Mungkin masih banyak dari kalian yang bertanya-tanya tentang siapa Pair Naruto di seri ini. Dan itu adalah kesalahanku sebagai Author karena tidak menjelaskannya kepada para pembaca sedari awal...
Sebenarnya tidak ada sistem Pairing tetap untuk Naruto di sini. Seperti halnya game RPG yang menggunakan sistem In-Real Time saat mengganti senjata ataupun Equipment, Aku pun juga menggunakan sistem yang sama seperti itu dalam seri ini.
Pair Naruto adalah seseorang yang berada bersamanya di satu Arc ataupun Scene. Dan akan berganti bila Arc ataupun Scene yang menceritakan tentang mereka berdua telah habis.
(Sebagai contoh dalam sebuah Arc di seri Everything Has Changed, Yang ketika Naruto dan Sona tengah bersembunyi di sebuah butik di tengah-tengah Kota Konoha untuk menghindari para Zombie sesaat setelah kejadian di mana Hyuuga Hiashi terbunuh untu selamatkan nyawa Naruto. Nah... Sona lah pair Naruto saat itu.)
Dan aku tahu pasti ada banyak di antara para pembaca yang tidak akan setuju ataupun menentang tentang ide ini. Tetapi Felix-kun akan selalu terbuka kok untuk semua kritik dan saran dari kalian sebagai masukan untuk ide pairing itu.
Bersama dengan satu hal lagi yang ingin Felix sampaikan melalui catatan ini...
Terima kasih untuk para pembaca setia yang mau meluangkan waktu untuk terus membaca kelanjutan dari fanfic ini dan selalu memberikan reviewnya.
Terima kasih juga untuk para silent reader yang sudah berkunjung untuk sekedar membaca cerita ini. ^^,
.
.
.
.
.
.
Entah suatu kebetulan atau memang takdir masih belum menginginkannya untuk mati, Naruto Namikaze telah terselamatkan dari kematiannya yang hanya tinggal menghitung jari. Ia berhasil selamat dari ratusan Zombie pemangsa kelaparan dari dermaga selatan Kota Konoha, Dan selamat dari mutasi yang disebabkan oleh infeksi sebuah Virus mematikan yang hampir mampu mengubahnya menjadi seorang mayat hidup tanpa pikiran. Semua itu berkat pergerakan Organisasi Rahasia Konoha yang selamatkan nyawanya tepat di detik-detik terakhir. Di mana kini ia melangkahkan takdirnya masuk menjadi bagian dari Organisasi mereka.
Tidak ada yang memaksanya. Naruto memilih sendiri jalan yang akan dilaluinya demi bisa melindungi mereka yang ia cintai dan sayangi. Naruto telah memilih tebing curam untuk ia lalui sebagai bagian dari Organisasi yang bergerak melalui bayangan. Tidak ada jalan memutar baginya untuk kembali. Karena kini tidak ada lagi kehidupan normal yang bisa ia dapatkan dengan sebuah Virus mematikan yang masih hidup di dalam tubuh kanannya. Jika dengan bergabung dengan Divisi Anti Bio-Terrorist Unit membuatnya mampu melindungi nyawa teman-temannya yang sangat berharga baginya, Dengan senang hati Naruto akan lakukan itu semua.
.
.
.
.
.
.
.
- The Place Of Hope -
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Horror, Adventure, and Gore
Caution! Contains violance & profanity (17th +)
.
.
.
.
.
.
.
.
Ino menggenggam sebuah pinset alumunium dengan segumpal kapas kecil yang telah terbasahi oleh cairan alkohol yang diapitnya. Dengan usapan halus, Perlahan ia membersihkan luka yang ada di pelipis mata kiri Naruto. Tanganya tidak begitu terampil dalam memberikan pertolongan pertama pada korvan luka. Tetapi meski begitu, Ino tetap melakukan tanggung jawabnya sebagai pelaku atas munculnya luka memarnya di pelipis pemuda berambut kuning itu. Dan jangan lagi bertanya bagaimana awal dari munculnya memar di pelipis mata kiri Naruto tersebut. Karena Ino tak akan mau mengatakannya.
"...Maaf"
Ucap gadis itu dengan nada bersalah. Walau ia dikenal sebagai sosok yang dingin dan tak banyak bicara, Namun kali ini, Ino menyatakan permintaan maaf dengan sepenuh hatinya kepada pemuda itu.
"Tidak apa-apa... Jangan terlalu dipikirkan."
Jawab Naruto yang berusaha untuk membuat gadis itu tidak terlalu merasa bersalah. Namun setelah mendengar apa yang Naruto ucapkan, Tangan Ino berhenti bergerak.
"Kurasa yang bersalah di sini adalah dirimu. Dan entah kenapa kata-katamu tadi terasa seperti semuanya adalah salahku."
Ungkap Ino yang mengerutkan kedua alisnya karena merasa ada sedikit kekeliruan di balik kata-kata Naruto tadi.
"Eh...? Benarkah...? Jadi aku yang bersalah...?"
Naruto bertanya dengan ekspresi tak percaya bahwa dirinyalah yang menjadi awal dari permasalahan ini. Namun pertanyaan itu justru membuah pertigaan muncul di kening gadis bermanik Aquamarine di sampingnya.
"Kau ini, Benar-benar sangat menyebalkan ya-"
Ucap Ino yang kini memegang pinset di tangannya dengan sangat erat. Atau mungkin, Terlalu erat hingga pinset itu bergetar dibuatnya. Ino benar-benar kesal dengan raut wajah Innocent yang pemuda itu tunjukkan kepadanya.
"Ma-... Maaf..."
Sahut Naruto cepat setelah mendengar dari gadis itu bahwa dirinya benar-benar seorang yang menyebalkan. Tetapi itu justru malah membuat pertigaan yang muncul di kening Ino menjadi bertambah.
"Kenapa sekarang malah kau yang meminta maaf-"
Kata gadis berambut pirang itu dengan senyum yang sangat dipaksakan. Getaran di ujung pinset itu semakin menjadi di kala kekesalannya semakin meningkat drastis oleh karena sifat Naruto.
Sejenak, Naruto yang bertelanjang dada, Bangkit berdiri dari bangku kayu panjang di belakangnya. Sebentar ia menatap ke arah tangan kanannya yang sudah berhenti bermutasi. Ia melihat betapa mengerikannya wujud tangan kanannya itu sekarang. Entah bagaimana tanggapan teman-temannya jika melihat tangan ini. Naruto hanya ingin mereka tidak mengkhawatirkan keadaannya. Hanya itu saja.
Ino menatap pemuda itu yang sedang melirik ke arah tangannya sendiri. Dan saat itu pun juga Ino mengerti apa yang ada di dalam pikiran Naruto tentang hal itu. Tidak mungkin menunjukkan tangan yang mengerikan beserta bekas luka gigitan itu kepada orang lain. Akan menjadi masalah jika orang-orang tahu bahwa Naruto sudah pernah tergigit oleh para Zombie ganas di luar sana.
"Hei..."
Tangan Ino memungut sesuatu dari kotak P3K di atas kedua pahanya. Lalu ia lemparkan begitu saja ke arah pemuda itu. Membuat Naruto menoleh kepadanya sembari berusaha menangkap apa yang telah gadis itu lemparkan.
Sebuah perban putih yang tergulung rapi...
Atau lebih tepatnya, Satu rol perban gulung yang telah Ino berikan kepada Naruto dari kotak P3K miliknya. Pemuda itu menatap perban pemberian gadis pirang di sampingnya. Dan ia tahu apa yang coba gadis itu maksud.
Naruto membuka perban itu. Menggigit ujungnya, Lalu melilitkannya ke seluruh permukaan tangan kanannya. Dari pangkal bahu, Sampai ke ujung kelima jarinya. Tidak ada satupun yang tertinggal. Naruto membalut hampir seluruh tangan kanannya dengan perban putih itu. Naruto yang saat ini tidak memakai pakaian lamanya, Membuat hal itu menjadi lebih mudah walau ia mengerjakannya sendiri.
Dengan tangan kanan yang terbalut oleh perban, Naruto berdiri menghadap ke arah sebuah lojer yang sudah terbuka semenjak tadi. Loker bernomor 4 milik Ayahnya dulu. Sejenak, Naruto menatap kemeja berwarna biru yang tergantung rapi di dalam sana. Yang tidak lain dan tidak bukan juga milik Ayahnya dulu. Tangan kanan terbalut perban itu terangkat menggapainya. Tanpa ragu Naruto langsung memakai seragam itu dan mengancingkan satu per satu tiap kancingnya.
Tangannya beralih kepada rompi hitam sederhana yang ada di sana. Segera Naruto menarik rompi itu dan lekas mengenakannya sebagaimana semestinya. Ia pun meraih sebuah Holster yang juga milik Ayahnya. Naruto memasang sarung senjata dan magazen itu melingkar di antara bahu-bahunya. Dan yang terakhir, Adalah Glock-17 miliknya yang kini ia masukkan dan simpan di Holster tersebut.
Tidak ada yang aneh ketika Ino menatapnya. Ukuran seragam itu sangat pas dengan ukuran tubuh Naruto. Entah mengapa ia merasa bahwa Naruto benar-benar cocok dengan kemeja biru dan segala atributnya tersebut. Membuat gadis itu tanpa sadar terlalu lama menatap sosok Naruto yang tengah berdiri di sana.
"Hei, Apa aku terlihat cocok dengan seragam ini...?"
Tiba-tiba Naruto bertanya padanya. Membuat gadis itu tersentak sadar dari lamunannya.
"Ke-... Kenapa kau tanyakan hal bodoh seperti itu padaku?! Dasar bodoh-"
Sahut Ino sembari bangkit berdiri dan melangkah cepat meninggalkan Naruto yang terbengong oleh jawabannya.
"H-Heii... Tunggu aku!"
Teriak Naruto kepada gadis yang sudah melewati pintu keluar ruangan ini. Pemuda itu lekas menutup pintu lokernya dan bergegas menyusul gadis tersebut dengan berlari.
"Dan ada satu hal lagi yang harus kuberitahukan padamu..."
Kata Ino yang berjalan membawa kotak P3K di tangannya.
"Satu hal lagi...?"
Tanya Naruto yang berhasil menyusul di sampingnya. Tetapi Ino malah berhenti di tengah-tengah koridor. Membuat pemuda tersebut ikut menghentikan langkahnya.
"Mulai sekarang berhentilah memanggilku heii, heii, dan heii. Karena aku terlahir ke Dunia ini dengan sebuah nama. Jadi berhentilah memanggilku seperti itu dan sebut namaku dengan benar mulai dari sekarang."
Jelas Ino pada pemuda berambut kuning rancung di hadapannya.
Bagaimanapun juga Naruto sedikit menyadari bahwa dirinya memang bersalah telah memanggilnya seperti itu. Bukan berarti Naruto tidak mengetahui siapa nama gadis tersebut. Karena di saat mereka berdua beserta Tim Alpha yang tersisa tengah mengapung di laut lepas Konoha, Gadis di hadapannya itu pernah memberitahu siapa nama lengkapnya. Hanya saja Naruto masih tidak tahu harus seperti apa ia memanggilnya.
"Eh... M-Maaf, Aku mengerti. Yamanaka-san."
Ucap Naruto mencoba mengawalinya.
"Kurasa kita ini seumuran."
Jawab Ino dengan nada datarnya.
"Kurasa itu benar juga. Baiklah kalau begitu. Bagaimana jika, I-I-Ino...?"
"Kita ini baru saja kenal, Lalu kau langsung main memanggilku dengan nama depanku...? Kau ini minta di hajar lagi atau bagaimana...?"
"Ma-Maaf! Kalau begitu, I-Ino-san...?"
"Sudah kubilang kan kalau kita ini seumuran?"
"Bagaimana kalau Ino-chan...?"
"Ternyata kau serius ingin masuk rumah sakit ya?"
"K-Ka-Kalau begitu Ino saja-..."
". . . . . . ."
"Kedengarannya bagus. Mulai sekarang panggil saja aku dengan nama itu."
Setelah menyelesaikan debat mereka, Ino kembali melangkahkan kedua kakinya berjalan. Meninggalkan Naruto bertampang Sweatdrop yang sedang terbengong dengan hal tadi.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ino keluar dari koridor panjang yang baru saja ia lalui. Diikuti oleh Naruto yang menyusul tepat di belakangnya. Kini mereka berdua berada tepat di aula yang cukup luas. Sepanjang Naruto menatap, Begitu banyak personel yang sedang diberikan pertolongan pertama pada luka-luka yang mereka dapatkan. Mungkin mereka semua baru saja melaksanakan sebuah misi atau sesuatu yang mirip dengan hal tersebut. Begitulah yang ada di pikiran Naruto setelah melihatnya.
"Anggota baru...?"
Sapa seseorang yang berjalan mendekati sosok Ino.
"Urus saja personel yang terluka."
Sahut gadis beriris Aquamarine tersebut cuek sembari serahkan kotak P3K yang sedari tadi ia bawa-bawa. Lalu langsung meninggalkan pria yang menyapanya tanpa satu katapun yang terucap lagi dari bibirnya.
Sedangkan Naruto yang terus mengikuti langkah gadis itu hanya bertukar pandang sebentar dengan pria yang menyapa Ino tadi.
"Jangan beritahu mereka apa, siapa, dan bagaimana kau bisa ada di sini pada semua orang yang mencoba menanyaimu."
Bisik Ino dengan suara sepelan mungkin agar tidak ada yang dapat mendengar setiap kalimatnya kecuali pemuda di belakangnya.
"Eh...?"
Naruto sedikit terbingung oleh apa yang Ino sampaikan kepadanya. Mengapa ia tidak boleh memperkenalkan diri pada personel lain yang akan menjadi rekan-rekannya nanti...? Setidaknya itulah yang ingin Naruto tanyakan kepada Ino. Namun gadis itu seperti sudah menebak apa yang ingin Naruto tanyakan padanya.
"Hashirama-taichou yang katakan itu padaku. Setidaknya kau harus ingat itu baik-baik..."
Gumamnya masih dengan suara pelan. Dan lagi-lagi semua hal yang gadis itu ucapkan adalah pesan dari Hashirama sendiri. Entah apa yang bisa Naruto terka. Tetapi setidaknya ia mengetahui satu hal mengenai seluruh pesan-pesan itu. Semuanya tidak terlepas dari sosok dirinya yang kini sangatlah berbeda dari manusia lainnya. Naruto menyadari bahwa ia bukanlah manusia biasa lagi.
Langkah-langkah mereka terus berlajut menyusuri koridor-koridor yang asing bagi Naruto. Hingga akhirnya langkah kaki mereka berhenti tepat di depan sebuah pintu yang tertutup. Naruto hanya memperhatikan bagaimana gadis itu mengetuk pintu di depannya.
"Aku telah membawanya kemari."
Ucap gadis tersebut setelah mengetuk pintu itu dengan dua ketukan pelan. Lalu pandang matanya menatap ke arah Naruto yang ada di belakangnya.
"Masuklah."
Kata Ino menyuruh Naruto untuk segera masuk ke sebuah ruangan tersebut. Pemuda itu tidak terlalu banyak bicara. Ia hanya menuruti semua yang gadis itu katakan padanya. Tidak membuang-buang waktu, Naruto melangkah melewatinya dan menggenggam daun pintu yang ada di depannya. Tangan kanan Naruto yang kini terbalut oleh perban, Memutar knop pintu tersebut dan mendorongnya secara perlahan. Kedua kakinya mengantar Naruto melangkah memasuki ruangan itu. Dan menutup kembali pintu yang ada di belakangnya.
Hal pertama yang bisa ia dapati di dalam ruangan ini, Adalah sosok pria berambut panjang berwarna hitam kecoklatan yang sedang merapikan berkas-berkas di atas mejanya. Membuat Naruto berpikir bahwa ruangan ini adalah ruangan pribadi miliknya.
"Sepertinya kau memilih untuk bergabung bersama kami..."
Ucap Hashirama sembari meletakkan seluruh dokumen yang telah ia rapikan sebelumnya kembali ke atas meja.
"Walau sebenarnya hal itulah yang aku inginkan..."
Lanjut Hashirama sembari berbalik ke belakang. Menghadap ke arah di mana sosok Naruto diam berdiri saat ini.
". . . . . . ."
Naruto tak berbicara sedikitpun. Karena tidak ada kata-kata apapun yang bisa ia pikirkan untuk memulai sebuah kalimat. Dirinya hanya diam, Coba menunggu dan mengikuti kemana alur pembicaraan pribadi ini akan menuju.
"Kurasa Ino telah sampaikan semua pesanku padamu. Setidaknya, Kau harus mengingat semua hal yang ia katakan. Karena aku yakin kau pasti mengerti apa yang ingin kumaksud dari semua itu."
"Ya... Aku memang sudah sedikit mengerti, Apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan."
Jawab Naruto yang memandangi kedua tangannya sendiri. Cepat atau lambat, Semua hal di hidupnya pasti akan berubah. Atau mungkin... Segala sesuatunya telah berubah.
"Lalu... Apa yang kau inginkan dari bocah SMA sepertiku, Setelah bergabung dengan Organisasi Rahasia ini tanpa suatu pengalaman apapun...?"
Lanjut pemuda dengan sepasang iris biru nan indah di kedua matanya. Mencoba bertanya apa alasan yang sebenarnya dari Hashirama yang membuatnya bergabung dengan Divisinya ini.
Jika dipikir secara rasional dari sudut pandang manapun, Hal ini benar-benar seperti sesuatu yang ambigu. Bagaimana bisa seorang bocah SMA biasa diperbolehkan masuk, Atau bahkan diinginkan masuk bergabung dengan Organisasi besar seperti Organisasi di mana ia berdiri saat ini.
"Akan kuberitahu padamu tentang sesuatu..."
Ucap Hashirama setelah diberi sebuah pertanyaan yang sudah ia tebak sedari tadi.
Tangannya menarik pucuk sebuah Laptop agar berputar dan menghadap ke arah Naruto. Sehingga pemuda itu bisa melihat apa saja yang tertampil di sana.
"Sejak kejadian di malam itu... Malam di mana kau berhasil selamat dari monster yang mengejarmu di sela-sela gang Kota, Aku meminta salah satu orangku untuk mengikuti seluruh jejakmu dari hari pertama penyebaran Virus ini terjadi."
"Saat itu, Melalui gambar yang kudapatkan dari satelit, Kau mendapatkan sesuatu yang sangat kucari di waktu itu. Sebuah serum asli dari tangan profesor Hyuuga Hiashi. Serum yang kau bawa, Membuatku tertarik untuk tetap mengawasimu dari jauh."
Hashirama menjelaskan alasan pertamanya mengapa ia menginginkan Naruto berada di sini. Bersama dengan foto-foto yang ia tunjukkan kepada pemuda itu melalui Laptop miliknya. Beberapa gambar yang menjadi saksi bisu saat kejadian di malam itu terjadi. Di mana Hyuuga Hiashi, Mengorbankan nyawanya sendiri demi selamatkan seorang pemuda berambut kuning yang ditemuinya. Dan bahkan ada satu foto yang jelas menunjukkan saat-saat di mana Hiashi menyerahkan dua tabung berisi serum miliknya ke tangan Naruto.
Bukan hanya itu saja. Masih banyak gambar yang tertampilkan memalui SlideShow layar Laptop di sana. Foto ketika Naruto masih di sekolah bersama teman-temannya yang berhasil selamat selama penyebaran ganas dimulai. Foto saat di mana Naruto menghabisi Zombie-Zombie kelaparan dengan menggunakan sepucuk tongkat pemukul hanya seorang diri. Begitu banyak foto-foto dirinya yang telah berhasil bertahan dari penyebaran pandemik ganas saat itu dan mengerti bagaimana cara menghadapi mereka.
"Naruto... Bagaimanapun juga kau adalah putra dari sahabat baikku. Dan sekarang kau menjadi seseorang yang sangat berbeda dibandingkan dengan manusia lain sepertiku. Ada dua hal yang akan orang lain lakukan jika mereka tahu siapa dirimu yang saat ini. Menyeretmu ke kursi labotarium dan terpenjara di sana selamanya menjadi subjek penelitian... Atau langsung menghabisi nyawamu di tempat. Dari dua hal itu, Aku hanya akan memilih pilihan yang ketiga. Yaitu membuatmu bergerak di balik gelapnya sebuah bayangan. Karena akulah seseorang yang mengetahui fakta bahwa kondisi alami tubuhmu sama sekali tidak akan berpengaruh banyak terhadap pencarian vaksin dari penyebaran ini."
Lanjut Hashirama panjang lebar menjelaskan alasannya yang kedua. Apa yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran. Bahwa kondisi Naruto yang menjadi satu-satunya orang yang berhasil selamat dari infeksi Virus mematikan telah yang mewabah di seluruh Dunia, Tidak akan membuahkan hasil apapun di meja operasi labotarium. Karena bukan hanya sekedar faktor struktur genetis yang membuatnya mampu bertahan dari Virus tersebut. Tetapi keinginan kuat Naruto untuk tetap hidup adalah kunci terbesar yang membuatnya tubuhnya melawan pergerakan Virus yang menginfeksinya.
Hashirama lah, Seseorang yang benar-benar mengetahui fakta itu. Membuatnya berpikir bahwa meletakkan tubuh Naruto ke meja operasi untuk menjadi subjek penelitian adalah sebuah hal yang sia-sia. Karena tidak semua orang di Dunia ini mampu memiliki alasan kuat untuk tetap hidup ketika mereka telah berada di ambang kematian. Naruto memiliki apa yang tidak semua manusia di Dunia miliki. Sesuatu yang tidak akan pernah bisa didapatkan dengan hanya bermodal serum belaka. Sesuatu yang dinamakan sebuah tekad. Keinginan kuat untuk hidup demi melindungi teman-temannya.
"Dan ini yang terakhir... Sesuatu yang mungkin terdengar sedikit egois. Naruto... Aku ingin kau mencari dan temukan seseorang untukku. Selamatkanlah nyawanya. Karena dia... Benar-benar... Sangat berharga untukku."
TAPP...
Tangan kanan Naruto yang penuh terbalut oleh perban, Menangkap sesuatu yang telah Hashirama lempar ke arahnya. Di tangannya kini, Sebuah ponsel pintar memperlihatkan potret foto seorang gadis yang begitu manis. Kacamata terbingkai begitu menawan di antara kedua matanya yang indah itu. Dan apa yang terlihat di sana, Sungguh membuat Naruto diam tercengang.
"Selamatkanlah putriku... Dari kejamnya Dunia di luar sana. Karena hanya dirimu satu-satunya yang bisa melakukannya, Naruto."
Gumam Hashirama pada pemuda yang masih diam memperhatikan foto itu dengan raut wajah yang tak bisa terlukiskan oleh kata-kata. Sebuah permohonan yang Hashirama sampaikan secara pribadi kepadanya. Sebuah ego dari seorang pemimpin Divisi terbesar di Organisasi Rahasia Konoha.
Fokus Organisasi ini telah terpecah dalam beberapa bagian yang harus mereka tangani secara intens. Mulai dari merebut kembali Kota terbesar di Jepang dari kumbangan kematian. Kota yang bisa menjadi pusat bagi mereka untuk mampu menampung semua warga penduduk yang masih selamat. Dan mempertahankannya akan menjadi satu hal yang sangat kritis ketika berhadapan dengan para Zombie ganas yang selalu kelaparan.
Tidak ada satupun fraksi yang bisa diandalkan. Hanya Organisasi inilah yang masih berdiri dan bertahan. Beban mereka semakin berlebih ketika Jepang harus menerima kenyataan bahwa pihak kepolisian dan militer tak mampu berkutik dalam mengantisipasi tragedi penyebaran wabah yang telah terjadi. Semuanya mencadi kacau balau dikarenakan ketidaktahuan pihak kepolisian dan militer, Cara untuk menghadapi secara langsung Zombie-Zombie yang brutal.
Belum lagi, Organisasi ini harus benar-benar berkonsentrasi penuh pada penelitian dan pencarian vaksin ataupun serum yang akan berguna di masa depan dimulai dari sekarang. Menemukan sebuah obat untuk sembuhkan suatu virus ganas yang masih misterius di mata Dunia bukanlah hal mudah seperti membalik telapak tangan.
Sementara polemik seorang buronan kelas atas yang selalu mengancam belum dapat tertuntaskan. Organisasi ini harus berpikir secara kritis dan tajam bagaimana cara untuk menangkap biang penyebab atas tragedi mengerikan dan penyebaran pandemik ganas ini berawal tersebut di saat mereka tak lagi memiliki tim yang tersisa untuk mengejarnya.
Semenjak hari di mana semua kengerian ini terjadi, Tidak ada satupun relasi Jepang yang memberikan uluran tangan mereka untuk membantu. Seluruh Dunia telah berada di titik kehancuran. Hampir semua Negara-Negara besar sekarat dalam tragedi mengerikan yang sama. Umat manusia telah berada di ambang kepunahan. Penyebaran virus yang begitu ganas menyapu rata hampir di setiap Negara. Seolah benar-benar tak ada tempat untuk lari ataupun sembunyi.
Namun bukan berarti Jepang hanya akan dihadapkan pada masalah pandemik ini saja. Mereka juga harus bersiaga penuh bila suatu saat Negara lain mencoba untuk menghancurkan mereka di saat mereka berada di tengah-tengah ambang kehancuran. Dan hanya Organisasi ini yang bisa mempertahankan Jepang saat hal itu terjadi.
Konsentrasi Organisasi ini benar-benar sedang terpecah belah. Seluruh pasukan Hashirama pun telah berada dalam posisi di bidangnya masing-masing. Tidak ada yang bisa Hashirama lakukan selain memberi komando di setiap misi yang terkonfirmasi. Tidak ada lagi personel yang sedang bebas di markasnya. Semua berjuang mempertaruhkan nyawa demi Negara.
Namun meski begitu, Hashirama tetaplah seorang manusia yang masih memiliki keinginan pribadi dalam hatinya. Sekuat apapun ia di sini, Hashirama tetaplah seorang Ayah yang selalu mencemaskan putri satu-satunya yang ia miliki. Setelah kehilangan Mito Uzumaki, Ia benar-benar tak ingin kehilangan lagi seseorang yang sangat ia sayangi.
"Sona..."
Hanya sebuah gumam yang terucap dari mulut Naruto. Menatap foto seseorang yang sangat ia kenal. Sosok teman yang telah merajut sebuah ikatan, Dan Berjuang bersama-sama untuk selamat dari Outbreak yang telah terjadi.
Hashirama melangkah mendekati pemuda berambut kuning rancung yang ada di depannya. Tangannya menepuk pelan pundak pemuda itu. Dan menatap dalam-dalam sosok putra dari sahabatnya ersebut.
"Ini adalah permintaan pribadiku... Sekaligus akan menjadi misi pertamamu..."
Ucap Hashirama yang nampak menaruh penuh kepercayaan dan harapannya kepada Naruto. Karena hanya pemuda itulah, Satu-satunya personel yang bisa melakukan misi ini. Dengan ketahanan fisik luar biasa yang Naruto miliki, Pengalamannya dalam bertahan di tengah-tengah kejamnya Kota Konoha setelah Outbreak terjadi, Pengetahuannya tentang bagaimana cara untuk berhadapan langsung dengan para mayat hidup di luar sana yang tak dimiliki oleh orang-orang dari kepolisian, Membuat Naruto adalah harapan terakhir yang Hashirama miliki.
". . . . . ."
"Aku tidak akan gagal."
Ucap Naruto sembari menyodorkan kembali ponsel Hashirama. Tidak ada nada keraguan yang terdengar di tiap penggal kata-katanya. Naruto mengatakannya dengan ekspresi wajah penuh kepastian.
"Aku akan selamatkan teman-temanku dari Neraka ini apapun yang terjadi. Itu pasti...!"
Lanjut pemuda dengan sepasang iris biru yang membara. Membalas tatapan Hashirama yang sebenarnya tersirat penuh dengan kesedihan.
Pria paruh baya di hadapannya, Perlahan menarik kedua bibirnya untuk tersenyum. Sebuah senyuman yang menandakan bahwa sedikit beban telah terlepas dari pundaknya. Hatinya merasa lega ketika menyadari tatapan tanpa keraguan yang pemuda kuning itu tunjukkan. Seakan berkata, 'Meski harus menderita tetap akan kuselamatkan mereka!'
Bukan sebagai seorang pemimpin... Tetapi sebagai seorang Ayah, Dalam hati ia merasa senang bahwa putrinya itu memiliki seorang teman seperti Naruto. Sosok yang seakan tak peduli apapun yang akan terjadi pada dirinya sendiri jika itu dapat menolong orang-orang di sekitarnya.
Hashirama mengambil kembali ponselnya yang Naruto sodorkan kepadanya dengan mata terpejam. Tidak ada yang salah. Bukanlah suatu kesalahan jika sejak awal ia telah memilih Naruto untuk menjadi bayangan baru bagi Organisasi ini. Karena masa depan, Mungkin saja mampu berubah di tangannya. Itulah sebuah intuisi yang sangat pekat terasa ketika Hashirama ada di dekat pemuda tersebut.
"Aku akan menjemput seseorang di kapal induk angkatan laut yang telah menjadi tempat pengungsian sementara untuk kembali kemari. Ternyata kami benar-benar masih membutuhkannya. Dan orang itu, Adalah seseorang yang sudah sangat kau kenal..."
Ungkap Hashirama yang terasa sedikit misterius. Membuat Naruto berpikir dalam hati, Siapa sebenarnya orang yang Hashirama maksud. Naruto memasang raut kebingungan ketika mendengar bahwa orang tersebut adalah seseorang yang sangat ia kenal. Sehingga Naruto mencoba untuk menerka-nerka dalam hati. Walau tidak ada satupun yang dapat terbayang olehnya.
.
.
.
.
.
.
.
"Ketika kami semua tengah berada dalam keputusasaan bahwa mungkin kami telah kehilangan dirinya... Naruto berjuang sendirian melawan Virus itu...'
.
.
.
.
.
.
.
'Dan memilih untuk menjalani takdir barunya sebagai seorang bayangan...'
.
.
.
.
.
.
.
'Meski ia berusaha sembunyikan identitasnya... Tetapi orang-orang hebat yang ada di sini sepertinya tetap bisa mengenalinya dan ingin lebih dekat dengan dirinya...'
.
.
.
.
.
.
.
'Saat kami mendengar ia bercerita bahwa ia dapat bertemu kembali dengan keluarganya... Kami berpikir bahwa itu adalah hal yang setimpal dengan penderitaan yang telah Naruto lalui selama ini...'
.
.
.
.
.
.
.
'Dirinya ikut serta dalam rapat rahasia antara berbagai fraksi pemerintahan dan pertahanan. Bahkan Presiden Jepang pun juga ikut terlibat di dalamnya.'
.
.
.
.
.
.
.
'Naruto berada di sana mendampingi Ayahnya sebagai perwakilan dari Organisasi ini. Ia berkata bahwa banyak ide dan pendapat yang para perwakilan fraksi masing-masing kemukakan untuk menanggulangi bencana mengerikan yang telah terjadi. Namun tidak ada satupun dari ide mereka yang dapat Tuan Presiden terima.'
.
.
.
.
.
.
.
'Mulai dari pengeboman Kota-Kota besar di jepang dengan nuklir dan lain sebagainya untuk membumi hanguskan para mayat hidup ganas di luar sana. Dan semua ide pendapat mereka memiliki dampak negatif dan resiko yang teramat besar bagi Jepang sendiri...'
.
.
.
.
.
.
.
'Namun dari sekian banyaknya pendapat yang mereka kemukakan untuk memulihkan kembali Negara ini, Hanya ide Naruto dan Ayahnya yang dapat Tuan Presiden terima.'
.
.
.
.
.
.
.
'Sebuah pendapat untuk merebut kembali Kota Konoha dari kumbangan kematian tanpa menghancurkannya menggunakan nuklir atau apapun yang berdampak negatif. Dengan semua pengetahuan yang Naruto miliki setelah bertahan dari penyebaran Virus mematikan yang telah terjadi, Ia mengutarakan segala kelemahan Zombie-Zombie itu kepada mereka.'
.
.
.
.
.
.
.
'Ide Ayahnya tentang pembekuan seisi Kota adalah pilihan paling tepat tanpa menghancurkan Kota terbesar di seluruh Jepang ini. Meminimalisir kerusakan yang tidak perlu, Dan dapat selamatkan orang-orang yang masih bertahan hidup di tengah-tengah apokalips ini seperti diriku, Sasuke-kun, Sona, Hinata, dan Kiba. Ide Naruto telah selamatkan kami dan semua Survivor yang tersisa dari kematian sia-sia...'
.
.
.
.
.
.
.
Hembusan nafasnya terdengar sangat berat tiap kali ia menghembuskannya keluar. Kedua tangannya bergelantung pada sebuah pipa besi yang mengkilap. Mencengkramnya kuat-kuat sembari menarik tubuhnya untuk bergerak ke atas lalu kembali ke bawah bagai sebuah hitungan. Pemuda itu sudah melakukan Pull Up lebih dari 100 kali tanpa berhenti. Hingga begitu banyak keringat yang menetes dan berjatuhan ke lantai putih ruangan isolasi ini.
Sebenarnya, Ia bukan hanya melakukan Pull Up saja. Tetapi pemuda itu sudah melakukan berbagai macam hal seperti Push Up, Shit Up, Berlari dan lain sebagainya. Di dalam ruangan isolasi serba putih ini, Naruto sudah lakukan banyak kegiatan yang dapat membuatnya lelah.
Di saat mencapai hitungan yang ke-120, Pemuda tersebut melepaskan cengkramannya dari pipa besi itu. Dengan bertelanjang dada ia jatuh terduduk di atas lantai sembari menghirup udara dalam-dalam. Keringat terus keluar mengalir dari tubuh yang mulai terlihat padat meski sebenarnya ia masih murid SMA.
Naruto mengusap dagu dengan wajah yang dipenuhi oleh peluh. Tak henti-hentinya ia menghirup nafas untuk mengisi paru-parunya yang sudah kehabisan oksigen. Dan duduk di sana sendirian untuk beristirahat sejenak.
.
.
.
"Dia sudah mencapai batasnya. Tetapi kami tidak menemukan reaksi yang berlebihan dari Virus dalam tubuhnya. Bagaimana menurut anda... Hashirama-taichou?"
Kata seseorang kepada pria berambut panjang hitam kecoklatan yang ada di belakangnya.
Di depan ruang isolasi di mana Naruto sedang berada di dalamnya, Beberapa Staff dari Divisi inteligensi sudah lama memperhatikan kondisi Naruto melalui kaca besar yang memungkinkan mereka untuk melihat apa yang ada di dalam sana. Termasuk bersama dengan orang yang bertanggung jawab atas pemuda berambut kuning tersebut, Sang Kapten Divisi Anti Bio-Terrorist Unit.
"Ia dapat menekan Virus itu walau dengan kondisi tubuh yang sudah kelelahan... Kita sudahi tes ini. Dia lulus."
Jawabnya sembari melangkah ke arah pintu otomatis yang menghubungkan ruangan di mana ia berada dengan ruang isolasi di sana.
JEEEEZZZHHH...
Pintu otomatis terbuka...
Naruto mendengar jelas suara tersebut. Lalu sesaat kemudian, Sebuah handuk putih tiba-tiba jatuh di atas kepalanya.
"Kau sudah kerahkan semua yang kau punya. Kau sudah lulus dari tes ini..."
Ucap Hashirama setelah melempar handuk untuk Naruto.
Sementara, Pemuda berambut kuning itu mencoba berdiri dengan kedua kakinya yang gemetar akibat efek kelelahan. Ia lega karena dirinya tidak lepas kendali ataupun berubah menjadi sesuatu yang mengerikan saat ia berada dalam kondisi benar-benar kelelahan.
Tes ini ada bukan untuk menguji fisiknya. Melainkan untuk meneliti pergerakan Virus yang masih hidup di dalam tubuhnya. Naruto mungkin sudah menjadi bagian dari Organisasi ini, Tetapi tidak mungkin Hashirama akan seseorang dengan Virus yang masih hidup di dalam tubuhnya untuk keluar berkeliaran menjalankan misi di luar sana tanpa adanya kepastian. Sebisa mungkin Hashirama mengetahui seluk beluk tentang batas Naruto bertahan dalam berbagai kondisi tubuh yang tidak memungkinkan untuk terus mengekang Virus tersebut tanpa membuatnya berubah.
Naruto melangkahkan kedua kakinya yang terasa begitu berat. Letih dan lelah seakan telah menguasai kendali atas tubuhnya sendiri. Melewati sosok Hashirama yang berdiri di dekat pintu masuk, Sembari bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana panjang hitam miliknya, Naruto terus berjalan dengan langkah-langkah berat.
Tidak jauh setelah ia keluar dari ruangan di sana, Tiba-tiba ia kehilangan keseimbangan atas tubuhnya. Naruto terhuyung ke depan. Membuatnya hampir jatuh ke lantai yang sangat keras. Namun seseorang tiba di hadapannya dan seketika menangkap tubuh letihnya itu.
"Pasti sangat berat bagimu..."
Ucap seorang pria berambut keperakan yang berhasil menangkap oleng tubuhnya ketika ia hampir saja akan terjatuh.
Kakashi memperhatikan tubuh mantan muridnya yang penuh dengan peluh tersebut. Sudah dua jam Naruto menjalani serangkaian tes berat untuk meneliti bagaimana pergerakan Virus yang ada di dalam dirinya.
"Bisakah aku minta semangkuk ramen..."
Ucap pemuda berambut kuning itu dengan nada pelan.
"Ramen tidak baik untuk kesehatanmu. Lagi pula tidak ada penjual ramen di dalam markas seperti ini."
Sahut Kakashi dengan ekspresi kalem menatap kondisi mantan muridnya itu.
Di mata Kakashi yang seorang agen rahasia dengan berbagai identitas samaran di setiap misi yang diberikan padanya tanpa pernah terikat oleh satupun rasa emosional terhadap orang-orang yang ia kenal dalam menjalankan sebuah misi, Kakashi akui... Inilah pertama kalinya ia berhadapan dengan sesuatu yang disebut dengan empati.
Dan juga inilah pertama kalinya, Ia merasakan sebuah hubungan yang kuat antara guru dan murid. Walau Konoha Gakuen hanyalah sebatas panggung dramanya untuk memata-matai pergerakan Red Qween dari jauh... Tetapi entah mengapa hanya pemuda ini yang mampu menciptakan sebuah ikatan antara ia dan dirinya.
Mungkin itulah sebuah alasan yang mampu menjawab mengapa Naruto begitu keras berjuang melewati semua ini demi teman-temannya. Naruto memiliki apa yang orang lain tidak miliki jauh di dalam dirinya.
Pemuda itu mampu memahami perasaan orang-orang di sekitarnya. Menjalin rajutan ikatan yang muncul di antaranya. Dan menjaga tiap ikatan yang sudah ia miliki dengan mereka. Meski terkadang ia tak peduli bila dirinya harus tersakiti demi melindungi ikatan tersebut.
Karena Naruto adalah sosok yang seperti itu. Membuatnya menjadi sosok seseorang yang tak akan pernah bisa terganti oleh siapapun di mata orang-orang yang telah memiliki ikatan dengannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sore senja perlahan tergantikan oleh sang malam. Kilau indah cahaya matahari yang lembut menyapa melalui celah-celah jendela kini telah padam dimakan gelap. Hanya hamparan bintang-bintang kecil yang menjadi pengganti elok sang mentari di atas langit sana.
Tak terasa sudah tujuh jam berlalu setelah akhir dari serangkaian tes yang ia jalani usai. Naruto duduk sendiri menghadap ke loker bernomor 4 yang ada di depannya. Raut wajahnya tak begitu jelas terlihat karena kepalanya tertutupi oleh sebuah handuk berwarna putih. Peluh dan keringat yang melekat di tubuhnya sudah lama mengering berjam-jam yang lalu. Hanya di ruang ganti ini ia terus duduk menunggu misi yang sudah ia tunggu-tunggu.
Kemeja biru beserta atribut miliknya tertaruh rapi di sampingnya. Tetapi belum sekalipun ia menyentuhnya semenjak masuk ke ruang ini. Hanya terpaku diam oleh sepi dan berteman dengan suara detik jarum jam di dinding. Tidak ada hal apapun yang Naruto lakukan selain menunggu saat-saat itu tiba.
CEKLEK...
Pintu kayu ruangan tersebut terbuka. Menampakkan sosok seorang gadis berambut pirang yang telah siap dengan atribut dan persenjataan lengkap. Bersandar sembari melirik Naruto yang menyendiri di sana.
Kedatangan Ino seperti sebuah tanda baginya. Bahwa misi yang sudah ia tunggu-tunggu akhirnya telah dimulai. Misi pribadi mencari anak Hashirama sekaligus mencari keberadaan di mana teman-temannya berada. Dan menemukan Hyuuga Hinata, Juga termasuk opsi penting dalam misinya.
Kedua tangan Naruto mengepal erat. Tidak akan ia biarkan Hinata jatuh ke tangan para ilmuan untuk dijadikan subjek penelitian. Tidak akan pernah ia biarkan gadis itu merasakan penderitaan terburuk sepanjang umur hidupnya di atas meja bedah. Sampai matipun tak akan pernah ia biarkan hal itu terjadi.
Naruto membuang handuk putih yang tersampir di atas kepalanya itu ke sembarang arah. Ia meraih kemeja biru milik Ayahnya tersebut lalu bangkit berdiri dan mengenakannya.
"Apa... Kau yakin dengan hal ini..."
Ucap sosok gadis di sana yang memperhatikan Naruto mengenakan kembali seragamnya itu.
"Bukan maksudku untuk mengejek... Tetapi untuk seseorang yang sama sekali tidak memiliki jam terbang sepertimu, Terjun langsung ke lapangan dan menjalankan sebuah misi di antara makhluk-makhluk seperti mereka... Itu bagaikan seperti kau coba untuk membunuh dirimu sendiri."
Lanjut Ino yang tidak sedetikpun mengalihkan direksi pandangannya sosok pemuda yang berada di sana.
Ino merasa ragu akan hal ini. Ia benar-benar ragu dengan misi yang akan pemuda itu jalani. Bukan tanpa sebab ia berkata seperti itu kepada Naruto. Karena dirinya pun pernah merasakan kejamnya Dunia di luar sana ketika penyebaran Virus misterius ini telah menguasai seisi Kota.
Walau menggenggam jam terbang yang mumpuni serta mendapat pelatihan yang super intens... Ino tetap merasakan adrenalinnya benar-benar terpacu ketika berada di tengah-tengah kepungan para mayat hidup kelaparan. Menjalankan misi melawan seisi Kota yang menggila, Ia akui itu adalah mimpi buruk!.
Bahkan dirinya juga pernah merasakan betapa mengerikannya bertahan di tengah-tengah Kota bersama para Zombie ganas tanpa satu butir peluru pun yang tersisa. Semuanya menjadi begitu kacau. Ia banyak kehilangan nyawa rekan-rekannya saat itu. Bahkan dirinya pun juga hampir kehilangan nyawanya sendiri.
"Tidak ada cara untuk berhenti..."
Gumam Naruto ketika jemari-jemarinya telah selesai mengancingkan setiap kancing kemeja birunya sampai menyisakan dua kancing teratas ke bagian kerah.
"Tidak pernah bisa aku menemukan cara untuk berhenti... Karena aku pun tidak pernah bisa berhenti memikirkan teman-temanku yang saat ini berada di luar sana."
Lanjut pemuda itu lagi sembari memakai rompi hitam sederhana sebagai standar kelengkapan atribut yang harus ia pakai.
"Kenapa kau begitu keras kepala hanya untuk hal yang masih belum bisa kau pastikan...?"
Sekali lagi Ino memberikan sebuah pertanyaan kepada pemuda pemilik sepasang iris biru nan indah tersebut. Tentang mengapa Naruto sangat ingin kembali menapakkan kakinya di luar sana. Mengapa sebegitu kerasnya Naruto ingin mencari teman-temannya itu di Dunia yang sudah dipenuhi oleh ribuan Zombie ganas dan kelaparan. Yang bahkan Naruto sendiripun tidak dapat memastikan apa yang ia cari itu masih hidup atau tidak.
Ino begitu penasaran. Ino ingin tahu apa jawabannya. Ino ingin mengetahui apa yang membuat Naruto rela membahayakan nyawanya sendiri hanya demi sesuatu yang belum pasti.
Gerak Naruto terhenti ketika ia telah memakai rompi dan Holster ke tubuhnya setelah mendengar pertanyaan gadis itu. Sejenak suasana menjadi hening. Tidak ada kata yang terucap di antara mereka. Entah itu Ino ataupun Naruto, Keduanya seolah termakan oleh sepi.
". . . . . . . . . . ."
"Aku yakin kau pun pernah merasakan rasa ini sebelumnya..."
"Di mana dirimu ingin semua rekan-rekanmu dapat kembali dengan selamat bersamamu. Kau tidak ingin ikatan yang telah terjalin di antara dirimu dan mereka terputus begitu saja. Seolah kau menginginkan ikatan itu tetap ada... Setidaknya seperti itulah apa yang tengah kurasakan saat ini."
". . . . . . ."
Ino terdiam setelah mendengar apa yang Naruto ucapkan. Tentang dirinya yang mungkin pernah merasakan bagaimana rasanya ketika ia tak ingin kehilangan siapapun yang selama ini telah ia kenal.
Mendengar kata-kata Naruto, Membuatnya teringat kembali akan misi di waktu itu. Di mana saat tersebut ia kehilangan banyak rekan-rekannya yang terbunuh secara mengenaskan di Kota kematian itu. Begitu banyak nyawa teman-temannya yang melayang dalam misi tersebut. Dan hal itu membuatnya seolah ingin berteriak sekeras mungkin sampai tenggorokannya putus.
Ino benar-benar kehilangan mereka yang selama ini telah berjuang bersama-sama dengannya dalam suka maupun duka. Menjalani latihan yang begitu berat hingga muntah darah. Semua suka dan duka yang telah ia lalui bersama mereka, Tanpa ia sadari telah menumbuhkan ikatan yang begitu berharga. Dan ketika Ino kehilangan mereka, Ia merasa semua ikatan berharga yang telah ada di antara mereka terampas begitu saja. Dan semua itu seolah hilang dalam waktu sekejap.
Dengan apa yang sudah coba Naruto sampaikan, Akhirnya Ino mengerti apa yang menjadi alasan bagi pemuda itu untuk rela menempatkan dirinya di antara bahaya yang dapat merenggut nyawanya.
"Setelah tragedi mengerikan ini terjadi... Kami sudah lalui banyak hal bersama-sama. Lelah maupun rasa sakit telah kami lalui hanya untuk bertahan dan terus hidup. Dan itu membuatku mengerti, Bahwa mereka semua sudah terukir jelas di dalam hatiku. Itu adalah hal yang tak mungkin bisa kupungkiri."
"Tak peduli kalaupun harus mati demi melindungi semua hal yang telah kami lalui bersama. Aku tak akan menyesalinya..."
Ungkap Naruto untuk menjelaskan apa yang saat ini ia rasakan. Semua kata-katanya berasal dari jauh dalam lubuk hatinya.
Dan hal itu benar-benar membuat Ino tak bisa mengatakan apapun selain hanya memandangi pemuda tersebut yang kini mulai melangkah mendekatinya. Semua kalimat darinya yang telah terucap, Tak ada satu pun nada keraguan yang terdengar. Benar-benar murni dari hati Naruto yang paling dalam.
Ino hanya termangu dan terdiam. Tak pernah dirinya berpikir akan ada seseorang yang seperti pemuda itu di Dunia ini. Tak pernah sekalipun ia bertemu dengan orang yang seperti Naruto. Dan ini adalah yang pertama kalinya Ino mendengar rangkaian kata yang mampu menggetarkan hati. Membuatnya mengerti bahwa pemuda itu benar-benar memiliki ikatan yang begitu kuat dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.
Tangan pemuda itu terangkat...
Menepuk pelan pundak Ino setelah berada tepat di sampingnya...
"Aku tahu sudut pandang orang-orang telah salah mengenai dirimu."
Gumam Naruto dengan alunan suara yang begitu lembut terdengar.
"Mereka bilang kau adalah orang yang berhati dingin tanpa pernah pedulikan siapa pun di sekitarmu. Tapi sejauh apa yang kulihat... Kau berbeda dari apa yang sudah mereka bicarakan..."
". . . . . . . . ."
"Aku tahu bahwa sebenarnya... Dirimu adalah seseorang yang paling menyayangi dan peduli terhadap rekan-rekannya. Karena ketika berada di dekatmu, Itulah yang aku rasakan."
Lanjutnya lagi dengan sebuah senyuman yang tertera di wajah tampannya.
Kedua manik gadis itu seketika terbuka lebar-lebar saat Naruto mengatakannya. Seakan-akan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Lagi-lagi Naruto mengatakan kata-kata yang membuat hatinya berguncang. Semua kalimat-kalimat itu mengalir dan keluar begitu saja tanpa ada yang dipaksakan.
Sembari memasukkan sepucuk Glock-17 ke sabuk Holster peninggalan Ayahnya, Naruto kembali melangkahkan kaki berjalan meninggalkan sosok gadis berambut pirang itu sendirian di sana.
Sedangkan Ino masih bersandar di antara engsel pintu dengan wajah yang tertunduk. Tidak terlihat seperti apa ekspresi raut wajahnya ketika telah mendengar kata-kata itu. Ino hanya bersandar di sana sembari memegang siku tangan kanannya sendiri. Helai-helai poni rambutnya yang panjang menutupi sebagian wajah putihnya itu.
Meski tak ada seorangpun yang mampu menerka seperti apa ekspresi raut wajahnya saat ini, Tapi ada satu hal yang sudah pasti terlihat di sana. Karena saat ini Ino tengah meremas sendiri siku tangan kanannya... Dengan kedua sudut bibir yang tertarik membentuk sebuah senyuman indah.
". . . . . . .Baka."
.
.
.
.
.
.
.
GLUDUKK-GLUDUKK-GLUDUKK-GLUDUKK...
Suara putaran baling-baling sebuah helikopter terdengar begitu bising mengambang terbang di langit malam. Dengan sinar lampu sorot yang ada di bawah moncongnya, Heli tersebut terbang melewati tiap-tiap bangunan yang ada tepat di bawahnya.
Membawa hanya seorang penumpang istimewa di kabin belakang, Pilot dan Co-Pilot helikopter ini berusaha untuk mengarahkan alat transportasi udara mereka ini ke jalur yang benar di antara gelapnya malam.
"Kita sudah hampir kehabisan bahan bakar. Tapi sebentar lagi kita akan sampai ke lokasi yang sudah ditargetkan sebelumnya."
Kata sang pilot memberi tahu seorang penumpangnya yang duduk di kabin belakang.
Meski terbatasi oleh gelapnya malam, Melalui sorot cahaya lampu yang helikopter ini miliki, Pilot dan asistennya tersebut dapat melihat dengan jelas banyak sekali Zombie yang berkerumun di bawah sana.
Ketika tempat yang mereka targetkan sudah tinggal sepuluh meter di depan mereka, sang pilot menghentikan laju helikopternya. Masih dengan mesin yang menyala serta baling-baling yang berputar, Helikopter tersebut melayang tepat di atas atap sebuah bangunan dengan 6 lantai.
"Lokasi telah terkonfirmasi. Tetapi kita tak bisa mendaratkan heli ini begitu saja ke bawah sana."
Ucap asisten pilot yang menatap ke arah atap sebuah bangunan di bawahnya. Merasa tidak yakin akan keamanan bila mereka mendaratkan heli ini di sana.
"...Tidak apa-apa."
Sahut penumpang istimewa mereka yang duduk sendirian di kabin belakang.
Penumpang yang adalah seorang pemuda berambut kuning rancung itu bangkit dari tempat duduknya dan menggenggam knop pintu geser helikopter ini. Tanpa ragu ia membuka pintu tersebut tanpa persetujuan dari sang pilot.
WUUUUUSSSHHH...
Angin langsung masuk mengisi seluruh sudut ruang di dalam heli ini. Membuat sang pilot beserta asistennya lekas menengok ke belakang dengan ekspresi terkejut.
"Itu berbahaya! Tolong tunggu sampai kami menurunkan tangganya!"
Pekik sang pilot mendapati pemuda itu telah mbuka lebar-lebar pintunya dan tengah menengok ke arah bawah sana. Seolah-olah sang pilot mengerti apa yang akan pemuda itu lakukan.
"Maaf... Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Kalian bisa kembali ke markas sekarang."
Sahut pemuda dengan kemeja berwarna biru yang terlapisi oleh rompi hitam tersebut sembari menatap jarak yang terpaut dari ketinggian helikopter ini dengan lantai atap bangunan di bawahnya.
Tanpa keraguan ia langsung menyodorkan beban tubuhnya ke depan untuk jatuh ke bawah. Sedangkan para pilot hanya bisa menatapnya dengan mata melotot. Tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat.
DRREEPP...!
Kedua alas sepatunya menyentuh permukaan lantai atap bangunan berlantai enam tersebut. Pemuda itu sukses mendarat ke bawah dari ketinggian 15 meter lebih. Mendarat di sebuah bangunan tua yang berlokasi di tengah-tengah pulau Gunkanjim
Ia bangkit berdiri, Bersamaan dengan tiap-tiap helai rambut kuning rancungnya yang bergoyang terhembus angin baling-baling helikopter di atas sana. Sang pilot mengarahkan lampu sorotnya tepat ke arah pemuda itu. Yang ternyata berhasil berhasil mendarat dengan mulus tanpa terluka sedikitpun.
Berhubung jarum penunjuk peserdiaan bahan bakar helikopter ini sudah menunjuk ke garis merah, Sang pilot memutuskan untuk segera kembali ke markas sebelum mereka kehabisan seluruh bahan bakar yang tersisa. Dan meninggalkan pemuda itu sendirian di tengah-tengah pulau ini dengan hanya bersenjatakan sepucuk pistol Glock-17.
'...Akhirnya aku bisa kembali bertemu dengan kalian.'
Gumam Naruto dalam hati sembari menatap lurus ke arah sebuah bangunan tua berlantai 5 tidak jauh di depannya.
Perlahan... Kedua kaki itu mulai melangkah ke depan. Dan semakin lama, Langkahnya terasa semakin cepat. Pemuda berambut kuning itu berlari mendekati sebuah gedung di depannya. Sebuah gedung yang menjadi titik lokasi ia mendapatkan sinyal ponsel milik sahabatnya.
'Minna. . . . . Mattekure!'
Semakin lama langkah-langkah itu kian semakin cepat. Sudah tak tertahan lagi degup jantung yang menandakan bahwa dirinya sangat ingin bertemu dengan teman-temannya.
Sampai di penghujung sisi akhir dari bangunan tua ini, Pemuda itu melompat di tengah gelapnya malam. Rambut kuning rancungnya tak berhenti diterpa sang angin. Menatap lurus ke arah sebuah jendela kaca bangunan di depannya. Sampai pada akhirnya ujung kaki pemuda itu menabrak dan memecahkan jendela kaca tersebut dengan sangat keras hingga hancur berkeping-keping.
PRRUUAAAANNKK. . .!
.
.
.
.
.
.
.
'Dan itu adalah bagian akhir dari kisahnya sebelum takdir mempertemukan kami semua kembali...'
.
.
.
.
.
.
(Flashback End...)
.
.
.
.
.
.
Sepasang manik indah berwarna hijau sehijau Emerald, Memandang dari jauh para pengungsi lain yang berada di area Lobby timur bandara yang sudah menjadi markas pengungsian sementara Organisasi Rahasia Konoha ini. Ketika ia coba menghitung berapa banyak orang-orang yang berhasil diselamatkan ketika operasi misi besar Organisasi Rahasia ini tengah berjalan. Namun ternyata ia tak mampu mendapatkan angka yang pasti saat mencoba menghitungnya. Karena begitu banyak warga Kota yang berhasil mereka selamatkan.
Ia menatap mereka dengan tersenyum senang...
Sekaligus memendam kesedihan yang tersirat di pancaran kedua manik hijau indahnya di waktu yang bersamaan...
Tidak ada satupun di antara sekian banyaknya para pengungsi di sini yang ia kenali. Tidak ada satupun dari anggota keluarganya yang bisa ia temukan di antara mereka. Ia sama sekali tak bisa menemukannya.
Divisi Anti Bio-Terrorist Unit sudah menuntaskan misi besar mereka sesaat yang lalu. Dan membawa seluruh warga Kota yang masih bertahan hidup di tengah maupun pinggiran Kota. Yang berarti semua pengungsi yang ada di sini adalah warga Kota Konoha terakhir yang masih hidup. Dan mungkin itulah yang kenyataannya. Mungkin dirinya tak bisa lagi melihat sanak saudara ataupun anggota keluarga yang lain. Dan mungkin saja dirinya tak akan mungkin bisa bertemu dengan kedua orang tuanya lagi untuk selama-lamanya.
Hal itulah yang membuatnya terhening dalam sebuah senyuman...
Suara langkah seseorang terdengar. Tiap-tiap langkah itu mengisyaratkan bahwa ada seseorang yang akan mendekatinya dari belakang. Tetapi gadis berambut Softpink tersebut nampak seperti tak menghiraukannya sama sekali. Atau mungkin masih belum menyadari ada seseorang yang telah berhenti tepat di sampingnya...?
"Ternyata kau di sini. Aku mencarimu semenjak tadi saat kau menghilang entah kemana."
Ucap pemuda dengan iris sehitam Obsidian di sampingnya. Namun seolah tak mendengar, Gadis itu hanya diam terpaku pada apa yang saat ini sedang ia pandang.
Merasa ada sesuatu yang aneh dengan sikap kekasihnya itu, Sasuke lantas mengedarkan direksi kedua matanya untuk menatap apa yang sedang Sakura lihat. Tetapi tidak ada yang istimewa dari pemandangan setiap pengungsi yang berada jauh di sana. Sasuke tetap tak bisa temukan apapun yang membuat gadis di sampingnya itu hening terdiam.
"Apa yang sedang kau lihat..."
Tanya pemuda Stoic itu yang sudah menyerah setelah tidak bisa menemukan apapun yang dapat menarik perhatiannya.
Lagi-lagi tidak ada jawaban yang terdengar. Tak ada satupun kata-kata yang terucap dari bibir gadis merah jambu di sampingnya itu. Hanya diam menghadap ke arah para pengungsi yang ada di sebelah sana. Dan entah mengapa Sasuke tak suka dengan suasana seperti ini. Ia sungguh tak mengerti apa yang sudah terjadi pada gadis itu sehingga tak menghiraukan kehadirannya.
Perlahan tangan Sasuke bergerak, Lalu menggenggam lembut pergelangan tangan Sakura yang masih terdiam. Sepertinya Sasuke berhasil menyadarkan gadis itu bahwa saat ini dirinya berada tepat di dekatnya. Membuat Sakura menoleh memperhatikan pergelangan tangan mungilnya yang sudah digenggam oleh kekasihnya. Namun saat wajah gadis itu mendongak menatap ke arahnya... Mulut Sasuke terkunci begitu saja dengan kedua alis yang saling mengernyit.
TES...
Satu per satu air mata Sakura mengalir jatuh ke lantai dengan raut wajah tersenyum. Tetapi ekspresi yang Sakura perlihatkan, Adalah ekspresi seseorang yang sudah tak mampu menghadapi kenyataan yang ada. Senang dan sedih... Bahagia dan kecewa... Satu per satu rasa itu muncul dan bercampur aduk di dalam hatinya. Membuat tetes demi tetes air matanya mengalir tanpa henti walau ia tengah tersenyum.
Sasuke tidak mengerti...
Pemuda tersebut benar-benar tidak mengerti apa yang telah terjadi pada kekasihnya itu. Tidak ada penjelasan sama sekali. Sasuke tidak bisa memahami apapun saat ini. Dan hal itu membuatnya berpikir tentang apa yang telah membuat Sakura tanpa sadar memperlihatkan ekspresi yang sangat menderita batin tersebut.
Para pengungsi yang selamat...
Dengan Sakura yang menatap ke arah mereka dengan air mata yang berjatuhan...
Sasuke mencoba menyatukan dua hal yang saling berkaitan tersebut. Coba mencari tahu jawaban atas pertanyaan mengapa gadis itu menampakkan raut wajah yang begitu menderita secara mental. Terlihat bagai seseorang yang telah putus asa setelah kehilang sesuatu yang sangat berharga di hidupnya.
'. . . .?!'
Seketika kedua mata Sasuke terbuka lebar-lebar ketika ia telah temukan apa yang membuat Sakura seperti ini. Lekas ia menarik tubuh rapuh gadis itu ke dalam pelukannya. Sasuke memeluk tubuh Sakura begitu erat dan menenggelamkan ekspresi wajah Sakura itu ke dadanya.
'Kenapa aku bisa sebodoh ini...?!'
Rutuk Sasuke di dalam hati saat dirinya sedikit terlambat tuk mampu memahami apa yang tengah Sakura rasakan. Siapa yang hatinya tidak hancur ketika mendapati bahwa dirinya tak bisa lagi bertemu dengan keluarga yang ia sayangi...?.
Gigi-gigi Sasuke bergemelatuk erat saat ia mengakui kebodohannya sendiri tak mampu mengerti. Kedua matanya terpejam dan membawa tubuh rapuh gadis itu semakin erat ke pelukannya. Seolah Sasuke sedang berkata, 'Kau tidak sendirian Sakura! Aku akan selalu ada di sini untukmu...!'
Dada Sasuke benar-benar sesak kala mengingat ekspresi raut wajah itu. Ekspresi yang mengungkap bahwa hati gadis itu benar-benar hancur oleh kenyataan yang ada di depan matanya. Sungguh tak ingin Sasuke melihat ekspresi wajah Sakura yang seperti itu. Ia bersumpah tak akan pernah membiarkan ekspresi raut wajah itu muncul kembali untuk yang kedua kalinya.
Entah mengapa mulutnya terkunci. Tak ada kata-kata yang bisa Sasuke ucapkan. Walau sebenarnya sangat ingin sekali ia mengatakan bahwa dirinya pun juga telah kehilangan kedua orang tuanya akibat tragedi memilukan yang sudah terjadi ini. Tetapi sayang tak satupun kata yang bisa terucap melalui bibirnya yang keluh.
Pundak Sakura bergetar. Gadis itu menangis... Menumpahkan segala kesedihannya dalam pelukan Sasuke. Menangisi semua kenyataan yang sudah mempermainkannya. Sakura terisak dengan pundak yang bergerak naik turun. Mencoba mencurahkan seluruh rasa sakit yang ada di hatinya.
"Aku tahu itu menyakitkan... Aku tahu bagaimana rasanya... Sakura. Semua kenyataan yang telah Dunia ini perlihatkan... Pasti sangat berat untukmu..."
Bisik Sasuke tepat di telinga gadis itu. Dan terus memeluk Sakura seolah tak ingin melepaskannya. Sasuke baru menyadari bahwa ternyata dirinya benar-benar sangat mencintai kekasihnya tersebut lebih dari apapun juga. Ia merasakan perih yang teramat menyakitkan saat sadar bahwa kehidupan lamanya tak akan pernah bisa kembali seperti sedia kala. Namun Sasuke jauh lebih tersakiti bila kembali melihat Sakura seperti sesaat tadi.
.
.
.
.
.
.
.
- The Place Of Hope -
.
.
.
.
.
.
.
Sepoi angin pagi menghembus masuk melalui jendela yang terbuka. Memainkan selambu oranye tipis transparan di sana sehingga membuatnya nampak sedang menari-nari oleh hembusan angin yang begitu lembut. Bersama dengan seorang pemuda yang masih menutup mata terbaring di ranjangnya. Dan seakan hanya bunyi-bunyi Elektrokardiogram yang mengisi keheningan di dalam ruangan itu.
Tidak begitu lama berselang, Sedikit demi sedikit kedua manik sebiru langit di luar sana perlahan terbuka. Menampakkan keindahan warnanya seperti sedia kala. Dan sejenak memandang putih warna langit-langit dalam ruangan ini.
Sosok pemuda berambut kuning itu telah terbangun dari rangkaian mimpi-mimpi indah tentang Dunia mengerikan ini yang telah kembali seperti semula.
Tetapi sayangnya...
Mimpi hanyalah sebuah mimpi...
Hari ini masih tetap sama seperti hari kemarin. Dan Dunianya yang mengerikan ini tak akan berubah menjadi Dunia yang tenang dan damai seperti di dalam mimpinya. Ia hanya baru saja bangun dari istirahat totalnya tanpa ada satupun hal yang berubah. Dan tak tahu kapan mimpi itu akan menjadi nyata suatu saat nanti.
Lama Naruto termangu menatap langit-langit ruangan ini dengan ingatan mimpi-mimpi damai yang mengambang di kepalanya. Sebelum akhirnya ia tersadar, Bahwa ada orang lain selain dirinya sendiri di ruangan ini. Seseorang yang terus memegangi tangan kanannya kala di saat ia masih terlelap memejamkan mata.
Naruto bangkit dari bantalnya dan duduk di atas ranjang itu. Kedua manik biru indah miliknya melirik ke arah seorang gadis yang duduk tertidur tepat di samping ranjangnya. Seorang gadis bersurai hitam yang masih terlelap dengan tangan yang selalu menggenggam tangan kanan Naruto.
". . . . . . . . . ."
Pemuda itu tersenyum lembut menatapnya. Memandang sosok gadis yang sedang menyandarkan kepalanya terlelap di tepi ranjang tersebut dengan tatapan hangat.
'Kau pasti... Sudah sangat lama menungguku di sini...'
Gumam Naruto dalam hati ketika memperhatikannya. Dengan jemari-jemari tangan kiri yang coba menyibakkan helai rambut hitamnya. Seolah ingin mengintip bagaimana raut wajah damai gadis itu saat tertidur lelap.
'Gomen na. . . . . Hinata-chan...'
Tatapan kedua iris biru matanya seolah semakin melembut saat dirinya berhasil melihat cantiknya wajah gadis yang masih menggenggam tangan kanannya itu walau sedang terlelap.
"Nnngg~..."
Terdengar lenguhan kecil dari gadis itu sesaat setelah jemari Naruto menyentuh helai-helai rambut poni hitamnya yang lembut.
'Upss~. . . . .'
Pemuda itu sedikit terkejut melihat Hinata yang mulai mencoba untuk bangun dari tidurnya. Dan entah mengapa ia merasa bersalah, Karena mungkin dirinya sudah mengganggu tidur gadis di sampingnya itu.
Hinata perlahan membuka kedua mata indahnya sembari menegakkan kepala dari posisi duduknya. Dan apa yang didapatinya ketika baru saja tersadar dari mimpi-mimpinya, Adalah sosok seorang pemuda berambut kuning yang menatap intens ke arahnya. Lengkap dengan tangan kiri yang nampak seperti telah menyentuh sesuatu dari wajah manisnya.
". . . . ."
"Ohayou..."
Ucap pemuda itu dengan nada yang begitu halus mengalun di gendang telinganya. Tak lupa beserta sebuah tatapan dan senyuman lembut yang seolah menjadi pelengkap. Membuat Hinata tersadar bahwa saat ini Naruto sedang menyapa dirinya. Karena hanya mereka berdua saja yang berada di ruangan ini. Hanya ada Naruto yang masih bertelanjang dada bersama sebuah selimut yang terurai di ranjangnya, Dan Hinata yang masih terus memegangi tangan kanan pemuda tersebut.
". . . . .Eh?!"
Pekiknya kecil karena terkejut. Baru saja tersadar bahwa tangannya itu masih menggenggam tangan kanan Naruto di sana. Sontak Hinata lekas melepaskan genggamannya dengan rona merah yang seketika muncul di antara wajah cantiknya.
Gadis itu tertunduk malu. Memalingkan wajah manisnya ke arah yang lain asalkan tidak bertatap pandang secara langsung dengan pemuda berambut kuning di depannya.
"O-... Ohayou~"
Ucap Hinata tergagap akibat menahan rasa malunya sendiri. Masih berusaha untuk sembunyikan wajahnya dari pemuda itu.
Sedangkan Naruto hanya bisa menahan diri melihat betapa imutnya gadis itu ketika sedang tersipu malu. Naruto terdiam di antara hilir sepoi hembusan angin yang masuk melalui jendela. Sebisa mungkin ia nikmati saat-saat yang baginya paling menentramkan ini. Karena mungkin, Tidak akan ada lagi kesempatan untuk bisa berdua bersama Hinata tanpa ada seorangpun yang mengganggu.
"Hinata..."
Panggil Naruto pelan. Masih tetap menatap gadis yang tersipu malu di dekatnya itu.
"...Sewaktu melihatmu yang masih ada di sampingku sampai ketika aku terbangun, Aku benar-benar merasa senang. Hatiku benar-benar senang..."
"Terima kasih... Hinata..."
Ucapnya mencoba untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan saat ini. Naruto mengungkapkan isi hatinya ketika ia mendapati Hinata yang terus menunggunya di ruangan ini. Naruto merasa sangat bahagia menyadari bahwa gadis itulah yang menjadi orang pertama yang ia lihat ketika dirinya terbangun dari tidur panjangnya. Hinata benar-benar setia menanti tersadarnya pemuda itu dari semua mimpi-mimpinya.
Sedangkan kedua mata indah Hinata kini terbuka lebar-lebar saat gendang telinganya mendengar jelas rangkaian kalimat itu. Hinata tidak pernah berpikir bahwa Naruto akan mengatakan hal yang seperti itu. Membuat seulas senyuman kecil terbentuk di antara wajah putih cantiknya. Hinata masih mencoba sembunyikan senyum kecilnya itu dari Naruto. Sembari menggenggam dan meremas kaos di dadanya.
Tetapi lama kelamaan, Bibir yang tengah tersenyum itu bergetar. Tetes demi tetes air mata mengalir begitu deras melalui pipinya yang putih. Entah mengapa dadanya terasa sesak. Dan Hinata pun sama sekali tidak mengerti mengapa dadanya terasa sesesak ini di kala ia merasa senang. Setelah sekian lamanya, Akhirnya ada seseorang yang mau mengucapkan kata terima kasih untuknya. Akhirnya ada seseorang yang mau mengakui keberadaannya yang sama sekali tidak berguna. Dan seseorang itu adalah Naruto...
Itulah satu hal yang paling istimewa yang mampu membuat rasa di dalam hati Hinata menjadi bercampur aduk seperti ini. Ia benar-benar merasa bahagia.
"A-Aku tidak tahu mengapa... Tapi ini benar-benar tidak mau berhenti..."
Kata Hinata yang sedikit tertawa kecil di antara tangisnya karena hal ini. Sudah berulang kali gadis itu berusaha mengusap air matanya dengan kaos lengan panjangnya. Tetapi aliran air mata yang terus bergulir jatuh itu belum berhenti juga.
Naruto termenung diam saat menatap gadis itu. Melihat Hinata yang berusaha menghentikan deras air matanya yang mengalir keluar. Hingga kaos panjang di pergelangan tangannya menjadi basah oleh air mata.
Gadis itu terkekeh pelan dalam tangis bahagiannya. Ia benar-benar terlihat seperti salah tingkah di hadapan Naruto. Tetapi pemuda berambut kuning tersebut tak melihat ada yang salah mengenai hal itu. Naruto tidak melihat sesuatu yang salah dengan gadis di sampingnya.
Tangan kanan Naruto terangkat. Mendekat menuju ke arah Hinata yang masih mengusap-usap mata yang basah. Dan lalu memegang belakang kepala gadis tersebut untuk menariknya mendekat.
". . . .?!"
Hinata sontak terkejut dengan apa yang baru saja Naruto lakukan. Dan Hinata nampak terlambat menyadari hal itu.. Karena kini kedua dahi mereka telah bersentuhan satu sama lain. Tangan kanan Naruto telah menarik kepalanya untuk menyatukan dahi mereka.
"Tak perlu menghapusnya. Keluarkan saja Hinata... Ungkapkan semuanya..."
Kata Naruto yang memejamkan kedua matanya sembari tersenyum lembut. Seolah ia telah mengerti apa yang membuat Hinata seperti itu. Membuat gadis itu tersenyum di balik tangis air matanya. Karena Naruto tahu, Bahwa Hinata masih belum menyadari betapa bahagia hatinya saat ini. Rasa bahagia yang sudah tidak bisa terbendung lagi oleh hatinya.
"Naruto-kun..."
Hinata mendengarkan apa yang Naruto ucapkan. Dan berhenti mencoba untuk menghapus semua air matanya yang terus menetes keluar. Kini gadis itu menarik senyuman indahnya untuk sedikit lebih lebar lagi. Mengeluarkan semua rasa yang tak bisa ia pendam dan tahan.
Mungkin dirinya yang bertemu dengan sosok Naruto dulu, Adalah sebuah anugrah terindah baginya. Mulai dari saat dirinya yang masih lumpuh di atas kursi roda miliknya, Hanya Naruto seorang yanh mau mengakui keberadaannya dan menerima Hinata apa adanya. Dan hanya pemuda itu seorang, Yang mau berbicara dengan dirinya sebagai seorang teman. Pertemuannya dengan sosok Naruto, Bagaikan sebuah takdir yang mampu membuatnya terlupa akan kejamnya Dunia saat ini.
Hinata terus menumpahkan semua air matanya. Sembari tersenyum ia memgingat kembali apa saja hal-hal indah yang pernah mereka lewati berdua. Dan potret sosok Naruto yang telah melakukan banyak hal untuknya, Akan selalu tergambar jelas di dalam lubuk hatinya walau akan usang termakan usia. Hinata benar-benar bersyukur telah mengenal pemuda yang ada di hadapannya ini.
'...Arigatou.'
.
.
.
.
The Place Of Hope
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Chapter 18 : "Terima Kasih..."
Main Cast : Naruto U., Sakura H., Sasuke U.
.
.
.
.
To Be Continue...
