THE ANOTHER BLACK

Disclaimer: majority of characters, plot, situation surroundings, etc. belong to Stephenie Meyer... its just my other version of events along the werewolf pack...

Set 5 year after Breaking Dawn (2012)


catatan: Judul alternatif dari chapter ini adalah "Serangan di Teritori Cullen"


Empat belas – Lagi

Monday, December 17, 2012

1:14 AM


Malam sudah turun. Langit sudah menggelap.

"Ini terlalu lama," kata Jacob akhirnya, bangkit berdiri dari anak tangga. Seth bilang ia akan menemui Jacob sebelum patroli. Artinya sebelum matahari terbenam. Tapi ini, matahari sudah sekitar dua jam lalu terbenam. Bahkan malam sudah menjelang.

Embry sudah pamit sekitar satu jam menit lalu. Mungkin ia sudah berlari entah ke mana. Embry mungkin kadang tidak serius, tapi ia selalu bertanggung jawab kalau urusan patroli. Tadi saja ia sudah gelisah ketika matahari terbenam dan Jacob masih saja mengajaknya bicara.

Dan Seth... Anak itu belakangan jadi lumayan tepat waktu. Dan jika ia bilang akan menemuinya di rumah Cullen sebelum patroli, ia akan datang.

Tiba-tiba terdengar lolongan dari arah hutan. Lolongannya tergesa, memanggil bantuan.

Embry.

Embry melolong, dan ia butuh bantuan.

Ini wilayah Cullen. Bahkan walaupun ada anak lain yang patroli, mereka akan menganggap sudah ada tiga senior mereka yang meng-cover wilayah ini. Mereka agak takut, terlalu hati-hati dengan masalah perbatasan. Quil saat ini sedang entah di mana. Dan kalaupun ia mendengar panggilan itu dan bergegas ke sini, entah kapan ia akan datang.

Ia ada paling dekat dengan mereka. Menilai arah suara itu, mungkin tidak sampai lima menit jika ia berlari dalam wujud serigala. Tapi Caleb bilang setidaknya ia harus menunggu besok untuk berubah.

Terdengar suara lolongan Embry lagi, kali ini makin mendesak.

Tidak ada waktu lagi. Ia tak bisa mengandalkan Quil untuk hal ini.

Agak tergesa Jacob melepas jaket dan celananya, bahkan tidak berusaha menggulungnya. Ia mengerahkan konsentrasi, menghimpun hawa panas di dadanya.

Ia merasakan sakit menyerang rusuk dan tulang tungkainya pada detik yang sama ketika ia berubah. Caleb benar. Seharusnya ia tidak boleh berubah sekarang. Tapi tidak ada pilihan lain. Mengabaikan rasa sakitnya, sesekali jatuh, ia berlari ke arah suara lolongan Embry.


Apa Em? panggilnya

Pikiran Embry, anehnya, sangat lemah. Putus-putus.

Jacob? Mengapa kau bisa berubah? Astaga, kau masih sakit!

Jangan pedulikan itu, Em! Dimana kamu? Ada apa?

Seth diserang. Ia pingsan...

Seth diserang lagi?!

Kami diserang...

Embry mengirimkan gambaran lokasinya berada, termasuk gambaran Seth yang terbaring, lagi, di permukaan tanah yang lembab dan dingin. Bayangan yang ia kirimkan blur. Dan dirinya, juga sama lemahnya, tapi masih bisa mempertahankan wujud serigalanya. Tapi tidak akan lama. Pikirannya sangat lemah. Tubuhnya tidak begitu kuat.

Dan bayangan tentang kejadian saat itu membayang di kepala Jacob. Putus-putus. Embry yang berlari segera setelah ia berubah, merasakan sesuatu di udara. Bau Seth bercampur dengan bau vampir... dan bau serigala lain. Embry berusaha mengikuti bau itu, bau yang berputar-putar di udara, berusaha menghindari beberapa serangan. Tapi tidak ada yang benar-benar menyerangnya. Hanya mempermainkannya. Menerjang dan lenyap. Embry mengikuti insting. Ia tidak menyerang. Ia harus mengejar sesuatu. Bau Seth. Ia harus mengejar bau Seth. Embry masih terus berlari mengikuti bau itu. Kian dekat, kian dekat...

Namun saat itu tiba-tiba sesuatu menerjangnya dan tiba-tiba ia kehilangan kesadaran.

Maaf Jake... aku sempat kehilangan konsentrasi.

Kau digigit?!

Memori Embry di sana lenyap. Berlanjut ketika ia lagi-lagi berubah, merasakan punggungnya dingin tapi ia bisa mencium bau Seth. Makin lama makin dekat. Dan kemudian dilihatnya sosok manusia Seth, terbaring. Darah mengalir dari luka-luka di tubuhnya. Tulangnya remuk lagi dan kulit yang koyak bekas gigitan. Gambaran itu hilang.

Kalian digigit?!

Jacob berusaha mengenali daerah jatuhnya Seth dengan berpatokan pada gambaran yang dikirimkan Embry. Rute-rutenya, jalurnya...

Brengsek Embry! Dimana itu?!

Ia tidak mengenali rute itu, daerah itu. Dan Embry juga sama. Ia bahkan tidak tahu mengapa ia bisa sampai ke sana.

Ini memang bukan kali pertamanya patroli di wilayah Cullen. Tapi tetap saja tidak semua hutan di wilayah itu dikuasainya. Teritori Cullen agak lebih rumit secara topografis. Lebih banyak jurang, tebing, ngarai, bukit... Dan biasanya ia lebih sering patroli di perbatasan.

Patroli di teritori asing memang menyebalkan!

Tapi serigala tidak akan tersesat. Bodoh sekali kalau serigala bisa sampai tersesat.

Mengandalkan insting, dan berpatokan pada ingatan Embry ketika ia berlari dari rumah Cullen, ia berusaha mengenali daerah itu. Mengikuti bau Embry. Ia harus buru-buru kesana. Embry tergigit, Seth tergigit...

Embry makin kehilangan konsentrasi. Koneksi pikiran mereka makin melemah. Ini gawat! Ia harus segera menemukan mereka!

Beberapa rute dalam memori Embry blur, tanda ia sempat berubah balik dan berlari dalam wujud manusia. Ada juga rute yang tidak bisa ia kenali, mungkin Embry terlalu lemah setelah serangan untuk bisa mengingatnya.

Ia berusaha menggali lebih dalam ke memori Embry. Apa yang terjadi? Bagaimana keadaan mereka berdua kini? Tapi memori Embry, pikiran Embry kian berupa jejak-jejak samar. Tidak terbaca. Bahkan ia tidak bisa merasakan emosi Embry. Dan akhirnya menghilang.

Gawat!

Embry pingsan lagi...

Jacob melolong, meminta bantuan. Bukan, memerintahkan bantuan datang.

Rusuknya terasa sakit lagi. Kakinya tidak kuat lagi berlari.

Sebaiknya kawanannya berani menyeberang atau ia akan membunuh mereka semua jika Embry dan Seth mati.


"Hey, Jake..."

Ia membuka mata. Sekelilingnya tampak blur dalam ruangan matanya. Butuh beberapa detik baginya untuk berkonsentrasi, mengerjap, mengumpulkan kesadarannya sebelum segala di sekelilingnya berbentuk, tampak jelas.

Kepalanya pening.

"Kau tidak apa-apa?" Wajah Caleb muncul.

"Caleb..." bisiknya. Bahkan ia tidak bisa bicara jelas.

"Tidak apa-apa. Kau cuma menggeser beberapa tulang yang belum sembuh benar. Aku sudah menopang tulang-tulangmu lagi."

Ia baru sadar bahwa lagi-lagi kaki dan tangannya dipasangi penyangga lagi. Dibalut seperti mumi.

Kenapa ia bisa sampai pada keadaan ini lagi? Apa yang terjadi?

Memori berseliweran dalam kepalanya, dan tiba-tiba ia sadar.

"Seth! Embry! Bagaimana keadaan—awwww!" belum selesai bangkit dan ia melontarkan kalimatnya, ia sudah mengaduh merasakan sakit pada rusuknya. Caleb segera menanganinya dengan gesit, menahan dada dan tubuhnya sementara mengembalikannya ke posisi rebah.

"Tenang Jake, mereka baik-baik saja. Seth lagi-lagi penuh luka-luka, tapi Embry tidak apa-apa. Hanya sedikit memar… Kelihatannya dia memang diterjang dari belakang, tapi tidak ada pergumulan, jadi tidak banyak tulang yang patah."

"Mereka digigit…"

Caleb mengangguk. "Ya, tapi tak ada racun."

"Tidak ada?"

"Kurasa kasusnya sama denganmu waktu itu. Ada yang menolong kita di luar sana. Dan itu di wilayah Cullen. Mungkin salah satu vampirnya…"

Jacob menggeleng. "Jika keluarga Cullen mengadopsi vampir baru mereka akan memberitahuku, dan jika salah satu dari mereka menolong kita, aku tidak mungkin tidak tahu. Lagipula mereka tidak ada di sini," dan ia mengingat rumah yang kosong dan sama sekali tidak ditempati dan…

Baru ia memandang berkeliling dan menyadari di mana ia sekarang.

Ruang tamu keluarga Cullen yang luas dan penuh cahaya matahari kini tampak jelas di ruangan matanya. Ia berbaring di salah satu sofa, kain putih penutupnya tampak teronggok di kaki sofa. Ruangan di sekitar mereka penuh debu, dengan mebel yang ditutupi kain putih.

"Kalian melintas…" bisiknya tak percaya. Senang, tapi tak percaya.

Caleb mengendikkan bahu. "Sulit menentang Titah Alfa. Apalagi yang ditambah ancaman bunuh segala."

"Syukurlah kalau kau sadar…"

Hening. Jacob hanya mendengar suara denting logam yang menunjukkan Caleb sedang memberesi peralatan P3K-nya. Dalam hati ia bersyukur mereka tak jauh dari rumah Cullen. Carlisle sudah pasti menyimpan persediaan obat-obatan dan perlengkapan medis. Seolah-olah ia atau keluarganya sendiri mungkin saja membutuhkan benda-benda semacam itu… Karena ia tak bisa membayangkan Caleb berlari dalam wujud serigala, menenteng kotak P3K di moncongnya.

Bau debu di udara menggelitik hidungnya.

"Kau harus bersyukur kau merawat kami, Cal… Kalau kau merawat manusia biasa di tempat yang jelas tidak steril seperti ini, mereka pasti langsung mati…" katanya yang membuat Caleb tersenyum.

"Kalau kau bisa bercanda seperti itu, artinya kau tidak apa-apa…" katanya.

Jacob mengalihkan pandangan ke sofa di seberangnya. Tampak sosok Seth yang masih tergolek lemah, tubuhnya lagi-lagi tampak seperti mumi dengan tongkat-tongkat penyangga mencuat di antara belitan di tangan dan kaki. Dan kemudian Embry di sofa satunya. Ia bersyukur Embry kelihatan tidak apa-apa, hampir tak ada perban di tubuhnya. Tapi ia juga masih berbaring, walau kelihatannya sudah sadar.

"Hei Em…" sapanya sambil berusaha menggerakkan kepala seminim mungkin. "Kena juga kau ya?"

Dengusan sebal Embry bukti bahwa ia sedang tidak dalam mood ingin bercanda.

"Kau seharusnya bersyukur tidak seperti Seth: The Mummy Returns," tunjuk Jacob dengan dagunya. Dan akhirnya mau tak mau Embry terkekeh sebentar, sebelum akhirnya kembali muram, memandang langit-langit.

Jacob sedikit memaksa lehernya berputar, menelengkan kepala kepada Embry.

"Kenapa kau?"

Embry mengendikkan bahu. "Entahlah, sindrom mood jelek pasca-digigit vampir?"

"Wah, kalau memang ada sindrom seperti itu, aku curiga Sam setiap hari digigit vampir."

"Bukan Sam, tapi kau sendiri yang selalu punya mood jelek. Dan memang kau sudah pernah digigit," tudingnya.

"Yeah… heran kapan aku mati…"

"Aku sendiri sudah digigit…" ujarnya pahit.

Dan Jacob menyadarinya. "Kau ketakutan ya, Em?"

"Takut apa?"

"Takut kalau kau seharusnya sudah mati sekarang."

"Ini bukan takut… lebih seperti… entahlah…"

Jacob tahu itu. Perasaan itu. Setiap kali ia lolos dari maut. Berpikir bahwa bisa jadi hidupnya sudah berakhir. Bisa jadi bahwa ia tidak bisa lagi melihat matahari. Bisa jadi, seandainya semua berjalan salah sedikit saja, ia sudah tak bisa kembali pada hidupnya. Dan menyesali bahwa banyak hal yang seharusnya ia lakukan, belum ia lakukan. Bahwa ia belum… apa itu istilahnya… 'life to the fullest'.

"Ini bukan pertama kalinya kau lolos dari maut, Em…"

Dan ia tahu ia benar. Embry, seperti semua anggota kawanannya, sudah berkali-kali mempertaruhkan nyawa. Sudah berkali-kali merasakan Kematian hanya sepersekian ujung rambut darinya. Dan lolos dari maut untuk kemudian tahu bahwa maut masih menunggunya.

"Seperti Final Destination…" bisik Embry.

"Yeah, memang…"

Hening.

"Jake," gumam Embry. "Kau tidak merasa aneh kita diserang juga di wilayah Cullen?"

"Memangnya kenapa?"

"Penyerang kita vampir. Masa mereka tidak menyadari kalau mereka berada di teritori vampir?"

"Keluarga Cullen kan tidak ada. Sama saja seperti mereka menyerang di wilayah tidak bertuan."

"Tapi untuk apa mereka di sini? Di sini jelas tidak ada manusia… Tidak ada yang bisa mereka incar."

"Mungkin mereka hanya lewat."

"Yang benar saja, Jake! Kau yang selama ini mengira kalau kita diawasi. Tak mungkin kau menyangka mereka hanya lewat."

"Ya, tapi kalau kita diawasi, atau apalah itu, seharusnya mereka hanya menyerang di wilayah Quileute."

"Mungkin bukan cuma diawasi, tapi diincar…"

"Diincar?"

"Seth, lalu kau, lalu Seth lagi, lalu aku. Para Triad."

Jacob tahu maksud Embry. Para vampir sengaja mengincar dan menyerang para petinggi kawanan serigala. Bukan serangan acak.

"Menurutmu mereka tahu kita Triad?"

"Entahlah, aku cuma memikirkan obrolan dengan Sam kemarin. Ia jelas agak peduli soal 'aktivitas vampir yang terorganisasi di sekitar sini'."

"Bagaimana caranya mereka tahu kita Triad?"

"Entahlah, kau beri tahu aku. Kalau tidak dalam kawanan, bagaimana mungkin vampir bisa tahu siapa pemimpinnya dan siapa anak buahnya. Padahal jelas mereka menyerang kalau kita sendirian."

"Benar."

"Apa mungkin kita, selain diawasi, juga diselidiki?"

"Bagaimana caranya?"

"Entahlah. Kalau tidak memata-matai kita sampai ke dalam, mereka tak mungkin menyerang begitu tepat sasaran."

Entah ini memang Embry menderita sindrom pasca-penyerangan sehingga tiba-tiba menjadi hipersensitif, overreaktif, dan terlalu banyak memikirkan kemungkinan yang tidak-tidak, tapi memang semua itu mungkin. Jujur saja, sebenarnya pertanyaan yang sama juga beberapa hari ini mengganggunya.

Mau tidak mau Jacob membenarkan.

"Aaaaah..." Embry terlihat frustasi. "Coba dengar yang kukatakan! Kau pasti mulai berpikir aku seperti Seth!"

Benar, memang Embry seperti Seth. Terlalu banyak mengemukakan kemungkinan. Teori tidak berujung pangkal.

Mungkin seperti dirinya juga.

"Ini mengganggu, kau tahu? Beberapa hari ini kami patroli bareng, dan ia seringkali mempertanyakan ini dan itu, mengemukakan kemungkinan ini dan itu... Dan tanpa sadar aku terpengaruh!" ia mulai curhat.

Oh, jadi itu tadi bagian dari teori Seth? Menjelaskan segalanya, kalau begitu. Embry biasanya tidak sepintar itu.

Maaf, Em, bisiknya buru-buru, sadar kalau entah bagaimana, jangan-jangan Embry memang bisa mendengarnya.

Tentu saja Embry tidak bisa mendengarnya. Mereka dalam wujud manusia sekarang.

Tapi melihat yang terjadi kemarin dan pembicaraan mereka tadi sore... siapa tahu. Sekarang bahkan ia tidak mengerti lagi batas-batas hukum seputar kemampuan para serigala. Titah Alfa. Dan telepati.

"Kau tahu? Kau harus benar-benar mempertimbangkan soal mempertemukan anak-anak dengan Korra..." kata Embry lagi, seperti biasa mengemukakan topik yang melompat.

"Huh?"

"Mungkin itu bisa sedikit mencairkan suasana..."

Jacob memutar bola matanya. "Ya, mungkin..."

"Dan dalam beberapa hari ini kita akan mengadakan acara api unggun di pantai..."

"Yeah, acara api unggun lagi. Mendengarkan si tua bercerita. Pastinya sangat menyenangkan," gumam Jacob, tidak benar-benar merasa begitu.

Tapi anehnya Embry terdengar antusias.

"Itu akan menyenangkan, Jacob! Itu akan sedikit mencairkan ketegangan!"

Huh... seolah-olah memang benar bisa begitu...