Alunan suara bising yang berdesing terdengar mengiringi kedatangan tiga helikopter besar bertanda Organisasi Rahasia Konoha. Mengambang secara bersamaan tepat di atas pulau terpencil yang sudah tidak lagi berpenghuni selama beberapa dekade terakhir.

Pintu salah satu helikopter tersebut terbuka. Menunjukkan seorang gadis berambut pirang dengan kuncir Ponytail berkibar terhembus angin sore senja. Mengamati heningnya situasi dari atas pulau Gunkanjima ini. Kedua manik birunya mendapati beberapa perahu dan kapal berukuran kecil yang bersandar pada tepian.

'Bila dilihat dari kondisinya... Semua kapal di sana nampak masih terawat untuk umur pulau yang telah terbengkalai ini.' Gumam gadis pemegang senapan runduk terbaik di Organisasi Rahasia Konoha. Sebagai seorang Sniper, kedua matanya masih tajam menjangkau jarak.

'Pasti ada beberapa orang yang masih dapat bertahan dari Konoha dan menyeberangi lautan untuk mengungsi di tempat ini...' Lanjutnya lagi mengobservasi.

"Bagaimana?" Tanya seorang anggota dari timnya yang sudah bersiap untuk mendapat perintah selanjutnya.

CLICK. . .

"Kemungkinan besar telah ada yang sampai ke pulau ini lebih awal dari kita. Bersih atau tidak... Kita harus pastikan terlebih dulu." Jawabnya sembari memasang tali khusus di belakang sabuk pinggangnya.

"Aku memiliki firasat buruk di tempat ini. Tapi ayo kita selesaikan misi secepat mungkin." Ucap Yamanaka Ino menaruh senapan S.V Dragunov di belakang punggungnya

SRUUUTTT. . .

Tanpa ragu, Sang gadis pirang yang menjadi seorang Kapten untuk misi kali ini langsung menjatuhkan diri dari helikopter dengan tali khusus. Ketiga personel yang lain segera menyusulnya dengan cepat setelah mendapatkan perintah untuk mengkonfirmasi kondisi pulau ini kepada semua pilot helikopter.

Meluncur di antara udara, tubuhnya tertarik oleh gravitasi bumi. Membuat rambut berwarna pirang panjang itu terangkat berkibar ke atas. Hanya seutas tali khusus yang mampu memperlambat laju tubuhnya jatuh ke bawah untuk meminimalisir adanya cidera sia-sia.

DRAPP. . .

Sepatu militernya menyentuh lantai atap sebuah bangunan di pulau tua ini dengan kedua kaki yang menekuk hebat untuk mengurangi gaya beban berlebihan yang diterima persendian lututnya. Ino segera melepas kaitan tali helikopter dari ikat pinggangnya, lalu dengan sangat sigap langsung meraih kembali senapan runduk dari balik punggungnya.

Melangkah cepat dengan laras yang terbidik ke arah satu pintu atap bangunan ini. Memastikan bahwa tak ada pergerakan mencurigakan yang ada di sana.

Ketiga anggota timnya yang juga telah mendarat kaki dengan sempurna langsung berlari melewati Ino. Segera menuju ke pintu yang telah dibidik oleh kapten mereka tersebut.

"Masuk dalam hitungan ketiga." Kata salah seorang personel kepada rekan-rekannya untuk memberi aba-aba.

"Satu. . . ."

"Dua. . . ."

". . . . . ."

JEKLEKK. . .

Di tengah sore yang senja, sebuah pintu tua kusam nan mengerikan dibuka. Ketiga personel Anti Bio-Terrorist Unit masuk melewati gelap di balik pintu atap tersebut.

Jari telunjuk Ino masih bersiap menarik pelatuk senapan mematikan yang ia bidik ke arah sana. Menunggu konfirmasi dari anggota timnya yang telah hilang tertelan kegelapan bangunan ini.

". . . . . ."

Rambut pirang panjangnya terus berkibar terhembus angin yang tercipta dari putaran baling-baling ketiga helikopter di atas. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk pelan pelatuk senjatanya. Ino bernafas begitu pelan dan halus untuk terus fokus membidik ke arah pintu tua tak jauh di depannya.

Jantungnya mulai berdegup di kala telinganya mendengar kontak senjata para personelnya dari balik gelapnya pintu tua nan mengerikan itu...

Kedip-kedip cahaya kuning-oranye dari letupan peluru senjata para personelnya terlihat jelas memantul dan mengisi ruang gelap di sana. Membuat Ino semakin was-was menatap...

Masih terdengar suara tembakan yang beruntun. Hingga Ino harus membuang nafas-nafas tegang melalui mulutnya...

Membayangkan makhluk ganas apa yang sedang anggota timnya lawan di dalam sana...

Tetapi yang membuat suasana jauh lebih mencekam untuknya, adalah ketika tiba-tiba suara tembakan berhenti dan tak lagi berbunyi. Perasaan was-was yang semakin membuncah di kala jari telunjuknya ikut berhenti mengetuk-ngetuk pelatuk. Sorot pandang matanya tegang membidik pintu atap bangunan tak jauh di hadapannya dari Scope senapan runduk yang ia genggam.

". . . .Hhhrrkkk"

Seorang pria berdiri dari dalam sana. Ino tak bisa melihatnya begitu jelas akibat tertutup bayangan mentari yang mulai tenggelam. Meski mata birunya tak mampu mengonfirmasi siapa yang ada di balik kegelalan itu, Ino benar-benar yakin bahwa seorang pria yang sedang berdiri menatapnya bukanlah salah satu anggota timnya.

". . . .HHARRRGGKKK!"

Tiba-tiba pria itu berteriak serak kepada Ino. Membuat gadis pemegang S.V Dragunov itu menegang. Jari telunjuknya telah menekan hingga separuh jarak main pelatuk senjatanya. Bersiap menembak namun berharap bahwa anggota timnya yang menghilang dari balik kegelapan itu masihlah hidup dan muncul ke permukaan.

Hampir jarinya menekan secara penuh pelatuk senapan itu sesaat sebelum sang pria bertampang mengerikan penuh darah berlari ke arahnya.

KRRTAAKK. . .!

Sepasang tangan berhasil memeluntir keras kepala pria tak dikenal tersebut dari lehernya. Membuat Ino merenggangkan kembali jari telunjuk dari pelatuk senjata miliknya. Salah seorang anggota baru di tim Ino yang baru saja muncul dan berhasil membuat mayat hidup tadi berhenti bergerak untuk selamanya.

"Clear!"

Ucapnya setelah melepas topeng masker yang terpasang di wajahnya. Menampakkan wajah pemuda berumur 21th dengan gaya rambut yang mirip seperti nanas. Menggantikan salah seorang senior di tim ini.

"Flare hijau untuk mendarat. Akan kuberi tanda dalam dua menit lagi." Ucap Ino melalui earphone, sembari berlari memberi arahan kepada seluruh pilot helikopter yang masih mengudara tepat di atasnya.

"Dimengerti." Jawab ketiga pilot di masing-masing helikopter yang masih mengambang di langit senja Gunkanjima.

DRAP-DRAP-DRAP-DRAP...

Senter menyala. Ino menyusul rekan-rekannya masuk ke dalam bangunan tua melalui pintu atap kusam. Ujung laras senjatanya siap terbidik kepada pergerakan yang mencurigakan.

Menuruni setiap anak tangga dengan sangat hati-hati, gadis berkuncir Ponytail itu memperhatikan beberapa jasad mayat hidup yang berserakan berlumuran darah. Beruntung bahwa dia tengah berada dalam sebuah tim kecil beranggotakan personel-personel terlatih. Rekan-rekannya berhasil menghabisi mereka semua tanpa ada luka berarti.

"Jika dilihat dari jumlah kapal yang telah bersandar di tepian pulau ini, kemungkinan besar masih banyak dari mereka yang tersisa. Jadi sebaiknya jangan mengambil tindakan dengan sembarangan, Shikamaru." Gumam Ino yang mencoba untuk memberi arahan terhadap seorang personel yang baru saja teregistrasi di dalam skuad timnya.

"Tak perlu repot panjang lebar menceramahiku. Karena itu merepotkan." Sesudah mengganti slot amunisi MP7 di genggamannya, Shikamaru menjawab dengan nada malas.

"Sebagai personel baru, kuharap kau bisa dapatkan pengalaman pada misi di pulau ini. Jauh lebih mudah dibandingkan dengan harus menghadapi mereka yang jumlahnya ribuan di Kota Konoha. Percayalah... Mereka itu pedebah." Lanjut Ino lagi dengan sedikit tersenyum remeh melirik pemuda berambut nanas tersebut.

"Sekarang kau berbicara seolah sedang membandingkan mereka dengan para pria hidung belang. Pengalaman pribadi...? Bagus... Misi pertamaku dipimpin oleh seorang Kapten yang menarik." Balas pemuda bernama lengkap Nara Shikamaru itu dengan seulas senyum picing sembari mulai siaga membidik kembali.

"Yosh... Ikuzo!"

Ino memberi perintah dengan sedikit meniru gaya Naruto. Lantas semua anggota timnya langsung bergerak cepat menuruni tangga ke lantai bawah. Tetapi sebelum Ino juga mulai bergerak, Shikamaru berhenti sejenak di samping gadis yang lebih muda darinya itu.

"Sebaiknya jangan terlalu mengkhawatirkanku. Asal kau tahu saja, aku sudah cukup mual dengan yang dinamakan pengalaman." Gumam Shikamaru tepat di samping Ino dengan sedikit nada canda bercampur remeh. Lalu kembali menyusul para personel yang lain guna menyusuri bangunan tua ini.

"Yeah... Sekarang justru kau yang terdengar seperti pria hamil." Balas Ino menyikapi sikap Shikamaru kepada seorang Kapten seperti dirinya. Memperhatikan punggung anggota baru Organisasi Anti Bio-Terrorist Unit itu.

'...Seperti ada yang aneh memang'

Ino bergumam dalam hati. Terasa ada sedikit yang membuatnya bingung sekaligus penasaran. Tentang pemuda yang bernama Nara Shikamaru itu. Bersikap sangat tenang walau ini debutnya menjadi anggota baru ANBU. Seolah tak mempedulikan fakta bahwa pemuda itu dapat mati kapan saja dalam misi ini.

Terlebih lagi... Apa yang telah Shikamaru ucapkan tentang pengalaman kepadanya... Membuatnya penasaran dari mana Organisasi merekrut personel baru seperti dia.

Sesaat setelah sadar akan lamunannya yang telah membuat Ino ketinggalan jauh di belakang para anggota timnya, gadis berambut pirang itu mulai kembali bergerak dengan sepucuk senapan runduk di genggamannya.

Melanjutkan jalannya misi demi rencana masa depan Kota Konoha.

.

.

.

.

.

.

.

THE PLACE OF HOPE

.

Chapter 22 : "Mission"

Genre : Horror, Adventure, and Gore

Main Cast : Naruto U., Sakura H,. Sasuke U.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

.

.

.

.

.

.

"Melihatmu yang sekarang ini, bagai seperti melihat diriku yang dulu. Banyak hal yang telah kau lakukan demi mereka. Namun demi dirimu, apa yang telah mereka lakukan sejauh ini... Naruto?"

Gemilau siraman sinar mentari di sore yang senja. Begitu indah untuk dikenang dan diabadikan. Tetapi sayangnya di sudut Kota Yokohama ini, tiga pribadi yang sedang bersitegang dan berperang kata itu tak sedang menikmati keindahan yang Dunia berikan.

Sona menatap sosok pemuda berambut kuning yang tengah bersandar di sana. Entah apa yang bisa membuat dadanya sesakit ini ketika melihat Naruto tak lagi bergeming dengan semua yang Obito ucapkan.

Tentang apa itu pertemanan...

Tentang apa itu arti sebuah ikatan...

Memang... Tak ada yang salah dengan semua yang telah Obito katakan. Tetapi Sona begitu berharap. Sangat berharap setidaknya Naruto mengucapkan sepatah kata untuk membantah semua itu.

Meski begitu, sepertinya apa yang tengah Sona lihat tidak sejalan dengan apa yang ia harapkan. Naruto hanya diam tak bergeming. Seakan-akan tak ingin membalas ideologi milik Obito tentang arti sebuah ikatan yang hanya sekedar omong kosong belaka.

". . . . . . . . ."

'Kuso...'

Bisa pemuda pemilik kedua manik biru indah sebiru lautan yang terpampang jelas di sebelah sana rasakan, bahwa kakinya bergetar walau tak terlihat. Persendian di tubuhnya begitu teramat sakit terasa. Ingin ia bergerak dan kembali berlari dengan semangat pantang menyerah. Tetapi tubuh tak selamanya mau mengikuti apa yang hati katakan.

'...Mengenaskan'

Gumam Naruto lagi dalam hati. Tertunduk lemah tak lagi berdaya. Gendang telinganya serasa berdengung sepanjang Obito menceramahinya. Efek dari telah melepaskan kekuatan Psikokinetik secara paksa untuk selamatkan nyawa Sona masih belum mereda.

Tiap-tiap helai poni rambut berwarna kuning menutupi wajah tertunduk Naruto. Matanya sayu melirik ke arah sepucuk Glock-17 yang masih ia genggam walau tangannya kesemutan.

'Peluruku telah habis tak tersisa. Jadi maaf... Sampai semua ini berakhir, aku tak bisa menggunakanmu lagi...'

Naruto berucap dalam hati. Dengan berat ia melepaskan senjata berharga pemberian Ayah Hinata itu jatuh ke tanah tepat di dekatnya.

BOOOOOOMMMM...!

Untuk sesaat bumi terasa berguncang. Sebuah ledakan besar terdengar tak begitu jauh dari tempat di mana Sona dan Obito menginjakkan kaki. Mereka berdua sempat terkejut dengan datangnya ledakan misterius itu secara tiba-tiba tanpa ada sebab yang pasti.

'Ada apa di sana...'

Masih dengan kemeja putihnya yang kotor berlumur bercak darah, Obito bergumam dan bertanya-tanya dalam hati tentang ledakan besar disertai lonjakan api hebat yang membumbung tinggi di udara.

Memegangi lengannya yang terkilir, Sona juga mengalihkan sejenak pandangannya ke arah asap hitam pekat tepat di bawah lonjakan api besar yang bagai sedang mencoba merangkak lebih tinggi.

'Ledakan itu tidak begitu jauh dari tempat ini. Tapi... Apa yang telah menciptakan ledakan sebesar itu...?'

Entah Obito maupun Sona. Perhatian keduanya cukup teralihkan oleh ledakan besar yang baru saja terjadi. Seolah ingin tahu bagaimana ledakan sedahsyat itu dapat terjadi.

Namun tidak bagi Naruto...

Seulas senyum picing menghias wajah lelahnya yang tertunduk. Ia kembali berdiri tegak walau menahan efek negatif yang timbul akibat pemaksaan fokus luar biasa dari kekuatan mata kanannya. Seakan-akan semangat itu kembali muncul dari denyut nadinya.

". . . .?"

Obito melirik. Menolehkan wajahnya menghadap ke arah seorang pemuda yang seperti tak pernah kenal kata menyerah.

"Berhentilah menyiksa tubuhmu sendiri. Kau akan hancur oleh Virus itu." Ucap Obito dengan nada datar. Sama seperti apa yang ada di dalam tubuhnya sendiri, Obito mengerti akan begitu bahayanya Virus yang ada di tubuh pemuda itu.

Perlahan tapi pasti, terus menggerogoti sang inangnya. Hingga pada akhir nanti, yang ada hanyalah kematian menyedihkan seperti sampah tanpa bisa tersembuhkan. Kondisi sang inang malah akan terus memburuk bila tetap memaksa untuk menggunakannya secara terus-menerus.

Apa yang Obito katakan memang benar. Bahkan Minato pernah memberi ultimatum kepada putranya sendiri untuk tidak lagi bergantung atau menggunakan keistimewaan yang dapat Virus itu berikan kepada inangnya. Tetapi sayang, Naruto terlihat sudah tak peduli lagi pada dirinya sendiri.

"...Aku akan benar-benar hancur bila aku menyerah begitu saja." Balas pemuda berambut kuning rancung tersebut sembari mendongakkan wajahnya kembali.

"Semua akan terbuang sia-sia bila aku menyerah. Semua tak akan berarti apa-apa bila aku menyerah. Semua yang telah Ayah lakukan tak akan menjadi seperti apa yang dia harapkan bila aku menyerah. Jadi..."

Naruto melepas rompi hitam yang masih melekat di tubuhnya. Hingga yang terlihat kini hanya kemeja biru tua yang dulu pernah Minato kenakan untuk menjalankan misi sebagai agen spesial Organisasi Anti Bio-Terrorist Unit bersama dengan Hashirama.

"Sampai kapan pun..."

Naruto mengambil ancang-ancang untuk bergerak. Beban di tubuhnya terasa sedikit lebih ringan dan bebas setelah ia melepas rompi itu. Yang ada dipikirannya hanya ada Dunia yang damai dan cerah. Tempat di mana semuanya bisa tinggal dengan aman. Sesuatu yang ia sebut sebagai, Tempat Harapan.

"...AKU TAK AKAN PERNAH MENYERAH!"

Kaki kirinya mulai menghempaskan debu-debu di tanah. Naruto bergerak melesat cepat ke arah Obito dengan semangat yang telah kembali setelah adanya ledakan tadi.

"Yang kau lakukan hanyalah kebodohan." Gumam sang pendiri Red Qween menatap datar Naruto yang langsung melesat ke arahnya tanpa pikir panjang.

Naruto mengepalkan tangan kanannya yang terbalut penuh oleh lilitan perban putih. Siap untuk menghantam wajah Obito sekeras mungkin.

Serang langsung!

Seperti Naruto yang biasanya. Tak perlu memikirkan segalanya dengan sangat cermat seperti yang selalu Sasuke lakukan. Karena dia adalah Naruto, bukan orang lain. Tetap pada pendirian dan tekadnya sendiri tanpa perlu mendengar dan mengikuti ideologi milik musuhnya. Karena ia percaya... Bahwa ideologinya adalah yang terkuat dibanding dengan siapapun juga!

Obito merespon apa yang akan pemuda itu lakukan dengan sedikit mundur selangkah untuk menghindari jarak main panjang tangan Naruto. Tetapi saat melakukan itu, ada satu hal yang membuat Obito menjadi cukup terkejut.

Secara tiba-tiba, Sona telah ada tepat di belakangnya. Kedua mata Obito yang rusak oleh penyebaran Virus di tubuhnya melotot tercengang.

'Mereka berdua menyamakan timing..?!' Tanya Obito dalam hati ketika baru menyadari Sona yang bergerak selaras dengan Naruto.

'Bergerak menyamakan derap langkah suara sepatu rekanku. Hal yang hanya bisa dilakukan oleh dua orang yang memiliki ikatan. Jadi jangan pernah anggap sebuah ikatan itu hanyalah omong kosong belaka!' Seru Sona dalam hati saat satu kakinya mulai berayun cepat. Mencoba untuk menendang wajah Obito dari titik buta.

Sedari dulu hingga sekarang, semangat Naruto bagaikan cahaya. Yang selalu dapat sembunyikan kelemahan rekan-rekannya. Sona adalah salah satu dari mereka yang tertuntun oleh cahaya semangat itu. Hanya dengan bersama pemuda berambut kuning tersebut, Sona merasa menjadi sosok yang jauh lebih kuat dari dirinya yang sebelumnya.

Ikatan membuat seseorang menjadi jauh lebih kuat. Itulah arti dari ikatan yang Sona percayai.

Pria berkemeja putih terkotori oleh bercak darah itu melindungi wajah dan kepala bagian kanan menggunakan kedua lengannya. Untuk sesaat, tendangan kaki Sona berhasil ia tahan.

'Pengalihan berhasil...!' Pekik gadis tersebut setelah Obito lebih memilih untuk memblok serangan yang ia lancarkan.

Peluh menetes. Obito memasang raut wajah yang kesal lantaran dirinya lagi-lagi berada pada posisi mati langkah akibat pergerakan selaras pasangan duo agen muda ini.

BUUAAAGKHH!

Pukulan keras dari kepalan tangan kanan Naruto tak terelakkan. Wajah Obito terhempas oleh kerasnya pukulan tersebut.

Langkah kaki Obito terhuyung. Tubuhnya hampir jatuh akibat serangan langsung yang baru saja ia terima. Darah mengalir dari sudut bibirnya yang sedikit lebam. Obito benar-benar tak bisa berkutik hanya dengan serangan sederhana tanpa pikir panjang tersebut.

Belum cukup sampai di situ, Naruto mencengkram kerah kemeja putih milik Obito dengan kasar. Menarik tubuh yang terhuyung itu untuk menatap kedua mata birunya yang berapi-api.

"Kita berdua memang sama. Tapi jika kau kesepian dan merasa terbuang, maka berusahalah untuk mencari seorang teman, KONOYAROOO!"

DUAGHK...!

Naruto membenturkan kepalanya teramat keras ke kepala Obito hingga cengkramannya terlepas. Membuat pria itu mundur dua langkah kebelakang akibat benturan hebat yang ia terima.

Kembali melesat, Naruto mendekati Obito dengan tangan kiri yang telah terkepal. Bersiap untuk memukul lagi wajah Obito yang sangat mengesalkan.

"Cih..."

Meski poros tubuhnya belum stabil, tetapi Obito masih dapat menangkap kepalan tangan kiri Naruto dan menghentikan pukulan kedua itu.

"Sudah ribuan kali mereka yang kusebut teman menusukku dari belakang. Lantas untuk apa aku harus mencari penusuk yang baru lagi?!"

DUAAGHKK...!

Obito balik membalas. Membenturkan kepalanya ke kepala Naruto jauh lebih keras dari yang sudah pemuda itu lakukan.

"Khh~..."

Sang bintang utama hampir terpental jatuh kebelakang. Namun Obito masih mencengkram kepalan tangan kirinya. Seolah tak mau melepaskan Naruto dari jangkauan serangannya begitu saja.

SETT...

Tak mau berdiam diri menunggu pria itu kembali menyerang, dengan tangan kanannya yang bebas Naruto menarik sebuah pisau belati dari belakang ikat pinggangnya. Menghempaskan tangan kanan itu dengan cepat untuk menikam Obito yang tengah berada pada jarak serangannya.

Kekuatan mata yang dimiliki oleh pria itu kembali aktif. Kemampuan fokus luar biasa dari penyebaran Virus yang mengisi rongga syaraf di kedua matanya, memperbolehkan Obito untuk dapat melihat serangan pemuda tersebut dalam gerak lambat.

"Naif sekali..."

Obito bergumam setelah membaca pergerakan tangan Naruto yang menggenggam sebuah pisau belati tajam. Dengan sekali hentakan, Obito menampik tangan kanan Naruto begitu cepat. Sehingga membuat belati tersebut terpental dan berputar di atas udara.

Serangan kejutan Naruto memang gagal. Tetapi Obito merasa aneh ketika melihat pemuda berambut kuning itu malah tersenyum picing bagai menyeringai.

"Seseorang yang begitu mempedulikan teman-temannya dibanding dirinya sendiri, bukanlah seorang yang naif!"

Dari belakang sosok Naruto yang dalam posisi setengah terjatuh, tiba-tiba Sona melompat tinggi ke udara mengejar pisau belati yang melayang bebas itu. Satu kakinya ia angkat ke atas tinggi-tinggi sejajar dengan pisau milik Naruto. Bersiap untuk menghempaskannya kembali ke bawah sana.

"Yang kau butuhkan hanyalah seorang teman, BUKAN KENGERIAN YANG MENYEBAR SEPERTI INI...!"

CTANKK...!

Sona berteriak kesal sembari menendang pisau itu menggunakan ujung tumit sepatu hitamnya. Melontarkan serangan Naruto yang telah gagal kembali menuju kepada Obito.

'...A-Apa?!'

Pria berkemeja putih tersebut melotot tak percaya melihat pisau belati milik Naruto berputar melesat dan berakhir menusuk ke pundak sebelah kirinya.

Cengkraman Obito terlepas. Sona kembali mendarat di permukaan tanah tepat berhadap-hadapan dengan Naruto.

GRABB...

Uluran tangan Sona berhasil ditangkap oleh pemuda yang hampir akan terjatuh ke belakang itu. Sona seolah memberi sebuah tanda, dan Naruto memberi sebuah anggukan singkat.

Dengan cepat gadis yang sudah menjadi rekannya tersebut menarik tangannya. Membuat Naruto terlontar maju ke depan. Kedua tangan Sona sigap merubah posisinya menjadi sebuah pijakan, Dan Naruto melompat tinggi ke atas menggunakan pijakan tangan tersebut.

Mungkin ini adalah kombinasi aksi terakhir dari Sona dan Naruto untuk mengakhiri pertarungan mereka dengan sang penyebar Virus mematikan ke seluruh Dunia, Uchiha Obito. Melayang di udara, Naruto menghampiri seorang pria berkemeja putih yang menjadi lawannya. Satu kakinya terangkat tinggi-tinggi. Bersiap melayangkan serangan penghabisan yang terakhir.

"Dikhianati teman memang menyakitkan. Tapi... Tak memiliki seorangpun yang berharga di hati... Rasanya jauh lebih menderita!"

JRRAAAZZZHH...

Darah berwarna merah bermuncratan. Menggunakan hempasan keras tumitnya, Naruto menyerang pundak kanan Obito yang telah tertancap belati tajam miliknya.

Pria itu terlontar ke belakang. Hanya bisa menatap horor apa yang telah kedua pasangan agen muda itu lakukan terhadapnya. Wajahnya memperlihatkan raut yang teramat kesal sekaligus menahan rasa sakit yang luar biasa.

Serangan combo yang telah Sona dan Naruto lancarkan berhasil membuat Obito jatuh berlutut ke tanah. Darah segar berwarna merah kehitaman mengucur deras melalui luka pada pundak sebelah kanan pria tersebut.

Obito tertunduk, bersama dengan seluruh tubuhnya yang bergetar hebat. Mencoba mati-matian menahan rasa sakit yang timbul akibat lengan kiri itu sudah hampir putus dari sendi di pundaknya. Gigi-gigi Obito bergemelatuk keras. Melihat darahnya sendiri yang tertumpah dan membanjiri tanah di mana ia tengah merintih berlutut.

Naruto mengambil nafas dengan tersenggal-senggal akibat lelah yang sudah mencapai puncaknya. Menatap kekalahan telak Obito yang tidak jauh dari dirinya berdiri bersama dengan Sona.

"Sejujurnya aku tak ingin dengar semua ceramah itu darimu yang tak ada bedanya denganku. Itu tak akan merubah apapun. Karena aku telah memiliki jalan dan pendirianku sendiri." Ucap Naruto masih menatap ke arah Obito yang sedang berkemelut dengan rasa sakit.

"Sama halnya denganku, semua orang kehilangan rumah... Mereka kehilangan tempat tinggal... Mereka kehilangan keluarga... Mereka kehilangan mimpi dan masa depan... Harapan telah kau renggut hingga tak tersisa. Tentu saja aku tak akan bisa tinggal diam begitu saja."

Melihat sosok Obito saat ini, ia merasa bahwa mereka berdua sebenarnya sama. Walau mungkin penderitaan Obito jauh lebih berat dari dirinya. Namun meski begitu, Naruto tak ingin ada lagi nyawa yang terbuang sia-sia. Seluruh Dunia tengah sekarat. Bahkan satu nyawa pun terasa begitu berharga. Termasuk nyawa Obito selaku orang yang telah membuat kekacauan dan menyebarkan apokalips ini.

Pemuda pemilik sepasang manik sebiru lautan itu melangkahkan kedua kakinya. Perlahan menuju ke arah di mana Obito sedang berjibaku dengan darah yang masih terus mengucur deras.

"Kau bilang, bahwa aku ini mirip dengan dirimu di masa lalu ya kan...?" Tanya Naruto tanpa meminta sebuah jawaban. Berhenti tepat di hadapan Obito, menatapnya tanpa ada rasa dendam.

"Semua ini masih belum berakhir. Bila bersamamu, kita mungkin bisa kendalikan situasi dan selamatkan Dunia ini. Tak perlu menjadi pahlawan... Yang perlu kita lakukan sekarang hanyalah bekerja dan berjuang bersama untuk mengakhirinya. Aku adalah tempat di mana kau bisa percaya. Karena aku melalui penderitaan yang sama denganmu."

Naruto mengulurkan tangannya untuk seorang yang berlumuran darah para manusia yang telah mati sia-sia. Ia kehilangan teman. Tetapi membalas dendam tak akan pernah bisa mengembalikan semua yang telah hilang. Naruto yakin bahwa ini adalah salah satu jalan yang bisa ia gunakan untuk dapat menyusun kembali zaman yang telah runtuh. Karena terkadang, seorang profesional harus bersikap pragmatis daripada mengikuti keegoisan hati.

"...Bantu kami. Uchiha Obito." Gumam Naruto sembari masih mengulurkan tangannya kepada pria yang tengah terluka parah. Masih jua menunggu uluran tangannya disambut dengan hangat.

"Bila kau memiliki jalan dan pendirianmu sendiri... Maka itu sama halnya denganku." Balas Obito memberikan jawabannya atas ajakan Naruto untuk bekerja sama dengan Organisasi Anti Bio-Terrorist Unit.

Naruto sedikit terkejut saat mendengar jawaban itu. Melihat tekad Obito yang masih belum goyah walau telah kalah.

"Semuanya sudah terlambat. Itulah mengapa kau begitu naif... Naruto." Ucap lagi pria tersebut dengan sesuatu yang keluar dari luka menganga di pundaknya.

Sona terkejut melihat jaringan otot-otot asing mengerikan yang mulai terajut dan merubah bentuk tangan kiri Obito. Sedangkan Naruto hanya bisa mengernyit dan menatap intens dengan apa yang sedang terjadi.

"Ini... Adalah akhir... Tapi juga sebuah awal baru bagi umat manusia untuk lebih saling mengerti dan memahami penderitaan yang mereka miliki." Gumam Obito yang sudah tak lagi merasakan rasa sakit di tubuhnya. Atau akan lebih tepat bila dibilang... Telah sepenuhnya mati rasa.

Naruto terus menatap separuh wajah Obito yang mulai berubah dari bentuk aslinya. Begitu rusak, dan mengerikan. Penyebaran Virus ganas ditubuh Obito sudah tak bisa terbendung lagi.

'Dia tak bisa lagi mengontrolnya...' Gumam Naruto dalam hati menyaksikan bagaimana Obito yang bertransformasi menjadi monster. Kasus yang mungkin akan sama bila dirinya juga tak mampu mengendalikan Virus yang berinang di tubuhnya.

"Aku merasakan firasat buruk tentang ini..." Ucap Sona pelan.

". . . . . ."

Sosok Obito kini terdiam. Hanya geraman kecil yang terdengar dari tenggorokannya yang serak. Hitam pupil mata kanannya menghitam, sedangkan yang kiri telah berubah menjadi mata monster mengerikan.

Pria yang sudah hilang kesadaran itu perlahan berdiri dengan tubuh yang jelas berbeda dari sebelumnya. Postur tubuh yang kini lebih tinggi dari Naruto. Menatap pemuda berambut kuning tersebut sebagai mangsa di hadapannya.

"HHAAARRGGHHK!"

Sosok setengah monster itu berteriak menggertak sembari mengibaskan satu tangannya ke arah Naruto. Membuat Sona langsung bergerak tanpa pikir panjang.

"Lari Naruto..!" Pekik gadis berkacamata tersebut berlari ke arah Naruto dan mendorong tubuh rekannya itu untuk terhindar dari serangan monster di depannya.

Sona berhasil selamatkan nyawa Naruto, namun tidak untuk dirinya sendiri. Tubuh Sona terhempas jauh akibat ayunan kuat tangan monster milik Obito.

"...?!"

Naruto yang sempat terjatuh oleh dorongan Sona hanya bisa memandang horror melihat gadis tersebut begitu jauh terhempas.

Belum berhenti sampai di situ, Obito yang dikendalikan oleh Virus di tubuhnya langsung menghampiri Naruto. Berusaha untuk mencabik-cabik mangsa yang sudah ada di hadapannya tersebut.

"Cih...!"

Sekuat tenaga Naruto yang tengah berada di tanah menahan rahang Obito yang kehilangan kesadaran untuk terhindar dari gigitannya. Merasa bahwa dirinya akan terus terpojok bila tetap seperti ini, Naruto mengayunkan kepalanya lalu menghantam tepat ke arah kepala Obito lagi sangat keras.

Dengan air liur yang menetes, Obito yang kehilangan kesadarannya menggeram setelah mendapatkan perlakuan tadi dari pemuda berambut kuning tersebut. Menyiapkan tangan kiri yang telah berubah menjadi cakar, Obito mengayunkan tangan monster itu untuk menyabet dan mencabik kepala Naruto.

'S-Sial... Ini gawat!'

Mengerti tentang adanya tanda bahaya, kedua kaki Naruto langsung menjepit dan melingkari pinggang Obito. Memamfaatkan momentum yang benar-benar singkat, Naruto mendekatkan tubuhnya ke tubuh Obito untuk menghindari cakaran itu.

Benar saja... Cakar milik Obito hanya berhasil merusak tanah di bawah sana. Karena saat ini Naruto tengah berpindah posisi dari tanah langsung memeluk tubuhnya yang sudah bertransformasi menjadi setengah monster mengerikan.

Tak peduli dengan rasa lelah yang begitu menjerat otot-ototnya, Naruto melakukan berbagai cara untuk bisa membalas balik monster ini agar terhindar dari kematian mengenaskan bila dirinya masih ingin tetap hidup di dunia.

Dengan kedua kaki yang menjepit pinggul Obito, pemuda berkemeja biru tersebut beralih posisi dan memanjati punggung lawan mengerikan yang sedang ia hadapi. Gerakan Naruto begitu lincah yang berada di atas punggung Obito. Berganti menjepit leher pria itu menggunakan kedua kakinya, Naruto membanting kepala Obito ke tanah dengan sangat keras bagai seorang pegulat profesional.

"Sadarkan dirimu, bodoh!" Rutuk Naruto kesal setelah berhasil menghempaskan Obito ke tanah sembari berdiri dengan terhuyung-huyung.

Terlengkup di sana, sempoyongan Obito mencoba untuk bangkit kembali. Tatapan tajam bagai monster buas masih tak hilang dari ekspresi wajahnya. Kembali menargetkan Naruto sebagai mangsa, Obito mulai coba untuk menyerangnya lagi.

"Sial, masih belum berhasil?!" Gumam pemuda pemilik sepasang manik biru di sana sembari merunduk dan hampir terjatuh kala menghindari cakaran tangan kiri Obito.

Terus menggerakkan kedua kakinya untuk melangkah kebelakang dengan lutut yang gemetar kelelahan, Naruto menghindari setiap sabetan mematikan cakar setajam ujung pedang.

"Bila kau kehilangan dirimu sendiri di sini, itu berarti semua yang telah susah payah kau lakukan terbuang percuma!" Teriak Naruto masih berusaha memyadarkan lawannya dari kekangan Virus mematikan yang telah merambat jauh ke fungsi otak Obito.

Tetapi suara nyaring Naruto belum cukup sampai untuk membangunkan Obito yang tengah terpendam dalam alam bawah sadarnya. Pria setengah Zombie itu nampak masih terus berusaha mencabik-cabik tubuh Naruto tanpa henti.

Di kala langkah kakinya kalah cepat dengan kegesitan insting buas Obito yang memojokkannya, Kerah kemeja biru milik Naruto tercengkram oleh tangan kanan pria tersebut. Kedua mata birunya terbelalak ketika menyadari bahwa dirinya sudah ada di jarak kritis untuk kembali menghindar. Menatap horror tangan kiri berwujud monster milik Obito tengah mengayun ke atas untuk menyerangnya.

'Masih belum bisa kugunakan. Sial..!' Rutuk Naruto dalam hati saat dirinya tak lagi bisa menggunakan kekuatan fokus serta keistimewaan mata kanannya untuk melontarkan sosok moster buas di hadapannya itu.

Tak bisa berlari. Tak bisa menghindari. Detak jantung pun terpacu. Peluh menetes jatuh. Akhir dari hidupnya ditentukan oleh seberapa cepat ia dapat berpikir lalu merespon segala kemungkinan yang ada.

Dari sudut pantulan mata birunya, Naruto memandang tangan bercakar monster milik Obito sudah bergerak mengarah kepadanya. Membuat otak Naruto harus keras berpikir cara untuk mempertahankan nyawanya bila tak ingin tercabik dan terpenggal.

BUUAAGHK. . .

Satu pukulan keras Naruto layangkan tepat ke sebelah wajah Obito. Bukan hanya sekedar memukul, wajah Obito juga ia jadikan pegas baginya untuk bergerak ke samping walau kerah kemeja birunya masih tercengkram erat.

Serang sebelum serangan musuh mengenaimu...

Begitulah apa yang muncul di kepala Naruto berkat menggedor daya pikirnya untuk memproses kinerja otak yang lebih cepat.

Naruto berhasil melayangkan pukulannya terlebih dahulu sebelum cakar Obito sempat mencabik tubuhnya. Dan apa yang baru saja ia lakukan membuat posisi tubuhnya bergeser sedikit jauh dari jangkauan jarak serang Obito. Alhasil mereka berdua pun terjatuh ke tanah secara bersamaan akibat daya pijak yang tak lagi sejajar menekan gravitasi.

'Astaga keras sekali...' Ucapnya merasakan sakit yang luar biasa di kepalan tangan kirinya setelah memukul wajah Obito.

Nafas Naruto tersenggal. Beruntung siku lengannya masih dapat menopang beban tubuhnya. Sehingga Naruto tak perlu repot merasakan kerasnya mencium tanah. Tak terbayang bila tubuhnya yang lelah makin remuk dan beberapa bagian sendi tangan terkilir hanya karena salah pendaratan.

Direksi pandangan matanya masih tak luput dari sosok Obito yang telah berubah menjadi setengah monster tak terkendali. Naruto mencoba berdiri dengan sempoyongan sembari kembali melangkah mundur kebelakang untuk menjaga jarak. Namun Naruto terkejut saat ia baru menyadari bahwa punggungnya telah menyentuh dinding bangunan di belakangnya.

Entah bagaimana tangan kanan Obito tiba-tiba sudah bergerak kembali dan mencengkram leher Naruto dari depan. Membuat pemuda berambut kuning tersebut tersentak kaget. Tak bisa lari ataupun menghindar lagi, Naruto hanya pasrah memandang sosok Obito yang menggeram serak kepadanya.

"GHHAAAARRHKK...!"

Lengkingan suara yang berasal dari tenggorokan Obito menggema dan memantul di setiap sudut ketiga bangunan ujung Kota Yokohama ini. Tidak ada kesempatan lagi yang tersisa bagi Naruto. Takdir nyawanya sudah berada pada tajam cakar tangan kiri milik Obito yang siap menusuk tengkorak kepalanya sampai hancur berkeping-keping.

"Masih ada jalan... Masih ada harapan bagi manusia untuk berubah..."

Naruto bergumam serak di sela takdir kematian yang akan merenggut nyawanya. Tangan kirinya lemas kesakitan sehabis memukul keras wajah Obito, sedangkan tangan kanannya masih mencoba melepaskan cengkraman yang mencekiknya. Sepasang manik sebiru lautan itu menatap langsung pada kedua mata Obito begitu dalam. Seakan dirinya sedang mencari-cari sosok pria yang seharusnya menjadi lawan, bukan monster buas yang hilang kendali seperti ini.

Tangan kiri berwujud monster tersebut mulai meluncur cepat. Membidik kedua mata biru yang Naruto miliki.

"K-Keadilan yang kau impikan... Rela menjadi iblis atas dosa-dosa manusia dan berjuang untuk mengubah kepalsuan dunia dari balik bayangan... K-Kuakui... Kau jauh lebih kuat dariku... Uchiha Obito..."

DEG. . . .

Ujung kuku-kuku tajam itu berhenti tepat beberapa milimeter di depan pupil mata biru Naruto yang masih terbuka. Tak lagi bergerak setelah mendengar semua yang pemuda tersebut katakan.

". . . . . ."

Hanya tersisa keheningan di sela desiran ombak lautan di sebelah sana. Pupil putih di mata kanan Obito perlahan kembali menghitam. Seolah ia telah terbangun dari alam bawah sadar yang menyiksa. Pada akhirnya... Ia diakui oleh seseorang. Mengerti tentang beratnya perjuangan yang sudah ia lakukan untuk berada di titik ini. Demi perubahan umat manusia yang bisa saling memahami tentang arti dari penderitaan.

Sejenak Obito menaruh kembali tangan kirinya ke bawah. Mengurungkan niatnya untuk membunuh pemuda berambut kuning yang telah mengembalikan kesadarannya itu.

"Menjadi kuat bukan berarti kau dapat melakukan segalanya. Perjuanganlah yang akan membuktikan seberapa kuatnya dirimu. Tetapi yang tersisa kini hanyalah kepalsuan dan penghianatan. Semua manusia di muka bumi ini telah menjadi sampah menjijikkan. Termasuk diriku dan dirimu... Naruto."

Obito menatap lurus tepat ke dalam sepasang manik biru milik pemuda di hadapannya itu. Mengingatkan kembali bagaimana wujud manusia yang sebenarnya dari sudut pandang miliknya.

"Hal yang seperti itu... Aku sudah tahu." Naruto menjawab pelan tanpa memperlihatkan ekspresi wajahnya yang tertutup oleh tiap helai rambut kuning yang bergoyang terhembus angin senja. Mengerti tentang adanya makna tersembunyi dari setiap penggal kata-kata Obito.

"Tapi aku tetap tidak akan mengikuti jalan yang sama denganmu." Lanjutnya lagi yang menolak ajakan tidak langsung dari Obito.

"...Begitu"

Melirik singkat pada tangan kiri yang telah bermutasi, Obito mengepalkannya... Lalu mengangkatnya dan bersiap untuk berniat kembali membunuh Naruto.

Tetapi yang terlihat di wajah pemuda itu justru sunggingan senyum tipis tanpa ada raut terbebani. Di sela ajal yang akan menjemputnya, Naruto tersenyum kecil penuh percaya diri.

"Dan maaf saja... Aku tak akan pernah menjadi sampah." Gumamnya pelan.

Tangan kiri Obito mulai bergerak. Cakar tajam itu terbidik langsung ke arah kepala Naruto untuk menghancurkannya.

"...Karena aku masih memiliki teman-teman yang mengerti tentang penderitaan yang sudah kulalui. Mereka yang telah menyelamatkanku... Dari neraka yang bernama kesepian."

BUUUZZZHH. . .!

Sesuatu melesat cepat dari kejauhan. Bergerak lurus menerjang kelembaban udara di sekitarnya. Lintasan yang menuju langsung ke arah tangan kiri Obito yang beberapa inchi lagi akan menancap tepat di kepala pemuda tersebut.

CRRAAASSSHH. . . .

"...?!"

Banyak darah yang menyembur keluar ketika tiga anak panah benar-benar menancap di tangan kiri Obito. Bahkan menembus ke jaringan otot keras yang telah bermutasi sekalipun. Membuat Obito memasang raut terkejut yang kebingungan dengan dari manakah ketiga anak panah ini melesat hingga dapat menghujam tangan monster miliknya.

Dari atap sebuah gedung yang menghadap ke arah Obito dan Naruto, seseorang menghembuskan nafas pelan untuk meredakan adrenalin yang sempat melunjak setinggi tempat di mana ia berpijak. Rambut panjang tergerai sepinggul dan poninya berkibar tertiup angin sepoi di sore yang tenang.

"Baru kali ini aku menembak dengan tiga anak panah sekaligus... Tapi sepertinya aku berhasil ya kan, Naruto-kun..."

Gumam pelan seorang gadis manis itu sembari memperhatikan situasi yang terjadi di bawah sana. Laksana elang yang terus mengintai diam-diam dari ketinggian, tajam sepasang pupil berbias warna bak lavender yang indah tersebut mampu melihat dengan sangat jelas meski dari kejauhan.

"Dia... Tapi bagaimana bisa...?!" Obito bertanya-tanya keheranan saat direksi pandangan matanya beralih ke puncak atas atap sebuah bangunan. Mendapati siluet seorang gadis yang tengah memegang Compound Bow, sebuah panah lipat yang biasa digunakan oleh atlet pemanah dalam sesi latihan.

DRAP-DRAP-DRAP-DRAP...

Seorang gadis lain tiba di tempat ini dan berlari menghapiri Sona yang tergeletak lemah. Gadis berambut merah jambu sebahu tersebut meletakkan sebuah kotak medis yang ia bawa, lalu merangkul Sona dan mencoba memposisikannya untuk terduduk.

"S-Sakura... Kenapa bisa k-kau ada di sini..." Tanya Sona dengan suara lirih.

"Lenganmu terkilir. Banyak luka yang bisa membuatnya terinfeksi oleh kuman. Kondisimu benar-benar kacau Sona. Bertahanlah... Aku akan segera merawat luka-lukamu terlebih dulu." Jawab gadis berambut merah jambu itu berusaha untuk tetap terlihat tenang.

Obito keheranan bagaimana bisa mereka mengetahui lokasi ini. Ia merasa sudah memasang pengacau sinyal di sekitar sini setelah helikopternya yang akan mendarat tiba-tiba ditabrak oleh sebuah Lamborghini hitam misterius.

Lengah sesaat akibat kehadiran kedua gadis yang baru saja tiba itu, insting Obito terlambat menyadari bahwa ada seorang lagi yang tengah membidiknya dari tempat lain.

JNDAAAARRR...!

Sebuah tembakan menggelegar terdengar dari dalam ruangan bangunan di belakang Naruto. Satu peluru melesat cepat melalui jendela rusak bangunan tersebut dan lewat tepat di sebelah Naruto. Melaju lurus menghujam lengan kiri Obito yang telah bermutasi.

"Kkhh..!"

Obito terhempas beberapa langkah kebelakang sembari meringis kesakitan setelah terkena tembakan dari seorang pemuda berambut Raven. Banyak darah yang bermuncratan keluar. Membuat Obito harus menutup luka di lengan itu menggunakan tangan kanannya.

"Pertama-tama... Jauhkan pria ini dari Naruto."

CKERLK. . .

Sasuke yang terlutut dalam ruangan itu menarik tuas senapan runduknya untuk mengeluarkan selongsong peluru kosong yang panas. Agar sebuah peluru yang baru terdorong masuk ke kamar peluru dan siap untuk ditembakkan kembali.

Namun setelah terkena tembakkan yang begitu sakit terasa, Obito menjadi geram. Ia meregenerasi paksa bekas luka parah akibat tembakan tadi. Membuat uap panas mengepul di lengan kirinya. Sebuah keistimewaan yang hanya Obito dan Naruto miliki di dunia ini.

"Pedebah... Bagaimana kalian bisa kemari." Tanya Obito datar sembari mengumpulkan tenaga pada lengan kirinya yang telah sembuh seketika dalam waktu singkat. Lalu memukul tanah di bawah pijakannya dengan kuat-kuat.

Obito langsung menangkap pecahan batu yang terbang ke atas akibat pukulannya, lalu melempar ke arah jendela di mana Sasuke berada di dalamnya. Lempengan itu melewati sosok Naruto begitu saja hingga angin yang tercipta dari lintasan lemparan itu menggoyangkan rambut kuning rancung miliknya.

BLAAARRR...

Ruangan di mana Sasuke berada di dalam bangunan itu langsung porak-poranda. Begitu banyak debu yang terhempas keluar melalui jendela rusak di samping Naruto.

"Sangat sederhana asal kau tahu..." Sang pemeran utama bergumam kepada Obito.

"Ledakan yang sebelumnya menyadarkanku akan keberadaan Hinata yang tidak begitu jauh dari sini. Virus yang ada di dalam tubuh kami berdua membuat kami bisa merasakan keberadaan masing-masing. Dengan cara itulah mereka bisa menemukanku di tempat ini." Lanjut Naruto menjelaskan dengan sebuah senyum percaya diri.

Dari awal terjadinya ledakan besar misterius itu, Naruto telah mengetahui bahwa teman-temannya akan datang kemari. Itulah sebab bagaimana semangat juang Naruto dapat kembali mengalir ke dalam aliran darahnya. Dan kini rekan-rekan yang berharga baginya telah datang.

Di samping berdirinya Hyuuga Hinata yang berada di puncak atap bangunan sebelah sana, melangkah seorang pria berambut perak yang tengah membawa sebuah gulungan tali.

"Terima kasih untuk ikatan kuat yang terhubung di antara kalian berdua, Hinata. Dengan itu kita bisa menemukan di mana lokasi pertarungan mereka." Ucap Kakashi yang mulai memutar-mutarkan ujung tali di tangannya itu.

"Um... Akhirnya kita bisa membantu Sona dan Naruto-kun." Jawab gadis manis yang berdiri di sebelahnya.

Hinata mengedarkan pandangannya ke arah atap bangunan lain yang berada di balakang Naruto. Ketajaman matanya mampu melihat seorang pemuda lain yang baru muncul di kejauhan sana.

"Kiba sudah berada pada posisinya, Kakashi-sensei." Kata Hinata memberitahu.

"Bahkan kalian juga masih saja memanggilku dengan sebutan itu..?" Tanya Kakashi yang agak sweatdrop mendengar bagaimana cara Hinata yang menyebutkan namanya.

Gadis pemilik sepasang manik indah itu menoleh kepadanya lalu tersenyum kecil sembari berkata, "Sensei tetaplah Sensei... Itulah yang Naruto-kun katakan."

Kakashi menghela nafas saat mendengar alasan Hinata. Ternyata gadis ini terpengaruh oleh murid konyol yang satu itu. Yah... Bagaimanapun... Naruto memang sosok pemuda yang dapat membawa pengaruh besar bagi orang-orang di sekitarnya. Dengan semakin dewasanya seorang Naruto Namikaze, ia menyebarkan pengaruh positif kepada teman-temannya untuk tidak hanya diam dan duduk manis saja. Tetapi ikut berjuang bersama-sama sebagai rekan seperjuangan.

"Yosh... Kita lanjutkan rencananya."

WUUUZZHH. . .

Kakashi melempar tali bersama dengan pemberat di ujungnya tersebut jauh ke arah bangunan di sebelah sana. Lemparan seorang agen mata-mata Divisi Inteligensi Anti Bio-Terrorist Unit Kota Konoha tersebut melambung tinggi. Begitu jauh hingga sampai di tempat di mana Kiba telah berada.

SETT...

Pemuda berambut jabrik tersebut menangkap tali yang Kakashi lemparkan dengan menggunakan kedua tangannya.

"Meledakkan stasiun pengisian bahan bakar tadi memang sangat menyita banyak waktu. Tapi kuharap itu cukup untuk mengalihkan perhatian para mayat hidup di sana agar tak datang kemari." Gumam Inuzuka Kiba yang mulai berlari ke belakang untuk menarik tali tersebut.

Sedangkan Kakashi yang sebagai seorang Leader untuk tim kecil ini, melangkah mundur beberapa langkah kebelakang untuk bersiap-siap. Rela mengambil segala resiko yang ada dan dapat berimbas langsung kepada keanggotaannya di Organisasi Rahasia Konoha, demi sebuah misi terakhir hari ini. Yaitu... Menjadi bala bantuan bagi Sona dan Naruto.

DRAP-DRAP-DRAP-DRAP...

Kakashi mulai berlari lurus ke depan. Melewati Hinata yang berdiri di sampingnya. Melompat jauh ke bawah dan menerjang angin laut pasang. Menggunakan tali di tangannya, Kakashi berayun di tengah-tengah udara menuju ke arah Naruto berada.

"Kedatangan mereka tak akan merubah apapun." Kata Obito sembari akan menyerang kembali Naruto yang sudah sangat kelelahan dan tak berdaya.

Tetapi Sasuke tiba di samping Sakura dengan berlari memutar untuk keluar dari dalam bangunan. Masih memegang senapan Arctic Warfare Magnum di tangannya, sang Uchiha muda mulai membidik sosok Obito yang ingin menyerang Naruto.

JNDAAAARRR...!

Sebuah peluru dipantik dan meledak lalu melesat keluar melalui moncong laras senjatanya. Mengincar langsung ke arah kepala sosok setengah monster yang berada di sana.

"...?!"

Syaraf mata Obito menyadari adanya tanda bahaya. Membuatnya berhenti mengambil langkah lagi dan memilih untuk melindungi kepalanya dengan tangan kiri yang telah bermutasi.

"Dia bahkan tidak terlontar sama sekali oleh tembakan senapan ini. Serius kau melawan monster yang seperti ini, Naruto?" Tanya Sasuke yang entah kepada siapa ketika melihat Obito hanya mundur selangkah oleh firepower senapan miliknya.

Tidak puas hanya sekali, Sasuke mengokang senapannya dan menembaki Obito dengan tempo yang sangat cepat sampai peluru di box magazen miliknya habis tak tersisa. Semua itu Sasuke lakukan sesuai dengan apa yang telah direncanakan oleh Kakashi sebelumnya. Yaitu menjauhkan Obito dari Naruto terlebih dahulu sebelum menyusun taktik yang baru untuk mengalahkannya.

Darah terus menetes di tanah di mana Obito berpijak. Sudah empat peluru Sasuke bersarang di tangan kirinya yang besar dan penuh dengan otot-otot keras. Ia berhasil memblok semua lesatan peluru tersebut. Namun geram karena Sasuke membuatnya tak bisa bergerak dengan leluasa.

Kakashi berayun menggunakan tali yang ditahan oleh Kiba dengan kecepatan tinggi di udara. Sedangkan Naruto hanya memejamkan mata lelah sembari tersenyum mengangkat satu tangannya ke atas.

TAP~...

Kakashi menyambar dari udara. Dan kedua tangan mereka berdua kini saling terhubung. Tubuh Naruto tertarik dan terbawa berayun. Melambung tinggi di atas tepian laut ujung Kota Yokohama.

"Menyusun rencana dan meledakkan stasiun pengisian bahan bakar di sana cukup merepotkan. Maaf Naruto... Sepertinya kami datang agak terlambat." Ucap Kakashi kepada mantan murid yang kini telah menjadi rekannya itu.

"Tidak... Kalian datang di waktu yang tepat." Gumam Naruto memberi jawaban dengan untaian senyum yang masih belum hilang dari sudut bibirnya.

"Obito kelelahan dan tak bisa lagi mengontrol Virus itu. Membuat setengah tubuhnya berubah dan bermutasi. Jujur saja... Aku dan Sona tak akan bisa kalahkan Obito yang sekarang." Lanjutnya lagi.

Telah berada di puncak momentum daya ayun tali yang Kakashi genggam, mereka berdua mulai kembali berayun turun tertarik oleh gravitasi bumi.

"Tapi tak kusangka kau dan Sona masih dapat mengimbangi Obito sejauh ini. Itu membuatku yakin bahwa kalian akan menjadi pasangan yang hebat di masa yang akan datang. Menggantikan Ayahmu, dan Ayah angkat Sona." Kata Kakashi yang menatap sosok seorang Namikaze Naruto di bawah genggaman tangannya.

Sedangkan pemuda tersebut hanya melirik sekilas, lalu direksi matanya kembali fokus kepada satu lawan yang tidak bisa dianggap candaan.

"...Tentu saja"

Kakashi dan Naruto bermaksud memamfaatkan momentum ayunan mereka untuk menyerang langsung ke arah Obito. Tetapi sang lawan sudah membaca rencana mereka berdua.

"Kakashi..."

Obito bergumam sambil menyiapkan tangan kirinya yang memilik cakar mutasi. Juga bermaksud untuk menyerang mereka berdua sekaligus di waktu yang bersamaan.

Ayunan tali yang mengarah ke bawah semakin turun oleh tarikan gaya gravitasi dengan cepat. Kedua belah pihak telah bersiap untuk melancarkan serangan mereka masing-masing. Obito dengan cakar tajamnya, sedangkan Naruto bersiap menggunakan kakinya. Dengan jarak yang semakin tereliminasi, mereka akan memulai kontak fisik kembali.

"...Hidup ataupun mati, misi kami adalah menghentikanmu, Uchiha Obito!"

.

.

.

.

.

THE PLACE OF HOPE

.

Chapter 22 : "Mission"

Genre : Horror, Adventure, and Gore

Main Cast : Naruto U., Sakura H,. Sasuke U.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

To Be Continue...

.

.

.

.

.

.

Hallo lagi semuanya..

Author sungguh minta maaf atas keterlambatannya untuk segera meng-update lanjutan cerita di seri ini.

Dan alasannya masih berkutat dengan kesibukan yang cukup menguras otak serta tenaga.

Tapi jangan khawatir, Felix-Kun telah memutuskan untuk tetap melanjutkan fict ini sampai tamat nanti.

Terima kasih atas semua kritik, saran, serta dukungan dari kalian yang telah memberi jejak di kolom review ^^

Kini tiba saatnya sesi membalas review para pembaca yang belum Felix-Kun balas lewat PM~

Madoka-chan : Makasih Madoka-san yang sempat mengingatkan Author untuk keterlambatan update yang sudah lebih dari sebulan ini ^^

Alasannya sudah Felix-Kun lampirkan di atas tadi. Jadi maaf ya sudah membuat Madoka-san lama menunggu~

Clarette Yurisa : Salam kenal juga Yurisa-san. Nggk Author sangka juga Yurisa-san sudah mengikuti dari seri yang pertama. Dan... Heii... Pujiannya itu lho... Haduhh bikin melambung tinggi

Padahal Felix-Kun ini masihlah seorang amatir dan sangat butuh untuk belajar lagi tentang membuat sebuah fanfic.

Benar-benar minta maaf atas scene yang Yurisa-san maksud. Karena saat itu Author juga sedikit bingung dengan apa yang harus dilakukan ketika banyak para pembaca yang sangat ingin tau siapa pair Naruto nanti.

Tentang ide atas fanfic ini, jawaban awalnya adalah anime Highschool Of The Dead. Disusul seri Resident Evil yang Felix-kun gemari. Lalu War World Z. Dan terakhir adalah film-film yang berkaitan erat dengan unsur zombie apokalips.

Dan... Yahh... Dapat terlihat jelas bahwa seri ini akan tamat dalam beberapa chapter ke depan. Maaf bila membuat Yurisa-san agak kecewa yaa

Yang terakhir... Makasih banyak atas dukungannya ^^

: o.O astagaaa... Serius menganggap film sekeren Train To Busan bagai seperti live action fanfic ini?! Felix-Kun bisa jingkrak-jingkrak kesetanan saking senengnya sumpah :'v

pururukuru : Wahahaha beneran deh, review dari puru entah kenapa selalu bisa bikin Author ketawa geli

Btw... Itu POV versi puru buat Naru yah? (Waduhh gak bisa berhenti ketawa nih )

Makasih banyak buat pururukuru yang selalu setia untuk memberi dukungan ^^

moham : Aww fanfic Author bisa bikin baper yahh?

Makasih banyak atas reviewnya ^^

Risaldi : Waduhh... Suffix -Kun itu juga bukan hanya untuk cewek ke cowok kok. Setahu Author sih suffix yang seperti itu juga bisa diartikan sebagai rasa hormat untuk teman yang kamu hargai. Jadi bukan berarti akan dianggap "Gay" kok~

Author juga suka dengan cerita bernuansa atau bertema horror, walau sebenernya cukup takut juga sih

joko : Yepp! Masih tetep semangat menulis kok walau sangat sibuk. Makasih atas reviewnya ^^

Baiklah, sesi membalas review para pembaca yang tidak bisa dibalas melalui PM sudah selesai

Dan ini adalah Special Update lhooo...

Felix-Kun langsung tancap gas dan ngebut untuk bisa selesai di hari ini

Selamat Natal bagi yang merayakan dan selamat tahun baru buat para pembaca setia yaa ^^