DRAP-DRAP-DRAP-DRAP...

Suara alas sepatu bertekstur keras beradu dengan aspal. Berlari menghempas debu-debu jalanan. Dari sudut kedua iris Light Mint Blue matanya, Ia melirik sekumpulan, Atau mungkin ratusan Zombie yang membanjiri pintu pagar dermaga. Mereka mendobrak pintu pagar yang menjulang tersebut dengan berdesakan. Seolah ada sesuatu yang ingin mereka dapatkan.

"Pasti ada di sana...!"

Ucapnya sembari terus berlari melawan waktu.

Dirinya bersama dengan tiga orang bertopeng masker melompati sudut pagar rusak yang lebih rendah dari yang lain. Mereka memasuki area dermaga tua melalui jalur yang cukup jauh dari tempat para Zombie di sana.

'Kapten sudah tak bersama kami. Dia langsung menuju ke markas untuk mempersiapkan semuanya dan menunggu kedatangan kami. Dalam misi ini, Berhasil adalah harga mati...'

Gumamnya dalam hati.

"Aku akan coba dapatkan dia. Siapkan saja sesuatu yang bisa membawa kita pergi dari sini."

Gadis itu memberikan perintahnya bagai seorang kapten dari tim kecil ini.

"Dimengerti!"

Jawab ketiga orang di belakangnya secara serempak.

Dan mereka mulai berpencar setelahnya. Bergerak cepat ke dua arah yang berbeda. Sedangkan gadis dengan rambut panjang berkuncir kuda tersebut berlari menuju pintu utama dermaga ini. Ketika ia melihat seberapa banyak kerumunan mayat hidup yang coba mendobrak pintu pagar di sana, Adrenalinnya terpacu begitu cepat. Karena dengan hanya tangan kosong, Dirinya bertarung dan bertaruh melawan waktu!.

Tangan kirinya meraih kerekan dari sebuah kapal derek di dekatnya. Ia berlari membawa kerekan itu bersama dengan dirinya. Terus berlari melupakan semua lelah yang sudah mulai menumpuk di pundaknya. Rajutan tali kawat tebal terbentang panjang sepanjang ia melangkahkan kedua kakinya. Terus terulur jauh bersamaan dengan tarikan tangan kirinya.

Gadis itu sampai di jalur tengah dermaga selatan Kota ini. Namun sayangnya pintu pagar itu tak dapat bertahan lebih lama lagi. Kedua sisinya roboh. Membiarkan ratusan mayat hidup ganas yang kelaparan menerobos masuk secara bersamaan.

Dengan kerekan bertali kawat di tangannya, Gadis itu melemparnya sekuat dan sejauh yang ia bisa hingga dirinya terpeleset jatuh.

CTTAAANK!

Ujung kerekan yang berbentuk seperti mata kail jatuh tersangkut ke kapal lain. Sedangkan gadis berambut pirang tersebut lekas bangkit kembali dari jatuhnya saat gerombolan Zombie kelaparan berlari menghampirinya. Hampir terpeleset jatuh berkali-kali karena kepanikan yang menyerang, Gadis itu berlari sekencang yang ia bisa menuju ke ujung dermaga.

Deru nafasnya tak beraturan. Adrenalinnya terpacu kencang. Tepat di belakangnya, Ratusan mayat hidup bringas mengejar. Yang terpikirkan hanya berlari sekencang-kencangnya!

ZRRRUUUUUTTTT...

Tali kawat yang telah ia bentangkan sebelumnya tertarik ketika gerombolan mayat hidup di barisan paling depan tersangkut dan tertahan padanya. Membuat pergerakan mereka terhenti tepat di garis itu. Ia melirik kebelakang, Melihat bahwa rencananya telah berhasil menghentikan mereka untuk waktu singkat. Namun bukan berarti dirinya bisa bersantai sekarang. Karena desakan mereka yang ingin mendapatkan makanannya benar-benar brutal...!

Di sepanjang permukaan papan-papan kayu dermaga, Ia berlari menghampiri sosok seorang pemuda yang berlutut putus asa di ujung sana. Ia terus berlari tanpa henti. Memperpendek jarak di antara mereka berdua. Hingga satu tangannya akan berhasil menggapai pundak sosok pemuda tersebut...

.

.

.

.

.

"His Story"

The Place Of Hope

Chapter 17 : "Kisahnya"

Genre : Horror, Adventure & Gore

Main Cast : Naruto U., Sakura H., Sasuke U.

Caution! Contains violance & profanity (17th +)

.

.

.

.

.

.

Pintu pagar dermaga yang tinggi menjulang, Tak mampu lagi untuk menahan desakan dari ratusan Zombie ganas kelaparan. Engsel-engsel tua berkarat di setiap sisinya patah. Membuat pintu pagar dermaga yang usang di sana roboh. Membiarkan ratusan dari mereka masuk ke area dermaga ini dengan sangat bringas.

Naruto menatap Glock-17 di tangannya yang sudah kosong. Bahkan tidak ada satupun peluru yang tersisa untuknya membunuh dirinya sendiri. Semua telah berakhir. Tidak ia sangka bahwa dirinya akan merasakan saat-saat yang seperti dalam hidupnya. Ia sudah menyerah. Naruto telah jatuh ke dalam jurang keputusasaan. Yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu waktu baginya untuk menjadi seperti salah satu dari mereka, Atau mati diserbu oleh mereka.

Yang mana saja tak masalah...

Karena ia telah menyerah dan putus asa...

Namun sesudah Naruto jatuh ke dalam jurang keputusasaan, Di mana tak ada lagi harapan yang ada untuknya, Seseorang muncul dari belakang dan menarik kerah bajunya dengan sangat kasar. Tatapan mereka bertemu. Tetapi Naruto tak dapat mengenali siapa gadis tersebut.

"Dengarkan aku! Akan kukeluarkan kau dari sini sekarang juga. Jadi bertahanlah!"

Seru orang itu dengan suara keras sembari menggoyang-goyangkan cengkramannya pada kerah Naruto dengan kasar.

". . . . . . ."

"...Siapa?"

Gumam Naruto dengan pandangan sayu ketika dirinya tak bisa mengenali wajah yang terasa asing baginya. Seorang gadis berambut pirang panjang, Memiliki warna mata yang hampir sama seperti warna mata miliknya, Dengan atribut seragam yang sangat asing terlihat. Naruto tahu dia bukanlah seorang polisi ataupun tentara. Tetapi ia benar-benar tak mengenali atribut seragam yang hampir tak pernah ia lihat sepanjang hidupnya.

Tali kawat yang terbentang di sana mulai kalah. Dua kapal yang jadi pengikatnya terseret ke daratan akibat desakan brutal para Zombie ganas di belakang sana. Beberapa memanjat tubuh yang ada di depannya, Dan berhasil melewati barikade sederhana buatan gadis tersebut. Membuat yang lain mengikutinya. Lama kelamaan mayat hidup yang tersangkut di depan jatuh diinjak-injak oleh yang dibelakang. Dan kini mereka terbebas dari tali kawat yang menghadang.

'Sial...!'

Rutuk gadis itu ketika ia melirik ratusan Zombie berlari ke arah mereka berdua dengan sangat agresif. Lalu ia berpaling wajah menghadap pemuda yang ada di depannya kembali. Kedua matanya menatap lekat-lekat sepasang iris sebiru langit di sana. Mencoba untuk memberikan sebuah harapan kecil untuknya.

"Tidak penting siapa diriku, Yang terpenting saat ini adalah kau harus tetap bertahan dan hidup! Aku telah kehilangan banyak rekan-rekanku hanya untuk misi ini. Aku tidak peduli apa dan siapa dirimu ini. Tapi jika kau ingin menyerah begitu saja dan mati di sini... Aku tidak akan pernah memaafkanmu!"

Ungkap gadis tersebut dengan tatapan yang sulit untuk sekedar dijelaskan. Ada kemarah... Ada pula kesedihan yang mendalam. Seperti telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga untuknya. Hanya dengan menatap ke dalam matanya yang indah itu, Naruto mampu untuk mengerti semua yang telah gadis itu lalui dan rasakan.

Para mayat hidup di belakang mereka semakin mendekat. Mereka berdua mampu merasakan getaran dermaga yang terinjak-injak oleh kaki-kaki mereka. Membuat dermaga kayu ini bergoyang-goyang menakutkan.

NGUUUUUUUNNNG...

"Tetaplah jaga kesadaranmu. Karena mau tidak mau, Kau harus ikut dengan kami."

Lanjut gadis itu lagi sembari menarik paksa kerah baju Naruto untuk bangkit berdiri.

Dalam hati Naruto bertanya-tanya saat ia mendengar kata-kata 'Kami'. Lupakan untuk menghitung jumlah mayat hidup yang semakin mendekat. Karena saat ini, Yang Naruto tahu hanya mereka berdua saja yang ada di ujung dermaga ini. Tetapi sebelumnya, Gendang telinga Naruto sempat menangkap suara seperti bunyi mesin sebuah kapal. Namun sebelum dirinya menyadari apa yang ada di sekelilingnya, Gadis itu sudah terlebih dahulu mendorong tubuh Naruto dengan satu hentakan kuat.

'.. . . .A-Apa?'

Mereka berdua bersama-sama terhempas dari ujung dermaga. Alas sepatu yang mereka kenakan sama-sama tidak lagi menapak apapun. Dan hal itu membuat Naruto bertanya-tanya apa yang telah gadis ini lakukan. Di sela-sela waktu perjalanan mereka terhempas dari ujung dermaga, Naruto hanya bisa pasrah membiarkan gadis itu melakukan apa yang telah ia lakukan.

Dan hal itu juga yang membuat Naruto dapat menatap ke belakang gadis tersebut. Bagaimana banyaknya Zombie kelaparan yang berada tepat di belakang punggungnya. Mereka semua melompat dari ujung dermaga. Mengikuti apa yang gadis tersebut lakukan. Dan mencoba menggapai punggung gadis itu dengan tangan-tangan mereka.

WUUUUSSSHHH...

Sebelum Naruto menebak dirinya akan terjatuh ke laut, Hembusan angin datang lewat di bawah tubuhnya. Karena baru saja sebuah Speed Boat melintas tepat di bawah punggungnya dengan kecepatan tinggi.

BRRUUUKKH...

Punggung Naruto jatuh membentur permukaan lantai Speed Boat tersebut. Tentu saja ia terjatuh bersama dengan gadis tadi. Membuat pemuda tersebut merasakan bagaimana rasanya tertindih oleh seorang gadis hebat berambut pirang. Naruto menyadari keberadaan orang-orang lain di atas kapal ini. Orang-orang yang berseragam sama dengan yang gadis itu kenakan. Membuat Naruto berpikir bahwa mereka semua adalah satu rekan.

Timing mereka benar-benar sempurna. Gadis itu melakukannya di saat yang tepat ketika kapal ini datang. Terlebih, Semua itu mereka lakukan dengan kapal tengah melaju dengan kecepatan tinggi. Mereka berdua berhasil mendarat di atas kapal, Sedangkan para Zombie ganas yang melompat mengejar mereka tertinggal di belakang dan tercebur ke laut. Ujung dermaga itu benar-benar telah dipenuhi oleh para mayat hidup kelaparan.

Naruto masih terdiam. Merasakan bagaimana lembutnya hembusan nafas gadis itu menerpa wajahnya. Mereka berdua masih menatap dan memandang lekat satu sama lain. Naruto benar-benar telah tercengang oleh kerjasama tim pasukan misterius ini. Dan satu hal yang dapat Naruto sadari saat itu... Mereka benar-benar berada di level yang berbeda dengan polisi ataupun militer!

Mungkin karena lelah yang sudah menjalar di seluruh tubuhnya, Gadis itu masih diam tak bergerak dari tubuh Naruto. Dan benar-benar tak terlihat bahwa gadis itu akan menyingkir dari atas tubuhnya. Mereka saling bertukar pandang satu sama lain. Seolah menikmati keindahan warna mata yang sama. Dan semua ini mungkin terlihat seperti sebuah takdir. Seorang gadis berambut pirang dan bermata biru, Datang di saat yang tepat menyelamatkan seorang pemuda yang juga berambut pirang dan bermata biru.

"...Maaf, Tapi bisakah beri aku sedikit ruang untuk bernafas?"

Tanya Naruto dengan suara pelan yang masih dapat terdengar oleh gadis tersebut. Mungkin lebih cocok bila disebut terdengar sangat-sangat jelas di gendang telinganya. Membuat ia membuka kedua matanya lebar-lebar saat tersadar dengan posisi mereka berdua saat ini.

Gadis itu lekas bangkit dari tubuh Naruto dengan samar rona merah di wajahnya, Sembari juga menarik kerah Naruto untuk membantu. Di atas Speed Boat yang tengah melaju cepat membelah permukaan laut selatan Konoha ini, Mereka berdua terduduk berhadapan satu sama lain. Bersama angin yang mengibarkan tiap helai rambut mereka bergoyang.

Gadis itu meletakkan telapak tangannya di permukaan lantai kapal yang mereka gunakan ini. Ia bersanggah lelah dengan wajah yang tertunduk. Kedua matanya terpejam damai tertutup oleh helai demi helai poni rambutnya yang terhembus angin. Berada tepat di depannya, Naruto masih memperhatikan sosok gadis itu. Ia masih menatap lekat seseorang yang telah berhasil menariknya dari sana.

Kapal yang mereka gunakan telah menjauh dari dermaga dengan kecepatan tinggi membelah lautan. Bergerak menuju arah di mana matahari sebentar lagi akan tenggelam. Di atas sana, Di mana sinar matahari senja datang, Perlahan-lahan nampak sebuah helikopter yang muncul. Terbang menuju ke arah mereka.

"Jemputan kita sudah datang..."

Kata salah seorang dari rekan gadis itu Naruto melirik arah datangnya heli tersebut sembari menutupi silau cahaya sang mentari senja. Ia berpikir bahwa itu adalah bantuan untuk mereka. Sejenak, Naruto mengganti direksi pandangannya dan menatap bekas luka gigitan di tangan kanannya.

Pendarahannya masih belum mau berhenti. Namun juga tidak separah seperti yang sebelumnya. Ia tahu bahwa hidupnya mungkin akan segera berakhir. Ia sudah menyerah dengan segala perjuangannya. Yang dimilikinya saat ini hanyalah waktu yang masih tersisa untuknya. Naruto menatap sayu tangan kanannya yang sudah terinfeksi parah. Dapat ia rasakan sesuatu terus berdenyut-denyut di dalam sana. Sesuatu pasti sedang terjadi pada tubuhnya sebelum ia berubah menjadi makhluk yang mengerikan... Begitulah pikirnya.

Tetapi semua pemikiran itu seakan hilang tertiup angin saat Naruto kembali menyadari masih ada seorang gadis di hadapannya. Gadis itulah yang telah menyelamatkannya. Gadis itulah yang telah menariknya dari jurang dalam bernama keputusasaan. Ketika dirinya melihat tatapan yang gadis itu tunjukkan sesaat di dermaga tadi, Naruto dapat merasakan bagaimana kesedihan dan penyesalan yang gadis itu rasakan saat kehilangan rekan-rekannya.

Ya...

Hal itu pun membuat Naruto tersadar, Bahwa mungkin Sakura, Sasuke, dan teman-temannya yang lain juga merasakan rasa yang sama. Mungkin teman-temannya akan selalu membawa beban di pundak mereka. Beban kepedihan dan penyesalan yang sulit untuk dihilangkan. Sama seperti apa yang gadis itu rasakan.

Dan kini semua itu membuat Naruto tersadar, Bahwa dirinya harus kembali pada jalannya. Ia harus berdiri dan melawan. Ia harus kembali bangkit dari keputusasaan. Karena dirinya memiliki sebuah hal yang ingin ia wujudkan. Bertemu kembali dengan teman-temannya!.

Melihat gadis yang sedang memejamkan kedua matanya lelah itu, Naruto menatapnya lekat. Ia lupakan sejenak semua yang telah terjadi menimpanya. Dan hal yang ingin ia ketahui ialah...

"...Siapa kalian ini?"

Naruto bertanya dengan suara pelan sembari menatap wajah gadis cantik berambut pirang di depannya itu.

"Dan siapa dirimu sebenarnya..."

Lanjut Naruto lagi bertanya tentang apa yang sangat ia ingin ketahui saat ini.

Speed Boat yang mereka tumpangi berhenti di tengah-tengah laut lepas. Bersama helikopter yang sudah berada di dekat kapal mereka. Pasukan lain beratribut sama mengulurkan tangannya dari dalam heli untuk menjemput mereka. Tiap-tiap helai poni rambut pirang gadis itu terhembus oleh angin. Menutupi sebagian wajah cantiknya yang lelah. Dengan hanya membuka sedikit kedua matanya melirik Naruto, Gadis itu tersenyum kecil menjawab pertanyaan pemuda tersebut.

"Yamanaka Ino... Ketua dari Tim Alpha, Organisasi Rahasia Anti Bio-Terrorist Unit Konoha."

.

.

.

.

'Dan kisahnya yang tidak kami ketahui... Baru saja dimulai...'

.

.

.

.

"His Story"

The Place Of Hope

Chapter 17 : "Kisahnya"

Genre : Horror, Adventure & Gore

Main Cast : Naruto U., Sakura H., Sasuke U.

Caution! Contains violance & profanity (17th +)

.

.

.

.

.

.

Sebuah pintu otomatis di jalanan koridor bernuansa serba putih terbuka. Menampakkan beberapa orang di luarnya. Terutama dua insan yang memiliki warna mata dan rambut yang sama namun berbeda gender. Naruto tengah dipapah oleh seorang gadis berambut pirang yang baru saja ia kenal. Sudah dua puluh tujuh menit berlalu semenjak helikopter milik Organisasi Rahasia Konoha menjemput mereka hingga sampai kemari, Di markas pusat Anti Bio-Terrorist Unit.

"Sampai di sini saja. Aku akan membawanya ke ruang Lab Kapten Hashirama. Kalian bisa serahkan dia padaku."

Ucap Ino, Gadis yang tengah membantu Naruto Namikaze di sampingnya.

"Apa kau yakin tidak apa-apa..."

Tanya salah satu anggota timnya yang menatap dengan khawatir kepada Ino yang sedang memapah seseorang yang telah positif terinfeksi.

"Semua akan baik-baik saja. Percaya saja padaku."

Jawab Ino sembari melangkah masuk dan berlalu dari mereka dengan seorang pemuda bermata biru langit di sampingnya.

Pintu di sana pun kembali tertutup secara otomatis. Tanda lampu hijau di atasnya berubah menjadi merah. Bertanda bahwa pintu itu telah terkunci. Tidak memperbolehkan lagi siapa pun untuk dapat masuk ataupun keluar. Dan di lorong koridor putih ini, Ino berjalan membawa Naruto di sampingnya.

"Aku... Ingin ramen..."

Gumam pemuda itu pelan. Seolah suaranya hanya mampu untuk berbisik.

Dari sudut matanya, Ino melirik ke arah Naruto yang benar-benar sudah pucat pasi. Bahkan kantung mata hitam sudah terlihat di bawah kedua matanya. Seakan-akan, Pemuda itu benar-benar sudah di ambang kematiannya.

"...Bertahanlah sebentar lagi."

Ino mencoba meyakinkan Naruto bahwa pemuda itu pasti bisa melalui semua ini. Yang dirinya butuhkan hanyalah, Alasan terkuat untuk membuatnya tetap hidup.

CEEEEESSSHHH...

Pintu kedua di depan mereka terbuka. Asap-asap kabut tipis yang terasa dingin menyapa. Terlihat seperti baru saja membuka pintu lemari es. Di dalam sana, Hashirama yang masih mengenakan seragam lengkapnya tengah membungkuk mengutak-atik komputer miliknya. Ino melangkahkan kakinya masuk bersama dengan pemuda sekarat di sampingnya.

"Taichou..."

Gadis itu memanggil Hashirama yang sudah terlebih dulu menunggu kedatangan mereka berdua di dalam Lab ini. Hashirama melepas kacamata kerjanya, Lalu mulai menegakkan postur tubuhnya sembari berbalik menghadap mereka.

"Selamat datang di markas kami, Putra Minato..."

Sapa Hashirama ketika ia menatap sosok Naruto yang sudah ada di depannya.

"...?!"

Di tengah kondisi sekaratnya, Naruto menunjukkan reaksi wajah yang terkejut saat pria tinggi tegap di hadapannya menyebutkan nama Ayahnya.

"Kenapa... Kau tahu nama Ayahku..."

Naruto bertanya dengan tatapan bingung.

Hashirama hanya diam tersenyum, Sembari membantu pemuda berambut kuning itu berjalan menuju ke sebuah kursi khusus yang ada di ruangan ini. Diberi pertanyaan tentang mengapa Hashirama bisa mengenal siapa sosok Ayahnya... Itu seperti sebuah pertanyaan yang konyol untuknya. Karena ia sudah bertahun-tahun bekerja bersama sosok yang paling jenius di Jepang itu. Sudah tak terhitung lagi jumlah kasus terorisme dengan ancaman biologis yang sudah ia selesaikan bersama sosok bernama Minato Namikaze.

"Kau boleh menunggu di luar..."

Ucap Hashirama setelah mendudukkan Naruto di kursi Lab khusus tersebut.

"Baik!"

Jawab Ino segera dengan memberi kode hormat kepada sosok Kaptennya tersebut. Tetapi sebelum berlalu, Sejenak Ino melirik ke arah Naruto, Yang juga melirik ke arahnya. Pandangan mereka berdua bertemu. Namun sama sekali tidak ada kata-kata yang terucap di antara mereka berdua. Hanya sebentar mereka saling menatap satu sama lain. Sebelum akhirnya gadis itu berbalik menuju pintu masuk yang baru saja ia lalui.

"...Terima kasih."

Sebuah sepatah kata terucap dari bibir pemuda berambut kuning di sana. Membuat langkah Ino terhenti kemudian. Pintu telah terbuka secara otomatis ketika sensor membaca keberadaan seseorang di depan pintu.

Tetapi Ino hanya diam berdiri. Tidak ada kata-kata yang terucap dari bibirnya. Hanya diam berdiri di sana, Mendengar sebuah ucapan terima kasih dari seseorang yang telah ia selamatkan.

Naruto terus menatap punggung gadis yang terdiam itu. Membuatnya sedikit bingung dengan suasana yang canggung ini. Ino hanya berdiri diam di sana tanpa mengucapkan apapun, Lalu kembali melangkah keluar dari ruang Lab ini hingga sosoknya tak lagi terlihat. Terhalang oleh pintu otomatis yang sudah tertutup kembali.

"Dia memang sedikit pendiam. Sangat jarang aku mendengarnya berbicara banyak hal dengan seseorang..."

Kata Hashirama yang membuat Naruto sedikit terkejut. Menjelaskan sifat salah satu personel terbaiknya tersebut. Naruto terdiam. Mencoba untuk mengerti akan hal itu.

"Sekarang, Kita kembali ke topik utamanya."

". . . . ."

"Saat malam itu, Kau bertemu dengan seseorang yang coba menyelamatkanmu dari serangan makhluk mengerikan yang mengejarmu bukan...?"

Hashirama menanyakan sebuah pertanyaan kepada pemuda tersebut, Sembari memasangkan raut muka yang cukup serius.

"Aku..."

Naruto memegangi kepalanya. Mulai mencoba keras untuk mengingat tragedi kala itu. Sebuah tragedi yang merenggut nyawa seseorang yang coba untuk menyelamatkannya. Pandangannya buram, Dan seluruh ingatannya mulai mengabur. Tidak begitu jelas ia mengingatnya. Yang tersisa hanyalah kepingan-kepingan ingatan samar. Wajahnya semakin lama semakin memucat.

Ia telah berjuang keras hanya untuk terus membuka mata. Karena ia memiliki tekad kuat untuk tetap bertahan demi kembali bertemu dengan teman-temannya. Namun sejauh apapun ia berusaha untuk melawan infeksi yang menyerang tubuhnya, Naruto tetap merasa bahwa ia akan segera kehilangan kesadaran.

Perlahan pemuda berambut kuning rancung itu merogoh sesuatu yang ada di dalam saku celananya. Ia meraih sebuah tabung kaca kecil berisi sebuah cairan berwarna biru. Naruto menggenggam dan menatapnya. Salah satu dari dua yang pernah Hiashi berikan padanya. Setelah menginjeksikan yang satu untuk Hinata, Ia lebih memilih untuk menyimpan yang lain. Saat itu... Naruto berpikir bahwa cairan itu dibuat khusus hanya untuk struktur genetis milik Hinata. Dan ada kemungkinan bahwa efek yang sama akan terjadi kepadanya yang memiliki gen berbeda.

Itu adalah alasan mengapa Naruto masih menyimpannya sampai sekarang. Ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan dengan itu. Satu pilihan yang salah mungkin akan mengakibatkan keadaan semakin bertambah fatal.

Hashirama menatap apa yang sedang pemuda itu genggam. Sesuatu yang selalu ia cari-cari dan inginkan. Kunci dari penyebaran tak terkontrol ini. Satu-satunya yang hanya Hiashi yang mampu membuatnya. Tetapi sayangnya serum tersebut hanya tersisa satu di Dunia. Sosok Hiashi yang telah tiada membuat setabung cairan tersebut menjadi sangat berharga. Dan di saat yang sama, Nyawa seorang pemuda sedang dipertaruhkan.

Tangan Hashirama terangkat. Bergerak ke arah tabung kecil berisi cairan biru yang Naruto genggam.

"Serum yang kau genggam ini benar-benar sangat berharga. Dan itu akan menjadi kunci masa depan Dunia. Akan ada banyak manusia yang dapat terselamatkan oleh serum ini."

Gumam Hashirama pelan.

Naruto mendengar setiap penggal kalimatnya dengan sangat jelas. Dan kini Naruto mengerti betapa berharganya apa yang sedang ia genggam itu. Akan ada banyak nyawa orang yang mungkin akan terselamatkan dengan serum ini. Dan Naruto menyadari itu semua.

"Tetapi..."

Kalimat Hashirama menggantung. Kedua matanya terpejam ringan. Tangan pria paruh baya tersebut menangkup genggaman tangan Naruto. Lalu ibu jarinya menekan bagian atas dari tabung tersebut bagai sebuah pulpen. Sehingga muncul jarum-jarum injeksi di bagian bawahnya.

CEEEEEESSSSHH...

Kedua mata Naruto terbuka lebar-lebar. Pemuda itu terbelalak seketika oleh apa yang telah Hashirama perbuat.

"Mengorbankan satu nyama demi selamatkan ribuan nyawa... Aku setuju dengan filosofi yang seperti itu."

Ucap Hashirama sembari membuka kedua matanya kembali.

"A-... Apa yang kau lakukan...?!"

Naruto bertanya dengan raut wajah yang begitu Horror menatap apa yang telah diperbuat Hashirama kepadanya. Dan pemuda bermanik biru langit itu benar-benar tercengang olehnya.

"Tetapi... Aku tidak tahu sebanyak apa waktu yang harus kubuang hanya untuk mengembangkan serum ini. Dan jika mungkin suatu saat aku telah menyelesaikannya di tempat ini... Bagaimana keadaan di luar sana...? Mungkin hanya ada diriku sendiri, Yang masih hidup sebagai seorang manusia di seluruh Dunia ini. Mungkin hanya aku seorang yang tersisa. Jadi inilah pilihanku..."

Ungkap Hashirama.

Sementara itu, Naruto hanya menatap dengan raut tidak percaya pada serum yang menempel dan sudah terinjeksikan sepenuhnya pada bekas luka gigitan di tangan kanannya itu. Dan tangan Hashirama lah, Yang menggerakkan tangan kiri Naruto untuk menancapkan tabung berisi serum itu.

"K-Kenapa... Kenapa kau melakukannya... Kenapa kau menyuntikkan serum yang sangat berharga ini pada tubuhku...?!"

Pikiran Naruto benar-benar kacau. Melihat Hashirama yang telah membuang sia-sia harapan yang dimiliki Dunia ini hanya untuk seorang bocah sepertinya. Walau Hashirama telah mengungkap alasannya tadi, Tetapi tetap saja Naruto masih belum mampu untuk menerimanya.

Hashirama mengunci tangan kanan Naruto menggunakan sabuk yang ada di lengan kursi khusus itu. Lalu bangkit berdiri, Dan mendekati meja Labnya. Menjauhi sosok pemuda yang tekekang di sana.

Peluh di pelipis Naruto mulai berjatuhan. Dengan waktu singkat ia telah merasakan adanya reaksi yang timbul setelah penginjeksian serum ke tubuhnya tersebut. Tangan kanannya mengejang. Naruto tidak kuasa untuk mengendalikan pergerakan tangannya sendiri. Beruntung Hashirama mengikat tangannya kanannya itu pada waktu yang tepat.

"Sejauh pengamatanku... Tidak ada seorangpun di Dunia ini yang mampu bertahan selama lebih dari lima belas menit dari ganasnya penyebaran yang ditimbulkan setelah terinfeksi oleh Virus ini di tubuh mereka. Seluruh organ mereka dapat dinyatakan telah mati. Namun sebenarnya seluruh organ tersebut masihlah bekerja, Tetapi bergerak sangat-sangat lambat bagai tak terdeteksi. Dalam medis, Itulah yang disebut dengan mati suri..."

"Setelah Virus ini berhasil merusak dan menguasai seluruh bagian tubuh seseorang, Maka siklus awal akan kembali terjadi. Orang tersebut akan terlihat bagai bangkit dari kematian. Lalu menyerang apa saja yang ada di depannya. Dengan kata lain... Tidak ada seorangpun yang mampu bertahan dari siklus itu lebih dari lima belas menit... Tidak ada, Kecuali dirimu."

"Kau masih bertahan bahkan hingga melebihi tiga puluh menit semenjak dirimu terinfeksi. Tubuhmu terus dan terus mencoba keras menolak Virus itu. Hanya dirimu, Satu-satunya manusia yang mampu menahan penyebaran Virusnya hanya sampai sebatas tubuh sebelah kanan saja. Tubuhmu bukan beradaptasi... Melainkan melawannya."

Lanjut Hashirama dengan panjang lebar. Di tangannya kini tergenggam sebuah alat penginjeksi yang mirip seperti sebuah pistol. Lalu ia memasukkan sebuah tabung kaca kecil yang berisi oleh cairan berwarna hijau transparan.

Naruto lagi-lagi mendengarkan setiap penggal kalimat yang Hashirama ucapkan dengan debaran jantung yang kecang. Tangan kanannya tidak berhenti berkejang. Seluruh adrenalinnya terasa terpompa hingga mencapai titik teratas. Tak pernah Naruto merasakan yang seperti ini sebelumnya. Kucuran demi kucuran keringat yang deras berjatuhan adalah bukti, Bahwa dirinya benar-benar menderita saat ini.

Hashirama kembali melangkah, Mendekati sosok Naruto yang masih mencoba bertahan dari reaksi serum yang diterimanya. Kaki pemuda itu tak henti-hentinya menghentak ke permukaan lantai. Beruntung ia tak sampai menggigit lidahnya sendiri.

"Naruto Namikaze... Aku percaya suatu saat nanti, Kau akan menjadi satu-satunya pemeran utama yang mampu menghadapi Outbreak ini. Hiduplah untuk orang-orang yang kau sayangi... Berjuanglah demi orang-orang yang ingin kau temui... Dan bawalah segenggam harapan untuk Negara yang telah runtuh ini..."

CEEEEEESSSSHHH...

Hashirama menginjeksikan serum buatannya tepat ke leher kiri Naruto. Tetapi reaksi yang tubuh Naruto tunjukkan tetaplah sama. Semakin lama, Kesadaran Naruto semakin menipis. Ia tak mampu lagi menahan rasa sakit di tubuh sebelah kanannya. Pemuda itu merasa seluruh persendian dan tulang-tulangnya bergerak liar di dalam tubuhnya. Membuat Naruto benar-benar sangat tersiksa saat ini. Kedua mata birunya terpejam erat. Ini adalah batasnya. Naruto tak kuat lagi menahan rasa sakitnya.

"AAAAAAAAAAAAAARRRGGGKKK...!"

.

.

.

.

.

.

"His Story"

The Place Of Hope

Chapter 17 : "Kisahnya"

Genre : Horror, Adventure & Gore

Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Suhu dingin menyentuhnya. Menyebar keseluruh permukaan kulitnya. Bau dari berbagai macam bahan dan zat kimia begitu pekat tercium olehnya. Begitulah kondisi di ruangan serba putih ini. Sebuah Lab pribadi yang sangat-sangat steril.

Dua jam sudah berlalu sejak ia kehilangan kesadarannya. Perlahan-lahan, Kelopak matanya mulai terbuka. Ia menatap ke arah lantai yang bersih berwarna putih. Pandangannya masih mengabur tak jelas. Yang bisa ia lihat hanya tangan kanan miliknya yang masih terikat oleh sabuk kursi khusus ini. Tubuhnya benar-benar terasa begitu lelah dan lemah setelah apa yang terjadi sebelumnya.

Di saat pengelihatannya yang memburam, Naruto mendapatkan kembali semua ingatannya yang sempat hilang. Entah mengapa semuanya tersusun rapi seperti sedia kala. Sehingga ia dapat mengingat kembali apa yang Hiashi katakan padanya saat malam itu.

"Kuharap kau tidak akan menyesali pilihanmu sendiri..."

Ucap Naruto dengan suara pelan kepada sosok pria yang tengah menodongkan sepucuk senjata tepat mengarah ke tengah kepalanya. Setelah mendengar gumaman pelan dari Naruto, Seketika sosok pria itu tersenyum sembari membuang senjatanya ke sembarang tempat.

"Kau berhasil nak... Kita berhasil..."

Ucap Hashirama dengan desah nafas lega. Ia menyandarkan punggungnya yang lelah setelah terus menerus berjaga-jaga jika Naruto mulai bermutasi dan lepas kendali. Semua yang ia lakukan telah berhasil. Hashirama berhasil selamatkan nyawa pemuda berambut kuning itu.

"Sebenarnya aku... Masih tidak mengerti..."

Ungkap Naruto yang kesadarannya sudah kembali pulih. Semakin lama, Pengelihatannya semakin membaik. Kondisinya kembali seperti sedia kala, Walau rasa lelah tetap tak bisa diganggu-gugat.

"Kau tidak perlu memikirkan hal-hal yang sulit untuk kau pahami..."

Jawab Hashirama dengan tenang sambil menyandarkan tubuhnya di sebuah kursi yang lain.

"Mungkin serum itu sangatlah penting bagi umat manusia di masa depan. Tetapi obat yang sesungguhnya... Sudah ada di dalam tubuh putri semata wayang Hiashi. "

Lanjut pria dengan rambut hitam panjang itu lagi.

"Serum yang Hiashi buat, Hanya untuk menghentikan penyebaran dari Virus yang sudah menjalar di dalam tubuh. Dan serum milikku hanya mampu untuk menghentikan tingkat mutasinya dalam titik tertentu. Kedua serum yang telah kusuntikkan padamu, Tidak akan bisa menyembuhkan apapun. Jadi dengan penjelasan yang singkat ini, Kuharap kau bisa mengerti apa yang ingin kumaksud..."

Sayup mata biru sebiru langit milik Naruto masih melirik sosok Hashirama yang tidak jauh dari tempatnya terkekang. Ia mendengar setiap penjelasan yang coba pria itu sampaikan untuk membuatnya paham. Kini sedikit banyaknya, Naruto telah mengerti apa yang Hashirama ingin jelaskan. Naruto tak bisa lagi disembuhkan. Tak ada lagi kehidupan yang akan kembali seperti sedia kala baginya. Karena takdir sudah terlanjur untuk berkata, Bahwa tidak akan ada lagi kehidupan yang normal untuknya.

Meski rasa sakit di tangan kanan yang sudah berhenti bermutasi telah hilang, Tetapi tubuh yang teramat lelah lambat laun menuntun kedua matanya untuk kembali terpejam. Dalam perjalanannya terlelap, Naruto menggumam pelan menyebut sebuah nama seseorang yang selalu ingin ia lindungi. Nama yang teramat berharga dalam hidupnya.

'Hyuuga... Hinata.'

.

.

.

.

.

.

'Dia berkata bahwa dia tak lagi bisa disebut sebagai manusia...'

.

.

.

.

'Dan itu semua Naruto lalui tanpa ada kami di sampingnya...'

.

.

.

.

.

.

Seorang pemuda berambut kuning rancung terbaring di atas sebuah bangku yang panjang. Ia terlelap di sebuah ruang ganti tanpa ia ketahui. Perlahan, Sepasang manik biru itu terbuka menatap atap yang sangat asing baginya. Lama ia menatap atap bercat putih di atas sana dengan pandangan setengah sadar. Bagaimana pun juga, Dirinya tak pernah mengenal ruangan di mana ia sedang terbaring saat ini.

"Sampai kapan kau akan bermalas-malasan di sana...?"

Terdengar suara seorang gadis yang menegurnya. Membuat pemuda tersebut bangkit dari tempatnya terbaring. Saat itu juga direksi matanya menangkap sosok gadis berambut pirang panjang yang tengah bersandar di antara pintu masuk ruangan ini.

"Di mana aku..."

Tanya Naruto sembari memegangi kepalanya yang masih terasa agak pening. Ia melirik seluruh sudut ruangan dengan sejumlah loker yang berjejer tersebut.

"Apa kepalamu terbentur sesuatu hingga membuatmu lupa ingatan...? Kau masih berada di markas kami."

Jawab Ino dengan nada datar menatap intens ke arah pemuda itu.

". . . . . . ."

Naruto terdiam tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Hanya berusaha mengingat kembali semua hal yang sudah terjadi pada dirinya sebelum sampai di tempat yang sangat asing baginya ini.

"Lalu kau sendiri... Apa yang sedang kau lakukan di sana..."

Naruto kembali bertanya pada sosok gadis yang baru dikenalnya tersebut.

"Apa kau mau mengajakku berkelahi? Tentu saja aku ada di sini untuk mengawasimu dua puluh empat jam penuh. Entah kenapa Hashirama-taichou memberiku tugas ini setelah aku berhasil membawamu kemari."

Jawab gadis itu lagi dengan ekspresi acuh tak acuh.

". . . . . ."

"Begitu..."

". . . . . . ."

"Terima kasih..."

Ucap Naruto dengan suara pelan. Tetapi masih mampu untuk dijangkau oleh pendengaran gadis yang sedang bersandar di sana.

"K-Kau... Tak perlu mengulangnya hingga dua kali... Dasar bodoh."

Sahut Ino yang langsung tergagap setelah tiba-tiba pemuda itu mengucapkan kata yang sama yang pernah diucapkannya. Membuat gadis tersebut memalingkan wajah menghadap ke arah lain. Mencoba menghindari tatapan sepasang manik sebiru langit yang indah menatapnya di sana.

". . . . . ."

Sejenak Naruto mengumpulkan seluruh kesadarannya sebelum mulai untuk bangkit berdiri. Ia melirik ke arah pakainnya yang sudah teramat lusuh. Sebab kejadian yang terjadi di dermaga saat itu, Membuat pakaian yang saat ini ia kenakan robek di beberapa bagian. Melalui sudut matanya, Ino melirik apa yang sedang Naruto lakukan. Dan saat itupun juga ia teringat apa yang Hashirama pesankan padanya ketika pemuda itu membuka mata nanti.

"Kata Hashirama-taichou, Kau boleh menggunakan pakaian bekas yang ada di loker nomor empat. Itu adalah seragam milik mantan seseorang yang pernah ada di kesatuan ini. Entah kenapa Organisasi masih saja menyimpannya dan membiarkan loker itu seperti apa adanya. Yang kutahu, Belum ada seorang pun yang menyentuh loker itu."

Kata Ino menjelaskan.

Setelah mendengar hal tersebut, Naruto menatap ke arah sebuah loker dengan cantuman bernomor 4 di depan pintunya. Perlahan ia melangkah mendekat. Tangannya menggapai gagang loker tersebut.

"...Dan satu hal lagi, Sesuatu yang harus kuberitahukan padamu."

Kata gadis berambut pirang di sana. Membuat gerak tangan Naruto terhenti ketika mendengar sepenggal kalimat darinya.

"Sekali kau membuka pintu loker itu... Berarti kau telah bersedia bergabung bersama kami, Organisasi Rahasia Kota Konoha. Dan berada di bawah kepemimpinan ketua dari Divisi Anti Bio-Terrorist Unit, Kapten Hashirama."

". . . . . . ."

Tangan Naruto benar-benar telah berhenti untuk bergerak. Pemuda itu hanya bisa diam berdiri di depan loker bernomor 4 di sana. Mungkin tidak ada reaksi terkejut yang nampak padanya. Namun sebenarnya, Naruto sangat-sangat tercengang dengan setiap penggal kalimat yang telah Ino ucapkan.

"Yahh... Setidaknya itu yang dia katakan padaku. Walau diriku pun sebenarnya tidak setuju dengan hal ini. Bagaimana pun juga, Sangat tidak rasional untuk merekrut seseorang yang tak pernah memiliki pengalaman di bidang apapun sepertimu masuk kedalam Organisasi ini. Sebaiknya kau pikirkan terlebih dahulu apa yang ingin kau lakukan setelah ini."

Lanjut Ino panjang lebar sambil melirik apa yang akan pemuda di sana itu lakukan setelah mendengar semua kata-kata yang telah ia ucapkan. Ino tidak tahu apa yang ada di benak Hashirama mengenai hal ini. Dan dirinya ingin pemuda itu benar-benar memikirkannya matang-matang sebelum ia menyesalinya untuk seumur hidupnya. Bila pada akhirnya ia memilih untuk masuk ke dalam Divisi ini, Maka itu artinya ia sudah siap untuk mempertaruhkan seluruh hidupnya demi Konoha dan Jepang, Lalu bergerak di antara bayang-bayang Kota.

Perlu ia ketahui dan ingat, Bahwa menjadi bagian dari Organisasi rahasia ini, Bukan berarti ia hanya akan selalu melakukan sesuatu yang baik di mata orang lain. Karena kelak suatu saat nanti, Ia pasti juga harus melakukan sesuatu yang amat teramat kejam bahkan di mata manusia sekalipun. Apapun misi yang telah diberikan, Semua itu hanya untuk membuat Konoha dan Jepang bersih dari segala bentuk ancaman.

". . . . . . ."

Naruto masih diam...

Ia harus berpikir jalan seperti apa yang harus ia pilih. Sebuah jalan yang tidak akan membuatnya menyesali pilihan yang telah ia buat. Tetapi semua beban pemikiran itu justru membuatnya menjadi ragu. Dan kini Naruto tersesat pada dua arah jalan yang harus ia tentukan dan pilih sekarang. Sekali ia memilih jalan mana yang akan ia lalui, Itu berarti tak ada jalan baginya untuk memutar kembali. Dan di sini... Naruto harus memilih takdirnya sendiri.

Tangannya perlahan melepaskan genggaman pada gagang loker di sana. Keraguannya semakin menjadi. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Sementara Ino masih setia menunggu bagaimana jawaban dari pemuda tersebut. Menunggunya dengan penuh kesabaran.

Tiap helai poni rambut Naruto jatuh menutupi ekspresi wajahnya. Membuat Ino tidak bisa melirik bagaimana raut pemuda itu saat ini. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Naruto teringat akan teman-temannya yang masih tersisa. Yang mungkin akan kesulitan untuk menemukan tempat yang aman bagi mereka. Karena di manapun mereka akan berlabuh, Di sana pasti masih akan selalu ada ancaman dan bahaya. Naruto berpikir, Tempat teraman yang bisa ia pikirkan, Adalah berada di dekat Organisasi ini. Bersama dengan pasukan-pasukan hebat seperti tim milik Ino Yamanaka, Pasti teman-temannya akan aman bersama mereka.

Dan akhirnya, Pemuda dengan rambut kuning rancung itu telah temukan alasannya untuk tetap hidup di Dunia ini. Ia akan selalu melindungi orang-orang yang ia sayangi dalam bentuk apapun. Walau ia harus melakukannya dari balik gelapnya bayangan sekalipun. Dan satu hal lagi yang lebih membuat tekadnya semakin membulat. Keberadaan Hyuuga Hinata benar-benar sangat penting bagi Dunia. Jika sampai Dunia tahu kebenaran tentang Hinata yang sekarang, Dapat dipastikan... Gadis itu akan menjadi target para ilmuan yang tengah gencar mencari obat pandemik ini.

Hanya dengan bergabung dengan Organisasi ini, Naruto bisa melindungi mereka semua dari apapun juga. Membuatnya telah menemukan jalan yang harus ia pilih.

Tangan Naruto kembali menggapai gagang pintu loker di sana dan menggenggamnya erat. Kini ia tahu harus menjadi apa dirinya nanti. Karena Naruto telah bertekad, Bahwa ia akan menjalani sisi hidup yang penuh dengan tebing terjal demi teman-temannya yang sangat berharga baginya!.

KRRIIIEEETTT...

Dengan keteguhan hati, Naruto membuka pintu loker di depannya tanpa beban. Ino yang melihat hal itu hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Gadis tersebut berharap bahwa Naruto tidak akan menyesali pilihan yang telah dibuatnya itu. Kini pemuda berambut kuning di sana telah resmi menjadi bagian dari Divisi Anti Bio-Terrorist Unit. Ino hanya bisa mendesah pelan. Pilihan hidup yang sangat di sayangkan, Pikirnya.

Tetapi di lain sisi, Setelah membuka pintu dari loker yang sangat diistimewakan tersebut, Naruto lagi-lagi terdiam membatu. Kedua matanya terbuka melebar, Seakan ingin keluar dari tempatnya. Peluhnya menetes melalui dagu. Tak bisa ia berkata-kata setelah melihat apa yang baru saja ia lihat di hadapannya.

Bukan karena kemeja biru tua beserta satu set rompi hitam dan sabuk holster tempat menaruh pistol yang tergantung sangat rapi di dalam sana...

Melainkan sebuah Tag Name dari nama mantan pemilik loker bernomor 4 ini...

Karena kini apa yang tertulis di sana, Adalah sebuah nama yang sangat-sangat Naruto kenal sejak dirinya terlahir ke Dunia ini...

Minato Namikaze

Huruf Hiragana tercetak begitu rapi di sana. Benar-benar bagai sebuah tamparan keras untuk dirinya.

"A-... Apa-apaan semua ini..."

Lama ia tercengang setelah mengetahui siapa pemilik sebelumnya dari loker ini. Rasa ketidakpercayaan dengan apa yang telah ia lihat seketika menyerangnya. Tidak tahu apa yang harus ia ucapkan. Karena selama ini yang ia tahu... Hanyalah memiliki seorang Ayah yang sudah berhenti dari pekerjaannya di bulan Juni pada 4 tahun yang lalu di bidang kepolisian.

". . . . . . ."

"Apa ada yang salah dengan loker itu...?"

Ino bertanya sembari melangkah mendekat karena melihat ekspresi aneh dari wajah pemuda itu. Raut wajahnya benar-benar terasa Horror setelah membuka pintu loker bernomor 4 ini.

Gadis itu ikut mengintip apa yang ada di dalam sana. Ingin mengetahui apa yang telah membuat pemuda tersebut memasang raut yang begitu mengerikan. Namun tidak ada satupun yang aneh sama sekali dengan loker ini. Ino tidak bisa temukan keanehan yang sampai mampu membuat Naruto tercengang seperti itu.

"Apa kau... Apa kau tahu siapa pemilik loker ini sebelumnya...? Katakan padaku, Apa kau mengenalnya...?"

Tanya Naruto masih memelototi Tag Name tersebut dengan pandangan tidak percaya.

'Namikaze... Minato...'

Ino membaca Tag Name yang tertera di sana dalam hati. Ia merasa itu adalah sebuah nama yang sama sekali tidak asing di telinganya. Tetapi sayangnya, Ino tak mampu mengingatnya dengan benar siapa sebenarnya orang yang bernama Minato Namikaze tersebut.

"Aku tidak begitu tahu. Karena aku baru masuk ke Organisasi ini di bulan Agustus pada 4 tahun yang lalu. Aku benar-benar lupa tentang semua itu..."

Ungkapnya sembari coba menerawang ingatannya yang terdahulu.

"Dan juga satu hal lagi. Hashirama-taichou berkata bahwa loker ini akan menjadi lokermu jika kau memilih untuk bergabung dan menjadi bagian dari kami."

". . . . . ."

"...Begitu."

Jawab Naruto ringan dan singkat.

Tangan kirinya terangkat. Menyentuh lembut sebuah kemeja berwarna biru di sana. Naruto menatapnya lekat-lekat. Dalam pikirannya, Ia masih bertanya-tanya dengan rasa penasaran.

'Apa benar... Apakah benar, Semua ini milik Ayah dulu...'

Gumamnya dalam hati.

Jika memang benar seragam itu adalah milik Ayahnya dahulu, Maka bukankah selama ini Ayahnya telah membohongi putranya sendiri...? Pekerjaannya yang dulu itu... Bukanlah pekerjaan yang ada di bidang kepolisian. Semua yang terlihat ini, Lebih dari itu!

Jika semua ini benar... Maka selama ini sosok Ayahnya itu, Pernah menjadi bagian dari Organisasi Rahasia yang tak pernah publik ketahui ini. Bahkan dirinya yang sebagai putranya pun, Tidak pernah tahu akan pekerjaan seorang Minato yang sesungguhnya. Sebenarnya Organisasi macam apakah ini... Hingga Minato menyembunyikan kebenaran yang sesungguhnya pada keluarganya sendiri.

Tetapi perlahan-lahan...

Sedikit demi sedikit...

Naruto mampu untuk menerima kenyataan yang baru saja ia ketahui. Kenyataan tentang sosok Ayahnya yang dahulu. Semua itu karena ia telah memilih jalannya ini. Seperti apapun wujud masa depannya nanti, Semuanya akan berawal dari loker milik Ayahnya ini. Dan satu hal lagi yang ia ketahui... Hashirama pasti sudah merencanakannya.

Naruto menggapai pucuk pakaian lusuh yang melekat pada tubuhnya. Perlahan ia menariknya ke atas, Bermaksud untuk melepas pakaian kotornya itu dan memakai seragam milik Minato dahulu.

Tidak sengaja Ino melirik apa yang sedang pemuda di sampingnya itu lakukan. Setelah ia sadar apa yang Naruto ingin lakukan, Kedua manik sebiru Aquamarine miliknya terbelalak lebar-lebar dengan rona tipis yang tersirat di wajah putih cantiknya.

"A-A-A-Apa yang kau lakukan?! Jangan tiba-tiba membuka pakaian di depan SEORANG GADIS, KONOYAROOO!"

BUUUUAAAAAGGGGHHH...!

.

.

.

.

.

.

.

.

- The Place Of Hope -

.

.

.

.

To Be Continue...