THE ANOTHER BLACK
Disclaimer: I do not own Twilight, either its characters, basic plot, backgrounds, etc... They all belong to Stephenie Meyer
Delapan - Pengawasan
Monday, December 17, 2012
1:23 AM
Ini benar-benar gila, pikir Jacob. Dia tidak percaya dirinya melakukan ini.
Ia bertengger di atas Harley-nya di pelataran tempat parkir SMA di reservasi, sekolah tempatnya dulu sempat mengenyam bangku pendidikan sebelum semua omong kosong mengenai serigala dan para penghisap darah merenggutnya dari dunia normal. Ia tidak pernah benar-benar punya kesempatan untuk kembali sejak itu, mungkin tidak dalam hidup sementaranya di La Push sebelum kehidupan abadi menantinya di tempat lain. Bukannya ia benar-benar menyesalinya. Ia tahu itu harga yang harus dibayar, dan meski tidak suka, ia sudah cukup memahami kewajiban dan kedudukannya sehingga cukup puas untuk bisa melepaskan hasrat untuk menjalani hidup normal, dan fokus pada upaya untuk menjalani tugasnya.
Bisa dibilang sekarang toh ia punya pekerjaan. Dan itu yang diharapkan orang dengan dunia akademis dan lain sebagainya: profesi.
Meski situasi yang sama juga terjadi pada anak-anak lain, ia tidak berharap mereka benar-benar mengalami hal yang sama. Mereka memiliki kesempatan yang lebih baik dari dirinya, lebih karena situasi yang menuntut mereka melaksanakan tugas melindungi La Push tidak berlangsung pada saat yang bersamaan, bersinggungan, dan berjalan sedemikian rupa hingga mereka harus meninggalkan kesempatan mereka menjalani dunia akademis.
Bukan berarti beberapa anak-anak tidak keberatan dengan kebijakan ini. Ben dan Pete sudah seringkali memohon agar mereka diizinkan berhenti dari SMA dan fokus pada tugas penjagaan. Tentu saja nilai-nilai buruk mereka jadi alasan utama sehingga Jacob langsung menolaknya. Sejauh ini yang benar-benar menikmati suasana akademis hanya Caleb, Adam, dan Harry. Mereka serius mempertimbangkan masa depan yang menanti jika dunia kembali aman dan mereka bisa kembali menjalani hidup normal. Caleb, dan Adam, yang sudah lulus tahun sebelumnya, kini menjalani masa pelatihan relawan magang di rumah sakit dan berkeinginan meneruskan pendidikan di bidang medis jika ada kesempatan. Sedangkan Harry punya ambisi untuk menjadi raksasa di dunia bisnis dan pasar modal.
Bukan berarti ia belum menjadi raksasa jauh sebelumnya.
Jacob selalu membayangkan bagaimana jadinya jika semua omong kosong ini tidak pernah ada. Kehidupan normal, bersekolah, berkencan, lulus dan melanjutkan sekolah di kota lain. Bekerja. Menikah. Tapi toh tiada yang bisa disesalinya. Sekarang inilah pekerjaannya, direncanakan atau tidak. Dan melalui semua omong kosong itulah, ia dapat menemukan belahan jiwanya. Renesmee.
Tapi bukan untuk semua nostalgia melankolis ataupun kemungkinan-kemungkinan menyesakkan itulah ia berada kini. Di pelataran parkir SMU. Duduk di Harley, bangkit, berjalan berputar-putar tanpa tujuan, nongkrong di bangku-bangku taman, bersandar di pohon, duduk lagi di Harley, bangkit, berjalan ke sana dan ke mari seperti orang bodoh. Ia yakin petugas keamanan sudah mencurigainya sejak tiga puluh menit yang lalu. Seorang tinggi besar yang dengan mengerikannya berputar-putar di lapangan parkir, dengan pandangan mata membunuh, sibuk dengan dirinya sendiri. Kalau orang tidak mengenalinya sebagai putra William Black sang Tetua Quileute, dan tidak bisa dipungkiri calon Tetua berikutnya, pasti ia sudah digerek dan ditendang keluar oleh sedikitnya lima satpam.
Ia datang untuk satu urusan. Urusan kawanan. Pekerjaannya.
Ia mengeluarkan sesuatu dari saku dengan roman muka sebal. Kertas yang diberikan Sam beberapa hari sebelumnya. Daftar nama. Ia sudah berusaha mengabaikannya, membuangnya ke tong sampah, hampir membakarnya. Lalu ia ingat siapa Sam. Orang yang selalu yakin pada dirinya, pada penilaian-penilaian dan keputusannya, pada tugasnya. Yakin bahwa ia harus melakukan yang ia harus lakukan bahkan walau ia tidak ingin melakukannya. Dan di situlah titik itu: ketika ia merasa bahwa ia harus melaksanakan bagiannya, tugas yang diberikan Sam. Karena itu yang harus ia lakukan, meski ia tidak tahu mengapa dan ia tidak suka karenanya.
Ia membuka lipatan kertas itu dan mengamati. Sebuah tabel dengan kolom-kolom nama, tahun kelahiran, nama orang tua, asal garis keturunan serigala, sekolah, dan alamat. Seluruhnya ada 23 nama. Duapuluh tiga anak yang berpotensi memiliki atau menurunkan gen werewolf. Duapuluh tiga anak yang dikutuk dengan masa depan tidak menentu, tercerabut dari kehidupan normal, keluarganya, impiannya. Memang tidak semuanya akan menjadi werewolf, karena mereka hingga saat ini masih tidak mengerti sistem pewarisan gen werewolf, lebih lagi metode untuk mendeteksinya. Tapi gen serigala memang diturunkan, dan jika takdir tidak menimpa mereka, takdir mungkin menimpa anak cucunya. Dan itu bahkan belum semuanya. Ia yakin masih banyak kemungkinan lain yang bahkan tidak terpikirkan oleh Sam dan para Tetua.
Ia merasa simpati pada keduapuluh tiga anak itu, dan siapapun di luar sana yang belum masuk daftar.
Dan beban di batinnya yang menekan sejak Sam memberinya daftar itu terasa makin menekan ketika ia menelusuri daftar itu. Nama Coraline Louise Gerrard-Black menduduki urutan teratas. Ia mengejit, bukan karena nama Black tercantum di situ, tetapi karena membaca nama yang ada di kolom orangtua. William Black dan Ariana Gerrard. Ia tidak mengenal nama itu, apalagi pernah melihat wajahnya langsung. Hanya saja melihat nama seseorang selain ibunya, bersandingan dengan nama ayahnya, membuat perutnya sakit.
Ia kembali menelusuri daftar nama, hanya untuk mengalihkan perhatian dari nama ibu Korra.
Astaga, ia mengumpat. Apa yang Sam pikirkan?
Beberapa nama di sana ia kenal. Tidak semua ada di La Push. Putra dan putri Rebecca Black di Hawaii. Putra James Morrison dan Keira Lahote di Arizona. Mungkin Sam berpikir mereka dapat berubah suatu ketika jika datang ke La Push. Menahan napas, Jacob menelusuri kolom tahun kelahiran. Bahkan banyak nama yang usianya di bawah 12 tahun. Anak kecil. Lebih muda daripada usia ketika Collin dan Brady berubah. Dan Jacob menilik bahwa Sam juga memasukkan nama Joshua Henry Uley, putranya sendiri yang baru berusia 4 tahun. Beberapa nama adik atau keluarga anggota kawanan juga ada. Apa Sam serius mau menyuruh kawanannya mengawasi anak-anak ini, kerabat mereka sendiri? Sambil disaputi ketakutan bahwa ada anggota keluarganya yang juga akan mengalami nasib sama dengan mereka?
Sekalian saja masukkan seluruh nama anak yang ada di La Push, pikir Jacob kesal. Toh memang hampir semua keluarga di suku kecil mereka memiliki ikatan darah. Bahkan yang tidak ketahuan punya ikatan darah dengan mereka saja sudah terbukti tanpa diduga memiliki gen serigala. Sebut saja Embry Call.
Ia sudah akan meremas dan membuang daftar nama itu ke tong sampah sebelum akhirnya rasionalitasnya menang lagi. Dilipatnya kembali kertas itu dan dimasukkannya ke saku. Ia harus mencari cara untuk membuat tugas sial ini cukup enteng untuk dikerjakan anak buahnya. Mereka tidak akan terlalu suka, lihat saja.
Bel istirahat makan siang berdering dan ia melihat rombongan-rombongan remaja bergegas keluar bagai air mengalir dari dalam sekolah menuju halaman yang ditumbuhi rumput dan pepohonan. Mereka ini adalah siswa-siswa yang mendapati bahwa kafetaria terlalu sempit dan menunya terlalu monoton untuk bisa dijadikan tempat nongkrong selama istirahat. Sebagian mencari tempat istirahat di bawah pohon-pohon, membuka bekal makan siang. Sebagian menggerocoki kawannya. Sebagian berkelompok untuk menggosip atau mencari kecengan. Beberapa pasang remaja tampak berpasangan, berpacaran, di sudut-sudut manapun yang mereka bisa temui di halaman sekolah. Sebagian memilih bermain-pasti ini termasuk anak bertipe kinestetik yang benci kalau disuruh diam. Dulu ia merupakan bagian dari mereka. Jika waktu istirahat tiba, ia langsung melompat untuk bermain futbal dengan Embry dan Quil. Mereka bahkan malas antre di kafetaria sekolah. Embry selalu membawa bekal makanannya sendiri yang selalu mereka bagi tiga. Kebanyakan hanya sandwich, tentu.
Dan di antara kelompok-kelompok remaja itu, Jacob agak terkejut, ia mendapati Korra.
Sosok Korra tidak terlalu mencolok dibandingkan dengan teman-temannya. Perawakannya biasa, wajahnya biasa, pakaiannya biasa, demikian pula ia tidak cemerlang sehingga tidak terlalu menarik perhatian. Ia melebur. Jacob mendapati bahwa Korra telah banyak menemukan teman, walaupun baru dua hari berlalu semenjak Billy memasukkannya di sekolah di reservasi. Ini hari ketiga Korra bersekolah. Tentu saja itu mudah baginya, bagaimanapun dengan kepribadian Korra yang easy-going, periang, dan mudah berbaur, ia pasti mudah mendapatkan teman. Kali itu saja ia sudah berkelompok dengan empat orang lain. Mereka duduk-duduk di bawah pohon sambil mengobrol dan makan bekal. Namun ia tidak mutlak menjadi milik mereka. Sesekali ia melambai dan tos, memberi salam pada teman-teman lain yang kebetulan ditemuinya. Tawa selalu menghias wajahnya, dan aura keceriaan berpendar-pendar di sekelilingnya.
Empat orang teman Korra juga tidak dikenal Jacob. Mereka jelas anak reservasi, tetapi bukan anggota kawanan maupun tetangga yang ia kenal. Dua laki-laki dan dua perempuan. Korra jelas merasa nyaman dengan mereka. Sesekali ia menampakkan wajah lucu, atau memasang ekspresi aneh sementara menjawab lelucon mereka. Jacob malas untuk berkonsentrasi menajamkan indra pendengarannya untuk menguping isi pembicaraan mereka. Toh tidak akan jauh dari obrolan remaja.
Lalu ia melihat Collin dan Brady turun dari tangga. Mata mereka tampak mencari-cari sesuatu di antara kerumunan, dan melihat ke arah kelompok Korra. Tampang gembira seolah menemukan apa yang mereka cari jelas tergambar, dan mereka berlari mendekati Korra. Mereka langsung duduk di lingkaran Korra, ikut mengobrol.
Tidak sampai semenit sebelum hidung Brady mengernyit dan wajahnya mendongak. Jacob yakin pemuda itu menangkap baunya di udara. Sesaat kemudian ia menangkap sosok Jacob yang masih bersandar pada Harley di bawah sebatang pohon besar. Matanya menyipit. Ia menyenggol Collin, yang balas menyenggol Korra, dan akhirnya ketiga remaja itu menatap Jacob. Jacob berusaha sekuat tenaga untuk tidak memasang tampang bersalah dan menyunggingkan seringainya selebar mungkin.
Ketika itu seorang cewek pucat berambut coklat pendek dan berwajah oriental, mungkin cewek pertukaran pelajar dari Asia, menghampiri rombongan, membungkuk di atas Korra untuk minta perhatiannya. Korra mengalihkan pandangan dari Jacob, meladeni gadis itu. Tapi Collin dan Brady masih menatap tajam padanya. Dua detik kemudian mereka minta izin pada seisi rombongan, dan melintasi lapangan menemui Jacob.
Jacob masih memasang seringainya.
"Mau apa kau kesini, Jake?" tanya Collin tidak ramah.
"Bernostalgia," jawab Jacob kasual, mengalihkan pandangan dari Korra ke mata Collin.
Kedua bocah itu tampak tidak percaya. Mereka masih menatap Jacob tajam, menunggu penjelasan. Mata mereka menyipit dan gesturnya menunjukkan tanda siaga. Jacob tidak percaya mereka berdua berdiri di sana, di depannya, menghadangnya seakan ia ancaman luar. Memangnya sejak kapan mereka mengklaim sekolah sebagai teritori mereka?
"Kulihat kalian akrab dengan adikku," kata Jacob akhirnya.
Collin tampak terganggu. "Memangnya kenapa kalau akrab?"
"Apa kau akrab karena pengaruh pikiran Seth? Atau perintah Sam?"
"Apa maksudmu 'pikiran Seth atau perintah Sam'? Dia anak baru di sekolah kami dan meski ia yuniorku, wajar saja bila aku berusaha akrab dengannya. Dan karena ia adikmu, otomatis ia sepupuku. Apa ada yang salah dengan berteman?" sembur Collin.
"Kau ada masalah dengan itu, Jake?" timpal Brady.
Jacob berusaha tidak terpancing atas kekurangajaran anak buahnya.
"Tidak," katanya kasual.
"Lalu untuk apa kau kesini? Memata-matai adikmu?" tanya Collin tajam. Ia seakan bersiap membela Korra. Tunggu saja sampai ia tahu soal perintah Sam.
"Mungkin…" jawab Jacob berusaha tampak tidak peduli.
"Apa maksudmu mungkin?" tanya Collin lagi, tampak agak terganggu.
Jacob menghembuskan napas. "Berusahalah untuk tenang, oke? Jangan berubah di sini," bisiknya pelan, tapi tegas. Ia menunggu hingga Collin dan Brady mengendurkan gesturnya, kemudian mengeluarkan kertas dari sakunya.
"Apa ini?" tanya Brady curiga.
"Perintah Sam. Dengar, aku tidak berusaha memprovokasimu. Tetap tenang. Aku cuma menjalankan perintah Sam."
Mereka mengernyitkan kening sebelum membuka lipatan. Dan sesudah membuka dan melihat isinya, kerutan di antara kedua alis mereka makin bertambah.
"Apa ini, Jake?" hardik Brady, tapi berusaha merendahkan suaranya sepelan mungkin.
"Daftar calon penerus kalian," Jacob berusaha bicara sesantai mungkin, menyandarkan tubuhnya pada batang pohon di dekat tempatnya memarkir Harley, melipat kedua tangan di depan dada, mencoba tidak menarik perhatian petugas keamanan. Bisa gawat kalau ia disangka gembong narkoba. "Santailah kalian berdua…"
Baik Brady maupun Collin menunjukkan tampang terkejut. Mulut mereka terbuka.
"Bersikap biasa, Guys…" Jacob memperingatkan. Matanya menerawang ke angkasa, lalu memberi kode menunjuk petugas keamanan secara sembunyi-sembunyi.
Brady dan Collin tampaknya setuju mereka sudah terlalu menarik perhatian. Mereka berupaya mengendurkan penjagaan sedikit, berpura-pura bersikap lebih santai.
"Perintah Dewan, bukan mauku," bisik Jacob lagi. Suaranya masih kasual, tapi jelas ia tidak suka melakukan ini. "Pengawasan terselubung, mungkin kalian perlu belajar apa artinya."
Brady men-scan isi daftar sebelum bicara dengan nada shock, "Ini semua orang-orang yang dianggap…"
"Ya," Jacob menjawab sebelum Brady mengatakan intinya. Ia sudah tahu: calon werewolf.
"Mengapa Sam…"
"Tidak perlu tanya karena aku juga tidak tahu. Kalian cukup awasi saja, laporkan padaku atau Embry. Tidak usah laporkan pada Seth." Seth mungkin agak terlalu emosional untuk menanggapi masalah regenerasi sekarang ini.
Brady melihat daftar lagi, dan membiarkan satu nada terkejut terlepas dari mulutnya. Jacob sudah tahu mengapa. Di sana ada nama adiknya yang belum lagi masuk SMP: Regina Fuller.
"Ada 6 nama yang bersekolah di sini, termasuk bocah itu," Jacob memberi kode ke arah Korra, yang ditingkah kekagetan keduanya. "Kuserahkan pada Brady untuk mengurus detail, jadwal tugas, apapun yang perlu. Aku hanya perlu dua hal," kata Jacob pelan, pandangan matanya masih menerawang, tapi Brady sudah cukup mengerti maksudnya sebelum Jacob sempat melanjutkan.
"Panas tubuh dan kondisi emosional," sambungnya. Karena pertumbuhan cepat membutuhkan pengukuran yang lebih akurat ketimbang 'hari ini dia setinggi bahuku dan besoknya setinggi kepalaku'.
"Ya. Panas tubuh dan kondisi emosional," benar Jacob.
"Kami mengerti," bisik Brady. Collin masih tampak tidak setuju, tetapi ia menutup mulutnya.
Jacob merasa tidak perlu berlama-lama di sekolah. Membuatnya merasa tegang, apalagi dengan Korra jelas-jelas mengintip-intip melirik padanya dari tempatnya bertengger bersama teman-temannya. Matanya tampak bingung, bertanya, menyelidiki. Mungkin bertanya-tanya ada urusan apa kakaknya dengan dua temannya. Mungkin mengira-ngira apakah kakaknya termasuk gembong narkoba yang menjual heroin dan shabu-shabu pada anak-anak. Mungkin ia akan berusaha mengorek dari Collin dan Brady atau melapor pada Billy. Entah apa penjelasan bohong yang akan dikatakan Billy nanti malam.
"Sampai ketemu pada patroli nanti malam, Brad," katanya sambil mengengkol kopling dan menggerungkan gas, segera meluncur keluar lapangan parkir.
