Maaf untuk keterlambatan update yang terasa terlalu lama. Sekali lagi Felix-Kun minta maaf dengan sepenuh hati #ojigi
Wahh... Gak terasa sudah chapter ke 20. Sekedar curhat, sebenarnya fanfic untuk seri ini tamat di chapter yang ke 12 sama seperti seri sebelumnya (Everything Has Changed)
Tapi berkat motivasi yang sudah para pembaca berikan, serta saran-saran yang sangat bermamfaat, juga request-request yang begitu menantang, akhirnya sampailah perjalanan cerita ini sampai ke chapter yang ke 20.
Sempat merasa sangat senang saat author mengetahui bahwa banyak dari para pembaca setia yang juga ikut memberikan responnya untuk masalah pairing yang sempat diperdebatkan dan selalu dipertanyakan.
Dan dari situlah terlahir dua review menggemaskan yang sangat menggelitik Author ketika membacanya xD
Datang dari pururukuru yang juga ikut menyatakan bahwa Naruto di sini itu tukang PHP xD
Belum berhenti sampai di situ, pururukuru sepertinya ikut memberi responnya terhadap masalah pairing yang sempat beredar di fanfic ini dengan memberi saran kalau Naruto di pairing ajah sama saya (Lah ntar jadi NaruLix donk..?! xD)
Nah yang kedua datang dari pembaca setia nih dari seri EHC yang lalu. memberi statement bahwa gak perlu mempermasalahkan pairing! karena fanfic ini tuh fanfic bergenre keras xD (bikin Author sempet bilang WoW pas baca reviewnya)
Felix-Kun berharap bisa berkembang lagi dengan semua motivasi, kritik, dan saran dari kalian! Arigatou na ^^,
.
.
.
.
.
THE PLACE OF HOPE
.
Chapter 20 : "The Final Stage"
Genre : Horror, Adventure, and Gore
Main Cast : Naruto U., Sakura H,. Sasuke U.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
.
.
.
.
.
Special Gueststar : Ayumi Otosaka (Charlotte)
.
.
.
.
.
.
.
'Gelap...'
Pandangannya begitu buram dengan warna hitam yang mendominasi. Jatuh terjerembab di suatu tempat yang tak pernah ia singgahi sebelumnya. Dan juga tengah merasa menindihi tubuh seseorang.
KLIK. . .
Sona menyalakan senter kecil yang tersambung langsung dengan earphone di telinganya. Menyoroti wajah seorang pemuda yang kini sedang menatap dirinya.
"Sepertinya, kita harus segera pergi dari sini." Ucap Naruto setelah pandangannya teralih memperhatikan portal stasiun kereta bawah tanah ini di atas sana.
Ketika kepala Sona berbalik untuk menengok apa yang sedang Naruto lihat, Ia terkejut mendapati begitu banyak Zombie yang ikut masuk menuruni setiap anak tangga yang ada.
"Motornya?!"
Gadis itu bertanya mengenai kendaraan yang beberapa saat lalu mereka berdua gunakan untuk sampai ke tempat ini.
KLIK. . .
Naruto pun menyalakan senter kecil di atas daun telinganya. Menengok ke arah samping tidak jauh dari tempatnya terjatuh.
". . . .Hancur." Gumam Sona ketika melihat apa yang saat ini tengah Naruto lihat.
Kondisi motor mereka bagai tidak bisa terjelaskan oleh kata-kata. Roda depannya menjadi segitiga. Semua kabel rem dan gasnya telah terputus. Stang kemudinya berubah menjadi bumerang. Belum lagi bahan bakar motor mereka yang tercecer kemana-mana.
"GRRRAAAHHKK!"
Para Zombie datang berbondong-bondong dan berdesakkan berlari menuruni setiap anak tangga yang mengarah kepada Sona dan Naruto yang berada di dasar stasiun.
"Aku sering menemani Ibuku menggunakan stasiun bawah tanah ini. Ikuzo!" Ucap Naruto seraya menyeret tangan gadis itu untuk segera bangkit dan berlari. Meninggalkan motor mereka yang telah menjadi rongsokan.
Di dalam stasiun yang sangat gelap ini, Mereka berdua berlari lurus ke depan dengan hanya bermodal penerangan seadanya. Beruntung jika perlengkapan sederhana dari Organisasi benar-benar berguna seperti saat-saat genting seperti ini.
Desah nafas mereka beradu dengan jarak puluhan mayat hidup yang mengejar tepat beberapa kaki di belakang. Berdua, mereka berlari dengan pompaan detak jangtung yang berdebar-debar. Lagi-lagi merasakan adrenalin yang naik menyebar dengan cepat hingga ke otak.
Di depan sana, seorang pria berseragam biru gelap khas petugas stasiun ini berdiri di dekat mesin pemeriksaan tiket seakan menunggu kedatangan mereka berdua.
Naruto lekas menarik sepucuk Glock-17 dari sabuk Holster di apitan salah satu sisi bahunya. Lalu membidik mayat hidup itu menggunakan senjatanya.
"Maaf, aku lupa membawa tiket."
DAAARRR. . .
Sebutir peluru panas langsung melesat ke tengah kepala petugas stasiun tersebut. Membuatnya jatuh terhempas ke lantai putih yang dingin.
Naruto melompati mesin pengecekan tiket yang berjejer rapi di depannya dengan sangat mudah hingga kedua kakinya kembali mendarat ke lantai stasiun yang penuh dengan tanah dan debu. Tetapi kendala muncul ketika giliran Sona yang melompatnya.
". . . .?!"
Salah satu Zombie di belakangnya meraih sepatu gadis itu setelah ia melompat. Membuat Sona terperosok jatuh ke lantai berwarna putih yang kotor.
"Sona!" Teriak Naruto yang langsung bergegas menghampiri gadis itu.
DARR-DARR-DARR-DARR!
Suara tembakan menggema di seluruh sudut stasiun kereta bawah tanah yang sudah berhenti beroperasi ini setelah Sona menarik beberapa kali menarik pelatuk senjatanya. Membuat mayat hidup yang mencengkram salah satu kakinya terlontar ke belakang menabrak kawanannya.
Naruto menggapai tangan gadis berkacamata itu untuk membuatnya lekas berdiri dan berlari kembali.
BRRUUAAKKHH!
Puluhan mayat hidup yang berusaha mengejar mereka berdua menabrak mesin-mesin pemeriksaan tiket stasiun ini. Seolah nampak seperti kerumunan supporter yang mencoba untuk membobol masuk tanpa tiket.
"Sebelah sini!" Kata Naruto sembari berbelok arah tajam ke kanan.
Sona terus mencoba mengikuti langkah kaki pemuda berambut kuning itu dengan perasaan was-was bila ia sampai terpeleset jatuh karena kontur permukaan lantai yang sudah terkotori oleh debu dan tanah. Belum lagi suasana gelap yang sudah merajai sepanjang jalan Lobby stasiun bawah tanah ini menyulitkan mereka berdua untuk melihat.
"Apa kau tahu jalan keluarnya?" Tanya gadis itu sembari berlari di samping Naruto.
"Serahkan saja padaku." Jawab pemuda tersebut.
Kerumunan para mayat hidup masih mengejar tepat di belakang mereka berdua. Sementara tipisnya jarak pandang akibat kegelapan semakin membuat segalanya menjadi sulit. Di antara keterbatasan pengelihatan yang hanya bergantung kepada penerangan kecil, mereka harus mampu menghindari segala perabotan stasiun yang tergeletak di mana-mana
Karena hanya dengan satu kesalahan kecil yang membuat kakimu tersandung pada kursi-kursi dan mesin minuman otomatis yang tergeletak tidak karuan di sepanjang jalan, maka itu berarti kau harus siap untuk ucapkan selamat tinggal pada hidupmu untuk selamannya.
"Sona!"
Naruto memanggil nama gadis di sampingnya ketika melihat di depan sana ada beberapa orang yang sedang menunggu kedatangan kereta mereka yang tidak akan pernah datang sampai kapanpun juga.
"Aku mengerti!" Jawab cepat gadis berkacamata tersebut saat melihat apa yang Naruto lihat di dalam kegelapan dengan hanya menggunakan flashlight kecil di telinganya.
"GRRRAAHHKK!"
Seseorang di depan sana mencoba untuk meraih tubuh Sona. Tetapi dengan cepat gadis itu menjatuhkan dirinya dan meluncur ke lantai melewati himpitan kedua kaki jenjang orang tersebut.
Di belakang, Naruto melompati punggung orang yang membungkuk setelah gagal mendapatkan Sona di bawah kolong kedua kakinya.
Kombinasi timing mereka begitu sempurna untuk melewati sosok Zombie penunggu kedatangan kereta selanjutnya itu.
BRRUUAAKKKHH. . .
Tanpa Naruto dan Sona tembak pun, bagai gulungan ombak yang datang, gerombolan para mayat hidup yang mengejar mereka berdua sudah menabrak orang tadi hingga terinjak-injak di bawah lantai hingga bersimbah darah kental.
Masih belum berhenti sampai di situ, datang lagi empat pria dewasa mengenakan jas perkantoran yang lusuh ke arah yang berlawanan menuju mereka berdua. Dan kali ini tidak ada celah yang bisa mereka berdua gunakan untuk lewat begitu saja seperti tadi.
.
.
.
( 13' 00" 48'" )
.
.
.
Menyadari akan hal itu, degup jantung Naruto terpacu begitu cepat. Berdetak beribu-ribu kali lipat dari degup jantung manusia biasa. Lagi-lagi sindrom misterius Naruto kembali muncul. Membuat semua pengelihatannya menjadi kacau tanpa bisa terfokus pada suatu apapun.
.
.
.
( 13' 00" 59'" )
.
.
.
Waktu nampak seperti berhenti di Dunianya. Bahkan ia mampu untuk mendengar degup-degup jantung di dadanya sendiri yang sudah berdetak ratusan kali sebelum ujung sepatu hitamnya kembali menyentuh ke permukaan lantai.
.
.
.
( 13' 01" 00'" )
.
.
.
'Kuso~...'
Rutuknya dalam hati saat menyadari bahwa sindromnya itu muncul di saat yang benar-benar tidak tepat. Syaraf matanya begitu berdenyut-denyut sehingga membuat seluruh objek di hadapannya seolah maju lalu mundur, mendekat lalu menjauh lagi secara berulang-ulang di tiap persepuluh detiknya.
.
.
.
( 13' 01" 17'" )
.
.
.
Tetapi ia tidak ingin diam dan membiarkannya begitu saja. Seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya, memamfaatkan sindrom ini menjadi sebuah kelebihan untuk menjatuhkan titik fokusnya pada target yang akan ia tembak.
.
.
.
( 13' 01" 22'" )
.
.
.
'Aku harus menguasai kelemahan ini sepenuhnya...' Gumam Naruto dalam hati masih terjebak di dalam Dunia waktunya sendiri.
.
.
.
( 13' 01" 48'" )
.
.
.
Sedetik telah berlalu. Ujung salah satu sepatunya baru saja menapak ke permukaan lantai yang lusuh penuh tanah berserakan. Namun semua hal dalam kurun waktu itu bagai bergerak begitu lambat pada pandanganya.
.
.
.
( 13' 01" 52'" )
.
.
.
Naruto mencoba melawan degup jantungnya. Mencoba untuk menguasai sindrom ini sepenuhnya. Tatapannya lurus ke depan, di mana empat pria dewasa telah menunggu kedatangannya dengan raut wajah yang mengerikan.
.
.
.
( 13' 01" 59'" )
.
.
.
Namun Naruto tetap berpikir cepat dalam waktu yang semakin terdesak. Cara bagaimana Sona dan dirinya agar bisa melewati mereka semua tanpa membuang-buang tiap butir peluru yang berharga. Di saat itulah muncul sesuatu yang terlintas begitu saja di dalam otaknya.
"Sona, gunakan pundakku!"
.
.
.
( 13' 02" 00'" )
.
.
.
SETT. . .
Tanpa ba-bi-bu lagi, Sona melompat dan menggunakan pundak kiri Naruto sebagai pijakan bagi dirinya untuk lompatan yang kedua.
Tanpa gadis itu sadari, tangan kirinya sudah menggapai salah satu baling-baling kipas besar yang menempel di atas langit-langit stasiun kereta bawah tanah ini.
Sedangkan Naruto berlari menuju ke dinding stasiun ketika Zombie-Zombie di depannya kembali gagal mendapatkan Sona. Memamfaatkan perhatian mereka yang teralih kepada Sona yang berayun, dalam waktu singkat Naruto berlari menaiki dinding dengan cepat menggunakan setiap langkah kedua kakinya.
Di saat yang bersamaan setelah menaiki dinding untuk mencapai ketinggian yang sama dengan Sona, pemuda pemilik sepasang iris sebiru safir itu mendorong seluruh beban tubuhnya untuk melompat ke arah partnernya.
GRAB. . .!
Tangan kanan Sona berhasil menggapai tangan kiri yang Naruto ulurkan di udara. Memamfaatkan baling-baling kipas yang berputar oleh momentum beban tubuhnya, Sona mengayunkan Naruto ke atas atap sebuah kereta di seberang sana.
DRRAP. . .!
Sona melepaskan pegangan tangan kirinya pada baling-baling itu bersamaan dengan kedua kaki Naruto yang berhasil mendarat tepat di atas atap kereta tersebut.
Dan sekarang giliran pemuda bersurai kuning rancung itu untuk mengayunkan tubuh kecil Sona yang masih berpegangan pada tangan kanannya.
WUUUSSHHH. . .
Sembari berayun cepat, Sona menendang keras kepala seorang pria yang mencoba menyerangnya ketika ia sedang berayun menuju ke tepi atap kereta dengan bantuan tangan kanan Naruto.
DUUAAGGHHKK!
Pria dengan mulut yang robek penuh bercak darah tersebut terhempas keras bersamaan dengan tubuh Sona yang berhasil mendarat di permukaan atap kereta ini.
"Tendangan yang bagus." Ucap Naruto dalam engah setiap hembusan nafasnya sembari tersenyum membantu gadis itu untuk kembali berdiri setelah berhasil menyusul Naruto di atas atap ini.
"Aku tidak akan pernah bisa melakukan tendangan sebagus itu tanpa bantuanmu." Jawab Sona yang juga nampak hampir kehabisan nafas dengan sebuah senyum kecil sembari membenarkan letak kacamata berwarna merah jambu miliknya.
Lagi-lagi kekompakan mereka berdua terlihat begitu jelas dalam rentetan pergerakan yang saling berkesinambungan dengan timing-timing yang tepat. Seolah mereka memiliki intuisi, insting, serta naluri tersendiri sebagai sebuah partner.
BRRAAKKK-BRRAAKKK-BRRAAKKHH!
Para Zombie ganas menabraki kereta tersebut dengan sangat brutal. Membuat gerbong kereta di mana Naruto dan Sona berada di atasnya itu bergoyang-goyang cukup liar.
"Kita harus kembali bergerak. Ikuzo..." Ajak Naruto yang mulai berlari di atas tiap atap gerbong kereta itu. Merasa bahwa akan sangat berbahaya bila mereka berdua terus tetap berada di sini.
Sona segera mengikuti langkah-langkah pemuda itu. Tetapi geraknya terhenti saat sudut matanya mendapati seseorang hampir berhasil memanjat atap gerbong kereta ini dengan menaiki tubuh teman-temannya di bawah.
DUAAGHK!
Sekali lagi Sona menggunakan salah satu kakinya untuk menendang keras kepada Zombie yang nyaris bisa memanjat atap gerbong kereta ini. Hingga membuat pria itu terlempar jatuh ke belakang.
"Nah, itu lebih baik." Gumam Sona sedikit tersenyum kecil melihatnya.
Gadis yang baru saja menjadi partner resmi Naruto itupun kembali berbalik dan mulai berlari menyusul sosok pemuda berambut kuning di sana.
.
.
.
DRAP-DRAP-DRAP-DRAP-DRAP. . .
Suara alas sepatu Naruto terdengar nyaring beradu dengan atap kereta yang dinaikinya. Berpikir bahwa mereka berdua tidak akan bisa ke mana-mana jika terus berada di atas sini tanpa ada kemajuan jalannya misi yang diberikan kepadanya.
"Sona...!" Panggil pemuda itu kepada rekannya yang tidak kunjung menyusul dirinya.
"Aku tepat di belakangmu!" Sahut gadis berambut hitam sebahu itu cepat merespon panggilan Naruto.
'Mereka terus saja mengikuti.' Gumam pemuda yang sedang memakai kemeja biru tua lengkap dengan rompi sederhana dan Holster sebagai sarung penyimpan Glock-17 miliknya. Melirik ke arah gerombolan Zombie yang masih mengejar mereka berdua di sepanjang kereta ini.
Ketika ujung dari kepala kereta konvensional yang tengah ia jajaki ini telah terlihat, Naruto menoleh sebentar untuk menengok Sona yang mengikuti beberapa meter di belakangnya.
Setelah puas memastikan bahwa ia tidak kehilangan jejak rekannya itu, Naruto berlari sembari melompat jauh ketika gerbong kereta ini telah habis. Berguling ke depan untuk menyeimbangkan tubuhnya karena laju yang terlalu cepat akibat berlari kencang di atas atap kereta, Naruto kembali bangkit dan bergerak tanpa jeda untuk menuju ke kereta selanjutnya yang tidak terlalu jauh di depan.
Di sisi Sona, gadis itu berlari secepat yang ia bisa untuk menyusul jarak keterketinggalannya dengan Naruto yang sudah mencapai sisi kereta lain yang ada di ujung sana.
'Jadi seperti ini rasanya...'
Kedua kakinya sudah melayang di tengah-tengah udara. Sona melompat setelah mencapai batas akhir kepala gerbong kereta tersebut.
'...Dia benar-benar membahayakan nyawanya sendiri hanya untuk membuat teman-temannya berada di tempat yang sangat aman.'
DREPP. . .
Sona mendarat ke tanah di antara rel kereta menggunakan kedua kakinya. Ia bisa mengatasi ketinggiannya walau dirinya pun hampir jatuh terperosok karena teknik pendaratan yang kurang tepat karena laju kecepatan yang masih tersisa.
Berlari di depan tangan-tangan yang seolah ingin mencengkramnya erat-erat, Sona menghampiri sosok Naruto yang sudah berada di dalam sebuah kereta yang baru. Di tengah kegelapan pekat yang mengganggu, dapat ia lihat sosok pemuda berwajah tampan yang mengulurkan satu tangan kepada dirinya dengan penerangan yang sederhana.
GRAB. . .
Tangan Sona yang juga terulur kepada Naruto di raih oleh pemuda pemilik sepasang iris sebiru safir itu. Lalu menariknya untuk segera naik ke dalam kereta mereka yang baru ini.
'Walaupun dia menjadi sedikit lebih egois tanpa dirinya sendiri sadari...'
Naruto menutup pintu sambungan gerbong kereta ini rapat-rapat setelah menarik tangan gadis itu untuk membantu partnernya tersebut naik ke dalam.
BRRAAAKKKHH!
Dobrakan keras terjadi beberapa detik sesudah Naruto menutup pintu itu. Para Zombie di luar sana benar-benar tidak behenti mengejar mereka berdua.
"Hahh~... Hahh~... Hahh~... Hahh~..."
Nafas mereka berdua terputus-putus akibat kerepotan mengatasi mayat-mayat hidup yang terus mendobrak-dobrak di luar sana. Baik Naruto, maupun Sona, mereka berdua menahan pintu tersebut dengan menggunakan berat tubuh mereka masing-masing. Mencoba menghirup oksigen yang tadi sudah terbuang-buang sehabis berlari panjang.
'Entah mengapa aku berharap...'
Sembari membantu Naruto untuk terus mempertahankan pintu ini agar tidak bisa dibuka oleh para Zombie brutal di luar sana, Sona terus memandang sosok pemuda berambut kuning di hadapannya itu dengan tatapan yang... Sulit untuk di jelaskan.
'...Sakura dan yang lain untuk sedikit mengerti.'
Setelah beberapa saat memandangi Naruto, Sona memalingkan wajahnya ke arah yang lain. Teringat bagaimana saat itu Sakura benar-benar membentak Naruto sembari menangis. Sekeras dan sekasar apapun Sakura telah membentaknya, tetapi Naruto sama sekali tidak membalas Sakura dengan cara yang sama.
Entah mengapa Sona sedikit sedih saat mengingat hal itu. Mungkin benar bila Sakura dan yang lain sedikit keterlaluan. Tapi Naruto pun juga harus bisa menjelaskan semuanya kepada mereka.
Sona merasa... Tidak ada yang benar, maupun yang salah saat itu.
"...Semua yang terjadi, tidak lebih hanyalah sebuah kesalahpaham kecil."
Tanpa Sona sadari, suaranya ikut keluar ketika ia bergumam di dekat Naruto.
". . . . ."
"...Kau mengatakan sesuatu?" Tanya Naruto saat gendang telinganya sempat mendengar sebuah gumaman dari gadis yang menjadi partnernya itu.
"Ehh?! T-Ti-Tidak kok..."
Sona menyahut cepat sembari salah tingkah dengan raut wajah yang merona. Sedangkan Naruto hanya mengernyit heran. Sedangkan ia yakin bahwa ia merasa telah mendengar sesuatu dari gadis di dekatnya itu walau suara berisik pintu yang terdobrak-dobrak sangat mengganggu.
'Kyaaa! Apa yang sudah kau lakukan Sona?! Dasar baka-baka-baka-baka...!'
Rutuk Sona dalam hati sambil mengetuk-ngetuk sendiri kepalanya seakan sedang kesal dengan dirinya sendiri. Sementara satu alis Naruto semakin mengernyit tajam mendapati dirinya yang makin tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi pada gadis di dekatnya itu.
PRRUUAANNKK!
Kedua mata Naruto melebar setelah kaca tebal dari pintu gebong ini berhasil mereka pecahkan dari luar.
"Mundur!" Ucap Naruto cepat sambil langsung menarik lengan Sona untuk mundur beberapa langkah ke belakang demi menghindari tangan-tangan Zombie yang ganas itu.
Sungguh usaha yang sangat luar biasa hanya untuk dapatkan dua daging kecil, mungkin itu yang saat ini sedang terlintas di kepala Naruto ketika menatap betapa brutalnya mereka merusak pintu itu.
Merasa bahwa keadaan akan menjadi semakin bertambah buruk, secara hati-hati Naruto menarik Sona untuk terus melangkah lebih jauh mundur ke belakang. Memandang bagaimana sebentar lagi pintu di sana akan benar-benar bisa mereka buka.
"Sona, sudah saatnya masuk ke rencana L." Bisik Naruto kepada rekan partnernya tersebut.
"...Ehh?!"
Gadis berkacamata itu terkejut, atau mungkin terlalu bingung dengan apa yang baru saja Naruto katakan.
'Rencana L.. ? Kenapa bisa melompat sejauh itu...? Bukankah rencana B belum dia katakan...?'
Sona bertanya-tanya dalam hati kebingungan. Sampai pada akhirnya ia memberanikan diri untuk menanyakannya langsung kepada pemuda tersebut.
"Tunggu, apa itu rencana L?" Tanyanya dengan rasa penasaran.
"Rencana L adalah..."
". . . . ."
BLLAAARRR!
Pintu di sana sudah mencapai batasnya. Jatuh dan ambruk bersama dengan masuknya Zombie-Zombie kelaparan yang begitu ganas. Nampak seperti bagaikan banjir bandang yang mendekat.
"Lari...!"
Naruto menjawab pertanyaan Sona sembari berbalik dan berlari sekencang-kencangnya.
"JANGAN BERCANDA DI SAAT-SAAT SEPERTI INI, BAKAAAA!" Teriak Sona keras-keras dengan raut wajah kesal ikut menjalankan rencana L yang Naruto maksud. Karena tepat beberapa meter saja di belakang mereka berdua, ratusan Zombie mengejar dengan sangat ganas.
Naruto dan Sona berlari di tengah-tengah himpitan dalam gerbong kereta yang sempit nan gelap. Pemuda itu terus membuka setiap pintu sambungan kereta ini dengan paksa tanpa peduli apa yang ada di depan sana nanti. Yang terpenting baginya sekarang adalah lari secepat mungkin dari para mayat hidup itu.
'Dasar baka! Dasar baka! Dasar baka! Dasar BAKAAAA!'
Tak henti-hentinya Sona mengutuk Naruto dalam hati dengan berbagai kata-kata kasar yang muncul di kepalanya.
Mereka berdua terus-menerus berlarian di dalam sepanjang kereta tersebut. Memang keputusan yang tepat dari Naruto untuk sebaiknya tidak membuang-buang peluru hanyauntuk melawan para mayat hidup itu semua. Karena pastilah jumlah peluru yang mereka berdua miliki masih kalah dibanding jumlah Zombie yang saat ini sedang mengejar di belakang.
Setelah membuka pintu sambungan gerbong ke-7 di depannya, tiba-tiba Naruto berhenti berlari. Apa yang dilakukan pemuda tersebut lantas membuat Sona juga ikut menghentikan langkah kedua kakinya.
BLAAMMM. . .
Naruto menutup pintu tersebut keras-keras dan segera mengambil nafas-nafas panjang setelah adrenalin yang terpacu menghabiskan seluruh cadangan oksigen di dalam paru-parunya.
Tentu saja saat ini berbeda ketika saat Naruto berlari ribuan meter tanpa henti untuk pergi menyelamatkan Sona. Karena berkat bantuan dari Virus yang ada di dalam tubuhnya, Naruto mampu untuk menggeser batasnya hingga sejauh mungkin.
Tetapi pemuda berambut kuning tersebut tidak melakukannya hari ini. Karena ia selalu mengingat semua pesan Ayahnya katakan.
.
.
.
'Mulai sekarang... Jangan pernah pakai kekuatan itu lagi...'
.
.
.
Kata-kata itu terus terngiang di dalam kepalanya. Dan Naruto menyadari benar akan hal itu. Karena dirinya pun dapat merasakan dampak yang begitu nyata.
Sulit baginya sekedar untuk tidur...
Hingga harus menggunakan obat bius untuk membuat seluruh tubuhnya beristirahat dan terlelap. Bagaikan sebuah konpensasi yang harus ia bayar, Naruto benar-benar menderita karena telah menggunakan kekuatan itu secara berlebihan hanya untuk selamatkan nyawa satu per satu teman yang sangat berharga baginya.
Dan kini ia bertekad untuk tidak selalu bergantung kepada kekuatan dahsyat tersebut. Kekuatan yang mampu meregenerasi luka-luka yang ia dapat secara instan. Ataupun kekuatan untuk membuatnya terbebas dari belenggu batas tubuh seorang manusia.
.
.
.
Apalah arti sebuah kekuatan, jika dirinya tak bisa lagi tersenyum bahagia bersama mereka yang ia sayangi...
.
.
.
Sejenak Naruto mengambil nafas sambil termangu oleh ingatan tersebut. Mengingat kembali semua hal yang telah Minato katakan. Tetapi justru itu membuatnya lupa akan apa yang kini sedang ia hadapi.
BRRAAAKKKHH...!
Naruto terpental jauh dari pintu yang ia tahan ketika para Zombie di sana telah datang mendobrak.
"Naruto?!" Pekik Sona melihat Naruto yang jatuh ke bawah dengan sangat tidak etis.
'KUSOOO!'
Pemuda itu lekas bangkit dengan raut wajah kesal. Dan segera kembali untuk menahan pintu sambungan antar gerbong yang sudah penyok tersebut. Sona pun juga turut ikut membantunya. Goncangan serta dobrakan keras yang terjadi benar-benar membuat lengan dan bahunya sakit menahan pintu itu.
Di dalam kegelapan dan hanya menggunakan flashlight kecil yang terpasang menjadi satu dengan earphone, mereka melewati siang hari ini penuh susah payah di dalam bekas stasiun kereta bawah tanah.
Naruto yang menggunakan bahu serta lengan kiri untuk menahan pintu itu, membuatnya menghadap tepat ke arah Sona yang juga menghadap tepat ke arahnya. Di sekelilingnya gelap. Hanya yang tercahayai oleh senternya yang bisa Naruto lihat. Dan di manakah letak cahaya dari flashlight Naruto itu terjatuh...?
". . . ."
". . . . . . . ."
"A-A-Apa yang kau lihat?!"
Tiba-tiba Sona terpekik keras ketika menyadari apa yang sedang partnernya itu soroti. Membuatnya merubah posisinya sendiri sembari menutupi kedua dadanya.
"M-Maaf..."
Ungkap Naruto yang sebenarnya tidak bermaksud seperti itu. Tetapi apa daya bila Sona sudah terlanjur salah paham kepadanya. Hingga membuat gadis itu mengubah posisi dengan menahan pintu menggunakan punggungnya.
Dan Naruto hanya bisa memandang gadis yang saat ini tengah memakai seragam dari Divisi Anti Bio-Terrorist Unit berwarna hitam seperti yang Ino biasa kenakan. Namun seragam tersebut nampak begitu ketat. Memeluk seluruh lekuk tubuh yang Sona miliki di usia remajanya.
Tidak ada rompi seperti yang juga biasa Ino gunakan, Sona hanya mengenakan Holster yang hampir sama dengan sabuk sarung senjata miliknya. Karena sementara ini tidak ada rompi sederhana yang sesuai dengan ukuran tubuh Sona.
Sebuah alasan yang paling masuk akal bila gadis itu mudah sekali salah paham tentang Naruto yang tidak sengaja memandang ke arah... Dadanya?
Dobrakan demi dobrakan terus terjadi. Sementara Naruto semakin kewalahan mengadapi gebrakan yang selalu datang. Tetapi di saat Sona menghadapkan kepalanya untuk menyorot apa yang ada di depan sana, saat itulah gadis tersebut menunjukkan raut wajah yang terkejut.
"Na-... Naruto..."
Sona memanggil nama partnernya itu sembari terus menahan pintu yang ada di belakang punggungnya.
Naruto menoleh kepada Sona dan terbingung mendapati ekspresi pada wajah yang gadis itu tunjukkan. Ia kemudian mencoba untuk melihat ke arah yang Sona lihat. Lalu barulah Naruto mengerti apa yang sedang gadis itu khawatirkan.
'Oh My Gust...' Gumam Naruto pelan dalam hati saat sorot lampu senter kecilnya menyinari apa yang ada di tengah-tengah kegelapan di ujung sana.
Seorang wanita berdiri diam menghadap ke arah mereka berdua dari ujung gerbong yang gelap di sana. Rambut panjangnya yang lusuh dan penuh bercak darah menutupi sebagian dari wajahnya yang hampir hancur.
Naruto melepaskan pintu yang sedang ia tahan itu, lalu berdiri menegakkan postur tubuhnya. Gadis yang menjadi partnernya dalam misi ini juga melakukan hal yang sama seperti yang Naruto lakukan. Entah Sona, Naruto, maupun wanita dengan wajah mengerikan bak hantu dalam film-film di sana, mereka bertiga saling memandang satu sama lain di dalam kegelapan.
"Sona... Kau pilih yang mana..." Gumam Naruto menanyai sesuatu kepada gadis di sampingnya.
". . . . .Kanan."
Sona menjawab pelan seolah tahu apa yang sedang pemuda berambut kuning itu maksud. Dengan mengetahui jawaban dari rekannya, Naruto melangkahkan kedua kakinya pelan ke depan. Meninggalkan pintu di belakangnya yang mulai rusak oleh setiap dobrakan yang ia dapat. Sona pun kembali mengikuti apa yang Naruto lakukan dengan berjalan tepat di sampingnya.
Semakin lama, langkah mereka berdua semakin cepat dan semakin bertambah cepat. Hingga pada akhirnya langkah-langkah kecil itu berubah menjadi langkah-langkah panjang. Naruto dan Sona berlari kencang menuju wanita tersebut.
BLLAAAMMM!
Pintu di sana sudah mencapai batasnya. Bagai ombak pasang, puluhan Zombie memasuki gerbong di mana Naruto dan Sona sedang berada saat ini.
Wanita mengerikan itu pun berteriak, menunjukkan gigi-gigi yang penuh dengan air liur saat Naruto dan Sona berlari mendekat ke arahnya. Dia ikut bergerak dan maju untuk berlari ke arah mereka berdua. Di dalam gerbong ini, antara Naruto, Sona, dan juga wanita mengerikan itu berlari mendekat satu sama lain. Mengeliminasi setiap jarak yang ada.
Tetapi ketika mereka berdua sudah berada di dalam jarak 5 langkah di hadapan wanita tersebut, Naruto dan Sona yang berlari berhimpitan secara tiba-tiba mengubah arah tujuan mereka bersamaan di waktu yang sama.
Naruto berlari menuju ke deretan kursi-kursi gerbong sebelah kiri, dan Sona melompat ke arah deretan kursi-kursi gerbong sebelah kanan. Mereka berdua bergerak bersilangan arah secara bersamaan hingga membuat wanita itu kebingungan saat ingin mencengkram salah satu dari mereka.
Naruto dan Sona kembali ke jalur tengah ketika berhasil menghindari wanita mengerikan tersebut dengan begitu mudah. Lalu berlari kembali untuk meninggalkannya.
GRUBRAKK!
Kerumunan Zombie yang datang langsung saja menyapu wanita mengerikan itu dari jalan mereka. Dia tertabrak hingga jatuh dan terinjak-injak oleh begitu banyak Zombie yang lewat berlari.
Sekali lagi Naruto dan Sona menunjukkan bahwa mereka tidak perlu menggunakan banyak kata untuk bisa saling mengerti satu sama lain. Kerja sama yang mereka perlihatkan membuktikan bahwa mereka berdua memang ditakdirkan untuk menjadi sebuah partner.
"Itu gerbong lokomotifnya!" Ucap Sona saat melihat pintu sambungan antar gerbong yang terakhir. Di mana di ujung sana adalah kepala dari seluruh rangkaian kereta ini.
Mendengar hal itu, Naruto yang sudah membuka pintu terakhir tersebut berlari semakin lebih cepat hingga meninggalkan Sona di belakangnya. Ia mendekati ujung dari kereta ini dengan kecepatan penuh tanpa bisa terhentikan lagi.
PRRUAANNKK!
Dengan kecepatan tinggi Naruto melompat dan menabrakkan dirinya ke arah kaca kereta ini hingga membuatnya pecah berkeping-keping. Dan pemuda pemilik sepasang mata sebiru langit cerah itu pun menjadi yang pertama sampai di luar.
Deru nafas yang menggebu-gebu terdengar dari gadis yang tengah berlari dikejar puluhan, bahkan ratusan Zombie kelaparan tepat di belakangnya. Terima kasih untuk bentuk tubuhnya yang kecil dan ramping, membuat Sona dapat berlari sedikit lebih kencang dari para mayat-mayat hidup ganas itu.
Tetapi cadangan oksigen di dalam paru-parunya seperti sudah benar-benar habis. Sona merasa tidak mampu lagi untuk mempertahankan laju kecepatannya. Namun bila ia menyerah sampai di sini, maka semuanya akan berakhir begitu saja.
Memikirkan hal itu, Sona berusaha sekuat mungkin untuk mencapai ujung dari kereta ini. Ia terus berlari tiada henti dengan kecepatannya yang masih sama seperti tadi.
WUUSSHH. . .
Gadis itu melompat ke arah jendela kereta yang telah pecah. Ia menggunakan tumpuan tangan kanannya, lalu mengayunkan seluruh beban tubuhnya untuk melewati jendela tersebut.
.
.
.
GRAB. . .
.
.
.
Di bawah sana, seseorang berhasil menangkap tubuh kecilnya yang benar-benar sudah kelelahan.
Naruto sudah menunggu kedatangan Sona di depan kereta. Dan gadis itu melompat jatuh tepat di gendongannya.
Detak jantungnya masih berdegub kencang. Deru nafasnya masih menggebu-gebu. Tetapi Sona masih mampu untuk memandang wajah pemuda yang saat ini juga tengah memandang wajah manisnya.
Untuk sesaat, mereka berdua terdiam untuk saling menatap satu sama lain. Tidak mempedulikan kerumunan mayat hidup yang mencoba keluar dari jendela kereta di sana. Kedua mata mereka saling menatap begitu dalam.
"Aku... Hampir menyerah..." Ungkap Sona mengatakan apa yang ia rasakan tadi kepada rekannya itu.
"Tapi kau tidak menyerah." Sahut Naruto sembari terus menatapnya dalam-dalam.
"Bisa... Kau lepaskan aku?" Tanya gadis itu menyadari bahwa Naruto terlalu lama menggendong dirinya ala Bridal Style.
"Ahh... M-Maaf"
GEDUBRAAKK...
.
.
.
"Ittai BAKAAAA...!" Pekik Sona kesakitan setelah pemuda itu melepaskan tubuhnya jatuh begitu saja.
"Mereka datang!" Ucap Naruto seakan tidak menyadari akan dosanya tadi.
Sona yang baru saja terjerembab di tanah penuh kerikil kecil menolehkan pandangan kedua matanya untuk melihat ke atas sana. Dan benar saja, secara tiba-tiba seorang pria jatuh dari jendela kereta itu dan mengarah kepadanya.
"GGRRRAAHHKK!"
Tidak sempat menghindar, Sona hanya bisa menutup kedua mata indahnya.
BUUAAGGHHKK!
Kaki kanan Naruto berhasil menendang kepala Zombie itu dengan sangat keras, hingga membuatnya terpelanting jauh membentur ke dinding pembatas rel.
Sona membuka kembali kedua matanya, dan menatap Naruto yang kini tengah mengulurkan tangan untuk membantunya.
"Ikuzo...!" Ucap Naruto sembari menarik gadis yang menerima uluran tangannya tersebut.
Mereka berdua kembali berlari di tengah-tengah kegelapan pekat. Warna hitam yang selalu mendominasi. Bau dari besi yang berkarat ataupun aroma tanah dari guci-guci bunga yang pecah berserakan di sepanjang koridor Lobby dapat mereka rasakan.
"Cepat-cepat-cepat!" Kata Naruto ketika sedang menyeret tangan Sona untuk berlari sedikit lebih cepat. Karena tepat di belakang mereka, gerombolan Zombie-Zombie ganas yang telah berhasil keluar dari kereta semakin dekat mengejar.
"Ke sini!" Ucap pemuda itu lagi seolah tahu jalan mana yang harus mereka berdua lalui. Seakan-akan ia telah memahami benar seluk-beluk dari stasiun kereta bawah tanah ini.
Naruto naik kembali ke atas lantai Lobby bersama dengan Sona di gandengannya. Mereka berdua bagai berlari ke sana dan kemari seperti tanpa arah karena kerumunan Zombie yang mengejar tepat di belakang mereka di dalam kegelapan. Tetapi Naruto tahu benar ke mana arah yang harus ia tuju untuk keluar dari stasiun suram ini.
Dan bersama dengan derap langkah miliknya dan derap langkah-langkah Sona yang ada di sampingnya, Naruto mendekati sebuah pintu yang ada di ujung sana. Sebuah pintu yang menghubungkan koridor Lobby ke ruang kantor milik Staff stasiun kereta ini.
Tangan kiri Naruto membuka knop pintu tersebut, lalu melangkahkan kedua kakinya cepat masuk ke dalam sembari menarik pergelangan tangan Sona. Membuat gadis itu terseret masuk dan jatuh ke pelukannya.
Tepat di dekat pintu yang terbuka itu, banyak para Zombie kelaparan yang berhasil mengikuti mereka berdua di dalam kegelapan. Tetapi beberapa saat setelah Sona berhasil melewati pintu tersebut, Naruto lekas mendorong pintu itu menggunakan kakinya agar kembali tertutub sebelum para Zombie di sana mendapatkan mereka berdua.
.
.
.
BLAAMM. . .!
.
.
.
.
.
.
.
- The Place Of Hope -
.
Chapter 20 : "Their Bonds"
Part - 2
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Horror, Adventure, and Gore
Caution! Contains violance & profanity (17th +)
.
.
.
.
.
.
.
Jarum sebuah jam besar di tengah-tengah Lobby Bandara menunjuk ke pukul dua siang. Kursi nyaman berjejer di sepanjang tempat ini. Kursi yang biasanya para calon penumpang ataupun kerabatnya menunggu kedatangan pesawat mereka.
Tetapi hampir semua kursi berwarna biru di tempat seluas mata memandang ini kosong melompong. Tidak ada keramaian dari obrolan-obrolan calon penumpang. Tidak ada orang-orang yang menunggu kedatangan kerabat mereka turun dari pesawat. Tidak ada calo tiket yang mendagangkan tiketnya di sekitar area Bandara. Bahkan tidak ada satupun petugas Bandara yang menjaga keamanan dan ketertiban bagi calon penumpangnya.
Setelah satu tragedi mengerikan di hari itu terjadi, semua itu seolah menghilang secara tiba-tiba. Keramaian yang biasa terdengar bila dirimu datang ke tempat seperti Bandara, maka kini hanya kesunyian yang asing yang akan kau dengar.
Noda dari jejak-jejak kotor alas sepatu yang masih melekat di permukaan lantai di sepanjang Lobby ini, seakan menjadi tanda dan saksi bisu bahwa Bandara ini sangatlah ramai pengunjung sebelum semua kengerian itu terjadi.
Dan lihatlah sekarang. Hanya ada deretan kursi-kursi biru bagai laut yang tenang. Benar-benar sangat tenang hingga dirimu akan mendengar suara gesekan daun bambu yang tertiup oleh semilir angin kecil di ujung dekat pintu toilet di sana.
Di tempat yang seluas ini, hanya ada sekelompok remaja yang berstatus sebagai pengungsi. Mereka duduk pada deretan kursi paling tengah. Dua gadis dan dua pemuda, dengan beragam setelan kaos masing-masing yang sedang mereka kenakan.
Kiba, Hinata, Sasuke, bahkan Sakura... Mereka semua tengah duduk diam sembari menunggu sesuatu di tempat ini. Menunggu sesuatu yang bahkan mereka tidak mengerti apakah itu. Mereka hanya tertunduk tanpa bicara satu sama lain walau jarak di antara mereka saling berdekatan. Di antara hati yang dilanda dilema, tidak ada kata apapun yang terucap selain kesunyian bimbang.
.
.
.
.
Sementara itu di tempat lain, tempat terletaknya panel-panel listrik dan tower pencakar langit, Minato dan Hashirama berdiri di atap Bandara yang sangat jarang tersentuh oleh manusia.
"Mengapa... Kau mengirim mereka berdua..."
Minato bergumam dalam tanya, sembari menatap pemandangan seluruh sudut Kota dari tempat tertinggi di Bandara ini.
"Semua orang sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Aku pun sudah kehabisan personel yang dikirim untuk membuat dinding di sepanjang Kota ini." Jawab Hashirama yang juga sedang menikmati pemandangan yang sama.
Terik sang surya nampak sama sekali tidak mengganggu mereka. Dan justru semakin terhanyut oleh desiran dari angin yang lewat.
"Bukan itu yang kumaksud."
Minato menegakkan postur tubuh yang sebelumnya condong ke pagar pembatas atap ini untuk menikmati seluruh pemandangan yang tersuguhkan.
"Mereka berdua bukanlah profesional. Dan salah satu dari mereka tidak lain adalah, putrimu sendiri." Ucap Minato yang kini memandang ke arah lawan bicaranya tersebut.
Pria paruh baya bersurai kuning itu seolah tidak percaya dengan keputusan dari Hashirama yang mengirim putrinya sendiri dalam bahaya di luar sana. Melakukan misi pengejaran yang mungkin saja bisa membunuh putrinya itu tanpa belas kasih.
"Masing-masing dari mereka bukanlah seorang profesional. Tetapi juga bukan amatiran." Jawab Hashirama sambil terus menatap gedung-gedung pencakar langit yang Kota Konoha ini miliki.
"Bukan amatiran? Apa maksudmu? Bukankah mereka hanyalah seorang pelajar yang bahkan masih belum lulus SMA?" Sahut Minato cepat sembari mengerutkan dahi.
"Sona memang masih belum lulus dari sistem pembelajaran sekolahnya. Tetapi, setiap hari dia menghabiskan hampir seluruh waktunya hanya untuk mempelajari tentang seni bela diri dan apapun yang menyangkut tentang inteligensi. Dia belajar bagaimana cara merakit sebuah senjata atau bahkan menggunakannya. Semua itu ia lakukan karena terkagum oleh sosok ibunya."
Hashirama memberikan penjelasan atas pertanyaan Minato mengapa ia mengirim putrinya sendiri untuk mengemban sebuah misi rahasia yang sangat berbahaya. Pada akhir kalimatnya, entah mengapa membuatnya terkenang oleh sosok Mito Uzumaki. Seorang wanita kuat yang selalu bisa ia andalkan ketika dirinya ikut terjun langsung dalam sebuah misi besar.
"Dari luar, fisiknya yang begitu kecil membuatnya terlihat begitu rapuh. Tetapi mereka melatihnya bukan untuk menjadi istana pasir indah yang dapat diinjak dan hancur dengan sangat mudah. Mungkin Sona bukanlah seorang profesional yang memiliki bantak jam terbang. Tetapi ingatlah bahwa dia penah beberapa kali membantu Organisasi ini memecahkan kasus-kasus kecil yang bisa ia jangkau."
"Sona memang bukanlah seseorang yang profesional. Tetapi ia sudah mempelajari dan memiliki dasar dari menjadi seorang inteligensia seperti Mito. Suatu bakat yang sama sekali tidak ada padaku." Ungkap Hashirama secara panjang lebar mengenai alasan mengapa ia merekrut putrinya itu untuk masuk ke Organisasi ini.
"Dan satu hal lagi. Kau terlalu meremehkan putramu, Minato." Lanjutnya kemudian.
Setelah mendengar kalimat terakhir tersebut, Minato hanya diam. Tidak menjawab sepatah kata pun tentang hal itu.
"Ketika saat penyebaran ini telah terjadi, Selama itu juga Naruto sudah melalui begitu banyak hal. Dia ada di luar sana tanpa diriku ataupun dirimu. Mencari tahu titik vital dan semua kelemahan mereka untuk bertahan hidup. Bukankah itu berarti dia memiliki insting dan naluri yang luar biasa seperti dirimu...? Naruto telah melakukan hal yang tidak bisa orang lain lakukan demi mempertahankan hidupnya di dalam Kota yang sudah menjadi sekejam ini."
"Berada di tengah-tengah ribuan para mayat hidup itu tanpa memiliki Combat Exprience seperti semua personel yang sudah terlatih bertahun-tahun di sini sedikitpun. Dan itu membuatku berpikir bahwa bagaimana jadinya bila dengan insting naluri tajam yang ia miliki itu diberi sedikit polesan kecil...? Dia bisa bergerak sepertiku, dan berpikir sepertimu."
"Bahkan intuisiku sanggup mengatakan bahwa suatu saat nanti, sosok pemuda bernama Naruto Namikaze dapat melampaui kehebatan dari seorang Hashirama dan Minato sekaligus. Aku melihatnya bagai sebuah uang logam. Di mana Organisasi ini akan dapatkan dua sisi gambar yang berbeda dari satu keping yang sama."
Hashirama menjelaskan dengan begitu panjang lebar untuk menjawab seliruh keraguan dan kekhawatiran yang terlihat sangat berlebihan dari Minato. Seolah sahabatnya itu tidak mampu untuk mempercayai keistimewaan yang ada pada putranya sendiri.
". . . . ."
"...Begitu." Ucap Minato pelan dan singkat setelah mengerti alasan Hashirama tentang mengirim dua remaja yang bahkan masih belum lulus dari bangku sekolah mereka.
.
.
.
Sementara tepat di bawah lantai atap di mana Minato dan Hashirama sedang berdebat, di lantai dasar yang merupakan area Lobby Bandara besar Kota ini, Sasuke dan yang lainnya masih terduduk diam di antara puluhan kursi-kursi yang ada.
Mereka seolah masih sedang menunggu sesuatu. Tetapi sama sekali tidak tahu apa yang tengah mereka tunggu. Hanya duduk manis di antara deretan kursi yang berjejer rapi. Tanpa ada sepatah kata pun yang terdengar. Membuat suasana di antara mereka nampak begitu sepi dan sunyi.
Entah itu Kiba, Hinata, Sasuke, maupun Sakura, mereka hanya membisu dengan pikiran yang melayang-layang entah ke mana. Terutama bagi gadis berambut merah jambu yang semenjak tadi hanya tertunduk. Membuat Sasuke tidak bisa melihat seperti apa ekspresi yang ada pada wajah putihnya saat ini.
Begitu membekas di pikiran Sakura, tentang bagaimana ia telah membentak Naruto dengan begitu kasar. Sakura merasa sudah membawa sesal yang sangat membebani hatinya. Membuatnya berpikir bahwa apa yang telah ia lakukan itu mungkin sudah terlalu keterlaluan.
Sakura hanya ingin Naruto mengerti bahwa mereka semua tidak ingin menjadi beban tersendiri bagi pemuda itu. Sakura ingin Naruto tahu bahwa keputusan yang sudah Naruto buat terlalu egois tanpa memberi tahu kepada mereka terlebih dahulu.
Jauh di dalam lubuk hatinya, Sakura benar-benar tahu bagaimana Naruto sudah menderita sampai sekarang ini. Dan ia tidak ingin membuat beban teman semasa kecilnya itu menjadi jauh lebih berat lagi. Memikirkan bagaimana Naruto yang terluka sedangkan dirinya baik-baik saja. Sakura berpikir bahwa itu sangatlah tidak adil sementara Naruto telah berjuang keras demi teman-temannya.
Tetapi Sakura mengakui kesalahannya dengan semua bentakkan yang sudah ia layangkan secara sepihak kepada temannya itu. Sesuatu yang mungkin juga tidak perlu ia lakukan bila semua bisa dibicarakan secara lebih baik-baik. Dan setelah kejadian di depan Sasuke dan yang lain, ia merasa bahwa dirinya pun juga seorang yang egois. Mungkin jauh lebih egois dari Naruto sendiri.
Sakura menelengkupkan kedua telapak tangannya ke wajah. Menunduk dan menutup wajahnya sendiri. Menyesali semua yang sudah ia lakukan kepada sosok yang sebenarnya begitu berharga baginya. Ingin Sakura meminta maaf padanya sekarang juga, dan mengakui segala sesal yang telah menumpuk di dalam hatinya.
Sasuke menatap dalam ke arah Sakura. Melihat bagaimana saat ini kedua pundak gadis itu mulai bergetar. Sasuke tahu jika Sakura kini tengah menangis. Sasuke tahu bahwa Sakura sedang meratapi betapa bodoh dirinya. Dan Sasuke tahu kekasihnya itu tengah menyalahkan dirinya sendiri.
'Sakura...'
Tangan kanan Sasuke terangkat ke arahnya. Seolah ingin menyentuh pucuk kepala gadis itu untuk menenangkannya. Tetapi ketika Sasuke telah mengulurkan tangannya mendekati pucuk kepala Sakura, kedua pundak gadis itu semakin berguncang. Menandakan bahwa Sakura benar-benar sangat menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang sudah ia lakukan.
Membuat tangan kanan Sasuke berhenti bergerak ketika melihat kekasihnya seperti itu. Ini adalah pertama kalinya Sasuke yang melihat begitu terpuruk. Entah mengapa ia semakin tidak suka dengan suasana seperti ini. Mereka semua nampak saling menyalahkan diri mereka sendiri seperti yang Sakura lakukan. Sasuke benar-benar tidak suka dengan semua yang berubah menjadi seperti ini.
"Sudah cukup. Aku akan lakukan sesuatu." Ucap Sasuke dengan tangan yang terkepal lalu berlari melenggang dari mereka begitu saja.
"Sa-... Sasuke! Kau mau ke mana?!" Teriak Kiba saat mendapati sang Uchiha muda sudah semakin jauh dari pandangan matanya.
"Menemui orang itu. Kurasa hanya dia satu-satunya yang bisa membantu kita." Jawab Sasuke dari kejauhan.
Pemuda itu berlari menaiki seluruh anak tangga yang ada. Ia menyusuri setiap lorong di lantai kedua dari tempat ini. Mencari seseorang yang ingin ia temui. Sasuke berlarian hingga membuat nafasnya begitu sesak sembari terus menengok ke kanan dan ke kiri. Tetapi sayangnya, sosok yang ia cari tidak ada di lantai dua ini.
"Kuso~" Decihnya pelan dan memutar kembali untuk turun ke bawah.
Tidak henti-hentinya Sasuke berlarian hampir ke seluruh area Bandara ini. Ia berusaha keras untuk mencari seseorang yang mungkin mau membantunya untuk selesaikan masalah ini. Ia tidak ingin melihat mereka terus-menerus menyalahkan diri mereka sendiri dengan hanya diam dan jatuh semakin terpuruk. Sasuke harus melakukan sesuatu jika dirinya tidak ingin berada di tengah-tengah suasana menyedihkan yang seperti tadi.
Kedua langkah kakinya berhenti tepat di depan tenda besar beberapa pengungsi yang lain. Ia menumpukan seluruh beban tubuhnya dengan tangan yang bersangga pada kedua lututnya sendiri. Sasuke sampai harus membungkuk setelah lelah berlarian ke sana kemari di sekitar area Bandara ini dengan nafas yang tersenggal-senggal.
Tetapi sayangnya, sosok yang sedang ia cari tidak terlihat di antara para pengungsi tersebut. Membuat pemuda pemilik sepangang iris sehitam batu obsidian pada kedua matanya tersebut harus berbalik dan berlari kembali.
Sasuke sudah tidak tahu ke mana lagi ia harus mencari. Pandangannya tertuju kepada sisi dinding bangunan ini di sana. Dengan nafas yang sudah hampir habis, Sasuke melangkah sempoyongan dan langsung menyandarkan satu tangannya ke tembok agar dirinya tak terjatuh akibat kelelahan.
"...Yo."
Sapa seseorang yang tengah asik membaca bukunya kepada Sasuke yang baru tiba di hadapannya. Sejenak pemuda itu mencoba untuk menenangkan nafas-nafasnya yang masih berderu sehabis berlarian ke sana kemari.
"Ada yang ingin kutanyakan padamu... Kakashi-sensei."
". . . . ."
Sosok pria itu hanya terdiam saat mendengar bahwa salah satu mantan muridnya itu ingin membicarakan sesuatu, atau lebih tepatnya, ingin menanyakan sesuatu yang terdengar begitu penting.
"Sasuke!"
"Sasuke-kun!"
Tiba-tiba jumlah mantan muridnya bertambah. Kini Kiba, Hinata, dan juga Sakura baru tiba tepat di belakang Sasuke dengan nafas yang sangat tersenggal-senggal. Mereka langsung mencoba untuk mengejar Sasuke yang tingkahnya terlihat aneh setelah tiba-tiba meninggalkan mereka begitu saja dengan sangat tergesa-gesa.
Beruntung Kiba, Hinata, dan Sakura masih dapat mengikuti jejak Sasuke hingga sampai di tempat ini. Tetapi mereka masih belum mengerti mengapa pemuda itu tiba-tiba menemui Kakashi-sensei di saat yang seperti ini.
"Kau pasti tahu... Ke mana Sona dan Naruto pergi." Kata pemuda itu penuh dengan keyakinan bahwa Kakashi tentu mengetahui sesuatu yang menyangkut semua tentang Naruto.
". . . . ."
Sejenak, Kakashi terdiam menatap seluruh mantan muridnya itu berkumpul di hadapannya. Bertanya mengenai apa yang saat ini tengah Naruto dan Sona lakukan.
'Astaga... Semua rencanamu selalu saja berhasil membuatku merinding, Sensei.' Gumam dalam hati pria pemilik rambut putih keperakan itu. Tersenyum akan sesuatu yang baru saja terjadi tepat di depannya.
Kakashi memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana, lalu melangkah berpaling dari mereka.
"Aku memang tahu. Tapi maaf, aku tidak ingin mendapat masalah besar hanya karena ingin membantu kalian untuk menuju ke tempat mereka berada." Ungkap Kakashi seolah tahu apa yang sebenarnya Sasuke, Sakura, Kiba, dan Hinata inginkan saat ini. Memasang wajah datar seakan tak peduli, Kakashi berpaling dari mereka berempat.
". . . . ."
Melihat reaksi yang sudah Kakashi tunjukkan, membuat Sasuke dan yang lain hanya bisa terdiam memasang raut wajah tak percaya. Tidak mereka sangka bahwa mantan gurunya itu menolak mentah-mentah bahkan sebelum mereka meminta pertolongan.
"Ka-... Kakashi-sensei..."
Hinata menggumam pelan bersama nada kecewa yang terseling di antara suara lirihnya. Sementara kedua kepalan tangan Sasuke semakin mengerat saat melirik wajah-wajah putus harapan dari teman-temannya. Menatap Kakashi yang semakin berlalu, membuat Sasuke harus melakukan sesuatu atau semua tenaga yang ia habiskan untuk berlarian ke sana kemari hanya akan sia-sia tanpa arti.
DRAP-DRAP-DRAP-DRAP!
Langkah kaki Kakashi terhenti ketika melihat Sasuke yang tiba-tiba berlari dan kembali berhenti tepat di hadapannya.
"Kami sadar bahwa ini sebuah permintaan yang mustahil untuk diwujudkan, tetapi kami semua tidak bisa membohongi hati kami sendiri untuk diam dan tidak melakukan apapun di saat mereka tengah berjuang sendirian. Jadi dengan segenap hatiku ini, kumohon... Bantulah kami untuk bertemu dengan mereka, Sensei!"
". . . . ?!"
Kedua mata Kakashi melebar saat mendapati Sasuke yang kini memohon sambil membungkuk di hadapannya. Hanya demi ingin menolong sahabatnya, Sasuke rela menundukkan harga diri sebagai seorang dari Uchiha yang selalu ia junjung tinggi.
Kiba, Hinata, dan Sakura pun juga melakukan hal yang sama ketika Kakashi melirikkan sudut matanya ke arah mereka. Seolah ikatan yang mereka semua miliki dengan Naruto, bukanlah sesuatu yang akan memudar terhembus waktu.
'Kurasa putramu memiliki sesuatu yang tidak bisa kau miliki. Jalinan batin di antara mereka benar-benar membuat seseorang sepertiku tersentuh.'
Kakashi memejamkan kedua matanya sembari tersenyum. Ia menarik satu tangannya dari saku celana dan kini sudah memegang sebuah kunci kendaraan.
"Sepertinya hukuman berat akan datang menghantuiku nanti." Kata pria itu yang kini bersedia untuk membantu mereka semua.
Mengerti akan maksud dari kata-katanya, Hinata dan Sakura saling menatap dengan raut wajah gembira yang tidak bisa lagi mereka berdua tutupi. Sedangkan Kiba tersenyum mengacungkan jempolnya kepada Sasuke yang telah berhasil hati meyakinkan Kakashi bahwa mereka semua bersungguh-sungguh ingin membantu Naruto dan Sona tanpa memikirkan apapun yang akan terjadi nanti.
"Ikuti aku ke area parkiran bawah tanah. Jangan sampai personel yang lain mengetahui kita, mengerti?" Ucap Kakashi sembari berlalu menuju ke dalam gedung Bandara kembali.
Serentak Kiba, Hinata, Sakura, serta Sasuke mengikuti langkah-langkahnya dari belakang. Mereka berjalan beriringan melewati Lobby yang sepi. Bermaksud masuk ke area parkir bawah tanah lewat sisi dalam untuk menghindari para personel penjaga.
TAP-TAP-TAP-TAP-TAP. . .
Terdengar ketukan suara sepatu ringan yang beradu dengan lantai Lobby ketika mereka akan menuruni tangga yang menuju ke area parkir bawah tanah Bandara ini.
"Onee-chan!"
Panggil seorang gadis kecil yang masih mengenakan seragam sekolahnya. Mengenali suara tersebut, Hinata menghentikan langkahnya dan melirik sosok yang berlari mengejarnya.
"...Ayumi-chan?!" Pekik Hinata terkejut saat menyadari siapa gadis kecil yang kini menghampirinya.
"Ano~... Apakah Onee-chan akan pergi menyusul kakak berambut kuning itu? Karena tadi Ayumi sempat melihat Onee-chan seperti sedang bertengkar dengan kakak yang berambut kuning itu." Tanya gadis kecil itu dengan nada cepat walau dengan raut wajah yang terlihat khawatir. Karena dirinya pernah melihat hubungan mereka dengan Naruto yang sedikit berbeda dari biasanya.
Sejenak Hinata terdiam mendengar bahwa gadis kecil ini juga tahu bahwa dirinya sedang ada masalah dengan Naruto.
"Kurasa banyak hal yang sudah terjadi, Ayumi-chan. Tapi jangan khawatir. Karena pasti Onee-chan dan Naruto-Oniichan akan kembali baikan seperti semula." Jawab Hinata setelah agak lama terdiam menatap gadis kecil pemilik sepasang iris berwarna violet yang indah itu.
"Bolehkah... Bolehkah Ayumi ikut dengan Onee-chan untuk pergi ke tempat kakak berambut kuning itu?! Ayumi ingin membantu Onee-chan dan kakak berambut kuning itu untuk berbaikan! Karena Onee-chan dan kakak berambut kuning itu sudah sangat baik kepada Ayumi dan mau menemani Ayumi, Jadi-..."
"Mungkin perjalanan untuk menuju ke tempat Naruto-Oniichan ini akan menjadi sangat berbahaya, Ayumi-chan. Jadi kurasa Ayumi-chan tidak boleh ikut dengan kami." Sahut Hinata cepat memotong kalimat gadis kecil tersebut.
"Tenang saja. Karena Naruto-Oniichan adalah seorang yang sangat baik. Jadi pasti dia akan mengerti dan memaafkan Onee-chan, seperti dia yang sudah baik kepada Ayumi-chan." Lanjut Hinata lagi sembari tersenyum dan mengelus-ngelus pucuk kepala Ayumi. mencoba untuk membujuknya agar tidak memaksa ikut bersama dirinya dalam perjalanan yang akan sangat berbahaya ini.
"...Begitu." Gumam gadis kecil itu sedikit sayu telah mendengar Hinata yang menolaknya untuk ikut.
Bagaimanapun juga apa yang dikatakan Hinata adalah benar. Bahwa berada di luar sana akan sangat berbahaya. Dan Ayumi telah pernah merasakannya sendiri hidup bersembunyi di dalam sebuah rumah yang di kelilingi oleh makhluk-makhluk mengerikan.
". . . . .?"
Hinata memasang raut wajah bingung ketika Ayumi menyodorkan sebuah busur panah lipat yang selama ini selalu ia bawa ke manapun.
"Ayumi tahu di luar sana sangat berbahaya. Jadi bawalah ini bersama Onee-chan." Kata gadis itu seraya menyerahkan sesuatu yang ada di kedua tangannya tersebut.
Hinata meraih busur panah lipat itu dari tangannya.
"Tapi bukankah ini milik..."
"Tidak. Bukankah Ayumi sudah pernah bilang bahwa benda adalah pemberian dari seseorang yang tidak Ayumi kenal." Sahut Ayumi cepat sembari menggelengkan kepalanya.
"Benar juga. Tapi... Sebenarnya milik siapa barang ini..." Gumam Hinata yang menatap busur panah lipat yang biasa digunakan berlatih oleh atlet-atlet profesional di tangannya.
Hinata benar-benar terbingung, mengapa bisa seseorang malah memberikan sebuah benda untuk orang dewasa seperti ini kepada anak kecil seperti Ayumi...? Hinata begitu dibuat bertanya-tanya menganai hal ini.
"Onee-chan... Apakah Ayah Naruto-Oniichan juga memiliki rambut yang berwarna kuning...?"
"...Ehh?!" Hinata terkejut karena tiba-tiba Ayumi menanyakan tentang Ayah Naruto kepadanya.
"B-Benar... Tapi, mengapa Ayumi-chan menanyakan hal itu?"
". . . . ."
"Hinata, apa kau sudah selesai? Cepatlah, kita tidak punya banyak waktu lagi." Seru Kiba dari jauh mencoba untuk mengingatkan gadis itu karena kendaraan mereka sudah siap untuk berangkat.
"A-Aku akan segera ke sana!" Jawab Hinata menoleh ke arah Kiba.
"Maaf, Onee-chan harus segera pergi. Tetaplah di sini dan tunggu sampai Onee-chan dan Naruto-Oniichan kembali, mengerti?"
"Hum'u!" Sahut Ayumi sambil memberi sebuah anggukan.
Hinata memberikan senyum terakhir untuk gadis kecil bermata violet itu sebelum berbalik dan berlari ke arah Kiba yang sudah sedari tadi berdiri membuka pintu bagasi Jeep yang akan mereka gunakan.
"Maaf, sudah membuat kalian menunggu lama." Ucap Hinata ketika telah sampai di depan Kiba dan meletakkan Compound Bow itu di samping beberapa buah anak panah yang entah mengapa sudah ada di dalam kendaraan ini.
Seusai Hinata meletakkan busur panah yang terlipat itu di ruang belakang, Kiba segera menutup pintu belakang Jeep tersebut dan langsung beralih membuka pintu sebelah samping. Memperbolehkan gadis di sampingnya itu untuk naik ke dalam terlebih dahulu sebelum dirinya.
BRRUUMMM. . .
Kakashi menyalakan mesin kendaraan ini ketika Kiba telah menutup pintunya rapat-rapat. Seketika terasa guncangan dari getaran mesin yang menyala. Memasukkan persleneling di gigi pertama, Kakashi menginjak pedal gasnya dalam-dalam untuk mengejar banyak waktu yang telah hilang.
Dalam perjalanan untuk keluar dari area parkir Bandara ini yang begitu luas, Kakashi melirik sebuah Compound Bow yang tersandar manis di tangan Hinata melalui kaca spion tengahnya. Dalam diam, ia tersenyum melihat benda yang kini sudah berpindah tangan kepada mereka tersebut. Membuatnya teringat akan sosok seseorang yang sudah merencanakan ini semua.
.
.
.
.
.
( Flashback. . . )
.
.
.
.
.
Punggungnya tersandar pada dinding Lobby Bandara yang bersih hingga dapat memantulkan bias sosoknya bagaikan cermin. Mata yang senantiasa terlihat sayu itu memandang seorang gadis berumur 12 tahun yang berjalan kebingungan di area Lobby di mana ia sedang berada sekarang. Hanya sekali melihatnya saja, ia sudah tahu bahwa gadis kecil itu sedang kebingungan seperti mencari sesuatu. Atau mungkin, seseorang...?
Area Lobby bBandara ini begitu sepi tanpa adanya keramaian orang-orang yang sedang menunggu kedatangan pesawat mereka seperti dahulu kala. Hanya ada dirinya, dan sosok gadis manis tersebut. Membuatnya tidak memiliki pilihan lain selain memperhatikan setiap gerak gadis berambut panjang berwarna hitam itu di sana. Bahkan ia terus memperhatikannya sampai di mana sesuatu yang menarik terjadi.
BRRUUKKHH. . . .
"M-Maaf! A-Ayumi benar-benar tidak sengaja nano desu!"
Gadis itu menabrak seseorang yang baru saja muncul secara tiba-tiba di depannya.
"Ahh... Tidak apa-apa. Jangan khawatirkan hal itu Yang lebih penting lagi, sepertinya dirimu sedang mencari sesuatu. Apa ada yang bisa kubantu...?"
Ia melihat pria itu sedang menanyai gadis yang baru saja menabraknya.
"A-Ano... Sebenarnya,.. Ayumi sedang mencari seseorang nano desu..." Katanya dengan mata yang sebenarnya sudah berkaca-kaca ingin menangis sedari tadi.
"Begitu ya... Jika boleh kutahu, siapa orang yang sedang Ayumi cari?" Tanya pria bersurai kuning itu kemudian.
"Sebenarnya, Ayumi sedang mencari-cari Yuu-Oniichan nano desu... Tapi Ayumi tidak bisa menemukannya di mana-mana..." Jawab gadis itu lagi sembari menoleh ke kanan dan ke kiri seolah ingin melanjutkan pencariannya tersebut. Air matanya sudah hampir menetes di kedua sudut pelupuk mata indah miliknya. Membuat pria pemilik sepasang mata biru itu memberikan sebuah senyuman hamgat untuknya.
"Jangan khawatir. Ayumi pasti akan menemukan apa yang Ayumi cari."
"Tapi... Tapi Ayumi tidak bisa menemukan Yuu-Oniichan di manapun..." Balas gadis itu hampir putus asa setelah tidak kunjung menemukan kakaknya di seluruh sudut Bandara ini.
". . . . . ."
"Bawalah ini... Dan anggaplah ini sebagai suatu yang selalu tersalurkan dari waktu ke waktu. Bawa dan genggamlah untuk membuatmu tenang di saat air mata terlanjur tumpah membasahi pipimu seperti ini." Kata pria paruh baya itu sembari memberikan sebuah busur panah yang terlipat rapi. Dan salah satu jemarinya pun ikut mengusap air mata yang telah turun menetes di pipinya.
"Apakah ini benar-benar untukku?" Tanya Ayumi saat itu.
"Karena benda ini akan selalu dapat melindungimu dari bahaya, maka Ayumi bisa memilikinya." Ucap Minato kepada gadis itu.
Kakashi terbingung melihat ketua dari Divisinya itu malah memberikan busur tersebut kepada Ayumi.
"Arigatou nano desu~" Sahut gadis kecil di sana sembati mengusap air mata yang penuh pada setiap sudut pelupuk kedua mata violet indahnya. Lalu ia pun berlari dengan sebuah benda dari pemberian seorang pria yang sama sekali tidak ia kenali.
Kakashi lama memperhatikan hal yang menurutnya begitu ambigu tersebut. Ia tidak tahu apa yanb sebenarnya terjadi, tetapi yang pasti, ada sesuatu yang sedang pria itu rencanakan dengan sangat matang.
Kedua mata sayu miliknya menangkap Minato yang kini mulai melangkah mendekatinya. Dan pandangan heran ke arah Minato nampak tidak bisa ia sembunyikan.
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu sebelum aku membahas rapat pertama dengan mereka... Kakashi."
Minato berhenti tepat di hadapannya yang masih bersandar santai di dinding Lobby. Suaranya terdengar cukup pelan walau mereka berdua tahu bahwa saat ini area di sekitar tempat luas ini benar-benar sedang kosong. Namun nampaknya pria bersurai kuning yang pernah dijuluki sebagai sang jenius di Organisasi ini sangat berhati-hati terhadap sekitarnya.
"Bukankah putra Anda sedang menjalani masa pemulihan di sisi timur gedung...? Anda yakin ingin menghabiskan waktu yang tersisa dengan berbicara denganku sebelum rapat pertama dimulai tanpa menemuinya...?" Tanya Kakashi kepada sosok pria yang terkadang-kadang penuh dengan kharisma.
"Sebenarnya apa yang ingin kubicarakan denganmu ini adalah tentang putraku. Dan mungkin sekarang Naruto sedang dalam masa istirahatnya di sana. Aku bisa datang menjenguknya saat Hashirama telah tiba nanti." Jawab Minato memberikan sebuah alasan yang cukup logis kepadanya.
"Begitu, ya." Ucap Kakashi singkat tanpa banyak berkomentar lebih panjang tentang alasan yang sudah Minato berikan.
"Menyadari Hashirama yang telah merekrut Naruto berada di bawah tanggung jawabnya dan mengirimnya sendirian di dua misi berbahaya tanpa jam terbang yang memadai sebagai seorang personel Organisasi ini, membuatku berpikir begitu panjang tentang langkah apa yang akan Hashirama ambil nanti bila Itachi telah memberikan informasi kepadaku mengenai lokasi Obito Uchiha setelah akhir dari pengejarannya."
Minato mulai berbicara dengan raut yang sangat serius dan memberikan jeda di akhir kalimatnya. Membiarkan Kakashi mencerna dengan tepat hal pertama yang ingin ia bicarakan. Karena adalah fakta bahwa Hashirama telah mengirim Naruto terjun ke lapangan untuk melakukan misi-misi yang sangat berbahaya.
Yang pertama, saat misi pencarian Sona di pulau Gunkanjima. Dan yang kedua, misi yang baru saja Naruto selesaikan, yakni misi penyelamatan Sona yang berlokasi di gelanggang olahraga pinggiran Kota Konoha yang sudah tidak lagi terpakai.
Dengan hanya mengetahui data itu, membuat Minato untuk memeras seluruh tenaga otaknya untuk memikirkan seperti apa pergerakan Hashirama, bila salah satu Special Agent miliknya telah memberikan konfirmasi mengenai hasil pengejarannya terhadap pelaku atas bio terorisme yang sudah meluluh-lantakkan hampir seluruh Dunia.
"Mengirim Naruto sendirian lagi untuk memburu Obito Uchiha, Adalah salah satu dari sekian banyak skenario terburuk yang sudah kupikirkan. Kemungkinan tersebut begitu besar untuk terjadi. Karena itu aku akan membuat sebuah rencana yang hanya dirimulah yang bisa melakukannya." Minato melanjutkan setiap penggal kalimatnya kembali.
"Jadi dengan kata lain, Anda telah mengetahui pasti langkah seperti apa yang akan Hashirama-taichou ambil nanti. Begitu kah?" Tanya Kakashi yang nampak seolah sudah ikut tertelan oleh pembicaraan ini.
"Aku tidak mengatakan pasti, tapi itu hanyalah salah satu skenario yang memiliki kemungkinan terbesar untuk terjadi." Jawab Minato.
". . . . ."
Kakashi terhening untuk sesaat. Ketika ia mengingat kembali apa yang baru saja Minato lakukan di depan matanya, memberikan sebuah busur panah lipat berbahaya kepada seorang gadis SMP, lalu coba ia sambungkan hal tersebut dengan kemungkinan bahwa Naruto akan diterjunkan kembali ke dalam sebuah misi yang sangat berbahaya, Kakashi benar-benar tidak bisa menemukan titik terang dari seperti apakah rencana yang akan Minato buat.
Ia mencoba untuk menyusun Puzzle-Puzlle itu lalu menggabungkannya, Namun sayang semuanya masih benar-benar samar. Kakashi tidak mampu menggapai cara berpikir pria bermata biru di hadapannya ini.
"Mengenai apa yang baru saja Anda katakan... Sebuah rencana yang hanya diriku saja yang bisa melakukannya... Apakah itu jangan-jangan..."
". . . . . ."
"Yah, Kau benar. Aku berencana memberikan Naruto sebuah Back-Up kecil untuk membantu misinya itu. Dengan cara mengirim teman-temannya ke lokasi yang akan Itachi konfirmasikan nanti." Sahut Minato yang sedikit membuat Kakashi terkejut.
'Kukira Minato-sensei akan menyuruhku untuk menculik Naruto dan kabur dari Hashirama-taichou selamanya... Ternyata dugaanku salah, ya...' Gumam Kakashi yang langsung sweatdrop dalam hati.
"Jadi... Aku hanya harus berbicara dengan Sasuke dan yang lainnya, lalu membawa mereka bersama denganku."
"Tidak. Itu tidak perlu..." Sahut Minato cepat sembari tersenyum kecil memejamkan kedua mata birunya.
". . . .?" Kakashi diam terbingung.
"Mereka semua pasti akan datang menemuimu bila saatnya sudah tiba nanti." Lanjut Minato lagi.
"Mengapa... Anda bisa seyakin itu?'
"Mengapa...?" Ucap Minato mengikuti pertanyaan yang baru Kakashi lontarkan terhadapnya. Masih dengan senyum yang menghiasi wajahnya, Minato mulai membuka kembali kedua mata birunya dan menatap salah satu tangan kanannya itu.
"...Jawabannya tentu sudah pasti. Karena mereka adalah teman." Ungkap Minato kemudian.
Ayah dari mantan muridnya itu mengingatkan akan sesuatu yang sebenarnya kecil dan sangat sederhana namun terlupa oleh Kakashi. Mereka semua telah terikat oleh sebuah ikatan kuat. Sesuatu yang tidak memiliki rupa, namun terasa begitu indah. Hal yang benar-benar telah lama tidak Kakashi rasakan sebelum ia mengenal seorang murid yang bernama Naruto Namikaze.
"Yahh... Kurasa Anda benar..." Ujarnya sembari sedikit tersenyum.
". . . . . ."
"Tapi, Kakashi... Misi yang akan kuberikan secara pribadi kepadamu ini, juga akan memiliki resiko yang berdampak langsung dengan karirmu sendiri. Karena pada nantinya, konsekuensi terberat yang akan kau dapatkan, adalah masa pembekuan tugas yang panjang." Kata Minato yang berusaha untuk memberitahu kepadanya tentang dampak yang akan ia dapatkan ketika menjalankan misi ini nantinya.
"Aku tidak akan mengekangmu. Kau boleh memilih manapun pilihan yang terbaik bagimu... Kakashi." Lanjut pria bersurai kuning di hadapannya itu lagi sembari menunjukkan sebuah kunci kendaraan milik militer di genggaman jarinya.
". . . . . ."
Mendengar hal itu, entah mengapa membuat Kakashi kembali tersenyum seperti akan tertawa.
"Kurasa Anda tidak perlu ingatkan konsekuensi itu lagi. Karena seperti apapun akhirnya nanti... Bayangan tetaplah selalu mengikuti cahayanya." Ucap Kakashi sembari menyambar sebuah kunci yang Minato tunjukkan kepadanya, lalu melangkah dan berjalan melewati sosok atasannya tersebut.
"Naruto adalah putramu... Dan putramu itu adalah muridku... Hanya itu yang perlu Anda ketahui." Lanjut Kakashi yang sudah berlalu semakin jauh dari tempat Minato berdiri, sembari mengangkat satu tangannya ke atas sebagai isyarat lambaian -sampai jumpa lagi suatu saat nanti.
Karena mungkin ini adalah pertemuan mereka berdua yang terakhir kali, sebelum Organisasi menjatuhi hukuman skors panjang kepadanya saat ia membawa lari sebuah kendaraan militer dengan membawa sekelompok remaja bersamanya menuju ke lokasi yang sangat berbahaya.
.
.
.
.
.
( Flashback End. . . )
.
.
.
.
.
.
.
'Jangan mati sebelum kami datang... Sona, Naruto!'
Kakashi terus menginjak dalam-dalam pedal gas kendaraan yang ia kendarai dengan kecepatan tetinggi ketika telah meninggalkan area Bandara Kota Konoha ini. Mencoba untuk mengejar waktu yang sudah banyak terbuang. Karena tempat yang akan mereka tuju, adalah Kota Yokohama yang sedikit jauh dari Kota Konoha.
Bersama dengan tim kecilnya yang hanya beranggotakan siswa-siswi SMA, tetapi Kakashi berangkat dengan hati yang penuh oleh keyakinan. Begitupun juga untuk Sakura dan Sasuke Uchiha, serta Hinata dan Kiba Inuzuka, mereka semua yakin akan dapat memberikan bantuan yang Naruto dan Sona butuhkan.
Terlebih lagi untuk Sakura -gadis berambut merah jambu. Ia pergi dengan hati yang ingin mengucapkan kata-kata maaf. Dan Sakura pastikan kali ini ia akan benar-benar meminta maaf kepada seorang teman masa kecilnya tersebut.
Sementara itu, di lantai atap paling atas bangunan tertinggi dari Badara di belakang Kakashi dan mereka, seorang pria berambut kuning dan seorang lagi dengan rambut lurus panjangnya yang berwarna hitam kecoklatan, mereka berdua masih memperdebatkan tentang sesuatu. Tetapi tiba-tiba suara derap langkah yang berlari terdengar.
BLAM. . . .
Seorang personel datang membuka kasar pintu atap di sana. Nampak tergesa-gesa dengan membawa sebuah teropong di genggamannya.
"Taichou! Sekelompok anak-anak keluar dari area Bandara dan menuju ke utara dengan sebuah kendaraan milik militer!"
Personel tersebut datang membawa kabar yang cukup mengejutkan sembari menyodorkan teropong kepada atasannya menggunakan kedua tangan. Membuat Hashirama memasang wajah dengan ekspresi yang tercengang. Disahutnya teropong itu, lalu mencoba untuk memastikannya dengan mata kepalanya sendiri.
"Siapa saja yang ada di dalam mobil itu..." Tanya Hashirama yang memperhatikan sebuah Jeep berwarna belang hijau hitam milik militer yang melaju kencang melewati jalur masuk Bandara jauh di sana.
"Maaf, Belum ada konfirmasi lebih lanjut dari para personel penjaga mengenai hal tersebut! Tetapi mereka mengatakan bahwa mereka sempat melihat wajah Sakura Haruno dan Sasuke Uchiha dari balik celah jendela kendaraan itu!" Jawab personel tersebut dengan suara tegas dan lantang kepada atasannya.
Mendengar ada nama-nama yang sangat familiar di gendang telinganya, Hashirama langsung tahu ke mana kendaraan itu akan menuju. Karena mereka tidak lain dan tidak bukan adalah teman dekat Naruto sekaligus putrinya.
Tetapi yang menjadi masalah adalah, bagaimana mereka bisa tahu bahwa Sona dan Naruto saat ini sedang menjalankan misi pengejaran terhadap buronan kelas atas yang paling dicari oleh Organisasi Rahasia ini.
"Para personel yang sedang bertugas menjaga juga mengatakan bahwa mereka juga melihat seorang pria berambut perak yang duduk di kursi kemudi." Tambah personel itu lagi.
". . . . .?!"
Sontak sebuah sengatan listrik seolah menendang syaraf di pusat otaknya setelah mendengar laporan yang terakhir dari salah satu bawahannya itu. Seorang pria dengan rambut berwarna perak, sebuah ciri-ciri yang hanya seseorang yang memilikinya di dalam Organisasi ini. Dan terbesit langsung sebuah nama dari salah satu Agent Rahasia milik Minato di dalam kepalanya.
'Hatake... Kakashi.' Gumam Hashirama dalam hati sembari meremas teropong yang ada di genggamannya.
Hashirama menolehkan kepalanya ke arah Minato yang tengah berdiri tidak jauh darinya. Ingin meminta penjelasan atas hal yang baru terjadi ini. Tetapi ketika kedua matanya itu menatap salah seorang sahabat lamanya tersebut, Hashirama menangkap suatu senyum kemenangan di wajah Minato saat ini yang seolah berkata, 'Skakmat!' dengan senyuman itu.
"Kau pasti punya penjelasan tentang hal ini... Minato." Ucapnya dengan memperlihatkan wajah yang sedikit kesal.
Tetapi Minato tetap tenang walau telah diberi deathglare seperti itu. Dirinya kini malah berpaling menghadap ke arah pemandangan Kota Konoha yang begitu luas terhampar di hadapannya. Kedua tangannya santai tertekuk untuk bersandar pada tepian pagar pembatas atap.
"Mereka hanya bertindak sesuai dengan apa yang hati mereka katakan. Tidak kurang, tidak lebih..."
Kedua mata biru itu menatap suasana salah satu Kota terbesar di Jepang ini bersama dengan silaunya siraman sang mentari sore.
"Apa kau sudah paham apa yang menanti Kakashi saat dia telah kembali nanti...?" Tanya Hashirama kepada sahabatnya tersebut. Menanyakan sebuah konsekuensi yang akan salah satu agennya itu dapat.
Tetapi Minato hanya memasang wajah yang masih saja tetap tenang seperti biasanya. Sejenak ia memejamkan kedua matanya untuk meresapi sapuan angin yang datang.
"Sudah kukatakan bukan...? Mereka semua hanya lakukan apa yang hati mereka katakan saat ini. Termasuk juga untuk diri Kakashi sendiri." Jawabnya begitu enteng.
Hashirama menatap lama Minato yang bersandar santai di tepi pagar pembatas. Mendengar penjelasannya yang terlalu tidak berdasar itu seakan membuatnya lebih kesal. Tetapi sesaat kemudian ia menghela nafas berat yang panjang. Lalu entah mengapa memandang Minato yang sudah tertangkap basah namun tak mau mengelak di depan matanya, membuat Hashirama menarik sedikit sudut bibirnya untuk membentuk sebuah senyum kecil.
'Kau tidak pernah seperti ini dulu. Tapi lihatlah dirimu sekarang. Kau benar-benar menyayangi putramu hingga melakukan hal paling rumit sekaligus untuk sekedar memberi bantuan kecil padanya.' Gumam Hashirama dalam hati.
"Jika diriku ada di posisi yang sama dengan mereka... Mungkin aku juga akan lakukan hal yang sama seperti apa yang mereka lakukan saat ini. Tapi tanpa termakan oleh lika-liku permainan licikmu seperti ini." Kata Hashirama yang kini juga mengadap ke hamparan luas pemandangan Kota yang telah lumpuh.
Mendengar sindiran yang ada pada kalimat terakhir sahabatnya itu, membuat Minato terkekeh kecil. Karena nampaknya, ia berhasil mengingatkan Hashirama tentang siapa Naruto dan putrinya di dalam hati mereka.
Ikatan nyata yang terjalin di antara mereka tidak bisa terbantahkan oleh kata-kata setelah tindakan yang sudah berbicara. Hashirama seakan terlupa akan suatu hal. Dan Minato telah mengingatkannya kembali, 'Bahwa mereka adalah teman.'
"Kau selalu melakukan segalanya dengan sangat baik. Bahkan untuk hari ini pun." Kata Hashirama kembali melayangkan kalimat sindiran atas skenario yang sudah Minato buat.
"Memiliki wewenang untuk mengirim Naruto dan Sona, itu seperti kau sudah selangkah di depanku. Tapi..."
Minato kembali menegakkan tubuhnya. Pria paruh baya itu menghadapkan tubuhnya untuk menatap Hashirama yang juga menoleh kepadanya.
"Jika kau melangkahkan satu langkah kakimu di depanku... Maka aku selalu melangkah dua langkah melewatimu." Ucapnya dengan tiap helai rambut kuning yang tersapu oleh hembusan angin. Tidak peduli serumit apapun hal itu, Minato akan selalu melakukannya demi orang-orang yang ia sayangi.
"Itulah tugasku sebagai seorang Ayah untuk putraku."
.
.
.
.
.
.
.
Suara ombak lautan biru yang bergulung menghempas bebatuan begitu merdu mengalun di gendang telinga. Ditambah aroma asin yang khas tercium dari birunya laut di sana pun seolah memberikan sensasi yang menenangkan siapapun yang ada di area bekas perusahaan jasa pengangkutan ini.
Terletak di sisi paling pinggir Distrik Yokohama, membuat perusahaan ini berhadapan langsung dengan luasnya lautan. Tiga gedung bekas perusahan tersebut dibangun saling berhadapan. Dengan lapangan yang sangat luas di tengah-tengahnya sebagai tempat di mana para pekerja terdahulu melakukan aktivitas kesehariannya. Namun kini semuanya telah tertinggalkan. Tidak ada lagi manusia yang tersisa selain alat-alat berat seperti Crane yang terbengkalai tengah-tengah lapangan.
Sudah hampir sebulan, atau lebih tepatnya tiga minggu setelah tragedi penyebaran Virus mengerikan terjadi di Jepang. Membuat Yokohama pun ikut terkena sapuan Outbreak yang ganas tak terhentikan. Membuatnya lumpuh menjadi Kota yang tidak dapat ditinggali akibat banyaknya Zombie kelaparan yang berkeliaran. Tak ayal bila beberapa tangkai ilalang terlihat dapat tubuh dengan bebas di area perusahan ekspedisi yang sudah tidak terurus ini.
Namun di tempat inilah, seorang pria berambut hitam tengah berdiri diam memandangi hamparan luas lautan biru yang ada. Kedua matanya terpejam, menikmati suara-suara ombak yang datang menghempas dinding tepat di bawah kakinya.
Dia berdiri tenang oleh sensasi kelembutan yang suasana hening tempat ini berikan, sembari memegangi lengan kiri yang yang terluka akibat tertembus sebuah timah panas. Tak lagi mengenakan setelan jas hitam lengkap, noda darah berwarna merah di lengan kiri kemeja putihnya telah mengering. Celana hitam panjang itu lusuh di bagian lututnya. Sebuah bukti bahwa ia sempat bertarung oleh seseorang sebelum sampai di tempat ini untuk bersembunyi dari para Zombie pemangsa di luar.
Angin datang dari arah laut menerpanya. bersama dengan suara derap langkah dua pasang kaki tidak jauh di belakangnya. Membuatnya tersenyum dalam ketenangan. Seolah tahu siapa dua tamu istimewa yang datang menghampirinya.
"Akhirnya kita bisa bertemu lagi..." Gumamnya pelan namun masih bisa terdengar oleh sepasang Agent dari Organisasi Rahasia tersebut.
"Tak perlu membuang-buang waktu. Kita selesaikan saja semuanya di tempat ini... Obito Uchiha." Ucap datar seorang pemuda bersurai kuning yang datang bersama dengan partner barunya.
Pria itu hanya tersenyum mendengar ucapannya. Yah... Bagaimanapun, ada urusan yang masih belum terselesaikan di antara dia dengan pemuda pemilik sepasang iris sebiru safir di malam itu. Namun semuanya akan terjawab di sini. Di tempat di mana tiga orang ini dipertemukan oleh takdir mereka masing-masing.
Obito berbalik untuk bertatap muka dengan dua tamu kehormatannya yang masih menyimpan dendam kepadanya. Dengan begitu, dapat Naruto lihat wajah kiri Obito yang kini hampir bermutasi. Separuh dari wajahnya berkerut akibat tubuh yang mulai memberontak dengan Virus yang sudah terinjeksikan di dalam dirinya.
"Kau benar..." Katanya sembari tersenyum kecil.
Sejenak kedua matanya terpejam di kala langkah kedua kakinya mulai berjalan ke arah mereka berdua yang ada di sana. Sementara Sona mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya ke tanah. Sudah siap dengan segala hal yang akan terjadi nanti.
"Ayo kita selesaikan semuanya di sini... Naruto Namikaze."
Mereka bertiga melangkah, saling menghampiri kubu masing-masing. Obito, Sona, maupun Naruto, maju dengan tekad yang mereka genggam masing-masing dalam sebuah takdir di pertemuan terakhir. Dan pertempuran di antara mereka yang tidak akan bisa ditebak akhirnya akan segera di mulai...
.
.
.
.
.
The Place Of Hope
Chapter 20 : "The Final Stage"
Genre : Horror, Adventure, and Gore
Disclaimer : Masashi Kishimoto
By : Felix-Kun
.
.
.
.
To Be Continue. . .
.
.
.
.
Fyuuhh... Akhirnya rangkum juga chapter ini. Sungguh menguras tenaga dan pikiran termasuk juga batin karena yang review masih sedikit (tolong jangan gampar saya ya :v)
Jujur, butuh waktu lama untuk bagian pembukanya. Tapi dengan waktu dua jam untuk membuat scene aksi dari NaruSona, hanya sekedar 4ribu word saja yang berhasil di dapat.
Ahh sudahlah biarin aja lahh curahan hati author yang gak penting.
Sekarang waktunya membalas review untuk chapter kemarin.
aldy Hiraishin : Terima Kasih aldy ^^,
Dimas222 : Felix-Kun juga merasa ada beberapa bagian yang perlu dikembangkan lagi sih... Tapi alangkah baiknya bila Dimas bisa membantu menunjukkan letak di mana bagian tersebut :-)
Madoka-chan : Maaf juga karena terlalu lama updatenya ya! Wahh... Gak nyangka kalau Madoka-chan orangnya masokis yahh xD
Soalnya suka yang bikin hati sakit kaya ketusuk jarum terus netesin air mata deh xD
Kalau ending seri ini sih belum tahu pasti akan tamat di chapter ke berapa. Tapi setelab baca chapter ini pasti Madoka-chan tahu kalau fanfic ini sudah menginjak ke fase klimaksnya. Author akan coba untuk memunculkan Itachi di chapter selanjutnya, tapi gak bisa janji yaa ^^,
andre syahputra : Oh My Gust! Fanfic ini dibuat sampai 50 chapter?! Bisa putus syaraf Felix-Kun nanti xD
Untuk Madara, tenang aja... Pasti muncul kok.
Windra S363 : Amiin... Oh iya, panggilan senpai sepertinya ketinggian buat saya ^^,
kazehayaakemi : Yahoo akemi-san! Memang sih bikin pusing kepala. Tapi seorang Author yang baik selalu menanggapi apa yang ingin disampaikan para pembacanya ^^,
Hayoo, bingung yaa antara pilih NaruSona ama NaruIno?
Aku sempat pesimis dengan scene yang akemi-san maksud. Dan saat Felix-kun membuat scene NaruIno yang itu, malah kepikiran 'Lho kok ada humornya? Eh tapi ini bakal lucu gak ya?' seperti itu xD
Mengenai request kamu, aaahh hontou ni gomen! Seperti cerita di atas, seri ini sudah menginjak fase klimaksnya. Sepertinya agak tidak mungkin bila mengirim Naruto kembali ke Gunkanjima untuk menolong Ino. Maaf banget yaa :-(
ibnu muzamzami : Nama saya Felix bang Ibnu, bukan Filex xD
Mungkin karena efek Felix-Kun belum terkenal kali yahh ^^,
Aiyrasaki28 : Tenang ajaa... Naruto (Untuk seri ini) gak bakal jadi Zombie kok ^^,
Alvin Wilson : Waahh terima kasih banyak Alvin yang udah berbaik hati bilang kalau fanfic saya ini seru (#melayangkeudara ^^,)
Terima kasih juga sudah memberikan semangat di tiap chapter yang ada :-)
Dan chapter untuk fanfic ini sudah hampir habis kok.
dianrusdianto39 : Sudah lama banget Author gak lihat nama kamu nih... Jadi kangen xD
Makasih ya dianrusdianto ^^,
pururukuru : Sedih ya Naru bakal jadi Zombie? Felix-kun juga sedih kok, saat puru makjomblangin Felix sama sii Naru xD
Terus hadir ya di kolom review, karena Felix-kun selalu menantikan review-review lucu selanjutnya dari kamu ^^,
PredX : Terima kasih Predx :-)
Memang benar sih yang baca banyak. Bahkan sudah jauh melewati rekor seri sebelumnya.
AlphaKiller - Leon : Hahaha, Author juga sempat senyum-senyum sendiri di scene NaruSona yang itu.
Btw, Kushina bakal muncul lagi kok.
TsukiNoCandra : Nama lengkap senjatanya Naruto? Oh Glock-17 maksudnya? Kenapa nih kok tanya tentang hal itu?
Loki of Evil God : Hai, Loki-san! Sebenarnya Naruto dan Sona yang masuk ke organisasi sudah ada di dalam konteks awal sih... Tapi berkat ide Loki-san, aku semakin mantab untuk membuat mereka menjadi sebuah duo partner.
Yupp, sekarang aku sudah tidak lagi mendebatkan masalah pairing kok. Terima kasih untuk semua sarannya ya, Loki-san! ^^,
rizkyuzumaki603 : Jangan khawatir, karena Author sama sekali tidak menganggap review dari rizky adalah sebuah flame kok.
Ahh... Jadi seperti itu pendapat rizky untuk sifat Naruto di fanfic ini...
Memang ada benarnya sih. Tapi juga Author rasa tidak seburuk itu kok.
Terima kasih atas kritik dan sarannya ya. Benar-benar sangat membantu ^^,
