Felix-kun benar-benar minta maaf untuk keterlambatan yang benar-benar sangat terlambat mengupdate chapter ini.

Cukup sulit meneliti titik kesalahan dan kelemahan Felix-kun di sana-sini setelah mendengar beberapa saran dari pembaca di chapter yang lalu.

Dan ini juga persembahan yang terakhir dari Felix-kun untuk seri 'The Place Of Hope'

Semoga ceritanya bisa dinikmati oleh para pembaca setia (^.^)9

.

.

.

.

.

.

"Kita akan ke markas kepolisian kota. Di sana adalah tempat teraman yang bisa kupikirkan saat ini."

Minato melempar tali darurat yang terbuat dari beberapa celana serta pakaian dari jendela. Pria berambut kuning tersebut menoleh untuk menatap istrinya lekat-lekat dengan sorot pandang yang mengisyaratkan keseriusan mendalam.

"Lebih baik mengambil resiko... Daripada mati tanpa melakukan apa-apa." Lanjutnya lagi.

Kushina membalas tatapan serius suaminya dengan rasa takut dan khawatir. Tapi apa yang dikatakan Minato adalah benar. Memilih untuk tetap bertahan di sini merupakan pilihan buruk. Apa yang dikatakan Minato merupakan buah pemikiran yang sangat logis dan rasional ketika menghadapi bencana mendadak seperti ini.

Tidak ada barikade pengaman yang mengelilingi rumah...

Tidak ada senjata untuk melindungi diri...

Tidak ada persediaan makanan yang mencukupi untuk sekedar bertahan hidup...

Terlebih lagi, putra mereka jauh lebih berharga dari nyawa mereka sendiri...

Tak pelak Kushina mengangguk setuju untuk yakin pada keputusan yang Minato buat. Rasa ingin segera bertemu dan memastikan Naruto selamat dari bencana ini jauh lebih besar ketimbang rasa takutnya.

Sekali lagi Minato mengedarkan pandangan. Melihat betapa kacaunya kota Konoha ini dalam sekejap. Begitu banyak orang berlarian ke sana kemari hanya untuk menyelamatkan diri.

"Ini sudah diluar dugaanku. Pertama satu tempat, lalu menyebar luas hingga menghancurkan kota. Pada akhirnya melumpuhkan total seluruh Jepang. Tidak salah lagi... Ini adalah senjata terlarang paling mematikan di seluruh dunia. Senjata biologis." Gumam Minato menatap ngeri pemandangan yang tersuguhkan di depan kedua bola matanya.

"Aku akan turun dan mengambil mobil di garasi. Turunlah ketika aku memberi tanda."

Meski sedikit gentar, namun Minato turun dari jendela lantai atas ke bawah meluncur dengan hanya menggunakan tali buatan. Meski kedua kakinya sudah menapak secara sempurna tanpa hambatan berarti, tetapi kini ia telah berada di tengah-tengah kekacauan bencana mengerikan tanpa menggenggam senjata apapun pada kedua tangannya.

Sedangkan di atas, Kushina dilanda gelisah ketika pintu kamar putranya ini terus menerus digedor keras dari arah luar. Satu engsel pintu sudah copot karena dobrakan mereka begitu liar tiada henti. Dari tiga engsel pintu, kini hanya tinggal dua engsel tersisa untuk menahan pintu itu tetap pada tempatnya sebelum mereka berhasil menerobos masuk. Sempat melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Hana Inuzuka tewas seketika saat diserang oleh makhluk-makhluk itu, membuat Kushina semakin was-was menatapi pintu yang memisahkan tenggat kematiannya.

Begitu banyak orang yang berlarian menyelamatkan diri. Dan tidak sedikit juga dari mereka yang terluka hingga bersimbah darah. Itu membuat Minato tak bisa membedakan yang mana manusia, dan mana yang bukan.

"Hari ini adalah hari terburuk yang pernah kulalui sepanjang hidupku..."

Tersadar akan lamunan ngeri ketika memandangi kekacauan yang tengah terjadi, Minato sadar bahwa ada yang harus segera ia lakukan. Pria tersebut memalingkan pandangannya dari jalanan dan bergegas kembali masuk ke rumah melalui ruang tamu untuk mengambil kunci mobil. Tetapi langkahnya terhenti saat melihat tubuh mati tetangga dekatnya yang sudah terbujur di dekat pintu masuk.

Minato baru ingat apa yang telah menimpa Hana hingga jasadnya yang bersimbah darah tergeletak begitu saja di situ. Pandangan ngeri Minato kembali muncul tatkala melihat jasad tubuh Hana yang rusak parah setelah daging dan isi perutnya digerogoti secara ganas oleh para mayat hidup yang menyerang.

"...Maaf." Gumamnya pelan dengan tatapan nanar memandang jasad tetangga sebelahnya yang menunjukkan tanda-tanda akan berubah.

Gendang telinga Minato masih dapat mendengar suara dobrakan dari lantai atas. Ia tak boleh banyak membuang waktu di saat Kushina sedang dalam bahaya. Pria setengah baya itupun kembali melangkah melewati tubuh Hana Inuzuka yang sudah membuka mata tanpa pupil hitam. Diambilnya kunci mobil di atas meja dekat vas bunga. Bergegas menuju pintu yang tersambung ke garasi dari dalam rumah.

Membuka pintu tersebut sembari berusaha menenangkan hati dan pikiran yang bergejolak, Minato berlari kecil menuju rolling-door yang hanya bisa dibuka dari dalam. Setelah membuka gemboknya, kedua tangan itu mendorong rollingdoor ke atas tanpa ragu. Sejauh ini tidak ada lagi zombie yang mendekat ke rumah, beruntung pikirnya.

Tetapi keberuntungan yang sempat terbesit dalam pikiran Minato tidaklah bertahan lama tatkala ia berbalik ingin masuk ke dalam mobil. Dengan penuh kejut, kedua mata birunya terbelalak melihat Hana yang entah sejak kapan sudah berdiri di dekat pintu masuk garasi.

'Benar-benar hari yang buruk...' Katanya dalam hati.

Jemari Kushina terkepal di dada, memandang takut pintu kamar Naruto yang hampir tidak dapat menahan lagi dobrakan para mayat hidup.

BRRAAKK..!

Engsel pintu atas terlepas dan terlempar jatuh tepat di bawah sepasang kaki Kushina yang gemetar. Ia tertunduk dengan kedua mata yang tertutup rapat.

Tak ingin diam terpaku terus-menerus, Minato memutuskan bergerak dengan langkah cepat. Berlari ke arah mobilnya dan memasukkan kunci yang ia genggam pada pintu kemudi. Namun dari bias kaca mobil ia dapat melihat Hana sudah berlari menuju ke arahnya.

"Grrraarrhh...!"

Tubuh Minato terhempas jatuh ke lantai dan tertindih oleh Hana. Wanita itu berusaha menyerang Minato dengan begitu ganas tanpa ada jiwa yang tersisa dalam dirinya. Ia sepenuhnya sudah menjadi mayat hidup yang haus akan daging dan darah. Siku tangan kiri Minato menahan leher Hana agar ia tidak tergigit. Meski begitu, Minato nampak kepayahan menahan keberingasan zombie tersebut yang kian meronta-ronta.

Mencari cara agar terbebas dari makhluk mengerikan ini, sudut mata Minato menemukan wrench yang tergeletak di lantai tidak jauh dari kotak perkakas. Segera ia julurkan tangan kanannya untuk meraih alat pemasang baut tersebut. Tanpa pikir panjang lagi, Minato memukul kepala Hana dengan sekuat tenaga.

CRRAAAASSSTT...!

Serpihan darah terciprat mengenai sebagian wajahnya. Entah mengapa kini Hana berhenti bergerak total. Minato menyingkirkan tubuh Hana dari tubuhnya dan segera berdiri dengan nafas terengah. Segera ia masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin, lalu memundurkan mobil sedan hitam tersebut sampai keluar dari garasi. Kemudian Minato membanting kemudi untuk maju berkelok ke samping agar sejajar dengan arah jalan. Tanpa mematikan mesin mobilnya ia pun keluar dan bergegas berlari ke arah jendela rumah lantai dua.

"Kushina, melompatlah!" Teriaknya keras. Siap untuk menangkap istrinya dari sana.

Sementara itu, mendengar suara suaminya, Kushina berbalik dan menengok ke bawah dari jendela. Dapat ia lihat Minato telah mengeluarkan mobil dari garasi meski ada banyak noda darah yang masih basah menempel pada pakaian dan sebagian wajahnya. Tetapi bila dilihat dari atas, jaraknya bagai sangat teramat jauh menyentuh tanah. Berpikir bahwa ia hanya perlu melompat saja sudah menggerus mentalnya. Rasa takut yang tidak pernah kalian alami membuat Kushina tersudutkan oleh keraguan.

BRRAAKKHHH...!

Suara keras terdengar hingga membuat Kushina menoleh. Sedetik kemudian kedua matanya terbelalak melihat pintu kamar itu telah roboh. Para makhluk haus darah berbondong-bondong masuk dan berlari ke arah Kushina. Nyawa wanita berambut merah tersebut sudah diujung tanduk. Ia tak peduli meski kemungkinan buruknya ia akan menderita patah tulang bila terjun bebas ke bawah dari lantai dua. Hanya ada dua pilihan sempit yang ada di kepalanya. Mati di kamar putranya, atau melompat ke bawah. Kushina terdesak memilih di antara pilihan tersebut.

"Kushina..!"

Entah kenapa suara panggilan itu tiba-tiba menyadarkan lamunannya. Saat ini bukan saat untuk ragu. Hal yang perlu ia selalu ingat adalah, percaya pada Minato, itu saja!

Segera wanita berparas cantik dan berambut merah itu menggerakkan kaki lunglai nan gemetar untuk membawanya menaiki jendela. Ia tersadar bahwa ragu bukanlah jawaban. Keraguan hanya akan membuatnya bimbang akan segala hal.

Dirinya hanya perlu percaya kepada orang yang ia cintai...

Ia harus percaya bahwa Naruto masih hidup dari rangkaian mimpi buruk ini...

Keraguan itu seakan lenyap tak berbekas. Mengantarkannya melompat keluar, hingga silau sinar mentari menelan sosoknya dari balik jendela kamar rumah lantai dua.

'Perjuangan kami berdua untuk tetap hidup kala itu, pasti... Tidak ada apa-apanya dibanding putraku.'

.

.

.

.

.

(Flashback End)

.

.

.

.

.

THE PLACE OF HOPE

.

Chapter 24 : "Bio-Terror"

Genre : Horror, Adventure, and Gore

Main Cast : Naruto U., Sakura H,. Sasuke U.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

.

.

.

.

.

Rentetan suara senjata menggema ke seluruh sudut ruangan yang ada. Percikan api yang keluar dari ujung laras senjata seakan terlihat bagai kembang api yang meletup-letup menerangi kisi-kisi gedung tua ini. Empat anggota personel organisasi rahasia Konoha nampak kewalahan menghadapi banyaknya zombie yang terus bermunculan.

"Bagaimana...?" Tanya Shikamaru setelah jeda tembakan untuk mengganti magazin peluru senjatanya. Pertanyaan itu membuat seorang gadis berambut pirang di sebelahnya mendecih kesal.

"Tak kusangka melawan mereka di ruang sempit akan sesulit ini." Ucap Yamanaka Ino, ketua tim regu mereka.

Personel regu ini kesulitan dalam mengendalikan mereka di tempat yang sempit dan minim cahaya. Ditembak peluru panas berapa kalipun, mayat-mayat hidup itu terus saja bangkit dan kembali menyerang. Kondisi terdesak oleh sempitnya ruang gerak membuat mereka sulit membidik tepat di kepala.

"Menurut analisaku, tempat ini sudah tidak bisa dijadikan sebagai basis pengungsian sementara. Penyebaran virus itu sangat tak terkendali bahkan sampai ke tempat ini." Kata Shikamaru yang sudah siap menembakkan kembali dengan senjata HK-MP7 miliknya.

"Kali ini kau benar. Misi ini telah gagal. Tahan mereka, aku akan kembali ke atas dan memberikan sinyal merah." Jawab Ino tentang pendapat yang Shikamaru sampaikan. Pendapatnya memang benar, mereka tidak akan menghasilkan apapun jika terus memaksakan untuk melanjutkan misi ini.

"Jika begitu cepatlah. Jari-jariku semakin pegal menembaki mereka. Amunisiku juga sudah menipis." Ungkap Shikamaru dengan nada bicara yang tak disukai gadis itu.

"Bila ingin mati di sini maka matilah. Bila tidak, berhentilah mengoceh dan terus tahan mereka."

Setelah mengomeli salah satu anggota barunya itu, Ino lekas berbalik dan berlari menuju lantai atap kembali. Sedangkan Shikamaru hanya tersenyum kecut mendengarnya.

Ino berlari secepat yang ia bisa meski harus melalui lorong-lorong penuh material tajam seperti pecahan kaca dan serpihan kayu yang berserakan. Karena ia masih bisa mendengar letupan tembakan tiada henti dari rekan-rekannya yang berusaha menahan para mayat hidup yang ada. Ia tak boleh terlambat sedetik saja untuk memberikan sinyal merah kepada semua pilot helikopter di atas agar semua rekannya bisa keluar dari pulau ini dengan selamat. Setidaknya itu yang ada di dalam pikirannya saat ini.

Di sepanjang lorong gedung tua yang ia lalui, banyak mayat orang-orang yang telah regunya tembaki. Banyak selongsong peluru kosong yang ia jumpai berserakan dengan sampah-sampah material lapuk yang ada. Misinya kali ini sama sulitnya dengan misi-misi sebelumnya yang pernah ia hadapi. Jika saja ia dapat memakai granat untuk menghabisi para mayat hidup tersebut, mungkin sudah ia lakukan sejak tadi. Tetapi bangunan tua di pulau hantu ini tidak lagi kuat menahan getaran peledak yang ada. Memaksa untuk menggunakan granat sama halnya dengan bunuh diri di sini.

Nafasnya tersenggal begitu ia berlari tiada henti menaiki setiap anak tangga dan melewati semua lorong yang ada. Bangunan tua ini sudah seperti labirin baginya. Karena banyak akses jalan yang tertutup oleh segala macam reruntuhan. Memaksa gadis tersebut memutar mencari akses jalan alternatif lain.

'Nara Shikamaru. Aku akan menanyakan tentang siapa dia kepada kapten Hashirama nanti. Orang itu sangat mencurigakan.' gumam Ino dalam hati.

Bagaimanapun, dirinya sangat ingin mengetahui siapa sebenarnya Shikamaru tersebut. Wajahnya begitu asing di markas Hashirama. Bahkan ia tak pernah menjumpai pemuda tersebut bersama regu yang lain. Shikamaru tiba-tiba saja datang tanpa diundang, begitu pikirnya.

GRABB...

Sesuatu mencengkram pergelangan kakinya. Membuat Ino yang sedang berlari diburu oleh waktu langsung terjatuh.

"Ggrraawwhh...!"

Gadis itu melihat bahwa seseorang sedang memegangi dan menahan kakinya. Sehingga ia tidak dapat bergerak bebas. Waktunya kian tersita oleh karena pria yang berlumuran dengan darah ini.

'Apa mereka belum benar-benar mati...?!' pekiknya dalam hati memandang ngeri pria tersebut. Meski tubuhnya sudah compang-camping diberondong peluru panas, tetapi dia masih saja bergerak.

Meski tidak percaya dengan apa yang ia lihat, gadis itu tidak boleh membuang-buang waktunya di sini. Karena rekan-rekannya di bawah sedang bertaruh nyawa menahan para zombie yang ada. Lantas Ino menggapai senapan laras panjang yang ada di punggungnya, lalu mencoba membidik pria itu.

"Ggrraahhkk!"

Saat akan menarik pelatuk senjatanya, datang lagi seseorang yang merangkak menghampiri gadis itu dan bermaksud untuk menyerangnya. Terpaksa Ino harus mengurungkan tembakannya dan menghalau serangan zombie itu menggunakan senjata tersebut. Terjatuh di antara puing-puing reruntuhan benar-benar bukan posisi yang menguntungkan baginya.

Sementara itu, Shikamaru bersama dua personel yang lain masih sibuk menahan banyak mayat hidup yang berdatangan menyergap. Dilihat dari sisi manapun mereka tetap kewalahan menghadapi datangnya zombie haus akan darah yang tiada habisnya. Sempat melihat banyaknya kapal yang bersandar di dermaga sebelum menginjakkan kaki di pulau ini, Shikamaru sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi.

Meski begitu, ia bersama rekan-rekannya masih harus menahan mereka agar Ino dapat memberikan sinyal merah kepada heli-heli di atas sana. Tembakan demi tembakan terus menggema ke seluruh penjuru pulau. Membuat para mayat hidup menghampiri asal suara tembakan tersebut. Sampai akhirnya Shikamaru kehabisan amunisi yang terakhir.

"Sepertinya sudah saatnya kita harus mundur." Ungkap Shikamaru kepada dua rekan setimnya. Tanpa menunggu lama mereka bertiga segera berbalik dan meninggalkan lokasi tersebut.

Di sisi lain, Ino masih harus berurusan dengan dua zombie yang masih haus akan daging manusia. Meski mereka tidak dapat berjalan lagi setelah diberondong tembakan, tetapi mereka masih saja bergerak untuk bisa menggigit daging mangsanya.

Ditambah lagi, Ino sedang dalam posisi yang tidak menguntungkan. Kakinya dicengkram, senjata utamanya tidak bisa ia gunakan. Ia dijepit oleh dua pria hidung belang yang main keroyok kepada seorang gadis perawan.

"Semua pria itu memang pedebah!" Ujarnya sembari mengambil pistol cadangan di pahanya.

DAR-DARR-DARR...!

Ino menghujani mereka dengan peluru panas tepat di kepala. Seketika kedua pria itu berhenti bergerak. Banyak darah mereka terciprat ke dinding-dinding lorong. Sedangkan Ino meletakkan kepalanya sejenak di lantai untuk mengambil jeda. Ia hampir lupa bagaimana cara menarik nafas. Namun sedetik kemudian ia teringat bahwa masih ada tugas yang harus ia lakukan.

"Aku tidak punya waktu untuk bersantai di sini!" Pekik gadis pirang tersebut lalu lekas beranjak dari sana.

Ino kembali berlari secepat yang ia bisa demi lekas memberikan sinyal merah kepada yang lain. Hingga langkah-langkah kakinya berhasil mengantarkan gadis itu ke lantai atap kembali. Segera ia ambil sebuah suar asap bersegel merah di dalam saku rompi anti-pelurunya, lalu menarik penutup suar itu hingga terlepas. Ketika penutupnya terlepas dengan paksa, secara otomatis pemicu memantik suar tersebut sehingga menyemburkan asap berwarna merah tebal.

Sambil menggenggam suar asap tersebut, Ino melambai-lambaikan tangannya agar semua pilot yang berada di dalam helikopter tahu bahwa itu adalah tanda sinyal darurat. Beberapa helikopter pun mulai terbang menjauhi pulau Gunkanjima ini. Menyisakan satu heli yang terbang merendah mendekati posisi di mana Ino berada.

Pintu belakang heli terbuka. Sebuah tangga tali terlempar ke bawah. Seorang personel yang berada di sana memberi tanda untuk segera naik. Tetapi sayangnya Ino masih belum bisa menaiki tangga itu sekarang. Rekan-rekannya masih berjuang mempertaruhkan nyawa di bawah. Tidak mungkin ia meninggalkan rekan-rekannya begitu saja.

"Beri kami waktu satu menit!" Kata Ino sambil berteriak agar terdengar oleh personel tersebut.

Ino lalu berbalik arah dan kembali menuju pintu atap. Ia menuruni banyak anak tangga lagi untuk menuju ke bawah. Setelah sampai ke lorong, Ino dapat melihat timnya berlari menuju ke arahnya. Namun tentu saja, dengan tamu-tamu yang tidak diundang juga di belakang mereka.

"Ayo cepat! Kita harus segera tinggalkan tempat ini!" Teriak Ino memberi perintah kepada timnya di sana.

"Kuso... Diperintah wanita labil itu menjengkelkan juga ternyata." Gumam Shikamaru di tengah pelariannya dikejar oleh belasan zombie ganas tepat di belakangnya.

Tanpa Shikamaru sangka sebuah tangan berhasil meraih dan mencengkram pundaknya. Pemuda itu terkejut dikala ia menengok kebelakang, seorang wanita dengan wajah pucat akan menggigit lehernya.

NJDARRR..!

Ino menarik pelatuk senjata laras panjang miliknya, lalu seketika sebuah peluru melesat cepat menghujam kepala wanita tersebut. Alhasil banyak darah yang terciprat mengenai sisi wajah Shikamaru. Ino dengan cekatan memberikan back-up bagi rekan-rekannya.

"Sankyuu..!" Ucap Shikamaru sembari menepuk pundak gadis itu dengan nafas tersenggal dan wajah penuh cipratan darah.

Setelah menaiki beberapa anak tangga, mereka berempat akhirnya sampai di lantai atap dengan selamat. Hembusan angin kencang yang berasal dari kibasan baling-baling helikopter menyapa mereka. Tetapi bukan berarti tim Ino bisa bersantai ria. Karena masih banyak zombie haus darah yang terus mengejar mereka hingga ke atas.

Ino mengintruksikan para personelnya untuk naik ke tangga tali yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu. Sementara ia sendiri masih standby di depan pintu atap untuk menghambat para mayat hidup ganas yang masih mengejar. Tembakan demi tembakan ia lancarkan kepada siapapun yang mencoba menaiki tangga menuju lantai atap. Tidak mengenai kepala mereka pun tidak apa-apa, selama mereka terkena tembakan senapan laras panjang miliknya, mereka akan jatuh ke bawah. Para personel tim Ino bergantian menaiki tangga tali helikopter. Tetapi hanya Shikamaru yang masih bergelantungan di sana menunggu kapten timnya tersebut.

"Oyy.. Wanita blonde yang di sana! Cepat kemari! Kita akan berangkat!" Teriak pemuda berambut nanas tersebut sembari mengulurkan tangannya. Helikopter pun perlahan mulai terbang meninggi hingga tangga tali itu tidak lagi bersentuhan dengan lantai atap.

Mendengar panggilan seperti itu, sebelah alis Ino berdenyut. Ia berbalik dan segera belari ke arah helikopter. Tetapi bukannya menaruh senjatanya di punggung, ia mengarahkan moncong laras senjatanya tepat kepada Shikamaru dan menarik pelatuknya.

NJDAAAARRR~

Sebuah peluru nyasar melesat hampir mengenai pelipis mata Shikamaru. Membiat pemuda berambut nanas tersebut terbelalak kaget.

"Maaf, jariku keseleo." Ucap Ino dengan nada sarkas sambil meraih tangan Shikamaru.

'Y-Yang benar saja... Pelurumu hampir memecahkan kepalaku~' Pekik Shikamaru dalam hati sambil tersenyum kikuk.

Para mayat hidup di sana berhasil naik ke lantai atap. Tetapi sayangnya Ino dan kawan-kawan sudah terbang tinggi ke udara. Mereka berempat berhasil mengevakuasi diri dari pulau tersebut dengan selamat. Meski begitu, raut wajah kesal Ino yang paling kentara terlihat di antara mereka. Ino menjadi yang paling kesal karena misi yang ia pimpin ini gagal total. Ekspresi wajahnya sama sekali tidak dapat disembunyikan lagi. Bagi Shikamaru yang sempat melirik diam-diam mimik wajah gadis itu, ia tahu bahwa Ino sangat tertekan. Karena sebagai pasukan khusus, kegagalan bukanlah sebuah opsi.

"Tim delapan kepada pusat. Tim delapan kepada pusat, ganti." Dengan alat komunikasi yang ada di telinganya, Ino mencoba untuk menghubungi markas.

"Misi ini gagal. Kami sedang menuju kembali ke Konoha... Semua personel tim delapan selamat... Baik... Aku mengerti... Baik..."

Shikamaru masih diam-diam melirik gadis pirang tersebut. Melihat dia sedang berkomunikasi dengan seseorang dari markas pusat. Kemungkinan yang bisa Shikamaru pikirkan adalah ia sedang berbicara dengan Hashirama. Shikamaru tidak tahu pasti apa yang mereka bicarakan. Namun satu hal yang pasti, Ino sedang merasakan kekecewaan yang teramat berat kepada dirinya sendiri setelah mengakhiri kontak dengan markas.

'Dia... Pasti sangat tertekan.' Ucap Shikamaru dalam hati setelah lama memperhatikan mimik wajah muram Yamanaka Ino. Gadis itu menunduk dan menggigit bibir bawahnya. Karena ini kali kedua ia memimpin sebuah regu, dan akan pulang ke markas membawa kegagalan.

.

.

.

.

.

THE PLACE OF HOPE

.

Chapter 24

Genre : Horror, Adventure, and Gore

.

.

.

.

.

.

"Menyusun rencana dan meledakkan stasiun pengisian bahan bakar di sana cukup merepotkan. Banyak dari mereka yang mencoba mendekat kemari. Tapi ledakan itu mampu mengalihkan perhatian dan membuat mereka berbalik arah. Maaf Naruto... Sepertinya kami datang agak terlambat." Ucap seorang pria berambut perak yang tengah berayun menggunakan tali kepada seorang pemuda yang menumpang di tangannya.

"Tidak..." Gumam pemuda berambut kuning rancung di bawahnya.

"Kalian datang di waktu yang tepat." Lanjut Naruto memberi jawaban dengan untaian senyum yang masih belum hilang dari sudut bibirnya.

"Obito kelelahan dan tak bisa lagi mengontrol virus itu. Membuat setengah tubuhnya berubah dan bermutasi. Jujur saja... Aku dan Sona tak yakin bisa kalahkan Obito yang sekarang." Lanjutnya lagi.

Naruto berusaha keras untuk menarik Obito dari alam bawah sadarnya dengan maksud agar mereka semua bisa lebih mudah mengalahkan Obito. Bermutasi dan hilang kesadaran membuat musuhnya jauh lebih kuat serta begitu liar. Tentu berhadapan dengan insting buas bagai monster adalah musuh yang sangat mengerikan. Mustahil menjatuhkan Obito yang telah bermutasi tanpa senapan serbu kelas berat. Setidaknya Naruto memikirkannya sejauh itu dan rencana tak terduga miliknya berhasil. Kesadaran Obito yang telah kembali membuat pergerakan pria setengah monster tersebut tidak lagi liar.

Telah berada di puncak momentum daya ayun tali yang Kakashi genggam, mereka berdua mulai kembali berayun turun tertarik oleh gravitasi bumi.

"Tapi tak kusangka kau dan Sona masih dapat mengimbangi Obito sejauh ini. Itu membuatku yakin bahwa kalian akan menjadi pasangan yang hebat di masa yang akan datang. Menggantikan Ayahmu, dan Ayah angkat Sona." Kata Kakashi yang menatap sosok seorang Namikaze Naruto di bawah genggaman tangannya.

Sedangkan pemuda tersebut hanya melirik Kakashi sekilas. Sesaat kemudian kedua mata birunya kembali menatap sosok Obito di kejauhan.

"Aku tak berniat untuk menjadi hebat. Tapi bila aku bisa menghentikan orang-orang seperti Obito demi mereka yang aku sayangi, aku tak akan ragu!" Ucapnya dengan mimik wajah serius menjawab perkataan Kakashi.

"Kakashi..." Obito bergumam sambil menyiapkan tangan kirinya yang memilik cakar mutasi. Juga bermaksud untuk menyerang mereka berdua sekaligus di waktu yang bersamaan.

Ayunan tali yang mengarah ke bawah semakin turun oleh tarikan gaya gravitasi dengan cepat. Kedua belah pihak telah bersiap untuk melancarkan serangan mereka masing-masing. Obito dengan cakar tajamnya, sedangkan Naruto bersiap menggunakan kakinya. Dengan jarak yang semakin tereliminasi, mereka akan memulai kontak fisik kembali.

Tetapi hal yang tidak Obito duga terjadi. Kakashi melempar Naruto jauh ke atas. Melihat pemuda kuning tersebut melompat melewati dirinya, Obito sempat terdiam mati langkah.

DRAPP...

Naruto berguling ke depan ketika ia menyentuh tanah dan mendarat dengan sangat mulus. Sementara Obito menerka-nerka apakah mereka sedang merencanakan serangan dari dua arah. Tetapi pemikiran yang terbesit di dalam kepala Obito runtuh seketika saat Naruto malah berlari menjauhi dirinya.

DUAAGHKK...!

Lutut Kakashi begitu keras mengenai wajah Obito hingga membuatnya terhempas mundur kebelakang dan hilang keseimbangan.

"Rencana utama kami sementara ini adalah menjauhkanmu dari Naruto terlebih dahulu. Kini lawanmu adalah aku, Obito." Kata Kakashi saat kedua kakinya berhasil menyentuh tanah. Ia berdiri memasang badan untuk Naruto yang berlari ke arah Sona.

Obito mendengus kesal telah dipermainkan oleh rencana mereka yang sama sekali tak bisa ia baca. Mengusap darah yang mengalir keluar dari sudut bibirnya, Obito siap menyerang pria berambut perak yang sudah berani ikut mencampuri urusannya. Kakashi menggenggam sebuah belati militer dengan memasang kuda-kuda terkuatnya. Pertarungan jarak dekat di antara mereka berdua pun dimulai.

Sementara itu, Naruto berlari tergesa ke arah Sakura yang sedang mengobati luka-luka Sona. Melihat keadaan Sona membuat rasa khawatirnya muncul seketika, setelah terlupa sebab pertarungan sengit melawan monster yang berulang kali hampir merenggut nyawanya.

"Sona..!" Panggil Naruto dengan nada khawatir saat kedua sepatunya mengerem keras di tanah setelah sampai di tempat di mana rekannya itu diberi pertolongan pertama. Ia berlutut untuk bisa lebih dekat melihat rekan wanitanya tersebut.

"N-Naruto..." Gumam gadis manis berkacamata itu pelan, ketika namanya dipanggil oleh seorang pemuda yang samar datang mendekat.

"Sepertinya ada beberapa tulang Sona yang patah. Tapi tak perlu khawatir. Selama ia tak banyak bergerak..."

"S-Syukurlah... Kau... Tidak apa-apa..." Ucap Sona lemah memotong penjelasan Sakura kepada Naruto.

Mata biru yang menyiratkan tentang kekhawatiran itu kini sejenak terpejam. Dalam diam Naruto tersenyum. Sebuah senyuman lega yang berasal dari dalam hatinya.

"Bodoh... Seharusnya itu kata-kataku." Ucap pemuda itu kepada rekannya. Sembari bangkit berdiri, sepasang manik sebiru langit cerah itu menatap Sona begitu dalam.

Sudah tak bisa ia hitung berapa kali situasi berbahaya mengancam nyawa yang telah ia lewati bersama Sona. Bekerja sama dengannya sebagai rekan dalam melakukan misi-misi gila membuat ikatan yang mereka berdua miliki semakin kuat. Tak peduli setajam apapun kalimat-kalimat yang keluar dari mulut gadis itu tentangnya, bagi Naruto, Sona tetaplah seorang teman yang bisa ia percaya.

"Aku.. M-Masih bisa..." Kata Sona dengan mata terpejam erat kesakitan sambil berusaha untuk berdiri dengan susah payah. Tetapi sebuah tangan menangkup lembut pucuk kepalanya. Membuat geraknya terhenti begitu saja.

Perlahan Sona Sitri membuka kedua matanya yang terpejam. Ia mendapati sosok Naruto yang membelakangi sinar mentari senja tengah tersenyum lembut ke arahnya.

"...Serahkan pada kami."

Sona terdiam. Terpaku oleh sosok pemuda yang berdiri membelakangi cahaya matahari sore di depannya. Sifat keras kepala tadi menghilang. Entah mengapa Sona tak bisa berkutik lagi ketika pemuda bodoh nan ceroboh yang suka membahayakan nyawanya sendiri itu tersenyum seperti ini kepadanya. Ego Sona yang masih ingin berdiri di saat tubuhnya telah remuk, runtuh begitu saja. Ia hanya bisa bisa memejamkan kedua mata sayunya sembari menitipkan tekad di hati untuk mengakhiri semua ini kepada pemuda tersebut.

"Naruto-kun...!"

Seseorang memanggil dari ketinggian. Membuat Naruto mendongakkan wajahnya ke atas atap bagunan di depannya untuk melihat pemilik suara halus nan lembut yang baru saja memanggil namanya.

Hinata menumpukan kedua tangannya pada tepian atap bangunan untuk melihat ke bawah. Gadis cantik dengan rambut panjang yang mengibar terhembus angin itu tidak tahu harus berekspresi seperti apa ketika akhirnya ia bisa melihat Naruto kembali. Ada rasa khawatir yang sangat membuncah ketika mengetahui bahwa lagi-lagi Naruto melakukan hal yang sangat membahayakan nyawanya sendiri. Di sisi lain ia begitu lega mengetahui bahwa Naruto masih hidup untuk dapat ia rasakan melalui virus yang terikat di antara mereka berdua. Gadis itu benar-benar bersyukur mendapati dirinya kini bisa melihat wajah pemuda berambut kuning tersebut.

"Terima kasih telah menuntun arah mereka untuk kemari." Ucap Naruto tersenyum menatap Hinata.

"Um...!" Angguk gadis itu disertai senyum yang mengembang.

Semenjak Naruto yang telah menyelamatkan nyawanya ketika wabah mematikan menyebar di sekolah mereka, Hinata bertekad untuk menjadi berguna bagi pemuda yang sangat berharga baginya itu. Bahkan sebelum kekacauan ini dimulai pun, ikatan di antara mereka berdua telah tumbuh ketika Naruto dengan tulus mau menerima kekurangannya sebagai gadis yang cacat.

Naruto lah, seseorang yang tulus menerima Hinata sebagai teman dengan kelumpuhan kaki yang di deritanya semenjak lahir di saat yang lain terus-menerus menertawai kekurangannya sebagai manusia.

'Aku telah terselamatkan dari keterpurukan mental serta jurang keputusasaan oleh ketulusanmu. Kau selalu melindungiku dan selalu menyelamatkan nyawaku tanpa memedulikan keselamatan nyawamu sendiri. Meski aku tidak bisa berdiri sejajar di sampingmu seperti yang Sakura dan Sona lakukan karena lemahnya tubuhku ini, tapi semangatku tertuju padamu. Kini giliranku untuk menjadi berguna. Jadi tetaplah hidup, maka aku juga akan berjuang untuk tetap hidup. Karena dirimu lah semangat itu... Naruto-kun.'

Tanpa Hinata sadari, ada rona yang muncul di pipinya yang begitu putih nan halus. Tersenyum kepada sosok pemuda yang sangat berharga di mata serta hatinya. Seakan semangatnya tak pernah luntur berjuang untuk Naruto.

Sementara itu, Cakar besar bak monster mengerikan yang ada pada tangan kiri Obito mengayun vertikal ke arah kepala Kakashi. Bermaksud untuk cepat menghancurkan kepala lawannya hingga enyah dari muka bumi ini. Tetapi dengan gerakan sigap Kakashi maju selangkah dan menahan kekuatan jaringan otot mutasi itu menggunakan kedua tangannya.

Kedua alis Kakashi seketika membentuk sudut tajam saat merasakan bagaimana kekuatan Obito yang begitu luar biasa. Membuat lututnya agak tertekuk disertai tanah yang langsung retak di bawah kakinya bertumpu.

'Aku tak percaya dua mantan muridku benar-benar melawan monster seperti dia...' Gumam Kakashi dalam hati ketika menahan tangan kiri Obito yang telah bermutasi.

"Orang-orang dari Organisasi itu benar-benar sangat keras kepala. Itachi, bocah kuning itu, lalu sekarang dirimu..." Kata Obito sambil kembali berusaha menyerang Kakashi menggunakan pukulan tangan kanannya.

BUUGHKK!

Kakashi terlempar ke samping saat tinju itu mengenai tulang rusuknya dengan telak. Ia memegangi pinggangnya sembari menahan rasa sakit yang amat sangat terasa. Meski begitu, Kakashi berusaha kembali membenahi kuda-kuda kakinya untuk tidak terjatuh.

"Menyamar menjadi seorang guru selama berbulan-bulan hanya untuk mengawasi perusahaanku dari jauh, benar-benar tak berguna." Ejek Obito seraya kembali mengayunkan cakar besarnya secara menyamping untuk memenggal kepala pria berambut perak itu terlepas dari tubuhnya.

Kakashi memilih untuk merunduk hingga kedua lututnya membentuk sudut tajam daripada harus menahan kekuatan monster itu lagi.

Menarik sebuah senjata genggam dari belakang ikat pinggang, Kakashi menembakkan peluru-peluru berkaliber 9mm yang ada pada magazin senjatanya secara beruntun.

DAR-DARR-DARR-DARR-DARR...

Belasan proyektil panas melesat cepat. Namun sayangnya tangan kiri Obito yang telah bermutasi mampu menjadi tameng untuk menahan semua peluru yang termuntahkan dari ujung laras senjata tangan Kakashi. Hanya mampu membuat setetes demi setetes darah merah kehitaman kental terjatuh ke tanah dari belasan luka kecil yang Obito terima.

'Sudah kuduga akan seperti ini.' Gumam pria berambut perak tersebut setelah ia selesai menembakkan semua peluru yang ada pada senjatanya. Tidak ada satupun peluru Kakashi yang mampu memberikan luka serius kepada Obito.

Di sisi lain, Naruto harus cepat menyusun rencana untuk mengalahkan monster itu sebelum yang lain kembali terluka. Ia tahu benar bahwa Obito sudah benar-benar kelelahan sama seperti dirinya. Akan tetapi yang menjadi masalah adalah orang itu belum mau menyerah, lagi-lagi sama seperti dirinya.

'Ternyata menghadapi orang yang keras kepala itu sangat melelahkan juga. Pantas saja jika Sona sering marah padaku...' Dalam hati Naruto membuat sketsa wajah konyol setelah menyadari hal tersebut. Tak lama berselang ia mendengar beberapa langkah kaki mendekat.

"Aku hanya punya satu peluru tersisa." Ucap Sasuke yang masih membawa senapan rifle laras panjang bersamanya. Menyadari bahwa ia tidak boleh mensia-siakan satu peluru tersisa yang ia miliki, Sasuke harus membicarakan bagaimana langkah mereka selanjutnya.

"Jadi sekarang, bagaimana cara kita untuk mengalahkan monster itu, Naruto?" Tanya Kiba seraya mengatur nafasnya setelah berlari menuruni gedung di mana pertama kali ia muncul.

Mendengar itu dari rekan-rekannya, mimik wajah Naruto kembali berubah serius. Mereka benar-benar terbatasi oleh jumlah amunisi yang bisa mereka bawa sejauh ini. Menyerang Obito yang hampir bisa dibilang kebal terhadap peluru tanpa taktik hanya akan membuang-buang waktu, tenaga, dan amunisi. Serta bisa saja dapat memperburuk situasi yang ada.

"Kita harus menghancurkan otaknya." Jawab Naruto singkat tanpa banyak basa-basi.

Tetapi justru jawaban yang seperti itu membuat semangat rekan-rekannya menurun drastis. Sasuke serta Kiba melempar tatapan sweatdrop kepada bocah berambut kuning itu.

"Kau berkata seperti itu seakan dia hanya anak serangga yang mudah diinjak saja~" Gumam Kiba mencibir apa yang baru saja Naruto katakan seraya masih melempar tatapan sweatdrop kepada teman kuningnya tersebut.

"Virus ini, mampu menyebar dengan cepat di dalam tubuh manusia. Tetapi ada satu hal yang mampu memperlambat penyebaran virus tersebut di dalam tubuh manusia. Dengan kata lain, melemahkannya." Ucap Naruto berusaha menjelaskan apa yang ia ketahui dari sela rapat darurat yang pernah ia hadiri di markas organisasi rahasia kota Konoha.

"Sejauh yang aku tahu, reaksi nuklir adalah satu-satunya hal yang mampu memperlemah daya virus ini." Lanjutnya lagi.

Sasuke mulai mengerti dengan apa yang Naruto sampaikan. Memang terdengar sederhana mengenai cara untuk memperlemah virus tersebut. Meski begitu tetap ada satu masalah yang perlu ia pertanyakan.

"Bila dengan reaksi nuklir kita mampu untuk mengalahkan Obitu, lalu bagaimana cara kita untuk bisa mendapatkan reaksi nuklir seperti katamu tadi?" Sasuke sangat paham bahwa situasi mereka saat ini benar-benar tidak memungkinkan untuk mendapatkan solusi tersebut. Terlebih lagi, bukan orang awam biasa yang bisa bermain-main dengan radioaktif seperti reaksi nuklir. Mendengar pertanyaan dari sahabatnya, Naruto merogoh ke dalam saku celananya. Hingga tidak lama berselang ia mendapatkan apa yang ia cari dari dalam saku celana tersebut.

"I-Itu..."

Sakura terkejut saat melihat Naruto mengeluarkan rokok matic dari saku celananya dan menunjukkan barang itu kepada mereka. Mengenai apa yang mereka bicarakan tadi, Sakura mulai mengerti kemana ujung pembicaraan ini berlabuh. Karena Naruto pernah bercerita tentang benda itu ketika mereka masih di atas kapal dalam pelarian dari pulau mengerikan Gunkanjima.

"Alat ini menggunakan inti nano nuklir sebagai dayanya. Reaksi nuklir yang tercipta dari mekanisme alat ini mampu memperlambat penyebaran virus di dalam tubuh dan otakku." Ungkap Naruto yang menunjukkan rokok elektrik yang sudah didesain dan dimodifikasi khusus dari kebijakan markas organisasinya. Terlebih ia juga sempat mendengar dari Minato, bahwa yang menciptakan alat ini tak lain adalah ibunya.

Sasuke, Kiba beserta Sakura seketika memperlihatkan raut wajah terkejut setelah mendengar penjelasan Naruto. Tetapi lagi-lagi ada satu hal yang sepertinya sangat mengganggu seorang Uchiha Sasuke.

"Bila dari awal reaksi nuklir itu sudah berada dalam genggaman tanganmu, kenapa tidak kau gunakan saja dari tadi untuk mengalahkan monster itu...?" Sasuke melempar pertanyaan yang cukup masuk akal dan sangat rasional.

"Hoh... Benar juga~" Ucap enteng Naruto yang baru saja menyadari akan hal itu.

Sasuke, Sakura dan Kiba menepuk jidat mereka masing-masing. Bagaimana bisa Naruto baru sadar bahwa ia memiliki senjata rahasia yang mampu mengalahkan Obito tanpa harus mereka beradu nyawa terlebih dahulu seperti ini.

'Sudah kuduga, memiliki teman yang sangat bodoh itu sangat mengerikan.' Gumam Sasuke yang berkali-kali dibuat sweatdrop oleh bocah kuning itu.

"Jadi bagaimana rencanamu, Naruto?" Tanya Kiba pada sahabatnya.

Setelah mendengar pertanyaan tersebut, Naruto terdiam sejenak sembari memandangi alat bermuatan reaksi nuklir di genggaman tangan kanannya. Tidak mungkin terlupa baginya bahwa saat ini dirinya pasti tidak bisa berbuat banyak. Selain kelelahan yang menerjang di sekujur otot tubuhnya, stamina pemuda berambut kuning itu sudah terkuras di luar batas manusia. Akan tetapi ia menyadari sesuatu yang tidak orang lain sadari. Obito pun sudah berada batasnya.

Sebagai sesama pesakitan karena virus mengerikan ini, Naruto sangat tahu betapa menyiksanya beban serta stress yang ditimbulkan kepada tubuh. Namun tetap saja dirinya tak bisa begitu saja menunggu waktu sampai Obito benar-benar jatuh. Kesadaran Obito masih membuatnya memiliki batas seorang manusia. Bagaimanapun Naruto tidak boleh menyia-nyiakan perjuangannya untuk membuat kesadaran Obito kembali. Bila kesadaran Obito kembali hilang tertelan oleh virus tersebut, bisa dipastikan bahwa akan berubah menjadi monster yang jauh lebih mengerikan dibanding sekarang.

"Rencananya adalah..."

Naruto melempar rokok matic miliknya ke arah Sakura. Dengan terkejut gadis berambut merah jambu tersebut menangkapnya menggunakan kedua tangan. Sakura memperhatikan rokok elektrik yang 70% terbuat dari bahan transparan seperti kaca tersebut. Dengan begitu ia dapat melihat inti daya dari alat itu yang bercahaya kebiruan. Menandakan reaksi nano-nuklir masih tersisa di sana.

'Apa benda ini selalu hangat...?' Celetuk Sakura sedang bertanya pada dirinya sendiri dari dalam hati merasakan hangatnya alat tersebut.

"Kita bawa senjata nuklir kita sedekat mungkin dengan Obito. Yang berarti, menghadapi monster itu secara langsung." Ucap Naruto kepada Sakura sembari melempar tatapan yang seakan berkata, 'Apa kau siap?'

Sepasang manik sehijau emerald tersebut membulat mendapat perlakuan seperti itu dari Naruto. Bahkan kini, pemuda itu melepas seulas senyum tipis tertuju untuk Sakura dari sudut bibirnya.

"Jangan sampai terluka, Sakura." Pinta Uchiha Sasuke, sang kekasih, menatapnya dengan tatapan yakin.

'A-Apakah ini artinya... Kini mereka mengakuiku...?'

'Apakah mereka kini akhirnya... Melihatku setara dengan mereka...?'

'B-Bukan lagi melihatku sebagai seseorang yang harus selalu dibelakang dan dilindungi mereka... Tapi kini... Naruto dan Sasuke-kun mengandalkanku untuk berdiri sejajar dengan mereka berdua...'

Tak hentinya Sakura terpaku di hadapan Naruto serta Sasuke kekasihnya. Seperti yang terlihat, saat ini Sakura merasa tidak lagi seperti dulu. Di mana ia selalu ditaruh dibelakang punggung mereka berdua seolah tidak bisa melakukan apa-apa. Selalu mereka berdua yang menyelesaikan masalah yang ada sementara ia hanya bisa melihat. Namun kini Sakura menyadari pandangan yang mereka berdua lempar kepadanya. Naruto dan Sasuke ingin Sakura ikut dalam pertaruhan yang sangat berbahaya ini. Dengan kata lain, mereka berdua ingin mengandalkannya.

"Serahkan padaku. Akan kulakukan yang terbaik...!" Ungkapnya sembari menggenggam erat alat bermuatan reaksi nuklir tersebut.

"Hanya senjata berkaliber besar yang mampu menembus dan memberikan kerusakan berarti pada monster itu. Bila peluru berkaliber besar mampu mengenai kepalanya aku yakin pasti ia akan tumbang. Sasuke, peluru terakhirmu adalah harapan kami." Ucap Naruto menjelaskan semampunya.

CKREEKKH...!

"Kupastikan takkan meleset." Gumam Sasuke yakin dengan kemampuan matanya membidik kepala Obito sembari mengokang senapan laras panjang AWM yang ada pada genggamannya.

"Tapi tetap saja... Cakar sekeras itu bisa jadi halangan terbesar kita." Lanjut sang Uchiha muda melirik tangan kiri Obito.

Sembari menyatukan kepalan tangannya, sudut bibir Naruto tertarik ke atas melukis sebuah senyum keyakinan.

"Mengenai itu serahkan saja padaku." Jawab Naruto dengan percaya diri disertai munculnya gerutan di wajah sebelah kanan. Menandakan ia kembali memakai kekuatan dari virus yang ada di dalam tubuhnya. Suhu di dalam tubuhnya meningkat drastis. Kontraksi pergerakan virus di dalam tubuhnya meletupkan kekuatan yang besar. Dapat Naruto rasakan kekuatan itu menyebar dan mengalir di seluruh denyut nadinya.

Perpaduan pupil mata sebiru lautan dan merah menyala milik Naruto menatap sosok Obito yang sedang dialihkan perhatiannya oleh Kakashi. Bersemayam sebuah tekad dalam tatapan yakin itu untuk segera mengakhiri semuanya di sini. Pemuda berambut kuning itu tahu bahwa hanya sekali ini saja batasnya untuk menggunakan seluruh staminanya yang tersisa. Jangan sampai ada kesalahan. Tidak boleh ada kegagalan. Semua akan dipertaruhkan dalam pertarungan terakhir ini.

"Kurasa sudah cukup tugas Kakashi-sensei untuk membuat Obito sibuk. Kali ini tolong bukakan jalan untuk kami, Hinata." Pinta Naruto menengok ke arah gadis pemegang panah di atas bangunan.

"P-Percayakan padaku...!" Celetuk Hinata dengan percaya diri akan kemampuan memanahnya.

SREETT...

Kiba mengangkat tubuh kecil Sona yang sudah tak berdaya. Menggendongnya ala bridal-style dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan pergesekan pada tulang-tulang gadis itu yang patah.

"Sangat berbahaya bila Sona tetap di sini. Aku akan membawanya ke mobil kami. Kurasa di sana akan jauh lebih aman."

Sebelum Kiba berlalu, Naruto sempat mendengar suara lirih Sona yang penuh harap. Sepercik air mata tersapu terbawa oleh angin. Mendarat di pipi pemuda berambut kuning itu.

"Jangan mati... Naruto."

Kedua mata pemuda berambut kuning tersebut terpejam sebentar sambil tersenyum nanar. Meski mereka tidak boleh gagal dalam mengalahkan Obito Uchiha di tempat ini, namun kesempatan untuk kembali pulang bersama-sama dengan selamat hampir sepenuhnya tertutup. Naruto sadar benar akan hal itu. Baginya, kekuatan yang mengalir padanya saat ini hanya bagai ilusi. Entah sebuah anugerah, ataukah kutukan. Tetapi Naruto tahu bahwa menggunakan kekuatan yang sangat luar biasa ini, sama artinya dengan mati.

Bibirnya keluh tertutup rapat. Rasanya sudah tidak mungkin ia membohongi diri sendiri lagi hanya untuk sekedar mengibur dan menenangkan hati rekan-rekannya. Karena cepat atau lambat, dirinya hanya bisa menutup mata lalu tersenyum dan mati.

"Ayo kita lakukan!" Kata Sakura yang telah mempersiapkan diri. Dengan menggenggam rokok matic milik Naruto, ia mulai melangkahkan kakinya dan melesat ke arah Obito. Sementara Sasuke meletakkan salah satu lututnya ke tanah sebagai penyangga beban tubuh dan senjata berlaras panjang yang ia bawa.

Dari atas bagunan, Hinata mengambil sebuah anak panah lalu menggigit salah satu sisi bulu pada bagian bulu panahnya. Bulu-bulu itupun sobek dan memperlihatkan sebuah anak panah yang cacat. Jemari tangan kanan Hinata meletakkan ekor anak panahnya pada tali busur, sementara tangan kirinya menggenggam erat gagang busur panah. Merasakan bahwa laju angin mengarah ke timur seakan berpihak kepadanya, ia mulai menarik tali busur sekuat tenaga. Tetapi bidikan Hinata bukan mengarah tepat kepada sosok Uchiha Obito di sana, melainkan jauh ke kiri dan agak ke atas. Seolah bukan tubuh ataupun kepala Obito yang menjadi sasaran utamanya.

'Majulah, panah terakhirku...'

WUUUSSHHHTTT~

Anak panah Hinata melesat dengan kecepatan luar biasa hebat bagai peluru panas yang merobek udara. Seluruh perasaannya untuk ikut berjuang bersama mereka tertuang semua pada ujung runcing anak panah yang baru saja ia lesatkan.

"Yosh!" Naruto bersiap untuk berlari menjemput teka-teki takdirnya, namun Sakura yang sudah mengambil langkah melewatinya terlebih dulu begitu saja.

"Ikuzo..!" Ucap gadis berambut merah jambu itu dengan semangat tinggi dan membuat langkah Naruto mati sejenak.

"Eh..? Bukankah aku yang harusnya bilang begitu~.."

Anak panah Hinata terus melesat ke atas dengan kecepatan yang gila. Namun tidak menunggu lama untuk lintasan anak panah tersebut berubah. Perlahan tapi pasti, arah direksi ujung anak panah Hinata berubah dan menukik ke arah kanan sesuai kemana arah angin mengalir. Berkat bulu penyeimbang di bagian ujung belakang anak panah yang terpotong, arah lintasan panah pun tidak akan lurus. Membuatnya sulit untuk diprediksi.

"Sepertinya kau sudah mulai kelelahan." Ucap Obito menatap tajam ke arah pria berambut perak di hadapannya.

"Mungkin sudah waktunya aku pensiun dari pekerjaan ini." Jawab Kakashi dengan nafas tersenggal. Bohong bila berkata Kakashi tidak babak belur menghadapi monster ini.

Seluruh bagian ototnya sudah panas tak mampu lagi bergerak bebas. Kakashi sangat kewalahan menahan Obito sendirian. Bagaimana tidak, menggunakan sebuah belati hanya membuat serangannya meninggalkan luka-luka kecil pada Obito. Tetapi setiap serangan yang monster itu lancarkan dengan cakar besarnya bisa dengan mudah membuat Kakashi terbelah menjadi dua.

Dari berbagai pertarungan jarak dekat yang telah mereka lalui, Baik Kakashi maupun Obito sudah di ambang batas stamina mereka. Mungkin untuk sementara waktu Obito tidak bisa mengayunkan cakar monster di tangan kirinya dengan bebas. Otot lengan yang menopang besarnya ukuran cakar tesebut kian melemah. Obito sudah menguras banyak stamina dari setiap ayunan cakar yang lakukan.

"Kalau begitu dengan senang hati kubantu membuatmu pensiun untuk selamanya." Kata Uchiha Obito sembari menghempaskan kepalan tangan kanannya untuk memukul wajah Kakashi.

"Tapi kini rasanya tidak nyaman jika pensiun dini..." Gumam Kakashi tertahan lengkap dengan senyuman kecilnya.

Tanpa disangka-sangka, sebuah anak panah menukik tanjam mengarah kepadanya. Meski sepersekian detik Obito telah menyadari kedatangannya, tetapi tubuhnya sudah terlanjur bergerak untuk menyerang Kakashi. Dengan laju anak panah berkecepatan tinggi tersebut, Obito sudah mati langkah dan tidak bisa lagi menghindar.

Sengaja membidik jauh ke barat, Hinata memanfaatkan arah angin yang saat ini berhembus ke timur. Berkat modifikasi ujung bulu panah yang ia buat, panah itu akan berkelok ke kanan. Dengan begitu dorongan angin yang mengalir ke timur akan ikut mendorong anak panahnya agar melesat lebih cepat. Kelemahan laju anak panah ialah efek parabola. Setelah mencapai jarak tertentu panah tersebut akan tertarik oleh gravitasi bumi. Jika membidik ke arah dada di jarak 100m maka anak panah hanya akan menancap ke kaki karena efek parabola tersebut. Namun Hinata mengarahkan busur panahnya lebih ke atas untuk mengimbangi efek parabola. Hasilnya, kini anak panah yang telah Hinata lesatkan menukik tajam ke arah kepala Obito.

ZRRAASSHHH...

Cipratan darah melayang ke udara dikala anak panah Hinata menghujam mata kiri Obito. Karena momentum gerak tubuhnya yang sudah mati langkah, Obito terpaksa memiringkan kepalanya dan merelakan rasa sakit menghujam bola mata kirinya daripada mati dengan otak tertusuk oleh sebuah anak panah.

"...Karena aku telah bertemu dengan bibit-bibit muda hebat yang akan melampaui kita berdua."

Kakashi menghindari tinju keras Obito dan mulai melompat melingkarkan kaki serta tangannya untuk mengikat pergerakan tangan kanan Obito. Lalu ia menancapkan pisau belatinya ke tanah sebagai pengunci. Tidak peduli seberapa keras usaha Obito untuk menarik tangan kanannya kembali, ia tidak akan berhasil. Karena kini Kakashi sudah telak mengunci pergerakannya.

"Seberapa keras kau berjuang, usahamu akan sia-sia. Karena kau takkan mungkin bisa lari dari takdirmu Kakashi." Obito berucap seraya mengangkat cakar besar tangan kirinya dengan bermaksud menghujamkan cakar itu kepada Kakashi.

TAP-TAP-TAP-TAP-TAPP...

Haruno Sakura berlari kencang ke arah Obito lalu memungut sepucuk senjata Glock-17 milik Naruto yang tergeletak di tanah tidak jauh dari lokasi pertarungan antara Kakashi dengan Obito.

"Artinya kau pun juga takkan bisa lari dari takdir kematianmu!" Teriak gadis itu sembari menodongkan senjata genggam yang baru ia pungut. Ekspresi wajah Sakura menegaskan bahwa dirinya sudah bersiap untuk menarik pelatuk senjata tersebut ke arah Obito.

Mengurungkan niatnya menggunakan cakar itu untuk menusuk Kakashi, Obito memposisikan tangan kirinya tersebut untuk menjadi tameng agar tidak ada satu peluru pun yang bisa menembus otakknya. Tak bisa dibohongi bila Obito masih merasakan rasa sakit yang teramat sangat setelah sebuah anak panah datang menghujam salah satu matanya. Jadi ia tidak ingin mengambil resiko dan menggunakan cakar besarnya sebagai sebuah tameng daripada menggunakannya untuk menyerang Kakashi.

Tetapi tiba-tiba Sakura membuka jari-jemarinya dan melepaskan genggaman tangannya dari Glock-17 tersebut. Senjata itupun meluncur bebas lepas dari tangannya kembali terjatuh ke tanah. Dengan gerakan cepat Sakura mengoper rokok matic ke tangan kanannya, lalu bersiap untuk melempar benda tersebut dengan sekuat tenaga yang ia miliki.

'Tipuan, kah...?' Obito tercengang dengan apa yang Sakura lakukan. Tetapi tetap saja ia merasa bahwa itu tidak akan mengubah apapun.

WUUSSHHTT~

Rokok matic di tangan Sakura terlepas dan melesat mengarah langsung kepada Obito yang tepat berada di hadapannya. Namun dengan cakar sebesar itu bukan menjadi masalah besar bagi Obito untuk menangkap benda kecil itu. Rokok matic tersebut meledak di tangannya setelah ia meremasnya hancur.

"Sudah kubilang, untuk manusia naif yang tidak memiliki kekuatan apapun untuk mengubah dunia, seberapa keraspun kalian berusaha tidak akan membuahkan apa-apa" Lanjut pria itu lagi dengan nada sarkas.

Kakashi mencabut belatinya dari tanah lalu melemparnya dengan sekuat tenaga. Ujung tajam belati tersebut melesat ke arah kepala Obito. Namun sayangnya refleks yang dimiliki Obito masihlah setajam belati tersebut sehingga ia mampu untuk menghindar. Alhasil belati milik Kakashi hanya mampu menggores pipinya.

"Cih..." Dengus Obito merasa sudah cukup bermain-main dengan mereka.

Sudah tidak ada lagi belati yang mengunci pergerakan, Obito mengibaskan tangan kanannya dengan tenaga penuh dan menghempaskan Kakashi jauh menuju laut.

'Merasa bahwa kau bisa melakukan segalanya sendirian hanya akan mengancurkanmu dari dalam, Obito.' Gumam Kakashi dalam hati melihat sosok Obito yang kini nampak memilukan sebelum akhirnya ia terhempas masuk ke dalam ombak lautan.

Melirik seorang gadis yang berani mengganggunya, Obito memberikan tatapan tajam dengan nafsu membunuh yang besar. Ia benar-benar bermaksud untuk menghancurkan tubuh gadis itu berkeping-keping agar mereka tahu bahwa apapun yang mereka lakukan dan bagaimanapun mereka berusaha, semua itu hanya akan berakhir sia-sia.

Memindahkan direksi tubuhnya mengadap ke gadis berambut merah jambu tersebut, Obito mengepalkan kuat-kuat cakar besar tangan kirinya. Mengambil kuda-kuda terkuat yang ia miliki, ancang-ancang kepalan tangan monster itu sudah siap untuk menghancurkan tubuh Sakura. Tatapan matanya sama sekali tidak menunjukkan keraguan dalam bertindak. Jika ingin mengubah dunia yang dipenuhi dengan manusia busuk ini, ia harus melakukan segalanya tanpa ragu. Meski itu berarti ia harus membunuh sekalipun. Begitulah pikir Obito. Dengan kekuatan penuh, Obito mulai melepaskan pukulan terkuat yang ia miliki tepat mengarah kepada tubuh gadis tersebut.

"Kuulangi sekali lagi. Usaha kalian tidak berguna sama sekali untuk dunia yang rusak ini." Ungkap Obito dengan nada sarkasnya.

Kedua mata Sakura terbelalak menyaksikan kepalan tangan monster itu akan segera menghantamnya. Kakinya serasa sudah mati langkah.

'Ga-... Gawat... Aku tidak akan sempat menghindarinya!'

Sakura hanya bisa memejamkan mata indah miliknya sembari menyilangkan kedua tangannya ke depan untuk menahan serangan Obito. Meski ia tahu hal itu tidak akan berarti apa-apa. Mungkin ini akan menjadi akhir dirinya, begitu yang ada dipikiran Sakura saat ini.

DRAP-DRAP-DRAP-DRAP...

"Di dunia ini tidak ada yang namanya usaha yang sia-sia, bakayaro!"

Sakura merasa tubuhnya tertarik kebelakang. Ada seseorang yang melesat dan menaik bajunya dari belakang. Perlahan tapi pasti, Sakura membuka kedua matanya dan melirik ke samping di mana langkah kaki seseorang terdengar.

"Tetap rendah dengan tanah." Ucap pelan pemuda berambut kuning tersebut kepadanya.

Tubuh Sakura terhempas kebelakang agak jauh dari tempat di mana ia berada sebelumnya berkat tarikan kuat yang Naruto berikan. Ia terjatuh dan tengkurap di permukaan tanah, dengan kedua mata yang terbuka menyaksikan bagaimana sahabat kuningnya itu menghampiri kepalan cakar besar milik Obito tanpa ragu.

"Akan kuajarkan padamu, bagaimana caranya untuk mati." Gumam Obito setelah tahu bahwa Naruto yang akan menerima pukulan telah darinya. Ia sudah tak peduli lagi siapapun lawannya. Kepalan tangan besarnya sudah terlanjur melesat dengan kekuatan penuh yang tersisa.

"Percayakan dunia ini padaku, Obito." Ucap pelan Naruto yang masih terdengar jelas di gendang telinga Obito. Bisikan kata-kata yang mampu membuat Obito tercengang. Sama seperti dirinya, Naruto mengucapkan kalimat tersebut tanpa ada keraguan sedikitpun. Kata-kata yang terucap dari dasar hati yang paling dalam.

Suhu tubuh Naruto naik secara drastis. Uap-uap panas mulai menguar keluar dari seluruh tubuhnya. Kepalan tangan kanan yang membawa beban dunia telah Naruto siapkan bersama denga sebuah sumpah di dalamnya. Naruto mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa ke dalam kepalan tangan kanan tersebut. Membawa seluruh perasaannya dalam satu serangan terakhir yang bisa ia lancarkan ini.

Uchiha Obito dan Namikaze Naruto beradu tinju terakhir mereka.

BLAAAAAAARRRRHH..!

Kontak fisik terjadi. Kepalan tinju kedua monster itu pun beradu. Seketika gelombang kejut tercipta dari kekuatan mereka. Menghempaskan apapun yang ada di sekitar. Tanah-tanah bergemuruh lalu retak menciptakan sebuah kawah di atas pijakan kaki mereka. Bahkan Hinata yang berjarak puluhan meter dari titik kontak fisik tersebut harus menggunakan kedua tangannya untuk menghalangi datangnya gelombang angin yang sangat luar biasa.

Mereka berdua mengerahkan tinju dengan seluruh tenaga yang tersisa. Dua pukulan monster dengan kekuatan maha dahsyat yang beradu membuat area di sekitar mereka menjadi berantakan. Perban putih yang melilit hampir di seluruh tangan kanan Naruto mengendur dan terlepas akibat gelombang kejut luar biasa yang tercipta. Lalu kini terlihat jelas bagaimana wujud tangan monster milik Naruto yang telalu tertutupi oleh perban. Dapat pemuda itu rasakan rasa sakit menjalar dari tulang-tulang tangan kanannya yang remuk sesaat setelah beradu tinju dengan Obito.

Hal yang sama pun dirasakan oleh Obito. Untuk sesaat entah mengapa ia merasa tubuhnya menjadi lemah secara drastis. Tulang-tulang di tangan kirinya serasa hancur berkeping-keping dari dalam. Banyak retakan yang tercipta pada kepalan cakar besarnya setelah menerima tinjuan hebat dari Naruto. Obito tidak tahu apa yang sedang terjadi pada tubuhnya, namun yang pasti, tangan kirinya sudah tidak lagi berfungsi.

NJDAAAARRR..!

Peluru terakhir keluar dari moncong laras senjata Sasuke setelah sekian lama ia menunggu saat-saat yang tepat. Peluru itu menembus seluruh gelombang kejut yang ada. Garis peluru Sasuke melesat langsung tertuju ke kepala musuh.

Obito tidak menyangka bahwa rangkaian kerja sama mereka mampu memojokkan dirinya seperti ini. Mulai dari seluruh pengalihan yang mereka buat, hingga eksekusi yang mereka lakukan. Membuatnya sama sekali tidak dapat berkutik di detik-detik terakhir setelah termakan oleh serangannya sendiri untuk beradu pukulan dengan Naruto. Tangan kirinya telah hancur dari dalam dan kekuatan regenerasinya sudah tidak lagi berfungsi setelah staminanya terkuras habis hanya untuk beradu pukulan. Dari titik ini, Obito menyadari bahwa dirinya telah selesai. Ia sudah kalah.

Namun meski begitu, seulas senyum tipis terukir di wajah buruknya. Mimpi Obito untuk bisa melihat manusia bekerja sama tanpa ragu kehilangan nyawa setelah rentetan tragedi mengerikan ini terjadi, akhirnya terwujud. Tujuannya telah tercapai. Keinginannya yang terbelenggu oleh dunia yang kian membusuk sudah terpenuhi.

Mungkin Kakashi benar, pikirnya. Bertemu dengan pemuda bodoh yang masih saja tak mau mati juga ini, mungkin bukanlah hal yang buruk baginya. Obito rasa sudah cukup untuk semuanya. Tidak perlu melihat perubahan besar di seluruh penjuru dunia seperti ekspektasi terbuang miliknya, hanya bagian kecil ini saja sudah lebih dari cukup menyelamatkan hatinya yang berlubang.

Melihat bagaimana kerja sama mereka. Melihat bagaimana ikatan yang terjalin di antara mereka. Bagaimana mereka tidak permah meninggalkan satu sama lain meski kehilangan nyawa adalah taruhannya. Dengan hanya melihat semua itu, lubang di hati Obito serasa telah terisi oleh ikatan mereka. Akhirnya ia bertemu dengan manusia yang masih memiliki kemanusiaan di dalam diri mereka masing-masing.

Peluru Sasuke terus melesat menembus gelombang ombak angin yang dahsyat meluap-luap. Hanya menunggu bagaimana ujung peluru tersebut menghujam kepalanya. Obito memejamkan kedua mata yang sudah lelah melihat kebusukan dunia di balik bayang-bayang kota.

"Sampai jumpa lagi di neraka, Naruto..." Ucap pelan Obito dengan sudut bibir yang tertarik ke atas membentuk sebuah senyum tipis.

"Yeahh..." Gumam Naruto membalasnya.

Pemuda itu mendengar dengan jelas bagaimana Obito menyebut namanya. Tanpa ada dendam, tanpa ada nafsu membunuh yang terselip dibaliknya, Obito menyebut namanya dengan senyuman tipis tersebut. Jiwanya telah terbebas dari belenggu dunia yang kejam ini. Mata kanan milik Naruto berdenyut setelah mengerahkan seluruh kekuatannya yang tersisa. Pembuluh darahnya pecah dan darah merah mulai mengalir jatuh melalui pipinya. Terlihat seolah Naruto menangis dengan darah itu.

JRRAAZZHHHTT...

Ujung peluru Sasuke berputar mengikuti porosnya dengan kecepatan penuh menembus kepala Obito. Pria berwujud setengah monster tersebut terhempas ke belakang. Naruto pun terdorong ke depan setelah mengerahkan segalanya ke dalam pukulan tersebut. Pemuda itu jatuh menyusur tanah sesudah kehabisan tenaga.

"Naruto-kun...!"

Dalam pandangan yang kabur, ia mendengar suara seorang gadis memanggil namanya. Dirinya sudah tidak kuat lagi untuk berdiri. Tubuhnya benar-benar babak belur. Rasanya ia ingin pingsan saja di tempat itu. Tetapi ia mendengar langkah kaki seseorang yang berlari menghampirinya. Entah mengapa serasa ada yang mengangkat kepalanya dan meletakkannya di suatu tempat yang sangat nyaman.

"K-Kita... Berhasil..." Ucapnya pelan sembari mencoba membuka kedua mata birunya untuk menatap seorang gadis manis yang sedang memangku kepalanya. Perlahan namun pasti, tetesan air mata gadis itu membasahi pipi lusuh Naruto.

"...Umh" Jawab Hinata dengan suara bergetar. Terlihat jelas betapa gadis itu mengkhawatirkan kondisi Naruto yang sudah babak belur. Melihat bentuk tangan kanannya saja Hinata sudah tak tega. Mungkin itu yang terakhir kalinya Naruto bisa menggunakan tangan kanannya.

"Akhirnya sudah berakhir." Kata Sasuke yang mendekati mereka berdua sembari menopang tubuh Sakura.

Perlahan Naruto merogoh saku celana dengan tangan kirinya. Bagaimanapun ia harus segera melaporkan misinya ini kepada markas. Tetapi sepertinya ia harus mengurungkan niatnya tersebut.

"Kuso..." Decihnya pelan setelah mengetahui bahwa ponsel yang ia simpan di saku celananya sudah remuk dan hancur tak bisa digunakan. Kemungkinan besar akibat rangkaian pertarungan hebat secara intensif yang hari ini ia dapatkan. Membuat ponsel tersebut berulang kali tertindih oleh beban tubuhnya.

Dari tebing dangkal di ujung sana, terlihat sebuah tangan yang berusaha menggapai tepian. Kakashi muncul dengan tubuh basah bersandar pada tepian tersebut setelah tercebur ke arah laut.

'Apa yang kalian lakukan hari ini sudah diluar ekspektasi yang terlintas. Semua rangkaian pengalaman akan menuntunmu untuk menjadi seperti apa dirimu di masa depan, Naruto.' Pikir Kakashi dalam hati saat melihat ke arah mereka.

"Hinata, lihatlah. Matahari terbenam memang indah..." Gumam Naruto yang melirik paparan pemandangan senja yang luar biasa di ujung kota.

"Umm... Sangat indah..." Jawab Hinata sembari mengusap sisa air mata yang menumpuk di pelupuk matanya.

Setidaknya hanya itu yang bisa Naruto lakukan untuk mengalihkan kekhawatiran Hinata terhadap kondisi tubuhnya yang mengenaskan. Hinata tersenyum menatap betapa indahnya senja mentari yang tenggelam. Tetapi Naruto tersenyum menatap wajah gadis yang baru saja menangis hanya karena melihat kondisinya tersebut.

'Mungkin saat itu, aku belum bisa mengatakannya dengan jelas. Tapi suatu saat nanti... Aku akan mengatakannya padamu. Aku ingin berbagi kisahku bersamamu.'

Dengan tatapan sayu Naruto memandangi wajah gadis itu. Seakan ia tak pernah bosan memandangnya. Kini misi beratnya telah berakhir, namun akan ada misi-misi lain yang mungkin lebih gila daripada semua ini. Demi bisa melindungi Hinata, ia harus tetap bergabung dengan pasukan Anti Bio-Terrorist Unit dan melenyapkan semua bahaya dari balik bayangan.

Dalam kepalan tangannya, ia membawa mimpi dan takdir dunia yang Obito titipkan kepadanya. Ia harus menjadi lebih dan lebih kuat lagi untuk mampu melindungi orang-orang terdekatnya. Jangan sampai ia merasakan kembali bagaimana kengerian yang terjadi di sekolah Konoha Gakuen terulang kembali.

Untuk sebentar, mereka melihat pemandangan lautan dari ujung kota sebelum memutuskan kembali ke markas. Sudah hampir sebulan berjalan semenjak kota Konoha dan seluruh jepang hancur tersapu oleh pandemik ganas. Selama itu, hanya jerit kesakitan dan keputusasaan yang mereka rasakan. Tentu, mereka tak mau melepas pemandangan yang sangat indah ini begitu saja. Setidaknya itu bisa mengobati hati dan mental mereka yang sudah lelah melawan kengerian yang ada.

.

.

.

.

.

.

.

Empat hari berlalu semenjak Naruto berhasil menjatuhkan Uchiha Obito. Ia dirawat di salah satu ruang bandara yang telah dijadikan markas pusat sementara. Hampir seluruh lukanya telah pulih dan membaik, kecuali tangan kanannya. Hanya pada bagian itu luka terparah yang pernah ia miliki. Hampir seluruh tulang tangan kanannya remuk. Kini tangan kanannya dibalut perban dan gips untuk membantu proses penyembuhan.

Ketika Naruto perlahan membuka kedua matanya, ia langsung familiar dengan ruangan ini. Ruangan yang sama ketika ia dirawat oleh karena menderita luka-luka semenjak misi pertamanya untuk menemukan Sona. Ditengah lamunannya, tiba-tiba ia mendengar suara ketukan pintu, lalu seorang perawat dari pasukan khusus masuk menemuinya untuk melakukan pemeriksaan.

"Selamat pagi Namikaze-kun. Bagaimana keadaanmu..?" Tanya wanita paruh baya tersebut setelah duduk di tepian ranjang.

"Aku... Ingin makan ramen." Jawabnya setengah melamun karena bosan terkurung di ruangan ini terus-menerus. Membuat perawat itu terkikik geli mendengarnya.

"Tenang saja. Mungkin ini akan menjadi pemeriksaan terakhirmu. Kau benar-benar pulih dengan cepat. Normalnya butuh waktu pemulihan sekitar dua hingga tiga bulan ketika tubuh manusia mendapatkan stress seberat itu. Hampir seluruh otot tubuhmu robek akibat melakukan pergerakan yang keluar jauh dari batasnya. Tetapi tubuhmu hanya membutuhkan empat hari untuk pulih seutuhnya. Itu luar biasa bukan?" Ujar perawat tersebut menjelaskan dengan sumringah mengenai regenerasi sel tubuh yang luar biasa milik Naruto sembari memeriksa menggunakan stetoskop yang ia bawa.

Naruto hanya terdiam mendengar cerita tersebut. Membiarkan perawat itu memeriksa seluruh tubuhnya. Entah apa yang harus ia rasakan. Meski memiliki regenerasi sel tubuh yang luar biasa sekalipun, tidak ada gunanya jika itu membunuhmu perlahan dari dalam. Naruto ingin sekali tersenyum mendengar hal baik yang perawat itu sampaikan kepadanya. Tetapi hanya sebuah senyum kecut yang mampu ia perlihatkan.

"Apa aku bisa keluar ruangan sekarang..?" Tanya Naruto setelah perawat tersebut selesai memeriksa tubuhnya menggunakan stetoskop. Ia mulai memposisikan tubuhnya yang terbaring untuk duduk.

"Eeehh...? Kenapa terburu-buru? Apa Namikaze-kun sudah bosan denganku...?" Tanya perawat itu dengan raut wajah sedih. Mendengar itu Naruto sontak terkejut dan jadi salah tingkah.

"Bu-Bu-Bukan begitu! Aku tidak bermaksud untuk..."

"Pffftt..."

Perawat itu terlihat sedang menahan tawanya setelah berakting memelas di hadapan Naruto. Mendapati wajah putra Namikaze Minato yang memerah salah tingkah sangat menyenangkan baginya. Meski sudah menyelesaikan dua misi dengan level neraka seperti itu, tapi Naruto ternyata masihlah pemuda yang polos tentang wanita.

"M-Maaf Namikaze-kun. Aku hanya bercanda." Ujarnya meminta maaf. Seketika Naruto memasang wajah sweatdrop setelah ia tahu bahwa dirinya sedang dipermainkan oleh seorang wanita paruh baya.

"Tentu kau boleh keluar ruangan. Tapi kuharap jangan lakukan hal ceroboh yang bisa memperparah tangan kananmu, ya."

"A-Aku mengerti." Jawab Naruto masih dengan wajah sweatdrop miliknya.

"Yosh. Kalau begitu aku pamit dulu. Semoga harimu menyenangkan, Namikaze-kun!" Ucap perawat itu sembari mengelus-elus kepala Naruto. Lalu ia pun berbalik pergi dengan aura berbunga-bunga di sekitarnya.

'Sepertinya harinya yang jauh lebih menyenangkan.' Ungkap Naruto mendengus dalam hati.

Dengan masih menggunakan piyama pasien, Naruto bergegas meninggalkan ruangan tersebut. Langkah kaki itu memandunya untuk lekas menemui seseorang. Bila dirinya dirawat pada ruangan yang sama seperti waktu itu, pasti ruangan di mana Sona dirawat tetaplah sama.

Melewati berbagai koridor bandara yang panjang, akhirnya Naruto sampai ke salah satu ruangan tersebut. Dan kebetulan, Hashirama sedang berdiri di depan pintu di mana Sona tengah terbaring beristirahat.

"Etto... Bagaimana keadaannya..." Tanya Naruto dengan suara pelan, namun masih cukup terdengar oleh pria bertubuh tinggi besar di sampingnya.

"Dia menderita empat patah tulang rusuk dan patah tulang persendian lengannya. Butuh waktu yang sangat lama baginya untuk pulih seratus persen. Kemungkinan empat sampai enam bulan. Jadi untuk sementara waktu, dia tidak bisa menjalankan misi bersamamu." Ucap Hashirama menjelaskan bagaimana keadaan Sona saat ini.

Terlihat jelas bagaimana raut wajah sedih Naruto dikala mendengar kabar itu. Luka yang diterima Sona mungkin tidak separah luka yang ia terima. Namun bagaimanapun juga, gadis itu hanyalah manusia normal seperti pada umumnya. Butuh waktu yang cukup lama bagi sel-sel tubuhnya untuk beregenerasi dan menyembuhkan diri. Tanpa pikir panjang Naruto segera membungkuk di samping Hashirama.

"Aku benar-benar minta maaf. Jika saja aku mampu melindunginya..." Ujar Naruto setelah pemuda itu membungkuk.

Hashirama melirik apa yang Naruto lakukan. Sifatnya begitu murni, sama seperti ayahnya. Pria paruh baya bertubuh besar itu lalu merubah posisinya untuk menghadap sejajar ke arah Naruto.

"Dalam menjalankan sebuah misi, bagi seluruh personel yang terlibat tentu selalu ada resiko tidak bisa kembali ke markas dengan selamat. Mendapati kalian bisa kembali hanya dengan luka seperti ini, itu sudah lebih dari cukup bagiku. Jangan berpikir bahwa semuanya adalah salahmu. Jadi angkatlah kepalamu." Kata Hashirama mencoba menenangkan kegundahan hati pemuda berambut kuning itu. Mendengar perintah tersebut, Naruto mulai menegakkan kepalanya kembali.

"Tapi... Rasanya, aku ingin tahu secara langsung apa alasan Anda menerjunkan kami berdua yang jelas-jelas masih amatir untuk menjalankan misi yang sangat sulit." Tanya Naruto dengan nada pelan sembari menengok sosok Sona yang terbaring istirahat di dalam ruangan.

"Akan sangat sulit bagimu untuk mengerti rumitnya alasan yang akan kukatakan." Ucap Hashirama masih belum memberikan jawabannya.

"Meski begitu, aku masih ingin mengetahuinya. Apapun alasan yang akan Anda berikan, tetap tidak akan merubah jalan hidupku untuk tetap menjadi bagian dari organisasi ini." Ungkap Naruto langsung ke inti pembahasan tanpa basa-basi.

Sejenak Hashirama menengok ke arah putrinya yang tengah terlelap beristirahat. Ia masih ingat bagaimana pertama kali mengadopsi Sona. Dalam suatu misi penanggulangan terorisme, organisasi ini terlibat kontak tembak dengan beberapa teroris yang menyergap sebuah pulau pribadi milik orang-orang kaya. Penyerangan teroris tersebut bermaksud menguras habis seluruh harta para orang kaya untuk mendanai aksi terorisme yang lebih besar.

Lalu di sanalah organisasi ini bertindak. Dengan mengerahkan kekuatan penuh, organisasi ini mampu melumpuhkan seluruh teroris tersebut setelah kontak senjata terjadi. Keberhasilan misi pun diraih. Namun... Dalam kontak senjata yang sempat terjadi, kedua orang tua kandung Sona menjadi korban. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, orang tua kandung Sona yang juga sahabat Hashirama berpesan kepadanya untuk membesarkan Sona seperti anaknya sendiri. Di situlah awal mula Hashirama mengadopsi gadis tersebut.

"Sistem kerja organisasi ini sedikit berbeda dari sistem militer pada umumnya. Ketika menjalankan sebuah misi penting, kami terjun dengan kekuatan penuh. Itu artinya, aku terjun kelapangan bersama dengan personel-personel terpilih terbaikku. Berbeda dengan sistem kerja kemiliteran, kami menjalankan misi untuk memastikan seratus persen keberhasilan. Karena sistem yang seperti itu, organisasi ini hampir tidak pernah gagal dalam menggagalkan aksi terorisme yang menggunakan akan membuat senjata biologis." Tutur Hashirama apa adanya tanpa menutupi sesuatu.

"Tetapi ketika Minato meninggalkan kursinya, kami memiliki lubang di satu titik, dan Obito memanfaatkan lubang itu dengan sangat baik. Alhasil mereka menyerang melalui titik buta kami tersebut dan melancarkan serangan di tengah kota. Setelah bencana itu terjadi, kami sama sekali tidak bisa berbuat banyak akibat dari ganasnya penyebaran senjata biologis yang Obito ciptakan. Kami mengerahkan kekuatan penuh demi mengambil lagi kota Konoha yang telah runtuh, di situlah kami kembali menemukan sebuah lubang. Kami dalam keadaan darurat dan kekurangan personel untuk menangkap Uchiha Obito. Dan dari situlah aku menemukanmu. Aku melihat masa depan ada bersamamu. Lalu aku mulai percaya bahwa kau dan Sona mampu mengisi lubang tersebut."

Hashirama pun menutup cerita panjangnya. Meski tidak sedetil yang Naruto perkirakan, tetapi kini ia mulai paham mengapa Hashirama menerjunkan bocah ingusan untuk menjalankan misi yang sangat berbahaya. Jika dilihat dari sisi manapun hal itu tetaplah tidak masuk akal. Tetapi mata seorang Hashirama tidaklah salah. Dia benar-benar melihat masa depan ada pada genggaman Naruto. Hashirama dapat melihat bakat yang terpendam di dalam diri pemuda tersebut. Gen yang sangat khas dari Uzumaki Kushina dan Namikaze Minato ada dalam dirinya.

"Aku tidak begitu mengerti dengan pasti. Tapi aku mulai paham tentang apa yang Anda pikirkan." Gumam Naruto pelan namun masih dapat terdengar jelas oleh Hashirama.

"Segera kemasi barangmu. Kau akan diterbangkan ke markas pusat untuk menjalani serangkaian pemeriksaan mengenai virus yang ada di dalam tubuhmu. Mungkin mereka akan menggunakan labku. Karena peralatan yang ada di sini masih belum cukup memadai untukmu." Perintah Hashirama.

"Baik..!" Naruto mengangkat tangan kanannya untuk memberi hormat seperti seorang kader militer.

Sementar itu di tempat parkir bandara yang saat ini menjadi markas sementara organisasi rahasia Konoha, Sasuke melamun menatap senjata laras panjang yang ia pegang. Rasanya cukup mengerikan bocah seperti dirinya selalu meneteng senapan yang biasa digunakan oleh pasukan khusus Inggris tersebut. Ia sempat berpikir bahwa mungkin dirinya sudah tidak membutuhkan senjata mengerikan ini lagi.

"Meski aku tetap membawa senjata ini ke manapun aku berada, pasti suatu saat aku akan ditangkap oleh aparat. Lagipula kami sudah aman berada di dalam perlindungan organisasi itu. Jadi... Seharusnya aku sudah tidak memerlukan ini lagi." Ucap Sasuke sendirian di tempat parkir bawah tanah tersebut.

Pemuda berwajah datar itu lalu mulai melangkahkan kedua kakinya. Berjalan menuju ke pintu masuk bandara tidak jauh di depan. Tetapi sembari berjalan, ia memasukkan senapan runduknya itu ke dalam tong sampah di dekatnya. Tanpa amunisi, benda itu sudah tidak ada gunanya lagi. Begitu pikirnya.

Sasuke terus berjalan tanpa beban pikiran. Semua alasan untuk membuang senjata tersebut sangatlah rasional. Tanpa surat ijin kepemilikan senjata, ia bisa saja ditangkap oleh para aparat karena salah paham. Sasuke tak ingin mengambil resiko yang sangat merepotkan seperti itu. Namun setelah beberapa langkah ia berjalan dan hampir mendekati pintu masuk bandara, seseorang dari balik bayangan muncul dan menghentikan langkahnya.

"Kehabisan peluru bukan berarti benda ini sudah tidak lagi berguna untukmu. Cobalah gunakan otakmu dengan baik. Jika tidak berguna lagi di masa ini, mungkin akan berguna di masa yang akan datang." Ucap seorang pria yang muncul dari balik kegelapan tersebut sembari menyodorkan kembali senjata yang telah Sasuke buang.

Namun justru kehadirannya membuat Sasuke sangat tercengang. Kedua matanya membulat ketika mengetahui siapa sosok pria tersebut. Sudah begitu lama ia tidak bertemu dengannya, dan Sasuke tidak menyangkan mereka akan bertemu di tempat ini.

"Cih... Aku tidak punya alasan lagi untuk tetap membawa benda itu." Jawab Sasuke dengan nada sarkas.

"Jika kau tidak punya sebuah alasan untuk tetap membawanya bersamamu, maka buatlah satu. Sama sepertiku yang membuat alasan untuk mengukir namamu di benda ini." Ucap pria tersebut sembari menunjukkan ukiran nama Sasuke yang ada pada gagang senjata itu.

Lagi-lagi Sasuke dibuat terbelalak mengetahui hal tersebut. Pantas jika ia merasa ada sesuatu yang kasar dan timbul setiap kali ia menggunakan senjata itu.

"Tapi... Mengapa..." Gumam Sasuke yang tidak tahu kenapa Itachi mengukir namanya pada gagang senjata tersebut.

"Itu hadiah ulang tahun dariku. Aku ingin memberikannya padamu langsung ketika singgah di mansion ayah. Tapi kejadian di Konoha memaksaku untuk pergi. Jadi, kusimpan hadiah untukmu di sana beserta surat-surat ijinnya." Ungkap Itachi menyerahkan hadiah darinya tersebut kepada Sasuke.

Tangan pemuda itu perlahan terangkat untuk mengambil senjata yang sempat ia buang tadi. Ia amati kembali senjata tersebut. Dan ternyata benar, begitu jelas namanya terukir di sana. Sesaat kemudian Sasuke terdiam seribu bahasa. Entah merasa senang ataukah marah, mendapatkan hadiah dari seorang kakak yang tega meninggalkan keluarganya. Bahkan di saat ibu dan ayahnya meninggal, ia tidak ada di sana. Apalagi yang Sasuke harapkan dari kakak seperti dia.

Tetapi... Sasuke juga tidak dapat mengabaikan rasa senang yang ada di hatinya. Setelah sekian lama terpisah oleh karena berbagai hal, kini mereka bisa bertemu kembali. Satu-satunya keluarga tersisa yang ia miliki di dunia ini.

"Ini mungkin sangat terlambat, tapi... Selamat ulang tahun, Sasuke." Ucap Uchiha Itachi dengan senyuman tipis.

Mendengar ucapan itu membuat Sasuke semakin tertelan oleh dilema. Ia benar-benar bingung harus berekspresi seperti apa. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi Itachi yang kini menjadi satu-satunya keluarga kandung yang ia miliki. Sasuke benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Tangannya hanya bisa terkepal menahan berbagai macam emosi yang meluap-luap di hatinya.

"Jika aku masih memiliki satu peluru... Pasti akan kutembakkan padamu." Gumam Sasuke pelan lalu ia lekas pergi dari sana. Namun Itachi masih dapat mendengarnya dengan jelas.

'Maaf untuk waktu yang tidak bisa kuputar kembali, Sasuke. Selama aku menjadi bagian dari bayangan, aku tidak bisa mendekati kalian. Aku tidak boleh bersama kalian. Aku tidak boleh bersamamu.' Kata Itachi dalam hati yang hanya bisa menatap punggung Sasuke dari kejauhan.

Ia sangat sadar akan konsekuensi menjadi seorang agen. Itachi bertanggung jawab penuh akan hal itu. Ia harus menjauh dari keluarganya agar keluarganya jauh dari bahaya. Menjadi seorang mata-mata bagaikan menjadi pisau. Dapat memotong apa yang ingin dipotong, namun dapat juga melukai anggota tubuh pemakainya. Tetapi Itachi tidak punya pilihan lain lagi. Ia mencintai negara ini, ia juga menyayangi adiknya.

.

.

.

.

.

.

Suasana di dalam lobi bandara selalu sepi bagai tanpa pengunjung. Dikarenakan para pengungsi tetap berada di tenda pengungsian mereka di luar. Tidak mudah untuk masuk ke dalam bandara di mana tempat organisasi rahasia Konohan bekerja. Tetapi sepertinya lobi merupakan tempat favorit Sakura dan kawan-kawan. Mereka selalu menghabiskan waktu untuk duduk kursi-kursi lobi yang kosong daripada berkumpul bersama para pengungsi lain. Lebih menyukai tempat yang lebih tenang merupakan alasan mereka untuk seharian membunuh waktu di sini.

"Kudengar mereka sudah seratus persen membersihkan seluruh kota. Dinding buatan juga sudah selesai terbuat untuk mencegah makhluk-makhluk itu masuk ke kota." Ucap Sakura membuka topik obrolan kepada teman-temannya.

"Kurasa kota ini dapat pulih dengan cepat. Lalu kita bisa menjalani kehidupan yang normal seperti biasa." Kata Kiba dengan perasaan optimis bahwa mereka pasti bisa merebut kembali kehidupan yang normal seperti sedia kala. Meski harus hidup di dalam dinding sekalipun, itu masih lebih baik daripada harus menjalani setengah hidup berhadapan dengan zombie-zombie yang haus darah.

"Lalu... Bagaimana kondisi Sona dan Naruto-kun...? Sudah empat hari ini kita belum melihat mereka sama sekali." Tanya Hinata dengan raut wajah khawatirnya.

Sudah empat hari berlalu semenjak mereka berjuang bersama untuk menghadapi Uchiha Obito di kota seberang. Tetapi mereka masih belum bisa bertemu dengan Sona maupun Naruto. Mengingat bahwa mereka berdua pulang dengan luka yang sangat parah, rasa khawatir Hinata tidak bisa lagi disembunyikan. Mendengar pertanyaan itu, Sakura dan Kiba menjadi diam. Tidak tahu harus berkata apa, karena informasi yang bisa mereka kumpulkan sangatlah terbatas.

"Naruto dan Sona pasti masih menjalani perawatan intensif setelah mendapat luka yang cukup parah. Setidaknya itu yang ada dipikiranku." Sahut seorang pemuda yang datang dari koridor basement lengkap dengan senjata laras panjang yang selalu ia bawa.

"Sasuke-kun!"

Sakura terlonjak dan berdiri mengetahui siapa yang datang ke arah mereka. Sudah sejak pagi Sasuke menghilang. Bahkan Sakura tak bisa menemukannya di tenda pengungsian manapun.

"Maaf, aku bertemu dengan seseorang tadi." Jawab pemuda itu singkat.

"Seseorang...?" Tanya Sakura penasaran tentang kata seseorang yang baru saja kekasihnya ucapkan.

"Tidak. Bukan siapa-siapa. Yang lebih penting sekarang, kita harus mempersiapkan diri untuk pulang. Para pasukan khusus itu telah menggunakan heat-scanning untuk memastikan bahwa seluruh penjuru kota ini telah bersih. Kemungkinan besar besok mereka akan melepaskan kita." Ungkap Sasuke menjelaskan.

"Kau benar. Tapi sebelum kita benar-benar pergi dari tempat ini, kurasa kita harus mengetahui bagaimana kondisi mereka berdua terlebih dahulu. Aku merasa benar-benar tidak bisa membiarkan mereka berdua begitu saja. Sebagai temannya, aku harus tahu keadaan Naruto." Ujar Kiba berpendapat.

Bersama-sama melewati hari bencana mengerikan saat itu dan berjuang untuk tetap hidup sampai detik ini, membuat Kiba tidak bisa pergi menjalani kehidupan normal yang menunggunya begitu saja. Meski mereka berempat akan bisa menjalani kehidupan yang normal seperti sedia kala, namun Kiba menyadari bahwa setelah bergabung dengan organisasi rahasia ini, kehidupan yang menanti Naruto dan Sona akan sangat jauh berbeda. Kedua temannya tersebut tidak akan bisa menjalani kehidupan yang normal seperti mereka. Kiba mendapat firasat bahwa mereka tidak akan bisa bertemu kembali. Jadi setidaknya, ia harus bertemu dengan mereka untuk yang terakhir kalinya.

"Jika begitu maka kita harus bergegas mencari informasi lebih dalam mengenai mereka berdua. Bisa jadi, ini kesempatan terakhir kita." Kata Sasuke setuju dengan Kiba.

Hinata berdiri dari tempat duduknya dan mengangguk setuju. Baginya, sangat sulit melepas Naruto dari kehidupannya. Sangat sulit hidup berjauhan dari pemuda berambut kuning itu. Bagaimanapun juga, ini adalah kesempatan terakhir mereka untuk dapat bertemu. Setelah itu, kemungkinan besar mereka akan menjalani kehidupan yang terpisah. Meski Hinata tidak ingin alur cerita yang seperti itu, ia tidak memiliki kekuatan apapun untuk mengubah segala sesuatunya. Meski hatinya sakit untuk berpisah, namun ia hanya bisa pasrah dengan takdir yang ada. Jika bertemu nanti, Hinata ingin mengungkapkan perasaan yang sudah begitu lama ia pendam. Hinata berharap untuk bisa bertemu dengan pemuda tersebut untuk yang terakhir kalinya.

.

.

.

.

.

.

Sementara itu jauh di atas mereka, lebih tepatnya di lantai atap bandara, seorang pria berambut kuning bersandar pada pagar pembatas. Deru hembusan angin yang lembut menyeka rambut kuningnya yang khas. Kedua manik biru itu terus memandangi para pengungsi yang akhirnya bisa mendapat kebebasan mereka kembali. Tidak lama berselang, terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Tanpa menoleh ia pun segera tahu bahwa Hashirama datang kemari untuk sekedar menemuinya.

"Sesuai dengan kesepakatan kita. Tugasku telah berakhir." Ucap Namikaze Minato tanpa menunggu sapaan dari sahabatnya.

"Yah... Memang sangat disayangkan. Tapi aku adalah orang yang selalu menghormati kesepakatan yang telah aku buat. Aku akan menghargai apapun pilihan yang kau pilih." Balas Hashirama tersenyum setelah menghela nafas yang sangat berat. Ia berusaha untuk menutupi rasa kecewanya.

"Pilihanku tidaklah berubah. Lagipula, aku sudah mengerahkan semua yang aku bisa untuk kota ini. Semua rencanaku untuk pemulihan kota sudah kuserahkan padamu. Aku hanya ingin pensiun dengan tenang dan menemani istriku. Hal yang tidak bisa kulakukan sejak dulu." Minato mengungkapkan pendapat pribadinya.

Bekerja bersama organisasi Anti Bio-Terrorist Unit, ia dapat menyelamatkan ribuan nyawa penduduk di seluruh penjuru Jepang. Tetapi harga yang harus ia bayar adalah tidak bisa menghabiskan waktu bersama keluarga yang ia cintai sebagai seorang ayah. Tentu harga yang tidak bisa dihitung dengan rumus matematika manapun. Dilema Minato akan hal tersebut memaksa dan membuatnya harus memilih sebuah pilihan yang sangat teramat sulit.

Namikaze Minato, seseorang yang sangat mencintai negaranya. Mencintai tanah airnya. Mencintai kota di mana ia dilahirkan. Di satu sisi, ia juga seorang ayah yang sangat menyayangi keluarganya. Entah sudah berapa waktu yang terbuang baginya untuk mengabdikan diri melindungi seluruh penjuru Jepang. Minato terlupa bahwa keluarganya juga membutuhkan kehadirannya di tengah-tengah mereka. Ia tidak tahu apakah pilihannya dahulu ada benar atau salah. Tetapi saat ini, hatinya sudah yakin bahwa yang dibutuhkan keluarganya bukanlah seorang pahlawan terkenal, Melainkan hanya seorang ayah yang melindungi dan menaungi keluarganya

"Sejujurnya aku sempat membayangkan. Aku memimpin divisi satu, divisi kontak fisik. Kushina berada pada divisi dua, divisi farmasi dan penanggulangan senjata kimia serta radio-aktif. Lalu kau tetap berada di Divisi Tiga, divisi inteligensi yang berperan menjadi otak organisasi ini. Aku membayangkan bagaimana organisasi ini menjadi tak terkalahkan." Gumam Hashirama bercerita tentang apa yang ia pikirkan.

"Setidaknya kami pernah berjuang di sisimu. Itulah yang terpenting." Ujar Minato tenang tetap pada pendiriannya. Membuat Hashirama tertawa sebentar sesaat setelah mendengarnya.

"Minato. Aku tetap akan melindungi penduduk, kota dan negara ini, semampu yang aku bisa. Terima kasih sudah menghabiskan sebagian waktu kalian untuk membantu kami. Aku sangat menghargainya." Ucap Hashirama sembari menyodorkan tangan kanannya kepada sahabatnya itu. Lalu Minato pun menjabat tangan Hashirama.

"Aku harus segera pergi. Helikopter sudah menunggu kami." Kata Minato sebelum berpaling meninggalkan Hashirama.

Dalam perjalanan menuju ke pintu lantai atap bandara, Minato melihat seorang gadis pirang membuka pintu tersebut dan berjalan kemari. Mungkin ingin menemui Hashirama, pikirnya.

'I-Itu Ayahnya bocah jabrik tengil..!' Pekik gadis tersebut heboh dalam hati.

Tidak menyangka akan berpapasan dengan ketua Divisi-3, Yamanakan Ino langsung berhenti sejenak dan menegakkan postur tubuhnya sembari memberi hormat. Mendapati perlakuan bagai masih menjabat ketua Divisi-3, Minato pun ikut berhenti sejenak sembari melempar senyuman hangat untuk gadis tersebut.

"Semoga hari menyenangkan." Kata Minato sembari menepuk pundak gadis tersebut sebelum ia melanjutkan langkahnya pergi dari sana.

"B-Baik..!" Jawab Ino dengan terbata sambil menatap punggung Minato yang akhirnya menghilang di balik pintu atap. Aura dan kharismanya benar-benar berbeda dari orang lain pada umumnya, begitu pikir Ino.

Tersadar dan teringat dengan maksud kedatangannya kemari, Yamanaka Ino bergegas menemui Hashirama di dekat pagar pembatas atap bandara.

"Personel Yamanaka Ino dari regu tim delapan, datang untuk melapor!" Tegasnya lengkap dengan hormat kepada atasannya tersebut.

"Syukurlah kalian dapat kembali kemari dengan selamat. Meski markas telah menerima laporan dari Sona dan Naruto tentang kondisi di Gunjanjima, tapi tak kusangka akan seberbahaya itu. Akulah yang salah perhitungan." Jelas Hashirama yang seakan sudah tahu pasti apa yang ada dipikiran salah satu personel kesayangannya itu.

Sikap disiplin penuh yang ada pada diri Ino pasti membuat gadis itu akan menyalahkan dirinya sendiri atas kegagalan misi yang ia jalankan. Dapat dengan mudah menebaknya, Hashirama memutar kata-kata agar gadis tersebut tidak terlalu dalam menyalahkan diri sendiri atas kejadian ini.

"A-Aku... Minta maaf atas kegagalan misi kami. Jika saja aku lebih mampu memimpin timku, mungkin..."

Kalimat Ino terhenti bersamaan dengan rasa sesak yang membuncah di lubuk hatinya. Sebagaimanapun ia telah terlatih secara ketat, tetap saja tidak bisa menggantikan fakta dasar bahwa dirinya adalah seorang gadis belia. Ino tidak mampu menutupi rasa kekecewaan atas kegagalannya menjalankan misi yang telah dipercayakan markas kepadanya.

"Hashirama-taichou... Tanpa mengurangi rasa hormat aku meminta untuk, memberhentikanku menjadi kapten regu tim delapan. Kegagalan misi ini adalah bukti bahwa aku belum mampu untuk membuktikan ekspektasi dari organisasi." Ucapnya dengan kedua mata terpejam erat menahan rasa kecewa yang teramat berat. Sebagai seorang yang memiliki disiplin tinggi, ia menyadari akan kekurangan dirinya.

"Sangat disayangkan. Tapi sepertinya aku tidak boleh memaksakan kehendakku lebih dari ini. Kami memilihmu menjadi seorang kapten sebuah tim berdasarkan kemampuan akademis serta ketenangan untuk mengambil keputusan tertepat. Apa boleh buat..." Ujar Hashirama memberikan jawabannya.

Menurutnya, seorang Yamanaka Ino merupakan sosok yang bisa menjadi pemimpin sebuah tim khusus berdasarkan ketepatannya mengambil keputusan-keputusan rumit dengan berbagai kondisi di lapangan. Itulah syarat dasar menjadi seorang kapten. Bukan hanya menuntun seluruh anggota timnya meraih keberhasilan, tetapi bagaimana memberi keputusan yang tepat agar tidak ada satupun dari anggota timnya yang gugur saat menjalankan misi di lapangan. Namun sifat seorang Hashirama yang adil membuatnya tak bisa memaksakan kehendaknya terhadap gadis tersebut. Meskipun matanya tak pernah salah menilai masa depan seseorang.

"Terima kasih banyak, Hashirama-taichou!" Pekik gadis berambut pirang tersebut sembari membungkuk setelah permintaannya dikabulkan oleh orang nomor satu di dalam organisasi rahasia kota Konoha ini.

"Tetapi, bagaimanapun, aku ingin tahu siapa sebenarnya personel bernama Nara Shikamaru yang sempat berada di dalam timku. Wajahnya sangat asing di markas ini. Bisakah Anda memberitahu siapakah dia sebenarnya? Karena kupikir, sepertinya dia tahu banyak lebih dari yang kuketahui tentang seluruh perkembangan di dalam markas." Tanya Ino dengan raut wajah yang sangat penasaran. Atau bahkan mungkin raut wajah yang mencurigai tentang seorang personel yang baru ia ketahui ada dalam bagian organisasi ini.

"Ah... Shikamaru kah..." Kata Hashirama sambil memejamkan matanya bersidekap setelah mendengar pertanyaan sulit tersebut.

"Bagaimanapun... Aku ingin tahu... Karena dia terlanjur terlibat denganku di misi yang sama. Terlebih lagi, sikap dan pengetahuannya sangat mencurigakan." Imbuh gadis itu lagi.

"Yah, kurasa tidak ada yang dapat mengalahkan rasa ingin tahu manusia. Baiklah, aku akan memberitahu hal ini padamu. Tapi kau juga harus tahu bahwa informasi ini sangat bersifat rahasia. Hanya akan ada segelintir orang di dalam organisasi ini yang mengetahuinya." Jawab Hashirama dengan nada memperingatkan.

"Roger! Aku akan bertanggung jawab penuh tentang informasi itu." Lagi-lagi Ino mengangkat tangannya memberi hormat.

"Personel Nara Shikamaru adalah keberadaan yang seperti Sona dan Naruto. Dia adalah kader rahasia yang didik langsung oleh mantan ketua divisi inteligensi, Namikaze Minato. Tentu tujuan utama kami adalah memposisikannya sebagai pengganti Minato di Divisi Tiga. Tetapi dirinya masih dalam proses didik dengan sistem yang ketat. Alasan keterlibatannya dalam misi di Gunkanjima adalah untuk mengenalkan padanya kondisi di lapangan. Karena Shikamaru selalu dilatih secara terpisah di dalam markas Divisi Tiga. Kami harap misi tersebut memberinya cukup pengalaman. Itulah alasan mengapa pengetahuan seorang personel Nara Shikamaru harus di atas semua personel yang ada di dalam organisasi ini." Jelas Hashirama lanjang lebar kepada gadis tersebut.

"Ternyata begitu..."

Entah mengapa Ino mulai paham bagaimana alur kondisi yang sebenarnya. Setidaknya rasa penasaran yang menjadi kegundahan di hatinya telah hilang atas penjelasan Hashirama. Tanpa mengetahui kebenaran tersebut, Ino memiliki firasat buruk tentang Shikamaru dengan pengetahuannya itu. Dapat mengetahui tentang informasi siapa Naruto yang sangat rahasia, Bisa saja pemuda berambut nanas itu adalah musuh dibalik selimut yang sedang menyamar masuk ke dalam tubuh organisasi, begitu pikirnya. Namun kini sepertinya semua sudah jelas di matanya. Tidak perlu ada kecurigaan yang berarti lagi.

". . ."

"Hashirama-taichou..." Panggil gadis pirang itu dengan ragu-ragu.

"Tidak apa-apa jika masih ada yang ingin kau tanyakan." Jawab singkat pria paruh baya yang ada di hadapannya.

Untuk sesaat, Hashirama melihat ada yang ditutup-tutupi oleh gadis tersebut. Terlihat dari keraguannya untuk memaparkan apa yang ingin dia sampaikan. Tidak lama kemudian, kembali Ino meletakkan lima jari tangannya di atas pelipis dalam sikap hormat.

"Hashirama-taichou! I-Ini mungkin sedikit egois. Tapi permintaan terakhir ini juga termasuk dari maksud kedatanganku kemari. E-Etto... Hashirama-taichou... I-Ijinkan aku bekerja di tim yang sama dengan personel Namikaze Naruto!"

"...Ehh?"

.

.

.

.

.

.

.

THE PLACE OF HOPE

.

Chapter 24

Genre : Horror, Adventure, and Gore

.

.

.

.

.

.

Baling-baling sebuah helikopter yang akan terparkir di ujung lintasan lepas landas bandara mulai berputar. Menandakan mesin heli tersebut sudah dinyalakan dan bersiap untuk beroperasi kembali. Deru suara mesin baling-baling tersebut sangatlah bising dan memekakkan gendang telinga. Namun hal itu bagai tak menjadi suatu masalah bagi Minato. Ia berlari kecil ke arah helikopter tersebut, dan disambut oleh beberapa personel bagian penerbangan.

"Maaf sudah menunggu lama. Bagaimanapun aku harus berpamitan kepada sahabatku yang keras kepala itu." Ucap Minato setelah masuk dan duduk di dalam heli. Ia duduk tepat di samping seorang wanita berparas menawan dengan usia paruh baya.

Wanita tersebut melemparkan sebuah senyum tipis dan mengangguk pelan. Tanda bahwa dia bisa mengerti meski harus menunggu cukup lama di dalam heli ini. Mereka berdua mulai memakai penutup telinga yang ada demi melindungi stress pada gendang telinga mereka dari desingan keras suara mesin serta baling-baling.

"Sebaiknya kau istirahat sejenak. Aku tahu pasti di lab kau jarang tidur tepat waktu, ya kan?" Ujar Minato sembari menarik kepala wanita berambut merah di sampingnya itu untuk bersandar di bahunya.

Tanpa menolak, wanita tersebut menurut serta merasa nyaman dengan bagaimana perlakuan Minato terhadapnya. Sesaat setelah ia bersandar di pundak Minato, ia merangkai gerak jari-jarinya menjadi sebuah kode yang berkata, 'Kau juga pasti kurang tidur saat bekerja di sini.'

Melihat kode bahasa isyarat jemari istrinya tersebut, Minato terkikik geli. Lalu ia menangkap jemari-jemari Kushina itu, dan menggenggamnya dengan lembut. Seolah tak mau ia lepaskan lagi dari genggamannya.

"Beristirahatlah sejenak. Karena aku punya kejutan untukmu. Kau pasti akan senang." Ucap Minato dengan nada lembut kepada istrinya yang tersayang.

Kushina hanya melirik Minato sebentar sambil melempar senyuman kecilnya, sebelum akhirnya menutup sepasang mata hijau yang indah itu untuk beristirahat sejenak. Apa yang Minato ucapkan benar. Tubuhnya benar-benar lelah setelah bekerja di lab markas utama organisasi rahasia ini. Membuat campuran berbagai zat senyawa aktif yang mampu membekukan satu kota dan merubahnya menjadi bertekanan bagai cuaca bersalju seperti aslinya bukanlah pekerjaan yang mudah. Butuh banyak hal yang dikorbankan demi keberhasilan membuat senyawa seperti nitrogen cair itu. Mengorbankan waktu tidur dan istirahat adalah salah satu contohnya.

Tidak dapat Kushina bohongi bahwa tubuhnya sangatlah lelah diterjang pekerjaan terberat sepanjang hidupnya sebagai seorang ilmuan. Bersandar pada pundak suaminya adalah bagian terbaik dari yang bisa ia dapatkan setelah menyelesaikan semua yang bisa ia lakukan untuk negara ini. Pundak ternyaman yang pernah ia rasakan untuk melepas lelah. Sampai Kushina lupa tentang kata kejutan yang sempat Minato ucapkan. Tidak berselang lama Minato melihat seorang pemuda berlari kecil menuju ke arah heli. Langkahnya terburu-buru karena keterlambatannya.

"Maaf sudah menunggu lama. Mengganti pakaian dengan tangan dibalut gips seperti ini sangat merepotkan." Ucap pemuda berambut kuning itu sesaat setelah dirinya masuk dan duduk tepat di depan Minato dan Kushina.

"Jangan berisik. Kau bisa mengganggu tidur ibumu." Kata Minato untuk mengingatkan putranya.

"Ah.. maaf.." Gumam Naruto sesaat setelah terkikik pelan.

Namun dalam kondisi yang belum tertidur sepenuhnya, tentu Kushina sudah terlanjur mendengar bisik-bisik percakapan mereka berdua. Ditambah lagi, sudah lama ia tidak mendengar suara yang sangat familiar tersebut. Suara seseorang yang selalu ingin ia dengar setelah hari bencana terjadi. Suara seseorang yang selalu Kushina rindukan.

Mengusap sudut matanya yang hampir tertidur, Kushina menegakkan kepalanya dari pundak Minato. Rasa lelah di tubuhnya masihlah terasa. Pandangannya agak sedikit rabun ketika mencoba membuka kedua matanya perlahan. Istirahatnya tak nyenyak karena mendengar percakapan mereka. Sedetik kemudian, kedua mata itu membulat sesaat ia telah menyadari siapa sosok yang duduk tepat di hadapannya. Seorang pemuda berambut kuning yang juga tengah memandanginya bersama seulas senyuman.

"Selamat pagi, Ibu..."

Kushina sontak menutup mulutnya. Tak ada satupun kata yang keluar dari sana. Hanya rasa terkejut yang dapat ia rasakan. Kushina sama sekali tidak tahu apa yang harus ia lakukan setelah mereka berdua terpisah begitu lama. Air mata mulai terkumpul di sudut-sudut pelupuk mata indah miliknya. Bibirnya bergetar menahan emosi yang meluap-luap dari lubuk hatinya. Di hadapannya, sosok putra yang sangat ia rindukan benar-benar ada di sana. Naruto yang sangat ia rindukan kini tepat berada di hadapannya. Rasa senang, sedih dan bahagia bercampur aduk menjadi satu. Melihat Naruto memakai kemeja biru tua milik Minato dulu. Sangat persis seperti ayahnya, pikir Kushina.

Lama mereka berdua terdiam tanpa kata. Baik Kushina maupun Naruto tidak tahu harus berbuat apa. Karena sudah begitu lama mereka tidak dapat bertemu. Rasa rindu itu berkecamuk di dalam mereka. Hingga tanpa terasa Naruto merasakan panas di matanya. Air mata pemuda itupun jatuh.

'Ibu sangat merindukanmu...' Kushina merangkai sebuah bahasa isyarat untuk Naruto, sebelum akhirnya kedua tangan itu menarik kepala putranya untuk lebih dekat dengannya.

Tangis Kushina pecah. Ia sudah tidak bisa lagi menahan derasnya air mata itu. Semua air mata yang ia simpan untuk putranya yang tersayang tertumpah hari ini juga. Dengan dahi yang saling menempel, kedua tangan Kushina tak henti-hentinya mengusap pipi Naruto. Meraba wajah putranya yang kini beranjak dewasa tersebut.

"Aku juga merindukanmu, Ibu. Aku sangat merindukanmu." Ucap Naruto juga mengungkapkan kerinduannya untuk bisa bertemu dengan Kushina. Tangan kanan Naruto mengusap air mata yang tiada hentinya mengalir di antara pipi lembut ibunya.

Minato tersenyum melihat mereka berdua bisa bertemu lagi. Dirinya tahu bahwa dapat bertemu kembali dengan Naruto sudah seperti menjadi mimpi di tiap tidur Kushina. Ikatan mereka terjalin begitu dalam bahkan setelah hari bencana yang memisahkan mereka sekalipun. Pilihan Minato tidaklah salah. Ia makin yakin untuk pensiun dari hiruk-pikuk masalah yang ada dan memilih untuk menemani Kushina. Minato sudah tidak mau menukarkan kebersamaan keluarganya dengan apapun. Bagi Minato, mereka berdua adalah harta berharga yang harus ia jaga.

Pintu heli pun ditutup dan terkunci rapat. Baling-baling semakin kencang berputar. Helikopter tersebut mulai terbang melayang meninggalkan landasan. Mengantarkan keluarga pahlawan Konoha menuju ke markas pusat organisasi rahasia Anti Bio-Terrorist Unit.

.

.

.

.

.

The End...

.

.

.

.

THE PLACE OF HOPE

.

Chapter 24 (End) : "Bio-Terror"

Genre : Horror, Adventure, and Gore

Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

.

(Preview dari seri selanjutnya yang akan datang...)

.

.

.

"Setiap hari kau selalu datang ke apartemen ini hanya membuatkan kopi untukku. Kau seperti seorang istri saja."

"B-B-Ba-Baka! Apa yang kau katakan?!"

"Masih bersama Kami KRNTV. Saat ini kami akan meliput berita tentang pertemuan pers walikota Konoha beserta pidato yang akan beliau sampaikan."

"Lihatlah. Dia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik bukan?"

"Kurasa kau benar..."

"Hallo, dengan Uchiha Sasuke di sini... Apa...? ada apa dengan kantor pusat? Apa yang terjadi di sana...?"

"Cepat, berikan tanganmu!"

"Tolong! Tolong keluarkan aku dari sini! Aaarrgghhkk!"

"Sial... Apa yang sebenarnya terjadi di sini..."

"Aku Uchiha Shishui. Kau aman, untuk saat ini..."

"Sejujurnya aku tidak tahu pasti tentang apa yang terjadi. Tetapi, hal yang perlu kau ketahui adalah, tempat ini akan memakanmu bila kau tidak hati-hati."

"Kemarin aku mendapat telepon bahwa jadwalku dimundurkan sampai hari ini. Aku berharap dapat datang lebih awal."

"Kau sudah ada di sini Sasuke, itulah yang terpenting."

"Kita harus segera keluar dari sini dan membawamu ke rumah sakit."

"Tidak, Aku bukan prioritas di sini. Kau harus selamatkan Sakura. Kau harus selamatkan kota."

"Kita tidak punya waktu lagi. Aku tidak bisa meninggalkanmu begitu saja di sini."

"Aku bisa berjalan bersamamu, tapi itu hanya akan memperlambatmu. Selamatkan dirimu terlebih dahulu. Ini perintah dariku."

"Apa-apaan ini... Apa yang sebenarnya sedang terjadi..."

"Bukankah ini seperti kejadian di Konoha tujuh tahun yang lalu..."

"Naruto, aku mengerti apa yang kau rasakan. Tapi kita masih belum sampai di titik yang sudah ditentukan. Jadi jangan lakukan hal bodoh seperti mencoba melompat dari helikopter!"

"Target terlihat. Aku sedang dalam pengejaran!"

"Sakura, kau baik-baik saja?!"

"Aku baik-baik saja, tapi di dalam sana masih banyak yang belum di evakuasi!"

"Sasuke, aku mengerti apa yang kau rasakan, tapi tahan emosimu! Kami membutuhkan banyak informasi darinya!"

"Bagaimana bisa aku diam saja ketika dia membuat puluhan rekanku terbunuh!"

"Aku juga kehilangan lebih dari dua ribu penduduk Konoha karena ulahnya!"

"Itu misimu, Naruto! Bukan misiku!"

"Persetan, Sasuke!"

(Author will be back as soon as possible, see yaa in the next series)