THE ANOTHER BLACK
Disclaimer: I do not own Twilight, either its characters, basic plot, backgrounds, etc... They all belong to Stephenie Meyer
Sepuluh - Penyerangan Jacob
Thursday, December 20, 2012
5:06 PM
Ia merasa seperti orang bodoh.
Pertama ia ingin sekali menghindari topik itu dengan ayahnya. Dan ia tak bisa menahan diri untuk mengangkatnya. Dan ketika semuanya terlanjur, seharusnya itu jadi kesempatannya. Untuk mengklarifikasikan semua. Pikiran-pikirannya. Kecurigaannya. Ketidaknyamanannya. Semua.
Kelihatannya Billy juga tidak keberatan. Ia sudah terlihat sangat membuka diri tadi.
Tapi di sana ia, gemetar dan bergerak tidak nyaman seperti orang tolol. Membuat keadaan makin tidak enak dengan tiap baris kalimat yang ia ucapkan. Dan akhirnya kabur begitu saja.
Pengecut, pengecut, pengecut! suara dalam hatinya berkata.
Ya, ia tahu itu. Pengecut, bodoh, dan kejam. Tentu saja ia kejam. Entah apa yang dipikirkan Billy tentangnya kini. Mungkin ia sedang menyalahkan dirinya sendiri karena mengira membuat anaknya merasa sengsara.
Mungkin itu memang pantas ia rasakan. Memang ia termasuk orang yang membuatmu merasa begitu, bisik suara jahat dalam kepalanya.
Tapi Billy sudah membuka diri tadi. Harusnya kau langsung saja membuka omongan. Menyelesaikan semua. Salahmu sendiri kabur seperti pengecut tolol, bisik suara lain dalam kepalanya.
Aaaaargh... Ia berteriak frustasi. Tidak cukup dengan mendengar pikiran banyak orang saling debat dan saling menyerang dalam kepalanya ketika ia berada dalam wujud serigala rupanya. Kini bahkan ketika ia dalam wujud manusia, pikirannya sendiri yang saling menyerang.
Kepalanya berat. Penuh.
Berubah wujud dan berlari bukan pilihan untuk menenangkan diri belakangan ini. Di hutan ada Quil dan Embry. Besar kemungkinan mereka akan menambah keruwetan dalam pikirannya. Mereka bisa dan pasti akan ikut-ikutan ambil bagian dalam perdebatan soal ayahnya, seolah ia tidak cukup lelah dengan perdebatan dalam dirinya sendiri. Atau mengungkit Sam. Atau batalion bodohnya. Atau soal vampir. Atau soal Seth. Atau soal kawanan. Atau soal adiknya. Atau soal serigala hitam sialan itu.
Itu masih belum termasuk soal moodnya yang jelek, seolah mereka tidak tahu saja mengapa itu terjadi.
Ia mengutuk, memaki, mengucapkan sumpah serapah.
Mengapa belakangan ini semua tampak ruwet? Baru beberapa minggu ia bilang semua tampak begitu mudah dan santai dan terkendali hingga rasanya membosankan. Dan kini masalah datang bertubi-tubi tanpa memberinya kesempatan untuk menarik napas, merenggangkan pikiran.
Mungkin ia harus berhati-hati dengan pikirannya. Mungkin ada malaikat atau peri atau roh alam semesta di atas sana yang dendam padanya, yang menganggap kata-kata tanpa artinya sebagai permohonan, dan berkenan menyiksanya lebih jauh dengan mengabulkannya.
Maafkan hamba, Roh Alam Semesta Yang Agung, kini hamba mohon jikalau Engkau berkenan mengabulkan, sudikah kiranya Engkau menganggap semua itu sebagai kata-kata kosong belaka dan mencabutnya lagi?
Oke, sekarang ia terdengar seperti Leah.
Omong-omong soal Leah, ia tidak pernah mendengar kabar apapun dari Leah belakangan. Seth jarang sekali bicara tentang Leah, padahal semua orang tahu betapa akrab hubungan kedua kakak-beradik itu. Tampaknya Seth agak kesal karena sejak Leah pindah ke California, ia jarang sekali menghubungi keluarganya. Beberapa kali memang ia pulang, terutama pada Thanksgiving atau Natal. Di awal-awal kepergiannya mereka memang sering saling berhubungan dengan telepon dan e-mail, tapi makin ke sini makin jarang, dan hubungan mereka kian renggang.
Kadang ia kangen juga dengan mantan Beta-nya.
Ia ingat dahulu ketika mereka masih berpikir bahwa takdir menjadi serigala hanya ditimpakan pada anak-anak lelaki, dan Leah menjadi satu-satunya pengecualian, segala hal yang berhubungan dengan gender selalu membuat Leah tersinggung. Ia menduga-duga bagaimana reaksi Leah sekarang, dengan adanya serigala betina berkeliaran di hutan. Apalagi Sam, demikian ia menghitung dari daftar kemarin, tidak tanggung-tanggung mencurigai sekurangnya 15 putri suku Quileute dari 23 nama dalam daftarnya. Itu berarti hampir dua pertiganya.
Dari yang selama ini mereka ketahui, perempuan suku mereka memang carrier, yang berarti ia sendiri tidak akan berubah jadi serigala, melainkan menurunkannya pada anaknya kelak. Dengan Leah sebagai bahan pertimbangan, ia merasa dari 15 nama itu, hanya sepersekian yang akan benar-benar berubah. Tapi dengan menimbang kondisi saat ini, siapa tahu?
Dan adiknya dalam daftar teratas...
Berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran yang membuatnya makin merasa ruwet dan bukannya mendapatkan solusi dari situasinya kini, Jacob mempercepat lari Harley-nya. Ia sudah berputar-putar tanpa tujuan dari tadi pagi hingga matahari bergulir dari puncak kepalanya. Setelah melarikan diri dari Billy, ia langsung menyambar motornya, bertekad mendinginkan kepalanya tanpa berubah, dan tidak berakhir di mana-mana, baik fisiknya maupun pikirannya. Ia malas mampir-mampir, takut emosinya tak terkendali dan mendadak berubah. Dan berada hampir 5 jam berputar-putar di atas motornya juga tidak membuatnya mampu menciptakan solusi apapun dari permasalahannya.
Bahkan karena itu juga, kini ia terlambat masuk untuk shift siangnya di bengkel Mr. Peterson. Sejak kejadian dengan Seth dan kembali intensnya patroli, ia hampir tidak punya waktu untuk benar-benar bekerja. Waktu kerjanya yang biasanya 7 hari seminggu selama 15 jam, 8 jam di hari patroli, membuatnya nyaris menjadi karyawan teladan. Namun sejak patroli kembali menjadi prioritas utama, jam kerjanya menurun drastis- kebanyakan karena ia kelelahan setelah patroli. Dari 7 hari seminggu menjadi 3 hari seminggu, dan itu pun ia seringkali bolos atau terlambat. Ia menemukan bahwa agak sulit menepati waktu manusia kalau ia harus berlari-lari dalam wujud serigala. Dan agak sulit juga meminta izin, walau bosnya sudah memberi banyak sekali kelonggaran. Bagaimanapun ia tidak merambah hutan dengan dibekali jam tangan dan ponsel. Ia takkan heran kalau di akhir bulan nanti, ia tiba-tiba dipecat dan harus mencari pekerjaan lain. Ia toh harus tetap memenuhi nafsu makannya dan kawanan yang sangat besar itu.
Mungkin seharusnya ia mempertimbangkan menanamkan saham di pasar modal, menjadi seniman, atau membuka bengkel sendiri dengan mempekerjakan orang lain. Dengan demikian ia tidak perlu terikat jam kerja.
Benar, meminjam modal pada Carlisle mungkin tidak terlalu sulit. Kau adalah keluarga mereka walau bagaimanapun juga, bisik satu suara dalam kepalanya yang membuatnya meneteskan air liur.
Atau kau cukup meminta bantuan Alice meramal pasar saham. Toh itu juga yang dilakukan keluarga Cullen untuk mendapatkan kekayaannya yang sekarang- yang mereka hambur-hamburkan karena terlalu mudah mereka dapatkan, bisik suara lain.
Tanpa kau bekerja pun mereka pasti mau menanggung biaya hidupmu, bisik suara lain yang langsung iatendang jauh.
Benar ia calon menantu keluarga mereka. Benar mereka takkan keberatan jika ia meminta sedikit dari kekayaan yang mereka hambur-hamburkan tanpa tujuan itu. Benar mereka, minimal Carlisle dan Esme, takkan ambil pusing jika ada satu tambahan anggota keluarga lagi, walaupun berbeda dengan yang lain, anggota yang ini benar-benar akan menghabiskan uang untuk makanan dan bukan untuk yang lain. Oke, mungkin juga untuk yang lain, tapi makanan adalah prioritas utama baginya. Semua itu benar, tapi bagaimanapun harga dirinya menolak semua itu. Dengan atau tanpa ikatannya dengan Nessie, ia takkan pernah mau mencecap uang Cullen, bukan karena mereka penghisap darah, tapi karena itu bertentangan dengan cara ia dibesarkan. Ia tak pernah dididik untuk menjadi parasit, dan ia takkan pernah mau menjadi seperti itu.
Bahkan walaupun tidak ada yang berkeberatan dengan hal itu. Keluarga Cullen, paling tidak. Dalam ukuran tertentu, mereka mendekati definisi dari kata 'parasit' itu sendiri, paling tidak parasit bagi hewan-hewan malang di hutan ini.
Bicara soal parasit...
Mungkin memang murni kebetulan atau sesuatu yang pantas ia dapatkan, karena dengan adanya ia berputar-putar dengan motornya selama 5 jam itu, ia tanpa sadar melakukan patroli dengan caranya sendiri. Ia kini berada di jalan berkelok-kelok membelah gunung di antara Port Angeles dan Forks, tebing tinggi dengan hutan rapat di atasnya menjulang bagai benteng alam di sebelah kiri jalan, sedangkan ngarai terjal bagai patahan neraka menganga di sebelah kanannya. Ketika ia berbelok di tikungan tajam mendekati Forks, tiba-tiba dari celah-celah pepohonan di sebelah kirinya, ia melihat kelebatan sosok tak dikenal. Kecepatannya dan cahaya sosok itu tertangkap sekilas oleh mata serigalanya, dan instingnya langsung mengenali dalam kesadaran yang menghentak. Para penghisap darah.
Ia menarik rem tiba-tiba, menimbulkan decit yang menggemeretakkan gigi ketika ban depan motornya menggesek aspal. Motor membelok mendadak terpengaruh gaya balik dan Jacob harus menekankan kakinya kuat-kuat agar ia tidak terlontar karenanya. Nyaris, karena ia mengerem terlalu mendadak hingga ban depan motornya hampir menabrak pagar pembatas di kanan jalan. Batu-batu kecil berjatuhan ke jurang jauh di bawahnya. Mengumpulkan konsentrasi, ia berusaha mengidentifikasi bau-bauan di udara. Benar, vampir. Di hutan di kiri jalan. Tiga, paling tidak.
Dan mereka sadar akan keberadaan Jacob.
Sosok-sosok itu memunculkan diri di pinggir tebing. Tidak, Jacob salah perhitungan. Lima, paling tidak. Menatap ke bawah, ke arahnya, dengan tajam. Menilai lawannya dan bersiaga menyerang.
Mereka berada di hutan di atas tebing tinggi. Dan Jacob di tempat yang lebih rendah. Dalam taktik perang manapun, kedudukan di tempat yang lebih tinggi selalu menang. Jacob tahu dengan posisinya sekarang, lima lawan satu, jika ia berubah dan menantang balik, ia takkan punya kesempatan. Bahkan tidak dalam bentuk serigala.
Justru tidak dalam bentuk serigala.
Sejak ia cukup matang dan dapat menganalisa kemampuannya sendiri, ia tahu ada beberapa kelemahan werewolf. Pertama adalah lemah terhadap darah vampir. Kedua, hubungan pikiran dan perasaan yang berguna dalam pertarungan, dapat berubah jadi senjata melawanmu jika salah satu anggota mengalami kesakitan, dan ia tidak ingin berpikir tentang kematian. Karena kau akan merasakannya seolah hal itu terjadi padamu, dan kau akan lemah selama sepersekian detik, yang cukup untuk serangan balik jika lawan bisa membacanya. Ketiga, serigala digerakkan oleh adrenalin, sebagian besar adrenalin, dan mudah terjebak oleh taktik licik lawan karenanya. Keempat, serigala lemah oleh pengeroyokan. Kelima, serigala memang diciptakan untuk berburu dan bertarung di tanah datar, meski bisa juga mengatasi tempat berbatu-batu, namun lokasi seperti rawa-rawa, pasir hisap, air, dan yang semacamnya bukan spesialisasi mereka. Keenam, mereka sangat unggul jika berhasil menjebak lawan di jurang terjal dengan posisi mereka di atas, tetapi mereka menjadi sangat lemah ketika posisinya di bawah. Ketujuh, serigala tidak bisa memanjat pohon atau tebing dengan sudut kemiringan di atas 75 derajat. Dan kedelapan, serigala tidak bisa naik motor.
Enam dari delapan adalah situasi yang ia hadapi sekarang kalau begitu. Melompat ke jurang di kanannya jelas bukan pilihan. Dan dengan pertimbangan itu, Jacob langsung menegakkan motornya dan memasukkan kopling, mengengkol dan menggas keras-keras.
Jacob meluncur melewati jalan raya dengan tetap mengawasi hutan di atas tebing. Ia memang diikuti. Kelima vampir bergerak dengan kecepatan Harley, menembus pepohonan. Jacob mempercepat lari motornya. Ia harus segera keluar dari kungkungan benteng alam itu. Segera sebelum para vampir memutuskan untuk menghabisi dia di situ. Karena ya, ia pasti habis.
Butuh waktu lebih dari lima menit untuk keluar dari lingkung benteng alam itu sebelum ia menemukan tebing itu melandai, dan akhirnya hilang menjadi dataran hutan yang sejajar dengan jalan. Para vampir tidak kelihatan, tapi ia tahu mereka mengincarnya. Berusaha tidak terlalu ambil peduli mengapa mereka tidak langsung menerjangnya ketika mereka punya kesempatan tadi, Jacob menghentikan motornya, nyaris membuangnya begitu saja di jalanan, dan lari ke dalam hutan sambil melucuti jaketnya. Tidak butuh waktu lama ketika akhirnya ia mencapai bagian hutan yang cukup jauh dari jalan, masih merasakan para penghisap darah itu memburunya, mengepungnya, namun tetap menjaga jarak darinya. Ia pun menyerah pada panas yang sudah melanda tubuhnya sejak tadi, membiarkannya menyebar ke seluruh tubuh dalam getaran yang kian cepat dan kian tak terkendali. Detik berikutnya terdengar suara sobekan kain ketika ia akhirnya berubah.
Hal terakhir yang ia inginkan dalam situasi ini adalah pertarungan yang begitu dekat dengan jalan raya. Orang yang kebetulan lewat bisa dengan sialnya mengalihkan perhatian vampir lawannya. Mungkin dalam pertarungan, itu hal yang akan menguntungkannya, tapi tetap saja ia tak ingin itu terjadi.
Para vampir bahkan tidak langsung menerjang ketika ia sudah mengambil bentuk serigalanya. Ia tahu mereka masih memperhitungkan, berusaha menyergapnya dalam situasi paling menguntungkan. Itu taktik perburuan. Bahkan bukan tidak mungkin mereka telah menyiapkan ladang pembantaian untuknya, dan kini ia digiring ke sana.
Apapun asalkan jauh dari jalan raya, putus Jacob, berusaha mengabaikan pertimbangan instingnya dan tetap berlari lebih dalam ke balik kerimbunan hutan, menjauhi Forks. Ia harus berusaha mencapai padang yang cukup luas. Hutan memang daerah kekuasaannya, tetapi tidak dengan situasi lima banding satu. Mereka bisa dengan mudah menyerangnya dari atas, seperti yang mereka lakukan pada Seth.
Jake, gelombang pikiran Embry memasukinya
Telat, Embry, kemana saja kau?
Maaf Jake, aku dan Quil harus berubah balik dulu tadi, ada orang memasuki hutan. Kau benar-benar dikepung, Jake? Kami akan segera kesana, oke? Bertahanlah.
Jacob mengirim gambar padang rumput tempatnya berencana menghabisi para penyerangnya.
Itu beresiko, Jake. Bukan berarti mereka takkan menghabisimu sebelumnya.
Aku tahu, Em. Cepat kesini oke? Aku kalah jumlah.
Satu vampir tiba-tiba menyerangnya dari atas pohon, tepat seperti yang ia perkirakan. Jacob melakukan manuver pada saat yang tepat, gigi sang vampir yang hanya seinci dari lehernya meleset dan ia kehilangan pegangannya atas tubuh Jacob. Geraman keduanyaa terdengar memenuhi hutan. Mereka bahkan tidak sempat saling menatap, karena si vampir langsung menyerangnya lagi. Mereka bergulat sejenak di tanah sebelum akhirnya Jacob berhasil mengoyak tubuh vampir itu dan melemparkan potongan-potongannya secara terpisah ke seantero hutan.
Jake, kau tidak apa-apa?
Satu jatuh. Cepat kesini, Em.
Baik.
Jacob tidak menunggu serangan lain atau membuka serangan. Dan vampir-vampir lain juga tidak. Mereka melihat betapa mudah kawannya terobek di taring Jacob, dan kini gerakan mereka lebih terkendali, lebih hati-hati. Mereka mengepung, mendekat, menilai keadaan.
Jacob melakukan manuver pada saat yang tepat untuk kabur dari kepungan. Ia bisa membaca taktik mereka. Korbankan satu, biarkan satu anggota yang paling lemah menyerang, untuk mengamati dan melihat pola serangan dan pertahanannya. Lalu mereka akan berharap ia menyerang balik. Jika ia menyerang salah satu saat itu, tak ayal lagi mereka akan mengeroyoknya seperti yang mereka lakukan pada Seth. Ia takkan membiarkan itu. Ia akan menunggu mereka menyerang satu-satu, mengalahkan mereka secara terpisah.
Ia harus lari. Padang rumput akan memberi keuntungan lebih baginya.
Tiba-tiba situasi berbalik menyerangnya.
Ia hampir mendekati jalan setapak yang menghubungkan La Push dengan kawasan reservasi Makah ketika sekelebat ia menangkap bau lain di udara. Korra, dan bau lain yang tidak ia kenal. Indranya lebih kuat dalam wujud serigala, dan ia bisa mendengar suara orang bercakap-cakap riang, tidak sampai dua mil dari tempatnya berada kini.
Brengsek! umpatnya. Apa yang Korra lakukan di hutan siang begini? Seharusnya ia baru pulang sore nanti...
Dan ia mengingat pembicaraan ringan mereka tadi pagi. Korra dan teman pertukaran pelajar-nya akan melakukan sedikit hiking ringan menuju pesta piyama kecilnya di reservasi Makah.
Sial, Korra! Kenapa kau harus hiking segala di saat seperti ini, sih?
Apa, Jake? Ada Korra dan temannya?
Ingatkan aku untuk menghukum Korra karena bolos sekolah, Em.
Menggemeretakkan gigi, Jacob tiba-tiba berbalik. Ia harus menjauhkan vampir-vampir sial ini dari adiknya dan temannya. Anak kecil itu tidak cukup beruntung untuk lolos dari hukuman Billy karena kabur sebelum jam pulang sekolah nanti hanya karena alasan bodoh dijadikan makan siang vampir. Ia akan memastikan adiknya cukup jera dengan menolong nyawanya kali ini.
Tapi para vampir rupanya mencium bau makanan ringan. Mereka hanya mengikutinya sesaat sebelum kemudian perhatian mereka teralihkan, dan bergerak hampir serentak meninggalkannya, mengejar bau manusia-manusia itu.
Tidak! teriak Jacob keras, mengaum. Melupakan rencananya, ia menyerang mereka, begitu cepat sebelum korbannya berbalik badan mengejar Korra. Perhatian penghisap darah itu masih teralihkan sehingga ia tidak sempat menyadari serangan Jake. Segera kepalanya terenggut dari badannya, dan Jacob dengan segera merobek-robek tubuhnya dengan bengis, melontarkannya ke segala arah.
Ia adalah mesin pembunuh kini, saat nyawa orang yang harus ia lindungi berada di ujung tanduk. Ia menyerah pada insting binatang buasnya, langsung menyerang vampir ketiga. Namun vampir ini lebih awas. Taringnya meleset dari kepala vampir, namun ia berhasil menancapkannya pada tangan si vampir, merenggutnya dari tubuhnya. Lolongan korbannya menggema di udara.
Justru pada saat itu dua vampir lain menyerangnya bersamaan. Mereka menungganginya, mencengkeramkan tangan-tangan mereka pada tubuhnya, berusaha menancapkan gigi pada tubuhnya. Jacob mengibas-ngibas keras, menabrakkan tubuh ke pohon-pohon cemara besar, berusaha mengenyahkan mereka berdua. Namun mereka terlalu kuat. Ia menggeliat-geliat kasar, cakarnya menyerang liar di udara, berusaha menyayat apapun yang bisa ia jangkau. Satu vampir jatuh, dan ia segera menerkam, taringnya yang besar dan tajam terarah pada kepala calon korbannya. Namun tangan si korban segera menahan rahangnya, berusaha sekuat tenaga merobeknya. Sementara lengan satu vampir lain yang masih bertengger di punggungnya mencekiknya, masih berusaha menghujamkan taring ke lehernya.
Ia bisa merasakan asin di sudut bibirnya ketika tenaga si vampir mengoyak satu senti rahangnya, dan mungkin tulang lehernya hampir patah, tapi rasa sakit di rahangnya memaksa kesadarannya tetap bertahan. Tenggorokannya mengeluarkan suara desis bercampur auman yang aneh, campuran antara kemarahan dan kekalutan. Cakar-cakarnya terhujam di tubuh si vampir di depannya, menyayat dan mencakar tubuhnya, tapi tidak berhasil mengoyaknya.
Dari sudut matanya, ia bisa melihat vampir yang kehilangan satu tangannya itu bangkit, menerjangnya, menyerudukkan tubuh batunya pada tubuh raksasa sang serigala.
Tiba-tiba seisi dunia terbalik di kedua matanya. Kini ketiga vampir berada di atasnya, memiting, berusaha merobek rahangnya dan mengoyak kulitnya. Ia masih meronta, kaki-kakinya yang bergerak liar di udara berusaha sekuat tenaga mencakar, merobek, mengoyak apapun.
Darah mengalir dari rahangnya, dan ia merasa tubuhnya terbakar ketika taring vampir benar-benar menembus kulitnya.
Mungkin ia tidak akan berhasil membuat Billy menghukum Korra besok malam.
Dan dalam kesadarannya yang menghilang, rasanya ingatan Seth kembali bermain di benaknya. Tubuh seekor serigala hitam, melengkung bagai busur indah di udara, menerjang ketiga vampir yang mengeroyoknya, melepaskan cengkeraman dan taring mereka dari tubuhnya.
Lalu semuanya gelap.
Ia merasakan sesuatu menyentuh permukan kulitnya. Dingin. Dingin bersentuhan dengan tubuhnya yang panas. Dingin berlawanan dengan rasa panas yang menyerang tubuhnya. Dan ia merasa sesuatu yang dingin itu menembus kulitnya. Perasaan dingin yang lain menerpa, dingin yang menggigit sumsum dan ketika ia merasa rasa panas yang membakar itu perlahan lenyap, susut, terserap ke dalam rasa dingin itu. Atau mungkin rasa dingin itu adalah efek yang menggantikan hilangnya rasa panas dari tubuhnya.
Tapi rasa dingin itu hanya sementara. Sedetik kemudian, ketika rasa dingin menggigil itu lenyap, ia kembali merasa tubuhnya terbakar, kali ini lebih panas ketimbang sebelumnya.
Jake! ia mendengar suara Embry, dan bagai mimpi, ia melihat bayangan tubuhnya sendiri dari penglihatan Embry. Tubuh manusianya, telanjang, terbujur di tanah lembab, sekarat. Darah membasahi tubuhnya yang kotor, rambutnya acak-acakan dan berlumpur. Rahangnya sobek. Dan darah mengalir dari luka sobek berbentuk bulan sabit di dadanya.
Jake, Jacob!
Astaga, ia tergigit!
Embry, jangan hisap, kau bisa mati!
Diam, Quil!
Waktu terasa panjang namun juga tidak terasa bergerak. Panas masih menguasai tubuhnya.
Ia membuka mata, Em!
Jake, aku mohon, tetaplah bersama kami...
Jake, bertahanlah...
Oh tidak, dia pingsan lagi...
Dan segalanya kembali hitam.
