Yahallo~ (o.o)/
Felix-Kun benar-benar minta maaf atas rentang waktu update yang sudah terlampau lama.
Bukan berarti Felix-Kun lupa akan tanggung jawab untuk menyelesaikan cerita ini hingga klimaks kok. Tapi lebih kepada waktu luang yan sangat terbatas di dunia nyata membuat Author kesulitan untuk menulis lagi.
Oh iya.. By the way... Ada seorang penggemar pertama karya fiksi ini yang berulang tahun hari ini. Ia telah mengikuti cerita yang Felix-Kun buat dari seri awal hingga seri ini lho~
Happy Birthday Minako-chan (o.o)9
Semoga di umur yang ke-222 tahun ini dapat menjadi pintu untuk bisa menjadi seorang Vampire bangsawan yang lebih mengerikan lagi (^~^)/
Senang rasanya bila hasil kerja keras Author untuk membagi waktu di sela kesibukan serta rutinitas sepanjang waktu sangat dihargai oleh para pembaca.
Sekali lagi Felix-Kun ingin meminta maaf atas keterlambatan update yang sangat lama sebelumnya.
Selamat menikmati~ (o.o)/
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kemungkinan besar telah ada yang sampai ke pulau ini lebih awal dari kita. Bersih atau tidak... Kita harus pastikan terlebih dulu."
"Aku memiliki firasat buruk di tempat ini. Tapi ayo kita selesaikan misi secepat mungkin."
"Clear!"
"Jika dilihat dari jumlah kapal yang telah bersandar di tepian pulau ini, kemungkinan besar masih banyak dari mereka yang tersisa. Jadi sebaiknya jangan mengambil tindakan dengan sembarangan, Shikamaru."
"Tak perlu repot panjang lebar menceramahiku. Karena itu merepotkan."
"Sebagai personel baru, kuharap kau bisa dapatkan pengalaman pada misi di pulau ini. Jauh lebih mudah dibandingkan dengan harus menghadapi mereka yang jumlahnya ribuan di Kota Konoha. Percayalah... Mereka itu pedebah."
"Sekarang kau berbicara seolah sedang membandingkan mereka dengan para pria hidung belang. Pengalaman pribadi...? Bagus... Misi pertamaku dipimpin oleh seorang kapten yang menarik."
"Yosh... Ikuzo!"
.
.
THE PLACE OF HOPE
.
Chapter 23 : "Everything Has Changed"
Genre : Horror, Adventure, and Gore
Main Cast : Naruto U., Sakura H,. Sasuke U.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
.
.
.
.
.
Matahari semakin tenggelam di ufuk barat. Hanya serpihan-serpihan cahaya senjanya lah yang masih tersisa. Aroma dari dinding-dinding tua dan sedikit bau serpihan kayu berdebu dapat dengan mudah tercium oleh tim Yamanaka Ino di sepanjang mereka menyusuri bangunan gelap ini.
Begitu gelap. Hanya sedikit cahaya mentari senja yang dapat menerobos masuk lewat lubang-lubang retakan di sepanjang dinding dan pintu. Membuat mereka berempat harus menggunakan senter kecil yang terletak pada moncong laras bagian bawah senjata mereka masing-masing.
Menyusuri lantai keempat, Ino dan personel timnya menemukan sebuah ruangan yang telah porak-poranda. Senjatanya terbidik kepada dua Licker yang telah mati tergeletak di lantai. Disertai beberapa rak buku yang sudah remuk dan serpihan kaca jendela yang telah pecah. Ketika mengedarkan pandangannya lebih luas ke seluruh sudut ruangan ini, Ino beserta timnya menemukan beberapa jasad mayat hidup yang tergeletak tak lagi bernyawa dengan bekas tembakan di kepala mereka.
Mendapati kondisi ruangan tersebut, Ino dapat berasumsi bahwa telah terjadi pertarungan di tempat ini sebelum timnya datang.
"Mungkinkah ini ulah Naruto..." Gumam Ino pelan ketika menurunkan sedikit kewaspadaannya sembari mengecek tubuh Licker yang telah mati menggunakan sepatu hitam yang ia kenakan.
Mengingat kembali saat dirinya berada dalam satu helikopter yang sama dengan seorang pemuda tampan berambut kuning. Mengantarkan pemuda tersebut untuk memulai misi pertamanya setelah bergabung dengan Organisasi Rahasia Konoha untuk menyelamatkan beberapa remaja, serta seorang gadis muda yang bisa dijadikan kunci untuk membuat vaksin oleh karena faktor genetisnya.
"...Naruto?"
Ino menoleh ke arah Shikamaru saat menyadari bahwa apa yang ia gumamkan terdengar oleh pemuda berambut nanas tersebut.
"Bukan apa-apa." Jawab Ino singkat.
"Ssstt... Aku mendengar suara." Kata seorang personel yang berdiri di antara jasad-jasad para mayat hidup sembari memberi kode kepalan tangan tanda berhenti untuk waspada.
DREP-DREP-DREP-DREP-DREP...
Tidak lama terdengar alunan suara langkah-langkah kaki yang tergesa dari luar pintu yang gelap. Dua personel lama di tim Ino membidikkan Sub-Machine Gun P90 dengan sorot senter mini mereka tepat ke arah suara-suara derap langkah itu terdengar.
Melihat timnya yang memberi sinyal bahaya, Ino kembali memposisikan dirinya ke mode siaga. Di tempat yang begitu jauh dari keramaian ini, dengan sangat jelas ia juga dapat mendengar derap suara langkah yang timnya dengar.
Dua personel yang berada pada posisi paling dekat dengan sumber suara tersebut berdiri dengan kuda-kuda mereka. Sekejap suanana menjadi begitu tegang saat suara-suara itu terdengar semakin mendekat.
"Tiga..." Gumam salah seorang dari kedua personel tim Ino mulai menghitung mundur dari kontak yang akan terjadi.
DREP-DREP-DREP-DREP-DREP...
"Dua..."
Suara-suara yang menggema makin, dan semakin dekat terdengar. Bersamaan dengan hitungan mundur yang terakhir, seluruh anggota tim menempatkan jari telunjuk tepat pada pelatuk senjata masing-masing.
"...?!"
Muncul secara tiba-tiba dari balik kegelapan yang pekat, beberapa Zombie ganas menyerang begitu frontal ke arah salah satu personel tim Ino di sana hingga terjatuh ke lantai penuh debu. Kegaduhan seketika pecah. Kontak senjata pun telah dimulai.
"Namikaze Naruto. Bila memang kau menyukai pemuda dengan mata biru itu... Kau boleh curhat padaku kapanpun kau mau." Ucap Shikamaru dengan nada mengejek sebelum akhirnya bergegas bergabung bersama dua personel di depan yang kewalahan menghadapi banyaknya Zombie yang muncul menyerang.
". . . . . ."
Entah mengapa Ino terdiam menatap punggung Shikamaru. Mulai melamun di tengah suara-suara letupan senjata yang keluar dari ujung laras senjata para personel timnya.
'Orang ini menyebalkan...' Gumamnya dalam hati.
Shikamaru beserta para personel yang lain menembaki gerombolan Zombie yang berlari menghampiri. Sedangkan Ino mengambil sebuah granat yang tergantung di sisi rompinya. Di kala melamun Ino berpikir untuk mencari solusi tepat mengatasi banyaknya mayat hidup yang menyerang.
KLIK...
Jari telunjuk menarik pemicu, lalu ia lemparkan granat tersebut tepat di bawah kaki para personel timnya.
Memegang SMG-MP7 yang terus meletupkan proyektil logam peluru, Shikamaru menghentikan tembakannya sejenak untuk menengok ke bawah. Dahinya mengernyit ketika mendapati sebuah granat bergulir tepat di bawah kuda-kudanya.
CEEEESSHHH...
Kepulan asap pekat mulai terpantik keluar dari granat tersebut. Membuat jarak pandang mata terhalangi oleh asap yang semakin menyebar.
"Kita turun ke bawah! Giring mereka semua ke satu tempat lalu ledakkan adalah cara paling efektif untuk mengatasi jumlah mereka." Seru sang kapten tim memberi perintah.
'Merepotkan. Tapi aku suka cara berpikirmu yang cepat itu.' Kata Shikamaru sambil beranjak pergi dari sana dan mengikuti kemana arah Yamanaka Ino melangkah.
Mereka berempat berlari menjauh dari titik kepulan asap tersebut. Menuju ke lantai dasar secepat mungkin seperti apa yang telah kapten mereka rencanakan.
Minimnya cahaya yang dapat memasuki ruangan bangunan tua ini beserta penyebaran asap pekat menutupi pengelihatan buruk para mayat hidup. Hanya sedikit jumlah dari mereka yang masih bisa mengikuti dan mengejar kemana tim Ino melangkah.
"Sebelah sana!" Seru salah satu anggota tim Ino ketika melihat sebuah pintu lain tidak jauh dari posisi mereka berada.
Shikamaru sampai terlebih dulu. Pintu dengan kotak kaca bersimbah darah di tengah-tengahnya itu sedikit sulit untuk di buka. Membuat Shikamaru harus beberapa kali mendobraknya.
BRAAAKKKH!
Ino dan parq personel tim yang lain segera berlari kembali melewati pintu yang kini telah berhasil terbuka. Dengan nafas-nafas berat nan cepat Ino terus menggerakkan kedua kakinya untuk berlari menghindari kejaran para Zombie ganas di belakang.
Tetapi baru saja beberapa meter ia melangkah, seorang pemuda tiba-tiba muncul dari kegelapan dan menabraknya hingga terjatuh.
"Grrwaaahhkk..!"
Sempat terkejut dan membelalakkan kedua matanya, Ino mencoba menahan dagu pemuda gendut berambut panjang yang berusaha menggigitnya tersebut.
"Kapten!" Seru serentak dua personel timnya ketika melihat ada seorang Zombie yang tiba-tiba menyerang Ino secara brutal dan haus darah.
Membidik dengan SMG-P90 ke arah pemuda bertubuh besar yang menyerang kapten mereka hingga terjatuh ke lantai, Dua personel tersebut mencoba mengenyahkan makhluk.
"Awas! Di belakang!"
Shikamaru berteriak memperingati rekan-rekannya saat para kawanan mayat hidup yang lain telah tiba di lorong bangunan tempat mereka terhambat.
Tidak mempunyai pilihan lain, kedua personel itu mengganti bidikan senjata mereka ke arah Zombie-Zombie ganas yang mulai berdatangan.
Kontak senjata pun kembali terjadi hanya selang beberapa saat saja. Tak bisa dipungkiri bahwa misi ini jauh lebih sulit daripada yang dibayangkan. Hal itu benar-benar dirasakan secara langsung oleh Ino yang kini sangat kewalahan menahan mayat hidup di atas tubuhnya.
Memandang ngeri bagaimana mayat hidup tersebut terus mencoba menggigit walau telah ia tahan sekuat tenaga. Ino meraih secondary-weapon berupa pistol P99 di pahanya yang ia bawa untuk misi kali ini.
DAR-DAR-DARR-DARR...
"Menjauhlah dariku jelek!." Ucap Ino kesal setelah menembaki tubuh pemuda berlumuran darah itu.
Tetapi pergerakannya sama sekali tak berhenti walau beberapa proyektil timah panas sudah ditembakkan ke tubuhnya. Mayat hidup tersebut tetap berusaha menggigit Ino dengan ganas.
GRAB...!
Shikamaru datang dan mencengkram tubuh pemuda tambun yang tengah menyerang kapten timnya tersebut, lalu melemparkannya menjauh dari Ino yang hampir tergigit olehnya.
"Yang ini pasti... Chouji Akimichi." Gumam Shikamaru sembari kembali menggenggam senjatanya.
"...?" Mendengar apa yang Shikamaru gumamkan, Ino memasang raut kebingungan.
Mendapati wajah bertanya dari sang ketua tim mengenai apa yang baru saja ia katakan, Shikamaru segera memberikan penjelasan singkat dengan apa yang ia maksud sembari membidik Zombie di depan mereka berdua.
"Bila tidak salah, dia adalah teman Naruto. Membentuk sebuah tim untuk keluar dari Kota Konoha setelah bencana mengerikan ini terjadi, mereka menyeberangi lautan dan menepi di sini. Tapi sepertinya yang satu ini bernasib nahas." Cerita Shikamaru singkat kepada Ino untuk menjelaskan mengapa ia mengetahui nama dari pemuda tambun tersebut.
Chouji kembali bangkit dengan tergopoh-gopoh sesaat setelah dirinya dilempar oleh seseorang. Luka gigitan menganga penuh darah nampak memenuhi sekujur tubuhnya yang telah mati menjadi mayat hidup. Belum lagi beberapa bekas tembakan dari senjata milik Ino yang menembus pinggangnya membuat darah kental merah kehitaman tercecer di bawah kakinya.
Menatap Shikamaru beserta Ino tidak jauh di hadapannya, Dengan frontal yang tanpa kesadaran Chouji langsung berlari menerjang tepat ke arah mereka berdua.
"Bagaimana kau bisa tau semua itu? Terlebih lagi... Siapa dirimu yang sebenarnya?." Tanya gadis pirang berambut panjang di sampingnya yang masih berada di lantai kotor berdebu bangunan ini.
Belasan peluru panas terlontar cepat keluar dari ujung laras SMG-MP7 milik Shikamaru. Ia menarik pelatuknya tepat ketika Chouji yang kini sudah menjadi Zombie mulai mendekat kembali. Walau hanya beberapa yang tepat menembus kepalanya, namun itu sudah cukup membuat Chouji terlontar jatuh ke belakang dan mati tergeletak di bawah lantai.
"Mengenai bagaimana aku bisa tahu, atau siapa aku ini... Kau akan segera mengetahuinya." Kata pemuda berkuncir bak buah nanas dengan nada enteng meski berada di tengah-tengah situasi serius.
Masih menampakkan raut wajah bertanya-tanya, Ino menerima uluran tangan dari Shikamaru untuk membantunya berdiri. Ada banyak keganjilan mengenai pemuda rekrutan baru di Organisasinya tersebut yang bisa Ino rasakan. Tetapi tetap saja tak ada gambaran pasti yang bisa muncul di kepalanya meski telah menerka-nerka sekalipun.
"Kau masih berhutang banyak penjelasan padaku, anak baru. Tapi yang lebih penting kita harus tetap bergerak." Ketus gadis bermata aquamarine tersebut meski Shikamaru baru saja menyelamatkan nyawanya.
"Move! Move!." Teriak sang kapten memberi instruksi perintah untuk dua personel tim yang lain agar lekas kembali bergerak dan meninggalkan lorong ini. Meski sebelum mulai berlari, dirinya sempat menatap sinis siapa yang telah menyelamatkan nyawanya itu.
'Hehh... Wanita memang sulit untuk mengerti laki-laki. Tapi kuakui... Intuisi wanita benar-benar sangat tajam.'
.
.
.
.
.
.
.
Derap suara langkah sepatu yang berlari terdengar begitu tergesa-gesa bagai sedang menghindari... Atau mungkin lari dari sesuatu. Sesosok pria berjaket kulit hitam sigap menutup pintu yang baru saja dilaluinya. Ia berhenti sejenak sembari menempelkan punggung pada pintu tersebut sembari mengambil nafas-nafas panjang.
Pada tangan kanan pria yang kini sedang berlindung sejenak di dalam sebuah rumah sederhana ini, tergenggam sebuah pisau dapur yang berlumuran darah. Hanya sebilah pisau tersebut yang akan menemani hidup matinya hingga matahari telah sepenuhnya tenggelam nanti.
"Mereka memenuhi ruang tamu, dan sekeliling rumah ini." Ucap Itachi Uchiha tatkala merasakan dentuman demi dentuman pada pintu di balik punggungnya.
"Jumlahnya sudah di luar dugaanku... Kurasa rumah ini takkan bisa bertahan lebih lama lagi." Kata Itachi, ketika mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut dapur rumah ini dan menemukan sebuah jendela kaca tidak jauh dari dirinya berada. Tetapi telah terlihat begitu banyak Zombie ganas yang juga berusaha menggedor-gedor jendela itu.
Tiba-tiba Itachi merasakan sakit yang sangat luar biasa di beberapa bagian tubuhnya. Bercak darah seketika nampak pada balutan perban putih yang membelit melingkari dada hingga perut serta pinggangnya. Kemungkinan jahitan pada luka robek di sekitar dada akibat sayatan benda tajam kembali terbuka karena Itachi terus memaksakan tubuhnya untuk terus bergerak.
Tangan kiri pria berkuncir tersebut terangkat pelan, lalu jari-jari itu menyentuh bercak-bercak darah basah yang muncul disertai rasa sakit yang amat sangat. Kedua matanya terpejam erat menahan semua penderitaannya seorang diri di tengah situasi hidup atau mati sebagai agen rahasia Organisasi Kota Konoha.
"...Kurasa begitu juga denganku." Gumam Itachi seorang diri yang sempat meragukan apakah ia sanggup bertahan lebih lama lagi, ataukah akan berakhir... Dan meninggalkan adik laki-laki yang sangat ia cintai sendirian di dunia yang kejam ini.
Kedua mata lelah itu masih terpejam. Gendang telinganya masih berfungsi dengan baik, namun ia tak memedulikan gempuran seluruh Zombie serta dobrakan yang mereka buat.
'Misi... Adalah misi.' Kata Itachi dalam hati dengan kedua kelopak mata yang terpejam.
'...Tapi bila boleh, kuharap ini bukan misi terakhirku.'
.
.
.
.
(Flashback...)
.
.
.
.
Deru suara mesin sebuah Supercar dengan logo Lamborghini melibas jalanan Kota Yokohama yang sepi. Walau ungkapan kata sepi rasanya sedikit kurang tepat saat melihat kanan dan kiri sisi jalanan ini terlihat beberapa mayat hidup kelaparan mencari para survivor yang masih bertahan.
Bagai sebuah stimulus pada otak-otak yang telah rusak terkena dampak Virus mematikan, mereka mengejar mobil berwarna hitam yang baru saja melintas di hadapan mereka. Tetapi Lamborghini Aventador LP700-4 Roadster berwarna hitam yang menggendong mesin berspesifikasi super 12 silinder dengan dapur pacu 6.500cc yang tercatat mampu memuntahkan tenaga sebesar 700 tenaga kuda tersebut terlalu cepat untuk bisa para Zombie kelaparan di Kota mati ini kejar dan ikuti. Karena keempat roda Supercar itu berputar cepat di atas aspal jalanan dan melaju dengan kecepatan 260km/jam.
Kecepatan laju mobil hitam tersebut masih mampu bertambah lagi di kala seorang pria di depan kemudi menambah gigi percepatan untuk mengejar sebuah helikopter di atas sana. Matanya begitu fokus memperhatikan kondisi jalanan ketika satu tangannya menggenggam kemudi sembari sesekali memperhatikan kemana arah helikopter yang menjadi targetnya akan berujung.
Seorang agen rahasia Organisasi Kota Konoha pada Divisi Inteligensi, Itachi Uchiha, berkonsentrasi penuh di dalam ruang kemudi mobil sport berkecepatan gila tersebut. Tidak dapat dipungkiri, sebagai salah satu agen rahasia serta mata-mata yang berada di bawah kepemimpinan Minato Namikaze, ia sudah menggenggam pengalaman di sekujur urat nadinya berkat pelatihan secara intensif selama bertahun-tahun.
Jadi bukan perkara sulit bagi sang Shadow Walker untuk melakukan tiga hal tadi di waktu yang sama sekaligus. Terlebih lagi, segudang teknologi baru pada kendaraan yang tengah ia tumpangi merupakan Supercar keluaran terbaru dari perusahan otomotif raksasa Lamborghini di tahun 2013 itu. Dengan raungan mesin V12 berkubikasi 6.500cc yang menjerit pada RPM tertinggi pun tak begitu terasa pada genggaman kemudinya. Itachi benar-benar memilih sebuah kendaraan yang tepat untuk membantunya menjalankan misi berbahaya kali ini.
Sementara itu, di dalam helikopter tersebut, duduk seorang pria yang paling dicari di seluruh pelosok Jepang. Akibat perbuatannya lah, Obito Uchiha menjadi target setiap tim yang ada di Organisasi Rahasia Konoha.
Ia berada di dalam helikopter ini bersama dengan dua pilot di depan, dan satu personel bersenjata lengkap di sampingnya.
Wajah kanannya berkerut mengerikan dengan mata bagai seorang monster. Duduk di dekat pintu heli dengan jendela kaca lebar. Berkat DNA Licker yang telah ia injeksikan ke dalam tubuhnya, refleks dan pendengaran Obito meningkat berkali lipat dari manusia biasa. Meski dengan penutup telinga yang ia kenakan untuk menghalau suara teramat bising dari mesin dan baling-baling yang berputar, dengan samar ia masih mampu menyadari dan mendengar raungan mesin Lamborghini hitam di bawah sana.
'Tak kusangka kau masih keras kepala mengejarku, Itachi.' Gumamnya sendiri dalam hati sembari melirik ke bawah sana.
'Tapi coba kita lihat bagaimana caramu untuk menghentikanku dari jarak ini... Akan kutunggu jawaban itu darimu, teman lama.' Lanjutnya lagi dengan senyum picing yang terurai di wajahnya.
"Saat ini... Aku berada pada jarak tujuh puluh meter di bawah target." Ucap Itachi kala tangan yang satunya memegang sebuah ponsel. Telah tersambung dengan seseorang yang coba ia hubungi.
"Bagaimana dengan pergerakannya...?" Terdengar samar suara Ayah Naruto dari ponsel miliknya tersebut.
"Sejauh ini mereka hanya melaju lurus. Bila terus seperti ini, mereka akan meninggalkan Yokohama dan terbang di atas lautan. Lima kilometer lagi sebelum menyentuh daerah pelabuhan dan peti kemas di sudut Kota. Aku semakin kehabisan jalan. Apa yang harus kulakukan..." Jawab Itachi dengan nada datar seperti biasa, sekaligus bertanya kepada ketua dari Divisi ke-3 Organisasi Rahasia Konoha.
Itachi sadar bahwa ia sudah kehabisan senjata serta amunisi untuk bisa menghentikan Obito yang ada di dalam heli tersebut. Pada kondisi seperti, dirinya benar-benar berada dalam situasi yang mendesak. Antara harus segera menghentikan targetnya tanpa senjata apapun, dengan mulai kehabisan jalan beraspal untuk membuat kendaraannya tetap dapat melaju. Karena tidak jauh lagi, dirinya akan mendapati jalan buntu di penghujung sudut Kota ini.
"Aku tahu ini sudah berada pada batasmu. Telah kuganti rencana awal dan mengirim Naruto ke sana. Kali ini, misimu hanya menghentikan pergerakan helikopter itu. Biarkan Naruto yang mengatasi sisanya." Ungkap suara pria paruh baya dengan nada tenang pada ponselnya.
"Bagaimanapun caranya, Itachi... Kau harus menjatuhkan target kita sebelum mencapai lautan." Sambung Minato Namikaze dengan tutur kata yang kini terdengar serius.
Mendengar hal tersebut, sejenak Itachi terdiam. Memikirkan bagaimana cara dirinya untuk menjatuhkan helikopter itu tanpa menggenggam senjata apapun. Kali ini kinerja kecepatan berpikir otaknya sedang diuji. Benar-benar kondisi yang sama sekali tidak memungkinkan, bahkan mustahil untuk dilakukan.
Tetapi Itachi sadar, bahwa titik penghubung rantai rencana Minato ada terletak padanya. Bila ia gagal kali ini, maka rantai rencana Minato akan terputus di sini. Dan secara teknis, Organisasi ini telah gagal menangkap atau menghentikan buronan paling berbahaya di seluruh dunia.
"...Aku mengerti."
Itachi menyahut setelah beberapa saat terdiam sebagai jawaban bahwa ia akan menyanggupi misi yang sangat mustahil ini.
Setelah memberikan jawabannya tersebut, kontak di antara mereka berdua berakhir, dan Itachi memasukkan ponsel yang ia genggam kembali pada saku jaket kulit yang ia kenakan.
"Mungkin inilah saat yang paling tepat untuk mengatakan... Goddamned." Gumam sendiri pria berkuncir itu disertai umpatan pada akhir kalimatnya.
JEGLEKK...
Dengan cepat Itachi memasukkan gigi persneling terakhir melalui tuas percepatan mobil yang saat ini ia kendarai. Lalu menginjak pedal gas dalam-dalam. Seketika lonjakan akselerasi begitu menyengat adrenalinnya disertai laju kecepatan yang terus meninggi secara drastis dari angka 295km/jam, kini menyentuh ke angka 340km/jam dalam hitungan detik.
Lamborghini Aventador hitam yang semula berada sejajar di bawah helikopter yang mengangkut sang target utama Divisi Inteligensi, Obito Uchiha, langsung melesat kencang di sepanjang jalanan Yokohama meninggalkan helikopter yang mengudara di belakangnya. Benar-benar meninggalkannya sangat jauh seolah mobil berwarna hitam itu lenyap tertelan oleh kejauhan.
"Aku harus melakukannya dengan sangat tepat. Atau semua akan berakhir sia-sia." Ucap Itachi Uchiha yang entah dengan siapa ia berbicara. Yang pasti saat ini di kepalanya telah terdapat sebuah ide yang sangat gila. Terdapat begitu banyak resiko yang tak setara dengan harga nyawanya dalam rencana Itachi untuk menghentikan pergerakan Obito.
Setelah jarak di antara mereka sudah sangat jauh, tiba-tiba agen rahasia dari Divisi ke-3 tersebut menginjak pedal rem dalam-dalam disertai menarik setengah ruas tuas handbrake secara bersamaan. Seketika laju kecepatan Supercar tersebut menurun secara drastis.
Keempat ban kehilangan traksi pada aspal dan mobil itu menjadi sangat liar untuk dikendalikan. Namun kemampuan serta pengalaman seorang Itachi Uchiha yang tidak bisa dipandang sebelah mata tersebut mampu mengendalikan deselerasi liar Lamborghini yang ditumpanginya.
Dengan jarak, tempat, arah, dan perhitungan waktu yang tepat, Itachi membanting setir kemudinya tajam ke kiri. Mobil itu serasa terbanting mengikuti arah tekanan roda yang membawanya. Pada saat deselerasi atau pengurangan percepatan dari angka 340km/jam menyentuh angka 30km/jam, Itachi kembali memutar kemudi berlawanan arah untuk menciptakan situasi di mana mobilnya berbelok namun mengambang. Atau bisa disebut dengan istilah Drifting.
Supercar milik Itachi memasuki sebuah bangunan khusus tempat pemarkiran mobil-mobil pribadi milik penduduk sekitar. Dengan menggunakan teknik Drifting, Itachi membawa kendaraannya berputar dan menaiki tiap lantai bangunan tersebut dengan kecepatan tinggi.
Keringatnya mengucur. Jantung tak henti-hentinya berdegup. Adrenalinnya terpacu sekencang ia membawa Lamborghini itu. Beberapa mayat hidup yang menghalangi jalan tertabrak sisi samping mobilnya dan terpental. Itachi harus memperkirakan secara cermat dan kapan dirinya harus menambah kecepatan, kapan harus sedikit menarik tuas handbrake, dan kapan harus menstabilkan sudut kemiringan mobilnya agar tetap berada di tengah-tengah jalur dan tidak menabrak pembatas.
Sebanyak 24 lantai bangunan ini telah ia terjang dengan kecepatan tinggi bak pembalap liar. Lamborghini milik Itachi berhenti tepat ketika keempat ban hitam itu sampai pada lantai ke-25, atau lantai tertinggi dan paling akhir.
Terlihat beberapa Zombie secara kebetulan berada di tempat yang sama dengan Itachi. Tiga sampai empat mayat hidup itu berlari ke arah mobil sport hitam yang tentunya kini sangat panas. Mereka menabrakkan diri mereka pada mobil berwarna hitam tersebut. Bahkan ada yang membenturkan kepalanya tepat pada kaca jendela di samping Itachi. Membuat retakan kecil namun meretas dan menyebar.
Cara apapun para Zombie ganas itu lakukan agar bisa mendapatkan daging segar seorang pria berkuncir mengenakan jaket kulit yang tengah berada di dalam mobilnya. Namun sepertinya perhatian dan fokus Itachi sama sekali tak pecah dengan ulah mereka. Karena yang sedang ia tunggu saat ini adalah, helikopter yang tengah terbang rendah membawa Obito Uchiha di dalamnya.
'Ban hampir habis... Bahan bakar hanya tersisa sedikit... Sepertinya ini adalah penghujung dari misiku.' Kakak Sasuke tersebut bergumam sendiri dalam hati ketika targetnya telah terlihat.
BRRMMMHH...
Tak memedulikan beberapa Zombie ganas kelaparan yang mengepung dan mencoba untuk merusak mobilnya, Itachi menekan-nekan pedal gas dalam kondisi gigi netral. Raungan gahar dari mesin Supercar tersebut terdengar merdu dan beradu dengan suara bising baling-baling heli.
Ketika waktu yang diperhitungkan oleh Itachi telah tiba, di mana posisi helikopter tersebut sejajar dengan mobilnya, ia memasukkan gigi persneling ke angka 1 dengan menggunakan tuas percepatan, lalu menginjak pedal gas dalam-dalam sembari melepas pedal kopling di waktu yang sama.
Ban Supercar tersebut berputar-putar ditempat sejenak sebelum akhirnya lepas meluncur dengan kecepatan tinggi bak roket yang melesat.
Beberapa mayat hidup terlempar akibat lonjakan akselarasi yang dahsyat. Tetapi beberapa lagi tersangkut di depan kaca depan oleh sebab tekanan angin pada gaya aerodinamis.
Itachi tak peduli. Kakinya tetap menginjak pedal gas sedalam yang ia bisa sembari terus menaikkan posisi gigi persneling dari 1 hingga ke gigi 4.
Di saat jalurnya hampir habis dan moncong kendaraannya akan menabrak pagar pembatas, ia menekan sebuah tombol yang membuat pintu di sebelah kursi bagian penumpang terbuka.
"...Its show time." Ucapnya tanpa mimik wajah yang datar.
BRRUAAAGGKK...
Moncong mobil milik Itachi menabrak pagar beton pembatas yang sangat kuat. Bagian depan Lamborghini hitam tersebut rusak parah ketika terhempas ke atas dan berputar-putar ke depan di saat pagar beton tersebut hancur. Para mayat hidup yang sebelumnya menempel kini ikut terlempar kuat.
Mobil berwarna hitam dan sebuah helikopter yang melintas, sepintas terlihat melayang secara sejajar di tengah udara. Itachi keluar melompat dari mobilnya sebelum mobil itu terus terhempas ke atas dan menabrak sebagian baling-baling heli.
Itachi masih bergelantungan ketika helikopter tersebut kehilangan keseimbangannya. Menyadari ada seseorang yang membahayakan bagi perjalanan heli ini, pintu pun terbuka disertai satu personel yang menengok ke bawah sembari membidikkan senjatanya.
"...?"
Tidak ada siapapun. Dia tak bisa menemukan seorangpun di bawah sekitar kaki helikopter ini.
ZRREETT...
Tak lama pintu heli di sisi yang lain terbuka. Menampakkan seorang pria dengan kuncir rambut yang terhempas angin bersama jaket hitam yang ia kenakan.
"Sedang mencari seseorang...?" Ucapnya enteng dengan nada bertanya.
Obito hanya tersenyum melirik bagaimana agen rahasia paling diwaspadai oleh para teroris itu menjalankan misinya yang penuh dengan resiko tingkat dewa. Sedangkan personel yang menjadi penjaga Obito segera membalikkan badan dengan wajah tercengang mendapati orang asing telah berada dalam helikopter mereka.
"Kau..!"
Personel itu segera mengangkat senjatanya dan membidik sosok Itachi yang telah duduk di samping Obito. Namun olengnya helikopter ini membuat ia kesulitan untuk membidik dengan tepat salah satu dari mereka.
"Harus kuakui kau adalah salah satu orang yang paling hebat di dalam Organisasi itu." Kata Obito tenang sembari mencoba untuk menyikut wajah pria di sampingnya.
"Terima kasih untuk sambutannya." Jawab Itachi datar menghalau gerakan tajamnya sikut Obito menggunakan kedua tangannya.
"Ngomong-ngomong... Wajahmu makin bertambah buruk bagai sampah yang tak bisa di daur ulang semenjak pertama kali kita menjadi rekan satu tim." Lanjut Itachi lagi dengan humor garing sembari menarik tubuh Obito untuk condong ke arahnya, agar personel yang memegang senjata di sana tidak bisa menarik pelatuk untuk menembakinya.
"Terima kasih juga untuk pujian itu. Jangan sungkan bila kau juga ingin memiliki wajah yang seperti ini. Aku akan membantumu dengan senang hati." Sahut Obito menanggapi perkataan pedas dari mantan temannya itu sambil mengadu kepala mereka berdua dengan teramat keras.
DUUAAAGGHKK!
Kepala mereka berbenturan. Mengenai siapa kepala yang paling keras, Itachi harus mengaku kalah kali ini.
Meringis kesakitan sebentar, Itachi langsung mencuri sebuah pistol yang ada di dalam saku jas Obito dan membidikkannya kepada salah seorang personel yang tengah melihat betapa mesranya reuni mereka berdua.
"Maaf, tapi silahkan menikmati penerjunan darurat yang dengan suka rela kuberikan ini."
Darr-Darr-Darrr...
"Aaarrrggkk!"
Personel tersebut terpental ke belakang setelah mendapati hadiah tembakan dari Itachi. Sebelum jatuh, jarinya secara tidak sengaja menarik pelatuk senjatanya dan menembakkan belasan peluru liar yang mengenai seorang Co-Pilot yang berada duduk di depan.
Laju helikopter ini semakin tak terkendali lagi setelah beberapa peluru liar melesat dan menembus panel-panel kendali. Membuat pilot utama kesulitan untuk menerbangkan heli ini kembali ke jalur yang benar.
Lutut Obito tak tinggal diam begitu saja saat kedua tangannya telah dikunci oleh agen rahasia ini. Ia memberikan upper-cut tepat ke ulu hati Itachi menggunakan lututnya sehingga membuat lawannya itu mendelik merasakan sakit nan sesak di dada. Belum sampai di situ saja, Obito lalu menendang pistol miliknya yang berada di tangan Itachi menggunakan kaki yang lain.
"Bagaimana kabar adik kesayanganmu, hm..?" Tanya sosok Obito masih dengan raut wajah tenang.
"Untuk itulah aku melakukan misi gila ini." Jawab Itachi kemudian sembari kembali mengadukan kepala mereka berdua.
DUUAAGGHHKK..!
Benturan keras antar kepala kembali terjadi. Dan kini Obito lah yang sedikit terpental akibat kuatnya Itachi mengayunkan kepalanya. Jawaban sang kakak mengisyaratkan bahwa dirinya rela menanggung misi dengan resiko apapun demi menjauhkan adiknya dari semua ini. Itachi dengan senang hati mempertaruhkan nyawa demi adik tercinta. Satu-satunya keluarga yang saat ini ia miliki.
Pilot yang merasa frustasi tak bisa mengendalikan helikopter ini mulai menarik sebuah pistol dari sabuk senjatanya. Ia sedikit memutar tubuhnya ke belakang untuk mengarahkan senjatanya ke arah Itachi.
Saat instingnya menyadari bahwa saat ini ia sedang dibidik, Itachi tak tinggal diam begitu saja. Memanfaatkan Obito yang berada pada kuncian tangannya, Itachi bermaksud melindungi diri dari timah-timah panas itu.
Dar-Darr-Darr-Dar-Darrr...!
Tembakan beruntun pilot itu lesakkan dengan membabi buta. Tetapi hampir sebagian peluru-peluru panas itu malah mengenai lengan kiri Obito, seseorang yang harus ia kawal hingga ke tempat aman. Karena Itachi berhasil menarik tangan Obito di waktu yang tepat sebagai tameng dari tembakan-tembakan tersebut.
"Kusoo!" Umpat sang pilot makin frustasi.
Sudah tidak ada waktu lagi untuk helikopter ini terselamatkan. Selain kontrol kendali yang sudah disfungsi, heli ini juga kehilangan ketinggian untuk terbang pada jarak aman. Selain itu tepat di depan sana, sebuah bangunan museum bertingkat telah menunggu untuk ditabrak.
Sementara di kabin belakang, mereka berdua masih bergelut sengit satu sama lain. Menyerang menggunakan tangan kiri, tangan kanan, kaki, bahkan kepala... Apa saja asal serangan yang masing-masing kubu lancarkan dapat mengenai lawan.
Melihat ada sebuah pisau belati yang tersembunyi di balik ikat pinggang Itachi, Obito menyikut dagu pria yang menjadi lawannya saat ini hingga terdongak ke atas. Setelah itu dengan sigap ia menarik pisau tersebut dari sarungnya.
Sesaat sebelum Obito mulai mengayunkan pisau belati hasil curian itu, Itachi menyadarinya dan berniat untuk mencondongkan tubuhnya ke belakang untuk menghindar. Tetapi sayang... Gerakan tangan Obito terlalu cepat.
ZRRAAASSHH...
Percikan darah merah mewarnai sengitnya pertarungan mereka. Obito berhasil melukai Itachi tepat di dadanya. Membuat kaos yang ia kenakan robek beserta tumpahan darah yang membasahi.
Itachi dapat mengambil pistol dari Obito, dan Obito dapat mengambil belati yang dimiliki Itachi. Sama-sama terluka, sama-sama berdarah. Seperti inilah bila dua pria dari satuan organisasi yang sama saling berduel mengerahkan kemampuan dan kecerdikan beserta taktik menyerang mereka masing-masing.
Namun tidak berselang lama mereka berdua menyadari bahwa helikopter yang oleng ini akan segera menabrak sesuatu di depan sana.
"Aku masih ingin mengenang masa-masa kita saat harus melewati serangkaian tes dan pelatihan keras untuk bisa masuk ke Organisasi itu, tapi maaf Itachi... Aku masih harus dapatkan sampel darah putri Hyuuga untuk menyembuhkan efek negatif dari Virus yang ada di dalam tubuhku ini." Ungkap Obito kepada teman lamanya.
"Sepertinya itu adalah kata-kataku. Kau belum harus mati di sini di saat aku tak bisa menangkapmu. Masih ada seseorang lagi yang pasti akan menghentikan langkahmu dengan caranya." Sahut Itachi kemudian.
Setelah itu mereka berdua saling mengangkat kaki dan memberikan satu tendangan kuat pada kubu masing-masing hingga terpental. Obito maupun Itachi terhempas dari kedua pintu heli yang terbuka, lalu jatuh tepat sebelum helikopter tersebut menabrak sebuah gedung museum bertingkat dengan amat keras.
BLLAAAAARRR..!
Ledakan keras terjadi akibat tangki bahan bakar tersulut kobaran api dari poros pemutar baling-baling. Menghancurkan sebagian area lantai bangunan di mana helikopter tersebut menabrak. Membuat perhatian puluhan mayat hidup yang kebetulan tidak jauh dari daerah ini tertarik untuk mendekat.
Sementara tubuh Itachi yang ditarik oleh gravitasi bumi, menabrak sebuah atap rumah dan terjatuh ke dalamnya di sertai puluhan Zombie kelaparan nan ganas menyerbu mendekat.
.
.
.
.
.
(Flasback End...)
.
.
.
.
.
THE PLACE OF HOPE
Felix-Kun
Chapter 23 : "Everything Has Changed"
Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
.
.
.
.
.
Pada sebuah kapal induk yang mengapung jauh dari daratan Jepang, di dalam satu deck yang telah dimodifikasi khusus untuk jadi ruang besar labotarium penelitian, seorang wanita paruh baya bekerja sama dengan para ahli dan pakar dari berbagai daerah.
Rambutnya merah dengan struktur warna yang begitu anggun. Panjang nan indah sampai sepinggul, atau bahkan mungkin sedikit melebihi. Parasnya mempesona penuh kharisma, meski sepanjang hari ia mengerjakan tugasnya sebagai peneliti dengan diam dan tenang. Sepasang manik berwarna hijau itu berpadu dengan warna merah rambutnya, membuat jas labotarium putih yang ia kenakan begitu kontras berbeda.
Di dalam lab yang serba berwarna putih serta sangat steril ini, ia membungkuk untuk memposisikan satu matanya menempel sedekat mungkin pada mikroskop. Begitu teliti dengan apa yang sedang ia perhatikan di sana.
Sudah lama matanya memperhatikan sebuah sampel berukuran sangat kecil dari mikroskop tersebut. Atau bahkan mungkin lebih kecil di bandingkan dengan ukuran tubuh seekor semut. Mengamati bagaimana perkembangan sebuah sel organisme biotik yang ia buat, sedikit demi sedikit menggerus sel-sel virus misterius yang selama ini telah menyebar menjadi kengerian di seluruh dunia.
Tak lama, sebuah senyuman terukir pada kedua sudut bibir manisnya. Setelah melalui serangkaian berbagai penelitian yang memakan waktu begitu panjang, akhirnya sebuah titik terang berhasil ia temukan. Wanita paruh baya tersebut menjauhkan matanya dari mikroskop sembari menegakkan kembali postur tubuhnya setelah sekian lama membungkuk.
Tak lama wanita tersebut tersadar akan sesuatu. Ia teringat akan seseorang yang sangat... Begitu sangat ia rindukan. Lantas tangan kanannya masuk ke dalam saku yang ada pada jas labotarium putihnya. Mengambil sebuah foto yang selalu ia bawa dan simpan dengan baik kemanapun ia berada setelah hari bencana mengerikan yang menimpa Kota Konoha serta sekitarnya terjadi.
Kedua mata indah berwarna hijau itu menatap lembut sebuah foto di tangannya. Rasa lelah dan letih seketika terangkat dari pundak rapuhnya setelah menatap lama seorang pemuda berambut kuning yang ada pada foto tersebut.
'Sudah dua puluh satu hari semenjak kita terpisah saat itu. Rasanya... Bagai dua puluh satu tahun kulalui tanpa bisa melihatmu. Betapa sedih hati seorang ibu ketika tidak bisa bertemu dengan putranya sendiri pada dunia yang telah hancur ini. Kuharap dirimu tahu bahwa perasaan ini tak akan lenyap sampai kapanpun juga. Aku selalu merindukanmu. Apakah... Kau pun merindukanku juga, Naruto...?'
Tanpa terasa setitik air mata berkumpul di sudut pelupuk matanya. Ikatan yang ia rasakan begitu berat. Begitu sesak hingga air mata pun ikut berbicara.
"Anda pasti sangat merindukannya, iya kan... Kushina-san?" Gumam seseorang yang mendekat dan melihat apa yang saat ini sedang wanita berambut merah panjang itu lihat.
Sontak wanita paruh baya yang bernama Kushina tersebut mengusap air mata yang hampir menetes jatuh ke lantai. Alasan mengapa ia berada di sini, tidak lain adalah untuk menjadi berguna bagi keluarganya. Baik Minato maupun Naruto, Kushina ingin membantu mereka meski dari kejauhan.
Kushina menyadari bahwa ia memiliki begitu banyak kekurangan dalam dirinya.
Tubuhnya tak sekuat dua pria yang ia banggakan...
Bahkan semenjak lahir dirinya tak bisa bicara seperti orang-orang normal pada umumnya...
Kehidupan di masa lalu yang penuh akan ejekan serta penindasan pernah menghancurkan mental dan semangatnya...
Tetapi sebuah anugerah yang tidak pernah ia sangka hadir dalam kehidupan Kushina. Seorang pemuda berambut pirang dengan senyuman lembut datang membawa semangat yang telah mati di dalam kehidupannya. Seorang pemuda bernama Minato Namikaze mengisi kekosongan hati Kushina yang tertindas oleh kemunafikan dunia. Mata biru yang setia memandangnya dengan tulus tanpa mempedulikan semua kekurangannya membuat benih cinta tumbuh di dalam hati kecil nan rapuh itu. Lalu mereka berdua menjalin hubungan yang telah ditetapkan oleh takdir benang merah.
Minato adalah satu-satunya pria yang mau menerima Kushina dengan apa adanya. Tak peduli seperti apapun kelemahan dan kekurangan yang ia miliki, Minato tetap begitu ingin hidup bersamanya. Semua itu membuat Kushina akhirnya dapat merasakan bagaimana rasanya menjadi... Berharga.
Dikaruniahi seorang buah hati setelah pernikahan mereka membuat kebahagiaan Kushina semakin lengkap. Ia memiliki seorang pahlawan kecil yang memiliki rambut serta mata biru menawan Ayahnya. Membuatnya selalu dapat menitikkan air mata setiap kali mengingat momen di mana Naruto baru terlahir ke dunia. Kini bukan hanya satu kebahagian yang ia miliki. Minato dan Naruto adalah kebahagiaan yang tak bisa tergantikan baginya.
'Ibu sangat ingin bisa berbicara seperti orang-orang normal pada umumnya... Bbukan untuk bisa mengobrol dan menggosip dengan para tetangga. Tetapi Ibu sangat ingin bisa mengobrol berdua denganmu, Naruto.'
Air matanya kembali mengalir deras saat ia mengingat penyesalannya. Kushina begitu menyesal ketika menyadari bahwa ia tidak bisa menjadi seorang ibu yang bisa berbicara. Bisu yang ia derita semenjak lahir seolah membungkam semua kata-kata sayang yang ingin ia ucapkan untuk buah hatinya tersebut.
Bahkan sampai saat Naruto telah tumbuh menjadi seorang pemuda seutuhnya sekalipun, ia masih belum bisa mengatakan, 'Aku sangat menyayangimu nak...'
Kushina tak mampu membayangkan bagaimana kehidupan sekolah Naruto. Ia selalu khawatir bila Naruto akan mendapat banyak ejekan karena memiliki seorang Ibu yang bisu seperti dirinya. Kushina takut bila putranya akan mendapat penindasan serta cemoohan yang sangat menggores hati dari teman-temannya. Ia tak ingin Naruto mengalami penderitaan yang sama seperti bagaimana penderitaannya di masa lalu.
'Begitu banyak waktu yang telah kita lalui bersama, Naruto. Maafkan aku sayang... Maaf selama ini aku tidak bisa menjadi seorang Ibu yang sempurna untukmu. Maaf jika kau terlahir ke dunia ini dengan memiliki seorang Ibu yang bisu sepertiku. Tak peduli seberapa kejam dunia ini padaku... Tak peduli seberapa besar penderitaan yang pernah kualami... Ibu sangat mencintaimu. Ibu sangat merindukanmu... Maafkan Ibu yang tak bisa melindungimu saat semua ini terjadi, Naruto...'
Kedua kaki Kushina masih mampu berdiri, namun hatinya jatuh dalam tangis. Ia kembali mengingat awal mula hari bencana itu datang.
(Flashback...)
.
.
.
.
.
.
Pagi yang cerah pada kota yang damai. Saat yang paling tepat untuk memulai berbagai macam aktivitas setelah terbangun dari istirahat panjang. Aroma dedaunan hijau terhembus masuk melalui jendela ruang tamu. Seolah mengisyaratkan betapa damainya kota Konoha yang besar nan luas ini.
"Sepertinya Naruto melewatkan sarapan paginya lagi."
Suara halaman koran yang dibalik untuk membaca halaman selanjutnya beradu dengan suara seorang pria paruh baya berambut pirang. Duduk santai di sofa ditemani sebuah koran harian yang memuat berbagai kabar dari dunia.
"Sepertinya besok aku harus mengingatkannya untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolah bersama Kiba." Sahutnya lagi sembari kembali mengganti halaman koran selanjutnya.
Sebuah suara cangkir yang beradu dengan permukaan meja kaca terdengar. Sang pria bermanik biru tersebut menutup luas halaman koran yang digenggamnya untuk melihat asal suara itu.
Secangkir kopi hitam panas telah tersaji di atas meja kaca rendah pada ruangan tamu yang tidak begitu luas ini. Uap yang menyembul serta aroma pekat yang khas dari kopi panas tersebut seakan menjadi pelengkap untuk membaca koran di pagi hari.
Tentu kopi hitam yang masih panas tersebut tidak terbentuk dan melayang dengan sendirinya dari dapur menuju ke meja di mana Minato berada.
"Terima kasih.." Ucapnya lembut beserta sebuah senyuman kecil kepada sang istri yang telah membawakan minuman pelengkap di pagi yang senggang ini.
Setelah meletakkan secangkir kopi hitam di atas meja tersebut, Kushina menunjukkan sebuah surat panggilan resmi dari kepala sekolah Konoha Gakuen. Ia menggenggam surat itu di depan dadanya dengan raut wajah kebingungan serta khawatir. Minato terdiam sebentar menatap Kushina beserta sebuah surat yang ada di kedua tangannya.
"Apa... Kau menemukan ini di kamar Naruto?" Tanya Minato sambil mengambil surat tersebut dari istrinya.
Meletakkan koran yang sempat ia baca di sofa, Minato mulai membaca isi dari surat panggilan itu.
"Sepertinya surat ini telah lama Naruto sembunyikan. Lihat, seharusnya kita memenuhi panggilan kepala sekolah tiga hari yang lalu." Ungkap Minako ketika ia menunjukkan tanggal waktu surat itu dibuat dan tenggat waktu yang ditentukan.
Mendapati surat seperti ini lagi, Kushina berpikir mungkin putranya kembali terlibat sebuah perkelahian lagi di sekolah. Hal itu seketika membuatnya gelisah dan khawatir mengenai keadaan Naruto. Karena hubungan Ibu dan anak di antara mereka bisa dibilang tidak terlalu dekat.
Bukan berarti tak akrab dan sering terjadi gesekan di antara hubungan mereka berdua seperti pada umumnya. Tetapi hanya karena mereka tidak bisa saling berkomunikasi seperti orang lain pada umumnya.
Bisu... Membuat Kushina tidak bisa mengobrol secara leluasa dengan satu-satunya putra yang ia miliki tersebut. Sedangkan di sisi Naruto pun masih belum bisa mengerti bahasa isyarat sepenuhnya. Membuat mereka kesulitan untuk bisa saling berkomunikasi dan berinteraksi satu sama lain.
"Kupikir... Alasan mengapa Naruto menyembunyikan ini, mungkin karena ia tidak mau membuatmu khawatir. Aku akan bertanya padanya sepulang sekolah nanti untukmu." Ucap Minato yang ingin agar Kushina tidak terlalu mencemaskan tentang hal tersebut.
"Tolong nyalakan TVnya." Kata Minato dengan seulas senyuman tipis kepada Kushina. Bermaksud mengalihkan pembicaraan agar Kushina tidak terus menerus khawatir tentang Naruto. Bagiamanapun juga, putranya tersebut sudah beranjak tumbuh dan bisa mengurus urusannya sendiri.
Tanpa sanggahan berarti, Kushina menurut dan berjalan ke arah televisi yang ada di ruang tamu rumah kediamannya ini. Ruang tamu dan ruang keluarga yang menjadi satu, membuat Minato tak perlu repot untuk berpindah ruangan ketika ingin menonton berita terkini.
TOK.. TOKK...
Ketika Kushina telah mengambil remote yang ada di sebelah TV dan menyalakannya, terdengar seseorang sedang mengetuk pintu depan.
"Biar kubukakan pintunya." Sahut Minato sambil berdiri dan beranjak dari sofa nyamannya.
KLEK...
Tangannya menekan gagang pintu ke bawah dan menariknya ke dalam. Sehingga kini nampak seorang wanita yang agak lebih muda darinya berdiri di luar pintu rumah.
"Selamat pagi Minato-san. Aku membuat kue di rumah. Tapi sepertinya aku membuat terlalu banyak." Sapa tamu wanita tadi yang sudah bertahun menjadi tetangga rumahnya, sembari menunjukkan sebuah kotak kue berukuran sedang di tangannya.
"Selamat pagi juga, Hana-san. Sudah cukup lama tidak berkunjung ke rumah. Bagaimana bila kita minum teh dan mengobrol bertiga? Karena Kushina jarang mendapat teman untuk mengobrol selain aku." Jawab Minato dengan bernada sopan sembari mempersilahkan kakak perempuan dari sahabat putranya itu masuk ke dalam.
"Kebetulan aku mendapat cuti dari rumah sakit. Jadi aku punya banyak waktu untuk mengobrol." Ucap Hana Inuzuka masih dengan nada sopan dan melangkah memasuki rumah keluarga Minato.
Sang pemilik rumah pun tersenyum kecil mendapati ajakannya diterima oleh sang tamu yang tidak lain dan tidak bukan merupakan tetangga lama. Minato merasa Kushina butuh teman bicara selain dirinya agar tidak merasa jenuh berada di dalam rumah seharian.
"Selamat pagi, Kushina-san. Aku terlalu banyak membuat kue kering di rumah. Bila tidak keberatan..."
Hana menyapa dan menunjukkan kotak yang berisi banyak kue kering di tangannya dengan tersenyum. Kushina pun membalas senyuman tersebut sembari menggerakkan kedua tangannya sebagai bahasa isyarat bermaksud untuk membalas sapa dan berterima kasih.
Wanita berparas cantik dengan warna merah tomat sebagai warna rambutnya menerima sodoran kotak kue dari tetangganya tersebut. Lalu Kushina kembali merangkai bahasa isyarat menggunakan tangannya untuk memberitahu Hana bahwa ia bermaksud akan segera membuatkan teh di dapur.
Mengetahui sedikit tentang bahasa isyarat dari rumah sakit tempatnya bekerja, bukan hal sulit bagi Hana Inuzuka untuk mengerti apa yang ingin Kushina katakan.
"Duduklah di manapun kau suka." Sahut Minato mempersilahkan Hana untuk duduk menyamankan diri di rumah yang sederhana ini.
"Terima kasih.." Ucapnya sembari duduk pada sebuah sofa panjang yang berhadapan dengan sofa yang diduduki Minato.
"Bagaimana kabar adikmu?"
Minato bertanya setelah ia kembali duduk ke sofa tempatnya bernaung tadi. Bermaksud untuk membuka topik pembicaraan. Ia menanyakan tentang kabar adik laki-laki Hana, Kiba Inuzuka, yang tak lain adalah teman dekat Naruto sejak masuk sekolah menengah atas.
"Seperti pertumbuhan remaja pada umumnya. Dia mulai memasuki masa memberontak. Sifatnya mulai sedikit kasar dan nakal. Aku minta maaf jika adikku banyak merepotkan Naruto." Jawab Hana dengan suara yang agak lebih berat dibandingkan dengan suara Kushina. Cara bicaranya sedikit datar namun terkadang diselingi oleh senyuman kecil. Hana merupakan seseorang yang tak banyak bicara, namun ia begitu sopan terhadap keluarga ini.
Mendengar jawaban Hana, tiba-tiba Minato tersenyum kikuk sembari menggaruk pipi dengan jarinya.
"M-Malahan... Kami yang seharusnya minta maaf atas sifat Naruto yang begitu frontal dan sangat berisik. P-Pasti putra kami telah membuat banyak kerepotan pada Kiba..."
Melihat reaksi yang mengejutkan dari Minato, Hana hanya bisa menahan tawa mulutnya menggunakan tangan.
"Tidak, kupikir mereka itu sangat cocok satu sama lain." Ungkap wanita muda tersebut.
"Sejujurnya... Aku senang bila Kiba memiliki seorang teman yang sangat ia percayai. Itu bisa membuatnya belajar untuk jadi lebih dewasa." Lanjutnya lagi, yang kini membuat Minato tersenyum.
"Ngomong-ngomong... Bagaimana dengan rumah sakit? Kurasa itu pekerjaan yang cukup melelahkan ketika menjadi seorang perawat yang mendapat shift malam."
"Kedengarannya itu pekerjaan yang merepotkan bagi orang lain. Tapi sebenarnya tidak semerepotkan itu. Aku sangat menyukai pekerjaanku. Dan kupikir aku sangat menikmatinya walau hanya mendapat jatah cuti setahun sekali saja." Jawab Hana menanggapi pertanyaan yang sempat Minato lempar kepadanya.
"Lalu... Bagaimana dengan Minato-san? Ketika mendengar anda telah berhenti dari kepolisian, kurasa anda sangat cocok dengan pekerjaan itu." Hana berbalik menanyakan alasan mengapa Minato berhenti dari pekerjaannya secara tiba-tiba.
Di detik selanjutnya, hanya hening yang melingkupi ruangan ini. Minato menatap kopi hitam yang telah dingin di atas meja tepat di depannya. Tatapan matanya menyiratkan sesuatu yang tak mudah terbaca oleh orang lain.
"Terlihat cocok... ~kah?" Gumam Minato pelan sembari memejamkan kedua manik birunya dan tersenyum.
Tidak banyak orang yang tahu pekerjaan seperti apa yang sebenarnya Minato jalani. Yang orang lain tahu, hanyalah sebatas Minato bekerja pada bidang kepolisian. Setelah lama menekuni pekerjaan tersebut, tiba-tiba ia berhenti tanpa sebab yang pasti. Beberapa tetangga mengira bahwa Minato telah dipecat dari pekerjaannya. Namun banyak juga yang berpikir bahwa Minato hanya memundurkan diri. Apapun itu... Tidak ada satupun yang tahu pasti mengenai alasan mengapa Minato berhenti dari pekerjaannya.
Setelah terdiam sejenak, Minato mulai membuka suaranya kembali.
"...Aku berhenti bukan karena aku tidak menyukai pekerjaanku. Aku sangat menyukainya. Namun di sisi lain, aku tidak bisa menikmatinya. Karena aku menyadari betapa besar resiko dari pekerjaan itu pada keluarga kecilku ini." Ungkap Minato yang sedikit terbuka dengan pekerjaannya yang tidak diketahui oleh banyak orang.
Minato sedikit melirik ke arah televisi yang menyala. Bentangan layar LCD tersebut menampilkan sebuah berita kilat tentang sesuatu yang baru saja terjadi di tengah-tengah kota.
"Selain itu... Semakin lama aku bekerja, semakin sedikit kesempatan yang kupunya untuk meluangkan waktu bersama keluarga. Aku menjadi jarang bisa pulang ke rumah. Membuat Kushina kesepian... Dan membuat Naruto kekurangan kasih sayang serta perhatian dari seorang Ayah."
Minato lalu menoleh dan menatap Hana dengan melemparkan senyuman kecilnya.
"Alasannya mungkin terdengar sangat sederhana. Namun bila dibandingkan dengan pekerjaan, bagiku... Keluarga kecil inilah yang paling berharga." Lanjut Minato mengakhiri cerita singkatnya.
"Aku tak begitu mengerti... Tapi kurasa Minato-san adalah sosok seorang Ayah yang hebat di dalam keluarga ini." Sahut kakak perempuan Kiba yang duduk tidak jauh darinya.
Kushina datang dari dapur sembari membawa nampan yang berisi tiga cangkir teh hijau hangat sebagai teman ngobrol yang pas di pagi hari. Semua yang Minato dan Hana bicarakan masih dapat terdengar seluruhnya dari arah dapur.
'Pagi itu... Pagi yang cerah seperti pagi lainnya, Minato menceritakan alasannya berhenti dari Organisasi Rahasia Konoha. Tetapi ia tak menceritakan secara detil di mana dan sebagai apa selama ini dia bekerja. Selama ini semua orang menganggap suamiku berkerja di kepolisian Konoha. Hanya aku satu-satunya wanita yang mengetahui rahasia kecil Minato selama ini.'
Gendang telinga Minato menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya. Lagi-lagi ia melirik ke arah televisi di ruangan ini.
"Maaf, sebentar..." Gumam Minato pelan yang masih dapat terdengar oleh Hana maupun Kushina.
Tangannya meraih remote tidak jauh darinya, lalu mulai menekan tombol untuk membesarkan volume suara.
("Kembali bersama kami di Konoha Breaking News. Sebuah berita mencengangkan tiba-tiba menggemparkan pagi yang tenteram ini. Sebuah berita heboh yang datang dari jalanan di sekitar perusahaan raksasa Red Qween menggemparkan warga sekitar. Beberapa saat lalu kami menerima laporan bahwa hampir seluruh pekerja di dalam perusahaan tersebut tiba-tiba mengalami kejang secara bersamaan. Mereka tumbang ke lantai seketika masih dengan gejala kejang yang cukup aneh. Para pekerja yang pingsan langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sedangkan beberapa yang masih memiliki kesadaran segera diberi pertolongan pertama di tempat.")
Seorang reporter wanita yang nampak pada layar kaca televisi sedang menyampaikan berita secara live di lokasi kejadian. Lebih tepatnya, di depan parkiran gedung perusahaan raksasa yang ada di kota ini, Red Qween. Melihat berita tersebut, Minato langsung mengernyitkan dahi dan menatap layar televisi dengan raut wajah yang serius.
"Obito..."
Minato bergumam pelan tanpa memalingkan pandangannya dari bentangan layar LCD TV seluas 32 inchi tersebut. Sedangkan Hana hanya memperhatikan sesuatu yang tidak beres dengan raut wajah serius pria paruh baya di depannya itu. Rasa penasaran terhadap perubahan mood suami dari Kushina di depannya, membuat Hana menoleh ke arah televisi dan melihat acara berita yang disiarkan secara live tersebut.
("Seperti yang bisa anda lihat dari layar kaca televisi anda, kepanikan dan keributan mulai pecah ketika para pekerja yang hampir sekarat, secara mengejutkan mencoba untuk menyerang dokter-dokter yang sedang memberi pertolongan kepada mereka. Warga sekitar yang bergerombol melihat kejadian tersebut, menjerit ngeri saat menatap para pekerja mulai bersikap sangat agresif dan menyerang para dokter hingga berdarah-darah dengan cara menggigit. Tidak diketahui secara pasti mengapa mereka melakukan hal tersebut. Keanehan yang terjadi tiba-tiba ini membuat warga di sekitar lokasi ketakutan.")
Kushina hanya diam berdiri menyaksikan berita tersebut. Kedua tangannya pun masih membawa nampan yang berisi tiga cangkir teh hangat yang baru saja ia sajikan.
("Pemirsa di rumah, tepat di belakang saya telah terjadi hal yang cukup mengerikan. Mereka bertindak seperti layaknya anjing liar yang kelaparan. Saling menyerang dan menggigit satu sama lain. Tidak hanya para dokter yang terluka parah dan menjadi korban dari tragedi yang aneh ini. Tetapi warga sekitar yang menyaksikannya langsung juga menjadi korban sasaran tindakan kekerasan dan kebrutalan mereka. Kami sempat menerima laporan dari rumah sakit terdekat yang sedang menangani para pekerja perusahaan Red Qween, bahwa kemungkinan hal ini disebabkan oleh sebuah rabies jenis baru yang sangat menular. Hampir semua warga sekitar di tempat kejadian ini lari ketakutan dan mencoba untuk menyelamatkan diri. Tetapi menurut kami tidak sedikit warga yang terluka ketika berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Informan kami juga baru saja menyampaikan kabar bahwa kejadian ini menyebar luas dengan begitu cepat hingga puluhan blok di sana. Bagi anda semua yang masih berada di rumah, kami sarankan agar anda tetap berdiam diri di dalam rumah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.")
Sembari menyampaikan berita dengan nada tergesa ketakutan, nampak reporter tersebut berbicara sambil bergegas masuk ke dalam kendaraan pribadi acara TV mereka. Kameraman pun juga setia mengikuti pergerakan sang reporter dan berusaha untuk tetap mengeksposnya ke dalam liputan.
'Hal pertama yang dapat kupikirkan ketika melihat liputan tersebut adalah... Naruto. Putraku sedang berada di luar sana ketika tragedi dalam berita itu tengah terjadi. Secara tak sadar aku menggumamkan nama putraku dengan perasaan khawatir dan gelisah yang bercampur.'
"Itu... Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sana...?" Tanya Hana dengan mimik wajah kebingungan menatap intens ke arah layar televisi.
BRRAAAKKGGHH..!
TIIIIIINNNNN...!
Tiba-tiba saja rentetan suara gaduh yang memekakkan telinga terdengar dari luar rumah. Kushina dan Minato masih terpaku pada layar TV yang menyala. Sedangkan Hana memalingkan pandangannya ke arah pintu rumah ketika terdengar ada seseorang yang mengetuk-ngetuk begitu keras.
"Biar aku yang bukakan..." Ucap Hana berdiri dan melangkahkan kakinya ke arah pintu. Sementara sang pemilik rumah tetap memperhatikan siaran berita yang masih berlangsung.
DOK-DOK-DOKK-DOKK!
"Tolong..! Tolong aku, kumohon...!"
DOKK-DOKK-DOKKK!
"Tolong buka pintunya..!"
Dari kaca jendela di samping pintu, terlihat seorang wanita dengan pakaian lusuh penuh luka dan darah sedang tergesa menggedor pintu rumah Minato. Raut ketakutan terpampang jelas di wajahnya. Bercak darah mengotori sebagian besar pakaian yang wanita itu kenakan.
Hana mengernyitkan dahi ketika mengintip apa yang terjadi di luar sana dari beningnya kaca jendela. Di depan jalan blok rumah ini, kendaraan pribadi saling menabrak satu sama lain dengan begitu keras. Suara klakson mobil yang saling bersahutan di sepanjang jalan sangat menyakitkan gendang telinga. Dapat Hana lihat dengan jelas bahwa orang-orang tengah berlarian tanpa sebab di luar sana.
DOK-DOK-DOKK-DOKK-DOKK!
"Selamatkan aku..! Tolong biarkan aku masuk..!" Jerit wanita asing yang masih menggedor pintu dari luar sana.
Kaki hana gemetar melihat pemandangan mengerikan di depan matanya. Akan tetapi sebagai seseorang suster yang telah bekerja selama bertahun di rumah sakit, ada sebuah dorongan kecil dari hati Hana untuk segera memberi pertolongan kepada seorang wanita di luar sana.
"Hana-san... Sebaiknya tetaplah di sini untuk sementara wak-..."
Kalimat Minato terputus setelah direksi pandangannya berpaling dari layar televisi yang menyala ke arah di mana Hana duduk. Tetapi hanya sofa kosong yang ia dapati. Minato baru sadar bahwa suara yang sangat gaduh dari luar sampai terdengar di dalam rumah. Dan ketika Minato kembali memalingkan direksi pandangannya ke arah pintu keluar, kedua matanya menegang mendapati Hana sudah berdiri tepat di sana dengan tangan yang menggenggam gagang pintu.
"HANA-SAN, JANGAN BUKA PINTUNYAA!"
CEKLEK~
Terlambat... Mungkin kata yang paling tepat untuk menggambarkan bagaimana situasi yang tengah terjadi ketika Minato berusaha untuk menghentikan tindakan Hana Inuzuka.
Kakak perempuan Kiba tersebut sudah terlanjur menarik pintu dan membukanya lebar-lebar ketika ia menoleh ke arah Minato yang berteriak kepadanya. Wanita asing yang berada di depan pintu tadi langsung meremas baju Hana dengan tangan gemetaran. Air mata bercucuran dari raut wajah ketakutan itu seolah ingin berkata bahwa saat ini nyamanya benar-benar terancam.
Suara-suara klakson mobil yang berdengung keras seakan menulikan gendang telinga Hana. Kakak perempuan Kiba tersebut masih diam berdiri menatap pemandangan mengerikan di hadapannya yang sedang terjadi.
Namun pada detik berikutnya ketika Hana mulai tersadar dari lamunan dalam, beberapa pria tak dikenal berlari pontang-panting menuju ke arahnya. Dengan pakaian lusuh berlumuran darah, lima pria mengerikan tersebut menerjang tubuh Hana yang sama sekali tidak bersalah.
PRRAANNKK..!
Nampan dan ketiga cangkir di tangan Kushina seketika jatuh ke lantai. Teh yang sudah ia buat tumpah beserta pecahan cangkir yang berceceran mengotori lantai. Kedua matanya terbelalak lebar ketika ia melihat dengan jelas bagaimana Hana menjerit-jerit kesakitan di sana saat kelima pria tak dikenal menyerang dan mulai menggerogoti tubuhnya dengan ganas di lantai. Darah yang keluar dari tubuh Hana seketika bermuncratan di tengah kejangnya digigiti secara brutal oleh mereka semua.
Baik Minato maupun Kushina hanya dapat memandang horror kejadian tersebut tanpa bisa melakukan apa-apa. Sementara mereka semua masih menggerogoti tubuh Hana yang kejang tak berdaya, dua dari kelima orang tak dikenal itu menyadari keberadaan Minato beserta istrinya.
"Kushina, cepat naik ke atas!" Seru Minato dengan sigap memerintahkan istrinya tersebut untuk segera lari ke kamar Naruto yang berada di lantai atas saat dua orang mengerikan tadi mulai berdiri dan berlari ke arahnya.
Tanpa sepatah katapun, Kushina langsung menurut dan mulai berlari untuk beranjak dari tempatnya termangu ngeri. Sedangkan Minato tergesa mengangkat ujung sofa untuk menjungkirbalikkan perabotan berat tersebut ke arah dua pria yang berlari menujunya.
BRRUUAAGGHH~
Salah satu dari mereka terpental jatuh, sedangkan yang satu lagi tertimpa oleh beratnya sofa yang telah Minato jungkirbalikkan.
Mendengar suara gaduh tadi, yang lain meninggalkan tubuh Hana yang sudah tak lagi bergerak dan berlari ke arah Minato.
'Ini gawat...!' Gumam pria berambut kuning itu dengan setitik peluh yang mengalir pada pelipisnya saat mendapati bahwa dirinyalah yang akan menjadi target selanjutnya.
Minato mundur selangkah dan berpikir cepat mencari cara bagaimana memperlambat mereka semua di saat Kushina baru saja terpeleset di pertengahan tangga menuju lantai atas. Menoleh kebelakang, ia mendapati TV yang masih menyala. Tanpa pikir panjang Minato langsung meraih serta menarik TV LED lebar tersebut menggunakan kedua tangan hingga kabelnya terputus.
"Hwarrgghhkk!"
Saat baru saja Minato kembali berbalik dengan TV lebar di tengah kedua genggaman tangannya, Tiga pria mengerikan itu sudah berada tepat dihadapan Minato seraya ingin menyerangnya.
Istri Kushina tersebut menahan desakan mereka hanya dengan menggunakan bentang layar televisi yang telah mati. Punggung Minato menabrak dinding ruang tamu setelah menahan kebrutalan para makhluk mengerikan itu. Hanya terpisahkan oleh TV LED yang tipis, ia tertahan di sana bersama ketiga pria tak dikenal yang masih mencoba menyerangnya.
'Aku tersandung oleh anak tangga setelah kakiku tak sengaja menginjak apron hijauku sendiri. Mungkin tidak lama lagi lutut ini akan memar, itulah yang ada di dalam benakku. Tetapi aku sama sekali tidak mempedulikan hal itu. Aku lebih mengkhawatirkan suamiku di sana yang mati-matian mencoba menahan mereka semua sendirian agar aku bisa bergerak bebas menuju ke kamar Naruto.'
Peluh semakin membanjiri pelipisnya. Retakan mulai terlihat jelas di seluruh permukaan layar TV yang Minato gunakan sebagai tameng dari desakkan mereka.
"Tolong cepatlah Kushina..!" Teriak Minato menyuruh istrinya untuk melangkahkan kaki lebih cepat.
Wanita paruh baya berambut merah di sana kembali bangkit dan bergegas menaiki setiap anak tangga yang tersisa. Sama sekali tak menghiraukan rasa sakit menjalar di sekitar lutut kakinya yang habis terantuk kerasnya anak tangga.
Ketahanan komponen TV itu sudah mencapai batasnya dan terbelah menjadi dua saat Minato melirik bahwa istrinya telah berhasil sampai di lantai atas. Masih dengan tenaganya yang tersisa, Minato melepas pecahan TV dan mengelak ke samping tepat sesaat setelah salah seorang dari mereka akan mencengkram tubuhnya.
Minato merangkak cepat di lantai sehabis menghindari dari sergapan makhluk mengerikan tersebut. Lalu segera memperbaiki postur tubuhnya untuk berlari menaiki tangga. Namun para Zombie tersebut tidak tinggal diam melihat Minato telah lolos. Mereka mengejar kemanapun Minato melangkah.
Kushina memasuki kamar putranya yang tidak pernah terkunci. Lalu menunggu kedatangan suaminya di dekat pintu kamar meski kedua kakinya bergetar ketakutan.
Senggahan nafas yang memburu beserta degup jantung yang terpacu terdengar begitu jelas ketika Minato berlari tergesa menaiki setiap anak tangga. Itu karena ia sedang dikejar oleh para mayat hidup ganas yang kelaparan. Dengan tenaga yang masih tersisa, Minato bergerak secepat yang ia bisa agar tangan-tangan berlumur darah di belakangnya itu tidak dapat mendapatkannya.
DUG-DUG-DUG-DUGG...
Suara telapak kaki beradu dengan permukaan anak tangga yang terbuat dari kayu jati. Minato berhasil menapaki seluruh pijakan anak tangga itu dengan cepat tanpa sekalipun terjatuh. Bersamaan di dekat pintu sudah ada Kushina yang masih setia menunggu kedatangannya.
"Tutup pintunya..!" Ucap Minato sedetik setelah ia melewati istrinya dan menjatuhkan diri ke dalam kamar putranya.
Kushina menutup pintu rapat-rapat dengan cepat ketika para Zombie yang mengejar Minato telah berada di hadapannya.
'Jika boleh jujur... Aku ketakutan. Benar-benar ketakutan saat itu.'
Kedua lututnya yang gemetaran terjatuh ke lantai. Kushina merasa sudah tak mampu menopang tubuhnya untuk terus berdiri.
BRRAAKK..! BRRAAKKK...!
"Menjauhlah dari pintu, Kushina."
Minato segera menarik lengan istrinya dan mengajaknya untuk menjauh sejauh mungkin dari pintu kamar saat mereka mulai mendobrak-dobraknya dengan begitu keras. Pria berambut kuning tersebut memeluk lembut tubuh istrinya yang tengah ketakutan. Mencoba memberikan rasa aman untuk yang tercinta.
'Namun rasa kekhawatiranku terhadap satu-satunya putra yang kumiliki dalam hidupku ini jauh lebih besar dari rasa takut yang sempat melemahkan seluruh otot syaraf di tubuhku...'
Kushina memberanikan diri untuk melepaskan dekapan Minato, lalu menatap begitu dalam sepasang iris sebiru langit milik suaminya tersebut. Kushina mulai merangkai bahasa isyarat menggunakan kedua tangannya seolah berkata bahwa ia sangat ingin mencari putra mereka dan memastikan bahwa ia baik-baik saja.
"Aku mengerti apa yang sedang kau rasakan saat ini, Kushina. Tapi situasi di luar sana benar-benar tak terkendali." Ucap Minato pelan sembari melemparkan pandangannya ke arah luar jendela.
Dari lantai atas ia bisa melihat bagaimana kekacauan yang terjadi. Baru beberapa saat lalu berita mengenai insiden misterius yang tengah terjadi di tengah kota, tetapi kini merambak hingga ke pinggiran kota di mana komplek pemukiman Minato tinggal berada. Menilik balik dari betapa luasnya penyebaran kekacauan ini, ia memperkirakan bahwa sudah sangat banyak warga kota yang menjadi korban. Minato menoleh dan kembali menatap dalam-dalam sepasang iris hijau indah milik istrinya tercinta.
"Aku akan ke Konoha Gakuen untuk menjemput Naruto. Memastikan putra kita selamat dari kekacauan ini. Tapi sebelum itu... Aku harus membawamu ke tempat paling aman terlebih dahulu. Karena tetap bertahan di sini kurasa adalah ide yang buruk." Lanjut pria berambut kuning tersebut sambil melirik salah satu engsel pintu kamar yang baru saja lepas akibat dobrakan dari arah luar.
Minato melangkah menutu lemari milik putranya. Kedua tangannya mengambil beberapa pakaian serta celana panjang yang ada, lalu menyatukan ujung-ujungnya dengan cara diikat. Hal itu Minato lakukan dengan tergesa. Seolah ia sedang dikejar oleh waktu.
"Kita akan ke markas kepolisian kota. Di sana adalah tempat teraman yang bisa kupikirkan saat ini." Ujarnya setelah mengikat bagian paling ujung tali buatan ke kaki ranjang milik Naruto.
Minato pun menuju jendela di dekat Kushina setelah seluruh pekerjaannya terselesaikan. Satu tangannya membuka jendela kaca geser di kamar tersebut. Kemudian melempar pakaian yang tersambung-sambung menjadi tali di tangannya ke bawah.
"Lebih baik mengambil resiko... Daripada mati tanpa melakukan apa-apa." Lanjutnya lagi.
Dari jendela kamar lantai dua, Minato dan Kushina menatap ke bawah sana. Melihat bagaimana kekacauan yang terjadi di tengah kota kini merambat begitu cepat di sekitar tempat tinggal mereka. Dalam kengerian di tengah bencana, mereka berdua harus memilih sebuah pilihan tertepat.
Tetap tinggal dan bertahan di rumah hingga keajaiban membuat putranya kembali dengan selamat dari tragedi ini...
Atau mengambil resiko terbesar demi mencari putranya dan bertaruh dengan takdir...
.
.
.
.
.
THE PLACE OF HOPE
.
Chapter 23 : "Everything Has Changed"
~ Felix-Kun ~
Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
.
.
.
To Be Continue. . .
