ke dahi Naruto. Ia ingin saat-saat terakhirnya ini, Bisa sedekat mungkin dengan seseorang yang sangat berarti baginya. Seseorang yang telah ia sayangi, Seperti seorang kakak yang tulus menyayangi adiknya.

"Naruto... Aku yakin kau sudah menyadarinya dari awal bukan... Tapi, Tapi kenapa kau keras kepala sampai seperti ini..."

Anko menangis. Bertanya dengan nada yang sangat pelan. Air matanya telah menitik berjatuhan.

"Karena aku, Tidak ingin lagi kehilangan orang yang sangat kusayangi. Aku tidak ingin kehilangan dirimu... Aku tidak ingin..."

Naruto menggenggam lembut tangan Anko yang berada disisi wajahnya. Kedua mata pemuda itu terpejam dan bergetar. Bahkan sebenarnya, Ia sudah tak mampu lagi membendung air matanya yang akan tertumpah.

BRRAAKKKHH!

Sebuah cakar besar menembus pintu disana. Mereka mencoba membukanya. Kulkas besar disana tidak mampu menahan kekuatan mereka. Namun bau dari gas pun telah tercium pekat. Bersamaan dengan oven yang telah memanas.

"Sudah tidak ada waktu lagi... Naruto, Bisakah aku meminta satu hal padamu...? Mungkin ini akan menjadi satu permintaanku yang terakhir kalinya. Kumohon... Dengarkanlah permintaan ini..."

Kata Anko untuk pemuda itu.

Namun Naruto sama sekali tidak menjawab apapun. Karena kini ia sudah tidak mampu lagi untuk bicara. Sudah terlalu sakit rasa yang menghujam di dadanya. Kedua mata Anko terpejam. Lalu ia tersenyum, Di sela air mata yang terus mengalir di wajah damainya.

"Kuharap, Aku bisa mengingatnya lagi, Senyumanmu di hari itu. Terima kasih Naruto... Telah mengisi kekosongan hatiku ini, Dengan banyak kenangan indah darimu. Jaga mereka. Jaga mereka semua untukku."

Anko mendekatkan bibirnya. Lalu menautkannya ke bibir Naruto. Anko memberikan ciuman pertamanya itu kepada murid yang paling ia sayangi. Mata Naruto terbuka lebar. Ia sadar bahwa ini adalah ciuman perpisahan di antara mereka. Sudah tidak tertahan lagi. Air matanya ikut mengalir. Jatuh membasahi lantai. Dengan seluruh kepedihan ini, Naruto membalas ciuman itu. Membalasnya dengan sangat lembut.

"Ini adalah perpisahan, Naruto. Teruslah hidup... Aku akan selalu menyayangimu hingga akhir nafasku nanti."

"Sayonara, Aishiteru..."

Naruto merasakan sebuah dorongan di dadanya. Membuat tubuhnya terhempas ke arah celah lubang pembuangan itu. Sesuatu yang bisa ia lihat, Adalah tangan Anko yang telah mendorong tubuhnya. Akan tetapi sudah terlambat. Meski ia ulurkan tangan miliknya sekalipun, Tangan itu sudah tak bisa lagi mencapai Anko disana.

Naruto terjatuh dan terjun menuju kebawah. Disaat yang sama, Kamar itu meledak keras. Celah yang gelap ini disinari oleh terangnya kobaran api disana. Tubuhnya terus tertarik oleh gravitasi, Namun ia masih menatap ke atas sana. Tepat dimana kamar itu meledak.

'Aku senang... Kita memiliki banyak kenangan yang telah kita lalui bersama. Walau kini aku sudah tak bisa mengingatnya lagi'

Kata-kata Anko masih membekas di hati Naruto.

'Aku masih ingat... Aku masih bisa mengingatnya... Semua kenangan kita dulu... Sensei.'

Ucap Naruto dalam hati, Saat tubuhnya tengah berada di udara dengan tiap helai rambutnya yang mergoyang.

Ingatan tentang mereka berdua terputar kembali di hati Naruto. Saat dimana Anko tengah memarahinya. Saat Anko sedang menceramahinya. Saat Anko yang tersenyum memuji indah nama ibunya. Naruto masih bisa mengingat semua kenangan itu. Kenangan yang tidak bisa lagi Anko ingat.

Air mata di kedua sudut matanya telah terhapus oleh hembusan udara. Dan mungkin kini telah mengering. Ia merasa, Tubuhnya terus tertarik oleh gravitasi. Terus meluncur jatuh kebawah sana. Tidak ada yang bisa ia dengar. Kecuali suara Anko dalam kenangannya yang terputar kembali. Kedua matanya masih menatap binar-binar cahaya api di ujung sana. Tanpa ia sadari, Punggungnya telah menyentuh lantai terbawah.

Benturan terjadi. Beberapa piyama terbang keatas saat Naruto jatuh tepat di tengah-tengahnya. Bahkan sampai piyama-piyama itu kembali jatuh ke lantai pun, Kedua mata Naruto yang kosong masih menatap lurus ke atas sana. Tubuhnya seakan tidak mau bergerak. Atau mungkin dirinya sendiri yang tidak ingin bergerak dari sana. Terus terbaring disana melihat ujung celah yang bercahayakan kobaran api tersebut.

"Kuso..."

Kedua matanya kembali memanas dan bergetar. Air matanya yang telah kering kini kembali menetes. Satu per satu menetes jatuh membasahi piyama putih di bawahnya. Mengingat kembali perpisahan yang menyedihkan ini... Naruto menggigit bibir bawahnya...

". . . . . . . . ."

"Kusoo..."

.

.

.

.

"Just Wanna Hold Your Hands"

The Place Of Hope

Chapter 12 : "Hanya ingin menggenggam Tanganmu"

Genre : Adventure, Horror & Gore

Main Cast : Naruto U., Sakura H., Sasuke U.

Caution! Contains violance & profanity (17th +)

.

.

.

To Be Continue...

.

.

.

Next Chapter~~~

"Ayo kita pergi dari sini..."

"Kukira kau akan marah kepadaku... Naruto."

"Ino, Teruslah fokus pada targetmu."

"Aku mengerti!"

"Bagaimana dengan situasi di area perbatasan?"

"Berjalan sesuai apa yang telah direncanakan. Tapi kami mulai kehabisan amunisi."

"Jemput aku segera. Mereka tidak membawa gadis itu."

"Naruto... Apa kau bisa mendengarku?"

"Suara ini..."

"Semoga berhasil. Aku percayakan misi ini padamu."

"Sepertinya Minato berhasil menipuku lagi kali ini."

"J-Jadi dia... Kakak dari Sasuke..."

"N-Naruto... A-Apa itu kau..."

"Bagaimana... B-Bagaimana bisa kau ada disini..."

"Tentu saja untuk menyelamatkanmu ya kan... Sona."