THE ANOTHER BLACK
Disclaimer: I do not own Twilight, either its characters, basic plot, backgrounds, etc... They all belong to Stephenie Meyer
.
Enam - Serigala Hitam
Monday, December 17, 2012
1:14 AM
.
Jacob berdiri di puncak tebing di daerah utara tanah Quileute. Sejauh ini tidak ada tanda-tanda keberadaan vampir. Ia sudah mengejar ke utara, mengendus bau yang paling kuat, tetapi tidak ada apa-apa. Mungkin mereka sudah menyeberang, pikirnya.
Ia benci ini. Berbulan-bulan mereka patroli dan keadaan begitu aman. Sekarang tahu-tahu empat vampir muncul begitu saja, makan siang tepat di depan hidung mereka. Seth diserang. Dan seekor serigala masuk daerah kekuasaan mereka.
Ia benci dirinya sendiri.
Apa yang dia lakukan? Ia Alfa, dia Kepala Suku Quileute, seharusnya ia bisa memprediksi hal seperti ini. Para Tetua sudah memperingatkan berulang kali, jangan kendorkan penjagaan. Ia tahu, tapi ia juga tidak bisa memaksa anak-anak kehilangan masa muda mereka untuk tugas patroli. Karenanya ia bersikap agak longgar. Mungkin terlalu longgar.
Dan dimana dia ketika Seth membutuhkannya? Seth dalam perjalanan pulang ketika ia duduk sendirian di taman, berusaha menenangkan diri. Lalu di mana ia ketika Seth berubah? Sepanjang waktu ia berusaha tidak berubah, berkelana tanpa tujuan di Seattle, menghindari kerumunan. Ia samar-samar merasakannya, insting tidak enak yang menyatakannya harus segera berubah karena seseorang membutuhkannya. Tapi mencari hutan untuk berubah adalah perkara sulit di Seattle, berlari dengan kecepatan senormal mungkin dalam wujud manusia adalah suatu kesulitan tersendiri baginya. Dan ia baru sadar bahwa dompetnya tertinggal di mobil, sehingga bahkan ia tidak bisa mencegat bus atau taksi. Mungkin Seth sudah berkelahi dengan vampir itu ketika akhirnya ia dapat mencari jalan ke hutan di luar Seattle yang berhubungan dengan hutan di Forks. Dan akhirnya ketika ia bisa berubah, rasa hampa yang aneh menyergapnya. Sudah terlambat, itu yang ia pikir saat itu. Ia sudah kehilangan Seth.
Amarah tanpa dasar membakarnya, memaksanya berlari lebih cepat. Makin cepat, makin cepat. Hingga akhirnya ia melihat tungku yang terdiri dari kayu bakar anggota tubuh manusia di dekat sungai. Bau vampir bercampur bau manusia, bau darah. Dan kemudian sosok beberapa manusia di balik rimbun pepohonan. Quil, Embry. Dan Seth di atas tanah basah. Telanjang. Terluka. Collin di sisinya, dalam bentuk serigala. Mereka berusaha menggulirkan Seth ke punggungnya.
Jake berubah dan mendekat, terbalut dalam berbagai emosi campur aduk memenuhi dadanya.
Seth belum mati, Seth tidak mati...
Dan tinju Quil menghantam rahangnya sebelum Jake sempat mendekat. Ia memaki, mengumpat, mengatainya tidak bertanggung jawab. Ia tahu ia berhak menerimanya. Ia bahkan berhak menerima lebih dari itu. Ini semua salahnya. Ini semua kealpaannya. Ia seharusnya melindungi semua kawanan, semua orang, dan kini tidak kurang, dua manusia jatuh sebagai korban.
Dan sepanjang hari Seth bersamanya. Jika saja ia tidak kehilangan emosi, jika saja ia tidak pergi, Seth takkan jadi korban. Mungkin ia akan tiba di La Push lebih awal. Mungkin mereka akan tertawa riang, memakan masakan Billy di pesta kecil reuninya dengan sang putri. Mungkin ia tetap akan emosi dan berubah akhirnya, tetapi itu lebih baik karena ia yang akan bertemu dengan vampir-vampir itu. Ia yang akan melawan mereka. Dan jika ia kalah, ia yang akan terbaring di lantai hutan itu. Ia, bukan Seth.
Hati Jake mencelos ketika ia mendengar derak tulang Seth tatkala digulirkan ke punggung Collin. Rusuknya retak, itu sudah pasti. Kakinya mungkin juga patah. Darah menyelimuti tubuhnya, Jake bisa melihat bekas cakaran panjang melintang di dadanya. Ia tidak tahu vampir mana yang bahkan punya cakar. Entah apa lagi yang diderita Seth. Ia bahkan tidak berani bertanya apakah Seth digigit ... Tidak, ia bahkan tidak berani memikirkannya. Bayangan racun vampir menjalar di tubuh Seth, membunuhnya. Ia bahkan tidak bisa berubah menjadi vampir.
Ia ingin mendekat, ingin mengetahui keadaan Seth. Ingin memastikan setidaknya Seth masih punya harapan hidup. Tapi Embry menghalanginya.
"Kami akan membawa Seth ke tempat Emily. Kau tenanglah, Jake, ada hal yang lebih penting yang harus kau urus."
Dan ia tahu itu. Ia tahu Embry benar. Embry tidak marah dan membencinya, Embry selalu bisa menangani keadaan lebih dari yang ia perkirakan. Ia dan Quil pasti bisa menangani Seth, lebih dari yang dirinya sendiri bisa urus. Dan ada Caleb di sana, yang sedikit mengerti ilmu pengobatan dasar. Tidak seperti Carlisle tentu, tapi jika ada yang perlu dikhawatirkan soal kesehatan, Adam yang mantan pramuka dan bekerja paruh-waktu di Unit P3K rumah sakit pasti bisa menanganinya.
"Sam dan para Tetua perlu diberi tahu soal ini," ujar Jake yang disambut anggukan Embry. "Dan aku butuh kau sesegera mungkin untuk memimpin kawanan. Kita harus berpencar."
"Aku akan menyuruh Collin dan tiga serigala lain mengikutimu secepat yang aku bisa," kata Embry tangkas. Reaksinya selalu lebih cepat dari kebanyakan anggota kawanan yang lain. Jake beruntung memilikinya sebagai Gamma. "Dan mungkin kita butuh beberapa orang di tempat Emily. Jika memang ada vampir mengincar Seth, kita tidak ingin ada yang menyerangnya selagi kita tidak ada."
"Ya," Jake setuju. "Tempatkan Quil dan Brady di sana. Mereka akan menjadi penghubung dengan Sam dan kita. Juga tempatkan Caleb atau Adam, salah seorang dari mereka bisa merawat Seth."
Embry mengangguk dan memimpin kelompok kecil itu ke tempat Emily, sementara Jake menuju tempat pertarungan di tepi sungai. Darah Seth masih menggenang, yang segera dikuburnya dengan tanah. Hal terakhir yang ia inginkan adalah kedatangan vampir lain, jika ada, ke tanah itu untuk mengendus bau darah Seth.
Ia mengendus, mencari jejak bau vampir yang kuat menyelimuti tempat itu. Ada setidaknya lima atau enam bau yang berbeda, mengelilingi tempat Seth diserang. Dalam pikiran yang sempat didengarnya sebelum Seth pingsan, Jake mendapat kesan bahwa sang penyerang ada empat. Tiga mati dan satu kabur. Lalu apa yang dilakukan dua lintah lainnya, menyaksikan dari balik pepohonan sementara empat kawannya mengeroyok seekor serigala yang jelas-jelas sendirian?
Lalu ada bau samar serigala lain. Bayangan samar serigala hitam yang dilihatnya di pikiran Seth menari sekali lagi dalam kepalanya. Ia tak melihat jelas, karena Seth dalam kondisi setengah trans saat itu, tapi ia bisa menangkap sekilas. Kecepatannya, kekuatannya, kelincahannya, ketepatan dan perhitungannya. Semua hanya berujung pada dua kesimpulan: serigala itu bukan serigala baru dan bukan berasal dari La Push.
Masih kalut dengan fakta yang ditemukan, Jake mengendus bau-bauan di udara dan mencari asal bau tersebut. Asalnya dari timur, tapi bau ini mengarah ke utara. Jake menimbang sejenak, dan akhirnya memutuskan mengejar ke utara. Jika membutuhkan penyelidik untuk mengikuti jejak ke timur, ia bisa menugaskan kelompok Embry.
.
.
Jake, Embry memanggil dalam pikirannya. Ia berlari bersama tujuh serigala lain. Kau ke mana?
Mengejar ke utara. Kau endus sumber baunya ke timur, Embry.
Baik. Collin, Clark, Pete, Ben, kalian ikuti Jacob. Adam, Harry, Josh, kalian ikuti aku.
Tidak. Pete ikuti Embry. Kalian butuh formasi lengkap kalau mau mengikuti lintah ke sarangnya. Ingat, sebisa mungkin hindari konfrontasi.
Roger, Alfa.
Derap kaki di belakang Jake membuat Jake melambatkan larinya. Collin, Clark, dan Ben mengejar Jacob. Collin, Beta-nya Seth, langsung memposisikan diri di sebelah kanan Jacob. Sementara Clark menempati sisi kiri, Ben menempati posisi ekor sebagai back-up.
Bau vampir kian menguat. Bukan satu, tapi tiga. Tapi bau serigala memudar, hingga pada titik bau itu hilang seluruhnya. Tergetar oleh kemungkinan si serigala dibunuh oleh gerombolan vampir itu, Jake memicu kakinya berderap lebih kencang.
Jake, apa yang akan kita lakukan? tanya Collin, menghindari pohon beberapa kali dan kembali ke formasi.
Kejar lintah dan bunuh, Jacob memerintah tanpa mempertimbangkan dua kali.
Serigala?
Jacob belum sampai pada pemikiran apa yang harus dilakukan pada si serigala itu. Jika ia memang serigala luar, tak ada alasan baginya untuk tetap di La Push. Tidak mungkin juga baginya menerima anggota kawanan lain sebagai bagian dari serigala La Push. Terlalu beresiko.
Tidak ada keputusan yang dibuat hingga bertemu langsung, putus Jake. Ia bisa merasakan Collin senang dengan keputusan itu.
Eh, maaf, Man. Aku cuma melihat bayangan serigala itu dan...
Kau gentar, Cole?
Eh, tidak, Sir. Maaf. Hanya saja, menurutku dia bukan musuh.
Benar, Jake, Clark mengamini. Jika ia punya niat tidak baik dengan kawanan, ia bisa diam saja dan tidak usah membantu ketika para lintah menghabisi Seth.
Aku tidak bilang ia musuh, Kid. Aku cuma bilang jangan biarkan penjagaanmu menurun. Walau dia tidak berada di pihak lintah, kita tidak tahu apa tujuannya.
Mungkinkah ia bagian dari kawanan lain?
Nah, itu kemungkinan yang buruk, Ben. Kawanan serigala lain memasuki teritori kita, menurutmu apa kemungkinannya?
Hmmm, kunjungan persahabatan?
Pikiran yang manis, Nak. Sayangnya itu tidak bekerja di dunia yang kita tinggali.
Jake, kau mungkin mempertimbangkan mereka, kalau ada, sebagai werewolf nomaden? Kau tahu, seperti vampir nomad?
Aku sungguh tidak tahu pernah ada werewolf nomad, Clark. Biasanya serigala hidup dalam batas teritori tertentu.
Yah, tapi apa yang kita tahu soal makhluk supranatural lain di sekitar kita, sih? Seolah-olah kita 100% mengerti tentang diri kita sendiri...
Mau tak mau Jacob membenarkan.
Mengapa kita harus berpikir tentang 'kawanan'? Bisa saja ia sendirian kan? Collin mengemukakan lagikemungkinan lain. Di antara semua kawanan, anak ini yang paling mampu memikirkan berbagai alternatif. Hampir seperti Seth.
Ehm, terima kasih pujiannya, Sir...
Tidak bermaksud memuji, Kid. Aku hanya berpikir, jika ia sendirian, siapa dia dan mengapa dia ada di sini? Serigala buangan? Yang diusir dari kelompoknya?
Mungkin dia hanya pergi, kau tahu, untuk menenangkan pikiran, seperti kau dulu...
Jake tersenyum masam. Sangat tajam dan tepat sasaran, Kid...
Hei, aku cuma memikirkan kemungkinan. Jangan tersinggung, Man...
Tidak apa, Cole. Kau benar... ada juga kemungkinan itu. Tapi kita tetap tidak bisa hanya menduga-duga.
Lalu apa yang kita lakukan jika kita bertemu dengannya?
Lakukan sesuai prosedur. Seperti kita bertemu yang lain. Bersikap sopan, katakan ia berada di teritori kita, tanyakan siapa dia dan apa kepentingannya. Setelah itu baru kita putuskan hal yang harus kita lakukan.
Terdengar seperti awal persahabatan baru bagiku, Jake. Ben tersenyum senang. Ia tipe anak yang senang berteman, mengingatkan Jake pada Seth dulu.
Terima kasih pujiannya, Sir...
Aku tidak berniat memuji siapa-siapa hari ini, geram Jacob, lebih lagi kalau kalian meniatkannya untuk mengejekku. Perhatikan langkahmu dan konsentrasi pada sekitarmu, hal terakhir yang kita inginkan hari ini adalah kalian semua pulang dalam kantung mayat.
Baik, Sir.
Berlari bersama berandal-berandal cilik ini kadang membuat Jake kesal. Mereka tahu saja cara untuk meringankan suasana dalam keadaan tegang. Bukan berarti membuat apa yang menimpa Seth menjadi perkara enteng, hanya saja rasanya dengan anak-anak ini berlari bersamanya, kalut dan mendung yang menggayuti pikiran Jake setengah menghilang. Dan ia butuh sedikit keringanan hati untuk berpikir jernih di saat seperti ini.
Aku terima itu sebagai pujian, Sir.
Aku katakan berkali-kali aku tidak berniat memuji. Dan aku juga sudah bilang jangan memanggilku 'Sir'.
Maaf Sir...
Ya Tuhan...
Kadang Jake benar-benar merasakan bagaimana rasanya jadi Sam dulu. Pantas saja Sam keras pada semua orang. Rasanya gila mendengar semua bocah-bocah ini bicara.
Maaf, Sir.
Jangan berkomentar tentang pikiranku kalau tidak dibutuhkan, Collin.
Maaf sekali lagi, Sir...
Jika bilang maaf sekali lagi, kusuruh kau ke rumah Emily menunggui Seth.
Ya, Sir... Ma-
Jacob menggeram kesal. Tapi tak lama topik itu lenyap, karena mendadak suara Embry terdengar.
Bersama kawanan sekian tahun memberinya banyak pelajaran khususnya mengenai berbagi pikiran. Ia akhirnya tahu bahwa berbagi pikiran dan perasaan bukan berarti kau harus mendengar tetek bengek dalam pikiran mereka setiap saat, merasakan setiap emosi yang berbeda-beda yang hnya akan mengganggu emosi kelompok. Tidak, hal seperti itu sedikit sekali berguna dalam prinsip "berpikir dan bertindak sebagi satu tubuh" yang menjadi tujuan utama kemampuan seperti itu. Lewat berbagai latihan, ia akhirnya bisa menyaring pikiran dan emosi, mengecilkan dan membesarkan suara yang melintas di pikiran semua orang, memanfaatkan gambaran dalam mata dan pikiran semua anggota kawanan, memanfaatkannya untuk melindungi seluruh anak buahnya. Dan itulah yang kini ia lakukan.
Ada apa, Embry? Melihat sesuatu?
Aromanya berasal dari luar teritori, Jake. Di luar Forks. Di perbatasan jejaknya menghilang. Apa yang harus kami lakukan?
Ia memutar ulang gambar yang dilihat di benak Quil dan kelompoknya. Jejak-jejak samar di udara, ranting-ranting patah, bau dedaunan... Jejak yang mendadak hilang. Seolah seseorang sengaja memasang jejak di dalam wilayah kekuasaannya, dan begitu di lur, wussshhh... jejak itu hilang, tanpa sisa sedikitpun, seolah disaputi sesuatu yang lain. Seperti kemampuan yang dimiliki beberapa lintah untuk menghapus jejak.
Mereka bermain dengan kita, simpulnya pahit.
Tepat ketika pikiran Quil memasuki benaknya.
Sial. Satu, bukan, dua masalah lagi datang.
Sam, dan ... Korra.
.
.
Malam menjelang. Jacob sudah mencapai ujung tebing jurang dalam di perbatasan ketika hal sama yang dihadapi Embry juga dialami olehnya. Jejak vampir yang menghilang. Tapi jejak serigala masih tertinggal di sana, baunya makin kuat.
Dan ia melihatnya. Di ujung tebing di seberangnya, di luar teritorinya, bayangan sesuatu mengintip dari balik pepohonan.
Siapa kau? Apa yang kaulakukan di tanah kami? Ia berusaha mengirimkan pikiran pada sosok itu.
Sosok itu keluar dari balik semak-semak, memperlihatkan diri.
Persis seperti yang ada dalam pikiran Seth. Seekor serigala hitam dengan garis putih mengelilingi lehernya berdiri anggun, berlatar belakang bayang rimbun pepohonan. Sosoknya berbeda dengan serigala lain dalam kawanan Quileute. Tubuhnya ramping, bulu tipis dengan rahang yang panjang dan ramping. Matanya berkilat diterpa sinar bulan.
Dan ia diam. Diam memperhatikan mereka dengan tenang. Jake sama sekali tak mendengar suara apapun, dalam pikirannya maupun kenyataannya.
Kawanan di belakangnya mulai berisik. Menggeram dan berteriak-teriak ribut dalam pikirannya. Jake berusaha meredam suara itu, berkonsentrasi hanya pada apa yang dilontarkan serigala di hadapannya.
Tapi hanya hening.
Dan tiga detik kemudian, serigala itu berbalik dengan anggun, menghilang ke balik rimbun pepohonan.
Hei, teriak Collin, mengambil ancang-ancang melompati tebing. Tapi Jacob menghentikannya.
Ia bukan musuh kita, Cole. Dan dia ada di luar teritori. Kita mundur sekarang.
Terdengar geram gelisah dari kawanan di belakangnya ketika ia berbalik kembali. Tapi ia tidak peduli. Ia harus segera kembali ke rumah. Menemui Sam, menemui Para Tetua.
Ada masalah lain yang sudah di depan mata.
.
