THE ANOTHER BLACK
Disclaimer: I do not own Twilight, either its characters, basic plot, backgrounds, etc... They all belong to Stephenie Meyer
Empat - Batalion Werewolf
Monday, December 17, 2012
1:14 AM
Si bodoh Jake belum datang ketika Seth dan Korra sampai di rumah Billy. Masih dengan tampang mendung, Seth memarkirkan Rabbit di kandangnya, sebelum mengantarkan Korra ke rumah. Ia tidak tahu tampang seperti apa yang harus ia pasang, di depan Billy maupun Korra. Memang Jake sudah menceritakan semua padanya, dan ditambah insiden kecil di mobil tadi, rasanya ia sudah terlalu tahu. Billy tentunya tahu bahwa ia tahu lebih banyak dari yang seharusnya, dan mengingat orang tua itu pastinya sudah menduga hal itu akan terjadi, tentunya ia tidak keberatan. Tapi bagaimanapun, ia tetap tidak enak hati, tidak tahu bagaimana harus bersikap di depan Billy.
Mendung juga tampaknya menggayuti Korra. Sejak Jake pergi, ia tak lagi banyak bicara. Hanya diam dan memandang masam ke luar jendela. Seth berusaha sekuat tenaga mencairkan suasana, bertanya ini itu dan bercerita macam-macam. Tapi selain jawaban-jawaban singkat tanpa semangat, tidak ada lagi yang ia dapatkan.
Menarik napas panjang, Seth mengetuk pintu rumah Billy. Tidak biasanya Billy mengunci pintu, pikirnya. Ia sudah akan menyerah, mengira Billy pergi, dan berniat membawa Korra ke rumahnya, ketika ia mencium bau lain yang familiar. Dua detik kemudian, pintu terbuka. Dan wajah itu muncul dari balik pintu.
"Sam?" ujar Seth heran. Ia sudah tahu akan keberadaan Sam melihatnya. Juga tidak mengherankan baginya jika Sam, sebagai bagian dari Dewan Tetua, bertandang ke rumah Billy. Yang mengherankan justru mengapa Sam muncul pada saat ini, pada saat yang sama ketika putri lain Billy datang dan Jacob lagi-lagi kabur karena marah.
Sam hanya mengangguk memberi salam, dan mengalihkan pandangannya pada Korra. "Kau pasti putri Billy. Aku Sam Uley," katanya mengulurkan tangan.
Korra balas menjabat tangan Sam. Hanya saja, kali ini ia kehilangan antusiasme, semangat, bahkan kepercayaan dirinya. "Korra, Coraline Gerrard," ujarnya ragu-ragu.
Sam mundur untuk memberi mereka ruang masuk. "Billy sudah menunggu dari tadi," katanya.
Benar saja. Billy sudah menunggu di ruangan dalam, tersenyum lebar di atas kursi rodanya, di depan meja besar yang penuh dengan makanan. Ia bahkan menaruh satu jambangan besar penuh bunga-bunga liar di tengahnya. Entah sejak kapan Billy mempersiapkan semua ini sendirian, pikir Seth, karena ia tahu Jake terlalu kesal untuk ikut membantu. Tapi jelas Billy berusaha keras untuk menyambut putrinya. Mungkin ini usaha terakhirnya untuk mendapatkan keluarga yang utuh, apalagi setelah Rachel dan Rebecca pergi, dan perpisahannya dengan Jake pun sudah di ambang pintu, karena entah kapan, Jake pasti pergi mengikuti Nessie. Apalagi mengingat ia tidak bisa tua, dan entah hingga kapan ia bisa bertahan di antara masyarakat biasa La Push tanpa dicurigai. Mau tak mau Seth merasa kasihan.
Bertekad tidak membuat keadaan lebih sulit bagi Billy, ia mendorong rasa tidak enak yang menaungi hatinya dan memaksa matahari miliknya bersinar bagi semua orang. Ia orang yang ceria, selalu bisa mengenyahkan mendung dan membuat orang lain ikut tersenyum. Bukan berarti ia tidak pernah merasa kesusahan, hanya saja ia tidak ingin membuat orang lain merasakan hal yang tidak ingin ia rasakan.
Mungkin itu pula yang dirasakan Korra, karena mendadak ia tersenyum dan berteriak riang memanggil ayahnya sambil merentangkan tangannya, berlari ke arah Billy. Ia tampak kembali ceria seperti semula, walau kini Seth merasakan bahwa keceriaannya berbeda dengan semula. Ringan dan tulus, masih, tetapi ia merasakan sedikit aura keterpaksaan.
"Hahaha, Korra," Billy memeluk putrinya. "Akhirnya bisa juga aku memelukmu. Kupikir seumur hidup tidak akan bisa."
Korra tersenyum, berlutut dan mencium pipi Billy. "Senang bertemu Dad," ucapnya lirih.
"Kau cantik dengan rambut pendek itu. Kupikir rambutmu lebih panjang," Billy berusaha mencairkan suasana, mengusap rambut putrinya.
"Oh, ya..." walau berusaha bersikap kasual, jelas Korra tampak malu. "Aku mengirimimu foto waktu rambutku lebih panjang ya? Pantas saja Jake tidak mengenaliku di bandara. Untung saja kau mengirimiku fotonya, Dad..."
Billy hanya tersenyum lembut, menatap mata putrinya.
Jika ini pertemuan yang mengharukan, mungkin Seth akan menangis. Tetapi tidak, karena kedua belah pihak tampak berusaha keras tampil ceria. Dan ia takkan merusak suasana dengan bersikap sok melodramatis.
Tepat waktu karena tiba-tiba Sam menepuk punggungnya, memintanya bicara empat mata. Dan Seth merasa lega karena tak harus berada di tempat yang sama dengan kedua ayah-anak yang sudah belasan tahun tidak bertemu.
.
"Jadi," kata Sam setelah menyeret Seth hampir sepanjang rumah ke pintu belakang, "sejauh mana yang kautahu tentang mereka?"
Seth mengerjap. Jika ada hal terakhir yang ingin ia bicarakan dengan Sam, pastinya tentang rahasia Billy. Ada apa dengan yang namanya 'rahasia' belakangan ini? Bukankah sesuatu namanya 'rahasia' jika ia harus dirahasiakan? Dan peraturan tentang 'rahasia' adalah, kau tidak membicarakan rahasia dengan orang lain.
Mungkin memang kalau menyangkut kawanan, tidak ada rahasia yang tetap menjadi rahasia, bahkan jika kau sudah tidak memiliki ikatan pikiran lagi dengan mereka.
"Tidak banyak," kata Seth tidak nyaman. "Hanya yang kutahu dari Jake." Dan ia merasa penting untuk menambahkan, hanya agar Sam tahu bahwa ia tak ingin membicarakannya, "Aku cukup tahu untuk tidak akan mengatakan apapun pada orang lain, Sam, tidak juga pada Mom dan Leah."
"Oh," Sam mengernyit. Nadanya agak kurang yakin. "Kurasa Sue sudah tahu soal ini."
Soal apa? pikir Seth. Soal putri lain Billy?
"Yah, kurasa tidak ada rahasia di antara para Tetua," ujarnya masam. Mendadak perasaan yang sama yang melanda Jake menguasai hatinya. Perasaan dikhianati. Dan mau tak mau dalam hati ia bertanya hal yang sama. Sudah sejak kapan? Apa saja yang mereka bagi di antara mereka yang bahkan Jake saja tidak tahu?
Hanya saja ia cukup tahu untuk tidak mengucapkannya.
"Jangan salah paham, Seth," ujar Sam, seakan bisa membaca jalan pikiran Seth. Jika ia tidak cukup tahu, mungkin ia akan mengira bahwa jaringan pikiran werewolf itu masih bekerja. "Kami perlu tahu karena itu memang masih berurusan dengan suku. Kau tahu," dan mendadak nada suaranya berubah pelan, hampir berbisik, "dengan adanya keturunan darah Black yang baru, kita perlu mengantisipasi sampai mana hal itu dapat mempengaruhi... ehm, susunan hierarki kawanan dan lain sebagainya."
Seth agak bingung. "Apa maksudmu hierarki kawanan? Bagaimana bisa putri Billy mempengaruhi..." dan tiba-tiba jawaban itu menamparnya tepat di wajahnya, "maksudmu... tidak mungkin..."
Mengerikan baginya, karena Sam mengangguk. "Ya, Seth. Alasan lain Billy meminta Korra ke sini adalah... karena ia menginginkan pengganti Jake, jika itu mungkin."
"Itu tidak mungkin," bisik Seth. Kemungkinan itu terlalu mengerikan baginya. Tidak mungkin Billy menginginkan itu... terjadi pada putri yang baru dikenalnya setelah sekian tahun. "Dan dia perempuan, Sam. Ibunya bahkan bukan Quileute."
"Sebenarnya," kata Sam agak ragu, mungkin menimbang-nimbang perlukah ia mengatakan hal ini pada Seth, "ibunya separuh Quileute. Kalau kau menyangsikan soal hubungan antara kemungkinan menjadi serigala dan 'darah murni', untuk mengingatkanmu, Embry juga kemungkinan hanya punya setengah darah Quileute. Dan Leah juga perempuan."
"Tapi Leah berbeda, Sam. Kau tahu dia punya darah ketiga serigala terakhir. Dia punya lebih dari sekadar kemungkinan untuk menjadi serigala. Dan tidak mungkin Billy serius menginginkan hal seperti itu... terjadi... pada..." ia tidak tega mengatakan hal itu. "Kesempatan Korra bahkan lebih kecil dari Rachel dan Rebecca, dan mereka pun bukan serigala, Sam."
"Kita tidak pernah tahu apapun. Kita hanya perlu berjaga-jaga, mengantisipasi segala kemungkinan. Dengan kepastian keabadian dan kepergian Jake, dan persinggungan dengan... kaum abadi lain," Sam merasa perlu mensensor kata 'Volturi', "kita perlu mengumpulkan segala yang kita tahu, segala yang mungkin, untuk berjaga-jaga seandainya... Jake... tidak bisa..."
Itu hanya berarti satu hal. Werewolf-werewolf baru.
"Tapi untuk apa? Keadaan aman kan? Kawanan ada saat ini hanya agar kami bisa melepaskan diri kan?"
"Tidak, Seth. Kawanan harus tetap berlangsung, dan beregenerasi tanpa terputus. Demi keberlangsungan suku, kita tidak bisa membiarkan terputusnya pengetahuan mengenai transformasi, seperti dulu terjadi padaku. Terutama karena sekarang musuh abadi kita entah kenapa jadi semakin kuat."
"Tapi itu konyol, Sam!" bantah Seth. "Itu bodoh dan egois dan tidak masuk akal. Jika kau mempertimbangkan regenerasi, jika kau mempertimbangkan kemungkinan mengumpulkan sepasukan tentara werewolf, kau tidak perlu melepaskan kekuatanmu begitu awal. Kau, Jared, Paul, Embry, kalian tidak perlu berhenti berubah. Kalian tidak bisa begitu egois memikirkan bagaimana membuat anak-anak untuk memikul takdir yang kalian sendiri tinggalkan!"
"Seth, dengar..."
"Tidak, Sam. Kau yang dengar. Aku tidak peduli jika kau Tetua atau apa. Aku tidak peduli jika kalian para Tetua menentukan apa yang harus kami, para kawanan, lakukan. Kau pernah berada di antara para kawanan, Sam. Kau tahu rasanya. Kau takkan ingin orang lain, apalagi orang yang tidak tahu mengenai hal ini sebelumnya, untuk merasakan..."
"Seth. Kau salah paham. Dengar..."
"Kau yang dengar, Sam. Aku Beta kawanan yang baru. Jika Jake pergi, aku Alfa. Dan aku tidak akan membiarkan seorang anak yang tidak tahu menahu soal hal ini, siapapun, untuk menjadi korban. Sejauh aku bisa menjaga agar tidak ada pertambahan populasi werewolf, akan kulakukan."
Sam melihat kesungguhan dalam nada bicara Seth, dalam tatapan matanya. Ia tahu Seth benar. Darah Seth mengunggulinya, dia memang Beta sejati. Jika Jacob Black entah bagaimana tidak bisa memimpin kawanan, Seth Clearwater-lah yang paling berkesempatan menjadi pemimpin. Seth atau Leah, bukan dia. Dahulu tidak ada yang mempertimbangkan hal tersebut. Tapi sekarang Seth bukan lagi Seth yang dulu. Pengalaman telah mematangkan dia. Kemampuan tempur Seth juga tidak bisa dianggap remeh. Sikap, pertimbangan, dan ketulusannya membuktikannya sebagai calon pemimpin yang bahkan sama kompetennya dengan Jake, jika tidak bisa dibilang lebih. Lebih daripada Sam, lebih daripada Jake sekalipun.
Tapi ada hal-hal yang ia tidak tahu. Ada hal-hal yang bekerja di luar sana yang tidak sesederhana itu, dan Seth, dengan ketulusan dan kepolosannya, tidak akan mungkin bisa menangkap hal seperti itu.
Sam tidak berniat memperpanjang perdebatan tatkala waktunya belum tiba.
"Kau tahu ada alasan mengapa aku mengatakan ini padamu, dan bukan pada Jake," katanya. "Cukup pertimbangkan untuk tidak membiarkan perasaan pribadimu mempengaruhi penilaianmu, ketika kau harus membagi pengetahuan itu pada Jake," ia meneruskan, kelihatan berat. "Kita tidak ingin Jake, seperti biasa, terlalu cepat menilai keadaan hanya dari satu sisi dan mengambil keputusan yang salah."
Seth mengernyit. Sam mengatakannya seolah... "Jika ada yang pernah menilai keadaan hanya dari satu sisi dan mengambil keputusan yang merugikan seluruh suku, itu adalah kamu, Sam," katanya pahit, mengingat hal yang pernah terjadi dulu.
Sam tersenyum masam seraya menepuk bahu Seth. "Tolong, Seth," hanya itu yang dikatakannya sebelum meninggalkan Seth, yang jelas-jelas merasa sangat kesal.
Ada apa dengan hari ini?
Seth merasakan keinginan yang kuat, sangat kuat, untuk mengkonfrontasi Sam, jika perlu memukulnya, menyatakan bahwa apa yang ada di kepalanya salah. Ia tahu lebih dari apapun seperti apa Sam. Tiran koleris yang selalu memaksakan apapun. Baik ketika masih menjadi Alfa, maupun menjadi bagian dari para Tetua. Ia takkan puas sebelum berhasil mengatur semua sesuai keinginannya.
Tapi ia juga tahu, lebih daripada apapun, hati Sam. Di balik sikapnya, di balik kekeraskepalaannya, tak ada yang lebih memikirkan kawanan selain Sam. Ketika ia sendirian, ketika kawanan berkembang, ketika kawanan terpecah, bahkan ketika ia tak lagi ada di dalamnya, ia tak pernah tidak peduli. Dan ketika ia membuat keputusan dan memaksakannya pun, itu hanya karena ia menganggap hal itulah yang harus dilakukan.
