halo... makasih yang udah baca n udah review ya... apalagi yang udah follow... seneng banget deh :)
hari ini update lagi, semoga yang baca ga bosen... hahaha... :D
chapter yang ini emang rada2 ga jelas gitu (sengaja maksudnya...) buat nunjukin apa yang terjadi seandainya sebagai Kepala Suku, Jacob punya tanggung jawab pada sesuatu yang lebih tinggi darinya... siapa lagi kalo bukan Sam (my love!). Dan ternyata Sam pun punya rahasia yang ga ia bagi di balik rencana-rencananya... (ahem!)
tolong review ya...
THE ANOTHER BLACK
Disclaimer: majority of characters, plot, situation surroundings, etc. belong to Stephenie Meyer... its just my other version of events along the werewolf pack...
Set 5 year after Breaking Dawn (2012)
Dua belas – Sarapan bersama Sam
Thursday, December 20, 2012
5:08 PM
catatan: judul alternatif chapter ini adalah Laporan
"Josh, duduk diam dan jangan ganggu pamanmu," perintah Sam pelan pada putra tunggalnya, Joshua Uley, yang dari seperempat jam lalu sibuk menggerecoki Jacob.
Anak itu melakukan hal normal sebagaimana anak laki-laki normal pada jam sarapan: menuang sereal banyak-banyak ke mangkuknya sendiri, menuang susu hingga luber, memukuli piring dengan sendok, menarik dan mendorong bangku, hal-hal semacam itu. Dan ketika sudah tidak ada lagi yang bisa ia kerjakan, ia beralih mengganggu Embry dan Jacob. Merebut roti di tangan mereka, mengambil sosis di piring Jacob, sengaja menumpahkan serealnya ke pangkuan Jacob, melempari Jacob dengan remah-remah roti…
Pagi itu Jacob dan Embry ikut sarapan pagi di kediaman Uley, bersama Joshua yang jelas mencari perhatian dan Sam yang terlihat frustasi. Ia tampak berusaha keras menjaga kesabarannya tetap pada tingkat tertinggi, hingga sedikit lagi mungkin ia bias mencapai taraf Buddha kalau terus begini. Emily masih di dapur seperti biasa, memasak dan memasak hingga persediaan bahan makanannya habis.
Emily memang sudah terbiasa menyiapkan makanan untuk sekompi werewolf yang selalu kelaparan. Kini meskipun sang suami sudah pensiun, ia tak bisa menghilangkan hobinya masak banyak dan mengundang kawanan Jacob. Kasihan Sam kalau terus begini, pikir Jacob. Profesi barunya sebagai tukang kayu—maksudnya pembuat mebel pesanan kecil-kecilan, karena ia belum cukup modal untuk membuka workshop atau bahkan toko sendiri—jelas tidak cukup untuk mendukung akomodasi tigabelas serigala yang makan seperti babi. Dan Emily selalu menolak jika Jacob menawarinya biaya belanja bulanan, yang sedianya akan ia tarik dari kawanan.
"Jangan konyol, Jake… Aku malah bingung kalau kalian tidakmakan di tempatku. Aku suka mencoba resep baru dan kalian itu semacam kelinci percobaan yang tepat. Bagaimanapun kalian toh tidak akan keracunan," begitu selalu tolak wanita itu sambil terkikik.
Ini mengerikan, sebenarnya, dan Jacob kadang bertanya-tanya apakah Emily bersekongkol dengan Carlisle untuk menyelidiki mekanisme system pertahanan tubuh werewolf. Dengan membubuhkan racun ini dan itu dalam dosis terukur, misalnya, untuk mengetahui yang mana yang benar-benar bisa meracuni serigala.
Pikiran bodoh, tolaknya. Hentikan itu!
Tentu saja Emily takkan meracuninya. Emily, dibanding semua orang yang dikenalnya, bahkan Sue yang perawat itu, adalah orang yang paling peduli pada asupan gizi serigala.
Sebelumnya Caleb dan Adam sudah mampir begitu Embry menelepon mereka pagi-pagi sekali, mengabarkan bahwa Jacob sudah siuman. Dua orang itu, yang sejak peristiwa penyerangan Seth bertindak sebagai Tim P3K sekaligus dokter-tanpa-sertifikat kawanan mereka, menyatakan Jacob sudah pulih. Tentu saja setelah melakukan serangkaian tes konyol yang menurut pendapat Jacob tidak berguna dan bahkan tidak akan dilakukan Carlisle. Tapi itu hanya pendapat pribadi tentu, dan Jacob tidak bisa bilang apa-apa ketika mereka bilang itu bagian dari prosedur. Tentu saja ia harus menurut, bagaimanapun mereka yang mendapatkan pelatihan medis, bukan dia. Dengan alasan itu, ditambah ancaman Caleb bahwa ia akan sengaja melakukan malpraktik—seperti membengkokkan atau menusukkan tulangnya ke tempat yang salah sehingga ia akan bertransformasi dalam wujud yang aneh—jika ia terus protes, maka ia pun diam sementara mereka melakukan pekerjaan mereka. Setelah sekitar dua jam berkutat dengan serangkaian prosedur, akhirnya ia bisa menghembuskan napas lega ketika Caleb dan Adam membuka seluruh perban dan kayu-kayu penyangga di tubuhnya.
Jadi di sanalah ia kini: di dapur Emily, dengan bocah badung yang hiperaktif dan jenderal serigala anumerta yang siap meledak setiap saat.
Anehnya, begitu Sam menegurnya, Joshua cilik langsung diam, menunduk seraya menggumam pelan, "Ya, Dad…". Melihat efeknya, Jacob hampir bersumpah bahwa ia pastinya alpa mendengar gaung Titah Alfa dari mulut Sam barusan.
Kecuali bahwa Sam tak lagi jadi Alfa. Atau kalaupun iya, pastinya dia tidak mungkin menurunkan Titahnya pada anak usia 4 tahun,yang walaupun ada dalam daftar, tak mungkin bertransformasi. Sekarang, paling tidak. Setidaksabaran apapun Sam soal batalion, ia takkan begitu bodoh memaksa anaknya berubah. Memancing amarahnya dengan tidak membelikan mainan atau tidak memberi uang jajan, misalnya.
Ya, kecuali kalau ia tidak keberatan anaknya berubah menjadi semacam chihuahua.
Sam berdehem pelan, cukup untuk membangunkan Jacob dari rentetan pikiran acak-tanpa-juntrungannya sebagaimana biasa.
"Jadi," kata Sam memulai pembicaraan dengan awal yang biasa, sangat khas dia. "Kau sudah pulih?"
Itu sudah jelas dan bahkan Jacob tidak perlu menjawabnya. Tapi tahu bagaimana sifat Sam yang selalu menuntut jawaban, ia pun mengangguk.
Pertanyaan barusan pasti cuma pembuka yang bodoh, karena detik berikutnya Sam langsung melompat ke nomor berikutnya dalam daftar pertanyaannya, "Bagaimana soal pengawasan?"
Brengsek Sam, dia pasti ikut kursus jurnalistik belakangan ini, dan dapat nilai E. Itu menjelaskan pertanyaan pembukanya yang bodoh dan usaha parahnya menahan ketidaksabaran untuk langsung menuju inti permasalahan.
Jika Sam serius melontarkan pertanyaan itu, berarti dia memang bodoh. Jacob sudah lima hari koma, yang berarti apapun perkembangan mengenai pengawasan calon serigala mereka tidak akan mampir padanya.
Emily kelihatannya tahu ke mana pembicaraan kecil di meja makan itu mengarah, karena ia langsung beranjak dari dapur, mengangkat putranya yang masih meronta-ronta bangkit dari kursinya, dan membawanya pergi dari depan hidung Jacob yang masih tidak tahu harus berkata apa.
Tapi justru Embry yang menjawab.
"Hingga saat ini semua masih normal, Sam," sahut Embry setelah menelan rotinya.
Ya, tentu saja! Dengan komanya Jacob, otomatis kepemimpinan berada di tangan Seth. Dan karena Seth juga baru tiga hari yang lalu pulih, dan Jake sudah mewanti-wanti agar Seth tidak diganggu urusan batalion, tentu saja Embry yang bertanggung jawab.
Sekarang Jacob yang merasa bodoh. Pastinya Sam juga sejak awal tidak bertanya padanya.
Itu salah Sam! sebagian dirinya berusaha membela diri. Suruh siapa dia bertanya sambil menatap piringnya? Mana ada yang tahu dia bertanya pada Jacob atau Embry?
Ia diam mengunyah sosisnya, menunggu kelanjutan laporan Embry.
"Sejauh ini tidak ada tanda-tanda siapapun akan berubah. Kami mengawasi anak-anak usia SMA dan SMP, ditambah beberapa anak usia SD kelas 4-6 yang kebetulan masih kerabat anggota kawanan. Seluruhnya ada 16 anak."
Enambelas dari duapuluh tiga anak dalam daftar tidak-pandang-bulu Sam. Patut Jacob akui kawanannya lumayan juga. Ia ingin bertanya bagaimana tepatnya mereka melakukannya. Tapi toh ia bisa mendapatkan jawabannya langsung dari kepala mereka. Kapan tadi Caleb membolehkannya berubah? Besok? Lusa? Tiga hari lagi? Tidak begitu jauh juga...
Tapi rupanya Embry sudah berencana menceritakan lebih detail.
"Brady bertanggungjawab untuk jadwal dan detail pengawasan. Intinya karena kami tidak bisa mengawasi satu per satu dalam 7 x 24 jam, kami mengawasi perkembangan dalam jangka waktu tertentu. Tiap anggota kawanan, kecuali Seth, memegang satu calon. Kecuali tentu saja Quil, Collin, Brady, Caleb, dan Pete, yang masing-masing memegang dua karena ada kerabat dekat mereka yang masuk ke dalam daftar. Brady mengatur agar kami bisa sedekat mungkin dengan target. Misalnya melamar jadi guru les privat, bekerja sambilan di toko atau bengkel milik keluarga mereka, masuk ke geng atau menjadi teman mereka, hal-hal semacam itu."
"Les privat?" Jacob tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. Ia tak pernah tahu ada anggota kawanannya yang sepintar itu.
"Caleb, Adam, Harry, dan Clark sebenarnya lumayan dalam hal akademis. Caleb dan Adam kan sudah lulus, reputasi mereka di rumah sakit tempat mereka magang juga lumayan menjanjikan, jadi mereka mendekati beberapa keluarga, menawarkan jasa bimbingan belajar. Putri salah satu dokter rumah sakit juga masuk dalam daftar, kini ia menjadi tanggung jawab Caleb. Ben lumayan dalam soal musik, jadi ia masuk dalam grup band salah satu target. Dan Clark juga ikut geng skateboard."
Wow! Jacob baru tahu hal ini. Mungkin seharusnya ia menyadari bakat lain kawanan di luar pembantai vampir paruh-waktu serta paduan tukang makan dan tukang gosip 7 x 24 jam.
"Tapi pengawasan baru efektif selama 5 hari ini, jadi belum banyak yang kami dapatkan," Embry menutup laporannya.
"Lalu soal penyelidikan vampir?" Sam kembali bertanya sebelum Jacob sempat buka mulut untuk menanyakan hal yang sama.
Embry terlihat ragu. "Kami... menyelidiki hingga Port Angeles dan Forks. Juga Seth, Quil, dan aku patroli di wilayah Cullen. Baru dua hari Seth berubah, jadi kami menggilir pasangan setiap dua hari sekali. Dan sejauh ini patroli yang bisa dikerjakan hanya patroli malam."
Tentu saja. Setiap anggota memiliki kesibukan masing-masing pada siang hari. Embry kini bekerja paruh-waktu di sebuah konter suvenir di dekat pantai. Dan Quil setiap hari bulak-balik ke Port Angeles atau Forks untuk bekerja sebagai agen asuransi.
"Hanya berdua?" tanya Jacob khawatir.
Tiga serigala saja untuk mengawasi wilayah seluas itu adalah hal yang mustahil. Apalagi dengan sistem giliran, dua serigala per hari.
"Anak-anak lainnya masih ragu untukmengawasi daerah itu, Jake... Mereka bilang mungkin kesempatan dibantai Cullen karena memasuki teritori mereka lebih besar daripada bertemu mata merah."
"Konyol..." Jacob ingin tersenyum, tapi tidak bisa. Ia terlalu tegang.
Para vampir penyerang mereka sudah membuktikan bahwa mereka ahli, licin, dan menyerang berkelompok. Patroli dengan anggota kecil seperti itu sama saja cari mati. Jika mereka berani menyerang di dalam teritori serigala, mereka akan lebih berani lagi menyerang di dalam teritori vampir. Vampir yang bahkan sedang tidak ada di tempat, lebih lagi.
"Itu konyol, tentu saja. Tapi karena kau juga belum menghapus perjanjian, kawanan tidak berani melanggar."
"Tapi keluarga Cullen kan tidak ada..."
"Mereka bilang Cullen selalu kembali setiap saat, tidak ada yang tahu kapan."
"Kalaupun ya, kurasa mereka takkan keberatan kalau selama mereka pergi, kita menjaga wilayahnya..."
Embry mengedikkan bahu. "Aku juga sudah bilang begitu. Mereka tetap menolak."
Jacob menelan ludah. Ini bodoh, benar-benar bodoh. Hanya dua serigala mengawasi wilayah Cullen?
Dan mereka menyalahkan dia... Karena ia belum menghapus perjanjian? Tahukah mereka bahwa ia punya alasan untuk tetap menghormati perjanjian walau sekarang hal itu sudah tidak dibutuhkan lagi? Menjaga kepercayaan, menunjukkan itikad baik hanya hal paling mendasar dari semuanya. Dan yang terberat adalah asuransi untuk masa depan.
Benar, bahkan Alice pun tidak bisa meramal masa depan serigala.
Kecuali satu hal: ia akan mati, mungkin tidak lama lagi.
Karenanya ia harus melakukan sesuatu sebagai warisannya jika ia pergi nanti. Karena tidak ada yang tahu masa depan, dan ia ingin meyakinkan bahwa sukunya aman di teritori mereka, setidaknya, dari ancaman manapun. Memang perjanjian ini hanya mengikat mereka dan keluarga Cullen yang jelas-jelas tidak makan orang, tetapi perjanjian itu juga melindungi tanah mereka dari vampir-vampir mata merah yang sering menjadi tamu keluarga itu. Dan siapa tahu? Jika suatu saat nanti mereka lagi-lagi berniat mengadopsi vampir baru atau ada anggota mereka yang entah bagaimana tidak bisa menahan nafsu melihat darah? Karena keluarga Cullen bukan satu-satunya ancaman, terutama saat mereka sudah tidak lagi menjadi ancaman.
Karena memang ada ancaman lain. Dan ancaman itu bahkan sudah berwujud sekarang.
Dan yang lebih mengerikan lagi, dengan alpanya ketiga serigala senior di La Push untuk patroli di wilayah Cullen, para serigala yunior lain harus patroli tanpa pengawasan. Di wilayah Quileute. Tempat terjadinya dua penyerangan, tiga kalau penyerangan manusia tempo lalu termasuk, hanya dalam waktu dua minggu.
Sebagai tambahan, yang diserang tak lain tak bukan adalah dua petinggi teratas mereka. Dan keduanya kalah.
Sesaat hati Jacob mencelos. Apa ada korban baru selagi ia koma?
"Lalu?" tak sabar ia menuntut, karena lagi-lagi Embry terdiam.
"Tidak, tidak ada korban baru," menyadari kekhawatiran sahabatnya, Embry langsung menjawab. "Tapi... hingga kini... ehm, belum ada kesimpulan yang bisa diambil. Beberapa kali kami bertemu vampir, untungnya yang bergerak sendiri, jadi dengan mudah bisa kami halau."
Ia bernapas lega.
Tapi rupanya Sam tidak berpikiran yang sama.
"Apa maksudnya tidak ada kesimpulan?" tuntutnya.
"Tidak ada tanda-tanda kelompok vampir di Forks atau Port Angeles. Atau tanda-tanda aktivitas yang terorganisasi. Quil menganggap yang selama ini merambah La Push adalah vampir nomad, tapi Seth tidak setuju. Ia menyelidiki hingga Seattle kemarin, dalam wujud manusia tentu, tapi sejauh ini daerah itu aman. Hanya ada beberapa vampir melintas, tapi cuma ulah individual dan sudah bisa diatasi."
Jadi intinya wilayah cakupan patroli meluas hingga Seattle. Wajar saja, kalau mengingat insiden tempo dulu dengan para vampir baru. Itu sudah lama sekali, Jacob menghitung-hitung, mungkin lebih dari 5 tahun, mungkin 6 tahun lalu? Mungkin Seth mempertimbangkan kemungkinan itu.
Atau ia cuma bosan setelah seminggu lebih terkurung di rumah Sam. Ia mungkin sekadar ingin jalan-jalan dan mencari-cari alasan, pikir Jacob.
Sam tidak terlihat lega, malah tampangnya sesaat terlihat makin stress. Kelihatan ia memikirkan sesuatu. Tetapi bagaimanapun, ia berhasil menyembunyikan ekspresinya di balik topeng yang berat itu. Yang bahkan masih ia pasang walau masa-masanya sebagai Alfa telah lama lewat. Mungkin tugas Tetua belakangan malah menuntutnya bersikap pahit lebih dari yang seharusnya. Atau mungkin memang itu pembawaan Sam, selalu berusaha tampak berwibawa. Karena setahu Jacob, para Tetua yang lain: ayahnya, Sue, dan Old Quil tidak pernah sepahit itu.
Mantan atasannya, atau pada praktiknya sampai sekarang masih, berdehem lagi, dan Jacob menunggu topik berat lagi bergulir. Ada apa dengan jam sarapan belakangan ini?
"Kudengar semalam kau menerima telepon?" tanyanya menyelidik, yang membuat dua mantan bawahannya, atau sampai kini pun masih, langsung mengeluarkan keringat dingin, jika itu mungkin.
Telepon mungkin bukan topik yang seberat pengawasan maupun serangan vampir, tapi menimbang kondisi sekarang dan isi telepon semalam, ini mungkin hanya sedikit ringan dibanding topik-topik lain pagi itu. Embry dengan bodoh membiarkan seutas napas tertahan keluar dari tenggorokannya, membuat Jacob menendang lututnya dari bawah meja.
Diam, Embry! Diam! jerit hatinya panik.
Dan rupanya Sam menangkap perubahan atmosfer itu, atau mungkin gerakan yang terlalu kentara di bawah meja, karena ia langsung mengalihkan pertanyaannya pada Embry. "Ada sesuatu yang ingin kaubagi, Em?"
Jacob berkonsentrasi mengancam Embry dengan pikirannya—seolah-olah itu bisa menjangkaunya saja, karena jelas kekuatan telepati serigala hanya berlaku dalam, yah, wujud serigala—dan berusaha agar ancaman itu tidak nampak dari matanya.
Entah matanya mengkhianatinya, atau jaringan pikiran serigala bekerja bahkan dalam wujud manusia, yang jelas tiba-tiba Embry terdiam.
Hal itu tak luput dari perhatian Sam. Mengernyit, ia beralih pada Jacob. "Apa... apa kau baru membungkam Embry, Jacob?"
Jacob tergagap. "A... apa?"
Sam makin menyipitkan mata. Jacob membeku. Rasanya Sam belakangan ini makin menguasai kekuatan Medusa. Ia bahkan bisa melihat bayangan puluhan ular saling melilit, saling bertaut, berusaha menyerang ke segala arah, mendesis mengancam dari kepala Sam.
"Apa kau baru menurunkan Titah pada Orang Ketigamu barusan?" Nada pertanyaannya bukan lagi menyelidik, tapi menuntut.
Jacob mengerjap. "Apa? Tidak!" bantahnya. Sam bodoh kalau baru beberapa tahun pensiun, ia sudah lupa cara kerja Titah Alfa. "Mana mungkin? Memangnya kau lihat ada serigala merah barusan di sini?"
Sam kelihatannya tidak percaya. Matanya makin menyipit. Ini bahkan lebih mengerikan daripada Leah.
"Sam, ayolah..." Jacob berusaha berontak dari kekuatan Medusa Sam. "Kalaupun aku bisa melakukannya, mana mungkin kulakukan itu? Memangnya aku menyembunyikan sesuatu darimu?"
Sam melirik Embry lagi. "Kelihatannya sih memang iya..."
Jacob tahu kekalahan ada di pihaknya. Tapi ia tetap keras kepalaseperti biasa. "Aku tidak menyembunyikan apapun! Tanya Embry!"
"Bagaimana mungkin aku bertanya padanya kalau ia bahkan tidak bisa bicara?"
"Tentu saja ia bisa bicara!" Jacob bersikukuh, namun agak bingung dengan ekspresi Embry yang memang, harus ia akui, benar-benar aneh. Ya, dan itu makin aneh karena setelah kalimatnya itu, Embry tiba-tiba mengeluarkan napas lega. Jacob berusaha tidak mempedulikan itu. "Katakan, Em!" perintahnya.
Embry terlihat bingung. "Katakan apa?" tanyanya bodoh, masih shock.
Jacob tahu ini kekalahannya. Benar-benar kalah. "Katakan aku mendapat telepon dari Bella."
"Isabella Swan-Cullen?" Sam tampak bingung.
"Ya. Berapa 'Bella' yang kautahu memangnya? Katakan, Em!"
"Jacob-menerima-telepon-dari-Bella,"ujar Embry cepat yang membuat Jacob mendelik ke arahnya. Terima kasih. Sungguh membantu, Em.
"Dan apa yang Nyonya Cullen katakan?" selidik Sam lagi.
"Hanya khawatir karena aku tidak bisa dihubungi dan Billy tidak cerita apa-apa."
"Dan kenapa dia menelepon ke nomorku?"
"Mana kutahu? Tanya saja Billy. Dia yang menyuruh." Dan sejujurnya, Jacob juga menanyakan hal yang sama.
Tunggu. Billy tidak cerita apa-apa pada Bella, itu aneh. Jelas-jelas tidak ada yang perlu disembunyikan. Ia kan cuma diserang gerombolan vampir. Hal biasa... Makanan sehari-hari sejak pertama ia berubah, malah...
Tunggu. Apa mungkin Sam...
"Hanya itu?" tanya Sam lagi.
"Hanya itu!" tegas Jacob. Hening sejenak sebelum ia balas bertanya, "Ada apa, Sam? Kautahu sesuatu yang tidak kaukatakan padaku lagi?" dengan penekanan pada kata 'lagi'.
Sam menegakkan tubuh. "Tidak."
"Kau tidak berkata jujur, Sam..."
Mata Sam memandang mata Jacob. Namun ini pandangan yang wajar. Tidak tajam dan tidak pula menyelidik. Hanya memandang. Tapi ada ketegasan dalam suaranya.
"Tidak ada apa-apa."
Tapi justru itu yang membuat Jacob berang.
"Kau menyembunyikan sesuatu dan kau akan mengatakannya padaku, Sam Uley!"
Gaung itu terasa dalam suaranya dan sesaat Jacob membeku. Ia mengenal suaranya sendiri, gaung yang memenuhi rongga dadanya, wibawa dalam suaranya, tekanan itu, semuanya. Ia telah tidak sengaja mengeluarkan Titah.
Tapi dalam wujud manusia? Itu tidak mungkin.
Terlihat Sam dan Embry pun menyadarinya. Mereka membeku di tempatnya, tampak agak shock. Mata Sam menatapnya nanar. Dan rahang Embry jatuh saking kagetnya.
Ia juga sama bekunya dengan mereka.
Sam yang pertama kali berhasil mengumpulkan serpih-serpih kesadarannya. Berusaha keras tampak tenang, ia menarik napas menguatkan diri dan merobek roti panggangnya. Dengan sikap kasual, sangat tenang, ia memasukkan potongan itu ke mulutnya. "Kau tahu kau tidak bisa memberi Titah padaku, Jake... Aku bukan anggota kawananmu." Tapi jelas suaranya agak bergetar.
Jacob mengerjap. "A... aku... aku tidak bermaksud... aku tidak mungkin... kau tahu aku tidak bisa..." ia tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat. Dan akhirnya ia mendesah."Aku minta maaf, Sam."
Maaf? Mengapa malah ia yang minta maaf?
Itu sama sekali bukan kesalahannya. Ia bahkan tidak tahu bagian mana salahnya. Sam lagi-lagi bersikap menyelidik dan menanyainya hal yang tidak penting untuk dia ketahui. Haknya untuk marah pada Sam. Tapi apa itu tadi? Ia secara tidak sengaja mengeluarkan Titah pada Sam? Bagaimana itu mungkin?
Dan ia minta maaf untuk sesuatu yang tidak diketahuinya mungkin dilakukan!
Sisa waktu sarapan pagi itu diisi dengan kebekuan yang aneh. Hanya ada suara roti disobek atau kunyahan pelan. Tidak ada yang memiliki cukup keberanian untuk memecah kesunyian dan kecanggungan yang mendadak melingkupi mereka. Bahkan juga ketiganya tampak tidak berminat lagi makan. Mereka hanya menghabiskan yang ada di atas piring masing-masing, hanya untuk menghormati Emily. Ketika akhirnya mereka selesai makan, Sam yang terlebih dahulu mendorong kursinya dan bangkit, diikuti Jacob dan Embry. Kesunyian hanya dipecahkan oleh suara tangisan Joshua di ruang lain, entah karena apa. Sementara Sam pergi melihat putranya, Jacob dan Embry membantu Sam mencuci piring , sama sekali tidak bicara satu sama lain.
Ia seharusnya tidak lagi membicarakan apapun di waktu sarapan, demikian catat Jacob dalam hati. Semua pembicaraan kecil waktu sarapan belakangan ini benar-benar membuatnya gila!
