THE ANOTHER BLACK
Disclaimer: I do not own Twilight, either its characters, basic plot, backgrounds, etc... They all belong to Stephenie Meyer
Sebelas - Racun Vampir
Thursday, December 20, 2012
5:07 PM
Ia bangun setelah... berapa lama? Satu jam? Lima jam? Sehari? Seminggu? Ia tidak tahu. Yang ia tahu adalah ia terbangun di ruangan yang hangat. Sofa dengan penutup selimut quilt warna-warni yang ia kenali berada di rumah Emily. Perapian menguarkan kehangatan yang menyenangkan, bahkan bau dan derak kayu terbakar meningkahi ruangan dengan aroma dan melodi yang menenangkan hati.
Ia berusaha bangun dan menyadari bahwa rusuknya patah, lagi. Perban melilit dadanya. Tangan kanannya juga kelihatannya sempat patah, melihat kayu penyangga di balik perban yang membalutnya. Tulang-tulang jemarinya kelihatannya baru pulih dari remukan. Dan tampaknya rahangnya pun sudah kembali lekat.
Melihat keadaannya sekarang, bahkan untuk ukuran werewolf, rasanya sudah lama waktu berlalu sehingga semua luka dan patah tulang di tubuhnya sembuh total. Ia bangkit dengan hati-hati, merasakan dan menilai kekuatan kakinya sendiri.
Meski begitu ada bagian di dadanya yang terasa dingin. Ia menghentak dengan horor terbayang di matanya, teringat panas dan dingin yang menyiksa tubuhnya ketika gigi vampir menyentuh kulitnya. Racun vampir...
"Hei, Man..." sapaan itu terdengar di telinganya. Ia tidak perlu merasa kaget melihat Embry ada di sana, keluar dari balik dapur Emily.
"Em..." ia tak sanggup membentuk senyum di bibirnya. "Berapa lama aku..."
Embry mendekat, duduk di bangku di dekat perapian. "Lima hari. Kau pulih lebih cepat dari Seth... Dia baru pulih tiga hari lalu. Padahal luka dan patah tulangmu lebih parah. Belum lagi ..." Embry tak kuasa melanjutkan kalimatnya. Tapi Jacob tahu apa yang ada di ujung lidah Embry. Dan ia khawatir. Ia tidak mati, tidak setelah racun vampir menyerbu sistemnya. Apakah...
Dengan panik ia mencari cermin, berusaha melihat matanya. Dan merasa lega begitu melihat warna matanya masih coklat gelap.
"Oh, kau membuatku kaget, Em. Aku bisa benar-benar mati, kau tahu."
Embry terkekeh. "Kau sudah mati dua kali, Jake... Aku sampai heran ada berapa nyawamu. Mungkin kau punya sembilan nyawa."
"Aku tidak tahu anjing punya sembilan nyawa. Kukira itu kucing," sahut Jacob balas tertawa. Embry meninjunya dan memasang tampang pura-pura tersinggung, tapi anehnya sorot matanya tampak lega.
Dan dalam keremangan sinar perapian itu ia melihat bibir pucat Embry. Dan ia mengingatnya dari penglihatan saat ia sekarat itu, Embry menghisap darahnya. Darah yang teracuni vampir.
"Astaga Em! Apa yang terjadi padamu?" ia menatap bola mata Embry, panik. Dan kembali kelegaan membasuh wajahnya ketika dilihatnya mata sahabatnya masih coklat.
"Aku tidak berubah jadi vampir hanya karena menghisap darah yang bahkan tidak terinfeksi lagi racun vampir, Jake... Mungkin sedikit, tetapi tidak dalam jumlah cukup yang bisa membuatku jadi vampir. Lagipula kau lupa ya aku serigala?"
Ia sadar belakangan ia lupa soal penting itu. Serigala mati oleh racun vampir. Yang berarti seharusnya ia dan Embry mati sekarang ini. Tapi...
"Apa maksudmu tidak terinfeksi lagi?"
Embry mengendikkan bahu."Aku tidak tahu. Tapi patut kuakui Jake, darahmu tidak enak. Mungkin vampir yang menggigitmu batal menghisap darahmu, jadi racunnya tidak sampai masuk sistemmu," katanya datar.
Mustahil! Perasaan panas, dan dingin itu...
Dan ia mengingatnya. Serigala hitam. Dan sesuatu yang dingin menyentuh kulitnya sebelum rasa dingin dan panas bergantian menyiksa tubuhnya.
"Kau melihat ada orang, vampir, apapun yang lain saat kau sampai, Em?" nada suaranya berubah mendesak, memaksa. Namun lagi-lagi Embry terlihat bingung.
"Tidak... Ada apa Jake? Hey..."
Jacob tidak menjawab. Matanya nanar memandang cermin, melihat bayangan bekas luka berbentuk bulan sabit di dadanya yang tidak terbalut perban. Bagian itu terasa dingin, sangat dingin bagi tubuhnya. Dingin yang sangat menggigit.
"Jake?" Embry memanggil khawatir, menatap Jacob melalui bayangannya di kaca.
"Ada seseorang, sesuatu di sana, yang menyentuhku setelah serangan vampir itu, Em..." katanya pelan.
"Apa?"
"Kau melihatnya. Serigala hitam."
"Ya, aku melihatnya." Dan Embry memang melihatnya, melalui mata Jacob, ketika serigala itu tiba-tiba muncul entah dari mana, menyelamatkannya seperti ketika ia menyelamatkan Seth. "Apa menurutmu si serigala hitam yang menghisap racun keluar dari tubuhmu?"
Jacob menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi aku merasa mungkin bukan dia. Mungkin yang lain. Tidak adakah yang kaulihat lagi?"
"Aku dan Quil langsung berubah balik ketika kau berubah kembali... ketika kau kehilangan kesadaran. Begitu aku tiba tidak ada apa-apa. Hanya kamu, di tanah, sekarat." Rasa sakit yang sama menyerang Jake kembali ketika tanpa sadar memorinya kembali berputar pada detik ketika rasa panas itu menguasai tubuhnya. "Aku tidak mendeteksi apapun kecuali bau vampir dan serigala."
Kesadaran yang aneh menghantam Jacob. "Em," katanya tidak yakin. "Aku... tidak yakin... tapi mungkin... ada makhluk selain serigala yang menghisap racunku."
"Maksudmu vampir?"
Ragu-ragu Jacob mengangguk.
"Jake, untuk apa ada vampir mau menghisap racunmu? Kau kan musuh mereka. Bahkan vampir vegetarian pun lebih memilih kau mati daripada harus mereka selamatkan."
Alasan Embry terdengar sangat rasional. Dia bahkan tidak perlu memikirkannya lagi untuk menyetujuinya.
Tapi ada sesuatu yang berbeda. Sentuhan dingin sesuatu di lukanya. Sesuatu yang menghisap racunnya keluar.
"Kau pernah tahu ada serigala yang menghisap racun vampir, Embry?"
Embry hanya menatapnya balik dengan wajah tanpa harapan. Ia bahkan tidak menganggap hal itu mungkin.
Tapi di dunia ini, hanya ada satu orang yang pernah diracuni oleh vampir dan dihisap racunnya sebelum racun itu sempat menyebar. Bukan oleh serigala, tapi oleh vampir.
Bella.
Menghubungi Bella mungkin sama susahnya dengan menghubungi presiden, atau malah Kate Middleton. Sejak keluarga Cullen pindah ke New Hampshire, dan keluarga kecil Edward-Bella-Renesmee memulai hidup kecil yang menyenangkan di Alaska, kesempatan bicara dengan Bella adalah 1 dalam 100 kali Jacob menelepon.
Tapi malam itu, hampir bersamaan dengan terbersitnya pikiran mengenai Bella di kepalanya, tiba-tiba telepon Sam berdering. Dan ketika Embry mengangkatnya, sangat aneh dan tak terduga: itu Bella.
"Alice menyuruhku mencari tahu keberadaan Jacob dan aku sudah menelepon nomornya sekitar sejuta kali seminggu ini. Tolong katakan Jacob ada di situ dan baik-baik saja, Embry... Aku mendapat kesan dari Billy kalau dia mendapat musibah," suara panik Bella terdengar di seberang sana.
Embry mengernyitkan kening. "Memang Billy tidak cerita?"
"Cerita apa?"
"Jacob..."
Tepat waktu ketika Jacob menyambar telepon itu dari tangan Embry.
"Ya, Bells?"
"Jacob?"
"Yep."
"Jake!" suara Bella terdengar lega, sangat lega. "Syukurlah kau menjawab! Kau tidak apa-apa?"
Jacob hampir menjawab, Tidak. Aku baru bangun setelah koma selama lima hari setelah dikeroyok lima vampir. Tapi ia hanya menjawab, "Tidak kurang apapun," dengan sangat kasual.
Embry membelalakkan mata tidak percaya.
"Kenapa kau menelepon ke nomor Sam?" tanya Jacob. Ini aneh.
"Aku menelepon ke nomormu tapi kau tidak menjawab. Dan sudah beberapa hari ini nomormu tidak aktif," katanya. Tentu saja, ponsel Jacob ada di saku jaket yang ia tinggalkan di hutan. Pastinya sudah sejak tiga hari lalu baterenya habis. "Kata Charlie ia menemukan motormu di hutan, dan Billy bilang kau tidak pulang karena ada masalah. Tapi tadi Billy menyuruhku menelepon rumah Sam. Kupikir pasti memang benar ada apa-apa kalau begitu."
"'Memang benar ada apa-apa' apanya?"
"Alice bilang lima hari lalu ia mendapat penglihatan. Dan aku ketakutan setengah mati. Aku merahasiakannya dari Nessie dan Edward. Tapi Ness juga sakit."
Tunggu. "Ness sakit? Ia tidak mungkin sakit... Ia kan..." bahkan Jacob bingung bagaimana menyebut kata yang tepat, "... kebal."
"Aku tahu. Tapi beberapa hari ini ia tidak enak badan, bilang badannya dingin dan lain sebagainya. Kupikir tubuhnya bereaksi karena ia tidak biasa dengan diet singa laut di sini, dan dua hari lalu kukirim ia ke New Hampshire untuk bersama Carlisle. Tapi kata Alice ia makin parah. Dan aku takut itu berhubungan denganmu, kau tahu sehubungan dengan imprint atau semcamnya," ia berhenti sebentar untuk mendesah dan kemudian melanjutkan, nadanya agak menyesal sekaligus malu, "Aku ingin segera ke tempatmu, tapi Edward melarangku."
Edward melarang Bella pergi menengok Jacob?
"Memang Alice melihat apa tentang Nessie?"
"Bukan tentang Nessie. Tapi tentang kamu."
"Aku?" Jacob bingung. Alice tidak pernah bisa melihatnya.
"Ia melihatku dan Edward. Ia melihat kami berada di sebuah pemakaman. Di depan kuburanmu. Dan Seth."
Jacob menelan ludah.
"Serius, Bella... Apa ini April Fool?" dan ia memandang Embry nanar. "Apa ini 1 April?"
"Tentu bukan, bodoh... Tunggu, mengapa kau bertanya 'apa ini 1 April'? Mengapa kau tidak tahu tanggal?"
"Mmmm... Bella, aku harus pergi. Sam memelototiku dari tangga atas. Ini tengah malam, kau tahu..."
"Jacob Black! Jika kau tidak..."
Jacob buru-buru menutup telepon dan menghembuskan napas. Wajahnya tegang.
"Dude?" panggil Embry, masih bingung. "Kenapa kau menutup telepon Bella? Kau kan bisa bertanya soal racun vampir..."
Telepon berdering lagi. Jacob buru-buru mencabut kabel telepon.
"Sam akan membunuhmu, Jake..." bisik Embry.
"Biar saja. Toh aku sudah mati sekarang."
"Jake!"
"Sssst... pelankan suaramu, Em," bisik Jake. Mungkin Sam masih punya pendengaran sensitif, tapi itu takkan bekerja kalau ia tidur. Dan ia tak ingin Sam bangun sekarang, tidak karena ia tidak ingin siapapun mengetahui hal ini. "Dengar. Aku tidak mau membuat Bella khawatir. Atau Nessie. Aku tidak mau mereka ada di sini, karena mereka bisa-bisa terlibat dalam perang hanya karena mereka vampir."
"Kenapa? Kita tidak mungkin menyerang mereka. Mereka sekutu kita."
"Mereka masih sekutu kita sekarang, tapi bagaimana jika ada yang berubah? Bagaimana jika ada anggota kawanan yang mati karena vampir?"
"Jake! Kau tidak akan mengubah perjanjian karena salah satu dari kami mati. Dan siapapun yang membunuh, jika vampir, itu tidak mungkin keluarga Cullen."
"Ya, jika aku atau Seth memegang kunci perjanjian, karena kami kenal mereka. Kita kenal mereka. Tapi coba tebak? Alice melihatku dan Seth mati. Dan Edward melarang Bella dan Nessie ke sini. Itu hanya berarti satu hal."
Embry tidak perlu bertanya. Ia sudah tahu.
"Edward mengetahui bahwa Alice melihat bukan hanya aku dan Seth, tetapi Bella dan Nessie juga akan mati, dan itu berhubungan dengan kematianku."
"Astaga! Vampir yang menyerang kalian..."
"Ya. Antara vampir, atau werewolf."
"Werewolf?"
"Jika kami mati, Alfa berikutnya sesuai hierarki adalah kau atau Collin. Aku tidak yakin kau ingin memimpin jika kau punya pilihan, Em. Dan aku yakin Collin, dengan dukungan seseorang, akan dengan sukarela mencabut perjanjian dengan vampir manapun jika dihadapkan pada situasi itu."
Ya, Embry tidak perlu bertanya siapa seseorang itu.
Sam.
Dan ada kemungkinan werewolf misterius itu juga.
