THE ANOTHER BLACK

Disclaimer: I do not own Twilight, either its characters, basic plot, backgrounds, etc... They all belong to Stephenie Meyer

.


.

Sembilan - Ayah

Thursday, December 20, 2012

5:05 PM

.


.

Sosok itu menunggu di pojok ruangan, diam memperhatikannya, ketika ia membuka pintu kulkas, mengambil sekaleng Coke, menutup kembali, dan tanpa sengaja menangkap sosok bayangan hitam memantul di salah satu hiasan tempel di pintu kulkas dan …

Soda menyiprat. Kaleng Coke terguling di lantai.

"Astaga, Dad... Kau mengagetkanku!" kutuk Jacob, berusaha membersihkan bagian depan T-shirt nya dari tumpahan soda. Billy Black menggelindingkan kursi rodanya menghampiri anaknya, nyengir.

"Maaf, Nak... Aku tidak menduga kau bisa kaget begitu. Kupikir kau sudah merasakan aku ada..." Masih nyengir, ia menyodorkan lap kertas ke muka anaknya.

Mata Jacob memelototi ayahnya. "Aku memperlonggar penjagaan sedikit di dalam rumah bukan berarti kau bisa mengagetkanku, Dad! Kau pasti takkan mau aku dalam keadaan waspada penuh di rumah... Geez..." ia menyambar lap itu, menyeka bagian depan kaosnya. "Dan ngapain Ayah diam di pojokan, lagi? Seperti lintah menunggu mangsa..." Ia menyeka beberapa kali, membasuh dengan air, dan masih mendapati noda itu membandel di kaos putihnya. "Oh, bagus... noda coke sialan..." umpatnya.

Billy nyengir makin lebar, sok tidak bersalah.

"Sudahlah, Jake... Kubuatkan sandwich, oke?" dan ia menggelindingkan kursi rodanya lagi melintasi dapur, mengambil roti dan beberapa lembar keju.

Mata anaknya membelalak. "Daaaad... Jangan melintasi tumpahan Coke, dong... Kan tumpahannya jadi ke mana-mana... Lengket nih... Oh, bagus..." Jacob merintih dan mengomel, melihat betapa kursi roda ayahnya menyebabkan jejak cola membentuk lajur panjang di lantai. Ia menyambar lap kertas dan membungkuk membersihkan lantai, berusaha mengeringkannya. Dilihatnya sang ayah tidak peduli, malah terkekeh seolah yang dilihatnya adalah hal terbagus di dunia.

"Pagi, Dad..." sapa satu suara dari arah tangga. Jacob menggeram. Ia tidak perlu melirik untuk melihat sumber suara manis itu... Anggota tambahan keluarga Black sudah bangun rupanya. Bahkan kelihatnnya dia sudah mandi dan siap berangkat ke sekolah.

Ini hari kelimanya ke sekolah. Tiap hari sejak ia masuk ke keluarga ini, ia bangun pagi, sudah mandi dan berpakaian rapi bahkan sebelum Billy bangun. Rutinitas paginya seperti mandi dan bersiul saat membuat sarapan selalu membuat kesal Jake, yang selalu pulang dini hari setelah patroli dan biasanya tidur hingga jam 11. Untung saja semalam Embry menggantikannya mengontrol tugas patroli para serigala yunior, sehingga ia bisa tidur dan bangun lebih cepat, sebelum Korra sempat ke dapur untuk membuat sarapannya. Tapi tetap saja pagi bersama Korra selalu membuatnya risih. Misalnya saja yang pasti akan terjadi sesudah ini.

"Pagi, Sweetheart..." sapa ayahnya balik, memutar kursi roda untuk mencium putrinya.

Nah, itu dia.

Jacob tambah menggerutu, lebih jengkel daripada hari-hari sebelumnya. Mungkin karena hari sebelumnya tidak melibatkan tumpahan cola yang harus ia lap. Dan kini jejak cola di lantai yang dibuat ayahnya jadi makin panjang hingga ke ruangan tengah.

Sambil terus menggerundel, ia menguntit ayahnya, mengelap lantai mengikuti jejak cola, ketika tahu-tahu sepasang kaki nampak tepat di hadapannya.

"Pagi, Jake..." sapa gadis itu, membungkuk mencondongkan tubuh padanya yang masih berjongkok di lantai. Dan sebelum ia menjawab, satu ciuman sudah mendarat di pipinya.

Jake langsung membeku. Selama hidupnya, sedikit sekali perempuan yang menciumnya. Nenek, ibu, si kembar, beberapa orang yang ia temui di usia kanak-kanaknya, kemudian ketika ia dewasa ada Bella dan Nessie... juga Esme. Peran mereka beragam, mulai dari keluarga, kenalan, teman, kekasih, pacar, calon tunangan, calon mertua, hingga calon nenek mertua. Tapi dari sekian itu, tidak pernah ada kata 'adik', apalagi 'adik tiri'.

Korra tidak menunggu hingga Jake pulih dari kondisi shock-nya. Ia langsung melesat, setengah melompat-lompat melintasi ruangan, menuju dapur.

Gadis itu tengah membuka pintu kulkas ketika mengumumkan dengan riang, "Kalian lapar? Mau apa untuk sarapan?"

"Sereal dan sandwich sudah cukup... kami bisa membuat sendiri, terima kasih," sahut Jacob pelan, masih kesal dengan ayahnya. Tapi si ayah menghampirinya, memukul kepalanya.

"Aduh, apa-apaan sih, Dad?"

"Belajar hormat pada perempuan, Anak Muda..." kata sang ayah yang membuat anaknya makin kesal. Tanpa mempedulikan Jacob yang berusaha melampiaskan kekesalan dengan memasang wajah mengejek di belakangnya, Billy menghadap Korra, jelas sangat bangga dengan putrinya, "Apa saja, Nak..." katanya.

Jacob nyaris tidak percaya dengan pendengarannya. Ayahnya memukul kepalanya dan menguliahinya tentang menghormati perempuan hanya untuk menjawab 'apa saja'?

Korra juga tampaknya menangkap kekesalan Jacob, karena tiba-tiba saja ekspresinya berubah. Suaranya agak tegang ketika ia berujar, "A... aku bisa masak, kau tahu..." Dengan agak takut-takut mencuri pandang pada Jacob, ia menambahkan, "Kalau kau tak keberatan, tentu..."

Jacob melotot dengan rahang terbuka. Apa yang sedang dilakukan Korra sebenarnya? Bermain jadi Cinderella? Menjadi putri kecil nan manis Daddy sementara ia menjadi kakak yang kejam, jahat, dan tukang menyiksa?

Ia tak percaya ini. Bahkan sejak ibunya meninggal dan kemudian Rachel dan Rebecca pergi, ia yang selalu ada di sisi ayahnya. Menemaninya. Setelah sang ayah tak bisa lagi berjalan akibat komplikasi diabetes, ia yang merawatnya. Menjaganya. Membuat sarapan pagi dan membantunya memenuhi kebutuhannya. Bukan berarti Billy tidak bisa melakukan segalanya sendiri. Tapi ia sudah menjadi kaki Billy, secara kiasan tentu. Dan kini tiba-tiba datang seorang adik entah dari mana yang langsung menduduki posisi sebagai anak emas Billy?

Bagus. Sekarang ia terdengar seperti anak manja pencemburu usia 5 tahun yang berebut kasih sayang ayahnya. Mungkin seharusnya ia ikut bermain dengan Quil dan Claire.

Suara langkah-langkah kaki Korra terdengar merambah dapur sementara ia menyiapkan sarapan: membuat puree kentang, menggoreng sosis dan telur mata sapi, membuat waffle, serta tak lupa memanaskan lasagna sisa semalam untuk Jacob. Jacob lebih suka memakan sarapan buatannya sendiri sebenarnya. Bukan karena masakan Korra tidak enak atau kurang banyak, tetapi entah mengapa ada rasa ketidaksukaan tertentu yang menghalanginya untuk benar-benar menikmati masakan buatan adik tirinya.

Ya. Dia memang anak kecil pencemburu.

Setengah jam kemudian makanan sudah siap. Korra makan lumayan banyak untuk ukuran anak perempuan, Jacob memperhatikan. Sepiring puree kentang dengan sosis dan telur mata sapi saja sudah banyak, dan ia masih menambahkan setangkup waffle yang dikucurinya dengan saus spaghetti. Kelihatannya Korra tidak suka makanan manis untuk sarapan. Ia selalu bilang di tempatnya tinggal tahun lalu, di Asia Tenggara, ia selalu makan banyak untuk sarapan, mengikuti adat daerah situ. Kebanyakan menu sarapannya asin dan gurih, sehingga ia merasa sereal dan susu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolismenya.

Seolah ia banyak melakukan kegiatan saja.

Tapi memang tampaknya Korra anak yang aktif. Tiap pagi ia berangkat berjalan kaki ke sekolah yang berjarak tidak kurang dari 50 km. Ia menolak ketika Billy menyuruh Jacob mengantarnya, katanya ia suka sinar matahari pagi dan bau rumput yang terkena embun. Jacob kadang menduga-duga apakah Korra berjalan hingga hutan dan beralih wujud menjadi serigala secara sembunyi-sembunyi untuk ke sekolah. Tapi beberapa hari ini hutan selalu bersih. Tidak ada bekas serigala menerobos hutan ke arah sekolah tiap pagi. Dan Korra juga selalu berpakaian lengkap, walaupun udara mulai menghangat. Jenis pakaian semacam itu agak susah untuk dibuka-pakai jika memang ia berubah di antara waktu perjalanannya. Dan Jacob benar-benar tidak mau membayangkan seekor serigala, yang menggigit ransel dan buntelan berisi baju dan sepatu di moncongnya, menerjang menembus hutan La Push.

Aneh ketika bayangan itu muncul. Dan serigala dalam bayangannya adalah serigala hitam yang dilihatnya minggu lalu.

Lagipula, Sam sudah menyatakan bahwa serigala itu bukan Korra, ia mengingatkan pada dirinya sendiri. Stop berpikir bahwa itu Korra!

"Kau mau susu atau jeruk, Jake?" tanya Korra ramah, membuyarkan lamunannya. Jake agak tergagap, dan ia tanpa sadar mengucapkan terima kasih, ia akan mengambil sendiri. Korra tesenyum, dan menanyakan hal yang sama pada Billy sebelum menuangkan susu.

Kentara sekali ia memang tengah berusaha merebut kasih sayang Billy.

Ia menuang jeruk untuk dirinya sendiri dan mulai berkata hati-hati, "Dad, mmm... malam ini aku mungkin akan menginap," katanya sambil mengiris wafflenya.

Anehnya, Jacob yang langsung melakukan interogasi. "Di mana? Siapa temanmu? Kenal dimana kau dengannya?"

Baik Korra maupun Billy agak kaget dengan pertanyaan itu. Jacob juga, sebenarnya, ia bahkan tidak berpikir sebelum menanyakannya. Itu keluar begitu saja. Dan ia menolak disebut protektif. Bagaimana mungkin ia bisa tiba-tiba protektif pada Korra, jika ia memang tidak menyukai adiknya itu? Terlihat bahwa Billy juga merasa begitu. Kedua alisnya agak bertaut dan sebelah alisnya terangkat, matanya memicing, minta penjelasan.

Tapi Korra dengan santainya menjawab, "Ada anak pertukaran pelajar di kelasku. Kuroi Kanna, dia dari Jepang," dan Jacob langsung mengingat gadis Asia yang membungkuk di atas Korra sebelum perhatiannya teralihkan oleh kedatangan Collin dan Brady dua hari yang lalu. "Karena aku anak baru, dan dia juga anak asing, kami langsung dekat. Apalagi aku juga kan pernah tinggal setahun di Jepang dan aku mengerti bahasanya," lanjutnya yang membuat rahang Jacob jatuh. Ia tidak pernah tahu Korra bisa bahasa Jepang. Tapi ia memang pernah bilang bahwa ia hidup berkelana bersama ibunya seperti gipsi. Dan diam-diam Jacob bertanya dalam hati berapa banyak bahasa lain yang ia mengerti.

"Di mana ia tinggal, kalau begitu?"

"Ia home-staying di salah satu keluarga lokal di kawasan reservasi Makah. Keluarga Young."

Keluarganya Emily.

"Aku tahu rumah keluarga Young. Aku akan mengantarmu ke sana," kata Jacob tanpa berpikir yang langsung membuat kedua orang lain di situ terlonjak. Ayahnya masih bingung, dan ekspresi Korra susah dijelaskan. Dan sebenarnya Jacob juga. Ia langsung menyesali kalimatnya pada detik ia mengutarakannya.

"Mmmm... tidak usah Jake, terima kasih..." tolaknya agak kikuk.

"Tidak apa. Aku yakin Kuroi tidak punya mobil untuk mengantarmu," merasa kepalang tanggung, ia melanjutkan.

"Mmm... sebenarnya kami berencana naik sepeda, dan sesekali mendaki. Kanna-chan tahu rute yang bagus, kami bisa melihat pemandangan matahari terbenam dari ketinggian dan sebagainya."

Jacob mengenali kawasan yang ia sebutkan.

"Naaaaah, aku rasa tidak. Jarak dari sekolah ke rumah Young ada sekitar 100 km. Dan tempat melihat pemandangan yang kausebutkan itu tidak terlalu landai untuk bisa didaki dengan menuntun sepeda."

Dan tiba-tiba ia merasa curiga.

"Kalian akan kemalaman di jalan," lanjutnya dengan nada menyelidik. "Apa kau yakin kau bisa naik sepeda berdua lewat rute itu? Rute itu agak memutar, bahkan lebih dari 140 km."

Rasa bersalah menyelinap sedikit di wajah Korra sebelum ia bersikap biasa-biasa saja, kelewat antusias malah, dan mengangguk yakin, "Tenang. Kanna tahu betul jalannya... Ia sudah di sini sejak awal semester. Mungkin ia malah tahu jalan pintas."

Jacob tidak yakin, sempat melihat kilasan ekspresi aneh di wajah Korra. Ia sudah akan mendebat lagi, ketika tiba-tiba Billy memotongnya, "Sudahlah Jake, tidak apa-apa..." dan ia beralih pada Korra, "Kau yakin kau akan baik-baik saja?"

Korra tersenyum dan mengangguk. "Ya, asal aku bisa meminjam sepeda di garasi. Kami pasti takkan kemalaman, toh hari ini kelas selesai lebih cepat. Besok sore aku akan pulang. Kami akan berjalan-jalan dulu besok pagi," katanya sambil meminum jeruknya.

Tanpa mempedulikan pelototan tidak setuju sang kakak, anehnya Billy langsung mengizinkan. Jacob sudah hampir membuka mulut untuk protes pada ayahnya, tapi si ayah memberi isyarat baginya untuk diam bersamaan dengan bangkitnya Korra dari kursi. Ia sudah menyelesaikan sarapannya. Dengan ceria ia menyambar ranselnya, kemudian mengecup kedua pipi ayahnya. Agak ragu, ia mendekati Jacob, tapi akhirnya mengecup pipinya juga.

Kali ini Jacob diam saja.

"Dah Dad, Jake..." teriaknya sambil setengah berlari keluar rumah. Dari jendela dapur, Jacob melihatnya memasuki garasi, dan semenit kemudian mengendarai sepeda tua Jacob menelusuri jalan setapak.

Seperginya adiknya, Jacob langsung beralih pada ayahnya, agak mendesis, "Apa yang kaupikirkan, Pak Tua? Jangan-jangan ia malah pergi dengan cowok berandal di sekolahnya!"

Billy tertawa seolah menganggap omongan anaknya gurauan sepele. "Di sekolahnya kan ada Collin, menurutku dia tidak akan membiarkan sepupunya bergaul dengan cowok berandal."

"Justru itu masalahnya! Collin, Brady, Pete, Josh, Ben, Clark... semua sekolah di sana dan merekalah cowok-cowok berandal itu!"

Billy tambah terkekeh. "Kau sama tidak percayanya dengan kawananmu seperti kau tidak percaya adikmu."

Jacob tercenung. "Ya, aku tidak percaya. Karena aku mengenal mereka seperti aku tidak mengenal Korra," ungkapnya yang membuat Billy makin lebar tertawa. "Dan kau tahu, Dad? Menurutku Korra berbohong. Dia mungkin memang akan jalan dengan cowok. Kenapa? Karena siapa juga yang mau naik sepeda sore-sore lewat jalan setapak di hutan?"

"Wow, Jake, tenang Nak... Aku tidak mendengar 'hutan' sama sekali dari pembicaraan tadi."

Jacob memasang wajah putus asa. "Aku tahu daerah itu, Dad! Itu kan dekat kawasan patroli. Tidak terlalu dalam masuk ke hutan, dan memang sering dilalui orang, tapi tetap saja... Tidak masuk akal orang mau melewati tempat itu ke reservasi Makah. Bahkan walau naik sepeda pun, mereka akan kemalaman."

Ayahnya mengangkat bahu dan mencibir. "Mungkin mereka tidak jadi melihat matahari terbenam malam ini. Mungkin besok pagi baru mereka jalan-jalan kesana."

"Dad, dengar dirimu! Mana ada matahari terbenam besok pagi?"

"Kubilang sore ini mungkin mereka tidak jadi jalan-jalan, ya tentu saja semua rencana soal matahari terbenamnya batal, anak bodoh!" dan dia menggerutu pelan soal 'bagaimana mungkin mereka membiarkan anak sebodoh ini jadi kepala suku'.

Tidak mempedulikan gerutuan tidak jelas ayahnya, Jacob melambaikan tangan, "Terserahlah Dad... yang jelas aku tidak percaya. Lihat saja nanti, akan aku awasi dia!"

"Jake... Tidak mungkin dia berani macam-macam... Dia kan baru seminggu di sini..."

"Karena itulah, Dad..." suara Jacob terdengar berat dan putus asa. "Pastinya kita tidak ingin dia terlibat masalah tolol remaja ketika ia baru seminggu di sini kan?"

Billy mengerjap, agak kaget, agak terpesona. "Wow, Jake... Kalau aku tidak tahu benar, aku bakal mengira kau protektif dengan adikmu..."

"Aku tidak protektif..." ia menggerutu, suaranya turun hingga terdengar seperti gumaman, "Hanya... khawatir... entahlah..."

Seringai senang yang tiba-tiba tersungging di wajah berkeriput Billy, dan aura bahagia penuh kepuasan hati yang mendadak terpancar darinya membuat Jacob rikuh.

"Tidak, Dad... aku tidak protektif padanya. Aku bahkan belum benar-benar menganggapnya adik..."

Seharusnya itu membuat Billy sedih, tapi ia mengenal anaknya lebih dari itu untuk tidak terjatuh hanya menangkap kalimat yang terlontar. Lagipula moodnya sedang bagus hari ini. Jadi bukannya merasa sedih, ia malah menepuk bahu anaknya, bicara, "Penyangkalan, Nak..." kekehnya keras kepala. "Dan kau tak usah protektif, Korra mampu menjaga dirinya sendiri. Benar, heh?"

Jacob tidak bisa menahan diri untuk tidak memutar bola mata. "Benar," katanya muram seraya mendorong seiris besar waffle berselimut sirup maple ke mulutnya, "Siapa yang perlu khawatir pada serigala besar?"

Nah, itu memang kalimat yang bisa merusak suasana.

Billy terpaku sejenak, ekspresi bahagia di wajahnya tiba-tiba menghilang. Ia mengubah sedikit posisi duduknya, merentangkan punggungnya, tampak agak tidak nyaman. Jacob merasakan itu, dan detik itu juga ia merasa menyesal. Tapi moodnya juga rusak dalam kesadaran yang sama atas kalimat yang ia ucapkan sendiri, dan ia tidak bisa langsung menyebarkan aura keceriaan seperti seharusnya ia lakukan di saat seperti ini.

Seandainya saja di sini ada Jasper, satu bagian dalam dirinya berharap.

Uh, bodoh, apa yang kaupikirkan, satu bagian lain memperingati. Penghisap darah lain di tanah Quileute? Seolah vampir yang tempo hari menyerang Seth belum cukup...

Dan bagian-bagian dalam otaknya mulai lagi berperang satu sama lain, memikirkan bagaimana cara mencairkan kebekuan yang tidak nyaman dan menegangkan ini.

Ia pasti sudah gila.

"Ayolah, Dad... Kau pasti bukannya tidak tahu menahu soal ini, kan?" katanya akhirnya. Sialan, brengsek, itu malah tambah mengacaukan semua! Seharusnya ia tidak mengatakan itu!

Billy memejamkan mata rapat-rapat dan akhirnya menghela napas berat. Wajahnya pasrah. "Ya," katanya akhirnya. "Aku bukannya tidak terlibat... Sam pasti sudah mengatakan padamu."

Ganti topik, ganti topik, bahaya! satu suara di kepalanya berteriak-teriak panik.

"Ya, Sam sudah bilang... memerintahkan... soal pengawasan dan batalion dan semuanya... " gumamnya.

Sial! Brengsek, Jacob! Sekarang sudah tak ada jalan kembali.

Billy berusaha menatap mata anaknya. Tapi Jacob menghindar, berpura-pura melihat jauh ke garasi dan rimbun hutan di seberangnya di balik jendela dapur.

"Jadi," katanya kemudian. "Mungkin aku bisa langsung mengasumsikan bahwa kau tahu ke mana arah semua ini..."

"Itu pertanyaanku, dan bukannya aku merasa berhak bertanya," kata Jacob pelan. Ia kini bicara dengan Tetua, dan bukan dengan ayahnya, di ruang makan saat mengunyah waffle. Dan itu membuatnya sangat, sangat tidak nyaman.

"Ya, benar..." gumam ayahnya kemudian.

Dan mereka baru menyadari: mereka tidak pernah benar-benar membicarakan hal-hal seperti urusan kawanan dan suku berdua saja. Secara tidak resmi, maksudnya. Sebagai Alfa kawanan, Jacob selalu bicara dengan keempat tetua dalam pertemuan resmi, atau hanya dengan Sam. Dan terjebak dalam situasi seperti ini berdua saja membuat keduanya tidak nyaman.

"Jadi, bagaimana tugas pengawasan?" tanya Billy lagi, berusaha menunjukkan nada simpati dan bersahabat, menunjukkan ia rela dan mau memberi bimbingan atau sekadar dijadikan tempat curhat, bukannya nada menuntut pertanggungjawaban.

Tapi gagal.

Jacob menghentikan makannya dan memandang tajam pada ayahnya. Ekspresinya kaku. "Kau bukan atasanku Dad. Atasanku Sam dan aku akan melapor padanya," kata Jacob akhirnya. Sedetik kemudian ia berusaha bersikap biasa-biasa saja, meletakkan garpunya dan menuang susu dari karton, meski jelas terlihat bahwa ia masih tegang.

"Nak," Billy melanjutkan, masih berusaha terdengar bersahabat, "mungkin kita perlu bicara tentang sistem hierarki suku... Bagaimana kedudukanmu dan kami para Tetua dan Sam..."

Jacob menutup mata, tampak berusaha keras membuang ketidaknyamananannya. "Yeah, aku tahu... Tapi aku lebih suka menganggap aku bekerja di bawah Sam. Dia atasanku langsung dan mungkin kalian semacam... dewan pertimbangan dan pengambil keputusan. Dan kami kawanan semacam... eksekutor atau sejenisnya. Kami terhubung dengan kalian melalui Sam. Dengan begitu kami tidak perlu berpikir buruk mengenai kalian."

Billy membeku di bawah kalimat itu. "Nak," katanya kemudian lembut, berusaha mengklarifikasi, "Kau tahu bukan begitu..."

"Ya, aku tahu Dad, aku tahu. Tapi jika kau menganggap aku berhak memutuskan dan mengubah beberapa hukum suku maka mungkin di sanalah posisi yang aku inginkan sekarang. Sekarang boleh aku minta izin untuk mengundurkan diri dulu? Aku merasa pembicaraan ini tidak akan membawa kita ke mana-mana. Hierarki suku bagiku, menimbang kondisi saat ini, adalah hal yang absurd dan penuh omong kosong," ujarnya getir. "Maaf, Dad... Boleh aku permisi?"

Dengan berat hati Billy mengangguk.

"Terima kasih, Dad," kata Jacob singkat, bangkit dari kursinya dan menaruh piringnya ke basin. Ia bahkan tidak menghabiskan irisan terakhir wafflenya.

Ia butuh mendinginkan kepala.