Di bawah hembusan udara dingin di malam Kota yang usang, Kakashi berdiri menyendiri di atas tanah berkerikil. Sudah beberapa saat setelah Naruto pergi meninggalkannya untuk memulai misi yang baru terkonfirmasi. Dan sepertinya, Tidak ada kontak lagi dari markas pusat kepadanya. Yang menandakan bahwa tugasnya benar-benar telah di tahap yang paling akhir.
Sejenak merogoh sesuatu dari saku di rompinya, Kakashi menarik sebatang rokok yang sengaja ia simpan dan sembunyikan. Lalu menyalakannya menggunakan sebuah korek api yang sudah ia genggam. Dalam satu hisapan penuh, Asap tebal mengepul keluar ketika ia menghembuskannya. Sembari menatap ke arah langit hitam di atas sana, Kakashi berpikir bahwa mungkin ini adalah saat yang tepat untuk menikmati sebatang rokok yang telah susah payah ia simpan. Dan saat yang tepat untuk mengingat-ingat kembali hari di mana rentetan kejadian mengerikan yang telah melanda seluruh dunia ini dimulai.
.
.
Flashback...
.
.
"Segera tutup gerbang sekolah! Jangan biarkan siapapun kembali masuk ke sekolah ini lagi."
Terdengar suara seseorang pria paruh baya bertubuh tinggi tegap dengan rambut putih panjanv yang menjuntai ke bawah. Ia bersandar di dinding di samping jendelanya. Lirik matanya yang mencerminkan kekhawatiran saat melihat situasi yang sedang terjadi di halaman sekolah tak bisa tertutupi. Yang sepertinya ia telah mengerti benar apa yang tengah terjadi.
"Baik, Jiraya-sama!"
Jawab seorang guru yang patuh akan perintah pria berambut putih itu. Dan segera keluar dari ruangan para guru ini untuk melaksanakan tugas yang telah diberikan kepadanya.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi...?"
Seorang wanita muda cantik melontarkan sebuah pertanyaan untuk Jiraya yang tengah bersandar di sana. Mengenakan setelan jas dan rok pendek di atas lutut berwarna hitam. Sedang terbingung atas apa yang sedang terjadi saat ini.
"Aku juga tidak tahu pasti..."
Jiraya menjawab dengan nada datar sembari menutup kedua matanya. Berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan kata-katanya.
"Tapi yang jelas, Insiden ini bisa menyebar ke seluruh Konoha Gakuen jika tidak segera cepat ditangani.
Ungkap Jiraya sambil berlalu dari tempatnya bersandar. Jarinya lalu menekan panjang tombol alaram sekolah untuk memberitahu seluruh orang yang ada di dalam sekolah ini bahwa ada keadaan darurat yang sedang terjadi.
"Jadi, Kita harus turun langsung ke lapangan untuk menuntaskan masalah ini..."
Ucap Anko yang mencoba mencermati setiap kata-kata sang kepala sekolah. Wanita itu lekas beranjak dari tempatnya, Untuk segera menuju tempat keributan terjadi. Akan tetapi, Sebelum Anko melenggang keluar melewati pintu ruangan ini, Seseorang coba untuk memperingatkannya.
"Ini mungkin akan sulit bagimu. Sebaiknya jangan terlalu gegabah."
Itu adalah suara dari Kakashi, Yang masih duduk manis di mejanya tanpa menampakkan ekspresi wajah yang berlebihan. Tetap datar dan malas seperti biasanya. Seolah situasi yang seperti ini sudah berulang kali dialaminya.
"Apa kau menyuruhku untuk tetap diam dan menunggu semua ini mejalar kemana-mana, Begitu...?"
Sahut Anko sembari bersidekap sedikit kesal. Yang saat itu masih belum tahu apapun tentang apa yang sedang terjadi.
Kakashi sejenak menatap ke arah Anko. Menatap ke arah sepasang mata indah yang tidak sedikitpun memperlihatkan rasa takut ataupun ragu.
'Meski menjengkelkan, Kuakui... Saat itu kau benar-benar keren...'
'Dan mungkin sebenarnya, Kau adalah orang yang ikut membantu mental Naruto untuk terus tumbuh hingga menjadi dirinya yang sekarang ini...'
"Coba lihat situasi di sana..."
Kata Kakashi ketika ia sedikit memutar kursinya untuk menoleh ke arah luar jendela. Memperhatikan para siswa-siswi yang mulai menggila. Berlarian dan menerkam teman mereka sendiri.
"Apa bila kau tergigit... Maka kau hanya akan berakhir menjadi seperti mereka."
Lanjut Kakashi menjelaskan sesuatu yang patut Anko ketahui saat itu. Satu kesalahan kecil saja, Akan sangat fatal akibatnya.
"Apa yang yang dikatakan Kakashi ada benarnya. Aku akan coba hubungi pihak kepolisian."
Sahut Jiraya sembari menggenggam gagang telepon dan mulai menekan beberapa digit angka di sana.
'Saat itu yang ada di pikiranku adalah, Mungkin insiden ini sudah menyebar terlalu jauh sampai ke sudut-sudut Kota. Membuat segalanya menjadi kacau dan tak terkendali...'
"Menurutku, Saat ini kita tidak akan bisa menggunakan alat komunikasi."
Ungkap Kakashi dengan nada datar.
Dan jelas saja, Jiraya membanting gagang teleponnya kembali ke tempatnya berasal setelah Kakashi mengatakan hal tersebut.
"Kusoo...! Apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ini benar-benar keadaan darurat."
Gumam Jiraya yang menjadi frustasi akan situasi ini. Seperti yang telah Kakashi katakan, Tidak ada seorangpun yang bisa ia hubungi. Semuanya menjadi kacau.
'Dan mungkin hanya diriku saja... Satu-satunya orang yang di Konoha Gakuen yang menyadari sebuah gelombang ledakan yang kasat mata terjadi di pusat Kota dari jendela ruangan ini tadi...'
"Lalu jika sudah seperti ini, Apa yang sebaiknya harus kulakukan... Kakashi?"
Satu pertanyaan terlontar dari Anko untuk seorang guru berambut perak di sana. Memperlihatkan wajah sedikit sebal ketika menatap Kakasi yang masih saja terlihat tenang. Seperti bagai tak terusik dengan segala situasi yang telah terjadi.
"Jika tidak salah, Konoha Gakuen masih memiliki beberapa pedang kayu yang tersimpan di Dojo Kendo. Kau bisa menggunakannya. Sesuai dengan kemampuan dan bakatmu."
Jawab Kakashi memberi saran yang Anko minta.
". . . . . . . ."
Anko masih diam bersidekap di antara pintu keluar ruangan para guru ini.
"Turuti saja... Sepertinya dia mengetahui sesuatu mengenai hal ini. Benar bukan...?"
Sembari coba membuka gembok lemari besi yang menyimpan berbagai macam perlengkapan olahraga, Jiraya menyahut ikut memberi saran kepada Anko. Karena ia tidak terlalu bodoh untuk mengerti gelagat Kakashi yang begitu tenang menyikapi masalah genting ini.
Mungkin apa yang mereka katakan memang ada benarnya. Begitulah yang Anko pikirkan. Sejenak wanita muda berparas cantik itu memberikan tatapan tajam kepada Kakashi, Sebelum akhirmya melenggang pergi menghilang dari pandangan.
Menggenggam sebuah tongkat pemukul dan gulungan tali, Jiraya juga terlihat akan segera pergi meninggalkan ruangan ini. Seperti dirinya akan melakukan sesuatu yang harus ia lakukan sebagai seorang kepala sekolah Konoha Gakuen.
"Lalu apa yang harus kami lakukan, Jiraya-sama...?"
Tanya guru-guru lain yang ada di sana. Sejenak menatap wajah ketakukan mereka, Jiraya memberikan petunjuk apa yang setidaknya harus mereka lakukan.
"Menyebarlah ke bawah. Coba kendalikan situasi ini sebisa kalian. Dan yang lain tetap di sini untuk terus mencoba menghubungi polisi atau siapapun yang bisa membantu menyelesaikan masalah ini."
Begitulah apa yang Jiraya sampaikan kepada mereka semua sebelum akhirnya ikut hilang dari pandangan setelah melewati pintu ruangan itu. Sepintas semua guru di sana saling bertukar pandang. Bertanya-tanya antara siapa yang harus turun ke bawah sana dan siapa yang harus tetap di sini.
Tapi sepertinya hal yang seperti itu sama sekali tidak menggangu Kakashi. Pria berambut perak itu kini berdiri dari tempat duduknya setelah melihat kedipan merah kecil di jam tangannya. Seperti itu adalah panggilan darurat untuk dirinya.
Kakashi segera melangkah beranjak keluar dari sana sembari menarik sebagian jam tangan yang ada di tangan kirinya. Bagian yang ternyata adalah sebuah alat komunikasi kecil rahasia itu Kakashi tempelkan di salah satu telinganya.
"Bagaimana situasi di sana... Itachi?"
Tanya Kakashi dari alat komunikasi kecilnya sebari terus berjalan kedepan.
"Situasi di sini semakin memburuk. Kurasa aku telah salah memperhitungkan. Red Qween benar-benar licin dalam melakukan segala sesuatu."
Jawab seseorang yang tengah berhubungan dengan Kakashi. Dan sesekali dapat Kakashi dengar suara satu-dua tembakkan yang terlepas. Seperti yang lawan bicaranya katakan, Mungkin situasi di sana benar-benar sudah sangat kacau.
Seseorang di depan menghalangi jalan Kakashi. Ada seorang guru yang berjalan linglung dan tertatih. Seperti tidak tahu apa yang sedang ia lakukan. Hampir seluruh pakaiannya robek penuh dengan luka dan darah yang terlihat. Iris pupil matanya sudah menjadi putih memudar. Dia telah terinfeksi dan berubah. Tidak ada bagian yang bisa tertolong lagi darinya. Hal seperti itu Kakashi sudah mengetahuinya dengan benar.
Seakan tidak ada perasaan goyah, Kakashi tetap berjalan lurus ke arah rekannya yang telah berubah itu. Membuka jas hitam yang merangkapi kemejanya yang berwarna putih. Guru yang telah menjadi Zombie di sana langsung saja menghampiri Kakashi dengan terpontang-panting secara ganas. Bagai binatang buas yang sedang kelaparan.
"Mungkin ini karena ketua Minato yang telah berhenti. Membuat mereka semakin leluasa untuk bergerak. Tapi bukan berarti semua letak dari masalah ini berasal dari sana."
Jawab Kakashi sembari menatap Zombie yang bergerak ganas ke arahnya. Jarak di antara mereka berdua semakin dekat. Namun masih dengan raut tenangnya, Kakashi terus berjalan menghampiri Zombie tersebut.
Guru yang telah terinfeksi dan berubah itu langsung menerjang Kakashi. Namun dengan jas hitam miliknya, Kakashi menghalau serangan dari guru tersebut. Dengan gerakan sederhana, Kakashi berhasil membungkus tubuh guru ganas itu menggunakan jas miliknya.
Guru yang telah tertutupi oleh jas hitam Kakashi tersebut meronta-ronta seakan ingin terlepas dari ikatannya. Tapi ia malah terjatuh melewati pagar pembatas. Terjun ke bawah dengan masih terikat oleh jas hitam.
"Gedung Red Qween memiliki basement hingga 4 lantai di bawah tanah. Aku akan coba mencari Obito di sana."
Ungkap seseorang yang menjadi lawan bicara Kakashi.
Tetapi Kakashi malah terdiam. Sorot pandang matanya mengarah ke lantai dua di gedung sekolah utama. Di mana seorang pemuda berambut kuning rancung yang berlarian di lorong sekolah bersama Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura sejenak menjadi titik perhatiannya.
'Maaf, Minato-taichou... Aku tidak bisa melindungi putramu. Ada hal yang harus aku segera aku lakukan.'
Ucapnya dalam hati setelah memperhatikan Naruto dari jauh.
"Jangan terlalu memaksakan diri."
Sahut Kakashi setelah sekian lama terdiam. Melanjutkan pembicaraan pribadi mereka berdua.
"Aku tahu."
Jawab singkat Itachi. Dan kontak pun terputus setelahnya. Membuat perbincangan singkat di antara mereka berdua berhenti sampai di sini.
Kakashi terus berjalan dengan cepat. Menuruni setiap anak tangga yang ada. Lalu terjun melompati pagar pembatas sekolah dan mendarat dengan menggunakan kedua kakinya. Sejenak ia melihat pemandangan di sudut Kota sana. Semuanya sudah berubah begitu cepat. Dan Kota Konoha pun sudah berada dalam kehancurannya.
"Tidak kusangka akan jadi seperti ini..."
Gumamnya sendiri pelan memperhatikan asap-asap yang mengepul ke atas di seluruh sudut Kota. Pemandangan ngeri yang tak akan pernah bisa terkiaskan oleh kata-kata. Mentari senja kala saat itu pun tak lagi mampu memberikan keindahannya. Semua terbias menjadi satu gambaran kehancuran.
Untuk sebentar, Pandangan Kakashi berpaling untuk menatap sekolah yang menjadi tempatnya untuk mengamati pergerakan Red Qween dari jauh. Melihat bagaimana kini semua murid-muridnya menjadi sesuatu yang mengerikan. Tidak ada lagi yang tersisa.
Sebelum Kakashi memutuskan untuk beranjak dati tempatnya berdiri, Ia menangkap sesuatu yang tidak ia sangka. Di sudut lantai paling atas gedung di mana ruang para guru berada, Kakashi mendapati sebuah kelompok yang masih mampu bertahan di dalam situasi yang seperti ini. Dan yang membuat dirinya agak tercengang, Adalah ketika ia melihat Naruto ada dalam satu kelompok tersebut. Pemuda dengan rambut berwarna kuning rancung yang kini bertahan dari kehancuran dengan hanya bersenjatakan sebuah tongkat pemukul.
'Tidak salah lagi. Kau memang benar-benar putranya.'
Ucap Kakashi dalam hati sedikit lega melihat putra dari orang yang paling ia hirnati dan kagumi masih mampu untuk bertahan hidup.
Dan tidak hanya Naruto saja yang mengundang senyum tipis di wajahnya untuk datang. Tepat di samping Naruto, Adik dari Uchiha Itachi pun ada di sana. Bersama-sama dengan Sakura, Sona, Chouji, Dan juga Anko. Entah bagaimana cara mereka untuk mampu tertap bertahan hidup. Tapi itu adalah hal yang cukup luar biasa untuk sekumpulan orang-orang biasa.
'Jaga diri kalian baik-baik sampai kita dapat bertemu kembali nanti...'
Gumamnya singkat sebagai pengakhir waktunya di sini. Dengan begitu, Kakashi mampu melanjutkan apa yang harus ia lakukan tanpa terbebani sesuatu. Letak Konoha Gakuen yang berada di posisi dataran paling tinggi di antara letak bangunan-bangunan lain di Kota ini, Membuat Kakashi harus meluncur ke bawah untuk memangkas waktu. Karena jika melalui jalanan utama dirasa akan sedikit jauh dan melelahkan.
Hanya menggunakan alas kedua sepatu hitamnya, Kakashi bagai meluncur menuruni bukit landai. Menuju ke bawah di mana arah jalan yang langsung menuju ke pusat Kota.
"Tidak kusangka sudah seperti ini... Sungguh penyebaran yang luar biasa."
Katanya sembari menatap lurus ke depan ketika sepasang kakinya telah berhasil mengantarkannya sampai ke bawah.
Dilihatnya satu per satu warga Kota yang sudah tidak bisa lagi disebut sebagai manusia. Semuanya telah terinfeksi dan berubah. Membuat Kota besar ini bagai kumbangan para mayat hidup. Entah sudah sejak kapan pastinya penyebaran virus ini dimulai. Namun yang Kakashi sadari saat ini, Mentari sudah berada di ujung batasnya. Tak mampu lagi untuk memberikan sinar indahnya menerangi Kota yang telah hancur ini. Membuat Kakashi harus bergegas untuk segera sampai di apartemennya.
.
.
.
.
.
Sebuah laci meja terseret keluar dan terbuka. Di dalamnya hanya terdapat buku-buku dan kertas yang tak terlihat lagi gunanya. Tidak ada yang spesial di dalam sana. Bahkan ketika sepasang tangan mengeluarkan seluruh isi laci tersebut, Tidak ada lagi hal yang terlihat selain alas dasar dari laci tersebut. Namun itu hanya akan terjadi pada orang biasa yang membukanya.
Kakashi mengambil sebuah pulpen berwarna hitam. Jari-jarinya mulai membongkar pulpen tersebut hingga hanya batang isinya saja yang tersisa. Dengan hati-hati ia tusuk bagian bawah dari lacinya dengan menggunakan batang is pulpen tadi. Ada sebuah lubang kecil di balik sana. Yang tidak mungkin orang lain akan bisa menyadarinya. Dasar dari alas laci tiba-tiba tersembul ke atas. Memperlihatkan celah misterius yang terdapat di sana. Kakashi langsung saja mengambil alas dasar laci itu dan meletakkannya di sembarang tempat. Yang kini membuat isi dari laci tersebut benar-benar berbeda.
Sebuah FN 97, Senjata genggam buatan Belgia tersimpan manis di sana. Lengkap dengan dua buah slot magazen berisi penuh peluru berkaliber 5,7mm. Tidak ketinggalan sebuah dokumen kecil terselip di sana. Yang di mana tidak akan bisa orang lain temukan dengan mudah di laci yang sangat sederhana ini.
Kakashi mengambil barang-barang itu dari sana, Lalu mundur kebelakang untuk terduduk di tepi ranjang kamar apartemennya. Mengecek sejenak isi di tiap slotnya, Sebelum akhirnya ia masukkan ke dalam pistol tersebut.
BRAAKK-BRRAAKK-BRRAAKK...!
Terdengar suara dobrakan keras dari arah pintu yang telah dihalangi oleh sebuah lemari besar dan juga sebuah sofa. Entah bagaimana pria berambut perak ini bisa sampai di kamar apartemennya. Yang pasti, Yang sedang mendobrak pintu di luar sana, Bukanlah manusia. Namun di malam yang terasa agak senyap ini, Kakashi masih memperlihatkan wajah santainya walau dengan kemeja putih yang sudah terkotori oleh bercak cipratan darah.
Jam tangan yang terlingkar di tangan kirinya berkedip-kedip. Menandakan ada panggilan yang masuk untuk dirinya. Kakashi menekan sebuah tombol kecil di antara Frame jam tangannya itu. Dan koneksi pun langsung tersambung secara otomatis dengan sendirinya.
"Aku tidak bisa menemukan apa pun selain labotarium yang telah ditinggalkan di Basement Red Qween."
Sebuah suara seorang pria terdengar melalui Earphone kecil di telinga Kakashi.
"Begitu..."
Jawabnya singkat dan sangat sederhana menanggapi lawan bicaranya.
"Dua blok lagi aku akan segera sampai di depan apartemenmu. Sebaiknya bersiaplah."
"Maaf merepotkanmu, Itachi..."
Ucap Kakashi yang terlihat tidak enak hati setelah sebelumnya memberitahu bahwa dirinya sedang terjebak di kamar apartemen ini.
"Aku akan mengantarkanmu sampai ke tempat pertemuan. Sebaiknya jangan sampai lupa membawa hasil pengamatanmu selama ini."
Kata Itachi yang sedang mengingatkan Kakashi tentang Puzzel File-File rahasia yang selama ini telah Kakashi kumpulkan di saat sedang menyamar menjadi seorang guru yang terlihat normal di sebuah Sekolah Menengah Atas.
"Yahh... Aku tahu..."
Jawab Kakashi yang lagi-lagi singkat dan sederhana.
Pintu yang tidak jauh darinya masih terus di dobrak dari luar. Tiada henti mengisi keheningan malam di Kota yang telah lumpuh ini. Meski begitu, Tidak sedikitpun mengganggunua yang kini sedang menatap secarik dokumen yang berisikan File-File rahasia di tangannya. Sebuah hasil dari memata-matai perusahan farmasi besar bernama Red Qween. Yang merupakan hanya sebuah kedok belaka. Dengan seseorang yang bernamakan Uchiha Obito sebagai pemegang saham terbesar di perusahan tersebut. Dan siapa pemilik dari perusahan terbesar di Kota Konoha itu, Masihlah menjadi sebuah tanda tanya besar.
Tidak lama Kakashi termenung menatap dokumen yang ada di tangannya, Terdengar raungan mesin gahar yang semakin mendekat ke arah apartemennya. Segera Kakashi simpan dokumen tersebut, Dan melangkah mendekat ke arah jendela. Saat Kakashi menengok ke bawah, Sebuah Lamborghini Aventador berwarna hitam telah berhenti tepat di bawah sana.
Langsung saja melompat keluar jendela, Kakashi meluncur berpegang pada sebuah pipa air hingga sampai ke bawah. Kakashi berpaling ke belakang dan melihat kaca jendela mobil yang sudah turun terbuka. Memperlihatkan sang pengendara yang tidak lain adalah rekan terdekatnya. Uchiha Itachi.
.
.
.
.
.
Di bawah malam yang gelap dan sunyi, Tanpa ada cahaya lampu jalan yang menerangi tiap sudut Kota, Dua pria tengah menikmati perjalanan mereka hanya dengan ditemani lampu dari mobil yang mereka kendarai. Kondisi yang gelap gulita dan para mayat hidup kelaparan yang selalu nampak di kanan dan kiri jalan, Membuat suasan Kota ini menjadi agak mengerikan.
Pakaian yang mereka kenakan saat ini sama-sama terlumuri oleh cipratan darah berwarna merah. Yang sebagaimana menjadi bukti bahwa di luar sana benar-benar sudah menjadi Dunia yang berbeda. Dunia yang keras dan kejam sekaligus mengerikan. Tanda dari akan berakhirnya umat manusia.
"Bisa kita ubah jalurnya...?"
Ucap Kakashi yang saat itu.
Itachi masih fokus menyetir tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari jalanan gelap minim penerangan.
"Apa yang ingin kau lakukan..."
Tanya Itachi yang belum tahu akan apa yang ingin Kakashi lakukan mengenai permintaannya.
"Bukan hal yang penting. Tapi aku hanya ingin memastikan sesuatu..."
Jawabnya kemudian.
Itachi tidak banyak bertanya lagi. Karena yang perlu ia lakukan hanyalah mengubah jalur perjalanan mereka, Itu saja. Yang terpenting adalah sampai di tempat tujuan tepat pada waktunya.
Saat ini mungkin jarum jam sudah menunjuk ke pukul 02:00 waktu setempat. Seperti yang sudah Kakashi pinta, Itachi memutar kemudinya saat tiba di persimpangan. Sedikit menginjak pedal gas lebih dalam, Mobil sport yang mereka kendarai melaju statis di kecepatan 85km/jam untuk mengejar waktu yang akan terpotong nantinya.
Tiada keributan...
Tiada tanda-tanda kehidupan...
Yang tersisa hanya jalanan malam di Kota sunyi yang penuh dengan mayat hidup. Yang dapat bertahan akan bertahan di tempat persembunyian sampai tiba saatnya pertolongan datang menjemput mereka. Namun... Itu hanya berlaku jika memang masih ada unit kepolisian yang tersisa di Kota ini. Karena dari seluruh sudut jalan yang telah Kakashi dan Itachi lalui, Telah tersapu rata oleh kumbangan para orang mati. Pemamdangan yang tidak bisa lagi dirangkai oleh kata-kata.
Sebuah sekolah megah dan terbesar di Kota ini, Dengan dua gedung bertingkat di dalamnya, Sorot dua lampu terang datang dari arah barat. Lamborghini hitam perlahan memperlambat lajunya sebelum benar-benar berhenti tepat di depan gerbang sekolah yang bernama Konoha Gakuen tersebut. Sorot lampu dan raungan halus dari mesin masih menyala. Salah satu pintu pun terbuka secara otomatis ke atas.
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu..."
Ucap Kakashi yang seperti ada sesuatu yang terganjal di pikirannya.
"Apa kau... Tidak mengkhawatirkan adikmu..."
Kakashi melontarkan satu pertanyaan dengan nada pelan.
Itachi terdiam sejenak mendengar pertanyaan dari rekannya tersebut. Kakashi tidak dapat melihat raut wajahnya saat ini. Tertutupi oleh rambut Itachi yang agak panjang. Masih menunggu jawaban dari rekannya sebelum ia keluar dari mobil mereka.
"Saat ini... Ada banyak hal yang harus kulakukan. Meski begitu, Aku tahu benar bagaimana ia tumbuh. Dia masih belum dapat melakukan sesuatu dengan benar. Tapi misi adalah misi. Dan tugas adalah tugas. Lalu bagaimana pendapatmu..."
Jawab Itachi bergumam.
"Begitu..."
Sahut Kakashi singkat, Yang kini sudah tahu apa jawaban Itachi. Seorang pria yang begitu menyembunyikan perasaannya. Terjebak oleh misi-misi berbahaya di kala ia tengah sangat mengkhawatirkan satu-satunya adik yang ia miliki. Meski begitu, Itachi tetap maju tanpa melihat kebelakang. Sosok yang disiplin dan penih tanggung jawab. Namun rela mengorbankan apapun untuk satu adiknya itu.
Sepatu hitam Kakashi menapak di atas aspal. Pria dengan rambut perak itu keluar dari mobil. Menatap keadaan sekolah yang telah tersapu bersih sama seperti Kota ini. Sejenak ia berpikir bahwa mungkin ada yang masih bertahan di dalam kelas, Ketika ia melihat cahaya lampu di salah satu kelas yang berada di lantai dua. Sesuatu yang mungkin akan dilakukan murid-muridnya jika memang mereka masih ada di sana. Namun ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Di saat lampu di kelas itu menyala, Ada sebuah benda yang mengganjal di pintu gerbang sekolah.
Kakashi melangkah untuk melihat lebih dekat. Dan tatapannya terpaku pada sebuah tongkat pemukul yang sudah berlumuran darah tersangkut di depan gerbang. Mungkin akan lebih tepat jika disebut sengaja disangkutkan di sana. Yang tidak lain dan tidak bukan untuk mengunci gerbang ini dari luar. Agar yang di dalam tetap berada di dalam. Tapi... Mengapa?.
Melihat hal yang ia rasa aneh ini, Kakashi mulai berspekulasi. Mungkin cahaya yang ada di kelas lantai kedua itu, Hanyalah untuk mengalihkan perhatian para murid yang telah menjadi mayat hidup untuk mendekat ke sana. Terbukti jika Kakashi tidak melihat satu pun dari mereka yang ada di lapangan. Semuanya berkumpul di kelas tersebut. Akan tetapi sekarang, Yang menjadi pertanyaan adalah... Siapa yang telah melakukan semua hal ini?.
Namun pertanyan yang baru saja muncul di kepala Kakashi sudah dengan mudah terjawab, Ketika ia memperhatikan tongkat pemukul kasti yang tersangkut di sana. Tongkat pemukul yang sama dengan yang digunakan oleh Naruto saat berada di ruang guru sesaat yang lalu.
'Begitu...'
Kakashi lalu tersenyum tipis. Tidak menyangka bahwa Naruto lah yang telah melakukan semua trik ini. Membuat sebuah senyuman tidak tertahan keluar di wajah lelah Kakashi.
'Dengan apa yang sudah dia lakukan saat itu... Aku semakin berpikir... Bahwa dia memang putra Minato. Seseorang yang akan menyamai kejeniusannya. Dan mungkin hanya dirinya saja, Yang dapat menyamainya-... Tidak... Tapi melampauinya. Aku percaya bahwa suatu hari nanti akan tiba saat di mana dia akan mampu melampaui Ayahnya itu. Sepertinya hanya hal itu yang dapat kupercayai dari Dunia yang telah berada di ambang kehancuran ini...'
Perlahan tangannya menarik tongkat pemukul yang tersangkut di sana itu. Menatap dan menggenggamnya dengan erat. Dengan kepercayaan bahwa pemuda itu... Bersama dengan Sasuke, Sakura, Sona Chouji, dan Anko berhasil keluar dari sekolah ini dan masih bertahan hidup di luar sana. Sesuatu yang menjadi harapan kecil baginya untuk dapar bertemu dengan mereka semua suatu saat nanti.
"Apa kau sudah selesai...? Mereka mulai berdatangan."
Ucap Itachi dari balik kaca jendela mobilnya. Coba mengingatkan Kakashi untuk lekas kembali dan melanjutkan perjalanan mereka. Saat Kakashi memperhatikan sekitarnya, Benar saja... Mereka sudah mulai bermunculan di jalanan. Berjalan tertatih mendekatinya. Kakashi pun juga sudah tidak ingin berlama-lama di tempat ini. Karena dirinya sudah menemukan jawaban yang ia ingin ketahui tentang murid-muridnya itu.
Kakashi pun berlari kembali menuju ke pintu mobil yang terbuka. Lalu masuk dan duduk di dalam sana.
"Maaf, Membuatmu menunggu lama."
Ucap Kakashi.
Pintu mobil pun mulai bergerak untuk menutup secara otonatis. Namun ketika pintu itu belum tertutup dengan sempurna ke bawah, Tiba-tiba muncul seorang pria tak dikenal yang datang dan mencoba untuk menyerang Kakashi.
"...?!"
Terkejut dengan apa yang datang, Kakashi mencoba keras untuk menjauhkan dirinya dari gigitan pria tak dikenal itu. Ingin Kakashi meraih senjata genggamnya yang terselip di sabuk belakang, Tetapi kedua tangannya masih sangat sibuk saat ini. Pria tak dikenal itu berulang kali mencoba untuk menggigit Kakashi dengan ganasnya. Sedang Kakashi begitu kuwalahan untuk menjauhkan orang ini dari dirinya.
DAARRR...!
Sebuah peluru terlepas melesat tepat menghujam di tengah-tengah kepala pria tersebut. Darah merah bermuncratan keluar karena daya tembakan yang dahsyat. Membuat sebagian kaca dalam dan wajah Kakashi ikut terciprat oleh darahnya. Pria itu langsung berhenti bergerak dan terkulai di samping tubuh Kakashi.
Kakashi masih sangat beruntung tidak sampai tergigit olehnya. Mungkin ia harus berterimakasih kepada Itachi nanti yang telah menembak pria itu menggunakan Desert Eagle tepat di otaknya. Kakashi mendorong tubuh lemas pria ganas itu keluar dari mobil ini. Dan pintu itu pun dapat tertutup rapat dengan sempurna.
BRRAAKKH...!
Gebrakan demi gebrakan terdengar ketika para mayat hidup itu sudah mengerumuni mobil mereka saat ini. Kaca jendela milik Itachi ataupun Kakashi tak lupun dari sasaran mereka. Dengan wajah-wajah berlumur darah mengerikan, Para mayat hidup itu terus mendobrak-dobrak mobil mereka. Begitu ganas dengan rasa lapar yang harus terpuaskan.
Itachi menaruh Desert Eagle miliknya di atas Dashboard. Lalu dengan sigap mengoprasikan tuas persneling di dekatnya. Mesin mobil sport ini meraung-raung gahar dengan gigi pertama. Saat Itachi melepas pedal koplingnya, Ban belakang mereka berputar menggesek aspal. Dan langsung melaju kencang meninggalkan para mayat hidup yang tertabrak dan tertindas.
.
.
.
Sinar sang mentari sedikit demi sedikit telah menunjukkan keelokannya. Hari bencana yang mengerikan telah berlalu dengan cepat kemarin hari. Tak ada lagi lalu lintas padat yang mengisi. Tak ada lagi keramaian para pejalan kaki yang mengitari. Hanyalaj menyisakan Kota besar yang telah mati.
Deru bising mesin helikopter terdengar bising. Di sana, Kakashi yang kini mengenakan seragam lengkap milik organisasi rahasia Anti Bio-Terrorist Unit, Tengah duduk di dekat pintu heli yang terbuka. Angin berhembus kencang kala helikopter tersebut mengudara. Bergerak lurus di sekitar gedung-gedung pencakar langit.
Seseorang di sebelahnya menyerahkan secarik kertas. Sebuah detail catatan tentang data tim yang akan diikutinya nanti. Kakashi menerima selembar kertas tersebut dengan tangan kirinya. Dan sesuatu yang menarik di sana, Adalah ia akan bertugas dalam satu tim yang diketuai oleh seorang gadis yang masihlah sangat muda bila dibandingkan dengan dirinya.
"Ino Yamanaka..."
Gumam Kakashi pelan ketika membaca data profil seseorang yang tertera di lembar kertas tersebut.
Sejenak terdiam, Mata Kakashi melihat sesuatu yang tidak kalah menariknya. Tepat di bawah sana, Ia melihat sebuah Minibus yang terparkir di tengah jalan di dekat toko swalayan. Bukan bus biasa yang biasa ada di jalanan. Tetapi sebuah Minibus yang tidak salah lagi hanyalah milik Konoha Gakuen.
Semuanya kini saling terhubung. Mengenai kejanggalan yang ada di sekolah semalam, Yang mana lampu ruang kelas lantai atas sengaja dinyalakan dan pintu gerbang yang di kunci dari luar. Tidak lain dan tidak bukan adalah cara untuk mereka keluar dari sekolah itu.
Dan benar saja... Dari atas sini, Kakashi dapat melihat sosok Uchiha Sasuke, Haruno Sakura, dan yang lainnya keluar dari dalam Minibus tersebut ketika heli ini semakin mendekati tempat mereka berhenti. Hatinya benar-benar lega, Setelah dapat melihat mantan-mantan muridnya itu masih selamat dan bertahan hidup. Namun meski begitu, Ada hal kecil yang mengganjal di hatinya. Kakashi masih belum melihat sosok pemuda berambut kuning yang sangat ingin ia lihat. Bahkan ia tidak melihat Anko di sana. Tidak ada tanda-tanda sama sekali jika Naruto dan Anko ada di dalam Minibus itu bersama-sam dengan mereka.
Dalam hati pun Kakashi bertanya-tanya di manakah keberadaan Naruto dan Anko saat ini. Apa yang sedang mereka berdua lakukan. Dan pertanyaan yang paling ingin ia dapatkan jawabannya adalah... Apakah mereka berdua masihlah hidup...?
Kakashi menggenggam sebuah tongkat pemukul yang berlumur darah yang telah mengering. Tongkat pemukul yang saat itu Naruto untuk bertahan di sekolah yang sudah menjadi sekolah kematian itu. Kakashi menyobek kecil bagian kosong lembar kertas data personel yang ia pegang. Lalu menuliskan sesuatu sebagai sebuah pesan di sana. Pesan yang tentunya ia tujukan untuk sang putra dari Minato tersebut.
Surat pesan kecil itu ia lekatkan pada gagang tongkat pemukul yang ia genggam, Dengan isolasi sebagai perekatnya. Kakashi menengok ke bawah sana. Melihat para mantan-mantan muridnya tersebut berteriak dan melambaikan tangan sebagai tanda meminta pertolongan. Tetapi helikopter ini terus melaju di atas mereka dan melewatinya begitu saja.
'Maaf... Hanya ini yang bisa kulakukan. Dan sekali lagi... Tetaplah hidup sampai kita bisa bertemu lagi nanti...'
Gumam Kakashi dalam hati, Sambil menjatuhkan tongkat pemukul yang ia genggam ke bawah sana.
Heli yang ia tumpangi pun terus melaju di antara gedung-gedung tinggi di Kota yang telah mati ini. Terbang menuju ke markas pusat Kota Konoha untuk memulai misi baru yang telah menantinya.
.
.
.
Flashback End...
.
.
.
Sejenak menghirup udara dingin di sekitarnya, Kakashi pun memutuskan untuk memasukkan kembali ponsel miliknya ke saku celana dan membuang sebatang rokok yang sudah hampir habis menyentuh putungnya, Lalu berbalik. Melangkahkan kedua kakinya mendekati sebuah gerbong kereta tua yang tak lagi terpakai.
Dari dalam, Pintu usang itu terbuka. Menampakkan sosok Kakashi yang melangkah naik masuk kedalam. Lalu segera ia tutup kembali pintu tersebut rapat-rapat. Agar Sakura, Sasuke, Kiba, dan Hinata tidak terbangun dari tidur nyenyak mereka oleh udara dingin yang terhembus masuk.
Baru sebentar satu kaki Kakashi akan melangkah, Tubuhnya seolah berhenti untuk bergerak setelah melihat seseorang yang sepertinya sudah menunggu dirinya. Kakashi melirik Uchiha Sasuke yang santai bersandar di dinding gerbong kereta menunggu kedatangannya kembali.
Mungkin ada sedikit rasa terkejut saat melihat pemuda itu sudah beranjak bangun dari istirahat singkatnya tadi. Namun Kakashi masih lebih pandai menyembunyikan segala ekspresi yang tal diperlukan. Dua hal yang ia sadari ketika melihat Sasuke yang sudah bersandar disana. Yang pertama, Sasuke mungkin terbangun oleh suara terkejut Naruto beberapa saat yang lalu. Tapi entah kenapa sang Uchiha muda itu tetap pada posisinya dan memilih untuk berpura-pura tertidur di samping Sakura.
Hal kedua yang terlintas di pikiran Kakashi adalah, Kemungkinan besar, Sasuke telah mendengar seluruh percakapan antara dirinya, Naruto, dan Juga Minato mengenai misi itu.
"Jadi... Kau sudah mendengarnya ya kan."
Ucap Kakashi yang bermaksud untuk menyapa pemuda berambut Raven itu. Walau dirinya pun juga ingin lebih memastikannya lagi.
". . . . . .Seperti yang terlihat."
Jawab Sasuke dengan begitu singkatnya. Masih bersidekap dan bersandar dengan wajah datar.
Melihat sikap, sifat, dan gaya pemuda yang pernah menjadi salah satu muridnya itu, Entah kenapa membuat Kakashi jadi mengingat sosok Uchiha Itachi. Mungkin karena memang mereka berdua adalah bersaudara, Alasan yang membuat mereka terasa begitu mirip sekarang.
"Apa kalian benar-benar menyerahkan masalah ini padanya seorang diri...?"
Sasuke membuka kedua manik matanya sembari bertanya.
"Lalu, Apa yang akan kau lakukan? Pergi menyusulnya? Jika memang begitu, Maka aku tidak akan coba untuk menahanmu."
Jawab Kakashi kemudian. Memberikan sang Uchiha muda itu rentetan pertanyaan sekaligus.
". . . . . ."
Sejenak, Sasuke terlihat diam tak menjawab.
"Aku dan dia kini berada di level yang berbeda. Saat ini aku mungkin hanya akan jadi beban baginya. Dan bahkan mungkin sudah cukup terlambat untuk pergi menyusulnya."
"Ah... Begitu..."
Kini Kakashi tahu jawaban seperti apa milik Sasuke. Kakashi cukup lega mendengarnya, Walau ia tadi berkata bahwa dirinya tidak akan menghalangi jalan Sasuke jika pemuda itu memilih untuk pergi menyusul Naruto yang bertaruh nyawa sendiri demi sebuah misi.
Sasuke berdiri menegakkan lekuk tubuhnya, Dan mulai beranjak dari sana mendekat ke tempat dimana Sakura tengah tertidur pulas.
"Dengan tubuh yang dipenuhi oleh keterbatasan ini... Tidak banyak yang bisa kulakukan."
Gumam Sasuke dengan suara pelan saat ia kembali ke tempat duduknya di sebelah Sakura. Tetapi suaranya masih bisa didengar jelas oleh Kakashi berkat suasana yang sepi senyap seperti saat ini.
Sasuke mengulurkan satu tangannya, Dan menarik kepala Sakura secara lembut perlahan untuk jatuh ke pundaknya. Dilihatnya lekat wajah damai gadis berambut merah jambu yang tengah tertidur pulas tersebut. Sudah terlalu banyak korban yang berjatuhan di depan matanya akibat kehancuran yang tengah terjadi. Namun dirinya merasa begitu lega dan beruntung. Karena kedua matanya masih bisa menatap wajah kekasihnya itu di saat Dunia yang telah berubah seperti ini.
"Tidak ada pilihan lain yang bisa kupilih. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan saat ini..."
Sasuke mendongak menatap ke arah pemandangan malam diluar jendela kereta. Menerawang jauh di ujung sana.
". . . . . .Hanyalah mempercayakan semuanya pada Naruto."
.
.
.
.
.
"Game Has Only Just Begun"
The Place Of Hope
Chapter 14 : "Permainan Baru Saja Dimulai"
Genre : Adventure, Horror & Gore
Main Cast : Naruto U., Sakura H., Sasuke U.
Caution! Contains violance & profanity (17th +)
.
.
.
.
"Naruto, Ini hanya jebakan! Cepat tinggalkan tempat ini! Kumohon jangan pedulikan aku... Cepat, Pergilah!"
Seru Sona yang tiba-tiba saja panik. Menyuruh Naruto untuk segera lari dari tempat ini.
Tapi Naruto tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan segera meninggalkan Sona dan tempat ini. Yang dilakukan pemuda itu hanyalah berdiam diri di tempatnya berada sembari melirik makhluk-makhluk yang mengelilingi mereka berdua itu.
"Jangan menyuruhku untuk melakukan hal yang mustahil untuk kulakukan. Aku sudah melalui banyak penderitaan hanya untuk sampai di tempat ini. Sona... Aku akan menyelamatkanmu. jika aku tidak bisa melakukannya, Aku akan tetap berada disini... Dan mati bersamamu..."
Jawab Naruto dengan penuh keyakinan. Tidak ada keraguan yang terdengar dalam tiap nada katanya.
Sona hanya bisa diam tertegun melihat sosok Naruto yang sekarang mulai bangkit berdiri. Gadis itu terpaku dan terdiam akan kata-katanya. Kata-kata yang begitu luar biasa menyentuh palung terdalam di hatinya.
"B-Baka-... Apa yang kau katakan?! Kubilang cepat pergi dari sini sekarang juga, Naruto! Aku tidak ingin kehilanganmu lagi...! Apa kau tidak bisa mengerti itu...?!"
Teriak Sona yang masih memaksa Naruto untuk segera pergi meninggalkannya. Akan tetapi, Pemuda itu tetap tak bergeming dari tempat ia berdiri.
"Apa artinya bila kau tidak kehilangan diriku, Sedangkan aku akan kehilangan dirimu...?"
Balas Naruto sesaat kemudian.
"Kenapa... Kenapa kau bisa sebodoh ini... Kenapa kau begitu bodoh seperti ini, Naruto?!"
". . . . ."
"Karena sejak awal aku ini memang bodoh. Bahkan sangat bodoh karena diriku sendiripun tidak mengerti alasannya. Alasan mengapa dirimu menjadi seseorang yang sangat berharga di hidupku."
Naruto menjawabnya dengan tenang. Apa yang ada di hatinya, Kini dapat tercurah keluar. Sama sekali tidak ada beban dari setiap kata-kata yang ia ucapkan. Membuat Sona lagi-lagi kalah dalam berargumen dengan dirinya. Membuat Sona lagi-lagi terdiam dan terpaku mendengar jawabannya.
Suara-suara geraman dari makhluk-makhluk mengerikan yang mengelilingi mereka berdua terdengar. Para Licker itu memenuhi tepian garis lapangan. Lebih tepatnya, Ada 20 makhluk mutasi bercakar tajam yang sudah siap menerkam Naruto dan Sona kapan saja.
Naruto yang berdiri di depan Sona, Melirik dan menghitung satu per satu untuk memastikan tepatnya seluruh jumlah mereka.
'Dilihat dari sudut pandang manapun... Kesempatanku untuk selamat dari mereka semua hanyalah 1%. Tapi meski seperti itupun, Aku akan terus berjuang hingga akhir nanti. Karena segala kemungkinan dapat terjadi tanpa terkecuali.'
Pikir Naruto dalam hati sembari melihat air liur yang sudah menetes di sela gigi-gigi tajam makhluk-makhluk itu.
Sesaat kemudian, Terdengar suara tepukan tangan dari seseorang di atas bangku penonton sana.
"Benar-benar pertemuan yang menyentuh hati bukan...? Tapi sayang sekali, Waktu bernostalgia kalian sudah berakhir cukup sampai disini."
Ucap suara seseorang di salah satu bangku penonton tidak jauh dari pintu keluar bangunan ini.
Genggaman Naruto pada Glock-17 miliknya mengerat seketika saat mendengar suara yang sangat asing di gendang telinganya. Namun tanpa perlu ia kenali pun, Naruto sudah tahu sosok siapa yang memberikan tepukan tangan dan nada sarkastis kepadanya.
"Teme... Jadi kau kah, Orang yang telah menyebarkan pandemik mengerikan ini ke seluruh belahan Dunia... Orang yang telah mengubah Dunia menjadi kumbangan penuh mayat hidup... Orang yang telah menciptakan Neraka yang seperti sekarang ini..."
CKREEKK...
Naruto berbalik dan langsung membidikkan Glock-17 miliknya tepat ke arah seorang pria berpakaian sangat rapi dengan setelan jas hitamnya.
". . . . . . .Uchiha Obito."
Seperti apa yang ia katakan, Naruto meyakinkan dirinya bahwa pria tak dikenal tersebut adalah Uchiha Obito. Seorang pria yang selalu mengenakan setelan jas hitam kemana pun ia berada. Seseorang yang sangat dicari-cari oleh pihak Organisasi Khusus Konoha.
Dengan bergenggamkan sebuah senjata istimewa dari era kejamnya Perang Dunia ke-2, Naruto membidik tepat ke arah pria disana. Jari itu selalu siap menarik pelatuk kapan pun Naruto mau. Menatap targetnya penuh dengan tatapan kebencian.
Tetapi meski begitu, Tidak ada tanda-tanda bahwa Obito Uchiha akan gentar setelah menjadi target bidikan Glock-17 milik pemuda berambut kuning tersebut. Kedua mata hitamnya malah terpejam dengan senyuman misterius.
"Yakinkah kau sudah benar memilih target untuk kau bidik...?"
Obito melemparkan sebuah pertanyaan kepada Naruto sembari kembali membuka kedua matanya yang kini nampak telah berubah. Kedua manik yang hitam tadi, Seketika berubah menjadi semerah darah. Ada retakan di setiap bagian putih matanya. Kini Obito memiliki mata yang sama persis dengan mata yang Naruto miliki.
". . . . . .?!"
Ketika Naruto menyadari arti dari pertanyaan Obito, Saat itulah para Licker mulai bergerak ganas.
Derap langkah cepat terdengar. Seekor Licker melompat tepat ke arah Naruto dari titik yang tidak bisa ia lihat. Raungan besar keluar dari rahang-rahang mengerikan milik makhluk itu. Bergerak mencoba menerkam Naruto secara tiba-tiba.
'Ciih-...'
Naruto berdecih dalam hati saat coba untuk memutar tubuhnya dan memindahkan bidikan senjatanya ke arah makhluk itu.
DARR-DARRR!
Dua tembakan cepat pemuda itu lepaskan tepat ke kepala makhluk mengerikan yang coba menyerangnya. Suara tubuh yang terbanting jatuh ke lantai lapangan terdengar setelah dua peluru tersebut menghujam menembus otaknya. Licker itu mati seketika tepat di bawah kedua kaki Sona. Membuat gadis itu bergidik menatap ngeri seonggok jasad disana.
Belum berselang lama setelah Naruto menembaknya, Datang lagi sebuah serangan tak terduga muncul dari arah belakang pemuda tersebut.
"Naruto, DI BELAKANGMUU!"
Seketika Sona berseru keras pada pemuda berambut kuning rancung yang berdiri di depannya. Naruto pun terbelalak lebar oleh pergerakan tak terduga itu. Lagi-lagi sebuah serangan muncul dari titik butanya.
'G-... Gawatt...!'
Sudah terlambat...
Tidak ada waktu lagi Naruto untuk berputar kebelakang dan menembaknya. Dengan insting dan refleks yang ia milik, Naruto memilih untuk merebahkan tubuhnya sejajar ke samping bagai seseorang yang sengaja untuk terjatuh. Namun ujung sepatu di kakinya itu menyungkil bagian bawah kursi yang menjadi tempat duduk Sona. Sehingga bersama dengan Naruto, Sona beserta kursinya terangkat hampir terjungkir ke belakang masing-masing.
ZRRUUUSSHH. . . .
Terciptalah hembusan angin kecil yang menggerakkan helai-helai rambut kuning Naruto ketika sahutan cepat tangan bercakar tajam milik makhluk tersebut hanya mampu menjangkau beberapa centi di depan wajah tampannya.
Naruto dan Sona berhasil terhindar sempurna dari serangan mematikan Licker bercakar tajam berkat aksi tepat yang pemuda itu lakukan.
Makhluk itu mendarat kembali ke bawah dan mengerem pendaratannya menggunakan cakar-cakar besarnya ke lantai setelah gagal menyerang dua manusia di sana. Membuat lantai lapangan basket ini rusak berbekas cakaran akibatnya.
Satu tangan Naruto menjadi tumpuan bagi tubuhnya yang hampir terjatuh ke belakang. Sementara kakinya berpindah posisi dengan cepat. Yang dari mencungkil, Kini menjadi menahan kursi itu menggunakan ujung tumit sepatunya. Sehingga dirinya dan Sona sama-sama tidak sampai jatuh terjungkir ke belakang.
Dengan satu sentekkan kuat, Naruto mendorong kembali tubuhnya ke atas menggunakan tangan dan menekan tumitnya kuat ke bawah agar kursi Sona kembali ke posisi seperti awalnya. Membuat Sona sangat terkejut dengan semua yang baru saja Naruto lakukan. Sedangkan Obito yang berada di antara bangku-bangku penonton di atas sana hanya menatap sosok pemuda berambut kuning itu lekat-lekat dari jauh.
'Sekarang coba kita lihat... Seperti apa rencanamu untuk mengatasi tiap kelemahan di titik butamu itu...'
Gumam Obito sendiri dalam hati. Menunggu langkah seperti apa yang akan Naruto ambil agar titik butanya tidak selalu menjadi sasaran empuk oleh para Licker itu.
". . . . . . ."
Sejenak Naruto terdiam menatap ke arah Sona. Membuat gadis itu sedikit kebingungan bila terus ditatap seperti itu. Lalu tidak lama kemudian tiba-tiba Naruto memutar kursi Sona ke belakang. Sehingga sekarang gadis berkacamata tersebut menghadap langsung ke arah para Licker yang menunggu kesempatan untuk menyerang. Sementara pemuda itu sendiri berbalik menghadap ke arah yang berlawanan. Di antara banyaknya para Licker yang tidak jauh di depannya, Naruto lebih memilih untuk kembali menatap tajam sosok Obito yang berdiri di sana.
Dengan kondisi terikat di kursi seperti ini, Sona tidak mengerti alasan mengapa Naruto tiba-tiba membuat dirinya yang saat ini tidak bisa berbuat apa-apa langsung dihadapkan kepada makhluk-makhluk ganas bercakar tajam tersebut. Apa Naruto ingin ia untuk ikut membantunya melawan para Licker itu dalam kondisi yang seperti ini...? Sempat terngiang pertanyaan tersebut di kepala Sona.
"H-Huh? Naruto, A-Apa yang kau-..."
"Sudah diam dan lihat saja apa yang mereka lakukan di belakangku."
Jawab Naruto To-The-Point pada Sona dengan nada datar dan serius.
Sesaat Sona terdiam mendengar jawaban Naruto. Namun tidak lama kemudian, Kedua matanya seakan dipaksa untuk terbelalak lebar setelah mengetahui arti dan maksud dari apa yang Naruto lakukan dan katakan.
.
.
( Sona POV )
Kulebarkan kedua mataku...
Melirik seorang pemuda yang tepat berdiri di belakangku. Bukan tanpa alasan aku dipaksa terbelalak seperti itu. Karena aku baru saja mengerti arti dalam tindakannya, Dan makna di tiap kata yang ia ucapkan...
Naruto tidak menyuruhku untuk melawan mereka dengan kondisiku yang lemah tak berdaya dan terikat ini. Tapi dirinya memang membuatku untuk ikut serta dalam situasi yang saat ini sedikit membelenggunya. Dalam tiap kata dan tindakannya, Dirinya seolah berkata... 'Aku membutuhkanmu. Jadi... Berjuanglah bersamaku!'
Ia terlihat berbeda. Sekarang, Naruto seperti terlihat sedikit berbeda dari Naruto yang pernah kukenal dulu. Ketepatannya dalam bertindak saat ini, Membuatnya jauh dari kesan Naruto yang selalu ceroboh dulu. Ia bagai memiliki tekanan yang mengekang. Namun tetap memiliki ketenangan yang jauh berbeda dari dirinya yang dulu.
Naruto memikirkan sebuah cara untuk mengimbangi sisi kelemahannya dengan waktu yang singkat. Caranya berpikir terasa benar-benar cepat dengan pilihan yang tepat. Satu arah pandangan mata hanya dapat melihat satu sudut pandang saja. Sementara dua arah pandangan mata yang saling melihat di arah yang berlainan di waktu yang sama, Membuatmu dapat melihat dua sudut pandang di waktu yang sama pula.
Kita berdua dapat saling menutupi punggung masing-masing, Dan melihat tiap setengah bagian dari luas lapangan ini. Dengan begitu... Tidak perlu mencemaskan titik buta masing-masing. Dan peranku di sini, Tidak lain adalah sebagai mata yang melindungi titik butanya.
Aku merasa... Mungkin dirinya memang telah banyak berubah...
Aku tidak tahu apa yang telah terjadi semenjak kejadian di dermaga waktu itu. Karena kuberpikir, Aku telah kehilangan dirinya untuk selamanya. Aku hancur saat itu. Melihat kapal kami yang semakin menjauh darinya yang berdiri di ujung dermaga, Seakan aku ingin berteriak sekeras mungkin. Air mataku berlinang. Aku benar-benar telah hancur dalam keputusasaan. Namun entah mengapa kini ia muncul di hadapanku, Sembari berkata dia akan menyelamatkanku dari sini.
Aku tidak bisa berkata-kata karenanya. Aku tidak peduli akan bisa selamat dari sini atau pun tidak. Cukup dengan hanya dapat melihat wajah lagi... Itu sudah seperti anugrah yang terindah dalam hidupku. Hatiku yang sempat hancur, Perlahan seperti merangkai kepingan-kepingan mereka sendiri.
Kini diriku menjadi matanya. Hanya untuk saat ini, Aku akan menjadi seseorang yang menutupi kelemahannya. Naruto berdiri tepat di belakangku. Sedikitpun tidak mau meninggalkanku pergi untuk selamatkan nyawanya. Kurasa ada sedikit sifat keras kepala yang masih melekat sampai sekarang. Namun kurasa itulah bagian yang aku suka darinya.
Menatap sekitar tujuh atau lebih makhluk ganas mengerikan yang ada di depan mataku, Aku berusaha memotong tali ini dengan pisau belati yang Naruto berikan diam-diam padaku. Kurasa akan sedikit memakan waktu bagiku untuk memotong tali-tali yang mengekangku di kursi ini.
Bersama dengan perasaan yang telah terhubung kembali, Apapun yang akan terjadi nanti... Aku mempercayakan semuanya pada dirinya.
( POV End... )
Masih berdiri membelakangi Sona, Naruto coba mengingat kembali berapa jumlah peluru yang tersisa di dalam Glock-17 miliknya. Karena saat ini ia tidak memiliki slot magasen yang lain lagi. Dengan kata lain, Naruto sudah kehabisan amunisi. Benar-benar keadaan yang sangat tidak menguntungkan. Karena bagaimana pun juga, Dikelilingi oleh makhluk-makhluk dengan insting memburu yang tajam seperti ini, Kesempatan mereka berdua untuk selamat tidak lebih dari 1% saja.
Dan ada satu hal lagi yang terpikirkan oleh Naruto. Mengapa bom yang ada di tempat ini tidak juga meledak...? Selain keanehan itu, Ada kemungkinan bahwa sejak awal ini memang sebuah jebakan. Mungkin tidak ada yang namanya peledak yang terpasang di tempat ini. Serta menurut Naruto, Kehadiran Obito sudah jadi merupakan suatu bukti kepastian tersendiri bahwa memang tidak ada bom yang telah terpasang. Namun meski begitu, Tetap tidak menutup kemungkinan bilamana Obito sengaja mematikan sejenak seluruh peledaknya selama dirinya masih berada di sini. Membuat Naruto tidak bisa menurunkan insting dari intuisinya sedikitpun.
Sedangkan sebuah senyum misterius perlahan tergambar di wajah Obito yang memperhatikan gerak-gerik Naruto dari kejauhan.
'Jadi inikah taktikmu untuk mengatasi dan menutupi kelemahan di titik butamu. Berbagi pengelihatan dengan mata gadis itu untuk melihat pergerakan yang tidak bisa kau lihat. Dengan begini, Aku tidak bisa lagi menyerangmu dengan cara yang sama. Kau memilih rencana yang sangat tepat.'
Gumam Obito dalam hati. Sedikit takjub dengan pemikiran cepat atas pilihan yang telah ia pilih sebagai sebuah strategi.
Obito terdiam untuk sebentar. Kedua mata semerah darah yang rusak itu menatap sosok pemuda berambut kuning di bawah sana dengan lebih seksama lagi.
'Ketenangan itu... Tatapan mata biru itu... Ekspresi wajah itu... Beserta ketepatan cara berpikirnya untuk mengambil suatu pilihan...'
Lagi-lagi Obito bergumam sendiri dalam hati saat ia menyadari sesuatu dari sosok pemuda yang saat ini tengah berhadapan dengannya. Bagai mengingatkan Obito dengan seseorang yang sangat ia kenal.
"Dengan misi yang sedang mereka lakukan saat ini, Mereka mengerahkan seluruh personelnya untuk memastikan keberhasilan. Yang menurutku adalah sebuah kesempatan bagus untuk sedikit ikut ambil bagian. Tetapi, Setelah kehabisan seluruh personelnya, Tidak kusangka Minato akan memilih mengirim putranya sendiri seperti ini... Benar-benar Ayah yang konyol ya kan..."
Ucap Obito Uchiha yang mencoba memprovokasi lonjak emosi pemuda berambut kuning di sana.
"Setelah virus mengerikan ini menyebar cepat. Menyapu rata tiap-tiap sudut Kota. Mengambil alih kesadaran Dunia. Sampai pada akhirnya membuatku kehilangan banyak orang yang berharga bagiku. Setelah semua yang terjadi... Tidak mungkin aku bisa memaafkan orang yang sepertimu."
Kata Naruto dengan tatapan tajamnya yang begitu menusuk.
"Jika begitu, Kenapa tidak menembakku sekarang juga? Maka kau bisa balaskan dendam orang-orang yang telah mati oleh Dunia yang sudah kuciptakan ini. Termasuk teman-temanmu juga."
Balas Obito bersama nada bicaranya yang masih sangat tenang.
"Memang itu yang itu yang ingin aku lakukan saat ini. Tapi..."
Naruto menggantukan kalimatnya sejenak.
". . . . . ."
"Membunuhmu di sini... Tidak akan bisa mengubah apapun di luar sana. Teman-temanku tidak akan kembali sebagaimana semestinya. Dan pedihnya penderitaan, Tidak akan berhenti dengan sendirinya."
Lanjut Naruto lagi menyambung kalimat yang ingin ia katakan.
"Hoo...?"
"Lalu, Apa yang akan kau lakukan setelah ini? Menangkapku?"
Obito bertanya pada pemuda berambut kuning di sana.
"Itu bukan jawaban yang buruk. Kau mampu mengendalikan makhluk-makhluk ini. Dan itu membuatku berpikir, Bahwa mungkin kau juga akan bisa membantu kami untuk menyudahi penderitaan ini."
Jawab Naruto.
"Tidak ada yang bisa menghentikan apa yang dinamakan dengan penderitaan. Di Dunia yang semakin membusuk ini, Kasih sayang sekalipun tidak akan mampu untuk melenyapkannya. Bahkan dari awal, Aku tidak percaya bahwa keberadaan kasih sayang itu benar-benar ada."
"Orang-orang selalu memikirkan kepentingan mereka sendiri. Kebencian, Keirian, Keserakahan, dan Ketamakan. Itulah yang membentuk manusia. Para penguasa saling berebut kekuasaan. Para petinggi hanya ingin memperkaya diri dengan berkedok politisi. Tidak pernah puas dengan apa yang sudah mereka miliki."
"Manusia saling membantu sesamanya. Namun itu hanya didasari oleh maksud yang tertutupi. Jika mereka tidak mendapat apa-apa dari apa yang telah mereka lakukan, Apakah manusia masih akan tetap menolong sesamanya?"
"Kasih sayang yang mereka perlihatkan tidak lebih dari sekedar kepalsuan. Rantai kebencian akan terus mengikat saat mereka merasa disakiti. Pada akhirnya... Manusia hanya akan saling menghianati. Dunia yang pernah kulihat sebelumnya... Jauh lebih busuk dari Dunia yang saat ini kau lihat."
"Dengan menciptakan penderitaan yang seperti ini, Manusia akan berubah. Manusia akan belajar untuk lepas dari kebencian dan kepalsuan yang mengekang hati mereka. Dengan merasakan penderitaan, Manusia akan saling mengerti satu sama lain. Ketika kasih sayang menjadi nyata, Maka Dunia yang busuk ini akan terselamatkan. Dan aku akan menjadi sebuah wadah, Yang akan menanggung semua kebencian yang telah mereka buang. Aku akan menjadi satu-satunya orang yang mereka benci... Sehingga manusia tidak membenci sesamanya lagi... "
Obito mengakhiri kalimat panjang lebarnya dengan ideologi yang sudah ia genggam sejak lama. Ia mengatakannya dengan hati yang tersiksa setelah melihat Dunia yang dipenuhi oleh dosa. Obito rela menjadikan dirinya sebagai kambing hitam, Setelah manusia mampu untuk saling mengerti satu sama lain dan membangun kembali Dunia ini.
Naruto terdiam. Mulutnya keluh untuk berkata-kata. Tidak ia sangka, Bahwa tiap kalimat yang telah Obito utarakan, Jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan. Semua yang Obito lakukan hanya semata-mata untuk menciptakan Dunia yang baru. Dunia tanpa kebencian, keirian, ketamakan, dan keserakahan. Dan membuat dirinya sendiri sebagai wadah dari semua warna hitam itu.
"Meski seperti itu tujuanmu... Tidak bisa mengubah kenyataan bahwa kau telah membunuh mereka yang tidak bersalah! Caramu untuk mengubah semua itu, Tetap saja telah membuat banyak teman-temanku mati sia-sia!"
Naruto berseru dengan kerasnya.
"Tidak peduli semulia apa tujuanmu untuk Dunia ini. Teme... Aku tidak akan bisa memaafkan orang yang merasa dirinya lah yang paling benar. Aku tidak akan pernah bisa memaafkanmu."
CKREK. . .
Naruto mengangkat kembali senjatanya. Membidikkan Glock-17 itu kepada Obito lagi. Dan menatapnya dengan tatapan kebencian.
"Hatimu masih lekat dengan dendam dan kebencian. Dirimu yang sekarang ini, Tidak akan mampu untuk mengerti arti dari rasa sakit dan kasih sayang yang sesungguhnya. Jika begitu maka matilah di tempat ini. Jangan halangi jalanku lagi lebih dari ini, Namikaze... Naruto."
Obito menatap pemuda berambut kuning itu dengan kedua matanya yang rusak berwarna merah. Mata Obito berubah semakin merah semerah darah. Yang entah mengapa membuat para Licker mulai merespon untuk bergerak. Obito bagai memberi perintah kepada mereka. Menatap Naruto di sana sebagai targetnya.
Para Licker berputar memutari Naruto dan Sona yang masih berkutat memotong tali yang mengikatnya. Seketika Naruto merasakan suatu bahaya yang akan datang.
"Naruto, Arah pukul 5 dan 8 di belakangmu!"
Tiba-tiba Sona berseru keras memperingati Naruto. Benar saja, Dua monster di antara mereka mulai bergerak menyerang. Dan lagi-lagi mengincar titik buta pemuda itu.
Naruto memutar tubuhnya. Dengan cepat mengarahkan senjatanya ke arah dua Licker yang datang.
DARR-DARR...!
Suara dua tembakan terlepas bersamaan dengan dua proyektil timah panas yang terlontar dari selongsongnya. Melesat cepat menuju tepat ke kepala satu per satu dari mereka. Membuat mereka jatuh ke lantai dengan lubang bersarangnya sebuah peluru di kepala mereka masing-masing.
Belum berakhir sampai di situ, Naruto melirik pergerakan yang lain tepat di samping kanan dan kirinya. Namun Naruto tidak memiliki dua Glock-17 di kedua tangannya untuk menembak mereka sekaligus. Dua Licker yang mendekat melesat dengan Timing yang selaras. Memaksa Naruto untuk memilih yang mana yang akan ditembaknya. Dan di pilihan yang manapun, Pemuda itu tetap akan terkena serangan dari arah yang tidak ia pilih.
'K-Kuso...!'
Keadaan benar-benar memaksanya untuk melakukan sesuatu sebelum semuanya terlambat.
Akan tetapi, Sona yang masih terikat di kursinya tiba-tiba melempar pisau belati yang sempat Naruto berikan padanya berputar ke atas. Seolah ia tahu harus ada yang ia lakukan sekarang ini. Membuat sepintas Naruto membuka matanya terkejut. Namun apa yang telah Sona lakukan, Memberi sedikit gambaran apa yang harus ia lakukan sekarang.
( Matrix Mode. . . .)
Tiba-tiba waktu terasa melambat. Detak jantung mulai berpacu cepat. Yang mungkin lebih dari ratusan kali degupan per detiknya. Pemuda itu menutup satu mata kiri dan menjatuhkan titik fokusnya kepada mata sebelah kanan sembari melompat selangkah kebelakang. Seolah menjauh dari perputaran belati tajam itu.
Dengan memaksakan mata kanannya untuk terfokus, Naruto mampu melihat setiap perputaran pisau belatinya itu dengan sangat jelas. Terlihat berputar di udara dengan sangat pelan. Seolah waktu yang berjalan bagai tertelah oleh fokus mata kanan miliknya.
Sementara dua Licker di sana makin mendekat dengan cakar besar nan tajam mereka, Naruto menggerakkan tangan yang menggenggam Glock-17 itu. Lalu mulai membidikkannya ke arah pisau yang masih berputar pelan di udara. Otaknya bekerja menghitung derajat sudut yang diperlukan untuk membuat dua benda saling berbenturan dan terpencar dengan kecepatan tinggi.
'Sekarang...!'
Seru pemuda itu saat matanya melihat sudut kemiringan pisau yang diinginkannya. Jari telunjuk miliknya bergerak. Menarik pelatuk senjatanya dengan hitungan tepat. Dan sebuah selongsong peluru terpantuk meledak, Melesat meninggalkan lintasan larasnya.
CTAANNKK!
Bunyi dua logam terdengar. Peluru Naruto menabrak ujung pisau belatinya yang berada di udara. Dua benda itu saling terpencar cepat sesaat setelah saling berbenturan. Yang satu ke kiri, Dan yang satu terpental ke arah kanan.
JLEBBB. . .
Ujung tajam pisau belati milik Naruto menembus tulang kepala salah satu makhluk di sana. Menancap dalam hingga menembus otaknya. Hal yang sama terjadi kepada Licker yang di arah satunya. Peluru Naruto terpental setelah beradu kontak dengan lempengan logam keras dari pisau belati tadi. Arah lintasannya jatuh tepat di kepala Licker tersebut. Begitu dalam menembusnya hingga mengeluarkan darah yang terciprat ke udara.
BRUUGH. . . .
Kedua makhluk hasil dari mutasi genetis tersebut jatuh menyusur keras ke lantai dan mati. Naruto berhasil membunuh dua makhluk yang akan menyerang itu secara bersamaan. Tetapi dirinya tidak akan bisa melakukan hal itu tanpa hasil kerja sama yang tidak terduga dari Sona.
"Jangan menilai sisi hati orang lain seenakmu, Teme!"
Naruto berputar dan kembali menghadap ke arah di mana Obito berada.
"Sadarilah bahwa semua dendam dan kebencian yang muncul di dalam hatiku ini adalah ulahmu...! Kau lah sumber dari kebencian yang kumiliki saat ini.
Ucap Naruto sembari mengepalkan tangan kirinya kuat-kuat meluapkan seluruh amarah yang ada di hatinya. Membalas cemohoan yang Obito lontarkan kepadanya.
"Jika aku adalah sumber dari kebencianmu... Maka aku pun memiliki sumber dari kebencianku sendiri akan Dunia ini. Setiap satu per satunya kebencian selalu terhubung satu sama lain. Itulah apa yang disebut sebagai rantai kebencian Dunia ini. Tidak akan berhenti... Rantai kebencian akan terus berputar tiada henti. Tidak ada seorang pun yang mampu untuk memutuskannya. Termasuk bocah yang tidak mengerti tentang apa itu arti dari sebuah penderitaan sepertimu..."
Jawab Obito dengan sedikit mengangkat dagunya. Menatap Naruto dengan begitu rendahnya.
Naruto tersentak dalam diamnya. Tidak pemuda itu sangka dengan apa yang Obito katakan. Tidak ada satu kata pun yang salah dari ucapannya. Semua memang benar apa adanya. Yang di mana Dunia ini, Sudah dipenuhi oleh rantai kebencian itu sendiri. Terus berputar menjerat setiap hati manusia.
Dari sini... Naruto sudah kalah dengan orang yang bernama Uchiha Obito itu. Naruto benar-benar telah dikalahkan dengan telak olehnya. Tidak ada lagi elakan yang mampu Naruto lontarkan. Tertelan dalam ketidakpahamannya tentang betapa gelapnya sisi lain dari Dunianya ini.
"Sebenci itukah... Sebenci itukah kau dengan Dunia ini... Obito..."
Berkepal tangan, Naruto hanya mampu bertanya dengan jawaban yang sudah pasti.
". . . . . . ."
Obito hanya diam tak menjawab. Karena ia berpikir bahwa Naruto pun sudah pasti tahu apa jawaban darinya.
Perlahan... Naruto mengangkat tangan kanannya yang masih menggenggam erat Glock-17 miliknya. Senjatanya itu lagi-lagi mengarah tepat kepada sosok Obito di sana. Jari-jari Naruto menekan terlalu erat pada gagang senjatanya. Sehingga membuat senjata itu bergetar dengan sendirinya. Ia tidak bisa menghentikannya. Tangan Naruto menggenggam terlalu erat senjatanya begitu saja.
Bukan karena sisa peluru yang ia miliki kian menipis. Tapi yang membuat tangan Naruto begitu erat bergetar... Adalah lawan yang sedang ia hadapi. Naruto sungguh tidak menyangka akan berhadapan dengan seseorang yang seperti Obito. Semua idealisme dan sudut pandang yang dimiliki pria itu tidaklah salah. Obito tidak bisa sepenuhnya disalahkan hanya dengan tuduhan terorisme biologis jika Naruto menyadari arti dari rantai kebencian itu sendiri.
Dunia inilah awal mulanya. Kebusukan Dunia inilah yang menjadi sumber pemicunya. Keangkuhan sisi gelap dari Dunia inilah, Yang telah menciptakan pribadi seseorang yang bernama Obito Uchiha. Karena Dunia inilah... Yang menjadi pusat dari rantai kebencian itu sendiri.
Tangan kirinya pun kini ikut andil dalam menahan senjata yang bergetar. Naruto bersusah payah membidik sosok yang ia kenali sebagai Obito Uchiha menggunakan kedua tangan yang ia miliki. Namun senjata itu masih bergetar tiada henti. Gejolak perasaan yang bercampur aduk menjadi satu, Membuat Naruto tidak mampu untuk melakukan apa yang harus ia lakukan saat ini. Yaitu... Menembak pelaku dari penyebar teror kehancuran di seluruh sudut Jepang. Menembak seseorang yang bernama Obito Uchiha.
". . . . . . . . ."
Obito melirik suatu lintasan sinar laser pembidik berwarna merah yang terbidik di dadanya. Naruto memang sedang mengarahkan senjatanya ke arah Obito. Tetapi Glock-17 milik pemuda berambut kuning itu tidaklah dilengkapi dengan Dot Sigh seperti sinar laser merah pembidik ini.
"Sepertinya... Kali ini Minato telah berhasil menipuku dengan informasi palsu yang ia buat. Benar begitu bukan... Itachi?"
Gumam Obito setelah sebentar melirik sinar laser pembidik yang membidik tepat di organ vitalnya, Lalu mengalihkan tatapan mata datarnya yang merah ke arah jauh di seberang bangku penonton sebelah sana.
Mendengar ucapan pria itu tadi, Membuat Naruto cukup untuk terkejut. Mungkinkah pemilik laser pembidik dan seseorang yang Obito maksud tersebut adalah... Uchiha Itachi, Kakak kandung sahabat baiknya?. Jika memang benar begitu, Ada rasa penasaran dari hati Naruto yang ingin melihat sosok yang menjadi kakak kandung Sasuke itu. Sosok yang sepertinya selalu Sasuke benci. Dan mungkin inilah kesempatan pertamanya untuk bertemu secara langsung seperti apa sosok seseorang yang bernama Uchiha Itachi tersebut.
Namun sayangnya situasi dan kondisi saat ini tidak berpihak pada dirinya. Naruto tidak mungkin menurunkan kewaspadaannya itu dari belasan Licker yang ada di sekelilingnya. Satu kesalahan saja mungkin bisa berakibat sangat fatal bagi dirinya maupun Sona. Karena yang target yang dihadapinya kali ini bukanlah orang sembarangan. Sekarang Naruto tengah berhadapan dengan orang yang kelak mampu membinasakan seluruh Dunia. Ditambah lagi, 17 monster yang bermutasi masih setia di genggaman kendalinya saat ini.
'Cihh...!'
Pemuda berambut kuning itu mendecih dalam hati. Kecerobohan sekecil apapun tak termaafkan. Naruto harus tetap fokus pada targetnya jika ia masih ingin membawa Sona keluar hidup-hidup dari sini tanpa terluka.
Tetapi... Mengetahui bahwa ada seseorang yang sangat hebat dari pihak Divisi-3 organisasi rahasia Konoha di sini... Membuat Naruto sedikit merasa tenang. Dirinya tidak lagi sendirian jika dipaksa bertarung melawan monster-monster itu saat situasi telah berubah nanti.
Tidak lama berselang, Ada sebuah suara yang masuk ke Earphone miliknya. Sebuah suara yang tidak lagi asing di gendang telinganya.
"Naruto, Aku menyadari sesuatu yang baru saja kusadari..."
Kata Minato Namikaze yang masuk melalui komunikasi satu arah milik mereka.
"Sejauh yang telah kulihat... Obito hanya bermain-main denganmu di tempat itu. Sejak awal, Obito tidak memiliki niat untuk membunuh siapapun saat kau telah tiba di sana. Tujuannya telah tergagalkan. Dia tidak memiliki alasan apapun untuk terus berada di tempat itu. Hal yang kukatakan ini terbukti dari jumlah Licker yang ia gunakan untuk mencoba menyerangmu berbanding dengan seluruh jumlah Licker yang ada di bawah kendalinya."
Lanjut Minato panjang lebar menjelaskan dengan bahasa yang dapat segera dimengerti oleh anaknya.
Mendengar perkataan Ayahnya, Naruto berpikir bahwa hal itu mungkin memang benar. Sejak awal, Obito seperti terlihat tidak memiliki niat untuk membunuhnya di tempat ini. Mengingat hanya 3 dari 20 monster hasil mutasi yang ia gunakan untuk menyerangnya beberapa saat tadi, Jumlah itu nampak terlalu sedikit jika Obito benar-benar ingin menghabisi dirinya bersama dengan Sona di sini.
"Dengan kata lain, Naruto... Saat ini yang coba ia lakukan adalah..."
". . . . . ."
"...Mengulur waktu."
Jawab Naruto yang seolah sudah mengerti dengan apa yang Minato maksud.
"Jawaban yang tepat. Sekarang, Apa yang akan kau lakukan jika telah mengetahui bagaimana rencananya itu berjalan... Naruto?"
Ayahnya memberikan sebuah pertanyaan kepadanya. Tentang seperti apakah langkah yang akan Naruto ambil setelah ini. Mengetahui hal yang coba Obito lakukan untuk lari dari kejaran dirinya yang sudah ditemani Itachi di belakangnya.
Tetapi kenyataannya... Naruto malah terdiam senyap. Tak ada satu pun kata yang terucap dari bibirnya. Kini menarik pelatuk senjatanya sudah terasa begitu berat. Hatinya berkecamuk dengan berbagai beban pikiran. Yang ada di bidikannya saat ini adalah seseorang yang telah menghancurkan Konoha. Seseorang yang telah banyak membunuh warga Kota akibat ulahnya. Serta seseorang yang tentunya sudah membuat satu per satu teman di sekitarnya mati begitu tragis. Namun satu hal yang saat ini Naruto ketahui darinya. Obito memiliki mimpi yang tidak seorangpun miliki di Dunia ini.
Sesuatu yang bahkan dirinya sendiri tak mungkin bisa memikirkannya. Yang ingin Obito wujudkan dari Dunia yang telah penuh oleh banyak kepalsuan ini... Adalah tangan yang saling bertaut dan hati yang saling mengerti satu sama lain. Hingga manusia yang telah melupakan betapa berartinya keberadaan orang lain di sampingnya, Akan teringat kembali tentang arti dari sebuah penderitaan. Obito ingin mewujudkan satu hari, Di mana akhirnya manusia dapat mengerti satu sama lain.
Mimpi yang seperti itu... Tidak mungkin pernah terpikirkan di hatinya. Tidak mungkin ada di benak seorang bocah seperti dirinya. Naruto mengakui itu. Mengakui kemurnian hati dari seseorang yang nampak begitu dingin dan tak berperasaan di luarnya. Membuat saat ini dirinya tak mampu berkutik untuk mengambil sebuah pilihan. Membuat Naruto jatuh kedalam kebimbangan yang dalam tak berujung.
Senjata yang digenggamnya bergetar. Pegangannya mulai mengerat. Bidikannya menjadi tak beraturan. Sekali lagi... Naruto tidak pernah menyangka... Bahwa dirinya akan berhadapan dengan orang seperti Obito. Membuatnya begitu teramat kesal saat ia menyadari tak lagi bisa mengambil sebuah keputusan yang benar. Atau sejak awal, Siapakah yang paling benar di antara Obito dan dirinya...?.
Sudah terlalu lama Naruto diam menunjukkan wajah kesal atas ketidakberdayaannya. Membuat seseorang yang muncul secara misterius membidik Obito dari sisi bangku penonton yang lain, Mengambil keputusannya sendiri untuk menggantikan Naruto yang terpaku oleh dilema.
DARR-DARR-DAARR...!
Tiga tembakan beruntun dilepaskannya tepat ke arah Obito yang sudah berada pada jangkauan bidikannya. Naruto terkejut ketika ia mendengar semua suara tembakan itu. Itachi telah mengambil pilihannya. Keputusan untuk membunuh Obito di sini sekarang juga.
Tiga peluru tengah melesat merobek kelembaban udara dengan perputarannya. Melaju cepat bagai busur panah yang mengintai targetnya. Terus melesat menuju ke arah Obito yang berada di sana. Tidak ada yang bisa Naruto lakukan. Hanya terpaku merasakan tiga buah timah panas tengah melesat lewat di atasnya.
ZRAAASSSHH...
.
.
.
.
.
To Be Continue...
.
.
Yahooo, Minna-san!
Maaf jika memang sudah membuat kalian menunggu lama hanya untuk membaca kelanjutan cerita ini... ( itu kalau emang ada yg nungguin sih :p)
Walau bagaimanapun juga, Author sudah berjuang keras untuk merangkumkan chapter ini setelah sekian lama hiatus dari fanfiction. Dan bisa kembali merangkai fantasi ke dalam sebuah tulisan seperti ini mungkin sudah menjadi sebuah keajaiban tersendiri buat Felix-kun, hehehe...
Seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya...
Satu per satu kekosongan yang ada di cerita sebelumnya (Everything Has Changed) sedikit demi sedikit akan diungkap di sekuel ini. Yah... Walau tidak semua juga sih... Karna author merasa masih ada beberapa bagian yang kurang...
Untuk para pembaca yang sudah menyempatkan diri untuk membaca dan memberikan reviewnya untuk cerita ini, Author ucapkan terima kasih banyak ^^
PS: semoga bisa update cepat untuk chapter yang selanjutnya... Amin.
