THE ANOTHER BLACK

Disclaimer: I do not own Twilight, either its characters, basic plot, backgrounds, etc... They all belong to Stephenie Meyer


Tiga - Coraline Louise Gerrard-Black

Monday, December 17, 2012

1:15 AM


"Jake!" suara teriakan seorang perempuan tiba-tiba terdengar dari balik kebisingan bandara. Sebelum Jake sempat mencari asal suara tersebut, sesosok tubuh mungil memecah kerumunan, dan tanpa diduga-duga, sosok itu menghambur menerjang Jacob, langsung memeluk lehernya.

Jacob membeku. Sungguh ia tak mampu memprediksi hal tersebut, lebih lagi menghindar. Ini hal yang bodoh sekali, terlebih mengingat sensor ekstra-sensitifnya terhadap gerakan. Jika yang menerjangnya adalah vampir, pasti ia sudah mati sekarang.

Tapi yang menerjangnya bukan vampir. Ia tahu benar. Dari kehangatannya, dari detak jantungnya, dan dari perasaan nyaman yang tiba-tiba ditimbulkan dari satu pelukan itu. Dan tanpa disadarinya, tangannya pun bergerak, merengkuh pinggang sosok itu, menariknya ke pelukannya, dan tanpa sadar menghirup kehangatan yang menguar dari kulitnya.

Sebelum Jacob sempat mengidentifikasi bau gadis itu, ia melepaskan pelukan Jacob, memandang matanya dengan tatapan yang tidak dapat ia deskripsikan.

"Maaf," katanya malu. "Aku terlalu agresif ya?"

"Sebagaimana diharapkan dari keluarga Black," bisik Seth di telinga Jacob. Melihat tanda tanya tergambar di wajah gadis itu, Seth mengulurkan tangan. "Hai, aku Seth Clearwater, teman Jacob, kau tahu."

Gadis itu balas menjabat tangan Seth. "Coraline, Coraline Louise Gerrard. Kau bisa panggil aku Korra."

"Oh, hai Caroline..."

"Coraline," ia membetulkan. "Kau tahu? Seperti film kartun itu, yang mata ibunya seperti kancing..." ia menimbang ekspresi di wajah Seth dan Jacob sejenak, melihat bayang ketidakmengertian di mata mereka, lalu berkata bimbang, "Kalian tidak tahu ya? Tidak sama sekali?"

Baik Seth maupun Jacob menggeleng.

"Kalian benar-benar tidak mengerti soal film animasi?"

Seth dan Jacob saling berpandangan, dan menggeleng.

"Haaaahhh, ayolah, guys..." Korra memperlihatkan sikap putus asa, seolah bicara dengan orang dewasa yang memiliki pengetahuan setara anak usia 5 tahun. "Ah, sudahlah..." katanya selanjutnya, tertawa riang. "Senang sekali bisa bertemu kalian."

"Tunggu, Korra," ujar Jacob memotong, agak curiga. "Bagaimana kautahu ini kami? Maksudku, bagaimana kau bisa mengenali kami? Kau belum pernah bertemu kami, kan?"

"Oooh, itu..." jelas Korra agak malu, tetapi ekspresinya tetap ceria, "Sebenarnya Dad sudah cerita soal kalian, ia bilang kalian akan menjemput," Jacob agak terpukul mendengar kata 'Dad'. "Katanya cari saja dua orang Native bertubuh tinggi besar dengan ekspresi bingung, tidak mungkin salah. Ia bahkan mengirimiku foto kalian," ia mengotak-atik telepon selulernya. "Lihat, ini!" serunya sejurus kemudian, memperlihatkan foto Jake dan Seth yang saling berangkulan. "Kalian mudah dikenali, kalian tahu?"

Jacob dan Seth berpandangan. Semudah itukah mereka dikenali?

Korra tidak memedulikan ekspresi mereka. "Jadi," lanjutnya ceria sambil merangkul leher Jacob dengan tangan kanannya dan Seth dengan tangan kirinya, membuat kedua cowok itu harus agak mencondongkan badan ke samping guna mengimbangi tinggi badan gadis itu, "langsung kemana kita?"

Seth berbisik pada Jacob di balik punggung Korra, "Alice," yang langsung dibalas dengan anggukan pasti temannya.

Alice. Memang itulah gambaran terdekat yang bisa didapat dari gadis itu. Secara fisik, memang mereka tidak serupa. Gadis itu berkulit tembaga keemasan, rambut hitamnya dipotong dengan gaya boyish cut, dengan poni asimetris membingkai wajahnya. Mata gadis itu hitam, kelam bagai air danau di malam hari. Ia tidak terlalu tinggi, setidaknya untuk ukuran Jacob, karena melihat Rachel dan Rebecca, setidaknya Jacob sempat berharap gadis ini mencapai 170cm atau bahkan lebih. Tetapi tidak, tingginya bahkan tidak mencapai 160cm. Tubuhnya tidak mungil, Seth menebak ukuran bajunya sekitar 6 atau 8. Ia juga tidak terlalu fashionable. Siang itu ia tampil kasual. Jeans pencil-cut warna coklat gelap, kaos turtle-neck krem, jaket coklat muda yang tudungnya dihiasi tepian bulu-bulu, dan sepatu boot coklat. Sederhana. Satu-satunya aksen pada busananya hanya syal panjang motif paisley warna-warni, hijau-merah-coklat-dan krem. Pastinya itu bukan busana karya desainer kenamaan. Kemiripannya dengan Alice lebih pada aura yang mengelilinginya, keceriaannya dan kelincahannya. Belum sampai lima menit mereka bertemu, gadis ini sudah mengakrabkan diri.

Tapi lebih dari sifatnya, ada hal lain yang mengagetkan Jacob. Menamparnya tepat di wajahnya. Wajah gadis itu, bagaimanapun, memiliki garis-garis kesamaan dengan Billy.

"Kau tidak membawa barang apapun?" tanya Jacob, matanya berkeliling mencari koper yang mungkin dibawa gadis ini.

Korra menggeleng. "Hanya ransel ini. Aku tidak bawa banyak baju, tidak pernah. Mungkin nanti kita bisa pertimbangkan belanja jika aku yakin akan tinggal bersama kalian."

"Mempertimbangkan?" tanya Jacob heran. "Bukankah kau memang akan tinggal dengan kami?"

"Hmmmm..." Korra bersenandung, setengah memaksa menyeret Jacob dan Seth berjalan bersamanya keluar menuju pintu bandara. "Ya dan tidak. Masih belum kupikirkan. Mungkin sebulan dua bulan ini, entahlah. Aku hanya ingin bertemu Dad..."

Mungkin Korra memang merasakan perubahan ekspresi Jacob, atau perubahan aura di antara mereka ketika mengucapkan kata terakhir itu, karena mendadak intonasinya berubah dan ia melepaskan rangkulannya. "Yah, kalau... kau tidak keberatan aku memanggil Dad..."

"Oh, ya, tidak, tentu saja," Jacob salah tingkah.

"Aku hanya... mmm... kurasa... maksudku aku ingin merasakan... maksudku... memiliki... maksudku... mmm..." ia tampak rikuh, menunduk memandang ujung sepatunya.

Anehnya Jacob mendadak merasa bersalah.

"Tentu saja tidak masalah kau memanggil Billy dengan sebutan Dad, Korra. Bodoh sekali kau mengira aku keberatan. Ia ayahmu. Kau putrinya," tanpa diduga kata-kata itu meluncur dari lidahnya. Ia baru menyesal ketika kata terakhir diucapkan, 'kau putrinya'... Rasanya seperti salah melepaskan ikan hias air tawar ke air laut, kata-kata itu langsung mati begitu terlontar, tak bisa ditariknya lagi. Dan memang ia tak bisa menariknya, begitu melihat bagaimana kata-kata itu bereaksi pada wajah Korra. Tidak percaya, dan begitu gembira. Begitu bahagia...

"Terima kasih, Jacob..." soraknya, sekali lagi memeluk leher Jacob. "Aku seperti mendapat kakak lelaki, senang sekali," ia tersenyum lebar dan berbalik memandang Seth. "Terima kasih, Seth," dan ia memeluk leher Seth juga.

Seth jelas-jelas merasa salah tingkah. Apa yang ia lakukan sehingga menerima kata terima kasih itu? Ia memandang Jacob, memohon penjelasan. Tapi Jacob tidak melihat padanya. Ia memandang gadis itu. Ekspresinya tidak bisa dibaca.

Bukan untuk pertama kalinya, Seth merasa khawatir.


Perjalanan kembali ke La Push ternyata tidak setegang perjalanan menuju SeaTac. Sepanjang jalan gadis itu tak henti-hentinya berceloteh, bertanya ini dan itu tentang apapun yang dilewatinya. Tapi tak ada yang lebih membuatnya penasaran ketimbang fakta tentang La Push dan keseharian mereka. Mereka sadar Korra berusaha mengejar ketertinggalannya dengan segala sesuatu tentang keluarga dan rumah barunya. Jacob dan Seth harus menjawab dengan penuh perhitungan, berusaha menjaga intonasi mereka seantusias mungkin selagi menjelaskan fakta-fakta dasar selengkap mungkin, tanpa membeberkan hal-hal yang tidak boleh dikatakan.

"Jadi," kata Seth sejurus kemudian, sadar bahwa sejak tadi Korra-lah yang memonopoli pertanyaan. "Ceritakan tentang dirimu," katanya, berusaha mengintip Korra yang duduk di jok belakang lewat spion tengah.

"Cerita apa?"

"Apa yang kaulakukan selama, hmmm, 16 tahun ini?"

"Oh, hal biasa, Seth," senandung Korra. "Aku berkelana ke banyak tempat. Tahun lalu aku di Nepal. Tahun sebelumnya di Bangkok dan Jepang. Tahun sebelumnya aku di Guatemala dan Italia. Tahun sebelumnya lagi aku di Mesir. Kau tahu, biasalah... aku tidak pernah ada di suatu negara lebih dari setahun. Kalau kautanya aku, aku warga negara USA, tapi lihat pasporku. Tidak sampai dua tahun aku di negeri ini, kalau dijumlahkan..."

Mata Seth membelalak. "Kau tidak tinggal di negara ini?"

Korra tertawa. "Aku tidak menetap permanen di negara manapun, Seth... Aku nomaden, seperti ibuku..." dan mendadak intonasinya berubah sedih.

Jacob menyadari perubahan intonasi itu dan mengerti alasannya. Ia sudah mendengarnya dari Billy. Ibu Korra meninggal bulan lalu, dan itulah yang menyebabkan Korra harus tinggal di sini. Karena ia belum cukup umur untuk melanjutkan hidup seperti yang selama ini ia lakukan bersama ibunya: berpindah dari satu negara ke negara lain. Terlalu banyak tetek bengek administrasi negara yang harus kau urus jika kau bepergian lintas negara tanpa dampingan orang dewasa.

"Maaf soal ibumu," kata Jacob. Suaranya lirih, seolah benar-benar bersimpati. Dalam hal ini ia dan Korra sama, ia juga kehilangan ibu. Dan ia merasa lebih beruntung karena ada Billy. Korra sendirian.

Dan ia memang tulus bersimpati. Tanpa ia sadari, kekesalan dan kecurigaannya meleleh. Mungkin ia akan benar-benar serius mempertimbangkan gadis ini sebagai adiknya, pikirnya.

"Jadi setelah kupikir-pikir," Korra melanjutkan ceritanya. "Tak ada salahnya jika aku menghubungi Dad. Mungkin tinggal sementara di La Push. Sebulan atau dua bulan, sebelum berkelana ke tempat-tempat lain di US. Kau tahu, tidak terlalu susah berkelana di dalam negeri pastinya jika kau terbiasa berkelana di mana-mana. Aku memang belum cukup umur, tapi aku mudah beradaptasi, kok. Mungkin aku terdengar seperti anak haram brengsek yang mendadak muncul entah dari mana, mengaku-aku sebagai anak untuk mendapat hak waris," ia tertawa, menggoyang-goyangkan kepalanya dengan dramatis. "Tapi Dad memang sudah beberapa tahun ini membujukku ke La Push sebenarnya, bertemu dengan kalian. Hanya saja ibuku tidak..."

"Tunggu," Jacob menyela, menyadari ada sesuatu yang salah dengan cerita ini. "Beberapa tahun ini Dad membujukmu ke La Push? Artinya sudah lama ia mengetahuimu sebagai anaknya?"

"Ya," jawab Korra. Suaranya agak bingung. "Well, Mom sudah lama bicara dengan Dad soal aku sebenarnya, sebelum ia meninggal, tapi..."

"Berapa lama?" tuntut Jacob, mengintip Korra dari spion. "Sudah berapa lama Dad tahu soal kamu?"

"Ketika Mom mengunjungi La Push. Mungkin sejak sekitar tiga tahun lalu."

"Tiga tahun?"

"Mom sering mengunjungi La Push sebenarnya. Ia mempromosikan kebudayaan Native di sana-sini. Setiap dua tahun sekali ia ke La Push, dan kata Mom, sekitar tujuh tahun lalu, ia tak sengaja bertemu lagi dengan Billy."

"Tunggu," fakta-fakta ini membingungkan Jacob. Ia tak dapat mengejar, ia tak dapat mencerna... "Maksudmu, sudah tujuh tahun ibumu berhubungan lagi dengan Billy dan aku tidak tahu?!"

"Jake, tenang..." bisik Seth.

Korra jelas-jelas gugup di bangku belakang. Suaranya pecah. "Tidak, Mom tidak berhubungan lagi dengan Dad seperti yang kaupikirkan. Mereka hanya bertemu, dan bicara sedikit. Tapi baru tiga tahun lalu Mom berani cerita tentang aku."

"Dan sejak itu kau sering menghubungi Dad?!"

"Hanya, hanya sms, dan telepon... Tidak sering... tidak pernah bertemu..." Korra mencericit.

"Selama tiga tahun ini ayahku tahu aku punya adik dari perempuan lain dan aku tidak tahu?!" suara Jacob meninggi.

"Jake..." Seth berusaha memperingati.

"Selama ini aku punya adik tiri dan tak pernah sekalipun aku diberi tahu?!"

"Aku... aku..." mata Korra yang ketakutan menatap nanar Seth dan Jacob bergantian. Ia jelas-jelas berusaha mencari dukungan Seth, dan Seth pun berusaha menenangkan Jake dengan segala yang ia bisa. Tetapi Jake tidak begitu mudah ditenangkan. Gemetar sudah menjalari tangan dan kakinya, sementara ia berusaha keras menenangkan diri dengan memejamkan mata rapat-rapat dan menggeleng kuat-kuat.

"Mom tidak pernah berhubungan lagi dengan Dad, Jake... Tidak sejak Mom meninggalkan Dad tujuh belas tahun lalu. Tidak sejak ia tahu ia mengandung aku. Ketika bertemu pun, mereka hanya bertemu sekilas, Jake. Sebentar. Tidak ada apa-apa. Tidak ada apapun antara Mom dan Dad..."

"Jake, tenanglah..." bisik Seth.

"Kumohon, Jake. Percayalah..."

"Jake, tenanglah..."

Tapi gemetar Jake tidak kunjung reda. Ia tahu gejala ini, tahu penyebabnya, tahu cara mengatasinya, tahu apa yang harus ia lakukan dan tahu apa yang tidak boleh terjadi. Ia sudah mengantisipasi berbagai kemungkinan, dan sudah berusaha merancang jaalan keluar dari setiap kemungkinan yang ada. Tapi tahu berbeda dengan bisa. Mengetahui dan mengantisipasi berbeda dengan benar-benar mengatasi keadaan ketika hal itu terjadi. Dan begitulah, ketika ia tak lagi yakin bisa mengatasi keadaan yng ada di depan matanya, tidak ada jalan lain selain melakukan hal terakhir, terburuk, yang pernah ia pikirkan dan tak pernah ia harapkan terjadi.

Dengan susah payah menguasai diri, Jacob meminggirkan Rabbitnya di tengah lalu lintas yang super- hectic. Suaranya gemetar ketika ia turun dan memohon dengan nada setengah memerintah, setengah tak sabar, pada Seth, "Gantikan aku mengemudi. Bawa Korra ke rumah," dan dengan itu, ia pergi. Berlari dengan kecepatan senormal mungkin, mencari kerimbunan.

"Jake!" teriak Seth. Tapi tak ada gunanya, Jake tak mendengarnya. Atau tak mau mendengarnya. Mengucapkan selusin sumpah serapah, Seth berpindah ke bangku kemudi, menstarter mobil dengan kesal.

"Kemana Jake pergi?" tanya Korra ketakutan. Ia bahkan tak ingat untuk pindah ke kursi depan.

"Menenangkan diri," jawab Seth singkat. "Nanti juga ia pulang. Jake selalu begitu."