THE ANOTHER BLACK

Disclaimer: majority of characters, plot, situation surroundings, etc. belong to Stephenie Meyer... its just my other version of events along the werewolf pack...

Set 5 year after Breaking Dawn (2012)


Lima belas – Korra, Gosip, dan Kepemimpinan

Monday, December 17, 2012

1:14 AM


"Hai. Aku Korra. Coraline Gerrard," salam Korra ramah di depan tidak kurang dari sembilan pemuda suku Quileute yang berdesakan di ruang tengah rumah keluarga Black, saling sikut dan menggumam dengan seringaian lebar di wajah.

Sejak pemuda-pemuda itu memberondongnya terus dengan pertanyaan seputar Korra, tidak lama setelah kejadian penyerangan Seth yang pertama, Jacob Black yang merasa terganggu memerintahkan semua bocah itu untuk berubah dan membagi pikirannya dalam bentuk serigala. Dipikirnya itu akan membungkam mereka, tapi di luar dugaannya, rumor macam-macam justru berkembang bagai jamur di tanah lembab hutan hujan. Anak-anak itu mulai membicarakan gosip spekulatif mengenai kisah cinta pada pandangan pertama Seth dan Korra, dibumbui dengan skema heroik penyelamatan Seth dari keroyokan vampir yang terlalu didramatisasi. Begitu banyak adegan yang dipelintir dan ditambahkan hingga sekarang, sekitar tiga minggu setelah kejadian, sudah tidak diketahui lagi versi asli kejadian itu.

Seolah belum cukup, mereka menambahkan peran antagonis, tidak lain tidak bukan adalah sang Alfa yang menentang keras hubungan tersebut. Dan yang membuat Jacob tambah berang, ada juga versi yang menambahkan bumbu incest, karena serigala hitam yang menolong Seth adalah serigala sama yang menolong Jacob.

Dan semua gosip itu makin bertambah parah ketika Seth dan Embry lagi-lagi diserang. Membandingkan dengan ingatan Jacob sesaat sebelum penyerangannya, mereka mulai berspekulasi mengenai siapa yang menghisap racun Seth. Agak-agak terlalu didramatisasi, tentu.

Kadang-kadang Jacob menyesal luka-lukanya cepat pulih dan ia bisa kembali berubah jadi serigala. Pantas saja Embry tertawa waktu mengatakan soal apa yang akan ia dapat begitu kembali memiliki akses terhadap pikiran anak-anak.

Bagaimanapun Seth dan Jacob menolak versi romantis ini, namun sekuat apapun alasan Jacob yang menyatakan bahwa serigala hitam yang menyelamatkan Seth di hutan tidak mungkin Korra, gosip itu tetap saja beredar. Bahkan gambaran mental sosok Sam yang membuktikan alibi Korra di rumah Billy pada saat kejadian pun tidak mampu membendungnya. Bagaimanapun Korra ada di daftar teratas Sam, dan keberadaan serigala misterius di hutan membuat mereka mulai berspekulasi. Bahkan terkadang Jacob merasa ia terpengaruh gosip itu juga, ketika Collin jelas-jelas menunjukkan fakta keberadaan Korra di dekat tempatnya bertarung ketika diserang gerombolan vampir, tepat sebelum kemunculan serigala hitam.

Berkembangnya gosip itu di depan hidung Jacob benar-benar merusak syaraf. Ia tidak mengerti bagaimana bisa mereka, yang berkemampuan berbagi pikiran dalam channel yang sama dengan tokoh kunci yang digosipkan, bisa mengembangkan kabar burung sampai sejauh itu tanpa menghiraukan konfirmasi orang yang bersangkutan. Sampai-sampai Jacob terpaksa menurunkan perintah Alfa untuk tidak menggosip selama patroli.

Collin Littlesea, sudah kubilang tidak ada adegan ciuman waktu Korra menyelamatkan Seth. Bahkan mereka tidak berubah balik dan serigala itu bukan Korra, demi Tuhan! Berhenti menambah-nambahkan gambaran mental versimu sendiri dalam memori kawanan dan berhenti menggangguku selama patroli dengan menggosip yang bukan-bukan! Aku tidak peduli kau sepupuku dan ibumu akan marah jika aku membunuhmu, tapi sekali aku dapati tambahan detail sekecil apapun dalam memori kejadian hari itu, kau mati! Kalian dengar, ini perintah langsung Alfa! BERHENTI MENGGOSIP SOAL SETH DAN KORRA SELAMA PATROLI! Jika kalian melanggar kalian mati! suara Jacob bergaung berat dalam timbra ganda yang menekan ketika perintah itu turun.

Tapi bukan Collin namanya jika tidak bisa mencari jalan keluar dari tiap perintah langsung Alfa. Mungkin ini memang ada di dalam darah Black-nya. Jacob jelas-jelas melarang gosip selama patroli dan secara spesifik melarang dirinya menambahkan gambaran mental versinya sendiri, tapi tidak mengatakan apapun soal gosip di luar patroli dan gambaran mental yang dikembangkan oleh anggota kawanan lain. Pada patroli berikutnya, Jacob menggeram melihat banyaknya versi baru kejadian hari itu. Tanpa berkomentar apa-apa, tiap anggota kawanan menayangkan versinya sendiri dalam benak mereka. Mereka memang tidak menggosip dalam arti literal, tapi ini lebih buruk.

Jacob sudah terlalu putus asa untuk mau bersusah payah merevisi perintah sebelumnya. Perlu kemampuan semantika tingkat tinggi untuk menurunkan perintah dalam kawanan, agar tidak menyisakan celah bagi mereka untuk mangkir.

Pada patroli selanjutnya, meski tidak bergosip soal Seth dan Korra, kawanan tampaknya sepakat membicarakan Korra hingga titik yang membuat kesabaran Jacob habis.

"Baiklah," ia menyerah setelah patroli. "Kalian semua boleh bertemu dengan Korra."

Terdengar sorak tertahan dari kawanan. Mereka sudah lama menantikan kesempatan ini, sejak pertama mereka tahu soal putri lain keluarga Black. Bukan berarti mereka tidak pernah bertemu dengan Korra. Sejak cukup bisa menguasai diri sehingga tidak harus home-schooling, mereka bersekolah di SMA di reservasi dan mereka sering berpapasan dengan Korra, jika tidak bisa dikatakan menguntit secara metodis. Tentu saja Caleb dan Adam adalah pengecualian, karena mereka sudah lulus. Collin dan Brady memang sudah bertindak lebih jauh dengan menempatkan diri dalam kelompok yang sama dengan Korra, meski tingkat mereka terpaut jauh di atasnya. Bukan berarti Jacob tidak keberatan, tetapi ia memilih tutup mulut dan membiarkan saja anak-anak melakukan apa yang mereka mau sepanjang tidak mengganggu konsentrasi patroli atau membahayakan kawanan.

Lagipula pengawasan alias penguntitan adalah salah satu perintah Dewan Suku (aka Sam). Embry, bertindak selaku Gamma sekaligus Wakil Jenderal bagian Pengawasan, telah menggariskan bahwa infiltrasi ke dalam kelompok atau geng target adalah salah satu kebijakannya terkait dengan amanat Sam ini. Brady telah mengorganisasi seluruh hal tersebut selama beberapa lama sejak Jacob tidak sadar dan patut Jacob akui, ia hebat dalam urusan organisasi pengawasan. Itu, atau dia memang berbakat menjadi stalker.

Aku bukan stalker, tega sekali kau, Alfa, protes Brady sebelum berubah balik. Jacob hanya terkekeh.


Jadi di sanalah mereka, di ruang tengah keluarga Black, dalam sikap canggung seperti anak umur 12 tahun, dengan Jacob yang memasang tampang mengerikan mengawasi dari sudut ruangan.

Setidaknya Jacob merasa bersyukur ia telah menurunkan perintah agar mereka semua memakai baju atasan.

Jacob mengawasi dengan tiga pertimbangan. Pertama, berperan sebagai kakak yang baik dan menjaga agar tak ada yang bertindak cukup bodoh yang mampu merusak keseimbangan rentan yang terbentuk antara dirinya, Billy, dan Korra. Kedua, berperan sebagai Alfa yang baik dan menjaga agar tidak ada yang bertindak cukup bodoh seperti membeberkan rahasia yang mampu merusak kawanan. Ketiga, berperan sebagai pengawas untuk berjaga-jaga seandainya terjadi imprint.

Saat ini imprint adalah hal terakhir yang perlu ia khawatirkan. Tapi tetap saja itu mengubah banyak hal. Pertama, jika itu terjadi, ia harus membuka rahasia suku pada adik yang baru dikenalnya beberapa hari. Dan kedua, sekali lagi ia harus menerima salah satu dari sekumpulan bocah bodoh ini sebagai bagian keluarganya.

Seolah Paul saja tidak cukup.

Jacob mengawasi sementara mereka saling memperkenalkan diri dalam cara yang agak mirip perkenalan anggota perkemahan musim panas dengan instrukturnya. Memang mata mereka tampak berbinar-binar. Antusiasme tampak jelas, beserta skema gosip yang jelas akan membludak. Bahkan Harry, satu-satunya anggota yunior yang sudah memiliki imprint pun, tampak antusias, walau tidak seantusias para anggota Geng The Gossip Guys: Collin-Brady-Pete-Ben. Tapi tak ada hal yang mencurigakan. Perkenalan selesai dan masih tak ada hal yang mencurigakan. Sudah cukup, pikir Jacob, agak lega. Tidak ada yang mengimprint siapapun hari ini.

Kawanan bubar, tidak meninggalkan rumah Black memang, tapi meninggalkan barisan konyol tadi dan mulai mencari posisi nyaman masing-masing. Sebagian besar ke dapur, jelas berniat merampok apapun yang ada di kulkas Billy. Tapi sebagian bertahan di ruang keluarga, mengobrol atau membongkar game konsol yang ditinggalkan Seth di rumah Jacob.

Jake sudah agak tenang dan berniat melanjutkan tidur, membiarkan anak-anak kecil itu mengurusi urusannya sendiri, ketika dilihatnya Collin mendekati Korra di sofa, jelas berusaha tampak seramah mungkin memikat adik tirinya itu.

Sial, apa ia luput melihat sesuatu?

Dan dia ingat satu hal. Ini bukan pertemuan pertama Collin dengan Korra. Jika memang terjadi sesuatu, jika memang Collin meng-imprint Korra, reaksinya akan ia dapatkan tidak saat ini, tetapi jauh sebelumnya. Mungkin di sekolah, mungkin sebelum ia menyaksikan mereka berdua berbincang akrab di bawah pohon bersama teman-temannya. Mungkin… ia tidak tahu lagi.

Di antara semua anggota kawanan, orang terakhir yang ia inginkan meng-imprint Korra adalah Collin Littlesea. Pertama, karena ia sepupu tingkat pertama Jacob, yang berarti sepupu Korra juga. Dan kedua, karena bocah itu adalah tukang gosip bermulut besar yang tak hanya tidak mampu menyimpan rahasia untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu mengubah fakta sesederhana apapun jadi omong kosong paling menarik.

"Cole, kita perlu bicara," kata Jacob, tanpa banyak basa-basi menyeret Collin dari sofa menuju pintu belakang.

"Hey, hati-hati, Man... Kemeja ini kesayanganku dan masih baru," protes Collin, melepaskan diri dari cengkeraman di kerah kemejanya begitu Jacob menutup pintu belakang.

"Apa itu tadi, Littlesea?" tuding Jacob di hidung Collin.

"Apa apanya?"

"Apa kau meng-imprint adikku?"

Collin mengerjap. "Astaga! Yang benar saja, Jake. Dia sepupuku!"

"Yah, tapi kita semua tahu imprint tidak bekerja berdasarkan konsep tabu atau tidak."

"Terserahlah, Black. Yang jelas aku pasti tahu kalau aku meng-imprint. Dan aku tidak," ia memberi penekanan kuat pada kata 'tidak'. "Apa salahnya sih bersikap ramah pada saudara sendiri? Kau harus berhenti bersikap menyebalkan. Kau lebih parah dari Sam," gerutu Collin.

"Apa kaubilang? Kau membandingkan aku dengan Sam?"

"Setidaknya dia tidak mengurusi masalah orang lain," tuding Collin kesal. Dia agak dendam karena urusan titah Alfa berkenaan dengan gosip beberapa hari lalu.

"Urusan orang lain menjadi urusanku ketika menyangkut keluargaku, Cole."

"Huh, seolah kau benar-benar menganggapnya keluarga saja..." gumam Cole lagi, cukup keras untuk bisa didengar bahkan oleh orang yang tidak mempunyai pendengaran super sekalipun. "Kalau kau bersikukuh bersikap menyebalkan, jangan padaku. Ganggu Seth, ia jelas-jelas memimpikan Korra siang malam. Atau Brady. Atau Ben. Atau Pete."

"Stop menyebarkan gosip, Cole. Kita tahu Seth tidak benar-benar merasa begitu. Terima kasih atas gambaran yang kautanamkan, sekarang bahkan aku sendiri tidak punya memori yang tepat atas kejadian hari itu."

"Aku rasa kau memegang kisah versimu sendiri terlalu ketat hingga tidak bisa melihat yang lain, Jake. Apa yang kaulakukan belakangan selama patroli? Berusaha memblokir pikiran kami?" Jake agak kaget karena Collin menohok di titik yang tepat. "Kalau kau lebih perhatian pada akarnya dan bukan pada detailnya, mungkin kau akan bisa melihat bahwa setengah anggota kawanan merindukan Korra sekarang. Bukan termasuk aku, tentu saja," dengusnya.

"Dengar ya, jika kalian berani-beraninya..."

"Lalu apa?" potong Collin. "Kau mau memaksakan autoritasmu lagi? Memberiku detensi? Memaksaku menutup pikiran? Pikiran adalah dunia bebas, Jake. Kalau kau berhenti bersikap begitu serius dan menyebalkan, kau bahkan bisa menertawainya. Stop jadi bully, Jake... Seolah-olah kau cukup baik saja melakukannya."

Jacob tertohok. Agak sakit rasanya mendengar apa yang dilontarkan Collin yang emosi tepat di depan wajahnya. Sebagian dirinya membenarkan, tetapi sebagian lainnya merasa perih, selama ini ia berusaha melakukan yang terbaik bagi kawanannya, dan sekarang seorang werewolf remaja mengatainya...

"Bully? Kaupikir aku mem-bully kalian?" dan tanpa sadar ia menahan Collin ke dinding.

"Apa sebutan lain bagi senior yang ikut campur urusan orang dan memaksakan autoritasnya, kalau begitu? Kau marah? Tersinggung? Kau masih mau mengikatku, kalau begitu, Alfa? Ikat tubuhku. Ikat lidahku. Ikat pikiranku. Silakan saja, aku masih punya seribu cara menghindar dan membuatmu kesal kalau aku mau."

Cengkeraman Jacob terlepas. Bagaimana mungkin ia melewatkan semua ini belakangan? Anak buah yang merasa tidak puas, upaya yang disengaja untuk membuatnya kesal sebagai balas dendam... Ini bukan kesalahan Collin, salah satu suara dalam pikirannya berkumandang. Ini salahmu sendiri...

"Apa aku boleh pergi sekarang, Paduka Yang Mulia Alfa Yang Agung, Sir?" kata Collin sejurus kemudian, tampak berusaha keras membuat Jake lebih kesal dengan nama panggilan itu. Tapi Jake hanya mengangguk, jelas masih shock.

Collin pergi dengan ribut, tidak kembali ke dalam rumah, melainkan ke kerimbunan hutan. Tidak berapa lama Jake mendengar suara koyakan ketika Collin berubah. Ia sudah merusak baju baru kesayangannya lagi.

Jake duduk di rerumputan di belakang rumahnya, masih agak terpukul. Kata-kata Collin menohoknya teramat sangat. Ia berusaha keras, berusaha keras memimpin dengan baik, mengerti mereka, berusaha menyatukan mereka, menggerakkan kawanan sebagai satu tubuh... Tapi tetap saja semua yang terjadi belakangan ini tidak berpihak padanya. Serangan lintah di siang hari, penyerangan Seth, Dewan Suku yang mempertanyakan kepemimpinannya, Collin yang kesal dan menganggapnya bully...

Sial.

Justru pada saat itu ia menangkap aroma lain di halaman belakang rumahnya. Satu-satunya orang yang paling tidak ingin ditemuinya pada saat seperti ini.

Sam.


"Punya masalah dengan anak buahmu, Jake?" tanya Sam, melangkah dan memposisikan diri sebagai kakak, duduk di samping Jake di rerumputan, memandang jauh ke langit.

Jake membenamkan wajah di antara lututnya. "Entahlah, Sam..." dan ia membiarkan satu geraman memenuhi rongga dadanya. "Serba salah. Aku longgar, mereka seenaknya. Aku ketat, mereka menggigit balik."

Sam terkekeh. "Akhirnya kau tahu bagaimana rasanya memimpin gerombolan berandal cilik. Remaja yang baru melewati masa pubertas, dengan segala masalah emosi dan pemberontakan."

"Yeah, benar..." Jacob mendengus. "Dan dulu aku sering mengataimu otoriter."

"Dan tiran dan keras kepala dan memaksakan kehendak dan Hitler dan lain sebagainya..." ia terkekeh, mengenang-ngenang. "Memang tidak sepenuhnya salah, sih. Bahkan sekarang pun Seth masih mengataiku tiran koleris yang selalu ingin mengambil alih apapun. Membuatku merasa seperti Machiavelli."

"Hitler lebih cocok untukmu," canda Jacob. "Minus kumisnya tentu. Atau Mussolini."

Sam terkekeh lagi.

"Dan sekarang Collin Littlesea mengataiku bully," Jacob tersenyum masam. "Anehnya sebagian diriku membenarkan. Aku tidak sadar aku telah berubah menjadi begitu brengsek."

"Kita semua memiliki masalah dengan kepemimpinan," Sam menepuk bahunya. "Aku bukan pemimpin yang baik, kuakui. Tapi tidak pernah ada pemimpin yang bisa menjalani hari dengan mulus tanpa satu-dua kecaman dari anak buah. Itu bagian dari menjadi pemimpin, kau harus menerimanya."

Jacob menghela napas. "Hanya tidak tahu bagaimana seharusnya aku bersikap."

"Aku tahu kau ingin memuaskan semua orang, Jake. Aku tahu kau ingin melindungi semua dan di saat bersamaan disukai semua orang. Hanya saja jangan lakukan itu, Jake. Kita tidak bisa memenuhi harapan semua orang. Jangan menekankan itu pada dirimu sendiri. Kau punya kewajiban, kau punya gaya kepemimpinan sendiri. Biarkan itu berjalan bersisian. Tidak usah terlalu pedulikan penilaian orang jika hal itu adalah hal yang kaurasa perlu kaulakukan. Percayalah instingmu. Kau alami, kau tahu? Kepemimpinan adalah hakmu, sudah ada dalam darahmu."

"Itu membuatku terdengar seperti raja tiran. Dan raja tiran selalu berakhir dengan pemberontakan rakyat. Kudeta. Hukum pancung. Atau guillotine."

"Dan serigala Alfa tiran berakhir ditinggal Beta-nya," Sam menunjuk dirinya sendiri.

Jacob terkekeh.

Ia menghembuskan napas. "Aku belum pernah minta maaf untuk hari itu, Sam," katanya. "Jika kupikir, saat itu pun kau berusaha melakukan yang terbaik. Dengan pertimbanganmu sendiri. Dengan perhitunganmu sendiri."

"Yah, fakta menunjukkan pemimpin tidak selalu mengambil keputusan yang terbaik. Mungkin saat itu ada banyak hal yang tidak kulihat. Kau juga mengambil keputusan yang terbaik dengan pertimbanganmu, Jake," kata Sam lembut.

Jacob mengingat perasaan ini dulu. Sam selalu berperan sebagai seorang kakak. Menghibur, menguatkan, mendengarkan keluhan semua orang. Memang ada kalanya ia memaksakan kehendak, menyebalkan, tiran, otoriter, apapun sebutannya, tetapi ia berusaha menyatukan semua orang. Ia pernah melalui yang terburuk sendirian, dan ia di sana membimbing semua orang keluar dari mimpi buruknya. Menciptakan ikatan di antara mereka.

"Entah apa aku bisa memimpin sebaik dirimu, Sam..."

"Jangan," kata Sam tersenyum, menepuk bahunya. "Sudah kubilang kau alami. Kau punya gaya sendiri. Lima tahun sudah pembuktian yang cukup. Aku yakin kau jauh lebih baik dariku."

"Terima kasih, Sam," Jake balas tersenyum.

"Kapan saja, Nak."

Dan saat itu ia mengingat sesuatu.

"Ada urusan apa sebenarnya kau ke sini, Sam? Kau bukannya ingin memata-matai Korra, kan?"

Sam mengerjap, agak kaget melihat perubahan yang tiba-tiba ini ketika mood mereka sedang bagus-bagusnya. Pertemuan ia dan Jacob biasanya jarang dilakukan semudah ini. Biasanya dipenuhi dengan skema tatap-menatap yang intens dan tajam atau saling bertukar kata-kata pahit menusuk. Dan belakangan ini: saling tuduh, saling curiga, saling berahasia.

Ia mengangkat kedua tangannya, sadar kemana ini mungkin menuju. "Wow, tenang, Nak... aku kali ini cuma datang sebagai pengantar pesan."

"Pengantar pesan?"

"Dari Billy. Dia, Sue, dan Charlie tidak bisa kesini. Mereka sibuk memancing."

"Itu pesannya? Dia kan bisa meng-sms atau menelepon."

"Dan ia menyuruhku mengecek sesuatu. Dan bilang padamu kalau acara api unggun malam ini tetap diadakan."

"Memangnya pernah ada pembatalan sebelumnya? Kita kan memang sudah merencanakan itu sejak sebulan lalu."

"Ya. Dan bawa Korra, oke?"

"Korra?"

"Yup. Perintah Billy."

"Kenapa? Aku kira ini acara tertutup untuk kawanan dan para Tetua."

"Para imprintee juga diundang. Tampaknya ini jadi semacam acara keluarga." Ia terdiam dan melanjutkan sesaat kemudian, "Tentu saja sejauh ini tamu undangan kehormatan yang pasti datang hanya Lilly-Ann."

Lilly-Ann yang manis adalah kekasih Harry sekaligus sepupu Sam. Saat ini Harry adalah satu-satunya anggota kawanan yang memiliki imprintee yang masih tinggal di La Push. Jacob sudah lebih tahu bahwa dengan absennya para anggota senior, imprintee mereka pasti tidak lagi berhubungan dengan dunia mistis Quileute. Dan Claire Young, imprintee Quil, saat ini sedang mengikuti orangtuanya dan bersekolah di Eropa, membuat Quil menderita tiap malam merindukannya.

"Stop omong kosongnya, Sam... Ini ada hubungan dengan urusan serigala itu kan?"

"Kau sama butanya dengan aku, Jake. Lakukan saja apa keinginan Billy, oke?"

Jake mengeluarkan suara depresi. "Kalian tidak seharusnya menyimpan sesuatu dari kami, kalian tahu? Merencanakan sesuatu, menyembunyikan sesuatu, menyuruh kami melakukan hal yang kami tidak ketahui... Ini tidak benar, Sam. Tidak begitu cara suku ini bekerja," dan ia memandang Sam dengan sorot mata yang aneh. Menuduh, merasa terkhianati, putus asa, lelah, sedih... Hanya satu yang hilang: marah.

Ia tidak marah pada Sam, atau Billy, atau Sue, atau Old Quil. Ia tahu mereka menyembunyikan sesuatu atas tujuan tertentu, dan bagaimanapun ia harus patuh dan melakukan sesuai yang diperintahkan karena ia harus. Pengalaman telah mengajarkan bahwa terkadang transparansi sama sekali dibutuhkan untuk menjalankan suatu rencana, bahwa pengetahuan yang terlalu jelas akan sesuatu justru merupakan halangan. Tapi ia tak bisa membendung perasaan itu: ia merasa dikhianati. Ia yang harus menggerakkan kawanan, ia yang bertanggung jawab, mereka akan bertanya mengapa mereka harus melakukan ini dan itu. Semua hal tidak masuk akal ini. Dan ia sama tidak tahunya dengan mereka.

Tentu saja ia frustasi.

Dan Sam sangat menyesal bahwa ia tidak bisa melakukan apapun atasnya. Meringankan perasaan Jake, setidaknya, jika ia tidak bisa meringankan bebannya. Tapi ia tidak bisa, walau ia sangat menginginkannya, ia tidak bisa. Terkadang ada hal lebih besar yang membelenggumu untuk tidak melakukan hal yang hatimu katakan harus kaulakukan, sesuatu yang lebih besar dan lebih menekan daripada perintah Alfa.

"Betapa ironisnya bahwa Alfa ternyata bukan pemegang otoritas tertinggi sebagaimana harusnya ia, bukan, Jake?" senyumnya terasa hambar. "Dan juga bukan Dewan Suku."

"Lalu siapa?"

"Suku. Loyalitas pada suku. Entah bagaimana sesuatu yang abstrak memiliki cengkeraman lebih besar pada kita ketimbang kita sendiri."

Jacob tersenyum masam. "Seandainya aku tahu, Sam ..."

"Sudah, jangan mulai, Jake. Kau dan aku tahu bahwa aku tidak bisa mengatakannya. Dan bukan berarti aku mengerti seluruhnya juga. Maaf, Jake."

Dan ia pergi.

Jake merasa dunianya bagai benang kusut.