.

.

.

.

.

"Kau benar..."

Sejenak kedua matanya terpejam di kala langkah kedua kakinya mulai berjalan ke arah mereka berdua yang ada di sana. Sementara Sona mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya ke tanah. Sudah siap dengan segala hal yang akan terjadi nanti.

"Ayo kita selesaikan semuanya di sini... Naruto Namikaze."

Mereka bertiga melangkah, saling menghampiri kubu masing-masing. Obito, Sona, maupun Naruto, maju dengan tekad yang mereka genggam masing-masing dalam sebuah takdir di pertemuan terakhir.

"Ikuzo, Sona." Naruto mulai menarik sepucuk Glock-17 dari Holsternya.

"Ya..." Balas gadis di sampingnya tanpa ada sedikitpun nada keraguan yang terdengar.

Mereka berdua berlari dengan sepucuk senjata pada genggaman tangan mereka masing-masing. Menyongsong menuju ke arah Uchiha Obito yang tak bersenjatakan apapun.

Sona memisahkan diri dari rekannya dan berlari menyamping. Menjauh dari Naruto yang mulai membidik senjatanya tepat mengarah kepada Obito yang juga tengah berlari menuju dirinya. Hanya sepetak tanah berilalang yang memisahkan jarak mereka berdua.

DAR-DAR-DAR-DARR!

Pemuda berambut kuning itu membuka pertarungan terakhir ini dengan rentetan tembakan yang terbidik ke arah kepala musuh di hadapannya.

Keempat peluru tersebut melesat cepat hingga menembus ombak lautan yang telah pasang di sana. Dengan Obito yang berhasil menunduk di waktu yang tepat sebelum keempat perluru itu mengujam seisi otaknya.

BUUUGGHK!

Satu pukulan kuat Obito layangkan tepat ke perut Naruto di kala ia berhasil menunduk menghindari tembakan pembuka.

Membuat kedua ujung sepatu pemuda bersurai kuning tersebut hingga terangkat dari tanah akibat kekuatan dari pukulan yang Obito lancarkan kepadanya.

DAR-DAR-DAR-DAR-DARR!

Tembakan terlepas dari asal arah yang berbeda. Dari pucuk laras senjata genggam Sona, beberapa peluru terdorong keluar dan melesat kepada Obito yang berhasil memukul partnernya hingga berlutut di sana.

Otot-otot yang melekat pada syaraf mata Obito menegang. Memberikan tendangan sinyal tanda bahaya kepada otaknya untuk segera memberi perintah gerak keseluruh tubuhnya.

WUUSSSHH. . . .

Kedua mata yang berubah menjadi merah rusak milik Obito melirik setiap butir peluru yang berputar pada poros lajunya di tengah-tengah udara. Menempatkan dirinya di antara celah dari lintasan peluru-peluru tersebut akan tertuju. Obito menggunakan kekuatan yang sudah ia dapatkan untuk melihat lintasan laju peluru-peluru Sona, dan merenggangkan seluruh otot tubuhnya untuk menempatkan diri pada sebuah celah yang paling lebar.

Hasilnya... Semua peluru yang telah Sona lesatkan hanya melewati Obito tanpa ada satupun yang dapat menyentuh tubuhnya.

". . . .?!"

Gadis berkacamata itu mengerem untuk mengehentikan laju langkah kakinya. Terkejut menatap Obito yang entah mengapa mampu menghindari semua tembakannya dengan hanya memiringkan pose tubuh dan kepalanya. Seolah pria itu bisa melihat ke mana setiap lintasan peluru miliknya tersebut akan melesat.

'Kemampuan matanya... Sangat mirip dengan kemampuan mata yang Naruto miliki.' Pikir Sona ketika melihat warna pupil kedua mata Obito yang berubah semerah darah. Perubahan yang begitu mirip dengan perubahan satu mata kanan milik partnernya.

'Serangan dua arah... Kah? Mereka benar-benar mengerti mengenai taktik bagaimana cara mengalahkan seorang musuh.' Gumam Obito dalam hati saat menyadari pola serangan dua kombinasi baru dari Organisasi Rahasia Konoha.

Tetapi di tengah lamunan singkatnya, Obito tidak mengetahui pergerakan Naruto yang berada di dekatnya. Pemuda bermanik biru itu mengayunkan satu kaki kanannya tepat mengarah ke kedua kaki Obito.

DUUAAGGKK!

Dengan siku tangan yang bertumpu pada tanah untuk menahan beban, Naruto berhasil menendang keras kedua kaki pria itu dari samping. Membuat Obito cukup terkejut di kala ia dibuat jatuh oleh putra Minato ini.

'Bagus!'

Sona langsung melesat kembali dan berlari menuju ke arah Obito dengan kedua tangan yang senantiasa fokus membidik.

Tetapi sebelum tubuh pria itu benar-benar menyentuh tanah, Obito memaksakan seluruh momentum yang ia miliki untuk memutar tubuhnya di tengah-tengah udara.

'. . . .Apa?!' Pekik Naruto terkejut kala melihat satu kaki Obito melayang cepat untuk menghantam kepalanya.

GRAB. . .

Kedua tangan pemuda bersurai kuning tersebut berhasil mencengkram erat kaki Obito sebelum benar-benar mengenai telak kepalanya. Hal itu juga sempat membuat Sona cukup terkejut dengan apa yang selalu bisa Obito lakukan. Hampir semua gerakan yang mustahil untuk dilakukan, dapat pria itu paksakan menjadi benar-benar bisa ia lakukan.

"Perjuangan yang kalian genggam demi umat manusia yang tak sedikitpun mengenal kalian, apa yang bisa kalian dapatkan setelahnya...?" Tanya Obito secara empat mata kepada seorang pemuda yang sedang menahan tendangannya di Dunia yang hanya mereka berdua bisa masuki.

Sembari terus mencengkram kaki Obito, Naruto menatap pria itu dengan lirikan penuh kekesalan.

"Tak perlu kau tanyakan apa yang kami akan dapatkan setelahnya... Yang perlu kau ketahui saat ini, hanyalah apa yang harus kau lakukan untuk menanggung semuanya!" Balas Naruto kepada siapa lawan bicaranya di dalam Dunia mereka berdua ini.

Apa yang telah Naruto katakan, sejenak membuat Obito tersenyum picing. Memandang pemuda berambut kuning itu begitu remeh.

"Manusia dilukai oleh manusia yang lain, mereka lalu membalas dengan luka yang sama seperti yang telah mereka dapatkan sebelumnya. Tanpa mereka sadari, siklus itu terus berputar dan akan tetap seperti itu tanpa henti. Maka terciptalah apa yang dinamakan rantai kebencian. Dirimu yang saat ini dikuasai oleh kebencianmu terhadapku, dapatkan memutus rantai kebencian yang ada di dunia ini...?" Tanya Obito lagi setelah melihat tatapan kesal Naruto yang saat ini tertuju kepadanya.

Belum cukup sampai di situ, Obito yang ada di tengah-tengah udara merampas cepat Glock-17 yang ada di salah satu genggaman tangan Naruto. Dengan begitu, kini ia memiliki senjata untuk ia tembakkan kepada mereka.

DAR-DAR-DAR-DAR-DARR!

Kedua mata biru Naruto melebar saat menyadari bahwa senjatanya telah terebut dari genggamannya, dan Obito menggunakan Glock-17 itu untuk menembaki Sona yang sedang berlari mendekat.

Rentetan peluru terbang melesat ke arahnya. Membuat Sona terkejut dengan semua yang terjadi dengan begitu cepatnya. Kelima butir proyektil timah panas merobek udara dan langsung tertuju kepadanya tanpa sempat ia sadari.

'Kusoo...!' Rutuk Naruto dalam hati saat melihat lintasan laju peluru-peluru itu dari fokus mata birunya yang kini berubah menjadi semerah darah.

Dengan kekuatan mata yang Obito miliki, pria itu dengan mudah langsung membidik tepat ke arah lima organ vital milik Sona di sana. Dua paru-paru, satu jantung, dan sisa dua peluru lagi tepat mengarah ke tengah-tengah kepala gadis tersebut.

.

( Matrix Mode )

.

'. . . . . .'

Di detik yang sama, Naruto menutup sebelah mata birunya untuk terfokus. Ratusan denyut detak jantung seketika terpusat di sebelah mata kanannya yang rusak berwarna merah. Membuat puluhan pembuluh darah di sekitar matanya langsung terpecah dan mengalir keluar bagaikan air mata.

'. . . Tak kan kubiarkan seseorang berharga mati di depan mataku lagi!'

Kekuatan yang terkonsentrasi di satu arah, seketika meledak dan menciptakan hembusan udara padat yang kuat.

.

BUUZZZHHTT..!

.

Tiba-tiba kelima peluru yang Obito lesatkan untuk mengincar bagian titik vital tubuh Sona terpencar ke berbagai arah.

SRREETT. . .

Proyektil-proyektil timah panas tersebut hanya berhasil menyayat sisi kedua lengan dan tubuh samping Sona.

Membuat gadis berkacamata itu terperosok jatuh ke tanah bersama dengan hembusan angin kasar yang tiba-tiba saja datang.

'A-... Apa itu tadi...' Tanyanya dalam hati setelah dibuat begitu kebingungan oleh fenomena yang sangat mencengangkan.

'. . .Psikokinetis?' Gumamnya menerka-nerka sebuah kejadian yang teramat langka untuk bisa ia saksikan menggunakan kedua mata kepalanya sendiri.

Satu kata itu tiba-tiba saja muncul setelah ia melihat sosok Naruto yang tidak jauh berada di depannya, tengah menatap ke arah dirinya dengan satu mata merah yang meneteskan setetes darah.

'Dia... Membelokkan semua laju peluru tadi...' Ucap Sona dalam hati yang lagi-lagi tidak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan. Dan mungkin fakta bahwa dirinya yang masih hidup dari kelima peluru mematikan yang melesat ke arahnya tadi, menjadi bukti bahwa fenomena yang telah Naruto lakukan benar-benar nyata.

TAP. . .

Kedua kaki Obito mendarat tepat di belakang sosok Naruto yang sedang terengah-engah menatap Sona. Pria itu menutupi kedua matanya sendiri yang tiba-tiba saja terasa teramat sakit dan berdenyut-denyut. Sepertinya tubuh Obito sudah berada di ambang batasnya untuk menahan kekuatan yang ia miliki, setelah berulang-ulang kali menggunakannya untuk selamat dari kejaran salah satu Agent terhebat yang Minato Namikaze miliki beberapa jam yang lalu.

'Tidak kusangka Itachi berhasil membuatku untuk seperti ini sebelum berhadapan dengan mereka berdua...' Kata Obito dalam hati saat teringat pertarungan sengitnya dengan seseorang yang memiliki kode nama Shadow Walker dari divisi inteligensi Organisasi Rahasia Konoha itu.

Obito berusaha menegakkan tubuhnya dan memaksa untuk kembali mengarahkan Glock-17 yang ia genggam untuk kembali membidik.

". . . .?!"

Sona yang masih terjerembab di tanah terkejut melihat Obito yang kini sudah menodongkan senjata itu tepat ke arah belakang kepala partnernya tersebut.

"NARUTOOO!"

Dengan sekuat tenaga yang masih gadis itu miliki, Sona melempar senjata genggam miliknya kepada pemuda berambut kuning di sana.

Jemari Obito akan menarik pelatuk Glock-17 yang ada di tangannya. Tetapi Naruto dapat melirik apa yang akan pria di belakangnya itu lakukan.

GRAB. . .!

Tangan kanan Naruto berhasil menangkap pistol yang Sona lemparkan kepadanya. Dengan diri yang masih berada di dalam mode fokus, ia dapat mendengar suara pelatuk senjata yang telah Obito tarik di belakang kepalanya. Namun sebelum Rim di tengah selongsong puluru terpukul dan meledakkan bubuk mesiu di dalamnya untuk membuat peluru itu melesat keluar dari laras senjatanya, Tangan Naruto terlebih dulu bergerak menangkis arah tangan Obito yang membidik ke arahnya.

.

DAARRR. . .!

.

". . . .?!"

Obito memasang raut wajah terkejut ketika mendapati tangannya yang sedang menggengam sebuah Glock-17 kini bergeser dan berpindah arah. Peluru yang tadinya akan ia lesatkan tepat ke belakang kepala Naruto, hanya berakhir menembus tanah lapangan kosong.

.

( Matrix Mode End... )

.

Sepertinya keadaan dapat pemuda itu balik dengan mudah. Karena saat ini Naruto menodongkan senjata milik Sona tepat mengarah ke kepala pria di hadapannya.

Naruto berhasil menggeser batas waktu fokus konsentrasinya, dengan di saat yang sama ia telah berhasil menguasai sindrom langka yang dimilikinya semenjak lahir. Membuatnya mampu menyempurnakan kekuatan baru yang ia peroleh dari Virus mematikan yang masih tetap hidup di dalam tubuhnya.

Menatap dengan tatapan yang seolah mengatakan, 'Skakmat!', Naruto menyunggingkan sebuah senyum picing di saat yang sama setelah menodongkan senjata milik Sona di hadapan lawannya tersebut.

"Akan kuputus semua rantai kebencian di dunia... Dengan membunuhmu di sini."

.

.

.

.

.

.

.

The Place Of Hope

.

.

Chapter 21 : "War Of Words, War Of Ideology"

Genre : Horror, Adventure, and Gore

Main Cast : Naruto U., Sakura H., Sasuke U.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

.

.

.

.

.

.

Matahari semakin mendekat ke ufuk barat. Bagai akan terjatuh ke belahan sisi bumi yang lain. Kilau cahayanya yang berwarna kuning dan oranye masuk melalui jendela sebuah rumah di lantai dua yang terbuka.

Seorang pria berkuncir tengah bersandar di bawah jendela itu untuk sejenak memulihkan keadaan tubuhnya yang sempat terluka cukup parah. Beberapa gulungan perban putih tergeletak begitu saja di lantai. Begitu juga handuk dan kain-kain pakaian yang terkotori oleh darah berwarna merah.

Ia merawat sendiri luka-luka yang ia dapat dengan peralatan seadanya yang bisa ia temukan di rumah yang telah kosong ini. Walau kata kosong itu sendiri memiliki arti yang berbeda bila tidak menghiraukan suara dobrakan kasar pintu di ujung sana yang terus menggema.

Sayang, ia tidak dapat menikmati siraman cahaya mentari senja yang indah lebih lama lagi. Karena pintu masuk kamar ini terlihat tidak mampu mempertahankan bentuknya sendiri.

Tidak lama, ia berdiri dari tempatnya beristirahat. Di antara suara dobrakan dari luar pintu di sana yang terus mengganggu, gendang telinganya dapat mendengar suara dengung mesin yang menderu. Semakin lama, suara tersebut semakin mendekat dengan terlihatnya sebuah kendaraan militer yang nampak dari kejauhan.

". . . . ."

Itachi Uchiha, nama pria pemilik sepasang mata sehitam batu obsidian itu, melirik Jeep bercorak loreng yang lewat di melintas di bawah jalanan sana dengan begitu kencangnya. Namun ada sesuatu yang membuatnya tertarik untuk terus memperhatikan ke arah mana Jeep tersebut melaju.

Bukan dari mana mobil itu datang, ataupun ke mana akan menuju. Tetapi seorang pemuda di dalamnya yang sempat terlihat oleh kedua sudut mata datarnya.

Ponsel miliknya menyala dan bergetar di atas tepian kasur. Membuat satu tangannya terangkat untuk menggapai ponsel tersebut. Jempolnya mulai mengusap-usap layar untuk membuka sandi yang selalu ia pasang. Kemudian membaca sebuah email yang terkirim secara pribadi untuknya.

.

.

'Maaf telah melibatkan mereka. Tapi aku tahu kau pasti mengerti bagaimana situasi dan kondisinya berjalan. Jadi kumohon, bantulah mereka dengan caramu sendiri.'

From: D-3

.

.

Itachi menghela nafas pelan, setelah membaca isi dari sebuah pesan tersebut. Nampak jelas ada permintaan maaf dari sang pengirim mengenai sesuatu yang tengah berjalan saat ini. Tentu sebagai seorang agen rahasia dari Divisi Inteligensi, ia tahu apa maksud dari sebuah pesan yang telihat begitu singkat tersebut.

Mengingat bagaimana ia sempat melihat seorang pemuda yang berada di dalam Jeep militer tadi, yang tidak lain dan tidak bukan ialah adiknya sendiri, Itachi tersenyum dengan kedua mata yang saling terpejam.

'Padahal aku sangat berharap kau tidak ikut terlibat lebih jauh lagi dengan semua ini... Sasuke.' Gumamnya dalam hati. Kembali ingat dengan apa yang sebenarnya paling ia inginkan. Cukup dirinya yang berlumuran oleh darah. Itachi tidak ingin Sasuke juga merasakan rasa sakit yang sama.

Tetapi takdir sepertinya telah berkata lain. Dan Itachi menyadari bahwa adik kecilnya itu sudah menentukan pilihannya sendiri. Dan tidak ada alasan lagi baginya untuk mengentikan Sasuke agar tidak terlibat lebih dalam dengan semua ini.

Itachi membuka kedua matanya untuk menatap para Zombie jauh terlihat di jalanan sana, yang nampak sedang mengejar ketertinggalan mereka mengikuti sebuah Jeep berisik yang telah berlalu tadi.

Itachi memungut jaket hitam miliknya yang tergeletak di lantai. Tidak mempedulikan kaosnya yang penuh dengan darah kering dan robek di sana-sini, ia memakai jaket tersebut hanya untuk menutupi sebagian tubuhnya yang telah terbalut perban.

Tidak peduli jalan seperti apa yang sudah Sasuke pilih. Untuk sekarang, ia hanya perlu lakukan apa yang harus ia lakukan demi membantu mereka semua.

BRRAKKKH. . .!

Sebagian dari pintu di ujung kamar di mana ia sedang berada saat ini telah hancur. Memperlihatkan belasan mayat hidup ganas yang mencoba masuk ke dalam. Hanya tinggal menunggu hitungan detik sebelum pintu kayu itu benar-benar kalah oleh desakkan mereka.

.

.

'Serahkan padaku.'

Send To: D-3

.

.

Setelah menulis sebuah pesan balasan darinya, Itachi menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya. Tangan kirinya kemudian meraih sebuah pisau dapur yang menancap di tepian ranjang. Tidak ada sejata. Tidak ada lagi puluru. Hanya sebilah pisau dapur itu yang kini ia miliki untuk melindungi dirinya sendiri.

BRRRAAKKHHH. . .!

Serpihan kayu dari pintu di sana berjatuhan di lantai kala mereka berhasil menjebolnya dengan ganas. Para mayat hidup itu seketika berlari memasuki kamar di mana Itachi sedang berdiri saat ini. Menyongsong ke arah pria pemilik sepasang iris sehitam obsidian tersebut dengan kelaparan.

'Apapun pilihan yang kau pilih, aku akan selalu ada di balik bayanganmu. Maka majulah dan lakukan apa yang seharusnya kau lalukan untuk orang-orang yang berharga bagimu. Karena pada akhirnya... Ikatan itulah, yang membuat kita untuk menjadi semakin kuat.'

ZRRAASSHH. . .

Dengan kecepatan tangannya, Itachi menancapkan sebilah pisau dapur yang ia genggam tepat di kepala mayat hidup yang mencoba untuk menjadi yang pertama menyerangnya.

Itachi menancapkan pisau dapur yang ia genggam erat itu hingga membuat kepala Zombie tersebut membentur keras ke permukaan dinding kamar ini.

Belum berhenti sampai di sana, datang lagi Zombie-Zombie kelaparan yamg berlari menuju kepadanya. Membuat Itachi lekas mencabut pisau itu dari kepala mayat hidup yang baru saja mati dari takdir mengerikannya.

Menyadari bahwa tempat ini terlalu sempit untuk bergerak, ia memutuskan untuk lebih memilih bertarung di bawah jalanan sana. Seorang wanita mengerikan berlari ganas ke arahnya. Tetapi tanpa belas kasih Itachi langsung mengarahkan ujung tajam pisau dapurnya dari bawah untuk menghujam rahang milik wanita tersebut.

JLEB. . .

Itachi mendorong pisaunya itu untuk lebih menancap ke rahang bawah wanita tersebut hingga membuat kedua kaki kurusnya terangkat ke atas. Itachi mendorong tubuh wanita itu sampai menabrak keras tepi jendela rumah ini. Ia menjatuhkan dirinya ke jalanan sembari membawa wanita itu bersama demgan dirinya.

BRRUUAAGHK. . .!

Suara yang cukup keras terdengar di kala tubuh wanita tersebut sampai menyentuh padatnya aspal jalanan. Dengan Itachi yang berada di atas tubuhnya yang seolah-seolah menjadikan tubuh mayat hidup itu sebagai sebuah matras baginya.

Menyadari bahwa belasan Zombie yang di atas mengikutinya bahkan hingga mereka juga melompat dari jendela itu, Itachi segera mencabut kembali pisau dapur yang ia miliki dari rahang bawah wanita tersebut. Darah kental keluar dari sana di kala timbul sebuah lubang luka vertikal sesudah Itachi menarik paksa pisau itu.

Itachi sontak melompat dan menghindar sejauh mungkin saat belasan Zombie dari atas terjun bebas menyusulnya ke bawah. Suara bagai hantaman keras terdengar ketika kepala mereka bertubrukan dengan kepala wanita tadi. Begitupun juga untuk yang lain saat mendarat ke permukaan aspal jalanan dengan kepala terlebih dahulu. Bagian depan rumah bertingkat dua itu terkotori oleh ceceran darah merah kehitaman yang kental.

Itachi bangkit berdiri di tengah-tengah jalanan perumahan bergaya Eropa kuno ini. Menatap puluhan, bahkan ratusan Zombie kelaparan yang berlari mengejar kendaraan yang Sasuke bersama dengan teman-temannya tumpangi tadi. Dengan hanya bermodalkan sebuah pisau dapur yang ia genggam, Itachi bermaksud untuk mengentikan mereka semua di tempat ini agar tidak mengganggu misi Naruto dan Sona. Sebuah misi terakhir yang dengan senang hati ia lakukan tanpa keraguan.

'Setelah ini aku yakin... Jalan hidupmu akan berubah seiring semua kesulitan yang berjalan. Menempamu menjadi seseorang yang tidak bisa lagi kugapai. Dengan begitu... Maka semua kebohonganku akan berakhir sampai di sini. Maaf telah menjadi sosok kakak yang tidak seperti kau harapkan. Jadi tumbulah semakin kuat untuk lindungi dirimu sendiri, dan melindungi teman-teman yang sangat berharga bagimu... Sasuke.'

Kerumunan mayat hidup yang memenuhi jalanan seluas matanya memandang datang dengan rasa lapar yang ingin membunuh. Tetapi Itachi telah siap berdiri seorang diri di jalan yang ia pijaki. Menggenggam satu-satunya senjata yang dirinya miliki, Itachi siap dengan pertarungan terakhirnya untuk menghentikan teror yang membayangi dunia.

'. . . .Ikuzo!'

.

.

.

.

.

.

.

Empat roda besar berputar pada masing-masing porosnya. Deru mesin yang terdengar garang menyusuri jalanan Kota yang telah terbengkalai. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Yang tersisa hanyalah jalanan yang penuh dengan kendaraan rusak, termasuk para mayat hidup yang dapat terlihat sejauh mata memandang.

"Kapan semua ini akan berakhir..."

Hinata bergumam pelan ketika mengedarkan arah kedua matanya keluar. Kota ini hampir sama dengan Kota Konoha yang telah mati.

"Kemungkinan ini adalah misi terakhirku. Maka aku pun berharap bahwa ini akan jadi akhir dari semua rentetan mimpi buruk yang telah terjadi." Sahut Kakashi yang fokus mengemudi setelah mendengar apa yang Hinata gumamkan.

Bersama dengan para mantan muridnya yang masih tersisa, Kakashi mengantar mereka untuk dapat sampai ke tempat di mana Naruto dan Sona berada. Telah bersama-sama mereka melewati semua rantai kengerian ini, bersama-sama mereka juga merasakan penderitaan atas kehilangan teman dan rekan yang begitu sangat berharga bagi mereka.

Mungkin dengan pergerakan Organisasi Rahasia Konoha, titik terang dari apokalips ini sedikit demi sedikit kian mulai terlihat. Namun meski begitu, ada satu harga yang harus Dunia pertaruhkan demi setitik harapan itu.

Berniat untuk mengakhiri era mengerikan ini secepatnya, Organisasi Rahasia Konoha mengirim dua sahabat yang sangat mereka cintai untuk menghentikan salah satu dalang di balik malapetaka yang telah tercipta.

Tidak dapat dipungkiri, Sasuke dan Sakura, Hinata dan Kiba, atau bahkan untuk seorang yang dingin seperti Kakashi pun, tak bisa hanya duduk diam di saat Naruto dan Sona sedang mempertaruhkan nyawa dalam taruhan tersebut

Menyadari benar bahwa tidak banyak yang bisa Hinata atau yang lainnya lakukan untuk mereka berdua, tapi setidaknya mereka semua dapat menggenggam beban yang begitu berat ini bersama-sama tanpa ada satu penyesalan apapun. Karena mereka merasa, bahwa itulah arti dari ikatan sejati.

Kendaraan militer yang mereka tumpangi melaju di sepanjang jalanan jantung Kota yang begitu berantakan. Melesat dengan kecepatan maksimal untuk mengejar waktu yang sempat tertinggal. Namun tidak berselang lama kemudian, tiba-tiba Kakashi menginjak pedal rem di bawah kemudinya dalam-dalam hingga suara keempat ban besar kendaraan mereka berbunyi ketika tergelincir di atas permukaan aspal.

CIIIIIIIIITTTTT. . . .!

Serentak Sasuke, Sakura, Kiba dan Hinata terkejut saat kendaraan mereka telah berhenti setelah Kakashi menginjak rem secara tiba-tiba.

"Ada apa?!" Tanya cepat Sasuke kepada pria berambut perak di sampingnya.

". . . . . ."

"Ini buruk... Kita tak bisa lewat." Sahut Kakashi saat memperhatikan apa yang ada di depannya.

Stasiun bawah tanah Yokohama saat ini berada tepat di hadapan mereka. Sebuah tanda yang menyatakan bahwa mereka telah berada di jalan yang benar untuk sampai ke pinggiran Kota. Tetapi yang jadi masalah saat ini adalah, sama sekali tidak ada celah bagi kendaraan mereka untuk bisa melewati ratusan mobil yang terbengkalai di tengah-tengah jalanan.

"Astaga... Kota ini seperti habis disapu badai saja." Ucap Kiba memandangi betapa seram kondisi jalanan Yokohama yang sekarang ini.

"Kakashi-sensei, mereka mulai menyadari keberadaan kita!" Kata Sakura sedikit panik ketika melihat para kerumunan Zombie yang entah mengapa terlihat sedang mengerumuni portal masuk ke area stasiun bawah tanah di sana, kini berbalik menghadap ke arah kendaraan yang mereka tumpangi saat ini.

"Aku tahu." Jawab Kakashi yang masih nampak tenang dan singkat bersamaan dengan tangannya menarik kebelakang tuas persneling kemudinya, lalu menginjak pedal gas dalam-dalam untuk segera beranjak dari area ini.

Para kerumunan Zombie yang sudah menyadari kedatangan mereka, kini berlari mengejar bak hewan buas kelaparan.

"GRWAAHHKK!"

Salah satu di antara mereka melompat tepat ke arah depan kendaraan tersebut. Membuat Shock Absorber roda bagian depan ambles tertelan oleh berat tubuhnya.

"Kusoo!" Umpat Kiba panik melihat salah satu dari para Zombie itu berhasil menumpang secara gratis pada kendaraan mereka.

Coba untuk memasang wajah tenang, Sasuke memasukkan satu per satu butir selongsong peluru aktif pada sebuah slot magazen yang di genggamnya.

"Kurasa kita berdua pernah membolos pelajaran hanya untuk berkencan di Kota ini. Apa kau ingat di mana tempat pengisian bahan bakar saat bis yang kita berdua naiki mogok, Sakura?" Tanya sang Uchiha muda kepada kekasihnya yang berada di kursi belakang.

"Kurasa... Arah barat dari sini. Tidak jauh dari pusat perdagangan. Lalu belok ke persimpangan depan pasar swalayan." Jawab Sakura sambil mengingat kembali rute yang pernah ia lalui bersama Sasuke dulu.

"Bagus." Ucap Sasuke singkat kemudian.

CEKREKK. . .

Pemuda berwajah Stoic itu lalu memasukkan slot magazen yang telah terisi penuh pada senapan yang dibawanya. Ia mencondongkan tubuhnya untuk keluar dari jendela dan mengokang Arctic Warfare Magnum di tangannya untuk membidik salah satu Zombie yang mengganggu tersebut.

JENDAAAARRR. . .!

Suara menggelegar terdengar ketika Sasuke menarik pelatuk senjatanya. Seketika Zombie yang sedang mencoba memecahkan kaca depan kendaraan mereka terlontar jauh dengan kepala berlubang akibat tertembus oleh peluru yang Sasuke lesatkan padanya.

"Kalian berdua pernah melakukannya?! Serius...?!" Pekik Kiba yang terkejut dengan apa yang baru saja Sasuke ucapkan.

"Setidaknya hanya sekali." Jawab Sasuke datar saat seluruh tubuhnya telah masuk kembali ke dalam.

"Senang dapat mendengar kisah romansa kalian yang sebenarnya sangat buruk untuk kesehatan. Tapi berkat itu kita tahu rute mana yang akan kita ambil." Kata Kakashi dengan nada yang terasa aneh. Setelah tidak ada lagi yang menutupi kaca depan kendaraannya, Kakashi membanting setir kemudi untuk segera berbelok tanpa mengurangi kecepatannya.

"Yang terpenting sekarang adalah, kita harus tiba sebelum semuanya terlambat." Sahut Sasuke merespon nada tak sedap yang sempat Kakashi lontarkan.

Kendaraan militer yang mereka tumpangi kembali melesat untuk mengubah rute perjalanan panjang mereka, tepat seperti apa yang telah Sakura beritahukan.

"Mereka terus mengejar di belakang..."

Hinata menengok dari luar jendela untuk melihat para Zombie yang bermunculan dari segala persimpangan mengejar kendaraan mereka.

"Kurasa kita butuh sedikit pengalihan. Akan jadi masalah bila mereka terus-menerus mengikuti kita setelah sampai di sana." Kata Kakashi mencoba untuk mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.

"Untuk itulah aku menyarankanmu untuk melalui tempat pengisian bahan bakar." Sahut datar Sasuke yang nampak seperti telah memiliki suatu rencana.

Kakashi hanya terdiam saat melirik pemuda yang hampir sepanjang hari memasang wajah Stoic di sampingnya itu.

'Sebuah pengalihan... Dan tempat pengisian bahan bakar...'

Masih berfokus untuk memegang setir kemudi dalam kecepatan tinggi, Kakashi mencoba menebak rencana apa yang ada di kepala sang Uchiha muda tersebut.

'. . . .Begitu.'

Gumamnya dalam hati ketika sekarang ia mengerti akan apa yang akan Sasuke lakukan untuk mengalihkan perhatian para mayat hidup yang masih mengikuti di belakang sana.

Dalam diam, Kakashi tersenyum sendiri, di kala memikirkan bagaimana kini Sasuke yang telah tumbuh dan berpikir layaknya seorang Itachi. Bakat kepintaran sejati dari keluarga Uchiha memang tak bisa ia anggap sebelah mata. Suatu saat kelak, Kakashi merasa bahwa mungkin Sasuke akan mendapat sebuah tempat di mana ia akan berpijak nanti. Entah itu di dalam Unit Kepolisian Konoha... Atau bahkan dalam Organisasi Rahasia Konoha.

Pilihan masa depan Sasuke, akan berada di genggaman tangannya sendiri. Mengikuti jalan yang Ayahnya tempuh di sektor Kepolisian... Atau mengikuti jalan terjal yang telah Itachi tapaki selama ini.

BRRUUMMM~

Melesat bak membelah udara, kendaraan mereka melaju sempurna pada kecepatan tertinggi yang dapat mereka raih. Menebas debu-debu yang melayang tersapu oleh angin. Dalam sebuah misi pribadi untuk menuju ke tempat di mana kedua teman mereka berada dan berjuang saat ini.

'Andai saja...'

.

.

'Andai saja bila kami telah memiliki Naruto dan Sasuke beserta yang lain dalam organisasi ini... Mungkin aku bisa menikmati hari-hari tenangku dan pensiun dalam waktu dekat. Berbaring menikmati tiap detik yang terbuang dengan hanya bermalas-malasan sepertinya tidak buruk juga.'

.

.

'. . . Itu bila aku masih bisa melihat sinar mentari esok setelah semua ini berakhir. Tunggu kami, Sona... Naruto...'

.

.

.

.

.

.

Elok sinar mentari sore yang sedikit menyilaukan, menerpa tiga sosok yang kini sedikit berjauhan walau berdiri dalam satu belah garis yang sama. Sejenak, mereka bertiga berhenti sesaat dari adu teknik dan strategi dalam mengalahkan kubu masing-masing. Sudah cukup lama mereka memaksa tubuh mereka bergerak tiada henti dalam pertarungan sengit.

Uchiha Obito berdiri tegak dengan tangan kiri yang telah terluka parah oleh beberapa tembakan peluru yang menghujam di sana. Tidak jauh di hadapannya, Naruto meringkuk kesakitan dengan kedua tangan yang bergetar.

Ia mencoba untuk berdiri dengan sisa kekuatannya yang ada. Namun nampaknya itu akan jadi hal tersulit bagi dirinya yang telah kelelahan. Pemuda berambut kuning tersebut hanya mampu bersandar pada dinding sebuah bangunan tepat di belakangnya. Darah terlihat tak mau berhenti mengucur dari keningnya yang robek akibat sebuah benturan keras.

"Kau sangat keras kepala sekali..." Ucap Obito setelah suasana menjadi hening beberapa saat lalu.

"...Seharusnya itu adalah kata-kataku. Kenapa kau tidak berhenti untuk melawan dan mati di sini saja. Dengan begitu, semua ini akan cepat berakhir." Sahut Naruto sembari memejamkan mata dan tersenyum. Membalas ucapan yang Obito lontarkan padanya.

Sejenak, Obito sedikit menoleh untuk melirik kebelakang. Memastikan bahwa seorang gadis yang tepat berdiri di belakangnya belum melakukan suatu pergerakan diam-diam.

'Orang ini jauh lebih kuat dari yang aku kira...' Gumam Sona masih memegangi siku tangannya yang mungkin sedikit terkilir.

Ada banyak goresan di sekujur tubuhnya yang membuat tetesan demi tetesan darah keluar dari sana. Goresan akibat gesekan beberapa lesatan peluru yang meluncur mengarah padanya beberapa saat lalu. Beruntung ia masih hidup dari maut itu setelah Naruto meledakkan udara di sekitarnya agar arah lintasan peluru-peluru itu terpencar.

'Tapi... Entah kenapa... Aku merasa ada yang aneh dari semua ini...' Lanjutnya lagi sembari memperhatikan dua sosok hebat yang ada tidak jauh dari hadapannya.

'Dari awal, mereka seperti begitu ingin membunuh satu sama lain. Mereka berdua mengerahkan semua yang mereka miliki untuk tetap hidup dari serangan demi serangan yang mereka lancarkan. Tapi...'

Masih berdiri di tempatnya, Sona memikirkan sesuatu yang nampak begitu samar. Sesuatu yang tak bisa ia raih. Sangat jelas bahwa mereka berdua memperlihatkan atmosfer yang tidak biasa. Sesuatu yang Sona yakini adalah... Tidak ada di antara mereka berdua, yang mengeluarkan aura membunuh.

'Pertarungan ini terasa aneh... Apa yang sebenarnya terjadi...? Apa ada sesuatu yang masih tidak kuketahui dari mereka berdua...?'

Memikirkan hal-hal yang tidak ia mengerti, tanpa sadar Sona meremas siku tangannya yang sebenarnya masih terasa sangat sakit. Semuanya terasa begitu membingungkan untuk ia pahami.

'Mungkin saling membunuh, bukanlah kata yang tepat untuk saat ini. Mereka berdua terasa seperti... Sedang mencari tahu sesuatu...' Gumamnya lagi sendiri dalam hati. Tidak mampu menebak secara pasti. Namun setidaknya, itulah yang ia rasakan dari atmosfer yang mereka berdua tunjukkan.

"Sepertinya kau sangat kelelahan." Kata Obito yang memperhatikan tangan kanan Naruto masih saja bergetar memegangi Glock-17 miliknya.

"Diamlah... Kau ini berisik sekali." Sahut Naruto yang kini dapat berdiri. Walau masih membutuhkan bantuan dinding di belakangnya untuk bersandar.

Kedua mata Obito teralih pada bagian-bagian senjata Sona yang tercecer di tanah. Tidak ia sangka setelah ia berhasil merebutnya dari tangan gadis kecil itu, Naruto mampu melepas semua rangkaiannya dalam waktu singkat dalam pertarungan jarak dekat di antara mereka berdua beberapa saat lalu.

Kini seorang bocah SMA memahami benar cara untuk melucuti senjata yang ada di tangan musuh setelah bergabung dengan Organisasi Rahasia Konoha. Sebuah pemandangan yang mengharukan pikirnya.

Hanya dengan tangan kosong, Obito kembali merubah direksi matanya untuk menatap sosok pemuda berambut kuning di sana.

"Lihatlah dirimu sekarang... Kau terlihat begitu menyedihkan."

Mendengar hal itu di gendang telinganya, Naruto kembali tersenyum dan membuka kedua mata birunya untuk menatap Obito, seorang yang kini menjadi Boss terakhir yang harus ia hadapi.

"Sepertinya kau harus berkaca sebelum mengatakan hal seperti itu pada musuhmu." Balasnya dengan senyuman sinis. Memandang kondisi Obito yang sudah terluka sangat parah.

"Lalu, mengapa kau tidak menyerah saja..." Ucap pria itu lagi. Menyarankan hal yang sepatutnya Naruto lakukan sekarang.

"Jika kau menunggu kata menyerah untuk keluar dari mulutku... Maaf, tapi kau akan menunggu hal itu untuk selamanya." Jawab Naruto dengan nada yang sangat percaya diri. Sama sekali tidak mengingat bagaimana kondisinya saat ini.

Mendengar jawaban itu, entah mengapa membuat Obito sedikit tertawa di balik sakitnya lengan sebelah kiri yang sedari tadi ia rasakan.

"Baru kali ini aku bertemu dengan orang sebodoh dirimu. Sadarilah bahwa apa yang kau lakukan ini adalah sia-sia. Semua yang kau perjuangkan hingga di detik ini, sama sekali tidak berguna. Tak akan ada yang memberimu penghargaan atas nyawamu yang telah kau pertaruhkan." Kata Obito dengan nada-nada yang begitu sangat menusuk.

Namun semua itu malah membuat Naruto terkekeh. Dalam lelah yang menghujam seluruh persendian tubuhnya, pemuda itu mencoba untuk menegakkan diri dan berdiri tanpa bersandar pada dinding.

"Mungkin kau benar..." Gumamnya pelan.

"Aku memang seorang yang sangat bodoh. Aku adalah seorang yang payah dalam melakukan berbagai hal. Atau bisa dibilang, aku ini payah dalam semua hal. Aku selalu mengacau di kelas. Berkelahi sepanjang hari. Tak pernah di akui oleh siapapun. Bahkan aku kalah oleh sahabatku sendiri dalam urusan percintaan. Hampir tak ada satupun apa yang telah kulakukan dapat berguna bagi orang lain." Lanjut Naruto lagi, mengenang bagaimana kehidupannya di masa lalu yang tak ingin ia kenang kembali.

". . . . . ."

"Tapi itu dulu..."

"Dulu... Sebelum aku memiliki teman-teman seperti mereka. Teman-teman yang ternyata selama ini selalu ada di belakangku. Baru kusadari, aku melupakan sesuatu yang sempat terlupakan dalam hidupku. Bahwa aku telah memiliki mereka."

"Bukan berarti aku menginginkan sesuatu yang seperti penghargaan atau semacamnya... Aku melakukan semua ini demi mereka. Orang-orang yang selalu ada di saat aku terjatuh. Chouji... Anko-sensei... Paman Hiashi... Hinata... Kiba... Sasuke... Dan juga Sakura..."

Naruto melayangkan tatapan penuh tekadnya lurus kepada tatapan Obito sembari menepuk dadanya.

"Aku pertaruhkan nyawaku di sini, demi mereka yang telah menyelamatkanku dari neraka yang bernama kesepian. Hanya itu." Ucap Naruto mengakhiri semua apa yang ingin ia sampaikan kepada sosok lawan yang berdiri di hadapannya.

Obito, dan bahkan Sona, telah mendengar apa yang menjadi alasan terkuat Naruto untuk tetap menyanggupi misi bunuh diri ini. Dapat Sona lihat bahwa Naruto saat ini telah berada pada batasnya. Namun demi setiap mereka yang telah tertulis indah di hatinya, pemuda itu masih berusaha untuk bangkit dan mengatakan semuanya tanpa ada penyesalan.

". . . . ."

"Naruto... Setelah mendengar apa yang telah kau katakan, Ada satu pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu." Ucap pria yang kini tengah terluka cukup parah tidak jauh dari hadapan Sona berdiri.

"Sampai kapan mereka... Akan setia menjadi temanmu...?"

". . . . . ."

Mendadak suasana menjadi hening kembali. Satu pertanyaan dari Obito, yang langsung tertuju kepada seorang pemuda pemilik sepasang manik berwarna biru di sana.

'Apa maksudnya? Apa yang coba dia maksud?' Dalam hati Sona bertanya-tanya. Tak mengerti dengan pertanyaan yang baru saja Obito lontarkan pada rekannya itu.

Tentu mereka pasti akan selalu setia menjadi teman untuk Naruto. Karena itu sudah pasti! Tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk meninggalkan, maupun mengkhianatinya. Menurut Sona, Apa yang Obito pertanyakan barusan, sungguh sebuah pertanyaan yang sangat bodoh.

'Percuma... Apapun yang coba kau lakukan, Naruto tak akan mudah terpengaruh begitu saja hanya dengan kata-katamu. Benar bukan, Narut~...'

Entah mengapa tiba-tiba Sona berhenti bergumam. Pandangannya terasa bagaikan... Kosong. Sona benar-benar terdiam ketika ia mendapati bagaimana respon Naruto terhadap pertanyaan itu.

Naruto sama sekali tidak bersuara. Ia terlihat tak bergeming sedikitpun. Tidak ada elakan atau apapun itu yang keluar dari mulutnya. Naruto hening tanpa memperlihatkan ekspresi matanya.

"Sampai kapankah... Mereka akan selalu menjadi temanmu, Naruto?" Tanya Obito sekali lagi saat Naruto di sana hanya terdiam tanpa kata.

"Seyakin itukah kau percaya, bahwa mereka tidak akan meninggalkanmu...?"

"Percayalah... Aku telah melihat dunia yang jauh lebih busuk dari ini. Di mana awal kata dari musuh... Adalah teman. Aku telah ratusan kali merasakan hal itu semenjak aku terlahir ke dunia yang penuh dengan kepalsuan ini. Tidak akan ada yang mau berteman denganmu, bila saat ini kau bukanlah siapa-siapa. Bila teman yang selama ini kau miliki telah temukan seseorang yang lebih baik darimu, siapa dirimu di saat itu juga bagi mereka...?"

"Hidup yang telah kujalani, puluhan kali lebih mengerikan dari yang pernah kau bayangkan. Aku pernah memiliki seribu teman. Namun di saat itu juga aku telah memiliki seribu musuh di dalam selimut hangatku. Kuberikan apapun yang aku mampu untuk menolong setiap dari mereka, namun sudah terlalu terlambat bagi untuk menyadari bahwa semua itu tak berharga..."

"Dunia ini penuh dengan kepalsuan. Semua jiwa telah dikendalikan oleh keserakahan. Apa yang telah kau beri, percayalah, itu tak akan pernah cukup bagi mereka."

Obito terus-menerus menjabarkan fakta yang telah ia sendiri alami kepada Naruto. Ia terus-menerus membagi apa yang telah ia derita selama masa kelamnya dahulu kepada Naruto yang masih diam membisu.

"Bila kau yakin bahwa teman-temanmu tak akan pernah mengkhianatimu... Bukankah saat itu mereka, pernah meninggalkanmu sendiri di dermaga selatan Konoha...?"

'. . . .?!' Dalam hati Sona terkejut ketika Obito tahu tentang hal itu.

Setelahnya, pandangan Sona beralih kepada Naruto yang saat ini tengah berada di sana. Ia ingin melihat apa yang akan Naruto katakan ketika mendengar tentang hal itu.

". . . . . ."

Tetapi tidak ada satupun dari ekspresi Naruto yang bisa ia lihat.

Tangannya yang tadi menepuk dada ketika berkata bahwa ia ada di sini mempertaruhkan nyawanya untuk mereka, kini lemah terjatuh kembali. Seakan terlihat Naruto tidak menyangkal akan hal itu.

'Naruto. . . .'

Sona bergumam dalam hati sembari kembali meremas siku tangannya yang terkilir. Gadis itu menggigit bibir bawahnya sendiri dengan perasaan yang tak dapat terjelaskan. Melihat pemuda di sana yang seperti setuju dengan apa yang Obito ucapkan. Dalam diam Naruto bagai sedang mencoba untuk berkata, 'Ya... Mereka pernah meninggalkanku sendirian di ujung maut yang sedang menungguku.'

Apa yang Obito katakan adalah fakta. Sona tak bisa memungkirinya. Saat itu mungkin adalah kesalahannya, yang juga telah meninggalkan sosok Naruto di ujung dermaga tanpa ada satupun tekad untuk menolongnya. Di saat itu... Ia hanya bisa berdiri dan menangis... Membiarkan Virus itu terus menggerogoti tubuh dan kesadaran Naruto.

"Melihatmu yang sekarang ini, bagai seperti melihat diriku yang dulu. Banyak hal yang telah kau lakukan demi mereka. Namun demi dirimu, apa yang telah mereka lakukan sejauh ini...?"

Obito kembali melontarkan sebuah pertanyaan yang sudah sangat Naruto dan Sona tahu apa jawabannya. Membuat sosok pemuda berambut kuning itu, jauh lebih tenggelam dalam diam.

Bibir Sona bergetar merasakan sakit yang ada di hatinya, ketika mendapati bahwa saat ini rekannya sama sekali tak mencoba untuk menyangkal semua hal yang Obito katakan. Tak sedikitpun pemuda itu bergeming untuk mengatakan, 'Tidak, kau salah!'

Namun lebih dari itu semua, hal yang paling menusuk di relung hati Sona, adalah di kala kedua matanya melihat Naruto yang kini telah menjatuhkan Glock-17 yang selalu ada di genggaman tangan kanannya itu.

Tepat di mata Sona... Pemuda itu nampak bagai membuang senjatanya ke tanah untuk berhenti berjuang. Seperti tak ada alasan apapun lagi bagi dirinya untuk terus menderita. Sona tengah melihat Naruto yang kini seperti telah menyerah pada segala hal. Dan semua itu bagai diperjelas dengan apa yang keluar dari bibirnya yang semenjak tadi bungkam tanpa suara.

"Mungkin kau benar... Mereka pernah meninggalkanku saat itu."

'Naruto. . . .?!'

"Yahh... Kau benar... Sudah banyak hal yang selama ini kulakukan demi mereka."

'Naruto. . . .'

"Dan aku pun tak tahu akan sampai kapan mereka semua akan selalu menjadi temanku..."

". . . ."

"Aku benci mengakuinya, tapi..."

.

.

.

The Place Of Hope

Chapter - 21

"WAR OF WORDS, WAR OF IDEOLOGY"

Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

.

.

"Obito... Kau benar."

.

.

.

.

.

To Be Continue. . .

.

.

.

.

GYAAAAHHH~

Author lupa untuk melanjutkan fic ini ketika terlalu sibuk di dunia sana (?)

Yahh... Begitu banyak hal yang membuat Felix-kun lupa bahwa cerita ini belum juga ditamatkan. Salah satunya adalah... Ehem~... Kita lompati saja bagian yg ini dan langsung ke sesi balasan Review untuk para pembaca yg pasti telah menunggu Felix-kun update dengan siap-siap membawa golok di tangan (oh my gutss o.O)

- : sepertinya bagian untuk sasuke dan yg lain belum tiba di chapter ini. Dan sayangnya chapter kali ini nggk terlalu panjang seperti yg kamu harapkan... Maaf yaa :3

- Madoka-chan : Jangan dehh aduh sumpahh... Jangan sampe Zombie Outbreak beneran terjadi di Indonesia. Kalau beneran terjadi bisa-bisa Felix-kun di laporkan ke lembaga sensor karna telah memprovokasi terjadinya Outbreak lewat fanfic (o.O)

- : Mungkin orang yg berhasil membuat Obito terluka seperti itu adalah orang yg sepadan dengannya xD

Dan kurasa benar... Itachi (baca: sangat) kurang terekspos di seri ini. Tapi bukankah itu juga sejalur dengan peran Itachi yang menjadi seorang yang bergerak dalam bayangan? Atau mungkin hanya Author saja yg terlalu kejam ama sii doi? :3

- pururukuru : Hahaha... Beneran lho yg waktu itu lucu banget. By the way, Felix-kun memang memperbaiki terlebih dahulu sebelum chapter 20 kemarin di publish (this is suck, seriously X.X) jadi nggk pake jasa beta reader atau semacamnya.

Dan mengenai cara menangani para zombie itu, Felix-kun rasa nggk perlu pakai semua senjata yg udah puru sebutkan. Ribet kalo bawa bazooka segala. Cukup bawa One Push Vape, sekali tekan langsung mati~ (emang nyamukk?! O.o)

Yahh... Terima kasih telah selalu memberi review yg cukup menghibur ^~^

- TsukiNoCandra : Jika sudah tahu alasan mengapa Naruto hanya membawa Glock-17, lalu sekarang pertanyaan Author adalah... KENAPA MASIH NANYAA?!

(Ehem... Abaikan.)

Yahh... Ada banyak alasan untuk itu. Tapi Author akan coba kasih alasan yg paling dan paling sangat sederhana. Glock-17 adalah sebuah senjata yang sudah terkenal di hampir semua Game Online bertema First Person-Shooter. Mulai dari CS, PB, atau semacamnya dan sejenisnya, pastinya ada senjata ini di box shop inventori mereka. Mungkin inisialnya saja yg sedikit berbeda seperti disingkat menjadi G-17 atau bahkan hanya G17 saja.

Alasan kedua adalah senjata ini sangat terkenal di dunia dengan kemudahan oprasionalnya yang bahkan bila digunakan oleh seorang amtiran sekaligus. (Di cerita ini Naruto adalah seorang bocah SMA yg itu artinya Naruto juga amatiran :v)

Dah itu ajah... Alasan ketiga buat PR di rumah yahh... :3

- Rizka NarVers26 : Dan inilah masalahnya... Author tidak terlalu mahir dalam scene romansa~ (pundung di pojokan T.T)

Tapi meski begitu Author akan coba kerahkan segala yg Author bisa!

Ganbatte Author! (Lho...? o.O)

- dianrusdianto39 : Ahh... Meski telah memberi review, Author nggk bakalan ngambek kok... (Palingan agak stress aja sambil mual-mual)

Usulan yg bagus tuh! Naruto dibuat mati secara tragis di seri ini. Dengan begitu tidak akan ada lagi yg namanya skuel ke-3 atau ke-4 deh... (Nah lhoo kok? o.O)

- rizkyuzumaki603 : Hallo rizky... Salam kenal sebelumnya...

Untuk saran kamu mungkin itu bisa jadi greget banget! Tapi yg jadi masalah adalah, Author lemah di sektor pendramaan (gyaahh cacad~ T.T)

- Loki of Evil God : Oohh ayolah Loki-san, ficku tak sekeren dan seseru ituu~

...

...

Karena sudah sempat di balas lewat PM, jadi bingung mau ngomong apa lagi... (Plaakk xD)

Arigatou na, Loki-san! Yg sudah banyak memberi saran dan motivasi ^^,

- noah shipuden : Hallo noah shipuden (?)

Salam kenal yaa!

Untuk masalah pairing... Ahh~ lagi-lagi pairing (T.T)

Memang sihh, kebanyakan cerita cinta itu pairnya selalu NaruHina. Tapi itu kan cerita cinta... (Lah terus ini cerita apaan?! o.O)

Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk memberi review dan saran ^^,

- not really4name : Huuaaa~ tidak kusangka akan dapat pembaca baru dari seri Everything Has Changed yg sudah uzur tertelan usia (?)

Sebelumnya Felix-kun sungguh minta maaf dengan typo dan EYD yg sempat kamu maksud. Yahh... Maklum Author newbie soalnya~ (jangan di jadiin alesaannn! X.X)

Terima kasih yaa sudah mau menyempatkan diri untuk membaca dan memberi review pada fanfic ini ^^,

- jakawahyu7 : Jangan bingung begituu... Author juga suka kamu kok (ehh?! o.O)

Pewwh... Sudah semua akhirnya...

Setelah membalas semua review dari para pembaca di chapter yg lalu, kini saatnya Author untuk berhibernasi panjang kembali

Ehh... Maksudnya, mengevaluasi kesalahan kembali

Jaa na, Minna-san... ^^,