THE ANOTHER BLACK
Disclaimer: I do not own Twilight, either its characters, basic plot, backgrounds, etc... They all belong to Stephenie Meyer
.
Tujuh - Daftar Nama
Monday, December 17, 2012
1:14 AM
.
"Sam, aku perlu bicara denganmu," kata Jacob ketika Sam membukakan pintu rumah keluarga Clearwater untuknya. Rapat dewan sedang diadakan di sana, keempat Tetua berkumpul. Sue, Quil Ateara Sr., Billy, dan Sam. Sam mengangguk, mempersilahkan Jacob masuk. Tapi Jacob bertahan di luar, menegaskan, "Empat mata."
Sam mengernyit, perang jelas tergambar di matanya. Tapi akhirnya ia menyerah. "Ayo bicara di luar."
Jacob mengajaknya menjauh dari rumah Clearwater, setidaknya sampai jarak yang ia yakin orang biasa tanpa kemampuan pendengaran super tidak akan mampu mendengar pembicaraan mereka.
"Aku bertemu serigala itu, Sam. Serigala yang menolong Seth," lapornya. Sam mengernyit, tidak tampak kaget, tapi lebih tampak seperti sedang mencerna fakta ini. "Kau yakin itu Korra?" lanjutnya.
Sam tidak perlu bertanya dari mana Jacob mengetahui kecurigaan ini.
"Korra sepanjang hari bersama Billy," gelengan kepalanya membawa Jake pada kelegaan yang sangat menenangkan. Sam yakin si kepala suku tidak resmi itu sudah menahan ketegangan dan ketakutannya lama sekali. "Setidaknya hingga Quil dan Embry membawa Seth ke rumahku dan melaporkan penyerangan itu. Aku langsung minta diadakan rapat dewan setelahnya," tambahnya.
"Berarti Korra sudah pasti bukan serigala itu," tekur Jacob. Tanpa diduganya, ia merasa sedikit lega. "Lalu siapa? Quil bilang menurut Seth kau punya dugaan, kau telah menyelidiki siapa yang berpotensi memiliki gen werewolf belakangan ini. Soal batalion werewolf dan lain sebagainya."
"Ya. Kaulihat hal ini bukan rahasia yang hanya merupakan ideku semata. Dewan mengetahuinya."
Jacob membiarkan satu geraman memenuhi dadanya. "Aku tidak mengatakan aku setuju dengan itu, Sam."
"Aku yakin kau tidak. Seth sudah memberiku pendapatnya. Aku yakin kau tidak akan jauh berbeda."
"Tapi lebih dari itu, ada masalah lain yang juga penting untuk dipertimbangkan," ujar Jacob cepat.
"Ya, tentu. Vampir dan kawanan serigala lain. Quil juga sudah menyampaikannya padaku. Ada yang baru?"
"Bau vampir hilang di luar perbatasan. Kami tidak bisa melacaknya. Ada yang mempermainkan kita."
"Ada tebakan? Atau kecurigaan? Apapun?"
"Sampai saat ini belum. Tapi aku ingin melakukan sesuatu dan aku ingin Dewan tahu."
"Apa itu?"
"Mungkin ini sedikit keluar dari perjanjian. Tapi aku ingin kami menyelidiki hingga keluar wilayah perbatasan. Apapun yang direncanakan lintah-lintah ini, jikapun ada, aku rasa jawabannya ada di luar perbatasan."
"Aku juga mempertimbangkan hal itu. Tapi jika ada yang mereka inginkan dengan berbuat seperti itu, apapun yang mereka incar ada di dalam sini. Kau ingat insiden dengan Victoria dan para vampir baru dahulu?"
"Ya. Mereka berusaha membalas dendam dengan sesama vampir. Tapi aku tidak yakin hal itu terjadi sekarang. Bagaimana jika jawabannya adalah sesuatu yang sama sekali berbeda?"
"Seperti apa?"
Jacob menggeleng. "Aku tidak tahu," akunya. "Hanya saja, aku merasa, semua ini saling berhubungan."
"Jangan biarkan pengawasanmu menurun, Jake. Aku tahu ini sulit. Tapi kau adalah pelindung bagi kami semua."
"Aku tahu..." hela Jacob berat, sadar maksud di balik perkataan Sam. "Maafkan aku."
Sam tersenyum.
"Tolong katakan pada Sue aku minta maaf, oke?"
"Kau tidak menyampaikannya sendiri?"
Jake menimbang-nimbang. "Sebut aku pengecut. Tapi dengan aku sebagai penyebab sekaratnya anaknya, aku rasa hanya masalah waktu sebelum Sue bisa benar-benar berubah jadi serigala dan mengoyak-ngoyak tubuhku."
Sam tertawa. Serahkan saja pada Jacob untuk membuat lelucon dari hal paling tidak lucu di dunia.
"Kau tahu maksudku," kata Jacob kemudian, berbalik pergi.
"Tunggu, Jake," ujar Sam sejurus kemudian. "Aku juga ingin kalian menyelidiki sesuatu."
"Apa?"
Sam menyerahkan selembar kertas yang terlipat dari dalam sakunya. Jacob menerimanya. Daftar nama.
"Apa ini, Sam?"
"Itu nama anak-anak yang kami duga memiliki gen werewolf, sejauh ini. Dengan sesuatu merencanakan entah apa di luar sana, kami menduga akan terjadi sesuatu pada anak-anak ini. Aku ingin kalian mengawasi mereka, agar jika hal itu benar-benar terjadi, kita sudah siap."
"Masalah batalion werewolf lagi, Sam? Kautahu bagaimana perasaan aku dan kawanan soal ini."
"Kau juga tahu aku tidak suka ini, aku tidak menginginkannya sama sepertimu. Hanya saja ini tindakan berjaga-jaga. Kita membutuhkan mereka sama besar dengan kita tidak ingin hal itu terjadi pada mereka."
Jacob menimbang-nimbang. "Baru kali ini kau menjadi sangat metodis."
Sam terkekeh. "Aku selalu metodis, Jake."
Membuang rasa ketidaksukaannya, Jake tahu ini adalah hal yang memang harus dilakukan. Ia tidak menyukainya, tapi ini memang harus dilakukan. Jadi ditelannya hal itu dan dipaksakannya sebuah senyum melintas di wajahnya, ketika ia memasukkan kertas itu ke saku dan melangkah pergi.
"Dan satu lagi, Jake," kata Sam sebelum Jacob melangkah pergi. "Aku harap perasaan pribadimu tidak mempengaruhi keputusanmu."
Jacob mendapat firasat bahwa itulah masalah terbesarnya.
.
.
Berita memang menyebar sangat cepat di dalam kawanan. Jacob selalu membayangkan anggota kawanan seperti sekumpulan cewek penggosip yang tidak bisa menyimpan rahasia, bukannya ksatria pelindung suku yang memiliki kemampuan supranatural berubah bentuk menjadi anjing raksasa.
Pagi ketika Jacob datang ke rumah Sam untuk menengok Seth sekaligus membicarakan masalah serius dengan Sam, ia sudah dihadang Collin dan Caleb, yang langsung menginterogasinya dengan roman muka antusias yang lebih parah daripada wartawan infotainment manapun.
"Jawabannya tidak, Caleb, aku tidak tahu Billy memiliki anak lain sebelum seminggu yang lalu dan tetap tidak, Collin, walau kau menanyakan sejuta kali pun, aku tidak menganggap Korra mungkin adalah serigala yang menyelamatkan Seth, seromantis apapun kauanggap ide itu," kata Jacob putus asa, yang disambut tawa Quil dari samping sofa yang ditiduri Seth.
"Jangan marah, Jake... Mereka hanya menganggap ide itu brilian," sambut Quil. Ia masih marah pada Jake, tapi setelah melihat usaha Jake mengejar sampai perbatasan kemarin, dan mendengar langsung pembelaan Seth selama lima jam tanpa henti, amarah itu perlahan luntur. Lagipula memang sudah dari sananya ia tidak bisa marah pada Jake, sebodoh apapun kelakuan sahabatnya.
Jacob menggerutukan sesuatu seperti 'dasar berandal cilik', 'tukang gosip', dan 'terjebak dalam sitkom The Gossip Guys', tidak cukup pelan untuk tidak mampu tertangkap telinga empat orang lain berkemampuan pendengaran sensitif yang ada di ruangan itu.
Quil terkekeh seraya mengganti kompres di dada Seth. Caleb sudah membuka balutannya tadi pagi, dan melihat luka cakaran itu sudah hilang. Namun ia masih menganggap perlu membalutnya lagi, karena rusuk Seth masih belum sembuh sempurna. Caleb mendignosa hanya ada retakan dan patahan, tidak ada tulang hancur yang menyayat atau menembus jaringan lain, sehingga ia tidak merasa perlu melakukan prosedur yang dilakukan Carlisle dahulu.
Kadang Jacob merasa kemampuan Caleb sungguh berguna, dan merasa hormat juga pada cowok itu. Tentunya jika ia tidak sedang berubah menjadi cewek penggosip menyebalkan bersama Collin.
"Bagaimana perasaanmu, Jake?" tanya Seth lamat-lamat. Caleb menyuruhnya sedikit bicara, sedikit tertawa, karena hal tersebut membuat rusuknya sakit.
Jacob merasa ia salah mendengar. Jika benar pun, seharusnya ia yang menanyakan hal itu.
"Bagaimana perasaanmu soal Korra, maksudku."
"Oh, itu ... aku sudah merasa agak baikan, terima kasih sudah bertanya," katanya.
"Tidak. Serius, Jake. Bukan aku mau mengungkit hal yang tak kausuka, hanya saja itu bukan salah Korra, Jake, bukan salah Billy juga," melihat Jake mendelik ia buru-buru mengoreksi, "Oke, mungkin sebagian besar salah Billy... Tapi kau harus menerima itu. Kau harus memaafkan Billy. Jujur saja, Jake, aku tidak yakin satu-satunya alasan Billy menginginkan Korra di sini adalah alasan bodoh soal kontrol regenerasi werewolf atau batalion atau apapun hal tolol yang dikatakan Sam. Mungkin alasan yang lebih tepat adalah keluarga, Jake. Keluarga bersama, saling kenal, saling mencintai, adalah hal yang pastinya diinginkan siapapun di masa tua."
Mau tak mau Jacob tersenyum. Seth pastinya adalah orang yang paling mementingkan hubungan baik kakak-adik dibanding siapapun juga. Tapi bagaimanapun hal ini menyakitkan hatinya.
"Aku hanya berpikir soal Mom, Seth... Aku selalu mengira Dad mencintai Mom. Dan hal ini, wanita lain dan Korra ini, terjadi sebelum Mom meninggal... Aku hanya bertanya, bagaimana perasaan Mom jika ia tahu. Bagaimana perasaan Dad ketika Mom meninggal..." ia menatap Seth. "Maaf karena emosiku menyebabkan kau mengalami musibah ini."
Seth menggeleng. "Bukan salahmu, Jake. Ini kebetulan. Kesialanku mungkin," ia tersenyum. "Yah, hal terakhir yang diinginkan Billy pastinya anak-anaknya tidak akur dan saling membenci karena urusan masa lalu orangtuanya."
"Hal terakhir yang diinginkan Billy pastinya adalah anak-anaknya tidak akur dan saling membenci dalam wujud serigala," ujar Jacob masam yang disambut tawa Seth.
Emily yang sejak tadi mengawasi pembicaraan mereka dengan pandangan memperingatkan sudah akan menghardik Jacob soal membuat Seth tertawa, ketika tiba-tiba dua berandal cilik lain, Brady dan Adam, menghambur masuk rumah dan menanyakan pertanyaan yang membuat Jacob berang.
"Betulkah Billy selingkuh dengan perempuan lain, Jake? Dan kau punya adik perempuan? Kenapa kau tidak pernah cerita?"
"Betulkah adikmu serigala yang menolong Seth?"
"UNTUK TERAKHIR KALI, AKU BILANG AKU TIDAK TAHU KALAU AKU PUNYA ADIK SAMPAI BARU-BARU INI DAN AKU TIDAK TAHU JIKA DIA SERIGALA ATAU BUKAN! KALIAN SEMUA CEWEK PENGGOSIP BODOH SEGERA TARIK EKOR SIALAN KALIAN JAUH DARI MASALAH INI DAN BERHENTI MENANYAIKU PERTANYAAN BRENGSEK YANG SAMA SERATUS KALI!" teriaknya yang kontan membuat Seth tertawa sampai batuk-batuk dan mengaduh rusuknya sakit.
Emily mendadak muncul dari arah dapur.
"KALIAN SEMUA SERIGALA LIAR TOLOL KELUAR DARI RUMAHKU!"
Jika ada serigala betina yang sepuluh kali lebih kuat daripada Sam, dan seratus, seribu, sejuta kali lebih mengerikan daripada Leah, pastinya itu adalah Emily.
Dan lima pemuda menghambur keluar dari rumah Emily, masuk ke dalam hutan.
