Ahh... Sepertinya banyak yang berhenti mengikuti cerita ini hanya karena pair. Jujur cukup sedih dan kecewa sih pertamanya. Tapi hal itu aku anggap sebagai pengalaman untuk menjadi penulis yang lebih baik lagi.
Sedikit meluruskan, Tema dari seri-seri fanfic ini adalah 'Apokalips', bersama dengan tema pendukungnya yaitu 'Ikatan' (Bonds/Kizuna)
Jadi garis besarnya, untuk mendukung kedua tema tersebut, sengaja di cerita ini dikisahkan bahwa sang protagonis masih belum memiliki pasangan. Alasannya ya untuk bisa mempermudah alur ceritanya menjalin ikatan batin yang kuat satu per satu dengan setiap karakter yang ada. (Contohnya Arc Anko-sensei mungkin...?)
Tetapi author akan selalu mendengar kritikan dan saran masukan dari kalian kok. Sekalipun itu dalam berbentuk Flame T,T
Oh iya...
Dan review yang paling menggelitik di chapter sebelumnya adalah datang dari Hinatasya Aozora. Yang memberi saran bahwa sebaiknya Naruto tidak lagi memberi harapan palsu kepada para gadis bila di seri ini sistem Pairing Naruto mengambil dari sistem "In Real-Time" seperti pada game-game RPG.
Felix-kun akan mendengarkan penuh saran dari kamu kok, Aozora-san! ^^,
Uups... Apa catatan dari author terlalu panjang ya...? Kalau begitu silahkan membaca lanjutan cerita chapter yang lalu di bawah ^^,
.
.
.
.
.
.
.
Kesejukan pagi dan indah sinar mentari lembut menyirami mereka berdua. Korden oranye tipis tidak henti-hentinya menari terhembus sang angin. Dengan dahi yang saling tersatukan, Naruto dan Hinata coba berbagi senang dan duka dalam ikatan batin satu sama lain.
"Semua akan baik-baik saja."
Pemuda dengan surai kuning itu berucap dengan begitu lembut. Kata-kata yang mengalir bagai nada-nada indah, Membuat Hinata merasakan kehangatan yang ada.
"...Aku percaya itu, Naruto-kun."
Ucap Hinata yang mengusap sisa air matanya yang telah berhenti mengalir. Dirinya sungguh teramat senang telah mengenal seseorang yang seperti Naruto. Semua ketenangan yang sudah pemuda itu beri di antara kiamat Dunia seperti ini, Tidak akan pernah bisa tergantikan oleh apapun juga.
JEGLEEK...
Pintu ruang perawatan Naruto terbuka. Menampakkan seseorang yang terlihat begitu mirip dengannya. Menatap lembut pemandangan yang tersuguhkan di hadapannya.
"Sepertinya timing kedatanganku sedikit tidak tepat..."
Ujar Minato sembari memberikan senyum ceria ke arah mereka berdua.
"Ehh...?! I-Itu tidak benar-..."
Sontak Hinata langsung berdiri dan membalik tubuhnya dengan wajah yang merona padam, Sembari mengibas-ngibaskan kedua tangan kecilnya.
"Mungkin aku sudah mengganggu waktu berdua kalian, Tapi ada hal penting yang ingin kubicarakan dengan Naruto saat ini. Jadi..."
"S-Sama sekali tidak mengganggu-... Aku akan pamit keluar sekarang."
Sipu malu tergambar jelas di wajah Hinata. Dan gadis itu pun segera beranjak dari kursinya melangkah cepat ke arah pintu di dekat Minato. Sikap salah tingkah yang sangat jelas terlihat oleh mata.
"...Arigatou."
Ucap pria pemilik rambut berwarna kuning yang sama dengan putranya. Berterima kasih atas pengertian dari gadis tersebut sembari memberikan sebuah senyuman. Yang sebenarnya Minato telah menyadari bahwa Hinata baru saja menangis di ruangan ini. Terlihat dari bekas cairan bening yang masih terlihat di pelupuk mata indah miliknya.
Hinata membungkukkan tubuhnya sebagai rasa hormat kepada sosok pria paruh baya itu sebelum melenggang melewati pintu keluar. Sedangkan mata Minato masih menatap punggung gadis itu yang berjalan menyusuri lorong koridor sepi.
'Kau memiliki seorang putri yang sangat cantik... Hiashi.'
Gumam Minato sendiri dalam hati memandangi punggung gadis yang adalah seorang anak dari salah satu sahabat baiknya. Dan setelah memperhatikan sejenak lorong koridor ini untuk memastikan tiada seseorang yang datang, Minato menutup pintu secara perlahan.
Kini pria paruh baya tersebut berbalik badan untuk menghadap ke arah putranya. Sebentar Minato merogoh sesuatu di dalam saku celananya, Sebelum akhirnya melempar sebuah gulungan perban pembalut yang ia ambil dari sana.
Naruto menangkap benda yang Minato lemparkan ke arahnya seperti menangkap sebuah bola Baseball di tangan kanannya. Sang Ayah berjalan mendekat. Coba mengeliminasi jarak sedekat mungkin agar Naruto dapat mendengar suaranya dengan jelas.
"Ada empat hal penting yang harus kusampaikan padamu..."
Kata sang Ayah yang tepat di samping ranjang anaknya. Sedangkan Naruto hanya diam menunggu hal seperti apa yang akan Minato bicarakan sembari mulai melilitkan gulungan perban itu ke sekujur tangan kanannya.
"Yang pertama adalah..."
Minato sedikit lama menggantungkan kalimatnya. Membuat Naruto malah jadi semakin penasaran tentang apa yang ingin Ayahnya sampaikan.
"...Jika kau memilih gadis itu untuk menjadi kekasihmu, Maka seratus persen Ayah akan mendukungmu!"
Ujar Minato memasang senyum wajah tak berdosa sambil mengangkat satu jari tangannya.
". . . . . .Heh?!"
Seolah baru saja tersambar petir di pagi hari, Naruto menganga lebar-lebar dengan alis yang berkedut sebelah.
"Tunggu~... A-... A-Apa yang baru saja Ayah katakan tadi?!"
Rancu Naruto yang saat ini memasang raut wajah Shock stadium akhir. Benar-benar tidak percaya dengan apa yang orang di hadapannya ini katakan.
'Apa-apaan yang dikatakannya itu?! Apa Ayah bercanda?! Apa Ayahku sedang bercanda?! Jika memang iya berarti Ayahku punya bakat melawak yang terpendam...!'
Cibir Naruto dalam hati menatap Minato dengan tatapan Yang-Benar-Saja!. Apa yang telah Ayahnya ucapkan sungguh membuat Naruto terkejut hingga membuat tangan kirinya yang sedang memperban tangan kanannya berhenti bergerak.
Sejenak Minato masih memberikan senyum tak bersalah, Sebelum akhirnya senyum itu menghilang dan tergantikan oleh raut wajah yang serius. Menatap kedua mata biru putranya itu dalam-dalam.
"Naruto... Seberat dan sesulit apapun nanti, Kau harus melindungi gadis itu. Lindungilah dia seperti melindungi nyawamu sendiri."
Ucap sang Ayah yang nampak sangat-sangat serius mengenai hal ini. Sedangkan Naruto hanya diam terpaku oleh kata-katanya. Karena tidak ia sangka bahwa Ayahnya akan mengatakan hal yang seperti itu.
Termangu diam, Bukan berarti Naruto tidak tahu alasannya. Tapi Naruto sudah mengerti benar alasan mengapa ia harus melindungi sosok Hinata walau apapun yang akan terjadi. Naruto benar-benar memahaminya. Karena Hashirama pernah membicarakan hal ini juga waktu itu. Tentang Hinata yang tidak lain dan tidak bukan adalah kunci masa depan dari Dunia yang telah runtuh ini.
Mungkin suatu saat nanti, Hinata bisa saja jatuh ke tangan para ilmuan dan berakhir menjsdi subjek penelitian. Hal yang akan membuat gadis itu menderita seumur hidupnya.
"...Aku tahu itu."
Naruto memberi jawaban dengan kepastian dari hati, Bahwa ia akan melindungi Hinata segenap nyawa sampai akhir hayatnya walau Dunia akan menjadi usang sekalipun. Tidak akan pernah ia biarkan kehidupan, Bahagia, dan kilau senyuman indah Hinata terenggut sia-sia.
"Dan hal yang ketiga... Hal yang paling penting yang harus kau dengarkan baik-baik..."
Kali ini Minato menatap Naruto dengan wajah tidak main-main. Nada yang ia keluarkan benar-benar terdengar serius dan kritis. Seperti sesuatu yang sangat penting yang harus putranya itu ketahui dan pahami.
". . . . . . . ."
"Mulai sekarang... Jangan pakai kekuatan itu lagi..."
Ucap pria tinggi bersurai kuning tersebut. Tanpa ada nada-nada canda seperti saat pertama kali ia berbicara. Mata biru itu menatap hingga ke ruang paling dalam dari sepasang iris Sapphire putranya. Satu tatapan yang tak pernah Naruto lihat sebelumnya.
". . . . . . . ."
Seluruh urat syaraf Naruto bagai dipaksa untuk menegang. Kedua manik biru indah miliknya terbuka lebar-lebar setelah Minato mengungkap sesuatu apa yang saat ini ia miliki. Naruto tercengang. Mendapati sosok Ayahnya telah menyadari kekuatan yang ada di dalam dirinya.
"Sesuatu yang mampu menyembuhkan luka-luka yang kau dapat secara instan... Sesuatu yang dapat membuatmu masuk ke zona yang lebih dalam... Jauh melewati batasmu sebagai seorang manusia... Jangan pernah gunakan itu lagi... Naruto." Lanjut pria yang berdiri di hadapannya. Dengan semua penekanan nada yang ia keluarkan.
Bukan berarti Naruto belum mengetahui siapa sosok seseorang yang kini sedang berbicara dengan dirinya. Tetapi sekarang Naruto tahu alasan terkuat Organisasi ini untuk menjadikan Ayahnya itu sebagai pemimpin dari Divisi Inteligensi. Bukan hanya kepintaran serta kejeniusan belaka... Intuisi yang selama ini Minato miliki melebihi batas terawangan manusia pada umumnya. Membuat sosok Ayahnya itu dapat menyadari kekuatan baru yang Naruto miliki. Yang bahkan Hashirama pun tak bisa mengetahuinya dengan pasti.
"Jadi Ayah... Sudah mengetahuinya..."
Gumam Naruto dengan suara pelan beserta nada tercengang yang ia tunjukkan.
"...Organisasi ini memang sangat membutuhkan kekuatan yang nyata seperti itu. Tapi, Sebagai seorang Ayah... Aku sangat mengkhawatirkanmu, Naruto."
Minato menunjukkan selembar kertas yang menampakkan dua gambar bagaimana kondisi otak Naruto saat sebelum misi dimulai, Serta saat misi yang ia jalankan telah usai.
"Setiap kali kau menggunakannya... Saat itu juga setiap ribu sel Neuron di otak kananmu hancur oleh pergerakan Virus yang mulai menyebar. Ketika kau memaksakan untuk menggeser batas yang kau miliki, Sama artinya kau memperbolehkan Virus itu untuk menguasai dirimu."
"Skenario terburuk yang pernah terpikirkan olehku ketika Virus itu telah seutuhnya menguasai kedua belah otakmu adalah... Kau akan kehilangan jati dirimu sendiri sebagai seorang manusia..."
". . . . . . .?!"
Bagai tersambar rentetan petir di pagi hari, Naruto benar-benar diam membisu dan ternganga mendengar apa yang Minato jelaskan. Ia akan menjadi salah satu dari jutaan Zombie ganas di luar sana, Jika ia terus menerus menggunakan kekuatan itu.
Di depan matanya, Melalui lembar kertas tersebut Naruto melihat dengan jelas kerusakan otak kanannya bertambah parah menjadi 24% dari yang sebelumnya. Kata-kata Minato tak terbantahkan. Selembar kertas itu sudah cukup untuk menjadi bukti bahwa kekuatan yang ia dapatkan ini benar-benar telah mengambil sisa umurnya sendiri. Sesuatu yang bahkan tak pernah terpikirkan olehnya.
'Aku... Akan kehilangan diriku sendiri~...'
Kedua mata Naruto bergetar di balik keterkejutannya, Tentang semua yang masih belum ia ketahui selama ini. Menatap kenyataan getir yang tidak ia sangka-sangka.
Sejenak Minato terdiam setelah melihat dengan jelas reaksi putranya setelah mengetahui akan hal ini. Pria paruh baya itu meraih sebuah korek di sakunya. Lalu mulai memantik api kecil yang perlahan-lahan membakar habis lembar kertas di tangannya. Bau asap kusam tercium pekat. Menyebar keluar melalui jendela yang terbuka.
Minato membakar selembar bukti yang akan dapat membuat putranya dalam masalah yang lebih besar di dalam Organisasi ini. Minato mencoba melindungi Naruto dengan caranya sendiri. Walau dirinya adalah ketua dari Divisi Inteligensi yang Organisasi Rahasia ini miliki. Tak akan ia biarkan orang lain mengetahui kebenaran kelam yang saat ini putranya miliki. Bahkan kepada Hashirama sekalipun.
Direksi sudut mata Minato beralih melirik ke sebuah rokok matic milik putranya yang tergeletak di atas meja. Tangannya menggapai benda yang memiliki secerca titik cahaya biru yang berpendar di tengah Casing kaca rokok itu.
"Reaksi Nuklir... Adalah satu-satunya sesuatu yang mampu menghentikan mutasi genetis dari Virus ini..."
Ucapnya sembari menatap dalam-dalam rokok matic yang ada di genggamannya tersebut. Lalu Minato menyodorkan benda milik putranya tersebut kembali ke pemiliknya.
Naruto meraih apa yang Minato sodorkan kepadanya...
"...Itulah alasan mengapa aku meminta Kushina membuat benda ini untukmu."
Ungkap Minato setelah memberikan benda itu kembali kepada putranya.
Genggaman Naruto seketika mengerat memegangi sebuah benda yang telah Ibunya buatkan. Rokok matic yang tersimpan reaksi Nuklir berskala kecil di dalamnya. Di racik sedemikian rupa untuk mengurangi efek negatif yang dapat sebabkan radiasi hebat yang tidak dibutuhkan. Kushina telah menciptakan itu hanya untuk Naruto yang tersayang.
Tanpa pemuda itu sadari... Secerca air mata mengalir begitu saja melalui pelupuk mata kanannya. Sebelah mata yang sudah biasa termakan oleh mutasi Virus yang ada di dalam dirinya.
'Kaa-san~...'
Gumam pelan Naruto dalam hati. Tangan kirinya mencoba untuk menyeka linangan air mata yang tak bisa berhenti untuk terus mengalir. Menangis dengan apa yang baru ia sadari di dalam hatinya. Menyadari bahwa ia benar-benar sangat merindukan sosok Ibunya tersebut. Seorang wanita yang menyayangi dirinya melebihi apapun di Dunia ini tanpa perlu balasan apapun.
Dirinya yang selalu bisa memahami orang lain. Dirinya yang selalu mampu mengerti perasaan orang lain. Dirinya yang selalu bisa membuat ikatan kuat di antara orang-orang di sekitarnya. Namun tak bisa sekalipun mengerti apa yang ada di hati Kushina. Berulang kali Naruto mencoba memahami apa yang Ibunya inginkan, Tetapi sama sekali tak pernah tersampaikan pada dirinya. Begitu sulit hanya untuk sekedar berkomunikasi lewat untaian kata, Yang Kushina sendiri tak mampu untuk mengucapkannya.
Bukan salah Ibunya... Hanya saja Naruto merasa bahwa dirinya lah yang belum mampu untuk mengerti setiap kata bahasa yang Kushina coba tunjukkan melalui gerak jemari-jemarinya.
"Lalu... Apa yang keempat..."
Ucap Naruto bertanya kepada Ayahnya. Menanyakan hal penting terakhir yang ingin Minato sampaikan kepadanya.
"Yang terakhir adalah..."
.
.
.
.
.
.
.
- The Place Of Hope -
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Horror, Adventure, and Gore
Caution! Contains violance & profanity (17th +)
.
.
.
.
.
.
Derap suara langkah dua insan muda terdengar di sepanjang Lobby bandara yang sudah diduduki oleh sebuah Organisasi Rahasia hebat. Berjalan berdua dan saling melangkahkan berdampingan layaknya sepasang kekasih. Udara yang segar terbawa oleh angin pagi terasa begitu menyegarkan. Seolah memberikan kesempatan bagi mereka untuk menikmati waktu-waktu berdua yang telah hilang.
Rambut kuningnya tersapu ringan oleh hembusan angin yang lewat. Terus melangkahkan kedua kakinya santai di samping seorang gadis putih berwajah begitu manis. Sudah sangat panjang waktu yang hilang bagi mereka untuk bersama, Namun tak ada satupun kata yang terucap di antara mereka berdua. Entah kecanggungan yang mulai mengganggu atau ada alasan lain yang membuat suasana di antara kedua insan ini begitu senyap.
Semenjak tadi, Naruto terus melirik Hinata yang berjalan bersama di sampingnya. Melirik seorang gadis yang sudah menjadi sosok yang sangat spesial di hidupnya. Tak akan ia biarkan ikatan yang telah ia rajut bersama dengan gadis itu diputus dengan mudahnya oleh semua rantai tragedi mengerikan yang telah terjadi.
Terbesit di hatinya untuk membicarakan tentang sesuatu, Atau mungkin tentang banyak hal ketika mereka berdua terpisah saat itu. Tetapi Naruto tak bisa ungkapkan apapun. Tak ada satupun kata yang terlintas untuk memulainya. Yang dilakukan pemuda pemilik sepasang iris indah sebiru langit cerah itu hanya mencuri lirik ke arah Hinata. Mereka berdua masih diam tanpa kata bahkan sampai langkah kaki mereka membawanya keluar lapangan lepas landas bandara ini.
Hinata berhenti melangkahkan kakinya setelah keluar dari area Lobby. Kedua manik indahnya menatap ke arah para pengungsi yang berkumpul di sebelah sana. Dengan banyaknya personel yang tengah melakukan pekerjaan mereka masing-masing. Seketika angin utara menyapa sosok dirinya yang berdiri di depan pintu keluar bersama seorang pemuda di sampingnya. Helai-helai rambut halus miliknya terbang termainkan oleh sang angin yang menghembus ke arahnya.
Sedangkan Naruto masih terus melirik ke arahnya tanpa sepengetahuan Hinata. Menatap gadis berambut hitam itu dengan tatapan yang sulit untuk di jelaskan. Teringat dengan apa yang Ayahnya katakan padanya sesaat yang lalu.
'Lindungilah dia seperti melindungi nyawamu sendiri...'
Kata-kata itu menggema di dalam kepalanya. Sesuatu yang akan selalu Naruto ingat sampai akhir hayatnya. Menyadari betapa sosok gadis cantik berponi itu menjadi sangat istimewa untuk Dunia ini. Begitu juga... Di dalam Dunianya yang penuh dengan kerikil bebatuan tajam.
". . . . . ."
"Hinata..." Panggil pemuda bersurai kuning itu.
"...Ha'i?"
Jawab Hinata yang saat ini tengah memegangi sisi rambut hitam panjang miliknya, Yang menari terhembus sejuk angin pagi agar tak menutupi wajahnya. Namun hal itu justru membuat sosok Hinata menjadi jauh lebih cantik dari biasanya.
"Aku..."
". . . . . . .?"
"Aku... Akan selalu melindungimu. Entah dengan cara seperti apapun. Meski hingga saat matahari terbit dari barat sekalipun... Aku akan tetap melindungimu...!"
Kata pemuda itu mengungkapkan sesuatu yang sedari tadi ingin ia ucapkan. Dengan tangan kanan terbalut perban yang tertaruh di dadanya, Seolah itu adalah tanda kata-kata tersebut keluar begitu saja dari lubuk hatinya yang paling dalam. Akhirnya Naruto mampu menembus dinding canggung yang sudah membatasi kedekatan mereka berdua.
Sedangkan untuk Hinata yang masih terkejut dengan apa yang baru saja Naruto utarakan kepadanya, Gadis itu hanya bisa membalas dengan sebuah senyuman lembut yang begitu hangat.
"Jadi-... Maukah... Maukah kau menjadi..."
Tangan kiri Naruto yang terkepal bergetar dengan erat. Tak mampu selesaikan apa yang akan menjadi kalimat terakhirnya. Pemuda itu merasa sangat sulit membuka mulutnya untuk melengkapi kalimat yang sederhana itu. Tetapi, Sebelum Naruto mampu mengucapkan satu kata terakhir dari rangkaian kalimatnya, Hinata terlebih dahulu mengalihkan pandangannya ke arah seorang anak kecil yang menangis sendiri di ujung sana.
". . . .?"
Naruto hanya melirik helai demi helai rambut hitam milik gadis itu yang melewati dirinya begitu saja dan berlari ke arah lain.
Langkah kakinya berhenti tepat di depan seorang gadis kecil yang berjongkok bersandar di dinding sambil menangis sendirian.
"Kenapa kau menangis...?"
Tanya Hinata yang membungkukkan tubuhnya dengan kedua tangan yang bertumpu pada kedua lututnya.
"Aku... Aku... Tidak bisa menemukan Yuu-Oniichan di manapun~"
Jawab gadis yang nampak masih berumur sekitar 12 tahun tersebut sembari terus terisak dalam tangisnya.
Tatapan mata Hinata berubah menjadi sayu setelah mendengar jawaban dari gadis kecil itu. Rasa iba seketika menusuk relung hatinya. Mengerti akan arti kata-kata 'Tidak bisa menemukannya di manapun,'
Mungkin gadis kecil ini masih belum menyadari bahwa hanya dirinyalah yang tersisa dari seluruh keluarga yang ia miliki. Mungkin sosok seorang kakak yang selalu ia cari sudah tak bisa lagi ia temui. Mungkin sosok kakak yang selalu ia cari selama ini sudah menjadi bagian dari jutaan mayat hidup di luar sana.
Naruto melangkah mendekati mereka berdua. Dan kedua kakinya berhenti tepat di samping Hinata. Sama-sama merasakan apa yang Hinata yang ada di sampingnya itu rasakan saat melihat isakan tangis gadis kecil ini.
"Apa itu... Milik Yuu-Oniichan?"
Tanya Hinata ketika direksi matanya tertuju pada sebuah busur panah lipat yang ada di genggaman gadis kecil tersebut. Dan ia pun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Souka..."
Sahut Hinata singkat sembari sedikit memberikan sedikit senyumannya. Walau tatapan kedua mata indah miliknya jelas masih menyiratkan rasa iba yang sayu.
"Ini pemberian dari seseorang yang tidak Ayumi kenal kemarin nano desu~..."
Kata gadis kecil itu menjelaskan bagaimana sebuah Compound Bow yang biasa digunakan oleh kebanyakan atlet panahan profesional itu bisa ada di tangannya. Dan melalui penjelasan singkat Ayumi, Gadis kecil itu tentang pemberian dari seseorang di hari kemarin, Membuat Naruto merasakan ada hal yang sedikit ambigu di situ. Untuk apa seseorang memberikan busur panah seperti itu kepada seorang gadis polos seperti Ayumi...?
Di saat Naruto mulai memikirkan tentang keambiguan ini, Hinata tidak terlalu ambil susah mengenai hal itu. Yang ada di pikirannya saat ini, Hanya tertuju kepada seorang gadis kecil di depannya.
"Namamu, Ayumi... Ya kan?" Tanya Hinata setelahnya. Lalu satu tangannya terangkat dan mendarat di pucuk kepala Ayumi dengan lembut.
"Tenanglah... Tidak perlu menangis lagi... Pasti Yuu-Oniichan akan sedih bila melihatmu terus menangis seperti ini. Jadi cerialah... Semua pasti akan baik-baik saja."
Ucap Hinata sembari mengusap-usap pucuk kepala gadis yang masih memakai Blazer sekolah berwarna biru gelap, Lengkap dengan pita merah berenda yang menjadi dasinya seragamnya itu.
Sedangkan Ayumi terdiam. Menatap sosok Hinata yang sedang mengusap pucuk kepalanya. Entah ia merasa ada aura yang begitu menghangatkan hatinya ketika Hinata mengucapkan setiap penggal kalimatnya. Ayumi menyeka sisa air mata di pelupuk matanya. Lalu mengangguk sebagai sebuah jawaban dengan diiringi senyum yang kembali bersinar di wajahnya.
Sejenak Naruto menatap pemandangan ini. Melirik sosok seorang gadis yang sangat berarti di sampingnya. Merasa bahwa Hinata terlihat begitu dewasa ketika menyikapi masalah tersebut. Tanpa memberikan harapan yang palsu dengan mengatakan, 'Kakakmu pasti akan datang!' ataupun, 'Dia pasti masih hidup di luar sana!'
Dengan sifat dan sikap yang begitu hangat serta dewasa itu, Naruto semakin memandang Hinata sebagai seorang gadis yang sangat istimewa.
Untuk Dunia ini...
Maupun untuk dirinya sendiri...
.
.
.
.
.
.
.
- The Place Of Hope -
Chapter 19 : "Their Bonds"
Genre : Horror, Adventure, and Gore
Main Cast : Naruto U., Sakura H., Sasuke U.
.
.
.
.
.
.
.
Lima jam telah berlalu. Dan udara pagi yang sejuk pun kini tergantikan oleh terik cahaya sang mentari siang. Seorang pemuda dengan kemeja berwarna biru lengkap dengan sebuah rompi sederhana yang melapisinya, Sedang bersandar santai pada dinding di belakangnya. Sendirian menunggu hasil dari sebuah rapat penting yang tengah berlangsung.
.
.
Tidak jauh dari lorong koridor di mana pemuda itu menunggu, Sebuah ruang Manager bandara ini telah berganti menjadi ruangan untuk mendiskusikan rencana apa yang harus Organisasi Rahasia Konoha lakukan selanjutnya. Meja-meja kerja bekas para Staff bandara terdahulu kini disatukan menjadi sebuah meja yang teramat lebar. Tidak ada barang apapun di atas permukaan meja sana selain lembar-lembar cetak denah Kota Konoha dan beberapa dokumen rahasia penting lainnya.
Lima orang termasuk sang Tuan Presiden duduk di kursi yang telah disediakan mengelilingi setiap tepi meja tersebut. Para pemerintah seperti menteri pertahanan dan menteri luar negeri mengenakan setelan jas hitam mereka. Sebagai sebuah tanda bahwa mereka juga memiliki kedudukan yang tinggi di ruangan ini. Dan jangan tanya di mana keberadaan para menteri atau senat yang lain. Karena hanya ini lah yang tersisa di antara mereka semua setelah tragedi Outbreak yang telah terjadi.
Rapat sudah berjalan dua belas menit yang lalu. Pendapat-pendapat telah di kemukakan. Saran seperti ini dan itu untuk mengembalikan Jepang pada kondisi semulanya sudah diperdengarkan. Tetapi masih belum ada satupun buah pemikiran mereka yang membuahkan dapat diterima secara sepakat.
Semua rencana yang mereka katakan selalu memiliki dampak negatif yang lebih besar ketimbang efek yang dihasilkan. Tetapi Minato Namikaze yang mewakili Divisi-3 masih tetap diam tanpa satu katapun yang terucap dari mulutnya.
Minato hanya diam mendengarkan dengan seksama semua masukan yang Hashirama dan para menteri itu perdebatkan. Dan Kakashi yang berdiri sebagai pendamping di belakang Minato seperti tahu bagaimana ketua dari Divisi Inteligensi ini akan bertindak.
"Kita bisa mencoba untuk berkomunikasi negara tetangga. Lalu mencoba untuk meminta bantuan kepada mereka. Dengan begitu kita bisa merebut kembali Kota-Kota besar yang lainnya."
Kata menteri luar negeri.
"...Kurasa itu akan terlalu sulit jika kita memperhatikan baik-baik bagaimana penyebaran pandemik ini keluar dari zona Jepang. Karena kita pun harus mengingat satu fakta yang tidak bisa kita bantah lagi. Bahwa Jepang lah awal dari di mana semua penyebaran ini terjadi. Meminta bantuan kecil pada negara lain hanya akan membuat citra negara ini lebih buruk di mata mereka. Belum lagi mereka semua masih dipusingkan pada pencarian cara untuk menanggulangi penyebaran ini sama seperti kita."
Sahut Hashirama yang sedikit tidak setuju dengan apa yang menteri luar negeri paparkan. Dan sepertinya yang lain mengaangguk sebagai pembenar dari apa yang telah Hashirama katakan.
"Kekurangan pasukan membuat kita terpaksa berhenti melangkah di tengah jalan. Sepertinya tidak pilihan lain kecuali memberikan senjata kepada para warga Kota yang berhasil diselamatkan. Dan mbuat mereka berjuang bersama kita. Dengan begitu, Kuantitas dapat menutupi kualitas."
Ungkap menteri pertahanan mengenai apa yang ada di dalam pikirannya mengenai kebuntuan ini.
Tetapi hal itu justru membuat sepasang alis seorang gadis berambut pirang di belakang Hashirama mengernyit tajam. Setelah mendengar pendapat yang telah menteri pertahanan itu berikan, Benar-benar membuat kedua tangannya terkepal erat.
"Memberi senjata kepada para pengungsi...? Candaan macam apa ini...?"
Ungkap Ino yang agak kesal dengan hal tersebut.
Membuat semua pasang mata kini tertuju kepadanya. Terlebih untuk sang menteri pertahanan yang telah mengemukakan pendapat itu sendiri.
"Sepertinya kau masih terlalu muda untuk menyela pembicaraan ini, Gadis kecil."
Cercanya begitu menusuk hati.
Mendengar hal itu justru membuat Ino lebih emosi lagi. Disebut masih di bawah umur tanpa pengalaman apapun tentang mempertahankan sebuah negara dari segala krisis yang ada, Membuat Ino jauh lebih kesal dari sebelumnya. Ingin ia membalas kata-kata yang menusuk itu dengan nada tinggi, Tetapi Kakashi terlebih dulu menyela apa yang ingin ia ucapkan.
"Yamanaka... Tenangkan dirimu. Di ruangan ini, Berbikirlah sebelum berbicara."
Kata Kakashi yang bermaksud untuk menyelamatkan nama baik Hashirama sebelum personel yang mendampinginya itu benar-benar akan mempermalukannya di depan Tuan Presiden. Walau sebenarnya juga Kakashi ingin menghentikan Ino sebelum ia terkena masalah yang lebih ruyam nanti.
Tetapi Kakashi malah diberi Deathglare mengerikan dari gadis berambut pirang tersebut. Karena saat ini Ino merasa bahwa ia sedang diceramahi oleh orang yang sok lebih tua darinya.
"Ngomong-ngomong... Siapa orang yang ada di belakangmu itu, Namikaze Minato...? Aku belum pernah melihat wajahnya di daftar keanggotaanmu divisimu."
Tiba-tiba sang Presiden bertanya kepada Minato yang masih duduk santai berdiam diri di kursinya. Kakashi pun langsung terdiam. Membuat Ino tertawa dalam hati melihat ekspresi Kakashi saat ini.
Yang sebenarnya bukan hanya Tuan Presiden saja yang dibuat bingung dengan identitas orang itu. Tetapi Ino pun juga pernah merasakan hal yang sama ketika Kakashi menyusup ke skuadnya ketika menjalankan Operation Rescue beberapa saat yang lalu.
'Heh... Rasakan itu, Serangga rawa! Dasar penumpang gelap!'
Teriak Ino gembira dalam hatinya.
". . . . . ."
"Hanya anggota yang baru bergabung, Tuan Presiden. Akhir-akhir ini ada beberapa orang yang bergabung masuk. Karena kurasa kita sangat membutuhkan tambahan personel dalam Organisasi ini."
Jawab Minato begitu tenang tanpa membongkor identitas Kakashi yang sebenarnya. Ia memamfaatkan kata-kata dari kalimat yang Tuan Presiden baru bicarakan sesaat tadi dengan cepat.
"Begitu..."
Orang nomor satu di Jepang yang ada di sana bisa menerima alasan yang baru saja Minato beri tanpa ada kecurigaan berlebih. Namun tetap saja Kakashi merasa hampir membuat Taichou-nya itu kerepotan.
"...Maaf." Kata Kakashi dengan suara pelan kepada Minato.
"Tidak apa-apa. Itu bukan salahmu."
Minato pun menjawab dengan suara yang pelan juga agar tidak ada seorangpun yang mendengar selain dirinya dan pendampingnya tersebut.
"Ngomong-ngomong... Sedari tadi kami masih belum mendengar usul apapun darimu. Jadi... Bagaimana tentang pendapatmu mengenai hal ini, Namikaze Minato...? Apa kau memiliki saran untuk pertemuan ini?"
Tanya Presiden lagi kepada salah seorang yang dikenal sebagai sosok paling jenius di dalam Organisasi ini.
"Maafkan aku tentang hal itu, Tuan Presiden. Sebagai seorang ketua dari Divisi Inteligensi, Diriku pun memiliki sebuah rencana untuk apa yang harus kita lakukan setelah ini."
Kata Minato yang sedikit tak enak hati sudah berdiam diri di saat yang lain sudah saling bertukar pendapat satu sama lain semenjak tadi.
Bukan karena Minato enggan menyampaikan rencana yang sudah ia pikirkan. Tetapi Minato ingin mendengar sejauh mana alur pembicaraan ini akan berjalan. Dan menunggu apakah ada suatu pendapat yang lebih baik dari pendapat miliknya.
"Kurasa tidak perlu memikirkan bagaimana merebut kembali Kota-Kota yang jauh. Untuk saat ini... Yang lebih terpenting adalah membersihkan Kota ini dari mereka, Lalu membuat dinding yang bisa mencegah segala sesuatu yang akan kembali masuk ke dalam Kota."
"Saat kita telah melakukannya dengan baik, Dan membuat Kota Konoha ini steril dari mereka... Kita bisa melakukan cara yang sama seperti apa yang kita kemarin lakukan. Jika semua itu berjalan lancar... Maka cepat atau lambat Jepang akan dapatkan kembali wilayahnya seperti Konoha yang dapatkan kembali ketenangannya tanpa ada tersisa satupun ancaman dari mayat hidup."
"Membuat dinding...? Bagaimana caramu untuk menutup seluruh Kota yang begitu besar ini dari apapun yang akan masuk?"
Menteri pertahanan memberi sebuah pertanyaan kepada pria bersurai kuning di sana. Namun tanpa jeda yang berarti, Minato dapat dengan cepat menjawab pertanyaan tersebut.
"Kita bisa memakai kontainer yang ada di pelabuhan dan menaruhnya di sepanjang perbatasan Kota untuk menjadikannya sebagai dinding. Bentuknya yang besar dan tebal membuatnya sulit untuk dilewati. Belum lagi semua kontainer itu terbuat dari besi baja. Para mayat hidup di luar sana tak akan mampu memindahkan sesuatu yang sebesar dan seberat itu."
Minato menjelaskannya secara panjang lebar dan sangat rinci dengan cepat. Seolah itu adalah pertanyaan yang mudah.
"Tetapi, Jika kita hanya mengandalkan kontainer untuk Kota sebesar ini... Bukankah jumlahnya tidak akan cukup untuk menutup seluruh perbatasan Konoha?"
Kini giliran menteri luar negeri menanyakan tentang jumlah kontainer di pelabuhan-pelabuhan Konoha yang pastinya tidak akan mungkin cukup untuk menutup seluruh Kota.
"Hal itu memang benar. Dan mungkin dengan jumlah kontainer yang ada di Kota ini hanya mampu menutup Konoha sekitar tujuh puluh persen saja. Tetapi kita masih bisa memamfaatkan mobil-mobil yang berserakan di sepanjang jalanan Kota. Dengan berat rata-rata yang lebih dari satu ton untuk setiap mobil, Kita bisa menumpuk dan menatanya menjadi beberapa lapis untuk menjadikannya sebuah dinding tebal."
Lagi-lagi bagai ssperti sesi tanya jawab seorang dosen dengan mahasiswanya, Minato menjawab setiap pertanyaan yang terlontar kepadanya dengan sangat mudah. Ia memikirkan semua hal dengan sangat-sangat cepat dan akurat tanpa adanya jeda.
'Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Sepertinya itulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan sosok Minato.' Gumam Hashirama saat mendengarkan sahabatnya itu berbicara.
Menjadikan mobil-mobil yang berserakan di tengah-tengah Kota ini sebagai dinding adalah pilihan yang tepat. Jika mereka melakukan hal itu, Tentu saja seluruh jalanan Kota akan jadi lebih bersih. Dan dapat mempermudah Organisasi ini bergerak lebih leluasa tanpa ada yang menghalangi di sepanjang jalan.
Minato mengakhiri kalimatnya dengan garis bibir yang sedikit tertarik membentuk sebuah senyum kecil.
Untuk sejenak, Ruangan ini terasa hening saat Minato baru saja mengemukakan pendapatnya. Mereka semua terdiam menatap sosok Minato yang duduk santai bersandar di kursinya. Untuk beberapa saat, Senyap menguasai ruangan ini. Hanya cahaya lampu yang terus bersenandung memaparkan sinarnya.
". . . . . ."
"Tidak buruk juga..."
"Brilian... Seperti biasanya."
Para menteri tidak melihat adanya efek negatif besar pada pendapat Minato. Justru mereka berpikir bahwa itulah cara yang paling memungkinkan untuk selamatkan Jepang dari kumbangan mayat hidup ini. Sedangkan sang Presiden hanya tersenyum sembari menyandarkan punggungnya yang lelah.
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa tim dari divisi Anti Bio-Terrorist Unit mulai bergerak meninggalkan bandara. Mereka berpencar ke segala arah untuk membersihkan Kota Konoha dari para Zombie ganas yang masih tersisa. Sementara yang lain tengah sibuk untuk memindahkan kontainer-kontainer yang ada di seluruh pelabuhan Kota ini ke sepanjang perbatasan Konoha.
Seorang gadis berambut merah jambu memandang para personel yang mulai bergerak dalam skala besar-besaran. Dan ia berpikir mungkin ada sebuah misi baru yang harus mereka lakukan.
Puluhan helikopter memutar setiap baling-baling yang mereka miliki di waktu yang bersamaan. Seketika membuat hembusan angin yang cukup untuk mengibaskan rambut berwarna Pinksoft miliknya menari. Tak luput juga asap dari debu-debu yang berterbangan kesana-kemari membuat suasana di lapangan lepas landas bandara ini menjadi ramai.
"Sakura, Sasuke... Lihatlah..."
Kiba memanggil teman-temannya untuk melihat ke arah yang saat ini ia lihat. Sakura dan Sasuke pun sejenak mengalihkan pandangan mereka ke arah yang Kiba tuju.
". . . . . .?'
"Mereka kenapa...?" Sakura bertanya yang entah kepada siapa ketika melihat dari jauh para pengungsi yang di antar beberapa personel untuk masuk ke beberapa heli evakuasi berukuran sangat besar.
". . . . . . ."
Sedangkan Sasuke menyipitkan kedua matanya untuk memperhatikan dengan seksama apa yang sebenarnya sedang terjadi di sana. Menatap sebagian besar dari para pengungsi digiring untuk masuk ke beberapa helikopter evakuasi tersebut.
"Apa mereka sedang... Dipindahkan?" Gumam Sasuke yang mencoba untuk menerka-nerka apa yang sedang terjadi di sana.
"Jawabanmu tepat seperti biasanya."
". . . . . . .?!"
"Kakashi-sensei...?!"
Pekik Kiba memasang raut wajah yang sedikit terkejut. Karena secara tiba-tiba Kakashi sudah ada di belakang mereka bertiga. Belum lagi pria itu juga menatap ke arah yang sama dengan mereka.
"Apa maksudmu...? Kenapa mereka tiba-tiba dipindahkan begitu saja...?"
Sasuke bertanya dengan nada yang cukup datar seperti biasa, Walau ada kegundahan tersendiri di dalam hatinya mengenai hal ini.
"Sebenarnya begitu banyak alasan untuk itu. Tapi mari kita ambil sebuah perumpamaan yang sederhana. Ketika kalian sedang diminta untuk menyimpan sebuah hal besar seperti perhiasan milik teman di dalam tas kalian, Atau diminta untuk menyimpan hal kecil seperti sebuah pensil di dalam tas yang sama... Manakah di antara kedua hal itu yang menurutmu akan membebani pikiran kalian...?"
Kakashi menjawab pertanyaan Sasuke dengan menggunakan perumpamaan yang dapat dengan mudah mereka pahami. Organisasi ini tidak bisa terus-menerus memecah konsentrasi mereka hanya untuk melindungi pengungsi yang jumlahnya sangatlah banyak. Hal itu justru membuat mereka sulit untuk bergerak kesana-kemari tanpa membawa beban pikiran seperti apa yang Kakashi umpamakan.
Karena sejak awal Organisasi ini bukanlah sebuah panti asuhan. Mereka butuh fokus maksimal untuk bangkitkan Jepang dari kehancuran sebelum negara asing datang menjajah. Dan salah satu cara yang bisa mereka gunakan adalah dengan memindahkan para pengungsi ke tempat lain yang tidak bisa tersentuh oleh Zombie-Zombie ganas kelaparan. Dengan begitu para pengungsi dapat mengurus diri mereka sendiri di sana sembari menunggu Organisasi ini mampu merebut kembali Jepang dari kumbangan kematian.
Sakura, Sasuke dan Kiba terdiam setelah mendengar perkataan dari Kakashi. Tentu mereka bertiga dapat memahami apa yang coba mantan gurunya itu sampaikan kepada mereka. Namun tetap saja hal ini masih mengganggu pikiran Sasuke. Membuat pemuda berambut hitam itu menoleh menatap ke arah proses pemindahan para pengungsi. Dan menanyakan satu hal lagi yang ingin ia ketahui.
"Lalu... Ke mana mereka akan dipindahkan...?" Tanya pemuda itu untuk pria yang berdiri tidak jauh di belakangnya.
". . . . . . ."
"...Gunkanjima."
Sejenak kedua mata Sasuke melotot. Serasa ingin meloncat keluar dari tempatnya. Ia merasa mungkin ada yang salah dengan indra pendengaran miliknya, Ketika Kakashi mengucapkan sebuah nama pulau yang akan jadi tempat di mana mereka akan dipindahkan.
Sakura maupun Kiba nampak memperlihatkan reaksi yang nyaris sama. Tidak percaya dengan apa yang baru saja Kakashi beritahukan kepada mereka.
"G-... Gunkanjima... Katamu...?"
Sasuke benar-benar memasang tampang yang begitu tercengang. Tidak ia sangka nama pulau tersebut akan kembali ia dengar di gendang telinganya. Sesuatu kebetulan yang tidak terduga.
"Apa sensei bercanda?! Kami semua hampir mati di pulau itu! Tidak~... Bahkan kami semua telah kehilangan Chouji di sana!"
Ungkap Sakura yang seperti tidak bisa menerima jika para pengungsi di sana akan dipindahkan ke Gunkanjima.
"Di sana benar-benar mengerikan! Pulau itu seperti pulau kematian! Banyak orang yang mati dan berubah menjadi kanibal, Zombie ganas pemakan manusia berkeliaran di sana!"
Kiba ikut menimpali perkataan Sasuke dan Sakura tentang bagaimana kondisi di pulau yang sedang mereka berempat bicarakan. Pulau di mana mereka pernah singgah untuk mencari kedamaian setelah Outbreak ini terjadi. Pulau yang telah merenggut satu nyawa teman mereka yang sangat berharga.
"Aku tidak begitu tahu tentang seperti apa kondisi di sana saat ini. Tapi kalian tidak usah terlalu memikirkannya. Mengenai hal itu, Kapten dari Divisi A.N.B.U telah menunjuk sebuah tim yang akan mengamankan perjalanan mereka."
Sahut Kakashi tenang. Mencoba untuk menjawab kegundahan yang tiba-tiba saja menyerang para mantan muridnya itu.
"Selain itu... Tim yang Organisasi ini turunkan untuk mengawal mereka, Adalah salah satu skuad terhebat yang pernah Organisasi ini miliki. Sebuah tim yang pernah selamatkan nyawa Naruto Namikaze."
Lanjutnya lagi sembari mengalihkan pandang kedua matanya ke arah sana. Menatap seorang gadis berambut pirang panjang yang berjalan menuju ke salah satu helikopter berisi banyak pengungsi. Meneteng sebuah Sniper Rifle yang terkenal sangat mematikan di era perang Dunia ke 2, Dragunov S.V.
Mendengar Kakashi yang menyebut sebuah tim hebat yang pernah menyelamatkan nyawa Naruto, Mereka bertiga menoleh untuk melihat skuad itu.
'Seorang gadis... Di dalam tim terhebat?'
Sejenak Sakura memandangi personel Ino Yamanaka yang sedang melangkah naik ke dalam salah satu helikopter di sana. Dan itu membuat Sakura sedikit tidak percaya bahwa yang telah menyelamatkan nyawa Naruto, Hanyalah seorang gadis seumuran dengannya.
Tetapi apa yang sudah Kakashi katakan mungkin adalah benar. Karena ketika Naruto menceritakan sendiri kisahnya saat di dermaga waktu itu, Ia telah diselamatkan oleh salah satu skuad yang benar-benar kompak. Dan Naruto juga pernah mengatakan bahwa yang memgamnil alih kepemimpinan skuad tersebut saat itu, Adalah seorang gadis berambut pirang seumuran dengan dirinya.
Mau percaya atau tidak, Sepertinya Sakura tidak bisa membantah fakta yang sudah Kakashi dan Naruto katakan.
"Di sana ada sebagian dari para pengungsi yang tidak digiring masuk ke helikopter. Apa maksudnya...? Apa helikopternya tidak cukup...?"
Tanya Kiba kepada seseorang yang pernah menjadi guru di sekolah mereka.
"Sayangnya tebakanmu salah, Inuzuka Kiba. Bukan kekurangan helikopter. Tetapi sebagian dari mereka diijinkan untuk tetap berada di sini."
Sahut Kakashi mencoba untuk membenarkan hal yang nampak terlihat di sana.
"Diijinkan untuk tetap di sini? Apa maksudnya...?" Lagi-lagi Sasuke bertanya dengan nada tidak mengerti.
"Seperti ada yang telah menjamin mereka untuk tetap diperbolehkan berada di sini. Kemungkinan sebagian dari para pengungsi itu adalah keluarga atau kerabat dekat dari beberapa Staff yang bekerja untuk Organisasi ini."
Kata Kakashi menjawab kebingungan yang Sasuke tunjukkan.
". . . . . ."
"Jadi... Apa itu artinya, Kami juga akan dipindahkan ke sana..."
Gumam Sakura pelan sembari meremas siku tangannya dengan kecemasan. Rasanya tidak mau lagi ia menginjakkan kaki kembali ke sana setelah semua yang sudah mereka alami. Tempat di mana salah seorang temannya telah kehilangan nyawa.
". . . . . ."
"Ada seseorang yang telah menjamin kalian. Jadi hal itu kemungkinan tidak akan terjadi." Gumam Kakashi pelan.
"Se-Seseorang...?"
Tiba-tiba saja terdengar suara seorang gadis di dekat mereka berempat. Membuat mereka semua sedikit terkejut dengan kedatangannya. Hinata telah mendengar sebagian apa yang mereka sedang bicarakan. Dan ketika mendengar bahwa ada seseorang yang sudah menjamin mereka untuk tetap berada di sini, Membuat Hinata begitu penasaran dan bertanya-tanya.
"Hi-Hinata...?! Dari mana saja? Aku mencarimu ke mana-mana~"
Kiba bertanya pada gadis pemilik rambut berwarna hitam tersebut. Tetapi Hinata tampak seperti tidak menghiraukan apa yang Kiba katakan. Dirinya justru melangkah lebih mendekat ke arah sosok pria yang pernah menjadi gurunya.
"Jawab aku, Kakashi sensei... Siapa orang itu...? Jangan bilang jika seseorang itu adalah..."
". . . . ."
Kalimat Hinata menggantung. Membuat semua orang terdiam. Menatap Hinata yang sepertinya telah menerka siapa seseorang yang sudah menjamin mereka. Seseorang yang bekerja untuk Organisasi ini.
". . . . . ."
"Sepertinya tebakanmu benar... Hyuuga Hinata."
.
.
.
.
.
.
.
- The Place Of Hope -
.
.
.
.
.
.
.
TAP-TAP-TAP-TAP...
Suara derap langkah sepatu terdengar mengalun merdu. Beradu dengan kerasnya lantai lorong bandara berwarna putih. Seorang pemuda bersama seorang gadis di sisinya berjalan beriringan. Melangkahkan kaki mereka berdua menyusuri sepanjang koridor.
Sembari terus berjalan, Sejenak pemuda itu menoleh menghadap dinding mengkilap yang dapat merefleksikan dirinya. Ia menatap dirinya sendiri melalui bayangan itu. Menyadari bahwa hidupnya, Kini bukan untuk dia seorang saja. Tetapi juga untuk orang lain. Orang-orang yang sangat berharga baginya.
"Aku tidak menyangka dirimu akan ikut terlibat dengan pekerjaan Ayahku."
Gumam gadis yang melangkah bersama di sampingnya.
"Banyak hal yang telah terjadi. Juga banyak sekali hal yang telah kuketahui. Begitu banyak alasan yang membuatku memilih ke jalan ini..."
Sahut Naruto sembari mengecek kembali butir per butir peluru yang ada di slot magasin senjatanya.
SEKREK...
Bunyi nyaring slot magasin itu ketika didorong untuk kembali masuk ke ruang peluru, Setelah pemuda tersebut sudah memastikan bahwa saat ini senjatanya telah diisi dengan penuh.
"Aku telah memiliki tujuan. Sebuah alasan untukku tetap hidup. Walau suatu saat nanti itu akan membunuhku... Aku tidak akan menyesal."
Lanjut lagi pemuda berambut kuning rancung tersebut. Mengungkapkan apa yang tengah ia rasakan saat ini.
". . . . . . ."
Gadis berkacamata di sampingnya terdiam. Merasakan tekad luar biasa yang mengalir dalam setiap kata yang Naruto ucapkan. Membuatnya terpejam dalam sebuah senyuman.
Ujung lorong dari koridor yang panjang ini sudah terlihat. Mereka berbelok menuju ke arah sebuah pintu yang akan mengantarkan mereka berdua keluar. Tapi ketika saat Naruto membuka pintu tersebut...
BRRUUUAAKKKHH...
Tiba-tiba seseorang menabraknya dengan cukup keras hingga Naruto dan orang yang menabraknya terpental jatuh berlawanan arah. Tidak ada luka serius ataupun cidera saat Naruto terhempas jatuh menyusur ke lantai bandara yang dingin. Tetapi ketika kedua pasang iris birunya menatap siapa yang telah menabraknya itu, Naruto terdiam bisu.
"Sakura! Kau tidak apa-apa?!"
Hinata berlari menghampiri gadis berambut merah jambu yang sedang meringis kesakitan di tanah. Bersama dengan Sasuke dan Kiba yang menyusul di belakangnya. Sang kekasih mencoba untuk membantu Sakura kembali bangkit berdiri.
"Kau baik-baik saja...?" Sona bertanya pelan sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Naruto.
"...Yahh."
Sahut Naruto yang merasa tidak ada cidera berarti di sekujur tubuhnya setelah tabrakan keras itu terjadi. Naruto menggapai uluran tangan Sona, Lalu mencoba untuk bangkit dan berdiri dengan bantuan gadis itu.
". . . . . . ."
Tiba-tiba suasana di antara mereka semua menjadi hening, Saat pandangan Naruto dan Sakura saling bertemu. Naruto menatap satu per satu wajah teman-temannya yang memperlihatkan ekspresi wajah yang tak bisa Naruto ungkap dengan kata-kata.
"Kenapa kalian terlihat terburu-buru? Sebenarnya apa yang sedang terja-"
"Seharusnya kami yang bertanya, Naruto! Kenapa kau sembunyikan hal itu dari kami...?!"
Tiba-tiba Sakura memotong cepat kalimat pemuda itu dengan raut wajah yang tak bisa dimengerti.
"Hal... Itu...? Apa yang sedang kau bicarakan, Sakura... Aku benar-benar tidak mengerti-"
"Maka dari itu cobalah sesekali untuk mengerti, Dasar bodoh!"
Kata Sakura dengan nada keras sembari menarik kasar kerah kemeja biru yang Naruto kenakan.
"Kenapa... Kenapa kau selalu tempatkan posisimu dalam hal yang mungkin bisa membuatmu kehilangan nyawamu sendiri untuk kami, Naruto!"
TES...
"Kenapa...?! Jawab aku kenapa kau selalu melakukannya sendirian...?! Jawab aku kenapa?! Apa kau sudah menganggap kami ini hanya sekumpulan orang-orang tidak berguna yang selalu ingin dilindungi, HAH?!"
TES...
"Jawab aku... Jawab pertanyaanku... Baka..."
Air mata berlinang menetes melalui pelupuk matanya. Remasan kedua tangan Sakura pada kerah kemeja Naruto bergetar. Gadis itu menutup kedua mata indahnya yang sudah terbasahi oleh air mata dengan erat.
Dirinya merasa senang, Mengerti bahwa Naruto adalah sosok yang selalu bisa diandalkan. Sosok yang selalu bisa membuat mereka terus merasa aman. Sosok yang selalu mementingkan orang lain dari pada dirinya sendiri.
Namun Sakura juga kecewa, Dengan sikap Naruto yang seperti selalu ingin berjuang sendiri. Selalu memposisikan dirinya untuk melangkah sendiri. Seolah keberadaan mereka semua di mata Naruto tidak lagi berarti selain hanya untuk terus dilingdungi. Seolah-olah Naruto mengekang mereka untuk selalu bersembunyi di dalam sangkar yang nyaman, Sementara dirinya sendiri tengah mempertaruhkan nyawa.
Apa Naruto sedang merendahkan teman-temannya sendiri...?
Apakah kini Naruto menganggap mereka hanya sekedar sekumpulan orang-orang biasa yang tak bisa melakukan apa-apa...?
Kiba, Hinata, bahkan untuk seorang Sasuke pun tidak bisa menyalahkan Sakura yang menekan Naruto seperti itu. Memang benar jika Naruto lah seseorang yang telah membuat mereka semua masih bisa menginjakkan kaki di Dunia ini. Memang benar jika Naruto selalu melangkah di depan mereka, Untuk menjadi seseorang yang menghadapi bahaya yang datang terlebih dahulu.
Naruto yang dulu dan Naruto yang sekarang bagi mereka, Adalah dua pribadi yang terasa berbeda. Naruto yang kini telah berubah menjadi sosok yang luar biasa. Dan itu membuat Kiba, Hinata, Sasuke dan Sakura senang.
Tetapi bila itu membuat Naruto memandang teman-temannya seperti sekumpulan orang-orang lemah yang harus selalu ia lindungi... Mereka berharap ia kembali menjadi Naruto yang dulu mereka kenal.
". . . . . . ."
Semua pasang mata menunggu jawaban pemuda pemilik iris sebiru langit tersebut. Mereka berdiri diam menatap Naruto di sana. Dan Sasuke yakin, Naruto bisa menjelaskan semuanya dan meluruskan masalah ini tanpa menciptakan masalah yang baru.
Tetapi... Pemuda di sana terdiam setelah menerima semua pertanyaan yang Sakura berikan kepadanya. Naruto menatap mereka dalam-dalam. Rahangnya terbuka, Seperti ia ingin mengucapkan sesuatu.
Dalam hati Naruto ingin menjawab, 'Ya, itu memang benar! Aku selalu ingin melindungi kalian. Aku selalu ingin melihat kalian semua hidup bahagia di antara Dunia yang sekarat. Aku ingin kalian terus hidup dalam rasa aman walau aku harus berjalan di jalan yang curam. Semua ini kulakukan hanya demi kalian! Jadi diam dan biarkan aku lewat!'
Tetapi kalimat-kalimat itu tidak muncul. Semua yang ada di pikirannya tidak pernah keluar terucap olehnya. Naruto hanya menunduk dan memalingkan wajah. Menghindari tatapan yang seolah menginginkan sebuah kejelasan.
"Aku... Harus pergi."
Gumam Naruto menghindari pandangan mereka.
Mereka semua terkejut, Dengan sikap yang Naruto tunjukkan. Terlebih untuk seorang gadis berambut merah jambu yang sudah berteman dengannya sejak kecil. Perlahan Sakura melepas cengkramannya dari kerah kemeja biru milik pemuda itu. Dengan raut wajah tak percaya, Sakura melangkah mundur menjauhi Naruto yang ada di depannya. Gadis itu menatap Naruto dengan pandangan yang seolah berkata, 'Kau ini... Benar-benar Naruto ya kan...?'
Sasuke menangkap tubuh Sakura yang lemas tersandar padanya. Dan menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
Dengan ekspresi wajah yang tersembunyi, Naruto melenggang tanpa kata meninggalkan teman-temannya. Perasaannya begitu kacau bercampur aduk. Tak ada seorangpun yang bisa jelaskan apa yang ia rasakan saat ini. Naruto hanya pergi begitu saja meninggalkan mereka.
Hinata menatap kepergian pemuda berambut kuning itu. Entah mengapa saat ini ia merasa orang itu bukanlah Naruto. Sikapnya benar-benar berbeda dari pagi hari tadi. Tidak ada kehangatan yang terlihat dari kedua mata birunya itu.
Hinata merasa ada yang salah dengan sosok Naruto tadi. Ia merasa seperti tidak mengenali pemuda itu sama sekali. Tidak ada sifat yang mencerminkan seorang Naruto Namikaze di sana. Terasa benar-benar seperti orang yang berbeda.
Hinata meremas kaos yang ia kenakan. Gadis itu berpikir bahwa mungkin Virus yang ada di tubuh Naruto sudah mulai mempengaruhinya. Seperti ia sedang kehilangan siapa jati dirinya.
Sebenarnya Hinata menyadari bahwa Naruto ingin mengucapkan sesuatu untuk membuat teman-temannya mengerti. Tetapi Naruto lebih memilih untuk meninggalkan mereka tanpa satu kata pun yang terucap.
Ternyata apa yang Sakura katakan benar...
Mungkin kini Naruto hanya menganggap tidak ada yang bisa mereka semua lakukan selain berdiam di tempat yang aman. Mungkin perkataan Sakura benar, Bahwa Naruto mungkin telah melupakan betapa kuatnya mereka bila saling mengulurkan tangan. Bersatu untuk tetap bertahan hidup melawan kematian.
'...Menjadi siapa dirimu saat ini, Naruto-kun...'
.
.
.
.
.
.
.
Pada akhirnya...
Kekuatan hanya akan melahirkan keegoisan.
Dan cinta tanpa kekuatan, Hanyalah sebuah kata yang terucap...
.
.
.
.
.
.
.
TRAAAAANG-TANG-TANG-TANG-TANG...
Mesin dari sebuah motor trail 2tak berdengung keras memekakkan telinga. Melaju kencang di sepanjang jalanan Kota Konoha yang sepi. Melibas jalanan aspal yang ada.
Dua remaja ada duduk berboncengan di atasnya. Menerjang membelah angin yang datang.
"Kurasa mereka semua mengkhawatirkanmu..."
Ucap Sona yang duduk di belakang Naruto.
". . . . . . ."
Tetapi pemuda itu hanya diam tak bersuara. Ia tetap fokus mengemudikan laju motornya dengan kecepatan maksimal.
"Apa dirimu baik-baik saja...?" Tanya gadis itu lagi ketika memperhatikan Naruto yang sama sekali tidak menjawab.
". . . . . . ."
"Aku. . . . ."
"Ada apa dengan diriku. . . ."
Naruto merasakan ada sesuatu yang salah dengannya. Entah mengapa hal ini begitu mengganggu dirinya. Ia hanya ingin menjauhkan teman-temannya dari bahaya sejauh mungkin, Agar ia tidak lagi melihat salah satu temannya mati di depan matanya lagi.
Tetapi...
Apakah sebenarnya itu semua demi mereka...?
Ataukah... Demi dirinya sendiri?
Lubuk hati Naruto terguncang oleh gundah yang menyerang. Di antara dilema yang saat ini sedang ia rasakan. Tidak mengerti apa yang harus ia lakukan. Kekuatan ini membuatnya semakin mengerti tetang arti dari sebuah hidup. Namun kekuatan ini juga membuatnya semakin tidak mengerti apa yang ingin teman-temannya katakan.
Ia sama sekali tak mampu memahami apa yang mereka rasakan. Apa yang sebenarnya mereka begitu inginkan. Semuanya mulai terasa samar ketika kekuatan ini mulai merajainya.
Dalam dilema yang tak bisa pemuda itu padamkan, Mereka berdua melewati perbatasan Kota Konoha dan menuju ke Kota seberang. Jauh meninggalkan teman-temannya tanpa sepatah kata.
Melaju bersama motor yang mereka kendarai. Berboncengan menebas angin yang menghempas.
Sona terus memperhatikan sikap Naruto yang terasa berbeda. Dan mungkin sudah jauh dari kata berbeda yang ia pikirkan. Tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan untuk meluruskan semua kesalahpahaman ini. Yang bisa gadis itu lakukan, Hanyalah percaya pada Naruto. Tidak ada hal yang lain selain percaya kepadanya.
Berdua mereka melalui jalanan Kota lain. Menghindari setiap mayat hidup yang terlihat di jalanan. Semakin lama keberadaan para mayat hidup itu semakin terlihat banyak. Membuat Naruto untuk membanting setir motornya dan berbelok arah. Mengubah rute jalan yang mereka lalui untuk menuju ke distrik Yokohama.
Ketika mereka melewati sebuah jalur alternatif di dekat komplek perumahan pinggir jalan, Mereka berdua tidak menyadari keberadaan seseorang yang melihat mereka lewat melalui jendela sebuah rumah.
Dari atas sana, Sosok itu menatap Naruto dan Sona melenggang pergi menuju ke arah Yokohama.
"Jadi mereka berdua kah, Yang A.N.B.U kirim...
Gumam pria itu sembari menggunting benang tipis seusai menjahit luka di dadanya.
Sepucuk Desert Eagle yang telah kosong tergeletak begitu saja di dekatnya. Setelah menjatuhkan helikopter musuh menggunakan Lamborghini Aventador yang ia miliki dan terlibat baku tembak, Pria itu memilih untuk menyerahkan sisanya kepada Organisasi.
Sejenak ia meraih sebuah ponsel di dekat jendela. Jari-jarinya membuka kembali pesan yang sudah ia kirim kepada atasannya beberapa saat lalu.
"Kuharap... Sasuke tidak terlibat lebih dalam dengan semua ini." Ucapnya lagi, Menatap kembali isi dari pesan yang tertampilkan pada layar ponsel itu.
( - Target telah jatuh. Posisinya ada di Yokohama. Maaf, Aku tidak bisa mengejarnya lebih jauh lagi... - )
(Code Name - Shadow Walker)
.
.
.
.
.
.
.
CIIIIIIITTTT...!
Suara melengking datang dari gesekan ban motor yang Naruto kendarai dengan kerasnya aspal hitam. Hampir saja mereka berdua hilang keseimbangan ketika menghentikan laju kendaraan ini secara mendadak. Mesin 2tak yang meraung garing masih terdengar menyala bagai rentetan irama.
Dengan kedua sudut alis yang mengernyit, Naruto menoleh ke samping menatap ujung jalanan penuh mobil berserakan di sana. Menatap begitu banyak Zombie-Zombie yang menyadari kehadiran mereka berdua.
"Ini buruk..."
Gumam Naruto memberitahu Sona tentang situasi yang ada. Sementara gadis yang duduk di boncengannya mengerti apa yang sedang Naruto maksud.
"...Sepertinya kita tidak bisa lewat sana." Kata Sona ketika memandang banyak sekali kendaraan-kendaraan yang rusak berserakan. Belum lagi, Jumlah mayat hidup yang berdiri menatap ke arah mereka berdua.
"Grraaaawhh!"
Tanpa diaba-abai para Zombie kelaparan di sana serentak berlari menuju ke arah mereka berdua. Bagai sekumpulan piranha yang berenang ganas ingin memangsa dua ikan kecil, Mereka semua berlari pontang-panting menginjaki aspal dengan ekspresi bringas.
TRRAANG-TANG-TANG-TANG...
Naruto menghadap ke jalan lain yang dengan mesin motornya yang masih menyala. Tetapi sayangnya tidak ada jalan yang benar-benar bersih dari mereka. Kanan dan kiri jalan terlihat sama. Dipenuhi oleh para Zombie ganas yang mengincar nyawanya. Membuat Naruto mendecih kesal menyadari bahwa dirinya telah terkepung dari segala arah.
"Tidak ada pilihan lain. Sona, Pegang tubuhku erat-erat!"
"...Ehh?!" Gadis di belakangnya terpekik bersama dengan raut wajah yang nampak terkejut.
"Sudahlah, Kita tidak punya banyak waktu lagi...!" Sahut Naruto cepat saat direksi matanya melihat mereka yang sudah semakin dekat.
"S-Se-Seperti ini...?"
Sona mengulurkan kedua tangannya ke depan di antara kedua sisi pinggang Naruto.
"Tunggu, Apa yang kau pegang?!"
"G-GOMEN...!"
Wajahnya langsung memerah ketika menyadari pelukan kedua tangannya terlalu ke bawah. Sontak gadis itu langsung memperbaiki letak kedua tangannya yang baru saja salah pegang. Sona memeluk tubuh Naruto erat-erat seperti apa yang sudah pemuda itu katakan.
"Yosh! Berharap saja kita tidak akan terjatuh nanti." Gumam Naruto sembari sedikit memainkan handle gas motornya.
"Ehh?! Tung-... Apa kau sudah punya SIM?!"
"Sudah terlambat jika kau bertanya tentang itu saat ini, ya kan? Baiklah... Ini dia!"
Roda belakang berputar kenjang dan bergesekan dengan aspal saat Naruto memutar penuh gas motornya ke bawah. Debu-debu dari jalanan dan asap putih yang muncul akibat gesekan karet ban bercampur menjadi satu. Bersamaan dengan sekumpulan mayat hidup yang sudah semakin dekat.
"...Ikuzo!"
TRRAAAAAAAANNGG!
Motor itu terhempas ke depan setelah Naruto melepas tuas koplingnya. Meluncur cepat masuk ke dalam gang komplek perumahan dan meninggalkan para Zombie yang hampir dapat meraih tubuh Sona.
Angin berhembus kencang menerpa rambut kuning Naruto. Tetapi itu sama sekali tidak mengurangi konsentrasinya untuk berkelok-kelok menghindari para mayat hidup yang ada di depan jalannya.
". . . .?!"
Tiba-tiba Naruto kembali mengerem keras laju motornya dan membanting setir untuk berbelok arah ketika terlalu banyak Zombie untuk dihindari yang ada di depannya.
Pemuda bersurai kuning tersebut lalu menarik kembali handle gas motornya untuk lekas berakselerasi lagi meninggalkan kumpulan mayat hidup yang mengejar. Degup jantungnya berdebar kencang sekencang bagaimana ia mengendarai motor ini di jalanan gang yang kecil. Adrenalinya sudah terpompa naik turun semenjak tadi. Hingga tanpa sadar kedua tangannya menggenggam setang terlalu erat akibat ketegangan yang menyerang.
'Ini benar-benar lebih sulit dari yang aku duga!'
Ocehnya dalam hati dengan keringat yang mengucur jatuh tersapu angin.
Sona menarik sepucuk senjata genggam dari sabuknya. Tetapi sudut mata Naruto sempat melirik apa yang ingin gadis itu lakukan.
"Simpan pelurumu untuk nanti! Masih ada musuh yang jauh lebih mengerikan dari yang pernah kau bayangkan...!"
Kata Naruto yang coba untuk mengingatkan Sona tentang sosok seseorang yang pernah ia hadapi saat itu. Sosok pria yang selalu mengenakan setelan jas hitam yang begitu memuakkan. Naruto tahu betapa berbahayanya jika berhadapan satu lawan satu dengan pria tersebut. Sosok yang memiliki kekuatan mata yang sama dengannya.
Sona terdiam mendengar kata-kata Naruto. Apa yang dikatakannya mungkin saja benar. Ada lawan yang mampu membuat pemuda itu harus berulang kali menembus batasnya sebagai seorang manusia. Sona lebih memilih untuk mendengarkan saran Naruto dan menyimpan senjatanya kembali.
WUUUSSSHHH...
Motor yang mereka tunggangi keluar dari area komplek perumahan dan kembali ke jalan raya besar. Naruto membelokkan stang kemudinya ke arah yang menuju distrik Yokohama. Kota tujuan mereka berdua sudah semakin dekat di depan mata. Tetapi kondisi jalanan yang parah membuat segalanya menjadi jauh lebih sulit.
'Mereka banyak sekali,' Gumam Naruto dalam hati saat memperhatikan kanan dan kiri jalan yang dipenuhi Zombie-Zombie ganas mengejar mereka. Sedangkan terlalu banyak mobil berserakan di sepanjang jalan yang harus ia hindari sembari mempertahankan kecepatannya.
"...Kuso!"
Decih Naruto kasar saat direksi kedua matanya menemukan jalanan yang sudah penuh oleh kendaraan yang ditinggal oleh pemiliknya. Dan sepertinya Kota ini pun juga pernah menjadi sasaran penyebaran dari pandemik ganas seperti apa yang pernah terjadi di Konoha.
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Sona yang sudah menunjukkan raut wajah khawatir karena di depan sana mereka berdua sudah tak bisa menggunakan motor ini.
". . . . . ."
"Berpeganglah erat-erat..." Ucap Naruto kepada gadis itu.
"Apa yang akan coba kau lakukan?"
Gadis berkacamat itu bertanya-tanya. Menyadari sepertinya Naruto memiliki sebuah rencana yang tak ia ketahui.
"Sepertinya kita tak punya pilihan lain. Mungkin jatuh ke stasiun kereta bawah tanah akan jadi sedikit menyenangkan."
Jawab pemuda itu yang mulai mengubah arah laju kendaraannya menuju ke sebuah Gate stasiun kereta di bawah tanah Kota ini.
"HAHH?!"
Sona terkejut dengan apa yang baru saja pemuda itu katakan. Tetapi sayangnya sudah terlambat bagi dirinya untuk menolak. Bersama ratusan Zombie yang datang mengejar dari berbagai arah, Naruto menabrakkan motornya keras ke pembatas jalan.
JENDAAAANNG...!
Kedua manik merah muda yang indah berkilauan milik Sona bagai dipaksa terbuka lebar-lebar. Tubuhnya terangkat dari motor dan terhempas ke udara. Menatap bagaimana dirinya terambang di tengah-tengah atmosfer bersama dengan Naruto dan motor mereka yang rusak parah.
Gadis itu memutuskan untuk memejamkan mata. Dan memilih untuk percaya dengan apa yang telah rekannya lakukan. Sona terpejam erat dalam perjalanannya jatuh menuju ke dasar lantai terbawah dari stasiun kereta bawah tanah ini. Ia berpikir, Setidaknya, Mungkin hanya patah tulang yang akan ia derita ketika tubuhnya telah sampai di dasar sana.
SRRUUTT...
Urat syaraf muncul di sekitar pelipis mata kanan Naruto. Untuk sekali lagi, Pemuda bersurai kuning itu memaksakan tubuhnya untuk melebihi batas. Membuat warna iris biru di mata kanannya berubah menjadi merah kehitaman bagai darah yang mengental.
Sona terkejut ketika menyadari sebuah kehangatan yang ia dapat di sebagian tubuhnya. Ia merasa ada seseorang yang telah menarik tubuh lemahnya itu ke dalam sebuah pelukan. Dan ketika kedua matanya perlahan terbuka, Sona menatap wajah seorang pemuda yang selalu ada di dalam mimpi-mimpinya. Wajah yang kini sedikit berbeda dari yang sebelumnya. Wajah yang seolah ingin mengatakan, 'Percayalah padaku...'
Dalam perjalanannya jatuh menuju ke dasar stasiun kereta bawah tanah sana, Kedua pandangan mereka kembali bertemu dan saling melihat satu sama lain. Membuat gadis itu tak sadar telah menggumamkan sebuah nama yang selalu ada di dalam hatinya.
'. . . . . . .Naruto.'
BRRUUAAAGGHH!
.
.
.
.
.
.
.
Pada akhirnya...
Kekuatan hanya akan melahirkan keegoisan.
Dan cinta tanpa kekuatan, Hanyalah sebuah kata yang terucap...
Tetapi butuh keduanya untuk melihat, Sesuatu yang mereka sebut harapan
.
.
.
.
.
- The Place Of Hope -
Chapter 19 : "Ikatan Milik Mereka"
Genre : Horror, Adventure, and Gore
Main Cast : Naruto U., Sakura H., Sasuke U.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
.
.
.
.
.
To Be Continue...
perfection person : Terima kasih yaa untuk flamenya ^^,
Memang benar penulisanku ini masih jauh dari kata bagus di saat banyak typo yang bertebaran. Tapi sayangnya Felix-kun tetap akan melanjutkan cerita ini sampai ke seri berikutnya. Dan mencoba berkembang menjadi seorang Writter yang baik.
Hinatasya Aozora : Haii, Aozora-san! Terima kasih banyak sudah menyukai cerita ini. Seperti Author Note di atas, Felix-kun akan sedikit merubah alur ceritanya sebagai apresiasi saran dari kamu yang sangat membangun. Arigatou na...!
lianamaishofa : Senang rasanya bila mendengar bahwa cerita ini sama sekali tidak membosankan pada per chapternya. Terus beri review mu ya :)
Windra S363 : Walau pertanyaan dari Windra sudah di jawab melalui PM, tapi gak apa deh dijawab lagi di sini. Yupp, Fanfic ini terinspirasi dari anime H.O.T.D. Namun sebenarnya bukan itu saja sih yang membangun alur dari cerita fanfic ini.
Cah Uzumaki : Lagi-lagi pertanyaan Cah Uzumaki sudah author balas lewat PM, Tapi author juga akan balas di sesi ini. Tentu chapter dari fanfic ini masih panjang. Tetapi Felix-kun belum tahu akan di chapter berapa cerita ini akan tamat.
Madoka-chan : hallo lagi, Madoka-chan! Sepertinya dapat jackpot nih udah ubek-ubek fandom Naruto malam-malam dan nemuin fanfic gaje ini (#plaaakkk XD)
Jangan lelah untuk terus berikan review darimu ya, Madoka-chan! ^^,
puru : Ini dari akun dengan nick pururukuru atau memang dari orang yang berbeda ya? Terima kasih sudah menyebut Felix-kun sebagai author yang... Ehem... Keren (Kyaaa~ melayang bebas di udara XD)
ibnu muzamzami : pair Naruto siapa? Ah... Nanti juga Ibnu-san bakalan ngerti sendiri kok. Daijoubu-Daijoubu ^^,
Fahmi Mughni : Etto~... Aku masih belum mengerti apa itu maksudnya "aku ngerti kenapa naruto gak punya pair. sikon latar belakang masalah adalah salah satu faktornya" dari review Fahmi-san...
Lora 29 Alus : Jujur, review dari Lora-san yang bikin author agak sedih... :(
: Dengan kata lain, Kisah tentang ikatan Naruto dan teman-temannya di cerita ini dapat menyentuh hati alifia-san ya...? Wahh berarti ide Author ini telah membuahkan hasil nyata ^^,
jakawahyu7 : Yupp, ceritanya masih berlanjut kok. Jadi terus kasih review kamu yaa
: Hmm... Apa ya yg sedang direncanakan oleh Obito...? Tenang saja, bukan hanya kamu aja kok, Author pun juga tertarik dengan apa yg sedang Obito rencanakan ^^,
