THE ANOTHER BLACK

Disclaimer: majority of characters, plot, situation surroundings, etc. belong to Stephenie Meyer... its just my other version of events along the werewolf pack... Hope you enjoy it :)

Set 5 year after Breaking Dawn (2012)


Enam belas - Api Unggun

Monday, December 17, 2012

1:15 AM


Jacob baru akan membuka pintu depan rumahnya, bersiap berangkat ke acara api unggun di pantai, ketika ia menangkap aroma yang amat dikenalnya di udara. Dan begitu ia membuka membuka pintu, sosok seseorang menyergapnya, langsung menangkapnya, memeluk lehernya erat.

"Jakey~ aku kangeeeeen..." teriak sosok itu histeris.

Jacob mengerjap. "Nessie?" katanya tak percaya. "Sedang apa kau di sini?"

"Alice menyuruh Emmet dan Jasper pulang. Jadi aku memaksa ikut. Mereka sibuk melakukan entah apa di Port Angeles, jadi aku menyelinap saja ke sini"

Alice menyuruh Emmet dan Jasper ke Port Angeles, huh? pikir Jacob. Satu masalah benar-benar terkonfirmasi kalau begitu.

Nessie menatap Jacob, menilainya. Tidak biasanya Jacob berpakaian lengkap sore-sore.

"Mau pergi ya, Jake? Kencan dengan seseorang?" kekecewaan jelas tergambar di wajahnya.

"Ya, sebenarnya... oh, apa? Kencan?" Jacob mengerjap, agak terlambat menangkap reaksi Nessie. "Tidak. Tentu tidak, aku tidak punya gadis yang akan kukencani, kok..." ia tertawa gugup.

"Kau bohong," protes gadis itu, cemberut dan membalikkan badan.

Jacob tertawa. Nessie ada di usia sekitar empat belas atau lima belas sekarang, tingginya sudah mencapai dada Jake. Raut wajah kekanak-kanakan yang selama ini menghiasi wajahnya sudah memudar, digantikan kecantikan khas gadis remaja. Untung saja berkat darah vampirnya, jerawat dan komedo tidak akan pernah singgah di wajahnya. Rambut coklat ikalnya terurai hingga punggung, membingkai wajahnya dengan begitu sempurna hingga kadang Jacob harus berjuang sangat kuat untuk tidak menciumnya.

Tenang, Jake, ia baru berusia lima tahun... bisiknya pada diri sendiri.

"Tentu tidak, Ness..." katanya membujuk, menarik tangan Nessie. "Ada acara api unggun. Kau ikut ya..." yang terakhir itu bukan permintaan atau ajakan, tapi lebih seperti penekanan.

"Api unggun?" Nessie menarik tangannya dengan curiga. "Dengan siapa?"

"Yah, kau tahu, kawanan dan Billy, Sam, Sue... seperti biasa... Hanya duduk-duduk mendengar Old Quil bercerita. Makan-makan, nongkrong di tepi pantai, main bebatuan dan menatap bulan. Mungkin akan menyenangkan," ia terkekeh, ingat sesuatu. "Dan kau bisa bertemu adikku."

"Adik?"

Jacob mengangguk.

"Kau tidak punya adik..."

Jacob tersenyum, menarik tangan Nessie ke pipinya. "Seandainya saja aku bisa menjelaskan dengan cara seperti ini," katanya lembut.

Tangan Nessie terasa lembut, dan hangat. Mata coklatnya yang membelalak lebar terlihat indah, dalam… Dan ada bayangannya di mata itu. Jacob seakan terserap ke dalamnya. Seandainya ia bisa menyelaminya, memandang dari mata Nessie, melihat bagaimana Nessie memandangnya...

"Wohoooo, sepasang merpati beraksi ..." terdengar suara dari seberang halaman.

Jacob melepas tangan Nessie dan melotot pada sosok dua orang yang melintasi halaman dengan cengiran lebar terpampang di wajah. Quil dan Embry.

"Jaga tanganmu, Jake," bisik Embry di telinganya, tidak cukup pelan untuk tidak bisa didengar Nessie, sementara ia melintas memasuki rumah. Quil mengikuti, masih nyengir kuda. Jacob sempat melihat sekilas sebelum Ness membuang muka. Darahnya berdesir menangkap rona kemerahan membayang di pipi gadis itu.

"Pergi sana, Em! Lagipula apa yang kaulakukan di rumahku?"

"Menjemputmu, tentu. Dan Billy menyuruhku mengingatkanmu untuk membawa Korra."

"Korra?" tanya Nessie mengernyitkan kening.

"Adik tiri baru Jake," jawab Embry sambil lalu, "Masa ia belum cerita padamu? Kupikir kalian berbagi segalanya."

"Kalau kalian kesini untuk Korra kalian terlambat. Ia sudah pergi setengah jam lalu, dijemput Brady dan Collin."

"Brady dan Collin? Astaga, persaingan yang ketat..."

Jacob menyipitkan mata. "Apa, Em? Kau punya maksud apa dengan Korra?"

"Astaga, Jake, pantas saja anak-anak mengataimu bully. Berhenti bersikap overprotektif, Dude..."

"Apa yang overprotektif? Kenapa Jake dikatai bully?" tanya Nessie penasaran, meninggalkan Jake dan masuk ke dalam rumah, duduk di sofa di samping Embry.

Embry bersandar pada bantalan sofa dan menatap mata Nessie. "Memangnya kau tahu arti kata itu?"

Nessie tampak tidak sabar. "Tentu! Ayolah, cerita padaku, Em, please..."

Dan ia mengerjapkan mata dengan sikap tanpa bersalah yang membuat Embry tertawa.

"Nessie, hentikan itu. Kau tidak boleh mengerjap pada cowok lain atau Jake akan membunuh kami."

"Kenapa?"

"Kau tidak seperti anak usia lima tahun, Ness... Kau tidak boleh lagi merayu untuk mendapatkan permenmu. Dunia tidak bekerja seperti itu. Orang akan mendapatkan kesan yang salah," Embry berusaha menjaga nasihatnya tetap berada dalam koridor Bimbingan Orangtua, tapi ia tak bisa menjaga suaranya yang bergetar karena gugup. Dengan sengaja Jacob mengeluarkan suara geraman pelan.

"Kenapa kalian malah duduk-duduk di sofaku? Dan Quil, berhenti merampok kulkasku!" teriaknya. Quil nyengir ketika tertangkap basah menggigit apel yang diambilnya di kulkas. Di tangan satunya ada sekarton susu.

"Oh, jangan kejam, Jake..." ia memohon, dan tanpa rasa bersalah mencuri sebutir apel lagi.

"Keluar, keluar," usir Jacob. Dan walau ia berpura-pura marah, jelas ia tak bisa menahan seringaian lebar di wajahnya.

Ia menghalau kedua parasit itu keluar rumah dan mengunci pintu. Nessie berjalan di sisinya, menggandeng lengannya.

"Jadi, kemana kita pergi? Apa aku tidak akan menunggangimu hari ini?" tanyanya polos yang membuat Jacob membeku. Quil langsung tersedak dan Embry cekikikan.

"Ke First Beach. Kita jalan kaki dan hentikan bicara seperti itu, Ness. Tidak pantas," kata Jacob, suaranya bergetar saking tegangnya.

"Taruhan tiga puluh dolar Nessie akan membuat Jacob mati muda," bisik Quil yang dibalas timpukan Jacob.


Sebagian besar kawanan sudah berkumpul ketika rombongan Jacob tiba. Anak-anak agak terkejut melihat siapa tamu yang dibawa Jacob, tetapi Billy hanya menyeringai dan merentangkan tangan selebar-lebarnya menyambut gadis itu.

"Nessie," katanya, memeluk Nessie penuh kehangatan. "Kejutan besar! Apa yang membawamu ke sini?"

"Hanya berkunjung, kebetulan aku datang sebelum Jake pergi, jadi aku diajak kesini," jawabnya ringan.

"Alice," Jacob menekankan pada kata 'Alice', "menyuruh Emmet dan Jasper ke Port Angeles."

Billy terpaku sejenak. "Wow," katanya ketika akhirnya bisa menangkap maksud Jacob. "Pastinya mereka sibuk sekali hingga tak bisa menemanimu. Syukurlah kau tiba tepat waktu. Pestanya akan lebih seru dengan adanya kamu. Bersantailah dulu, Ness. Kami masih menunggu para Tetua lain."

Tepat waktu ketika Seth datang bersama Collin dan Caleb. Melihat mereka datang, Nessie langsung berlari menghampiri dan memeluk mereka satu per satu.

"Wow. Kenapa aku mencium bau darah ya?" katanya sambil memeluk Seth.

Seth menyeringai sambil pura-pura menghindar dari pelukan Nessie. "Hati-hati, Ness. Aku tidak mau jadi santapanmu hari ini." Dan mereka tertawa, mulai berkejaran dan saling menimpuk dengan pasir. Untung saja yang saling menimpuk adalah dua makhluk yang agak sulit lebam-lebam, karena First Beach jelas tidak terlalu banyak menyediakan pasir lembut nan putih. Pantai di sana penuh batu-batu karang dan koral, pasirnya kasar dan gelap.

"Ouch! Hati-hati, Ness... serius!" teriak Seth sambil tertawa. Lukanya sudah sepenuhnya sembuh, patah kakinya juga sudah kembali normal, tetapi dadanya masih agak sakit jika digerakkan terlalu ekstrem. Ia berhenti di bibir pantai, menunduk dan mencengkeram dadanya, mengatur napas.

"Astaga," Nessie mengerjap, membekap mulutnya dengan telapak tangan "Kau terluka, Seth? Maaf, aku tidak tahu..."

"Yeah, resiko prajurit... Biasa... Bukan berarti aku kalah," dan mendadak ia melempar pasir lagi, kali ini mengenai lengan Nessie yang belum siap menghindar.

"Awww... Kau curang, Seth!" dan ia balas melempar pasir lagi sambil terkikik.

Kalau sudah begini, baru mereka terlihat seperti anak kecil, gumam Jacob pelan, mengambil tempat duduk di dekat ayahnya di depan api unggun, membakar marshmallow di ujung ranting. Salah, koreksi. Nessie wajar terlihat seperti itu jika menimbang usia sesungguhnya. Tapi Seth? Ia sudah kepala dua tapi masih saja berkelakuan seperti bocah. Bahkan Collin dan lainnya saja tidak sekekanak-kanakkan itu.

Ia memandang berkeliling untuk melihat apa yang sedang dilakukan bocah-bocah itu. Dan ia menggeram, menyesal telah mencari tahu.

Collin, Brady, Ben, dan Pete duduk di seberangnya, mengapit Korra. Mereka tampak berusaha keras membuat Korra nyaman. Hal itu sebenarnya bukan hal yang sulit, karena Korra juga pasti berusaha untuk mengakrabkan diri dengan keluarga barunya. Dan memang ia pada dasarnya adalah anak yang ceria dan mudah bergaul.

Selintas perasaan bersalah muncul di benak Jacob. Semua orang tampak menerima Korra dengan ringan, dengan begitu mudah. Dan di sana ia: satu-satunya orang yang berkaitan darah dengannya, yang justru menjaga jarak. Oke, koreksi lagi. Seluruh Suku Quileute memang berkaitan darah. Tapi tetap saja ia yang terdekat. Collin saja tampaknya sudah tidak peduli dengan fakta soal 'anak haram Billy' lagi, dan dengan ringannya memanggil Korra dengan sebutan 'sepupu'.

Mungkin mereka tidak terlalu mengenal dan menyayangi Mom sebagaimana dirinya untuk dapat menerima fakta itu.

Tapi bahkan Rachel dan Rebecca pun menerima Korra. Mereka melalui sejam perdebatan di telepon ketika menerima kabar itu, dan beberapa hari walaupun Billy menelepon, mereka tak mau menjawab. Tetapi akhirnya mereka menelepon balik, satu per satu, menyatakan akan berusaha menerima Korra. Mereka bahkan bilang akan datang untuk bertemu 'si adik kecil' pada Thanksgiving nanti.

Bagaimanapun Jacob tak bisa menghilangkan perasaan bahwa si kembar telah mengkhianati ibu mereka.

Sapuan rambut di tengkuknya menggelitiknya, membangunkannya dari lamunannya. Nessie sudah kembali, mengambil tempat duduk di sisi Jacob. Rambut dan bajunya kotor oleh pasir. Sebagian bajunya basah. Ia masih tertawa-tawa, menuding Seth yang basah kuyup dan duduk di sampingnya.

Jacob tersenyum, menyeka pasir dari pipi Nessie. Gadis itu balas tersenyum, kemudian merangkul lengannya, membenamkan wajah ke bahu Jacob, dan memandang ke depan, menatap api yang menjilat-jilat.

Saat itu Jacob merasa genggaman Nessie di bahu atasnya mengeras. Kemudian ia mendengar geraman, berat dan dalam, dan kaget ketika menyadari bahwa geraman itu berasal dari dada Nessie. Nessie tidak pernah menggeram. Ia mungkin besar bersama vampir dan serigala, tetapi ia begitu lembut dan anggun sehingga geraman tidak pernah ada dalam kamusnya.

Jacob mengikuti arah pandang Nessie untuk melihat apa yang membuatnya begitu marah. Dan ia melihatnya. Nessie tidak memandang api. Ia memandang melampauinya.

Dan di seberang sana duduk Korra, dengan sikap kaku memandang Nessie balik. Ia tidak berkedip. Ia tidak menggeram, matanya tidak menyiratkan amarah, ekspresinya tidak terbaca. Tetapi ia justru tampak begitu tenang, begitu menguasai keadaan.

Mereka saling memandang dalam diam selama sekitar dua puluh detik sebelum akhirnya Korra tanpa memutus kontak mata mencondongkan diri pada Collin, bertanya pelan namun masih bisa didengar Jacob, "Siapa gadis itu? Yang di samping Jake?"

Collin memandang sekilas untuk kemudian menjawab sambil terkekeh, "Itu Renesmee Carlie Cullen. Dia tunangan Jacob."

Jacob mencatat dalam hati bahwa ia akan membunuh sepupunya begitu acara ini berakhir.

"Tunangan?" Korra tampak kaget. "Jacob akan menikah?"

"Yah, mereka seperti... Renesmee sudah menjadi jodoh Jacob semenjak gadis itu lahir, atau begitulah..."

Jacob tidak percaya Collin berani-beraninya menggosip, di situ, tidak sampai tiga meter dari pendengaran sensitif Renesmee.

Collin memandang melintasi api ke arah Nessie, dan mengerjap melihat tatapan membunuh gadis itu, yang masih terfokus pada Korra. "Astaga, Korra, tidak mungkin! Kamu cemburu pada gadis itu? Tidak mungkin kamu menaruh perasaan pada kakakmu sendiri, kan?"

Serahkan pada Collin untuk mampu membuat gosip dari hal sebodoh itu.

"Gila kau! Tentu tidak. Hanya saja, tampaknya gadis itu terlalu... kau tahu..." Korra tertawa, tapi tampak kesulitan mencari kata-kata yang tepat.

"'Muda'?" usul Collin. Korra terkekeh dan mengiyakan.

"Ya, 'muda'…"

"Percayalah padaku, aku tahu bagaimana rasanya hidup di tengah cowok-cowok pedofil," bisik Collin lebih pada dirinya sendiri, mungkin terlalu pelan untuk dapat ditangkap Korra tapi sejelas petir untuk dapat ditangkap Jacob, atau bahkan Renesmee.

Begitu hari ini berakhir dan Nessie bertanya pada ayahnya atau mencari jawaban akan arti kata itu, matilah Jacob. Bukan berarti dengan kecerdasan Nessie dan sumber literatur segudang yang ada di rumahnya, ia belum mengetahui arti kata itu sekarang. Dan Jacob merasakan hasrat yang kuat untuk memukul Collin. Tapi ketika ia masih berusaha untuk menenangkan dirinya, genggaman tangan Nessie menguat, begitu kuat hingga ia merasa tulangnya berderak. Dan sedetik kemudian lengan Nessie melonggar dan gadis itu beranjak bangun dari tempat duduknya. Pada saat yang bersamaan, insting serigalanya beraksi.

Dan bukan hanya dia, tapi juga dua belas serigala yang ada di situ mendadak bersiap bangkit, memandang dengan sikap awas dan mengancam pada Nessie, bahkan sebelum gadis itu sempat benar-benar berdiri.

Butuh waktu setengah detik kemudian untuknya mengembalikan akalnya. Ia menarik tangan Nessie, dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat Nessie menatap balik padanya. Matanya sekelam malam dan ia mengeluarkan geraman sangat, sangat dalam.

"Nessie!" ia memperingatkan. Dan cukup satu kata itu saja. Sekejap mata Nessie kembali jernih. Ia mengerjap, dan kembali pada akal sehatnya. Ia kembali duduk, rasa bingung dan malu tergambar jelas di wajahnya.

"Maaf, aku..."

"Shhhh..." Jacob menarik tubuh Renesmee, meletakkan kepala gadis itu di dadanya. Napasnya naik turun. "Tenang, Ness..." dan bayangan Nessie, menyerang bagai leopard dan pada detik yang sama dijatuhkan dua belas serigala raksasa, bermain di ruangan matanya, membuatnya ngeri. Ia memejamkan mata kuat-kuat, menghalau bayangan itu.

Lebih daripada itu, apa yang dilakukan Nessie? Ia tidak pernah melakukan apapun yang seperti itu, tidak dalam lima tahun masa hidupnya, tidak sejauh yang Jacob kenal. Dan ia mengenal Nessie seperti mengenal telapak tangannya sendiri. Nessie tumbuh di depan matanya. Mengapa ia bisa seperti itu?

Dan satu jawaban muncul di benaknya.

Matanya memandang melintasi api.

Para serigala sudah tenang melihat Nessie tenang. Semua sudah asyik lagi seolah yang tadi itu bukan apa-apa. Meski Jacob tahu di dalam dada mereka masih bingung dan tegang atas semua hal yang tidak mereka mengerti, setidaknya mereka berusaha untuk bersikap wajar. Semua kecuali satu orang.

Korra memandang melintasi api dengan tenang, matanya terpaku pada Nessie. Ekspresinya tidak bisa dibaca.

Dan Jacob bersumpah, ketika Korra menoleh untuk bicara pada Collin, ia sempat menyunggingkan senyum.

Senyum kemenangan.


Para tetua yang semula belum datang hadir sejurus kemudian. Old Quil agak sakit-sakitan sekarang, dan seperti ayah Jacob, ia harus berada di atas kursi roda, didorong oleh cucunya. Orang tua itu menatap Renesmee dan Jacob dengan pandangan yang sulit dimengerti, kemudian pada Korra dan pada Sam. Sam melakukan hal yang sama sehingga kadang Jacob pikir bukan cuma para serigala saja yang berbagi kemampuan telepati, tetapi para Tetua juga. Mungkin ini alasannya Sam seolah gatal ingin cepat-cepat melepaskan jabatan Alfa tapi mau-mau saja berada di antara para Tetua, repot-repot mengurusi tetek bengek urusan kawanan kalau tidak mau dibilang selalu mencampuri dan sok nge-boss di sana-sini. Jake bahkan kadang merasa dirinya seperti Sabrina Duncan dalam Charlie's Angel, atau Dan Briggs dalam Mission Impossible, atau Jason Lee Scott dalam Mighty Morphin Power Rangers, atau Cyclops dalam X-Men. Tentu saja dengan Sam menjadi bos di balik layar.

Oh, tentu saja ia bukan Ranger Merah. Ia Alpha-5, sibuk berputar-putar ke sana ke mari memencet tombol di headquarter La Push dengan bodohnya, hanya menuruti perintah Sam tanpa tahu mengapa. Sementara Sam berperan sebagai Zordon, memerintah dengan kepala besarnya di layar.

Huh, bahkan namanya saja sudah sama. Alpha-5. Alpha-Jacob. Kata 'Jacob' bahkan terdiri dari 5 huruf.

Astaga, apa yang ia ributkan di saat seperti ini?

Jacob berusaha menahan kepalanya tetap di acara api unggun dan bukan malah melantur tidak karuan.

Secara yuridis, Jacob merupakan salah satu dari mereka, para Tetua. Bahkan bisa dibilang seharusnya ia punya kedudukan lebih tinggi sebagai Kepala Suku. Setidaknya itu peran yang harus ia mainkan di acara api unggun ini, walau sepertinya di luar itu, para Tetua memiliki agenda yang dirahasiakan terhadapnya.

Memikirkan hal itu saja sudah membuatnya tidak nyaman.

Tapi Korra dan Renesmee kelihatannya sudah membaik dan melupakan 'kontes saling tatap' mereka sebelumnya. Nessie kini menyibukkan diri dengan marshmallow dan saling sikut dengan Seth, berusaha keras tidak melihat ke arah Korra, sementara Korra sibuk tertawa-tawa dan mengobrol kesana kemari dengan Collin dkk.

Dalam hati Jacob bertanya-tanya ada apa sebenarnya antara mereka berdua. Sepertinya ia luput melihat, dalam sekian menit yang mengubah segalanya itu, sesuatu di antara kedua gadis itu. Kemungkinan yang ada pun sangat aneh.

Apa? Kedua gadis itu memperebutkan posisi mereka sebagai adiknya? Memikirkan itu saja sudah aneh. Pertama karena Nessie bukan adik, seperti apapun tampaknya ia kini. Dan kedua karena Korra pun belum mendapat kesempatan, setidaknya hingga saat ini, untuk menjadi adiknya. Lalu apa?

Ia bahkan tidak berani berpikir.

Old Quil berdehem dan perhatian semua orang diarahkan padanya. Termasuk Korra. Semua orang tampak bersiap-siap. Acara puncak malam api unggun Suku Quileute dimulai. Penceritaan legenda suku turun temurun. Kali ini Old Quil yang akan bercerita.

Jacob menatap Korra dan menilai bahwa hal ini sudah ia ketahui sebelumnya. Tentu saja, Billy bilang ibunya anggota suku, dan Korra sendiri pernah mengatakan bahwa ibunya berhubungan dengan promosi kebudayaan suku atau semacamnya. Tentu saja ia mengerti, ritual penceritaan legenda oral tidak hanya ada di Suku Quileute, tapi ada di hampir semua suku di seluruh dunia. Mendengarkan legenda baginya akan berbeda dengan dulu ketika Jacob mengajak Bella ke acara yang sama. Ia akan memprediksi hal semacam ini, menerima kisah yang diceritakan sebagai bagian dari kepercayaan dan tradisi turun temurun yang harus dihormati, entah ia percaya atau tidak.

Tetapi itu tergantung apa yang akan diceritakan Old Quil malam ini.

Kayu berderak dan api membumbung, membawa suara Old Quil jauh ke langit bertabur bintang.