BRRAAKKKHH!

Sebuah cakar besar menembus pintu disana. Mereka mencoba membukanya. Kulkas besar disana tidak mampu menahan kekuatan mereka. Namun bau dari gas pun telah tercium pekat. Bersamaan dengan oven yang telah memanas.

"Sudah tidak ada waktu lagi... Naruto, Bisakah aku meminta satu hal padamu...? Mungkin ini akan menjadi satu permintaanku yang terakhir kalinya. Kumohon... Dengarkanlah permintaan ini..."

Kata Anko untuk pemuda itu.

Namun Naruto sama sekali tidak menjawab apapun. Karena kini ia sudah tidak mampu lagi untuk bicara. Sudah terlalu sakit rasa yang menghujam di dadanya. Kedua mata Anko terpejam. Lalu ia tersenyum, Di sela air mata yang terus mengalir di wajah damainya.

"Kuharap, Aku bisa mengingatnya lagi, Senyumanmu di hari itu. Terima kasih Naruto... Telah mengisi kekosongan hatiku ini, Dengan banyak kenangan indah darimu. Jaga mereka. Jaga mereka semua untukku."

Anko mendekatkan bibirnya. Lalu menautkannya ke bibir Naruto. Anko memberikan ciuman pertamanya itu kepada murid yang paling ia sayangi. Mata Naruto terbuka lebar. Ia sadar bahwa ini adalah ciuman perpisahan di antara mereka. Sudah tidak tertahan lagi. Air matanya ikut mengalir. Jatuh membasahi lantai. Dengan seluruh kepedihan ini, Naruto membalas ciuman itu. Membalasnya dengan sangat lembut.

"Ini adalah perpisahan, Naruto. Teruslah hidup... Aku akan selalu menyayangimu hingga akhir nafasku nanti."

"Sayonara, Aishiteru..."

Naruto merasakan sebuah dorongan di dadanya. Membuat tubuhnya terhempas ke arah celah lubang pembuangan itu. Sesuatu yang bisa ia lihat, Adalah tangan Anko yang telah mendorong tubuhnya. Akan tetapi sudah terlambat. Meski ia ulurkan tangan miliknya sekalipun, Tangan itu sudah tak bisa lagi mencapai Anko disana.

Naruto terjatuh dan terjun menuju kebawah. Disaat yang sama, Kamar itu meledak keras. Celah yang gelap ini disinari oleh terangnya kobaran api disana. Tubuhnya terus tertarik oleh gravitasi, Namun ia masih menatap ke atas sana. Tepat dimana kamar itu meledak.

'Aku senang... Kita memiliki banyak kenangan yang telah kita lalui bersama. Walau kini aku sudah tak bisa mengingatnya lagi'

Kata-kata Anko masih membekas di hati Naruto.

'Aku masih ingat... Aku masih bisa mengingatnya... Semua kenangan kita dulu... Sensei.'

Ucap Naruto dalam hati, Saat tubuhnya tengah berada di udara dengan tiap helai rambutnya yang mergoyang.

Ingatan tentang mereka berdua terputar kembali di hati Naruto. Saat dimana Anko tengah memarahinya. Saat Anko sedang menceramahinya. Saat Anko yang tersenyum memuji indah nama ibunya. Naruto masih bisa mengingat semua kenangan itu. Kenangan yang tidak bisa lagi Anko ingat.

Air mata di kedua sudut matanya telah terhapus oleh hembusan udara. Dan mungkin kini telah mengering. Ia merasa, Tubuhnya terus tertarik oleh gravitasi. Terus meluncur jatuh kebawah sana. Tidak ada yang bisa ia dengar. Kecuali suara Anko dalam kenangannya yang terputar kembali. Kedua matanya masih menatap binar-binar cahaya api di ujung sana. Tanpa ia sadari, Punggungnya telah menyentuh lantai terbawah.

Benturan terjadi. Beberapa piyama terbang keatas saat Naruto jatuh tepat di tengah-tengahnya. Bahkan sampai piyama-piyama itu kembali jatuh ke lantai pun, Kedua mata Naruto yang kosong masih menatap lurus ke atas sana. Tubuhnya seakan tidak mau bergerak. Atau mungkin dirinya sendiri yang tidak ingin bergerak dari sana. Terus terbaring disana melihat ujung celah yang bercahayakan kobaran api tersebut.

"Kuso..."

Kedua matanya kembali memanas dan bergetar. Air matanya yang telah kering kini kembali menetes. Satu per satu menetes jatuh membasahi piyama putih di bawahnya. Mengingat kembali perpisahan yang menyedihkan ini... Naruto menggigit bibir bawahnya...

". . . . . . . . ."

"Kusoo..."

.

.

.

.

.

Kakashi, Hinata, Kiba, Sakura, Sasuke...

Dan Naruto... Yang menjadi nama terakhir di antara mereka yang tersisa. Berkumpul di ruangan pencucian bangunan hotel mewah ini. Hampir semua dari mereka tertunduk menyembunyikan ekspresi kesedihan. Cukup dengan melihat Naruto yang terbaring disana beserta raut wajah putus asanya, Mereka sudah tahu apa yang telah terjadi. Di Kota para orang mati ini... Sekali lagi mereka semua kehilangan satu sosok yang berharga. Seseorang yang begitu berarti untuk mereka, Setelah bagaimana perjuangan mereka untuk lalui semua ini.

Suara langkah kaki dari sang Uchiha muda terdengar. Berjalan mendekati sosok sahabatnya yang terbaring masih meratapi takdir yang berlalu.

"Sudah saatnya. Ayo kita pergi dari sini... Naruto."

Ucap Uchiha Sasuke, Mengulurkan satu tangannya ke arah pemuda itu.

Dengan tatapan kosong, Naruto melirik tangan yang terulur untuknya. Menatap siapa yang telah memberikan uluran itu baginya. Dan saat itu juga, Kedua matanya menemukan sosok seorang Uchiha Sasuke. Berdiri disana. Menunggu dirinya untuk menyambut uluran tersebut.

'Sou ka... Sou da na...'

'Kisah yang sudah terjadi di tempat ini telah berakhir dan akan menjadi masa lalu. Sebuah kenangan yang amat menyakitkan pada nantinya. Namun mereka semua telah menungguku untuk kembali bangkit. Dan melanjutkan kisah ini bersama-sama lagi...'

Satu tangan Naruto bergerak. Terangkat untuk menyambut uluran itu. Naruto menggenggamnya. Menggenggam tangan Sasuke yang terulur untuknya.

'Mereka masih disampingku. Dan akan selalu begitu walau berapa kalipun aku terjatuh...'

Uchiha Sasuke menarik tangan Naruto. Untuk membantunya bangkit berdiri. Kedua manik biru sedalam lautan menatap satu per satu teman-temannya. Menatap mereka yang masih ada untuk menunggu dirinya.

'Yang perlu kulakukan sekarang... Hanya bangkit dan melangkah maju. Melindungi mereka yang selalu ada disampingku...'

"Ikuzo... Minna..."

Ucap Naruto setelah membersihkan sisa debu yang mengotori celana panjang hitamnya. Tak ada lagi raut putus asa. Tak ada lagi tatapan kosong yang tersirat. Yang ada hanya wajah yang menatap lurus kedepan dengan keyakinan. Naruto melangkah melewati mereka. Berjalan menyongsong angin yang ada di depan.

". . . . . ."

"Kukira kau akan marah padaku... Naruto."

Langkah kaki pemuda berambut kuning itu terhenti di tengah jalan, Ketika ia mendengar kalimat yang keluar dari mulut Sasuke yang tertuju untuknya. Naruto diam sejenak. Menghirup nafas panjang, Sebelum menoleh ke arah Sasuke di belakang.

"Aku memang marah padamu. Jangan minta ampun saat kuhajar nanti... Teme."

Ucap Naruto, Bersama dengan senyum picing di sudut wajahnya.

Mendengar kata-kata tersebut, Sasuke hanya bisa mematung. Ia terdiam sebentar saat Naruto kembali berbalik dan berjalan ke depan. Sesaat kemudian, Sang Uchiha pun memejamkan wajahnya lalu tersenyum.

"Yah... Hajar aku nanti sepuasmu..."

Gumamnya pelan. Kemudian ikut melangkahkan kedua kakinya menyusul sahabat kuningnya itu. Dari hati, Sasuke senang... Melihat Naruto yang sama sekali tidak marah ataupun berubah membencinya. Ia melihat Naruto yang kini, Begitu tegar dan bijaksana dalam menyikapi sesuatu yang rumit dan sesulit ini. Sesuatu yang telah menyayat hatinya saat kehilangan seseorang yang menyayangi dirinya.

Hela nafas keluar dari mulut Sakura. Padahal saat ini ia merasa pasti akan ada pertengkaran di antara kedua pemuda yang telah lama menjadi sahabat tersebut. Memikirkannya saja sudah membuat jemari Sakura bergetar. Namun melihat pemandangan yang terjadi barusan, Sakura benar-benar merasa teramat lega. Gadis itu kemudian bergerak dari tempatnya menunggu, Dan berjalan menggandeng jemari Sasuke yang melangkah melewatinya.

Hal yang sama dirasakan oleh Kiba. Sungguh aneh melihat teman dekatnya itu yang bersikap tenang seperti ini setelah semua yang sudah terjadi. Namun bukankah sedari dulu teman dekatnya itu memang aneh...? Kini tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang Naruto. Semuanya telah berangsur pulih. Pulih berkat pemuda berambut kuning disana.

'Mattaku da... Putramu benar-benar telah tumbuh menjadi seseorang yang sepertimu...'

Gumam Kakashi dalam hati setelah beranjak dari tempatnya bersandar, Dan mulai menyusul mereka semua dari belakang.

'Dia memiliki ketegaran yang luar biasa. Aku bisa melihat aura ketenangan yang ada pada dirinya. Mungkin kelak, Ia akan melampaui dirimu. Dia akan tumbuh jauh lebih kuat dari siapapun...'

.

.

.

.

.

.

.

Di tengah suhu dingin yang menusuk kulit, Mereka berlima berenam melanjutkan perjalanan. Berjalan kaki di pinggiran Kota, Untuk menjauhi lokasi area yang meletup bagai medan perang disana. Naruto telah memutuskan untuk sementara pergi menjauh dari pusat Kota. Tentu keputusan ini ia ambil agar mereka semua dapat bertahan dari hawa dingin yang menusuk tulang. Semakin jauh dari pusat Kota, Akan semakin bagus.

Mereka berenam terus melangkah menuju ke arah timur Kota yang telah luluh lantak ini. Semakin lama, Suhu dingin semakin terkendali. Dimana mendekati suhu normal ketika memasuki musim dingin. Pemikiran Naruto tepat untuk saat ini. Dengan Kakashi yang membawa mereka menuju ke sebuah stasiun kereta yang telah lama tidak terpakai. Lokasinya benar-benar terasingkan di pinggiran Kota Konoha.

KRIIEETTT...

Kakashi membuka pintu sebuah gerbong kereta tua yang telah keluar dari jalurnya dengan sangat hati-hati. Menggunakan Glock-17 yang ada di tangannya, Kakashi memeriksa tiap sudut gerbong ini tanpa ada yang tertinggal.

"Sepertinya disini aman. Cepat masuk dan tutup pintunya rapat-rapat."

Sahut Kakashi dari dalam gerbong kereta.

Sakura muncul dari pintu masuk. Diselingi Sasuke di belakangnya. Lalu Kiba dan Hinata naik bergantian menyusul mereka. Naruto masih diam di depan pintu. Sudut matanya masih melirik pemandangan pusat Kota yang bisa terlihat olehnya. Naruto lama terlamun sendiri disana tanpa kata.

'Disana... Sona pasti ada disana...'

Lamunnya sendiri, Tidak menghiraukan dingin yang hampir membekukan seluruh peredaran darahnya.

"Naruto-kun...?"

Sebuah suara memanggil namanya. Naruto tersentak dan tersadar oleh panggilan Hinata yang khawatir menatapnya.

"Ah... Maaf."

Sahutnya singkat, Lalu segera melangkahkan kakinya naik ke gerbong kereta tua ini.

Pintu masuk disana telah ditutup rapat-rapat oleh Naruto yang menjadi orang terakhir melaluinya. Kakashi bersama Kiba dan Sasuke memeriksa dan menutup satu per satu jendela kereta yang masih terbuka. Naruto pun ikut serta membantu mereka bertiga.

"Sampai kapan kita harus berlindung di tempat ini... Sensei.'

Naruto membisikkan sebuah pertanyaan kepada pria di sampingnya itu. Dan sejenak Kakashi terdiam untuk berpikir sebelum memberikan jawabannya.

"Mungkin... Sampai misi disana terselesaikan."

". . . . . . ."

Kini tiba akhirnya mereka bisa berkumpul dan beristirahat untuk melepas lelah walau mungkin hanya sejenak. Namun sepertinya hanya itu hal yang terbaik bagi mereka.

Kiba memilih duduk berdekatan dengan Hinata di kursi panjang yang ada di dalam satu gerbong kereta ini. Sedangkan Sasuke sepertinya akan selalu berada di dekat Sakura. Kakashi memilih tempat duduk yang sejajar dengan tempat duduk Hinata dan Kiba. Dan hanya Naruto yang duduk di bawah lantai. Menyandarkan punggungnya yang telah teramat lelah di dinding gerbong kereta. Nampak seperti ingin mengasingkan diri dari mereka.

Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang mengucap sepatah kata. Mereka sudah terlalu lelah untuk mengeluarkan suara. Belum lagi masih tersisa pedih di setiap hati mereka, Setelah kehilangan seorang guru yang selama ini telah berjuang bersama-sama dengan mereka untuk tetap hidup di Dunia yang hancur penuh kengerian ini.

Bulan di atas langit malam sana nampak samar. Tertutup oleh awan-awan yang berlalu lalang. Namun secerca sinar yang bulan berikan, Sedikit memberi terang di malam yang gelap.

"Naruto..."

Seorang gadis berambut merah jambu disana memanggil pelan nama pemuda yang kini memejamkan lelah kedua matanya.

"Kurasa... Sudah saatnya kami mendengar semuanya darimu. Semua hal yang tidak kami ketahui sampai di detik ini..."

Ucap Lagi gadis itu menunduk. Mencoba meminta secara halus kepada Naruto, Agar pemuda itu mau menjelaskan semua hal yang masih belum mereka semua mengerti.

"Kurasa kau benar..."

Jawab pelan Naruto, Sembari sedikit membuka kedua matanya. Hanya menatap ke lantai yang dingin.

". . . . . . . ."

"Aku tidak tahu bagaimana harus mengawalinya. Tapi kurasa... Sebaiknya kita kembali ke waktu itu. Kembali ke hari dimana kita berada di dermaga..."

.

.

.

.

.

.

.

.

Ratusan butir selongsong yang kosong berserakan di sekitar area dimana tim Hashirama tengah berada. Senjata yang ia genggam tak henti-hentinya menembak. Menghabisi seluruh dari mereka para mayat hidup. Satu per satu masalah telah tertangani dengan sempurna berkat Namikaze Minato yang menjadi pusat kendalinya.

Jumlah dari mereka yang sebelumnya nampak bagai puluhan ribu semut yang berkumpul di pusat Kota Konoha, Kini hanya menyisakan seperempat saja. Sepertinya misi besar Divisi khusus Konoha ini hampir mencapai kata berhasil dengan sedikit korban yang jatuh. Berpuluh-puluh barel amunisi nampak masih cukup tersedia untuk terus melanjutkan misi ini. Tak henti-hentinya para personel melakukan Reload saat peluru di dalam senjatanya telah habis.

Di sudut jendela sebuah gedung tinggi di sekitar area itu, Banyak pula personel penembak jitu yang tersebar mengitari medan pertempuran. Masih setia memberikan tembakan Back-Up untuk tim Hashirama yang berada di bawah. Termasuk juga bagi seorang gadis berambut pirang di antara mereka. Ujung jemari telunjuk miliknya telah puluhan kali menarik pelatuk senapannya. Puluhan kali juga peluru yang ia lesakkan menghujam tepat di kepala para Licker yang coba menyerang personel-personel di bawah.

Ia dan para penembak jitu yang lain pun sepertinya harus bertarung dengan hawa dingin yang begitu menusuk. Diakibatkan mereka adalah pasukan mendadak yang dikirim ke area ini tanpa memakai perlengkapan yang sama dengan tim Hashirama. Dari awal mereka memang hanya memakasi seragam dan rompi reguler milik Divisi khusus seperti biasa. Karena itulah hingga sampai saat ini, Mereka sama sekali tak terlindungi dari tekanan suhu yang sangat ekstrem disini.

Tidak jarang juga kedua lengan Ino gemetaran karena menahan dingin yang memeluknya. Membuat bidikkannya sedikit terganggu.

jenDAAARRR...

Suara menggelegar dari sebuah tembakan terdengar lagi. Namun tembakan tersebut tidak jelas terarah kemana. Yang bahkan Ino sendiri pun terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan. Tidak sengaja jari telunjuk miliknya yang sudah terlanjur kaku dan gemetaran tersebut menekan pelatuk senjatanya. Membuat satu peluru liar terlontar tanpa target yang jelas.

"Ino... Apa kau tidak apa-apa...?"

Sebuah suara terdengar dari alat komunikasi miliknya.

"Hanya sedikit menggigil. Maaf untuk yang tadi... Aku tidak akan mengulanginya."

Jawab Ino berusaha menenangkan tubuhnya yang sudah mulai menggigil tiada henti.

"Apa kau yakin? Kami bisa menarikmu dari sana jika keadaanmu mulai memburuk."

Sahut Minato bertanya kembali kepada Ino.

"Sungguh, Aku tidak apa-apa. Ini hanya hal kecil. Aku akan berusaha sampai akhir bersama Hashirama-taichou."

Jawab Ino berusaha meyakinkan Minato.

". . . . . ."

"Aku mengerti. Baiklah kalau begitu. Teruslah fokus pada tergetmu..."

"Diterima, Minato-taichou."

Jawab Ino singkat sesudahnya.

Sementara itu di markas besar Organisasi rahasia Konoha, Lokasi yang jauh dari area misi, Minato masih memperhatikan mereka dari layar-layar monitor yang ada di hadapannya. Berkat ide yang ia dapatkan, Kini Minato dapat dengan mudah menyambung komunikasinya dengan seluruh personel yang telah terjun ke lapangan. Sejauh ini, Ide kamera dan transmiter sinyal telah berhasil membuat Divisi-3 terus terhubung dengan regu Hashirama dan yang lain.

Dua mata yang sebiru mata milik putranya itu selalu mengawasi jalannya misi besar ini tanpa kehilangan celah sedikitpun. Minato diam di tempat duduknya, Namun sinyal-sinyal di otaknya selalu bergerak. Memikirkan segala apa yang akan terjadi nanti, Termasuk cara untuk mengatasinya. Otaknya tak pernah berhenti untuk tetap fokus berpikir.

"Tolong pindai seluruh lingkup area badai ini menggunakan pemindai panas tubuh."

Ucapnya untuk siapa saja yang ada di dekatnya.

"Uhh? Ba-Baik!"

Jawab seorang Staff disana.

Seperti apa yang telah Minato perintahkan, Mereka memulai untuk proses pemindaian seluruh lingkup area yang terkena badai buatan. Dengan kata lain, Seluruh area yang mencakup area misi besar ini, Pusat Kota Konoha.

Monitor besar di hadapan Minato yang sebelumnya memproyeksikan peta biasa Kota Konoha mulai berganti menjadi peta yang memproyeksikan suhu tubuh dengan Rendering pemindai panas. Saat prosesnya selesai sempurna, Terlihatlah titik-titik oranye kemerahan yang menandakan bahwa itu adalah suhu tubuh milik seluruh personel Hashirama di pusat Kota. Dengan dikelilingi oleh ratusan titik berwarna biru oranye yang dapat dipastikan suhu tubuh milik para mayat hidup yang mengelilingi mereka.

Kedua mata Minato teliti menatap titik-titik objek berwarna di depannya. Direksinya menyapu seluruh lekuk peta besar Kota Konoha.

". . . . . .Syukurlah."

Gumamnya pelan. Akan tetapi masih bisa terdengar oleh para Staff yang bekerja bersamanya di ruangan ini.

"Eh? Ada apa, Minato-taichou..."

Tanya mereka bingung.

"Masih ada dari mereka yang selamat dari insiden mengerikan itu... Para survivor yang masih bertahan hidup."

Terang Minato singkat memberitahu apa yang telah dia temukan pada proyeksi map tersebut.

"Be-Benarkah?!"

"Lihatlah ini..."

Jemari Minato mengetik tombol-tombol di keyboardnya untuk mengganti titik fokus dan pembesaran lokasi map yang ia tuju.

"Eh...? Warna itu..."

"Ya... Tidak salah lagi. Titik-titik warna itu adalah warna dari suhu tubuh orang-orang yang masih bertahan hidup. Oranye kekuningan. Warna mereka menunjukkan jelas bahwa mereka tengah sangat kedinginan saat ini.

Sahut Minato memastikannya kepada rekan-rekannya.

"Minato-taichou yang bisa menemukan mereka disaat yang seperti... Benar-benar hebat..."

Puji mereka melihat bagaimana keahlian Minato di Divisi-3 ini yang sama sekali belumlah hilang semenjak ia telah berhenti dari posisinya dulu.

"Ini bukan saat yang tepat untuk menyanjung seseorang sepertiku. Tolong hubungkan aku kembali dengan Hashirama."

Ucap Minato tetap merendah seperti biasanya.

"Siap!"

Dengan cepat koneksi Earphone miliknya kembali terhubung dengan Earphone milik Hashirama.

"Hashirama, Kau bisa mendengarku?"

". . . . .Minato?"

"Aku menemukan beberapa orang yang masih selamat. Mereka mengungsi dan bertahan di sekitar blok-J. Kurasa titik lokasinya berada di dalam sebuah Mall. Tapi aku sudah kehabisan personel disini. Tidak ada pilihan lain selain dirimu, Hashirama."

Kata Minato melalui Earphone miliknya.

"Benarkah?! Baiklah, Aku akan segera menuju kesana!"

Jawab Hashirama yang terdengar sangat terkejut dengan kabar ini.

"Diterima. Aku akan segera mengirim kendaraan evakuasi untuk menjemput mereka 15 menit dari sekarang. Berhati-hatilah."

Sahut Minato. Dan komunikasi mereka berdua pun berakhir. Lalu setelahnya, Minato bangkit berdiri dari kursinya.

"Sekarang... Waktunya pergi."

Ucap Minato.

Seluruh Staff disana terkejut mendengat kata-kata Minato barusan. Kata-kata yang mengartikan bahwa Minato lah yang akan menjadi penjemput para pengungsi yang masih selamat disana.

"Tu-Tunggu... Apa jangan-jangan, Minato-taichou akan..."

"Tentu saja. Kita tidak punya siapa pun yang tersisa untuk dikirim kesana bukan?"

Jawab Minato seolah bisa menebak apa yang ada di pikiran mereka.

"Itu tidak benar! Aku masih ada disini, Masih ada bersama dengan anda! Tolong kirim aku kesana untuk menggantikan anda, Minato-taichou!"

Tiba-tiba saja seseorang menyela Minato dan membungkukkan tubuhnya di depannya. Memohon agar Minato mau memberi perintah kepadanya untuk segera menuju ke area berbahaya itu.

"Kazuo benar. Masih ada kami disini. Dapat bersama dengan anda lagi disini, Apapun akan kami lakukan demi misi ini! Aku akan menemani Kazuo untuk pergi kesana."

Sahut seseorang yang berada di dekat Minato lagi dengan tangan yang memberi hormat. Mereka benar-benar membuat Minato tercengang. Pria paruh baya itu hanya terdiam berdiri dengan kedua mata yang melebar. Minato terkejut akan pilihan yang mereka pilih. Mereka semua masih memiliki rasa hormat tinggi kepada sosok mantan ketua Divisi intelejensi tersebut.

". . . . . ."

"Begitu... Baiklah, Aku mengerti. Kuberikan ijin dan perintah pada kalian untuk menjadi penjemput mereka. Tolong, Kembalilah dengan selamat..."

Minato tersenyum mengalah pada anak buahnya dan memberikan ijin itu kepada mereka berdua.

"Siap!"

"Siap!"

.

.

.

.

.

.

.

.

Angin masih berhembus kencang di antara tekanan suhu dingin yang luar biasa. Seluruh area ini benar-benar nampak bagai tengah dilanda badai es sungguhan. Sudah banyak jumlah mayat dari para Zombie yang telah tertembak mati disekitar lingkaran barikade militer. Jasad-jasad mereka menumpuk bagai membentuk sebuah dinding yang baru. Sehingga kini Hashirama dapat berdiri tegak diatasnya.

"Dengar! Aku butuh 3 orang untuk pengalihan misi baru yang akan kita terima. Ada warga Kota yang masih selamat tidak jauh dari area ini. Kita akan menuju kesana sekarang juga untuk melakukan evakuasi secepatnya!"

Hashirama berteriak kepada para personelnya.

"Dimengerti, Kapten!"

Sahut mereka setelah mendengar perintah darinya. Lalu 3 personel yang berada tidak jauh dari Hashirama segera menghampirinya.

Mata mereka menatap ke arah ratusan mayat hidup di depan sana. Tidak tahu apa yang harus mereka lakukan untuk menerobos kawanan besar tersebut. Karena jika dilihat dari sudut pandang mereka, Medan perang ini seperti layaknya lautan para Zombie kelaparan. Akan tetapi satu-satunya rute tercepat untuk mencapai lokasi yang akan mereka tuju adalah jalanan ini.

"Mereka terlalu banyak. Bagaimana cara kita untuk melewatinya, Kapten...?"

Tanya salah seorang dari mereka.

Hashirama membuang slot amunisi yang telah kosong. Sembari berpikir cepat, Pria bertubuh tegap itu memasang slot amunisi yang baru di atas Frame SMG-P90 miliknya.

CEKREKK...

". . . . . . . .Kita gunakan formasi busur panah."

Hashirama menjawab pertanyaan dari salah satu personelnya dengan jawaban singkat. Mendengar rencana yang telah Hashirama tentukan, Membuat mereka berpikir bahwa mungkin hanya formasi itulah satu-satunya pilihan yang paling efektif.

Menggunakan formasi busur panah dengan beranggotakan empat orang yang menjadi pusatnya, Memang cara termudah untuk membuka jalan dengan perluasan area yang sedikit lebar dari pada jika mereka menggunakan formasi baris sejajar.

"Kita mulai misinya!"

Seru Hashirama sembari melompat turun dari gundukan jasad-jasad Zombie yang telah tertembak mati.

"Siap!"

"Siap!"

"Dimengerti!"

.

.

.

.

.

.

.

Sementara itu...

Di ruang komando Divisi Intelejensi Organisasi Rahasia Khusus Konoha, Minato masih tetap memasang raut wajah siaga miliknya. Tidak peduli berapa jumlah misi yang harus ia monitoring di waktu yang bersamaan, Minato tetap setia duduk di kursi miliknya memberi bantuan kepada mereka semua yang saat ini berada di lapangan.

Siku tangan kanannya bersangga di atas meja. Sambil menggigit satu jarinya, Ia terus mengawasi tiap pergerakan regu-regu personel yang tertampilkan di banyak layar. Menampakkan bahwa tiada hentinya otak Minato untuk terus-menerus berpikir jauh kedepan. Ia telah siap membuat suatu rencana bila mana terdapat problema dalam jalannya misi-misi besar ini di waktu yang sama.

Namun sepertinya konsentrasi tingkat tinggi Minato itu tiba-tiba terganggu akibat gambar pada layar monitor yang memproyeksikan jalannya seluruh misi Divisi Anti Bio-Terrorist Unit mulai memudar.

Kedua alis Minato Namikaze mengerut tajam. Karena ia tahu bahwa sedikit demi sedikit memudarnya gambar pada beberapa layar monitor saat ini bukanlah sekedar dari gangguan teknis belaka. Sketsa Loading muncul pada tiap-tiap layar monitor yang mulai kabur. Seluruh Staff yang bekerja berusaha mengutak-atik setiap keyboard di masing-masing meja kerja mereka untuk mengembalikan fokus gambar monitor yang makin mengabur.

"Aku telah memeriksa segala perangkat yang ada dalam kamera-kamera kit, Tapi tidak ada satupun yang bermasalah! Sepertinya gangguan ini sama sekali bukan berasal dari sana!"

"Ini percuma! Kami tidak bisa mengembalikan titik fokusnya!"

"Ada apa sebenarnya ini?! Seseorang, Cepat hubungi bagian seksi teknisi sekarang juga!"

"Itu tidak perlu..."

". . . . .?!"

Para Staff yang panik karena masalah ini tiba-tiba saja terdiam bingung. Arah direksi pandangan mereka kini terpusat kepada satu orang yang mengeluarkan suara paling akhir di ruangan ini. Mereka semua menatap Minato dengan pandangan yang bertanya.

"Kita kalah. Jaringan kontrol kita telah diretas."

Ucap Minato dengan sangat-sangat tenang. Berbeda dari seluruh rekan-rekannya yang langsung terserang panik akibat munculnya masalah yang secara mendadak ini.

Dapat bereaksi setenang itu, Tidak lain dan tidak bukan Minato telah memikirkan bahwa hal yang seperti ini akan terjadi. Pasti akan terjadi walau itu cepat atau lambat. Semua telah terpikirkan di dalam otak pria paruh baya berambut kuning tersebut.

"Eh?! Seluruh enkripsi jaringan keamanan kita telah dihapus paksa oleh satu molekul data tak dikenal..."

Seorang Staff disana terkejut dengan kerusakan parah jaringan mereka yang telah terserang sebuah virus dari satu perangkat. Apa yang Minato ucapkan ternyata benar. Ada sebuah perangkat yang telah membobol sistem keamanan jaringan mereka secara paksa. Lebih tepatnya, Seluruh jaringan milik Divisi-3 telah diretas oleh seseorang.

"Minato-taichou, Ada satu saluran yang telah masuk. Tidak salah lagi, Ini adalah Broadcast. Dan akan masuk dalam hitungan... 3... 2... 1..."

Setelah mendengar hitungan yang terakhir, Seluruh pasang mata yang ada ruangan ini terbuka lebar-lebar sesaat sesudah sebuah siaran video stream muncul di setiap layar monitor pada waktu yang sama. Bahkan untuk Minato yang selalu tenang disetiap masalah pun harus dibuat bangkit berdiri dari kursi panasnya. Kedua manik sebiru langit angkasa itu pun dipaksa terbuka lebar sembari melepas Earphone di telinganya.

"A-... Apa-apaan semua ini..."

Gumam seorang Staff yang berada tak jauh di sampingnya.

Sedangkan Minato masih terpaku menatap layar monitor dengan pandangan tak percaya. Dalam sekejap saja, Ruangan ini menjadi sepi senyap. Sama sekali tak ada yang bisa mengeluarkan suara. Semuanya terpaku menatap lauar-layar monitor itu.

". . . . .Perbesar dan pindai wajahnya sekarang juga."

Gumam pelan Minato memberikan sebuah perintah kepada mereka.

"Se-Segera-..."

Jawab salah satu dari mereka.

Jari-jari seorang Staff itu segera bergerak lincah di atas keyboard miliknya. Ia mengambil satu Capture dari video stream yang saat ini tengah terekam secara langsung tersebut. Mengambil sebagian tempat di layar monitor untuk meletakkan hasil Screenshotnya dan meletakkan juga sebuah foto gadis muda berkacamata tepat di sampingnya.

Ia mulai memindai kemiripan wajah otentik milik seorang gadis berambut hitam sebahu yang tengah tak sadarkan diri terikat di sebuah kursi di layar monitor itu, Dengan sebuah foto wajah seorang gadis manis berkacamata tengah memakai serangam SMA Konoha Gakuen.

[Scanning complete. Resemblance in identification is 94%]

Hasil dari pemindaian wajah telah terkonfirmasi. Membuat Minato menggenggam erat Earphone yang digenggamnya. Ia benar-benar tak percaya dan tak menyangka, Bahwa seorang anak gadis dari sahabatnya saat ini tengah lemah tak sadarkan diri terikat pada sebuah kursi ditengah-tengah lapangan basket. Ternyata Dunia yang telah dipenuhi oleh kengerian ini masih memiliki sesuatu yang mampu membuat seseorang seperti Minato terkejut bukan main.

"Minato Namikaze... Atau bisa kupanggil dengan nama, Minato-taichou... Mungkin?"

Sesaat kemudian, Terdengar suara berat dari seorang pria yang tertangkap oleh perangkat yang saat ini sedang merekam terlelapnya sosok gadis manis yang tersekap di tengah-tengah sebuah lapangan basket. Lagi-lagi kedua alis milik Minato mengerut tajam ketika gendang telinganya mendengar dengung suara milik seseorang yang berada di tempat perangkat itu sedang merekam.

"Suara ini..."

Nampak Minato seperti mengenal siapa orang yang telah memperlihatkan sesuatu yang tak bisa terpikirkan tersebut.

"Untuk seseorang yang telah mengenalmu lama, Aku merasa bahwa ini adalah sebuah dilema yang berkesan secara pribadi untukku... Bisa berkomunikasi tanpa perantara yang sangat berbelit-belit seperti sebelum-sebelumnya, Aku begitu merasa terhormat hingga menyentuh palung hatiku yang terdalam..."

Lanjut suara itu lagi yang ikut terekam. Perlahan, Gambar pada layar di monitor sedikit berguncang. Seolah perangkat yang saat ini digunakannya sedang diputar untuk menghadap langsung kearahnya.

"Sejauh mana yang kutahu... Orang yang telah menciptakan Neraka di seluruh belahan Dunia ini, Adalah orang yang sama sekali tidak memiliki palung hati, Mantan personel Divisi Intelejensi Konoha... Obito Uchiha."

Balas Minato dengan nada yang sangat-sangat tajam. Menyadari siapa lawan bicaranya saat ini benar-benar telah merubah cara bicara Minato menjadi sarkastis.

Dan lagi-lagi, Keterkejutan kembali pecah saat seluruh Staff yang berada di ruangan ini menatap kearah seseorang yang tengah tertampilkan pada layar monitor mereka. Seorang pria berambut hitam berantakan dengan sudut mata yang tajam, Mengenakan setelan jas hitam yang begitu rapi dan Duduk di salah satu bangku penonton stadion lapangan basket, Tengah tertampilkan secara jelas disana.

"I-Inikah... Sosok sebenarnya seorang buronan yang memiliki prioritas tinggi untuk segera ditangkap... Sosok seorang Uchiha Obito?!"

"Perangkat yang dia gunakan untuk merekam dan meretas enkripsi keamanan jaringan di ruangan ini disaat yang bersamaan adalah satu. Tidak salah lagi, Perangkat yang ia gunakan saat ini adalah sebuah Laptop."

"Laptop?! Dia sukses meng-Hacking seluruh Bypass jaringan Divisi-3 ini hanya dengan sebuah Laptop?!"

"Ini benar-benar tidak bisa dipercaya..."

"Tidak salah lagi. Orang ini benar-benar Obito Uchiha. Satu-satunya orang yang mampu meretas beberapa gabungan enkripsi keamanan yang disatukan hanya dalam hitungan detik. Orang ini benar-benar mengerikan!"

"Terlebih lagi, Dia memiliki seorang sandra di genggamannya sekarang. Apa yang sebenarnya sedang ia rencanakan..."

Bisik-bisik pun langsung pecah di antara para Staff yang ada di ruangan ini. Sedangkan Minato dan Obito masih diam menatap satu sama lain melalui masing-masing layar yang mereka berdua gunakan.

". . . . . . . ."

"Sepertinya kau telah salah paham dengan kata menciptakan... Minato-sensei."

Ucap Obito sembari tersenyum kecil saat ia memejamkan kedua matanya.

"Bukankah sudah jelas bahwa orang yang pertama kali telah menciptakan stimulan parasit ini adalah profesor Hyuuga Hiashi...? Diriku yang penuh dengan ketidaktahuan akan Biological ini hanya meneruskan mahakarya miliknya yang indah itu."

Lanjut Obito dengan nada merendah yang bagi Minato sangat memuakkan.

"Kurasa kau lupa menambahkan kata merampas secara paksa di antara kalimat-kalimat itu."

Balas Minato masih dengan nada sarkastik.

"Hoo...? Jika begitu, Perlukah aku memperbaiki kata-kata yang sengaja kuhilangkan tersebut... Sensei?"

Jawab Obito menanggapi nada-nada tajam Minato.

"Sayangnya itu tidak perlu. Bisakah kita segera langsung menuju ke inti dari pembicaraan ini? Aku tidak memiliki cukup waktu untuk bergurau denganmu sementara seluruh orangku tengah berjuang mempertaruhkan nyawa disana. Apa yang sebenarnya menjadi tujuanmu, Uchiha Obito..."

Ucap Minato dengan tenang. Fokusnya nampak telah kembali, Dan mulai menyusun beberapa rencana mengenai hal yang tak terduga seperti saat ini.

". . . . .Yang kubutuhkan hanya seorang gadis yang berumuran sama dengan gadis yang tengah terlelap disana."

Alis Minato mengerut tajam. Ia tahu bahwa ini akan menjadi pertukaran nyawa. Apa yang Obito maksud adalah saat ini dirinya tengah menginginkan sesuatu yang dimiliki seorang gadis SMA yang baru ia singgung, Lalu ditukar dengan seorang gadis yang tengah ia jadikan sandra.

"Siapa yang kau maksud..."

Minato bertanya. Lalu sesaat kemudian, Obito menaikkan sedikit sudut bibirnya untuk tersenyum picing.

"Putri dari, Profesor Hiashi."

Minato langsung diam tanpa kata. Dari sekian banyaknya gadis SMA yang ada di Jepang ini, Minato benar-benar tidak menyangka bahwa anak dari sahabat dekatnya lah yang tengah Obito incar. Hal itu begitu membuat syaraf otak Minato mati rasa. Beberapa susunan rencana yang telah terpikirkan untuk selamatkan gadis yang Obito sandra luluh lantak seketika begitu saja.

"Hoeii...! Jangan bercanda! Jangan bermimpi kami akan turuti kemauanmu setelah apa yang telah kau perbuat pada Dunia ini...!"

Salah seorang Staff tersulut dan terpancing oleh emosi saat dirinya mengetahui rencana Obito. Tidak bisa dipungkiri, Kenyataan bahwa apa yang Obito inginkan benar-benar tidak bisa diterima begitu saja. Terlebih lagi, Setelah semua yang telah terjadi, Tentu mereka tak akan membiarkan Obito melakukan seenaknya saja. Namun sekali lagi Minato memperlihatkan ketenangannya. Pria paruh naya yang saat ini memegang kendali penuh atas kepemimpinan di ruangan ini mengangkat sebelah tangannya keatas. Memberi tanda kepada seluruh bawahannya untuk diam dan tidak terprovokasi lebih jauh lagi.

"Berapa waktu yang kumiliki..."

Tanya Minato kepada Obito melalui jalur komunikasi yang telah di retas. Tentu Minato telah mengetahui sesuatu yang lebih penting dari pada dialog di antara mereka berdua sebelumnya. Tidak mungkin Obito melakukan segala sesuatunya tanpa rencana yang mendukung terlebih dahulu.

"Kau selalu teliti terhadap sesuatu. Setidaknya itulah yang kukenal dari dirimu."

Obito sedikit tersenyum. menarik sedikit lengan jas hitam untuk melirik jam tangan miliknya, Obito menghitung berapa waktu yang tersisa sebelum pemicu otomatis meledakkan seluruh tempat dimana ia sedang berada saat ini.

"2 menit telah berlalu begitu cepat untuk obrolan yang kurindukan ini. Masih ada 13 menit lagi yang tersisa untukmu bergerak... Sensei."

Lanjut Obito lagi memberitahukan sisa waktu yang Minato miliki untuk melakukan pertukaran ini.

"Backup data enkripsi telah selesai. Memulai ulang Inputing Code Secure Pass. Pemutusan koneksi akan dimulai pada hitungan, 3... 2... 1... Data telah sepenuhnya pulih!"

Beberapa Staff berhasil memutus konektifitas virus yang telah menyerang sistem keamanan mereka. Dengan begitu, Obrolan antara Obito dan Minato telah berakhir sampai disini. Sosok Uchiha Obito lenyap dari pandangan, Dan layar monitor pun akhirnya kembali normal seperti sebelumnya.

"Jadi... Mulai sekarang keputusan seperti apa yang akan anda ambil, Minato-taichou?"

". . . . . . . . . ."

Diberi pertanyaan seperti itu, Minato diam dan memilih untuk kembali duduk terlebih dahulu di kursinya dengan tenang.

"Apa kami harus memberitahu kapten Hashirama mengenai situasi ini?"

". . . . . .Tidak."

"Tapi-..."

"Jika ia tahu tentang hal ini, Maka konsentrasinya pada misi akan terpecah. Dan jalan dari misi besar ini akan semakin berantakan nantinya. Karena alasan itulah aku berada disini. Aku yang akan selesaikan semuanya dari sini. Kerena itulah tugasku, Sebagai ketua Divisi Intelejensi."

Jawab Minato memberi alasan mengenai penolakannya.

Minato memejamkan kedua kelopak matanya. Ia telah siap dengan situasi yang seperti ini. Sudah tidak ada waktu lagi untuk memikirkan garis aman. Ia akan mengambil pilihan yang penuh dengan resiko. Berhasil ataupun gagalnya rencana yang ia pilih, Semua itu tergantung kepada seseorang yang saat ini ia percayai. Minato kembali memasang Earphone miliknya.

'Aku sudah tak punya pilihan lain. Kupercayakan semuanya padamu... Naruto.'

.

.

.

.

.

.

"Stride!"

The Place Of Hope

Chapter 13 : "Stride!"

Genre : Adventure, Horror & Gore

Main Cast : Naruto U., Sakura H., Sasuke U.

Caution! Contains violance & profanity (17th +)

.

.

.

.

.

Derap langkah sepatu yang terus menghempas permukaan aspal terdengar merdu bagai sebuah irama. Dalam tiap langkahnya, Seseorang tengah berlari sekencang yang ia bisa menembus udara malam. Uap tipis keluar dari mulutnya tiap kali ia membuang berat nafasnya. Ujung helai rambut kuningnya terus bergoyang liar terhembus angin dari arah depannya. Pemuda itu berlari lurus melewati blok demi blok jalanan Kota Konoha yang telah luluh lantak. Di antara bintang Deneb, Altair dan Vega, Sendirian Naruto terus melaju dengan kecepatan yang menggila.

'Cihh... Kusoo...!'

Dalam hati Naruto mendecih. Mengingat kembali apa yang telah terjadi secara tiba-tiba...

Flashback...

.

.

.

Di dalam sebuah gerbong kereta tua yang sudah usang tak terpakai, Terlihat enam orang tengah mengistirahatkan lelah tubuh mereka. Hampir dari setiap mereka tak dapat merasakan peredaran darah mereka sendiri akibat tekanan suhu dingin yang sangat tajam. Tidak ada lagi sesuatu yang bisa menghangatkan tubuh lelah mereka. Kini mereka benar-benar harus bertahan melawan dingin di dalam gerbong usang ini hingga fajar kembali datang.

Kakashi melirik wajah pulas para mantan murid-muridnya yang telah terlelap lelah. Mengenang kembali hari-hari di sekolah bersama Kiba, Hinata, Sasuke dan Sakura dulu sebelum hari mengerikan itu tiba. Hanya dirinya dan seorang pemuda berambut kuning yang masih membuka mata. Mereka berdua bersandar di dinding kereta saling berhadapan satu sama lain.

"Dengan cerita yang telah kau ceritakan kepada mereka tadi... Sepertinya kau telah membocorkan sepenggal demi sepenggal informasi Organisasi kita."

Ucap Kakashi yang berdiri dan bersandar di dinding kanan kereta ini. Melirik kearah Naruto yang terus menatap lantai.

"Itu bukan masalah besar. Mereka semua adalah teman-teman yang kupercayai. Kau tidak perlu meragukan mereka, Sensei. Selain itu... Sudah tidak mungkin bagiku untuk menghindari pertanyaan yang sama dari mereka. Karena aku masihlah bagian dari mereka. Maka sudah pasti mereka akan terus bertanya seperti itu hingga aku benar-benar menjawab semuanya."

Sahut Naruto yang duduk di lantai menyandarkan lelah punggungnya. Kedua manik biru itu terus menatap lantai dingin di bawahnya dengan tatapan sayu.

Sudah tidak bisa dipungkiri lagi bahwa ia benar-benar sudah kelelahan saat ini. Namun walau begitu, Ia merasa ada sesuatu yang salah di dalam otaknya. Sehingga membuatnya begitu susah hanya untuk sekedar memejamkan mata dan terlelap seperti yang lain. Naruto benar-benar telah memaksakan tubuhnya melewati batas manusia normal pada umumnya. Atau dari awal, Apa dirinya masih bisa disebut sebagai manusia...?

Pertanyaan itu masih membekas di dalam kepalanya. Saat ini ia benar-benar merasa bahwa dirinya yang sekarang bukanlah Naruto Namikaze seutuhnya. Sesuatu yang berada di dalam tubuhnya, Membuat Naruto merasa bahwa telah ada yang berubah dalam dirinya. Namun meski begitu, Pertanyaan yang sama sekali lagi kembali terulang. Apakah ia masih bisa disebut sebagai, Manusia...?

"Kita berdua hampir telah mencapai akhir dari skenario ini. Lalu mulai dari sekarang, Apa yang akan kau lakukan selanjutnya... Naruto?"

Di tengah malam yang sunyi di pinggiran Kota, Kakashi memberikan satu pertanyaan kepada seorang pemuda yang berada tepat di depannya. Pertanyaan tentang masa depan yang akan pemuda itu ambil nantinya. Mengingat saat ini, Pemuda tersebut hanyalah seorang anggota personel sementara yang ditugaskan dan di bawah tanggung jawab langsung oleh Kapten dari Divisi Anti Bio-Terrorist Unit. Jalan seperti apa yang akan ia ambil setelah misi besar ini telah usai nanti.

". . . . . . . ."

Naruto diam dan tidak menjawab. Bukan karena ia tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Melainkan dirinya sendiri masih tidak mengerti dengan jawabannya sendiri. Naruto tidak mampu memikirkan seperti apa jalan yang akan ia pilih nanti. Ia pun masih menunggu, Jawaban yang masih samar.

Di tengah renungannya tentang jawaban dari pilihan yang akan ia ambil, Tiba-tiba sebuah suara terdengar masuk lewat koneksi Earphone miliknya.

"Naruto... Kau bisa mendengarku...?"

". . . . . . ."

'Suara ini...'

Naruto tampak mengenali benar suara siapa yang telah masuk ke alat komunikasi miliknya. Setelah sekian lama, Akhirnya ia dihubungi kembali. Entah mengapa ada sesuatu yang ia rasakan dari tensi nada seseorang yang tengah menghubunginya.

"Aku bisa mendengarmu dengan baik. Ada apa... Ayah?"

Sahut Naruto sembari menekan tombol kecil di Earphone telinganya.

"Ini adalah pembaruan situasi misi. Aku akan memberitahu padamu sesuatu yang sangat penting. Tapi sebelumnya, Bisakah kau untuk tetap tenang terlebih dahulu...?"

Kata seseorang di balik Earphone miliknya, Yang tidak lain dan tidak bukan adalah suara milik Minato Namikaze.

". . . . . . ."

Naruto terdiam setelah mendengarnya. Pemuda itu kebingungan mengenai perkataan Ayahnya. Mengapa Minato tiba-tiba menyuruhnya untuk tetap tenang sebelum Minato memberikan penjelasan yang selanjutnya.

"Ada apa... Memang apa yang telah terjadi... Apa yang Ayah ingin beritahukan kepadaku..."

Rentetan pertanyaan Naruto layangkan untuk sang Ayah yang saat ini tengah menghubunginya. Seperti dugaan sebelumnya. Naruto merasa pasti ada sesuatu yang terjadi hingga Minato menyuruhnya untuk tetap tenang dengan apa yang akan Minato jelaskan selanjutnya.

"Ini tentang misi yang Hashirama berikan padamu. Namun kini situasinya telah berubah total. Jadi dengarkan baik-baik perkataanku ini. Tetaplah tenang, Dan jangan terpancing oleh emosimu..."

Jawab Minato secara berbelit. Sekedar untuk memastikan bahwa putranya tersebut dapat menerima apa yang akan ia jelaskan dengan benar-benar mengerti.

". . . . . .Baiklah. Aku akan mencobanya."

Sahut Naruto kemudian. Coba meyakinkan Ayahnya.

"Naruto... Aku telah temukan lokasi dimana Sona Sitri tengah berada saat ini."

Kedua mata Naruto yang sebelumnya sayu, Kini terbuka lebar-lebar setelah mendengar tiap penggal kalimat yang Minato ucapkan.

"Tapi... Sepertinya keberuntungan sedang tidak berada di tangan kita. Karena saat ini... Sona Sitri tengah disekap oleh seseorang di sebuah tempat."

"APA...?!"

Seru Naruto dengan suara keras ketika tiba-tiba tubuhnya bangkit tegak berdiri dengan sendirinya.

Pemuda berambut kuning tersebut benar-benar tersentak saat akhirnya kata-kata itu terucap dari mulut Minato. Mendengar bahwa seorang gadis yang sedang ia cari-cari tersebut ternyata selama ini tengah disekap oleh seseorang, Ada gejolak yang tak bisa ia bendung dengan sendirinya.

"Naruto, Tenanglah. Suaramu bisa membangunkan yang lain."

Ucap Kakashi sembari memberi tanda untuk tetap tenang menggunakan satu tangannya.

Kakashi juga nampak memegangi Earphone yang ada di telinganya. Yang berarti bahwa Minato juga menghubungkannya langsung bersama dengan Earphone milik Naruto.

Dengan kedua mata yang terbuka lebar, Naruto melirik satu per satu teman-temannya yang masih tertidur pulas. Berharap tidak ada satupun dari Kiba, Hinata, Sasuke maupun Sakura yang terbangun akibat keras suaranya tadi.

"Dari awal aku tahu bahwa ini adalah jebakan. Tapi sudah tidak ada waktu lagi. Tidak ada pilihan selain mengirim dirimu menuju kesana, Naruto."

Lanjut Minato kepada anaknya itu.

"Beritahu aku dimana tempatnya, Aku akan segera kesana!"

Kata Naruto dengan raut wajah yang penuh dengan gejolak.

"Bukankah aku sudah memberitahumu bahwa kau harus tetap tenang... Naruto?"

Ucap Ayahnya melalui Earphone miliknya. Kembali berbelit tentang hal itu. Membuat Naruto semakin dalam posisi yang rumit.

"Apa maksudmu Ayah...?! Mana mungkin aku bisa tenang setelah mendengar semua itu...?!"

Jawab Naruto penuh dengan nada-nada tinggi.

"Apa yang dikatakan Ayahmu benar, Naruto. Dalam hal ini, Ketenangan dalam berpikir adalah satu hal yang benar-benar diperlukan. Tanpa hal itu, Semua yang telah tersusun rapi tidak akan berarti. Dan jawaban yang akan menunggumu di akhir kalimat... Adalah kegagalan. Dinginkan kepalamu dan dengarkan lah baik-baik perkataan Ayahmu."

Sahut Kakashi sejenak memisahkan pembicaraan mereka berdua. Kakashi bermaksud menjelaskan alasan mengapa Minato terus menerus menyuruh Naruto untuk tetap tenang. Sebagai seseorang yang telah berpengalaman dalam hal-hal yang seperti ini, Kakashi menggantikan Minato untuk memberikan sedikit penjelasan singkat mengapa ia harus tetap bersikap tenang dalam berpikir.

"Dengar, Naruto..."

"Misi yang akan kuberikan padamu ini, Bisa disebut sebagai misi bunuh diri. Maka dari itu... Aku tidak ingin hanya karena gejolak emosi yang membuatmu lepas kendali tanpa bisa berpikir jernih membuatmu terbunuh sia-sia tanpa meraih apapun. Aku hanya tidak ingin itu terjadi. Hanya itu saja."

Minato menjelaskan secara panjang lebar kepada satu-satunya putra yang ia miliki tersebut. Dengan nada lembut, Minato sangat berharap bahwa Naruto akan mengerti dengan apa yang sebenarnya ia maksud selama ini. Tentang ketakutan terbesarnya dari rasa kehilangan satu-satunya putra yang ia miliki.

Setelah Naruto mendengar itu dari Minato, Pemuda tersebut mengepalkan tangan begitu erat hingga bergetar. Kuku-kuku miliknya memutih karena sangat erat ia mengepalkan tangannya. Hanya butuh sesaat saja bagi Naruto untuk meluapkan gejolak emosi ini. Sesaat kemudian, Naruto melepaskan kepalannya. Tubuhnya kembali rileks seperti semula. Kini Naruto sudah mampu untuk berpikir dengan tenang.

"Aku mengerti... Tolong jelaskan apa yang harus aku lakukan sekarang, Ayah."

Ucap pemuda berambut kuning itu dengan suara pelan. Tidak lagi terdengar nada-nada yang tinggi di tiap penggal kalimatnya.

"Baguslah... Sekarang kita tidak punya banyak waktu. Lokasinya ada di dekat gelangga olahraga Konoha. Mungkin Kakashi bisa membantuku untuk menjelaskan rutenya padamu."

Sahut Minato setelah membuat putranya itu untuh lebih menenangkan diri.

Kakashi merogoh sesuatu di dalam saku celana seragamnya. Ia mengeluarkan sebuah ponsel genggam. Sembari mendekat ke arah Naruto, Kakashi mulai mengoprasikan ponsel miliknya tersebut. Memperlihatkan sebuah peta yang telah terpampang di layar.

"Saat ini kita tengah berada di titik ini."

Kata Kakashi sambil menandai lokasi dimana sekarang mereka berada setelah dirinya berdiri di samping Naruto.

"Jika dari titik dimana kita berada sekarang, Menuju ke titik dimana lokasi gelanggang olahraga Konoha di peta, Maka jarak yang harus ditempuh adalah sekitar 3,2km."

Lanjut Kakashi menjelaskan panjangnya jarak yang harus Naruto lalui untuk sampai kesana.

Menggunakan Digital Map di layar ponsel miliknya, Kakashi memaparkan rute bergaris biru yang artinya itu adalah jalan yang harus Naruto gunakan nanti.

"Begitu... Aku mengerti."

Ucap Naruto setelah melihat rute tercepat yang telah Kakashi tunjukkan padanya.

Melenggang dari tempatnya berdiri, Naruto melangkah menuju ke pintu keluar gerbong kereta tua ini. Ketika tangannya membuka pintu kereta tersebut, Udara yang sangat dingin menyapa seketika. Menghembus rambut kuningnya hingga bergoyang.

Pemuda bermata biru yang sebiru langit cerah itu turun dari gerbong kereta dan berjalan keluar. Namun Kakashi yang mengikutinya dari belakang tiba-tiba memanggil namanya.

"Tunggu, Naruto..."

". . . . . ."

Sejenak Naruto berhenti dan sedikit berbalik. Melirik Kakashi yang tiba-tiba telah menghentikan langkahnya. Pria berambut keparakan tersebut mendekat, Lalu menyodorkan sesuatu ke arahnya.

"Semoga berhasil..."

Kata Kakashi sembari menyodorkan sebuah Glock-17 di tangannya untuk Naruto. Kakashi ingin Naruto membawa senjata itu. Karena memang awalnya adalah milik pemuda tersebut.

Sebentar Naruto menatap, Sebelum akhirnya tersenyum percaya diri dan meraih senjata itu dengan tangan kirinya. Uap nafas dingin terhembus keluar dari mulutnya.

". . . . .Aku pasti berhasil."

Ucapnya dengan senyum yang masih belum menghilang.

Dengan kata terakhir tersebut, Naruto lekas berbalik dan mulai berlari. Meninggalkan Kakashi yang berdiri di bawah gelapnya malam.

.

.

.

Flashback End...

.

.

.

.

.

.

Deru nafas terus menggebu. Detak jantung terus terpacu. Di bawah langit malam yang seperti akan runtuh, Pemuda itu terus berlari menembus waktu.

'Aku akan datang untukmu. Tunggu aku... Sona!"

Ucap Naruto dalam hati sembari terus berlari. Ia berlari dengan kecepatan penuh yang ia miliki. Tidak peduli sejauh apapun jarak yang harus ia tempuh, Naruto akan terus maju sampai nafas terakhir miliknya telah berakhir. Karena semua hal yang terpapar di kepalanya saat ini, Hanyalah sosok seorang gadis yang ingin ia temukan. Seorang gadis yang sudah menjadi sosok yang berharga untuknya.

"36 meter lagi sampai di perempatan blok-N. Ambil arah kanan, Naruto."

Terdengar suara seseorang dari Earphone yang terpasang di telinga kanannya.

"Aku mengerti...!"

Kata Naruto memberi jawaban.

Pemuda yang tengah berlari dengan kecepatan yang menggila itu dapat melihat perempatan lalu lintas yang dimaksud semakin dekat.

Naruto hampir tergelincir kehilangan keseimbangan ketika berbelok tajam mengambil arah kanan karena terlalu cepat ia berlari. Namun itu bukanlah masalah yang bisa menghambat laju kakinya dengan mudahnya. Pemuda itu kembali melesat lagi setelah berhasil berbelok arah tanpa terjatuh di atas jalan yang licin berembun.

Masalah utama barulah muncul setelah itu. Dari kejauhan Naruto dapat melihat beberapa Zombie yang berada di jalan yang sama dengan rute yang harus dilaluinya. Walau kedua mata pemuda itu dengan jelas telah melihat mereka, Hal itu bukan berarti akan menjadi alasan untuk mundur baginya.

Tanpa ragu Naruto terus melaju mendekati mereka yang telah ada disana. Satu per satu telah dilewati pemuda itu dengan terus menjaga jarak aman dari mereka. Naruto berpikir bahwa jarak yang telah ia buat akan membuatnya aman dari jangkauan mereka. Tapi sepertinya Naruto sedikit salah memperhitungkan.

GREBB!

Tiba-tiba saja sebuah tangan mencengkram kemeja dan rompi belakangnya dengan sangat kuat.

"...?!"

Naruto terkejut saat mendapati salah satu di antara mereka berhasil menggapainya. Namun pemuda itu tidak akan tinggal diam setelah sampai sejauh ini.

Ia memaksa tubuhnya untuk berputar kebelakang, Sembari menarik sepucuk senjata genggam dari sabuk Holster di bawah bahunya. Dengan tatapan kesal dan kedua mata yang terbuka lebar, Naruto memberikan Deathglare sembari mengarahkan Glock-17 miliknya itu ke arah Zombie tersebut.

"JANGAN HALANGI JALANKU!"

DAARRR...!

Pemuda berambut kuning itu menarik pelatuk senjatanya. Dengan cepat sebuah peluru menghujam tepat di tengah kepala makhluk mengerikan tersebut. Cipratan darah yang terlempar masih melayang di atas udara. Namun Naruto telah bergerak kembali dengan cepat. Membalikkan poros hadap tubuhnya dan kembali melaju dengan kecepatan penuh.

Hal yang baru saja terjadi, Terjadi dengan begitu cepat. Hanya sekejap sebelum cipratan darah yang terlempar jatuh menyentuh aspal, Sosok Naruto telah jauh dari pandangan mata. Ia melesat bagai tak terhentikan.

Di ruang kontrol Divisi-3, Beberapa Staff yang ikut memantau pergerakan Naruto dari satelit dibuat takjub. Memandang jarak yang sudah berhasil Naruto tempuh dengan kecepatannya.

"Apa-apaan kecepatannya itu... Dia sudah berlari sejauh 430meter tanpa mengurangi kecepatannya sama sekali sejak tadi..."

"Anak ini bagai pelari marathon saja! Kecepatannya tetap stabil di 42km/jam!"

"Anak Minato-taichou benar-benar luar biasa!"

Tuaian decak kagum para Staff yang ikut memonitor pergerakan Naruto lantas tidak membuat Minato senang begitu saja. Lebih dari siapapun, Minato tahu bahwa saat ini anaknya sedang menahan derita seorang diri. Berlari melawan waktu dengan jarak sejauh itu, Bahkan Kakashi dan Itachi sekalipun takkan sanggup melakukannya. Begitulah menurut Minato.

Tapak sepatu milik pemuda berambut kuning yang sendiri berlari di tengah jalan masih beradu cepat dengan permukaam aspal jalanan malam Kota Konoha. Tekanan dari suhu yang amat dingin tak ia hiraukan sama sekali. Walau kabut uap terus menerus terhembus keluar dari nafasnya, Naruto masih berlari lurus kedepan. Bahkan terkadang ia harus melompat untuk melewati kap mobil yang berserakan di jalanan.

Entah kenapa, Naruto merasa pandangannya semakin memburam. Tidak tahu lagi berapa kali jantungnya berdetak dalam tiap detiknya. Nafasnya yang sudah tidak teratur kini kian memberat. Dadanya sedikit panas akibat udara dipaksa terpompa paru-paru keluar masuk terus-menerus.

'K-Kuso-...'

Decih pemuda itu dalam hati, Merasakan sakit yang luar biasa di sisi lambungnya. Tidak salah lagi, Ia mengalami keram di otot-otot perutnya. Meski Naruto mencoba untuk tetap bertahan pada kondisinya yang sekarang, Namun keram itu menjadi lebih semakin parah.

"Apa yang terjadi...? Kecepatan Naruto terus menurun..."

Seorang Staff bertanya-tanya entah kepada siapa saat melihat titik orange milik Naruto semakin melambat.

"Naruto telah berhasil menempuh jarak sejauh 1220meter, Tapi... Kecepatannya terus dan terus menurun! 38... 35... 29... 23km/jam. Dan sepertinya akan terus menurun lagi... Dia tidak

Kata salah seorang Staff yang lain yang juga ikut memantau Naruto menggunakan sketsa grafis satelit. Dan hal ini membuat kedua alis Minato mengerut kebawah. Ia tahu misi yang ia berikan adalah satu hal yang benar-benar mustahil. Tapi... Sudah tidak ada pilihan lain yang ia miliki saat ini. Keadaan dan situasi memaksanya untuk memilih putranya sendiri. Mungkin sejak awal, Ia telah tahu bahwa Naruto tidak akan berhasil.

Di sisi lain, Pemuda berambut kuning yang saat ini tengah memegangi perut kirinya yang sakit bagai terhujam sebilah pedang, Masih berjuang melangkahkan kedua kaki yang ia miliki untuk terus berlari.

Semakin lama langkahnya semakin melambat. Rasa lelah di tubuhnya yang kian menumpuk menjadi beban yang berlebih. Dan kini pandangannya pun mulai buram mengabur. Tidak bisa disebut berlari lagi. Naruto hanya melangkah tertatih. Memegangi sisi perut yang teramat sakit.

'Kuso...'

Mendecih lagi dalam hati, Pemuda itu bagai telah mencapai batasnya.

Di ruang kontrol Divisi-3, Seluruh Staff yang berdiri memantau pemuda itu kini hanya bisa menundukkan kepala dan kembali duduk di tempay duduknya masing-masing. Mereka tidak menyalahkan siapapun. Hanya terdiam dalam keheningan.

Namun meski semua telah menyerah dalam misi penyelamatan ini... Ada satu rasa yang muncul di hati Minato. Ada satu harap dari Minato untuk putranya yang tengah berjuang. Minato menyatukan kedua tangannya dan akan tetap terus melihat putranya itu bahkan sampai akhir. Meski kenyataan telah mampu menggambarkan kegagalan dari misi ini, Tapi sebagian kecil hati Minato masih berharap kepada putranya. Hanya Minato, Satu-satunya orang yang masih menyemangati Naruto dalam hatinya.

'. . . . .Aku percaya padamu!'

.

.

.

.

.

Uap kabut tipis terus mengepul keluar di sela nafasnya yang masih tersisa. Sendiri, Naruto melangkah tertatih di ujung jalan sepi. Malam yang dingin kali ini seperti tidak memihak padanya. Keyakinannya hampir runtuh. Namun tanpa henti ia masih terus bergerak melawan waktu. Sesaat, Wajah seorang gadis berkacamata melintas di benaknya.

'Aku...'

Naruto terombang-ambing. Di bawah malam sunyi beserta dingin yang menyelimutinya.

'Aku... Tidak akan...'

Poros sayu manik birunya mulai tenggelam dalam keputusasaan. Ia menderita sendiri. Terus menahan sakit yang tiada henti menghujam. Meski begitu ia tak sedikitpun terlihat akan berhenti. Terus melangkah tertatih dilahap sepi.

Cahaya di hatinya mulai memudar sedikit demi sedikit. Meredup bersama dengan pandangan yang berkunang. Walau serasa ditikam ribuan jarum tajam, Cahaya yang masih tersisa belumlah sepenuhnya padam. Yang pemuda itu inginkan hanyalah bertemu dengan seorang yang telah menjadi bagian dari perjuangannya untuk melawan waktu. Ia masih memiliki perasaan yang ingin ia hubungkan kembali. Dengan begitu, Perasaan dari ikatan yang kuat membuat tanda di pelipis mata kanannya sekali lagi muncul kembali. Manik biru itu seketika berubah menjadi merah. Urat-urat syarafnya muncul di sekitar sana.

'Aku tidak akan menyerah...!'

BUUUZZZHH!

Dengan sekali hentakkan kekuatan kakinya, Naruto kembali melesat kencang bagaikan daun yang tertiup angin. Hanya dengan bingkai seorang gadis berkacamata yang tergambar samar di dalam ingatannya, Pemuda itu mendapatkan kembali kekuatannya.

'Tunggu aku, Sona!'

Pandangan Naruto yang sebelumnya mengabur, Kini berubah menjadi sangat jelas. Bahkan lebih jelas dari sebelumnya. Rasa sakit dari keram di bilik perutnya, Seakan lenyap seketika. Naruto berlari dengan menggenggam penuh segenggam harapan. Karena dia lah, Kekuatan harapan itu sendiri.

"A-Apa ini?! Lihat! Naruto mulai bergerak kembali...!"

"Benar... Tapi, Bagaimana bisa?!"

"Mustahil... Ini mustahil...!"

"Ini tidak bisa dipercaya!"

Seluruh Staff di ruang kontrol Divisi Intelejensi mendadak tertegun lengkap dengan wajah syok mereka masing-masing. Keterkejutan mereka tidak lain dan tidak bukan berasal dari pergerakan titik oranye di layar monitor. Titik penanda milik Naruto Namikaze yang entah bagaimana kini bergerak kembali. Cepat... Sangat cepat... Lebih cepat dari yang sebelumnya.

"Oei-oei... Kecepatan macam apa ini..."

"Dia berlari pada kecepatan 48km/jam... Tunggu, Angkanya masih beranjak naik! 48,4... 49... 49,7... 50km/jam!"

"Mustahil... Bagaimana bisa..."

Keributan seperti pecah seketika saat mereka semua melihat Naruto yang tiba-tiba saja bergerak kembali. Ditambah lagi, Dengan kecepatan yang menggila seperti itu. Wajah cengang mereka terlihat begitu jelasnya. Akan tetapi dalam senyap, Minato hanya tersenyum melihat putranya itu dari layar monitor. Dalam hati ia tahu bahwa putranya tersebut masih menggenggam harapan yang ia percayakan kepadanya.

"Menurut analisa satelit, Masih tersisa 680meter lagi panjang jalanan yang saat ini kau lalui. Sedangkan kita sudah semakin kehabisan kehabisan waktu saat ini. Bahkan dengan kecepatan itu sekalipun, Kita tak akan bisa tepat waktu. Apa yang akan kau lakukan selanjutnya... Naruto?'

Minato mulai bertanya kepada putranya yang saat ini tengah berjuang sendirian di bawah malam jalanan Kota yang telah hancur itu.

Tidak ada jawaban yang terdengar. Naruto tetap diam sambil terus melaju bersama setiap hentakan yang tercipta oleh sepatu miliknya. Sesaat kemudian tanpa berpikir panjang, Naruto tiba-tiba banting arah ke arah lorong-lorong gang yang sepi.

Lagi-lagi para Staff terkejut melihat apa yang telah Naruto lakukan. Semakin lama, Naruto semakin menjauh dari rute yang telah ditentukan oleh satelit. Namun Minato tetap saja tidak menunjukkan ekspresi yang berlebihan. Pria paruh baya itu masih duduk manis dikursinya sembari tersenyum kecil menatap proyeksi layar.

'Ternyata ia pun juga telah menyadarinya...'

Gumam Minato dalam hati.

'Rute yang telah dipilih oleh perhitungan satelit memang sudah benar. Tapi itu hanya sebatas rute jalanan yang dipakai untuk kendaran pada umumnya. Sedangkan dia sedang berlari saat ini.'

'Dan disitulah... Naruto menemukan celah koreksi dari rute yang telah satelit perhitungkan dan tentukan. Naruto memilih untuk mengambil jalan pintas yang tidak bisa GPS dari satelit manapun pilih. Ia benar-benar memilih pilihan yang paling tepat.'

Lanjut Minato lagi sembari terus memperhatikan pergerakan tak terduga dari putranya.

Naruto terus melaju di gang sempit. Alas sepatunya masih setia beradu dengan permukaan jalanan. Ia yakin bahwa ini memang harus ia lakukan jika ingin mengejar waktu yang semakin meninggalkannya.

'Kurasa aku ingat dengan gang ini.'

Gumam Naruto dalam hati, Sembari mengingat kembali ingatan miliknya yang lalu. Ingatan saat ia berusaha selamatkan seorang anak kecil yang berlari menuju gang sempit ini karena dikejar oleh beberapa Zombie yang kelaparan. Namun justru dirinyalah yang berakhir dikejar oleh sebuah makhluk mengerikan yang telah membantai anak kecil itu dengan dengan sangat brutal.

'Selanjutnya, Belok kiri!'

Ucap Naruto ketika ia melihat kantung dan tong-tong sampah yang rusak berserakan di depan. Karena di belokan inilah, Naruto hampir tergelincir jatuh karena licinnya permukaan jalan. Tapi beruntung saat itu ia bisa mengendalikan pergerakan tubuhnya. Menyisakan Licker yang tergelincir jatuh menabrak tumpukan sampah disana saat mengejar Naruto tepat di belakangnya.

Saat ini jelas berbeda dengan saat itu dulu. Dengan percaya diri, Naruto berkelok tajam masih dengan kecepatan penuhnya tanpa ada masalah yang berarti sedikitpun. Pemuda berambut kuning itu melanjutkan pengejaran waktu yang telah tertinggal. Melalui celah gang yang benar-benar sempit di sekitarnya.

'Jika yang lurus adalah jalan buntu, Maka kali ini aku harus mengambil jalur yang kanan...'

Pikir Naruto saat telah tiba di percabangan jalan di depannya. Karena di ujung jalan sana lah dulu, Ia dipaksa untuk berhadapan satu lawan satu dengan Licker yang mengejarnya hanya dengan sebatang tongkat pemukul di tangannya.

Derap langkah itu tidak menunjukkan tanda-tanda untuk melambat. Justru Naruto makin menambah kecepatan tiap-tiap langkahnya. Menerjang sepi yang dingin seorang diri. Membuatnya berhasil melihat ujung akhir dari gang ini.

'Itu dia...!'

Seru Naruto dalam hati kala direksi matanya melihat dinding kawat yang sangat tinggi bersama dengan beberapa mayat hidup yang berdiam di depan sana.

Tentu setelah berjuang sejauh ini, Naruto tidak akan menyerah begitu saja hanya karena melihat pagar kawat yang menjulang tinggi ditemani oleh beberapa mayat hidup yang menanti di sana.

"GRRAAAHHHHKK!"

Para Zombie disana menyadari kedatangan Naruto.

Dengan menumpukan seluruh kekuatan di ujung tumit kakinya, Naruto melompat tinggi. Pemuda itu menggunakan kepala salah satu Zombie di depannya untuk tumpuan lompatan yang selanjutnya.

"Jangan halangi aku!"

Seru Naruto sembari melompat untuk yang kedua kalinya menggunakan kepala mereka sebagai tumpuan.

Suara gemerincing pagar kawat terdengar, Ketika Tangan Naruto berhasil menggapainya. Dengan mudah Naruto berhasil melewati pagar kawat itu berkat lompatannya yang luar biasa. Menggenggam tekad untuk menyelamatkan seorang gadis yang sangat berharga baginya, Naruto seakan tidak terhentikan oleh apapun juga. Tidak, Sampai ia dapat menatap wajah Sona lagi.

Naruto melesat cepat bagai pelari yang berlomba dengan jarak dan waktu. Ia kerahkan seluruh yang ada padanya demi Sona. Ia keluarkan semua perjuangannya tanpa mempedulikan rasa lelah yang membantingnya. Hanya dengan menggenggam perasaan yang ingin ia hubungkan ini, Ia dapat menahan semua rasa sakit di tubuhnya untuk gadis itu.

Bangunan luas tempat dimana gelanggang olahraga Kota Konoha telah terlihat di kejauhan sana. Naruto hampir berhasil hingga sejauh ini. Hanya butuh melewati jalan lebar yang menghubungkan jalanan Konoha untuk menuju ke pintu masuk bagunan tersebut.

"D-Dia berhasil... Oei... Dia berhasil... Naruto berhasil!"

"Hanya dengan berlari... Dia berhasil mencapai jarak sejauh itu... Benar-benar tidak bisa dipercaya..."

"Anak Minato-taichou benar-benar luar biasa.. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat ini..."

"Mengambil jalur memotong tadi kurasa adalah pilihan yang tepat. Naruto berhasil mencapai jarak 3200meter dengan kecepatan yang sangat luar biasa itu. Dan terlebih lagi, Kita masih memiliki sisa waktu 2menit lagi!"

Para Staff yang memperhatikan pergerakan Naruto dari ruang kontrol Divisi-3 berdecak kagum kembali. Seluruh sudut ruangan itu hanya penuh dengan decakan kagum para Staff yang bergumam sendiri. Hingga mereka semua sampai-sampai mendekatkan diri ke depan layar monitor yang terbesar. Sedangkan Minato tetap diam di kursinya sendiri. Mengembangkan sebuah senyuman yang ia tujukan untuk putranya tersebut.

Hanya demi Sona, Naruto berhasil melewati batas-batas manusianya. Dan hingga akhirnya sampai pada batas yang baru, Yang tidak seorangpun bisa melampaui batas tersebut. Langkah-langkah Naruto terlihat kian melambat. Ia terlihat seperti begitu berat untuk melangkah. Naruto telah menyentuh batas tubuhnya. Ia tak mampu lagi untuk terus berlari lagi. Pemuda itu pun jatuh berpegangan pada daun pintu besar bangunan ini.

"Hahhh-... Hahhh-... Hahhh-... Hahhh-..."

Nafas-nafas berat terdengar. Uap-uap hangat terhembus keluar dari mulutnya di malam yang begitu dingin ini. Degup jantung miliknya beradu dengan nafas-nafas itu. Naruto benar-benar telah menyentuh batasnya.

Ada beberapa bulir keringat yang hampir menetes di bawah dagunya. Namun dengan cepatnya mengering seketika akibat tekanan suhu dingin yang menusuk. Keringat di tubuhnya menghilang begitu cepat karena udara yang sangat dingin itu.

'Aku... Berhasil...'

Gumam pemuda tersebut, Ketika sesaat mengingat bahwa ia telah sampai di depan dua pintu besar itu.

Perlahan-lahan, Dengan menghilangnya tanda kerutan syaraf kasar di sekitar pelipis mata kanannya, Naruto mencoba untuk berdiri tegak kembali. Sembari mencoba untuk membenarkan deru nafasnya, Naruto mulai membuka pintu tersebut.

'Ini dia...'

Ucapnya sambil bersusah payah menelan ludah. Dengan hanya menggenggam Glock-17 di tanganya erat, Naruto mulai melangkah memasuki bangunan itu.

CKREK...

Senjatanya telah siap membidik segala kemungkinan yang akan menghampirinya. Naruto melangkahkan tiap-tiap langkahnya dengan begitu hati-hati. Ia maju sembari terus melirik kondisi di sekitarnya yang gelap. Penerangan hanya menyala di tengah-tengah lapangan basket di bawah sana.

Menuruni tiap-tiap tangga bangku penonton, Direksi kedua mata Naruto masih mencari keberadaan orang lain selain dirinya di tempat yang redup ini. Namun nihil... Ia tak menemukan seorang pun yang mencurigakan di tempat ini.

"Sona-..."

Tiba-tiba mata Naruto melebar. Menemukan seorang gadis yang duduk terikat di sebuah kursi tepat di tengah-tengah lapangan. Tanpa memikirkan apapun lagi, Naruto segera bergegas menuruni tangga bangku penonton dan menuju ke tempat gadis berkacamata itu berada.

Untuk sesaat, Naruto benar-benar melupakan segalanya yang ada dipikirannya dan hanya berlari mendekati gadis yang tengah tak sadarkan diri tersebut. Bahkan pemuda itu sampai-sampai hampir terpeleset jatuh saat berusaha mengerem menghentika lajunya ketika sampai di depan Sona yang pingsan.

"Hei... Heii bangunlah... Heii, Apa kau mendengarku...? Kumohon sadarlah, Sona...!"

Naruto terus-menerus memanggil nama dari gadis manis berkacamata tersebut sambil menggoyang-goyangkan pundaknya. Akan tetapi tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa gadis itu akan terbangun.

"Kusoo... Sona! Sadarlah! Oeii...! Sona...!"

Naruto tidak menyerah dan terus berusaha untuk membangunkan gadis tersebut dari pingsannya. Dan sesaat kemudian, Akhirnya sepasang mata yang indah itu perlahan terbuka. Pandangannya begitu rabun, Dan ia tak mampu mendengar dengan baik. Butuh beberapa waktu bagi gendang telinga dan matanya untuk kembali mendengar dan melihat dengan jelas.

Tapi yang pasti, Gadis itu yakin bahwa ada seseorang yang saat ini ada tepat di hadapannya. Seseorang itu seperti terus dan terus saja memanggil-manggil namanya. Pundaknya bergoyang akibat goyangan yang seseorang itu berikan. Perlahan, Sona dapat mendengar dengan jelas suara seseorang yang ada di depannya itu. Suara yang begitu familiar. Suara yang begitu ia kenal.

Suara yang sangat ia rindukan...

"Na... ruto..."

Gumam Sona lemah ketika mengingat suara siapa yang ia dengar saat ini.

". . . . . ."

Naruto terdiam sesaat saat ia mendengar suara pelan dari gadis itu. Naruto hanya bisa memperhatikan Sona yang berusaha untuk mendongak ke arahnya.

Kedua manik hijau indah milik Sona bagai dipaksa terbuka lebar ketika pengelihatannya telah kembali jelas. Di hadapannya saat ini, Sona melihat sosok pemuda berambut kuning yang mirip dengan seorang yang ia kenal dulu. Atau mungkin... Sosok yang ada di hadapannya saat ini adalah seseorang yang sama...?

"Na-Naruto... A-Apa... Apa itu kau...?"

Tanya Sona dengan nada tak percaya.

"Ya, Kau benar. Ini aku."

Jawab pemuda berambut kuning yang kini ada di hadapan Sona.

Namun sepertinya masih terlalu susah bagi gadis itu untuk percaya. Walau air mata miliknya telah mengalir keluar menetes jatuh kebawah. Matanya menjadi rabun kembali akibat keluarnya air mata yang tidak bisa ia hentikan. Keluar dan mengalir dengan sendirinya. Seperti perasaan di hatinya yang saat ini tengah meluap.

Mengusap air mata itu, Naruto pun tersenyum lembut di depannya. Kini mereka berdua saling mendekatkan diri. Dahi mereka saling bersentuhan satu sama lain. Meluapkan perasaan yang akhirnya dapat mereka berdua hubungkan lagi.

"Kami semua merindukanmu... Tidak-... Aku, Aku sangat merindukanmu... Naruto."

Sona mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya. Ia mengungkapkan apa yang selama ini ingin ia katakan. Sona ingin pemuda itu tahu seperti apa ia sangat merindukan dirinya. Sona ingin Naruto tahu bagaimana dalamnya kalimat itu terungkap. Dengan air mata ini... Sona ingin Naruto tahu, Sesakit apa ketika mereka berdua terpisah di dermaga saat itu.

Sona menangis menggigit bibir bawahnya. Tidak kuasa menahan rasa yang telah meluap keluar. Tidak mampu dirinya hentikan air mata itu. Terus mengalir begitu apa adanya.

"...Maaf."

"...Maafkan aku untuk yang waktu itu. Aku benar-benar minta maaf telah membuatmu menahan perasaan yang terasa sakit seperti ini... Sona."

Ucap Naruto pelan di depan gadis itu. Naruto mengucapkan banyak kata maaf saat dahi mereka masih menempel satu sama lain.

"Baka..."

Ucap Sona yang masih memejamkan kedua matanya untuk menghentikan air matanya yang terus saja mengalir keluar. Naruto tersenyum kecil ketika mendengar kata itu keluar dari mulut Sona.

"Yahh... Aku tahu kau pasti akan mengatakan hal itu padaku. Tapi aku senang mendengarnya. Mendengar kata itu lagi darimu..."

Balas Naruto tersenyum dengan nada-nada lembut.

Untuk sesaat, Mereka berdua hanyut dan terlupa akan waktu yang masih bergulir di sekitar mereka. Selama perasaan ikatan mereka dapat terhubung kembali, Bagi mereka berdua, Itu sudah cukup.

"Tapi... Bagaimana... Ba-Bagaimana bisa kau ada disini..."

Tanya Sona yang masih saja memiliki rasa tidak percaya dengan sosok yang ia lihat di hadapannya.

"Itu terlalu panjang untuk diceritakan. Tapi yang pasti, Tentu saja untuk menyelawatkanmu ya kan... Sona."

Jawab Naruto sembari menarik sebilah pisau belati yang ada di belakang ikat pinggangnya.

Naruto akan memotong tali yang membelenggu gerak gadis itu. Akan tetapi sesuatu yang sangat buruk akhirnya terlihat. Dapat Naruto lihat, Belasan, Atau bahkan puluhan Licker muncul dari kegelapan mengelilinginya. Tiba-tiba saja makhluk-makhluk mengerikan yang tidak ingin ia lihat pun berdatangan.

Saat melihat puluhan dari makhluk-makhluk itu yang muncul, Sona teringat akan sesuatu yang terlupa. Sesuatu yang ingin ia katakan pada Naruto sejak awal.

"Naruto, Ini hanyalah jebakan! Cepat tinggalkan tempat ini! Kumohon jangan pedulikan aku... Cepat, Pergilah!"

Seru Sona yang tiba-tiba saja panik. Menyuruh Naruto untuk segera lari dari tempat ini.

Tapi Naruto tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan segera meninggalkan Sona dan tempat ini. Yang dilakukan pemuda itu hanyalah berdiam diri di tempatnya berada sembari melirik makhluk-makhluk yang mengelilingi mereka berdua itu.

"Jangan menyuruhku untuk melakukan hal yang mustahil untuk kulakukan. Aku sudah melalui banyak penderitaan hanya untuk sampai di tempat ini. Sona... Aku akan menyelamatkanmu. jika aku tidak bisa melakukannya, Aku akan tetap berada disini... Dan mati bersamamu..."

Jawab Naruto dengan penuh keyakinan.

Sona hanya bisa diam tertegun melihat sosok Naruto yang sekarang mulai bangkit berdiri. Gadis itu terpaku dan terdiam akan kata-katanya. Kata-kata yang begitu luar biasa menyentuh palung terdalam di hatinya.

"B-Baka-... Apa yang kau katakan?! Kubilang cepat pergi dari sini sekarang juga, Naruto! Aku tidak ingin kehilanganmu lagi...! Apa kau tidak bisa mengerti itu...?!"

Teriak Sona yang masih memaksa Naruto untuk segera pergi meninggalkannya. Akan tetapi, Pemuda itu tetap tak bergeming dari tempat ia berdiri.

"Apa artinya bila kau tidak kehilangan diriku, Sedangkan aku akan kehilangan dirimu...?"

Balas Naruto sesaat kemudian.

"Kenapa... Kenapa kau bisa sebodoh ini... Kenapa kau begitu bodoh seperti ini, Naruto?!"

". . . . ."

"Karena sejak awal aku ini memang bodoh. Bahkan sangat bodoh karena diriku sendiripun tidak mengerti alasannya. Alasan mengapa dirimu menjadi seseorang yang sangat berharga di hidupku."

Naruto menjawabnya dengan tenang. Apa yang ada di hatinya, Kini dapat tercurah keluar. Sama sekali tidak ada beban dari setiap kata-kata yang ia ucapkan. Membuat Sona lagi-lagi kalah dalam berargumen dengan dirinya. Membuat Sona lagi-lagi terdiam dan terpaku mendengar jawabannya.

Suara-suara geraman dari makhluk-makhluk mengerikan yang mengelilingi mereka berdua terdengar. Para Licker itu memenuhi tepian garis lapangan. Lebih tepatnya, Ada 20 makhluk mutasi bercakar tajam yang sudah siap menerkam Naruto dan Sona kapan saja.

Naruto yang berdiri di depan Sona, Melirik dan menghitung satu per satu untuk memastikan tepatnya seluruh jumlah mereka.

'Dilihat dari sudut pandang manapun... Kesempatanku untuk selamat dari mereka semua hanyalah 1%. Tapi meski seperti itupun, Aku akan terus berjuang hingga akhir nanti. Karena segala kemungkinan dapat terjadi tanpa terkecuali.'

Pikir Naruto dalam hati sembari melihat air liur yang sudah menetes di sela gigi-gigi tajam makhluk-makhluk itu.

Sesaat kemudian, Terdengar suara tepukan tangan dari seseorang di atas bangku penonton sana.

"Benar-benar pertemuan yang menyentuh hati bukan...? Tapi sayang sekali, Waktu bernostalgia kalian sudah berakhir cukup sampai disini."

Ucap suara seseorang di salah satu bangku penonton tidak jauh dari pintu keluar bangunan ini.

Genggaman Naruto pada Glock-17 miliknya mengerat seketika saat mendengar suara yang sangat asing di gendang telinganya. Namun tanpa perlu ia kenali pun, Naruto sudah tahu sosok siapa yang memberikan tepukan tangan dan nada sarkastis kepadanya.

"Teme... Jadi kau kah, Orang yang telah menyebarkan pandemik mengerikan ini ke seluruh belahan Dunia... Orang yang telah mengubah Dunia menjadi kumbangan penuh mayat hidup... Orang yang telah menciptakan Neraka yang seperti sekarang ini..."

CKREEKK...

Naruto berbalik dan langsung membidikkan Glock-17 miliknya tepat ke arah seorang pria berpakaian sangat rapi dengan setelan jas hitamnya.

". . . . . . .Uchiha Obito."

.

.

.

To Be Continue...