'Pernah aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, Saat semua ini telah terjadi...'

.

.

.

'Apa arti kata dari Dunia...?'

.

.

.

'Apa arti kata dari manusia...?'

.

.

.

'Dan apa arti dari kata hidup itu...'

.

.

.

'Karena akhir-akhir ini... Yang dapat kulihat hanyalah Kota yang dipenuhi oleh kumbangan para mayat hidup...'

.

.

.

.

"Because They Are Friends"

The Place Of Hope

Chapter 15 : "Karena Mereka Adalah Teman"

Genre : Horror, Adventure & Gore

Main Cast : Naruto U., Sakura H., Sasuke U.

Caution! Contains violance & profanity (17th +)

.

.

.

.

(Sakura POV)

Pernah aku bertanya-tanya pada diriku sendiri...

Apa itu Dunia...

Apa itu Manusia...

Dan apa itu hidup...

Tidak ada satupun jawaban yang dapat kutemukan. Semua pertanyaan itu, Tak ada yang pernah terselesaikan. Karena sejauh manapun mataku memandang, Yang bisa kulihat hanyalah mereka yang telah bangkit dari kematian. Ya... Yang dapat kulihat hanyalah sebuah Kota yang dipenuhi oleh kumbangan para mayat hidup.

Aku terlelap lelah...

Terdampar bersama teman-temanku yang masih tersisa di pinggiran Kota yang tak lagi tersentuh oleh manusia. Satu-satunya pilihan yang kurasa tidak buruk juga. Asal selama kami masih tetap bisa untuk hidup lebih lama lagi, Itu sudah lebih dari cukup.

Kedua mataku terpejam...

Aku merasa seperti ada seseorang yang memberikan pundaknya sebagai sandaran kepalaku. Membuatku merasa begitu nyaman saat terlelap. Membuatku merasa aman di dekatnya. Dan kurasa aku tahu siapa itu.

Uchiha Sasuke...

Seseorang yang sangat kucintai. Teman dekatku saat kami bertiga masih bersekolah bersama dulu. Namun berkat bencana mengerikan yang sempat terjadi, Semuanya hancur berantakan. Bencana yang telah merusak hari-hari indahku sebagai seorang siswi SMA. Yang telah merusak hidupku yang damai dan tentram. Merusak segala apa yang ada dalam kehidupan ini. Dan mungkin saja hari-hari yang lalu, Tak akan pernah bisa kembali utuh seperti semula.

Ngomong-ngomong...

Aku sempat menyebutkan kata tentang kami bertiga. Kedua mataku yang terlelap perlahan terbuka di saat aku ingin melihat seseorang yang aku lihat selain Sasuke. Seseorang yang terlebih dulu masuk dalam kehidupanku sebelum dirinya. Seseorang yang selama ini menjadi teman masa kecilku.

Aku terbangun dari mimpi-mimpi singkat yang indah. Sejenak menyeka sudut-sudut mata ketika telah menegakkan tubuh yang lelah. Pandanganku masih buram. Aku belum bisa melihat segala sesuatunya dengan jelas. Namun yang pasti, Aku mengetahui bahwa hari telah berganti. Semenjak kami semua tiba di sini dini hari tadi.

"Ohayou..."

Sebuah suara menyapa. Mengalun lembut di gendang telingaku. Suara yang begitu sangat familiar untuk kudengar.

"Ohayou..."

Jawabku walau mentari masih belum menampakkan sinarnya. Mungkin saat ini masih pukul 3 pagi atau semacamnya. Karena belum ada cahaya yang masuk lewat celah-celah jendela gerbong kereta ini.

"Di mana Naruto...?"

Sebuah pertanyaan yang asal keluar dari mulutku setelah kedua mata ini tidak dapat menemukan sosok yang aku cari. Meski sempat kebingungan dan penasaran karena belum melihatnya di dalam ruangan ini.

"Dia... Telah pergi..."

Kata Sasuke yang sama sekali tak bisa kupahami. Aku hanya diam menatap dengan mimik wajah yang mengatakan 'Apa maksudmu...?'

"Yang aku tahu... Ada misi yang harus ia lakukan. Datangnya dari sebuah markas yang tersembunyi tidak jauh dari Konoha. Setidaknya itu yang telah kudengar..."

". . . . . . . . ."

Aku masih diam tak bersuara. Namun kini dengan ekspresi wajah yang telah berganti. Ekspresi wajah yang menunjukkan rasa tidak percaya. Lengkap dengan alis yang mengernyit.

Misi...?

Markas...?

Omong kosong macam apa yang saat ini sedang Sasuke bicarakan...?

Aku tidak bisa mengerti. Sama sekali tidak mengerti tentang semua hal ini.

Naruto Namikaze...

Siapakah dirinya saat ini...? Maksudku, Semua yang terlihat dari dirinya telah berubah semenjak kami terpisah di dermaga Konoha waktu itu. Ketika untuk yang pertama kalinya kami bertemu kembali di Gunkanjima saat itu, Aku sudah merasa ada yang berbeda dari dirinya. Sesuatu yang tak lagi sama seperti yang dulu.

Mungkin ini hanya sebatas pemikiran yang muncul sepintas di dalam kepalaku, Tapi... Mungkin kecurigaanku ini memang benar...

Bahwa teman kecilku itu... Naruto Namikaze, Telah bergabung dengan suatu organisasi yang tak pernah diketahui. Membuatnya menggenggam sesuatu yang besar di genggamannya. Tampak sangat jauh berbeda dari kami dulu yang hanya sekumpulan murid SMA yang selamat mencari tempat harapan di mana kami bisa merasa aman.

Mungkin kecurigaanku selama ini benar. Dan mungkin saja Naruto telah melalui berbagai macam hal yang tidak kami semua ketahui di saat kami telah terpisah dulu.

Aku melirik ke arah guru Kakashi yang santai bersandar di sana. Yang mungkin ada hubungannya dan tahu apa yang sedang Naruto lakukan. Tapi ia masih berada di sini. Guru Kakashi masih ada di sini bersama dengan kami. Dan itu berarti...

"Dia melukan semuanya sendirian...? Apa dia ada di luar sana hanya seorang diri lagi...?!"

Sambil bangkit berdiri sebagai reaksi, Aku bertanya dengan nada yang semakin meninggi dengan penekanan di setiap kata yang kuucapkan.

Di tempat duduknya, Sasuke membungkuk bisu. Menunduk tanpa bisa mengeluarkan sebuah suara. Dirinya terlihat tertekan dengan pertanyaanku tadi. Tak mampu untuk sekedar memberi jawaban.

Kiba dan Hinata tebangun dari tidur nyenyak mereka akibat reaksiku yang mungkin sedikit berlebihan tad. Dan dari sikap yang Sasuke perlihatkan, Kuanggap jawabannya adalah 'Iya...'

Naruto telah pergi seorang diri. Menjalani misi yang tidak kami ketahui seirang diri. Dan mungkin menerjang bahaya yang ada di hadapannya hanya seorang diri. Membuarku berpikir, Apakah saat di dermaga itu, Dirinya juga menahan penderitaan dan rasa sakit hanya seorang diri...?

Aku jatuh kembali ke tempat dudukku. Memegangi kepalaku yang terasa begitu pening saat membayangkan seperti apa saja penderitaan dan rasa sakit yang telah Naruto lalui hingga sampai saat ini.

Naruto telah lakukan banyak hal untuk kami bahkan saat pertama kali bencana ini terjadi. Dirinya selalu berdiri pada posisi paling depan. Seseorang yang memimpin kami untuk dapat keluar dari sekolah kematian itu. Seseorang yang rela jatuh tersungkur hanya untuk selamatkan nyawa orang lain. Seseorang yang paling mengerti tentang arti dari sebuah ikatan yang terjalin dengan orang-orang di sekitarnya.

Bahkan dirinya adalah sosok yang telah membatu kami untuk keluar dari pulau Gunkanjima. Dia selalu datang di saat-saat yang tepat.

Lalu... Apa yang sudah kami lakukan untuknya...?

Kurasa tidak ada...

"Ada apa Sakura? Apa yang terjadi?"

Suara pelan Hinata menyentuh gendang telingaku. Melemparkan pertanyaan yang sebenarnya tidak bisa kujawab. Atau sepertinya... Tidak ingin kujawab.

"Ada apa sebenarnya? Di mana Naruto? Ada yang bisa menjelaskannya?"

Kini giliran Kiba yang memberondong dengan sejumlah pertanyaan. Bagaimana aku harus menjawab pertanyaan mereka? Aku tidak tahu.

Mungkin semua ini karena diriku yang telah membuat semuanya menjadi khawatir sekarang. Tapi aku tidak tahu lagi apa yang harus kuperbuat. Tidak tahu lagi apai yang harus kujawab. Aku hanya terdiam jatuh dalam berbagai macam penyesalan.

Tiba-tiba Sasuke bangkit dari tempat duduknya dan berdiri tepat di sampingku yang tengah merenung. Aku cukup terkejut. Kupandang wajah tampan itu dari tempat dudukku.

"Sasuke-kun..."

Kulemparkan pandangan bertanya pada kekasihku. Namun kami berdua hanya bertukar pandang satu sama lain. Tapi saat lebih kuperhatikan lagi arti dari pandangannya itu, Sasuke seakan mengatakan sesuatu padaku melalui ekspresi wajahnya.

'Semua akan baik-baik saja... Percayalah.'

Ia menepuk sebelah pundakku untuk mempertegas arti dari mimik wajahnya tersebut. Yahh... Ia memang selalu punya cara untuk membuatku sedikit tenang. Itulah Uchiha Sasuke yang selalu kukenal.

Pandangan Sasuke beralih kepada Kiba dan Hinata yang masih menunjukkan wajah bertanya mereka. Namun ketika baru saja satu kata Sasuke keluar dari mulutnya, Tiba-tiba Kakashi maju mendekat ke arah kami sembari mengangkat satu tangannya tinggi-tinggi keatas. Seakan sebagai tanda agar semuanya diam dan memperhatikannya.

"Aku punya sebuah pertanyaan untuk kalian semua."

Kata guru Kakashi yang membuat setiap dari kami semua terdiam. Tak terkecuali untuk Sasuke-kun juga. Aku tidak mengerti apa maksud Kakashi. Bukankah di saat-saat yang seperti ini dirinyalah yang harus menjawab...? Tetapi apa yang ia lakukan kali ini berbeda dari pemikiran logisku. Dan untuk sekali lagi, Aku membisu ketika mendengar kata-kata guru Kakashi yang selanjutnya.

"Menurut kalian... Siapakah orang yang bernama Namikaze Naruto di dalam hati kalian...?"

.

.

.

.

.

"Because They Are Friends"

The Place Of Hope

Chapter 15 : "Karena Mereka Adalah Teman"

Genre : Horror, Adventure & Gore

(Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei)

.

.

.

.

.

Apa-apaan itu...

Apa ini sebuah lelucon...?

Jika memang iya, Lelucon yang guru Kakashi lontarkan sungguh sangatlah tidak lucu. Tapi, Ada rasa sakit yang kurasakan di dada ini ketika untuk pertama kalinya aku mendengar pertanyaan seperti itu. Dan mungkin bukan hanya diriku saja yang merasakan suatu kekosongan ini.

Kiba...

Hinata...

Dan bahkan Sasuke-kun sekalipun mungkin merasakan rasa yang sama saat ku tatap wajah diam mereka satu per satu.

'Siapakah Naruto di dalam hati kami...?'

Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku. Tidak bisa berhenti hanya untuk memikirkannya. Kenapa aku terbingung? Semua menjadi tak beraturan. Entah kenapa lidahku keluh untuk mengatakan sesuatu. Aku tidak bisa menemukan jawabannya.

Yahh... Aku tidak bisa temukan jawabannya. Lalu aku pun berpikir, 'Siapakah diriku ini di dalam hati Naruto...?'

Aku mulai menerka-nerka jawabannya. Semua memori yang telah tersimpan kini kembali terangkat. Bagaimana canda tawanya menemani hari-hari kecilku. Bagaimana figur wajah cerianya selalu menemaniku sebelum Sasuke-kun datang. Cara-caranya untuk mengeluarkan kami dari situasi yang semakin memburuk. Tidak ada yang lebih mengerti diri kami sendiri selain dirinya.

Dia lah, Seseorang yang membentuk utuh jati diri kami kembali setelah dihancurkan oleh keputusasaan. Di mataku... Dirinya adalah sosok sempurna di balik segala kekurangannya. Dan kini aku semakin percaya bahwa tidak ada yang tidak bisa ia lakukan.

Ia bisa lakukan segalanya. Dan kami semua percaya akan hal itu. Begitupun juga dengan dirinya. Kita hanya perlu percaya dengan apa yang dia lakukan. Kemana dan di manapun itu. Perasaan yang saling terhubung dan percaya satu sama lain. Membuatku menemukan jawaban yang kucari. Siapakah Naruto di dalam hati ini...

Tentu saja, Jawabannya adalah...

"Teman!"

"Teman yang bodoh..."

"Teman!"

"Te-Teman..."

Itulah jawaban kami. Jawaban yang datang dari hati kami masing-masing. Tidak ada keraguan sedikitpun saat mengucapkan kata itu. Semuanya serentak tanpa beban. Kita adalah teman. Kita semua adalah teman. Di Dunia yang telah hancur ini, Itulah satu-satunya yang harus kita pegang dan percayai.

Guru Kakashi menurunkan sebelah tangannya yang terangkat sembari sedikit tersenyum menatap kami. Beserta suara helikopter yang terasa semakin mendekat kemari, Kakashi melangkah berjalan mendekati pintu keluar di sana.

"Tidak peduli apa dan siapa dirinya menjadi saat ini. Kalian hanya perlu percaya kepadanya. Dengan begitu, Kita dapat bertarung dengan kelemahan diri kita sendiri. Dan menjadi lebih kuat dari yang sebelumnya."

Ucap Kakashi sambil membuka pintu gerbong kereta ini.

WUUUUZZZHHH...

Angin menderu masuk ke dalam. Menyapu setiap wajah lelah kami semua. Aku menutupi sebagian wajahku dengan sebelah tangan karena angin dingin yang menerpa. Kami mendekat dan berdiri di belakang tubuh tegap guru Kakashi. Menatap sebuah helikopter yang datang mendekat kemari dari arah di mana matahari terbit. Beserta segerombolan mayat hidup yang mengikuti di bawahnya.

"Saat ini Naruto punya perangnya sendiri. Dan kita juga memiliki perang kita sendiri di sini."

Lanjut guru Kakashi yang telah menarik sebilah pisau belati tajam dari sarungnya.

Helikopter tersebut terbang mendekat ke arah kami. Yang dapat dipastikan itu adalah jemputan yang sudah kami tunggu-tunggu selama ini. Dan sekarang, Yang kami harus lakukan hanyalah membersihkan mereka para mayat hidup yang akan mengganggu dan menghalangi.

Dan untuk Naruto...

Di manapun kau berada saat ini...

Berjuanglah, Dan kembalilah dengan selamat. Karena di sini kami akan selalu setia menunggumu untuk kembali.

(Sakura POV End...)

.

.

.

.

.

.

DARR-DARR-DAARR...!

Tiga tembakan beruntun dilepaskannya tepat ke arah Obito yang sudah berada pada jangkauan bidikannya. Naruto terkejut ketika ia mendengar semua suara tembakan itu. Itachi telah mengambil pilihannya. Keputusan untuk membunuh Obito di sini sekarang juga.

Tiga peluru tengah melesat merobek kelembaban udara dengan perputarannya. Melaju cepat bagai busur panah yang mengintai targetnya. Terus melesat menuju ke arah Obito yang berada di sana. Tidak ada yang bisa Naruto lakukan. Hanya terpaku merasakan tiga buah timah panas tengah melesat lewat di atasnya.

ZRAAASSSHH...

Darah terciprat keluar, Kala ketiga peluru tersebut menembus tepat di kepala Licker yang melompat ke arah tuannya berada. Obito menggerakkan pion-pion miliknya dengan tepat waktu sebelum peluru milik Itachi itu menghabisi dirinya di tempat ini.

BRUUKKHH...

Licker itu jatuh terkapar tak jauh dari tempat Obito berdiri. Mati mengorbankan dirinya sendiri untuk menerima tembakan tersebut. Bukan karena insting mereka. Namun kelihaian seorang Uchiha Obito yang mampu menggerakkan para bonekanya bagai berdiri di atas panggung drama.

Bunyi bising suara sebuah helikopter menyelinap masuk ke arena berdarah ini. Membuat Obito mencabut FlashDisk yang masih tertancap di Port Laptop miliknya.

"Maaf, Tapi permainan ini kita tunda sejenak."

Ucap Obito sembari mengangkat satu tangannya tinggi-tinggi ke atas. Lirik matanya tertuju menatap sosok seorang pemuda berambut kuning yang ada di bawah sana.

"Senang bertemu dan berbicara banyak hal denganmu... Naruto."

Lanjutnya lagi kemudian.

Kedua alis Naruto mengernyit. Menerka arti dan makna apa yang baru saja Obito ucapkan. Dan dari sinilah Naruto mengerti apa yang pria itu maksud.

'Dengan kata lain, Naruto... Saat ini yang coba ia lakukan adalah...'

Sejenak pemuda itu kembali teringat akan kata-kata Ayahnya. Namun sepertinya ia sedikit terlambat untuk menyadari hal tersebut.

"...?!"

Kedua mata Naruto yang saat ini berbeda warna terbuka lebar ketika Obito menjentikkan jarinya keras di udara. Dengan tanda itu, Seluruh monster mutasi ganas di tempat ini lansung bergerak secara bersamaan. Serentak mereka melompat tinggi-tinggi untuk menyerang Naruto dan Sona Sitri yang sudah tidak lagi berdaya.

Skakmat!

Peluh di pelipisnya mengalir lalu menetes di bawah dagu di antara dinginnya suhu udara. Karena melihat begitu banyaknya Licker yang akan menyerang dirinya dan Sona di waktu yang bersamaan. Tenaganya sudah hampir habis. Hanya satu sisa peluru yang ia miliki.

Tamat sudah...

Naruto telah mati langkah. Ia kalah dari permainan Obito. Tak ada yang bisa ia lakukan. Hanya dapat terpaku melihat mereka para monster di udara dengan cakar-cakar tajam. Siap mencabik tubuhnya yang tak lagi berdaya.

". . . . -TO!"

Kedua tangan Naruto jatuh. Genggaman pada Glock-17 miliknya melemas. Senjata itu merosot dan lepas dari jari-jarinya. Mata merah rusak yang bermutasi kini kembali membiru seperti sedia kala. Dan kedua manik indah itu pun perlahan tertutup.

". . . . . .-RUTO!"

Yang rasakan saat ini adalah...

Tidak ada... Dirinya tidak merasakan apapun. Hatinya kosong dan hampa. Ditelan oleh kekalahan. Kembali terikat oleh rantai keputusasaan. Tangan kanannya telah menyerah untuk terus menggenggam senjatanya. Sehingga ujung moncong Glock-17 pemberian Ayah Hinata untuknya tersebut, Meluncur jatuh membentur lantai stadion. Di dalam alam bawah sadarnya, Naruto telah jatuh dari kegelapan yang mengekang.

Namun, Ketika ia telah pasrah akan segalanya, Gendang telinga itu mendengar sebuah alunan kata-kata yang merdu terngiang.

'Di manapun kau berada saat ini... Berjuanglah, Dan kembalilah dengan selamat. Karena di sini kami akan selalu setia menunggumu untuk kembali...'

Suara itu muncul secara tiba-tiba di dalam alam bawah sadarnya. Naruto yang mendengar kata-kata tersebut, Membuka kedua matanya di dalam alam bawah sadarnya.

'Minna...'

Gumamnya pelan seorang diri di dalam kegelapan yang pekat. Lalu ia merasa ada sesuatu yang mendorong punggungnya ke atas. Ketika ia melirik ke bawah, Ia melihat tangan-tangan para sahabatnya memberikan sebuah dorongan. Ia juga melihat Hiashi, Chouji, dan Anko ada di sana. Yang tersenyum lembut untuknya.

'Berjuanglah... Namikaze-kun'

Kata Anko dengan sebuah senyuman lembut.

Manik biru itu terbuka lebar dengan tetes-tetes air mata yang mengalir keluar. Semua orang yang telah ada dan telah ia simpan di hatinya, Muncul memberikan tangan mereka. Mendorong punggung Naruto untuk membuatnya kembali ke permukaan sana. Semakin lama, Naruto terangkat semakin cepat menuju ke arah cahaya di sana. Pelupuk matanya sudah dipenuhi oleh air mata yang terhempas.

'Minna. . . . . Arigatou. . . '

"NARUTOOOO!"

Gendang telinganya mendengar serak teriakan Sona yang telah mengeluarkan banyak air mata. Yang berulang kali coba memanggil namanya itu.

CRRAAACKK...!

Rantai keputusasaan yang membelenggunya rusak dan pecah.

Kini kedua mata biru Naruto terbuka lebar-lebar setelah ia dapat keluar dan terbebas dari alam bawah sadarnya. Menatap ke arah para Licker ganas di udara yang sudah siap mencabik-cabik dirinya.

"KEJAR DIA, NARUTOOO...!"

Teriak Itachi yang kini sudah menggenggam dua Desert Eagle di kedua tangannya. Membidik setiap monster yang ada di sana.

ZRRUUUTTT...

Mata kanan Naruto dengan cepat berubah dan kembali bermutasi. Semua kekuatan yang saat ini ia genggam, Adalah kekuatan terakhir yang dipinjamkan kepadanya oleh orang-orang yang sudah terukir abadi di hatinya.

Glock-17 yang membentur di dasar lantai dan sedikit memantul itu ia cungkil kembali menggunakan ujung sepatunya. Sehingga senjata yang telah terjatuh tersebut, Kini kembali ke genggamannya. Tidak ada yang dapat menyamai kecepatan Naruto saat ini. Bahkan untuk para Licker tersebut.

Dengan segenap kekuatan terakhir yang ia dapatkan dari ikatan para sahabatnya, Naruto melaju cepat melewati para monster yang saat ini bagai bergerak sangat lambat. Mengejar sosok Obito yang telah menghilang, Ia percayakan nyawa Sona pada Itachi yang ada di belakang sana.

Setiap inchi gerak langkah kakinya, Naruto melewati satu per satu Licker yang ada di samping kanan dan kirinya. Detik waktu bagai bergerak lambat. Hanya dirinya yang bergerak bebas menembus batas!

Pemuda itu melompat tinggi di udara. Helai demi helai rambut rancung kuning itu bergoyang, Bersamaan dengan lepasnya suara tembakan dari moncong kedua senjata milik Itachi. Dengan tatapan tajam dan kecepan yang sangat mengerikan, Naruto berlari melewati setiap anak tangga bangku penonton. Hingga ujung sepatunya menyentuh anak tangga yang terakhir, Naruto melihat sosok Obito di ujung lorong panjang sana.

'Tidak akan-...'

Kedua mata mereka kini kembali bertemu dalam satu tatapan. Dua mata merah semerah darah milik Obito, dan dua mata yang berbeda warna milik Naruto.

'Tidak akan kubiarkan-...'

Di luar sana, Obito mengangkat kembali satu tangannya tinggi-tinggi ke atas. Lalu sebuah tangga dari helikopter yang lewat tepat di atas Obito menyambar tangannya tersebut.

Lorong ini serasa begitu panjang untuk di lalui. Dan tubuh Obito telah terangkat sepenuhnya dari balkon stadion oleh bantuan helikopter itu. Tetapi perjuangan Naruto masih belum berakhir sampai di sini. Dirinya masih belum mau menyerah. Ia masih melangkahkan kakinya untuk berlari dengan kecepatan yang sangat luar biasa. Naruto telah menembus batasnya sebagai seorang manusia!

"TIDAK AKAN KUBIARKAN KAU LARI DARI SINI BRENGSEEEKKK...!"

Ujung sepatu kirinya mengerem keras ketika dirinya sudah mencapai ujung dari lorong itu dan berada di luar balkon stadion. Naruto menggenggam begitu erat Glock-17 miliknya. Ini adalah yang terakhir. Naruto mengerahkan seluruh sisa kekuatannya yang ada untuk menghempaskan satu peluru miliknya yang tersisa.

Bagai seperti seorang pemain Baseball yang memukul bola menggunakan satu tangan, Naruto membanting tangan kanannya ke kiri dan menarik pelatuk itu dengan sangat keras.

DAAARRRR...!

Sebuah peluru terlontar keluar dan berputar begitu ganas. Melesat sangat cepat menembus udara yang dingin. Laju peluru yang ganas tersebut tidak bisa diprediksi dengan mata telanjang. Karena peluru Naruto itu tidak bergerak lurus pada lintasannya. Melainkan berkelok membentuk sudut derajat!

'Maju...!'

Teriak Naruto dalam hati memperhatikan lesatan peluru terakhirnya itu dengan mata kanannya yang terfokus. Sudut pelupuk matanya mengeluarkan darah dan mengalir kebawah. Tiba-tiba secara bersamaan peluru liar miliknya yang telah ia tembakkan berkelok arah menuju tepat di titik buta Obito. Yaitu, Di samping kiri kepalanya.

Naruto sudah terlampau jauh melewati batasnya. Hanya ini yang tersisa. Tak akan pernah ada manusia yang bisa lepas dari lesatan peluru ganasnya tersebut. Tidak bila itu adalah Obito.

DAAAARRR!

Suara tembakan yang kedua terdengar.

CRRAAACCKKK...

Naruto termangu ketika rambutnya bergoyang dan pipi kirinya berdarah tergores oleh sesuatu. Peluru yang ia tembakkan tadi terlempar kembali ke arahnya dan membentur ke dinding stadion hingga tercipta retakkan parah di sana.

Tangan kiri Obito sudah terjulur ke samping dengan sebuah senjata di genggamannya. Berhasil mengembalikan peluru ganas yang Naruto lesatkan tadi dengan menghantamkan peluru miliknya sendiri. Masih ada sisa percikan api yang terlihat di udara sesaat setelah kedua peluru itu saling beradu.

Kedua mata Naruto masih tak berketip menatap Obito. Yang bahkan dengan bantuan fokus mata kanannya yang bermutasi, Naruto masih tak mampu melihat gerak tangan Obito yang mengeluarkan sekaligus menembakkan senjatanya itu. Inikah kekuatan dari musuh Dunia...?

"Jangan lupakan fakta, Bahwa kita berdua memiliki mata yang sama... Naruto."

Helikopter di sana semakin terbang menjauh, Bersama Obito yang ikut di bawahnya. Mereka semakin mengecil di telan oleh kejauhan. Naruto terhuyung kebelakang dengan punggung yang menabrak dinding. Tangan kirinya mengepal erat dengan pundak yang bergetar.

BRRAAAKKHH...!

Naruto menghantam dinding di sampingnya sebelum ia jatuh terduduk di bawah kehabisan tenaga. Beberapa puing retakan di dinding jatuh akibat hantaman tangan kirinya. Mungkin ia sudah terlalu lelah untuk marah. Sehingga kini Naruto hanya diam membisu, Menatap senjatanya sendiri.

Namun ada sesuatu yang membuat pandangannya teralih. Ia melihat sesuatu yang bergerak di kegelapan di atas atap-atap gedung di sana. Seseorang yang berlari di dalam bayangan. Ketika ia menyadari bahwa sosok itu yang tak lain dan tak bukan adalah Uchiha Itachi, Naruto tertawa kecut di balik wajah lelahnya.

'Jadi ini bayangan yang dimiliki Divisi ke-3...'

Gumam Naruto dalam hati memperhatikan Itachi yang berlari melompati tiap-tiap gedung tinggi di balik kegelapan. Orang itu sama sekali tidak menyerah untuk terus mengejar Obito walau mereka sudah hilang dari pandangan mata. Ayah selalu memiliki orang-orang yang hebat di sampingnya. Pikir Naruto.

'Kusoo... Seluruh bagian tubuhku terasa hancur berkeping-keping...'

Ungkapnya sekali lagi dalam hati sambil menertawakan dirinya sendiri yang tergeletak tak berdaya seperti ini di luar balkon stadion.

Tiba-tiba secerca cahaya menerpa sebagian wajahnya. Naruto menutupi terpaan cahaya itu menggunakan tangan kirinya yang lusuh.

'Ahh... Mentari pun sepertinya juga sedang menertawakanku kali ini...'

Naruto mencoba berdiri dengan bantuan dinding di belakangnya. Jika Itachi sudah pergi dari tempat ini, Maka sekarang Sona pasti kesepian di dalam sana. Begitulah pikir Naruto yang sedikit konyol.

'Aku harus kembali untuk menemaninya... Mungkin saja aku akan dapatkan satu atau dua ciuman darinya nanti.'

Naruto melangkah terhuyung-huyung di sepanjang lorong itu. Dengan hanya dinding yang membantunya untuk tetap berdiri. Kedua kakinya tak terlihat untuk sekedar berhenti bergetar. Pandangannya mulai merabun. Batas jarak pandang matanya kini tak lebih dari sepuluh meter saja. Naruto merasa sudah jadi kakek-kakek sekarang. Tak henti-hentinya ia menertawakan keadaannya sendiri saat ini.

Sedikit lagi adalah akhir dari lorong koridor panjang ini. Tapi ia merasa bahwa kedua kaki miliknya tak mampu untuk membawanya lebih jauh lagi. Naruto sudah berada dalam ambang batasnya sebagai manusia.

'Kusoo...'

Lagi-lagi dirinya mendengus dalam hati sambil tertawa kecil. Ia benar-benar tak kuat lagi. Sejenak ia berhenti dan tetap berdiri bersandar di dinding. Dengan pandangan mata yang sudah kabur, Naruto memperhatikan ujung lorong yang sudah dekat di sana. Seseorang muncul dan berlari menerjang ke arahnya dengan raut wajah khawatir.

'Ahh... Senang bisa melihatmu lagi, Sona.'

Gumam Naruto sendiri yang sangat mengenali sosok itu walau dirinya sendiri tidak bisa melihat dengan jelas. Tapi sayangnya pemuda itu benar-benar sudah tidak kuat lagi menopang beban tubuhnya.

"Naruto...!"

Teriak Sona dan berlari menangkap tubuh lemah pemuda berambut kuning itu. Sona membawa kembali pisau belati Naruto yang tertancap pada salah satu kepala Licker yang ada di belakang sana.

"Kumohon, Tetaplah bersamaku-..."

Ucap Sona yang memeluk erat tubuh pemuda tersebut sambil menangis sendu. Tidak kuasa melihat kondisi Naruto yang berantakan dan menutup mata.

"Kumohon... Kumohon jangan tinggalkan aku sendiri di sini Naruto... Kumohon... Aku tidak ingin sedirian lagi... Aku tidak ingin hidup tanpa dirimu di Dunia ini..."

Gadis itu semakin erat mendekap tubuh Naruto. Air matanya sudah banyak berlinang. Tidak ingin Naruto meninggalkan dirinya dengan seperti ini di Kota yang telah mati. Sudah banyak hal sulit yang ia lalui, Dan berharap suatu saat dapat bertemu kembali dengannya. Sudah cukup hatinya hancur berkeping-keping ketika ia berpikir telah kehilangan Naruto saat di dermaga dahulu. Sona tak ingin merasakan rasa yang sangat menyakitkan itu lagi. Rasa yang benar-benar sangat sakit.

Di sela peluk dan tangisnya, Sona merasakan ada sesuatu yang menggenggam jemari-jemari tangannya yang memegang pisau belati milik Naruto.

"Bolehkah aku bertanya satu hal..."

Kedua mata Sona terbuka lebar-lebar sesaat setelah mendengar suara yang sangat ingin ia dengar.

"Apakah aku... Sudah berada di Surga..."

Tanya Naruto dengan nada lirih.

Pemuda itu membuka kedua matanya yang sayup. Lalu mendongak memandang paras wajah Sona yang sudah ada di hadapannya. Di saat itulah pandangan kedua mata mereka saling bertemu kembali.

"Na-... Naru-..."

Sona tidak sanggup berkata-kata lagi. Karena tak mampu untuk membendung rasa senang yang ada di dadanya. Air mata itu semakin berlinang deras. Mendapati sosok yang ia rindukan masihlah hidup dalam pelukannya. Dan ia pun semakin mendekap pemuda tersebut dengan eratnya.

"Ternyata dipeluk oleh wanitu sangat menyakitkan rasanya... Tulangku serasa ingin rontok berhamburan..."

Ucap Naruto sembari tertawa kecil dengan kalimat konyolnya.

". . . . . . .Baka."

.

.

.

.

.

Malam yang melelahkan akhirnya berganti. Sang mentari masih malu-malu menunjukkan sinar eloknya untuk menerangi Dunia yang kejam ini. Di bawah ufuk pagi yang dingin, Sepasang remaja keluar dari stadion yang menjadi arena kematian mereka. Kaki mereka menapak di atas tanah dan berhenti untuk sejenak menikmati siraman cahaya indah matahari pagi.

"Aku mau ramen..."

Ucap pemuda berambut kuning yang tubuhnya di topang oleh gadis berambut sebahu di sampingnya.

"Diamlah." Jawab gadis manis itu dengan sedikit ketus.

Mereka berdua berhenti dan berdiri tepat di depan gelanggang olahraga Konoha yang telah usang tak terpakai. Menatap para Zombie yang mendekat ke arah mereka.

"Kapan semua ini akan berakhir..."

Sona bertanya yang entah kepada siapa saat menatap para mayat hidup di sekitar mereka. Dan entah siapa yang mampu untuk menjawab pertanyaannya itu.

Seorang wanita kumuh berlumuran darah dengan wajah yang menyeramkan berlari ke arah pasangan itu. Namun mereka berdua tetap diam dan tidak melakukan apa-apa. Hanya menatap bagaimana wanita tersebut berlari mendekati mereka tanpa melakukan apapun. Sudah terlampau lelah tubuh mereka berdua untuk bertarung. Dan diam satu-satunya pilihan yang mereka berdua miliki.

jenDAAAAARRR...

Suara tembakan yang menggelegar terdengar dari sudut yang jauh. Seketika wanita yang ingin menyerang mereka itu terhempas jatuh menyusur keras ke tanah dengan lubang menganga di kepalanya. Naruto tersenyum setelah ia tahu milik siapa suara senapan mematikan itu.

Denging mesin helikopter yang begitu berisik terdengar sampai ke gendang telinga mereka. Hembusan angin yang tersapu oleh baling-baling menghempaskan segala apa yang ada di dekatnya. Sebuah helikopter milik Organisasi rahasia Konoha telah tiba dan mendarat di hadapan mereka berdua.

CEKREELK...

Dari dalam heli tersebut, Seorang pemuda berambut Raven mengokang kembali senapan miliknya agar selongsong yang kosong dapat terlontar keluar dan terganti oleh selongsong yang baru.

Sona beserta Naruto yang ada di sampingnya melangkah mendekati helikopter tersebut. Kiba, Hinata, dan Sakura mengulurkan tangan mereka kepada kedua pasangan yang terlihat berantakan ini. Termasuk juga Sasuke yang mengulurkan kepalan tinjunya kepada sosok sahabat kuningnya.

"Tadaima..."

Ucap Sasuke dengan senyum di wajahnya untuk mereka berdua. Sona dan Naruto pun tersenyum pada sambutan hangat ini. Terutama untuk diri Naruto yang saat ini beradu tatapan dengan sang Uchiha muda itu. Ia mengulurkan tangan kanannya yang terkepal ke arah Sasuke. Dan pada akhirnya, Kepalan tinju mereka saling terhubung satu sama lain.

". . . . . .Okaeri."

.

.

.

"Because They Are Friends"

The Place Of Hope

Chapter 15 : "Karena Mereka Adalah Teman"

Genre : Horror, Adventure & Gore

(Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei)

.

.

To Be Continue...