Chapter 2 : Melemahnya Gerbang Dunia Digital
Author : abilspendabo
Summary :
3 tahun sejak pertarungan terakhir anak-anak terpilih melawan Diaboromon, dunia digital dan dunia manusia hidup dalam keharmonisan. Namun, kedamaian itu kembali terusik dengan munculnya digimon jahat bernama Milleniummon. Bersama pasukannya, ia berusaha menghancurkan kedua dunia.
Disclaimer :
Semua karakter di sini milik Akiyoshi Hongo. Dan, aku berharap mereka jadi milikku :v (Ada karakter original milikku di sini, jadi ya... baca aja)
Chapter 2 : Melemahnya Gerbang Dunia Digital
Sekembalinya Daisuke dan lainnya dari dunia digital, mereka langsung pulang ke rumah. Namun, Daisuke dan Ken entah mengapa masih terpikir akan hal yang terjadi tadi. Benak mereka bertanya-tanya seperti, siapa tadi yang kita lawan, tempat apa itu tadi, dan masih banyak lagi lainnya.
Keesokan harinya...
Koushiro POV
PING!
Aku terbangun ketika suara itu berhasil memasuki telingaku. Segera kubuka laptopku dan ternyata ada sebuah pesan baru. "Dari Gennai-san." Tanpa pikir panjang langsung kubuka pesan itu.
Dari : Gennai
Untuk : Koushiro
Kumpulkan semua anak-anak terpilih. Ada sesuatu yang terjadi dengan dunia digital saat ini. Aku akan memberitahu kalian nanti. Sampai jumpa.
Sebuah pesan singkat, namun berarti sesuatu. Bukan saatnya mengurus itu. Yang penting sekarang aku harus memberitahu dan mengumpulkan semua orang. Aku menelepon leader.
Taichi POV
Aku baru saja bangun dan hendak mandi. Namun, sebuah panggilan masuk mencegahku. "Dari Koushiro?" Langsung saja kuangkat telepon itu. "Halo, Koushiro." Terdengar jawab dari sana, "Selamat pagi, Taichi-san." Aku lalu duduk di pinggiran kasur. "Kumpulkan semua anak-anak terpilih. Sesuatu terjadi di dunia digital. Dan, Gennai memintaku untuk mengumpulkan semua orang. Kita berkumpul di rumahku saja. Sampai jumpa." Dan, panggilan pun berakhir. Sesuatu terjadi pada dunia digital?, pikirku. "Aku harus secepatnya memberitahu yang lainnya."
Normal POV
Sementara itu, di dunia digital...
Sekumpulan awan hitam berkumpul di langit dunia digital. Para digimon yang ketakutan pun berlari menyelamatkan diri. Sementara itu, di bagian tergelap dari dunia digital, bangkit salah satu digimon terkuat yang pernah menghancurkan dua dunia dahulu. "Ha ha ha ha..." Tawanya yang menyeramkan menggema hingga ke seluruh dunia digital dan mengguncang tanah dunia digital. "Saatnya membalaskan dendamku pada anak-anak itu."
Di rumah Koushiro...
"Pagi, semuanya." Koushiro menyapa Taichi dkk yang datang ke rumahnya. "Silakan masuk."
Koushiro POV
Aku langsung mengajak mereka ke kamarku yang beberapa bulan yang lalu direnovasi sehingga ukurannya sedikit lebih besar dan cukup memuat kami semua. Segera kuambil laptopku, mengaktifkan fitur video call, dan meletakkannya di depan semua anak-anak terpilih. "Pagi, anak-anak terpilih." Lalu para anak-anak terpilih menjawab sapaan itu. "Aku yakin kalian pasti sedang sibuk saat ini, tapi dunia digital membutuhkan kalian sekarang."
"Apa yang sedang terjadi di sana, Gennai-san?" tanya Taichi yang berada di sebelah kananku. "Beberapa hari yang lalu, awan hitam menutupi seluruh langit dunia digital. Aku tidak tahu apa sebabnya, namun ada hal yang janggal terjadi setelah itu," jawab Gennai-san. "Janggal?" Kali ini Takeru yang bertanya. "Iya. Para digimon, tidak, semua digimon berlari ketakutan menjauhi sebuah tempat tergelap yang juga ditutupi awan hitam. Lalu, terdengar tawa yang keras dan juga daratan dunia digital sempat berguncang beberapa kali."
"Qinglongmon juga menghubungiku beberapa waktu yang lalu. Semua pemimpin digimon juga merasakan sebuah aura gelap yang besar di dunia digital." Gennai-san lalu mengambil napas lalu mengembuskannya pelan. "Dan karena hal itu, pembatas antara dunia digital dengan dunia manusia kembali melemah. Daisuke, Ken, Taichi..." Semua fokus pada dua anak itu dan Taichi-san. Mereka bertiga sempat terkejut karena nama mereka disebut, Daisuke-kun dan Ken-kun juga terkejut mendengar nama Taichi-san disebut. Mereka lalu kembali fokus dengan apa yang ingin disampaikan oleh Gennai-san.
Normal POV
"Kalian pernah melawannya. Kalian ingat seseorang yang bernama Akiyama Ryo, kan?" Mereka bertiga kembali dikejutkan dengan ucapan Gennai. "Jadi, dia..." ucap Daisuke tanpa melanjutkannya. Namun, Gennai mengerti apa yang ingin diucapkannya dan mengangguk. "Tapi, bukankah kita sudah mengalahkannya?" ucap Ken bertanya-tanya. Apa Akiyama juga masih hidup?, pikir Taichi. "Aku juga sudah memastikan itu. Tapi, ini sepertinya juga berhubungan dengan hilangnya salah satu Seven Demon Lords," ucap Gennai.
"Seven Demon Lords?" tanya Koushiro yang juga penasaran. "Seven Demon Lords, tujuh digimon yang mewakili tujuh dosa manusia. Kesombongan, kerakusan, keserakahan, nafsu, kemalasan, kemarahan, dan rasa iri," jelas Gennai, "dosa kesombongan, Lucemon FM, menghilang beberapa bulan yang lalu dari dunia digital tanpa sebab yang pasti. Qinglongmon yang memberitahuku." Para anak-anak terpilih mulai bertanya-tanya. "Lalu, sekarang dia ada di mana?" tanya Iori. "Aku dan Qinglongmon berusaha untuk mencarinya sebelum para Seven Demon Lords juga membuat kekacauan di dunia digital," jawab Gennai, "untung saja mereka belum berbuat kekacauan di dunia digital."
"Oh, iya. Tepat sebulan yang lalu, dosa nafsu–Lilithmon–juga menghilang tanpa sebab," ucap Gennai. "Sebelum aku tutup panggilan ini, aku sekali lagi mengatakan. Milleniummon, musuh kalian, bangkit kembali." Pesan terakhir Gennai membuat pikiran Daisuke, Ken, dan Taichi berkecamuk. Banyak hal yang berputar di pikiran mereka saat ini.
"Jadi, siapakah Milleniummon ini? Maukah kalian berbagi cerita pada kami?" tanya Jou berhadapan dengan Daisuke, Ken, dan Taichi. "Baiklah. Jika ini bisa membantu kita, kami akan menceritakan kisah petualangan kami. Yang takkan pernah kami lupakan."
Sementara itu, di suatu tempat lain...
Seorang pemuda dan gadis berada di kamar mereka. Lampu kamar yang mereka matikan membuat wajah mereka tak terlihat. Mereka sempat memfokuskan pandangan mereka pada layar laptop mereka. Dunia digital, kami datang... lagi. Semoga kita bertemu, anak-anak terpilih. Dan, setelah itu layar laptop keduanya mati.
Gimana chapter 2-nya? Tunggu kelanjutannya di chapter 3, ya...
