Elok cahaya sang penguasa pagi menyilaukan kedua manik birunya. Baling-baling terus berputar merdu mengalun melalui gendang telinga. Ia tak percaya bahwa dirinya masih bisa menikmati indahnya siraman sinar sang surya setelah semua apa yang ia lalui. Betapa ia merasa beruntung, Dapat nikmati saat-saat singkat yang begitu berharga ini bersama dengan seluruh teman-temannya yang tersisa.
Kedua manik indah sebiru lautan itu tak sedikitpun memalingkan pandangannya menatap langit di sana. Ia lalu tersenyum singkat, Kepada paras sang surya yang semakin meninggi ke atas. Benar-benar rasa yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Coba menikmati saat-saat yang tentram ini selama yang ia bisa.
"Kita hampir sampai di titik pertemuan."
Ucap sang pilot yang mengendalikan helikopter ini.
Sejenak Naruto alihkan pandangannya menatap ke bawah sesaat setelah mendengar kalimat dari sang pilot. Hal yang sama juga dilakukan oleh Sasuke dan Sakura yang duduk di depannya. Memandang sebuah bandara yang sudah tak lagi berfungsi akibat bencana mengerikan ini. Bandara yang ramai oleh kerumunan para personel organisasi rahasia Konoha. Beserta para pengungsi dan para tentara yang masih tersisa.
Mereka bertiga saling bertatap mata. Tiga sahabat yang saling menunjukkan senyum lega mereka satu sama lain.
"Kita berhasil..."
Ucap Naruto kepada Sasuke dan Sakura yang duduk di depannya.
"Ya... Kita berhasil."
Jawab Sakura dengan raut wajah gembira, Melepas seluruh beban di pundaknya.
"Akhir yang tidak buruk juga..."
Ungkap Sasuke paling belakang memberikan jawabannya.
Naruto berpaling, Dan kini menatap ke arah Kiba, Hinata, dan tentunya juga, Sona. Memandang raut wajah mereka yang nampak begitu lelah dengan semua yang telah mereka lalui. Segala duka yang telah mereka lewati. Dan segala penderitaan yang tidak pernah mereka hindari.
"Kita telah lalui begitu banyak hal. Kita semua sudah berjuang keras untuk bisa sampai ke sini, Ya kan..."
Ucap pemuda itu kepada mereka.
"Kau benar. Kita sudah merasakan rasa sakit hanya untuk mencari apa yang selalu kita cari semenjak hari itu dimulai. Dan kini kita telah menemukannya."
Kata Kiba membalas kata-kata yang Naruto ucapkan.
Hinata menyeka kecil setitik air mata di pelupuk matanya. Ia merasakan rasa lega yang luar biasa di hatinya. Bersama teman-temannya, Ia telah melalui berbagai macam hal yang akan menjadi satu kenangan yang tak akan pernah bisa ia lupakan sampai seumur hidupnya. Membuat Hinata tak kuasa untuk menahan titik demi titik air mata yang mengalir keluar.
Sona hanya bisa melihat bandara itu dari sudut pandang yang tidak begitu tepat. Karena ia duduk di tengah-tengah Naruto dan Kakashi. Namun meski begitu, Dirinya tetap merasakan rasa tentram dan damai untuk sesaat. Rasa yang tidak bisa ia rasakan ketika berada di jalanan Kota Konoha yang gelap dan penuh dengan para mayat hidup yang kelaparan. Sesuatu yang selalu ia tunggu-tunggu akhirnya tiba. Di mana ia dan teman-temannya, Akhirnya dapat menemukan tempat harapan bagi mereka.
'Entah mengapa... Ada sesuatu yang masih mengganjal di hatiku.'
Gumam Sona sendiri dari dalam hati. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang tertinggal. Sesuatu yang menurutnya kurang. Tetapi Sona tidak mengerti apa yang dirasakannya itu. Membuatnya tidak bisa menikmati saat-saat paling mententramkan ini berlama-lama dengan semua teman-temannya.
Helikopter yang mereka tumpangi semakin mengurangi ketinggian dan terus turun ke bawah dengan laju yang statis. Beberapa personel bersenjata lengkap menghampiri setelah kaki heli menyentuh permukaan aspal landasan terbang pesawat. Hatake Kakashi, Inuzuka Kiba, Hyuuga Hinata, Sona, Uchiha Sasuke, Haruno Sakura, dan tentu juga sang pemeran utama dalam rentetan misi penyelamatan ini, Namikaze Naruto, Disambut begitu hangat oleh beberapa personel Anti Bio-Terrorist Unit dari segala Divisi atas kedatangan mereka bertujuh.
"Otsukaresama!"
"Selamat datang kembali, Namikaze-kun."
"Kerja bagus nak!"
"Aku melihat semua perjuanganmu melalui monitor. Kau telah berjuang begitu keras. Kami senang kau bisa kembali di sini dengan selamat."
"Perjuangan yang luar biasa. Terima kasih atas kerja kerasmu, Namikaze-kun!"
"Kau sungguh membuatku terkejut Boy... Otsukare!"
Beberapa sambutan dan pujian terlontar untuknya. Untuk seorang pemuda berambut kuning yang saat ini tengah ditopang oleh sahabat Uchiha-nya. Telah berhasil membawa teman-temannya yang tersisa dari kejamnya Dunia di luar sana.
Decak kagum diperlihatkan oleh mereka yang tahu bagaimana cara Naruto berjuang untuk para sahabatnya. Khususnya untuk Divisi Intelejensi yang telah menyaksikan secara detil semua kerja keras Naruto.
"Nona muda, Apa kau tidak apa-apa?"
"Ya, Aku baik-baik saja. Aku akan pergi ke ruang pemeriksaan nanti bersama teman-temanku."
Jawab Sona Sitri kepada salah seorang personel , Yang saat ini butuh bantuan Sakura untuk berjalan.
Hinata menatap punggung Naruto dari belakang. Menatap seorang pemuda yang selalu menjadi inspirasinya. Ia menatap Naruto dengan pendangan yang tak bisa dijelaskan. Namun, Satu hal pasti yang dapat ia rasakan. Hinata senang bisa kembali menatap punggung Naruto dari kejauhan. Ya... Hanya menatap punggung pemuda itu dari kejauhan.
"Tiba-tiba saja kau jadi sangat populer ya..."
Bisik Sasuke yang masih menopang tubuh Naruto.
Pemuda kuning itu hanya memejamkan kedua mata indahnya yang sayup dan sedikit tersenyum lega.
"Aku tidak tahu harus berekspresi seperti apa saat mereka mengatakan semuanya. Aku sudah terlalu lelah untuk itu..."
Ungkap Naruto pelan sembari tersenyum. Melihat sahabat terbaiknya ini yang sudah tidak berdaya, Membuat sudut bibir Sasuke juga tertarik untuk tersenyum kecil.
"Heh... Kau ini sama sekali tidak keren."
Ucap Sasuke meledek.
Sakura dan Sona menghampiri kedua pemuda yang ada di sana. Mendekati sang pahlawan yang sudah kelelahan. Sasuke dan Naruto pun juga merasakan kehadiran mereka. Membuatnya berbalik badak ke belakang.
Sona melepaskan diri dari Haruno Sakura yang ada di sampingnya. Sepasang iris merah muda dan biru itu kini kembali bertemu. Mereka berdua saling bertukar pandang. Saling menatap dalam satu sama lain.
"Naruto... Sebenarnya... Ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu..."
Ungkap gadis berkacamata tersebut dangan nada yang sulit untuk dijelaskan. Ia memegang siku tangannya sendiri sambil memandang ke arah lain. Mencoba untuk menelusuri seluruh wilayah yang sangat luas ini. Kedua matanya menatap satu per satu para pengungsi yang berhasil selamat dari kejauhan. Mencoba untuk menemukan sosok yang sedang ia cari.
"Sebenarnya... Di mana mereka..."
Tanyanya dengan nada pelan, Namun masih dapat terdengar jelas oleh teman-temannya. Termasuk juga Naruto, Yang saat itu ada tepat di depan gadis tersebut.
'Akhirnya... Tiba saat di mana ia akan menanyakan hal ini... Sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kupendam sendiri bersama yang lain. Diriku pun ingin mengatakannya, Sona. Tapi aku selalu menunggu saat dirimu menanyakannya langsung... Pertanyaan yang sangat sulit untuk kujawab dengan kata-kata...'
Sona berulang kali mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru tempat ini. Tetapi kembali... Tidak seorangpun yang cocok dengan sosok yang sedang ia cari.
"Sedari tadi aku sama sekali tak bisa menemukannya. Sebenarnya, Di mana mereka berdua... Di mana Chouji dan Anko-sensei berada..."
Pertanyaan telah lengkap terlontar. Hati Kiba, Hinata, Sakura, dan Sasuke bagai tertampar keras oleh pertanyaan Sona. Yang mana gadis berkacamata tersebut hanya bisa mengeratkan genggamannya pada siku tangannya sendiri. Ada sesuatu kekhawatiran yang muncul ketika ia berhasil mengutarakan apa yang sedari tadi ingin ia pertanyakan.
Sasuke melepaskan Naruto, Dan memberi ruang untuk sahabat kuningnya itu. Entah kenapa, Kali ini Sasuke tidak bisa berkata apapun. Lidahnya keluh... Tak dapat melakukan apapun mengenai hal ini. Yang bisa ia lakukan hanyalah, Menyerahkan semuanya kepada Naruto. Sasuke percaya hanya Naruto yang bisa melakukannya.
Tidak ada satupun kata yang terucap dari mulut mereka setelahnya. Semua hanya ditelan oleh senyap. Merasa bahwa ada yang sedikit aneh dari tingkah mereka, Sona pun memutuskan untuk mengembalikan arah pandangannya kepada Naruto. Namun alangkah terkejutnya diri Sona saat ia melihat sebuah uluran tangan yang terulur kepadanya.
Sona tidak mengerti apa maksud Naruto. Karena bukan sebuah jawaban yang ia terima. Yang bisa ia lihat hanyalah uluran tangan pemuda berambut kuning itu tertuju hanya kepada dirinya.
Dengan tatapan yang tidak mengerti, Perlahan Sona pun mengulurkan tangan kirinya. Mencoba menerima uluran yang Naruto berikan untuknya. Di tempat ini... Di markas baru ini... Kedua tangan mereka kini saling bersentuhan. Sungguh tidak bisa ia mengerti semua arti dari apa yang coba Naruto lakukan. Tetapi setelahnya, Kedua manik indah milik Sona dibuat terbuka lebar.
SEEETTT...
Naruto menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukan hangat. Naruto memeluk Sona dengan lembut. Lalu Mendekapnya begitu dalam. Bagai tak ingin melepaskannya.
Sona tidak tahu apapun. Yang dapat ia rasakan, Hanyalah sebuah pelukan hangat dari seseorang yang ia sayangi. Sona tak berkutik dibuatnya. Hanya sedikit terkejut sebelum Naruto membisikkan sepatah kata.
"Sona... Maafkan aku..."
Angin sepoi berhembus menerpa mereka. Menerbangkan tiap helai rambut hitam Sona yang memperlihatkan raut ambigu. Sama sekali tidak mengerti apa maksud ucapan Naruto.
"Maafkan aku. . . . . . . Maafkan aku. . . . . ."
Pundak Naruto bergetar...
Pelukannya semakin mengerat...
Suaranya semakin serak terdengar...
Hanya dua kata itu yang terus menerus terdengar di gendang telinga Sona. Tidak ada yang lain. Hanya dua kata itu saja. Ungkapan maaf yang berulang kali Naruto bisikkan di telinganya. Ungkapan maaf yang tulus keluar dari lubuk hati seorang pahlawan.
Entah mengapa... Tetapi semakin banyak Naruto mengucapkan kata maaf... Semakin kedua matanya memanas tanpa sebab. Lidah Sona keluh untuk berkata-kata. Ia menggigit bibir bawahnya sendiri yang bergetar. Hatinya serasa teriris dan tertusuk oleh sebuah pedang, Ketika kini ia mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi.
Entah sudah berapa kali pemuda itu mengucap maaf. Sona tak bergeming sedikitpun darinya. Karena tanpa ia sadari, Tetes demi tetes air mata sudah turun membasahi pipi putihnya. Sona menggigit bibir bawahnya dan menangis... Tak mampu lagi menahan derasnya air mata yang berlinang keluar. Ia telah kehilangan kedua sosok yang berharga baginya. Membuat hatinya kembali hancur berkeping-keping.
Naruto tidak berhenti untuk mengucap kata maaf itu. Hanya inilah yang bisa ia ungkapkan untuk gadis itu. Bukan rangkaian kata-kata... Melainkan hanya air mata yang mampu ceritakan betapa pedih kisah yang telah ia lalui selama ini.
Sakura sudah tidak kuat melihat pemandangan itu. Ia mendekat dan memberikan pelukannya untuk mereka berdua. Hal yang sama juga Sasuke lakukan. Perlahan Kiba dan Hinata ikut dalam ungkapan kesedihan mereka. Mengenang kembali dua sosok rekan, teman, sekaligus sahabat yang sudah berjuang bersama-sama dengan mereka untuk bertahan dari kengerian Neraka ini.
'Aku menyesal... Sangat menyesalinya... Maafkan aku, Teman-teman...'
.
.
.
.
.
"Because They Are Friends"
The Place Of Hope
Chapter 16 : "Karena Mereka Adalah Teman"
(Part - 2)
Genre : Horror, Adventure & Gore
Main Cast : Naruto U., Sakura H., Sasuke U.
Caution! Contains violance & profanity (17th +)
.
.
.
.
.
.
Sebuah mobil Van hitam mengkilap nampak mendekati jalur masuk pintu utara bandara yang saat ini sudah diduduki oleh Organisasi rahasia Kota Konoha. Ada dua orang bersenjata lengkap dan beratribut khas Anti Bio-Terrorist Unit yang menumpang di atas atapnya. Melaju dengan kecepatan statis sebelum berbelok dan berhenti tepat di depan dua personel yang bertugas untuk menjaga pintu masuk. Dua orang di atasnya pun turun dari atap mobil dan langsung membuka pintu sampingnya.
ZRRREEEEKK...
Bunyi pintu geser Van hitam tersebut ketika terbuka lebar-lebar. Lalu keluarlah segerombolan orang-orang yang berhasil dibawa dari sebuah Mall di tengah Kota. Mereka adalah para warga yang masih bertahan hidup dari wabah pandemik ini. Semuanya langsung digiring untuk masuk ke dalam dan melakukan pengecekkan untuk mencegah penularan Virus misterius nan mematikan yang mungkin saja dapat membahayakan para pengungsi yang lain.
Dua personel penja langsung memberi kode hormat ketika seseorang pria tinggi tegap berambut hitam kecoklatan turun dari kursi kemudi.
"Senang melihat anda kembali dengan selamat, Kapten!"
Ucap mereka kepada sosok pria yang sangat mereka hormati tersebut.
"Jangan sampai lengah. Kita telah lalui hari-hari yang terburuk dalam sepanjang sejarah A.N.B.U. pintu masuk ini, Kuserahkan pada kalian."
Jawab Hashirama, Sosok Kapten yang penuh dengan karisma dan wibawa.
"Siap!"
Hashirama melangkah meneteng Sub-Machine Gun P90 miliknya yang telah kosong kehabisan peluru. Tanda bahwa dirinya telah berjuang keras dalam misi-misinya di luar sana. Saat ia akan menuju ke lapangan lepas landas bandara, Seseorang datang mendekat untuk memberi sapa.
"Akhirnya kau sampai di sini. Syukurlah jika kau tidak terluka."
Kata seorang pria paruh baya yang berumur sama dengan Hashirama. Tinggi tubuh mereka pun hampir serupa. Hanya ramput kuning rancungnya yang menjadi pembeda dirinya dengan Hashirama.
"Minato... Maaf, Aku begitu bodoh membiarkan orangmu yang menjemput timku tergigit di sana. Dia mengakhiri hidupnya dengan peluru yang tersisa dari senjataku. Aku sebagai Kapten Anti Bio-Terrorist Unit mengakui tindakannya dengan segala hormat. Sekali lagi... Maafkan aku..."
Ucap Hashirama penuh dengan penyesalan, Ketika dirinya tidak bisa melindungi orang yang Minato Namikaze kirim untuk menjemput timnya.
Untuk sesaat, Minato terdiam saat dirinya telah mendengar kabar buruk yang telah sahabatnya sampaikan. Ada rasa kehilangan yang Minato rasakan di hatinya. Seorang bawahannya yang begitu loyal terhadapnya gagal kembali dengan selamat. Setelah sesaat terdiam hening, Tiba-tiba Minato menepuk pundak seseorang yang sudah lama menjadi sahabatnya tersebut.
"Jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri. Aku senang telah mendengar bahwa dia sudah melakukan tugasnya dengan baik sampai saat terakhirnya."
Ungkap Minato dengan bijaksana. Berharap bahwa Hashirama tidak terlalu menyesali semua yang telah terjadi.
"Terkadang... Pengorbanan tidak akan bisa terhindarkan untuk mencapai keberhasilan. Kita sudah terlalu banyak kehilangan personel karena semua misi ini. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengenang mereka yang telah gugur di dalam hati dan terus melangkah maju. Hashirama, Kita harus selesaikan semua ini apapun yang terjadi, Agar pengorbanan mereka tidak terbuang sia-sia."
Lanjut pria berambut kuning tersebut.
"Ngomong-ngomong, Ada satu hal yang sebenarnya ingin kusampaikan padamu saat sudah tiba di sini."
"Satu hal...?"
Tanya Hashirama sedikit penasaran.
"Naruto telah berhasil membawa putrimu kemari."
Jawab Minato saat memberikan sebuah kabar gembira kepada sahabatnya itu. Sedangkan Hashirama hanya diam termenung. Masih belum bisa mencerna dengan benar apa yang telah Minato sampaikan.
"A-... Apa...?"
"Kubilang, Putraku berhasil membawa Sona kemari. Naruto telah berhasil melaksanakan semua misi yang sudah kau berikan padanya."
Sahut Minato mengulangi kalimatnya dengan sangat jelas. Tetapi Hashirama masih tetap diam dengan tatapan tak percaya. Dirinya tidak tahu harus berekspresi seperti apa di depan sahabat baiknya itu. Dengan hanya melihatnya, Minato mengerti apa yang saat ini Hashirama rasakan. Ia sangat mengerti, Karena bagaimanapun, Minato juga seorang Ayah sama seperti Hashirama.
"Karena terlalu sibuk membicarakan rencana apa yang akan kita ambil ke depan dengan Tuan Presiden dan para pemimpin yang lain, Aku sampai tidak bisa memberi sambutan selamat datang kepada mereka. Kemarilah... Akan kutunjukkan jalan menuju ke ruangan mereka. Karena saat ini aku pun ingin menjenguk putraku."
Kata Minato saat dirinya mulai melangkah meninggalkan Hashirama yang masih diam mematung atas keterkejutannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Baiklah, Pemeriksaan selesai. Kalian dinyatakan bersih. Kalian bisa turun ke tempat di mana para pengungsi yang lain berkumpul. Mungkin kalian ingin mencari keluarga atau orang-orang yang ingin kalian temui."
Seorang suster membersihkan meja kerjanya dari lembar-lembar kertas hasil pemeriksaan. Dalam satu ruangan yang sama, Di sana Kiba, Hinata, Sasuke, Sakura, dan Sona telah menempuh serangkaian tes darah untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang terjangkit Virus mematikan.
"Sebenarnya, Siapa mereka-mereka ini...? Rasanya, Mereka terlihat lebih hebat dari tentara militer saja."
Kiba berbisik pelan kepada teman-temannya. Penasaran dengan siapa sosok para orang bersenjata lengkap di bawah sana yang terlihat seperti pasukan militer.
"Aku pun tidak begitu tahu. Mereka sangat jarang sekali terlihat di lingkungan luar. Bahkan stasiun televisi pun tak pernah mengekspos mereka."
Ungkap Sasuke membalas pertanyaan Kiba.
"Tapi yang pasti, Sesuai dengan apa yang telah Naruto ceritakan sebelumnya, Mereka adalah sebuah organisasi hebat dengan orang-orang terlatih secara profesional. Dan mereka juga sangat dirahasiakan oleh pemerintahan Jepang.
Sahut Haruno Sakura kemudian. Coba melengkapi apa yang tidak bisa Sasuke sampaikan.
"Syukurlah... Kita bisa berada di tempat seperti ini. Setidaknya untuk sementara kita semua bisa aman dari makhluk-makhluk di sana..."
Ucap Hinata begitu merasa lega setelah semua yang sudah ia dan teman-temannya lalui. Karena begitu mengerikannya di luar sana, Yang setiap saat harus berjuang keras dan bertahan hidup dalam kondisi apapun.
Hinata juga merasa, Bahwa Ayahnya dan Naruto adalah sosok yang paling berpengaruh dalam hidupnya. Bahkan kesembuhan kedua kakinya yang lumpuh sejak lahir juga tidak lepas dari peran mereka berdua. Membuat Hinata dapat merasakan bagaimana rasanya berjalan hingga berlari kembali setelah sekian lama dikekang oleh keterbatasan fisiknya. Tidak ada yang mampu mengganti peringai kedua sosok itu dalam hatinya. Hanya Hiashi dan Naruto lah, Yang terlukis lekat di dalam sana.
Tiba-tiba Sona berdiri dari tempat duduknya. Membuat mereka memandangi gadis berkacamata tersebut dengan pandangan bertanya.
'Alasan mengapa bandara ini dijadikan sebuah Base pengungsian oleh mereka... Mungkin adalah untuk menghindari publik tentang lokasi di mana markas utama mereka yang tersembunyi. Bagaimana pun. Organisasi ini adalah Organisasi rahasia. Jika para pengungsi di ungsikan ke markas utama, Maka markas mereka tidak bisa lagi disebut markas rahasia.'
Gumam Sona dalam hati sembari melangkah mendekati pintu keluar.
"Sona, Kau mau kemana?"
Sakura bertanya.
"Hanya ingin mencari sesuatu sebentar..."
Jawab Sona singkat.
"Di sinilah ruang pemeriksaan mereka. Karena putraku ditempatkan di ruang pemeriksaan yang berbeda, Kita harus berpisah di sini."
"Baiklah..."
Sayup-sayup terdengar suara dua orang dewasa di luar sana. Dan saat sebelum Sona menyadari suara siapa di balik pintu di depannya itu, Seseorang telah membukanya terlebih dahulu.
Kini dua tatapan yang rindu saling bertemu. Setelah sekian lama terpisah, Akhirnya mereka dapat dipertemukan kembali oleh takdir. Bertukar pandang dengan mimik wajah yang tidak dapat dijelaskan oleh kata-kata. Semuanya tercampur aduk oleh kerinduan yang saling terpendam. Membuat Sona tak tahu harus mengatakan apa di depan sosok yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ayah angkatnya.
"Sona..."
Gumam kecil Hashirama terpaku menatap sang gadis kecilnya.
Mereka kini terikat dalam satu pelukan hangat. Pelukan kasih sayang antara orang tua dan anak. Mungkin sudah akan mengalir keluar air mata gadis itu, Namun ia menahannya agar tak terjatuh lagi.
"Ayah Sona ternyata juga bagian dari mereka. Hebat..."
Gumam Kiba ketika melihat kehangatan yang terpancar dari mereka berdua di sana.
Sedangkan Hinata, Sasuke, dan Sakura hanya bisa tersenyum tipis menatap kebersamaan mereka. Melihat Sona dan Ayahnya yang kini dapat bertemu kembali, Membuat mereka bertiga jadi kembali teringat dengan orang tua mereka sendiri. Mungkin Ayah Hinata sudah meninggalkannya saat tragedi bersama Naruto. Tetapi, Bagaimana dengan kedua orang tua Sakura dan Sasuke...? Tidak ada kepastian tentang hal itu.
Memang sedikit agak iri rasanya bila mengingat keadaan yang mereka alami dibandingkan dengan Sona yang dapat bertemu Ayahnya lagi. Namun jika salah seorang teman mereka bahagia, Itu akan jadi bahagia mereka juga. Setidaknya itulah yang ada di hati Sakura dan Sasuke saat ini.
Ketika sosok pria berambut kuning yang tengah tersenyum kecil melihat Hashirama dan Sona meluapkan kerinduan mereka, Sakura menyadari keberadaannya yang akan beranjak dan berlalu pergi.
"Pa-Paman Minato!'
Panggil Sakura sedikit canggung memanggil sosok pria paruh baya yang baru akan melangkahkan kakinya pergi.
Kiba, Hinata, dan Sasuke terkejut saat Sakura tiba-tiba bangkit berdiri dan langsung memanggil seseorang. Terutama untuk Hinata yang juga ikut tersadar akan keberadaan satu orang lagi di luar pintu sana. Dan saat Hinata menatap orang tersebut, Entah kenapa Hinata teringat oleh sosok Naruto.
Ya...
Wajah pria itu sangat mirip dengan wajah Naruto. Rambut, bibir, alis, bahkan warna biru di mata mereka berdua benar-benar mirip satu sama lain. Dan ketika Hinata melihat pria tersebut, Aura karismatiknya begitu terasa kental sama seperti saat dirinya melihat sosok Naruto.
'Mereka benar-benar sangat mirip... Apa jangan-jangan orang itu adalah...'
Hinata bergumam dalam hati, Yakin jika Minato yang di sana itu, Tidak lain dan tidak bukan adalah Ayah Naruto.
"Ahh... Sakura kah? Dan Sasuke juga. Senang bisa melihat kalian baik-baik saja."
Ucap Minato memberi sapaan ringan saat menatap Sakura dan Sasuke.
"Aku tahu jika ini sedikit egois, Tapi... Paman... Ijinkan kami untuk melihat keadaan Naruto... Aku mohon..."
Kata Sakura sembari membungkuk dan memohon kepada sosok Minato yang berada di sana.
Tidak hanya Sakura saja. Kiba, Hinata, dan bahkan Sasuke juga membungkuk untuk memohon padanya. Minato hanya terdiam karena terkejut. Tidak ia sangka mereka akan jadi sekompak ini hanya untuk menjenguk putranya. Tidak sampai di sana saja, Sona tiba-tiba berdiri di depan dirinya lalu membungkuk seperti yang mereka lakukan.
"Tolong beritahu kami di mana Na-... N-Naruto saat ini sedang di rawat. Kami sangat ingin mengetahui di mana keberadaannya walau hanya melihat dari jauh. Kumohon, Tunjukkan pada kami tempat di mana ia berada..."
Pinta Sona yang saat itu telah memberanikan diri memohon kepada Ayah dari seseorang yang ia sayangi.
Hashirama pun juga sedikit terkejut melihat tingkah anak angkatnya ini yang telah berubah. Sungguh berbeda dari sifat Sona yang dingin, judes, dan kekanak-kanakan dulu. Dan lihatlah sekarang... Bahkan putrinya itu sampai membungkuk dan memohon di depan ketua Divisi-3.
Minato dan Hashirama hanya bertukar pandang sejenak. Melihat sikap para bocah ini meminta hal yang sulit untuk dikabulkan. Karena saat ini, Naruto sedang berada di sebuah ruangan yang jauh dari orang-orang. Walau masih berada di dalam area bandara ini, Ruang perawatannya sangat terasingkan dan terisolasi. Alasannya tidak lain dan tidak bukan adalah... Karena Naruto memiliki sesuatu yang istimewa di tubug dan otaknya. Sesuatu yang sebenarnya berhubungan langsung dengan tragedi bencana penyebaran pandemik di hari-hari yang kelam itu. Sesuatu yang bahkan mungkin orang lain akan mengacungkan senjata gemetar ke arahnya saat mereka tahu siapa sosok Naruto Namikaze yang sekarang ini.
Minato menatap satu per satu teman-teman putranya itu. Menatapnya lekat-lekat sembari tersenyum senang. Ia bahagia, Ketika mengetahui bahwa Naruto telah memiliki mereka yang selalu setia di pihaknya. Ketika mengetahui bahwa Naruto memiliki orang-orang yang masih mengkhawatirkan dirinya.
"Baiklah... Akan kuantar kalian menuju ruang pemulihannya."
Ucap Minato meng-iya-kan permintaan mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
BIIIIP... BIIIIPP... BIIIIPP... BIIIIPP...
Suara Elektrokardiogram mengisi sebuah ruangan kecil di mana seorang pemuda terbaring di atas ranjang di sana. Matanya terlelap penuh damai. Seakan tidak ada satupun hal yang bisa mengusik tidurnya. Di samping pemuda tersebut, Sebuah meja dengan peralatan medis yang sederhana terletak di atasnya. Lengkap dengan sebotol kecil obat bius dan bekas jarum suntik yang sudah terpakai.
Berkat dosis obat penenang yang telah diinjeksikan ke tubuhnya, Naruto bisa beristirahat membaringkan tubuhnya sejenak dengan tenang. Akibat Virus yang masih terus hidup dan merusak hampir 20% otak kanannya, Membuat Naruto sudah tidak bisa lagi merasakan bagaimana rasanya tidur nyenyak itu. Baginya, Sangat sulit untuk mengistirahatkan mata dan otaknya untuk terlelap walau hanya sebentar saja.
Perban yang sebelumnya selalu melilit di tangan kanannya kini sudah dilepas. Maka terlihatlah wujud tangan kanan pemuda itu yang agak sedikit... Mengerikan. Banyak rangkaian otot yang muncul terlihat di sana. Lengkap dengan bekas seperti gigitan yang telah mengering dan membekas untuk selamanya. Bagai sebuah tanda pengingat baginya, Apa saja rasa sakit, penderitaan, dan perjuangan yang sudag ia alami dan lewati selama ini. Sebuah luka yang tidak akan pernah menghilang.
Dari luar pintu berkaca ruangan itu, Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, dan beserta yang lainnya melihat sosok sahabatnya yang terbaring lelap beristirahat. Hanya dari sana mereka dapat melihatnya. Terpisah oleh satu pintu penghubung ruangan itu dan koridor luar.
"Naruto-kun..."
Gumam seorang gadis berparas manis yang sudah berulang kali diselamatkan oleh pemuda berambut kuning tersebut.
Hyuuga Hinata... Seseorang yang menempatkan sosok Naruto di tempat paling spesial di relung hatinya yang paling dalam. Sosok yang telah ia anggap sebagai sosok seorang pahlawan di dalam hidupnya. Entah sudah berapa kali pemuda itu menolongnya. Berapa kali Naruto mengulurkan tangan pada dirinya saat ia terjatuh di dalam lubang gelap bernama keputusasaan. Hinata sudah tak bisa menghitung walau dengan seluruh jari-jari yang ia miliki sekalipun.
"Sepertinya... Aku pun tidak bisa memberikan ucapan selamat datang untuknya..."
Ucap Minato yang juga sedang menatap putra hebatnya itu dari balik pintu yang sama. Jika boleh jujur... Minato sudah tidak peduli lagi dengan keberhasilan misi-misi gila yang Hashirama berikan pada putranya itu. Yang ia harapkan hanyalah... Putranya dapat kembali dengan selamat. Hanya itu satu-satunya yang selalu Minato harapkan sebagai seorang Ayah.
"Dia sudah berjuang begitu keras hanya untuk membawamu kembali. Saat ini... Dia lah bintang Organisasi Rahasia Konoha yang baru. Pastikan kau menyampaikan rasa terima kasihku padanya nanti... Sona."
Kata Hashirama dengan suara pelan sembari menggapai pucuk kepala putrinya yang berdiri tepat di sampingnya.
". . . . . ."
Sona hanya terdiam menatap sosok pemuda yang terbaring lelap di sana. Sudah banyak hal yang terjadi yang telah ia lalui saat ia berada di tengah-tengah Kota Konoha yang telah jatuh dalam penyebaran sebuah pandemik ganas. Namun, Pertaruhan nyawa di gedung Gelanggang Olahraga bersama Naruto, Adalah saat-saat yang paling menggetarkan hatinya.
'Kau selalu melakukannya lebih keras dari apa yang sudah kami lakukan. Hanya bersamamu... Aku selalu merasa... Kita bisa lakukan segalanya. Perasaan kita semua yang saling terhubung satu sama lain, Telah membuat kita jauh lebih kuat dari sebelumnya. Seperti kata Ayah. Naruto... Kau adalah bintang yang paling bersinar terang di antara kami. Kau lah, Bintang utamanya."
Ungkap Sona sendiri dalam hati.
Sakura melangkah mendekat ke arah pintu. Telapak tangannya menyentuh permukaan kaca di tengah pintu, Menatap lekat-lekat teman masa kecilnya yang sudah lalui begitu banyak penderitaan. Kedua iris hijau indahnya yang sayu menilik kembali kisah-kisah yang sudah ia alami bersama dengan yang lain. Saat-saat yang paling tidak bisa ia lupakan seumur hidupnya. Kejadian yang terekam jelas di memorinya ketika ia berpisah dengan pemuda itu di dermaga Konoha.
Flashback...
.
.
.
.
.
.
'Kau sudah berjuang bersama kami...'
.
.
.
'Tetapi hanya dirimulah yang melakukan segalanya lebih dari apa yang telah kami lakukan sebelumnya...'
.
.
.
.
.
Angin sore berhembus syahdu...
Memainkan lembar-lembar koran yang berhamburan di jalanan...
Suasana Kota yang tenang dan damai...
Bersama siraman sinar mentari senja yang menyapa Kota...
Lembar demi lembar surat kabar tersapu oleh hembusan angin. Kesana-kemari tanpa ada arah yang jelas. Hanya mengikuti permainan angin sepoi kala sore senja telah datang. Selembar koran tersangkut di bawah kaki seseorang. Celana panjang hitam dan sepatu pantofelnya terlihat sangat kotor dan lusuh penuh debu. Jas hitam dan kemeja putih yang masih melekat di tubuhnya pun bernasib sama seperti sepatu lusuhnya. Bahkan lebih parah dari itu.
Pria tersebut berdiri di bawah siraman cahaya elok sang mentari senja dengan jas kumuh compang-camping. Kulitnya pucat dan mengering. Tatapannya tidak jelah mengarah kemana. Pupil matanya memutih dan rusak bagai terkena katarak. Gigi-giginya selalu terlihat, Bersama tampang wajah yang menyeramkan.
Pria itu tidak sendiri...
Banyak kerumunan warga Kota yang nampak seperti dirinya. Yang telah mati dan bangkit kembali sebagai sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Bergerombol sesak di depan area teluk selatan dermaga Konoha. Kesana-kemari... Tertatih bagai segerombolan orang yang linglung tanpa tujuan. Tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan, dan apa yang ingin mereka lakukan. Karena mereka hanyalah... Kerumunan mayat hidup kelaparan.
Suara berderu yang kasar terdengar dari kejauhan. Membuat otak mereka yang telah mati terstimulus untuk mencari arah datang suara tersebut. Mereka semua berhenti berjalan kesana-kemari tanpa tujuan, Dan serempak menoleh ke arah yang sama. Arah di mana sebuah kendaraan Humvee datang melaju dari kejauhan.
Mereka semua terdiam memperhatikan kendaraan yang semakin lama semakin mendekat tersebut. Humvee yang di kemudikan oleh remaja-remaja dari SMA Konoha Gakuen. Humvee tersebut sudah tak lagi berkaca. Dengan seorang pemuda berambut kuning yang berada di atapnya. Mesin tua berkubikasi 6000cc itu terus melaju kencang dan tetap terus menambah kecepatannya.
Mereka semua masih terdiam menatap kendaraan yang makin mendekat itu, Karena otak mereka yang telah rusak. Yang pria berjas itu lakukan hanyalah melangkah tertatih sembari mendekati arah datangnya Humvee tersebut. Ia melangkah perlahan, Dengan tangan yang seolah-olah ingin menggapai kendaraan tersebut. Namun sebelum ia menyadari apa yang akan terjadi, Humvee besar itu sudah ada di depannya.
"Pada apapun itu, Berpeganglah dengan erat!"
Ucap seorang Uchiha muda yang ada di dalam Humvee tersebut.
BRRUUUAAAAAKKKHHH...! ! !
Pria itu terpelanting akibat tabrakan keras yang terjadi. Namun tidak berhenti sampai di situ saja. Tabrakan-tabrakan keras kembali terjadi setelahnya. Kendaraan militer tersebut menabraki semua yang menghalangi jalannya. Darah terciprat dan berhamburan mengotori badan kendaraan yang sudah rusak berat akibat setiap tabrakan yang terjadi. Pemuda di atas atapnya masih berusaha bertahan dengan berpegangan erat. Tiap helai rambut kuning rancungnya terkibas oleh angin liar berkecepatan tinggi.
Humvee tersebut terus melaju dan menindas siapapun di depannya dengan lingkar ban yang besar. Sebuah kendaraan militer tangguh yang sedang mencoba menerobos kerumunan mayat hidup hanya untuk sampai di teluk dermaga selatan Kota.
"Ayo, Sedikit lagi...!"
Teriak Chouji yang sedang berusaha keras menahan setir kemudinya agar kendaraan berat itu tetap melaju lurus. Tetapi tiap guncangan yang terjadi akibat tabrakan dengan tubuh-tubuh mayat hidup tersebut semakin menyulitkan Chouji untuk tetap terus menstabilkan gerak rodanya. Peluh mengalir dan menetes. Chouji sudah ada pada batasnya. Kekuatan kedua tangannya itu kini tak mampu lagi menahan kendali kemudi yang liar.
Ban sebelah kanan Humvee tersebut terangkat oleng. Membuat pemuda berambut kuning di atasnya mendelik dan berdecih.
BLLAAAAANNKKK!
Bunyi benturan antara aspal dan badan Humvee yang terbuat dari logam baja itu terdengar. Kendaraan yang mereka tumpangi terguling dengan percikan-percikan bunga api yang tercipta di sepanjang jalan. Seketika Naruto terhempas keras oleh kejadian itu.
Mereka berhasil melewati kerumunan Zombie yang kelaparan, Tetapi kendaraan mereka terus menyusur menggesek aspal. Karena kecepatan yang sudah terlanjur tinggi, Laju kendaraan mereka tidak bisa dihentikan seketika begitu saja.
Naruto masih terhempas keras. Seluruh tubuhnya beradu dengan aspal jalanan. Rasa sakit yang tiada duanya seketika ia rasakan dengan sangat jelas sebelum tubuhnya benar-benar berhenti terhempas. Naruto hampir pingsan. Dan kesadarannya mulai menghilang. Tetapi sebelum ia tak sadarkan diri, Naruto mendengar suara dentuman yang sangat keras. Humvee yang terbalik itu menabrak pintu pagar dermaga yang terkunci rapat. Membuatnya menjadi setengah terbuka dengan mobil militer yang terhimpit di tengahnya.
Kedua matanya menutup untuk sejenak. Tetapi setelah sekian saat, Ia kembali teringat akan perjuangan mereka yang tidak boleh terhenti di sini begitu saja. Ia dan teman-temannya harus selamat dan pergi dari Kota mengerikan ini walau apapun yang terjadi.
Ya... Walau apapun yang terjadi...
"Uughh..."
Naruto merasakan sakit yang luar biasa di seluruh tubuhnya. Pemuda itu memaksakan diri untuk membuka kedua matanya. Menatap Humvee itu tersangkut di antara pintu dermaga di sana. Dengan segenap tenaga yang masih ia miliki, Naruto mencoba untuk bangkit berdiri. Kedua kakinya tak berhenti bergetar. Memegangi siku tangannya, Sempoyongan Naruto melangkah mendekati kendaraan yang sudah penuh oleh asap hitam itu.
NGIIIIKKK...
Pintu kemudi terbuka. Memunculkan sosok pemuda tambun berambut panjang yang merangkak keluar dari sana. Tubuhnya penuh luka, Namun suatu keajaiban ia masih bisa bertahan.
"Chouji..."
Panggil Naruto ketika melihat salah satu temannya yang berhasil selamat dari kejadian tadi. Lalu Naruto melirik salah satu pintu yang lain yang masih belum terbuka. Ia mendekatinya dengan sempoyongan.
BREEENKK...
Naruto menyandarkan tubuhnya yang lemah begitu saja ke pintu baja itu. Lelah dan rasa sakit seakan tak mau hilang darinya. Kedua matanya terasa berkunang-kunang tak jelas. Naruto memegangi kepalanya. Darah mengalir melewati pelipis dan matanya. Ia benar-benar tersiksa oleh keadaan ini. Tetapi ia tak boleh membuang banyak waktu di sini sebelum para mayat hidup itu menghampirinya.
Tangan Naruto menggapai gagang pintu dan coba untuk membukanya. Namun sepertinya pintu itu telah macet sehabis kejadian tadi. Berulang kali Naruto mencoba menarik pintu tersebut. Namun tetap tak mau terbuka.
Pemuda itu beralih memegang gagang tersebut menggunakan kedua tangannya. Sejenak ia kumpulkan tenaga yang ia miliki. Lalu dengan satu tarikan kuat, Naruto berhasil membuka pintu tersebut.
"Kalian tak apa...?"
Tanya pemuda itu sembari menggapai dan menarik tangan Sakura untuk membantunya keluar. Ia juga membantu Hinata, Sona, dan Anko-sensei untuk segera keluar dari kendaraan yang sudah tak bisa di pakai lagi ini.
JEDAAANNKK!
Terdengar suara dobrakan dari pintu sebelah sana. Sosok Uchiha Sasuke muncul dan merangkak keluar setelah pintu yang di dobraknya terbuka lebar-lebar. Kiba pun keluar dari sisi yang sama mengikuti Sasuke.
"Hinata, Apa kau tidak apa-apa...?"
Tanya Kiba khawatir akan keadaan Hinata. Pemuda berambut jabrik tersebut segera mendekati Hinata untuk membantunya berdiri dan berjalan. Sedang Sasuke yang masih memperbaiki pengelihatannya, Menatap ke arah luar pagar kawat yang tinggi menjulang ini.
"Kurasa kita tak punya banyak waktu lagi..."
Gumamnya pelan yang masih bisa terdengar oleh teman-temannya, Saat jarak pandang kedua matanya mulai kembali membaik.
Naruto berdiri menegakkan tubuhnya. Ia melihat apa yang Sasuke lihat saat ini. Para mayat hidup di sana mulai mendekat. Sudah tidak ada banyak waktu yang tersisa bagi mereka. Naruto harus cepat bertindak, Atau semuanya akan sia-sia.
Kedua manik biru itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Coba mencari sesuatu yang mungkin bisa berguna untuknya. Lalu ia menatap pos penjaga yang telah usang termakan jaman di sana. Ada sebuah rantai yang tergeletak tak terpakai. Tanpa membuang-buang waktu sedetikpun, Pemuda itu melangkahkan kedua kakinya menuju ke sana.
Dari belakang, Sakura melirik apa yang pwemuda berambut kuning itu lakukan. Sakura berdiri menatap Naruto yang menggapai sebuah rantai panjang, Lalu bergegas untuk mengikatkan rantai itu ke dua sisi pintu pagar dermaga ini.
'Dia melakukan semuanya lebih dari apa yang telah kami lakukan. Hanya dirinya... Yang berjuang jauh lebih keras dari yang lain...'
"Cepat cari kapalnya...!"
Teriak Naruto kepada yang lain. Sementara dirinya menahan pintu pagar tersebut sendirian dari para Zombie yang berusaha mendobraknya. Mungkin saat ini ia masih memiliki sisa tenaga untuk menahan gerbang kawat ini sampai yang lain menemukan kapal milik keluarga Sasuke.
"Ikuze!"
Ucap Sasuke yang langsung segera bergerak. Memamfaatkan waktu yang telah Naruto berikan. Tugasnya yang terpenting saat ini adalah mencari kapal milik keluarganya yang sudah Uchiha Itachi persiapkan sebelumnya. Sedangkan Naruto masih menahan desakan puluhan, Bahkan ratusan Zombie kelaparan yang ingin menerobos masuk.
Sakura, Anko, dan Kiba bergegas mengikuti Sasuke dari belakang. Mereka sedikit berlari untuk mengejar waktu yang sudah Naruto berikan. Tetapi Kiba merasa ada sesuatu yang janggal di hatinya. Membuat langkah pemuda itu terhenyi di tengah jalan. Di manakah Hinata...?
"Apa yang kau lakukan di sini...?! Cepat pergilah bersama yang lain...!"
Seru Naruto yang terkejut dan tercengang mendapati sosok gadis yang selalu ingin ia lindungi malah ikut menahan pintu gerbang kawat ini bersama dengan dirinya.
"Aku... A-Aku..."
". . . . . . ."
"...Tidak banyak yang bisa kulakukan untukmu selain ini, Naruto-kun!"
Ucap gadis itu mencoba jujur kepada dirinya sendiri, Sekaligus kepada Naruto.
"Sona, Bawa Hinata menjauh dari sini!"
Perintah pemuda itu kepada salah seorang lagi yang membantunya menahan pintu pagar tinggi ini.
"Jangan menyuruhku semaumu setelah aku bertekad untuk terus bersama orang bodoh sepertimu. Ingat itu baik-baik."
Jawab Sona begitu entengnya sembari ikut menahan gerbang itu. Tidak mau mendengarkan kata-kata pemuda di sampingnya.
"Tchh..."
Naruto mengumpat kesal pada kedua gadis ini yang tidak mau mendengarkan kata-katanya. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, Naruto tersenyum senang.
Sakura berlari kecil di atas dermaga kayu sembari menengok ke kanan dan ke kiri. Berusaha mencari kapal yang di maksud Sasuke. Tetapi sejenak lirikan matanya menangkap sosok Naruto yang berusaha menahan gerbang dermaga di sana agar para mayat hidup tak bisa menerobosnya.
"Naruto..."
Tanpa sadar Sakura bergumam pelan. Terus memperhatikannya dari kejauhan.
"Jangan membuatnya lebih lama menunggu, Sakura. Jika kau ingin membantunya, sebaiknya dimulai dari menemukan kapal kita terlebih dahulu. Lebih cepat lebih baik."
Kata Sasuke mengingatkan kekasihnya itu. Sasuke bermaksud untuk membuat Sakura lebih cepat mencari di mana letak kapal yang mereka cari dari sekian banyak kapal milik ora g lain yang terapung di sini. Sasuke tidak akan membiarkan perjuangan Naruto berakhir sia-sia.
Sementara itu di lain tempat, Kiba datang tergesa-gesa dan ikut mendorong pintu pagar dermaga yang tinggi menjulang menggunakan tubuhnya.
"Hinata, Jangan memaksakan diri!"
Seru Kiba yang bermaksud mengajak Hinata kembali bersama Sasuke, Sakura dan Anko-sensei. Karena di sini sepertinya terlalu berbahaya untuk gadis yang baru saja dapat berjalan kembali dari kelumpuhannya itu.
"Cukup Hinata, Menjauhlah dari sini. Biar aku dan Sona yang mengurus semuanya."
Kata Naruto yang juga membenarkan kata-kata Kiba. Ia masih terus menahan pintu itu dengan sekuat tenaganya yang masih tersisa. Sementara para mayat hidup di sebelah sana masih mendorong-dorong dari arah yang belawanan tiada henti.
"Ti-Tidak... Kita akan pergi dari sini bersama-sama! Aku tidak akan meninggalkanmu!"
Hinata masih saja bersikeras untuk membantunya. Walau gadis itu tahu benar bagaimana situasi saat ini berjalan. Terus berada di sini adalah pilihan bunuh diri. Namun jika itu artinya ia bisa berguna bagi pemuda tersebut, Ia akan lakukan apa saja untuknya. Apa pun akan Hinata lakukan walau itu akan membunuhnya sekalipun.
Naruto terdiam. Menatap lekat-lekat wajah gadis itu yang tanpa ragu terus bersikeras ingin bersamanya. Sejak kapan Hinata menjadi orang yang keras kepala seperti ini...
.
.
.
.
.
"Ketemu..."
Ucap Sasuke setelah melihat apa yang sedang ia cari-cari. Sasuke mendekati sebuah kapal yang bersandar di paling ujung dermaga ini. Bukanlah kapal besar yang megah, Namun juga bukan sebuah kapal yang bisa disebut kecil. Setidaknya, Kapal itu mampu memuat 9 sampai 10 orang sekaligus.
"Coba nyalakan mesinnya."
SETT...
Sasuke melempar sesuatu ke arah Chouji. Sebuah kunci yang ditinggalkan Itachi di Mansion Uchiha untuk Sasuke. Tidak banyak bicara, Chouji segera menuju ke bagian kendali dan coba menyalakan mesin kapal usang ini. Saat ia memutar kuncinya, Mesin kapal ini berderu kasar dan bergetar. Tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa mesin kapal ini dapat menyala setelahnya.
Sakura memperlihatkan raut kecewa ketika kapal mereka itu tidak kunjung menyala walau Chouji sudah mencoba memutar kuncinya berkali-kali. Sasuke yang membawa senapan Arctic Warfare Magnum di tangannya mendekati pemuda tambun itu.
"Jangan berhenti. Teruslah mencoba."
Sahut Sasuke coba berikan sebuah dorongan untuk temannya itu.
Di atas papan-papan kayu dermaga, Anko masih belum melepaskan pandangannya dari sosok Naruto yang saat ini tengah bersama Kiba, Sona dan Hinata.
"Kuharap mereka dapat bertahan sedikit lebih lama lagi..."
.
.
.
.
.
Tangan-tangan para mayat hidup mencoba meraih Naruto dan yang lain dari celah pintu yang sedikit masih terbuka. Walau sudah dibantu oleh Kiba, Sona dan Hinata sekalipun, Naruto tetap kewalahan menahan pintu pagar ini dari desakan mereka. Karena walau bagaimanapun, Empat remaja berbanding melawan ratusan Zombie ganas yang kelaparan sangat tidak seimbang.
"Sona, Bisa kau tahan rantai ini bersamaku...?"
Naruto bertanya kepada seseorang yang berada di posisi paling dekat dengannya.
"Kau punya rencana...?"
Tanya balik gadis berkacamata itu.
"Kuncinya adalah menjaga makhluk-makhluk itu untuk tidak masuk kesini bukan? Biarkan pagar ini melakukan tugasnya."
Ungkap Naruto yang masih belum Sona ketahui apa maksud dari rencana Naruto. Namun sudah tidak ada waktu lagi hanya untuk sekedar berdebat.
"Terserah kau saja."
Jawab Sona sembari tersenyum kecil menatap kedua mata biru Naruto yang yakin akan rencananya.
Melihat Sona yang sudah siap dengan rantai yang ada di tangannya itu, Naruto memulai rencananya. Ia mengikat rantai itu dengan ikatan simpul sederhana. Melilit di sebelah sana, Lalu melilit yang di sebelah sini. Naruto melakukannya secepat yang ia bisa karena Sona terlihat kewalahan menahan rantai tersebut.
"Ikuzo..!'
Ucap Naruto pada yang lain. Ia telah mengikat rantai itu di kedua sisi pintu pagar kawat di sana. Walau tidak tertutup dengan sempurna karena terhalang oleh Humvee yang tergeletak di tengah-tengahnya, Namun itu cukup memberikan waktu bagi Naruto, Kiba, Sona dan juga Hinata untuk lekas menjauh.
Bunyi gemericing rantai dan pintu pagar kawat masih terdengar walau Naruto dan yang lain sudah berlari menjauh. Para kerumunan mayat hidup itu nampak semakin ganas mendobrak. Mereka memenuhi area luar dermaga. Di sana pemandangan penuh sesak oleh Zombie-Zombie ganas yang kelaparan. Satu per satu dari mereka bahkan memanjat tubuh yang lain agar bisa melewati Humvee yang jadi penghalang. Beberapa dari mereka berhasil menerobos masuk ke dermaga.
"Di sana...!"
Seru Hinata ketika ia melihat Sasuke, Anko dan Sakura menunggu kedatangannya di bagian paling ujung dermaga ini. Hinata, Kiba, Naruto dan juga Sona berlari di atas papan-papan kayu dermaga yang berdecit. Mereka hampir sampai di tempat Sasuke dan yang lain menunggu.
Akan tetapi tiba-tiba ada yang menarik kaos Sona dari arah belakang. Membuat pergerakan gadis berkacamata itu terhenti di tengah jalan. Naruto yang berada di sampingnya menyadari ada sesuatu yang membuat Sona terhenti. Membuat Naruto juga berhenti dan berbalik ke arahnya.
"Sona...!"
Seru Naruto ketika ia melihat temannya itu telah tertangkap oleh salah satu Zombie yang berhasil melewati pintu pagar di sana. Naruto lekas menggapai Glock-17 yang ia selipkan di belakang ikat pinggangnya. Ia membidikan senjatanya tersebut. Tetapi Zombie itu terlalu dekat dengan Sona. Membuat Naruto yang tak memiliki pengalaman menembak yang mumpuni menjadi ragu menarik pelatuk senjatanya. Belum cukup sampai di situ saja, Datang lagi beberapa Zombie lain yang berlari mendekat ke arah Sona.
Zombie yang ganas dan kelaparan itu hampir akan menggigit bahu Sona. Tetapi Sona berhasil menahan rahang bahah Zombie yang mengekangnya menggunakan telapak tangan.
DAARR-DAARR-DAARRR...!
Naruto menembak para Zombie yang berlari mendekat. Ketiga pelurunya berhasil menghujam tepat di kepala dua Zombie di sana. Dari bunyi derap langkah yang terdengar dari papan-papan kayu dermaga ini, Sona menyadari ada lagi yang mendekat. Sembari terus menahan rahang bawah Zombie yang menguncinya, Sona memamfaatkan tubuhnya yang kecil untuk bersembunyi pada tubuh Zombie yang mengekangnya. Membuat beberapa mayat hidup berlari lewat tanpa menyadari keberadaannya.
Kiba maju dua langkah di depan Hinata untuk melindungi gadis itu. Ia harus melakukan apa yang harus ia lakukan. Sama halnya seperti apa yang selama ini Naruto selalu lakukan. Kiba menatap beberapa Zombie datang ke arahnya. Pemuda berambut jabrik itu sudah siap untuk skenario yang paling buruk sekalipun demi melindungi Hinata di belakangnya.
Naruto membidik mereka yang berlari semakin medekat. Ia menarik pelatuk senjatanya itu. Akan tetapi tidak ada satu pun peluru yang terlontar keluar. Kedua alis Naruto mengernyit. Sudah berulang kali ia menarik pelatuk senjatanya, Namun tidak ada satu pun dari usahanya itu yang membuahkan hasil. Glock-17 miliknya sudah kehabisan amunisi.
Dengan tumit sepatu belakang, Sona menendang lutut pria yang sedang berusaha menggigitnya. Saat pria itu terlutut karena tendangan belakang kerasnya tadi, Sona memamfaatkan celah itu untuk berbalik dan kembali melancarkan sebuah tendangan keras ke kepalanya.
KRRATAKK!
Kepala beserta leher pria tersebut terpeluntir akibat tendangan keras Sona. Membuatnya ambruk di tengah-tengah dermaga ini.
Kaki Naruto mundur selangkah kebelakang. Dirinya tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan tanpa senjata yang bisa ia pakai di tangannya itu untuk melawan mereka. Satu gigitan saja dan semuanya akan berakhir. Sesuatu yang benar-benar tidak adil baginya. Seorang mayat hidup menerjang ke arahnya. Membuat Naruto berdecih dalam hati dan merutuki situasi yang kacau ini.
Namun sebelum kontak fisik terjadi, Tiba-tiba sebuah tendangan melayang di kaki Zombie itu dari arah belakang. Membuatnya terpelanting dan terjatuh sebelum dapat menyerang Naruto yang diam terpaku.
"Kau berhutang padaku. Kau harus ingat itu..."
Ucap Sona pada Naruto dengan senyum remeh.
Di sisi lain, Kiba berhasil menahan seseorang yang mencoba untuk menyerangnya. Tetapi ia tidak tahu berapa lama lagi ia bisa bertahan dan menghindari setiap gigitan pria yang ada di depannya itu.
"Hinata, Cepat lari...!"
Seru Kiba menyuruh gadis yang ada di belakangnya itu untuk cepat pergi menjauh dari sini. Karena Kiba tidak tahu lagi apa yang harus ia perbuat jika ada yang datang menyerang lagi. Tetapi Hinata tetap tak berkutik dari sana. Ia masih berdiri di belakang Kiba. Dirinya ingin membantu pemuda itu. Hinata sangat ingin membantu mereka semua.
"Tidak! Aku akan-..."
JENDAAAARRRR...!
Sebelum Hinata menyelesaikan kata-katanya, Sebuah suara menggelegar terdengar. Rambutnya bagai tersapu sesuatu yang melesat dari arah belakang.
CRRAATTSS...
Kedua mata Hinata terbelalak, Saat tiba-tiba wajah Kiba terciprat oleh lumuran darah.
Kepala Zombie itu berlubang oleh sebuah lesatan peluru ganas yang tak terduga. Dan membuatnya ambruk seketika di samping kaki Kiba.
CEKRELK...
Jauh di belakang sana, Sasuke menarik tuas Reloader dari samping Frame senapannya. Satu songsong peluru panas berasal yang kosong terlontar keluar. Lalu terganti oleh selongsong peluru yang baru.
Sasuke menghembuskan nafas untuk berkonsentrasi. Jika ia salah membidik, Maka nyawa temannya akan melayang.
'Saat itu... Semua berusaha keras untuk bisa keluar dari Kota kematian ini. Dan mereka saling melindungi satu sama lain..'
Lagi, Satu per satu dari para mayat hidup yang ganas menaiki Humvee yang terbalik di sana dan datang berlari dengan bringas ke arah Naruto. Membuat situasi mereka menjadi bertambah sulit. Melalui Scoop di senapan Sasuke, Pemuda itu memcoba membidik dengan sangat hati-hati. Tak ingin melukai rekan-rekannya yang masih ada di sana.
'Dan semua itu tentu... Berkat dirinya.'
Sudut mata Naruto melirik kebelakang. Melihat bagaimana para Zombie itu akan mencengkramnya. Naruto sudah tak memiliki peluru yang tersisa lagi untuk menembak mereka. Dan hal itu membuatnya sedikit goyah. Berpikir apa yang harus ia lakukan. Tetapi yang terjadi selanjutnya, Adalah sebuah letupan senjata yang menggelegar terdengar. Naruto merasakan sesuatu baru saja lewat di dekat pelipisnya dengan kecepatan yang luar biasa. Dan sebelum ia menyadari apa yang itu, Kepala seorang pria yang akan coba mencengkramnya tertembus oleh proyektil peluru yang tajam.
JENDAAAARRR...!
Pria tersebut terlempar kebelakang dengan lubang menganga di samping kepalanya.
"...Strike."
Gumam Sasuke dengan senyum misterius di sudut bibirnya. Telah berhasil menjatuhkan salah satu dari mereka. Walau peluh mengalir dari sudut pelipisnya ketika peluru yang baru saja ia tembakkan itu juga hampir mengenai sahabatnya yang berada di sana.
Tidak henti-hentinya Chouji memutar kunci di tangannya. Berusaha begitu keras agar mesin kapal mau menyala. Entah sudah berapa kali ia mencoba. Mesin tua itu tak mau berderu kencang. Dalam hati Chouji terus berharap. Ia tetap tak mau berhenti dan menyerah begitu saja ketika teman-temannya sedang berjuang mati-matian di sana. Karena setidaknya, Inilah yang bisa ia lakukan untuk mereka semua.
NGUUUUNG...
Suara Dynamo yang berputar disertai kapal yang bergetar. Setelah memakan waktu cukup lama, Akhirnya mesin kapal tua itu mendengar permintaan hati Chouji.
"Berhasil...!"
Pekiknya girang melihat usahanya membuahkan hasil.
Sona berlari dan melompat tepat di belakang mayat hidup yang akan menyerang Naruto. Gadis itu menaiki tubuhnya, Lalu mencengkram kepalanya kuat-kuat.
KRRAAKKK...!
Kepala mayat hidup itu terpeluntir keras.
Sona kembali mendarat di atas permukaan papan kayu dermaga ini dengan sempurna. Lagi-lagi ia berhasil menjatuhkan satu di antara sekian banyaknya Zombie yang ingin menyerang dengan hanya tangan kosong.
Sejenak Naruto memegangi tangan kanannya. Menutupi sesuatu yang ada di balik sana. Tanpa terasa, Darah mengalir hingga sampai di sudut jarinya dan menetes mengotori permukaan papan dermaga.
"Ikuzo, Sona..."
Ucapnya kepada gadis berkacamata yang bangkit berdiri di dekatnya.
Naruto dan Sona berlari menuju ke tempat Sasuke dan yang lain berada. Walau gadis itu masih belum menyadari keberadaan tetesan darah yang keluar dari tangan kanan Naruto. Kiba dan Hinata menunggu kedatangan mereka berdua yang terlebih dahulu sampai di kapal milik keluarga Sasuke.
"Naiklah..."
Kata Naruto dengan suara lembut pada Sona, Sembari membantu gadis tersebut untuk naik ke atas kapal di mana semua orang sudah menunggu.
"Kita berangkat sekarang, Chouji."
Sahut Kiba pada rekannya yang memegang kendali atas kapal yang mereka tumpangi. Naruto melepas tali kapal yang terikat di palung kayu dermaga. Ia menggulung tali tersebut, Lalu melemparnya ke atas kapal. Chouji mulai menaikkan tuas percepatan kapal untuk segera lepas dan pergi menjauh dari dermaga ini.
Namun...
Haruno Sakura menyadari sesuatu yang aneh...
Gadis berambut merah jambu itu menoleh dan menatap ke arah seorang pemuda berambut kuning yang masih saja berdiri di atas dermaga.
"Naruto...? Cepatlah, Kita tidak punya banyak waktu lagi!"
Ucap Sakura yang mengernyit bingung saat itu.
Berkat suara keras gadis itu tadi, Kini semua mata tertuju kepada pemuda yang masih tetap berdiri di sana. Termasuk Chouji yang langsung menarik tuas percepatannya ke angka nol. Dan kapal mereka berhenti bergerak.
". . . . . . . ."
Tak ada kata yang terucap keluar dari mulutnya. Naruto hanya diam dengan kedua mata terpejam. Entah kata-kata seperti apa yang harus ia ucapkan untuk menjelaskannya pada teman-temannya.
". . . . . Maaf."
Gumam pemuda itu dengan suara pelan. Sebuah kata yang masih dapat mereka dengar dengan jelas. Walau tidak dapat mereka tangkap arti dari kata tersebut. Terlebih untuk Sakura, Yang kini mulai kesal dengan satu teman masa kecilnya itu. Ini bukanlah waktu yang tepat untuk bercanda. Sungguh bukan waktu yang bisa ia permainkan dengan mudahnya.
Sudah saatnya mereka semua pergi meninggalkan Kota kematian ini. Tetapi pemuda itu malah terdiam tanpa ada alasan yang jelas. Benar-benar membuatnya begitu kesal, Hingga dirinya sendiri yang melangkah mendekati Naruto yang berdiam diri di atas dermaga.
"Apa yang kau katakan?! Ini bukan saatnya untuk bercan-..."
". . . . . . . ."
Suara Sakura tiba-tiba lenyap menghilang ketika ia menggapai tangan Naruto dan ingin menariknya untuk segera naik ke atas kapal ini. Sesuatu yang Sakura lihat membuatnya terhenti dengan tatapan tak percaya. Satu tangan Sakura yang lain menutup mulutnya sendiri saat ia melihat bagaimana tetes-tetes darah itu berjatuhan. Kedua iris hijau miliknya bergetar. Sungguh ia tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Sekali lagi... Maaf, Sakura..."
Ucap pemuda itu membuka kedua manik birunya yang telah meredup. Mungkin suatu kesalahan fatal telah membiarkan seseorang berhasil menggigitnya. Dan memberikan luka parah di tangannya. Darah mulai jatuh bertetesan. Tetapi ia sudah tidak peduli lagi dengan itu.
Dengan sebuah luka di tangan kanannya, Ia mendekat ke arah Sakura yang ada di kapal. Dahi mereka kini saling bersentuhan. Setidaknya... Naruto ingin sedekat mungkin dengan seseorang yang ia sukai. Naruto ingin sedekat mungkin dengan gadis berambut merah jambu itu. Karena mungkin... Ini adalah yang terakhir kalinya mereka berdua bisa bersama, Pikirnya.
"Tidak..."
Balas Sakura yang menggelengkan kepalanya pelan. Kedua matanya yang terasa panas terpejam begitu erat dan bergetar. Ia tahu air matanya mulai jatuh bercucuran. Dadanya begitu sesak menerima kenyataan ini.
"Tapi... Hatiku benar-benar hancur saat itu. Hancur menjadi kepingan yang diriku sendiri tak bisa menghitungnya. Aku benar-benar hancur...'
Sakura menangis...
Gadis itu menangis dengan pundak yang bergetar. Ia meremas tangan kanan Naruto yang digenggamnya. Entah sudah berapa banyak air mata yang telah jatuh. Sakura hanya tak mampu menerima ini semua. Setelah semua yang telah mereka lakukan bersama-sama sejauh ini. Sakura benar-benar tak bisa menerimanya.
"Tidak... Tidak... Kumohon jangan dirimu, Naruto... Kumohon..."
Sakura menggigit bibir bawahnya. Menahan betapa sesaknya perasaan itu. Begitu sesak menatap sebuah luka gigitan yang ada di tangan pemuda tersebut. Sakura tahu benar apa artinya itu. Sakura tahu benar seberapa fatal jika sampai tergigit oleh para mayat hidup itu. Tetapi... Sakura sama sekali tidak bisa menerima kenyataan bahwa Naruto lah yang harus tergigit di sini. Sakura benar-benar tak bisa.
"Sakura... Aku tidak apa-apa... Cepat tinggalkan tempat ini. Tinggalkan aku sendiri di sini..."
Gumam Naruto lembut dengan tatapan sayu. Disertai sebuah senyuman kecil nan lembut untuk membujuk orang yang ia sayangi itu agar mau meninggalkan dirinya yang sudah tidak lagi memiliki harapan. Karena Naruto tahu benar... Bahwa siapun yang tergigit... Tidak akan memiliki peluang untuk tetap hidup. Yang ada hanyalah kematian yang akan menunggu. Dan bangkit menjadi makhluk seperti mereka yang di sana. Sudah tidak ada lagi harapan baginya. Semua perjuangannya telah berakhir di sini.
"Aku... Aku tidak bisa meninggalkanmu di sini... Kumohon tetaplah bersama kami... Tetaplah bersamaku, Naruto..."
Isak Sakura bersama tangisnya. Tak mampu lagi bertahan dari hancur hatinya yang paling dalam. Namun Naruto hanya bisa tersenyum ringan menanggapinya. Karena ia sudah tidak bisa lagi berbuat apapun untuk hal ini.
"Kita akan segera temukan obatnya! Walau harus sampai ke ujung Dunia sekalipun, Aku akan menemukannya demi dirimu... Percayalah padaku, Naruto. Kumohon, Percayalah..."
Sakura tak bisa lagi membendung air matanya. Semuanya tumpah menjadi satu kesedihan yang teramat menyakitkan.
"Tak apa... Sakura. Jangan khawatirkan aku. Karena waktuku sudah tidak banyak lagi..."
Ucap Naruto menatap dalam kedua manik sehijau Emerald milik Sakura dengan tatapan sayu. Tidak ada lagi sinar yang terpancar dari sepasang mata sebiru langit tersebut. Benar-benar tidak ada harapan yang terpancar dari dalam sana. Naruto memisahkan dahinya dari dahi gadis itu. Lalu menatap satu per satu teman-temannya.
"Chouji... Bawa mereka semua ke tempat aman. Dan untuk selanjutnya... Kuserahkan padamu... Sasuke. Maaf, Aku tak bisa menepati janjiku untuk terus berjuang bersama."
Sepasang manik biru itu mulai berkaca-kaca, Setelah mengatakan kalimat paling akhir. Tak dapat Naruto sembunyikan... Begitu sesaknya ketika ia harus berpisah dengan sahabat-sahabatnya. Semuanya kembali terputar jelas di kepalanya. Tentang apa saja yang telah dirinya lalui bersama mereka. Tentang semua hal yang sudah ia lewati dengan mereka. Dan kini semua itu harus berakhir di tempat ini.
"Lagi-lagi aku harus mengatakan ini lagi kepadamu. Tapi sepertinya ini akan jadi yang terakhir. Jaga Hinata untukku... Kiba."
Lanjutnya lagi sembari tersenyum menatap Kiba.
Kepalan tangan pemuda dengan rambut hitam jabrik di sana mengepal keras. Kedua bahunya bergetar menahan kepedihan yang tak terkira. Sungguh Kiba tak menyangka ini akan terjadi setelah apa yang telah mereka lalui bersama-sama. Ia tak menyangka bahwa ini akan terjadi kepada sahabatnya sendiri.
"Bodoh..."
Umpat Kiba pelan dengan suara yang tertahan.
"Naruto-kun..."
Hinata sudah tidak tahu harus berkata apa lagi. Yang bisa ia lakukan hanyalah meremas kaos di dadanya sendiri. Merasa begitu pilu dengan semua ini. Membuat kedua matanya yang indah itu harus terkotori oleh air mata kepedihan. Hatinya benar-benar hancur saat mengetahui dirinya akan kehilangan seseorang yang sangat berharga di hatinya.
'Semua perjuangnya mungkin akan terhenti sia-sia di dermaga itu...'
Sasuke memejamkan kedua matanya. Mencoba menerima kenyataan dan menahan kepedihan yang mendalam. Tetapi semakin ia menahannya, Semakin tak terbendung lagi air mata itu. Tidak ada yang tidak menitikkan air mata... Termasuk untuk sang Uchiha muda. Ia bagai tertampar keras oleh kejamnya Dunia yang perlahan menjadi Neraka ini.
Dan mungkin ia akan kehilangan seseorang yang bisa membuatnya mengerti apa itu arti dari sebuah ikatan. Ia akan kehilangan sosok yang sudah ia anggap sebagai seseorang yang paling dekat dengan dirinya. Seseorang yang pantas ia anggap sebagai seorang rival dalam hal apapun. Seseorang yang telah mengajarkannya untuk tidak kembali melihat kebelakang dan terus melangkah maju.
Sasuke mungkin akan kehilangan semua sosok itu. Dan ia mengucapkan selamat tinggal dari hatinya, Lalu memberi tanda kepada Chouji untuk segera berangkat. Kapal mereka mulai kembali bergerak.
'Mungkin di sinilah semua kisah dirinya yang kuketahui akan berakhir... '
"Ini adalah perpisahan..."
Ucap Naruto kepada Sakura dengan tatapan yang semakin meredup. Kapal kembali bergerak dan melaju meninggalkannya. Kedua tangan mereka yang saling terpaut mulai merenggang oleh jarak.
". . . .Sayonara."
Senyum kecil menghias wajah redupnya. Angin muali berhembus menerpa tiap helai rambut kuningnya. Sakura tak bisa lagi menjangkau tangan kanannya. Mereka berlalu seperti yang ia pinta.
"Tidak... Naruto... NARUTOOOO!"
Sakura menghabiskan suaranya yang tersisa untuk berteriak memanggil nama pemuda itu saat kedua tangan mereka terlepas. Sasuke menahan tubuh gadis itu yang mencoba untuk menggapai lebih jauh sosok pemuda yang berdiri sendiri di atas dermaga di sana.
Kedua lututnya jatuh ke lantai, Bersama seluruh rasa penyesalannya. Namun kapal mereka terus melaju. Meninggalkan sosok Naruto yang telah terinfeksi. Semuanya hening tak bersuara. Mereka terpejam dengan hancurnya hati yang mereka rasakan masing-masing. Menanggung semua sesal yang mereka miliki.
Naruto terus menatap kapal yang mulai menjauh dari pandangan mata. Sejenak ia kembali berpikir bahwa itu adalah saat-saat terakhir yang bisa ia rasakan bersama dengan mereka. Naruto berpikir, Bahwa dirinya tidak akan pernah bisa bertemu dengan mereka lagi. Begitupun sebaliknya.
Tiba-tiba ia terbatuk hingga jatuh berlutut. Kedua matanya yang tak jelas lagi untuk melihat, Menatap darah yang keluar dari batuknya.
Pintu pagar dermaga yang tinggi menjulang, Tak mampu lagi untuk menahan desakan dari ratusan Zombie ganas kelaparan. Engsel-engsel tua berkarat di setiap sisinya patah. Membuat pintu pagar dermaga yang usang di sana roboh. Membiarkan ratusan dari mereka masuk ke area dermaga ini dengan sangat bringas.
Naruto menatap Glock-17 di tangannya yang sudah kosong. Bahkan tidak ada satupun peluru yang tersisa untuknya membunuh dirinya sendiri. Semua telah berakhir. Tidak ia sangka bahwa dirinya akan merasakan saat-saat yang seperti dalam hidupnya. Ia sudah menyerah. Naruto telah jatuh ke dalam jurang keputusasaan. Yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu waktu baginya untuk menjadi seperti salah satu dari mereka, Atau mati diserbu oleh mereka.
Yang mana saja tak masalah...
Karena ia telah menyerah dan putus asa...
Namun sesudah Naruto jatuh ke dalam jurang keputusasaan, Di mana tak ada lagi harapan yang ada untuknya, Seseorang muncul dari belakang dan menarik kerah bajunya dengan sangat kasar. Tatapan mereka bertemu. Tetapi Naruto tak dapat mengenali siapa gadis tersebut.
"Dengarkan aku! Akan kukeluarkan kau dari sini sekarang juga. Jadi bertahanlah!"
Seru orang itu dengan suara keras sembari menggoyang-goyangkan cengkramannya pada kerah Naruto dengan kasar.
.
.
.
.
'Itu adalah akhir kisahnya yang kami ketahui. Dan kisah selanjutnya yang tidak kami ketahui... Dimulai setelahnya..."
.
.
.
.
"Because They Are Friends"
The Place Of Hope
Chapter 16 : "Karena Mereka Adalah Teman"
(Part - 2)
.
.
.
.
To Be Continue...
