THE ANOTHER BLACK

Disclaimer: I do not own Twilight and anything related...


set 5 years after The Battle with Volturi, December 2006

now is 2012...


.

Dua - Sea Tac

Monday, December 17, 2012

1:14 AM


"Jadi, apa masalahnya?" Seth bertanya dengan nada kasual, hampir bosan, hampir tidak peduli, seraya memandang ke luar jendela, mengamati lalu lintas Seattle yang macet. Saat itu sudah melewati tengah hari, jam makan siang, dan lalu lintas ke Bandara SeaTac yang biasanya juga sudah tidak menyisakan ruang bagi kedamaian hati pun makin menekan. Dan di sanalah dia, terperangkap di dalam Rabbit, di samping Jacob yang sejak dua jam lalu terus menggerutu dan meneriakkan kata-kata makian.

"Jalan, Brengsek!" teriak Jacob pada mobil di depannya, yang masih saja membeku walau lampu merah sudah berubah hijau. Tak sabaran ia memencet klakson keras-keras. Si pengendara menjulurkan kepala dari jendela, jelas merasa terganggu, dan mengacungkan jari tengahnya. Jacob balas mengacungkan jari tengahnya sembari melotot. Mungkin si pengendara merasa tak ada gunanya melawan orang emosi di tengah kemacetan, atau takut melihat orang besar yang jelas-jelas tidak bisa mengendalikan amarah melotot padanya, ia pun menyerah, dan bergerak mengejar lalu lintas.

"Wow, easy, Dude..." kata Seth menenangkan, agak mengkeret melihat sahabatnya marah. "Kita tidak ingin ada serigala raksasa mendadak meledak dari dalam Rabbit, di tengah kemacetan Seattle kan?"

"Yah," mau tak mau Jacob setuju, berusaha keras meredakan emosinya dengan menggeleng-gelengkan kepala kuat-kuat dan memejamkan mata rapat-rapat. Apapun perasaannya saat ini, ia tak mau ada kejadian yang lebih parah daripada insiden tempo lalu, ketika Brady yang marah akibat diputuskan kekasihnya mendadak meledak di Port Angeles dan lari melintasi jalan raya yang padat kendaraan. Untung saja ia tidak meledak di tempat umum, sehingga tidak ada orang yang melihat secara langsung transformasi tersebut. Tetapi tetap saja, rumor mengenai serigala yang lepas dari kebun binatang, atau serangan serigala, dan macam-macam lagi, merajalela selama berminggu-minggu, bahkan bulan. Lagi-lagi Charlie harus memimpin ekspedisi pencarian binatang buas, kali ini lebih sulit karena ia harus berpura-pura serius sementara menghapus jejak apapun yang mungkin menunjukkan keberadaan serigala liar di Forks. Divisi Penangkaran Binatang dipanggil, demonstrasi terjadi di mana-mana antara kelompok pro-pemburuan dan kelompok pecinta lingkungan, masyarakat panik. Dewan Suku marah besar. Dan Jacob terpaksa memberikan detensi selama tiga bulan penuh pada si serigala remaja malang yang tengah patah hati.

Tidak ada anak remaja normal yang bisa menahan amarah dengan sempurna, tapi dengan aliran darah Taha Aki di nadimu, itu adalah kutukan, selamanya bahkan.

Yah, baginya, memang itu adalah selamanya.

"Kau tahu, Dude," kata Seth lagi, kali ini berusaha menampilkan ekspresi agak peduli pada satu-satunya masalah yang dari tadi diceritakan Jacob sejak mereka memasuki mobil, "Seharusnya ini bukan masalah besar kan? Adik perempuan yang tidak pernah kautahu tiba-tiba akan pulang ke rumah. Seharusnya itu anugerah, kan?"

"Anugerah?!" Jacob setengah berteriak, sebelum menyadari emosinya meninggi dan berusaha mengontrolnya lagi. "Apa maksudmu anugerah?"

"Yah," Seth menelan ludah, berusaha memikirkan kata-kata yang tepat. "Seorang adik yang manis, muncul begitu saja entah dari mana, yang bisa kausayangi dan... "

"Astaga, Seth! Apa kau tidak bisa berhitung?!" teriak Jacob tak sabaran. Seth mengkeret, cukup pintar untuk menutup mulutnya. Jacob lagi-lagi menggeleng, berusaha berkonsentrasi pada jalanan di depannya, bukan pada emosinya. "Usianya 16 tahun, demi Tuhan!"

"Lalu?"

"Aku 22. Ibuku meninggal waktu usiaku 9 tahun. Itu 13 tahun yang lalu. 13 tahun yang lalu, astaganaga! Dan Billy memiliki putri berusia 16 tahun, entah dari perempuan mana, yang jelas bukan ibuku! Itu hanya berarti satu hal! Ia pernah berselingkuh! BILLY BERKHIANAT PADA IBUKU, DEMI TUHAN!"

Seth menahan napas.

"Dan selama ini aku yakin, berusaha meyakinkan diriku sekuat mungkin, bahwa Embry bukan saudara tiriku. Entah ia Embry Ateara atau Embry Uley, yang jelas ia tidak mungkin Embry Black! Ia tidak mungkin saudara tiriku! Tapi sekarang, aku tidak tahu lagi... "

"Mungkin kejadiannya bukan begitu juga, Jake... Ada banyak kemungkinan dalam masa lalu ayahmu dan... "

"Tidak mengubah kemungkinan bahwa ayahku pernah berselingkuh," dengus Jacob lagi. Ia memencet klakson keras-keras lagi, mengumpat pada Mercedes merah yang menyalip jalannya.

Mata Seth tampak kuatir. "Kau mau aku menggantikanmu menyetir?"

"Tidak usah," ia menggerakkan tubuhnya ke depan dan ke belakang, menyalakan radio dan sedetik kemudian mematikannya lagi, tampak benar-benar kalut.

"Dengan keadaan seperti ini, kau bisa menyebabkan tabrakan beruntun sebelum meledak jadi serigala, kau tahu?"

Jacob tidak menjawab, berkonsentrasi meluapkan amarahnya dengan balas menyalip Mercedes merah barusan. Terdengar umpatan dari mobil itu, empat kepala melongok marah keluar jendela, dan Seth membalas nyengir dengan tampang putus asa. Benar, hari ini akan berakhir dengan ia dan Jacob berada di dalam peti mati, pikirnya. Apa yang akan dilakukan kawanan nantinya, dengan kedua pimpinan teratasnya tewas dalam kecelakaan mobil?

"Apa yang harus kuperbuat dengan anak itu?" kata Jacob sejurus kemudian, suaranya terdengar sama putus asanya dengan suara Seth.

"Siapa?" Seth agak-agak kurang konsentrasi.

"Anak lain Billy, tentu!" hardik Jacob tidak sabaran.

Sahabatnya mendengus. "Tentu saja menyayanginya, menerimanya sebagai adikmu sendiri."

Jacob mendelik dengan tampang tidak percaya.

"Itu jelas kan, Dude? Memangnya apa yang mau kaulakukan? Merobek-robeknya? Mengumpankan tubuhnya pada binatang buas di hutan?" Oh ya, tentu saja, pikir Seth sejurus kemudian. Itu mungkin saja, kalau binatang buasnya kau sendiri... "Kau tahu kau tak bisa melukai Billy..."

"Ya, aku tahu. Sekesal dan semarah apapun aku pada Dad, aku tidak bisa menyakiti perasaannya."

"Kalau begitu hanya ada satu solusi: suka atau tidak, kau harus berusaha menerima hal ini."

Saran Seth sederhana, rasional, final. Solusi itu sebenarnya sudah ia munculkan sendiri, pada detik pertama setelah Billy menyampaikan hal itu padanya, tidak lebih dari seminggu yang lalu. Ia berusaha berjuang mengalahkan amarahnya dan memaksakan solusi itu untuk dirinya sendiri sejak saat itu. Tapi bagaimanapun ia tidak bisa menolak perasaan yang berkata bahwa ia menolak solusi itu.


.

Ia ingat bagaimana Billy menyampaikan hal itu, di ruang tengah mereka yang sempit, menjelang siang tidak kurang dari sepuluh hari yang lalu. Ia baru bangun setelah malam sebelumnya kebagian tugas patroli, dan sedang menuju dapur untuk mencari apapun yang bisa dimakan, ketika ayahnya memanggilnya dengan sikap sok resmi. Tangannya masih ada di gagang telepon yang baru ditutupnya, dan wajahnya tegang. Pahit, seakan ia berat untuk mengatakan hal apapun yang ingin dikatakannya.

"Ada apa, Pop?" tanyanya khawatir, mengambil posisi di sofa di seberang Billy. Tentu saja pikiran pertamanya adalah hal ini berhubungan dengan urusan kawanan, atau mungkin Charlie. Atau Bella, di mana pun ia berada kini.

"Ada sesuatu yang harus aku katakan padamu, Jake."

"Ada apa?" ia mulai ikut tegang. Tidak biasanya ayahnya memulai suatu pembicaraan dengan 'ada yang harus kukatakan padamu'. Terlalu formal.

"Kau tahu aku sama tidak sukanya denganmu untuk membicarakan hal ini." Benar saja, ada sesuatu yang salah. Apa ini? Apa ia akan dimarahi dan diceramahi masalah kawanan? Atau soal keuangan keluarga? Atau soal Nessie? Atau mungkin Billy akan bicara soal 'kau sudah dewasa dan saatnya hengkang dari rumah ini'?

"Katakan saja, Dad. Aku sudah besar, aku bisa menerima apapun kok," ia berusaha tampak kasual.

Billy tersenyum hambar, suaranya hati-hati. "Kau tahu, aku mencintai ibumu. Sangat. Dahulu, dan hingga kini masih."

Ia bingung. Arah pembicaraan ini jauh melenceng dari yang ia perkirakan. Mom? Kenapa tiba-tiba ayahnya membicarakan mendiang ibunya?

Billy menghela napas berat. "Tapi terkadang terjadi hal-hal buruk di luar dugaan," lanjutnya. "Dan ketika itu terjadi, kita tidak bisa menariknya kembali. Kita cuma harus menerimanya, dan menghadapinya, secara literal 'berjalan' dengannya, kau tahu."

"Langsung saja, Pop," jika ia bisa berkeringat dingin, pastinya itu sudah terjadi.

"Kau tahu, Jake," Billy berkata sejurus kemudian, matanya menatap mata Jake hati-hati, berusaha menangkap ekspresi apapun yang melintas di mata anaknya. "Kau boleh membunuhku setelah ini, tapi aku tetap harus mengatakannya," ia menghela napas lagi. "Kau punya adik perempuan."

"Adik?" kening Jake berkerut.

Billy mengeluarkan selembar foto. Tampak seorang remaja perempuan tersenyum di sana, di samping seorang perempuan paruh baya yang tidak ia kenal. Rambutnya panjang dan hitam, kulitnya tembaga. Dan ia mirip si kembar.

Tidak benar-benar mirip, tapi ia melihat bayangan wajah Billy di wajah gadis itu. Bayangan yang membuatnya ngeri.

"Namanya Korra, usianya 16 tahun sekarang."

Jake merasa napasnya memburu, tangannya bergetar. Billy tampak kaget di depannya, tapi ekspresinya menunjukkan bahwa ia siap menerima apapun yang akan terjadi. Jake memejamkan mata, berusaha tenang.

"Ibunya anggota suku ini, tapi tidak tinggal di La Push. Aku bertemu dengannya 18 tahun lalu, tapi ia pergi setahun kemudian."

Jake tidak menanggapi.

"Semuanya kesalahanku. Keadaan agak berat di antara aku dan Sarah saat itu, dan ... uhm... hal-hal buruk terjadi."

Jake berusaha berkonsentrasi pada kata-kata, bukan pada emosi. Ia harus menerima sebagai fakta, sebagai berita. Dengan otaknya, bukan dengan perasaannya.

"Ariana mengandung tiga bulan ketika ia mendatangiku, memintaku pergi bersamanya. Tetapi aku tidak bisa meninggalkan Sarah. Dan ia pergi. Aku tidak pernah tahu kabarnya lagi. Kemudian sebulan lalu kabar itu datang. Ia meninggal dalam kecelakaan. Dan kemudian tersisa... gadis ini."

Jake memejamkan matanya erat-erat. "Kau mau aku melakukan apa, Dad?" tanyanya sejurus kemudian, berusaha keras menumpulkan perasaannya, mengucapkannya tanpa emosi.

"Korra ... akan tinggal bersama kita..."

Dan kemudian segalanya gelap. Hal terakhir yang ia sadari adalah ia berlari keluar rumah, dan sedetik kemudian ia sudah berlari dengan empat kaki.


.

Jadi di sanalah ia. Bandara SeaTac, menjemput anak haram ayahnya. Adik perempuannya. Membawa Seth bersamanya. Ia butuh Seth, ia butuh seseorang yang mampu menahannya, menyabarkannya, menyadarkannya, mungkin juga untuk berjaga-jaga seandainya emosinya tak terkendali dan ia meledak begitu saja. Mereka berdua kini berdiri di lobi Ruang Kedatangan, mata mereka jelalatan menyaring wajah para penumpang yang membludak datang. Seth dengan gugup menatap jadwal kedatangan.

"Dia belum datang, Jake. Masih lima menit lagi." Lima menit lagi menuju neraka...

Jake terlihat lebih suka memasukkan lima obor ke tenggorokannya ketimbang ada di sana.

Lima menit berlalu dan masih belum terjadi apa-apa. Speaker di atas kepala mereka mulai meneriakkan hal-hal seperti 'Penerbangan 803' atau 'pintu 4', tidak ada yang benar-benar masuk ke dalam pikiran Jacob. Ia menatap tegang ke pintu kedatangan. Kadang-kadang ia dengan kejamnya berharap hal yang lebih buruk terjadi. Seperti berita singkat di televisi besar di hadapannya yang tiba-tiba menayangkan kecelakaan menghantam pesawat ke Seattle yang terbang dari Jakarta, atau semacamnya. Sesuatu yang akan menghilangkan satu-satunya kesempatan untuk menerima kenyataan, mempertemukan Billy kembali dengan anaknya yang hilang, menjalani kehidupan keluarga yang utuh, menerima seorang adik yang tidak pernah dikenalnya. Tapi tentu saja itu tidak terjadi. Dan Jacob, dengan insting dasarnya untuk melindungi dan tidak menginginkan kejadian buruk terjadi pada siapapun, tidak pernah benar-benar mengharapkan hal itu terjadi juga.

Beberapa menit kemudian mulailah kesibukan itu menampakkan wajahnya. Satu per satu penumpang muncul dari balik pintu, menunggui kopornya datang. Awalnya satu per satu, kemudian tiba-tiba bagaikan kawanan ikan, lobi dipenuhi penumpang yang baru turun. Jacob menajamkan mata, berusaha memindai, mengingat-ngingat wajah di foto yang hanya sedetik dilihatnya untuk kemudian hancur dalam robekan-robekan kecil. Gadis berkulit tembaga berambut panjang, gadis berkulit tembaga berambut panjang...

Tapi yang hadir kemudian sama sekali di luar dugaannya.