THE ANOTHER BLACK
Disclaimer: I do not own Twilight
Lima - Penyerangan Seth
Monday, December 17, 2012
1:14 AM
.
Seth berusaha mendengarkan sekitarnya, mencari jejak pikiran sekecil apapun, yang dapat menunjukkan di mana keberadaan Jake. Dipikirnya tentu Jake sedang berlari dalam bentuk serigala, biasanya itu yang selalu dia lakukan setiap kali ada masalah. Tapi sekelilingnya sepi, begitu sepi. Tentu saja Jake mampu menutupi pikirannya dari anggota kawanan lain. Itu kemampuan yang dikembangkannya dari dulu, jauh sebelum ia menjadi Alfa. Seth bahkan selalu berpikir kemampuan itu tidak ada hubungannya dengan posisinya, karena kalau memang begitu, Sam pasti lebih bisa menutupi pikirannya ketika ia memimpin. Tapi sepandai apapun Jake menutupi pikirannya, selalu saja ada celah, selalu ada petunjuk yang menyatakan bahwa ada seseorang di sana, berpikir namun berusaha keras agar dirinya tidak terdeteksi. Selalu ada pikiran yang bocor, tertangkap meski hanya kata-kata atau perasaan samar... Seth sudah bertahun-tahun berusaha menangkap tanda-tanda seperti itu, seperti diakui Jake sendiri, pendengarannya adalah yang paling tajam. Namun saat ini, semua lengang. Tak ada satu petunjuk, satu suara sekecil apapun, yang menyatakan bahwa Jacob ada, berlari dalam wujud serigala.
Dan bahkan tak ada serigala lain selain dirinya. Tentu saja, jam patroli belum dimulai. Dengan ketiadaan vampir belakangan ini, para serigala mulai merasa bosan dan lebih senang mengerjakan hal-hal yang dilakukan remaja normal pada umumnya. Beta-nya Seth, Collin Littlesea yang hobi bolos patroli, sering tertangkap main bungee jumping bersama berandal-berandal kecil lainnya, kalau tidak dengan tololnya menonton siaran ulang Desperate Housewives. Brady Fuller, Gamma-nya Seth, adalah cerminan Jacob waktu muda dulu: waktunya lebih banyak dihabiskan untuk bergumul dalam urusan cinta dan patah hati. Embry sering mengeluh bahwa Adam White, Gamma-nya, lebih tertarik menghabiskan waktu di kelompok pramuka ketimbang berkumpul dengan geng werewolf. Embry sendiri, dengan masa pensiunnya sudah di depan mata, sudah jarang sekali berubah, dan Jake sudah menugaskan Quil untuk menjadi kandidat Gamma berikutnya jika Embry pergi. Meski begitu ada juga anggota yang mangkir dengan alasan yang lebih tidak bisa dibantah, misalnya urusan akademik atau pekerjaan sambilan. Tentu saja, dengan para Tetua menegaskan bahwa penjagaan tidak boleh mengendur walau dalam keadaan aman, Jake terpaksa mengatur jadwal patroli setidaknya setiap sore hingga pagi setiap hari. Tetapi tetap saja, walau dengan jadwal tiga serigala per hari, setidaknya ada kemungkinan satu serigala membolos entah dengan alasan apa. Jake memang agak kurang ketat dengan kedisiplinan anak buahnya, mungkin juga dia berpikir tidak ada gunanya memaksa patroli jika memang mereka tidak suka melakukannya, sehingga seringkali justru Jake, Seth, atau Quil sendiri yang menggantikan tugas patroli.
Jadi di siang seperti ini, ketika tak ada jadwal patroli, jika memang tidak ada Jacob, jangan harap ada serigala lain selain Seth.
Beberapa keliling saja untuk menenangkan diri, pikir Seth. Mungkin sebentar lagi Jacob akan berubah. Ia pasti berubah, tak mungkin ia jalan kaki dari Seattle ke La Push. Dan Seth rasa Jake tidak membawa uang yang cukup untuk naik taksi. Lagipula ia pasti menghindari kerumunan orang, sehingga potensinya naik bus atau angkutan lain mendekati nol. Setidaknya begitu memasuki batas hutan, ia pasti berubah.
Ia berlari menembus hutan, berusaha membebaskan pikirannya. Kata-kata Sam tadi mengganggu batinnya. Regenerasi werewolf... Tahukah dia bahwa suasana sekarang sudah jauh berbeda dengan dahulu? Tahukah dia bahwa semua werewolf ingin kembali pada kehidupan biasa, kehidupan normal? Sam, lebih dari semua orang, adalah orang yang paling menginginkan hal itu. Jika tidak, mengapa setelah menikah dan punya anak, ia buru-buru menanggalkan posisinya? Lalu mengapa sekarang ia bersikap seolah ia sangat menginginkan batalion werewolf kembali berkembang di La Push?
Mungkinkah ia berpikir terlalu jauh?
Seth masih berkubang dalam pikirannya ketika bau aneh menyergap hidungnya. Ia bukan anggota yang memiliki penciuman paling sensitif di kawanan, tetapi ia tahu itu. Aroma vampir, vampir muda. Dan masih baru. Merasa kecolongan, ia berlari. Mengendus, mencari, mengejar. Bukan satu, bukan hanya satu.
Lalu bau lain menyergapnya. Bukan bau manis vampir. Bau serigala. Bau yang tidak bisa ia identifikasi. Serigala lain, tapi bukan serigala baru. Serigala lain di La Push. Bukan anggota kawanan. Bukan serigala baru. Itu hanya berarti satu hal. Serigala lain melanggar teritorial mereka.
Seth, sebagaimana yang lain, sudah cukup lama tahu bahwa mereka bukan satu-satunya serigala di dunia ini, termasuk di US dan Kanada. Lebih lagi shape-shifter yang mengambil wujud selain serigala. Tapi sejauh ini, mereka tak pernah mengenal kawanan lain di sekitar La Push, lebih lagi yang berani memasuki teritorial mereka.
Seth merasa kecolongan. Seluruh kawanan kecolongan. Perasaan aman ini telah menipu mereka. Vampir dan werewolf lain, vampir dan werewolf lain dalam teritori mereka. Para Tetua benar, seharusnya mereka tak menurunkan penjagaan.
Bau vampir makin kuat. Kali ini disaputi bau manusia. Bau darah. Kepala Seth pening. Ia harus segera menemukan sumber bau itu.
Lari, lari, lari.
Dan di situlah mereka. Di dekat sungai. Dua vampir, satu manusia dalam cengkeraman mereka. Kepala manusia itu terkulai lemah. Satu vampir sedang menempelkan rahangnya di leher, sementara satunya di pergelangan tangan, bekerja sama mengeringkan darah di tubuh si manusia malang. Seth tak perlu melihat matanya untuk tahu apa warna mata itu. Dan ia tahu persis apa yang harus ia lakukan.
Menggeram, ia menerjang. Kedua vampir menghindar, tampak kaget menyadari binatang besar menyerangnya. Dapat dibaca dari wajah mereka, rasa ketakutan itu. Tetapi sekejap, ketakutan itu berubah menjadi seringaian begitu tahu bahwa penyerangnya sendirian. Seketika dari balik pepohonan, dua vampir lain muncul.
Empat orang, ia menilai keadaan. Dua vampir laki-laki dan dua vampir perempuan, membeku di usia sekitar 20-30-an. Seluruhnya vampir baru, bisa dilihat dari warna cerah matanya. Daya tempur? Tidak perlu dipikirkan soal kekuatan vampir baru, beberapa rusuknya patah dalam sekali hantaman ketika Bella tak sengaja mendorongnya dahulu sudah cukup jadi bukti.
Dan ini, empat. Mengepungnya.
Sial, ia kalah jumlah.
Seth berusaha memanggil bala bantuan. Jake, Quil, anggota kawanan, siapapun... Ia tahu komunikasi tidak pernah bisa terjadi kecuali dalam bentuk serigala, tetapi mereka tidak pernah tahu. Dahulu dipikirnya hanya ada satu kawanan, hanya ada satu Alfa, tetapi ternyata kawanan bisa terpecah. Dahulu dipikirnya komunikasi bisa terjadi antarserigala, tetapi ternyata itu hanya terjadi antarserigala dalam satu kawanan. Jadi mungkin, jika ia berkonsentrasi cukup baik, ia bisa mendengar... atau seseorang bisa mendengarnya, siapapun...
Tolong, datanglah...
Tapi tidak ada yang terjadi. Tidak ada deru kaki mendekat, tidak ada geraman, tidak ada lolongan, tidak ada pikiran yang menjawab. Ia sendirian.
Tapi Seth menolak jika ia harus begitu saja kalah. Ia mungkin kalah jumlah, ia mungkin mati. Tapi ia Beta kawanannya. Ketika Jake tidak ada, ia harus mengambil peran sebagai Alfa. Dan saat seperti ini, kala tidak ada siapapun yang dapat menolongnya, kala vampir lain mengancam daerah kekuasaannya, ia harus menunjukkan siapa yang berkuasa.
Ia melolong, dan dengan geraman keras menyerang vampir yang paling dekat. Vampir itu mundur menabrak pohon oleh tenaga Seth, tapi Seth tidak mengincar dia. Dia terlalu kuat untuk serangan pertama, dan Seth cukup tahu strategi pertempuran untuk mengincar yang paling lemah terlebih dahulu. Efek serangan tadi memberinya cukup waktu untuk meluncur ke kiri, menabrak vampir perempuan paling muda, mengincar tubuhnya dan menindihnya ke tanah.
Si vampir meronta dalam tindihan cakar-cakar Seth, dan ia tak membuang-buang waktu. Dicabiknya vampir itu, digigitnya kepalanya hingga putus dan dilemparnya jauh-jauh bagian-bagian tubuhnya ke segala jurusan. Vampir itu tumbang, tapi pertempuan tidak berjalan sebaik itu.
Tepat ketika Seth menarik putus kepala vampir itu, vampir lain menerjang Seth, langsung merangkulnya dari belakang, mengincar lehernya. Seth mengibas-ngibaskan tubuh besarnya, berusaha menjatuhkan vampir itu. Tapi justru pada saat yang sama, satu vampir lain menerjangnya dari kiri, melakukan hal yang sama dengan kawannya.
Gerakan Seth makin kasar. Ia sengaja menabrakkan tubuh ke pohon, berusaha menjepit tubuh si vampir di kiri ke pohon. Sayangnya vampir itu keburu lolos, melompat ke dahan tinggi pada saat bersamaan. Seth menggeram keras, gerakan tadi membuat rahang vampir satunya meleset dari lehernya, tapi cakar-cakar vampir mengoyak tubuhnya. Seth melolong, kesakitan dan murka. Tidak banyak vampir yang ia kenal yang memiliki cakar, dan kini ia terluka oleh kuku yang tidak ia ketahui ada. Tanpa banyak berpikir cakarnya sudah menyerang vampir itu, tapi meleset. Dan kini ketiga vampir itu menerjangnya pada saat bersamaan, menggayuti tubuhnya.
Seth memberontak kuat-kuat, berusaha melepaskan tangan-tangan itu dari tubuhnya, menerjang pohon dan mencakar-cakar, tapi tak ada gunanya. Tangan vampir itu sudah mencekik lehernya, hampir mematahkan tulangnya. Ia sudah merasa hampir kehabisan napas. Gigi vampir itu sudah hampir mengoyak lehernya.
Pada saat yang sama ia mendengar teriakan Jacob dan Embry di kepalanya.
Semua sudah terlambat, pikirnya. Dia akan mati.
Dan pada saat itu didengarnya suara sayatan cakar membelah udara. Seth merasakan cengkeraman vampir di lehernya mengendur sebelum ia sadar bahwa vampir yang tadi mencekiknya sudah mati. Tapi Seth tidak cukup kuat menegakkan kaki-kakinya, dan ia ambruk ke tanah. Geraman dan lolongan membahana, dan samar-samar dalam kesadaran yang berkurang, ia melihat siluet indah sosok serigala membelah udara. Dengan latar belakang naungan daun-daun, sosok itu membentuk kurva indah, hitam nan anggun, sebelum membantai vampir yang mundur satu langkah di belakangnya. Ia merasakan vampir lain kabur, dan serigala itu sempat berdiri, menatapnya sekilas, sebelum lari mengejar ke arah vampir tadi melarikan diri.
Ia tak sanggup membuka mata lagi.
.
Ketika bangun, ia mendapati dirinya di sofa Sam. Quil dan Emily berlutut di dekat kepalanya. Quil kelihatan girang sekali mendapatinya sadar, langsung tanpa sengaja menjatuhkan kompres dingin yang dipegangnya.
"Kau sadar, Man..." katanya tertawa senang. "Tunggu. Yang lain harus tahu hal ini," dan ia melesat keluar rumah, ke balik pepohonan. Seth lebih dari tahu tentang apa yang akan dilakukan Quil: berubah dan memberi tahu yang lain. Embry di luar sana, berlari dengan kawanan menelusuri jejak vampir. Rasa tidak enak sedikit menjalari hatinya, Embry sudah tidak pernah berubah lebih dari tiga bulan dan ia selalu berpikir untuk tidak pernah berubah lagi, jadi tentunya semua urusan ini mengganggunya.
"Di mana yang lain?" tanya Seth pada Emily, yang masih mengganti kompres pada lukanya. Ia berusaha bangun, tapi tiba-tiba mengaduh keras.
"Jangan bergerak. Beberapa rusukmu patah," ujar Emily lembut. Suaranya hampir mendekati prihatin. Seth meringis. Ia baru menyadari sebagian besar tubuhnya dibalut perban. Seluruh dadanya, kaki kanannya, dan sebagian paha kirinya. Tangan kanannya disangga pada kayu. Lehernya juga memakai penyangga.
"Sial," umpatnya.
"Dan Sam memberi perintah tegas bahwa aku harus memperingatkanmu untuk tidak berubah atau melakukan tindakan konyol lain, hingga kau sembuh. Atau ia terpaksa menggerek Carlisle Cullen ke sini untuk melakukan hal sama seperti yang ia lakukan pada Jacob enam tahun lalu."
Seth meringis. "Perintah? Ia bukan Alfaku, Em. Apalagi Alfamu."
"Ya. Tapi ia suamiku. Dan ia benar, kau tahu."
Mau tak mau Seth mengiyakan. Emily tersenyum, dan pergi ke dapur. Beberapa saat kemudian ia kembali, membawa semangkuk sup. Sambil meringis ia membetulkan letak duduknya, bersandar pada bantal-bantal kursi dan mulai menyendoki sup Emily dengan tangan kirinya yang tidak dibalut. Bahkan tangannya terasa sakit hingga ke ujung jemari.
Quil kembali dari balik pepohonan, masuk ke rumah seraya mengancingkan celananya. Di belakangnya menguntit Brady dan Caleb. "Perintah jaga benteng, Ma'am," katanya dengan sikap melapor ketika Emily memelototinya.
"Ingat, jangan banyak membuat Seth tertawa!" perintahnya yang langsung membuat Seth tertawa, dan ujung-ujungnya mengaduh-aduh merasakan nyeri di tulang dadanya.
Quil mendekati Seth, duduk di karpet di dekat sofa. "Bagaimana rasanya, Pal?" tanyanya, tampak berusaha keras tidak menyikut rusuk Seth seperti biasa ia lakukan.
Seth mengedik asal-asalan. "Seperti mumi. Akhirnya aku merasakan perasaan Jake saat itu. Menyebalkan. Pantas saja ia frustasi."
Mau tak mau Quil nyengir. "Besok atau lusa juga kau sembuh. Dan tidak ada orang luar yang tahu, jadi kau tidak perlu berpura-pura sedang dalam masa penyembuhan sesudah kecelakaan motor."
"Ya." Seth memutar bola matanya. "Lagipula aku tidak punya motor."
"Itu yang kumaksud, Dude."
Seth menanyakan pertanyaan yang sebelumnya belum dijawab Emily. "Ke mana yang lain? Aku dibawa kesini oleh Jake dan Embry kan? Aku sempat mendengar suara mereka sebelum aku pingsan."
"Em dan Cole membawamu kesini. Jake terlalu marah untuk menunggu. Ia langsung mengendus mereka. Kemudian Em memimpin anak-anak lain mengikutinya. Brady dan Caleb di sini," ia menunjuk dua anak yang tengah merampok kulkas Emily, "adalah yang terakhir berkumpul. Kau tahu kemampuan Caleb. Aku menculik mereka untuk menjagaimu. Siapa tahu kau tergigit dan tiba-tiba berubah jadi vampir."
"Apa kubilang soal jangan membuat Seth tertawa?" Emily datang memperingatkan, sambil membawa sup tambahan. Seth menolak halus, meski ingin. Tangannya terasa tidak enak. Embry langsung menyambarnya bahkan tanpa minta izin.
Siapapun tahu racun vampir benar-benar beracun bagi serigala. Dan Seth bersyukur ia tidak digigit, mengingat betapa dekat ia dengan kematian sebelumnya.
Dan ia ingat.
"Quil, ada serigala lain di hutan," katanya, yang anehnya tidak membuat Quil terkejut.
"Aku tahu. Jake memberi tahu semua kawanan."
"Ia menolongku. Dan," Seth berhenti. Ia teringat percakapannya dengan Sam sebelumnya. "Sam curiga mungkin Korra memiliki gen werewolf. Mungkinkah itu Korra?"
"Korra siapa?"
"Coraline Gerrard, adik Jake."
"Sejak kapan Jake punya adik?"
Seth baru sadar ia mulai bergosip. Tapi bagaimanapun semua anggota kawanan akan tahu juga akhirnya. "Putri Billy dari orang luar La Push, mungkin," ia sendiri kurang yakin dengan yang terakhir. "Billy baru tahu tiga tahun lalu. Jake kurang dari seminggu. Kami menjemputnya di bandara siang tadi."
"Astaga. Billy Black punya wanita lain?"
"Bukan itu masalahnya, Quil," Seth berusaha menghindari topik yang, bagaimanapun harus diakui, 'fishy' tersebut, berusaha mengembalikan pembicaraan ke jalur yang sebenarnya, "Sam bilang Korra mungkin punya gen werewolf."
"Ya, itu pasti, jika ia memang putri Billy. Memangnya kenapa?"
Kadang Seth merasa Leah benar kala ia selalu mengatai Quil bodoh.
"Aku hanya menduga, mungkinkah ia serigala yang kulihat di hutan?"
Quil menganga. "Adik Jake serigala?"
"Serigala betina berbulu hitam. Entahlah, aku kurang yakin. Aku sekilas melihatnya, kurang jelas, sebelum aku pingsan."
"Dan dia menolongmu melawan segerombolan vampir?"
Seth mengacungkan tiga jarinya. "Tiga. Dua mati dan satu dikejar, tidak tahu kabur atau bagaimana."
Quil terpekur sesaat. "Well, itu tidak mungkin, Seth."
"Kenapa?"
"Kaubilang ia baru datang hari ini. Tidak ada serigala baru yang mampu melawan tiga vampir baru sendirian, Seth," Quil terdengar sangat masuk akal. "Dan dia perempuan."
Semua omong kosong tentang perempuan membuat Seth kesal. "Leah," katanya mengingatkan.
"Leah punya darah tiga..."
"Korra punya darah Black," entah mengapa ia terdengar seperti Sam.
"Tapi Rachel dan Rebecca tidak ..."
"Mereka hanya tidak ada pada waktu dan tempat yang tempat agar gennya bisa bereaksi terhadap vampir," alasan Seth terdengar rasional. Ia sendiri merasa heran. Baru saja siang tadi ia melawan Sam mati-matian soal kemungkinan Korra sebagai werewolf. Dan mendadak saat ini sebagian dari dirinya lega dengan kemungkinan itu. Jika Korra memang werewolf, dan Korra yang menolongnya ...
"Astaga, Seth!" teriakan Quil membuat Seth terkejut. Ia hampir mengira Quil melihat ada vampir mengintipnya dari balik jendela, ketika ia sadar apapun yang mengagetkan Quil ada di dirinya.
Sesaat hatinya mencelos. Ada apa? Apa di giginya mulai tumbuh taring vampir?
"Kau, kau meng-imprint Korra, ya?"
"Heh, apa?"
"Kau terdengar seolah jatuh cinta padanya. Berharap ia serigala yang menolongmu dan sebagainya ..."
"Tentu tidak, bodoh!" teriak Seth, yang seketika membuat rusuknya sakit lagi. Ia meringis, menyandarkan punggungnya dengan hati-hati ke bantal. "Kita sudah lebih dari tahu bahwa imprint muncul pada pandangan pertama, Quil. Kalau aku meng-imprint dia, aku pasti sudah tahu di bandara. Yah, bukan berarti dia gadis yang tidak menarik, sih ..." ia menimbang-nimbang. "Tapi tidak. Tidak ada dalam kamusku untuk jatuh cinta pada adik Jake, apalagi adik yang tidak dia inginkan. Paul cukup jadi contoh kalau ada yang berani-beraninya jatuh cinta pada anggota keluarga Black. Bahkan tidak dengan kesempatan 50% Jake akan menerimaku."
Quil terkekeh. "Yah, kalau pilihanmu adalah tunangan Jake atau adik Jake, aku rasa memang kesempatannya 100% kau akan membuat marah Jake, Dude."
Seth melotot. "Sejak kapan ada gosip itu? Jangan teruskan! Aku tidak pernah jatuh dan tidak akan pernah cinta pada Nessie ataupun Korra!" tegasnya.
Quil masih terkekeh hingga Seth harus membentaknya lagi.
"Serius, Quil! Aku mengatakan hal yang dikatakan Sam."
Nama Sam yang diungkit-ungkit memang mengubah keadaan, lebih tepatnya kadar keseriusan pembicaraan.
"Apa para Tetua tahu soal ini?"
"Mereka tampaknya agak ... mengharapkan hal itu terjadi. Kelihatannya Billy sendiri yang meminta Korra datang. Dan Sam mengatakan sesuatu soal ... mengumpulkan anak-anak yang punya potensi gen werewolf," Seth tidak tahu mengapa ia mengedit kata-kata Sam, berharap ia tidak salah pengertian seperti kata Sam, "aku mendapat kesan ia ingin kita membangun batalion werewolf."
Rasa ngeri yang sama yang dirasakan Seth terpancar di wajah Quil. "Untuk apa?" tanyanya, lebih terdengar seperti tuntutan daripada pertanyaan, "Tujuh belas seperti saat itu sudah jumlah yang terlalu besar. Bahkan dengan empat senior pergi, kita masih punya tiga belas. Kau tahu, Jake serius mempertimbangkan bahwa setelah Embry pergi, ia akan membagi kawanan menjadi dua dan membiarkanmu jadi Alfa."
Seth ingin mengatakan 'Volturi', tapi dengan apa yang ia lihat di hutan, ia jadi menimbang-nimbang kemungkinan yang jauh lebih dekat daripada itu. Dan mungkin Quil juga berpikir yang sama, karena mendadak ia bangkit sambil berkata, "Aku akan ke rumah Sue. Sam sedang ada pertemuan dewan di sana."
"Untuk apa?" tanya Seth. "Tidak ada hal baru yang kita ketahui."
"Mengecek apa yang dilakukan adik Jake ketika kau diserang. Mencari tahu siapa saja 'gen-gen potensial' yang dimaksud Sam. Lebih baik memang benar serigala yang kautemui adalah salah satu dari mereka, Seth."
Seth mengangguk mengerti. Ia bahkan tidak perlu mendengar kalimat yang ada di balik ucapan Quil barusan.
Karena kalau tidak, berarti kita tidak hanya berurusan dengan vampir...
