THE ANOTHER BLACK

Disclaimer: majority of characters, plot, situation surroundings, etc. belong to Stephenie Meyer... its just my other version of events along the werewolf pack...

Set 5 year after Breaking Dawn (2012)


Tiga belas - Masih Terlalu Dini

Wednesday, December 26, 2012

1:22 PM


Jacob pulang ke rumah siang itu, dan menemukan rumah dalam keadaan terkunci. Ayahnya tidak ada ketika ia mengitari rumah dan memanggil-manggil, juga tidak ada bau maupun suara yang menunjukkan keberadaan ayahnya di sekitar situ. Kunci serep yang biasanya diletakkan di dasar kotak besar berisi perkakas memancing Billy di garasi juga tidak ada. Bahkan bukan hanya truk tua Billy, Rabbit yang biasanya bertengger di kandangnya juga tidak ada. Di garasinya yang tidak terkunci ia hanya menemukan Harley, dalam keadaan bensin yang kering dan sebagian bodinya penyok. Ia tidak ingat pernah merusakkan bodi motor kesayangannya, ataupun menghabiskan bensinnya. Apakah motornya rusak karena ia membantingnya terlalu keras sebelum pertarungan dengan vampir waktu itu? Atau mungkin Charlie yang membawanya ke sini agak tergesa-gesa dan tidak sengaja menabrakkannya? Entahlah, ia sama sekali tidak bisa membayangkan.

Butuh waktu beberapa puluh menit baginya untuk berputar-putar di sekeliling rumah, menimbang apa yang harus ia lakukan, dan akhirnya memutuskan untuk mendobrak pintu depan rumah. Billy pasti marah besar karena ini. Mungkin ayahnya akan menguras tabungannya yang tidak seberapa untuk membetulkan pintu, atau bahkan mengusirnya dari rumah, tapi ia tidak peduli. Ia butuh berada di dalam rumahnya, di kamarnya, menenangkan diri. Mungkin mandi. Tadi pagi ia sudah ikut mandi di rumah Sam, setelah lima hari tidak sadarkan diri. Tapi rasanya itu belum cukup.

Dan mungkin ia akan menelepon Seth, memintanya datang. Seth selalu bisa menenangkannya, memberinya pendapat-pendapat yang sebagian besar memang ngawur, tapi sebagian lainnya masuk akal. Mungkin juga ia hanya perlu Seth ada di sini, menemaninya bermain game untuk membongkar benang kusut di kepalanya. Itu kalau Seth sedang tidak patroli di wilayah Cullen.

Oke, sudah diputuskan kalau begitu.

Setelah serangkaian acara mendobrak pintu, mandi, menguras isi kulkas, dan akhirnya terkapar di sofa di depan televisi, menonton film komedi yang bahkan tidak bisa membuatnya tertawa, ia memutuskan untuk mencoba menelepon Seth. Telepon berdering beberapa kali, dan ia menunggu hanya untuk mendapati teleponnya tersambung ke mesin penerima pesan. Setengah mengutuk, ia membanting telepon, bangkit lagi untuk mencari-cari makanan di dapur. Sayangnya semua makanan sudah habis. Dengan putus asa, ia kembali ke sofanya, lagi-lagi berusaha menghubungi nomor Seth. Mesin penjawab di rumah Clearwater lagi. Dan akhirnya ia iseng menghubungi ponsel Seth.

Biasanya ponsel Seth tidak aktif atau di luar jangkauan. Kadang pula hanya berdering panjang dan tidak diangkat, tanda Seth meninggalkan ponselnya entah di mana ketika ia sedang berlari-lari di entah bagian mana hutan. Tapi kali itu teleponnya tersambung. Dan suara Seth terdengar di ujung sana.

"Seth?" sapanya, masih ragu.

"Jacob!" teriak Seth senang. Di belakangnya terdengar deru mobil dan suara ribut kerumunan orang. Seth sedang di luar. Di jalanan.

"Di mana kau?"

"Aku di Port Angeles," jawab Seth, agak berteriak meningkahi suara bising di sekitarnya.

"Sedang apa?"

"Biasalah… apa lagi?" suara Seth terdengar bosan.

Ya, ya, tentu, tentu… Jacob sudah mendengarnya dari Embry. Penyelidikan soal vampir diperlebar hingga ke luar wilayah Quileute. Seth mungkin sedang patroli dalam wujud manusia di kota. Atau memang ia sedang main, berkencan, apalah itu…

"Kau bisa ke sini?" tanyanya berharap.

"Ke rumahmu?"

"Ya. Kemana lagi?"

Seth terdengar agak bimbang. "Sekarang?"

"Ya, tentu."

"Hm… Entahlah Jake, aku agak sibuk sekarang."

Jacob curiga Seth memang sedang main.

"Kau bersama siapa di Port Angeles?" selidiknya.

"Teman…" katanya ragu.

"Siapa?" cecarnya.

Seth di ujung sana terdiam. "Bukan urusanmu, Jake…" katanya ujung-ujungnya, yang membuat Jacob menganga. Ini tidak biasa…

"Kau sedang kencan ya?"

"Kenapa kau perlu tahu?"

"Karena ini jam patroli siang dan kau berkeliaran di Port Angeles…"

Seth mendesah. "Astaga Jacob… Memangnya Embry tidak bilang padamu? Kami hanya patroli malam di wilayah Cullen. Dan sekarang kan giliran Embry dan Quil… Masa aku tidak boleh liburan sedikit?"

Benar, kan! Dia memang sedang main!

"Embry baru saja bersamaku dari rumah Sam. Dia tidak bilang kalau dia harus patroli hari ini."

"Ayolah, Jake… Toh aku kan tidak menelantarkan jadwalku… Kau benar-benar tidak memperbolehkanku main? Besok malam aku pasti muncul saat patroli. Kau bisa mengecekku di rumah Cullen. Shift-ku mulai setelah matahari terbenam bersama Embry."

Jacob tidak tahu sejak kapan ia begitu penasaran dengan 'teman' Seth. Atau 'teman' siapapun. Rasanya ia tidak percaya siapa-siapa belakangan.

"Siapa itu, Seth?" terdengar suara kecil nan renyah di belakang Seth. Dan Jacob ternganga. Ia mengenal suara itu.

Korra!

Ada apa Korra dengan Seth berdua di Port Angeles?

"Korra? Apa itu Korra, Seth?"

Ia bisa mendengar Seth menelan ludah. Berarti benar.

"Apa yang kaulakukan dengan adikku di Port Angeles?!" tuntutnya.

Seth terdengar gugup. "Ma, maaf Jake… Aku harus pergi. Bye… Besok malam temui aku di kediaman Cullen sebelum patroli…"

"Hey, tunggu Seth… Tunggu… Hey!"

Di sana hanya terdengar bunyi tut-tut tanda Seth menutup telepon.

Jacob masih menganga. Pikirannya blank.

Sedang apa Korra di Port Angeles? Bersama Seth? Dan mengapa Seth menutupinya darinya?


Kediaman Cullen masih tetap berdiri tegak,dingin, angkuh. Sama seperti image para pemiliknya. Namun setelah tiga tahun ditinggal, tampak sedikit perubahan. Cat yang melapisi temboknya memang masih belum hancur oleh angin, panas, dan dingin. Dindingnya masih belum lapuk dimakan cuaca. Atapnya belum bocor dan tumbuhan rambat masih belum menjalari dinding-dindingnya. Tetapi memang ada yang berubah. Rerumputan tinggi mulai mengisi halamannya. Debu tebal menempel di kaca dan lantainya. Dan bagian depan rumahnya dipenuhi sampah dedaunan kering.

Jacob tiba di sana sebelum matahari terbenam. Seth bilang shift-nya baru akan mulai pukul setelah matahari terbenam malam ini. Sejauh ini, sepanjang perjalanan dari La Push hingga rumah Cullen, ia tidak merasakan keberadaan satu pun serigala. Tidak ada bau vampir juga, sama sekali.

Ia memarkir motornya di depan rumah besar itu, memandang sekeliling. Sepi. Ia mengelap sedikit area di tangga, menyingkirkan sampah dedaunan dan debu, dan akhirnya duduk di sana.

Sudah beberapa lama ia tidak pernah menyempatkan diri datang ke tempat itu. Sejak keluarga Cullen pergi, seharusnya wilayah patroli juga mencakup daerah ini. Namun biasanya anak-anak yunior menghindari daerah tersebut, dan mereka yang senior pun agak jarang menjamahnya karena berbagai alasan.

Mungkin mendengar deru motornya memasuki wilayah Cullen dan segera menyusulnya ke kediaman para vampir yang ditinggalkan, sosok serigala Embry tiba-tiba muncul dari balik pepohonan. Jacob menyadarinya, tersenyum dan melambai. Serigala Embry kembali bersembunyi di balik pepohonan, tak ragu lagi berubah wujud, dan beberapa detik kemudian Embry mendekatinya seraya mengancingkan celana pendeknya.

"Mau ikut patroli, Jake?" tanyanya seraya memberi salam, meninju bahu Jacob, namun kali ini pelan-pelan, takut sahabatnya masih sakit.

Jacob menyeringai kesal. "Mungkin besok. Wasiat dari Dokter Caleb," ia menekankan pada kata 'dokter', yang membuat Embry tertawa.

"Pastinya menyebalkan tidak bisa berubah," gumamnya, dan mengambil posisinya duduk di samping Jacob di tangga.

Mereka diam sejenak, memandang sekeliling, mengawasi pepohonan di sekeliling rumah itu.

"Kau datang cepat, Em? Kata Seth shift kalian baru akan mulai nanti setelah matahari terbenam."

"Yeah..." hanya itu yang keluar dari mulut Embry.

"Maaf aku tidak bisa mengundangmu ke dalam. Aku lupa membawa kunci depan. Kita bisa mendobrak masuk lewat jendela atas atau menghancurkan salah satu pintu kalau kau mau."

"Tidak apa-apa. Tidak mau membuat Esme mengijinkan Rosalie mencincang kita."

"Yeah... aku juga tidak mau dijadikan mantel bulu Rosalie..."

Embry terkekeh.

Kembali diam.

"Jake," kata Embry ragu setelah menimbang-nimbang sesaat. "Boleh aku bertanya sesuatu padamu?"

Jacob memandang sahabatnya. Ini seperti bukan Embry. Biasanya Embry akan menanyakan apapun langsung. Memang ia tidak se-terus terang Quil, tapi bukan berarti ia akan meminta izinnya dulu untuk bertanya.

"Ada apa, Em?"

"Kau tahu, kejadian saat di rumah Sam, kemarin..."

Ini bukan sesuatu yang ringan kalau begini cara Embry menanyakannya.

"Soal telepon Bella? Entahlah, aku tidak ingin membicarakannya, Em..."

Telepon Bella malam itu seperti One Missed Call. Atau The Ring. Atau apapun itu film horor thriller yang melibatkan telepon. Angkat, dan kemudian ramalan kematianmu datang. Seperti kutukan. Mengikat dan mencekammu. Kau tinggal tunggu waktu hingga kematian datang menjemputmu.

Karena sejauh yang ia tahu, ramalan Alice selalu terjadi.

Bahkan ia tidak bisa melakukan kontra-kutukannya. Tidak ada mayat gadis tersembunyi di bawah rumah atau sumur yang harus ia selamatkan. Tidak ada relik yang harus ia sucikan atau ia bakar. Tidak ada.

Jika kau diramalkan mati dalam Penglihatan Alice, maka kau akan mati.

Embry mendesah. "Bukan soal itu, Jake..."

Jacob mengernyit. Apa lagi? Pengawasan? Mungkinkah seperti Seth, menjadi Wakil Jenderal bidang Pengawasan memberati Embry?

"Apa kau ingin aku tidak memintamu mengawasi lagi?"

"Tidak... Aku bisa tahan. Bagaimanapun itu perintah Sam."

"Lalu?'

Ia kembali mendesah. "Soal Titah Alfa."

Dan Jacob merasa sesuatu bergejolak dalam dirinya.

Titah Alfa memang bukan sekadar berkah baginya. Itu tanggung jawab, itu beban. Ia tahu itu. Karena satu kalimat menekan itu bisa ia paksakan pada anak buahnya tanpa ada kemungkinan bagi mereka untuk menolak. Dan karenanya pula Titah adalah bagai pedang bermata ganda: itu bisa menguntungkan dan dapat pula berbalik melawannya.

"Embry, aku minta maaf soal kejadian kemarin..." katanya. "Aku bahkan tidak tahu itu mungkin."

Karena Titah Alfa bukan sekadar mengikat. Ia menyakiti. Membelenggu. Ia sendiri pernah merasakannya, rasanya seperti diikat oleh jutaan benang layang-layang nan tajam, dipermainkan seperti boneka marionette. Ia tidak punya kuasa melawan, digerakkan oleh kekuasaan pemain boneka, tapi benang itu juga mengiris kulitmu. Atau ditahan dengan belenggu penuh paku tajam. Beracun.

Pastinya ia tak pernah ingin melakukannya pada sahabatnya sendiri.

"Aku tahu kau panik," kata Embry. "Aku juga tidak menyalahkanmu. Tidak apa-apa bagiku," dan sejurus dia diam. "Aku cuma bertanya-tanya... Kau tahu... Sejak kapan, Jake?"

"Sejak kapan apa?"

"Sejak kapan kau bisa mengeluarkan Titah tanpa berubah?"

Jacob memandangnya, menggeleng.

"Menurutmu itu benar-benar Titah?" tanyanya.

"Aku tidak mungkin salah. Aku merasakannya," tampang Embry bersungguh-sungguh. "Memang Titah. Dan bahkan Sam pun merasakannya."

Kulit di antara kedua alis Jacob berkerut kala ia menerawang. "Kau tahu, bagian itu juga membuatku bingung."

"Apa?"

"Dia kelihatannya begitu mudah menerima kesimpulan bahwa itu Titah bahkan ketika aku belum menyadarinya."

Mau tak mau Embry mengangguk. "Ya, itu memang aneh..."

"Dan ada satu lagi, Embry," Jacob memutar seluruh badannya menghadap Embry, meminta seluruh perhatiannya. "Kalau memang itu Titah dan Sam merasakannya, seharusnya ia langsung mengatakan padaku apa yang ia sembunyikan."

Embry agak terpana sejenak, tapi kemudian ia berusaha bersikap rasional, "Ia kan sudah pensiun, Jake... Ia bukan anggota kawanan. Dan ia mantan Alfa juga. Mungkin Titahmu sudah tidak mempan padanya."

"Ya, mungkin..." Jacob menggumam. "Banyak hal yang masih tidak kutahu soal bagaimana semua ini bekerja."

"Sama. Aku juga..." bisik Embry.

Mereka berdua diam sembari menatap jauh ke langit. Awan merah mulai merembang.

"Kalau kau sudah sembuh, kau bisa patroli di wilayah ini. Jadi pembagian kita bisa genap," kata Embry kemudian.

Jacob mengangguk.


Warna merah di langit makin menggelap. Permainan warna dari merah ke ungu, dan kemudian berangsur bergerak menuju warna ungu gelap, terbentang tepat di hadapan mereka. Jacob dan Embry masih duduk di tangga teras rumah Cullen. Waktu terbenamnya matahari menjadi tanda awal waktu patroli malam, dan Embry sudah akan ambil ancang-ancang lari ke hutan untuk memulai patrolinya, ketika tiba-tiba Jacob menyuarakan lamunannya.

"Kau tahu, Em..." kata pemuda itu, membuat Embry kembali duduk, "Tentang hal yang terjadi di hutan, waktu aku diserang..."

"Apa?"

"Kaubilang tidak melihat apapun, siapapun, setelah aku pingsan?"

"Ya. Aku tidak melihat siapa yang menghisap racunmu."

"Aku baru ingat sebelumnya. Sebelum kejadian itu aku bisa mendengar dan mengendus keberadaan Korra."

"Korra?"

Keseriusan tampak memenuhi wajah Jacob. "Kautahu, Em. Korra ada di hutan."

Embry berusaha mengingat-ingat hari itu. Menilai semua kejadian dari kacamata dirinya. Kacamata Jacob. "Ya," simpulnya. "Korra memang ada di hutan. Dengan temannya."

"Nah, begitu aku pingsan, kemana mereka?"

"Apa?"

"Begitu pertempuran dimulai aku tidak lagi memperhatikan mereka. Tapi seharusnya ia masih berada dalam jangkauan aku bisa merasakan mereka. Atau setidaknya kau bisa merasakan mereka. "

"Tapi aku tidak merasakan apa-apa."

"Persis!" Jacob menjentikkan jari, seolah jawaban Embry itu mengkonfirmasi satu pertanyaan atau keraguan dalam batinnya. "Wajar bila aku terlalu terfokus pada pertempuran. Tapi kau seharusnya bisa tahu, Em!"

Embry mengernyit. "Jadi apa maksudmu? Apa kau mengira serigala hitam itu Korra?"

"Entahlah," Jacob mengendikkan bahu. "Sam sudah bilang Korra bukan serigala hitam."

Sejujurnya Embry tak ingin sampai melontarkan kalimat yang pastinya sudah ada di lidah Jacob ini. Mungkin Jacob hanya ingin mengemukakan dugaan-dugaannya, mendengar setiap alasan dan kemungkinannya sendiri saling berkonfrontasi. Membuat orang lain menyuarakan keraguannya.

"Sam bisa jadi berbohong. Ia jelas menyembunyikan banyak hal," kata Embry pada akhirnya.

Hening sejenak. Ya, memang belakangan banyak misteri mengenai Sam. Alasan ia tiba-tiba memberinya daftar dan menyuruhnya mengawasi anak-anak. Dan Sam seakan berharap adiknya juga serigala. Kemudian Titah Alfa yang tidak mempan padanya.

Apa memang benar kata Embry tadi? Karena Sam sudah pensiun, maka ia sudah sama sekali tidak ada hubungannya dengan kawanan? Dahulu memang ia pernah mendirikan kawanan baru, dan hubungannya dengan Sam putus begitu saja. Tapi Sam tidak mendirikan kawanan baru, ia hanya pensiun. Dan bukannya tidak bisa berubah menjadi serigala kembali. Ia bahkan masih nge-boss dengan menjadi Tetua, tanda ia masih merupakan bagian dari mereka semua. Dan karena jelas Titah berlaku atas Embry dalam wujud manusia, maka seharusnya wujud manusia Sam atau status pensiunnya tidak berpengaruh.

Atau karena Sam Tetua, maka statusnya di atas Jacob? Karena ia Tetua, maka ia bukan bagian kawanan dan punya kekuasaan yang lebih besar yang bisa mengatasi Titah Alfa?

Entahlah, ia sendiri tidak mengerti.

Dan masih terlalu dini untuk sampai pada satu kesimpulan. Bahkan juga asumsi, hipotesis, apapun.

"Terlalu banyak misteri tentang Sam..." bisiknya.

Embry mengangguk setuju.

Hening sejenak.

"Jadi," kata Embry tiba-tiba, meniru awal kalimat ala Sam, "Kapan kau berencana memperkenalkannya?"

Jacob tidak bisa menangkap dengan jelas. Topik Embry terlalu melompat.

"Maaf?"

"Adikmu. Kapan kau berencana memperkenalkan Korra secara resmi ke seluruh anggota kawanan?"

Ia mendengus. "Untuk apa? Toh mereka kan sudah saling kenal..." Ingatan tentang yang dilihatnya siang itu di bawah pohon di sekolah Korra kembali membayang. "Collin dan Brady jelas sudah termasuk lingkaran dalam Korra."

"Kau mungkin belum tahu karena kau belum berubah sejak kau koma. Tapi sekali kau masuk ke pikiran anak-anak..." dan tiba-tiba Embry cekikikan sendiri.

"Apa?"

Pemuda itu terlihat riang. Agak aneh untuk ukuran Embry sebenarnya, terutama setelah tadi membicarakan topik meresahkan tentang Sam.

"Kau tahu Jake, sejak mereka melihat nama Korra di daftar Sam, kawanan agak sedikit heboh."

"Soal serigala hitam?"

"Ya."

Jacob memutar bola mata. "Itu kan memang sudah dari dulu. Sejak mereka tahu aku punya adik dan ada serigala menyelamatkan Seth, mereka kan memang sudah berspekulasi sendiri. Aku yakin Collin akan menyambar kesempatan apapun untuk membuat gosip yang tidak-tidak."

"Kau sendiri masih berpikir itu mungkin kan?"

"Entahlah..."

Ia bahkan tidak bisa merumuskan pikirannya dalam soal ini. Korra serigala hitam? Atau Korra calon serigala? Atau Korra, adiknya, bukan serigala atau apapun... Ia sungguh tidak tahu. Setiap hal yang berhubungan dengan Korra membuatnya stuck.

"Jadi intinya anak-anak ingin bertemu Korra. Resmi."

"Hah? Apa?"

"Dan mencoba peruntungan mereka. Entah Korra serigala atau bukan."

Jacob mengernyit. "Peruntungan apa?"

"Kau tahulah... Di mana ada sumber cahaya, laron berseliweran mengitarinya."

Oh ya, tentu, tentu.

Imprint.